Author: Newsun

Chapter 9


Banyak typo & Happy Reading ^.^

Youngjae berjalan cepat dengan aura gelap yang terpancar jelas mengelilingi seluruh bagian tubuhnya. Dengan Junhong yang setia mengikuti dari belakang. Youngjae sudah muak akan kelakuan Minjae, ia tak akan tinggal diam kali ini. Ia akan benar – benar menghancurkan Minjae kali ini.

Youngjae berjalan menuju mading sekolah yang sedang dikerumuni banyak orang. Ia menerobos paksa sekumpulan siswa yang sedang memandangi foto dirinya yang terpampang di sana. Youngjae lalu merobek paksa semua foto yang terpajang dibantu Junhong tentu saja.

"Ya! Kenapa kau merobeknya?"

"Hey aku belum melihatnya!"

"Dia pasti malu keburukannya terbongkar."

"Oh itu Youngjae yang ada di foto tadi. Benar - benar cupu."

"YA! HENTIKAN OCEHAN KALIAN!"

"Hey cupu, kalau tidak ingin terbongkar sebaiknya lakukan hubungan kalian di dalam ruangan jangan di ekspos seperti itu." Salah seorang siswi diantara kerumunan angkat bicara.

"Kau mempercayai foto ini? Cih, kalian semua dibodohi dengan Minjae."

"Kau ini anak terpintar tapi bodoh juga ya. Foto ini bagaimana bisa dipalsukan? Dasar murahan!" Siswi tersbut mulai emosi dan mendorong serta menunjuk wajah Youngjae.

"Apa katamu?! Kau! Jangan ikut campur urusanku." Youngjae membalas mendorong siswi itu dengan lebih kasar. Ia sudah mengepalkan tangan kirinya, ingin sekali menonjok siswi tersebut.

Siswi tu masih bersikap tenang sambil bersendekap. Menatap remeh kemurkaan seorang Yoo Youngjae. Ia sedikit melirik tangan Youngjae yang mengepal.

"Lihatlah betapa cupunya anak ini. Dia bahkan ingin memukulku."

"Aishhh… KEMARI KAU!" Youngjae sudah tak tahan. Ia menarik kerah siswi tersebut sambil melayangkan tinjunya. Junhong dan siswa lain ikut mencoba melerai pertengkaran mereka dan membuat seisi sekolah makin ramai.

BUG..

Satu pukulan mengenai wajah Youngjae hingga pipinya membiru dan sudut bibirnya terkoyak sampai darah keluar dari sana. Youngjae tersungkur kebelakang yang untungnya ada Junhong yang menahan tubuhnya.

"Kau! Kuperingatkan kau jangan pernah menyentuh kekasihku. Dasar gay!"

Seorang lelaki yang berperawakan jauh lebih besar dan tinggi dari Youngjae melayangkan bogemnya saat tau Youngjae akan memukul kekasihnya.

"Jika tak ingin kupukul. Tolong jaga mulut ular kekasihmu." Ujar Youngjae sinis.

"ADA APA INI? BEL SUDAH BERBUNYI SEJAK 5 MENIT YANG LALU!" Seorang guru datang menginterupsi kejadian menegangkan di koridor sekolah yang membuat semua murid berhamburan menuju kelasnya masing – masing.

"SEMUA MASUK KELAS. KECUALI YOUNGJAE – SSI, IKUT SAYA KE KANTOR SEKARANG JUGA!"

Youngjae melepaskan gengaman tangan Junhong di lengannya. Ia berjalan gontai mengikuti gurunya ke ruang guru tentu saja.

"Duduklah!"

Youngjae menuruti perintah gurunya dengan diam. Ia tak cukup tenaga untuk berbicara saat ini.

"Apakah benar ini kau Youngjae – ssi?" Lee ssaem menunjukkan sebuah foto dari blog sekolah kepada Youngjae.

"…"

"Jangan hanya diam dan jawablah. Apa ini benar kau?"

"…"

"Yoo Youngjae!" Lee ssaem mulai kesal lantaran Youngjae memilih diam saat di tanyai. Himchan yang menyaksikan dari jauh merasa iba dengan apa yang sedang menimpa Youngjae.

Himchan beranjak dari tempat duduknya. Ia mendatangi meja Lee ssaem dan meminta jika Youngjae biar dirinya saja yang menanganinya. Lee ssaem menyetujui dan meninggalkan mereka berdua.

