Hari baru satu masalah muncul, lebih tepatnya kemarin malam pukul delapan. Jellal tengah asyik menonton anime. Abai terhadap tugas utama pelajar yakni belajar, mengingat dia kelas tiga SMP, ujian kelulusan hampir di depan mata. Ya, walau Siegrain sendiri malas ambil pusing. Anak itu merupakan pantulan dia saat remaja. Hanya tahu bermain handphone (namun belum secanggih sekarang) atau berlarian mengejar bola di lapangan desa.
Kekuatan terbesarnya pun muncul di akhir pertempuran. Belajar sedikit mendapat hasil memuaskan. Ayah dan anak sama saja.
Kriing… kriing… kringg….
Kediaman Fernandes ramai sesaat. Baik Jellal maupun Erza fokus mencerna adegan pertarungan. Siegrain yang sibuk harus rela, membuang satu menit berharganya demi mengangkat telepon. Atau dia harus bersyukur karena diangkat. Suara bariton menyahut kasar. Itu Laxus-sensei, siapa pun tahu. Sebut namanya seluruh murid terkesiap. Sebut namanya berandalan terkencing-kencing.
"Selamat malam, Laxus-sensei." Berhati-hati agar darah tinggi beliau tidak naik. Siegrain justru keringat dingin di sekujur pelipis.
"Ternyata Anda ingat suara saya. Langsung saja, anakmu yang nakal itu, Jellal Fernandes, asal-asalan mengisi karir masa depan. Sepulang sekolah besok datanglah ke kantor guru. Jangan telat!" Mengerikan. Rasanya napas tinggal satu-dua hembus dan berakhir.
"Siapa yang menelepon?" Tanya Jellal menoleh ke belakang. Wajah Ayahnya pucat pasi. Tertunduk lemas di sofa.
"Apa salah makan obat? Hoi Siegrain perutmu sakit atau semacamnya?"
"Bukan itu, lebih parah! Jellal kamu dipanggil Laxus-sensei. Sebenarnya kau mengisi apa di rencana karir sampai rumit begini?" DEG! Dia berharap malaikat datang mencabut nyawa, tapi mustahil.
"Salahkan Erza yang sembarangan menyelinap dan mengambil pulpenku. Laxus-sensei berpesan tidak boleh ada coretan atau tip-x. Aku tak bisa menghapusnya."
Sekarang ekspresi mereka kusut masai. Erza terlalu acuh untuk peduli. Mementingkan akhir anime yang jujur, membuat dia kecewa. Lagu ending mengalun lembut mengisi langit-langit. Setidaknya sakit hati terobati mendengar suara penyanyi yang terbilang unik itu. Lima detik hazzle Siegrain menatap sang iblis. Satu menit memalingkan muka ke samping, takut ketahuan. Jelas tak ada tanda-tanda mempertanggungjawabkan.
Berakhir sudah.
"Sebaiknya kita merencanakan ingin bicara apa di hadapan gurumu." Berdiam diri pun tidak berguna. Jellal mengangguk lemah. Matahari belum terbit tetapi gelisah menusuk tajam.
"Mudah. Kesalahan pengisian." Celetuk Erza mengganti channel televisi. Kali ini wisata kuliner di negeri seberang, Crocus.
"Lawan kita Laxus-sensei. Alasan dangkal mana menang melawannya. Kupikir lebih baik pasrah dan menerima hukuman." Niat merangkai kebohongan terkunci dalam dada. Jellal putus asa meski meyakini, 'semua akan baik-baik saja.'.
"Ayah takut kamu dikeluarkan dari sekolah. Kenapa pula kau selalu bermain-main di saat penting, Erza? Anakku bisa ditendang secara tidak hormat."
"Hnnn…. Mochi itu kelihatan enak."
"Pembahasan berakhir. Ayah menghormati keputusanmu." Lebih tepatnya menyerah. Membiarkan Tuhan bekerja di balik bayang, demi keselamatan buah hati.
Jelas tidak lucu jika di drop out sekarang. Ujian tinggal sebulan, bahkan Jellal telah mengikuti tes SMA swasta dan mendapat bangku kosong. Mereka menonton walau pikirkan berpencar. Siegrain cemas setengah mati, berhitung kemungkinan terburuk dengan gumam-gumam tidak jelas. Mau disuruh sabar, tenang, optimis apalagi oleh Erza yang berlaku sebaliknya, santai mencongkel harta karun, tentu tambah mencemaskan!
"Tuhan. Kumohon perpanjang umur anakku."
"H-hah…. Ayah ini apa-apaan?! Aku belum mati." Suaranya serak-serak takut. Meski meminta ajal menjemput, tak dapat dipungkiri Jellal mau hidup lebih lama.
