.

.

.

.

.

Magic University Of Hokkaido

Mengungkap Masa Lalu

-Part 3-

Sasuke's Side

".. Kau pembunuh!.."

Satu kalimat penekanan itu yang selalu terngiang dikepala lelaki berambut pantat ayam itu sembari merebahkan tubuh lelahnya diatas kasur berukuran besar cukup untuk dua bahkan 4 orang itu.

Lelaki bermata Onyx itu berusaha menghela nafas dengan tekanan bathin yang sangat menyiksa. Meskipun dengan wajah datarnya itu, orang yang sudah terbiasa dengannya akan mengerti raut wajah itu bukan hanya datar. Melainkan menyimpan rasa sakit yang teramat dalam di dalam bathinnya.

".. Mereka itu keluargamu, apa kau tau? Ah, bahkan dengan hati iblismu itu kau tak memandang keluarga, bukan?"

Lagi, makian itu terngiang dibenaknya yang sudah amat sakit dengan semua masalah yang ia terima selama 18 tahun terakhir ini. Jika omongan orang-orang sekitar yang menyudutkannya sebagai iblis berhati dingin, ia tak peduli sama sekali. Tapi, tidak dengan makian dari orang yang masih terbayang diingatannya itu.

Gadis kecil dengan beririskan permata Ruby itu menatap tajam Onyx milik lelaki Uchiha itu. Terasa seperti sedang ditusuk oleh seribu jarum tepat dijantungnya. Meskipun telah tertutup dengan sebuah frame hitam yang menyembunyikan iris merah itu, hujaman rasa sakit akibat tatapan gadis itu masih terasa hingga kini.

"Masih mengingatnya?" sebuah suara yang membuyarkan ingatan lelaki berambut raven itu, segera bangkit dari kasur dan menatap safir biru langit memandanginya dari depan pintu kamar. "Bahkan dia telah melupakanmu"

Seulas senyuman sinis terukir diwajah pemilik helai rambut berambut berwarna kuning menyela itu. Seakan berhasil menebak perasaan teman satu kamarnya itu yang masih terduduk di atas kasur empuk.

"Aku tak menyangka, kau berteman dengan sepupuku.." sambungnya sembari meletakan jubah biru gelap di gantungan baju belakang pintu. "..Uzumaki Karin"

Tak ada kelanjutan dari kata-kata dari lelaki berambut pirang itu, ia hanya menghempaskan badannya di sebelah sisi berlawanan dengan lelaki berambut senada dengan matanya. Menghela nafasnya sejenak lalu menatap punggung teman sekamarnya yang masih mematung disebelahnya.

"Aku tau" satu kata balasan dari putra bungsu Uchiha itu. "Dia membenciku"

Naruto –lelaki berambut pirang mengetahui nada datar milik Sasuke –lelaki berambut raven itu tidak seperti biasanya, terdengar lesu dan tak bersemangat. Jika menyangkut masa lalu, Naruto paham betul sahabatnya ini akan terlihat seperti orang yang akan segera menemui ajalnya.

Bagaimana tidak, membunuh anggota keluarga yang sangat disayangi bahkan dibenci oleh seorang gadis yang sangat berharga baginya itu sangat menyakitkan. Bertahun-tahun ditinggalkan, dicampakan dan dilupakan seperti sampah yang tak berguna. Tak ada kata sapaan –kun untuk namanya lagi, hanya kata 'Kau' yang digunakan oleh gadis bersurai merah menyala itu untuk teman sejak kecilnya.

Terdengar kejam, memang. Kebencian Karin terhadap Sasuke menutupi seluruh kenangan yang mereka ukir selama 2 tahun mengenal. Karin termasuk gadis yang tak menerima alasan untuk sebuah tindakan kejam, seperti pembunuhan yang dilakukan oleh Sasuke diumur 3 tahun. Sangat muda, dan siapa yang menyangka diumur seperti itu seorang anak kecil dapat membunuh keluarganya sendiri.

