Hari-Hari Yang Penuh Kejutan Pun Dimulai
.
.
.
.
.
Magic Univercity of Hokkaido
Peraturan Sekolah Yang Aneh
Pada hari ini, semua calon mahasiswa yang sudah dianggap lulus dan akan menuntut ilmu sihir disini pun berbondong-bondong memenuhi halaman pekarangan universitas yang memiliki luas hampir 10.000 hektar. Sudah termasuk dengan halaman, asrama mahasiswa dan asrama mahasiswi maupun gedung belajar-mengajar. Dari luar gedung, sekilas hanya tampak seperti seperti sekolah biasa yang tak ada bedanya dengan sekolah lain. Namun saat pengenalan sekolah dimulai, disinilah rahasia yang tak banyak orang mengetahui hal ini.
"Ah, ramai sekali disini" gerutu Ino mencari posisi yang luas untuknya berdiri.
"Kita ke depan saja, disini cukup sempit" ajak Sakura menarik lengan gadis berkepang kuda itu menuju barisan paling depan.
Karena tak begitu memperhatikan ke sekelilingnya, Sakura tak sengaja menyenggol seorang gadis yang sudah lebih dahulu mengambil tempat di barisan terdepan.
"Argh!" suara ringisan seorang gadis berambut indigo itu.
"Ah, maaf. Aku tak sengaja" ucap Sakura dengan wajah yang merasa bersalah.
"Ah, tak apa. Cuma kesenggol saja kok" sahut gadis itu dengan senyum ramahnya.
"Yakin? Tapi, wajahmu tampak pucat" Tanya Sakura.
"Eh? Wajahku memang seperti ini sejak lahir"
"Begitukah? Syukurlah"
.
.
.
"Apa kau juga mahasiswa baru disini?" Tanya gadis itu.
"Hn, ya begitulah. Bagaimana denganmu?" sahut Sakura membalas senyuman gadis itu.
"Aku juga, oh ya, siapa namamu? Namaku Hinata Hyuuga" sapa gadis itu sembari menyodorkan tanganya kepada Sakura.
"Ah, Aku Sakura Haruno. Senang berkenalan denganmu" Sakura pun menjabat tangan gadis Hyuuga itu.
"Ehem!" suara dehaman dari sebelah kanan Sakura, membuatnya mengalihkan wajahnya ke sahabatnya yang sedari tadi memperhatikan tingkah Sakura.
"Oh, sampai lupa. Ini Ino Yamanaka, sahabatku. Dan Ino, ini Hinata Hyuuga"
Ino dan Hinata pun saling berjabat tangan dan menebarkan senyuman manis mereka. Tak lama berselang, seluruh guru besar dan panitia universitas berkumpul dihadapan para mahasiswa baru. Seorang lelaki paruh baya berjalan 5 langkah dari guru-guru besar yang ada.
"Ohayo, minna-san!" sapa lelaki berambut pirang itu.
"Ohayo..!" sahut seluruh mahasiswa baru dengan serempak.
"Sepertinya kalian sudah berkumpul semua, baiklah! Kurenai-sensei, kita pindah" seru lelaki itu kepada seorang wanita paruh baya yang berjalan 3 langkah dari posisi awalnya.
"Rotation displacement magical!" seru wanita berambut ikal tak beraturan itu.
Seperti sihir, timbul cahaya yang sekejap mata lalu menghilang begitu saja. Dan seketika pula terjadi pergeseran pada tanah dan getaran-getaran yang seakan menarik keatas awan. Tiba-tiba, tanah dan gedung yang diinjak oleh seluruh mahasiswa baru naik ke udara. Meninggalkan daratan bumi, tanpa meninggalkan sebuah lobang seluas halaman sekolah. Melainkan terdapat sekolah menengah atas yang sedang melaksanakan proses belajar-mengejar, namun yang anehnya para siswa SMA itu tak merasakan getaran yang dirasakan oleh para mahasiswa baru itu.
"Ha! Kenapa ini?" seru Sakura mulai gelisah.
"Tenanglah, Sakura-chan. Ini hanya perpindahan wilayah gedung saja" kata Hinata sembari memegangi kedua bahu Sakura.
"Perpindahan wilayah gedung?" Tanya Ino.
"Ah, kalian belum tau? Universitas ini tak memiliki wilayah di daratan bumi, sebagai sekolah penyihir mereka membuat univesitas ini mengambang di udara" jelas Hinata.
"Lalu mereka yang dibawah, kenapa tak merasakan getaran tadi?" Sakura mulai merasa penasaran dengan sekolah barunya ini.
