"Strength of hand, magic!" seru Sakura mulai mengangkat tongkat miliknya.

Dan setelah mengucapkan mantra itu, Sakura tak memperdulikan apakah matranya bekerja atau tidak. Namun, tetap melayangkan pukulan dari tangan kirinya ke permukaan bongkahan batu yang terbentuk karena pukulan Kushina.

"Hee?" ucap Sakura dan diikuti beberapa mahasiswa serta mahasiswi yang melihat kerja sihir yang baru dilakukan oleh gadis bersurai merah muda itu.

.

.

.

.

.


Magic Univercity of Hokkaido

Chapter 5

Calon Pengganti Mantan Kekasih

Trak!

Tek!

Tek!

Tek!

'Yang benar saja?!' jerit Sakura dalam batinnya.

Sebuah batu bongkohan kecil terjatuh dari batu yang baru saja menggelinding dengan indahnya mengikuti arah emerald hijau milik gadis bersurai merah muda itu. Batu kecil itu berdiameter 3 sentimeter, mungkin (?) dan tentu saja sukses membuat Sakura tercengang dan menyadari bahwa dia gagal dalam melakukan sihir yang pertama kali ia pergunakan. Sedangkan mahasiswa yang masih setia menonton kegagalan Sakura hanya tertawa mengejek Sakura yang gagal melakukan sihir yang diajarkan oleh Kushina.

"Hahahah.. Lihat tampangnya itu, lucu sekali!" caci Mahasiswa A.

"Kasian sekali, susah payah berusaha tapi tak berhasil" ejek Mahasiswi A.

"Pasti dia malu sekali tuh, gagal dihari pertama" tambah Mahasiswa B.

"Iya, pastinya. Aku yakin, dia tak akan berani menampakan mukanya lagi didepan kelas" Ujar Mahasiswi B.

"Ugh..!" Sakura tampak kesal mendengar ejekan para mahasiswa baru seletingannya itu, sampai-sampai mengepalkan tangannya begitu kuat dan membuat Kushina memasang wajah bingung melihat tingkah mahasiswi yang berada di dekatnya itu. "Berisik!"

Satu kata yang meluncur begitu saja dari bibir manis gadis bersurai merah muda itu dan sudah membuat keributan di dalam kelas itu menjadi keheningan malam, padahal masih siang. Kushina seperti merasakan aura kegelapan yang menyelimuti mahasiswi bersurai merah muda itu, lalu memutuskan berjalan mendekati Sakura untuk menyuruhnya kembali ke tempat duduknya tadi.

"Ah, tak masalah Sakura. Lain kali, kau pas.." belum sempat Kushina menyelesaikan kata-kata sebagai seorang dosen, dia harus terhenyak melihat gadis muda dihadapannya itu. Sebuah kilatan cahaya green tea menyelimuti genggaman tangan Sakura.

"Cih! Kalian menyebalkan sekali, Shaaannnaaro!" ucap Sakura mendecak kesal.

Bam!

Sebuah pukulan mendarat indah di permukaan sebuah batu yang masih setia mendampinginya didepan kelas.

Trak!

Retakan kecil mulai muncul di permukan batu itu, Sakura tak sadar batu yang dipukulnya itu sudah mengalami keretakan di seluruh permukaannya. Dan..

Trak! Trak!

"Ah, lihat! Lantai kelas ikut retak!" seru seorang mahasiswa menunjuk bagian lantai yang makin lama semakin mengalami keretakan yang cukup panjang.

"Hee?" Sakura akhirnya sadar dari emosi yang tadi cukup memuncak, dan melihat arah yang di tunjuk oleh mahasiswa tadi. 'Apa?! Aku sampai merusak lantai kelas?'

"Repairing of Magic.." sebuah suara terdengar di sela-sela riak pikuknya kepanikan para mahasiswa terutama Sakura, karena ketakutan akan menghancurkan sekolah barunya itu.

