Kemarin adalah hari yang buruk. Namun matahari tetap bersinar terang. Memancarkan kehangatannya pada belahan bumi tertentu, sementara beberapa bagian gelap gulita, menyambut malam. Sejenak Jellal terbangun. Jam baru memunjukkan pukul lima pagi, dan dia terserang insomnia semalaman. Memejamkan mata pun sulit. Bayangan kemarin justru melintas cepat. Kesedihan teman-teman. Kehilangan Lucy. Wajah putus asa Gray. Semua bercampur aduk.
DUAKK!
"Bangun pemalas! Aku tahu kau pura-pura tidur!" Erza muncul begitu saja. Membangunkan ala sparta yakni menendang perutnya, tepat di lambung. Jelas menyakitkan. Jika dia kurang kuat pasti mati.
"E-Erza?! Jarang melihatmu sepagi ini."
"Sebagai calon istri yang baik aku harus berlatih mulai sekarang. Ayo turun sarapan!" Anak itu serius tentang menikahiku! Tak ada waktu untuk membatin. Erza akan menyeretnya kalau telat.
"Baiklah, baiklah! Puas?"
"Kenapa bertanya kalau tahu jawabannya, dasar bodoh!"
Ah entahlah. Pikirannya melayang kemana-mana. Jellal lupa kalau dia seorang iblis. Sah-sah saja mempersilakan Erza turun. Ikut sarapan bersama keluarga. Bau telur goreng tercium harum dari dapur. Merupakan kebiasaan Fernandes untuk bangun pagi-pagi, kecuali libur. Siegrain khidmat menyeruput segelas kopi. Setelah mengucapkan, "selamat pagi", tanpa ba-bi-bu selembar roti disambar cepat, termasuk si scarlet yang dapat satu.
"Wajahmu terlihat letih. Omong-omong siapa anak perempuan yang duduk di sebelahmu?" Terhenti sesaat. Jellal mencerna maksud Ibu-nya. Melirik ke kanan di mana Erza nikmat memakan roti.
"H-hah….? Kenapa kau ikut turun?!" Terkaget-kaget telunjuknya teracung ke depan. Menghakimi seorang iblis kecil yang selalu seenak jidat.
"Karena tidak dilarang. Siegrain juga kurang peduli."
"Apa mungkin kamu iblis yang dikontrak Jellal? Dia jauh lebih manis dari bayangan Ibu." Empat telur goreng diletakkan di meja. Siegrain segera menyingkirkan koran. Baunya terlalu enak untuk diabaikan.
"Manis? Kupikir sangar."
"Ahahaha…. Lupakan ucapanku." Berhenti mendelik. Erza kembali bersikap manis. Mungkin ini yang dinamakan, 'berusaha memenangkan hati mertua.'.
"Siapa namamu?"
"Erza Scarlet. Akulah yang terkuat nomor satu lima tahun berturut-turut." Mendengarnya Ibu tepuk tangan. Beliau terlihat kagum dengan kebanggaan terbesar si scarlet. Jellal hanya menggelengkan kepala pelan, 'kumat lagi dia!'.
"Anak asuh Siegrain yang meninggal sepuluh tahun lalu, ya? Sebelumnya terima kasih sudah menjaga Jellal. Semoga dia tidak menyusahkan."
"Bukan masalah besar. Serahkan padaku. Suatu hari nanti saya akan menikahinya di pantai selatan." Menepuk jidat keras. Jellal menolak mentah-mentah impian Erza. Iblis dan manusia biasa menikah, membayangkan itu saja membuat ngeri.
"Bagus, bagus. Kau memiliki iblis yang menarik, Jellal."
Lebih tepatnya kelewat gila! Siegrain menyelesaikan sarapan lebih cepat. Terang-terangan memanggil sang anak ke ruang tamu, hendak bicara empat mata. Erza masih sibuk bercerita, tentang pengalaman bertempur, Mirajane yang merupakan teman sekaligus rival, Zeref pun dibawa-bawa dalam perbincangan. Ya, itu masalah wanita. Anak-ayah ini tengah dirundung tegang. Lima menit berlalu dan belum terdengar suara apa-apa.
