Ini gila. Sungguh.

Bisa kurasakan detak jantung menggila di dalam tubuhku. Rasa panas yang terjadi ketika kulitku bersentuhan dengan kulitnya. Bagaimana beratnya napasku menahan sesuatu yang mendesak ingin keluar.

"Sasuke ... kh..."

Suara itu terdengar menggoda. Suara itu berasal darinya, berasal dari gadis yang tak seharusnya kusentuh lebih jauh karena ikatan darah ini. Suara itu berasal dari gadis yang kini berada di bawahku. Suara itu, suara Hinata.

Sepasang lavender warisan ayah menatapku penuh gelora. Wajahnya memerah, napasnya terengah, tubuhnya bergerak menggoda. Pelan, lengannya bergerak mengalungi leherku, membawa wajahku turun, kemudian melumat bibirku.

"Kh... Sasuke ..."

Gila. Ini gila!

Kami nyaris tanpa pakaian. Dadaku bergesekan dengan dadanya yang masih berlapis bra, bagian bawahku menempel erat bagian bawah miliknya. Wangi tubuhnya membuat kepalaku pusing, bagaimana caranya mendesahkan namaku, bagaimana gesekan kulit kami meningkatkan suhu tubuh membuatku gila.

"Hinata..." Aku mendesahkan namanya ketika mulut kami terlepas. Dengan beringas mengecup lehernya, memberikan tanda yang membuat tubuhnya semakin bergerak menggoda.

Kami kembali saling bertatapan. Berbagai perasaan bercampur menjadi satu. Gairah, cinta, putus asa. Aku mengambil tangannya, mengecupnya penuh cinta. Kukecup keningnya, membisikinya ribuan kata dan tersentak ketika mendengarnya terisak.

Aku menjauhkan tubuhku, dan tubuh Hinata yang seharusnya ada di bawahku menghilang. Kegelapan menyergap, rasa sesak terasa seolah ada benda tak kasat mata yang menghimpitku. Ketika aku berusaha lepas dari hal apapun yang membuat tubuhku sesak, aku melihat langit-langit kamarku sendiri, dan mendapati aku yang masih dalam posisi berbaring. Bajuku basah oleh keringat.

Aku terbangun, mendesah dan mengatai pada diriku sendiri dan bertanya akan rasa kecewa yang muncul ketika mendapati apa yang kurasakan tadi hanyalah mimpi, lalu menertawai diriku sendiri yang berharap apa yang kulakukan bersama Hinata adalah kegilaan yang terwujud.

Sial.

Sial.

Sial.

Aku benar-benar gila.

.

Their Story

.

By: Fuyu no Yukishiro

.

Disclaimer:

Naruto (c) Masashi Kishimoto

MV Adolescene Kagamine Len dan Kagamine Rin

.

Warning:

OOC, AU, Ada pergantian POV (Harap perhatikan kalimat yang dicetak tebal), Incest, Lemon (semoga) Implisit.

For Implisit Celebration

.

Dalam Fanfiksi ini, Tanggal lahir Sasuke bukan tanggal 23 Juli, tetapi 27 Desember. Mereka adalah kembar identik.

.

.

Special Thanks:

Ai YukiHime; Ayu493; Guest (16/05); JojoAyuni; .777; hinatauchha69; hikarishe; suli hime; Higurashi HimeKa; Hitora and imnotevil13; Reza Juliana322; Mishima90; mikyu; sasuhina69; oortaka; Uname; Eve Seven; Anonym (16/05); Baby niz 137; aindri961; Laventa 288; Sivi635; ; Hime235; Megumi Amethyst; Guest (18/06); ppkarismac; Novichi; Noxye; dan semua orang yang fav, dan Read.

Arigatou Gozaimasu~

Happy Reading... :D

Semoga tidak mengecewakan.

Jam dinding yang terletak tepat di depan mata menunjukkan pukul lima pagi. Empat jam telah berlalu sejak obrolan kami di depan kamarku, itupun jika memang terpisah oleh daun pintu, dan hanya Hinata yang berbicara masih disebut sebagai sebuah percakapan.

