Ibu selalu menceritakan tentang seorang anak perempuan bernama Hinata.
Biasanya, ibu akan membiarkanku duduk di pangkuannya, lalu ibu mulai membuka album-album foto. Dulu aku tidak bisa membaca tulisan yang ibu tuliskan di sampul album, ketika aku bisa membacanya, hanya ada dua nama yang terukir di cover album yang selalu ibu perlihatkan padaku ketika aku masih sangat kecil. Hanya nama kami. Sasuke dan Hinata.
"Kalian mirip sekali, kan?" Itu yang selalu ibu katakan padaku. Memperlihatkan sepasang bayi yang sedang tertidur lelap. Ibu akan membuka halaman selanjutnya ketika aku mengangguk setuju, kemudian berbicara panjang lebar tentang seorang anak perempuan bernama Hinata.
"Hinata itu adikku, kan?" tanyaku dan ibu hanya tersenyum menanggapi pertanyaanku.
"Karena kalian lahir di hari yang sama, hanya berjarak beberapa menit, kalian adalah saudara kembar." Kata ibu. "Lihat, kalian mirip sekali kan?" dan ibu akan mengulangi lagi pertanyaan yang selalu kujawab dengan anggukan saja.
Lalu, foto-foto selanjutnya yang ditunjukkan ibu hanyalah foto-foto seorang bayi perempuan berusia kurang lebih dua sampai tiga tahun. Selain warna mata, kami memang memiliki fisik yang hampir serupa.
"Lalu, kalau kami kembar, kenapa Hinata tidak ada di rumah ini, Bu?"
Aku masih ingat sekali pertanyaan polos yang selalu kutanyakan kepada Ibu ketika ibu mulai bercerita tentang saudara yang hanya kutahu dari ceritanya.
Dan biasanya, jika aku sudah bertanya seperti itu, ibu akan mengakhiri ceritanya tentang Hinata dan akan melakukan apapun agar aku melupakan pertanyaanku. Ketika Ayah pulang dan melihat wajah ibu yang murung, Ayah akan merangkul Ibu dan memperingatiku untuk tidak bertanya tentang di mana Hinata atau kapan Hinata akan tinggal bersama kami.
"Belum waktunya, Sasuke," itu yang selalu dikatakan ayahku. Aku hanya mengangguk, dan ayah akan mengusap puncak kepala dan mengatakan terima kasih sebelum membawa ibu ke kamar, membiarkanku yang baru berusia empat tahun berdiri diam di depan kamar orang tuaku sendiri.
Lalu, hari itu tiba.
Ibu memanggilku dengan suara yang sangat riang, berdiri di depanku, senyumnya terlihat sangat bahagia. Meski hanya sekilas, aku dapat melihat ada seseorang yang bersembunyi di belakang punggung ibu.
"Nah, Sasuke-kun," Ibu memulai pembicaraan dengan satu kata itu, "Namanya Hinata," Merasa namanya dipanggil, seseorang yang berdiri di belakang punggung Ibu, pelan-pelan menggerakkan tubuhnya ke samping tubuh ibu, sepasang lavendernya menatapku takut-takut, sepasang lengannya yang mungil meremat kain rok ibu.
Wajah yang tidak asing membuatku terpana. Aku dengan jelas tahu siapa yang dibawa Ibu. Itu adik! Adik yang kutunggu. Aku selalu membayangkan bagaimana rasanya memiliki saudara. Mendambakan kehadiran Hinata yang selalu kudengar dari Ibu, dan ketika melihatnya, sudut kecil hatiku berteriak kegirangan.
"Mulai sekarang, kita akan tinggal bersama."
Ayah dan ibu adalah seorang pekerja. Hal itu membuatku lebih sering menghabiskan waktu di daycare ketimbang bersama mereka di rumah. Ibu memang lebih cepat pulang daripada ayah, dan daycare bukannya tidak menyenangkan untukku. Hanya saja, aku selalu merasa kesepian.
Dan mulai saat ini, aku akan bersama Hinata. Pergi ke daycare bersama, berbagi hal yang sama. Bagiku yang masih empat tahun, kehadiran Hinata, kuanggap sebagai hadiah yang lebih bagus ketimbang buku cerita dari Santa. Jadi, Aku bergerak mendekat, mengulurkan tangan lalu memberikan senyum tipis. Saat tangannya menggenggam tanganku, aku yang waktu itu masih empat tahun, berjanji akan melindunginya.
