Sakura's Side
Pandangan mataku sedikit semu, namun penuh dengan cahaya putih. Aku merasa pendengaranku penuh dengan suara teriakan, bisikan bahkan makian. Kuedarkan pandangan ke sekitar, menangkap keadaan di dekatku. Ah! Aku ingat. Tou-san dan Kaa-san mengajakku pulang ke kampung mereka. Tapi, kenapa mereka yang diluar sana menatapku seperti itu? Apa karena tak pernah melihatku disini, mungkin saja begitu.
"Sakura-chan, kamu harus kuat dan jangan pikirkan omongan mereka, mengerti?"
Aku pandangi orang yang menuturkan perkataan itu. Ah, tentu saja! Itu Tou-san, aku hanya mengangguk yakin. Dan disambut senyuman oleh lelaki berambut senada dengan surai milikku. Kembali kupandangi tatapan yang sangat mengusik pemikiranku itu, aku memang belum mengerti dengan ini semua. Namun, mengapa tak ada satupun orang yang ingin menjelaskannya padaku. Bahkan Tou-san dan Kaa-san.
"Hiks, padahal dia masih kecil.." Terdengar seperti rintihan, dan kualihkan pandanganku ke pemilik suara rintihan itu. Dan aku sangat mengenalinya. "Seharusnya ia tak menanggung beban sebesar ini, hiks.."
"Kaa-san, jangan menangis. Ini namanya mubazir air mata lho" Ucapku sembari menyapu setiap air yang membasahi pipi Kaa-san. ia hanya tersenyum dengan tawa kecil namun, air itu masih mengalir bagaikan sungai dari hulu ke hilir.
Brak!
Kini aku terpaku dengan seseorang yang tiba-tiba mendobrak paksa pintu di belakangku. Entah mengapa tatapan matanya sangat menakutkan, hingga kakiku terasa kaku untuk berlari ke belakang tubuh Tou-san.
"Kau! Ikut aku, sekarang!" teriak lelaki itu dengan sebuah obor ditangan kirinya.
Tentu saja tidak semudah itu aku mengikuti kata-katanya, aku bahkan berlari menjauhi mereka termasuk Tou-san dan Kaa-san. Aku berlari sekuat tenaga menjauhi rumah, memasuki gelapnya rimba hutan. Dalam pelarianku, aku masih mendengar teriakan mereka.
"Berhenti kau, bocah sialan!"
Aku sangat takut, Tou-san. Sebenarnya apa yang terjadi, Kaa-san? Kenapa mereka sangat menakutkan, menginginkanku bahkan mengejarku seperti ini?
Tuk!
"Aaaaaaaaargh…!"
Bruk!
"Sakura..!"
Eh?
"Sakura, bangun..!"
Kubuka perlahan mataku, kini yang tampak sepasang wajah menatapku dengan pandangan sangat mengganggu pemandangan.
"Nani yo?" tanyaku mencoba bangkit dari tempat tidurku.
"Harus aku yang bertanya, kau berteriak dalam tidurmu dan membangunkanku, forehead!" gerutu Ino dan aku hanya menaikkan alisku sebelah. "Dan sejak kapan kau memiliki boneka sihir ini?"
Ino kini menarik wajah lain yang kumaksudkan tadi selain wajahnya, yap.. wajah itu adalah milik boneka sihir milikku pemberian dari partnerku. Dan aku lupa memberitahu Ino tentang itu, ditambah lagi boneka sihir milikku itu termasuk pemalu, atau lebih tepatnya tertutup mungkin ya. Tak pernah menambakkan diri didepan banyak orang kecuali hanya berdua denganku. Jarang-jarang bukan dia ingin muncul di depan Ino.
"Ah, sejak kita pulang dari Kota Edo" ucapku merengkuh boneka sihirku yang tampak kesakitan digenggaman Ino. "Daijobu, Usa-chan"
"Jadi, ini pemberian Sasuke? Namanya Usa-chan ya?" Tanya Ino kini membungkuk hingga wajahnya mendekati kelinciku yang sekarang berada dalam pelukanku. Dan aku hanya mengangguk sembari tersenyum dengan tanganku terus membelai bulu tebal bonekaku itu.