"Hah…. Semua menyangkut masa depanmu. Dengan keadaan sekarang kau pasti kesulitan mendapat lisensi pemburu. Jadi, bagaimana?"
"La-lagi pula aku tidak tertarik memburu hantu. Biar kupikirkan sendiri."
"Ambillah keputusan terbaik. Lalu menyangkut Erza…. Ayah mohon buatlah dia bahagia."
"Pasti. Kasus pembunuhan itu akan kuungkap dalam seminggu." Harus diakui Erza seringkali menyebalkan. Siapa pun akan menganggap Jellal terlalu baik. Menyalahgunakan kekuatan dan bakatnya yang berharga.
"Definisinya berbeda, Nak. Maksud Ayah bahagia dalam jiwa, batin. Sudah lewat lima belas menit. Baliklah sarapan."
Ucapan Siegrain menyebabkannya gagal paham. Bukankah cara "meluluskan" hantu atau iblis ialah dengan mendengar permintaan mereka selain bertarung? Pola pikir Jellal terlalu sederhana, meski dia tahu kedua ras itu beda jenis dan peraturan hidup. Kemarin sore atau malam, entahlah kapan, Zeref tersenyum miring mendapati permintaan naif tersebut. Secara tidak langsung ia menertawakan. Tanpa diketahui Gray atau Loke mereka bertaruh.
"Kalau kau berhasil meluluskan Erza, lisensi Gray, Loke dan Natsu pasti kukembalikan. Kalian juga tergabung dalam Ghost Buster."
"Benar. Apa pun yang terjadi aku harus berhasil. Masa depan mereka tergantung pada pekerjaan itu."
"Melamunkan sesuatu? Aku yakin kamu mengetahui kebenarannya. Mustahil meluluskanku setelah menjadi iblis." Nada itu…. Erza pesimis? Baru pertama kali, Jellal melihat sisi lemah dari sesosok iblis yang egois. Dia iba namun terus memantapkan tekad.
"Percayalah, Erza. Pulang sekolah kutemani bermain. Bye."
Kelas tambahan berlangsung cepat. Geng Cobra yang biasa menganggu tak lagi menampakkan batang hidung. Beberapa murid bergosip riang di barisan depan. Pecundang Jellal dan murid terkenal, Gray, nampak bersama di pojok bangku, bahkan Loke menyusul dari kelas tetangga. Pertanda baik atau buruk, dia mana tahu. Suasana benar-benar menekannya si korban bully. Jelas mereka berpikir sama sekali tidak pantas.
"Bisakah kita pura-pura tidak mengenal?" Bisik Jellal mendekatkan mulutnya, yang menurut Gray pengusiran halus begitu pun Loke. Mereka masa bodoh.
"Siapa peduli? Culun sekalipun sebenarnya kau punya bakat terpendam. Mereka sirik, iri hati!, pecundang sejati." Peran iblis mengalir kental dalam darah Loke. Keluarga Leo adalah dewa penyuap. Banyak melakukan bisnis ilegal apa pun yang menghasilkan uang.
"Jangan menjelek-jelekan mereka."
"Hatimu lembut sekali, ya? Pantas Erza bertempramen tinggi." Sindiran tersebut telak memohoknya. Karena itulah Jellal menghindari jadi pemburu hantu. Dia sendiri naif meluluskan Lucy dengan mengabulkan permohonan.
"Ssstt…. Ini rahasia kita! Benar juga. Apa rencanamu, Gray?"
"Mau bagaimana lagi. Aku bekerja paruh waktu dengan Loke. Keluarganya menolak bayar denda dan Zeref tak kenal ampun. Meski kami berpikiran untuk ikut tes walau kemungkinan lulus kecil."
"Aku tidak kepikiran apa-apa soal rencana karir." Menidurkan kepala malas. Jellal pusing sendiri membayangkan dirinya di masa depan.
Ding… dong… ding… dong….
"Sampai jumpa pulang sekolah!"
