"Orochimaru?"
Dengan sempurna aku mengulangi nama yang diucapkan oleh ibu asrama tadi, aku seperti pernah mendengar nama itu. Tapi, aku tak begitu ingat dengan pemilik nama itu. Sudahlah, yang penting aku sudah tau siapa yang meminjam buku tersebut.
"Ya, jika kau ingin menemuinya, kamu bisa menemukannya di laboratorium" dan yap, ibu asrama memang pengertian. Memberi tau aku keberadaan lelaki cantik bernama Orochimaru itu. "Dia suka bereksperimen, biasanya jam segini dia masih disana"
"Ah, Arigato. Sebaiknya aku harus cepat-cepat kesana, permisi" ucapku kemudian berlari keluar dari ruangan milik khusus pengurus asrama yang bisa dibilang ukuran ruangannya dua kali lebih besar dari ruangan yang kami tempati. Ditambah lagi semua fasilitasnya lengkap semua, layaknya hotel berbintang lima, bikin iri deh pokoknya.
.
Tap!
.
Tap!
.
Tap!
.
"Sumimasen!" dengan perlahan aku membuka pintu laboratorium yang tak terkunci. Aku pandangi setiap sudut ruangan besar itu untuk mencari keberadaan lelaki bernama Orochimaru itu.
"Ah! Ada orang yang datang rupanya" sebuah suara menyita perhatianku untuk fokus melihatnya. "Seorang gadis pula"
"Ano.. apa kamu Orochimaru.. -san?" tanyaku padahal belum selesai menangkap wajah lelaki yang berdiri di depan jendela dengan tirai yang menari-nari oleh hembusan angin.
"Ya, benar. Ada perlu apa denganku nona?" sahutnya mulai mendekatiku secara perlahan dan sedikit demi sedikit aku mulai bisa melihat raut wajahnya yang memang cantik tak kalah dengan wanita. Aku saja seorang wanita merasa minder. Hadeh! o.o?
"Orochimaru Jii-san!" seruku sembari membanting pintu yang menjadi tempatku bersembunyi tadi.
Brak!
.
.
.
.
.
Magic University of Hokkaido
Who Am I?
.
.
.
"Ehe, kau tampak terkejut melihatku Sakura-chan" katanya tampak sumringah menatapku yang sedikit mempelototinya. "Aku memang Jii-san mu, tapi aku kan masih muda dan umur kita juga tak terpaut jauh bukan?"
Lihat saja tingkahnya yang menyebalkan itu, menebarkan pesona wanitanya padahal dia lelaki tua bangka. Yang benar saja, umur kami tak terpaut jauh apanya? Mimpi apa aku semalam bisa ketemu Jii-san yang narsisnya minta ampun. Oh ya, mimpi buruk ya? Pantas saja kan?
"Tentu saja kita beda jauh, Jii-san!" seruku menggerutu tak terima di samakan dengan umurnya yang sungguh jauh lebih tua daripada aku. "Dan jangan bilang Jii-san memanipulasi identitas untuk masuk ke universitas ini?"
"Ehehe.." dan hanya cengiran rianya itulah jawabannya.
Dasar tua bangka, menyebalkan!
"Oh ya, Jii-san meminjam buku 'The History of Magic' di perpustakaan, bukan?" tanyaku to the point langsung.
"Iya, memang kenapa?" sahutnya kemudian mengambil sebuah buku berdiameter 5cm di dekatnya yang tampak penuh dengan debu. "Buku ini menarik perhatianmu?"
"Ah, ada sesuatu yang ingin kucari dari buku itu" aku mulai mendekati lelaki berambut panjang itu yang masih setia memeluk buku bersampul berwarna hitam gelap. "Makanya pinjamkan aku sebentar"
"Tidak mau" singkat, padat dan dia memang menyebalkan!
"Doushite?!"
"Aku kan baru meminjamnya, makanya tunggu aku selesai membacanya dong"
Hentikan gaya bicaramu yang mirip dengan perempuan itu Jii-san! Kau membuatku malu saja, OMG! Kenapa aku harus sedarah dengan lelaki aneh ini?! Kami-sama, sebenarnya apa salahku sih?!
"Cuma sebentar, Jii-san! Tidak bisakah kau berbaik hati untuk sekali ini saja?" pintaku masih kukuh meletakkan tanganku di depan buku itu.