Himchan memperhatikan gambar di layar laptop Lee ssaem "Daehyun benar – benar gila menciumu dimuka umum." Himchan menghela nafasnya sambil menggeleng – gelengkan kepalanya.

"Aku akan berbicara tentang ini pada Daehyun."

"Tidak…."

"Youngjae – ah biarkan dia tau. Aku akan meneleponnya sekarang." Himchan mengeluarkan handphonenya mencoba menghubungi Daehyun jika saya tangannya tidak di cegah oleh Youngjae.

"Dia mungkin sibuk. Aku baik – baik saja, hyung."

"Kau yakin baik – baik saja? Lihat lukamu itu."

"Bantu saja aku mengobati lukaku tapi jangan bilang Daehyun – hyung. Aku mohon."

"Baiklah. Tapi jika ini terjadi lagi aku akan benar – benar menelepon Daehyun."

Himchan membantu Youngjae berjalan menuju ke ruang kesehatan untuk mengobati luka pada wajah Youngjae. Setelah itu mengantar Youngjae masuk dalam kelasnya.

.

.

"Ssaem saya ijin ke kamar kecil."

Youngjae yang tengah bosan akan pelajaran memutuskan untuk meminta ijin ke kamar mandi. Berniat setelah pergi kesana melanjutkan duduk di taman belakang sekolah.

"Baiklah. Cepat kembali."

Youngjae melangkahkan kakinya keluar ruang kelas. Melintasi lorong panjang sampai diujung karena kamar mandi ada disana. Youngjae melihat 3 anak nakal yang sedang merokok di kamar mandi pria. Youngjae tentu tak peduli karena sudah sering seperti ini memang.

Youngjae masuk dalam kamar mandi untuk buang air kecil. Tapi kenapa kali ini perasaannya tak enak. 3 anak itu menatapnya dengan pandangan tak dimengerti. Youngjae mempercepat kegiatannya agar segera keluar dari kamar kecil ini.

"Jadi ini anak manis yang suka bermain dengan om – om."

"Hey manis, sudah berapa om – om yang tidur denganmu?"

"Aku jadi penasaran bagaimana rasa tubuhmu."

Youngjae tak mendengarkan ucapan ketiga anak tersebut. Ia menutup resleting nya lalu melangkah keluar kamar mandi. Tapi salah satu anak tersebut menangkap pergelangan tangannya dan langsung di tepis Youngjae.

"Kenapa kau begitu galak. Aahh karena kami belum membayarmu?"

"Minggir."

"Ooooo dia benar – benar susah untuk di dekati."

Salah satu anak yang diketahui ketua geng itu menginteruksi kedua temannya untuk memegangi Youngjae. Youngjae lantas terkejut dan meronta meminta dilepaskan. Dia berteriak tapi mulutnya sudah dibungkam. Si ketua geng mencoba melepas seragam Youngjae secara paksa sampai kancingnya terlepas dan kemejanya sobek.

Youngjae tak henti – hentinya menggerakkan badannya agar terlepas dari dua anak tersebut tapi Youngjae tetap tidak bisa melawannya. Ia kini pasrah sambil menangis saat bibirnya sudah tidak dibungkam dengan tangan melainkan bibir si ketua geng. Saat badan Youngjae mulai melemas kedua anak tadi melepaskan cengkramannya dan ikut menggerayai badan Youngjae yang terkulai di lantai sambil menangis.

Minjae tersenyum penuh kemenangan di depan pintu kamar mandi pria. Ia merekam semua aksi dari anak buah yang sudah dibayarnya. Minja dan Nahyun yang merencanakan ini semua. Masih ingat bukan kemarin Nahyun mengatakan akan membuat Youngjae menderita. Saat pulang ke apartemen dan bertemu Minjae, Nahyun menceritakan segalanya dan membuat sebuah rencana. Setelah puas Minjae berlalu dari kamar mandi pergi kembali ke kelasnya. Ia tak lupa menyuruh ketiga anak tersebut meninggalkan Youngjae di kamar mandi.

"Hiikss…."

Youngjae mencoba untuk mendudukkan dirnya. Ia amat sangat ketakutan saat ini. Dia hampir diperkosa di lantai kamar mandi yang keras dan dingin. Tak ada satupun orang yang menolongnya. Ia mengambil handphone dari sakunya dengan tangan bergetar. Membuka lockscreen dan membuat sebuah panggilan.

