Magic University of Hokkaido
Mengungkap Masa Lalu
-Part 2-
"Wah, membosankan sekali" suara keluahan itu keluar dari bibir manisnya gadis berkucir kuda dengan surai kuning menyala yang sangat indah. "Besok sudah pemilihan partner, aku belum bisa menentukan yang tepat"
Gadis bersurai merah muda di sampingnya hanya tersenyum lembut dan sejenak termenung akan sesuatu hal. 'Ah, benar juga. Aku juga belum memilih partner-ku' guman gadis itu sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan.
"Ah, benar juga. Sebaiknya aku minta dia saja yang menjadi partner-ku" keputusan Ino pun sudah bulat dan mengalihkan perhatian Sakura.
"Siapa? Sai?" Tanya Sakura melirik sebentar sahabatnya yang mengangguk yakin. "Kenapa bukan Shikamaru?"
Sekarang bukanlah anggukan yakin yang tampak di pandangan Sakura, melainkan Death glared Ino yang sangat menusuk memperhatikan emerald Sakura dengan tajam. "Kan sudah kubilang, dia sudah punya partner sekaligus pacarnya, forehead!"
Ya, tanpa diberitahukan oleh Ino pun, Sakura juga sudah mengetahuinya dari mulut Shikamaru. Ia bahkan sudah mengetahuinya pada hari dimana ia terakhir berlatih sihir bersama Shikamaru sebagai partner sementaranya.
Flashback On
"Strength of hand, magic!"
SRING!
Seorang gadis bersurai merah muda melompat menjauh dari batu-batu besar yang telah ia hantam dengan kekuatan penuh. Sedang lelaki berambut nanas di belakangnya, hanya berdiri menunggu reaksi dari sihir gadis itu.
Trak! Bam!
Yap! Batu berukuran cukup besar itu telah menunjukan hasil penyerangan gadis bermanikan emerald itu. Rona kebahagian disertai cucuran keringat yang telah membasahi seluruh tubuhnya, gadis itu tersenyum bahagia dan memandang lelaki disampingnya sekarang.
"Selamat, Sakura! Sihirmu sudah jauh berkembang, bahkan sangat terkendali daripada Kushina-sensei" ucap lelaki sembari membayangi sensei yang ia bicarakan sedang murka.
"Arigato, Shikamaru-Senpai. Ini berkat bantuanmu seminggu ini, aku akhirnya cukup menguasai sihir ini" sahut Sakura dengan semangatnya.
"Ah, aku bahkan tak berbuat apa-apa. Dengan begini, kau tak perlu bantuanku sebagai partner sementara lagi" ujar Shikamaru melipat tangannya di dada bidangnya.
"Kau benar, gomen sudah merepotkanmu seminggu ini" Sakura sedikit menundukkan kepalanya lalu segera diangkatnya kembali.
"Ah, kau tak merepotkanku sama sekali. Oh ya Sakura, bagaimana.." belum sempat Shikamaru melanjutkan perkataannya yang sudah tergantung karena sebuah seruan yang memanggil namanya.
"Sudah selesai, Shikamaru?"
Shikamaru dan Sakura serempak mengamati seorang gadis bersurai kuning menyala dengan kucir empat kepala nanas berjalan menghampiri mereka dengan wajah datar.
"Ini sudah sore, tidakkah bisa besok kalian lanjutkan lagi?" ketus gadis itu tampak sedang kesal.
"Mendokusei.." Shikamaru menghela nafasnya sejenak. "Aku sudah bilang, jangan menungguku, Temari"
'Pantas saja, 5 hari lalu Ino mengamuk tak jelas. Shikamaru sudah punya kekasih yang bahkan tampak menyebalkan dari Shikamaru' gumam Sakura sembari mengingat amarah Ino yang tak terkendalikan beberapa hari yang lalu.
"Ano.. dia siapa, senpai?" Tanya Sakura memecahkan perseteruan Shikamaru dan Temari yang sudah cukup lama berlangsung.
"Ah, aku? Aku partner sekaligus kekasihnya" sahut Temari dengan santai.
"So-sou desu ka? Gomen, telah merepotkan kekasihmu" ucap Sakura sedikit terkejut mendengar penuturan Temari tadi.
"Tak usah minta maaf Sakura, Temari bisa tidak kau tinggalkan kami berdua sebentar" kata Shikamaru.