Menyayanginya sebagai satu-satunya saudaraku.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dan Kini, aku mengingkari janjiku waktu itu...
Aku menyayanginya lebih dari perasaan seorang Saudara
.
.
.
Their Story
.
By: Fuyu no Yukishiro
.
Disclaimer:
Naruto (c) Masashi Kishimoto
MV Adolescene Kagamine Len dan Kagamine Rin
.
Warning:
OOC, AU, Ada pergantian POV (Harap perhatikan kalimat yang dicetak tebal), Incest, Lemon (semoga) Implisit.
For Implisit Celebration
.
Dalam Fanfiksi ini, Tanggal lahir Sasuke bukan tanggal 23 Juli, tetapi 27 Desember. Mereka adalah kembar identik.
.
.
Special Thanks:
Ai YukiHime; Ayu493; Guest (16/05); JojoAyuni; .777; hinatauchha69; hikarishe; suli hime; Higurashi HimeKa; Hitora and imnotevil13; Reza Juliana322; Mishima90; mikyu; sasuhina69; oortaka; Uname; Eve Seven; Anonym (16/05); Baby niz 137; aindri961; Laventa 288; Sivi635; ; Hime235; Megumi Amethyst; Guest (18/06); ppkarismac; Novichi; Noxye; dan semua orang yang fav, dan Read.
Arigatou Gozaimasu~
Happy Reading... :D
Semoga tidak mengecewakan.
.
Aku melihat pria bodoh itu keluar dari kamar Hinata dua jam setelah pria itu datang ke rumah kami. Sepasang matanya menatap pintu kamar Hinata lekat-lekat setelah dia menutupnya sendiri, menghela napas sebelum memilih meninggalkan kamar Hinata, dan sepasang matanya menatap keberadaanku yang tak jauh darinya.
Dia memamerkan cengiran yang luar biasa menyebalkan.
"Hei, Bro!"
Dan sapaan super ramahnya malah membuatku berjengit tidak suka. "Jangan bilang kau tetap berada di dekat kamar Hinata dari dua jam yang lalu?"
Aku memilih untuk tidak menjawab meski pertanyaannya yang terdengar seperti pernyataan memang benar adanya. Aku tak beranjak dari dekat kamar Hinata sejak pria bernama Naruto ini muncul di rumah kami. "Protektif sekali kau menjadi saudaranya."
Untuk pertama kalinya, aku membenci ada seseorang yang mengingatkanku bahwa aku adalah saudara Hinata.
"Kurasa kau harus pulang," kataku langsung yang ditanggapi dengan cengirannya. Dia lalu pamit pulang, dan sebagai tuan rumah yang baik, atau sekedar memastikan dia benar-benar pergi dari rumah kami, aku mengantarkannya ke depan pagar rumah.
"Hei, Sasuke," Di pintu pagar rumah kami, Naruto menatapku serius. Cengirannya memudar, raut bodohnya untuk sesaat menghilang entah kemana. "Kau tahu, aku tidak sebodoh yang kau pikirkan. Aku jelas tahu bagaimana tatapanmu kepada Hinata-chan."
Dia tidak sekedar mengancam. Dia benar-benar tahu apa yang dia katakan. Aku balas menatap Naruto dengan tatapan menantang. "Lalu apa yang akan kau lakukan? Melaporkanku? Mengatakan pada semua orang tentang seberapa menjijikannya aku?"
"Ya, kau menjijikan," tanganku terkepal. Kami saling menatap untuk beberapa saat sebelum si pria brengsek itu mendengus. "Aku tak akan menyerah. Tidak akan."
Naruto tersenyum mengejek sebelum benar-benar meninggalkan rumahku. Punggungnya menghilang di belokan jalan, dan aku menutup pintu rumahku setelah itu.
"kau menjijikan."
Aku mengenyahkan kalimat itu jauh-jauh. Tak peduli.
.
.
.
"Apa yang kau lakukan?"
Hinata terlihat kaku ketika mendengar suaraku. Perlahan, dia menoleh ke belakang, tersenyum kaku. Tangannya yang terangkat ingin mengambil sesuatu di lemari dapur atas segera ditariknya, dan dia langsung menghadapkan tubuhnya ke tubuhku. Sepasang telunjuk dipertemukan olehnya, dan sepasang iris bergerak gelisah, khas seseorang yang tertangkap basah tengah melakukan sesuatu yang salah.
