Chapter 10 (End)
Newsun
.
.
.
HAPPY READING & AWAS BANYAK TYPO ^^
Daehyun Pov
Aku berhenti melangkahkan kakiku saat Nahyun dan Minjae memegang lenganku erat sambil menangis serta memohon. Aku hanya memasang wajah datarku dan menarik tanganku paksa dari genggaman mereka. Aku sudah muak, mereka tak dapat diampuni, mereka harus membayar semua perbuatan buruk mereka di penjara. Aku tak apa jika Nahyun hanya berniat menghancurkan rumah tanggaku tanpa kekerasan. Aku hanya akan memutuskan tali pertemanan kita dan semua tentu berakhir. Tapi, ini masalah Youngjae. Minjae membuatnya diperkosa oleh teman sekolahnya sendiri.
Yongguk hyung memang orang yang teramat baik saat Nahyun menabrak pacarnya sampai meninggal Yongguk dengan berbesar hati mengikhlaskan Nahyun begitu saja. Tapi bukannya berubah dia malah berulah. Aku akan memperkarakannya saat ini.
Himchan hyung berdiri lalu mencengkram baju mereka dari belakang supaya mereka melepaskanku. Aku berjalan menyusuri tangga rumah Yongguk – hyung ke lantai dua. Di kamar yang sudah Yongguk – hyung katakan. Saat ini aku sudah berada di depan kamarnya. Jantungku berdebar sangat kencang, keringatpun sudah mulai bercucuran. Aku benar – benar gugup. Aku belum siap melihat reaksi Youngjae atas kedatanganku. –Apakah dia akan marah? Apakah dia merindukanku? Entahlah aku hanya menerka – nerka. Aku mencoba mengatur detak jantungku dengan cara mengambil napas dan membuangnya beberapa kali. Aku menjulurkan tanganku kearah gagang pintu dan memutar kenopnya dengan hati – hati.
Ceklek…
Itu dia. Istriku yang cantik sedang membaca di kasur dengan kacamata bertengger di hidung bangirnya sambil menyumpal telinganya dengan earphone. Aku pikir dia tidak mendengar pertengkaran di bawah tadi. Bahkan ada orang yang masuk saja dia tidak tahu. Baiklah sekarang aku sudah ada di sampingnya tapi dia masih saja sibuk membolak – balikan kertas di tangannya dan sesekali bibirnya bergerak mengucapkan bait lagu atau tulisan yang ada di buku tersebut. Aku jadi tersenyum sendiri melihat tingkahnya yang lucu. Aku merindukanmu Youngjae – ah.
"Ekhem.." Aku mencoba menginterupsi kegiatannya.
"Errrr.. Youngjae – ah?"
"…."
"Sayang?"
Baik aku mulai lelah sekarang. Aku menaiki kasurnya dan merebut buku yang sedang di bacanya.
"…."
Dia hanya diam dengan matanya yang membulat sempurna. Tak lama ekspresinya berubah. Alisnya bertaut mendandakan dia marah. Tatapannya berubah menjadi tatapan tak suka.
"Pergi dari sini."
"Aku akan menjela.."
"Omong kosong. Pergilah dari sini selagi aku masih baik."
"Aku minta maaf Youngjae – ah. Sungguh aku…"
"SIALAN PERGI DARI SINI!"
"Tidak… ah… sayang… aku akan menjelaskan semuanya."
"Baiklah jika kau tidak pergi aku yang akan pergi."
Youngjae bangkit. Mengambil barang – barangnya di meja lalu pergi keluar kamar.
"Aiisshhh aku harus bagaimana."
Aku mengacak rambutku frustasi lalu bangkit dan segera mengejar istriku.
Daehyun pov end
"Youngjae – ah tunggu!."
Daehyun mendapatkan tanganya istrinya tapi seketika di tepis.
"Aiishh... Ya!"
BRUK..
Daehyun menabrak tubuh Youngjae yang mengerem tiba – tiba saat sudah mencapai lantai dasar.
"Kenapa kalian berdua disini, huh?" Tanya Youngjae ketika mendapati Nahyun dan Minjae di ruang tamu rumah BangHim.
"Youngjae duduklah kemari kami akan menjelaskannya." Himchan mengibaskan tangannya di udara guna mengode Youngjae untuk mendekat ke arahnya.
"Tidak. Semua sudah jelas bagiku."
