Author: Newsun
Chapter 7
Banyak Typo & Happy Reading ^.^
Sebuah mobil sedan hitam melaju meninggalkan sebuah gedung apartemen. Terdapat dua manusia di dalam mobil teresebut. Mereka hanya diam. Seseorang yang lebih tua tampak memperhatikan jalan dan yang sedang duduk di sebelahnya hanya diam dengan wajah yang masih ditekuk. Entah apa yang sedang dipikirkan si pria manis hingga wajahnya seperti cucian yang diperas sampai airnya susut.
Kesunyian yang berlangsung lama akhirnya terpecahkan saat Youngjae yang terlihat bosan menjulurkan tangannya. Menyalakan radio, mencari lagu yang pas untuk menghilangkan rasa gundah yang ada di hatinya. Tetapi yang ada Youngjae nampak makin kesal karena lagu terputar di radio hanya lagu bernuansa ballad. Youngjae menyerah membiarkan lagu ballad itu memutar di radio mobil sampai akhirnya ia terbuai dan terlelap.
Daehyun. Lelaki yang sedang serius memperhatikan jalan akhirnya meminggirkan mobilnya saat dilihatnya kedai ice cream di pinggir jalan. Ia menepati janjinya untuk membelikan istrinya yang manis sebuah ice cream. Tanpa membangunkan Youngjae yang terlelap, Daehyun keluar dari mobil menuju kedai ice cream tersebut. Masuk kedalam, menuju ke kasir untuk memesan. Ia memilih dua vanilla ice cream untuk dirinya dan Youngjae serta membayarnya langsung. Ia bergegas menuju ke mobil karena takut Youngjae terbangun di tempat asing tanpa seseorang disisinya.
"Yeobo? Ireona~"
"Hmmm?"
"Hey bukalah matamu. Lihat aku bawa apa."
"Euuggg… wah ice cream!"
"Bangun dan makanlah!" Daehyun menyodorkan cup ice cream ke arah Youngjae. Dan tentu saja Youngjae langsung menerimanya. Bahkan melahapnya dengan diam.
"kenapa? Hmm?..."
Youngjae menggeleng – gelengkan kepalanya.
"Bagaimana harimu di sekolah?"
"Indah."
"Bohong."
"Bagaimana kata indah bisa di gambarkan dengan wajah jelekmu yang seperti itu?"
"Hanya saja."
"Ceritakan padaku!" Daehyun yang kesal dengan kelakuan Youngjae menangkup pipi istrinya dan membawanya menghadap pada wajahnya.
"Tidak ada yang terjadi. Kenapa harus diceritakan."
"Apa kau pernah bisa membohongiku?"
"Aishhh baiklah. Itu minjae…"
"Ahhh benarkan dugaanku. Kau pasti bertengkar dengan minjae. Sudahlah jika karna bertengkar dengannya kau sampai benci dengan Nahyun buang pemikiran kekanakanmu. Selesaikan masalah kalian dengan baik – baik."
"Jangan menyela Tuan Jung aku bahkan belum selesai berbicara."
"Baiklah sayang. Lanjutkan!"
"Minjae… Minjae sepertinya mengetahui hubungan kita."
"Tak apalah jika hanya Minjae. Toh Nahyun juga tau kau adalah istriku. Jika dia tidak tau, pasti Nahyun akan bercerita. Bukankah saudara seperti itu?"
Youngjae tak menyangka jika pemikiran Daehyun yang begitu dangkal. Ia bahkan tak mengenal bagaimana busuknya seorang Minjae. Mungkin Nahyun juga sama busuknya.
"Baiklah. Tapi jika terjadi sesuatu padaku. Aku akan sangat membencimu."
"Eii omong kosong. Bagaimana bisa kau benci denganku."
"Bisa saja."
CHUP
Daehyun mencium bibir Youngjae singkat.
Daehyun hanya tidak peka. Tidak peka akan perasaan istrinya. Youngjae hanya berusaha menjaga Daehyun. Tetapi Daehyun merasa jika dirinya bisa dipercaya dan tak akan berpaling pada Youngjae. Ia bahkan merasa jika Nahyun tidak akan melakukan hal seperti itu. Jung Daehyun semoga cepat sadar.