"Besok aku ikut bersama kalian. Saksikanlah kehebatan Erza-sama!"
"Jangan! Sebaiknya kau di rumah bersama Ibu. Biar kami yang menangani ini." Seakan membaca kekhawatiran Jellal. Kepala Fernandes itu menolak mentah-mentah saran Erza.
"Mustahil. Kalian sudah ketakutan duluan sebelum perang. Ini bukan kau yang biasanya, Siegrain. Kalau Jellal bersikap pengecut, sih, wajar. Itu julukan dia di sekolah."
"Laxus-sensei adalah mantan guruku." Hening sejenak. Busa nyaris keluar dari mulut Jellal jika dia hilang kendali. Di bangku SMP mereka sama-sama menderita, sebagai murid nakal juga julukan serupa, si pengecut.
"Ceritamu horor sekali dengan wajah tegang."
"Ayo tidur, Erza. Sudah malam." Ia hendak protes. Baru jam setengah sembilan dan disuruh memejamkan mata?! Tapi melihat Jellal pucat diputuskannya diam. Mengekori di belakang.
CKLEK!
BLAM!
"Bolehkah aku bertanya? Kau punya sihir penghilang, pengubah ingatan atau semacamnya? Kita butuh itu demi senjata terbaik." Gagal total. Erza adalah pembunuh berdarah dingin. Mana punya yang begituan?
"Hadapilah dengan gagah berani. Apa pun penolakannya aku pasti menemani."
Senang, cemas dan khawatir beda tipis. Matanya berat tertutup, sedangkan Erza sudah terbawa ke alam mimpi. Mungkin ia dapat menaruh (sedikit) kepercayaan. Ini pertaruhan, lima puluh banding lima puluh. Jellal memutuskan tidur setelah tenang. Berdoalah semoga dewi fortuna berpihak pada mereka, bukan si guru killer maupun orang lain.
Keesokan harinya….
Atmosfer di ruang makan tegang. Jellal tergugu mengigit rotinya. Membedakan satu dan dua pun kesulitan. Semalam dia diserang mimpi buruk, empat kali berturut-turut! Berisikan pesan serupa yakni: dikeluarkan dari sekolah. Tiga tahun menginjak bangku SMP. Meski hidup di bawah penindasan geng Cobra. Belum sekalipun ia terlibat dengan Laxus. Pertama ketika dipergok menghajar "musuh"nya. Kedua sekarang, gara-gara karir masa depan!
"Ayah. Ibu. Aku berangkat."
"Jellal terlihat kurang sehat. Apa tidak apa-apa membiarkannya ke sekolah?"
"Tenang, Ibu. Erza akan mengawasi Jellal supaya baik-baik saja." Apalagi rencana gilamu?! Lewat gurat wajahnya Siegrain bertanya, dibalas singkat, 'rahasia'. Dia tidak bodoh. Pasti yang dimaksud mengawasi dari dekat.
"Erza perhatian sekali, ya, terhadap Jellal kita."
Bagai pisau bermata dua lebih tepatnya. Di sekolah pelajaran berlangsung normal. Laxus bersikap normal. Tidak menekan atau mengintimidasi Jellal yang ketakutan. Wangi sabun menguap cepat digantikan keringat dingin, semua bercampur jadi satu. Kabar buruk lain ialah waktu pulang sekolah dipercepat karena rapat guru. Itu jam dua belas. Pertemuan diadakan jam sebelas di ruang komite kedisiplinan.
"Hubungi Ayahmu. Minta dia datang lebih cepat." Diberi izin memakai ponsel. Jellal melesat keluar di jam terakhir pelajaran, matematika. Dengan guru titisan iblis yang mengajar.
"Ha-halo, Ayah! Aku pulang jam sebelas. Tibalah tiga puluh atau dua puluh menit sebelumnya."
"Cepat sekali. Kamu yakin tidak salah dengar?"
"Serius. Aku tak bisa bermain-main sekarang. Sudah dulu. Pelajaran masih berlangsung." Sebenarnya Jellal ingin berkeluh-kesah. Namun deham Laxus terpaksa mengakhiri percakapan mereka. Dia sadar nyawa tinggal seujung kuku.
Ding… dong… ding… dong….
"Be-bel pulang!"
"Baiklah. Kerjakan tugas halaman akhir dari buku cetak, dikumpulkan! Siapa yang telat akan dihukum menyalin dua kali lipat. Jellal kamu ikut saya."
