Author: Newsun
Chapter 8
Banyak Typo, Happy reading ^.^
Suasana ruangan Daehyun jadi mencekam setelah kedatangan Yongguk sebagai pegawai baru. Nahyun sangat gugup sampai tidak tau harus bertindak bagaimana. Pasalnya orang yang ada di meja sampingnya adalah mantannya. Jika memang sudah mantan seharusnya ia tidak segugup ini kecuali jika kita putus dengan orang yang kita sayang karena paksaan. Tapi bukan itu sebenarnya yang jadi masalah. Yongguk pasti masih mengingat benar kejadian masa lalu dan ia pasti masih menyimpan rasa benci. Mungkin hari yang ditakutkan Nahyun akan datang. Hari pembalasan seorang Bang Yongguk pada seseorang yang sikap cemburunya dapat membunuh orang lain, apalagi orang yang dibunuhnya adalah kekasih Yongguk.
Cerita itu benar – benar tragis, itu terjadi saat Yongguk masih kuliah di semester 1. Pacar Yongguk, maksudku mantan kekasih Yongguk saat jauh sebelum bertemu himchan. Ia meninggal karena ulah Nahyun. Entah karena sengaja atau tidak yang pasti Yongguk melihatnya. Kekasih yang dicintai tertabrak oleh mobil seorang Kim Nahyun saat akan menyebrang menemui Yongguk yang ada di sebrang jalan. Nahyun memang benar menolong dan membawanya ke rumah sakit. Tapi apa daya, luka yang didapat sangatlah parah. Nahyun mengaku jika ia tak sengaja, tapi apakah Yongguk percaya akan hal itu? Pasalnya alm. Kekasih Yongguk menyebrang saat traffic light sudah menunjukkan warna merah yang harusnya semua kendaraan berhenti.
Yongguk memang membenci Nahyun pada saat itu. Yongguk memutuskan hubungannya baik – baik karena merasa tidak cocok lagi dengan Nahyun. Tak lama kemudian ia bertemu dengan alm. Kekasihnya dan jadian. Yongguk mengambil keputusan jika kejadian penabrakan itu disebabkan karena Nahyun yang masih belum ikhlas diputuskan Yongguk. Maka dari itu ia sangat membencinya. Tapi setelah ia bertemu Himchan hal itu berubah. Himchan menguatkannya jadilah Yongguk dekat dengan Himchan hingga sekarang mereka menikah.
Jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Yongguk, Daehyun serta Nahyun menghentikan segala aktifitasnya bekerja. Meregangkan sedikit tubuhnya agar pegal – pegalnya sedikit hilang.
"Pak Daehyun ayo ke kantin!"
"Hmm.. oke, Yongguk hyung mau ikut?"
"Baiklah!"
"Daehyun kenapa kau mengajaknya." Batin Nahyun
Mereka bertiga berjalan menuju kantin untuk mengisi perutnya yang kosong. Nahyun sebenarnya ingin membatalkan acaranya ke kantin karena Daehyun mengajak Yongguk ikut serta. Tapi mau bagaimana lagi, yang mengajak kan Nahyun sendiri.
Mereka duduk bertiga disebuah meja di dekat jendela. Daehyun dan Yongguk duduk bersebelahan sedangkan Nahyun duduk di hadapan Daehyun. Nahyun kali ini makan dengan tenang. Ia bahkan tidak membuka mulutnya sama sekali. Yongguk baru mengeluarkan bekalnya yang di bawakan oleh Himchan.
"Waahhh Himchan hyung yang memasak?"
"Tentu saja. Siapa lagi kalau bukan dia."
"Aku jadi iri." Ujar Daehyun sambil terkekeh
"Youngjae. Bukankah istrimu juga pandai memasak?"
"Akhir – akhir ini aku dan Youngjae pulang malam. Jadi bangun juga sering kesiangan, begitulah. Aku juga tidak tega menyuruhnya bangun pukul 4 pagi hanya untuk memasak."
"Bersabarlah. Saat Youngjae sudah lulus dia pasti akan merawatmu lebih baik dari ini. Yang pasti jangan berpaling darinya, Youngjae sangat menyayangimu."
"Tentu. Aku tidak akan. Lagi pula biasanya Nn. Nahyun membawakanku masakannya yang enak."
