"Ah, na-na-nama ya?" Ino tersentak kaget saat lelaki dihadapannya melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Ino. "Na-namaku Ino"

"Hm, Ino? Bahkan namamu seindah wajahmu"

BLUSH

Lagi-lagi warna merah menari-nari dengan riangnya di pipi Ino, kali ini membuat gadis bermarga Yamanaka itu hampir ingin pingsan. Karena selama ini tak seorang lelaki yang memuji nama dan kecantikannya bahkan Shikamaru sebagai mantan pacarnya sendiri. Sampai di seruduk banteng pun, kalau gak disuruh Shikamaru gak akan mau memuji kecantikan Ino sebagai pacarnya sendiri. Padahal mereka pacaran sudah lebih dari satu tahun, bukan! Bahkan hampir dua tahun lamanya.

"A-arigato, Sai"

.

.

.

.

.

Magic Univercity of Hokkaido

Chapter 6

Mengungkap Masa Lalu

"Ehem..!" suara itu mengalihkan sepasang manusia yang asik dengan dunia mereka sendiri ke sumber suara. "Kalau mau bermesraan jangan disini"

Seketika itu, Ino terkejut siapa yang mengatakan hal itu padanya. Siapa lagi kalau bukan, 'Shikamaru?! A-apa-apaan dia ini!'

"Sudahlah, jangan ganggu mereka, Shikamaru" tegur seorang gadis berkepang empat dengan kuciran layaknya kepala nanas sambil menarik lengan kekar lelaki disampingnya untuk menjauh dari Ino dan Sai.

'Cih! Menyebalkan, apa-apaan gadis itu menggandeng tangan Shikamaru, mereka jadi tampak sama-sama serasi. Bahkan sikap menyebalkan mereka pun sama' gerutu Ino bergulat dengan hati nuraninya.

"Sai, ayo kita pergi dari sini!" geram Ino lalu menarik paksa Sai bangkit dari duduknya dan beranjak menjauh dari Shikamaru dan 'kekasihnya' (?)

"O-oi, chotto..!" seru Shikamaru berusaha mengejar Ino yang sudah melesap dari hadapannya, namun dihentikan oleh gadis disampingnya itu.

"Jadi, gadis itu yang sering kau ceritakan?" Tanya gadis bersurai kuning menyala itu dan menatap Shikamaru berharap mendapatkan jawabannya.

"Ya, Temari" sahut Shikamaru masih enggan menatap gadis yang dipanggilnya dengan nama 'Temari' itu.

"Dia yang meninggalkanmu, bukan?" pertanyaan Temari berhasil menarik pandangan Shikamaru dari keberadaan Ino yang sudah tak tampak lagi.

"Seharusnya dia dapat menerima apapun sikap kekasihnya" komentar Temari. "Bukan memutuskan hubungan, sampai tak berbicara selama ini"

"Kau sendiri bagaimana?" Temari mendelik sinis. "Kau bahkan memutuskan Kankuro, karena dia 'Membosankan', bukan?"

Shikamaru menyeringai setelah mendapati Temari memutar bola matanya hingga terlihat tampak sangat kesal. "Itu berbeda"

"Apa bedanya?" Tanya Shikamaru mencondongkan badannya sehingga dapat dengan jelas melihat wajah temari yang sedikit merona. "Kau juga menjalin hubungan dengannya, bukan?"

Seketika itu, rona wajah Temari berubah menjadi rona marah seorang gadis. Temari tampak berdecak kesal kali ini. "Dia yang menembakku, dia yang mencintaiku, bukan aku"

Kini Shikamaru hanya tertawa mengejek mendengar jawaban cukup konyol dari mulut partner-nya ini. "Jadi, kau tak mencintainya begitu?"

Lelaki bertubuh cangkung itu memasukan kedua tangannya kesaku celana lalu mulai melangkah pergi berlawan arah dengan jalan yang dilalui oleh Ino. "Dan mengapa kau bisa menjalin hubungan sampai 3 tahun dengannya, heh?"

untuk kedua kalinya Temari berdecak kesal, dia mempercepat langkahnya dan menyamakannya dengan lelaki yang sudah lebih 2 bulan menjadi partner-nya itu.