Daehyun melepaskan tangkupannya pada pipi Youngjae. Mulai menatap jalanan di depan sana. Memegang kemudi dan menjalankan mobilnya menuju apartemen mereka.
.
.
.
Keesokan harinya
Youngjae tiba di sekolah, ia berjalan menyeret kakinya melewati gerbang berjalan menuju koridor sekolah untuk mencapai kelasnya. Badannya tampak lemas dan wajahnya lesu. Saat kemarin sampai di rumah dengan tidak tahu dirinya Nahyun menelepon Daehyun masalah pekerjaan. Jadilah Youngjae hampir tidur sendiri. Youngjae sudah terlalu lelah bahkan ia membiarkan Daehyun mengerjakan pekerjaannya tanpa protes seperti biasanya. Daehyun baru naik di ranjang mereka saat jam menunjukkan pukul 3 pagi. Dan yang membuatnya lebih ingin marah adalah Daehyun membangunkannya pukul 5 kurang hanya untuk menyiapkan semua keperluan Daehyun untuk bekerja. Katanya Daehyun harus segera ke kantor untuk menyiapkan meeting. Persetan dengan semua, meeting apa yang mengharuskan datang ke kantor pukul 6. Ia bahkan tidak mencium dan sekedar berbincang dengan Youngjae karena suara Nahyun terus mengalun di handphone yang tengan dipegang Daehyun. Daehyun juga tidak menunggu Youngjae, dan mengikhlaskan istrinya berangkat sekolah menggunakan bis.
"Aiiishhh… brengsek!" Youngjae kesal mengingat semuanya. Youngjae mengasak rambutnya kasar hingga berantakan sambil menghentak – hentakkan kakinya ke lantai.
"Youngjae!"
"Apa?"
"Ya! Kau kenapa sih, dari kemarin sepertinya kesal begitu?"
"Molla…. Junhongie?"
"Ne?"
"Sepertinya Daehyun hyung selingkuh. Aku harus bagaimana?"
"Heh? Bagaimana mungkin. Youngjae babo, kau baru menikah 9 hari yang lalu. Bagaimana bisa Daehyun hyung menghianatimu sebegitu cepatnya."
"YA! MAKSUDMU DIA AKAN SELINGKUH SAAT SUDAH 5 ATAU 10 TAHUN MENIKAH!"
"Bu bukan begitu maksudku Youngjae – ah."
"Huwaaaaa. Aku harus bagaimana Junhongie?" Youngjae tak kuasa menahan keluh kesahnya. Ia hampir menangis tersedu – sedu jika saja Junhong tidak segera meminjamkan dada serta punggungnya untuk bersandar.
Cekrek…
Dari jauh Minjae ternyata menyaksikan kejadian tersebut. Ia mungkin tidak mendengar apa yang diucapkan Youngjae dan Junhong. Yang pasti dia mendapatkan foto romantis antara Junhong yang sedang memeluk Youngjae. Ia mengirimkan foto tersebut ke kontak kakaknya, Nahyun. Mereka sudah saling bercerita tentang Daehyun dan Youngjae. Awalnya Minjae tidak terima jika kakaknya naksir dengan Daehyun karena Minjae juga begitu. Tetapi Minjae lebih memilih mengalah dan membantu Nahyun untuk memisahkan Youngjae dan Daehyun. Toh Minjae juga sebal melihat Youngjae.
Disebrang sana Nahyun menerima foto dari Minjae. Ia melihatnya dengan puas. Hasil kerja adiknya tidak buruk juga.
"Ahhh anak SMA jaman sekarang tidak tahu malu ya." Nahyun memulai aktingnya di depan Daehyun.
"Pak, coba lihat ini. Minjae mengirimkan foto 2 orang siswa yang sedang berpelukan di koridor sekolah. Mereka bahkan sesama jenis."
"Hahaha… biarkanlah mereka Nahyun – ssi, mereka bahkan sudah dewasa."
Nahyun menatap Daehyun dengan kesal karena Daehyun tidak memperdulikannya. Ia memikirkan cara yang lain untuk memancing Daehyun agar melihat fotonya.
"Omo! Apakah ini sungguh dia? Daehyun – ssi, ini istri anda bukan?"
