Dua minggu pertama berjalan baik, walau kadang mereka sering terlibat dengan pertengkaran kecil.
Tapi di bawah pengasuhan Levi, Eren merasa senang, ada waktu-waktunya Eren mengamuk, tapi Levi selalu punya cara untuk menenangkan Eren, Levi mendidiknya dengan baik. Pada waktu luang, mereka pergi gunung, tapi mereka tak berhasil menemukan beruang, Levi berpikir mungkin akan sedikit repot jika mereka benar-benar menemukan beruang. Eren juga tidak mempermasalahkan hal itu, sebagai gantinya, membakar ikan yang mereka pancing di sungai kalhlure membuatnya senang, Eren akan selalu mengingat lagu 'wonderfull world' yang Levi nyanyikan untuknya, walaupun banyak nada yang salah namun Eren menikmatinya, dengan begitu, Erenlah yang menjadi pengkritik pria pendek itu, dan tatkala Levi menyanggah dan meminta Eren menunjukkan cara menyanyikan dengan benar, Eren tahu dia telah terpojokkan. Eren benci menyanyi, tapi dia suka mendengarkannya dari orang lain.
Hari-hari sekolah pun bermula, Levi tidak pernah lupa mengantar dan menjemput Eren ke sekolah. Kadang-kadang, Levi terlambat menjemputnya, Eren akan cemberut, tapi saat dia melihat luka di wajah Levi atau tangan Levi yang melecur, seketika Eren luluh.
Menyentuh luka bergaris miring di tulang pipi Levi, rasanya sangat pedih seolah dialah yang terluka. Pun begitu dengan luka bakar di kening Levi. Eren bisa mencium bau gosong pada alis Levi. Mata malas Levi, dan keringat yang membasahi wajahnya pun melengkapi tampang tak berdaya pria itu.
Ada waktunya saat luka itu sembuh, Levi menjemputnya dengan penampilan keren, dia mengenakan mantel abu-abu, dari jauh parfum Levi menambahkan kesan maskulinnya. Tangan kanannya menyangking tas kardus berisi fish and chips. Wajahnya putih bersih, biasanya Eren tak bisa menahan diri untuk bersorak karena dia tahu mereka akan pergi berwisata.
10 tahun terasa sebentar, Bahkan Eren berpikir baru semalam dia tidur di bawah ketiak Levi. Eren yang telah berusia 16 tahun menjelma menjadi remaja ganteng tapi keras kepala.
Adakalanya, Levi nyaris hilang pedoman menghadapi masa remaja Eren yang sarat akan pmberontakan dan kenakalan, tak jarang Levi mendapat surat panggilan dari pihak sekolah. Namun, di satu sisi Levi bernapas lega, karena Eren tidak pernah meninggalkan rumah ini. Yang ditakuti Levi adalah saat anak itu menggapai masa-masa kebebasannya; ketika dia lulus sekolah, mulai mandiri, dan memegang kunci apartemennya sendiri. Levi sudah membayangkan semuanya dan berharap dirinya akan kembali terbiasa dengan kata 'sepi'.
Suatu hari, mereka terlibat argumen saat mengecap topik profesi. Eren melenting saat Levi menghalang niatnya untuk melamar sebagai petugas damkar.
"Petugas damkar itu bukan profesi yang bagus. Lagipula kau sudah mendapat beasiswa kesenian. Saranku, lebih baik kauterima saja."
"Bukan profesi yang bagus? katamu? lalu kenapa kau tidak berhenti menjadi petugas damkar, levi? Kenapa kau terlalu setia dengan pekerjaan itu? Kenapa aku tidak boleh mengikuti jejakmu?"
"Karena... Aku tak mau kau..."
"Kau tak mau aku berakhir seperti Ayah dan Ibuku? Levi, aku mengerti kekhawatiranmu, tapi itu kasus yang berbeda. Dan... sudah saatnya kau mengurangi porsi ketakutanmu, sama seperti kau berjalan mengharungi lahapan api di dalam gedung. Levi, aku ini sudah dewasa. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagipula bukankah setiap calon damkar diwajibkan latihan."
"Jawabanku adalah tidak."
Keheningan pagi dikejutkan oleh suara gebrakan di meja. Eren tidak tahu kenapa dia merasa begitu emosional menghadapi Levi. Kedua tangannya mengepal, dadanya seperti hendak meledak. Mata emeraldnya berkilat marah. Dia membuang muka supaya dia tidak menatap wajah Levi yang tak pernah menua, karena emosinya akan menjadi semakin tidak stabil.
"Kau tak tahu apa terbaik untukku! Kau bahkan tak berhak menentukannya! Kau tahu kenapa aku bercita-cita menjadi petugas damkar? itu semua sebab dirimu! Karena aku sangat mengagumimu! Akutahu, akuyakin sekali tentang ini," bentaknya kemudian.