"Tenanglah, aku yakin dia tak sebenci itu padamu" kini Sasuke menatap Naruto dengan penuh pertanyaan atas penuturannya tadi. "Kita ini sama, jika ia dapat membencimu. Kenapa denganku tidak?"

Benar, mereka sama. Sama-sama memiliki sosok asing didalam tubuh mereka yang dapat mengancam keselamatan orang disekitar mereka. Meskipun sudah terbiasa dengan sosok asing itu, bukan berarti mereka terbiasa mengendalikan emosi dari iblis ditubuh mereka.

"Aku pembunuh, dobe" terdengar penuh penyesalan. "Kau tidak"

"Kau tidak, Teme." Sedikit helaan nafas untuk mengetahui perubahan raut wajah datar itu. "Lebih tepatnya iblis itu yang membunuh dengan menggunakan tubuhmu"

Sasuke menatap Naruto diiringi senyuman lega. 'Arigato, Naruto' mungkin itulah arti dari tatapan itu. Naruto hanya menampakan gigi-giginya yang tersusun rapi, diikuti tawa bangga karena berhasil menyemangati sahabat karibnya itu.

"Kau sudah menemukan partner mu?" pertanyaan pengalihan dibuka oleh Naruto dan disambut dengan gelengan pelan oleh Sasuke. "Kau, dobe?"

"Sudah, tapi mereka bertiga itu semangat sekali. Rela melakukan apa saja syarat yang kuminta" Naruto terkekeh sembari menyilangkan tangannya dibelakang kepalanya beralaskan bantal. "Aku sampai bingung memilih mereka"

Sasuke hanya tersenyum sedikit lalu menatap langit-langit kamar yang dihiasi gemerlap bola api ditimbulkan ulah putra tunggal Minato itu. Memberikan kenyamanan tubuh setelah seharian mengikuti mata kuliah terakhir.

"Kau kenal dia?" ucap Sasuke menggerakan tongkatnya sehingga menimbulkan asap gelap menampilkan sebuah gambaran yang sedikit mengabur.

"Tentu" sahut Naruto dengan semangat, mengalihkan pandangannya ke wajah datar Sasuke namun Onyx nya terlihat berbinar. "Kau menyukainya ya?"

Meskipun mereka sama-sama memiliki jelmaan iblis, sikap mereka sama sekali tak sama. Sasuke lebih terbilang pendiam, tak banyak bicara, bahkan bisa dikatakan dingin. Sedangkan Naruto termasuk orang yang ramah, baik dan suka menolong orang-orang sedang membutuhkan bantuan. Di depan orang lain sih tampak dewasa, tapi jika sudah berduaan dikamar ataupun dimana saja bersama Sasuke. Naruto akan menjadi setan kecil yang sering mengusili lelaki Uchiha itu. Seperti yang ia lakukan sekarang, menyenggol Sasuke yang sudah menurunkan alisnya. 'Anak bodoh ini..'

Naruto terkekeh kecil melihat tampang Sasuke yang berubah saat ia menggoda sahabatnya itu. "Kau tak perlu malu, Sa-su-ke-kun~" sambung Naruto meniru nada bicara Hinata.

Plak!

Sebuah hantaman pukulan mendarat dengan indahnya di mahkota pirang milik Naruto yang sudah meringis kesakitan dari tangan Sasuke. "Hentikan, kau membuatku merasa jijik"

"Aa~ Sasuke-kun merasa jijik terhadap diriku yang seksi ini" goda Naruto yang telah berdiri dan melakukan gerakan aneh Rock Lee.

Bam!

Sebuah bantal melayang di wajah Naruto yang tengah tertawa kemenangan membuat sahabatnya itu jengkel setengah mati. Lelaki berambut pirang menghentikan gerakan anehnya dan memungut bantal yang dilempar oleh Sasuke, lalu mendudukan dirinya dikasur.