Tring!

Tiba-tiba saja, keretakan yang terjadi pada permukaan lantai kembali seperti sedia kala. Dan membuat mereka yang sedang berada di ruang kelas bertanya-tanya, apa yang terjadi? Kenapa lantai rusak itu bisa kembali seperti semula? Pertanyaan itu sudah lebih awal muncul di benar Sakura yang menjadi biang kerok kerusakan itu.

"Wah, wah.. Kushina-sensei, apa kau yang melakukan ini lagi?" Tanya seseorang dari luar kelas dan berjalan perlahan memasuki kelas.

"Iie, Konan-sensei. Aku hanya menguji anak didikku yang baru ini, ternyata dia lebih kuat dari yang kubayangkankan" Sahut Kushina beralasan kepada wanita yang dipanggilnya dengan sebutan Konan itu.

"Hn, ya sudah. Paling tidak, jangan hancurkan sekolah ini Kushina-sensei" kata Konan lalu berbalik keluar kelas. "Kau tau kan, suamimu itu bagaimana?" dengan kikikan kecil mengiringi kepergian Konan dipandangan Kushina yang membayangi suaminya jika mengetahui bahwa dia merusak fasilitas sekolah.

"Tidak, tidak, tidak!" Kushina mencoba menghilangkan khayalannya tentang suaminya tersebut dan tak menyadari bahwa seluruh mahasiswanya memperhatikan tingkah anehnya sedari dia mengkhayal yang entah bagaimana bentuknya.

Kushina mengedipkan kelopak matanya beberapa kali saat menyadari bahwa dia menjadi tontonan oleh mahasiswa barunya. "Ah, cukup untuk hari ini sampai jumpa minggu depan!" Seru Kushina lalu menghilang dibalik asap putih yang tiba-tiba muncul saat dia memainkan tongkatnya sedikit.

Sakura hanya memutar bola matanya dengan malas, lalu berjalan menghampiri Ino dan mengambil buku yang terletak dimejanya.

"Itukah kekuatan sihirmu, Sakura?" Tanya seseorang yang membuat Sakura menghentikan langkahnya tepat satu langkah keluar dari ruang kelas.

"Are? Shikamaru.." Sakura memutar arah badannya menghadap lelaki yang berjalan mendekatinya. "Ah, yang tadi itu? Aku juga tak begitu mengerti, tiba-tiba saja.."

"Aku mengerti, awalnya juga aku bagitu. Tapi, untuk seminggu ini aku harus tetap memabantumu untuk mengembangkannya" kata Shikamaru dengan kedua tangannya selalu berada didalam sakunya.

"Ha'I, arigato, Shikamaru" Ucap Sakura membungkuk hormat.

Setelah itu, Shikamaru berlalu pergi diterbang angin tanpa dapat sedikitpun Sakura melihatnya di sepanjang koridor sekolah yang tampak luas dan panjang. Sedangkan Ino, hanya membatu seperti batu mengetahui mantan pacarnya yang selalu ingin dihindarinya setelah lama memutuskan untuk berpisah kini muncul lagi dihadapannya. Meskipun tak ada perubahan yang tampak siknifikan, ada pepatah yang mengatakan 'Sehijau-hijaunya rumput dihalaman, lebih hijau rumput tetangga'. Nah, itulah yang dirasakan Ino. Setelah lama putus, entah kenapa Ino merasa Shikamaru tampak lebih tampan plus dewasa. Ya, namanya juga sudah bukan anak SMA lagi yang asik mengurus masalah percintaan.

"Hey, pig!" seru Sakura membuyarkan khayalan Ino tentang ketampanan mantan pacarnya.

"Nani?!" sahut Ino yang tampak kesal melihat Sakura yang menghancurkan khayalannya di tengah-tengah klimaks cerita khayalannya.

"Ehem! Ciee, terpesona dengan ketampanan mantan pacar sendiri" goda Sakura menunjuk-nunjuk wajah Ino yang sudah 100% merona karena ketahuan oleh sahabatnya sendiri.

