Author : Newsun
Chapter 6
No basa – basi, Happy Reading ^.^
Sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di depan pintu gerbang sekolah menengah atas. Siapa lagi jika bukan Daehyun yang sedang mengantar istrinya Yoo Youngjae di hari pertamanya sekolah setelah libur kenaikan.
"Yeobo?" Daehyun mendekatkan wajahnya ke wajah oranng di sampingnya yang sedang mencoba membuka seatbelt nya.
"Ne?"
CHUP
Saat Youngjae menoleh ia mendapatkan sebuah kecupan tepat dibibirnya. Daehyun hanya tersenyum dan segera keluar untuk membukakan pintu bagi sang istri. Semua orang tentu memangdang Youngjae dengan iri tentang bagaimana seorang Yoo Youngjae yang dikenal pendiam bisa memiliki seseorang yang begitu tampan disisinya.
"Belajarlah yang baik. Aku akan menjemputmu saat pulang sekolah nanti." Daehyun mengasak rambut Youngjae.
"Arraseo." Ucap Youngjae singkat lalu pergi berjalan sambil sesekali melambaikan tangannya pada Daehyun. Daehyun pun masuk ke dalam mobil dan menjalankannya keluar dari daerah sekolah menuju kantornya.
"Youngjae – ah! Supirmu tampan juga." Seorang siswa perempuan ber- nametag Minjae yang ternyata teman sekelas Youngjae dengan seenak jidatnya menggandeng tangan Youngjae.
"Maaf tapi orang tampan tadi bukan supirku." Youngjae yang sedikit risih melepaskan tangannya dari genggaman Minjae.
"Oh ya? Lalu siapa? Hyung – mu?" Minjae yang masih ingin tahu mengikuti Youngjae disampingnya.
"Mungkin saja."
"Tapi tidak mirip. Jangan mengabaikanku dan jawablah. Siapa dia? Siapa namanya?"
"Minjae – ssi. Sejak kapan kita dekat sampai – sampai kau mau tau dengan orang yang ada di dekatku?" Ucap Youngjae kesal.
"Apakah dia pacarmu?"
Youngjae berhenti berjalan. Ia berbalik mendekat kearah Minjae. Menatap Minjae dengan tatapan tidak suka.
"Lalu apa urusanmu, huh?! Jika dia pacarku, apa kau akan merebutnya?"
"Ahh jadi benar dia pacarmu. Dasar gay!"
"KAU! JAGA MULUTMU BAIK – BAIK!"
"Ada apa ini?" Seseorang datang dari kejauhan, berlari mendekat ke arah anak yang hampir saja memulai adu jotosnya.
"Youngjae – ah, Minjae – ah? Ada apa? kenapa pagi – pagi kalian sudah berantem." Anak ber- nametag Choi Junhong mendekat dan melerai keduanya.
"…."
Youngjae hanya diam menahan kekesalannya dan berjalan menuju kelasnya. Mengabaikan Minjae dan Junhong.
"Ada apa dengannya?" Ucap Junhong yang bingung akan kelakuan Youngjae.
"Entahlah, yang penting sekarang aku punya gossip terhangat." Minjae tersenyum gembira dan berjalan meninggalkan Junhong juga.
"Dia malah lebih aneh. Apa hanya aku yang normal." Pikir Junhong sembari melanjutkan perjalanannya yang tertunda menuju kelasnya.
At Daehyun's Office
"Selamat pagi, Pak Daehyun."
"Nn. Nahyun kau datang lebih pagi belakangan ini."
"Ne. Aku memilih memasak makanan saya sendiri untuk bekal ke kantor. Jadilah saya bangun lebih pagi."
"Seorang wanita memang harus begitu."
"Hmm.. Bapak, apakah sudah sarapan?"
"Belum. Aku dan istriku bangun kesiangan hari ini."
"Kebetulan sekali. Ini kesempatanku" Batin Nahyun.
Nahyun mengambil kotak makan bergambar kucing yang sudah ia sediakan khusus untuk Daehyun. Ia memang sering bangun terlampau pagi hanya untuk pergi ke rumah ibunya. Mengambil bekal masakan yang katanya untuk dibawa ke kantor. Yang jadi masalah adalah rumah orang tua Nahyun jauh dari apartemennya. Jadilah ia bangun pagi untuk pergi kesana.
"Ini untuk bapak." Nahyun menyerahkan kotak makan dengan malu – malu.