"Jadi, apa yang membuatmu tertarik padanya?" Naruto melirik kepulan asap hitam di langit kamarnya sudah menghilang sedikit demi sedikit, tak menyisakan gambaran apapun yang diperlihatkan Sasuke tadi.

"Dia mengingatkanku pada seseorang.."


Flashback On

"Hii, kau habis main apa sih?" Sasuke melirik seorang gadis yang sedang berjongkok disampingnya. "Lihat, seluruh tubuhmu penuh tinta merah"

Gadis itu menyapu cairan yang dikatakannya 'Tinta Merah' dengan sebuah sapu tangan kecil berwarna kecoklatan. Sasuke hanya diam dan menatap iris gadis polos yang tak menyadari cairan yang sedang dibersihkannya itu adalah darah.

"Nah, ini lebih mendingan" gadis itu tersenyum riang lalu berdiri di depan Sasuke. "Ayo kita pergi, bersihkan badanmu di sungai"

"Sungai?" Sasuke mengulangi kata terakhir yang diucapkan gadis itu.

Gadis itu mengangguk yakin dan menarik tangan Sasuke hingga bangkit dari duduknya. "Iya, seperti bak mandi tapi sangat luas dan indah" tangan gadis itu memperagakan luasnya sebuah sungai hingga tangannya hampir mengenai wajah Sasuke.

'Polos sekali..'

Sasuke tak begitu dapat mengamati bentuk wajah gadis itu dibawah cahaya rembulan yang tertutup oleh tingginya pepohonan nan rimbun ditengah rimba hutan. Gadis itu tak peduli, 'Apakah Sasuke ingin mengikutinya atau tidak?', ia hanya menarik tangan Sasuke menuju tempat yang ia maksudkan.

"Ini dia namanya 'Sungai', indah bukan?" seru gadis itu memunggungi Sasuke.

Kini Sasuke dapat melihat dengan jelas gadis dihadapannya sedang tersenyum manis menatap dirinya yang masih penuh dengan darah disekujur tubuhnya. Dibawah cahaya rembulan yang tak lagi terhalangi untuknya melihat jelas rupa gadis itu. Onyx miliknya membuat sempurna, mengartikan sebuah kekaguman yang teramat dalam.

"Surai merah muda yang indah dan emerald hijau yang cantik.."

Flashback Off

Sasuke's Side End


"Hua…" Sakura sedikit membuka mulutnya dengan tangannya yang setia menanti menutupi sebagian wajahnya itu. "Chim..!"

Setelah sukses menjalani menghilangkan gatal dihidungnya, Sakura menyapu hidungnya dengan sebuah sapu tangan disaku sebelah kanannya.

"Ada yang membicarakanmu" ucap gadis disebelahnya.

"Hm?"

"Kau bersin, pasti ada yang membicarakanmu" tambah gadis berkucir kuda itu.

Sakura menatap sahabatnya yang tengah asik memeluk bantal dipelukannya. Sakura meletakan sapu tangannya mengembang di atas meja didekatnya, lalu menghampiri Ino yang telah merebahkan tubuhnya lebih dulu.

"Kau ini, hal seperti itu tidak bisa dipercaya" Sakura menghempaskan tubuhnya di samping Ino. "Jadi, Sai juga memintamu menjadi partnernya?"

Ino menatap Sakura menghela nafas sembari menutup kedua kelopak matanya. "Iya, aku tak menyangka kami memiliki pemikiran yang sama" Ino menutupi wajahnya yang memerah, dan Sakura menurunkan alisnya. 'Astaga, ia tergila-gila dengan lelaki senyuman palsu itu'

"Oh ya, yang kau ceritakan beberapa hari lalu memang benar ya?" Sakura mengerjitkan matanya menatap Ino yang sedari tadi memandanginya. "Tentang Sasuke, si Jelmaan Iblis"

Sakura memutar emerald miliknya, muak rasanya setiap orang yang membicarakan Sasuke menggunakan embel-embel 'si Jelmaan Iblis', meskipun kenyataannya begitu sih. Tapi, Sasuke tetap manusia yang punya perasaan yang harusa dijaga. Bukan dicaci hanya karena masa lalunya, yaa.. memang membunuh keluarganya itu terdengar kejam. Namun, Sasuke membunuh bukan atas kemauannya sendiri, melainkan iblis milik Obito bukan.

