"Ah! Hey, tunggu..! jangan lakukan itu!" teriak Sakura memanggil lelaki itu.

Splash!

Sakura terbenam di air danau yang dalamnya hampir mencapai 5 meter itu. Dia masih memijak dasar danau bagian tepian, namun ia tak juga melihat keberadaan lelaki yang ia lihat tadi.

'Dimana lelaki itu? Apa dia sudah tenggelam?' gumam Sakura.

Bluk!

'Lah, kok? Ah, cotto matte! Aku lupa, aku tak bisa berenang! Siapa pun, tolong aku!' gumam Sakura yang sudah panik jika ia sampai mati tenggelam.


Magic Univercity of Hokkaido

The Beginning

Splash!

"Kau baik-baik saja?" sebuah suara yang menyadarkan gadis bersurai itu bahwa dia tak lagi berada diambang kematian.

'Yokatta! Aku selamat' gumam Sakura tak menyadari bahwa dia telah dituntun ke tepi danau.

"Kau baik-baik saja, nona?"

Dan sekali lagi pertanyaan yang sama terlondar dari seorang lelaki berambut khas pantat ayam itu kepada Sakura.

"Hee.. A-aku baik-baik saja, arigato" Sakura mencoba berdiri setelah digendong ala pengantin menuju tepian.

"Sama-sama. Apa yang kau lakukan?"

"Hm? A-apa?"

Entah karena hampir mati, atau otaknya memang sudah lambat tanggap. Sakura bertanya seakan-akan pertanyaan lelaki itu sangatlah aneh dan cukup sulit dicerna.

"Apa yang kau lakukan tadi?" Tanya lelaki itu kembali.

"Mencoba menyelamatkanmu" sahut Sakura dengan polos. Tapi, jika dipikir-pikir yang diselamatkan bukanlah lelaki itu melainkan Sakura sendiri.

"Menyelamatkanku? Dari apa?"

"Bukankah, kau sempat ingin bunuh diri?"

"Hee" lelaki itu menatap Sakura dengan pandangan aneh. "Aku tak sedikitpun memikirkannya"

"La-lalu, tadi kau a-apa.. eh, sedang melakukan apa?" Sakura mati kutu karena salah menyangka orang ingin bunuh diri pada orang yang menyelamatkan nyawanya sendiri.

"Menyelam" sahut lelaki itu dengan datar.

"Menyelam, oh begitu.. Eh, bukannya itu biasanya dilakukan di pantai perbatasan laut?"

"Pantai? Laut? Apa itu? Sejenis tempat terlarangkah?" Tanya lelaki itu dengan polos.

'What the hell? Apa-apaan lelaki ini? Masa' Pantai dan laut aja tidak tau' gumam Sakura dalam iner-nya.

"Ah, itu semacam danau ini juga. Namun, lebih indah dan luas. Bagaikan langit yang terbentang luas" sahut Sakura dengan semangat.

"Oh.." jawab lelaki itu dengan singkat, padat, jelas dan membuat Sakura jengkel. "Ugh, aku harus pergi"

"Ah, Cotto matte!" seru Sakura mencoba mengejar lelaki yang sudah hilang sekejap mata dibalik rimbunan pohon-pohonan.

'Aku lupa tanya namanya, ya sudahlah.. sebaiknya aku kembali ke asrama' gumam Sakura berjalan meninggalkan danau tak bernama itu.

Tap!

'Astaga! Aku lupa, universitas ini kan luas sekali. Bahkan aku tak tau dimana asrama putrinya!' Sakura tampak panik sembari mengedarkan pandangannya. 'Kanan, kiri atau lurus aja? Aduh, habislah aku!'

"Hey? Apa kau tersesat nona?" sebuah suara mengalihkan pandangan Sakura ke sumber suara, tampak seorang lelaki berambut merah menyala bak api membara.

"Hm, begitulah. Apa kau tau asrama putrid dimana?"