Nahyun menghentikan makannya saat namanya tersebut dalam percakapan Daehyun dan Yongguk. Ia sedikit mendongakkan kepalanya dan tersenyum mengiyakan pernyataan Daehyun.
Yongguk mengerutkan keningnya "Nahyun – ssi sejak kapan kau bisa memasak?"
UHUK…
"A-aku belajar."
"Benarkah? Kapan – kapan bawakan juga untukku. Aku jadi ingin mencicipinya."
Yongguk tahu benar seperti apa seorang Kim Nahyun. Ia paling tidak bisa kalau disuruh memasak. Yongguk merasa penasaran saat Daehyun bilang masakan Nahyun sangat enak. Yongguk tak percaya pasalnya memasak bukan hal yang mudah jika Nahyun baru belajar.
"A a apa? Te te tentu Yongguk – ssi."
"Kalian canggung sekali." Daehyun menginterupsi percakapan Nahyun dan Yongguk yang menurutnya sangat membosankan. Padahal Yongguk dan Nahyun bukan orang asing bagi sesamanya. Mereka sudah saling mengenal.
"Pak Daehyun ayo kembali ke ruangan. Waktu makan siang sudah hampir usai." Nahyun bangkit sambil mengenggam tangan Daehyun. Menarik lengan Daehyun lebih tepatnya. Daehyun sedikit tersentak tapi Daehyun tetap ikut berdiri berjalan mengikuti Nahyun yang mengenggam tangannya.
Yongguk mengikuti mereka dari belakang. Ia lagi – lagi mengerutkan keningnya melihat pemandangan Nahyun yang notabenya sekertaris Daehyun saat ini mengenggam lengan bosnya sendiri.
Apa masuk akal?
.
.
Youngjae duduk di meja kantin seorang diri sambil tersenyum – senyum seperti orang gila. Teman yang lewat menatapnya bingung tapi tak diperdulikannya. Kebahagiaannya sudah kembali seperti dulu. Daehyun sudah memperhatikannya bahkan 10 menit yang lalu Daehyun mengirimi sms selamat makan siang dan mengajaknya makan malam di luar nanti setelah pulang sekolah.
Youngjae seperti lupa dengan peristiwa yang sedang menimpanya saat kemarin. Bukan lupa, Youngjae hanya menyingkirkannya sejenak. Ia tentu ingin bahagia seutuhnya, meskipun ia tidak tahu ini akan berakhir kapan. Younjae harap kebahagiaan ini terus ada padanya.
"Youngjae – ah? Kau gila ya?" Junhong datang menghampiri Youngjae dengan membawa nampan makanan yang barusan ia beli.
"Tidak. Aku baik saja."
"Lantas. Senyuman idiotmu itu untuk apa?"
"Hehehehe.. aku hanya senang."
"Biar aku tebak. Apa ini tentang Daehyun hyung?"
Youngjae mengangguk dengan mantap tak lupa senyuman manisnya.
"Aiguuu. Selamat chingu ya. Jagalah baik – baik hubungan kalian mulai sekarang."
"Sudah pasti."
"Aku dan Jongup akan pergi makan tteokboki hari ini. Apa kau mau ikut?"
"Kau kencan dengannya?"
"Ti tidak."
"Sudahlah berkencan saja dengannya, aku tak akan menganggu kalian. Aku sudah punya janji dengan Daehyun hyung."
"Pantas saja kau senyum senyum begitu. Baiklah kalau tidak mau ikut."
.
.
"Daehyun – ah. Apakah kau free setelah ini, aku ingin mengajakmu untuk minum."
"Ah aku tidak bisa hyung. Aku janji akan mengajak Youngjae berkencan, ah sudah pukul berapa ini. Dia pasti sudah menunggu. Mian hyung mungkin lain kali."
"Eiii tak apa. Bersenang – senanglah."
Seusai mengerjakan semua pekerjaan kantor Daehyun dengan secepat kilat membereskan meja serta barangnya. Ia tak ingin telat menjemput Youngjae seperti saat itu. Nahyun sudah pulang terlebih dahulu katanya ada urusan penting.
Daehyun sedikit terburu – buru saat lift sudah sampai di basement. Ia menghampiri mobilnya segera masuk kedalam dan memasang sabuk pengaman. Ia melihat jam yang sudah terlambat 10 menit dari jam yang sudah ia tentukan dengan Youngjae.
Tapi tiba – tiba . . .