"Aku tak menyangka, ia bisa memuji keindahan rambut merah jambumu itu" sambung Ino dengan sedikit penekanan pada kata-kata terakhirnya. "Mungkin ia lagi kerasukan, makanya memujimu"

PLAK!

"Ittai..! doushite? Forehead!" seru Ino meringis kesakitan.

"Ah, tidak ada. Aku hanya ingin memukul kepalamu" sahut Sakura bersenandung sembari mengalihkan wajahnya. Dan Ino mendengus kesal. 'Sialan..'

"Hei, atau jangan-jangan ia menyukaimu.." Ino menggantung kata-katanya sejenak, sembari berfikir beberapa menit. "..Ah, dia tak mungkin menyukai gadis berjidat lebar sepertimu"

"Aa.. Was.. Ka..u, I.. Nooo..!" Ino rupanya tak menyadari Sakura telah dipenuhi dengan aura kegelapan.


Suara gemuruh terdengar dihalaman Universitas Sihir Hokkaido, bukan suara aneh lainnya. Hanya suara antusias para mahasiswa yang akan melewati hari libur mereka di Kota Edo. Mereka tak lagi menggunakan seragam sekolah dengan jubah biru gelap untuk lelaki dan merah marun untuk wanita. Melainkan menggunakan baju biasa mengikuti trend anak muda akhir-akhir ini.

"Sakura..!"

Sebuah seruan mengalihkan perhatian gadis bersurai merah muda yang namanya diserukan.

"Hinata? Ada apa?" Tanya Sakura penuh antusias.

Sudah lebih dari seminggu Hinata tak menyapanya, sekarang tiba-tiba dipanggil memanggil dan menghampirinya meskipun Karin sedang di dekatnya.

"Ano.. Kau dipanggil Itachi-sensei di ruang rektor-san" sahut Hinata sedikit terengah-engah, kemudian menatap Karin yang menghujami tatapan sinis. "Tenang saja, aku sudah tak mengejar Naruto-kun kok. Neji-nii partnerku sekarang"

Seulas senyuman muncul dibalik frame berwarna hitam itu. "Aku juga, Kushina-sensei memarahiku dan menyuruhku berpartner dengan Jugo"

Terdengar tawa yang lepas diantara kedua gadis muda itu, Ino hanya menatap aneh mereka. Sedangkan Sakura sudah melesap meninggalkan mereka bertiga menuju ruang dimana Itachi menunggunya.


Tok! Tok! Tok!

"Sumimasen, apa sensei memanggilku?" ucap Sakura dari balik pintu megah itu.

"Masuklah, Sakura" sahut seseorang dari dalam ruangan itu.

Cklek!

Dengan ragu-ragu, Sakura melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan yang memiliki jendela cukup besar untuk sebuah ruang kerja milik sendiri pada umumnya dengan tirai merah marun yang menghiasi bingkai jendela berwarna hitam itu.

Ada dua sosok yang terlihat didalam ruangan yang dengan sempurna dipenuhi oleh cahaya mentari pagi yang masuk dengan filter kaca transparan disana. Dua sosok itu tentu saja ia mengenalnya, siapa lagi kalau bukan Itachi dan Minato.

"Yo, kita bertemu lagi, forehead!" sapa Itachi layaknya seorang teman. 'Kenapa sensei pakai nama ejekan Ino padaku sih?' Sakura tersenyum ria kepalsuan.