Daehyun lantas menghentikan kegiatan mengetiknya saat mendengar Nahyun mengatakan jika yang ada di dalam foto itu adalah Youngjae. Daehyun berdiri, menghampiri meja Nahyun dan merebut handphonenya. Melihat siapa yang ada di layar handphone tersebut. Seketika Daehyun tertawa. Ia mengembalikan handphone tersebut kepada Nahyun. Nahyun melihat Daehyun tertawa menjadi bingung. Istrinya tengah selingkuh. Tetapi ia malah tenang dan bahkan tertawa.
"Nahyun – ssi, jika kau tidak tau apa – apa, sebaiknya jangan berkomentar dulu."
"Tapi ini benar Youngjae istri bapak kan?"
"Ne. Dengan Junhong, teman baiknya. Aku mengenal dia. Aish Junhong tidak ada bedanya dengan Youngjae. Mereka seperti bocah SD. Junhong sering main ke apartemenku saat aku masih berpacaran dengan Youngjae. Sungguh, aku bahkan ingin mengusir keduanya dari apartemenku saat mereka sudah bermain game. sangat berisik."
"Ta tapi kenapa mereka terlihat begitu mesra? Bahkan ini pelukan."
"Ah itu sudah biasa. Bahkan Youngjae sering mencium pipi Junhong di depan mataku. Awalnya aku cemburu tetapi saat mengetahui alasannya. Aku malah geli terhadap sikap mereka. Youngjae bilang, Junhong seperti bayi karena kulitnya yang lembut. Jadi dia gemas, daripada menggigitnya, mencium lebih baik."
"Ahhh.. begitu… tapi pak, apakah bapak dulunya bukan teman baik istri bapak?"
"Aku bahkan lebih dari teman baik."
"Itu yang saya maksud, pak."
"Maksud anda apa Nahyun – ssi?"
"Jika teman sudah saling nyaman, apakah suatu hubungan yang lebih itu tidak mungkin? Bahkan pada kasus orang sudah berumah tangga juga sering terjadi, perselingkuhan. Dari banyak kasus yang menjadi orang ketiga bukan orang yang kita tidak kenal. Tetapi orang yang sangat dekat dengan kita."
"Maka dari itu Nahyun – ssi. Kita harus menjaga komunikasi antar pasangan kita. Terlebih jika sudah menikah. Aku percaya pada istriku dan begitu sebaliknya."
"Semoga hubungan bapak dan istri bapak selalu di berkati."
At Youngjae's School
Krriiiinggg~
Bel tanda istirahat terlah terdengar dari segala penjuru ruangan. Termasuk ruang kelas Youngjae. Meskipun begitu Youngjae enggan berdiri dari tempat duduk dan menuju kantin seperti teman yang lain. Jangankan beranjak, mendongakkan kepalanya saja enggan. Entahlah daritadi ia hanya termenung. Bahkan pelajaran tak ada satupun yang masuk di dalam otak encernya.
"Youngjae – ah, ayo ke kantin!" Junhong datang dari kelas sebelah memanggil Youngjae yang sedang melamun sambil menumpu kepalanya pada tangan.
Junhong pun masuk ke dalam kelas, menghampiri Youngjae yang sepertinya tidak memperdulikan panggilan Junhong.
"YOUNGJAE BABO!"
"Aishhh WAAE? KENAPA KAU BERTERIAK?!"
"Hehehehe mian chingu, abisnya kau tidak menoleh saat kupanggil. Ayo ke kantin!"
"Aku sedang tidak ingin kesana."
"Kenapa?"
"Mereka pasti mencibirku…"
"Kalau begitu kau mau kubelikan apa?"
"Ramyeon."
"Hanya itu?"
Youngjae menjawab dengan anggukan kepala. Junhong dengan secepat kilat meluncur ke kantin jadilah Youngjae sendiri lagi di dalam kelasnya. Ia membuka memasang earphone-nya. Mendengarkan lagu, sedikit menenangkan hatinya.
"082******** send you a message"
Saat hati Youngjae sudah agak tenang. Sebuah sms dari nomor misterius masuk ke nomor milik Youngjae. Membuat Youngjae sedikit mengangkat wajahnya, sekedar melihat siapa yang mengganggu acara refreshingnya.
