"Ah, kau.."

Baru kepala yang tampak dari balik pintu, sebuah kalimat sudah keluar dengan alaminya dari gadis bersurai merah muda itu sembari menatap seseorang yang masuk tak beberapa lama dari kepergian Naruto.

.

.

.

.

.

Magic Univercity of Hokkaido

Chapter 4

Partner Yang Tak Terduga

.

.

.

"Ah, kau.."

Masuklah seorang pemuda berbadan jangkuk, pemuda itu tak terlalu memperdulikan gadis bersurai merah muda yang masih terperanga atas kehadirannya. Pemuda itu berjalan mendekati Sakura.

"Kau mengenalnya, Sakura?" Tanya Minato.

"Ha? Ha'i. Aku memang eh.. tentu saja mengenalnya, rektor Minato" sahut Sakura agak tergagap.

"Yo Sakura, kita bertemu lagi" sapa pemuda itu sembari mengangkat tangan sebelah kanannya isyarat sedang melambai.

"Hm, kau sedang apa disini, Shikamaru?" Tanya Sakura pada lelaki bertubuh tinggi dan berkucir rambut seperti kepala nenas.

"Sama sepertimu, aku juga dipanggil oleh rektor-san" jawab lelaki yang diketahui bernama Shikamaru itu.

"Oh.."

Melihat dua mahasiswa barunya yang sudah tampak cukup mengenal satu sama lain, Minato pun tampak senang melihat hal itu. Jadi, dia tak perlu repot-repot mengenal mahasiswanya satu sama lain.

"Yokatta, kalian sudah saling mengenal" ucap rektor berambut pirang itu. "Baiklah, Sakura tau mengapa kau dipanggil ke sini?"

"Ah, tidak! Maaf, sebenarnya ada apa rektor-san?" tanya Sakura.

"Kami sudah mengetahui bahwa kau tak memiliki sihir apapun sebelum masuk ke universitas ini" jawab Kakashi dengan santai.

"Ah, itu benar" jawab Sakura lemas. "Saya memang tak memiliki sihir apapun untuk diawal, tapi saya akan sebisa mungkin mengejar ketertinggalan saya ini"

"Maka dari itu, kami memanggil Shikamaru kemari" tambah Minato.

"Memangnya ada apa rektor-san?" tanya Shikamaru.

"Kau akan menjadi partner Sakura, kau bimbing dia untuk mengembangkan sihir meskipun sedikit, paling tidak tak tertinggalan jauh dari mahasiswa yang lain" sahut Minato dengan tegas. "Kau mengertikan? Shikamaru? Sakura"

"Ha'I!" sahut Sakura dan Shikamaru dengan serempak.

"Tapi, itu hanya berlaku sementara" sambung Kakashi.

"Ha'I, arigato, rektor-san, Kakashi-sensei" ucap Sakura.

"Kami permisi dulu" tambah Shikamaru.

Dan kedua mahasiswa itu berjalan mendekati pintu dan menghilang dibalik pintu megah bertahtakan emas dengan berat beberapa kilogram. Sedangkan Minato dan Kakashi kembali mengerjakan pekerjaan mereka yang sempat tertunda cukup lama.

"Yosh! Kita mulai lagi, Kakashi.." ujar Minato kini tengah duduk dihadapan Kakashi.

"Aku mulai duluan?" tanya Kakashi dengan nada menantang.

"Ya, silahkan saja.." sahut Minato. "Tapi, bukan berarti aku akan kalah darimu"

"Untuk kemarin kau beruntung saja, rektor-san" Kakashi pun tak mau kalah sombongnya.

Aura menakut sudah tampak bergelora diseluruh tubuh kedua dosen ini, dengan tatapan yang sinis satu sama lain, mereka tersenyum sadis bagaikan pembunuh berhati dingin yang tak segan-segan membunuh siapa saja yang menghalangi jalannya.

"Kita mulai permainan catur ini!" seru mereka dengan lantang.

Gubrak!

Para fans Kakashi dan Minato seperti berteriak histeris melihat orang yang mereka kagumi sedang bertarung dalam sebuah permainan bernama catur. Layaknya penyihir, mereka tak perlu repot-repot mengintip ke ruangan rektor. Cukup dengan bola kristal atau benda semacam itu untuk menunjukan sesuatu pada pemiliknya, mereka sudah dapat melihat kegiatan orang yang mereka kagumi.