Guru membawa setumpuk kertas di tangan. Memberitahukan cara mengisi rencana karir yang Jellal telan mentah-mentah. Wajib menggunakan pulpen dan dilarang ada coretan, sedikit pun. Kenapa pula harus Laxus, guru terkiller saentro sekolah? Andaikata di sana Gildarts-sensei berdiri pasti lebih santai. Waktu pun terbatas dari jam delapan sampai sembilan, dilanjut pelajaran dengan menghilangkan jam pertama dan kedua.
"Gawat. Bagaimana bisa aku mati kutu di hadapan selembar kertas?" Mengerjakan matematika jauh lebih baik daripada mengisi rencana karir. Rata-rata murid mulai menulis. Beberapa sudah mengumpulkan malah.
"Mereka gila."
KRESEK… KRESEK….
Aku akan menikahi Erza Scarlet di pantai selatan. Kami pun hidup bahagia selamanya.
Tahu-tahu tulisan itu terukir di kertasnya. Jellal berteriak histeris tanpa mempedulikan Laxus. Berlari keluar kelas membawa lembaran karir. Sontak seisi kelas tertawa, macam orang kebelet saja. Ini benar-benar mimpi buruk. Kalau dibaca wali kelas pasti Siegrain dipanggil dan masalah semakin rumit. Dia berhenti di toilet pria. Masuk ke salah satu bilik menatapi kanji acak-acakan. Siapa lagi kalau bukan Erza si biang kerok?
Menjadi bos mafia juga menyenangkan, atau perdagangan ilegal menjual tubuh manusia, *smirk*.
"Kapan kau mengambil pulpenku?!"
"Barusan saat kamu keluar kelas. Berterimam kasihlah, iblis agung ini bersedia membantumu yang kesulitan." Justru kau membuat masalah! Gumam Jellal mengacak rambut gemas.
"Ini karir masa depanku. Jangan menuliskan cita-cita anehmu. Apa tidak ada sihir menghapus atau semacamnya?" Benar-benar di ujung tanduk. Laxus pasti mencari muridnya yang mendadak hilang. Jellal sadar harus balik.
"Gunakan tip-x!"
"Tidak boleh. Kalau nekat melanggar masalahku pasti bertambah. Oh ya ampun, buruk sekali. Sudahlah. Aku pasrah." Beranjak bangkit dari tutup kloset. Jellal melangkah lunglai yang disambut Laxus dengan melotot.
"Kemana saja kau? Cepat kumpulkan." Tangan kekarnya meraih kertas yang Jellal sodorkan. Levy-sensei, guru bahasa Inggris telah menunggu di daun pintu. Pelajaran dilanjutkan seperti biasa.
Sepanjang istirahat. Jam pelajaran berganti. Pulang sekolah. Semua membicarakan Jellal yang bertingkah aneh. Terkadang suka bicara sendiri di jam kosong atau marah-marah tidak jelas. Selain pengecut julukan, "calon pasien RSJ" akan melekat cepat atau lambat. Salahkan Erza terus menganggunya. Terkadang menyenggol tangannya ketika mencatat. Mencoret-coret buku dengan gambar teramat aneh.
"Hidupku hancur, Gray, Loke." Mau menangis pun tidak bisa. Air matanya tertahan entah bagaimana. Setengah hari itu Jellal mati lemas. Keisengan Erza justru menjadi-jadi.
"Sabar, kawan. Aku tahu menjinakkan iblis memang sulit. Ya, walau punyamu levelnya ekstrim."
"Berikan saran, Loke bodoh! Bertahanlah. Seminggu lagi kalian berpisah. Kami ingin menjenguk Natsu di rumah sakit. Kau ikut?"
"Jawabanku tidak, kapan-kapan saja. Hoi Erza. Ayo mulai penyelidikan!"
"Hehh…. Malas, ah. Temani aku berkeliling kota, oke? Sekalian traktir takoyaki dan jajanan lainnya. Bye, bye." Gray dan Loke tidak membalas. Mereka selalu membenci Erza yang berbuat seenak jidat.
Mereka benar-benar menyaksikan keramaian kota. Bangunan tinggi nan megah juga gedung pencakar langit tertinggi se-Magnolia. Erza merengek minta ke toko buku. Tukang kasir menyambut ramah di depan pintu, sejauh ini tak seorang pun mencurigai. Dia memakai sihir perwujudan, guna menyembunyikan aura iblis yang selalu memancarkan kebencian. Benar kata Gray, hati Jellal terlalu lembut.
