"Sasuke-kun menyebalkan!" tak ada lagi emerald yang lagi menatap gelapnya Onyx dalam lingkar mata itu. Sang pemilik emerald sudah memutuskan meninggalkan lelaki bermarga Uchiha yang masih mencoba menghalangi ingatannya terhadap tingkah sahabatnya yang sangat mirip dicontohkan oleh gadis bermarga Haruno itu.
"Dia marah, ya?" Tanya Sasuke entah kepada siapa dan dimana. "Siapa peduli, heh.." Karena tak begitu peduli, lelaki berambut raven itu berjalan berlawanan arah dengan lawan bicaranya barusan. Meskipun hari ini adalah hari libur, entah mengapa Sasuke suka sekali mengenakan jubah kebesaran seragam universitas. Memang hanya jubahnya saja dikenakannya, didalam jubah ia mengenakan baju biasa. Tapi, apa diatak risih kali ya? Apa dia sok keren dengan jubah, entahlah hanya dia dan iblisnyalah yang tau.
.
.
.
.
.
Magic University of Hokkaido
Hari Liburan (?)
"Dasar aneh! Ditanya malah ketawa" gerutu gadis bersurai merah muda sembari menggertak giginya sehingga orang-orang disekitarnya memperhatikannya dengan tatapan aneh.
"Sakura-chan?" sapa gadis berambut indigo itu dengan tatapan mengkhawatirkan gadis beremerald di sampingnya itu. "Kau baik-baik saja?"
"He?" gadis beriris permata jamrud itu baru sadar bahwa teman-teman sekitarnya sudah menatap keanehan dirinya. "Aa.. aku baik-baik saja kok, heheh.."
Mendengar jawaban Sakura –gadis bersurai merah muda itu, para temannya hanya tertawa kecil menatap Sakura yang menggosok bagian kepala belakangnya. Sakura menatap kesekitarnya, dan menyadari bahwa dia sudah tak berada di perkarangan universitas. Melainkan di sebuah kota yang sangat ramai dengan kegiatan masing-masing warga, tapi tetap damai dan tentram. Atas bantuan kekuatan sihir perpindahan Itachi dan Kakashi untuk seluruh mahasiswa, kini mereka dapat berada ditengah-tengah keramaian kota yang terkenal dengan penduduknya yang sebagian besar adalah para penyihir.
'Sudah sampai ya..' gumam Sakura tersenyum menatap keramaian kota dihadapannya itu.
"Dengar..!" sebuah suara seruan yang mengalihkan perhatian para mahasiswa termasuk Sakura. "Kalian boleh saja santai untuk hari ini, tapi harus berkelompok yang terdiri dua pasangan partner, berarti terdiri dari empat orang dan sebelum matahari terbenam kalian sudah harus berkumpul disini"
Sumber suara itu berasal dari mulut lelaki berwajah yang hampir tertutupi oleh poni dan masker mulutnya. Seperti biasanya tatapannya yang datar, membuat dirinya cukup menjadi para mahasiswi yang mengaguminya histeris. 'Ya ampun..'
"Kalau begitu, sampai jumpa" ucap serempak kedua sensei itu menghilang dalam kepulan asap putih.
Setelah menghilangnya kedua pengawas itu, para mahasiswa sibuk mencari masing-masing partner mereka dan berpencar keseluruh penjuru untuk menikmati hari libur yang pertama dan terakhir mereka sebagai mahasiswa di Universitas Sihir Hokkaido itu.
"Hei, Sakura-chan" sapa seseorang dari belakang dan menyadarkan Sakura dari lamunan sesaatnya itu. "Ehm, kudengar kau belum punya partner"
"Naruto.." sahut Sakura terkejut melihat siapa yang menyapanya. Yap, lelaki berambut pirang itu berjalan menghampirinya dengan perlahan. Dan Sakura baru menyadari bahwa teman-temannya sudah menghilang di keramaian kota. "Eh, eto.."
"Daripada kau bingung, lebih baik menjadi partnerku saja" potong lelaki bernama Naruto itu dengan ulasan senyum tak berdosanya. "Bagaimana?"
"Lalu, Shion bagaimana?" Tanya Sakura tak memperdulikan tawaran lelaki bersafir Ocean itu.
Naruto tak langsung menjawab, ia hanya bercengir ria tanpa memperdulikan tatapan Sakura sudah berubah aneh terhadapnya. "Dia dimarahi penasehat, karena kabur dari rumah tanpa sepucuk surat pun. Jadi, dia tak dapat mengikuti ujian akhir besok"
"Haa? Kabur dari rumah? Ja-jadi dia.." Sakura tercengang atas perbuatan gadis bersurai kuning menyala yang selalu mengikuti lelaki dihadapannya tersebut.