"Sakura-san, mimpi burukmu itu sangat menakutkan. Membuatku mengkhawatirkanmu tau!" gerutu Usagi menggembungkan pipinya hingga memerah dan membuatku sontak tertawa.
"Aa~ sou desu ka? Gomen, Usa-chan. Mimpi itu muncul begitu saja" ucapku kembali membelai telinga panjang boneka sihirku itu.
"Kau bicara dengan siapa, Sakura?"
Eh?
.
.
.
.
.
Magic University of Hokkaido
Mengingat Kenangan Yang Terlupakan
"Jangan bengong, dong!" seru Ino membuatku tersentak kaget melihatnya yang tak mengetahui aku sedang berbicara dengan Usagi. "Jawab pertanyaanku tadi"
"Aku kan bicara sama Usa-chan, apa kau tak mendengar gerutuannya?" ucapku menjelaskan bahwa aku tak berbicara sendiri. Dan tentu saja, aku masih waras bukan gila.
Atau Ino sedang mengerjaiku, karena tak memberitahunya tentang boneka sihir milikku ini?
"Memang dia menggerutu, tapi tak berbicara layaknya kita berbicara" ucap Ino tampak tak berbohong.
"Hihihi.." tawa Usagi sembari melapisi wajahnya dengan kaki atau tangannya yaa? Yang penting bulunya putih deh, pokoknya itulah. Terima aja!
"Kenapa kau tertawa, Usa-chan?"
"Are? Sakura-san, Ino-sama maupun yang lain tak akan mengerti bahasaku. Karena mereka bukan majikanku" Usagi mulai tampak serius menjelaskan, menatapku dengan tajam.
'Chotto matte kudesai! Jadi, kalau aku berbicara dengannya di depan orang banyak. Maka, aku akan disangka berbicara sendiri. Dan bisa saja, aku akan disangka orang gila yang sudah tak waras berbicara dengan boneka yang bahkan tak bisa berbicara bahasa manusia. Oh, Kami-sama! Apa salahku?!'
"Oy! Aku bisa mendengar rintihan hatimu, Sakura-san" tegur Usagi menyadarkanku dari teriakan hatiku paling dalam.
"A-are? Kau tidak sopan, mendengarkan rintihanku!"
"Ah, gomen! Jika kau membuat kesepakatan denganku, aku tak akan mendengarkan rintihan hati seenak saja" tawar Usagi keluar dari pelukanku.
"Kesepakatan?" dan aku seperti orang yang baka, mengulangi kata-kata boneka sihirku.
"Hn!" Usagi mengangguk dengan yakin sekali, melayang di udara menggunakan telinganya yang panjang. "Kesepakatan antara majikan dan boneka sihir, kau membuat banyak pantangan dan aku meminta satu syarat. Bagaimana?"
Terdengarnya mudah, tapi jika aku salah menentukan pantangan. Maka, itu bisa jadi akan membahayakanku pada akhirnya. Pantas saja, jarang dari senpai mempunyai boneka sihir. Ah, aku harus memikirkan dengan matang dulu, sebelum aku memutuskan pantangan buatnya. Aku juga belum tau apa yang akan menjadi syarat Usagi.
"Hm, aku pikirkan dulu" ucapku sesudah menghela nafas lesu. "Tapi, untuk sementara jangan sembarangan mendengar isi hatiku"
"Tentu saja, Sakura-san!" sahut Usagi dengan semangat.
"Oy! Kau malah bicara melantur dengan Usagi, sebenarnya apa yang dikatakannya?" tegur Ino, membuatku sadar akan keberadaannya didekat kami. "Kenapa aku tak mengerti apa-apa yang dikatakannya?"
Aku hanya memutar bola mataku dan kembali merebahkan tubuhku dikasur yang tadi aku duduki. "Ah, kau tak akan mengerti perkataannya karena kau bukan pemiliknya. Oyasumi!"
