Author: Newsun
Chapter 4
tulisan miring = flashback
Hati – hati banyak typo
Happy reading ^.^
Dalam setiap hubungan tentu tidak selalu berjalan lurus, tanpa hambatan, dan selalu berakhir bahagia. Dalam setiap hubungan pasti banyak rintangan maupun cobaan yang diterima, dari pihak sendiri maupun pihak pasangan kita. Begitu pula dengan hubungan Daehyun dan Youngjae yang telah terjalin selama 3 tahun, hubungan mereka tidaklah semanis dulu saat baru saja resmi menjadi kekasih. Bukan karena orang ketiga atau masalah besar lainnya, melainkan kesibukan yang memisahkan mereka.
Daehyun kini sering mengabaikan Youngjae karena ini tahun terakhirnya kuliah dan ia juga mengambil pekerjaan paruh waktu di sebuah bar yang buka di sore hari lalu tutup saat pagi dengan Youngjae? tentu saja sibuk sekolah, tugas rumah yang begitu menumpuk, mengikuti bimbingan belajar setelah sekolah usai, serta persiapan ujian kenaikan saat ini telah menjadi murid senior high school di tahun ke dua.
Meskipun begitu mereka saling memaklumi kesibukan masing – masing, terlebih Youngjae yang lebih sering merelakan kekasihnya berkutat dengan kertas ketimbang dirinya. Toh Daehyun belajar dan bekerja demi menunjang kehidupannya agar jadi lebih baik nantinya. Jika mereka ditakdirkan untuk menikah pun Youngjae tidak khawatir akan hidup susah dan kelaparan. Tetapi, yang namanya manusia tetaplah manusia. Manusia adalah makhluk social yang artinya tak bisa hidup tanpa ada orang lain disekitarnya. Youngjae memiliki Daehyun di dekatnya dan tak seharunya Daehyun mendiami Youngjae yang berada di sampingnya saat ini.
"….. Huufftt" Ini sudah kali ketiga Youngjae menghembuskan nafasnya kasar. Ia bosan hanya duduk dan memperhatikan Daehyun yang sedang bermesraan dengan kertasnya. Youngjae benar – benar seperti orang ketiga saat ini.
"Kapan giliranku hyung?"
"Giliran apa?hmm…?" Daehyun menjawab dengan mata terus menatap kertas – kertasnya.
Karena Daehyun lagi – lagi mengabaikannya, Youngjae dengan sadis merebut kertas kuliah di tangan Daehyun.
"Yoo Youngjae, jangan berbuat kekanakan." Daehyun berucap datar sambil melihat ke arah Youngjae yang memasang tampang sebal.
"Apakah kertas ini lebih berharga dari pada aku hyung?" Jawab Youngjae sarkastik.
"Ayolah sayang jangan berfikiran seperti itu. Tolong biarkan aku menyelesaikan tugasku lalu mari kita lakukan apa yang kau mau."
Dengan hati yang berat Youngjae memberikan kertas itu pada Daehyun dan merelakan mereka bermesraan kembali, menghiraukan Youngjae yang tampak makin kesal.
.
.
30 menit berlalu, Daehyun telah menyelesaikan tugasnya. Meregangkan tubuhnya sedikit setelah itu menata kertasnya dan menutup laptopnya. Ia rasa ada yang aneh, ia tidak merasakan kehadiran Youngjae. Daehyun melirik jam dinding yang tergantung di tembok. Jam tersebut menunjukkan pukul 2 pagi.
"Youngjae pasti sudah pulang." Pikirnya.
Daehyun melangkahkan kakinya ke dapur untuk minum sejenak dan merilekskan kepalanya setelah itu kembali ke ruang tengah untuk mematikan lampu dan tidur.
"….. nngghhh"
Daehyun berhenti sejenak, indra pendengarannya menangkap suara lenguhan seseorang. Ah! Atau hantu mungkin?. Dia menoleh sana sini mencari sosok tersebut, tetapi nihil. Apakah benar di apartemennya ada hantu. Setahunya, apartemen ini baru berdiri di daerah sini dan belum ada kejadian aneh.