Tok tok tok
Suara kaca mobil Daehyun diketuk dari luar saat Daehyun baru saja akan menyalakan mesinnya. Daehyun sedikit mendesah dan menolehkan kepalanya pada sumber suara. Ia tercengang mendapatkan Nahyun yang sedang berdiri sedikit membungkuk mensejajarkan wajahnya pada kaca mobil Daehyun. Daehyun lantas menurunkan kaca mobilnya.
"Pak, apakah saya boleh menumpang mobil bapak? Saya ada acara penting tapi teman yang akan menjemput saya mobilnya sedang mogok."
"Bagaimana Nahyun – ssi tapi saya sedang buru – buru. Istri saya sudah menunggu. Mianhae tapi menumpanglah pada Yongguk, dia belum pulang."
"Pak saya mohon sebentar saja. Tempatnya dekat kok."
"Sepertinya tidak bisa…"
"Ayolah pak. Dekat kok."
"Ahhh baiklah. Cepat masuk saya sedang buru – buru."
Nahyun tersenyum dan dengan cepat berlari ke sisi lain dari mobil Daehyun.
Dari jauh Yongguk melihat kejadian itu. "Bukankah Daehyun ada janji dengan Youngjae? Bukankah Nahyun sudah meninggalkan kantor sejak 1 jam yang lalu. Ahhh ini sangat aneh. Haruskah aku mengikutinya?"
Himchan send you a message.
Yongguk – ah. Tolong jemput aku di sekolah.
Yongguk mengabaikan Daehyun dan Nahyun dan lebih mementingkan menjemput Himchan. Ia segera menaiki mobilnya dan meluncur ke sekolahan.
.
.
Youngjae sudah sampai di restaurant yang ditunjuk Daehyun sejak hampir 2 jam yang lalu tapi Daehyun belum juga muncul. Youngjae memang memutuskan untuk menunggu Daehyun di luar karena Daehyun bilang padanya untuk menunggu kedatangannya dan masuk bersama. Bodohnya Youngjae tidak membawa pakaian hangatnya karena menurut ramalan cuaca suhu hari ini tinggi. Rasanya Youngjae ingin mengumpat karena suhu malam hari ini sangat rendah. Ia meniup – niup tangannya yang hampir membeku, sekedar memberikan rasa hangat pada dirinya.
1 jam kemudian.
Youngjae mulai kesal karena sudah 3 jam dan Daehyun tak kunjung datang. Tau begitu ia menyetujui ajakan Junhong makan tteokbokki dengan Jongup. Pasti sangat hangat. Youngjae tak bisa menghubungi Daehyun karena batrei handphonenya habis karena Junhong membuatnya main game saat istirahat sekolah.
"Youngjae – ah!"
Seseorang yang Youngjae kenali melambaikan tangannya dari jauh. Itu Himchan dan Yongguk. Mereka menghampiri Youngjae hanya sekedar menyapa.
"Sedang apa kau disini?"
"Aku ada janji dengan Daehyun hyung untuk makan disini."
"Lalu? Mana Daehyun? Asa! Kita bisa double date." Himchan tersenyum senang.
"Sudah 3 jam aku menunggu, tapi kenapa Daehyun belum sampai juga…" Youngjae menghela nafasnya. Sedih? Tentu saja.
"Kau sudah meneleponnya?"
"Handphoneku lowbatt."
Yongguk mengeluarkan ponselnya. Memberikan kepada Youngjae untuk membuat panggilan pada Daehyun.
"Pakailah ini. Kami akan kedalam, jika sudah susul saja ke dalam. Aku akan membuat reservasi untuk 4 orang."
Youngjae hanya mengangguk.
Sebelum masuk ke dalam Himchan melepaskan mantelnya. Dipakaikan pada Youngjae yang sepertinya kedinginan.
"Bbang. Ada apa? Wajahmu gelisah sekali."
"Aku kasian pada Youngjae."
"Aku juga. Kenapa Daehyun tidak datang – datang."
"Himchan – ah. Aku bekerja menjadi karyawan Daehyun. Perusahaan itu adalah tempat Daehyun bekerja."
"Waaahh jinjja? Kebetulan sekali."
"Dan di tempat itu pula Nahyun bekerja."
Deg
Himchan terdiam setelah Yongguk menyebut nama Nahyun. Himchan masih ingat betul bagaimana rapuhnya Yongguk setelah pacarnya meninggal dengan tragis gara – gara mantannya sendiri. Kim Nahyun.
