Author: Newsun

Chapter 5


Banyak typo

Happy reading ^.^

Daehyun pov

SREK

Suara gorden kamar dibuka seseorang. Memancarkan sinar mentari yang sedikit mengganggu tidurku. Suara langkah kaki itu juga bisa kudengar. Sesekali suara ringisan yang keluar dari bibir mungil nan menggodanya. Aku membuka sedikit mataku. Sekedar mengintip apa yang dikerjakan kekasih yang sudah resmi menjadi istriku sejak kemarin. Ia berjalan tertatih menahan rasa sakit dibagian belakangnya. Mondar – mandir dari arah jendela, mengambil pakaian dari lemari dan diletakkannya di meja dekat pintu kamar mandi, lalu keluar kamar. Ahh rupanya dia mulai melakukan tugasnya sebagai istri yang baik. Aku hanya tersenyum dan kembali menutup mataku. Membayangkan kegiatan semalam kami yang sangat panas. Wajahnya sangat imut jika sedang mendesah memanggil nama "Jung Daehhyunnhh…". Membayangkan saja sudah membuatku horni. Benar, aku merasa menjadi pedofil sekarang. Menyetubuhi istriku sendiri yang masih duduk dibangku SMA. Tapi apa itu salah? Tentu saja tidak. Dia milikku dan aku sudah berhak melakukannya.

Ceklek…

Dia kembali ke kamar kami. Bisa kurasakan ia mendekat kearahku maksudku ranjang yang kutiduri. Ia duduk di tepi ranjang, menghadap kearahku. Ia lalu menundukkan kepalanya.

"Hyung… Bangunlah!"

"Morning kiss atau aku tidak mau membuka mataku."

"Apa – apaan! kau sudah membuatku kesusahan berjalan." Bibirnya mencerut lucu. Ia memukul dadaku, lalu bangkit dari tempat tidur dan mengarah keluar kamar.

Aku terkikik melihat ekspresi kesal yang dibuatnya. Aku bergegas turun dari tempat tidur nyamanku. Menyambar handuk dan pakaian yang sudah disiapkan istriku lalu mandi.

.

.

.

Aku hanya butuh 20 menit untuk mandi. Aku terkesan terburu – buru saat mencium bau wangi masakan yang masuk sampai dalam kamar mandi. Aku benar – benar beruntung menikahi Youngjae. Ia pintar dalam segala hal. Ia bahkan bangun sangat pagi untuk menyiapkan kebutuhanku padahal kegiatan semalam baru selesai pukul 3 pagi.

Kemeja biru dengan dasi berwarna biru tetapi lebih tua, celana kain hitam serta jas berwarna hitam. Aku menampakkan diriku di kaca lemari sedikit membenarkan pakaian agar rapi. Mengoleskan sedikit gel rambut dan menyisirnya.

"Sempurna!"

Ujarku senang. Aku tampak lebih tampan hari ini apalagi memakai baju pilihan istriku. Selera fashion bocah SMA itu tidak buruk juga. Setelah memakai kaos kaki dan sepatu, aku keluar kamar menuju ke arah dapur. Sumber dari semua bau sedap yang kucium sedari tadi. Disana juga terdapat istriku yang sedang menghandle semua wajan dan panci seorang diri. Dia sangat cantik dengan apron berwarna pink pastel serta terdapat peluh di sekitar dahi dan lehernya. Bibir plum berwarna merah yang sedikit terbuka karena hawa panas yang ditimbulkan oleh kompor seolah mengundangku untuk menciumnya. Aku mendekat, berniat untuk mengagetinya. Akupun memeluk pinggang rampingnya dari belakang. Menelusupkan wajahku pada ceruk lehernya. Menghirup bau wangi khas sabun mandi tercampur dengan sedapnya bau makanan. Dapat kurasakan tubuhnya terperanjat kaget dan sedikit menegang.

"Masih ngambek, huh?" Aku menggodanya. Menggosok – gosokkan hidungku di tengkuknya. Membuat ia merasa tidak nyaman.

" Aku tidak akan mengijinkanmu melakukan hal semalam saat aku mulai masuk sekolah, hyung." Ucapnya datar.

Aku hanya terdiam. Tahun ajaran baru akan dimulai minggu depan. Itu artinya kesempatanku melakukannya tinggal 6 hari lagi. Bagaimana aku bisa menahan hasratku, Yoo Youngjae.

"Kenapa sayang? Heeumm?" aku mengubah suaraku. Sedikit seperti balita yang merengek minta susu pada ibunya.