"Ye yeobo hiks seo… Hyung… To tolong hiks aku… akuu takut sekali hiks…"

.

.

Himchan berlari seperti orang kesetanan setelah mendapat panggilan dari Youngjae yang sedang ada di kamar mandi. Himchan juga menelepon Junhong untuk membantu Himchan. Himchan benar – benar takut terjadi apa – apa terhadap Youngjae.

Di tempat kejadian Junhong sudah berada disana. Ia memeluk Youngjae yang tengah menangis ketakutan. Youngjae menangis sejadi – jadinya. Pakaiannya sudah tak berupa. Tubuhnya terdapat luka memar. Himchan tertohok melihat keadaan Youngjae saat ini.

Himchan mendekati Youngjae, berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh lemas Youngjae. Membelai rambutnya sayang, mencoba menenangkan Youngjae. Himchan mengalihkan pandangannya kepada Junhong. Bermain kontak mata seperti menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi Junhong hanya menggeleng.

Mereka lantas merapihkan baju Youngjae dan menutupinya dengan blazer milik Himchan. Junhong membopong tubuh lemah Youngjae ala bridal style menuju ruang kesehatan. Youngjae hanya diam sambil menangis sesenggukan di pelukan Junhong. Banyak anak yang menyaksikan keadaan Youngjae saat mereka berjalan di lorong sekolah.

"Sudah jangan menangis aku dan Himchan hyung ada disini." Ucap Junhong sambil membelai punggung Youngjae setelah diturunkan di atas ranjang ruang kesehatan.

"Aku aku takut Junhong – ah…."

"Aku… aku takut jika Daehyun – hyung tau. Aku .. aku harus bicara apa?"

"Daehyun – hyung tidak akan marah padamu Youngjae. Ini kecelakaan, ini bukan salahmu."

"Aku akan menelepon Daehyun setelah ini." Himchan keluar dari ruang obat – obatan dengan membawa kotak obat untuk mengobati Youngjae.

"Tidak… hyung aku mohon jangan menelepon Daehyun – hyung."

"Youngjae keadaanmu ini sangat parah. Bagaimana bisa aku tidak memberitahukannya pada Daehyun."

"Dae Daehyun – hyung sedang sibuk. Aku tak ingin merepotkannya."

"Youngjae sesibuk sibuknya Daehyun ia tak akan tega membiarkanmu seperti ini."

"Hyung…." Youngjae memelas dengan kepalanya yang di geleng – gelengkan sambil menatap Himchan. Himchan menghela nafasnya berat lalu mengangguk.

"Aku akan mengantarkan kau pulang setelah ini." tiba di apartemen Daehyun. Himchan dan Junhong mengantar Youngjae pulang ke apartemennya dan Daehyun karena orang tua Youngjae sedang keluar kota.

[Cepatlah pulang, aku membutuhkanmu]

Send to Daehyun


Ceklek

"Aku pulang!"

PLAK

Satu tamparan tepat mengenai wajah tampan seorang Jung Daehyun. Youngjae yang tengah tersungut amarahnya sejak kemarin dengan tega melayangkan tamparan pada wajah mengenaskan suaminya. Daehyun pulang dengan rambut acak – acakan, baju sudah tak lagi rapih serta bau alcohol yang membuat Youngjae ingin muntah jika menciumnya.

"Dari mana saja kau?"

Youngjae melipat tangannya di dada sambil menatap Daehyun dengan mata merah menyalak.

"Maaf maafkan aku Youngjae… aku aku tidak bermaksud berbuat seperti itu. Aku …." Daehyun mencoba menjelaskan sambil meraih tubuh istrinya tapi gagal karena Youngjae menepis tangannya.

"KAU! BERANI BERANINYA SELINGKUH!"

"A-aku tidak. A-ku aku hanya terlalu mabuk… sungguh"

PLAK

"Mabuk? Kau! apa kau kira aku sebodoh itu? Selama kita pacaran sampai seperti ini. Kau tidak pernah mabuk."

"Nahyun memaksaku…."

"Dasar jalang. AKU SUDAH BILANG BUKAN, JAUHI DIA JUNG DAEHYUN – SSI!"

"Hiks… Bagaimana bisa kau menghianatiku seperti ini hiks…"

"Apakah sebegitu membosankannya aku? Kau sudah tidak mencintaiku lagi hiks.. kau benar – benar jahat Jung Daehyun, brengsek! Huks.."