Pict
"Pria murahan, ini benar kau kan?"
SIAL
Foto saat Daehyun menciumnya di dalam mobil selepas mengantar Nahyun pulang tiba – tiba masuk di smsnya. Ia sudah menduga ini pekerjaan Minjae. Tapi setelah diingat – ingat, ia melihat sendiri Minjae masuk ke dalam apartemen bersama Nahyun selepas Nahyun turun. Dan saat Daehyun menciumnya, mereka sudah tidak terlihat dari kaca mobil. Lantas siapa pelaku pemotretan ini.
Youngjae jadi takut. Apakah ini menyebar di internet, atau hanya dirinya saja yang menerima pesannya. Saat Junhong kembali dari kantin dan membawakan ramyeon untuk Youngjae. Youngjae dengan tidak sabar segera meminjam handphone milik Junhong. Tentu saja Junhong akan memberikannya tanpa curiga. Youngjae membuka pesan Junhong, ternyata tak ada apa – apa. Ia menghela nafas lega. Ternyata foto itu tidak menyebar.
2 months later…
Ini sudah 2 bulan sejak foto ciuman Youngjae dan Daehyun selalu dikirim ke nomor Youngjae. Youngjae sampai saat ini pun masih tetap bungkam. Ia tak pernah menceritakan pada siapapun, bahkan Daehyun. Memang pada awalnya pesan itu hanya berisi ejekan biasa. Ia selalu teringat ucapan Himchan agar selalu kuat, jadi ia bersikap sebiasa mungkin. Tapi lama kelamaan foto tersebut datang dengan pesan ancaman. Ia mengatakan akan membongkar hubungannya dengan Daehyun disekolah dan membully Youngjae habis – habisan. Ia berkata akan menyebar foto – foto yang lain di media internet sekolah.
Yang Youngjae tau Minjae pelaku dari semua ini. Tetapi pada saat itu Youngjae datang ke Minjae dan merebut handphonenya anehnya isi handphone tersebut tidak ada apa – apa mengenai dirinya dan Daehyun. Youngjae sungguh frustasi. Ia tak tau harus menceritakan keluh kesahnya dengan siapa. Junhong? Junhong belakangan ini terkena masalah dengan orang tuanya. Tak mungkin ia menambah beban Junhong. Bercerita pada Himchan hyung selalu berurusan pada Daehyun pada akhirnya. Padahal percuma saja. Daehyun jarang di apartemen sekarang. Ia sering lembur.
Daehyun pergi saat pagi buta dan pulang saat Youngjae sudah tertidur. Saat pagi Youngjae akan melayani Daehyun sebagai istri yang baik. Meskipun jarang ada kemesraan diantara mereka. Daehyun hanya akan mencium Youngjae saat akan berangkat dan sisanya ia hanya kalang kabut menyuruh Youngjae lari kesana kemari untuk menyiapkan segala kebutuhan kantor Daehyun.
Daehyun juga jarang mengantar dan menjemput Youngjae saat pulang. Daehyun juga jarang mengirimi sms. Hanya beberapa kali, hanya untuk menanyakan "Apakah kau sudah makan?Aku akan lembur." Youngjae tentu bosan dengan hal – hal yang monoton. Youngjae kadang ingat, mereka bahkan jarang menghabiskan waktu diluar untuk main pada saat weekend seperti saat pacaran dulu. Youngjae sungguh merindukan saat – saat seperti itu. Youngjae bahkan merelakan tidak bulan madu saat setelah menikah karena Daehyun sudah menyita waktu cutinya untuk mempersiapkan pernikahan mendadak mereka.