"Argh, sudahlah. Jangan bicarakan dia.." Temari menarik nafas panjang sejenak. ".. aku tak pernah menang, jika menyangkut masa lalu"

Dan akhirnya, Shikamaru tertawa bangga atas kemenangannya terhadap Temari untuk kesekian kalinya. 2 bulan terakhir membuat mereka saling beradu mulut tentang masa lalu. Dan tentu saja, seperti yang dituturkan Temari. Dia tak pernah berhasil membungkam mulut partner-nya itu, jika gadis bersurai kuning menyala itu mulai menyinggung mantan kekasihnya Shikamaru. Lelaki berkucir kepala nenas itu selalu berhasil membalikkan cerita dan membungkam Temari dengan cerita cinta masa lalu gadis itu bersama Kankuro.


"Ano.. Kau mau membawaku kemana, Ino?" pertanyaan Sai menyadarkan gadis berkucir kuda dengan surai kuning menyala itu dari khayalannya yang entah sampai kemana.

"Eh.. ki-kita dimana, Sai?!" seru Ino begitu sadar sudah tak berada di lingkungan sekolah, dihadapanya hanya ada bunga lavender sejauh mata memandang.

"Tenanglah, hime. Ini hanya taman sekolah yang berada 10 Kilometer dari universitas" sahut Sai dengan santai tampak memperdulikan kepanikan Ino yang masih terperanga kaget.

"10 Kilometer, Sai?! Bahkan kau tak mengingatkanku untuk berhenti di depan gerbang?!" seru Ino yang sudah mondar-mandir seperti setrikaan.

"Gerbang? Ah, kau lupa universitas ini tak memiliki gerbang" ingat Sai memasang wajah polosnya dan Ino terpesona akan kepikunannya.

"Are? Be-begitu? A-a.." Ino hingga lupa bagaimana caranya berbicara. "Ka-kalau begitu, kita kembali saja"

Belum sempat Ino meninggalkan Sai yang memutuskan untuk menikmati pemandangan Purple Flowers ini, tangan Ino ditarik sehingga terduduk disamping lelaki berambut hitam kelam itu.

"Mumpung kita disini, aku ingin menghabiskan hari ini bersamamu" ucap Sai dengan menebar senyuman tak berdosa miliknya dan Ino hanya dapat terpesona. "Purple is the color of Lavender Flower, and it's like your color"

Ino yang tak ahli dalam berbahasa inggris hanya dapat berkata, "Hee? Na-nani?" Sai tersenyum dan mengerti saat itu juga.

"Ungu adalah warna Bunga Lavender, dan itu seperti warnamu" tutur lembut Sai.

"Ah, a-arigato"

"Dia mantan kekasihmu?" Ino menaikan alisnya sebelah dan menatap wajah Sai yang masih mengarah ke depan. "Lelaki tadi, maksudku"

'Bagaimana dia bisa tau?' jerit Ino dalam bathin.

"Itu tampak jelas diwajahmu, hime!" kali Ino terperanjat mendengar jawaban Sai yang seperti dapat membaca isi hatinya.

Seperti tak ingin memperdulikan ekspresi terperanjat gadis disampingnya itu, Sai merogoh sebuah buku gambar kosong yang ada di dalam ranselnya. Dan mengeluarkan sebuah kuas beserta beberapa cat warna yang tampak biasa digunakannya.

"Kau ingin melukis lagi?" Tanya Ino menyapu wajah terkejutnya pergi dan memandang buku kosong ditangan Sai dan lelaki itu hanya mengangguk pelan. "Aku sedikit mengantuk, jika sudah selesai bangunkan aku ya, Sai"

"Tidurlah dipangkuanku"

Tawaran Sai kali ini membuat Ino mendelik curiga kepada lelaki yang masih menaruh senyuman palsu diwajahnya itu.

"Tenang saja, aku tak akan menciummu ataupun lebih"

Penjelasan Sai tentu saja belum bisa meyakinkan hati Ino, tapi Sai tetap nekat menarik kepala Ino dan menaruh dipangguannya. Tampak seperti barang saja, bukan? "Sayang kalau rambut indahmu tersentuh tanah"

Ino mengedipkan matanya dan sesekali melototkan matanya kewajah Sai yang sudah asik melakukan kegiatan melukisnya itu. Entah apa yang akan digambara oleh Sai, Ino tak tau dan tak begitu perduli dengan hal itu. Gadis bersurai kuning menyala itu hanya memutuskan terlelap dipangkuan lelaki yang baru saja ia kenal itu.