"Aku tentu tidak ingin teman – temanku melihat cara berjalanku yang aneh."

"Sampai kapan?"

"Tentu saja sampai aku lulus SMA."

SIAL…

Menyadari wajahku yang berubah menjadi sendu. Youngjae meletakkan pisau yang digunakannya untuk memotong wortel dan menghadap ke arahku. Menangkup pipiku dengan memperlihatkan senyuman manisnya.

CHUP

"Kecuali yang satu ini. Seberapa banyak yang hyung minta. Aku akan memberikannya." Ia lantas berbalik. Melanjutkan pekerjaannya yang sedikit tertunda.

"Duduklah di meja makan. Sebentar lagi sarapan siap."

Aku hanya mengangguk dan menuruti permintaannya.

Daehyun pov end.

.

.

.

Acara makan berlangsung sangat tenang. Hanya suara dentingan garpu dan sendok yang bertemu piring sesekali Daehyun berbicara dengan Youngjae mengenai hal – hal yang Youngjae butuhkan di apartemen ini. Dan Youngjae hanya akan menjawab dengan gelengan kepala merasa tidak perlu karena ia cukup memindahkan peralatan pribadinya dari apartemen di sebelah ke apartemen Daehyun. Daehyun pun tidak perlu mengomentari tentang hasil makanan Youngjae yang enak. Karena hampir setiap hari ia makan masakan Youngjae saat masih berpacaran dulu.

Daehyun telah menyelesaikan makannya. Merapihkan alat yang digunakan dan hendak mencucikannya untuk Youngjae sebelum Youngjae menahan lengannya.

"Ya! Jangan lakukan itu. Nanti kemejamu basah. Aku yang akan melakukannya, hyung. Sudah sana berangkat saja bekerja nanti terlambat!"

Mau tidak mau Daehyun hanya menurut. Ia hanya meletakkan piring pada bak cucian lalu mencuci tangannya. Setelah itu menuju ruang tengah untuk mengambil tas kerjanya.

"Tunggu!" Youngjae menghentikan Daehyun yang hampir membuka pintu apartemen.

"Ada apa?"

"Itu dasimu belum benar."

Youngjae dengan cekatan mendekati Daehyun yang berdiri disamping pintu dan mulai membenahi dasi milik suaminya. Benar – benar istri yang baik.

Daehyun hanya tersenyum melihat wajah serius istrinya yang sedang membenahi dasinya.

"Sudah selesai!"

"Gomawo, yeobo."

CHUP

Keduanya tersenyum. Ini benar – benar hari yang indah dan sempurna. Seperti tuhan menghendaki pernikahan mereka. Malam pertama yang berhasil dan pagi hari yang hangat tanpa ada hambatan apapun. Youngjae berhasil menjalankan tugasnya sebagai seorang istri yang melayani suaminya. Meskipun ini baru awal, tetapi Youngjae akan berusaha untuk kedepannya.

"Beristirahatlah hari ini, sayang. Jangan sampai kelelahan. Aku tidak ingin kau sakit." Daehyun mengelus surai hitam pekat milik Youngjae.

"Ne, hyung. Jangan terlalu memaksakan dirimu untuk bekerja. Dan ini untuk bekal makan siang." Youngjae menyodorkan kotak makan imut untuk Daehyun makan siang.

Daehyun hanya menanggapi dengan tersenyum geli melihat gambar pada kotak makan tersebut. Gambar anak kecil sedang bermain.

"Aku akan menghabiskannya. Jaga rumah dengan baik!"

Daehyun akhirnya membuka pintu, melangkahkan kakinya melewati lorong apartemen menuju lift di ujung lorong. Sungguh sebenarnya ia berat meninggalkan istrinya di apartemen. Mau bagaimana lagi cuti yang diambilnya sudah habis. Jadi terpaksa ia masuk kerja seusai acara pernikahan.

.

.

.

At Daehyun's Office

"Selamat pagi Daehyun – ssi."

"Selamat atas pernikahanmu."

"Anda tampak ceria pagi ini."

"Wah pengantin baru sudah masuk kerja."

Begitulah suara rekan – rekan Daehyun saat ia memasuki lobby kantornya. Berita pernikahannya benar – benar menjadi topik hangat. Mungkin karena Daehyun tidak pernah membicarakan tentang hubungannya dengan seseorang lantas tiba – tiba ia sudah menikah. Bukankah itu termasuk hot news. Daehyun hanya menyambut sapaan rekan kerjanya dengan senyuman terbaiknya sesekali membungkuk.