Lelaki berambut pirang dibalik meja itu hanya tersenyum lembut sembari menahan urat kepalanya yang sudah muncul akibat ulah Itachi tadi. "Kemarilah, Sakura. Ada yang ingin kami bicarakan"

Sakura hanya mengangguk pelan lalu perlahan mendekati Itachi yang berdiri dihadapan meja Minato. Enggan rasanya Sakura berdiri bersebelahan senseinya yang satu ini, apalagi dia terkenal dengan keusilannya. Meskipun banyak gadis disini tergila-gila padanya, termasuk Ino sekalipun tak membuat Sakura luluh dengan ketampanan Itachi yang sudah diakui beberapa orang, sih (?)

"Kau telah memutuskan siapa partnermu?" Sakura tersentak kaget atas pertanyaan lelaki bersafir biru langit itu, kemudian sedikit menggelengkan kepalanya. "Hm, Yokatta"

'Haa? Kenapa mereka bersyukur aku tak memiliki partner?' iner Sakura kebingungan menatap dua lelaki di dekatnya itu menghela nafas lega. "Doushite, sensei?"

"Kami yang akan memutuskan siapa yang akan menjadi partnermu, Sakura" tambah Itachi bersilang dada dengan angkuh. 'Boleh saja, asal jangan Duo Red Hair itu aja..'

"Bagaimana? Kau setuju, Sakura? Karena hanya kau yang tak memiliki partner" ucapan seorang rektor berjubah putih dengan les merah api di ujung jubahnya itu. "Dan kau Sasuke, yang akan menjadi partner Sakura"

Sakura berhasil membulatkan emerald miliknya menatap sesosok lelaki yang ia tak sadari keberadaannya daritadi telah berdiri dengan indahnya disamping pintu berukuran besar itu. Tatapan mata yang datar, tanpa ekspresi yang tak tersirat arti apapun. Hanya sebuah kerjitan membuat alisnya hampir sempurna bersatu diatas batang hidung mancungnya itu.

"Aku tak mau" sahutan lelaki berambut pantat ayam itu setelah sekian lama. Dan kini sang emerald bertemu dengan Onyx, saling menatap, menghujam tatapan, dan makna yang berbeda-beda. '..Kenapa?..'

Belum ada suruhan untuk adik lelaki Itachi itu, namun putra bungsu Uchiha itu telah memutuskan menghilang dibalik pintu yang dirancang sedemikian rupa hingga tak begitu berat jika digerakan oleh satu orang saja.

Sakura melirik Itachi dan Minato sejenak kemudian menatap kepergian Sasuke untuk beberapa lama. Hanya helaan nafas putus asa yang dilakukan oleh kakak lelaki Sasuke itu, sedangkan seorang kepala keluarga Namikaze itu hanya menggeleng pelan mengalihkan pandangannya.

"Kalau begitu saya permisi dulu, sumimasen" Sakura sedikit membungkukan tubuhnya untuk sejenak lalu berlalu pergi dengan cepat keluar dari ruangan yang bukanlah tempatnya.

Gadis berambut musim semi itu hanya melirik ke kanan dan ke kiri, berharap sosok yang ia cari menampakan dirinya di pelupuk mata. 'Ah, itu dia..!'

"Chotto matte, kudasai..!" seru Sakura mengejar sosok yang ia cari. Siapa lagi kalau bukan Sasuke, lelaki pemilik Onyx itu hanya menatap tajam tubuh gadis bersurai merah muda itu mendekatinya.

"Nan desu ka?" Tanya singkat Sasuke.

Sakura tak langsung menjawab, ia mencoba mengatur nafasnya yang sama sekali tak kacau. Hanya degupan jantungnya saja, membuat nafasnya terengah-engah. Sakura menelan ludahnya sebelum meyakinkan dirinya untuk angkat bicara.

"Kau membenciku?"