"Youngjae – ah ini hanya salah paham." Daehyun angkat bicara.
PLAK
"Salah paham? Dimana letak salah pahamnya? Aku hampir di perkosa kau bilang salah paham?!"
Youngjae meninggalkan ruang tamu. Ia memilih pergi keluar dari rumah tersebut dengan Daehyun yang masih mengikutinya dibelakang.
Saat sedang berjalan Youngjae berhenti lagi. Ia mengkerutkan dahinya melihat mobil polisi yang melintas dan berhenti di depan rumah Yongguk.
"Aku yang memanggil mereka." Daehyun berkata seperti menjawab pertanyaan yang ada di benak Youngjae.
"Cih aku tidak akan luluh dengan hal seperti ini."
"Setidaknya ikutlah. Polisi butuh keteranganmu juga, sayang."
"Tidak kenapa aku harus kesana."
Youngjae kembali melanjutkan perjalanannya. Perjalanan tanpa arah, karena ia sendiri tak tau harus kemana.
.
.
.
Udara dingin kota Seoul sangat terasa menusuk sampai kedalam tubuh. Hal ini membuat Youngjae meruntuki dirinya yang hanya memakai kaus tipis dan celana jeans pendek tanpa sebuah jaket. Bahkan ia hanya membawa handphone dan dompet yang isi uangnya tinggal beberapa, sebab kartu bulanan yang diberikan Daehyun ia simpan di kantung tas dan ia meninggalkannya di kamar rumah Himchan. Youngjae sekarang berada di sebuah taman yang cukup ramai akan pengunjung. Banyak pedangan menjual berbagai makanan yang membuat ia meneguk ludahnya sendiri. Youngjae lapar.
Bagaimana dengan Daehyun? Ia tentu masih mengikuti Youngjae tapi ia seperti menjaga jarak agar Youngjae tak merasa kesal yang akan membuat Youngjae mengusir Daehyun dan ia akan pergi lebih jauh.
Daehyun Pov
Aku sudah seperti mata – mata kali ini. Memata – matai istriku sendiri. Ia sekarang sedang duduk di salah satu bangku taman dengan kepala menunduk kebawah dan tangan memegangi perutnya. Aku tau dia pasti lapar. Sekarang kepalanya kembali terangkat, ia sedang mengedarkan pandangannya ke arah para penjual makanan. Yatuhan! Wajah memelasnya benar – benar lucu. Aku jadi kasian dan merasa tidak tega.
Ia bangkit, berjalan menuju ke sebuah food truck yang menjual tteokboki. Akupun mendekati food truck tersebut saat Youngjae sudah mulai mencari lembaran uang untuk dibayarkan.
"Berapa harganya, ahjumma?" Tanyaku pada ahjumma penjual tteokboki
"Dua ribu won."
"Ini. Dan aku pesan satu lagi." Aku menyerahkan uang lima ribu won kepada ahjumma.
Ahjumma tersebut memberikan pesananku dan uang kembaliannya. Aku memalingkan pandanganku, mencari Youngjae yang ternyata sudah tak berada di sampingku. Aku meneliti setiap sudut dengan mataku dan mendapati Youngjae sudah duduk kembali di bangku yang sama sambil menikmati tteokbokinya.
"Aku tau kau lapar. Tapi pelan – pelan saja, tidak ada yang akan merebutnya."
Aku mendudukkan diriku di sampingnya.
"Aku beli minum juga."
"…"
"Dasar bodoh. Jika kau kabur setidaknya bawa kabur juga kartu yang kuberikan padamu."
"Berisik."
"Dan juga. Berpakaianlah yang layak, setidaknya ganti bajumu dulu. Kau tidak kedinginan?"
"Bukan urusanmu."
"Aku minta maaf sayang. Hari itu aku benar – benar kacau."
"…"
"Nahyun yang memaksaku, aku benar – benar tidak tau apa yang terjadi."
"Aku tidak peduli."
"Kau sudah tidak percaya padaku?"
"Aku bahkan sudah membencimu."
"Tak apa jika kau sudah membenciku."
Aku meletakkan tteokboki yang sejak tadi kupegang. Lalu melepaskan jaketku dan memakaikannya pada Youngjae yang tampak kedinginan. Ia hanya dia menerimanya.
"Benarkah tak apa jika aku membencimu?"
"Aku menerima apapun resikonya. Aku salah kali ini."
