Kemenangan yang patut dibanggakan, terutama Erza penyebabnya, si biang kerok mendadak jadi pahlawan, siapa pun pasti merasa senang atas "pertobatan" tersebut. Ibu menyambut dari arah dapur. Asap putih mengepul lewat kuali. Wangi masakan tercium jelas di pintu depan. Buru-buru memanggil mereka untuk makan siang. Tiga lauk utama terhidang di meja, semangkuk besar sup ayam, tempura dan daging kecap.
"Benar katamu. Kita makan besar." Puji Erza menyikut lengannya. Kemarin dia diberitahu duluan. Kalau Paman Hibiki mengirim sepaket daging impor Italia. Ya, salah satu saudara jauh di luar negeri.
"Tebakanku hebat, bukan? Setelah makan siang mau pergi kemana?"
"Rahasia. Temani saja aku. Mungkin suasana hatimu bisa lebih baik." Hening sejenak. Panggilan Ibu memecah lamunan Jellal mengenai bisikan di jalan. Erza bersikap seperti biasa. Apa dia tidak sedh, takut?
Mungkin benar, iblis tak punya emosi yang membuatnya beda dengan manusia. Erza melahap ganas lauk di depannya. Menambah tiga mangkuk berturut-turut membuat mereka kaget, dia pantas disebut rakus. Siegrain tertawa kecil menyaksikan. Jellal sibuk merebut daging kecap yang dicuri. Selincah mungkin menggerakan sumpit walau terlambat, keburu masuk perut. Kapan terakhir kali kebahagiaan itu dirasakan? Syukurlah ia pulang.
"Terima kasih, Erza."
"Hahaha…. Kau lengah, Siegrain. Dagingmu untukku!" Ah entahlah. Dia terlalu sumringah melupakan makan siang. Jellal berteriak memperingati. Susul-menyusul Ibu berkata, 'masih ada banyak.', sambil tertawa di sela pertengkaran mereka.
"Itu punya ayah, dasar rakus!"
"Siegrain tak menginginkannya. Jadi buatku!"
"Lanjutkan makan. Ayah mau ke perpustakaan umum." Dibalas cibiran Erza. Porsi Siegrain diambil sepenuhnya, habis dalam satu lahapan. Jellal tak banyak omong. Rakus tetaplah rakus mau sebanyak apa pun ia menolak.
"Makanmu lambat. Ayo temani aku."
"Ibu mau ikut? Meski aku tidak tahu Erza mengajak kemana." Kepala beliau menggeleng pelan. Menghabiskan waktu di rumah jauh lebih menyenangkan.
Mengerti maksudnya, Jellal segera menghabiskan suapan terakhir. Berlari kecil menyusul Erza yang sudah di luar. Tempat ini pastilah spesial, macam taman kota di mana mereka melihat matahari terbenam. Iris cokelat itu bersinar cemerlang. Sepuluh tahun bagai peluru melesat. Empat belas tahun hidup sebagai manusia. Lima tahun hantu dan iblis. Dia merasakan tiga kali kehidupan dengan pribadi berbeda.
Namun bukan itu. Kapan ia menyaksikan matahari terbenam? Sorot kagum. Lidahnya yang tiada henti memuji. Jellal belum pernah melihat sekalipun.
"Kita sudah sampai. Panti asuhan tempatku dirawat." Setengah jam berjalan. Melintasi keramaian di jalan protokol. Megah bangunan yang menjulang tinggi. Di pusat sanalah Siegrain pernah memeluk mereka. Anak-anak angkat kesayangannya.
"Besar. Ayah membangun semua ini?"
"Uhm! Tapi dulu ukurannya tidak sebesar sekarang. Sepuluh tahun berlalu jadi wajar." Berdiri di pintu gerbang. Erza mengulum senyum penuh arti, entahlah apa. Seakan puas sekadar menontoni dari jauh. Tidak bergabung.
"Beberapa waktu terakhir sedang tren teh hijau. Kata Natsu ada yang menjual es krim rasa itu. Mau coba?"
"Jangan bertanya kalau menyangkut makanan."
Perasaannya berkecamuk aneh. Tak dapat dipungkiri, walau berposisi pengkontrak Jellal tidak mengenal Erza sama sekali. Sederhana saja, seperti makanan kesukaan, hal yang dibenci, mungkin bunga favorit, hobi, seorang spesial. Iblis sekalipun maka kenapa? Darah manusia pernah mengalir dalam tubuh itu. Kalaupun murni keturunan. Jika pertemuan mereka memang ditakdirkan. Berapa kali pun terlepas dia akan mengenggam kembali.
"Kenapa melamun?! Es krimmu meleleh, bodoh." Menyisakan cone wafer saja, Erza mengigitnya bagai monster kelaparan, hanya menyisakan remah-remah di aspal.