Youngjae tak bisa menahan air matanya lagi. Hatinya begitu sakit saat melihat foto kiriman dari Minjae yang memperlihatkan Daehyun yang tidur satu ranjang dengan Nahyun di dalam apartemennya dengan Daehyun memeluk Nahyun.

Bagaimana bisa Daehyun setega itu padanya setelah apa yang di lalui Youngjae. Kemarin malam Youngjae meminta Daehyun pulang lebih cepat karena Youngjae sangat ketakutan dan membutuhkan Daehyun. Ia memanggil nomor Daehyun, mengsms-nya ribuan kali tapi tak ada yang membalasnya.

"Maafkan aku sayang, sungguh aku tidak melakukannya." Daehyun dengan sigap menahan tubuh ringkih Youngjae yang hampir terjatuh duduk karena tak kuasa menahan tangisnya.

"Jangan sentuh aku brengsek hiks hiks hiks."

Youngjae menghapus air matanya degan kasar. "Baiklah jika itu keinginanmu. Jika kau memang mencintainya, aku akan mengikhlaskan kalian. Aku keluar dari apartemen ini."

Youngjae bangkit. Berjalan kearah kamarnya, mengambil tas yang cukup besar. Memasukkan beberapa baju serta keperluannya dengan tergesa – gesa.

"Apa yang kau lakukan sayang? Tidak aku tak akan membiarkanmu pergi!" Daehyun lantas mencengkram tangan Youngjae yang sedang mengepack barang – barangnya.

"LEPAS!"

"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu pergi!"

"JUNG DAEHYUN!"

"BERHENTI MENERIAKIKU! AKU SUAMIMU!"

"SUAMI MACAM APA YANG MENYELINGKUHI ISTRINYA…!"

PLAK

Sekali lagi tamparan keras mengenai wajah seseorang. Kali ini Youngjae. Daehyun dengan tidak sengaja menampar istrinya. Daehyun kalut, ia bingung bagaimana cara agar Youngjae mau bicara baik – baik tanpa ada teriakan.

"Ssayang ma maafkan aku. Aku tidak sengaja, aaku tidak bermaksud menamparmu."

"Aku membencimu." Youngjae mendorong tubuh Daehyun kasar. Ia melanjutkan mengepack barang – barangnya, ia memanggul tasnya dan keluar dari apartemen. Tak lupa membanting pintunya dengan keras.

Daehyun masih terpaku sambil menatap tangannya yang masih terasa panas dan memerah setelah menampar telak pipi chubby istrinya yang selama ini menjadi kesukaannya. Demi Tuhan, Daehyun tak pernah bermain tangan bahkan Daehyun mencoba untuk tidak meneriaki Youngjae saat sedang kesal atau marah. Daehyu merasa dirinya seorang yang benar – benar brengsek.

"Mian. Mianhae Youngjae – ah…"

.

.

Ting tong..

"Ya! Sebentar!" Teriak seseorang dari dalam rumah.

"Ya Tuhan. Youngjae? Apa yang terjadi denganmu?"

"Himchan hyung…"

Bruk

"Bbang! Tolong aku sebentar…"

Bang Yongguk yang terpanggil dengan sigap beranjak dari sofa menemui istrinya.

"Ne, ada apa Hime? Ya Tuhan ini Youngjae?"

"Dia pingsan. Wajahnya pucat sekali. Tolong aku mengangkatnya."

Yongguk segera menggendong Youngjae ala bridal style diikuti oleh Himchan di belakangnya sambil membawa tas bawaan Youngjae menuju kamar kosong di lantai atas. Yongguk merebahkan tubuh lemas Youngjae dan di selimuti.

"Apa yang terjadi?" Tanya Yongguk pada Himchan yang berdiri di sebelahnya dengan wajah cemas.

"Aku tidak tau. Dia datang dengan wajah berantakan dan pipi memar. Sepertinya ia juga habis menangis."

"Apa Daehyun memukulnya?"

"Begitukah? Aku tidak percaya Daehyun setega itu dengan Youngjae."

"Jagalah dia, Hime. Aku akan mengambilkan obat dan air untuk mengompres."