"Kalau begitu, ayo berpisah."
"APA? Katakan sekali lagi?"
"Ayo berpisah. Kita cerai saja."
"Tidak sayang. Aku mohon tarik kembali omonganmu."
"Kau bilang menerima apapun resikonya kan? Ini yang aku inginkan. Kita berpisah saja."
"Kecuali itu sayang. Aku mohon, aku mencintaimu. Aku tak bisa jika harus berpisah denganmu. Kumohon Youngjae, ampuni aku."
Aku tak memperdulikan tatapan aneh orang – orang. Aku mulai berlutut di bawah tanah sambil memeluk kakinya meminta ampun pada Youngjae.
"Lalu kenapa kau lakukan itu padaku bodoh! Aku sudah terlanjur memberncimu sekarang dan kau ingin aku kembali semudah itu? Hatiku bukan sebuah tisu yang akan rapuh karena setetes air. Dulu memang iya, tapi kau yang merubahnya. Hatiku sekarang dapat membuat pertahanannya sendiri dan kau ingin meruntuhkannya?!"
Youngjae berdiri dan ia melepaskan jaket pemberianku. Tanpa ampun melemparkan jaketnya pada tubuhku dan pergi bergitu saja.
Aku lantas mengejarnya. sampai di tempat yang sepi aku menambah kecepatanku dan menangkap pergelangan tanganya lalu memeluknya dengan erat.
"Aku mohon jangan meninggalkanku. Hiks" Setetes air mata turun dari pelupuk mataku.
Daehyun pov end
"Tidak! Akhh… lepaskan aku!"
Youngjae meronta dalam dekapan Daehyun. Ia memukuli Daehyun dengan brutal. Tapi Daehyun hanya diam sambil tetap memperkuat pelukannya pada Youngjae agar tidak terlepas. Agar si manis dalam dekapannya tidak pergi lagi.
"Ampuni aku sayang. Aku salah kali ini, berikan kesempatan sekali lagi untuk aku memperbaikinya."
Otot – otot lengan dan pelipis Daehyun seperti akan keluar karena menahan kuatnya tubuh Youngjae.
Youngjae akhirnya berhenti meronta. Dan Daehyun melepaskan pelukannya. Youngjae menatap wajah Daehyun dengan tatapan marah.
PLAK..
Pipi kiri Daehyun menjadi sasaran.
PLAK…
Kali ini pipi kanan Daehyun.
"Ya! Tuan Jung yang brengsek kenapa kau melakukan ini padaku setelah melukai hatiku!"
Youngjae berteriak frustasi, mengungkapkan kekesalah hatinya pada orang di depannya.
"Ya! Kau sialan Jung Daehyun! Aku ketakutan pada saat itu. Kenapa kau tidak datang untuk memelukku atau untuk menenangkanku HAH?!"
"KAU JAHAT JUNG DAEHYUN! AKU MEMBENCIMU! HIKS"
Kaki Youngjae yang semula tegak seketika melemas saat dirinya mulai terisak. Ia berjongkok dan menenggelamkan wajahnya di tumpukan tangannya.
Daehyun ikut berjongkok lalu memeluk tubuh bergetar Youngjae. Sambil ia melantunkan kata maaf dan cinta disaat yang bersamaan.
.
.
.
Daehyun tersenyum saat melihat wajah damai Youngjae yang sedang tertidur pulas di bangku sebelahnya. Setelah perdebatan panjang, akhirnya Youngjae menyerah dan membiarkan dirinya dibawa pulang oleh Daehyun ke apartemen.
Daehyun melepaskan seatbelt miliknya dan milik Youngjae secara perlahan. Ia menggendong tubuh terlelap istrinya ala bridal style dari basement sampai apartemennya. Ia meletakkan Youngjae di ranjang dan ikut membaringkan dirinya disebelah Youngjae.
Hari ini benar – benar melelahkan. Baginya terlebih bagi Youngjae. Ia memiringkan tubuhnya, menatap wajah Youngjae yang sedang tertidur dengan mulut sedikit terbuka.
"Lucunya" Batin Daehyun.
"Aku mencintaimu Jung Youngjae. Selamat tidur." Daehyun bergerak untuk mencium setiap inci wajah istrinya dengan lembut, lalu ia ikut terlelap mengistirahatkan dirinya.
.
.
.
SRET…
"Euuugghh…. Jam berapa sekarang?"