"Ahh tidak usah. Nanti saya akan pergi ke kantin sendiri." Daehyun menolak dengan halus pemberian Nahyun. Lantaran ia tak enak jika sekertarisnya tersebut memberikan bekal makan siangnya untuk atasannya sendiri.
"Saya sengaja membuatkannya untuk bapak. Saya ingin bapak menilai bagaimana masakan saya. Saya baru belajar memasak, pak."
"Hmm kalau begitu terima kasih. Saya akan menikmatinya."
"Bukalah."
Daehyun yang sudah lapar pun membuka kotak makan tersebut dan melihat isinya. Mengambil sumpit dan memulai sarapannya.
"Tidak buruk, meskipun masakan Youngjae lebih enak." Gumam Daehyun dalam hati.
"Lumayan. Kau belajar dengan baik Nahyun – ssi."
Blush
Semburat merah muncul di pipi kanan dan kiri Nahyun yang tersamarkan oleh warna blush on nya. Langkah pertama pendekatannya berhasil batinnya.
Youngjae's School
Entah kenapa hari ini mood Youngjae benar – benar kacau karena kejadian tadi dengan Minjae. Ia merasa tidak ingin sekolah dan kembali libur. Minjae telah merusak hari pertamanya. Hari yang seharusnya akan menjadi kenangan indah nantinya. Hari yang seharusnya akan menjadi motivasinya untuk hadir ke sekolah keesokan harinya.
"Yoo Youngjae – ssi." Himchan ssaem menyadarkan Youngjae dari kegiatan melamunnya.
"Ne? Dae Hyung?"
"Dae? Siapa itu Dae?"
Himchan heran dengan nama yang disebut Youngjae.
"Aaah it itu ssa ssaem"
"Pacarnya!" Belum sempat Youngjae menjelaskan Minjae menjawab pertanyaan yang Himchan ssaem berikan.
"Sialan!." Youngjae mengumpat pelan.
"Apakah aku memberikanmu pelajaran mengumpat Youngjae – ssi? Ikut aku setelah pelajaran saya usai."
Krriiingggg
Tepat sekali jam pelajaran usai membuat Himchan memutar bola matanya karena jam pelajaran yang berharga harus hilang sia – sia.
"Baiklah saya akhiri pertemuan hari ini. Youngjae – ssi sekarang ikut saya ke kantor."
Youngjae membuang nafasnya kasar lantaran kesal dan malas harus ke ruang guru. Lagi – lagi harinya rusak karena Minjae. Youngjae berjalan menyusuri koridor sekolah menuju ruang guru. Ia berusaha mati – matian untuk menyeret kaki – kakinya berjalan. Setibanya dia di ruang guru Youngjae langsung menuju meja kerja Himchan.
"Ada apa kau hari ini? Tidak biasanya murung."
"Hanya saja."
"Kau bertengkar dengan Daehyun?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku hanya takut. Takut jika Minjae mengetahui hubunganku dengan Daehyun – hyung." Youngjae menghela nafasnya lemah.
"Aku selalu mencoba menutupi pengetahuanku tentang kau dan Daehyun. Karena Daehyun teman baikku saat kuliah. Tapi sumpah aku tidak pernah membocorkan pada siapapun."
"Itu bukan salahmu, hyung. Aku sendiri yang hampir membocorkannya."
"Bagaimana bisa? Ya! Bodoh!"
Youngjae menyembunyikan wajahnya pada lengannya yang ia lipat diatas meja. Menyesali kebodohan dan sifat menyebalkan Minjae.
"Sudahlah. Sekarang kau hanya harus diam. Jangan jawab apapun pertanyaan yang dilontarkan teman – temanmu tentang kau dan Daehyun."
"Hmm…"
"Sekarang istirahatlah. Belilah sesuatu di kantin. Bukankah ini jam istirahat."
"Himchan hyung?"
"Apakah menjadi gay salah? Kau dan Yongguk hyung bagaimana kalian bisa tidak dihujat dengan orang – orang di sekolah?"
"Bodoh. Siapa bilang? Aku setiap hari menerima surat & sms aneh. Memang orang tua kita mengijinkam. Tapi dunia ini lebih kejam, Youngjae – ah. Kau harus kuat demi cinta kalian."