Himchan berjalan mendekat ke ranjang. Ia duduk di tepi dengan pelan agar tidak mengganggu Youngjae. Ia mengambil salah satu tangan Youngjae untuk di genggam. Panas. Itu yang ia rasakan. Sungguh malang nasib Youngjae saat ini. Himchan masih menerka – nerka apa yang sebenarnya terjadi. Ia terus memandangi wajah Youngjae dengan raut khawatir dan iba. Jika Daehyun yang melakukannya, Himchan yakin pada dirinya akan menghajar Daehyun untuk Youngjae.

Yongguk datang dengan kotak obat dan baskom berisi air es untuk mengompres tubuh Youngjae. Ia meletakkannya di meja samping ranjang. Himchan dengan naluri keibuannya segera mengambil handuk, mencelupkannya pada air es lalu di peras dan meletakkannya pada dahi Youngjae.

"Aku akan bicara pada Daehyun besok."

"Jangan beritahu Youngjae disini. Hanya katakana saja jika Youngjae menghubungiku."

"Itu terlalu kejam, Hime."

"Bbang… aku takut jika ini benar – benar perbuatan Daehyun. Bagaimana jika Daehyun datang kemari dan memukul Youngjae lagi."

"Aku dan kau mengenal Daehyun sangat baik. Kau lihat bukan bagaimana sayangnya Daehyun pada Youngjae. Aku yakin ini hanya kesalahpahaman. Aku pastikan untuk mendapat jawabannya besok."

"Tetap saja. Jangan katakana dulu jika dia disini."

Yongguk hanya mengangguk di sertai senyumannya. Ia mengusap kepala istrinya sejenak lalu pergi meninggalkan mereka berdua keluar kamar.

Yongguk mengambil handphone miliknya yang berada di meja ruang tamu. Mencoba menghubungi Daehyun tetapi tak ada jawaban.

[Temui aku besok di café dekat kantor. Ada sesuatu yang harus dibicarakan.]

Send to Daehyun.

Seseorang di sebrang sana sedang duduk dengan kepala menunduk di tepi ranjang. Ia hanya terdiam, mungkin sedang merenungkan apa yang barusan terjadi. Dalam hatinya ia kecewa pada diri sendiri. Dan dengan bodohnya ia membiarkan istrinya pergi tanpa tau dia sekarang dimana dan bagaimana keadaannya. Serta, sampai saat inipun dia tidak mempunyai niat untuk mencari istrinya.

Yongguk send you a message

Daehyun merasakan handphone yang ada digenggamannya bergetar. Pertanda pesan masuk, ia dengan malas membuka handphonenya dan membaca pesan singkat yang dikirim Yongguk.

[Temui aku besok di café dekat kantor. Ada sesuatu yang harus dibicarakan.]

Daehyun mengkerutkan dahinya. "Apakah ini tentang Youngjae?" pikir Daehyun.

.

.

.

Daehyun memarkirkan mobilnya di halaman parkir kantornya, karena café tersebut terletak bersebelahan dengan gedung kantornya. Ia berjalan dengan malas tapi tetap mencoba menyeret kedua kakinya.

Yongguk yang sudah duduk dengan ditemani secangkir kopi melihat Daehyun berjalan kearahnya. Ia segera berdiri dan memanggil Daehyun yang sepertinya juga sedang mengedarkan pandangannya, mencari Yongguk.

"Disini!"

Daehyun menghampiri Yongguk dan langsung duduk di kursi yang berhadapan satu sama lain.

"Ada apa dengan wajahmu, huh?"

Daehyun hanya tersenyum miris.

"Youngjae menelepon Himchan malam – malam sambil menangis. Terjadi sesuatu?" Ujar Yongguk persis seperti yang diminta Himchan.

"Nahyun membuatku tidur di rumahnya."

"Kurang ajar. Lalu bagaimana Youngjae bisa tau?"

"Jadi kemarin malam Nahyun memperlihatkan sebuah video porno tentang anak sekolah. Katanya adiknya sendiri yang merekam. Aku melihatnya, dan ternyata itu Youngjae. Aku terkejut dan tak percaya jika Youngjae dengan 3 anak dari sekolahnya melakukan itu. Aku kalut akan pikiranku sendiri dan mencoba untuk mabuk. Aku tak ingat setelahnya. Hanya saja saat itu aku melihat Nahyun duduk di hadapanku saat aku sedang minum. Setelahnya aku mabuk dan tak mengingat apa – apa."

"Lalu? Bagaimana bisa berakhir di apartemennya?"