"Kalau aku juga tidak mau, kau mau apa, Sakura-chan~"
Astaga! Kenapa disaat-saat seperti ini aku harus berhadapan dengan lelaki menyebalkan ini, oh Kami-sama!
"Pakai aku, Sakura-san.."
.
Eh?
.
Tuing!
"Waa! Boneka kelinci yang manis, kawaii!" ucap Orochimaru memeluk Usagi yang kelihatan tak begitu senang dengan perlakuan lelaki itu.
"Ambil bukunya, Sakura-san.." ucap Usagi dengan lirih seakan berbisik-bisik kepadaku.
Aku hanya merengkuh buku yang kini telah bebas dari genggaman Jii-san, dan aku berlari menuju pintu keluar atau masuk laboratorium itu.
'Ah! Chotto matte, aku lupa sesuatu'
Dan sebelum membuka pintu itu, aku kembali memandangi Usagi yang semakin risih dengan pelukan Orochimaru.
"Hati-hati ya, Usagi" bisikku dengan perlahan-lahan dan dia hanya tersenyum yakin seakan berkata 'Tentu saja!'
"Dia itu memelihara Ular berbisa yang sangat suka dengan K-E-L-I-N-C-I, jadi waspadalah dengannya" sambungku kemudian menghilang di balik pintu dengan cepat.
"Kyaa..! Tolong aku, Sakura-san!" teriak Usagi dengan nyaring di pendengaranku.
Kelihatannya aku adalah majikan yang kejam ya, gomen-nasai Usa-chan. Aku terpaksa, lagian kan kamu juga yang menawarkan diri duluan. Jadi, tak sepenuhnya salahku bukan. Hohoho.. tapi, aku jahat sekali membiarkan boneka sihir pemberian Sasuke mati di tangan Jii-san. ah, sudahlah! Aku yakin, Usagi bisa menjaga dirinya sendiri, bukan?
Sekarang, aku harus mencari sesuatu hal di dalam buku ini yang bisa menjawab semua pertanyaanku selama ini. Pertama, aku harus mencarinya di daftar isi.
"Siluman dan Iblis? Hmm.. menarik" ucapku memperhatikan halaman daftar isi buku itu.
Coba yang lain dulu, mungkin ada yang lebih mendekati dari judul yang tadi. Yang tadi, kemungkinan besar mengenai Sasuke-kun dan Itachi-sensei. Yang seperti dikatakan oleh Gaara, dapat mengancam kehidupan mereka itu adalah..
"Black Pure Magician..? Hee, kok aneh kedengarannya ya?" kataku sembari memutar otakku kembali berfikir dari maksud kata-kata itu. "Coba baca dulu aja ya.."
Kemudian aku membuka halaman yang menjadi tempat penjelasan tentang hal itu. Dari daftar isi sih katanya halaman 1025, tapi susah ya nyari halamannya di buku setebal ini. Kemungkinan besar halamannya sampai halaman 5000, jika disuruh menghapal buku ini. Otakku pasti langsung sekarat.
Bab 20. BLACK PURE MAGICIAN
Penyihir jenis ini merupakan racun pembunuh paling ampuh untuk memusnahkan para iblis dan siluman secara perlahan tanpa ampun. Meskipun begitu, jika tak terkontrol dengan baik, penyihir yang memiliki kekuatan murni itu bisa saja membunuh manusia yang tak bersalah. Seperti pada 5 Masehi, seorang Black Pure Magician membunuh seorang anak kecil yang tak sengaja menyinggung perasaan penyihir yang terkenal sensitive pada abad itu. Tanpa ampun, anak itu mati bagaikan pasir di tiup angin. Semenjak saat itu, Black Pure Magician sangat diburu untuk menjadi tebusan jika para iblis dan siluman meminta tumbal.
Glek!
"Argh! Tidak mungkin, a-aku tidak mungkin penyihir ini" ucapku frustasi membolak-balik kertas mencari tema yang lain. "I-ini, mungkin ini bisa membantuku mencari jawaban"
Bab 8. Siluman dan Iblis
Makhluk paling di benci bahkan di takuti oleh para penyihir, setiap dari mereka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Banyak dari manusia yang lemah yang memuja mereka dan memberikan tumbal untuk keselamatan para manusia. Musuh paling kuat yang seimbang bagi para siluman dan iblis adalah Black Pure Magician.
"Argh..!"