"Jam 7… aku sudah minta izin Himchan – hyung agar kau tidak sekolah dulu."
Daehyun berjalan mendekati ranjang. Didekatinya Youngjae yang sedang berbaring sambil memainkan handphonenya.
"Sayang…"
"Hmm?"
"Ppopo?"
Youngjae mengalihkan pandangannya dari layar hp pada muka Daehyun yang sedang tersenyum tampan.
"Kemarilah.."
Daehyun beringsut naik ke ranjang lebih mendekat pada istrinya. Ia memejamkan mata dengan bibirnya di manyunkan.
Youngjae tersenyum melihatnya. Ia memajukan wajahnya dan mencium bibir Daehyun lembut. Daehyun menahan tengkuk Youngjae lalu dilumatnya bibir plum yang selama ini ia rindukan. Youngjae tanpa ragu membalas setiap lumatan – lumatan yang Daehyun berikan padanya. Ia sama merindukan perlakuan Daehyun.
Daehyun mulai memainkan tangannya. Mengusap tiap inci tubuh istrinya, mulai dari punggung sampai pada dadanya. Ia menyingkap kaos tipis yang dikenakan Youngjae dan mulai menidurkan istrinya kembali.
Bug
"Eugghh…"
Daehyun sudah berada di atas tubuh Youngjae sambil terus menciumi wajah istrinya. Perlakuannya itu membuat Youngjae melenguh terus menerus.
"Daeehhh…."
"YAAAA!"
Bug
Bug
Bug
"Maafkan aku sayang hehehehe…"
"Bagaimana bisa kau tanpa sengaja melepaskan cairanmu dalam tubuhku bodoh!"
"Hahahaha aku kelepasan sayang, lagipula kau tidak melarangku tadi dan malah sangat menikmatinya."
"Itu bukan berarti aku mengijinkanmu sialan! Bagaimana kalau aku hamil huaaaaa eommaaaaa."
"Bagaimana mungkin. Kau ini lelaki sayang."
"Bisa sajaaaaaaa!"
"Tidak bisa murid teladan. Kau ini IQ mu tinggi tapi untuk itu saja tidak tau."
"Tentu saja aku tau. Aku hanya bilang bisa saja bukan."
"Yasudah kita lekas membersihkan diri. Ayo pergi untuk menghadiri sidang Nahyun dan Minjae."
"Mau sungguh memenjarakan mereka?"
Daehyun mengangguk. Ia tersenyum dan membelai pipi chubby milik Youngjae.
"Aku yang akan membalaskan dendam karena telah menyakiti istri tercintaku."
"Cih.. gombal!"
Youngjae bangkit lantas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Mereka melakukan persiapan yang memakan waktu 1 jam lamanya. Saat ini mereka sudah di dalam mobil dan Daehyun segera memacu mobilnya di jalanan menuju pengadilan.
Setelahnya sampai mereka berjalan menuju gedung pengadilan dan mencari ruangannya.
"Jujur aku sangat gugup." Ujar Youngjae saat sampai di depan pintu ruang pengadilannya.
"Ada aku, tenang saja." Daehyun menggenggam tangan Youngjae erat. Ia mencoba menyalurkan kekuatan yang dimilikinya agar Youngjae tidak takut ataupun gugup saat menghadapi pertanyaan hakim dan jaksa.
"Tidak bisakah hyung yang menggantikanku?"
Youngjae adalah saksi kuat dalam sidang ini. Tapi ini juga berat untuk Youngjae, ia masih trauma dengan apa yang baru saja terjadi. Daehyun bahkan mengajaknya dengan mendadak jadi Youngjae belum menyiapkan apa – apa. Bagaimana nanti kalau Youngjae menjadi blank dan menyebabkan dirinya rugi.
Tapi melihat wajah tegas Daehyun, Youngjae seperti memiliki sedikit kekuatan. Ia menarik nafasnya dalam – dalam sebelum ia membuka pintu ruangan tersebut. Kedatangannya dengan Daehyun membuat seluruh mata yang ada di sana menoleh. Sudah ada Himchan dan Yongguk hyung dan Junhong. Serta orang tua Daehyun. Orang tua Youngjae tidak bisa datang karena masih di luar negeri.
"Baiklah karena saksi sudah datang, kita mulai saja. Saksi silahkan duduk di sini."