Merasa cuek, Daehyun melanjutkan jalannya ke arah saklar lampu di sebelah jendela melewati meja yang di gunakan untuk menyelesaikan tugasnya.
"AKKHH! APPO!" Seseorang menjerit di bawah meja karena tangannya yang terinjak kaki besar Daehyun.
"Youngjae? apa yang kau lakukan di sana, sayang." Daehyun seketika berjongkok, menemukan kekasihnya dengan wajah kesakitan sambil meniup – niup tangannya.
"Hyung sudah selesai? jam berapa ini?" Enggan menjawab, Youngjae malah balik bertanya sambil merangkak keluar dari bawah kolong meja dengan mata khas orang bangun tidur.
"Kau tidur disitu?Hahaha dasar bocah!" Daehyun menertawakan tingkah lucu kekasihnya, dan yang di tertawakan hanya cemberut sambil mengusap matanya.
"Aku ketiduran karena menunggumu hyung. Jam berapa sekarang?"
"Jam 2 pagi."
"APPAAA? YA! AKU HARUS PULANG. SAMPAI BERTEMU BESOK."
CUP
Youngjae kalang kabut membereskan barang – barangnya. Tak lupa mencium bibir Daehyun sebelum berlari ke arah pintu. Youngjae belum sempat pulang ke rumahnya sejak dari sekolah, ia lebih memilih ke rumah Daehyun. Alhasil ia belum mengganti seragam dan meminta izin pada orang tuanya. Ia takut jika orang tuanya melapor ke polisi karena ia belum sampai di rumah hingga selarut ini. Setelah pulang sekolah memang Youngjae selalu menyempatkan waktunya untuk mengunjungi apartemen Daehyun yang memang jaraknya hanya satu jengkal dari apartemennya. Hanya sekedar memastikan apa Daehyun baik – baik saja, apakah dia makan dengan baik. Bahkan saat Daehyun belum pulang dari tempat kerjanya Youngjae pasti memasakkan sesuatu, berjaga – jaga jika Daehyun tidak sempat makan malam di tentu saja dengan izin orang tuanya.
Sebelum Youngjae mencapai pintu,. Gagang pintu tersebut telah dicapai terlebih dulu oleh Daehyun. Menahan kekasihnya agar tidak pulang.
"Menginaplah disini." Pinta Daehyun pada Youngjae
"Tidak bisa hyung, orang tuaku pasti panik mencariku sekarang."
"Dasar bodoh. Bagaimana orang tuamu bisa panik jika tempat main anaknya hanya ada disini. Tenanglah, tadi ibumu mengirimiku pesan, bertanya apakah anaknya yang manis itu ada di tempat kekasihnya." Daehyun berkata dengan nada sedikit menggoda Youngjae. Dan yang di godapun hanya tersenyum malu dengan pipi merona.
"Jadi… tidurlah disini, bersamaku. Peluklah aku, aku merindukanmu."
"Dasar berlebihan." Youngjae mendengus. Membalikkan dirinya, berjalan menuju kamar Daehyun. Daehyun tersenyum kemenangan karena ia tidak tidur sendiri malam ini. Ada kekasih kecilnya yang akan menemani.
"Mandilah dulu, aku akan mencarikan pakaian untukmu." Ucap Daehyun saat mereka sudah di kamar.
Youngjae hanya mengangguk mengiyakan. Ia sudah mengantuk dan tubuhnya juga lengket karena belum mandi sejak tadi.
.
.
20 menit kemudian…
"Ahh segarnya…" Youngjae keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar menutupi tubuh bagian bawahnya sehingga dada dan perut ratanya terekspose.
"Youngjae – ah, aku hanya puunyy…"
Gulp
Daehyun mendadak menghentikan aktifitasnya saat melihat tubuh terekspose kekasihnya. Ia sampai menelan liurnya tanpa berhenti menatap Youngjae.
"Dasar bocah kurang ajar! Dia kira ini rumahnya." Batin Daehyun.