"Aku melihat Daehyun pergi dengan Nahyun saat pulang kantor tadi."
"Lalu? Bagaimana dengan Youngjae?"
"Aku tidak berfikir jika Daehyun akan datang. Ajaklah Youngjae masuk untuk makan dengan kita. Dia sudah cukup lama menunggu."
Himchan menyetujui permintaan Yongguk dan segera bangkit dari tempat duduknya. Tapi Youngjae sudah ada di hadapan Himchan.
"Hyung terima kasih handphonenya." Youngjae mendekat ke arah Yongguk untuk memberikan ponsel yang dipinjamkan padanya.
"Bagaimana hasilnya?"
"Tidak di jawab."
"Youngjae – ah duduklah disini, ayo kita makan saja."
"Daehyun hyung?"
"Sudahlah jangan menunggunya. Daehyun hyung mungkin sibuk dan hpnya sedang mati."
Youngjae mendudukkan dirinya yang sudah lelah berdiri menunggu Daehyun selama 3 jam lebih. Himchan yang melihat raut muka Youngjae jadi bertambah kasihan. Ia mengambilkan makanan untuk Youngjae. Youngjae hanya menerimanya dengan tidak semangat. Ia hanya memainkan sendok dan garpunya.
"Youngjae – ah. Makanlah yang banyak jangan dimainkan begitu."
"Aku tidak bernafsu makan."
"Daehyun pasti sedang sibuk dan tidak sempat menghubungimu. Jangan terlalu dipikirkan dan makan saja."
"Kau. Pulanglah bersama kami. Kami akan mengantarkanmu ke apartemen." Yongguk ikut bersuara kali ini.
"Aku akan pulang dengan bis."
"Ini sudah pukul 9 malam. Sudahlah ikut saja."
3 jam yang lalu…
Daehyun mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk mempersingkat waktu. Tak lupa ia mendengarkan setiap arahan jalan dari Nahyun. Daehyun sebenarnya kesal, ini bahkan jauh dari kata dekat. Tapi mau bagaimana lagi Daehyun sudah terlanjur meniyakan Nahyun ia tak sejahat itu untuk menurunkan seorang wanita di pinggir jalan.
"Daehyun – ah pelan – pelan saja." Nahyun mengarahkan tangannya pada paha Daehyun dan sedikit meremas celananya.
"Aku sedang buru – buru. Istriku sudah menunggu."
"Ngomong – ngomong tentang istrimu. Bagaimana dengannya? Apakah dia benar – benar selingkuh?"
"Persepsimu saat itu benar – benar salah. Dan karena persepsimu itu aku jadi menjauhi istriku aku tidak percaya padanya."
"So. Im sorry."
"Kau tahu apa yang dibutuhkan sepasang suami istri?"
"…."
"Sex."
"Aku hanya kalut karena nafsuku. Ternyata setelah aku melakukannya lagi, hubunganku dengan istriku jadi harmonis."
"Daehyun – ah bisakah kau berhenti disana?"
Daehyun segera menuruti perintah Nahyun. Memberhentikan mobilnya di daerah yang tidak di kenalnya. Tidak banyak kendaraan yang lewat. Di samping kanan kiri nya hanya terdapat pohon – pohon.
"Kita tidak salah tempat kan?"
"Tidak… Daehyun – ah." Nahyun memanggil nama Daehyun dengan sensual. Ia juga mengusapkan telapak tangannya membelai paha Daehyun.
"Ya.. apa yang akan kau lakukan. Jangan bermain – main cepat beritau dimana tempat pertemuanmu aku tak punya banyak waktu."
"Ini tempat pertemuanku. Dengan mu."
"Maksudmu?"
"Aku tak bisa berdekatan denganmu bahkan melihatmu di kantor karena Yongguk sialan itu." Nahyun mulai membelai wajah Daehyun dan mendekatkan wajahnya pada Daehyun. Tapi Daehyun mencoba menghindarinya.
"Apa kau gila!"
"Iya.. aku gila karenamu, karena mendengar kau melakukan sex dengan istrimu tambah membuatku menggila." Tangan Nahyun mulai melepasi satu persatu kancing kemeja Daehyun.