Warna wajah Sasuke berubah saat pertanyaan itu melayang pada dirinya, yaa.. siapa lagi. Hanya mereka berdua disana, mahasiswa yang lain tengah berkumpul dihalaman sekolah. Jadi tinggal mereka berdua saja, hanya berdua, tak ada orang lain.

"Nani?"

Entah Sasuke benar-benar tuli, atau memang telinganya sedang mengalami kerusakan hingga membuat Sakura terpaksa mengulangi tarikan nafas cukup panjang. Seperti memberikan motivasi.

"Kau tak ingin menjadi partnerku, apa karena kau membenciku?" kini Sakura menatap wajah Sasuke penuh harap.

Sasuke berdecak, bukan kesal melainkan ada maksud yang lain. "Disampingku, kau hanya akan tersiksa" iris Onyx itu tak mampu menatap emerald yang sedari tadi menanti tatapan yang sama.

"Karena jelman iblis Obito-sama?"

Gotcha! Tepat sasaran, Sasuke melongo mendengar jawaban singkat gadis di depannya itu. 'Darimana dia tau?'

"Dari Itachi-sensei" sahut Sakura tanpa merasa berdosa, seakan mengerti tatapan kosong yang dilempar kepadanya.

Sasuke mulai memutar otak, Itachi tak mungkin semudah itu membiarkan air keluarga menyebar luas jika bukan alasan penting. Bahkan gadis yang dihadapannya ini bukanlah termasuk hal penting yang biasa diutamakan oleh seorang Uchiha seperti mereka. 'Sejak kapan Aniki jadi sebodoh ini?' Sasuke berdecak kesal menyadari kebodohan kakaknya sendiri.

"Are?" satu kata terlontar dari bibir manis sakura mendapat tatapan penuh pertanyaan Sasuke. "Ada yang salah Sasuke-kun?"

Sasuke mengangkat alisnya tinggi-tinggi hingga iris hitam yang senada warna matanya pun kini sudah tampak jelas. "Pfft..!"

"Kenapa tertawa? Ada yang lucu?" Sakura tampak merajuk, padahal iya tak sedang melawak tapi ditertawakan dan bukankah itu menyebalkan?

"Buaha.. bukan apa-apa" Sasuke setengah mati menahan tawanya. "Lupakan saja"

Sakura mengerjitkan jamrud miliknya, menatap maksud dari tawa Sasuke. 'Lupakan saja? Mana mungkin, Sasuke-kun. Tawamu itu membuatku menyadari satu hal..' kini hanya seulas senyuman yang dapat dipersembahkan oleh Sakura. 'Aku jatuh hati padamu, Uchiha Sasuke'

"Apa yang lucu, Sasuke-kun?" terdengar sedikit manja, namun sekarang gadis bersurai merah muda itu memang sedang merajuk.

"Pfft..!"

Lagi?!

Dan lagi-lagi, Sasuke tak dapat menahan tawanya yang sudah sangat ia usahakan agar tak menyinggung perasaan Sakura. Namun, sia-sia saja jika dengan wajah yang dianggap lucu oleh Sasuke itu masih terlihat jelas. Sakura sudah sepenuhnya memajukan bibir mungilnya hingga manyun beberapa millimeter.

'Seperti yang dilakukan dobe kemarin..' gumam Sasuke mengingat tingkah aneh sahabat satu kamarnya itu.


Ntah kenapa ane mikir buat chap khusus Sasuke side, biar gak ngetrolling Sakura kali yee, *bersilangdada Yaa, akhir-akhir ini baca fic bergenre hurt semua, untungnya ane kagak jadi author killer -_- #untungye? dan yaah, maaf.. ane ngetroll SasuSaku dengan masa lalu Sasuke, maklum anak didik MK-sensei, senseinya aja tukang ngetrolling, apalagi muridnye *digebukin

dan sekian uneg-uneg saya, kurang dan lebih, Gomen-nasai XD bye-bye*ditendang