Author: Newsun

Chapter 3

HATI HATI BANYAK TYPO

HAPPY READING ^.^

#Flashback

2 tahun setelah youngjae pindah

"EOMMA!AKU MENDAPAT BEASISWA UNIVERSITAS DI SEOUL!" Daehyun berteriak sambil berlari masuk kedalam rumahnya. Mencari keberadaan sang ibu yang ternyata sedang memasak makan siang di dapur.

Hari ini adalah hari pengumuman nilai ujian kelulusan di sekolah menengah atas Daehyun. Dan 2 hari lagi adalah hari upacara kelulusannya. Daehyun senang karena ia mendapat nilai yang sempurna. Setelah kepindahan Youngjae,Daehyun belajar keras agar bisa menyusul Youngjae. Bersekolah di Seoul dan berharap masuk ke universitas bagus tentunya. Ia belajar mati – matian karena ingin mendapat beasiswa yang diadakan oleh sekolahnya. Dan tentu saja Daehyun mendapatkannya.

"Youngjae adikku tercinta, tunggulah kedatangan Hyung-mu."

2 minggu kemudian…

"Yakin tidak ada yang tertinggal?" ucap saat di stasiun, mengantar anaknya Daehyun yang akan melanjutkan sekolahnya di Seoul.

"Titip salam untuk Youngjae dan keluarganya." Sang ibu menimpali.

"SIAP BOS!" Daehyun terkekeh senang setelah itu memeluk kedua orang tuanya.

"Jagalah dirimu dengan baik, sayang."

"Ne, Nyonya dan Tuan Jung." Daehyun melepaskan pelukannya dan tersenyum, setelah itu masuk menaiki kereta menuju Seoul.


At Seoul…

Hari sudah mulai gelap saat Daehyun tiba di stasiun Seoul. Tanpa babibu ia menyetop taxi untuk menuju ke apartemen yang akan di tinggalinya di Seoul.

"124"

"125"

"126"

"127"

Daehyun terdiam sebentar, melihat angka 127 seperti ada yang mengganjal di benaknya. Sepertinya itu nomor penting tetapi nomor apa itu dia lupa. Ah sudahlah, mungkin nomor belakang hp salah satu keluarga Daehyun.

Ia melangkahkan kakinya menuju apartemennya disebelah nomor 127 yaitu 128 (iyalah masa 130 wkwk). Memasuki apartemen barunya untuk hidup di Seoul. Apartemennya cukup sederhana tetapi rapid dan cukup untuk ditinggali ia seorang. Karna terlalu lelah mungkin Daehyun akan beristirahat. Menghempaskan dirinya di kasur tanpa menunggu waktu lama Daehyun terjun ke dalam mimpinya.

We got the power

I got the power

geu ape gulhaji ma neonneon

geureoji mara gogael deureora

We got the power

geue matseo ssawo

cheonsaui eolgullo nal nalnal

chyeodaboji ma geojitmarida

warning warning warning warning warning warning….

Suara alarm hp membangunkan sosok tampan yang masih bergelung di dalam selimut. Masih setengah sadar, masih enggan untuk tersadar lebih tepatnya. Kalau bukan karna perutnya yang mendadak merasa lapar ia juga tak akan bangun.

Ia bangkit dari tempat tidurnya. Membuka koper dan mencari handuknya serta peralatan mandi lalu masuk ke kamar mandi. Mungkin dengan mandi akan membuatnya lebih segar.

20 menit kemudian…

Setelah berpakaian dengan baju santainya, dengan memakai jaket Daehyun melangkahkan kakinya keluar apartemen untuk mencari makanan di luar. Maklum Daehyun adalah pria sejati yang tak pandai memasak. Setelah mempassword apartemennya. Ia berjalan menyusuri lorong, tak lupa ia menengok ke arah pintu 127. Ia kembali berfikir siapakah pemilik no.127 tersebut. Tetapi rasa lapar menghalanginya untuk berfikir. Ia terus lurus berjalan menyusuri lorong apartemen. Berjalan menunduk sambil menggumamkan sebuah lagu.

"Eodini mwohani neon jal jinaeni, nae gyeot…"

BRUK!

Belum sempat daehyun menyelesaikan reffnya seseorang tidak sengaja menabrak daehyun hingga tersungkur kebelakang. Anak memakai seragam sekolah itu hanya berkali kali meminta maaf sambil membantu daehyun berdiri setelah itu pergi tanpa bertatap muka.