"Ah, apa itu bajunya hyung?"
Youngjae berjalan mendekat Daehyun yang masih mematung menatap tubuh putih mulus milik Youngjae.
"Hyung, apakah kau tidak punya baju lain?" Pertanyaan Youngjae membuyarkan semua imajinasi kotor Daehyun tentang dirinya.
"A-a aku hanya punya it i itu. Baju yang lain mas masih di laundry."
Daehyun ingin mencarikan kaus rumahannya untuk Youngjae, tetapi karena ia tak menemukannya jadilah ia mengambilkan kemeja miliknya dan sebuah celana pendek sepaha. Youngjae yang tak bisa berbuat apa – apa, langsung beranjak ke kamar mandi dan memakai bajunya.
Di dalam kamar mandi Youngjae sibuk membenarkan baju yang ia kenakan. Sedikit kebesaran memang. Dapat dilihat bagaimana leher jenjang dan dada bagian depannya terpampang jelas. Lagi, kemeja itu juga terlalu panjang untuk tubuh Youngjae yang tidak terlalu tinggi. Jadilah celana yang ia pakai tak nampak, seperti hanya memakai kemeja saja.
Ceklek…
Youngjae telah selesai berganti pakaian. Ia melihat Daehyun yang sedang tidur di ranjang bersandar bantal sambil bermain dengan ponselnya.
"Hyung, sedang apa?"
Tanpa sepengetahuan Daehyun, Youngjae telah melompat ke ranjangnya. Menginterupsi Daehyun yang sedang bermain game. Bertujuan agar ia melupakan wajah atau tubuh Youngjae yang terekspose. Youngjae merasa diabaikan (lagi). Ia dengan sigap mengambil ponsel Daehyun agar kekasihnya memberinya perhatian barang sedikit saja.
"Ya! Kau…"
SHIT
Daehyun menoleh dan mendapati kekasihnya dengan pakaian miliknya yang kebesaran.
"Sexy." Batinnya.
Daehyun memalingkan wajahnya. "Dasar bocah!" Daehyun meruntuki Youngjae yang membangkitkan nafsunya dalam batinya. Ini kebodohan seorang Jung Daehyun karena meminjamkan kemeja bukan t-shirt rumahan.
"Daehyun hyung.. kau marah?" Tanpa disangka Youngjae mendekatkan wajahnya ke wajah Daehyun yang marih berpaling. Ia merasa bersalah karena Daehyun sampai memalingkan wajahnya.
"Ini, handphone mu ku kembalikan hyung." Youngjae memegang tangan Daehyun dan meletakkan ponsel Daehyun di genggamannya.
Daehyun sudah tidak sanggup menahan hasratnya. Wajah Youngjae berada di dekatnya dan nafasnya berhembus pelan membuat leher Daehyun merinding. Akhirnya, Daehyun memberanikan diri menghadap Youngjae. Hanya 5 cm jarak wajah mereka terpaut. Saling memandang dengan tatapan dalam.
Daehyun beringsut lebih mendekatkan tubuhnya tak lupa meletakkan ponsel yang di genggamnya di atas nakas. Tangannya yang sedang kosong di letakkan di pinggang ramping Youngjae dan yang lain sudah berada di tengkuknya membelainya lembut. Daehyun memiringkan wajahnya serta menutup kedua matanya, begitu pula dengan Youngjae.
Cup..
Bibir mereka bertemu. Tanpa basa basi, Daehyun melumat bibir Youngjae dengan lembut sambil menekan dan mengusap tengkuk Youngja hingga kekasih manisnya itu melenguh.
"eunngghh.."
Youngjae melenguh. Merasakan nafasnya yang mulai menipis. Tetapi Daehyun seperti enggan melepas lumatannya. Ia semakin menggerakkan bibirnya liar ketika Youngjae membuka mulutnya. Daehyun menelusupkan lidahnya ke rongga mulut Youngjae. mempertemukan lidahnya dengan milik kekasihnya.
