Sasuke's Side

"Ugh..!" ucapku lirih menahan rasa sakit yang menyerang seluruh tubuhku. Serasa ajalku datang sebentar lagi, sakit ini sunggu.. sungguh sangat menyiksaku. Aku tau ini akibat amukan gadis itu, aku memang belum paham yang dikatakan Aniki tentangnya. Tapi, aku tau pasti dia sangat berbahaya untukku sekarang. Jadi, aku harus menjaga jarak dengannya.

"Ototo, partnermu itu Black Pure Magician. Jadi, jauhi dia demi keselamatanmu sebagai Half of Devil"

Itulah ucapan Itachi-nii kepadaku, sedikit membingungkan memang. Tapi aku harus meng-Iya-kan perkataannya, karena dia adalah Aniki-ku. Aku tau, dia melakukan ini semua demi kebaikanku. Meskipun terkadang aku membenci apapun yang ia lakukan untukku.

"Kau baik-baik saja, teme?"

Ah, suara itu sudah jelas sekali dia adalah si pirang dobe. Mau apa dia ke sini? Matte! Kenapa aku jadi linglung begini? Ini kan kamar kami, astaga! Aku sampai tak menyadari dimana aku sekarang.

"Hn" jawabku singkat.

Dan yang kulihat sekarang dia menghempaskan tubuhnya ke kasur sambil menghela nafas berat. "Sayang sekali, dia adalah Black Pure Magician ya, teme"

"Siapa?" tanyaku cepat seakan aku menjadi orang yang lambat tanggap.

"Sakura-chan, partnermu itu loh"

Ah, iya! Aku sampai lupa, Itachi-nii juga menyebutnya dengan panggilan itu juga kemarin. Tak tau apa alasan mereka menyebutnya dengan kata itu. Sangat mengganggu jika mendengar sebutan itu ditelingaku. Apalagi sudah menjadi gelarnya.

"Uhm, dobe.."

"Nan desu ka?"

Aku berusaha untuk mengambil nafas diantara rasa sesak dan sakit pada seluruh tubuhku. Semakin lama, rasa sakitnya memang bertambah. Tapi, aku harus bertahan sekuat tenaga dengan kekuatanku sendiri.

"Black Pure Magician itu apa?" tanyaku datar.

.

Satu detik.

.

Dua detik.

.

Tiga detik.

.

Gubrak!

"Sejak kapan kau tak tau dunia luar, haah?!" seru Naruto langsung bangkit dari kasurnya secara tiba-tiba membuatku sedikit terkejut, kemudian dengan perlahan menghela nafasnya kembali. "Black Pure Magician itu jenis penyihir netral bisa baik maupun jahat, penyihir paling ditakuti oleh Siluman dan iblis bahkan manusia"

'Menakutkan juga' pikirku.

"Bagi jenis kita ini, jenis penyihir seperti Sakura itu sangat membahayakan keselamatan kita. Bahkan dapat mengancam nyawa, jadi kita sebagai makhluk yang bukanlah manusia harus berhati-hati kepadanya. Meskipun tubuh yang kita miliki adalah manusia sih, ehm.." sambung si dobe itu dengan tidak meyakinkan.

"Apa-apaan cara menjelaskanmu itu?" cibirku sambil menurunkan kedua alisku.

Mendengar ucapanku itu dia langsung melebarkan mata dan mulutnya seakan ingin berkilah. "Aku meniru cara Kaa-san mengajar minggu lalu. Meski tak terbiasa menjadi sensei, dia masih bersemangat ya?" cengiran khasnya mulai ditebarkannya tanpa dosa.

'Tentu saja, seseram apapun ibumu lebih menyeramkan ayahmu jika sedang murka' kataku dengan lirih tanpa mengerti maksud dari perkataanku tadi.

"Dia masih meronta juga? Dasar iblis durhaka pada majikan!" gerutu Naruto sambil mengibas-ngibaskan kipas tangan yang datangnya entah dari mana.

"Urusai!" sebuah suara seruan melantang setelah ucapan Naruto bergulir dari mulutnya. Dan tentu saja, lelaki berambut pirang di depanku itu terkejut bahkan sempat terjatuh dari kasurnya ke sudut sebelah sana.