"Ya, mau kuantar"

"Tentu"

Belum sempat Sakura melangkahkan kakinya untuk mengikuti lelaki itu menuju asrama putri, lelaki bertubuh tinggi itu menghentikan langkahnya lalu menatap Sakura.

"Kau percaya padaku, nona?"

"T-tentu"

"Apa kau pikir aku melakukannya tanpa imbalan?"

"Memangnya kau meminta imbalan apa?"

"Hmm.." lelaki itu berfikir sejenak. "Aku akan mengantarmu, jika kau memberi sebuah ciuman di bibir atau semacam itu"

'What?' gumam Sakura yang hampir berhasil mengeluarkan manik emerald hijau miliknya itu. "Tidak! Terimakasih! Lebih baik aku mencari sendiri, bye!"

Sakura cukup kesal tampaknya mendengar permintaan imbalan lelaki berambut merah api tersebut. Bagaimana tidak? Disuruh mencium lelaki yang tak dikenal karena sebuah pertolongan kecil? Yang benar saja. Meskipun Sakura harus mengakui lelaki itu cukup tampan, tapi tetap saja dia kesal dengan lelaki itu.

'Aku benar-benar tak sudi bertemu lelaki kurang ajar itu!' Sakura mulai bergerutu sendiri sampai tak sadar ia sudah sampai mana sekarang. 'Hee, dimana lagi ini? Ya tuhan, tersiksa sekali hidupku ini. Sudah hampir tenggelam, ketemu lelaki kurang ajar, dan sekarang tersesat di gedung-gedung universitas sendiri? Huuft..'

"Apa yang kau lakukan di sini nona?" sebuah pertanyaan membuyarkan khayalan Sakura tentang dirinya akan mati kedinginan dengan pakaiannya yang basah dan tersesat di sekolah barunya ini.

"Ah, kau baik-baik saja? Kau tampak basah kuyub" Tanya lelaki berambut pirang dengan tiga garis horizontal di masing-masing pipinya.

"Ah, ini karena kecelakaan kecil"

"Sebaiknya kau harus mengganti pakaianmu agar kau tak sakit dihari pertama sekolahmu besok" anjur lelaki itu.

"Itulah masalahnya"

"Masalah? Biar kutebak, kau tersesat mencari asramamu kah?"

"Yap, dan tebakanmu tepat sekali"

"Kalau begitu aku yang akan mengantarmu kesana, aku tak tega melihatmu seperti ini"

Sakura tak banyak bicara, jadi tanpa sadar mereka sudah sampai disebuah gedung tampak seperti rumah atau asrama. Dan memang itu adalah asrama, sebuah asrama khusus kaum wanita yang bersekolah disini.

"Nah, ini tempatnya. Sebaiknya kau cepat masuk, sebelum kau diteriaki oleh ibu asrama" anjur lelaki itu sambil tercengir kuda.

"Hn, arigato. Ano, boleh tau namamu siapa?" Tanya Sakura menghentikan langkah lelaki beriris Ocean tersebut.

"Oh, namaku Na- eh.. Uzumaki Naruto, namamu siapa nona?" sahut lelaki bernama lengkap Uzumaki Naruto itu.

"Namaku Sakura, Haruno Sakura"

"Senang berkenal dengamu, Sakura-chan"

Tanpa berkata-kata, Sakura hanya mengangguk pelan dan menghantar kepergian Naruto hingga tak tampak dipelupuk mata gadis bersurai merah muda itu.

.

.

.

"Astaga, Sakura! Kau bahkan basah kuyub dihari pertama kita menempati asrama ini!" celoteh gadis bersurai pirang itu memandangi pakaian Sakura yang sudah sangat berat karena terlalu banyak menyerap air.

"Ini karena kecelakaan kecil tadi di danau, Ino" sahut Sakura dengan santai mengeringkan rambutnya.