"Aku merindukanmu, Sasuke-kun. Kumohon... kumohon kembalilah seperti dulu. Kumohon..."

Aku masih mengingat dengan jelas ucapan Hinata tadi. Bagaimana nada suaranya yang lirih, bagaimana perasaan sesak yang tidak mengenakkan sampai kepadaku. Bagaimana kerasnya aku menahan diri agar tidak menariknya masuk ke kamarku, dan melakukan hal gila padanya hanya untuk memberitahu bahwa aku pun merindukannya. Sangat. Sampai-sampai aku tak sanggup menahan diri untuk tidak sekedar melumat bibirnya dan berusaha membuatnya mendesahkan namaku.

Aku benar-benar orang busuk ketika aku malah menjadikan saudara kembarku sendiri sebagai objek pemuas seksku.

"Shit." Aku mengumpat ketika menyadari bagian bawahku terasa sempit. Dengan gelisah, aku mengambil gelas yang kuletakkan di nakas, hendak meminum isinya karena siapa tahu hasrat menggebu ini akan hilang sepenuhnya, meski rasanya mustahil. Sayangnya, tak ada setetes pun air di sana. Aku mengumpat lagi, berdiri, dan bergerak ke arah pintu. Ketika aku membukanya, aku melompat kaget ketika ada sesosok tubuh yang tergeletak menghalangi jalan keluar.

Sosok tubuh itu Hinata, terbaring sambil memeluk tubuhnya. Dari punggungnya, aku dapat melihat tubuhnya yang gemetar. Lalu rasa sakit yang mendadak menghantam diriku.

"Hinata!"Dan yang dapat kulakukan selain berteriak memanggilnya adalah memangku Hinata dan menyadari tubuhnya yang terlalu panas.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hinata POV

Tubuhku terasa melayang. Mungkin ini disebabkan karena suhu tubuhku yang tinggi. Kepalaku terasa kosong, telingaku berdenging dan kelopak mataku begitu berat hingga aku tidak bisa membukanya.

"Hinata! Hei, Hinata!"

Suara itu terdengar samar-samar di tengah dengingan yang membuat perutku terasa mual. Meski dapat mendengarnya, aku tak dapat merespon panggilan itu, panggilan dari seseorang yang sudah sangat kukenal lama. Panggilan dari Sasuke-kun.

Ah ...

Aku pernah mengalami perasaan ini. Perasaan bahagia sekaligus menyesal karena telah membuatnya khawatir, perasaan tenang ketika kehangatan tubuhnya secara ajaib menurunkan suhu tubuhku yang tinggi, rasa nyaman ketika mendengar detak jantungnya yang cepat karena mengkhawatirkanku.

Pelan, meski berat, aku berusaha membuka mata. Awalnya buram, hingga akhirnya wajah itu terlihat. Menatapku dengan pandangan khawatir. Raut datar yang selalu diperlihatkannya menghilang, berganti dengan wajah cemas.

"Sebentar lagi dokter akan kemari," katanya. Aku tak mengatakan apa-apa, tersenyum dengan susah payah, sekaligus senang ketika menyadari tangannya menggenggam erat tanganku.

Aku selalu bersama Sasuke-kun. Di mana ada Sasuke-kun, di situ ada aku. Di mana ada aku, Sasuke-kun akan ada di sekitarku, melindungiku. Bahkan ketika aku sakit, Sasuke-kun pasti akan menemaniku. Dia akan memanjat ranjang, memperlihatkan wajah khawatirnya dan menggenggam tanganku erat sembari mencium keningku.

"Tenang saja, Kau akan baik-baik saja, Hinata. Aku tak akan meninggalkanmu lagi."

Dan dengan kalimat dari Sasuke-kun, serta keberadaannya di sampingku, aku dapat mengenyahkan rasa tidak nyaman karena suhu tubuh dan kepalaku yang berdenyut tidak karuan.