"A-apa sih? Udah ah, ke kantin, aku lapar!" pungkir Ino terlihat gagap saat sahabatnya itu menampakan senyuman tengilnya itu.

"Hahahah.." Sakura hanya dapat tertawa melihat tingkah Ino yang salah tingkah saat ketahuan sedang mengkhayalkan mantan pacar yang Ino sendirilah yang memutuskannya.

Karena punya urusan tersendiri, Karin dan Hinata tak mengikuti Sakura dan Ino menuju kantin. Mereka memilih jalan yang berlawanan dengan Sakura dan Ino, sehingga berpisah di tengah jalan.

"A-ano, Sakura-chan.. Aku ada urusan sedikit, permisi" ujar Hinata menghentikan langkahnya dan memilih jalan sebelah kiri mereka. Sedangkan Ino dan Sakura hanya mengangguk pelan dengan menghantarkan kepergian Hinata.

Belum sempat melangkah, lagi-lagi mereka harus merapatkan kaki mereka di lantai. "Ah, aku juga ada urusan sebentar. Kalian pergilah duluan" kemudian Karin menghilang di ujung lorong sebelah kanan.

"Tinggal kita berdua" ucap Sakura kemudian melanjutkan perjalanan menuju kantin bersama Ino yang mengikutinya dari belakang.

"Hey, forehead!" seru Ino dengan sedikit berbisik.

Sakura mengalihkan pandangannya ke Ino untuk sejenak seperti berkata 'Apa, pig?', dan Ino sudah mendapat tanggapan yang dapat mengawali pembicaraan mereka.

"Kau sudah tau 'dia' sekolah disini kan?" Tanya Ino dengan santai berjalan sedikit lebih cepat dari Sakura.

"dia? Oh, Shikamaru kah? Tentu saja, untuk saat ini dia partner-ku" sahut Sakura menjawab lebih santai dari Ino dan berharap tanggapan Ino agak berlebihan.

"Nani?! Dia parent-mu dan kau tak mengatakannya padaku, forehead?" Ino tampaknya sudah tersunggut emosi atau lebih tepatnya dibilang cemburu kali ya.

"Kenapa? Cemburu? Tenang saja, ini hanya sementara. Kau dengarkan tadi, dia bilang seminggu ini saja" Sakura mulai tampak senang mendapat tanggapan Ino tadi yang memberinya lampu hijau tentang Shikamaru.

"Cemburu? Heh?! Yang benar saja" Ino mendengus kesal. "Apa kau bilang, seminggu ini saja?"

"Hn! Dia itu ditugaskan rektor-san untuk membantuku mengembangkan teknik sihirku"

Ino mengangguk bak dektektif berfikir, "Are? Kenapa cuma kau saja yang mendapat partner sementara?"

Sakura menghela nafasnya cukup panjang dan cukup menghabiskan setengah tabung oksigen yang disediakan rumah sakit. "Ano.. Ino, sebenarnya aku tak memiliki sihir bawaan seperti kalian"

"Hee?"

"Kecilkan suaramu! Ini sudah dekat dengan kantin, pig!"

"Gomen, tapi kenapa kau tak bercerita tentang itu padaku"

Lagi-lagi, Sakura menghela nafasnya untuk kedua kalinya dan sukses menghabiskan satu tabung gas rumah sakit. Nyambung kemana sih, nih cerita?

"Aku mau bercerita, tapi aku tak ingin merepotkanmu"

"Sakura, aku ini sahabatmu. Aku tak akan pernah merasa direpotkan olehmu" Ino tersenyum ikhlas bagaikan malaikat turun dari Surga. "Dan kau juga sudah terlanjur merepotkanku dari awal, hahah.."