"Hn, aku mengerti"
Lalu, Temari berjalan meninggalkan Shikamaru yang masih menatap punggungnya hingga menghilang dibalik kegelapan bayangan pepohonan yang cukup tinggi itu. Sekarang Shikamaru menatap Sakura yang masih terdiam menatapinya dengan tatapan kosong.
"Jadi, sejak kapan kalian pacaran, senpai?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir manis gadis merah muda itu.
"Ah, um.. baru beberapa minggu lalu" sebuah kekehan kecil keluar dari mulut Shikamaru.
"Jadi, kau sudah move on dari sahabatku?" goda Sakura dengan tatapan mengejeknya.
Shikamaru menyisir rambutnya hingga ujung helaian terakhir, sedikit garukan beberapa kali membuat Sakura menanti sedikit lama. "Aku tak pernah melupakannya, kau tau?"
Sakura mengubah tatapan mengejeknya dengan raut wajah serius. Shikamaru menghela nafasnya cukup dalam. "Dia yang menghindariku, aku bahkan tak diberikan kesempatan untuk berbicara dengannya"
"Dia memang begitu, dan aku yakin ia masih menaruh perasaan padamu" Sakura mulai berkomentar. "Aku sudah mencoba menyadarkannya, tapi ia tetap keras kepala"
"Aku tau itu" Shikamaru menghela nafasnya kembali yang cukup lebih cepat dari yang tadi. "Aku hanya, argh.. aku sudah tak punya strategi untuk mendekatinya lagi"
Flahback Off
"Kau dengar aku?" sebuah suara menyadarkan Sakura dari ingatannya pada 2 minggu lalu, tepatnya begitu.
"Aeh? Gomen, Ino" Sakura hanya menyengir ria mendapati wajah kusut Ino yang sudah cukup parah. "Ayolah, pig! Jangan marah begitu, jadi kau sudah menanyakan Sai untuk menjadi partner mu?"
"Belum, setelah istirahat akan kutanyakan" Ino mulai mengedarkan pandangannya, memastikan sensei tak masuk ke kelas. "Jadi, siapa partner mu?"
"Aku belum memutuskan siapa, aku belum memikirkannya sampai sekarang" Sakura menghela nafasnya, menyadari kelalaiannya tersebut.
"Naruto, kenapa bukan dia saja?" usul Ino.
"Iie, aku yakin ia sudah memiliki partner sekarang. Kau tau kan, Shion ataupun Karin mengejarnya untuk menjadi parner nya"
"Kau benar, Hinata? Bukankah ia juga menyukai Naruto?" Ino mencoba mengingat kembali seminggu yang lalu saat Hinata berseteru dengan Karin karena sama-sama menyukai lelaki berambut pirang itu.
"Kau benar, makanya tak mungkin ia menjadi partner ku saat-saat terakhir begini"
"Jadi, kau belum memiliki partner, Sakura-chan?" pertanyaan yang tak berasal dari kedua gadis itu, melainkan seorang lelaki berambut merah yang tampak menguping pembicaraan kedua sahabat itu.
Sakura merubah mimik wajahnya saat mengetahui siapa yang bertanya kepadanya. "Itu tak ada hubungannya denganmu, Sasori"
"Hey, hey! Jangan ketus begitu, wajahmu jadi tampak tua dengan wajah masam itu" goda lelaki dengan sebutan Sasori itu sambil mencolek pipi Sakura. Namun, dengan sigap Sakura menjauhkan wajahnya dari tangan Sasori.
'Dasar, bahkan saudara jauh pun mempunyai sikap kurang ajar juga' gumam Sakura berdecak kesal.
"Siapa lelaki tampan ini, Sakura?" bisik Ino berharap lelaki dihadapannya tak mendengar ucapannya.
Namun, telinga tajam Sasori sangat peka dengan pujaan. Lihat saja, sebuah tawa kemenangan yang tersungging dibibirnya. "Perkenalkan Kirei-chan, namaku Sasori" sambil menggenggam tangan Ino yang lembut, Sasori memberi sebuah kecupan manis.
"Eh, namaku bukan Kirei-chan, tapi Ino" sahut gadis berambut pirang itu dengan polos. Dan Sakura menyeplak jidat lebarnya. 'Ya ampun, Ino'
"Yoroshiku, em.. Ino-chan" Sasori tersenyum riang lalu menatap Sakura dengan kesenangannya. Lalu, berlalu pergi begitu saja.