KRAUK!
"Rasa blueberry enak juga. Aku harus mencobanya besok."
"A-apa yang kamu lakukan?!" Namanya ciuman tidak langsung yang populer di kalangan remaja itu, kan?! Erza menaikkan sebelah alis heran. Wajah Jellal merah padam tanpa alasan jelas.
"Berikan aku koin lima ratus!"
"Ini. Kamu ingin membeli minum?" Langkahnya santai menuju mesin penjual otomatis. Air mineral bergelinding jatuh. Erza membuka segel kemasan. SuaraBYURR terdengar sekaligus membasahi wajah Jellal. Es krim tak berdosa pun ikut menjadi korban.
"Hah…. Apa yang kau lakukan?!"
"Aneh saja melihat wajahmu memerah. Kupikir kau kepanasan gara-gara matahari. Ayo pulang. Ibu pasti menunggu lama di rumah." Lalu kenapa Siegrain tidak dipanggil Ayah? Jellal bingung dengan niatnya yang setenga-setengah.
"Ah ini, tangkap! Siapa tahu kalau haus."
Setelah dibeli dibuang begitu saja. Jellal mengekori di belakang. Sesekali menyusul ke samping namun Erza kembali memperlebar jarak. Posisi mereka lebih mirip majikan-pelayan. Selintas geng Cobra lewat. Mencegat si pengecut yang berhenti berjalan, terkesiap. Lima meter terpisah, ia baru sadar anak itu tertinggal di belakang. Masih tersangkut di jajaran tiang listrik. Kedua tangannya tersilang melindungi tubuh yang dihajar.
"Keberuntunganmu terus bersama Gray! Tanpanya kau hanya semut kecil yang lemah!" Perlahan mendekat. Erza ikut menendang Jellal yang tersungkur. Meringkis kesakitan.
"Payah. Seharusnya kau bangkit dan balas menghajar!"
"Siapa kau? Dia adalah mangsa kami!"
"Heh….! Menarik. Sayangnya kalian salah memilih lawan." Terbahak-bahak mereka mendengar ucapan Erza. Cobra pikir dia tidak tahu tengah berhadapan dengan siapa.
"Justru kamu yang keliru. Jellal Fernandes merupakan kaki tangan kami!"
"La-lari, dek! Kakak akan menyusul pulang."
BRAKKK!
"Memanggilku adik PADAHAL KAU LEMAH BEGITU?!" Saat kakinya dihentak ke aspal. Seketika bebatuan mengambang di sekitar. Menerjang geng Cobra yang terkaget-kaget di tempat. Lupa menghindar.
"Hoi rambut aneh! Asal kau tahu, dia bukan Jellal Fernandes yang lemah, melainkan calon pemburu hantu terkuat di Magnolia! Menyentuhnya sejengkal saja. Akulah lawanmu."
Semacam deklarasi perang? Geng Cobra meninggalkan Erza yang masih mengamuk. Setelah mereka pergi, barulah kekuatannya dilepaskan. Jellal hendak berterima kasih jika tidak ditendang. Terpental bermeter-meter menabrak tong sampah. Sebelum beranjak, tahu-tahu dia pulang duluan ke rumah, menggunakan teleport. Baiklah. Suka atau benci, sebagai pengkontrak yang baik ia harus mencari tahu penyebabnya.
Tok… tok… tok….
"Jellal? Kalian berangkat bersama tapi pulang terpisah-pisah."
"Di mana Erza? Aku ada urusan dengannya." Jari beliau teracung ke halaman belakang, gudang! Entah apa yang dia lakukan. Namun melihat isi kardus berserak-serak membangkitkan nostalgia. Ada dua album tergeletak di rerumputan.
"Sepedaku! Berarti Ayah tidak menjualnya?"
"Umurmu mau lima belas tahun dan naik sepeda roda tiga? Memalukan sekali. Kau harus banyak belajar. Jangan menyia-nyiakan bakatmu!" Ucapannya berlawanan dengan pandangan mata. Erza fokus membalik lembar album. Melihat foto lama sepuluh tahun lalu.
"Ternyata Siegrain menyimpannya di sini."
"Perempuan berambut scarlet itu kamu, ya? Rasanya beda." Bukan karena model rambut yang beda. Jellal mengungkit soal aura. Super intuisi turun-temurun keluarga Fernandes.
"Yang dikepang lebih manis daripada diurai?!"
"Di situ kau terlihat bahagia. Pasti menyenangkan punya banyak teman." Membandingkan dengan dirinya yang menyedihkan jelas berbeda. Lembaran berganti ditiup angin. Foto penghuni panti tersimpan lengkap, bahkan ada data mereka.
"Hahaha…. Kau mencibir ke arah kamera!" Jellal menunjuk foto di pojok kanan. Malang nasib jarinya yang terjepit album setebal dua ratus laman.