"Danau, apa kau mencoba bunuh diri? Heh? Aku tau kau tak pandai berenang, dan buat apa kau kesana, forehead?" seru Ino mulai mengoceh bagaikan ibu-ibu.

"Aku tak mungkin bunuh diri, pig!"

"Lalu, kenapa kau sampai basah-basah begini?"

"Aku hampir tenggelam karena ingin menghentikan lelaki yang ingin bunuh diri"

"Sudah kuduga, kau sok jadi pahlawan padahal kau tak pandai berenang.." Ino mengangguk bak detektif yang sedang memecahkan masalah. "Eh? Lelaki? Apa dia tampan?"

"Aku tak begitu mengingatnya, tapi dia memiliki rambut seperti pantat ayam dan iris mata yang hitam" Sakura mencoba mengingat-ingat wajah lelaki yang lebih tepatnya menyelamatkannya.

"Sepertinya aku mengenal ciri-ciri itu, apakah dia tak banyak bicara?"

"Ya, begitulah. Mungkin(?)"

"Sesuai dugaanku, dia Uchiha Sasuke. Berhati-hatilah dengannya, aku dengar dia mempunyai jelmaan iblis pada tubuhnya"

"Iblis? Tapi, ia tak tampak menakutkan"

"Walau begitu, kau harus tetap berhati-hati Sakura"

"Hn, baiklah. Oh ya, kau tau lelaki berambut merah bak api dan sikapnya sangat kurang ajar bagiku"

"Sangat mudah ditebak itu, Sakura. Dia Gaara, memang dia tampan namun sangat suka mengganggu wanita yang dianggapnya manis atau menarik"

"Sudah kuduga, dari sikapnya juga sudah ketahuan"

"Tapi, dia cukup tampan jika dijadikan seorang pacar" Dan Ino mulai membayangkan ia sedang kencan dengan lelaki berambut api eh.. berwarna seperti api maksudnya.

Bletak!

"Itai! Kau kenapa, forehead?" seru Ino kesal karena Sakura membuyarkan khayalannya.

"Ah, tadi ada serangga di kepalamu"

"Cih!"

Hening sejenak.

"Oh ya, kau kenal dengan lelaki berambut pirang namanya kalau tak salah Uzumaki Naruto" Sakura mencoba memulai pembicaraan yang sempat terputus.

"Uzumaki? Sepengetahuanku ya, yang namanya Naruto itu.."

Tok! Tok!

"Kalian jangan berisik! Ini sudah malam, cobalah untuk tidur!" sebuah seruan berasal dari balik pintu kamar Sakura dan Ino, dan membuat mereka menghentikan pembicaraan lalu tidur diatas ranjang mereka masing-masing.

.

.

.

Keesokan Harinya

"Ohayo Ino" sapa Sakura dengan semangat.

"Hng..? Ohayo, Sakura" sahut Ino bangkit dari ranjangnya.

"Apa aku perlu menunggumu? Atau kau kutinggal?" Tanya Sakura sembari menyiapkan semua buku pelajaran di hari pertamanya.

"Ah, chotto.. matte yo" ujar Ino lalu bergegas masuk ke kamar mandi dengan sebuah handuk di pundaknya.

Sedangkan Sakura setia menunggu di meja belajar miliknya, sembari membaca buku-buku yang sengaja ia bawa untuk bacaan jika ada waktu luang sebentar.

.

.

.

"Ano, Sakura-chan?" sebuah suara yang mengalihkan pendengaran Sakura dari curhatan Ino tentang lelaki idaman yang ingin dijadikan seorang pacar.

"Ah, Uzumaki-san. Ada apa?" Tanya Sakura.

"Panggil saja, Naruto. Boleh aku berbicara padamu sebentar?"

"Boleh, silahkan saja Naruto"

Lelaki berambut pirang itu mengedarkan pandangannya sesaat kemudian kembali menatap gadis bersurai merah muda itu. Sedangkan Ino masih termenung melihat Sakura dan Naruto dihadapannya.