"Sasuke-kun ..." Aku memanggil namanya dengan susah payah. Akibat suhu panas yang tinggi, air mataku meleleh begitu saja. Pelan, aku membalas genggaman tangannya, "Maaf. Maafkan aku..."

"Jangan membenciku, jangan meninggalkanku."

"Hinata ..."

Tangisku semakin besar. "Tetaplah di sampingku, Sasuke-kun."

Pandanganku kembali memburam, tapi sekilas aku dapat melihat raut sedih Sasuke-kun. Telingaku berdenging semakin parah, dan ketika gelap menyapa, aku merasakan sesuatu menyentuh bibirku, dan sebuah kalimat yang membuatku kembali tenang.

"Mana mungkin aku membencimu, Bodoh."

.

.

Aku merasa tubuhku terbawa oleh sesuatu yang tidak kuketahui. Tubuhku seringan bulu sayap, tetapi kelopak mataku terasa berat. Telingaku tak lagi berisik seperti beberapa saat yang lalu, hanya, aku merasa mendengar sebuah suara yang menggema.

"Nah, Sasuke-kun," Aku langsung mengenali suara itu sebagai suara ibuku. Ibu memiliki suara yang lembut dan menghangatkan hati, seperti ini. "Namanya Hinata-chan."

Pelan, aku berusaha membuka kelopak mata, butuh usaha yang besar, dan hasilnya pun, hanya bayang-bayang samar. Aku melihat aku ketika masih kecil sedang berlindung dibalik punggung ibuku, tetapi sebelah wajahku menonjol keluar, memerhatikan sesosok anak lain yang berdiri di depanku. Kami saling bertatapan, dan aku merasa takjub melihat kami yang mirip selain warna mata kami.

"Hinata-chan, anak lelaki di depanmu, Sasuke-kun," Ibu merendahkan tubuhnya, tangannya yang lembut menyapu bahuku, pelan membawaku ke depan, mendekat pada Sasuke-kun yang masih menatapku penasaran, sekaligus bahagia. "Mulai saat ini, kalian akan tinggal bersama."

Dan yang kulihat dengan jelas setelah suara ibu hilang adalah tangan Sasuke-kun yang terjulur, lalu senyumannya yang membuatku begitu saja dekat dengannya.

Dia, Sasuke-kun. Kakak laki-laki yang kudapat saat usiaku empat tahun.

.

.

Aku mendapati diriku di atas tempat tidur ketika aku membuka mata. Kepalaku berdenyut nyeri, aku merasa tak bertenaga. Dari luar, aku bisa mendengar suara Sasuke-kun.

"Hinata sudah baik-baik saja, Ibu. Tenang saja. Dia hanya kelelahan," itu yang jelas terdengar. Aku berusaha mendudukkan diriku, lalu menyandarkan punggungku sebelum perhatianku teralih pada sebotol air minum yang diletakkan di meja dekat tempat tidur. Di sebelahnya ada beberapa jenis obat yang dimasukkan ke dalam plastik, lalu sebuah baskom kecil.

Aku tersenyum. Yang merawatku adalah Sasuke-kun, tentu saja. Ayah dan Ibu bekerja di stasiun televisi sebagai wartawan, wajar jika mereka lebih sering meninggalkan kami. Sejak kami berusia delapan tahun, kami sudah terlalu sering menghabiskan waktu hanya berdua.

Kurasa itulah mengapa aku dan Sasuke-kun begitu terikat satu sama lain.

Suara pintu terbuka terdengar. Sasuke-kun ada di sana, sepasang tangannya memegang nampan. Di atas nampan itu ada mangkuk yang mengepul dan segelas air. Perpotongan bahu dan kepalanya menjepit ponsel agar tetap menempel di telinga kanannya.