Daehyun menoleh, ingin melihat siapa orang ceroboh yang menabraknya.

"AAHH Jadi kau pemilik apartemen no.127 itu. Awas saja,kau harus membayar hutangmu karena membuat bokongku sakit. dasar bocah!" Gumam daehyun dengan tatapan sadisnya memperhatikan anak tersebut yang sedang membuka pintu apartemennya.

Akhirnya dengan berat hati daehyun melanjutkan perjalanannya mencari supermarket terdekat untuk mengisi kebutuhan perutnya.

Sekembalinya daehyun dari supermarket. Ia sekarang sudah menghadap apartemen anak yang telah menabraknya tadi. Ia sedikit ragu. Maju mundur, mondar – mandir dengan gugup tetapi karena rasa dendamnya ia memencet bel yang ada di pintu.

"NE! sebentar!" suara wanita yang tertangkap oleh telinga daehyun. Perasaan daehyun mulai ragu.

CEKLEK..

"Ya ada apa nak? EH? KAU KAN! Dae-daehyun?" kata wanita itu seperti mengenali sosok di depannya.

"A A AHH?AH AHJUMMA YOO? BA B BAGAIMANA BISA?" ucap daehyun tak kaget jika yang di ketahui pemilik rumah adalah , tetangga lamanya di Busan.

"Bagaimana bisa kau disini, ayo kemari masuklah."

Dengan bodohnya daehyun melupakan maksud kedatangannya kemari dan juga kejadian tadi. Dan bodohnya lagi ia tak terfikirkan jika itu apartemen Youngjae-nya.

Lama sekali otak daehyun bekerja sampai ia duduk di sofa ruang tamu apartemen youngjae. ia memperhatikan foto – foto yang terpampang di ruang tamu tersebut. Dan mendapati foto masa kecilnya dengan anak kecil sekitar 4 tahun.

''BODOH!" Daehyun berdiri sambil membelakakkan matanya.

"Siapa yang bodoh, daehyun-ah." keluar dari dapur dengan segelas minuman.

"A a ani. Youngjae" saking gugupnya daehyun sampai mengucapkan nama Youngjae.

"Ahh anak itu? Sebentar akan ahjumma panggilan. YOUNGJAE – AH! KEMARILAH DAN LIHATLAH SIAPA YANG DATANG!"

"NEEE EOMMA!"

Suara itu….

Meski sudah berubah lebih berat, tetapi daehyun masih mengenalinya.

Suara langkah kaki terdengar mendekat ke arahnya.

DEG

DEG

DEG

"Apa temanku kemari?" Tanya Youngjae polos pada ibunya dan tak memperhatikan jika orang yang jaraknya beberapa centi di depannya terdiam kaku memperhatikannya.

"Sapalah dia, youngjae – ah" Ny. Yoo menginterupsikan pandangan youngjae ke arah daehyun yang berdiri seperti patung dengan bibir tebal terkatup rapat dan mata memandang tak percaya.

Mata itu bertemu dengan mata yang lainnya.

Saling bertatap lama. Dalam, sangat dalam.

Memandang tak percaya, seperti mimpi. Apakah benar mimpi.

Ingin menyangkal, tetapi pandangan itu serasa nyata.

Ini bukan mimpi. Yang selama ini di rindukannya terpampang nyata berdiri sama sama menatapnya. Seseorang yang memintanya menunggu akhirnya datang. Apakah ini sebuah kebetulan ataukan kebetulan yang sudah di rencanakan,takdir.

Flashback end


Seoul…

Daehyun pov

Sungguh hati ini tidak bisa di ajak berkompromi. Terus berdetak cepat meskipun aku sudah membuang nafas berkali –kali untuk menghilangkan rasa gugupku. Aku berdiri dihadapan pendeta dan tamu undangan. Menunggu calon mempelaiku memasuki altar dan kami akan mengucapkan janji suci sehidup semati. Pandanganku terus terpaku pada pintu gereja yang masih tertutup rapat. Berharap segera terbuka dan si cantik muncul.

"Para tamu undangan, dipersilahkan berdiri. Sang mempelai akan memasuki gereja." Ucap sang MC.

Ini dia yang kutunggu sedari tadi. Jantungku bukan malah diam tetapi malah semakin berdetak degan cepat. Aku merapikan jasku sedikit dengan pandangan tak lepas dari pintu gereja yang sedikit – demi sedikit terbuka.