"A-Aku hanya ingin membuatkanmu sesuatu...," dia melirikkan kedua bola matanya ke arahku yang terlihat begitu lucu dan ... menggoda. "Kurasa, Sasuke-kun belum makan."
Tuhan! Suaranya yang lirih, sikap tubuhnya yang tanpa pertahanan, bagaimana sepasang bola matanya melirik ke arahku dengan tatapan seolah menggoda, dan bagaimana pakaiannya yang meski tidak seseksi bintang porno, masih jelas memperlihatkan lekuk tubuhnya.
Kalau aku bukan seseorang yang lahir dengan kecerdasan di atas rata-rata, kurasa aku akan menyerangnya. Sekarang. Saat ini. Terlebih setelah beberapa jam yang lalu aku telah memimpikan melakukannya bersama Hinata.
"Aku memang belum makan," aku berusaha untuk bersikap normal. "Tapi aku sudah membuat sup dan nasi untuk diriku sendiri. Kau istirahat saja."
Karena akan terlihat tidak normal jika aku tidak mendekat, meski harusnya aku menjauh saja dari Hinata untuk keselamatannya, aku memutuskan untuk mendekat, tapi meminimalkan kontak tubuh dengannya. Jadi, aku langsung menarik tangannya – bermaksud membuatnya berjalan mengikutiku, tapi karena tarikan tanganku terlalu kuat, alih- alih berjalan, tubuh Hinata malah melambung ke depan, hendak jatuh, dan aku refleks mencoba menahan tubuhnya tapi entah aku tersandung apa padahal aku yakin sekali tidak ada apa-apa di lantai dapur, kami malah terjatuh membentur lantai.
Aku terjatuh dengan belakang kepala duluan. Terlentang dengan pergelangan tangan kanan di genggam tangan kiriku, sementara tangan kananku berada di pinggangnya.
Sementara Hinata jatuh tepat di atasku. Wajahnya membentur dadaku, kedua tungkai kakinya berada di antara kedua kakiku yang terbuka. Kepalanya tepat di bawah daguku hingga samar-samar aku dapat mencium wangi lavender dari rambutnya.
Padahal aku yakin sekali dua hari ini Hinata hanya menyeka tubuhnya, dan belum keramas. Tapi kenapa bukannya bau keringat yang kucium, malah bau bunga lavender yang memabukkan yang memenuhi inderaku?
Sial. Kepalaku sakit, dan kuharap Hinata tidak menyadari bagian bawahku yang menyempit.
"Hoi! Kau berat, tahu!"
Hinata terkesiap, lalu cepat-cepat bangun. Kedua tangannya masih menumpu di dadaku ketika dia berusaha bangun. Wajah hingga kupingnya sangat merah karena malu. Sepasang lavendernya berkaca, nyaris ingin menangis. Tubuhnya gemetaran.
... sangat manis sekali. Sial.
Aku bangun dari posisi terlentangku, tangannya yang masih ada di dada kugenggam. Hinata sedikit termenung ketika aku menatapnya dalam. Napasku sudah berat, aku sudah tidak kuat lagi. Aku harus segera menjauh darinya atau ini akan jadi sesuatu yang tidak akan bisa kupertanggung jawabkan.
Tapi sekeras apapun otakku mengatakan bahwa aku harus segera pergi, tapi tubuhku menolaknya. Bukannya menjauh, tanganku malah bergerak menyentuh wajahnya, menghapus setitik air mata di pipi merahnya, perlahan menggerakkan tangan ke belakang kepalanya, menanamkan jemariku di helaian rambutnya, kemudian dengan perlahan memperpendek jarak wajah kami.
Napasnya hangat, wajah bingungnya benar-benar menggodaku, bibirnya terlihat kenyal dan basah, sangat menggiurkan. Detakan jantung yang kudengar seolah menjadi melodi romantis yang malah membuatku semakin bersemangat.
"Sasuke –"
Dan bagaimana Hinata yang memanggil pelan namaku, dan dia yang langsung menutup matanya seolah pasrah dengan apapun yang akan kulakukan kepadanya, membuatku ...
Sudahlah. Aku sudah tidak kuat lagi.
.
.