"Iblis Obito-sama tidak jinak, menyeramkan! Sama sekali tidak manis" sambung Naruto bangkit dari keterpurukannya di bawah kasur.

"Memang kau anggap aku kucing, haah?! Dasar siluman rubah!" caci iblis yang disinggung-singgung oleh Naruto tadi.

"Sudahlah, sehari saja kalian akur. Tidak bisa?" leraiku sambil menghela nafas.

"TIDAK BISA!" seru mereka dengan serempak.

'Kompak sekali'

Aku sudah tak peduli, mau mereka berperang dengan berbagai senjata ataupun adu mulut dengan seribu bahasa. Aku tak akan menggubris mereka, karena aku sudah lelah. Dan kuputuskan untuk berbaring di kasur milikku, hingga terlelap dalam mimpiku.

Sasuke's Side End

.

.

.

.

.

Magic University of Hokkaido

Ujian Kedua 'Begin'

.

.

.

.

.

"Sudah baikan?" pertanyaan lelaki berambut raven berkepang belakang itu membuyarkan lamunan seorang gadis bersurai merah muda yang tertegun menatap mangkuk sup pemberian lelaki itu.

"Sudah, sensei" sahut gadis itu sembari meletakkan mangkuk yang sudah kosong itu di atas meja didekatnya. "Hanya saja, aku tak bisa menyadari kapan aku menggunakan sihir tanpa tongkat milikku"

"Itu wajar, karena sebagai Black Pure Magician, kau bahkan tak perlu menggunakan tongkat untuk mengaliri sihir milikmu, Sakura" sahut lelaki dangan santai bersandar di atas meja kerja yang tersedia.

"Uhm, tapi.. bukankah itu akan membahayakan kalian, jika tanpa sadar aku mengeluarkan sihir berbahaya, Itachi-sensei" tanya gadis bernama Sakura itu pada senseinya yang kini sedang memutar otaknya untuk menjawab pertanyaan mahasiswi yang bisa mengancam nyawanya.

"Memang.." Itachi menutup matanya dengan perlahan dan menghela nafas sebelum melanjutkan kata-katanya lagi. "Tapi, jika kau bisa mengontrol kesadaran dan emosimu, aku yakin kau tak akan melukai siapapun"

.

Hening Sejenak.

.

"Itachi-sensei, hentikan senyumanmu itu. Lihat, Konan-sensei sampai salah paham dan berlari keluar ruangan" ucap Sakura dengan santai menunjukkan pintu yang tiba-tiba terhempas. Sedangkan, Itachi dengan reflex menghilang dibalik pintu saat menyadari kekasihnya melarikan diri. setelah kepergian senseinya itu, gadis bersurai merah muda itu tertawa lepas karena melihat tingkah para senseinya itu.

'Dasar anak jaman sekarang'


Setelah merasa bisa mengontrol diri, Sakura memutuskan untuk keluar dari ruang UKU. Dia menyadari bahwa universitas terasa sunyi, karena hari ini adalah ujian kedua. Dan untung saja, tantangannya untuk individu, jika bersama partner, Sakura sudah tak tau harus bagaimana lagi bersikap kepada Sasuke yang hampir saja ia bunuh tanpa sadar.

"Sebaiknya aku istirahat ke kamar saja, jam 8 malam saja aku selesaikan ujian itu" ucap Sakura berjalan menuju asrama putri setelah membaca papan pengumuman universitas.

Duak!

"Sakura-san!" suara teriakan sebuah benda yang menghamburkan pelukannya kepada Sakura yang terkaget-kaget dengan kehadiran benda tersebut. "Kau sudah baikan? Aku mencemaskanmu, tau!"

Dan kini, Sakura hanya tertawa kecil sembari membelai bulu putih halus milik boneka sihir miliknya tersebut. Sakura cukup sadar akan kekhawatiran boneka sihirnya tersebut. Dengan pelukan erat yang seakan tak ingin dilepaskan dari tubuhnya itu, membuat Sakura bisa menyadari akan hal itu.