Kulempar jauh-jauh buku tebal itu dari pandanganku, aku sudah tak peduli lagi mau buku itu rusak atau hancur. Kepalaku terasa sakit, sakit sekali. Terasa denyutan kuat disetiap sudut kepalaku ini, entah mengapa. Terasa berat, bahkan untuk bangkit dari kursi taman ini saja sangat sulit. Apa yang terjadi padaku?
"Huaa..! Ittaaaa~ iii….!"
Suaraku serasa bergema di ruang pendengaranku, badanku bergerak sendiri bahkan tak sengaja menabrak orang-orang yang melewatiku. Tolong! Kepalaku terasa sakit sekali!
"Sakura, tenangkan dirimu!" suara itu tiba-tiba muncul di benakku, kupaksakan mataku yang sudah berwarna merah menahan rasa sakit. Aku melihat Itachi-sensei di depanku, terlihat khawatir sekali. Dan aura hitam di belakangnya itu, ah! Dia iblisnya, tentu saja. Iblis itu pasti terancam oleh keberadaanku.
"Black Magician.."
Suara siapa itu?
"Pembunuh..!"
Si-siapa itu?! A-aku bukan pembunuh!
"Kau tak pantas hidup, mati saja kau!"
Tidak! Hentikan! Jangan ucapkan itu lagi! Aku bukan pembunuh! Aku bukan pembunuh!
"TIIIDDAAAAAAKKK….!" Seruku sembari menutup telinga dan mataku agar tak mendengar dan melihat apapun yang menggangguku.
"Sakura, tenangkan dirimu. Jangan biarkan dirimu hilang kesadaran"
Itu siapa lagi? Ah, rambut pirang itu. Naruto, Namikaze Naruto. Apa yang dia lakukan disini? Tidak seharusnya dia kesini, bukan?
"..Luman" kata-kata yang entah mengapa keluar begitu saja dari mulutku saat aku menyadari kehadiran Naruto. "Siluman..! kau seorang siluman, rupanya? Heeh.."
Ada apa dengan suaraku? Kenapa terdengar menyeramkan, ada apa denganku? Siapa yang mengatakan itu tadi? Itu bukanlah suaraku.
"Sakura-san, kau kenapa?"
Ah! Usagi, tolong aku! Aku tak bisa mengendalikan tubuhku. Seperti ada yang mengendalikan tubuh milikku ini. Kumohon, tolong aku! Siapapun!
"Aku ingin menolongmu, tapi aku tidak tau bagaimana caranya" sahut Usagi sangat mengkhawatirkanku.
Memang hanya dia yang bisa mendengar rintihan hatiku, tapi sayang kata-katanya tak bisa dimengerti oleh orang lain. Jika begini terus, aku bisa saja membunuh banyak orang. Aku mengerti sekarang, kenapa Tou-san dan Kaa-san menyembunyikan ini semua dariku. Mereka takut aku akan kehilangan kendali, tapi menjadi sia-sia sekarang. Hiks, gomen-nasai.. Tou-san.. Hiks, Kaa-san.
Tes!
.
.
Bruk!
Sakura's Side End
Semua kegaduhan di tengah-tengah halaman universitas tiba-tiba saja berubah menjadi hening saat tubuh mungil gadis berambut merah muda itu ambruk ke tanah. Dengan hati-hati, salah seorang lelaki berambut silver itu menghampiri tubuh kecil yang tak bergerak sedikitpun itu. Sedangkan yang lainnya hanya terpaku dan melihat reaksi dari gadis bermarga Haruno itu.
Tap! Tap! Tap!
"Sakura?" panggil lelaki bertopeng itu sembari mendekati gadis bernama sama dengan bunga kebanggaan Negara Jepang itu.
"…"
Tak ada jawaban yang diperolehnya, dan dicobanya kembali dengan tongkat miliknya.
Tuing! Tuing!
"Sakura, apa kau mati?"
.
.
.
"Yang benar saja?! Emang majikanku mayat apa?! Diperlakukan seperti itu!" gerutu kelinci putih itu frustasi melihat keadaan majikannya sekarang.
Namun, sayang sekali. Tak ada satupun orang yang mengerti kata-kata boneka sihir itu, yang mereka tau hanyalah kelinci itu mengoceh tanpa mengerti maksud dari ucapannya.
"Kenapa dengan kelinci itu?" salah satu orang mulai berkomentar mengenai ocehan Usagi yang tak jelas maknanya itu.
"Entahlah, mungkin dia ketakutan melihat amukan Sakura-san" sahut orang disebelahnya.
"Sepertinya dia tak terima Sakura diperlakukan seperti itu" timpa seseorang yang datang entah darimana.