Aku menyerah menahan perasaan ini.
"kau menjijikan."
Ya. Aku memang menjijikan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hinata POV
Sasuke-kun ada tepat di depanku. Jarak kami hanya sepanjang lenganku yang berada di dadanya. Sepasang matanya yang hitam menatapku dalam.
Aku mendadak lupa caranya bernapas ketika punggung tanganku digenggam oleh Sasuke-kun, sebelah tangannya dengan penuh perasaan membelai rambutku. Perlahan tubuhnya mendekat. Napasnya yang hangat terasa, tatapan matanya sama seperti yang selalu Naruto-kun lakukan sebelum membawaku dalam sebuah ciuman.
Seluruh tubuhku panas. Jantungku berdetak kencang, dan aku merasa suaraku tertahan di tenggorokan. Aku menahan napasku dan memutuskan menutup mata.
Menunggu dengan berdebar-debar.
Dan ... yang kudapat dari penantianku dalam kegelapan selama beberapa puluh detik adalah suara tawa.
Pelan, aku membuka mata, dan melihat Sasuke-kun yang berusaha menahan tawa. Wajahnya tertunduk dalam, tubuhnya gemetaran dan kedua tangannya memegang perut.
Aku cemberut. "Kau..."
"Memangnya kau pikir apa yang akan kulakukan?" Sasuke bertanya, sepasang matanya menatap jahil. Tawanya berubah menjadi sebuah senyuman penuh kemenangan.
Rasanya, wajahku teramat panas sekarang. Aku tak bisa mengatakan apa-apa selain bergerak memukuli Sasuke-kun secara membabi buta. Sasuke-kun berusaha menahan tiap pukulanku sembari mengaduh. Wajahku benar-benar panas, aku sudah memikirkan macam-macam tapi nyatanya Sasuke-kun hanya mempermainkanku?
AAAHH! Menyebalkan.
Tapi... Diam-diam aku tertawa lebar.
Sudah lama kami tidak bercanda seperti ini lagi.
.
.
Keesokan harinya, Aku memutuskan untuk pergi ke sekolah. Aku sudah absen selama dua hari, dan kurasa aku sudah sehat sepenuhnya.
Sasuke-kun sudah berada di depan kamarku ketika aku membuka pintu kamar. "Ayo." Dia mengajakku. Aku mengangguk senang. Sudah lama sekali aku tidak berangkat dan pulang bersama Sasuke-kun.
"Tolong jangan tertawa seperti itu," kata Sasuke-kun ketika melihatku yang terus menatapnya sambil tersenyum. Aku gelagapan dan menunduk malu. Sasuke-kun mengetuk kepalaku pelan. "Adik yang merepotkan," katanya.
Dan perasaan bahagia itu hilang.
Adik...
Untuk sejenak aku melupakan fakta itu. "Aku bukan adikmu, Sasuke-kun," kataku lirih. Menggigit bibir bawah. Aku bukan adiknya...
Aku berharap aku bukan adiknya ...
Jantungku berdetak sakit. Aku menengadah menatap Sasuke-kun yang mendengar lirihanku. Aku memaksakan diri untuk tersenyum. "Kita kan saudara kembar. Ibu dan ayah tidak pernah mengatakan siapa yang kakak dan siapa yang adik, kan?" aku berusaha mengatakan kalimat itu senormal mungkin, sambil tertawa.
"Hm... benar," dan kalimat singkat itu mengakhiri perbincangan kami.
Dalam diam, kami berjalan menuju sekolah. Kami saling berdekatan, tapi entah kenapa terasa jauh sekali.
"Hei, Hinata!"
Aku tersentak mendengar suara ceria itu. Di depanku, Naruto-kun berdiri dengan cengiran cerianya. Sepasang biru yang menghiasi wajahnya bersinar ceria, menatapku hangat. Aku cukup kaget karena mendapat sapaan yang tak jauh berbeda dari sebelum percakapan kemarin.
"Naru –"
Dan aku tidak bisa menghindar ketika Naruto-kun segera meraihku, membawaku ke dalam pelukannya dan mendekapku dengan sangat erat.
Eh?
Sepasang mataku secara reflek bergerak ke arah Sasuke-kun yang berdiri mematung, menatap aku dan Naruto-kun dengan sepasang mata yang gelap dan sinar terluka di sana.
Hatiku sakit.
.
.