Daehyun sampai di depan lift. Ia benar – benar beruntung karena tidak perlu menunggu lift. Liftnya bahkan sudah berada di lantai bawah. Daehyun pun masuk lift seorang diri. Ia memencet tombol lift lantai 8 dimana letak ruang kerjanya berada.

"Tunggu!"

Seorang wanita terlihat sedang berlari mengejar pintu lift yang akan tertutup. Daehyun yang menyadarinya berusaha menahan pintunya dan membiarkan wanita tersebut masuk.

"Terima kasih." Ucapnya sambil terengah – engah

"Tidak masalah."

"Kau. Kelantai berapa?"

"Eoh? Ah lantai 10. Ruangan HRD."

"Arraseo."

Daehyun memencet tombol lantai 10 yang menempel di dinding lift.

"Kim Nahyun. Anda?"

"Ah. Jung Daehyun. Bangapseumnida."

"Ne. Ngomong – ngomong anda di bagian apa?"

"Direktur pemasaran."

"Ahhh jadi ini yang akan menjadi boss ku nanti. Tampan juga." Batin Nahyun sambil memperhatikan Daehyun dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Jangan memperhatikanku seperti itu, Nahyun – ssi."

"Ahh maafkan saya."

Ting…

"Tak apa. Saya duluan Nahyun – ssi ." Daehyun melangkahkan kakinya keluar sesaat setelah pintu lift terbuka di lantai 8. Meninggalkan Nahyun yang masih menatap Daehyun dengan tatapan berarti.

"Sepertinya aku jatuh hati pada pandangan pertama." Ucap Nahyun sambil tersenyum bahagia membayangkan wajah tampan Jung Daehyun.

.

.

.

"HAH! Sialan kenapa perkerjaan ini tidak selesai – selesai."

Daehyun menggeram kesal lantaran dokumen yang tertumpuk di depan wajahnya tak kunjung menyusut. Ia lantas berhenti sejenak, melayangkan tatapannya pada bingkai foto yang terletak tak jauh dari jangkauan tangannya. Memegang dan mengelus pada foto tersebut. Yaps! Foto pernikahannya dengan Youngjae.

"Sayang, aku merindukanmu. Aku sangat membutuhkan mu saat ini."

Daehyun memajukan bibirnya dan mengadu pada foto tersebut. Seolah – olah berbicara pada istrinya.

TOK TOK TOK

"Ya masuklah!"

"Daehyun – ssi."

"Eoh. Sajjangnim. Ada apa menemui saya?"

Ternyata itu adalah atasan Daehyun dengan seorang wanita cantik yang mengikuti di belakangnya.

"Oh, Nahyun – ssi kau rupanya."

Daehyun yang mengetahui keberadaan Nahyun juga menyapanya.

"Ne, Tuan Daehyun." Nahyun tersenyum dan membungkuk sedikit.

"Ah baguslah kalian sudah bertemu sebelumnya?"

"Ne, di lift tadi pagi."

"Kalau begitu langsung saja. Karena sekertarismu yang dulu mengundurkan diri. Disini Nona Nahyun akan menggantikannya."

"Baiklah kalau begitu sajjangnim. Mulai kapan dia bisa bekerja?"

"Tentu saja hari ini. Kau pasti sudah menginginkannya sejak tadi." Ujar boss Daehyun sedikit menggoda.

"Jangan begitu sajjangnim. Istriku pasti marah jika mendengarkannya." Daehyun menjawab dengan kekehan.

"Hahaha maafkan aku. Baiklah aku akan meninggalkan kalian berdua disini. Bekerjalah dengan baik!"

Sang tetinggi perusahaan akhirnya keluar dari ruangan Daehyun. Meninggalkan Daehyun dan Nahyun berdua di ruangan tersebut dengan suasana sedikt canggung. Nahyun tentu mendengar ucapan Daehyun tentang dia sudah memiliki istri. Itu semua sedikit meruntuhkan pertahanannya untuk mendekati sang boss.

"Kenapa kau hanya mematung disana Nn. Nahyun. Kemarilah dan bantu aku mengurus dokumen ini."

"Ah ah ba baiklah, Pak."

Nahyun menghampiri meja Daehyun dan mengambil beberapa dokumen. Membawanya ke meja di sebrang milik Daehyun.

.

.

.

Pukul 12.00

Daehyun melirik jam tangannya. Tepat pukul 12 siang. Waktunya istirahat makan siang. Daehyun yang merasa pegal pun meregangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.