"Kau?!" ucap dua orang tadi secara bersamaan.
"Menarik, ternyata kekuatannya jauh lebih kuat dari dulu. Benarkan, Sakura-chan?" ucap lelaki itu terkekeh melihat keadaan Sakura sekarang, kemudian lelaki itu pergi menjauhi kerumunan para mahasiswa beserta penghuni universitas lainnya.
"Apa maksud dia? Kenapa dia tertawa seperti itu? Menyeramkan!" pikir seorangnya lagi melihat tanggapan lelaki misterius tadi.
Lelaki berambut raven berkepang kebelakang –Itachi Uchiha menerima tanda dari lelaki bertopeng berambut jingkrak –Kakashi Hatake itu tadi. Dengan segera Itachi menghampiri Kakashi dan memperhatikan tubuh Sakura yang begitu lemah. dan mereka menyimpulkan bahwa Sakura sudah tak sadarkan diri. Itachi menggendong tubuh mungil Sakura dalam genggamannya, membawa Sakura masuk ke gedung sekolah.
"Kalian bubarlah, dan jangan bersikap menyudutkan apalagi menekannya" seru Itachi sembari berjalan menghampiri gedung sekolah. "Kalau tidak, kalian lihat sendirikan akibatnya?"
Entah mengapa Onyx milik sensei itu seperti memberikan tekanan bathin ke setiap orang yang menatapnya. Apa mengerti maksud Itachi atau takut dengan tatapannya, semua orang disana tiba-tiba saja bubar begitu saja meninggalkan tanda tanya besar di hati mereka.
"Itachi-sensei, apa tak masalah kau membawanya?" tanya Kakashi mencoba menyamakan langkahnya dengan lelaki mengangkat tubuh seorang gadis yang sekaligus mahasiswinya.
"Tak masalahnya, aku yakin sensornya tidak akan membahayakan iblis murni dalam tubuhku" sahut Itachi sedikit mempercepat langkahnya saat melihat sebuah ruangan dengan pintu terbuka yang telah dijaga oleh seorang wanita bersurai biru tua itu.
"Apa dia baik-baik saja, Itachi-sensei?" tanya wanita itu menuntun Itachi menuju ranjang yang telah tersedia di ruangan tersebut.
"Aku harap begitu, tolong jangan biarkan Sasuke maupun Naruto menjenguknya, Konan-hime" sahut Itachi membaringkan tubuh Sakura di atas ranjang.
"Doushite, Itachi-sensei?" tanya wanita bernama Konan tersebut.
"Aku takut, dia akan kembali mengamuk saat mencium darah iblis tak murni milik Ototo dan darah siluman milik Naruto" tutur Itachi setelah menghela nafasnya dengan berat.
"Sebaiknya aku juga ikut berjaga-jaga di sini, aku tak yakin Konan-sensei bisa mengatasi mereka berdua" tawar Kakashi kepada mereka. Konan dan Itachi hanya mengangguk, kemudian lelaki bermarga Uchiha itu berlalu pergi meninggalkan kedua sensei tersebut dalam ruang Unit Kesehatan Universitas (UKU).
"Ugh?! Dimana ini?" sebuah suara memecahkan keheningan di ruang kesehatan tersebut.
"Kau sudah sadar, Sakura?" sahut Konan menghampiri Sakura yang tengah bangkit dari ranjang UKU. "Tidur saja dulu, jangan bangkit. Pulihkan tenagamu seperti semula"
"Baiklah, sensei" ucap Sakura menuruti ucapan Konan dan kembali terlelap dibawah selimut putih yang sengaja dibalutkan oleh sensei wanita muda itu kepada mahasiswinya itu.
"Bagaimana? Apa dia sudah lebih tenang, Konan-sensei?" tanya Kakashi bersilang dada di depan pintu.
"Begitulah, aku menekan titik sensornya agar tidak aktif untuk beberapa saat" kata Konan kembali bertanya sembari duduk di kursi kerjanya. "Apa mereka tadi datang kemari, Kakashi-sensei? Sehingga kau berdiri di depan pintu begitu?"
Kakashi tak langsung menjawab, ia hanya mengeluarkan kepalanya keluar sehingga dapat sedikit melihat orang-orang yang lalu lalang di koridor universitas. "Kalau Naruto baru saja kusuruh pergi, tapi Sasuke? Hmm.. aku merasakan auranya di sekitar sini sedari tadi, tapi tak dapat melihat keberadaannya"
.