"Tapi, tidak disini. Mari aku tunjukan tempatnya" sambung Naruto lalu menarik lengan kecil milik gadis bermarga Haruno itu.

Dengan lengan yang sedang ditarik, Sakura memandang Ino yang tertinggal dengan wajah panik. Namun tampaknya tidak bagi Ino, ia malah melambaikan kedua tangannya sambil berisyarat 'Ganbatte yo, Sa-ku-ra!' lalu berlalu dibalik gedung yang menghalangi pandangannya.

"Nah, disini tempatnya. Masuklah, Sakura-chan" ujar Naruto kemudian membuka salah satu pintu yang tampak sangat mewah dan tinggi besar.

Sakura tak langsung masuk namun memandangi pintu itu dengan bergumam, 'Ini universitas atau istana sih? Pintunya aja semegah ini, belum ruang kelasnya, apalagi kamar mandinya'. Setelah bergumam seperti itu, Sakura melangkahkan kakinya masuk dari salah satu pintu yang tepat dihadapannya.

"Aku sudah membawanya!" seru Naruto.

"Oh, masuklah. Kami sudah menunggu didalam" sahut seseorang dari dalam ruangan yang cukup luas bagi seorang guru.

"Permisi!" ujar Sakura dengan sopan tanpa tau siapa yang akan ia hadapi nantinya.

"Ah, jadi kau Haruno Sakura?" Tanya seorang lelaki dengan rambut putih namun bukan beruban ya.

"Ha'I, Kakashi-sensei" sahut Sakura.

"Oh, kalau begitu kau juga mengenalku bukan, Sakura?" seseorang berambut pirang dengan tangannya dilipat di depan dada berjalan menghampiri Sakura.

"Ah, rektor Minato!"

"Wow, santai saja. Oh ya, Naruto, tolong panggil dia yang kusebutkan tadi kesini segera" perintah Minato pada Naruto.

"Baik, Tou-san!"

Setelah itu, Naruto menghilang dibalik pintu besar di belakang Sakura dan mengalihkan pandangan gadis itu kembali kepada dosennya tersebut.

"Tou-san?" kata Sakura dengan lirih.

"Ah, Namikaze Naruto. Tentu saja, dia anakku dan aku Tou-san yang ia maksudkan tadi" sahut Minato dengan santai duduk di sebuah sofa panjang dengan warna merah marun.

"Hee? Jadi, namanya Namikaze Naruto? Ta-tapi, dia bilang.."

"Ah, pasti Uzumaki bukan? Itu nama keluarga dari istriku, kau tau? Naruto paling tak mau mengenalkan dirinya sebagai putra rektor"

"Kenapa begitu?"

Minato menghela nafas sejenak, dengan Kakashi yang masih setia di sampingnya. Seperti bodyguard lebih tepatnya. Dan Sakura masih setia menunggu Minato menjawab pertanyaannya.

"Dia memang begitu, tak ingin tampak sok hebat dengan ayahnya seorang rector" sambung Minato.

Tok! Tok! Tok!

"Permisi, apa anda memanggil saya, rektor?" sebuah suara yang mengalihka pemikiran Minato.

"Ya, masuklah"

Cklek!

"Ah, kau.."

Baru kepala yang tampak dari balik pintu, sebuah kalimat sudah keluar dengan alaminya dari gadis bersurai merah muda itu sembari menatap seseorang yang masuk tak beberapa lama dari kepergian Naruto.


Gomen, lama update minna. Terpengaruh karena kabar MK-sensei mau pensiun jadi mangaka. X'( Padahal ceritanya udah makin seru, malah pakai pensiun segala si Sensei. Wuaa! D'X #curhatlo?

Arigato sudah mampir membaca, dan jangan lupa meninggalkan review kalian ya minna,