"Kau.." Sakura mencoba mengejar Ino yang masih tertawa dan berjalan lebih dulu darinya memasuki kantin sekolah. "Awas kau ya"

"Aw, ampun, forehead. Sudahlah, mari kita pesan makanan dahulu"

Setelah itu mereka mendekati penjaga sekaligus penjual satu-satunya di universitas ini, dan banyak yang mengatakan dari 100 orang yang menawarkan jasa untuk menjadi petugas kantin, hanya merekalah yang sukses mengambil hati rektor-san hanya dengan semangkuk ramen(?)

"Hm, mau pesan apa?" Tanya gadis bersurai coklat dengan celemek putih menutupi tubuhnya bagian depan yang masih asik mengayunkan tongkatnya ke belakang seperti mengendalikan piring-piring, sendok dan garpu yang beterbangan dari meja makan menuju tempat pencucian yang telah disediakan.

"Ah, kari sama teh hijau" Sakura memasan makanannya kemudia menunggu pesan Ino. "Sama dengannya saja"

Setelah selesai memesan, tak lama kemudian datanglah dua talenan aluminium berisi satu piring kari dan segelas teh hijau disetiap talenannya dan berhenti di depan tangan Sakura dan Ino. Sakura tampak takjub, bahkan penjaga kantin pun bisa menggunakan sihir.

"Ano.. Dari mana kakak bisa menggunakan sihir mengendalikan barang-barang?" Tanya Sakura sedikit ragu-ragu.

"Panggil saja aku Ayame, oh! Aku diajarkan oleh Naru-kun, dia bilang sulit bekerja jika dengan anggota hanya aku dan Tou-san" Ayame –nama gadis itu bercerita dengan sangat semangat menceritakan itu pada Sakura. "Makanya, dia mengajariku sihir ini"

"Naru-kun?" kata Sakura seakan mengulang kata-kata Ayame.

"Aa, Eto.. putra rektor-san, Namikaze Naruto" jawab Ayame dengan wajah sedikit merona dengan pandangan yang jauh.

Sakura dan Ino menyadari bahwa Ayame sudah tak menatap mereka melain seseorang yang sedang asik berbincang dengan temannya di meja makan. Dan mereka memperhatikan seseorang yang diperhatikan oleh Ayame.

"Tampan bukan?" Ayame tampak terpesona oleh lelaki berambut pirang dan beriris Ocean itu. "Kalau aku punya kesempatan, aku ingin sekali jadi kekasihnya"

"Jadi, kau menyukainya?" ucap Ino dan membuyarkan binary-binar mata Ayame yang sudah menutupi iris miliknya sendiri.

"Heheh.. tapi, itu tak mungkin" Kata Ayame kemudian kembali asik mengayunkan tongkatnya kesana kemarin.

"Kenapa begitu? Kau berhak kok menyukai seseorang, mana tau dia juga menyukaimu, Ayame-san" Sakura tampak ingin menyemangati Ayame dengan kata-kata itu.

Ayame mulai menghela nafasnya dan menghentikan kegiatannya sejenak, lalu melanjutkannya kembali. "Coba kalian perhatikan wanita disampingnya itu, bahkan dia lebih cantik dariku"

Sakura dan Ino kembali memutar arah pandangannya ke tempat wanita yang dimaksud oleh Ayame. Dan kali ini mereka memfokuskan pandangan mereka, pada seorang wanita berponi yang menutupi selurug jidatnya dan rambut yang berwarna pirang. Wanita itu tampak sangat nyaman berada disamping lelaki berambut pirang itu.

"Namanya Shion, kudengar dia memiliki sihir meramalkan masa depan seseorang yang cukup dekat dengannya" jelas Ayame. "Ah, sudahlah. Kalian makanlah sebelum makanan kalian dicicipi serangganya Shino"

Sakura hanya tersenyum dan menjalan menempati meja yang kosong di belakangnya tadi dan diikuti langkah Ino yang lebih dulu menduduki kursi kosong itu.

.

.

.