Youngjae makin kehilangan nafasnya. Ia butuh bernafas. Youngjae mencengkram kaos yang di kenakan Daehyun dengan sesekali memukul dada bidang Daehyun, meminta untuk menghentikan ciuman mereka.
"Tahanlah nafsumu, Daehyun." Daehyun mendengar suara dalam dirinya seketika menyadarkan Daehyun yang hampir kesetanan karena dirinya dikuasai nafsu. Melepaskan ciumannya pada bibir Youngjae yang sudah membengkak.
Cup
Cup
Cup
Daehyun mengecup ringan bibir Youngjae.
"Tidurlah." Ujar Daehyun. Membelai pipi Youngjae lembut. Dan di jawab hanya dengan anggukan.
Mereka merebahkan diri masing – masing pada ranjang empuk milik Daehyun. Daehyun memeluk Youngjae seperti guling (?).
"Aku berencana akan menikahimu secepatnya sayang." Ucap Daehyun di sela tidurnya.
"Aku pasti menunggumu hyung."
"Hmm… itu harus. Setelah aku lulus kuliah dan pekerjaanku jadi lebih baik. Kapanpun itu terjadi, kau harus siap."
"Arraseo hyung. Saranghae."
"Nado Saranghae, Yoo Youngjae."
1 tahun kemudian…
Hari ini pengumuman ujian kenaikan kelas di sekolah Youngjae. Meskipun Youngjae tidak mendapat nilai yang sempurna tapi menurutnya itu sudah cukup. Yang terpenting adalah nilainnya di atas rata – rata. Dan yang paling membuatnya senang adalah, Daehyun mengambil cuti sehari untuk mengajak Youngjae jalan – jalan sambil merayakan hari jadi mereka yang mereka setujui untuk dirayakan lebih cepat karena Daehyun berkata jika minggu depan ia akan sibuk mengurus sesuatu. Ya, setelah lulus kuliah beberapa bulan yang lalu, Daehyun bekerja di kantor teman ayahnya. Karena Daehyun yang kebetulan mengambil jurusan bisnis jadilah teman ayahnya memberikan pekerjaan pada Daehyun. Dan ia berhenti menjadi pelayan di bar.
Youngjae, dengan senyum manis yang sejak tadi di tampilkan karena saking cerianya hari ini menunggu sang kekasih di halte depan sekolahnya. Daehyun memberinya pesan tadi bahwa ia akan menjemputnya di halte tempat ia sekarang berdiri. Daehyun dan Youngjae memang senang menaiki bus. Terkadang saat pulang cepat ia akan naik bus menuju sekolah Youngjae dan mengajak Youngjae pulang bersama.
Tin Tin
Youngjae seperti mengenali mobil picanto berwarna biru tersebut. Itu seperti mobil milik ayahnya. Kenapa ayahnya kemari? Karna penasaran, Youngjae mendekat. Di bukalah kaca mobil dari dalam dan menampilkan sosok tampan dengan rambut tertata rapi serta dandanan kasual yang berada di balik kemudi.
"Masuklah!"
Tanpa babibu, Youngjae masuk ke dalam mobil tersebut.
"Bagaimana bisa hyung yang membawanya?"
"Aku berniat meminta izin pada ayahmu tadi. Tiba – tiba dia melemparkan kuncinya padaku. Itu pertanda ayahmu merestuiku untuk melamarmu." Ucap Daehyun terkikik mengingat tadi ayah Youngjae benar – benar melemparkan kuncinya pada Daehyun saat ia bilang akan berkencan di dalam bus.
"Cih, berlebihan."
"Kau tidak mau?"
"Mau apa?"
"Menjadi istriku?"
"Aku belum lulus Tuan Jung, bersabarlah."
"Apa kau tidak ingat janjiku dulu?"
"Yang mana? Yang kuingat hanya janji masa kecil kita."
"Lupakanlah."
"Yang terpenting hari ini, mau tidak mau. Suka tidak suka kau harus menerima lamaranku, Yoo Youngjae." Batin Daehyun sambil menyeringai.