Itu dia! Si bocah kecil dengan gaun pengantin dan wig panjangnya berjalan dengan ayahnya melewati altar perlahan mendekat ke arahku. Cantik , ah dia pasti merajuk jika aku mengatainya seperti itu. Dasar bocah. Aku sedikit tersenyum melihatnya wajahnya yang tersenyum seperti dipaksakan. Ia pasti sangat gugup juga. Lihat itu! Wajahnya sangat aneh.

Aku terus memandanginya. Tanpa peduli suara riuh tepuk tangan tamu undangan. Ia sudah ada di depanku, memberikan tangan youngjae untuk di satukan dengan tanganku.

"Tolong, jagalah dia dengan baik. Aku serahkan padamu." Sebelum pergi ke tempat duduk Tn. Yoo menepuk pundakku sayang.

"Gugup?" tanyaku pada si cantik yang sekarang sudah ku genggam tangannya. Ia hanya mengangguk mengiyakan.

Aku menggenggam tangannya lebih erat seperti mengatakan ini akan berjalan lancer dan baik – baik saja dengan menampilkan senyum terbaikku.

Lagi – lagi ia hanya mengangguk.


#Flashback

AtYoungjae's dorm

Diam...

Mereka hanya diam terlalu larut akan pikiran masing - masing. Masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Duduk di sofa hanya berdua setelah Ny. Yoo meminta izin untuk keluar untuk membeli sesuatu.

Youngjae tentu saja gugup setengah mati, kakinya bergetar bibir plumnya ia gigit. matanya bergerak kesana - kemari. Sedangkan manusia di sebelahnya hanya diam dan sesekali membuang nafasnya keras.

"YA! bisakah kakimu diam,huh?!"

"Bagaimana bisa?" Youngjae bertanya sembari menghadap Daehyun. Memberanikan diri untuk bertatap langsung dengan manusia di sebelahnya.

"Apanya yang bagaimana?" Daehyun mengerutkan keningnya bingung, tak mengerti maksud pertanyaan youngjae.

"Menemukan tempat tinggalku. Bagaimana bisa?apa eomma memberikan alamatnya pada hyung?"

"AH BENAR, aku pernah melihat no.127 di kertas alamat yang Yoo Ahjumma berikan padaku." Ujar daehyun dalam benaknya.

"I-ini ha hanya kebetulan. Tadinya aku ingin memarahi anak yang menabrakku di lorong apartemen. Aku tidak menyangka bahwa yang keluar adalah ibumu."

Youngjae hanya membelalakan matanya kaget. "Jadi yang ia tabrak tadi daehyun hyung."batin youngjae lalu menundukkan kepalanya.

"Mian,hyung."

"Hanya itu? Berapa kali kata maaf yang keluar dari mulutmu saat kau menabrakku tadi?kenapa kau langsung pergi begitu saja?"

"Mian,hyung" lagi – lagi hanya kata itu yang terucap.

"Apakah kau bocah kecil yang baru belajar bicara!?" ucap daehyun mulai geram dengan sikap awkward youngjae. ia sedikit meninggikan suaranya berharap youngjae tidak mengeluarkan kata – kata yang sama.

"A ani, a aku h h hanya... aishh." Youngjae gugup dan frustasi karena ia tak bisa mengungkapkan apa yang ada di hatinya sekarang.

"hanya ?"

"Aku merindukanmu, daehyun hyung."

Mulut youngjae akhirnya tergerak dan mengucapkan kata yang membuat daehyun bergeming. Telinganya menangkap kata – kata itu meskipun samar tapi terdengar jelas. Youngjae semakin mendundukan kepalanya, menyembunyikan semburat merah yang ada di pipi tembamnya.

"Aku menunggu setiap hari seperti yang kau bilang di telepon waktu itu. Aku hampir putus asa tapi aku percaya padamu hyung. Aku percaya kau pasti datang. Semakin aku percaya semakin aku memikirkanmu semakin pula rasa rindu itu datang."