"Arrghhh…. Jariku bisa patah karena ulahmu."
"Dihajar sampai lebam saja kau sanggup bercanda! Seranganku barusan tidak ada apa-apanya."
"Hahaha. Benar! Kita melewati bulan demi bulan bersama-sama. Namun entah kenapa, aku merasa tidak mengenalmu."
"Jadi kamu mau bilang aku orang asing?!" Menepuk jidat kesal. Erza sangat sering menyebabkan kesalahpahaman. Jellal mengibas tangannya di udara. Membantah ucapan sang iblis yang salah mengartikan.
"Maksudku kurang dalam! Semisal apa makanan kesukaanmu? Seorang spesial atau sebutlah cowok yang kamu sukai. Hobi. Teman terbaik. Film favorit." Terbungkam sesaat. Erza membalas dengan tawa meledak. Baru pertama kali seseorang menanyakannya.
"Masakan buatan Ibumu yang nomor satu. Hobiku mengejek dan mengisengimu. Teman terbaik kurasa Miliana. Film favoritku anime. Hahaha…. Sudah puas, Tuan Fernandes? Seorang spesial itu rahasia."
"Jawaban yang bagus." Meski hobimu membuatku merana! Tapi lagi-lagi Jellal menahan marahnya. Sorot mata itu…. Erza bahagia.
Namun dia salah perhitungan. Kebahagiaan tersebut mahal harganya. Tergantikan oleh raung kesedihan yang penuh sesal. Mereka (Jellal dan Siegrain) keliru, Laxus bukanlah guru biasa, termasuk salah satu pemburu dan tergabung dalam organisasi shadow. Pergelangan tangan Erza terantai. Lubang hitam menyedot membawa pergi. Suara ledakan susul-menyusul di belakang. Sadar-sadar gudang sudah rubuh menyisakan kayu lapuk.
"Aku memanggilmu kembali, Erza!" Gagal. Manteranya dipatahkan entah bagaimana. Siegrain yang baru balik bergegas ke gudang. Ransel berisikan macam-macam buku terjatuh di rumput. Kaget.
"Sial! Mereka menculik Erza karena aku lengah."
"Beritahu Ayah. Siapa yang melakukannya!"
"Laxus-sensei. Kita keliru menilai. Kemarin hanyalah sandiwara untuk memancing Erza keluar. Beliau sudah tahu kertasku dicoret-coret olehnya." Asumsi yang Jellal berikan tepat sasaran. Karena itulah Siegrain langsung pulang.
"Lalu kau mau apa? Mustahil melawan mereka dengan dua orang."
"Rebut Erza kembali. Aku bersumpah tidak akan melewatkan sehari pun sebelum kami berpisah!"
"Semangat yang bagus. Kita pergi sekarang juga."
BRAKK!
Teleportasi? Dalam sekejap mereka tiba di sebuah tempat. Bangunan ala Eropa berdiri tegak menghadap selatan, seperti rumah Gray walau ukurannya dua kali lipat. Suara ledakan berdentum dari dalam. Jellal tahu sesuatu terjadi. Bergegas melewati gerbang hitam yang tidak dijaga siapa-siapa. Semua berjalan lancar. Tak satu pun petugas mencegat di pintu utama sekalipun. Justru karena terlalu mudah Siegrain khawatir.
"Tiarap, Jellal!"
BOMMM!
Dua orang terlihat bertarung sengit, Laxus dan Erza! Tak mau membuang kesempatan Jellal nekat menerobos. Mengabaikan peringatan Siegrain yang terpaksa menyusul. Memastikan kedua anak kesayangannya baik-baik saja. Lambang iluminati memancarkan sinar merah terang. Sinyal itu ambigu. Terakhir kali tak menyala sesilau ini. Sesaat dia sadar. Berhasil memecahkan kode tersebut. Artinya hanya satu: iblis hilang kendali.
"Gawat. Jika begini terus…." Jarak Jellal terlalu dekat. Dia harus menghindar! Siegrain hendak memberitahu. Namun terlambat, Erza terlanjur sadar.
DUAKKK!
"Dia Ayahku, Erza, Siegrain Fernandes. Pendiri panti asuhan! Kenapa kau menyerangnya?!"
"Musnahkan… musnahkah semuanya…"
"Dasar menyusahkan."
"Tunggu Jellal! Apa yang ingin kau lakukan dengan menaikkan satu tangan?! Menjauh. Dia bukan lagi Erza. Kekuatannya di luar kendalimu!"
Sesuai prediksi, sang scarlet meraih tangannya membuat Jellal melayang di udara. Sekaranglah kesempatan untuk membalik keadaan. Ia memanjat tubuh Erza yang terus terbang, hendak menghantam tembok. Tabrakan besar terjadi. Batu bata tak lagi membentuk tembok. Berceceran di lantai ke sembarang arah. Rontaan si iblis kian menjadi-jadi. Kedua tangannya dikekang rantai yang Siegrain bawa.