"Kau jangan sampai tergoda dengannya" saran Sakura dengan ketus.
"Doushite? Kau cemburu?" Ino mendelik tajam dengan senyuman menyindir.
Sakura membalas dengan death glared tajamnya, disertai dengusan kesal. "Dia memiliki sikapa sama dengan sepupunya, Gaara dan.. um, Temari. Eh? Kau taukan?" Sakura tampak ragu mengatakannya, karena takut Ino tersinggung.
Dan benar saja, Ino memalingkan wajah kesalnya agar tak dilihat oleh Sakura. Sakura hanya tersenyum kaku, melihat aneh kearah sahabatnya itu. Benci, tak ingin tau, tak peduli tentang apapun yang menyangkut dengan Shikamaru. Sakura tau itu hanya kata-kata Ino untuk menyembunyikan perasaannya kepada cinta pertamanya itu.
"Sudahlah, aku juga tak akan jatuh cinta pada Sasori, meskipun ia tampan, hehehe.." balas Ino dengan cengiran.
PLAK!
"Itai..! kenapa kau menjitakku, forehead!" Ino meringis kesakitan. "Dan jika serangga kau jadikan alasan, kujitak lagi kepalamu"
"Ehehe.." Sakura hanya tertawa karena ketahuan alasannya oleh Ino. Dan gadis bersurai pirang itu hanya menatapnya dengan jengkel. 'Malah ketawa kau, forehead!'
"Konichiwa! Hari ini kalian akan belajar mengeluarkan sihir terdalam dari diri kalian" Tiba-tiba saja Itachi muncul dibalik asap yang tak disadari oleh mahasiswa di kelas itu.
"Konichiwa! Itachi-sensei~" sahut para mahasiswi dengan semangat '45 contoh penerus bangsa yang bersemangat, bukan?
"Yap, karena kalian cukup semangat. Kita mulai saja, kita mulai dari Chouji!" Itachi menunjuk seorang lelaki berbadan gumpal yang masih asik dengan snack yang sedang digenggamannya. "Kau maju!"
"Ha? Kenapa aku, sensei?" Tanya Chouji sambil berjalan menghampiri Itachi dan membuang bungkus makanan ringannya yang telah habis.
"Sudahlah, tutup matamu dan konsentrasi pada satu titik cahaya dalam kegelapan" jelas Itachi sembari member tempat untuk Chouji berdiri didekatnya. "Sihir ini lebih tepatnya aku yang menggunakannya, kalian hanya perlu berkonsentrasi dan fokus pada satu titik cahaya dalam kegelapan saat kalian menutup mata"
Kembali menatap Chouji yang berusaha keras mencari cahaya di kegelapan dirinya sampai-sampai wajahnya memerah karena tak mengambil nafas terlalu lama. Itachi menggerakan tangannya diarea wajahnya, lalu berjalan sedikit menjauh.
Pruuut~
Sebuah gas berjumlah cukup besar keluar dari lobang pantat Chouji dan membuat seluruh mahasiswa terpaksa menahan nafasnya karena ulah Chouji. Ini lebih tepatnya berkonsentrasi mengeluarkan gas alam Chouji, daripada memfokuskan ke titik sihir tersembunyinya.
"Hoy..! gendut, kau kentut jangan sembarangan!" maki seorang mahasiswa sembari berteriak tanpa melepaskan tangannya yang melekat dihidungnya.
'Yang benar saja?' gumam Sakura menatap lemas lelaki berbadan gempal yang berdiri disamping Itachi.
"Apa kau bi.. lang?!" dengan berapi-api Chouji berteriak membalas makian para mahasiswa akibat ulahnya sendiri.
"Sudahlah, Chouji tidak bisakah kau berkonsentrasi sedikit. Besok kalian sudah harus mempersiapkan ujian kelulusan, mengerti?" Itachi melerai perdebatan para mahasiswanya dengan senyuman menawannya, tentu saja para mahasiswi terpesona melihatnya.
"Yosh! Aku akan berkonsentrasi sekarang, yang tadi hanyalah pemanasan!" ujar Chouji mengelak.
'Pemanasan apanya? Buang gas gitu dibilang pemanasan?!' iner Sakura sudah angkat bicara rupanya.