"Nak... Kau tahu... Kadang panasnya api memang menghidupiku, tapi api gelora kegelisahanku. Aku tidak akan membiarkanmu bergelumang di dalamnya."
Desah Levi sembari beranjak dari kursi, dia merenung ke luar jendela. Dari sini hanya terlihat awan-awan yang tenang.
Eren dapat melihat tangan Levi terangkat, sebentar lagi Levi akan mengacak-acak rambutnya, sebagaimana yang selalu ia lakukan saat Eren masih kecil. Secepatnya dia menepis.
"Aku bukan anak kecil!"
Perlakuannya membuat Levi terkesiap. Pria itu mengangguk pelan, mengerti bahwa perbincangan ini akan panjang dan Levi tak siap untuk bertegang dengan Eren.
"Kupikir, kau butuh waktu untuk sendirian, aku ingin keluar sebentar," kata Levi sembari menggapai tas punggungnya.
Eren berdecak. Pikirannya makin kacau dan rasa kecewa meliputi hatinya. Tapi dia takkan menyerah soal ini dan dia melemparkan emosinya melalui tatapan tajam pada levi namun tidak bertahan lama karena tiba-tiba apartemen mereka bergetar bersamaan dengan sebuah suara menggelegar.
"Apa yang terjadi?" tanya Eren, yang seketika bangkit dari kursi dengan deg-degan.
"Ledakan. Yang tadi itu adalah ledakan. Sepertinya ada kebakaran," Levi yang kenyang dengan hal-hal seperti asap, api dan letupan tak terpengaruh untuk panik. Dia sudah mengetahuinya lewat bau gosong yang tiba-tiba mengacau indera penciumannnya.
"Apa? Kita harus menyelamatkan mereka!" tanpa ragu Eren hendak melangkah keluar namun gertakan Levi membuatnya terhenti.
"Eren, pergilah ke kamarku sekarang, ambil dokumen di dalam laci."
"What?"
"Kau dengar aku? Pergilah dan ambil dokumen penting dan segera turun," kata Levi, dia kemudian bersiaga dengan mengangkut APAR yang tercantol di dinding dapur. Sementara Eren mengesampingkan pembahasan mereka dengan menuruti perintahnya.
Keluar dari apartemen, asap putih telah memenuhi lorong, juga suhu yang sedikit meningkat beberapa derajat. Eren terbatuk, matanya pedih, gedung diselimuti kecemasan para penghuninya yang tunggang langgang. Eren tak berniat menuruti Levi. Dia melihat Levi yang kini berdiri di samping pintu apartemen samping, ternyata sumber ledakan itu berasal dari sana. Dan jeritan seseorang di dalam sana membuat situasi makin mencengkam. Eren merasa kakinya terpaku saat melihat Levi memegang gagang pintu.
"Bocah! Cepat turun!" bentaknya keras.
"Tidak."
"Cepat turun, anak bodoh! Segera telepon paman Hanji!
Teriakan Levi membuat dada Eren berdenyut. Dia tidak pernah tahu bahwa Levi bisa seserius ini. Apakah dia selalu berubah sekeren ini saat menjalani misi penyelamatan.
"Ba-bagaimana denganmu?" cetus Eren risau.
"Aku akan menyelamatkan Nona Heidi." keyakinan tampak dari sorot mata Levi.
"Kenapa kau masih berdiri di situ? Pergi!"
Mundur satu dua langkah. Pelan-pelan. Eren melihat daun pintu yang dikuak Levi. Tenggorokannya perih dan napasnya terasa sesak. Dia juga sadar liquid bening telah mengalir dari matanya, entah itu karena ulah asap atau desiran takut kehilangan yang terus mendesaknya.
Dan ketika Levi sepenuhnya menghilang dari pandangannya, langkah gemetaran Eren kini berubah tempo. Eren berlari turun, dia harus segera menelepon Paman Hanji. Namun bayang-bayang Levi yang tadi melintasi pintu, bertemu dengan monster merah, dan seragam oranye khas damkar. Astaga! seragam! Eren baru saja mengingat bahwa Levi tidak mengenakan seragam! niat turun memudar, Eren berbalik menembus kabut asap dengan bermasker kaos putih yang tadinya tersarung pada tubuhnya.
Dia harus membantu Levi walaupun si tua itu mengusirnya, kali ini dia tidak akan menurut akan tetapi dia hanya terlambat beberapa saat. Hanya beberapa saat sebelum dia mendengar suara ledakan lagi. Menyusul. Melemaskan ototnya. Mempercepat denyut nadinya. Orang-orang melolong.