Himchan menepuk bahu Youngjae. Sekedar menyalurkan kasih sayang serta rasa percaya diri agar kelak Youngjae lebih kuat menghadapi dunianya. Youngjae hanya mengangguk dan berterima kasih pada Himchan atas apa yang diberikannya. Ia keluar ruang guru menuju ke kantin untuk mengisi perutnya. Ia lapar sampai – sampai hampir bertengkar dengan Minjae.
Setibanya di kantin, Youngjae disuguhkan dengan pandangan aneh dari semua temannya satu sekolah. "Ada apa?" Batin Youngjae. Tatapan aneh terkesan seperti melihat kotoran. Menjijikkan.
"Dia cukup berani juga."
"Murahan."
"Jadi yang tampan tadi adalah pacarnya."
"Penggoda."
"Sifatnya tidak menentukan kelakuannya."
"Kukira dia hanya anak kuper yang hobi membaca buku. Tetapi hobi juga bermain dengan om – om berduit."
Youngjae mendengarnya. Rasanya sangat sakit. Hatinya seperti tertohok kumpulan pisau. Bagaimana bisa teman – temannya menganggapnya sebagai pelacur. Itu suamiku, maksudnya hey, itu suami sah Youngjae. Bagaimana bisa Youngjae menggodanya. Bahkan Daehyun yang mengajaknya menikah. Tapi yang dipikirkan Youngjae bukanlah itu, namun siapa orang yang berani menusuknya dari belakang. Entahlah nanti ia akan mencari tau. Sekarang Youngjae berjalan menuju stan sekolah dan membeli mie cup instan dan membawanya berlari ke taman belakang sekolah. Duduk bersandar di bawah pohon besar milik sekolah.
Youngjae menundukkan kepalanya dalam. Mengeluarkan segala air matanya yang sempat ia tahan. Membiarkan mie yang ia beli mendingin karena terpaan angin.
Sedangkan di kantor, Daehyun juga sedang berada di kantin. Makan siang sendiri. Jika sedang sendiri seperti ini dia makin merindukan istrinya. Makan Daehyun dengan jahil memfoto makan siangnya dan di kirimkan pada konta Youngjae.
Daehyun send a picture
Daehyun : "Selamat makan siang sayang. Bagaimana harimu? menyenangkan pastinya. Aku merindukanmu (hug)"
Youngjae : "Benar – benar hari yang indah. Selamat makan, hyung (smile)(sad)."
Daehyun : "Bocah, jangan plin plan dengan emoticonmu."
Youngjae :"Hahaha. Mian (love)(smile)."
Daehyun : "Nah begitu dong manis. Ngomong – ngomong apa yang kau makan?"
Youngjae : "Hanya mie cup instan."
Daehyun : "Bodoh, kenapa hanya membeli itu. Apa uang hasil kerja keras suamimu ini tidak cukup?"
Youngjae : "Hyung apakah aku mau menikah denganmu hanya karena uang. Aku bukan pria murahan."
Daehyun : "Ya! Apa maksudmu? Ada apa denganmu sayang?"
Youngjae : "Sudahlah aku ingin makan."
Daehyun mengernyit. Menautkan alisnya bingung dengan jawaban istrinya. Kenapa Youngjae tiba – tiba sensitif sekali dengan kata uang. Padahal memang sudah tugasnya mencari uang dan mencukupi kebutuhan keluarganya.
"Pak Daehyun. Bolehkan saya duduk disini?"
"…."
Daehyun hanya diam menatap layar ponselnya. Masih berfikir apa yang terjadi dengan istrinya. Ia sama sekali tidak mengindahkan Nahyun yang berdiri dengan kotak bekal di tangannya.
"Aku anggap itu sebagai jawaban iya." Nahyun tersenyum dan mendudukkan dirinya berhadapan dengan Daehyun.
"Ada apa pak?"
"…."
"Pak Daehyun?"
Nahyun mencoba menyadarkan Daehyun dari ketertarikannya dengan layar ponsel. Ia melambai – lambaikan tangannya di depan wajah Daehyun. Karena masih tidak di hiraukan, Nahyun merebut ponsel Daehyun.
"Ya! Berani – beraninya kau! Eh, Nahyun – ssi?"
"Ada apa sih Pak? Kok bapak menatap layar sampai segitunya."
"Ya! Jangan membacanya! Kembalikan!" Daehyun bangkit dan berusaha mengambil ponselnya dari tangan Nahyun. Nahyun dengan sigap berdiri dari tempat duduknya dan menjauh. Membaca pesan Daehyun dan Youngjae. Daehyun berhasil mengambil ponselnya saat Nahyun selesai membaca seluruh pesannya.