Youngjae pov
Aku duduk di ruang tamu. Di depanku ada tv yang menampilkan acara reality show dengan host yang tak henti – hentinya membuat kelucuan. Tapi entah kenapa, aku yang biasanya akan tertawa melihat hal yang seperti itu tidak sama sekali ingin tertawa. Ini sudah pukul 1 malam. Besok adalah hari libur. Aku mencoba menunggu Daehyun hyung. Sudah lama aku tidak berbicara banyak padanya. Kurasa hubunganku dengannya makin renggang. Aku sebenarnya mengantuk sampai rasanya ingin menangis. Aku sudah tak kuat menahan kantukku sampai kepalaku yang entah sejak kapan sudah tertunduk dalam. Aku menutup mataku, cairan bening yang sudah menumpuk di pelupuk mataku jatuh membasahi pipiku. Rasa sesak juga melanda bagian dadaku. Semakin aku menutup mataku, semakin masalah yang kucoba lupakan datang menghantuiku bercampur dengan masa – masa indahku dengan Daehyun hyung. Memori itu terus berputar di kepalaku seperti sebuah film yang terdapat konflik serta masa lalu yang bahagia tapi belum menemukan endingnya.
Ceklek…
"Itu Daehyun hyung…" Batinku. Aku segera mengusap pipiku dan mataku yang basah karena air sialan yang belakangan ini terus menetes tanpa mendapat perintah.
"Hyung.. kau sudah pulang? Mau kubuatkan sesuatu?" Aku mencoba meninggikan suaraku. Membuatnya seperti sebiasa mungkin.
"Kau belum tidur sayang? Hmm tidak usah ya, aku akan mandi dan segera tidur. Pekerjaan ini benar – benar melelahkan. Tidurlah duluan, aku akan mandi."
Aku sudah siap akan segala jawaban Daehyun hyung. Mungkin terdengar menyakitkan. Aku menunggunya begitu lama. Tapi yang aku dapat hanya penolakan. Aku menundukkan kepalaku lagi. Cairan bening yang ku tahan akhirnya keluar lagi.
Aku menangis lagi untuk yang kesekian kalinya.
.
.
.
Sudah sejak 1 jam aku masih duduk di tempat yang sama. Daehyun bahkan tak keluar kamar sekedar mengajakku tidur. Air mataku sudah kering sedari tadi. Aku sungguh lelah duduk menunggu seperti ini. Aku berfikiran untuk mengistirahatkan diriku. Aku beranjak dari tempatku, melangkah ke kamar.
Aku melihatnya. Daehyun sudah berada jauh pada alam mimpinya. Aku berjalan mendekat ke arahnya, berjongkok tepat di depan wajah damainya. Aku mengelus seluruh bagian wajahnya. Ini sudah lama aku tidak menyentuh anggota tubuhnya. Aku tersenyum hanya dengan memperhatikannya seperti ini.
"Nahyun – ah….."
Aku tersentak dengan sebuah nama yang terlontar dari bibir Daehyun hyung. Aku tidak salah dengarkan? Daehyun hyung memanggil Nahyun? Disaat tidurnya?. Aku menutup mulutku sebisa mungkin menahan isakanku. Apa yang membuat Daehyun mengigau memanggil nama Nahyun. Apa yang sudah dilakukan Nahyun sampai membuat Daehyun memanggil namanya saat tidur. Aku sudah tidak tahan akan ini. Aku memilih keluar apartemen. Mendatangi apartemen orang tuaku. Tentu saja sudah gelap karena orang tuaku sudah tidur. Aku berjalan terhuyung – huyung menuju kamarku. Mengunci kamarku agar semua orang tidak menyadari aku disini.
.
.
.
Tok tok tok ….
"Eoh Daehyun – ah, ada apa kemari? Youngjae mana?"
"Eomma. Aku baru mau menanyakan apakah Youngjae kemari? Dia tidak ada di apartemen saat aku bangun tadi."
"Benarkah? Dia juga tidak datang kemari."
"Begitu… Eomma, apakah eomma bisa menelepon ponsel Youngjae?"
"Tentu saja. Ayo masuk dulu."
Daehyun. Saat bangun tidur di pagi hari ini tidak merasakan kehadiran sosok istrinya. Padahal malam saat dia pulang kerja, masih melihat Youngjae duduk di sofa apartemennya. Ia merasa bersalah saat menolak Youngjae untuk membuatkannya sesuatu tadi malam. Jadilah ia sekarang berada di dalam rumah mertuanya. Mencari istrinya.
Tuuutt..tutt…tutt…
"Ini sudah yang kelima kali, tapi tidak ada sahutan. Bocah ini benar – benar!."
"Tenanglah eomma, Youngjae tidak akan pergi kemana – mana."