"Ahhh lelahnya…"

"Maaf Pak Daehyun, anda tidak mau ke kantin bersama saya? Atau menitipkan makanan untuk di belikan?"

"Ahh. Tidak usah repot – repot Nn. Nahyun. Saya membawa bekal sendiri." tolak Daehyun ramah sambil mengeluarkan kotak makan bergambar anak – anak yang membuat Nahyun sedikit geli melihatnya.

"Jangan tertawakan kotak makan saya." Ucap Daehyun yang menyadari raut wajah Nahyun.

"Tapi itu benar – benar tidak mencerminkan anda, pak." Jawab Nahyun dengan nada bercanda.

"Hei jangan begitu. Isinya akan membuat kau merasakan berada di surga saat memakannya."

"Apakah ibu anda yang membuatnya?"

"Tidak."

"Lalu?" Nahyun mengerutkan keningnya.

"Istriku. Lucu bukan? Mau mencobanya? Ini benar – benar enak."

Nahyun terdiam seketika mendengar Daehyun memuji istrinya.

"Sepertinya Daehyun sangat mencintai istrinya." Gumamnya dalam hati.

"Tidak, pak. Itukan dibuat special untuk bapak. Mana boleh saya ikut merasakannya. Saya akan kekantin. Permisi."

Nahyun meninggalkan Daehyun yang sedang menikmati makan siangnya dengan hati yang kesal. Menuju ke lantai bawah tepatnya ke kantin. Mengisi perutnya yang sudah meraung minta diisi.

Disisi lain Youngjae sedang keluar berbelanja di supermarket dekat dengan kantor Daehyun. Pantatnya sudah agak baikan dan ia sekarang sudah dapat berjalan dengan benar. Karena melihat isi kulkas yang agak kosong jadilah Youngjae ke supermarket.

Ia menelusuri hampir semua bagian dari supermarket. Berjalan dari rak ke rak, jika ia melihat barang yang dibutuhkan ia akan mengambilnya. Saat tiba ia pada rak tempat kue dan Youngjae menangkap kue Cheesecake terpampang disana. Ia jadi mengingat Daehyun. Suaminya itu sangat suka sekali dengan kue tersebut. Ia lalu memotretnya, mengirim pada kontak Daehyun.

Youngjae send you a picture

Youngjae : "Coba lihat apa yang kutemukan? Kkk-"

Daehyun : "Sangat menggiurkan. Bawalah ke kantor sekarang juga! (love)"

Youngjae : "Arraseo (smile)."

Daehyun : "Hahaha bercanda, sayang (lol). Hati – hati di jalan saat pulang. Aku merindukanmu. Sampai bertemu nanti pukul 6."

Youngjae tidak menjawab pesan itu dan hanya tersenyum membacanya. Youngjae memasukkan ponselnya pada saku celananya, lalu mengambil cheesecake tersebut. Ia lalu membawa troli berlanjanya menuju kasir.

Setelah membayar, Youngjae keluar dari supermarket dengan barang bawaannya yang lumayan berat. Kresek belanja ada di tangan kiri dan kotak kue Daehyun ada di sebelah kanan. Ia berjalan menyusuri trotoar hingga sampai pada kantor Daehyun. Karena ingin mengejutkan Daehyun, Youngjae sengaja tidak membuat panggilan namun, langsung masuk ke dalam kantor Daehyun. Dia sedikit malu dengan tatapan para pegawai disana karena pakaiannya yang teramat santai dan barang bawaan yang banyak sehingga mereka pikir Youngjae adalah kurir barang. Youngjae memasang wajah tidak peduli, ia menaiki lift ke ruangan Daehyun.

Tok Tok Tok

"Iya, silahkan masuk!"

Youngjae yang sudah di persilahkan masuk membuka pintunya setelah sebelumnya meletakkan barang belanjaannya di kantor.

"Ada yang perlu saya bantu, Tuan?" Sapa Nahyun saat Youngjae berjalan mengendap – endap dengan barang belanjaannya yang masih setia di genggam.

Stttt….

Youngjae meletakkan telunjuknya di bibir. Mengisyaratkan pada Nahyun untuk diam dan tidak mengacaukan acara mengageti Daehyun.

"Siapa Nn. Nahyun?" Daehyun hanya menanyakan pada Nahyun tentang siapa yang datang tanpa mengalihkan pandangannya pada laptopnya.

"Ahh aniyo, pak." Nahyun yang bingung hanya menjawab seadanya.