GREP

Daehyun memeluk tubuh itu, tubuh rapuh milik adik tersayangnya. Memeluknya erat seperti besok mereka akan berpisah lagi. Ia merasa bersalah karena baru datang sekarang. Membuat adik manisnya ini menunggu dan berharap dirinya akan datang secepat mungkin. Yang di peluk hanya diam, menenggelamkan wajahnya di dada bidang hyung yang sudah lama dinanti. Youngjae nyaman berada di pelukannya. Sampai sampai ia tidak sadar bahwa air matanya sudah mengalir membasahi mata serta baju daehyun.

"Aku juga merindukanmu. Maafkan hyung karena terlambat datang dan membuatmu menunggu" daehyun berucap lembut sambil mengelus kepala serta menepuk punggung youngjae sayang.

Daehyun melepas pelukannya, memegang dagu youngjae dan mengangkat kepalanya agar ia bisa melihat wajah manisnya dengan jelas. Raut mukanya berubah sendu saat mengetahui wajah youngjae yang merah dan basah karena menangis. Ia mengarahkan ibu jarinya untuk menghapus jejak air mata yang tersisa.

Daehyun seketika tersenyum melihat betapa lucunya wajah youngjae. merasa nyaman dengan perlakuannya hingga ia menutup kelopak matanya. Memanfaatkan situasi, daehyun mendekatkan wajahnya mendekati wajah youngjae ,memiringkan sedikit kepalanya dan meraup bibir pink yang menggoda daehyun sejak tadi.

Youngjae pov

Lembut. Seperti itulah rasanya saat daehyun hyung mengusapkan jarinya di wajahku, aku sampai menutup kedua mataku. Nyaman, baru kali ini aku merasakan perlakuan ini dari daehyun hyung. Aku sampai dapat merasakan hembusan nafasnya, sangat dekat dengan wajahku.

Aku mengintip, membuka mataku sedikit ingin melihat wajah daehyun hyung.

DEG

DEG

"Kenapa sangat dekat sekali." Batinku terkejut saat melihat wajah daehyun hyung hanya berjarak 3 cm di depan mataku.

Aku hanya diam. Tak berani bergerak, daehyun hyung memandangi wajahku cukup lama dan mulai memiringkan kepalanya. Matanya tertutup dan terus bergerak maju. Aku ingin mundur menghindar, tetapi kenapa? Ada apa dengan tubuhku. Aku tak bisa menggerakkannya.

Aku bisa merasakannya, benda kenyal seperti jeli menempel di bibirku. Seketika aku membelalakkan mataku, terkejut dengan apa yang di lakukan daehyun hyung padaku. Ia menciumku. Daehyun hyung menciumku. Dan sekarang ia mulai melumat bibirku, hanya gerakan – gerakan kecil. Aku mulai terbuai hingga mataku tertutup dan mulai membalas sedikit kecupannya. Tangan besar daehyun hyung berada di pinggangku, memelukku posesif. Ayolah aku tidak akan kabur jika ceritanya menjadi seperti ini. Ku letakkan juga lenganku melingkar di lehernya. Memijat kepala serta menarik rambutnya pelan.

Kecupan itu berhenti, daehyun hyung melepas bibirnya dari kepunyaanku. Ia menyeringai berarti sambil menatapku.

"Ya, yoo youngjae. darimana kau belajar melakukannya,huh? Kau bahkan masih murid junior high school. Memang bocah sekarang sangat hebat."

Semburat pink mulai nampak di pipiku, malu saat mendengar daehyun yang menggodaku. Ah apakah itu pujian? Entahlah.

Youngjae pov end.

Daehyun pov.

Manisnya. Semburat pink di wajahnya semakin menambah tingkat kemanisan pada wajah youngjae. aku hanya menggodanya sedikit, ah bagaimana jika aku menggodanya lebih dari ini.

Aku menggenggam tangannya erat. Ia pun memberanikan diri mengangkat wajahnya, menatap wajahku. Aku tersenyum. Menampilkan senyum terbaikku padanya.

"Youngjae-ah?"

"Eung?"

Lihatlah bagaimana caranya dia menjawab. Rupanya mulai berlaku menggemaskan di depanku. Dasar bocah.

"Aku tau ini pertemuan yang mendadak untuk kita."

Aku menghentikan kata – kataku sejenak. Ia menautkan alisnya, mencoba menerka nerka apa yang akan aku ucapkan selanjutnya.

"Tapi aku mengira bahwa ini adalah sebuah takdir."

"…."

"Dan kurasa, karena ini sebuah takdir. Aku tak akan menyia – nyiakan waktu."

"….."