"Lupakan saja dia, pikirkan saja tawaranku tadi, Sakura-chan" ucap Naruto sembari membelai surai merah muda milik gadis beremerald itu. Menghirup wanginya bau bunga Sakura dari hembusan angin yang menerpa helaian rambut Sakura.
Plek!
Entah mengapa kedua insane manusia itu memantung kaku saat merasakan aura kegelapan yang turun ke bumi. Dengan kakunya, Naruto memutar arah pandangannya ke belakang pemilik tangan yang memegangi pundaknya. Terdapat kedua mata tajam penuh kegelapan menatap safir Ocean milik lelaki berambut pirang itu.
Menyadari siapa yang mengganggu trik pendekatan kampungannya itu, Naruto hanya tertawa kaku mencoba melempar pandangannya. "Sasuke-kun~ ternyata.."
"Berhenti memanggilku seperti itu" sahut Sasuke dengan tegas masih mendeath glared pemilik Ocean itu. "Dan jangan ganggu partnerku, urusi partnermu sana!"
Mendengar sahutan tak bersahabat dari teman satu kamarnya itu, Naruto tertawa geli diikuti tatapan isengnya. "Aiih.. Sasuke-kun cemburu padaku"
"Pfft..!"
Sakura sekuat tenaga menahan tawanya melihat tinggah dua orang lelaki dihadapannya ini, bahkan ia kini mengerti mengapa lelaki berambut raven itu mencoba menahan tawanya tadi. Apalagi lelaki bermata Onyx itu sudah sangat tersipu malu, karena dipermalukan oleh sahabatnya sendiri di depan seorang perempuan.
"Kubilang berhenti memanggilku dengan sebutan itu!" Sasuke memberikan pelototan khasnya agar Naruto berhenti mengejeknya seperti itu, lalu beralih menatap Sakura yang masih menyembunyikan tawanya. "Dan kau, jangan tertawakan aku!"
Seketika itu juga, Sakura dan Naruto terdiam seribu bahasa menatap aura kemarahan lelaki Uchiha yang telah memuncak. Kemudian saling menatap satu sama lain, Naruto menghela nafasnya cukup panjang, sedangkan Sakura hanya memandangi Naruto mengalihkan arah badannya.
"Gomen, aku kan hanya bercanda. Lagian Tou-san tak mengijinkanku memiliki partner" Aura kemarahan Sasuke tiba-tiba mereda. "Makanya aku mendatangi Sakura-chan, sudahlah. Aku pergi saja!"
Tinggal mereka berdua, Sakura dan Sasuke. Hanya berdua, berdua lagi. Sakura melirik ke arah Sasuke yang masih memandangi kepergian lelaki berambut pirang tadi dibalik keramaian kota tempat para penyihir tinggal.
DEG!
Tiba-tiba saja mata mereka beradu pandangan, dengan spontan Sakura mengalihkan pandangannya ke bawah. Entah mengapa, jantung Sakura terasa berdetak lebih kencang dari biasanya. Sampai-sampai rasanya akan putus dari tempatnya, sehingga membuat kedua tangan gadis berambut merah muda itu memegangi dadanya, berharap dapat meredakan degupan jantungnya itu.
PRAK!
Tanpa sadar, tubuh mungil Sakura sudah tersudut di dinding rumah salah satu warga dan sudah terkurung oleh kedua tangan lelaki bermata senada dengan rambutnya itu. Sedikit keraguan, emerald itu mencoba menatap Onyx yang sudah penuh dengan aura yang sangat berbeda dari biasanya. Berbeda dengan biasanya? Tentu saja, apalagi kalau bukan..
'KECEMBURUAN?!'
Sakura langsung menampik pemikirannya tadi, tak mungkin rasanya lelaki yang dihadapannya tersebut cemburu. Dan apa alasannya untuk cemburu padanya, atau jangan-jangan.. atau jangan-jangan dia marah karena telah mendekati sahabatnya tadi. #Oy!LuKiraSasukeApaan?!
"Jangan dekati dia.."
Sebuah ucapan pembukaan dalam kondisi keheningan yang cukup panjang.
"Hee?" Sakura terpaku mendengar penuturan lelaki dihadapannya itu.
"Jauhi Naruto, si dobe itu" sambungnya lagi.
'Jadi, dia benar-benar Gay?!' iner Sakura berteriak setengah mati tak mempercayai kenyataan yang tiba-tiba saja meruntuhkan angan-angan Sakura.