"Mungkin saja saat aku mabuk dia membawaku. Ternyata dia tidur dalam satu ranjang denganku dan Minjae, adiknya memfoto kami berdua lalu dikirim ke nomor Youngjae. Saat pagi hari aku pulang, Youngjae tiba – tiba menamparku dan saat itu juga emosiku tersulut…"

"Kau memukulnya?"

"Hmm…"

"Tunggu. Bagaimana bisa hyung tau aku memukulnya?"

"Hmm, sebenarnya Youngjae datang ke rumahku semalam. Pipinya memar dan dia sempat pingsan. Sepertinya demam. Tenang saja Himchan sudah merawatnya."

"Haahh aku seorang brengsek sekarang" Daehyun mengusap wajahnya kasar.

"Serahkan Youngjae padaku dan Himchan. Jangan menemuinya dulu, saat dia sudah membaik aku akan membolehkanmu menemui Youngjae."

"Aku bersumpah akan membunuh Nahyun dan Minjae!" Daehyun geram. Ia menggebrak meja café hingga seluruh mata menatapnya bingung.

"Tenanglah Daehy…sebentar ada yang menelepon"

Himchan calling …

"Yeoboseo? Bbang!"

"Hmm?"

"Youngjae membutuhkan sesuatu untuk keperluan pribadinya. Mumpung kau di luar bantu dia untuk membeli."

"Youngjae – ah bicaralah pada Yongguk"

Yongguk menjauhkan handphone dari telinganya. Ia memencet tombol loudspeaker.

"Ingin dengar suara Youngjae?"

"Huh?"

"Yongguk – hyung? Hallo?"

Suara itu. Suara Youngjae mengalun indah disebrang sana. Daehyun merindukan suara itu. Bagaimana Youngjae memanggilnya "Hyung". Daehyun tercekat saat mendengarkan Youngjae menuturkan barang – barang yang ingin dibelinya. Daehyun merasa kekhawatirannya sedikit hilang saat melihat suara Youngjae yang baik – baik saja. Himchan dan Yongguk menjaga Youngjae dengan baik.

"Baiklah. Hanya itu?"

"Nde. Terima kasih Yongguk hyung."

"Kau sudah makan dan meminum obatmu?"

"Sudah. Aku memasak bersama Himchan hyung dan makan bersama. Cepatlah pulang Himchan hyung sudah menyiapkan makanan untuk hyung."

"Arraseo. Youngjae – ah, aku tadi bertemu Daehyun."

"Benarkah, bagaimana keadaannya?"

"Buruk tentu saja. Dia bahkan belum makan sejak kemarin."

"Suruhlah dia untuk mencari makan aisshh."

"Dia hanya bisa makan makananmu, Youngjae."

"Aku akan memasak dan menyuruh orang untuk mengantarkan makanan padanya. Tsk dasar merepotkan."

"Hahaha, kau kemarin memakinya habis habisan setelah siuman. Aku tau kau sangat menyayanginya. Teganya Daehyun menelantarkanmu."

"Bagaimanapun aku tetap istrinya. Eomma bilang padaku apapun yang terjadi sebagai seorang istri aku harus tetap merawatnya. Meskipun dia sangat brengsek."

"Anak baik. Sudah aku tutup ya."

"Nde."

Hiks… Hiks…

Suara tangisan pilu Daehyun tertangkap oleh indra pendengaran Yongguk. Yongguk menepuk sembari mengusap punggung lemah seorang Jung Daehyun.

"Dia sangat mencintaimu, Dae."

"Aku terlalu menyakitinya. Dia mengatakan jika dia membenciku kemarin."

"Bodoh. Harusnya kau terlalu paham tentang Youngjae, mana mungkin dia membencimu."

"Pulanglah istirahatkan tubuhmu. Aku akan pergi ke supermarket setelah ini."

"TUNGGU! Hyung biarkan aku yang membelinya, aku ingin menemuinya."

"Tidak, jangan Dae."

"Baiklah aku hanya akan melihatnya dari jauh. Kumohon"

"Haahh… Baiklah. Nanti sore datanglah ke rumahku."

.

.

.

Sebuh mobil terlihat memasuki kawasan apartemen. Mobil tersebut berhenti tepat di depan lobby apartemen tanpa diparkir terlebih dahulu. Pemiliknya keluar dengan tersegesa – gesa, menaiki lift setelah itu mendatangi pintu apartemen bernomor 789. Orang tersebut lantas menggedor apartemen dengan keras tanpa ampun meminta yang di dalam segera membukakan pintu untuknya.