Dilain tempat yang berbeda, gadis bersurai merah muda terlihat mengedarkan pandangannya disebuah ruangan yang penuh dengan bau obat-obatan. Namun, tak tampak adanya tanda itu gudang obat. Disana hanya terlihat seperti ruang yang penuh dengan botol berisi cairan berbagai warna, ada sebuah kasur dan sepasang meja serta kursi.

"Mencari siapa?" sebuah suara terngiang di telinga gadis beriris emerald itu tersadar bahwa ada seseorang dibelakangnya.

"Ah, Konan-sensei! Ano.. aku mencari sensei" sahut gadis muda itu mengubah arah pandangannya ke seorang wanita bersurai biru laut itu.

"Mencariku?" wanita itu berjalan mengitari Sakura dan memasuki ruangan yang bertulisan 'Ruang Kesehatan' itu, lalu meletakkan beberapa buku digenggamannya diatas meja. "Ada apa? Apa kau sakit?"

"Ah, Iie! Aku kesini ingin meminta sesuatu dari sensei" sahut Sakura menghampiri Konan yang tengah duduk di kursi kerjanya. "Boleh?"

Konan melirik sesaat kemudian kembali asik membalik buku yang terletak dihadapannya sekarang. "Jadi kau tertarik dengan sihir pengobatan? Kenapa?"

"Eto.. aku tak begitu suka sihir untuk bertarung. Dapat mengobati seseorang yang terluka itu sudah cukup bagiku" tutur Sakura menjelajahi ruang kesehatan yang penuh dengan lemari berisi ramuan sihir untuk pengobatan.

"Kau tau, aku bukan guru seperti yang lainnya, ano.." Konan menggantungkan kata-katanya, lalu menatap sebuah cahaya yang muncul saat ia memainkan tongkat miliknya. "Haruno Sakura, itu kah namamu?"

"Hee? Bagaimana Sensei tau, bahkan aku belum memperkenalkan diri" ujar Sakura terkejut dan menaikan dua alisnya cukup tinggi.

Konan terdengar terkekeh kecil dan menunjuk sesuatu yang berada diatas surai merah muda milik mahasiswi barunya itu. "Kami punya sihir tersendiri untuk mengenali kalian, para mahasiswa baru"

'Haruno Sakura, 17 tahun, tak mempunyai keahlian sihir' itulah yang dipancarkan oleh cahaya yang tampak begitu sangat jelas diatas kepala Sakura. Itu sebenarnya hanya sihir biasa yang digunakan para dosen untuk mengenali para mahasiswa baru. Sihir ini baru dikembangkan oleh Namikaze Minato, rektor Magic University of Hokkaido.

"Ah, sou desu ka?" Konan mengangguk yakin dan menatap Sakura yang kembali menyelusuri lemari botol semua ramuan obat. "Jadi, boleh aku belajar sihir pengobatan dari sensei?"

Konan menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan sangat perlahan. "Kau tau, aku bukan guru yang bagus untuk tempat belajar sihir"

"Tak masalah, aku akan berusaha lebih rajin mempraktekan sihir yang diajarkan oleh sensei" kini Sakura sudah menatap Konan keyakinan penuh. "Meskipun sulit aku akan belajar, aku tak ingin merepotkan Shikamaru-senpai"

"Oh, jadi kau mendapat partner sementara" Konan berjalan mendekati jendela yang sengaja dibiarkan terbuka. "Yosh, baiklah aku akan mengejarkanmu. Demo.."

"Demo?" Sakura mengulangi kosakata yang dilanturkan oleh Konan yang tengah asik menikmati hembusan angin. "Demo apa, sensei?"

"Demo.." Konan membalikan posisi badannya memunggungi jendela dengan tirai berkibar-kibar. "Kita belajarnya mulai jam 5 sore sampai jam 9 malam tanpa henti"

GLUK

Sakura menelan mentah air ludahnya, dia tak membayangkan akan berlatih tanpa istirahat. Tapi, Sakura mengerti mengapa Konan melakukan hal itu, karena kami tak banyak waktu untuk berlatih sihir baru dan menguasainya dengan cepat.

"Ha'I, aku mengerti, sensei!" sahut Sakura dengan semangat.

'Aku tak boleh diam dan menunggu bantuan Shikamaru, aku harus mengembangkan sihir pengobatanku. Aku tak begitu memahami dan tertarik dengan sihir yang diajarkan Kushina-sensei' gumam Sakura mulai bertekat.