"Maaf ya?"
Aku mendengar Naruto-kun berkata seperti itu ketika kami berjalan beriringan memasuki kelas. Aku tak menanggapi kalimat permintaan maafnya. Hanya menunduk dan mempercepat langkah ke bangkuku.
"Hinata-"
"Bukankah Naruto-kun bilang hubungan kita telah berakhir?" aku memotong panggilannya dengan pertanyaan ketika aku sudah duduk di bangkuku dan Naruto-kun berdiri di sampingku. Naruto-kun terdiam sebelum duduk di depanku.
Sepasang matanya menatapku serius, "Sasuke, kan?"
Aku terdiam, tak mengerti.
"Orang yang kau sukai itu ... Sasuke, kan?"
Napasku tercekat. Naruto menghela napas lagi. Seolah lelah, berusaha menahan dirinya sendiri untuk tidak berteriak kesal.
"Dengar," suaranya dalam, berusaha menahan luapan emosi yang memuncak. "Aku memang mengatakan bahwa hubungan kita telah berakhir dan aku akan mendukungmu dengan orang yang kau sukai," Ada hela napas yang menjadi jeda kalimatnya. "Tapi aku berubah pikiran."
Aku mati-matian menahan diri agar tidak menangis. Ini masih pagi, aku tak boleh merusak pagiku dengan air mata.
"Aku tak akan membiarkan orang yang aku sukai memilih jalan yang salah. Tidak, Hinata. Tidak. Aku tak akan membiarkanmu terjerumus hal tabu. Dia saudaramu, Hinata."
Lalu apa masalahnya dengan saudara?
"Maaf, Hinata. Aku tak akan melepaskanmu."
Kalimat Naruto-kun selanjutnya membuatku tak bisa menahan air mata karena berbagai macam perasaan yang tercampur aduk.
"Meski kalian saling mencintai, aku tak akan mundur."
Naruto-kun pergi menuju bangkunya setelah mengatakan kalimat itu. Setelah memorak porandakan hatiku, setelah merusak pagiku, setelah mengatakan satu kalimat yang seharusnya tidak pernah kudengar.
Meski kalian saling mencintai
Saling mencintai? Jadi...
Aku mengingat tatapan gelap Sasuke-kun tadi pagi ketika Naruto-kun memelukku. Aku mengingat bagaimana sikapnya ketika aku menceritakan tentang Naruto-kun, dan aku menggabungkannya dengan kalimat yang Naruto-kun ucapkan tadi.
Ah...
Aku merasa sesak.
Tuhan ...
Bagaimana ini?
.
.
.
To Be Continued
Author Note:
Niatnya 3 chapter tamat, tapi apalah daya imajinasi menginginkan lebih. Jadi, sampai berjumpa di Chapter berikutnya ... yang sebenarnya tinggal edited sih... Semoga bisa saya publish seberes lebaran.
Mohon maaf atas semua kesalahan saya, dan perkataan saya di chapter sebelumnya, ya...
Ngomong-ngomong, kalau kalian menyukai SasuHina, dan ingin memiliki fanmerch-nya, saya sedang membuka PO untuk MUG, Gantungan Kunci dan Kaos lho... PO di buka sampai tanggal 20 Juli, silakan kunjungi Profil saya (Klik kata 'Me-Tan Online Shop) atau langsung ke fanspage Facebook Me-Tan Online Shop saja ya... tersedia art keren buatan fanartist SasuHina lho (Grey Cho, Gina Atreya, Dwy dan Ken). Jangan sampai ketinggalan PO keren ini ya... *KecupManis.
.
.
Pojok Balas Review
Ceritanya bagus dan menarik. Terima kasih *smile* Berharap author melanjutkan dan memberikan beberapa kejutan di chapter depan. Semoga di chapter ini ada kejutannya juga. *SiulSiul. Suka. Terima kasih *Smile. Semangat! Pasti! Terima kasih ^^. Ditunggu Chapter selanjutnya. Sudah Update, selamat membaca ^^. Mereka bukan saudara Kandung? EngIngEng... nyatanya mereka saudara kandung. Apa Naruto memutuskan hubungan dengan Hinata? Awalnya, tapi tidak jadi ketika Naruto menyadari siapa yang Hinata sukai. Chapter 3 itu chapter final? Awalnya, tapi ternyata saya memtuskan tamat di chapter 5. Ke mana Sasuke? Dia ada di depan pintu kamar Hinata selama berjam-jam... hiks. incest is kinda gross, i think this story can evolve into something so much more than that. Yeah... tapi saya inginnya membuat cerita tentang Incest... terima kasih sarannya *Smile. Jangan lupa lemonnya. Haha... ditunggu aja. Jangan-jangan Sasuke anak nemu? Gak. Sasuke murni anak ibu bapaknya di cerita ini. Jangan sampai mereka beneran kembar. Huwaa... mohon maaf mereka nyatanya kembar.