Dan aku langsung terlelap dalam mimpiku, aku tak peduli dengan ocehan Ino yang meminta penjelasanku. Bahkan Usagi ikut-ikutan tak memperdulikannya, ia hanya menghilang di udara yang sebenarnya berubah menjadi jepitan rambut berwarna hijau milikku.
"Sakura-san, apa kau sudah memilikirkan ucapanku?" Tanya Usagi mengganggu konsentrasiku dengan buku yang sedang berada di depan pandanganku.
"Belum, Usa-chan. Bisa tinggalkanku sendirian?" ucapku tak menatapnya yang masih berkeliling di atas kepalaku dan kemudian menghilang di tengah hembusan angin.
Ini sudah dua hari setelah ujian pertama, setelah saat itu aku tak pernah bertemu Sasuke-kun. Entah mengapa, aku merasa dia sedang menghindariku. Aku merasakan kehadirannya, tapi aku tak menemukannya setiap aku memastikannya sedang di dekatku. Aku tidak tau apa alasannya, ditambah lagi ucapan Ino saat aku mulai sadar dari pingsanku.
"Apa yang kau lakukan padanya? Dia tampak ketakutan melihatmu"
Aku masih tak bisa menjawab pertanyaan itu, aku bahkan tak tau mengapa Sasuke tampak ketakutan melihatku. Bagaimana aku bisa tau, jika dia saja menghindariku begini. Ino dan Sai sudah mulai berlatih untuk ujian kedua besok. Sedangkan aku dan Sasuke, argh..!
"Kau terlihat frustasi Sakura-chan"
Suara itu membuatku membuka mata lebar-lebar dengan tanganku yang masih setia di surai merah mudaku yang sudah acak-acakan oleh ulahku sendiri.
"Ti-tidak juga kok, Naruto" sahutku dan ia hanya menyahuti dengan mengubah raut wajahnya seakan berkata 'Yakin?'
"Aku hanya memikirkan sihir apa yang sebaiknya kulatih bersama Sasuke-kun untuk ujian kedua besok" sambungku menutupi kebenaran mengapa aku terlihat frustasi.
"Bukannya dia menghindarimu?" Tanya Naruto membongkar kebohonganku sendiri.
Ah, dia tau ya? Aku bodoh sekali membohonginya. Baka! Baka! Baka! Sakura!
"Dia selalu memilih jalan yang lain setiap merasakan kehadiranmu, apa kau tak menyadarinya?" sambungnya membuat perasaan raguku menjadi begitu jelas.
Ternyata benar, dia memang menghindariku. Tapi, apa alasannya? Kenapa dia tak menjelaskannya padaku. Apa salahku padanya? Sebenarnya apa yang terjadi saat aku tak sadarkan diri?
"Aku pikir juga begitu, tapi aku tak begitu yakin. Karena awalnya kukira hanya perasaanku saja" ucapku menutup buku tebal ditanganku yang berdiameter 3 cm itu dengan cover berwarna coklat tua yang sedikit memudar termakan waktu berpuluh-puluh tahun.
"Aku juga pernah menanyakan alasannya, tapi dia hanya termenung dengan pandangan kosong dan raut wajah seakan melihat hal yang menakutkan sekali" tutur Naruto mengingat-ingat apa yang telah terjadi.
"Mungkin itu sangat sulit baginya mendapatkan partner sepertimu, Sakura-chan" tiba-tiba saja dia bangkit dari kursi yang baru di tempatinya dan berjalan membelakangiku. "Jaa, Sakura-chan"
"Chotto matte, apa maksud perkataanmu itu?"
.
.
'Ah, sudahlah! Dia tak akan dengar'
.
.
"S-A-K-U-R-A"
"Kyaa!" aku terperanjat hingga kursi yang kududuki tumbang diimpit oleh tubuhku yang terasa remuk karena ikutan terjungkang. "Kau mengagetkanku, Gaara!"
"Hahaha.." lelaki berambut merah itu tertawa melihatku terjatuh ke tanah dengan indahnya. Tangannya ikut disodorkannya untuk menarik tubuhku. "Gomen-nasai, aku sungguh tak bermaksud mengejutkanmu"
Aku hanya mendengus kesal dan bangkit dengan bantuan lelaki beriris biru muda sedikit berpadu warna putih. Setelah aku berdiri, dia mendirikan kursi yang kududuki tadi seakan menyuruhku untuk duduk kembali dengan tenang. Dan aku hanya menduduki kursi itu tanpa berkata terimakasih.