"Nah, lihat, putri Ibu sudah bangun. Mau berbicara dengannya?" Setelah bicara seperti itu, Sasuke-kun mendatangiku, dengan hati-hati menyimpan nampannya di meja bundar berkaki pendek yang berada di tengah ruangan, lalu Sasuke-kun menyerahkan ponselnya padaku. "Ibu." Katanya singkat. Aku menerimanya dan langsung mendapat ceramah dari ibu. Nadanya menyiratkan kekhawatiran dan penyesalan karena tidak ada di sampingku ketika aku terserang demam.

"Tenang saja, Ibu. Sasuke-kun bisa diandalkan kok," kataku menenangkan sembari melirik saudaraku yang tak lepas memandangku seolah sedang mengawasi. "Ya, Baiklah. Aku sayang Ibu dan Ayah."

Setelah sambungan terputus, aku menyerahkan ponsel Sasuke-kun lalu menunduk karena Sasuke-kun segera membalikkan badannya, mengambil mangkuk yang mengepul dan memberikannya padaku. "Makanlah, setelah itu minum obatmu." Dia sepertinya sedang kesal. Aku semakin menunduk, memandang mangkuk yang berisi bubur. Suasana mencekam untuk beberapa detik sampai terdengar helaan napas kasar, lalu telapak tanganku digenggamnya, membuatku refleks langsung memandang ke arahnya.

Sepasang mataku memandang gelapnya sepasang mata milik Sasuke-kun. Untuk beberapa saat, aku merasa sulit bernapas, dan jantungku seolah berhenti berdetak sebelum merasakan pipiku memanas.

"Dengar," Dia berkata, genggaman tangannya di tanganku semakin erat. "Aku minta maaf karena menghindarimu, Oke?"

Aku membisu, rasa sesak yang menyenangkan mengalir dalam bentuk air mata. Sudah berapa bulan lamanya aku tidak sedekat ini dengan Sasuke-kun?

Pelan, Sasuke-kun menghapus air mataku. Senyum amat tipis terlihat, raut wajahnya menggambarkan kelegaan, dan sebuah keputusan yang tidak kutahu apa. "Aku janji tidak akan bersikap buruk seperti itu lagi."

Aku menghambur memeluknya erat. Rasa bahagia berloncatan keluar, tanpa kusadari bahwa raut terluka Sasuke-kun terlihat semakin kelam.

.

.

Sasuke-kun menepati janjinya.

Ketika aku menghabiskan bubur buatannya dan meminum obat, Sasuke-kun tak beranjak dari sisiku. Seperti yang selalu dia lakukan ketika kami masih kecil, Sasuke-kun akan berbaring di sampingku, tangan kami saling bertaut, dan Sasuke-kun akan terus membisikkan semua baik-baik saja hingga aku terlelap, dan mengucapkan selamat pagi ketika aku terbangun lalu mengusap puncak kepalaku.

Untuk kali pertama, aku merasa bahagia. Sangat. Beberapa bulan tanpa Sasuke-kun membuatku tak mengerti seperti apa bahagia itu. Aku tak pernah tahu sebelumnya bahwa aku tak bisa apa-apa tanpa Sasuke-kun di sampingku. Dan ketika Sasuke-kun kembali berada di sisiku, segalanya terasa benar.

"Kau benar tidak apa-apa?"

Pertanyaan yang kesekian kalinya dari Naruto-kun sejak pemuda itu tiba di rumahku sepuluh menit yang lalu. Aku tersenyum, merasa geli dan hangat sekaligus ketika melihat raut wajahnya yang khawatir akan keadaanku. Naruto-kun menghela napas lega, memperlihatkan buah-buahan yang dibawanya sebagai buah tangan.

"Baiklah... kalau begitu, apa yang mau kau makan sekarang? Biar kukupaskan untukmu," katanya sembari memamerkan cengiran lebarnya. Aku merasa tersipu, kemudian meminta Naruto-kun untuk mengupaskan apel. Dengan semangat, Naruto-kun mengupasnya sembari bercerita panjang lebar tentang keadaan sekolah selama dua hari aku tak masuk, serta memberikan tugas yang harus kukerjakan.