"Ino, aku ada urusan sebentar. Kau pergilah ke kelas duluan" Ucap Sakura lalu berjalan agak terburu meninggalkan Ino tanpa sempat mendengar jawaban sahabatnya itu.

Ino hanya berjalan menyuluri koridor sekolah, sesampainya di sebuah taman yang tampak nyaman untuk beristirahat. Ino menginjakan kakinya di hijaunya rumput luasnya yang tak bisa diperhitungkan dengan pasti untuk saat ini. Gadis bersurai kuning menyala dengan kucir kuda dikepalanya itu mengedarkan pandangannya sekeliling.

'Ini bahkan sudah membuatku nyaman, daripada berkeliling mencari baju-baju yang cantik di mall' gumam Ino dan memfokuskan tatapannya ke seseorang yang sedang asik menikmati keindahan taman yang tak meninggalkan keasrian dari namanya hutan.

"Sedang apa?" Tanya Ino menghampiri lelaki bersurai hitam lurus bak porselin.

Pemuda itu langsung menjawab namun asik dengan kertas dan kuas yang sedang digenggamnya, "Melukis pemandangan"

"Wah, Kireii! Lukisanmu cantik sekali" puji Ino kemudian memutuskan untuk duduk disebelah lelaki yang sengaja menampakan sisi seksi perutnya yang ramping.

"Ada yang lebih cantik dari lukisan ini" jawab lelaki itu kemudian menghentikan kegiatan melukisnya.

"Apa itu?"

"Kamu" sahut lelaki itu menatap mata Ino yang sudah berbinar-binar dan rona wajah yang sudah tumpah menghiasi pipi gadis bersurai kuning menyala itu.

Untuk beberapa lama, Ino dan lelaki itu saling bertatapan satu sama lain. Ino yang masih tertegun mendengar jawaban lelaki yang baru ia temui itu, seperti kehilangan ingatannya tentang bagaimana caranya bernafas. Sedangkan lelaki itu tanpa berdosa tersenyum bagaikan malaikat yang turun dari surga memberikan sebuah hadiah yang sangat mengejutkan bagi Ino.

"Wahai, gadis cantik yang berada dihadapanku. Bolehkah saya tau namamu? Perkenalkan nama saya Sai" ucapkan lelaki itu memperkenalkan diri dengan menebarkan senyuman mempesonanya.

"…"

Ino masih belum sadar dari khayalannya entah sampai kemana-mana.

"Nona?"

"Ah, na-na-nama ya?" Ino tersentak kaget saat lelaki dihadapannya melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Ino. "Na-namaku Ino"

"Hm, Ino? Bahkan namamu seindah wajahmu"

BLUSH

Lagi-lagi warna merah menari-nari dengan riangnya di pipi Ino, kali ini membuat gadis bermarga Yamanaka itu hampir ingin pingsan. Karena selama ini tak seorang lelaki yang memuji nama dan kecantikannya bahkan Shikamaru sebagai mantan pacarnya sendiri. Sampai di seruduk banteng pun, kalau gak disuruh Shikamaru gak akan mau memuji kecantikan Ino sebagai pacarnya sendiri. Padahal mereka pacaran sudah lebih dari satu tahun, bukan! Bahkan hampir dua tahun lamanya.

"A-arigato, Sai"


Puft! Selesai juga chapter 5 ini, yaa meskipun tak seperti chap 3 dan 4 yang digantung pas moment2 tertentu. Dalam penyelesaian chapter 5 ini menguji banget XD habisnya, ni otak buntu pake banget! Udah stadium akhir pula. #tragis! Udah gak tau mau bikin lanjutannya kayak mana, jadi dibuat cerita slow aja sampai chap greget dan final chapnya XD #emangkapan? Kagak tauo_O? *plak

Yang tadi abaikan minna, terimakasih sudah membaca fic chap 5 dan jangan lupa reviewnya yaa, kalau bisa saran sih XD #berharap