Mobil Picanto tersebut melaju di jalan tol menuju Busan. Youngjae tak menyadarinya karena ia sekarang telah berada di alam bawah sadarnya. Ia tidur.
Setelah memakan waktu hampir 2,5 jam perjalanan. Mereka telah sampai. Di depan rumah sederhana serta dapat dilihat di sebelah rumah tersebut masih terdapat rumah kosong tua.
"Youngjae – ah, bangunlah kita sudah sampai."
Daehyun menggoyang pelan badan Youngjae.
"Eoh, kita di mana?" Youngjae bangun. Mengusap matanya dengan telapak tangannya.
"Turunlah dulu, baru kau tau dimana kita berada."
Daehyun turun dari mobil. Dengan sigap ia berjalan ke sisi pintu mobil yang lain dan membukakan untuk kekasihnya.
"Gomawo."
Cup
Youngjae mengecup bibir Daehyun sebagai tanda terima kasih karena telah membukakan pintunya.
.
Youngjae pov
Seperti tidak asing dengan daerah ini. Benar, ini adalah kampong halamanku dan Daehyun hyung. Aku mengedarkan pandanganku, selepasnya berhenti saat menatap rumah lamaku. Masih sama seperti dulu. Tentu, karena appa tidak mejualnya pada siapapun. Itu permintaanku. Disebelahnya juga masih sama. Rumah calon mertuaku, ani maksudku rumah orang tua Daehyun hyung. Tetapi aku masih bingung, mengapa ia mengajakku kemari.
"Youngjae?" Daehyun hyung mengagetiku,membuyarkan semua lamunanku.
Ia lalu menggenggam tanganku erat. Berjalan menuju pekarangan rumahnya. Aku juga mendengar suara berisik dari dalam rumah.
"HAHAHAHAHA"
Tawa itu. Aku seperti mengenalnya. Tawa ayahku bukan?
Aku semakin bertanya – tanya apa ini. Terlalu kalut dengan lamunanku ternyata kami sudah berada di depan pintu rumah Daehyun hyung.
Ceklek
"Ini dia mereka datang!"
"Syukurlah mereka selamat."
"Jagoan ayah sudah datang."
"Dimana Youngjae, putraku."
Begitulah suara yang ternyata kedua orang tuaku dan orang tua Daehyun hyung katakan. Apakah ini sebuah arisan keluarga?. Dan bagaimana appa bisa sampai disini, setahuku ia mengantar ke sekolahan pagi ini.
"Ya! Apa yang kau lakukan. Duduklah." Daehyun hyung menyenggol lenganku. Menyuruhku untuk duduk di sebelahnya.
"Karena yang punya acara sudah datang. Mari kita mulai saja." Tn. Jung menginterupsi percakapan agar segera memulai sebuah acara.
"Daehyun – ah. Ppali!"
Daehyun hyung mengangguk, mengambil kotak berwarna merah dari saku celananya. Turun dari sofa lalu berjongkok menghadapku. Aku tak mengerti arti dari semua ini. Aku hanya bisa dia menatap sepasang cincin dalam kotak dan Daehyun hyung bergantian.
"Youngjae – ah, kekasihku. Aku tidak tahu kau masih lupa atau sudah ingat dengan janjiku satu tahun yang lalu. Aku mengatakan bukan. Jika aku sudah lulus kuliah dan pekerjaanku menjadi lebih baik kau harus siap menjadi istriku. Dan aku rasa ini saatnya. Yoo Youngjae – ssi, maukah kau menjadi istriku?"
WHAT THE…
DAEHYUN HYUNG MELAMARKU! DI DEPAN ORANG TUA KAMI!
Jantungku tak bisa berhenti berdetak cepat. Daehyun membuatku ingin melompat dari gedung lantai 10 karena saking senang dan kaget disaat yang bersamaan.
"Akh a aku hiks.. mau, hyung."
Aku terharu, sungguh. Hingga aku tak kuasa membendung air mataku. Mereka telah lolos begitu saja. Aku bangkit dan memeluk Daehyun hyung dengan erat. Dan ini kali kedua Daehyun hyung menepati janjinya.