"Kau sudah melepon Junhong?"
"Junhong sedang di luar kota hari ini. Tidak mungkin dia kesana."
"Himchan?"
"Rumah Himchan terlalu jauh."
"Yeobo? Apakah kita pernah mengunci kamar Youngjae?" Teriakan sang ayah mertua memanggil istrinya lantaran ia ingin mengambil barang di dalam kamar yang seharusnya tak terkunci.
"Sudah kubilang kan eomma, dia takkan pergi kemana – mana" Daehyun berucap bangga sambil tersenyum.
"Youngjae – ah! Kau didalam?"
"…."
"Ya! Bukalah appamu ingin mengambil sesuatu!"
"…."
"Ya! Anak nakal! Buka atau eomma dobrak pintunya. Bagaimana caranya kau masuk, bahkan kau meninggalkan suamimu di rumah sendirian."
Ceklek….
"Aisshh tak bisakah eomma membiarkan aku tidur barang sehari ini saja." Youngjae hanya membuka sedikit cela di pintu kamarnya.
"Jika kau tidur siapa yang mengurus suamimu. Dasar bodoh."
"Aku lelah menjadi istri yang baik. Biarkah aku melanggar janjiku kali ini saja. Aku benar – benar lelah."
"YA! EOMMA JUGA LELAH MENJADI SUAMI APPAMU DAN MENGURUS ANAK BANDEL SEPERTI DIRIMU!" Ny. Yoo seperti kehilangan kesabaran menghadapi Youngjae yang tiba – tiba datang ke rumah untuk tidur dan membuat keributan di pagi hari. Daehyun yang berada di belakang menepuk pundak wanita yang sudah hampir tua tersebut. Berusaha menenangkan.
"Youngjae – ah, jika kau lelah kenapa tidak bilang padaku? Aku akan setidaknya membiarkanmu istirahat. Keluarlah ayo pulang dan beristirahatlah di rumah."
"Shireo!"
Tn. Yoo yang geram melihat sifat kekanakan anak semata wayangnya tersebut lalu mendorong pintu kamar Youngjae yang sedikit di buka oleh sang empunya. Membuat Youngjae yang tidak siap jatuh tersungkur kebelakang.
"AISHH APPOOO!"
"Sana pulang!"
"Ini bahkan kamarku. Kemana lagi aku akan pulang, dari dulu juga aku tinggal disini bukan?"
"Daehyun – ah, seretlah istrimu ini agar keluar dari rumahku!"
"APPA!"
Daehyun masuk ke kamar Youngjae. Menghampiri istrinya yang masih dalam posisi duduk setelah jatuh tadi. Ia ingin menggendong Youngjae ala bridal style tapi Youngjae menolaknya.
"Aku punya kaki. Aku bisa jalan sendiri." Youngjae bangkit keluar dari apartemen orang tuanya dan berjalan kembali ke apartemen Daehyun dengan wajah kesal.
"Eomma… Appa maaf sudah merepotkan pagi – pagi. Aku kembali dulu." Daehyun membungkukkan badannya sedikit sekedar meminta maaf serta memberi salam pada mertuanya.
"Ne! kembalilah."
.
.
.
Saat kembali ke apartemennya, Daehyun melangkahkan kakinya ke kamar. Ia melihat Youngjae menutup dirinya dengan selimut. Daehyun naik ke ranjang, merebahkan dirinya disamping istrinya yang sedang tertidur. Memeluknya dari belakang, menciumi leher belakang milik istrinya dan itu cukup membuat Youngjae terusik.
"Hentikan. Aku sudah bilang bukan jika aku lelah."
"Maafkan aku sayang."
"Cih… Untuk apa?"
"Karena kemarin. Apakah aku menyakitimu?"
"Kau bahkan tidak menggoreskan benda tajam pada tubuhku. Bagaimana bisa kau menyakitiku. Aku tau kau lelah, jangan terlalu berlebihan."
"Tetap saja. Aku tidak seharusnya begitu, maafkan aku.. hmm?"
"…."
"Ayo pergi berkencan."
"Ajak Nahyun saja, aku sedang malas."
Daehyun membalik paksa tubuh istrinya agar menghadap padanya.