Proses sidang berjalan berjam – jam. Mereka memanggil semua saksi dan menceritakan apa saja yang dilakukan pelaku dalam kejahatannya. Mereka juga memanggil pengacara Nahyun dan Minjae untuk melakukan pembelaan. Mereka juga meminta keterangan pada Nahyun dan Minjae tapi mereka hanya bisa menangis mengakui kesalahannya. Karena mereka mengakui kesalahannya Nahyun dan Minjae resmi dinyatakan tersangka dan dihukum selama lima tahun penjara akibat perbuatannya. Dan Nahyun ditambah 10 tahun akibat pembunuhan mantan kekasih Yongguk.
Selesai sudah acara di pengadilan. Saat ini Daehyun akan mengajak Youngjae makan siang karena sedari tadi mereka belum sarapan di rumah.
"Eomma, appa kenapa kalian tidak mampir ke apartemen kami?"
Daehyun menghampiri kedua orang tuanya yang terliat berjalan tergesah saat keluar dari ruang sidang.
"Appa ada urusan sayang. Mian ne, mungkin lain kali."
"Ahh... eomma dan appa sudah jauh – jauh kemari kenapa tidak mampir?" Youngjae kali ini angkat suara dengan wajahnya yang terlihat kecewa.
"Aigoo uri Youngjae kau kangen pada eomma hmm?"
"Ne …" Youngjae memanyunkan bibirnya lucu.
"Baiklah tapi lain kali yaa. Appa kalian ada meeting mendadak hari ini kita harus mengejar waktu ke Busan."
"Ahh arraseo. Bekerjalah dengan keras appa!"
"Eh tentu saja." Ucap Tn. Jung
"Sampaikan salam pada ibu dan ayahmu, Youngjae."
Youngjae hanya mengangguk sambil tersenyum melihat kepergian mertuanya.
Dari arah belakang Yongguk, Himchan dan Junhong menghampiri Youngjae dan Daehyun.
"Ayo berpesta!" Himchan menepuk bahu keduannya yang membuat pemilik bahu berjingkat kaget.
"Sialan ku kira siapa."
"Ayo makan siang bersama, aku yang traktir." Yongguk membuka suarannya.
"Kenapa harus kau, hyung. Aku yang akan traktir." Ujar Daehyun.
"Yasudah kalian berdua patungan untuk mentraktir kami." Himchan menengahi karena mulai jengah mendengar perdebatan yang tidak penting.
"Yang penting kita sekarang pesta!" Junhong berteriak menaikkan suasana.
Mereka setuju dan mencari sebuah restaurant terdekat. Mereka memesan banyak jenis makanan. Mereka bercanda, berbincang mengenai banyak topik sampai waktu malam hari.
.
.
.
7 Bulan kemudian…
Pagi yang cerah menyapa kedua insan yang masih terlelap dalam mimpinya sambil saling berpelukan. Tubuh mereka naked hanya terbalut selimut setelah adegan panas yang terjadi kemarin malam hingga menjelang pagi hari ini. Hari ini hari senin. Youngjae akan melakukan wisuda kelulusan dari sekolah menengahnya.
"Euughh… Hoek.. hoek"
Youngjae bangun dari tidurnya karena perutnya yang mual seperti habis di kocok – kocok. Ia menutup mulut dan hidungnya dan segera mencari pakaian seadanya lalu berlari masuk kamar mandi.
"Hoek.. Hoek.. Hoekk.."
Daehyun terbangun dari tidur tampannya dan mendengar istrinya seperti tersiksa di dalam kamar mandi. Ia segera menyusul Youngjae di kamar mandi. Memijat tengkuknya sambil mengusap punggungnya pelan.
Wajah Youngjae saat ini pucat dan lemas. Ia muntah tapi tak mengeluarkan apapun selain air liurnya. Daehyun membopong tubuh lemas Youngjae ke kasur dan menidurkannya. Ia ke dapur dan membuatkan teh hangat.
"Sudah tidak usah datang ke acara wisuda badanmu lemas sekali."
"Tidak bisa! Itu acara penting bagiku. Ibu dan ayah juga sudah mempersiapkan diri jika aku nanti maju ke panggung untuk menerima piala nilai tertinggi."
"Baik anak pintar. Tapi kau sekarang sedang sakit."
"Aku kuat sekarang."
"Keras kepala."
"Bantu aku mandi hyung."
"Baiklah."