"Jadi…. Adik kecilku, maukah kau menjadi kekasihku?"

Entah angin dari mana, kurasa aku tak ingin menyia – nyiakan waktuku. Aku hanya takut ia akan pergi lagi. aku takut akan kesepian. Aku baru sadar jika apa yang di katakananya 3tahun lalu bukan sekedar cinta monyet anak SD yang terlalu banyak menonton drama korea. Mungkin ini juga karma, mengingat aku mengatai teman youngjae dan dirinya bocah. Karena sekarang aku merasakannya sendiri. Bagaimana saat menjalani hidup tanpa ada gangguan dari makhluk di sebelah rumahku, sehari tanpa menggoda youngjae, jeritan senang youngjae saat aku pulang sekolah membawakannya ice cream vanilla kesukaannya. Aku rasa jika kasih sayangku berubah semenjak youngjae bukan anak balita berumur 4 tahun. Aku mencintainya bukan sebagai adikku, aku mencintainya sebagai seorang pria mencintai kekasihnya.

"Aku….."

"Iya atau tidak?" tanyaku yang tak sabar mendengar jawabannya.

"heung.. aku menerimanya." Suaranya lirih hingga tak terdengar.

"Jadi apakah kita sudah sah?"

"YA! Sah apanya? Memangnya kita sekarang sedang melangsungkan pernikahan!." Iya mempoutkan bibirnya lucu. Ingin sekali aku menyambarnya lagi.

"Aiguu, adik kecilku ani pacar kecilku. Tenang saja secepatnya kita akan menikah jika kau mau." Aku semakin menggodanya.

"YA! DASAR MENYEBALKAN! CEPAT SANA PULANG!"

ia berteriak kesal, menarik lenganku untuk berdiri. Mendorong tubuhku ke arah pintu yang langsung terbuka karena Yoo ahjumma datang dari membeli sesuatu.

"Tepat sekali. CEPAT KELUAR!" ucap youngjae ganas sambil mendorong tubuhku keluar dari apartemenya. Aku hanya tertawa geli melihat youngjae nya merajuk. Benar benar sifat bocahnya masih ada dalam dirinya.

"Youngjae! kenapa kau usir hyungmu dengan kasar?!" Yoo ahjumma membuka suara karena bingung melihat situasi.

"Ani eomma, dia benar – benar menyebalkan. Ayo cepat masuk eomma." Youngjae menarik ibunya masuk kedalam dan menutup pintunya.

Sebelum pintunya menutup rapat aku menahannya. Aku mencium kedua jari ku lalu memasukkan kedalam cela pintu. Menempelkan pada bibirnya.

"Youngjae – ah, saranghae." Aku menyajikan senyum terbaikku lalu pergi dari hadapannya, pulang ke apartemen ku disebelah apartemennya.


TBC

Buat yang review bilang alurnya kecepetan, mianhae ya. ini mungkin karena daehyun yg udah ngebet ngawinin youngjae /gakdeng. buat chap selanjutnya aku bakal berusaha bikin yg panjang dan alurnya lebih tertata.

jadi ini ceritanya disela2 proses pernikahan daejae. mereka ngebayangin masa lalunya. gimana mereka ketemu sampe nikah hari itu. dan main ceritanya ntar pas di kehidupan pernikahan mereka /LOH SPOILER WKWKWK.

yaudah itu aja mungkin. maafin kalo masih absurd, maklum ini masih anak baru. banyak2in saran ya buat eonnie2/oppa2 yang udah jago bikin ff nya!

Balesan review chap2 kemarin

cacacukachanhun : hiii salam kenal juga. makasih udah review dan kasih saran. hehehe, aku bakalan berusaha buat alurnya jadi gak kecepetan buat chap depannya.

Damchu1428 : hiiii. ini emang alurnya maju mundur wkwk, dan cerita dae sama jae ketemuan udah di ungkap di chap 3 ini semoga suka

Dhyun628 : Youngjae masih abg nih gaboleh lovey dovey kebangetan ntar takutnya dae nyosor trs jadi bencana wkwkwkwkwk. ditunggu yaa kak lovey doveynya ini masih awal

fluffiejae : ini udah panjang belum kak? wkwkwkwk

JokeMato DaeJae : iyanih udah nikah, cantik kok youngjae kan emang wanita bertubuh lelaki hahahahaha.

JANGAN LUPA REVIEW!

-Newsun