.
.
Setelah beberapa lama mereka terdiam, dengan serempak mereka menghela nafas berat dan panjang. "Hueeeh.."
"Kakashi-sensei, bagaimana keadaan Sakura?" tanya seorang mahasiswa tiba-tiba saja muncul dan mengagetkan kedua sensei yang sedang berjaga tersebut. "Ah, gomen mengagetkan kalian"
"Tak mengapa, dia sekarang sudah tenang dan sedang beristirahat di ranjang, Ino" sahut Kakashi memandangi gadis berambut pirang itu yang kini tampak sangat khawatir melihat keadaan sahabat karibnya yang sedang terbaring lemah di ranjang UKU itu.
"Boleh aku menjenguknya?" tanya Ino mencoba masuk ke dalam ruangan. Namun, dengan sigap tangan kekar Kakashi menutup jalan Ino untuk masuk ke ruangan dimana Sakura sedang beristirahat memulihkan tenaganya.
"Sebaiknya jangan sekarang, aku tak bisa memastikan dia akan bersikap baik kepadamu setelah amukannya di halaman universitas tadi" ucap Kakashi masih melepaskan tangannya dari pundak Ino. "Kau tau, dia sekarang mengalami masa pengontrolan emosionalnya sebagai penyihir baru"
Dengan lemas, Ino menundukkan kepalanya lalu memutar arah langkahnya. Kemudian mencoba menarik nafas dalam sedalam-dalamnya sebagai penenang dirinya sendiri.
"Aku mengerti, sebaiknya aku kembali ke asrama. Permisi, sensei" ucap Ino berjalan pergi menjauhi ruangan itu dengan kepala yang masih menunduk lemas. Seakan belum tenang dengan keadaan sahabatnya itu sekarang.
"Kau menyembunyikan kebenarannya dari sahabatnya sendiri?" tanya Konan tiba-tiba saja mengalihkan pandangan Kakashi dari Ino.
"Sebaiknya kita rahasiakan dahulu, kita belum tau apakah Ino dapat menerima sahabatnya yang bukanlah penyihir pada umumnya" sahut Kakashi menduduki meja kerja Konan yang telah rapi sempurna.
"Baiklah, aku mengerti"
Srek!
"Uhm, sepertinya aku tidur terlalu lama" ucap Sakura mencoba mendudukkan dirinya.
"Jangan banyak bergerak, gelang di kaki dan tanganmu itu akan segera aktif jika kau akan menggunakan kekuatan sihir" tegur seseorang yang tengah berdiri di tepi jendela dengan tirainya yang bebas menari-nari oleh hembusan angin malam.
"Itachi-sensei, ah bayangan hitam di belakangmu itu.."
"Iblis murni milikku, seperti yang kukatakan padamu dulu" sahut Itachi memotong kata-kata Sakura lebih dulu.
"Ehm, sou desu ka" kata Sakura mencari posisi nyaman untuk tubuhnya menyandar di ranjang ruang kesehatan tersebut.
"Sepertinya Spell eyes-mu sudah terbuka" Itachi berjalan menghampiri Sakura yang kikuk menatap Onyx tajam itu dalam kegelapan malam dengan sedikit cahaya bulan. "Tak kusangka, kau adalah Black Pure Magician"
Deg!
Entah mengapa, dada Sakura seakan tiba-tiba berhenti sesaat membuat sensasi nyeri di jantungnya saat mendengar kata-kata senseinya tersebut. 'Black Pure Magician? Jadi itu adalah aku?' pikir Sakura dengan lirih.
"Tidurlah kembali, aku akan pergi mencari makanan untukmu" suruh Itachi mendekati pintu masuk UKU.
"Matte yo, sensei! Ada yang ingin kutanyakan padamu" Itachi melirik Sakura beberapa saat dan akhirnya mengalihkan arah tubuhnya menghadap gadis bermata emerald itu. "Kenapa kau tampak baik-baik saja, sedangkan Sasuke begitu tersiksa disekitarku?"
Mendengar pertanyaan Sakura tadi membuat Itachi menghela nafasnya beberapa saat, kemudian menyilangkan kedua tangannya didepan dada. "Seperti yang kukatakan kemarin, aku hanya memiliki satu jelmaan iblis dan berarti sama dengan nyawaku sebagai manusia"
"Sedangkan Sasuke memiliki satu iblis murni dan satu iblis Obito-sama yang berarti nyawanya sudah lebih dari seorang manusia normal. Jadi, aku akan baik-baik saja jika kau mengamuk dan berusaha menyerap kekuatan kami. Tapi, Sasuke? Kau bisa saja langsung membunuhnya seperti yang kau lakukan 2 hari yang lalu" sambungnya.