"Kau bertengkar dengan Sasuke?" Tanyanya setelah sekian lama terdiam beberapa saat. Dan aku tak langsung menjawab, hanya kembali membaca buku yang tadi kubaca yang berjudul 'The Power of Magic'. "Daripada buku itu, sebaiknya kau membaca buku berwarna hitam di rak sebelah buku itu"
Ah! Aku ingat, buku yang pertama kali mengambil perhatianku karena warnanya begitu pekat dengan warna hitam. Kalau tak salah, judul buku itu..
"The History of Magic? Aku tak begitu suka cerita masa lalu" sahutku menegaskan apa yang tak ingin kuketahui.
"Paling tidak, itu dapat menjawab pertanyaanmu 'Mengapa Sasuke menghindari beberapa hari ini?', bukan?" katanya menutup dengan paksa buku tebal itu.
"Kau tau?"
"Tentu saja, tampak dari tatapannya saat merasakan auramu" sahut Gaara menyilangkan tangannya di dada, terlihat angkuh tapi begitu elegan.
"Auraku? A-apa maksudmu dengan auraku?"
Perkataan Gaara ini seperti perkataan Naruto tadi, ini seperti berkaitan dengan mimpiku tadi malam. Seperti berkaitan satu sama lain, apa yang telah di sembunyikan oleh Tou-san dan Kaa-san selama ini? Dan apa yang terjadi setelah aku terjatuh dalam mimpiku? Apa itu hanya sekedar mimpi buruk? Atau masa lalu yang telah kulupakan?
"Kau itu mempunyai aura berbeda, Sakura-chan" dia terlihat tersenyum, mencoba meluluhkan hatiku begitu? Tak akan berhasil! "Awalnya memang tak begitu istimewa, semakin lama auramu itu berubah setelah sihirmu jauh berkembang. Kau tak merasakannya?"
'Matte yo!Aura? Apa hubungannya auraku dengan Sasuke yang menjauhiku? Tidak masuk akal dan tak begitu berkaitan'
Setelah menyimpulkan hal yang seharusnya tak mendapatkan jawaban, aku hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan tuan Sabaku itu. Dan dia kini menghela nafas atau mendengus ya? Entahlah, terserah aku tak peduli.
"Auramu akan terasa hangat dan menentramkan bagi kami, tapi bagi Naruto dan Sasuke? Kemungkinan besar akan mengancam hidup mereka" sambungnya kemudian bangkit dari kursi yang tadi ia tempati dan menghampiri seorang gadis yang melambaikan tangannya pada Gaara. "Makanya, paling tidak ketahuilah tentang sihir murni dari lubuk hatimu"
Kini ia telah berlalu pergi bersama gadis itu, tampaknya partner yang telah dipilihnya sendiri. Tak begitu cantik, tapi lumayan manis untuk selera playboy seperti manusia pasir itu. Walau aku tak begitu mengenal gadis itu, aku yakin dia menanggung beban berat dalam bathinnya. Kasian bukan? Sudahlah, lupakan saja.
Sebaiknya aku mencari buku yang Gaara bilang tadi, mungkin ada bagian dari buku itu yang memberi tau rahasia yang disembunyikan oleh Tou-san dan Kaa-san selama bertahun-tahun. Dengan terburu-buru, aku berlari di lorong universitas menuju ruang perpustakaan yang berada tak jauh dari taman yang menjadi tempatku bersantai.
Bruk!
"Ittai..!" dan inilah kecerobohanku, berlari sekuat tenaga tapi menabrak orang. "Gomen-nasai!"
"Ugh..! Jangan mendekat!" seru orang kutabrak tadi sembari meletakkannya jauh mendekati tubuhku.
Sasuke-kun?!
"Eh? Doushite?!" ucapku malah semakin mendekatinya yang tampak semakin kesakitan pula. "Kenapa kau menjauhiku, Sasuke-kun? Apa salahku padamu?"