Kalau tidak salah, 17 tahun lalu internet belum ada lho. Agak terganggu dibagian ibu yang mengupload foto mereka di akun sosial media. Eto ... Maafkan saya yang setting waktunya masih berantakan. Jadi, kalau melihat chapter tiga, SasuHina baru dipertemukan ketika usia mereka 4 tahun, kebiasaan ibu mereka upload foto ke medsos kurang lebih 13 tahun yang lalu dari waktu ini, kurang lebih awal tahun dua ribuan (?). Nah, pada awal ini, di Jepang sudah mulai ramai penggunaan Media sosial, meski dulu namanya bukan media sosial. Di fict ini saya tidak mencantumkan medsosnya apa, bisa jadi saya mengacu Friendster atau yang lebih lama dari itu, begitulah. Haha. Terima kasih kritikannya. *smile. Apa mereka akan mengungkapkan perasaan masing-masing? Selamat menanti jawabannya di chapter berikutnya *Smile. Jadi, SasuHina itu beda empat tahun atau kembar? Mereka kembar. Ada alasan kenapa mereka bar bertemu saat usia mereka empat tahun. Hinata kok baru ketemu Sasuke pas umur empat tahun? Akan dijelaskan di chapter depan.
Orang tua mereka percaya mitos dari Indonesia yang katanya kalo anak kembar cewek-cowok musti dipisahin dulu? Eh, saya malah baru tahu lho ada mitos itu... mitos dari daerah mana kalau boleh tahu? Berharap momen SasuHina nya bisa lebih romantis, lebih gemesin dan lebih intens. Di chapter berikutnya akan lebih intens lagi. Ceritanya beda dari yang lain. Haha.. terima kasih. Padahal kami review karena menghargai yang nulis cerita dan bingung mau review apa jadi hanya kata lanjut aja sebagai penyemangat. Saya juga minta maaf jika kalimat saya di chapter sebelumnya, saya hanya ingin tahu bagaimana pendapat kalian, tapi ternyata sayamalah menyinggung kalian, benar-benar... mohon maaf. *Bungkuk. Hinata, Sasuke, "Follow your heart ,not the law". *langsungDiSampeinKeSasuHina* Masalahnya, ketentuan Tuhan yang sedang mereka pertaruhkan... Hati tidak bisa berbohong soalnya *Eyya. Author nulis fanfic our family di gudang fanfic sasuhina kah? Ya, itu saya. Apa tidak akan dilanjut? Saya pastikan akan dilanjut, hanya saya sedang menimbang ulang ceritanya, karena ya... saya tipe yang tersendat di ending, hiks. Mirip boku wa imouto ni koi wo suru. Hm... saya lupa judulnya, tapi kayaknya iya deh. Yang gambarnya masih gambar agak jadul gitu bukan?
.
Spesial untuk Chapter Depan
.
"Jika kukatakan aku mencintaimu, lebih dari yang seharusnya, apa yang akan kau lakukan?"
Air mata.
.
.
"Kh... Sasu – Kh..."
Kecupan. Dekapan. Dua tubuh yang menyatu.
.
.
"Aku mencintaimu. Sangat."
Kalimat yang tak seharusnya terucap.
.
.
Tangan yang terulur.
"Ayo kita pergi."
"Ke mana?"
"Ke tempat di mana tidak ada seorang pun yang tahu tentang kita."
.
.
"Haruskah aku melupakan Tuhan agar tak kehilangan dirimu?"
.
PRANG!
"Apa maksudnya ini? TAK SADARKAH KALIAN BAHWA KALIAN BERSAUDARA?"
Luka.
.
"Lupakan Sasuke. Kembalilah mencintaiku."
Penawaran.
.
.
Chapter 4: Keputusan
Up 20 Juli 2016.