Konan hanya mengulaskan senyumannya melihat semangat yang timbul dari raut wajah Sakura. "Ya sudah, kembalilah ke kelas. Temui aku disini nanti sore"

Mendengar perintah Konan, Sakura langsung menurut dan berlalu pergi dibalik tembok putih yang mengalangi pendangan Konan.

"Kau tak boleh kecapekan, Konan-hime" anjur sebuah suara yang terdengar cukup jelas oleh Konan dan berhasil membuatnya tersentak kaget lalu membalikan tubuhnya.

"Itachi-sensei, sejak kapan kau disini?" seru Konan dengan raut wajah belum percaya.

Itachi tersenyum manis menatap Konan dengan ejekan. Tentu saja, Konan semakin bingung dengan keberadaan lelaki beriris Onyx itu.

"Aku kan sudah bilang.." Itachi meraih helaian surai Konan yang tak begitu panjang dan membelainya dengan lembut. "Jika kita sedang berduaan, panggil aku dengan Itachi-kun"

Kini sebuah kecupan melayang di jidat Konan yang tertutup oleh poni yang menghadap sebelah kiri. "Atau kau mau dihukum, heh?" dan Itachi menyeringai girang melihat wanita dihadapannya sudah membatu membayangkan hukuman yang akan diberikan olehnya.

"Ah, Iie. Gomen-nasai, I-ita.." Konan masih tergagap mendapat tatapan tajam oleh lelaki Uchiha itu. "I-ITTADAKIMASU..!"

'Eh? Yang keluar kok itu sih, baka, baka, baka!' jeritan hati Konan menyesali perkataannya sendiri.

"Hei, katakan dengan benar. Atau kau yang akan kumakan" ucap Itachi yang sudah berhasil masuk dari jendela yang sengaja terbuka itu. "Katakan sekarang"

GLUK

Konan mulai mengeluarkan keringat dingin dengan wajah pucat memandang Itachi yang semakin lama, semakin dekat dan menyudutkannya di dinding dingin ruang kesehatan.

"I-i-itachi, iiii.. ta-chi~ kun" ucap Konan lirih memaksakan mulutnya untuk berkata-kata yang tak pernah ia ucapkan sekalipun.

"Hm? Nani? Aku sungguh tak mendengar apapun" goda Itachi semakin menjadi.

'Itachi-sensei benar-benar menyebalkan, menggodaku seperti ini' Konan memalingkan wajahnya yang sudah merona karena Itachi mendekatkan wajahnya di depan matanya.

Itachi menyentuh dagu Konan dengan lembut dan membuat wanita muda itu menatap tajam Onyx milik lelaki berbadan jangkung itu. Lelaki Uchiha itu menaikan sebelah alisnya seperti berkata, 'Nani?!'

"Gomen-nasai, Itachi-kun~!" seru Konan sembari meneruskannya dengan jeritan panjang dengan akhiran –kun.

Itachi menyeringai dan membekap mulut Konan dengan sebelah tangannya. Itachi tampak senang namun sedikit khawatir jeritan Konan akan di dengar oleh orang lain. Sadar mulutnya dibekap, Konan pun bungkam seribu bahasa.

Setelah kekasihnya itu akhirnya terdiam, Itachi merebahkan tubuhnya di sebuah kasur yang tersedia di ruangan tersebut. Dia tampak beberapa kali menghela nafas, Konan tampak bingung dengan sikap lelaki dihadapannya itu.

"Doushite? Itachi-kun.." Tanya Konan yang tampaknya sudah mulai terbiasa memanggil kekasihnya dengan imbuhan –kun dan menghampiri Itachi yang masih terbaring di kasur.

"Ah, Iie. Aku hanya berfikir, siapa yang akan menjadi partner Ototo?" Itachi kembali menghela nafasnya dan menyilangkan kedua tangannya di belakang kepalanya bersandarkan bantal.

"Sasuke-kun?" Tanya Konan duduk dipinggiran kasur memunggungi Itachi.

"Hn, aku khawatir padanya" Itachi bangkit dari kasur dan duduk disamping Konan. "Konan-hime kejam sekali"

"Kejam?" kini bola mata Konan membulat sempurna hampir melompat keluar dari kepalanya.

"Kau lancar sekali memanggil Sasuke dengan –kun, sedangkan namaku masih dengan –sensei" gerutu Itachi layaknya anak kecil tak kebagian permen.

"Eto.. karena Sasuke-kun sudah kuanggap adikku sendiri" sahut Konan malu-malu cicak.