Karena keasikan perang catur, bukan berarti kedua dosen itu lengah dan tak menyadari sedang diperhatikan. Untuk sejenak Kakashi menatap Minato seperti memberikan isyarat, dan Minato hanya mengangguk yakin melihat Kakashi.

"Hiden of Magic.." ucap Kakashi dengan lirih.

Dan tiba-tiba saja, gambaran di dalam bola kristal mahasiswi mengabur, bahkan tak menampakkan apa pun di dalamnya. Melihat tersebut, tentu saja mereka panik. Dan mencari tau, apa yang salah dengan bola kristal itu.

"Apa yang terjadi?" tanya gadis A.

"Tidak tau, padahal tadi baik-baik saja" sahut gadis B mencoba mencari letak kesalahan bola kristal digenggamannya.

"Lihat, sudah bekerja.." seru gadis C.

Tring!

"Iiieeeee….! Hentikan bola kristal itu" seru gadis D.

Dan mereka sama-sam terkejut melihat apa yang sedang tamping di permukaan bola kristal berwarna merah muda sedikit transparan itu. "Kyaa..!" teriak mereka histeris.

Kenapa mereka berteriak histeris? Mari kita perhatikan dengan seksama apa yang ditampilkan bola kristal itu. "Rock Lee, Baka! Hentikan tarian anehmu itu! Dasar alis tebal" umpat seluruh gadis kepada Rock Lee yang sedang menari ria menunjukan gerakan barunya di depan kelas.

Ternyata, bola kristal itu berhenti bekerja karena menerima efek sihir Kakashi. Dan bola kristal yang tampak transparan itu memantulkan apapun yang ada dihadapannya. Dan tentu saja, gerakan aneh tarian dari Rock Lee yang berada didepannya pun terpantul begitu saja. Sehingga, gerakan aneh yang dilakukan Rock Lee pun cukup membuat lelaki beralis tebal itu menerima cercaan oleh para mahasiswi. Namun, Rock Lee malah salah paham dan percaya diri dengan cercaan para gadis itu. Tidak percaya? lihat saja tingkahnya.

"Tenang, tenang, tenanglah kalian para fansku. Jika kalian ingin aku mengulanginya, dengan senang hati" seru Lee dengan mengedipkan mata sebelah kirinya dan gigi yang berkilaupun timbul dipermukaan. "Laaa.. Laa.. Laa.. Laaaaaaa~!" dan Lee menari dengan hati gembira.

Brak! Brik! Bruk! Pentang! Pentong! Penteng! BUAM!

Serbuan tas, buku, kursi bahkan meja pun menghampiri Lee yang masih bernyanyi ria dengan tarian baru anehnya itu bergerak dengan luwesnya. Namun, serbuan itu sukses menghilangkan sosok Lee di tumbukan barang yang dilempar oleh mahasiswi.

"Ada apa ini, Ino?" tanya Sakura yang baru memasuki ruang kelas.

"Ah, lelaki beralis tebal itu membuat Kakashi-sensei's lover dan rektor Minato's Lover mengamuk. Jadi, mereka melempari Lee dengan apapun agar menghentikan gerakan anehnya" jawab Karin yang duduk tepat dibelakang Ino.

"si Alis tebal pun aneh, percaya diri sekali kalau mereka mengagumi tarian anehnya" gerutu Ino.

"Sudah, sudah, lebih baik kita tak usah mengurusinya. Aku melihat, ada seorang dosen yang akan datang mengajar" lerai Hinata dengan lembut.

Sesuai ucapan Hinata, masuklah seorang wanita berambut merah menyala dihiasi jepitan berwarna hijau di ponisnya. Sehingga manik Ocean wanita itu tampak sangat jelas indahnya. Dan kehadiran wanita itu, sontak membuat keributan di kelas hilang entah kemana. Kini tinggallah keheningan abadi dikelas tersebut.

"Ohayo, minna-san" sapa wanita itu.

"Ohayo, Kushina Baa-san!" sahut Karin dengan lantang.

Plak!