Chouji menghela nafas panjang sebelum menutup kedua matanya, seperti sedang menenangkan diri. Setelah beberapa menit berselang, Itachi tersenyum kemudian menepuk pundak Chouji sebanyak tiga kali.
"Show Us.." sebuah mantra yang mengundang cahaya yang sekilas timbul di seluruh tubuh Chouji.
SRING!
"Wow, aku jadi lebih tampan darimu sensei" ucap Chouji sembari mengeluarkan cermin besar dari kantongnya lalu membantingnya kebelakang.
Semua orang terpana dengan perubahan Chouji, bahkan tak ada kedipan mata oleh seluruh mahasiswa. Bagaimana tidak? Chouji yang berbadan gempal menjadi kurus, pipinya yang tempam menjadi tirus. Meskipun tak terlalu tampan, tapi Chouji menarik perhatian sebagian mahasiswi.
"Heh? Jadi, penyamaran tubuhkah sihirmu?" Itachi tersenyum sinis lalu melipat tangannya didada. "Bahkan penyamaranmu tak menandingi ketampananku" dan Itachi tersenyum bangga. 'Apa lagi, Ototo-ku yang manis. Hoho..' APA? Jangan-jangan Itachi Brother Complex, OH NO! *ditendang
Chouji berdecak kesal, sensei yang ia benci tak berhasil kesal oleh perkataannya. Dengan santai Chouji berjalan mendekati meja semula ia tempati, tanpa mengetahui seluruh mata tertuju padanya karena tubuhnya kembali seperti sedia kala.
"Baiklah, aku berbohong!" Chouji terlihat berbinar mendengar penuturan sensei yang berada didepan kelas. "Kalian bisa menggunakan sihir ini, tapi hanya untuk diri kalian sendiri"
"Ini tak akan membahayakan, jika kalian gagal. Belajarlah sendiri, aku akan mengawasi kalian" sambung Itachi. "Oh ya, besok kalian beruntung, besok adalah hari berlibur dan kalian boleh mengunjungi Kota Edo"
"Kota Edo?!" seru seluruh mahasiswa masih belum mengerti dengan perkataan sensei mereka itu.
"Ya, Kota Edo adalah Kota untuk para penyihir tinggal. Disana mereka hanya menjual barang-barang sihir tak berbahaya, tak ada penyihir jahat disana. Jadi, kalian aman kesana" sahut Itachi. "Ah, aku lupa. Kota itu berada sebelah utara dari disini, aku dan Kakashi-sensei yang akan mengantar dan mengawasi kalian"
Setelah jam pelajaran habis, Itachi meninggalkan kelas diikuti para mahasiswa yang berhamburan keluar dari ruangan itu. Sakura dan Ino memutuskan berpisah disimpang jalan karena memiliki kepentingan masing-masing. Sudah lebih dari seminggu, Hinata dan Karin tak bersama mereka. Mungkin karena pertengkaran mereka mengenai putra tunggal rector itu.
Sakura menghela nafasnya sejenak, memikirkan siapa yang akan menjadi partnernya besok. Ditambah teman barunya, Hinata dan Karin mengalami masalah seperti itu. Sebenarnya Sakura tak ingin mereka begini terus, tapi mereka tetap kokoh dengan prinsip masing-masing.
'Oh ya, kenapa belakangan ini aku tak melihat Sasuke-kun ya? Apa dia sudah memiliki partner?'
Sakura menghentikan langkah kakinya saat mengetahui dirinya sudah tak dilingkungan sekolah, melainkan berada ditepi danau yang menjadi tempat pertama kali bertemu dengan Sasuke. Sakura sedikit terkekeh membayangkan cerobohnya dirinya yang tak pandai berenang malah mencoba menolong orang yang disangkanya ingin bunuh diri padahal itu salah paham.
'Seperti biasa, danau ini begitu tenang'
Sakura tampak sangat menikmati hembusan angin yang menari-nari diatas udara sejuk disekitar danau yang tak bernama itu. Kenangan kecerobohannya itu masih sangat jelas di benak gadis bersurai merah muda itu. Namun jika bukan kecerobohannya, mungkin Sakura tak akan dapat mencium harumnya aroma tomat di tubuh lelaki berbadan jangkung itu.
"AKU BEGINI JUGA SALAHMU!"