"Kau kan istriku, kenapa harus mengajak sekertarisku. Dasar aneh."
"Kalau begitu diam saja di rumah. Aku sedang tidak ingin keluar."
"Baiklah. Tapi jika di rumah…. Yang paling seru adalah melakukan itu."
Daehyun menelusupkan tangan nakalnya kedalam kaus yang dikenakan Youngjae. Ia mengelus bagian punggung serta perut rata milik Youngjae. Ia harus berhasil membujuk istrinya kali ini. Sudah lama mereka tidak melakukannya. Dan kali ini mungkin waktu yang tepat.
Himchan's House
"Himchan – ah! Aku mendapat kabar gembira!"
Bang Yongguk. Ia adalah suami Himchan, guru sekolah Youngjae. Ia dikabarkan sedang mencari pekerjaan pasca di PHK dari kantornya yang lama. Ia adalah seorang yang gigih dalam bekerja. Tapi karena perusahaannya yang sering korupsi bangkrut. Mengakibatkan Yongguk harus mencari pekerjaan lain.
Yongguk setiap hari tak kenal waktu dari pagi hingga malam hari matanya tak berhenti menatap laptop dan koran. Meleliti apakah ada lowongan pekerjaan yang tersisa untuknya. Ia hanya tidak mau bergantung hidup pada istrinya, Himchan. Meskipun Himchan ikhlas – ikhlas saja. Tapi Yongguk berpegang teguh pada pendiriannya, jika suamilah yang harus bekerja mencari nafkah untuk keluarganya.
Dan hari ini, Yongguk menerima E-mail yang berisi tentang undangan wawancara kerja dari sebuah perusahaan. Ia diharuskan datang pada besok senin dengan membawa berkas – berkas penting mengenai dirinya dan melakukan wawancara kerja.
"Ne.. ada apa?" Himchan yang baru saja selesai mencuci piring langsung menghampiri Yongguk yang sedang dalam mode bahagia.
"Aku mendapat panggilan wawancara kerja."
"Benarkah? Perusahaan mana itu? Apakah bagus?"
"PT. XXX."
"Seperti pernah dengar."
"Semoga berhasil Bbang. Aku akan membantu menyiapkan berkasmu."
Mereka bisa disebut dengan keluarga harmonis. Mereka sudah menikah saat setelah lulus kuliah dan sampai sekarang rumah tangganya hampir belum pernah ada masalah. Yongguk adalah orang yang kelewat protektif, tapi Himchan tidak masalah dengan itu. Yongguk bahkan orang yang tidak bisa satu hari saja mengabaikan Himchan karena pekerjaan. Ia akan menyempatkan waktunya untuk bersantai bersama Himchan. Dan setiap weekend mereka pasti melakukan kegiatan yang menyenangkan di luar maupun di dalam rumah. Himchan merasa, menikah dengan Yongguk mengubah hidupnya yang monoton. Yongguk meskipun kata orang wajahnya terkesan garang dan tertutup. Menurut Himchan Yongguk adalah 180 derajat berbeda dengan yang dikata orang – orang. Yongguk dengan wajah garangnya tak pernah sungkan tertawa lebar di depannya.
Memang kadang Himchan agak sebal dengan kelakuan overprotective Yongguk. Tapi Yongguk pernah mengatakan pada Himchan kenapa dia melakukannya. Ia hanya ingin melindungi Himchan itu intinya.
.
.
.
Pagi yang cerah menyapa sepasang suami istri yang masih setia bergelung di dalam selimut dengan tubuh naked dan saling berpelukan. Mereka melakukannya. Selama hampir 3 bulan tidak melakukannya akhirnya mereka melakukan kegiatan suami – istri yang seharusnya rutin karena mereka masih dianggap pengantin baru. Dan mereka bebas melakukannya karena masih belum mempunyai anak.
Youngjae menggeliat pelan membuat sosok tampan yang sedang memeluknya terbangun dari tidurnya.
"Eunngg jam berapa ini?" Daehyun bangun dan mengusap matanya menengok jam di meja dekat ranjang mereka.
"APA? YATUHAN AKU BISA TERLAMBAT KERJA! SAYANG BANGUN!" Daehyun mengguncang keras tubuh istrinya.