"Maaf. Tapi aku tidak tertarik dengan dirimu." Daehyun mencengkram tangan Nahyun dan menghempaskan tubuhnya kebelakang sampai menabrak pintu mobil.
"Kenapa? Aku bahkan bisa memberikan kenikmatan yang jarang diberikan istrimu karena istrimu masih murid SMA."
"Dengarkan aku baik – baik Kim Nahyun – ssi. Aku masih sangat mencintai istriku. Sekarang kau KELUAR DARI MOBILKU!"
Nahyun menyeringai "Kau ada kencan dengan istrimu? Kita lihat sekarang jam berapa…. Istrimu pasti sudah pulang dan tidur di rumah seperti bayi. Jadi mengapa kita tidak menghabiskan waktu saja disini."
Baiklah. Daehyun muak dengan Nahyun. Daehyun keluar dari mobil, menghampiri sisi lain mobilnya. Membuka pintu penumpang dan menyeret Nahyun keluar dari mobilnya dengan kasar. Daehyun sudah kesal dipermainkan seperti ini. Ia memasuki mobilnya kembali dan memacunya dengan kecepatan penuh. Meninggalkan Nahyun yang berteriak memaki Daehyun karena diusir olehnya. Yang ia pikirkan hanya Youngjae.
"YA! JUNG DAEHYUN SIALAN. AKAN KUBUAT HIDUP ISTRIMU YANG BERHARGA ITU MENDERITA!"
Daehyun pov
Perempuan sialan. Aku kira dia baik, ternyata busuk juga. Berani – beraninya dia mempermainkanku di saat seperti ini. Apakah sudah direncanakan? Apakah dia ingin menghancurkan rumah tanggaku dengan Youngjae. Aku jadi terfikirkan ucapan Youngjae untuk jangan dekat – dekat dengan Nahyun. Aku merasa bersalah padanya. Youngjae mencoba melindungiku, melindungi rumah tangga kami. Tapi dengan bodohnya aku mengira jika Youngjae hanya cemburu belaka.
Maafkan aku sayang…
Aku memacu mobilku dengan kecepatan tinggi, aku tak peduli jika nanti aku akan di tilang polisi. Yang terpenting sekarang aku harus menemui Youngjae.
Setelah 1 jam berkendara aku melihat restaurant tempatku dan Youngjae bertemu. Aku sedikit mengurangi kecepatan mobilku dan masuk di halaman restaurant untuk parkir. Tapi seorang penjaga menahan mobilku.
"Maafkan saya pak. Tapi restaurant ini sudah tutup."
"Benarkah?" aku melirik jam tanganku.
Sial ini sudah hampir jam 11 malam. Padahal aku janji bertemu dengan Youngjae jam 6. Aku mendesah gelisah. Aku sangat merasa bersalah pada Youngjae sudah membuatnya menunggu untuk waktu yang lama.
Aku mengendarai mobilku menjauhi restaurant tersebut untuk ke apartement. Aku tentu kecewa dengan diriku sendiri. Aku jadi teringat wajah Youngjae saat aku bilang akan makan diluar bersama. Ia terlihat sangat bahagia. Aku jadi bingung harus mengatakan apa pada Youngjae nantinya. Aku mana sanggup melihat wajah kecewanya nanti. Aku takut dia membenciku. Aku takut melihat wajahnya yang memerah karena menangisi kebodohanku. Aku ingin marah pada diriku sendiri.
Aku membuka kaca mobilku sekedar mengambil udara segar untuk menenangkan pikiranku. Sial! Aku tidak jadi membuka kaca mobil karena udara di luar sangat dingin. Rasa bersalahku semakin bertambah. Youngjae menungguku selama berjam – jam saat udara sangat dingin. Aku jadi mengingat pesanku yang menyuruhnya menunggu di luar.
Aku benar – benar suami yang brengsek.
Aku memarkirkan mobilku saat sampai di apartemen. Berlari menelusuri lorong apartemen agar cepat sampai di apartemenku. Aku menghela nafas dengan keras saat akan memasuki apartemenku. Mempersiapkan diri melihat keadaan Youngjae.
Ceklek . . .
Aku membuka pintu apartemenku, gelap. Apa Youngjae belum pulang? Apa Youngjae tidak mau pulang?. Aku menyalakan lampu dan mulai menelusuri setiap inci apartemen tapi tak kudapatkan makhluk cantik tersebut. Aku menyadarinya, aku belum memeriksa kamar. Mungkin dia sedang di kamar. Aku membuka pelan – pelan pintu kamar kami, gelap. Apakah Youngjae memang belum pulang?.