"Kenapa kau ingin tau masalah pribadi orang. Kekanakan sekali."
"Ma maafkan saya pak. Saya kelewatan." Nahyun yang sadar karena bertindak berlebihan membungkukkan badannya. Merasa bersalah.
"Lain kali jangan lakukan lagi. Itu tidak sopan, Apalagi saya atasanmu."
"Baiklah. Tapi apakah bapak ada masalah dengan istri bapak?"
"Tidak."
Daehyun kembali fokus pada masalah makan siangnya yang sempat terabaikan.
"Pak. Kenapa bapak menikahi istri bapak?"
UHUK
Daehyun tersedak karena pertanyaan Nahyun yang kelewat bodoh. Pasalnya itu seperti pertanyaan anak SD.
"Tentu saja karena saya mencintainya."
"Selain itu?"
"Maksud Nahyun – ssi apa?"
"Saya menyukai seseorang. Saya ingin membuatnya jatuh cinta pada saya. Tapi saya bingung harus bersikap bagaimana. Jadi saya hanya ingin menanyakan pada bapak karena bapak seorang laki - laki. Apa yang membuat bapak jatuh cinta pada istri bapak?"
"Jadilah dirimu sendiri. Jangan mencontoh perbuatan romantis di drama korea atau sifat istriku."
"Hanya sebagai masukan saja."
"Kalau kau memaksa aku akan menjawabnya. Jadi aku jatuh cinta padanya karena dia cantik, sikapnya manis, dia baik, lemah lembut, pintar memasak, dia bisa merawatku, dia mencintaiku, dan yang pasti dia juga pintar dalam hal itu"
Mendengar Daehyun mendeskripsikan istrinya membuat Nahyun hampir terbakar api cemburu. Tetapi ia harus sabar karena salahnya juga menanyakan hal tersebu pada Daehyun. Ia jadi harus rela melihat Daehyun seperti orang gila tersenyum bahagia membayangkan istrinya bak seorang bidadari.
"Sudah cukup! Saya sudah paham." Nahyun berkata ketus.
"Siapa yang tadi menanyakannya, huh? Ayo kembali bekerja." Daehyun bangkit dari duduknya. Mengasak surai Nahyun dan berjalan keluar kantin kembali ke kantornya.
Nahyun hanya terdiam karena tingkah Daehyun. Nahyun memegangi rambutnya yang berantakan sambil tersenyum aneh. Dan segeran berlari mengikuti Daehyun setelah membereskan bekal makannya di meja kantin.
.
.
.
Pukul tujuh tepat. Daehyun telah menyelesaikan semua urusan kantornya, Nahyun pun sudah meninggalkan ruangan ini 5 menit yang lalu. Dan Youngjae juga sudah mengsms jika kegiatan sekolahnya sudah usai 30 menit yang lalu. Ia ingin segera di jemput karena terlalu lelah. Daehyun mengemasi barang – barangnya dengan cepat karena air hujan mulai berjatuhan. Setelah selesai dengan barang – barang, Daehyun mengambil ponselnya dan menelepon Youngjae agar menunggunya di tempat teduh.
"Hyung, kau dimana? Ini sudah hujan. Aku menunggumu di halte depan sekolah."
" Tunggu disitu jangan sampai kehujanan, arraseo?"
"Ne."
Youngjae mematikan panggilannya terlebih dulu. Daehyun berlari kalang – kabut menuju lift untuk dinaikinya menuju basement karena mobilnya terparkir disana. Setelah mendapatkan mobilnya ia segera masuk dan tancap gas keluar parkiran.
Belum jauh ia mengemudi. Daehyun melihat Nahyun yang sedang menunggu di halte bis dengan baju yang hampir basah kuyup. Daehyun yang merasa iba meminggirkan mobilnya mendekati Nahyun.
"Nahyun – ssi masuklah!"
"Tidak usah pak. Saya menunggu bis saja disini."
"Bis akan lama datangnya. Masuk saja cepat! Saya sedang buru – buru."
Nahyun yang senang bukan main tidak menolak lebih lama lagi dan langsung masuk kedalam mobil Daehyun. Mendudukkan dirinya di samping Daehyun bukan di kursi belakang. Daehyun yang masa bodoh karena sedang mengejar waktu untuk menjemput istrinya hanya membiarkan Nahyun duduk dimanapun ia mau.