1 jam kemudian..
Tok
Tok
Tok
Suara pintu di ketuk membuat orang yang tengah bersiap siap di dalam rumah keluar sekedar membuka dan melihat siapa yang datang. Ternyata itu orang tua Youngjae.
"Sudah siap?"
"Sudah. Tapi Youngjae sedang sakit sebenarnya."
"Jinjja? Aish anak itu benar – benar."
"Ekhem…"
Youngjae menginterupsi percakapan Daehyun dan orang tuanya.
"Ayo berangkat!"
Mereka memutuskan untuk segera berangkat karena acara akan dimulai 30 menit lagi. Kali ini mereka menumpang mobil . Youngjae yang tidak enak badan pun hanya tidur dengan bersandar pada pundak Daehyun dan Daehyun mengelus kepalanya sayang.
"Setelah acara selesai kita ke rumah sakit." Daehyun berbicara pada Youngjae yang masih senantiasa menutup matanya.
"Kuatkan dirimu, kita sampai di sekolah."
Youngjae bangun lalu mengucek matanya. Ia membalikkan tubuhnya menatap Daehyun.
"Bagaimana penampilanku?" Tanyanya sambil tersenyum.
"Sempurna."
Mereka turun dari mobil menuju ke gedung Aula tempat acara wisuda di gelar. Disana sudah sangat ramai, tapi acara belum di mulai. Himchan melambaikan tangan pada Youngjae dari deretan meja guru.
Youngjae menoleh kesana kemari mencari bangku yang kosong dan ia melihatnya di sebelah Junhong. Ia segera berlari menghampiri Junhong dan membiarkan Daehyun serta orang tuanya mencari tempat duduk di deretan para tamu.
"Junhongie!"
Youngjae datang dengan pekikan yang mengganggu Junhong. Ia lalu mencium kedua pipi Junhong gemas yang mengakibatkan wajah kesal Junhong tampak.
"Wajahmu tampak pucat. Apa kau sakit?"
Junhong tau meskipun Youngjae tampak bahagia tapi wajah pucatnya tak bisa di sembunyikan.
"Sedikit… tadi pagi aku muntah – muntah."
"Kenapa? Apa kau….."
"Kau apa?"
"Itu…"
"Huh?"
"Lupakan saja. Sudah diam acara sudah mulai."
.
.
.
"Katakan kimchi!"
KIMCHII
Acara sudah selesai. Youngjae telah membawa piala karena nilainya yang tertinggi saat ujian akhir. Sekarang sesi foto bersama keluarga di wilayah sekolah. Banyak murid yang berwajah gembira tampat berfoto ria dengan keluarganya tak terkecuali Youngjae.
"Daehyun – ah fotolah dengan Youngjae."
Tn. Yoo memanggil Daehyun yang masih di posisi bersebrangan dengan keluarga Yoo karena menjadi juru kamera.
"Lebih mendekat!"
Daehyun dan Youngjae dengan wajah bodohnya mendadak gugup antar sesamanya.
"Ya! Kalian tidak ingatkah jika kalian suami istri. Jangan gugup begitu!"
geram melihat tingkat awkward anak dan menantunya.
Daehyun mendekat kea rah istrinya dan meramngkul pinggang Youngjae posesif. Youngjae meletakkan kepalanya pada pundak Daehyun manja sambil tersenyum bahagia.
"Katakan kimchi!"
Mereka berdua melebarkan senyumannya.
"Ini sempurna." Ucap sebagai fotografer.
"Benarkah."
"Kemari dan lihatlah ini."
Daehyun melepaskan pelukan di pinggang Youngjae dan berjalan kearah mertuanya. Tanpa di ketahui Youngjae memeganggi kepalanya yang terasa pening tiba – tiba dan perutnya yang seperti ingin muntah.
"Akhh.. Daehh."
Daehyun tentu tidak mendengar rintihan Youngjae karena suaranya teramat kecil pada tempat ramai.
"Akkhh sakithh.."
Bruk..
"Youngjae?!" Pekikan teman Youngjae yang melihat bagaimana Youngjae bisa jatuh membuat Daehyun dan orang tuanya menoleh. Mereka bergerak panik, Daehyun segera menggendong tubuh pingsan Youngjae berlari kearah mobil dengan Tn dan Ny. Yoo yang ikut berlari panik di belakang Daehyun.