Hiks… hiks…hiks…
Suara itu. Aku mendengarnya dari dalam kamar mandi. Aku mendekatkan telingaku ke pintu kamar mandi. Memastikan itu benar – benar berasal dari sana. Semakin aku mendekat ke arah pintu. Tangisan pilu yang membuat nafasku tercekat terdengar semakin jelas. Youngjae menangis. Suara tangisan itu benar – benar menyayat hatiku. Terdengar sangat menyakitkan. Aku tak tau jika kebodohanku menyakitinya sampai seperti ini.
Semakin aku mendengarnya semakin aku tak bisa menahan butiran air mataku yang akan keluar. Aku mengigit bibir bawahku agar tak terisak dengan keras. Aku takut. Jika Youngjae mengetahui aku disini, dirinya akan semakin tersakiti.
Daehyun pov end
"Youngjae – ah, bukalah pintu nya." Daehyun tak tahan mendengar tangisan pilu Youngjae. Sangat menyakiti hati Daehyun. Daehyun memberanikan diriku untuk mengetuk pintunya dan mencoba mengajaknya bicara.
"…."
"Mari kita bicara. Aku akan menjelaskan semuanya padamu."
"Pergilah!"
"Maafkan aku hiks… aku benar – benar minta maaf hiks… aku tau aku bodoh sudah membuatmu menunggu hiks…"
"Hiks… Hiks… Hiks.. kenapa…. Kenapa kau tidak datang, hmm….?"
"A… a… aku benar – benar minta maaf."
"KENAPA….. KENAPA KAU TIDAK DATANG BRENGSEK! HUKS…"
"Youngjae – ah…."
"Aku menunggumu seperti orang bodoh di depan restaurant mahal….."
"Aku kedinginan apa kau tau…."
"Aku takut jika kau benar – benar tidak datang…. Hiks"
"A a aku hiks. Aku hampir diusir oleh satpam. APA KAU TAU ITU?!"
"Aku apakah sepolos itu? Sampai kau bisa mempermainkanku?!"
"Aku mohon Youngjae – ah maafkan aku….. aku benar – benar bodoh telah membuatmu seperti ini…."
Daehyun benar – benar putus asa sekarang. Youngjae membencinya, ia tak tahu lagi bagaimana cara membuat istrinya tidak menangis lagi. Youngjae berhak marah. Daehyun yang bodoh. Daehyun terlalu percaya diri dengan dirinya. Menganggap dirinya bisa dipercaya Youngjae. Tapi, apa sekarang? Youngjae benar – benar punya alasan untuk membenci Jung Daehyun.
Daehyun berjalan keluar kamarnya. Ia merebahkan dirinya di sofa ruang tamu. Sebelumnya ia menutup rapat – rapat pintu kamarnya agar tidak mendengar tangisan Youngjae. Ia menutup matanya. Memikirkan apa yang ia lakukan hari ini. Sampai akhirnya tertidur karena terlalu lelah.
.
.
Youngjae keluar dari kamar mandi saat jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Ia benar – benar lelah harus menangis sepanjang malam. Ia berjalan layaknya mayat hidup keluar kamar untuk mengambil minum. Tenggorokannya sungguh kering. Saat melewati ruang tamu ia melihat Daehyun tertidur dengan posisi yang tidak enak dengan wajah berantakannya. Sungguh hati Youngjae tergoyah. Ia merasa kasihan pada suaminya.
Setelah dari dapur, Youngjae menuju kamar untuk mengambil selimut serta bantal. Ia mengarah pada Daehyun. Ia sedikit berjongkok saat sudah berada di depan tubuh Daehyun. Membelai wajahnya yang kusut dan basah akibat airmata. Youngjae mengusap jejak air mata tersebut dan mencium bibir Daehyun sekilas. Setelah itu mengangkat kepala Daehyun dan di letakkannya bantal. Ia membenarkan posisi tidurnya dan menyelimutinya. Youngjae sangat mencintainya, sampai ia tak bisa berlama – lama marah pada lelaki di hadapannya.
"Saranghae… Daehyun – hyung."
.
.