"Are? Du-dua hari yang lalu? Maksud sensei saat ujian pertama kemarin? A-aku berusaha menyerap kekuatan Sasuke?!" seru Sakura seakan tak percaya dirinya tega melakukan hal seperti itu pada partnernya sendiri.
"Ya, saat kau tak sadarkan diri, Sasuke berusaha membawamu ke asrama. Namun sayang, semakin dia berjalan mendekati asrama. Kau semakin membunuhnya secara perlahan, dan membuatnya tak sanggup berjalan lagi" Sahut Itachi menutup dua matanya membayangkan keadaan Ototonya tersebut.
"Untung saja, Ino ada diluar dan aku langsung membawa Sasuke menjauhimu. Jadi, Sasuke selamat" sambung Itachi menatap soft green Sakura secara langsung.
Menerima tatapan itu, Sakura hanya dapat menyalahkan dirinya sendiri yang hampiri membunuh partner sekaligus orang yang sangat ia sayangi. Sakura seakan sudah kehilangan ide untuk dapat menyelesaikan masalahnya sekarang ini.
"Bagaimana.." Sakura menundukkan kepalanya sehingga menghalangkan cahaya bulan menerangi wajahnya yang sedikit pucat. "Bagaimana caranya untuk aku bisa bersamanya tanpa membunuhnya seperti yang lalu?"
Ha?
Itachi tiba-tiba tercengang mendengar ucapan gadis bersurai merah muda itu, ia hanya dapat tersenyum pada akhirnya. "Kau harus membunuh Iblis Obito-sama dalam tubuh Sasuke, apa kau bisa, heeh?!"
Untuk sementara Sakura terdiam memikirkan tantangan Aniki dari partnernya tersebut. "Akan kucoba, akan kuusahakan! Meskipun, aku belum bisa membedakan mana iblis murni Sasuke maupun iblis Obito-sama"
"Tak boleh kau coba!" seru Itachi yang mengejutkan Sakura. "Nyawa seseorang tak boleh kau jadikan percobaan, Sakura!"
Sakura hanya diam mendengarkan perkataan Itachi yang bernada sedikit tinggi.
"Kau harus melakukannya, kau harus menyelamatkannya dari belengguh iblis itu, Sakura" ujar Itachi memunggungi Sakura yang masih duduk di ranjang berselimut putih itu.
"Baik! Aku akan menyelamatkan Sasuke-kun, pasti kulakukan!" sahut Sakura dengan semangat.
"Tapi.."
Tiba-tiba saja Itachi menghentikan langkahnya untuk membuka pintu masuk ruang kesehatan tersebut. "Iblis Obito-sama itu bisa mengendalikan Sasuke untuk menyerang siapapun kapan saja. Oleh karena itu, waspadalah"
Brak!
Itachi menghilang dibalik pintu masuk yang telah tertutup sempurna. Sakura mencoba mengejar senseinya tersebut, namun terhenti karena rasa nyeri yang timbul di pergelangan kaki dan tangannya. "Ah! Ini gawat, aku bahkan tak sadar akan menggunakan kekuatan sihir sendiri"
Dan pada akhirnya, Sakura mengurungkan niatnya untuk mengejar Itachi. Ia lebih memilih kembali berbaring di ranjang yang masih ditempatinya itu. "Apa aku bisa menyelamatkan Sasuke-kun? Atau.."
.
.
.
"… malah membunuhnya tanpa aku sadari"
Tralala~ update chap 12 yang semakin, see~ makin gaje juga XD dan ane pun semakin galau memikirkan kelanjutan fic ini, oh Nooo! *pakeToa #lebay! Yaa, minimal mendramatisin ceritanya aja, hohoho.. *EvilModeOn susah ya, buat wordnya sampai 5000, word 3000 aja susah bener gini, apalagi 5000 yaa.. o.o? bawaanya pengen TBC digantung sih #TipeAuthorPHPsih heheh.. jadi maklumin aja yaa minna XD *ditabok
Jaa ne, minna-san.. jangan lupa reviews yaa, kasih saran juga boleh, apa aja deh.. tinggalin jejak minna aja pokoknya XD *menghilang