"Tidak, yang bisa melihat sekolah ini pun hanya orang-orang tertentu saja. Makanya, para siswa SMA tak mengetahui selama ini dimana Universitas Sihir Hokkaido ini" tambah seorang gadis berkacamata merah menghampiri mereka.
"Ah, Karin-chan. Lama tak berjumpa!" sapa Hinata kepada gadis berambut merah itu.
"Ya, mereka kah teman-teman barumu?" Tanya gadis yang dipanggil dengan sebutan 'Karin' oleh Hinata.
"Begitulah. Oh ya, kenalkan ini Sakura dan Ino. Dan ini Karin Uzumaki" Hinata mencoba memperkenalkan gadis-gadis itu satu sama lain.
Karin menatap tajam Sakura dan Ino, seperti tak menyukai gadis-gadis itu. Lalu menebarkan senyuman dan menjawat tangan Sakura dan Ino. Membuat dua gadis itu tertegun, apa maksud dari gadis berkacamata itu. Tak mau membuat teman-teman barunya salah sangka, Karin pun angkat bicara.
"Ah, maaf. Tadi aku hanya mendeteksi apakah kalian calon penyihir jahat atau tidak" jelas Karin.
"Karin mempunyai sihir mendeteksi aura musuhnya menggunakan kacamatanya itu" tambah Hinata.
Mendengar penjelasan Karin dan Hinata, Sakura dan Ino saling menatap satu sama lain. Kemudian melepaskan tawa mereka.
"Hahah.. tak apa, kami mengerti" sahut Ino.
"Kalau sihir yang kau miliki apa Hinata?" Tanya Sakura.
"Garis keturunan keluargaku, Hyuuga memiliki mata yang dapat mendeteksi tingkat kekuatan sihir lawan dan titik lemah lawan" jelas Hinata.
"Ah, berarti kau tau dimana letak kelemahan kami?" Tanya Ino lagi.
"Tidak, itu sebabnya aku belajar disini. Untuk mengembangkan sihir keluargaku itu"
"Wah, berarti harus berhati-hati jika nanti menghadapi, Hinata" canda Sakura.
"Hahah, kau bisa aja Sakura. Oh ya, sihir yang kalian miliki apa?" Hinata berbalik bertanya.
"Ah, kalau keturunan keluargaku, Yamanaka memiliki sihir mengendalikan pikiran atau tubuh lawan" sahut Ino dengan lugas.
"Ah, menakutkan sekali. Jadi, kau bisa mengendalikanku begitu?" sindir Hinata.
"Haha, sama sepertimu. Aku juga belum ahli melakukannya, pernahku coba malah kucing yang kukendalikan" sahut Ino.
Mendengar jawaban Ino tadi, Sakura, Hinata dan Karin hanya tertawa begitu saja. Yaa, begitulah indahnya persahabatan. Tapi, itu baru awal dari mereka berempat. Masih banyak waktu yang akan mereka lalui bersama. Apakah berjalan lancar atau hancur ditengah jalan? Kita belum tau pasti.
"Ah, bagaimana dengan sihir yang kau miliki, Sakura?" Tanya Karin memecahkan suasana tawa mereka.
"Ah, kalau aku.."
Belum sempat menjawab, Sakura terpaksa bungkam karena perpindahan wilayah gedung seperti yang dikatakan Hinata dan Karin sudah selesai. Sekarang mereka tepat berada diatas 10 kaki dari permukaan laut. Cukup tinggi bukan? Dan suasana udarapun berubah menjadi sejuk dari biasanya. Bagi mereka yang terbiasa tak begitu masalah, tapi bagi mereka yang belum terbiasa. Siap-siap mati kedinginan selama menuntut ilmu di Universitas Sihir Hokkaido ini.
"Baiklah, sebelum kalian memasuki aula. Saya akan memperkenalkan beberapa dosen termasuk saya sendiri yang merupakan rektor di universitas ini, nama saya Namikaze Minato" seru lelaki paruh baya itu sembari memperkenalkan diri.
Kemudian majulah seorang lelaki berambut hitam dengan senyuman yang selalu tak lepas dari wajahnya. Dia membungkuk artinya ia member hormat kepada seluruh mahasiswa baru yang berada tepat di hadapannya. Melihat lelaki itu, banya dari mahasiswa terutama kaum wanita berteriak-teriak seakan mengenal lelaki itu.
"Perkenalkan saya Uchiha Itachi, dosen bidang pengendalian sihir yang terpendam" ucap lelaki itu kemudian kembali ke tempatnya.
"Saya Kurenai, dosen bidang sihir kamufalse atau persembunyian" kata wanita paruh baya yang sedari tadi berdiri dibelakang Minato.