Sebuah penghapus papan tulis meleyang indah tepat sasaran di kepala gadis bersurai merah dan manik merahnya yang tertutup sempurna dengan kacamatanya.

"Jangan panggil aku dengan Baa-san, Karin! Disini aku dosenmu, jadi panggil aku dengan Kushina-sensei~" seru wanita itu yang perlahan-lahan emosinya mulai mereda.

"Ha'I, Kushina Baa.. eh sensei. Memang sensei mau mengajarkan sihir apa?" tanya Karin yang masih asik menggosok jidatnya yang tampak memerah sempurna.

"Sihir? Ini lebih tepatnya bela diri. Seperti keluarga Akimichi, menurunkan sihir memperbesar bagian atau seluruh tubuhnya dari postur tubuh aslinya untuk mengalahkan lawan" jelas Kushina mulai mengajar.

"Jadi, sihir itu hanya memperbesar tubuh saja, sensei?" tanya Ino sembari mengacungkan tangan kanannya.

"Tentu saja tidak, sihir ini juga dapat memberikan tenaga 2 bahkan 10 kali lebih kuat dari tenaga kita sebenarnya. Contoh aku bisa menghancurkan bahkan meretakan tanah hingga radius 1 kilometer" sahut Kushina dengan bangga.

"Nani?!" seru para mahasiswa tak percaya mendengar penuturan Kushina. "Buktinya mana sensei?"

"Bukti? Untuk itu kita perlu sebuah batu besar, agar aku tak meruntuhkan bangunan universitas" ucap Kushina mencari-cari benda yang dapat ia hancurkan.

"Ini, sensei" ucap seorang mahasiswa seiring butiran-butiran pasir gurun melayang membawa sebuah batu yang cukup besar berdiameter 2 meter menuju tempat Kushina berdiri.

"Ah, arigato, Gaara" ujar Kushina sembari tersenyum kepada seorang mahasiswa di pojok kelas.

Mahasiswa itu berdiri dan mengangkatkan tongkatnya di tangan kanan sembari menggengam sebuah botol di tangan sebelah kiri. Pasir yang membawa batu besar itu perlahan-lahan kembali masuk ke botol berukuran sedang yang tengah digenggam lelaki berambut merah menyala itu.

"Sama-sama, Kushina-sensei" sahut lelaki bernama Gaara itu dengan senyum manisnya dan kemudian kembali duduk dikursi yang ia tempati.

"Siapa lelaki itu?" bisik mahasiswi A pada yang lain.

"Ah, itu bukannya Gaara-kun." Sahut mahasiswi B yang satunya.

"Bukankah ia tampak tampan sekali" puji mahasiswi C.

"Hn! Aku dengar dia sedang sendiri, jadi aku masih punya kesempatan menjadi kekasihnya" khayal mahasiswi A.

"Kyaa!" jerit seluruh mahasiswi itu bersamaan karena mengkhayal terlalu tinggi akan ketampanan Gaara.

Mendengar pujian para mahasiswi yang tak jauh dari kursinya, membuat gendang telinga Sakura menjadi panas. "Cih! Lelaki kurang ajar itu mana pantas dijadikan kekasih" ucap Sakura dengan lirih.

"Kau bilang apa tadi, Sakura?" tanya Hinata dengan lembut dan pelan.

"Ah, tidak ada Hinata. Aku hanya kurang mengerti saja dengan sihir yang dijelaskan Kushina-sensei" sahut Sakura menyengir ria.

"Sudah! Jangan berisik! Lihat dengan seksama, dan pelajari" seru Kushina mencoba mengheningkan cipta.. eh? Mengheningkan suasana kelas maksudnya.

Dan seketika itu mahasiswa dan mahasiswi pun bungkam seribu bahasa sejagat raya, terlihat Kushina mulai mengankat tongkatnya dan mengucapkan mantra sihir. "Strength of hand, magic!" , muncullah cahaya terang berwarna merah muda dikedua tangan Kushina dengan cepat tangan wanita itu menghantam batu besar dihadapannya menjadi beberapa bongkahan batu.

"Siapa yang ingin mencoba?" tanya Kushina kemudian mengalihkan pandangannya kepada para anak didiknya yang sudah terpelongo melihat kekuatan Kushina. Termasuk Chouji, lelaki berbadan gempal yang merupakan keturunan langsung Akimichi.