"Yeobo ke rumah sakit segera!"
tanpa berfikir akan keselamatan banyak orang, ia memacu sangat kencang mobilnya sampai ke rumah sakit terdekat. Sesampainya disana sudah banyak perawat yang menyambut Youngjae di ruang UGD.
"Silahkan anda tunggu di luar. Biar kami memeriksanya." Ucap seorang dokter.
Daehyun dan orang tua Youngjae berjalan ke luar ruang UGD, duduk di kursi tunggu sambil terus merapalkan doa agar Youngjae diberi keselamatan.
"Daehyun – ah apa yang Youngjae makan kemarin?"
"Aku hanya mengajaknya makan tteokboki. Itupun dia yang minta."
"Apa ada lagi?"
"Menurutku tidak. Dia benar – benar sibuk memilih pakaian untuk dipakai hari ini."
"Apa karena Youngjae tidak makan apa – apa kecuali tteokboki?"
"Bisa saja eomma."
Ceklek…
Seorang dokter yang diikuti perawatnya dari belakang nampak mendekat ke arah keluarga Yoo yang sedang menunggu di kursi tunggu.
"Keluarga Yoo Youngjae?"
"Saya ayahnya!"
"Saya suaminya!"
"Baiklah salah satu dari kalian bisa ikut kami ke ruangan saya."
"Pergilah Dae…" Titah sang mertua.
Ruang Dokter
"Saya tidak tau ini bahkan berita gembira atau tidak bagi anda yang pasti untuk pasangan suami istri yang straight ini adalah hal yang paling menggembirakan."
"HUH?"
Dokter tersebut sedikit tersenyum.
"Istri anda hamil. Sudah 3 minggu."
"Ye?"
"Saya hanya dokter umum saya tidak tau bagaimana bisa ekhem.. seorang laki – laki bisa mengandung. Mungkin bisa konsultasi pada dokter kandungan."
"Lantas bagaimana keadaannya?"
"Tentu saja mengkhawatirkan. Istri anda jangan sampai sedikitpun lelah karena dia tidak punya rahim jadi bayinya akan rawan terluka yang akan mengakibatkan keguguran."
"Saya akan menjaganya dengan baik, dok."
"Itu pilihan yang tepat."
"Terima kasih. Saya permisi dulu."
Daehyun berdiri. Ia membungkuk sebagai tanda terima kasih sebelum keluar ruangan.
Daehyun memasuki UGD tempat Youngjae sementara di rawat sebelum di pindahkan ke ruangannya. Daehyun menghampiri tubuh Youngjae yang masih lemah dengan tangan yang dililit jarum infuse.
Daehyun membelai wajah Youngjae. Youngjae yang sudah sadarpun membuka matanya saat ia merasakan belaian lembut pada wajahnya. Ia tersenyum mendapati Daehyun yang berada di sisinya.
"Aku sakit apa?"
Daehyun menggeleng dengan senyumannya. Ia memajukan wajahnya dan mengecup dahi Youngjae dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
"Kenapa? Apa parah?"
"Jika aku bilang kau hamil. Apakah kau akan menerimanya?"
"Huh?"
"Kau hamil sayang. Aku sangat se…"
"Huaaaaa! Aku kan sudah bilang jangan mengeluarkannya di dalam, hyungg.." Youngjae menangis seperti bocah lima tahun. Membuat semua orang yang ada di sana menoleh ke arah Daehyun.
"Ya! Kenapa kau menangis seakan aku melukaimu. Sstt tenang – tenang." Daehyun segera memeluk Youngjae dan mengusap punggungnya.
"hiks hiks hiks…"
"Jadi di gugurkan saja?"
Daehyun kembali ke tempat duduknya. Ia mengusap air mata Youngjae yang masih menetes.
"Itu makin bodoh hyung."
"Jadi?"
"Ayo kita rawat dia." Youngjae seketika tersenyum kearah Daehyun lalu kearah perutnya yang rata.
Daehyun membalas senyum manis Youngjae lega. Dalam hatinya ia juga sangat senang karena akan mempunyai seorang anak.
"Aku akan merawat kalian dengan baik. Aku janji."
.
.
.
9 Bulan kemudian…
Daehyun saat ini sedang bekerja menjadi presdir di perusahaannya sendiri yang sudah ia bangun selama hampir 1 tahun. Ia memutuskan untuk keluar dari perusahaan sebelumnya karena insiden itu dan memutuskan memulai bisnis baru dengan Yongguk.