"Saya Kakashi Hatake, dosen bidang sihir kilat atau petir" seru lelaki berambut putih dengan topeng yang menutupi sebagian wajahnya.
"Saya Konan, hanya seorang dokter yang bertugas jika kalian ada yang sakit. Tapi, kalian harus tetap memanggilku dengan sebutan 'sensei'!" sapa wanita bersurai biru tua dengan bunga mawar putih di kepalanya.
Dan bla, bla, bla.. Masih banyak guru yang memperkenalkan dirinya. Setelah memperkenalkan semua dosen, rector universitas itu menyuruh seluruh mahasiswa baru memisahkan barisannya sesuai jenis kelamin mereka.
"Baiklah, pisahkan barisan kalian! Laki-laki disebelah kiri ikuti Kakashi-sensei, perempuan sebelah kanan ikuti Itachi-sensei!" seru Minato dengan lantang kemudian hilang begitu saja.
Dengan semangat mahasiswi mengikuti langkah Itachi memasuki aula besar yang dimiliki oleh universitas ini. Dan sebenarnya ada dua, yang sengaja dibangun untuk memisahkan kaum laki-laki dan kaum perempuan.
Mahasiswa baru di tuntut untuk memiliki sihir petarung, bukan pelindung. Sedangkan mahasiswi boleh memilih menjadi penyihir petarung atau pelindung. Tapi, setiap tahunnya tak satu pun mahasiswi yang menjadi penyihir petarung.
"Nah, gadis-gadis calon penyihir. Silahkan ambil tempat kalian, sebentar lagi akan di umumkan peraturan-peraturan universitas ini" seru Itachi berdiri di depan papan tulis yang mengembang di belakangnya.
Dari belakang, Konan mengikuti Itachi memasuki aula. Sedangkan dosen-dosen lain menemani Kakashi dan Kurenai di aula khusus laki-laki. Melihat Konan yang selalu lengket dengan Itachi, para mahasiswi yang sirik mulai membicarakan mereka.
"Konan-sensei kenapa dekat-dekat dengan Itachi-sensei sih? Apa dia kekasihnya?" ucap gadis A.
"Ah, palingan wanita genit yang ingin mendekati Itachi-sensei" sahut gadis B.
Mendengar pernyataan gadis B, Konan hanya menundukan kepalanya. Dia merasa tersinggung dikatai sebagai wanita genit yang ingin mendekati Itachi. Melihat raut wajah Konan yang berubah, Itachi menarik lengan kecil Konan hingga dekat dengannya. Melihat tindakan Itachi, Konan bahkan seluruh mahasiswi sontak terkejut dan terperangan. Sedangkan Itachi hanya menebarkan senyumannya yang mempesona.
"Kalian tak boleh mengetai calon istriku seperti itu, kalian harus menghargai pilihan orang lain" seru Itachi kemudian memandang calon istri yang sedang berada di dekapnya.
Sebuah kecupan manis mendarat dikening wanita muda itu, dan seketika merubah rona wajah wanita bersurai biru itu menjadi merah pandam. Jangankan Konan yang menerima kecupan manis itu dari kekasinya, mahasiswi yang melihat momen itu pun ikut berubah rona wajahnya.
Pletak!
"Itai..!" Itachi meringis kesakitan karena kepalanya di timpuk dengan buku.
Bukan gadis yang dicintainya yang melakukan hal seperti itu, melainkan rector universitas yang tiba-tiba muncul dari belakang Itachi.
"Jangan kau racuni mahasiswi baru ini, Itachi!" seru Minato dengan tegas sembari meletakan buku yang ia gunakan untuk menimpuk kepala Itachi.
"Ah, maafkan aku, rektor!" sahut Itachi dan sekali lagi menebarkan senyumannya.
Minato tak memperdulikan Itachi, ia hanya berjalan lebih mendekati para mahasiswi. Kemudian menatapi para mahasiswi barunya, dan menghela nafas panjang.
"Sebelum kalian mulai belajar pada hari esok, saya akan memberitahu kalian tentang peraturan sekolah ini, yaitu beda dengan universitas pada umumnya kalian hanya diberikan waktu 30 hari untuk menuntut ilmu di universitas ini..." jelas minato dan menggantung perkataannya.
Mendengar penjelasan rector itu, para mahasiswi yang awalnya tenang berubah menjadi gaduh. Mempermasalahkan lamanya mereka menuntut di Universitas Sihir Hokkaido itu.
"Yang benar saja? Bagaimana mungkin 30 hari cukup untuk mempelajari ilmu sihir" ucap mahasiswi A.