"Tapi kalian memang kembar ya, meski penampilan kalian sama sekali tidak mirip." Komentarnya. Aku hanya tersenyum saja. Dua hari lamanya aku tidak masuk sekolah, dan seperti biasa, Sasuke-kun mengikutiku tidak masuk sekolah.

"Aku akan menemanimu seperti biasanya," katanya ketika kutanya kenapa dia tetap berada di kamarku ketika waktunya sekolah. Dan, karena aku terlalu merindukan kehadiran Sasuke-kun, aku yang biasanya mengomeli Sasuke-kun supaya tidak melakukan hal seperti ini lagi, hanya membiarkannya tetap di sampingku. Mengamatinya ketika dia membaca buku yang disukainya, atau membiarkan dia menyuapiku.

"Dulu, selain warna mata, kami benar-benar mirip," aku berkomentar, dengan wajah memerah membuka mulut dan membiarkan Naruto-kun menyuapiku. "Tapi pertumbuhan lelaki itu cepat sekali," kataku setengah bergumam, sedikit iri karena tinggi ku tak akan bertambah.

"Ya... aku melihat foto kalian di ruang tamu. Ada kau yang memakai baju lelaki, atau Sasuke yang memakai baju perempuan, ya..." Naruto-kun berkomentar sembari menahan diri untuk tidak tertawa. Aku menyubit pelan lengannya, cemberut.

Ibuku memang orang yang iseng. Jika ada di rumah, hal pertama yg dia lakukan adalah memakaikan kami pakaian yang sama, lalu memfoto kami, berteriak kegirangan lalu mengajak kami kemanapun. Kurasa, Ibu melakukan ini agar kami tetap mengingatnya meski ibu tak bisa sering sering bersama kami.

Naruto-kun tertawa ketika aku mengatakan itu. Kami berbincang cukup lama, bertanya hal-hal yang tidak aku ketahui tentangnya, lalu memberi tahu hal yang ingin diketahuinya tentangku. Kami saling bergenggaman tangan, melepas rindu karena dua hari ini tidak saling bertemu. Kemudian seperti biasa ketika kami hanya berdua, tubuh kami kembali mendekat, memperpendek jarak, menatap dalam-dalam sebelum saling menyentuhkan bibir kami.

Perasaan hangat itu masih bisa kurasakan. Aku selalu merasa tersipu ketika Naruto-kun menciumku lembut, dan tersenyum bahagia mendapati dia yang juga merona ketika kami selesai melakukannya. Kecupan yang lembut, manis dan...

Aku tersentak ketika lengan Naruto-kun yang melingkari pinggangku mendorong tubuhku semakin mendekat, lalu bagaimana lidahnya yang menerobos mulut membuat mataku terbelalak. Aku kewalahan, mendorong dada Naruto-kun, perasaan hangat itu sempurna menghilang. Rasa takut menguar ketika aku mendapati diriku sendiri yang menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara aneh. Naruto-kun semakin liar menciumku, dan rasa takut itu semakin kuat mencekam. Ketika tenagaku mulai melemah dan mencoba berdamai dengan rasa takut yang tiba-tiba melesak muncul, bayangan Sasuke-kun yang menatapku dingin, dan perlahan menjauh, membuatku dengan tenaga entah dari mana berhasil mendorong Naruto-kun menjauh.

Kami terengah. Aku menyadari rasa takut dan tidak nyaman itu perlahan menghilang, meninggalkan perasaan menyesal dan tanda tanya besar.

Bukankah aku menyayangi pria di depanku ini? Bukannya kami adalah sepasang kekasih? Bukankah...

Aku segera memandang Naruto-kun yang menyiratkan kekecewaan. Ini kali kedua aku menolaknya. Aku bukan gadis polos yang tidak tahu kalau sudah sewajarnya kami melakukan hal yang lebih intim dari sekedar menempelkan bibir. Kami sudah berkencan nyaris setengah tahun, tapi...