Pertanyaan Kushina tak mendapat tanggapan dari para anak didiknya, dan wanita yang memiliki tempera mental yang tinggi sedikit emosi karena diacuhkan begitu saja. Dengan menghela nafas pendek berulang kali, Kushina mengatur nafasnya agar tak tersulut emosi. 'Ingat, Kushina. Kau dosen sekarang? Ingat? Jadi jangan emosi' gumam Kushina dalam bathinnya yang begitu tersiksa.

"Baiklah, jika kalian tak ada yang mencoba sendiri. Aku akan menunjuk salah satu dari kalian" dan Kushina memilah-milah mahasiswa mana yang akan dipilihnya. "Kau! Gadis bersurai merah muda yang duduk di sebelah gadis di depan Karin"

Yap! Tepat sekali, dan Sakura mendapat giliran pertama untuk mencoba duluan. 'Yang benar saja? Aku tak yakin ini akan berhasil' gumam Sakura mulai panik dengan giliran pertamanya.

"Yosh! Kau duluan mempraktekannya.. ano?"

"Sakura, sensei. Nama saya Haruno Sakura" kata Sakura memperkenalkan dirinya.

"Sakura? Oh, sou desu. Sakura, cobalah konsentrasi pada tanganmu. Bayangkan kau mempunyai kekuatan besar di kedua tanganmu ini. Dan ucapkan matranya, kau ingat?" jelas Kushina mulai bersikap bagaikan dosen yang sudah berpengalaman.

"Ha-ha'I, a-aku ingat sensei" sahut Sakura mulai tergagap layaknya Aziz gagap.

"Ya sudah, mulailah" seru Kushina sembari melangkah menjauh beberapa langkah.

'Tarik nafas dalam-dalam! Keluarkan! Bayangkan, Sakura! Bayangkan kau memiliki kekuatan bagaikan Ultramen seperti di Tv-Tv. Dan kau bisa menghancurkan batu besar ini' gumam iner Sakura menyemangatkan diri sendiri.

"Strength of hand, magic!" seru Sakura mulai mengangkat tongkat miliknya.

Dan setelah mengucapkan mantra itu, Sakura tak memperdulikan apakah matranya bekerja atau tidak. Namun, tetap melayangkan pukulan dari tangan kirinya ke permukaan bongkahan batu yang terbentuk karena pukulan Kushina.

"Hee?" ucap Sakura dan diikuti beberapa mahasiswa serta mahasiswi yang melihat kerja sihir yang baru dilakukan oleh gadis bersurai merah muda itu.


Jeng! Jeng! Jeng! Chapter 4 sudah update! XD Mencoba update kilat, susah juga rupanya.. huft! XO *ngelapjidat

Rupanya melenceng dari cerita awal, Shikamaru lah yang menjadi partner Sakura. Tapi, seperti yang dikatakan papa Minato dan oom Kakashi XD #berharaplu! *plak Shikamaru hanya menjadi partner sementara Sakura untuk mengejar ketertinggalan Sakura dari mahasiswa yang lain dan memiliki sihir tersendiri yang telah dikuasai.

Edisi balas review :

KonoHaru : Oke siip, makasih atas sarannya XD

Deka: Belum tau sih, tapi nunggu info selanjutnya aja dari official MK-sensei

: aku akan usahain semampuku XD

Eysha CherryBlossom : Hahahahahah... XD reverse hareem itu apaan? o_O *Lola, itu bawaan dilaptop, setiap diketik jadinya rector mulu, dan masalah ejekan mereka, kemungkinan besar kebalik-balik saking semangatnya buat fic XD *direbusIno&Sakura

Arinamour036 : Oke, siip ;)

Dianarndraha : Siapa yaa? ntar tau sendiri kalau udah baca chap 4 nya XD

Gomen.. gak bisa langsung balas review minna, karena aku cuma bisa review sekali disetiap chapternya. Yosha! Arigato, sudah membaca fic ku di chap 4 ini dan jangan lupa review kalian yaa Minna XD , tetap setia menunggu update chap 5 nya yaa? Yaaa? Yaaa? XD #maksa