"Ah, parah sekali. Masa universitas yang seterkenal ini hanya melaksanakan belajar-mengajar selam 30 hari, sih?" tambah mahasiswi B.
Mendengarkan penuturan mahasiswi A dan mahasiswi B, Minato merekahkan senyumannya. Lalu melanjutkan perkataannya tadi.
"Ya, itu untuk mengantisipasi para penyihir jahat mempelajari ilmu sihir kegelapan" sambungnya.
Seluruh mahasiswi terdiam mendengar sambungan ucapan Minato, dan memfokuskan pandangan mereka kepada rector universitas itu.
"Dan satu lagi, seminggu sebelum mendekati 30 hari kalian. Kalian harus mencari partner kalian untuk mengikuti ujian akhir, kalian boleh menjalin hubungan dengan partner kalian alias pacaran" tambah Minato.
Lagi-lagi para mahasiswi gaduh dengan penuturan Minato. Bagaimana tidak? Diperbolehkan pacaran dengan partner masing-masing. Padahal biasanya peraturannya adalah tidak boleh pacaran dengan partner mereka. Ini malah sebaliknya.
"Andai saja partnerku, Itachi-sensei. Kyaa" jerit beberapa mahasiswi membayangkan bahwa Itachi yang menjadi partner mereka.
"Hey! Dosen bukanlah partner kalian, dan lagi cuma satu partner untuk satu mahasiswi. Kalian boleh pacaran, tapi tak boleh bermesran-mesraan maupun membawa partner kalian ke asrama kalian. Jika ketahun, kalian akan ditendang dari universitas ini" seru Minato kemudian mengambil nafas panjang.
"Dan jika kalian tak mendapatkan partner juga, maka mau tak mau kami akan memilih partner kalian. Untuk hari ini sekian, konichiwa!" tambah Minato kemudian hilang seperti biasanya.
Memang rektor universitas itu sangatlah menampakan bahwa universitas ini memanglah tempat menuntut ilmu sihir. Bukanlah seperti universitas pada umumnya. Setelah mendengar penjelasan lelaki paruh baya berambut pirang itu, seluruh mahasiswi meninggalkan aula besar itu dan mulai berpencar menyelusuri seluk beluk universitas ini.
Begitu juga dengan Sakura, Ino, Hinata, dan Karin. Mereka berpencar menyelusuri setiap gedung-gedung ini. Sakura berjalan menuju sebuah danau, danau yang sangat indah. Dengan pepohonan yang rindang, semakin menambah keindahan danau itu.
'Diatas tanah yang mengambang diudara ini, masih ada danau seindah ini? Kirei!' gumam Sakura sembari menikmati keindahan danau yang cukup luas itu.
Tiba-tiba pandangan gadis bersurai merah muda itu tertuju kepada seseorang lelaki yang berjalan memasuki danau itu. Semakin lama, tubuh lelaki berambut seperti ekor ayam itu semakin terbenam di danau nan indah itu.
'Apa yang dilakukannya? Atau jangan, jangan..' gumam Sakura.
Tanpa pikir panjang, Sakura berlari sekuat tenaga mengejar lelaki berambut raven itu yang hampir tak terlihat dipermukaan danau itu.
"Ah! Hey, tunggu..! jangan lakukan itu!" teriak Sakura memanggil lelaki itu.
Splash!
Sakura terbenam di air danau yang dalamnya hampir mencapai 5 meter itu. Dia masih memijak dasar danau bagian tepian, namun ia tak juga melihat keberadaan lelaki yang ia lihat tadi.
'Dimana lelaki itu? Apa dia sudah tenggelam?' gumam Sakura.
Bluk!
'Lah, kok? Ah! Aku lupa, aku tak bisa berenang! Siapa pun, tolong aku!' gumam Sakura yang sudah panik jika ia sampai mati tenggelam.
Sedari lahir, Sakura memang tak pandai berenang maupun menyelam. Jangankan danau, kolam renangpun ia tak pernah berenang. Paling hanya bermain di tepi kolam menggunakan pelampung. Jadi maklum saja, kali ini ia tenggelam di danau yang belum diketahui namanya ini.
Akhirnya, selesai juga chapter 2 nya. Huft! *mengelapjidat
Masih panjang nih kayaknya yaa, minna-san. Jadi, aku masih perlu saran-saran kalian. Makanya, jangan lupa tinggalkan review kalian yaa. Jika berkunjung membaca ceritaku ini.
Dan Arigato gozaimasu sudah membaca ceritaku. Sampai jumpa di chapter 3 yaa, minna? Bye! Sayonara! ;) *ditendang