Sakura tersentak saat mendengar sebuah seruan yang berasal dari sela pepohonan yang rindang. Perlahan-lahan, Sakura berjalan melewati sela-sela pepohonan menemukan asal suara seruan itu.
"Aku tau, gomen-nasai" sebuah suara lirih membalas sebuah seruan tadi yang menyita perhatian Sakura.
Kini Sakura menyembunyikan dirinya dibalik semak-semak yang cukup untuk membuatnya tak terlihat oleh kedua orang lelaki berambut raven dihadapannya itu.
'Itachi-sensei dan Sasuke-kun?!'
Dengan seksama Sakura memperhatikan pembicaraan mereka yang tampak sedang mempermasalahkan sesuatu yang sangat penting.
"Kau Kira Dengan Minta Maaf, Aku Kembali Seperti Semula. Tidak, Aniki!" seruan itu keluar dari bibir Sasuke seraya pergi meninggalkan Itachi yang tampak masih merasa bersalah.
"Chotto.. argh! Ototo!" Itachi tak sempat menghentikan langkah kesal Sasuke yang berlalu pergi tanpa menginggalkan titik terang dari permasalahan mereka.
'Jadi.. Itachi-sensei itu aniki Sasuke-kun?' gumam Sakura yang masih menjadi penguntit dibalik semak-semak.
Tap!
Itachi melangkah berlawanan arah dengan Sasuke, dengan artian berjalan menghampiri Sakura yang sudah mulai panik karena ia menyangka keberadaannya diketahui oleh senseinya itu.
'Nani?! Bagaimana ini?'
Tanpa sadar rupanya Itachi sudah berjalan melewati Sakura, dan setelah sadar gadis beriris jambrud itu menghela nafas lega karena keberadaannya tak diketahui oleh Itachi. "Yokatta.. fiuh!" ucap Sakura merasa lega.
.
.
.
"Tak baik mendengar pembicaraan diam-diam"
'Eh?!' Dengan kaku Sakura memutar kepalanya secara perlahan menatap lelaki yang sudah duduk disampingnya itu. "I-itachi-sensei, sejak kapan disini?"
"Kau kira aku tak menyadari keberadaanmu?" Tanya Itachi mengacuhkan pertanyaan Sakura yang sudah tergagap.
"Eh?" Cuma satu kata itu yang terperosok keluar dari mulut Sakura dengan wajah bengongnya.
"Jangan hanya 'Eh?' benar-benar kau ini" Itachi beranjak dari sisi Sakura lalu berjalan membelakangi Sakura yang ikut mengekor dibelakangnya.
"Sensei, Aniki Sasuke-kun?" Tanya Sakura tak memperdulikan kesal Itachi.
"Hm?" Itachi menghentikan langkahnya dan memandang Sakura. "Bukan, dia Ototo-ku"
'Itu sama saja, sensei-baka!' maki iner Sakura berdecak kesal dengan Itachi.
"Dia benar, aku memang salah" dan penuturan Itachi itu menghentikan kemarahan hati Sakura dan menatapnya dengan bingung. "Tak seharusnya aku membiarkan Obito-sama berbuat semaunya"
"Maksudnya?" Itachi mendelik tajam padam emerald itu.
"Jadi, kau tak mendengar semuanya ya?" dan kini Onyx itu menerima tatapan penuh pertanyaan. Dan pemilik Onyx itu pun menghela nafasnya sejenak lalu melangkahkan kakinya. "Kau dengar gosip jelmaan iblis ditubuh Sasuke, bukan?"
"Ha'I, tapi Sasuke-kun tak mirip iblis sama sekali tuh, sensei" sahut Sakura mengeluarkan argumennya.
GUBRAK!
Itachi menarik nafas pendek dan melanjutkan kata-katanya. "Jelmaan bukan berarti dia iblis, dalam keturunan kami, Uchiha memiliki jelmaan iblis didalam tubuh.."
"Jadi, sensei juga iblis?" hakim Sakura.
"Jangan memotong kata-kataku! Sudah kubilang jelmaan bukan berarti yang sebenarnya iblis" kalap Itachi melihat tingkah mahasiswinya yang satu ini. "Kami bisa mengendalikan jelmaan itu asal mata asli kami utuh"
"Tapi, mata Sasuke-kun utuh kok, Itachi-sensei pun begitu" potong Sakura tak memperdulikan ancaman Itachi tadi.