CEKLEK

"Daehyun – ah? Kau kemari." Pemilik apartemen yang ternyata Nahyun terlihat sumringah sebab yang datang adalah Daehyun. Orang yang dikejar – kejar selama ini.

"Pasti istrimu mengusirmu bukan? Pintuku selalu terbuka lebar untukmu. Masuklah!" Nahyun menggandeng tangan Daehyun tetapi Daehyun membalikkan tangannya jadi mencengkram erat tangan Nahyun.

"Bawa adikmu. Dan ikutlah aku sekarang juga." Daehyun melepaskan cengkraman dari tangan Nahyun dengan kasar.

"Memang kita mau kemana?"

"IKUT SAJA ATAU AKU AKAN MENYERET KALIAN BERDUA!"

Nahyun tersentak melihat wajah Daehyun sangat merah. Ia ketakutan, segera saja Nahyun menyeret adiknya keluar mengikuti arah Daehyun pergi.

Mobil Daehyun melaju dengan kecepatan penuh. Ia tak perduli jika sekarang mereka akan kecelakaan atau di tilang polisi. Yang ia perdulikan sekarang bertemu Youngjae dan menyelesaikan masalah rumit ini.

Setibanya di depan rumah Yongguk. Daehyun memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah Yongguk yang luas.

"Keluarlah!"

"I- ini dimana Dae?"

"Eonnie aku takut…"

"SIALAN CEPAT KELUAR!"

Nahyun dan Minjae keluar dari mobil dengan wajah yang sangat amat ketakutan.

Daehyun menginteruksi mereka berdua untuk mengikutinya. Masuk ke dalam rumah tersebut.

"Aku datang!"


PLAK

PLAK

PLAK

"Kalian semua berani – beraninya datang kemari?!"

"Himchan! Tenanglah!"

"Kau Daehyun! BAGAIMANA BISA KAU MELAKUKAN SEMUA INI PADA YOUNGJAE. AKU MEMPERCAYAIMU BRENGSEK!"

"…."

"KAN KAU PEREMPUAN MURAHAN! APA TAK ADA LELAKI LAIN YANG INGIN KAU GODA. INI SUDAH KEDUA KALINYA. KAU BELUM PUAS?!"

"Hime.. sudahlah. Mari kita bicarakan baik – baik."

Yongguk menyeret tubuh tegang Himchan dan di dudukkan di sofa.

"Duduklah kalian semua."

"Jelaskan. Aku akan mendengarkan apapun yang keluar dari mulut kalian." Himchan berkata sinis.

"Ini salah paham Himchan – hyung, aku mengira Youngjae benar – benar melakukan itu."

"Cih. Harusnya kau jangan percaya dengan perempuan macam dia. Taukah kau jika Youngjae di bully habis – habisan pada hari itu. Taukah kau jika dia hampir diperkosa karena ulah Minjae. Dan taukah kau jika Youngjae sangat ketakutan saat itu."

"APA? Jadi video itu karena ulah mu? Brengsek kau melukai istriku!"

"DIAM!"

"Hyung…. Kenapa kau tak bilang padaku? Kenapa kau tidak meneleponku?"

"Youngjae takut. Youngjae takut menyakitimu. Dia bilang kau sedang sibuk dan tak ingin merepotkannya tapi aku tau dia hanya takut menyakitimu."

"Sialan. Aku ingin menemui Youngjae."

"Tidak!"

"Himchan!"

"Tidak Bbang!"

"Biarkanlah Hime. Ini urusan rumah tangga mereka, Daehyun lebih berhak pada Youngjae." Yongguk menenangkan istrinya lalu matanya beralih menatap Daehyun.

"Dia di kamar atas. Minta maaflah, dan aku mohon jangan pernah melukainya lagi."

"Baiklah. Dan hyung aku minta tolong telfon polisi untuk menangkap mereka."

"Tidak. Daehyun jangan, aku mohon. Ampuni aku…." Nahyun dan Minjae mencoba meraih tubuh Daehyun yang berjalan menjauh tapi Himchan menahan mereka.

"Kalian harus membayar apa yang sudah kalian lakukan."

.

.

.

END

.

.

.

.

.

.

.

.

GAK DING TBC AJA HAHAHAHA


REVIEW SELALU DITUNGGU!

-Newsun