Rasanya baru menundukkan pantat di kursi. Tahu-tahu bel berbunyi nyaring memekik telinga. Kedatangan Jellal disusul dua menit kemudian oleh Siegrain. Kemeja putih yang ia kenakan belum terkancing benar. Satu bulir masih tergantung di bagian paling atas. Mereka berdua sama-sama kacau. Sementara iris Laxus mendelik sempurna. Bergantian menatap Ayah-anak yang lebih mirip saudara kembar.
"Jelaskan apa maksudmu menulis ini!" Selembar kertas disodorkan pada Jellal yang terpaku, kehabisan kata-kata. Keisengan Erza yang membawanya pada masalah!
"A-ah, itu…. Itu bukan tulisan saya." Mengambil sebilah pulpen dari saku celana. Ia menorehkan kalimat lain di karir masa depan, berbunyi, 'saya ingin menjadi pemburu hantu untuk mewarisi pekerjaan Ayah.'
"Bi-bisa Anda lihat. Tulisannya berbeda seratus delapan puluh derajat."
"KALIAN MAU MEMPERMAINKANKU? Baca ini baik-baik! Nama Jellal Fernandes tertulis jelas di pojok kanan." Marah-marah Laxus mendekatkan kertasnya ke hazzle Siegrain. Tamat sudah.
"Akhir-akhir ini kamu membuat masalah serius. Saya terpaksa me…."
"Tunggu sebentar!" Bala bantuan tiba! Erza menyingkirkan Jellal yang jatuh terduduk. Mengambil alih posisi bahkan memukul meja keras-keras. Membuat Laxus heran sekaligus menaikkan sebelah alis, 'anak ini tidak asing.'.
"Erza?!"
"Maksudmu Erza Scarlet, siswi yang meninggal sepuluh tahun lalu?!" Skenario terburuk sudah terjadi! Siegrain mengusap wajahnya kelelahan. Ruang komite lengang sejenak selain bunyi detak jam dan mesin pendingin.
"I-ini gila. Saya pasti bermimpi."
"Rencana karir yang Anda lihat juga mimpi! Sebenarnya Jellal Fernandes menuliskan ingin jadi pemburu hantu, bukan bos mafia, pedagang organ ilegal atau semacam itu!"
"Benarkah? Sepertinya kondisi saya kurang fit untuk mengikuti rapat." Ini terlalu gampang. Jellal tak mengerti, tetapi dia bersyukur dan pasti berterima kasih sepulang sekolah.
"Beristirahatlah di UKS. Lagi pula mustahil anak saya bermain-main, hahaha."
Berakhir sangat konyol. Siegrain berbaik hati mengantar mantan gurunya ke UKS. Bertiga pulang dengan senyum terukir di wajah. Siapa sangka jadi semudah membalik telapak tangan. Sebelum meyakinkan Laxus bahwa ia bermimpi, terlebih dahulu Erza memakai tip-x untuk menghapus jejak tulisan, dan gerakan tangan Jellal mendadak cepat kalau terdesak. Lembaran kembali dikumpulkan bersama kertas lain. Tertutup sempurna! Siapa pun tak tahu ada bekasnya.
"Terima kasih banyak, Erza. Aku tidak menyangka kau menampakkan diri di hadapan Laxus-sensei." Bersyukurlah beliau hanya guru SMP biasa. Kalau bukan masalah yang ada akan semakin ruwet.
"Orang normal ternyata. Aku sudah takut harus ditangkap sebagai ganti karir tidak bergunamu."
"He-hey. Kau berkorban demi aku?" Erza yang biasanya egois itu? Kemana sosok sang gerangan pergi? Ia meninju keras perut Jellal. Malu-malu sekaligus senang mendengar pertanyaan tersebut.
"Be-begitulah. Anggap balas budi mau menemaniku selama seminggu. Maaf sudah merepotkan." Langkahnya terhenti di belakang. Siegrain terus berjalan akibat senang. Lupa sekitar.
"Kemarilah. Aku ingin mengatakan sesuatu." Bisikan terdengar sayup-sayup melewati telinga. Jellal terhenyak sesaat. Rasa senang digantikan entah bagaimana menyebutnya. Semua berlalu cepat dan sulit dicerna.
"…."
"Cepat jalan, pemalas! Kita rayakan kemenangan telak ini."
Setidaknya dia bersyukur Erza selamat, atau Jellal akan merasa kehilangan lebih cepat.
Bersambung….
Balasan review :
Fic of Delusion : Yep bisa dibilang gitu sih, Erza juga gak mau kok jadi iblis hahaha. Thx ya udah review.
Zahra-chan610 : Kira-kira ini bisa dibilang ada romance gak ya? Aku pikir Erza yang melindungi Jellal itu manis, hehehe. Thx ya udah review. Chapter akhir aku jamin ada romance meski ya... Sedikit banget.