"Lalu aku? Sensei-mu? Rekan kerjamu?" sungut Itachi berjalan menghampiri jendela.

Kini Konan hanya menatap punggung Itachi ditutupi jas hitam dan kemeja abu-abu. Wanita itu menghela nafasnya sejenak, kemudian menghampiri Itachi.

"Kau kekasihku, dan dia yang akan menjadi adik iparku. Tapi, kita sekarang sedang kerja, mengajari mahasiswa baru" Konan mengadahkan kepalanya menatap langit biru dengan awan yang bertebaran menghiasi warna birunya. "Aku belum terbiasa dengan panggilan itu dan kau tau itu, Itachi-sensei"

Itachi sedikit memajukan mulutnya lalu memutarkan Onyx-nya dengan sempurna, diikuti dengusan kesal. "Kau harus biasakan, Konan-se~nsei"

Konan sedikit terkejut melihat Itachi melompat keluar dari jendela tanpa mengatakan Sayonara lalu mengecup keningnya seperti biasanya. 'Apa dia marah?' gumam Konan menatap kepergian kekasihnya itu.


BRUK!

"Itai..!" ringis Sakura mendapatkan dirinya sudah tersungkur di lantai koridor sekolah.

"Kau baik-baik saja?" sebuah suara menyadarkan Sakura bahwa ia baru saja menabrak seseorang.

"Ha'I, gomen. Aku tak melihatmu tadi" ucap Sakura yang masih berusaha membersihkan rok sepanjang 3 jari diatas lutut. "Sa-sasuke?"

"Hn?" sahut lelaki rambut berpantat ayam itu. "Nani?"

"Ah, Iie. Arigato sudah menolongku untuk yang kemarin" ujar Sakura sedikit membungkuk.

"Hn" sahut lelaki itu lagi dengan menancapkan Onyx-nya di pandangan emerald Sakura.

'Dingin sekali, tapi kenapa dia menatapku seperti itu' risih Sakura mulai salah tingkah mau melakukan apa lagi.

"Suraimu" kata Sasuke sedikit lirih dan membuat Sakura kurang mendengar kata-katanya.

"Nani?"

"Rambutmu indah" ulang Sasuke.

SRERT!

Hembusan angin tiba-tiba saja menerpa rambut merah muda milik Sakura, dan untuk sejenak kebisuan seribu bahasa mereka menimbulkan keheningan cukup lama sampai hembusan angin terhenti dan lelaki Uchiha itu melanjutkan kata-katanya.

"Seperti bunga Sakura, aku menyukainya"

BLUSH

Untuk sekarang tak hembusan angin, namun rasa sesak seperti sebuah tusukan pisau yang menancap tajam didada Sakura. Deg! Sakura hanya menatap kosong wajah tampan Sasuke tanpa menyadari wajahnya sudah merona.

Tiba-tiba saja, Sasuke membulatkan matanya kemudian melangkah pergi meninggalkan Sakura yang masih mematung ditempat itu juga.

".. aku menyukainya"

Kata-kata itu selalu terngiang di kepala Sakura, wajahnya semakin memerah menyadari bahwa Sasuke baru saja memuji rambut merah muda miliknya.

'Dia menyukainya? Rambutku? Baru pertama kalinya ada lelaki memuji rambutku, kyaa..!' gumam Sakura menjerit kegirangan, lalu berjalan berlawanan arah dengan Sasuke sembari memegangi surai merah muda miliknya.


Huwaaa.. gak bisa move on mikirin gimana jadinya manga Naruto kalau MK-sensei beneran gak gambar komik Naruto lagi.. MK-sensei tega bener dagh X'O paling tidak buat cerita Namikaze Family deh, habis terharu kalau lihat jalan cerita mereka X'D #abaikan

Akhirnya, chap 6 nya update juga XD semoga aja nih fic selesai sebelum liburan sekolah selesai, kalau gak selesai juga, bisa discontinue deh fic ini, kan sayang XD *ditimpuk

Oh ya, gimana ceritanya yang kuselesaikan penuh kegalauan diri ini? semakin gaje dan gak karuan kah? maklumin aje ye, minna XD salahin MK-sensei yang buat author galau gak tentu arah #GakUsahNyalahinOrang:O

Yups, Terimakasih sudah baca fic ku yaa minna, jangan sampai lupa tinggal review berharga kalian yaak XD #lebay

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H, Mohon Maaf Lahir Dan Bathin :) Bagi Yang Merayakan XD