Ya tuhan terima kasih telah memberiku anugrah kekasih seperti Jung Daehyun.
Daehyun hyung melepaskan pelukanku. Menegakkan bahuku yang masih bergetar. Mengusap air mataku lembut. Ia menatapku sayang. Betapa tampan wajahnya saat ini.
Dipakaikannya cincin berukirkan nama "Daehyun" di jari manisku. Setelahnya aku melakukan hal yang sama.
"Baiklah karena acara romantisnya sudah selesai kami akan mengumumkan tanggal pernikahannya. Kami sudah membahas ini sejak lama. Dan pernikahan di adakan hari minggu pada minggu depan. Tepat di hari jadi kalian."
"NE?!"
Youngjae pov end
Author pov
Seoul
" Apakah anda bersedia dan mau menerima Yoo Youngjae sebagai istri yang akan hidup bersama dalam pernikahan suci seumur hidup anda?"
"Ya, saya menerima Yoo Youngjae sebagai istri saya."
" Apakah anda mengasihinya sama seperti anda mengasihi diri sendiri, mengasuh dan merawatnya, menghormati dalam keadaan susah dan senang, dalam keadaan kelimpahan atau kekurangan, dalam keadaan sakit dan sehat dan setia kepadanya selama anda berdua hidup?"
"Ya…."
" Apakah anda bersedia menjaga kesucian perkawinan anda ini sebagai suami yang setia sepanjang umur hidupmu?"
"Ya, saya akan setia.."
" Kepada mempelai wanita."
" Apakah anda bersedia dan mau menerima Jung Daehyun sebagai suami yang akan hidup bersama dalam pernikahan suci seumur hidup anda?"
"Ya, saya menerima Jung Daehyun sebagai suami saya."
" Apakah anda akan tunduk pada suami sama seperti anda tunduk pada Tuhan, mengasuh dan merawatnya, menghormati dalam keadaan susah dan senang, dalam keadaan kelimpahan atau kekurangan, dalam keadaan sakit dan sehat dan setia kepadanya selama anda berdua hidup?"
"Ya, saya akan tunduk pada suami saya"
" Apakah anda bersedia menjaga kesucian perkawinan anda ini sebagai istri yang setia sepanjang umur hidupmu?"
"Ya.. saya akan setia kepada suami saya."
" Dengan ini saya nyatakan bahwa Jung Daehyun dan Yoo Youngjae resmi menjadi sepasang suami istri. Kepada mempelai pria silahkan mencium istrinya."
Suara riuh tepuk tangan dari tamu undangan menyambut selesainya acara pemberkatan pernikahan Jung Daehyun dan Yoo Youngjae.
Youngjae telah menitihkan airmata kebahagiaannya setelah pendeta meresmikan pernikahan mereka beberapa detik yang lalu. Ia lega acara ini berlangsung dengan khidmat dan lancar.
Daehyun memegang pipi Youngjae, menghapus air matanya. Mendekatkan wajah tampannya ke wajah cantik Youngjae. Menghapus jarak antara mereka. Mengecup bibir kekasih yang telah resmi menjadi istrinya. Youngjae membalas ciuman lembut tersebut. Daehyun melepas ciumannya tersenyum menatap Youngjae.
"Aku menyayangimu, Jung Youngjae."
"Aku juga, Jung Daehyun."
TBC/END
Makasih sebelumnya buat semua kakak/adek yang udah sempetin review di chap sebelumya. maafkan jika ini tidak sesempurna ff daejae yang lain hahahahaha
Jika ada salah kata, tanda baca, atau EYD sesungguhnya mohon dimaklumi. soalnya ini bikinnya ngebut dan gak pake disunting lagi wkwkwkwkwk.
okeh gitu aja:))))
special thanks to : KittyToKitty, Miss Ngiweung, Dhyun628, Ad.W, JokeMato Daejae, FieAnn, dll
DI TUNGGU REVIEW NYA
-Newsun