"Ada apa hyung?"
"Bangunlah! Ini sudah siang. Cepat mandi!"
Youngjae melirik jam yang ada di meja juga.
"OMO! Mandilah hyung aku akan menyiapkan keperluanmu."
"Tidak bisa."
"Ha?"
"Kita mandi bersama. Kajja!"
.
.
.
"Belajarlah dengan giat. Aku menyayangimu."
Daehyun seperti kembali kesedia kala. Mengantarkan Youngjae. Meskipun waktu yang mepet, ia tetap mengantar Youngjae ke sekolah. Ia bahkan mencium Youngjae, ritual yang dari dulu hampir tidak pernah dilewatkan.
"Kau mau makan apa nanti malam?"
"Bagaimana kalau kita makan malam di luar? Aku akan menjemputmu."
"CALL!"
"Sana cepat masuk!"
"Baiklah."
CHUP
Saat Youngjae sudah tak terlihat dari gerbang sekolah Daehyun mencapkan gas mobilnya. Mengemudi menuju kantornya. Daehyun menyadarinya bahwa ia masih mencintai Youngjae. Hatinya masih berdebar saat mencium atau merapalkan kata sayang pada Youngjae. Terlebih jika Youngjae menanggapinya. Daehyun salah menanggapi pekataan Nahyun pada saat itu.
Daehyun Pov
Aku sedang merenung saat ini di meja kerjanya. Memikirkan tentang Youngjae yang belakangan ini mendiamiku. Entah karena apa, Youngjae seakan menutup dirinya dariku. Ia bahkan sering bersikap aneh. Saat aku menyentuhnya pun ia langsung terlonjak kaget melihatku. Ia bahkan menolak ciumanku bukan menolak sebenarnya hanya saja membatasi.
"Pak Daehyun!"
"Eoh Ne? Nahyun – ssi"
"Apa yang sedang bapak fikirkan?"
"Istriku tentu saja."
"Memang ada apa?"
"Akhir – akhir ini istriku seperti menjauhi diriku. Entah apa yang terjadi. Hahh… aku bahkan tak bisa menyentuhnya."
"Hmm… apakah istri bapak sering memegang handphonenya?"
"Iya. Bahkan saat aku ingin melihat isi handphonenya ternyata ada password. Padahal Youngjae tidak pernah mempasswordnya."
"Perselingkuhan."
"Tidak mungkin!"
"Apa yang tidak mungkin? Semua itu mungkin."
"Apa begitu?"
"Mungkin saja. Sudahlah pak, tidak usah menghiraukan istri bapak. Dia sudah jelas selingkuh."
"Jaga omonganmu. Itu bahkan belum tentu benar."
"Aiishh bapak tidak peka sekali!"
"Maksudmu?"
CHUP
Nahyun mencium bibir Daehyun tiba – tiba membuat Daehyun mendorong tubuh Nahyun menjauh.
"Saya memperhatikan bapak."
"Jangan bercanda. Saya sudah punya istri."
"Saya akan menunggu."
Daehyun pov end
Tok tok tok …
"Silahkan masuk!"
"Jung Daehyun – ssi."
"Eh sajjangnim. Apa yang membuatmu kemari."
"Aku mendengar kau mengajukan karyawan tambahan untuk ruanganmu. Aku membawanya sekarang."
"Benarkah?"
"Ne. Masuklah Yongguk – ssi."
"Annyeonghaseo. Yongguk, Bang Yongguk imnida. Saya akan bekerja keras. Mohon bantuannya."
"Eoh! Yongguk hyung?"
"Itu kau Daehyun? Wahhh senang bisa menjadi bawahanmu."
"Eii jangan begitu hyung. Kau masih jadi senior terbaikku bahkan sekarang. Dan itu sekertaris yang akan membantu kita. Kim Nahyun."
Yongguk mengedarkan pandangannya mengikuti gerakan tangan Daehyun yang menunjuk seorang wanita di meja sebrangnya.
"Nahyun – ah?"
"Ne?"
"Yo Yo Yongguk….."
.
.
.
TBC
a/n: warning! alur dan isi cerita makin berantakan. semoga ngerti!
JANGAN LUPA REVIEW!
-Newsun