"Dengan ini aku melepaskanmu dari penderitaan. Berbahagialah di surga." Bibir mereka saling bertubrukkan. Jellal lembut melumat bibirnya. Memutus ciuman itu pada detik ke empat puluh, tersengal-sengal.
"Je… lal….?"
"Akhirnya kamu sadar! Sayang tidak ada empat hari lagi. Aku ingin mengantarmu pulang secepat mungkin." Tubuh mungil Erza perlahan-lahan ditelan cahaya. Seperti Lucy yang melepas di neraka.
"Tahu begini aku sering-sering mengusilimu. Tujuan awalku adalah merebut tubuhmu dan hidup penuh sebagai manusia, sekaligus mencari pelaku pembunuhan, tapi sudah cukup."
"Lihat, Erza. Aku menepati janji kita. Anakku berhasil menyelamatkan dan membawamu pulang."
"Ck! Untung niatku mengambil alih dibatalkan. Tetapi jiwa anakmu terlanjur kujual ke neraka. Ketika kau mati mustahli balik ke surga. Maaf."
"Selama kita berbuat kebaikan pintu surga tak pernah tertutup. Aku yakin Ayah mengajarimu."
"Ajaran agama, ya…. Aku tetap mengingatnya sepuluh tahun berlalu. Jadilah kuat. Di mana pun jiwaku berada kita selalu bersama. Sayang impianku menikahimu gagal total."
"Suatu hari nanti kita pasti bertemu. Percayalah. Malaikat akan mengantarmu pulang, pergilah." Benar saja. Dua orang berpakaian putih muncul di hadapan mereka. Erza tak percaya dengan pengelihatannya.
"Masuk surga…. Bagaimana bisa?"
"Ketulusannya membuat kami luluh. Barangsiapa menyertakan ikhlas dalam perbuatan mereka. Berbahagialah orang yang menerimanya. Kau gadis yang beruntung, Erza."
"Terima kasih banyak! Tepati janjimu, pengecut."
"Cepat atau lambat."
Perpisahan yang berakhir bahagia. Jellal menunaikan tugas terakhirnya. Hutang satu janji di mana suatu hari nanti mereka akan bertemu. Diam-diam Zeref menonton di balik tembok, sambil tersenyum penuh arti kartu lisensi Gray dan Loke dilempar, tergeletak di sebelah kanan. Selesai sudah. Hari-hari normal kembali berjalan. Lambang tersebut menghilang sempurna.
"Ayo pulang dan rayakan keberhasilan ini."
Sepuluh tahun berlalu. Jellal membawakan kisah baru ini secara singkat.
-ll-
Dia baru saja pulang dari negara utara. Memberantas hantu yang menganggu kedamaian warga desa. Umurnya dua puluh lima tahun. Menggantikan sang Ayah, Siegrain Fernandes sebagai pemburu hantu terbaik. Mereka berempat membentuk organisasi independen, dengan Gray yang memimpin setiap misi dan membagi tugas. Empat tahun pergi dari tanah kelahiran. Magnolia tetap kota damai dalam ingatan Jellal.
GLUDUNG….
"Bolaku. Bola!" Seru anak kecil mengejar mainan bulat kuning. Tepat mengenai ujung pantofel Jellal yang berkilat, diterpa sinar matahari siang. Iris cokelatnya menatap pria setinggi tujuh kaki. Sesaat dia melupakan sang 'kawan'.
"Ini ambillah. Kamu mempunyai rambut scarlet yang cantik, Nak." Badannya disejajarkan dengan perempuan berusia sepuluh tahun itu. Mereka benar-benar mirip, bagai pinang dibelah dua malah!
"Hummm… paman…. Jellal?"
"Erza-chan larinya jangan jauh-jauh!" Nama anak itu…. Jellal beranjak meninggalkan taman kota. Membelakangi anak yang kecil yang berteriak, 'terima kasih' dengan suara menggemaskan.
"Kita bertemu lagi, bukan? Aku senang kau mempunyai kehidupan yang bahagia."
"Hoi Jellal. Cepatlah Gray memanggil kita untuk misi, sangat penting!" Ya ampun…. Tidak bisakah, pemuda salam itu melihat temannya sedang berbahagia? Natsu tercekat empat langkah. Terdiam melihat seorang anak kecil.
"Mirip Erza, ya."
"Nama mereka juga sama. Ayo pergi. Aku tidak mau dihukum."
Benang merah memang tak pernah bosan mengikat mereka.
Tamat.
Balasan review :
Fic of Delusion : Tanyakan pada rumput yang bergoyang, nak. Semoga udah dapet jawabannya. Thx udah review.