"Mau beli satu?" Iris cokelat-nya mentap lekat rak setinggi lima kaki. Susdah payah Jellal mengambil buku, 'dunia para peri'. Dongeng yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan dengan ilustrasi terbaik, karya penulis terkenal.
"Me-memang aku anak kecil apa?!"
"Bukan masalah, Erza. Aku tak pernah menganggapmu anak kecil apalagi adik manis. Selanjutnya kita ke taman kota."
Atas paksaan Jellal (lebih tepatnya keinginan Erza), buku tersebut dibeli. Taman mulai sepi. Hanya diisi oleh anak-anak yang menunggu dijemput. Ia takjub melihat kebanggaan kota, air mancur tiga tingkat dengan kilau air diterpa mentari sore. Burung gereja berkicau riang di pinggir batu. Kotak pasir diramaikan tawa sekumpulan bocah yang asyik membangun istana. Entah bagaimana seorang iblis bisa terkesima. Ikut tersenyum seakan diajak main sama-sama.
"Guk! Guk!" Seekor chihuahua berlari ke arah mereka. Jellal tahu betul Erza paling suka yang lucu-lucu. Tersenyum simpul melihatnya menggendong anjing kecil itu
KAKK!
"Erza kau baik-baik saja?" Sebelum melompat ke pelukan Jellal, anjing itu mengigit tangannya yang sedikit berdarah. Sang pemilik datang tepat waktu. Minta maaf karena chihuahua manis ini bertindak aneh, seperti ketakutan.
"Sekali lagi saya minta maaf. Biar kuuobati tanganmu, Nak."
"Ti-tidak perlu. Ho-hoi Jellal, ayo beli takoyaki di sana. Aku lapar."
Lagi-lagi darah hitam yang mengalir. Erza keburu menyembunyikannya di belakang baju. Tak sampai dua menit luka itu tertutup sempurna, seakan anjing chihuahua tidak pernah mengigit. Dua kotak takoyaki mereka santap di atas ayunan, meski dia kurang berselara dan dibiarkan hingga dingin. Matahari hendak terbenam di barat. Anak-anak sudah pulang sambil bercerita riang di jalan, tangan orangtua-nya menggandeng hangat.
"Lihat. Anjing pun tahu aku bukan manusia. Teman-temanmu, Gray dan Loke membenciku."
"Maka kenapa?"
"Dasar tidak peka!" Butir takoyaki-nya dilahap sekali tiga. Menyisakan sebuah lagi yang langsung ditelan, tak dikunyah sama sekali. Curi-curi kesempatan Jellal menggandeng tangan Erza. Berniat membawa iblis nakal ini pulang ke rumah.
"Ayah dan Ibu cemas menunggu kita. Terlebih ingatlah, begini rasanya kalau tanganmu digandeng."
"Hangat…. Aku merasakannya sepuluh tahun terakhir. Ketika masih hidup."
"Sekarang beritahukan keputusanmu. Kasus itu kuselidiki atau dibiarkan begitu saja. Jadi seminggu terakhir kita fokus membuat kenangan. Pilihlah yang kau suka."
"Biarkan saja. Aku tidak peduli lagi motif dan siapa si pembunuh. Lima tahun berakhir. Seharusnya diriku lebih belajar ikhlas. Merelakan yang sudah terjadi dulu."
"Benar, lebih baik begitu. Aku menghargai keputusanmu. Sebelum tidur mau kubacakan dongeng? Lagi pula kenapa kau membeli bacaan anak-anak?"
"Cih! Akhirnya masalah itu kau ungkit-ungkit."
"Hahaha…. Perasaanmu membaik, ya? Ibu berkata makan malam hari ini spesial. Kau pasti mau tambah tiga mangkuk!"
"Sayangnya aku bukan iblis rendahan yang rakus."
Hari ini mereka boleh berbahagia. Namun besoknya Jellal harus menghadapi masalah baru.
Bersambung….
Balasan review :
Fic of Delusion : Kelihatannya puas amat Gray menderita :v Thx ya udah review.