"Direktur Jung, ini ada dokumen untuk anda." Youngjae berucap sambil menahan tawa. Daehyun tetap tidak mengindahkan keberadaan Youngjae.

"Ya letakkanlah di sana."

Youngjae meletakkan kotak kue cheesecake pada meja Daehyun. Daehyun yang melihat hanya menautkan kedua alisnya bingung. Menoleh pada sosok di belakangnya yang memberikan kue favoritnya itu.

"Ya! Ba ba bagaimana bisa kau kess kesini?"

"Aku punya kaki, hyung." Youngjae hanya menunjukkan senyum manisnya melihat Daehyun yang nampak tak percaya akan keberadaannya.

"Ya! Aku hanya bercanda. Kau benar – benar membawanya kemari?"

"Aku hanya ingin kemari. Apa aku mengganggum?"

"Tentu saja tidak, bocah! Kemarilah duduk di pangkuanku."

"Ya! Mesum. Lihat ini di kantor dan sekertarismu di sana melihat kita terutama kau direktur jung! Bagaimana bisa seorang atasan mengajarkan hal yang tidak baik pada pekerjanya. Benar bukan Nona sekertaris?" Youngjae menceramahi Daehyun dan beralih mempertanyakan apakah yang ia ucapkan benar pada Nahyun. Nahyun yang menyadari hawa tubuhnya panas melihat yang datang adalah istri dari bossnya hanya mengangguk kaku.

"Nn. Nahyun, apakah bisa keluar sebentar. Aku akan berbicara sesuatu yang penting pada istriku."

"Ahhh ye."

Nahyun yang sebenarnya bingung dengan situasi macam apa ini memilih menuruti perintah boss nya. Ia melangkah keluar. Membuka pintu tetapi saat ia telah berada di luar, ia tidak menutup pintunya. Melainkan mengintip sepenting apa yang akan di bicarakan mereka berdua.

"Ada sesuatu yang penting terjadi."

"Tidak ada."

"Lalu kenapa kau menyuruh sekertarismu keluar, hyung?"

"Agar aku bisa berduaan denganmu, sayang."

"Hyung kau gila!."

"Aku gila karena terlalu merindukanmu sayang."

Daehyun menarik Youngjae. Mengangkat tubuh mungil Youngjae dan dibawanya ke pangkuannya. Daehyun menumpukan dagunya pada pundak Youngjae memasang wajah lelah sambil mencerutkan bibirnya.

"Ada apa?"

Youngjae membelai pipi Daehyun dengan sayang.

"Aku lelah."

CHUP

Youngjae seperti peka akan kebutuhan Daehyun. Ia langsung menghadiahkan sebuah kecupan ringan pada bibir lelaki itu.

"Lagi? itu tadi tidak cukup, sayang."

"Dasar manja!"

CHUP

CHUP

CHUP

Saat ciuman terakhir, tangan Daehyun menahan tengkuk Youngjae. Daehyun menutup matanya merasakan bibir istrinya yang sudah beberapa jam tidak dirasa. Daehyun melumat bibir Youngjae lembut. Sesekali menyesapnya. Tanganya yang bebas ia telusupkan pada kaos Youngjae dan mengusap punggung serta perut ratanya,

"ngghhh…"

Lenguhan itu keluar dari bibir manis Youngjae di sela – sela ciumannya. Daehyun menyeringai. Melepaskan ciumannya hingga benang saliva menjuntai. Youngjae tersenyum malu dan menyembunyikan wajahnya yang memerah pada bahu Daehyun. Daehyun hanya terkekeh melihat tingkah lucu istrinya.

.

.

.

"Pembicaraan penting macam apa ini. Aku seperti melihat konten porno. Yang benar saja, dia menyuruhku untuk keluar hanya karena ingin mencium istrinya."

Nahyun meruntuh kesal karena sempat melihat semua kejadian di dalam ruangannya.

"Dan kau tau Jung Daehyun istrimu seperti anak bayi yang polos. Dan kau sebagai permen lollipop yang di emutnya. Mari kita lihat bagaimana cara Kim Nahyun yang akan mencuri lollipop dari bayi yang polos."

.

.

.

.

TBC

Aku gak tau mau ngomong apa tentang ini.

dan yang kemaren review aku mengucapkan banyak terima kasih. meskipun sedikit tapi aku tetep semangat lanjutin hehehe.

yaudahlah gitu aja :))))))

REVIEW JANGAN LUPA!

-Newsun