Memang memulai suatu bisnis tidaklah mudah. Bisnis Daehyun dan Yongguk pernah hampir gagal dan Daehyun sangat frustasi karena harus menjadi suami yang baik saat istrinya sedang hamil dan menjadi ayah sebagai tulang punggung keluarga. Tapi berkat pengertian Youngjae, Daehyun dapat berfokus pada pekerjaannya sampai saat ini sudah stabil.
Youngjae is calling…
"Yeoboseo? Ada apa? Ingin sesuatu?"
"YA! ISTRIMU AKAN MELAHIRKAN SEKARANG DIA DI RUMAH SAKIT!"
Suara pekikan Himchan membuat Daehyun berlari kalang kabut. Hal itu membuat Yongguk tidak fokus bekerja.
"Ada apa?"
"Istrimu meneleponku."
"Heh? Untuk apa?"
"Youngjae akan melahirkan."
"BODOH! KENAPA KAU MALAH MONDAR MANDIR DISINI?!"
"Aku bingung akan pekerjaannya. Ini belum selesai."
"SIALAN! PERGI SEKARANG JUGA. AKU YANG AKAN MENGURUSNYA."
"Jinjja?"
"CEPAT BODOH!"
"Ne. aku pergi!"
At Rumah sakit
21
22
23
"Cepat kemari bodoh!" Himchan melihat Daehyun yang sedang mencari ruangan tempat Youngjae di rawat.
"Mana istri dan anakku?"
"Kau terlambat! Youngjae terlihat kesakitan tadi."
"Jalanan sedang buruk, hyung. Cepat katakana dimana istri dan anakku?!"
"Cih.. mereka di dalam. Temuilah Youngjae bahkan tidak mau istirahat jika kau belum datang."
Ceklek…
Youngjae mendongakkan kepalanya sekedar melihat siapa yang datang menjenguknya. Ia lantas melebarkan senyumnya saat tau Daehyun yang datang.
Daehyun dengan bodohnya mematung di depan pintu saat melihat Youngjae sedang menggendong bayi yang mana adalah anaknya. Youngjae hanya terkikik dan mengisyaratkan Daehyun untuk mendekat kearahnya.
"Ma maafkan aku terlambat. Ja jalanan sangat ma macet." Ucap Daehyun gugup dengan tak mengalihkan pandangannya pada sosok bayi mungil di dekapan Youngjae.
"Dia laki – laki."
"I I itu anakku?"
"Bodoh! Tentu saja hyung."
"Mau menggendongnya? Tanganku pegal."
Daehyun mengangguk. Dengan hati – hati ia mengambil alih bayinya dari gendongan sang ibu. Ia mengelus pelan pipi mungil yang tembam seperti milik ibunya. Kulitnya juga putih seperti milik Youngjae.
"Mata dan bibirnya persis seperti milikmu." Youngjae seperti tau yang ada di pikiran Daehyun.
Daehyun terus memandangi bayi dalam dekapannya sehingga sudah tak terasa air matanya mengalir begitu saja menetes membasahi pipi si kecil. Daehyun terkesiap.
"Ahh mian appa menangis."
Youngjae hanya tersenyum melihatnya.
"Jadi.. mau kita beri nama siapa?"
"Jung Jaehyun?"
Youngjae terkikik.
"Apa aneh?"
"Itu sempurna, Daehyun appa."
"Terima kasih atas segalanya, Youngjae Eomma."
" Kesulitan yang kita hadapi dalam suatu hubungan bukanlah tiada tujuan. Tuhan memberikan kesulitan bukan untuk dihindari dan menjadi ajang untuk menyerah. Tapi itu adalah cara tuhan untuk menguji kita apakah pasangan yang kita pilih adalah tepat takdir kita."
.
.
.
END
Ini adalah akhir dari Ily, My Little Wife dengan akhir yang bahagia. Terima kasih untuk kalian yang sudah follow/fav cerita ini serta review kalian yang banyak banget bantu aku untuk membuat cerita ini lebih dan lebih setiap chapternya. Akhir kata saya ucapkan sampai bertemu di next story:))))
special thanks to : Just Daejae, Cito, fujoshigabisatobat, Jokemato Daejae, daejae9394, KekeMato, daehyuwon, Bbangssang, Jung Rae Gun.
Newsun