Pagi yang cerah menyapa sosok tampan yang masih bergelung di sofa ruang tamu. Sinar matahari yang perlahan masuk melalui cela jendela yang dibuka membuat sosok tersebut mengerjapkan matanya dan terbangun dari tidurnya. Ia beranjak dari sofa menuju dapur dan menemukan makanan yang tertata rapi di meja makan serta sebuah note dari istrinya.
"Makanlah. Aku tau kau belum makan sejak kemarin malam, aku sudah memaafkanmu. Aku berangkat sekolah lebih awal. Semoga harimu indah (love)"
Daehyun mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang terdapat di meja makan. Ia tersenyum melihat note dari Youngjae. Daehyun mengambil makanan yang sudah disediakan oleh sang istri. Ia melahapnya, dengan tanpa disadari air matanya mengalir begitu saja.
Daehyun menyakiti Youngjae, tapi dengan gampangnya Youngjae memaafkannya.
"Aku minta maaf Youngjae – ah."
Yongguk send you a message
Bisakah kita bertemu di kafe dekat kantor saat ini juga? Aku menunggumu, cepatlah kemari!
Daehyun segera menghabiskan seluruh masakan Youngjae dan berpakaian rapi. Berangkat ke kantor untuk menemui Yongguk.
"Ada apa kau memanggilku hyung?"
"Duduklah dulu."
"Katakan apa yang ingin kau katakan."
"Tentang kemarin… kenapa kau tidak datang menemui Youngjae?"
DEG
"Kau. Bagaimana bisa mengetahuinya?"
"Aku melihatnya berdiri di depan restaurant saat aku dan Himchan pergi untuk makan disana. Aku menghampirinya, dan ternyata dia menunggumu. Handphonenya lowbatt, jadi aku meminjamkan handphoneku tapi kau tidak mengangkatnya. Aku mengajaknya pulang setelah makan di restaurant tersebut tapi ia menolak sampai satpam harus mengusirnya karena restaurant sudah hampir tutup. Katanya dia masih ingin menunggumu. Tapi Himchan memaksanya untuk masuk ke mobil ku"
"Aku bertengkar hebat dengan Youngjae semalam. Aku merasa bersalah sekali padanya."
"Kalian tidak apa – apa kan?"
"Tentu saja."
"Daehyun – ah? Kenapa kemarin aku melihatmu pergi dengan Nahyun?"
"Wanita sialan itu. Dia mempermainkanku, dia mencoba menghancurkan hubungan rumah tanggaku dengan Youngjae."
"Sudah kuduga."
"Maksudnya?"
Yongguk menceritakan kejadian masa lalu yang kelam dengan Nahyun. Daehyun awalnya tak percaya akan hal itu. Terlihat beberapa kali Daehyun melebarkan matanya saat Yongguk bercerita. Daehyun berjanji setelah ini akan menjaga istrinya dan berhati – hati pada seorang kim Nahyun.
.
.
Setibanya Youngjae di sekolah. Dirinya disambut dengan tatapan aneh dan bisikan – bisikan teman satu sekolahnya. Youngjae tak mengerti ada apa dengan teman – temannya. Ia berjalan menunduk melewati koridor sekolah.
Junhong send you a message
Youngjae – ah! Ke taman belakang sekolah sekarang!
Youngjae bergegas menghampiri Junhong di taman belakang sekolah. Ia melihat Junhong yang sedang mondar – mandir dengan wajah gelisah.
"Junhongie!"
"Eohh Youngjae – ah. Kau tak apa kan?"
"Sepertinya iya. Tapi kenapa seluruh sekolah melihatku dengan tatapan anehnya?"
"Kau belum melihatnya?"
"Apa?"
"Minjae mengupload foto mesramu dan Daehyun hyung di blog sekolah dan mading."
"JINJJA? BAGAIMANA BISA?"
"lihatlah. Ia menambahkan berita yang aneh juga."
Yoo Youngjae si kutu buku bermain dengan om – om kaya raya.
.
.
.
"SIALAN KU MINJAE!"
TBC
Big and special thanks To : Daehyuwon, Just DaeJae, FieAnn, Adore Wind, Jung Rae Gun, daejae9394, daejae520, JokeMato DaeJae.
a/n: aku saranin bacanya sambil dengerin lagu Joonil Jung - wind atau huhgak- miss you. soalnya aku baper pas ngetik yang bagian daehyun berantem sama youngjae LOL
REVIEW JANGAN LUPA!
-Newsun