"Juga lelaki lain, tidak Gaara, tidak Sasori bahkan Itachi-nii" tambah Sasuke sedikit mengalihkan arah pandangan matanya.
'Apa? Bahkan kakaknya sendiri? Oh, Kami-sama! Kenapa aku menyukai lelaki Gay ini!' ini adalah jeritan iner Sakura paling tragis, bahkan menangis darah pun ia rela untuk menumpahkan kekecewaannya.
"Kenapa?" akhirnya pertanyaan yang keluar dari bibir mungil gadis bersurai merah muda itu tak memperlihatkan bahwa dirinya sedang merasakan kekecewaan mendalam terhadap lelaki dihadapannya tersebut.
Mendengar pertanyaan Sakura, Sasuke sedikit melirik emerald yang sangat memancarkan rasa penasaran. Tanpa memindahkan hadap wajahnya, Sasuke lagi-lagi mengalihkan pandangannya dan membuat Sakura menggendengkan kepalanya ke kiri agar dapat melihat si Onyx yang berusaha melarikan diri. "Eto.." Namun, tetap saja usaha Sakura terbilang sia-sia. Bagaimana tidak?
Sasuke mengalihkan wajahnya ke kiri, Sakura menggendengkan kepalanya ke kiri.
.
.
Lalu Sasuke memutar kepalanya ke kanan, dan Sakura mengikutinya.
.
.
Bahkan Sasuke masih sempat mengangkat kepalanya ke atas, sehingga Sakura menyerah karena tak dapat menggapainya.
'Apa-apaan anak ini?!'
Mungkin karena kesal, Sakura menyentuh pipi Sasuke dengan kasar membuat sang Onyx membulat sempurna menatap si emerald. Alis berwarna sama dengan surai merah mudanya sudah siap siaga mengerutkan jidatnya yang lebar melihat tingkah lelaki berambut raven itu.
"Tatap mataku dan jawab pertanyaanku, Sasuke-kun!" tegas Sakura meminta jawaban atas pertanyaannya tadi.
.
.
Sasuke sedikit menghela nafas, dengan wajahnya yang berhadapan dengan wajah Sakura namun matanya masih menatap ke arah yang berbeda. 'Lagi?!'
"Aku tidak tau mengapa.." dan kini alis sebelah kanan Sakura naik beberapa millimeter dari posisi awalnya. "Aku hanya tak suka saja, melihatmu dekat dengan lelaki lain"
.
.
SRERR..!
.
.
Hembusan angin yang lembut menerpa tiap helai rambut kedua insan yang masih terpatung disudut kota menikmati tiap terpaan angin yang hampir saja menghalangi pandangan mereka. Seakan-akan sang dewi angin mengerti dengan keadaan mereka yang sudah merona dengan indahnya tanpa mereka sadari.
"Sakura..! disini kau rupanya" seru seseorang menghampiri tempat mereka yang tiba-tiba tersentak kaget dan merubah posisi tubuh mereka. "Eh, ada apa?"
"Eh, ti-tidak ada apa-apa kok, Ino" elak Sakura mendorong tubuh gadis berambut pirang itu menjauhi Sasuke yang masih terdiam ditempatnya.
"Yakin? Tidak apa-apa?" Sakura hanya tersenyum dan mengangguk dengan yakinnya. "Oh ya, aku hanya ingin mengajakmu menjadi satu kelompok"
"Kelompok?"
"Ya, sensei kan bilang kalau satu kelompok terdiri dua pasang partner" Ino membalikan tubuhnya agar dapat berhadapan dengan sahabatnya tersebut. "Makanya aku mengajakmu. Jadi, siapa partnermu?"
Sakura mencoba melirik ke arah Sasuke yang masih setiap diam di sudut kota, sambil berfikir apa lelaki itu mau berkelompok dengannya dan yang lain.
"Aku, partnernya" sahut lelaki berambut raven itu tanpa sadar sudah berada disisi Sakura. "Jadi, apa yang akan kita lakukan?"
DEG!
Lagi-lagi degupan jantung yang tak normal itu menghujami dada Sakura, gadis bermata jamrud itu tak menanggapi penuturan lelaki yang dengan santainya menyentuh pundak Sakura. Dan Ino hanya tersenyum bahagia melihat kedua orang dihadapannya yang masih menyimpan rona wajahnya.
"Ah, bagaimana jika kita keliling kota" anjur seorang lelaki berambut hitam porselin yang hadir disisi gadis berambut pirang itu. "Melihat keindahan kota ini bersama pasti menyenangkan"
Dan yang sekarang merona adalah gadis yang menerima senyuman tak berdosa atau lebih tepatnya senyuman palsu (?) entahlah. Yang terpenting, mengapa mereka menghabiskan waktu dengan keheningan.