"Kubilang JANGAN MENDEKAT..!" serunya membuat tersentak dan mundur beberapa langkah.
Ke-kenapa dia berteriak seperti itu padaku. Ini tak seperti biasanya, bahkan tatapannya tampak sangat membenciku. Bagaimana kubisa tau alasannya jika dia menyuruhku menjauhinya. Sasuke-kun, aku sungguh tak tau harus melakukan apa lagi untuk menyadari kesalahanku sehingga kau membenciku.
"A-apa salahku? Kenapa kau menjauhiku, Sasuke-kun?" dengan perlahan-lahan aku mencoba mendekatinya dan menjangkau tangannya yang masih berusaha melindungi dirinya.
"Kau tak bisa di dekatku, Sakura! Itu akan membunuhku, jika kau terlalu lama bersamaku" ucapnya kemudian mulai pergi menjauhi dengan jalan sedikit tertatih seperti menahan rasa sakit.
Apa dia sakit? Tapi.. Chotto matte! Dia bilang jika aku terlalu lama bersamanya akan membunuhnya? Argh..! kenapa ini semakin rumit saja? Kenapa mereka semua tampak menutup-nutupi kebenaran yang sebenarnya. Ini sangat rumit, tak ada tanda yang bisa membantuku menemukan jawaban untuk semua ini. Sebaiknya aku pergi mengambil buku sejarah itu.
"Gomen-nasai, Sakura-san. Buku itu sudah dipinjam oleh mahasiswi lain, mungkin 2 atau 3 hari lagi akan di kembalikan"
Itulah jawaban perpustakawan universitas yang menambah beban frustasiku, astaga!
"Bisa beritau aku ciri-ciri dari orang yang meminjam buku itu?"
"Hmm?" dia memutar bola matanya ke atas, ke bawah, ke kanan, ke kiri dan pada akhirnya menatapku. "Dia perempuan cantik berambut panjang bertubuh tinggi, memiliki tanda berwarna ungu di area matanya"
Sepertinya aku tak pernah melihat mahasiswi berciri-ciri seperti itu, apa ada mahasiswi yang seperti itu ya? Sebaiknya aku tanyakan kepada ibu asrama saja, mana tau dia mengetahui mahasiswi yang dikatakan perputakawan.
"Mahasiswi? Kau bilang?"
Dan itulah tanggapan pertama yang kudapat setelah sekian lama wanita berbadan gempal itu memikirkan pertanyaanku.
"Hn! Dia cantik berambut panjang bertubuh tinggi, memiliki tanda berwarna ungu di area matanya"
"Seingatku, tak ada mahasiswi seperti itu di asrama kita, Sakura-san" sahut ibu asrama dengan lemah lembut kepadaku.
"Tapi, perpustakawan itu mengatakan dia mahasiswi" aku kembali mengingat kembali dengan benar ucapan si perpustakawan tadi.
"Hm, jika bukan mahasiswi. Aku tau, ada seorang mahasiswa berciri-ciri seperti yang kau sebutkan tadi"
"Namanya siapa?" tanyaku berharap jawaban ibu asrama tak menyulitkanku seperti yang dilakukan oleh perpustakawan dungu itu.
Ck! Sialan memang dia.
"Namanya Orochimaru" sahut ibu itu dengan pandangan serius dari biasanya kepadaku dan membuatku sedikit merinding.
"Orochimaru?"
Jeng! Jeng! Jeng~
Update juga! Chapter gaje ala author yang semakin mengGaje ria, Tralala~ #abaikan Nah, author agak aneh ya masukin Orochimaru jadi mahasiswa. Padahal dia udah tua bangka gitu.. *bisik2 #DililitLeherOrochi
Kepikiran kata-kata reviewers kemarin, jadi ane bikin Sakura galau dulu entar nemu deh keinginan si reviwers kemarin. Kan kagak enak langsung Wow diawal, jadi ane Wow kan aja diakhir. #macambenerajalu!
Jaa-ne, Minna-san! XD *kabuur~!