"Kau memotongku lagi?! Memang mata kami utuh, namun berbeda dengan Sasuke"
Hening sejenak.
"Obito-sama meninggal tertimpa batu, sebelah matanya diberikan kepada Kakashi-sensei sebelum ia mati" sambung Itachi.
"Haa, jadi Kakashi-sensei iblis juga begitu?"
"Jangan berpendapat seenak jidat lebarmu!" dan kini Itachi lebih tampak kesal dari yang tadi. "Kakashi-sensei bukanlah Uchiha jadi jelmaan iblis itu tak ia miliki"
Sakura menatap Itachi begitu dalam, berharap sensei nya itu melanjutkan pembicaraan mereka tentang Sasuke.
"Iblis milik Obito-sama pindah ketubuh Sasuke yang masih berusia 3 tahun" sambung lelaki Uchiha tersebut.
"Lalu, kenapa Sasuke marah kepada sensei?" pertanyaan gadis bersurai merah muda itu membuat lelaki bermata Onyx yang masih berjalan didepannya menghela nafas.
"Aku membiarkan iblis itu memakan kesadaran Sasuke yang belum mengerti apa-apa dan membantai seluruh keluargaku" sahut Itachi tertunduk lemas membayangkan amukan Sasuke dimasalalu.
"Sasuke benar, sensei memang salah" tutur Sakura sambil mengepalkan tangan kanannya diatas tangan kirinya sebagai alas. Seperti palu kehakiman.
"Kenapa kau yang menghakimi sensei mu ini, hah?" wah, tanduk Itachi muncul bahkan taringnya pun keluar.
"Aku bukan menghakimi sensei kok, itu menurutku" Sakura tak terburu mengucapkan kata-kata santai itu dan membuat tanduk dan taring amarah Itachi menghilang. "Sasuke marah bukan hanya karena sensei membiarkan iblis itu memakan kesadarannya, melainkan membiarkan dia membunuh seluruh keluarga yang ia sayangi"
Itachi tersenyum mendengar pendapat Sakura dengan tegas dan tenang tanpa takut senseinya itu murka kepadanya. "Dan seharusnya iblis itu masuk ketubuh sensei yang sedari awal sudah menakutkan"
"Kau.. masih saja mengejekku, dasar jidat lebar!" Itachi mengepalkan tangannya dengan urat-urat tangan yang sudah tampak jelas dikulit tangannya.
'Wah, sensei marah! Dia pasti akan memukulku!' jerit Sakura ketakutan melihat amarah Itachi yang telah memuncat.
Tak!
'He?' Sakura terpelongo saat menyadari lelaki berambut raven dihadapannya tersenyum sembari mengelus surai merah muda miliknya itu.
"Arigato, kau benar. Seharusnya akulah yang menjadi wadah iblis Obito-sama" ucap Itachi yang masih membiarkan seulas senyuman diwajahnya. "Kembalilah ke sekolah, nanti kau ketinggalan mata kuliah"
"Kyaa! Astaga, aku sampai lupa! Arigato sensei, aku ke sekolah dulu" seru Sakura kepanikan saat baru sadar bahwa dirinya akan ketinggalan mata kuliahnya yang keempat.
Dengan ulasan senyuman diwajahnya, Itachi menghantarkan kepergian Sakura dari dalam hutan pepohonan yang lebat ini. Setelah Sakura tak tampak dipelupuk matanya, Itachi menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak ada uban, kutu, maupun ketombe.
"Sepertinya Konan akan memarahiku lagi"
Yeay! Update chap 7 juga XD Tapi, ane kok baru sadar napa Sasusaku di chap 6, ane kelihatan PHP in Sakura yaak?o_O *direbusSakura Oh ya, aku juga baru sadar, perasaanku moment SasuSaku yg kemarin kagak kayak gitu dagh, kenapa jadi melenceng jauh yee? O.o Nah Loh? *dicincangSasuke#abaikan
Dah, ampe situ aja deh Note ane, jangan lupa reviewnya, kali ini ane udah berusaha sekuat tenaga banting otak buat word sepanjang sungai nil, tapi jadinya? yaak, gitu deh XD Bye, bye di chap selanjutnya,, #macamselesaiaja-_-
Otanjoubi Omedetou, Sasuke-nii XD Moga jadi Tou-san yang baik buat Sarada-chan *pakemicrophone