"Ja-jadi, bagaimana Sasuke-kun?" Tanya Sakura memecah keheningan.
Orang yang ditanya tak langsung menjawab, hanya melirik ke arah langit sesaat lalu menatap gadis yang menanyakan pendapatnya tersebut. "Baiklah, kita keliling kota"
Karena ini adalah kota para penyihir, banyak sekali para penjual barang-barang yang berkaitan dengan sihir. Seperti bola sihir, tongkat sihir, bahkan boneka sihir. Tentu saja, boneka sihir sangat diminati para penyihir khususnya para gadis, selain rupanya bermacam-macam sesuai yang diinginkan. Sikap dan sifat mereka juga dapat diatur seperti keinginan majikan sesuai kontrak awal yang dibuat oleh penjual. Dan tentu saja, Sakura dan Ino sangat tertarik melihat keramaian yang memadati sebuah toko penjualan pernak-pernik sihir.
"Hey, Sakura! Lihat disana ramai sekali, kita lihat-lihat yuk?" ajak Ino menunjuk toko yang sudah memiliki para pelanggan yang membawa kantong belanjaan keluar dari toko mereka.
"Baiklah" sahut Sakura bersemangat meninggalkan dua lelaki berambut berwarna sama itu mengikuti dari belakang setiap kegiatan para gadis dihadapan mereka.
Mereka memasuki toko yang penuh dengan pernak-pernik yang sangat unik bahkan lucu. Ada boneka, bando, tongkat, topi, seperti toko pakaian biasa saja. Namun, yang membedakan toko ini adalah suasananya yang terasa penuh dengan berbagai jenis sihir.
"Ah, kawaii" puji Sakura menggenggam sebuah boneka sihir berbentuk seekor kelinci berbulu tebal dengan kombinasi warna merah muda dan warna putih yang banyak mendominasi.
"Ah, ini juga manis, bukan begitu Sai?" ucap Ino menunjuk salah satu boneka di dekatnya. Boneka sihir yang menarik perhatian Ino itu berbentuk seekor kucing angora berwarna abu-abu kehitaman. Sangat manis dan menggemaskan.
Sai mendekati gadis partnernya itu, dan mengambil boneka kucing itu untuk Ino. "Iya, sangat manis seperti dirimu, hime" pujian itu membuat rona merah menari-nari dengan bebasnya di pipi gadis bersurai kuning menyala itu.
'Wah, mereka mesra sekali. Aku jadi ingin seperti itu..' gumam Sakura melirik Ino-Sai sesaat lalu menatap lelaki berambut raven di belakangnya yang masih berjaga layaknya bodyguard.
Sakura menghela nafasnya sembari menatap boneka sihir digenggamannya itu.
"Menurutku, ini lebih manis" ucap lelaki bermata Onyx itu sembari menunjuk sebuah boneka sihir didekatnya dan menarik perhatian Sakura, Ino dan Sai.
.
.
.
"DARIMANA MANISNYA, BAKA!" seru Sakura, Ino dan Sai secara bersamaan melihat boneka yang menarik perhatian lelaki Uchiha itu.
Bagaimana tidak lelaki berambut pantat ayam yang menerima seruan seperti itu, boneka sihir yang ia maksud itu berbentuk ular berbisa berwarna ungu keputihan. Bukannya manis, malah lebih tepatnya menyeramkan! Sakura sampai geleng-geleng kepala melihat selera partnernya tersebut.
"Tapi, menurutku Sakura lebih manis dari Sora" sambung Sasuke memandangi Sakura untuk sesaat.
'Dia membandingkanku dengan Sora?! Yang benar saja!' Iner Sakura memberontak tak menerima perlakuan Sasuke. 'Bahkan dia sudah memiliki nama untuk boneka sihir itu?! Oh My God!'
Padahal Sasuke berniat memuji Sakura seperti yang dilakukan Sai pada Ino, namun gagal karena Sakura menerimanya sebagai pelecehan sehinggan Sakura membuang mukanya dari pandangan Sasuke. Dan tentu saja, Sasuke merasakan kegagalannya. Memang ia tak pandai menghadapi seorang gadis, bahkan Sakura adalah gadis pertama yang dekat dengannya setelah sekian lama. Mungkin (?)
"Ah, Sasuke-kun!" sapa seseorang yang baru melewati pintu masuk toko tersebut. "Sashiburi, teman lama"
Sasuke menatap orang yang baru saja menyapanya yang sekarang sudah berada dihadapan matanya. "Karin-chan?"