Kenapa terasa ada yang salah?

Kenapa detakan ini menyakitkan?

"Naruto-kun, aku...," aku kehilangan kata-kata. Aku tak sanggup menatap kekecewaan di raut wajahnya, tapi aku tidak bisa melakukan hal yang membuat kekecewaannya menghilang. "... Maaf."

Suasana canggung terasa. Sampai akhirnya suara tawa yang dipaksakan terdengar. "Jangan memasang tampang seperti itu," katanya. Suaranya terdengar serak, dan bagaimana caranya menepuk kepalaku membuatku tahu bahwa lebih daripada kecewa, Naruto-kun merasa kerdil.

"Aku yang meminta maaf karena memaksamu..." jeda kembali. "Sejujurnya Hinata, aku selalu bertanya-tanya." Pelan, Naruto-kun memosisikan aku agar menatap dirinya. "Apa kau benar-benar menyukaiku?"

"Tentu saja aku menyu -" dan bayangan Sasuke-kun yang muncul menghentikan kalimatku, jantungku berdetak aneh. Kebimbangan muncul begitu saja. Aku tak sanggup mengatakan 'suka' pada kekasihku sendiri dan malah membayangkan wajah saudaraku sendiri.

Apa ini?

Aku tak ingin menyadarinya, tapi perlahan, aku mengerti apa yang sedang terjadi.

Aku...

Air mata mengalir, dan Naruto-kun mengembuskan napas berat. "Sudah kuduga." katanya pelan. "Kalau begitu..."

Tangisku semakin pecah. Mulutku mengatakan maaf berkali-kali kepadanya, dan hatiku ribuan kali menyangkal perasaan yang mendadak kusadari.

Tuhan...

Bagaimana ini?

Meremat dadaku sendiri, aku tak sanggup mengenyahkan apa yang baru kurasakan.

Bayangan Sasuke-kun semakin terlihat jelas, san rasa sakit yang mendera dadaku, menjelma semakin kuat.

Tuhan, Aku ... mencintainya.

Aku mencintai saudaraku sendiri.

.

.

.

.

To be continued

.

.

Balasan Review...

Keren. Terima kasih. Update cepat. Sudah. Apakah masih ada harapan kalau SH bukan saudara kandung? Who knows... *EvilSmirk* Semua bisa terjadi *Dihajar*. Kayak pernah baca di manga 'I love My Sister', tapi banyak bedanya. I love my sister itu yang udah ada anime-nya bukan sih? Kalau iya, mungkin memang akan ada beberapa adegan yang mirip, karena referensi saya juga dari sana ^^. Penasaran sama tindakan SasuHina mengatasi perasaan mereka. Hm... Kalau gitu, selamat menunggu next Chapter *Duagh*. Akan Happy End? Kalau saya kasih tahu, gak seru dong ya... haha. Ada sedikit Typo. Segera meluncur untuk diperbaiki. Terima kasih banyak... :D

.

Cuap-Cuap Author

Hai ...

Terima kasih sudah menunggu. Cukup terkejut dalam dua minggu lumayan yang review, dan fav ff ini. Grafik yang view juga sesuatu sekali ya... Hahaha. Entah emang tertarik pada cerita yang saya sajikan, atau karena saya melabelinya dengan rating M dan Incest. Hanya saja, saya memperingatkan kalian untuk menyadari usia masing-masing ya... *Smile*

Ngomong-ngomong, saya agak terganggu dengan review yang pendek minta diupdate cepat atau bagaimana. Bukannya tidak menghargai, dan bukannya tidak boleh juga, tapi entah kenapa saya yang malah merasa tidak dihargai. Haha...

Tapi ya sudahlah... Keterlaluan sekali rasanya jika saya meminta kalian mengomentari isi cerita yang saya buat atau sekedar menuliskan pendapat kalian tentang isi cerita saya.

Ok, See you Next Chapter.

.

26 Mei 2016

Fuyu no Yukishiro