Setelah 30 menit berkendara. Daehyun telah melihat gedung sekolah Youngjae dari kejauhan. Ia makin mempercepat mobilnya mendekati sekolah tersebut.
"Kita kenapa ke sekolah pak?"
"Menjemput istriku. Sebentar saja."
Nahyun hanya mengangguk mengiyakan. Dia kini tau Youngjae seorang anak SMA. Dia makin gampang menghancurkan hubungan Daehyun dan Youngjae. Pasalnya adiknya, Minjae juga sekolah disini.
"Ah sial! Aku telat menjemputnya." Daehyun meruntuki dirinya saat melihat Youngjae dengan mata terpejam di halte depan sekolah yang ternyata lampunya rusak. Teman – temannya juga sudah tidak ada yang berada disana. Daehyun segera meminggirkan mobilnya. Sinar dari lampu mobil Daehyun menerangi halte dan membuat Youngjae terbangun dari tidurnya. Daehyun keluar dari mobil menghampiri Youngjae yang terlihat basah. Daehyun melepaskan jas kantornya dan di pasangkan pada tubuh Youngjae yang basah. Menuntunnya menuju pintu belakang mobil yang membuat Youngjae mengernyit menatap Daehyun bingung.
"Aku ingin duduk di sampingmu."
"Mianhae. Tapi aku membawa teman kantorku. Rumahnya searah dengan kita. Tadi dia kehujanan dan aku kasihan padanya."
"Aishh. Aku bahkan basah kuyup dan menunggumu selama 1 jam lebih sampai bajuku hampir mengering." Youngjae kesal bukan main. Moodnya benar – benar kacau hari ini. Ditambah Daehyun yang telat menjemputnya sekaligus membawa temannya untuk diantar pulang. Dan yang lebih mengesalkan teman Daehyun yang ternyata wanita dan sekertarisnya itu mengambil duduknya di samping Daehyun.
Youngjae memasang wajah kesal selama perjalanan. Ia sungguh seperti orang ketiga. Bahkan seperti anak Daehyun dan sekertarisnya karena Youngjae memakai baju seragam. Seperti Daehyun dan istrinya menjemput putranya sekolah. Benar – benar menyebalkan.
Daehyun menyadari aura mengerikan Youngjae dari kaca mobil. Youngjae terus memperhatikan jalanan luar dengan wajah di tekuk.
"Yeobo?"
Nahyun yang sedang melihat jalanan melalui jendela seketika melotot mendengar suara halus Daehyun saat memanggil istrinya. Sungguh ia ingin sekali melompat dari mobil sekarang juga.
"Sayang?"
"…"
"Yoo Youngjae?"
"…"
"Yoo Youngjae – ssi"
"…"
"Uri adeul eomma*!"
"Tsk! Ada apa? Jangan memanggilku seperti itu. Benar – benar memalukan."
"Mianhae."
"Untuk?"
"Karena aku telat menjemputmu. Aku akan membelikanmu ice cream saat di jalan setelah mengantar Nn. Nahyun."
"Terserah hyung saja."
"Ayolah berhenti merajuk seperti itu sayang. Hyung janji tidak akan terlambat menjemputmu lagi."
Daehyun melepas tangan kanannya jadi kemudi. Menyodorkan jari kelingkingnya ke arah Youngjae. Bermaksud untuk menautkannya dengan milik Youngjae, tanda perjanjian. Youngjae menautkan miliknya dengan malas.
"Jika hyung tidak bisa menjemputku bilang saja. Aku akan pulang naik bis seperti biasa."
"Siap !"
Ekhem..
Nahyun berdehem menginterupsi kegiatan sepasang suami istri yang lebih mirip adik kakak tersebut. Nahyun sudah ingin muntah mendengarkan setiap kata – kata sayang yang di lantunkan Daehyun untuk Youngjae. Youngjae benar – benar seperti anak kecil. Apakah itu yang membuat Daehyun suka padanya. Daehyun sama sekali tidak merasa kesal saat Youngjae marah dan merajuk pada Daehyun dengan segala sifat kekanakan khas anak SMA bahkan SD. Daehyun hanya terkekeh geli terkadang juga tertawa gemas melihat kelakuan Youngjae. Sungguh Nahyun benar – benar muak.