'Jadi, mereka sudah saling mengenal?' lirih Sakura merasakan sebuah pisau tak kasat mata menusuk relung hatinya paling dalam. Sangat sesak, terasa sulit untuk bertahan, bahkan rasanya hujan airmata akan tiba lebih awal.
Sakura begitu terluka melihat pemandangan dihadapannya, seorang teman yang ia kenal, Karin dan orang yang ia sukai, Sasuke saling bertatapan. Mengeluarkan binar mata yang sangat berbeda, bahkan untuk seorang teman lama. Seperti ada sesuatu yang sangat istimewa pada tatapan mereka.
'Ugh! Apa sih hati dan mataku ini, tidak dapat diajak kompromi sama sekali' gerutu Sakura sembari berjalan di antara kedua orang yang sudah tak pernah berjumpa setelah sekian lama.
.
Kemudian, melewati mereka..
.
..begitu saja.
"Sakura-chan, sedang apa kau disini?" Tanya seseorang ikut jongkok mengikuti gerakan Sakura yang menenggelamkan sebagian wajahnya di kedua lengannya.
"Eh, Na-naruto.." ucap Sakura sedikit terkejut.
"Kau sedang apa? Dimana Sasuke?" Sakura tak menjawab, namun kembali menenggelamkan kepalanya lagi. "Ah, dia tega sekali membiarkanmu sendirian disini"
Sakura menggelengkan kepalanya pelan sebagai pertanda itu bukanlah salah Sasuke. Tapi, tentu saja lelaki berambut pirang itu tak langsung menerima pembelaan yang terbilang sangat mengecewakan.
"Lalu, kenapa dia membiarkanmu disini sendiri?" Tanyanya lagi.
"Aku yang ingin sendiri" sahut Sakura semakin menenggelamkan kepalanya tanpa berusaha menatap safir biru yang mengeluarkan aura kesedihan.
Naruto hanya dapat memaklumi kesedihan Sakura yang belum tau sebabnya, lelaki bermata Ocean itu hanya menghela nafas memandang warna langit yang sedikit ke-orange-an, pertanda mendekati matahari akan terbenam diufuk barat. Naruto menyandarkan kepala Sakura dipundaknya dan tak ada rontaan menolak dari gadis bermahkota merah muda itu. Mereka hanya menikmati keheningan senja di kota penyihir itu. Tak peduli banyak orang yang lalu lalang di sekitar, mereka hanya larut dalam warna senja yang ditimbulkan oleh sang surya.
"Ayo, kita kembali, Sakura-chan"
Tangan Naruto menarik lengan Sakura yang masih terasa lemas, Sakura hanya mengikuti langkah kaki lelaki bermbut pirang itu menuju tempat tujuan akhir mereka. Tempat itu sudah di ramaikan oleh seluruh mahasiswa. Tentu saja, tempat perjanjian yang di tentukan oleh Kakashi sebagai pengawas.
"Sakura!" seruan itu menyentak perhatian Sakura karena suaranya sangat dekat dengannya, tepat disamping gadis beremerald itu membulat sempurna. "Kau kemana saja, haa?!"
Itu cukup kasar untuk diucapkan kepada seorang gadis yang masih bersedih. Sakura hanya menatap binar mata Onyx yang memancarkan kemarahan. Dan itu membuat Sakura takut untuk pertama kali menatap kemarahan partnernya tersebut.
"Aku mengkhawatirkanmu, aku sempat mengira terjadi sesuatu kepadamu, Sakura!" ucap Sasuke merengkuh tubuh Sakura masuk dalam pelukannya.
Sakura hanya terpaku dalam pelukan lelaki berambut raven itu, untuk pertama kalinya partnernya itu memeluknya. Dan pertama kalinya, ia dipeluk oleh seorang lelaki. OMG! Apa yang terjadi?!
Edisi Curhatan Author Gaje : Akhir-akhir ini, ane suka liat Vocaloid, tertarik buat ficnya sih, apa lagi baca ficnya, lucu sih (?) tapi, kagak tau mau buat fic apaan X'O #stres abaikan yg tadi, kemarin ane ketemu senpai, orang pertama ngenalin ane ama FFn, katanya mau update fic, pas ficnya dibaca ane jadi minder -_- kagak jadi dagh ane kasih tau fic ane yang abal-abalan pake banget ini.. X'D gomennasai, senpai! *guling2
Yap, gimana chap 9 yang ane tancap gas updatenya.. habis ane udah mulai sekolah, update sekali seminggu #terpaksa ane gak tega discontinue innya sih, habis masih banyak uneg-uneg ane didalam ficnya *direbus
sampe jumpa di chap 10 yee? XD *menghilang