Setelah berkendara cukup lama. Tiba sudah di daerah Gangnam. Daerah apartemen Nahyun. Nahyun menunjukkan jalan menuju apartemennya. Saat tiba di lingkungan apartemennya. Nahyun sudah di tunggu sang adik, Minjae. Nahyun tersenyum melihat adiknya sudah menunggu dari dalam kaca mobil.
"Youngjae – ssi?"
"Ne?"
"Adikku juga bersekolah di SMA yang sama denganmu. Apakah kau mengenalnya?"
"Siapa? Aku tidak mengenal siapapun di sekolah selain Junhong dan Himchan ssaem."
"Itu dia anaknya." Nahyun menunjuk keluar jendela. Menunjuk seorang gadis yang sedang berdiri di depan gedung apartemen.
"Minjae?"
"Kau mengenalnya?"
"Jadi dia adikmu Nahyun – ssi?"
"Iya."
"Ah arraseo. Aku akan mengenalnya dengan baik." Youngjae hanya mengangguk sambil tersenyum palsu. Nahyun senang mendengarnya. Tetapi tidak dengan Daehyun. Ia mengenal istrinya. Ia tau itu bukan senyum tulus dari Youngjae. Ada masalah apa sebenarnya?.
Nahyun keluar mobil setelah mengucapkan terima kasih pada Daehyun dan Youngjae. Ia berjalan keluar menemui adiknya. Setelah itu Youngjae dengan sifat agresifnya pindah ke bangku samping Daehyun lewat jarak di tengah – tengah kursi. Daehyun yang melihatnya hanya geleng – geleng kepala.
"Hyung"
"Hmm..?"
"Jangan pernah dekat dengan Nahyun."
"Ya! Kenapa? Cemburu eoh?" Daehyun menoel dagu Youngjae.
"Ya! Aku sedang serius, hyung."
"Baiklah. Ada masalah apa?"
"Pokoknya jangan pernah dekat dengan Nahyun. Camkan itu!"
"Kekanakan sekali. Bagaimana bisa tidak dekat dengan teman kerja. Terlebih itu sekertarisku sendiri."
"Jika aku mengatakan aku cemburu. Apa kau akan menjauhinya?"
Daehyun tersenyum menatap Youngjae. Mengusap pipinya sayang.
"Kau hanya takut aku berpaling darimu, sayang. Tenanglah tidak ada yang bisa membuatku berpaling darimu. Meskipun nantinya otakku sudah tertutup dengan buaian kasih sayang orang lain selain dirimu. Percayalah aku akan segera sadar dan berlari kepelukanmu. Karena hatiku tau siapa pemiliknya. Dan pemiliknya hanya kau dan aku."
Daehyun mengecup bibir Youngjae dan melumatnya dengan penuh kasih sayang. Membuat Youngjae yang merasakan kelembutan itu sampai menitihkan air matanya.
.
.
.
Cekrek
Cekrek
"Kena kau Yoo Youngjae!"
TBC
*Uri adeul eomma = Ibu dari anak - anak kita (re: Daehyun & Youngjae)
a/n: - Himchan itu emang gak di ceritain pas dulunya. baru muncul sekarang. dia ceritanya temen baik Daehyun pas kuliah. dia tahu kalo Daejae itu udah nikah dan dia dateng ke nikahannya. tapi Himchan itu bantu mereka esp Youngjae untuk merahasiakan hubungan mereka. karena Himchan itu guru Youngjae di SMA nya.
- Minjae itu adiknya Nahyun. dia juga sekolah di SMA nya Youngjae.
- Junhong meskipun belum ada di storynya tapi dia ini temen baiknya Youngjae. cuma dia yang bisa deket sama Youngjae. Jadi Youngjae itu anak yang aslinya ceria cuma sama orang yang deket sama dia. tapi dia menutup diri dari temen sekolah yang lain.
- Yongguk. Suaminya Himchan, mantannya Nahyun. dia punya masa lalu yang kelam tentang hubungannya sama Nahyun.
makasih yang kemaren udah review.
disini banyak basa - basinya, jadi maafkan kalo kurang greget. yaudahlah gitu aja dari aku wkwkwk
Thanks to : Just DaeJae, Daejaeship, Dhyun628, Damchu1428, Adore Wind, Jung Rae Gun, KittiToKitti, JokeMato DaeJae, FieAnn.
-Newsun