"Makanya, aku sudah bilang pada Sakura-san. Buatlah kesepakatan denganku, jadi aku dengan leluarsa menolongmu!" gerutu boneka kelinci sambil memukul-mukul angin yang lewat di depannya.

Sakura tak menjawab, ia lebih memilih melirik ke arah langit biru dengan cahaya matahari yang berjaya di sana. Sedangkan Usagi dengan setia menanti jawaban majikannya tersebut.

"Boleh aku tau syarat yang kau tujukan padaku, Usa-chan?" tanya Sakura setelah beberapa saat terdiam.

"Memang Sakura-san sudah memutuskan kesepakatan kita?" Usagi malah balik bertanya sebelum menjawab pertanyaan Sakura yang telah mengangguk pelan. "Andalkan aku, kekuatanku, seluruh tubuhku bahkan nyawaku sekalipun"

"Nyawa sekalipun?" ulang Sakura sedikit tercengang mendengar ucapan Usagi tadi.

"Hn! Aku ini hanyalah benda mati yang dihidupkan oleh sihir, aku akan sangat senang jika diriku ah bukan! Seluruh hidupku dihabiskan untuk membantumu, Sakura-san"

Usagi tersenyum dengan riang, seakan perkataannya itu adalah kejujuran dari lubuk hatinya yang bahkan hanyalah buatan tangan seorang manusia atau lebih dari itu. Tak ada yang tau bagaimana cara membuat sebuah boneka sihir, ada yang bilang menggunakan ramuan para penyihir. Ada pula yang mengatakan, hanya menggunakan sihir penghidup benda mati. Tapi, jika dipikir dengan secara detil, sebuah benda mati jika diberikan sihir seperti itu, tentu saja benda mati itu tak akan memiliki hati murni dan ikhlas seperti Usagi.

"Usa-chan.." tatapan mata emerald itu berubah sedih menatap manik hitam bercahaya milik kelinci sihir itu. ".. Kau berlebihan, baka!"

Sebuah pukulan kecil terlempar di kepala bermahkota bertelinga panjang berbulu halus warna putih polos tak bernoda. Dan si pemilik telinga panjang itu, hanya bisa meringis kesakitan yang rupanya pukulan kecil itu terasa begitu mengganggu dikepalanya. Namanya juga terbuat dari kain dan kapas empuk, tidak ada tulang maupun daging keras di dalamnya. Bahkan otak pun tak punya, bukan dalam arti kasar ya, tapi arti yang sebenarnya lho.

"Ehehe.." dan cengiran khasnya membuat si majikan hanya tersenyum lembut. ".. Itu memang benar, Sakura-san"

"Ya, ya, ya, terserahlah. Aku lelah, ingin tidur di kamar asrama" ucap Sakura berjalan meninggalkan Usagi yang kemudian mengutinya dengan senang hati.

"Tapi, bukankah tadi Sakura-san sudah tidur. Bahkan lebih lama dari biasanya, kan?" komenter Usagi menari-nari di udara.

"Hm, entahlah. Badanku terasa lelah sekali semenjak saat itu, ingin rasanya tidur terus"

Sakura membuka pintu kamar miliknya tanpa melihat batang pintu yang ternyata tergantung kertas kecil yang berisikan tulisan.

"Ada pesan! Sepertinya dari Ino-sama" kata Usagi mengambil kertas kecil itu sembari menyodorkannya kepada Sakura.


Sakura, aku minta maaf tidak bisa menjengukmu tadi di UKU. Kakashi-sensei bilang kau harus beristirahat dengan tenang, makanya aku mengurungkan niatku untuk melihat keadaanmu semalam. Aku sedang tak dikamar, kau tau kan, hari ini ujian kedua. Jadi, aku pergi menyelesaikannya. Jika sudah selesai, aku pasti kembali dengan cepat. Kalau kau mau makan dan minum, aku sudah menyiapkannya di atas meja belajarku.

Sahabatmu,

INO YAMANAKA


Setelah membaca pesan sahabatnya yang berambut blonde itu, Sakura meletakkan kertas kecil di atas meja belajar milik Ino. Dan selain buku-buku pelajaran, serta alat-alat make up lengkap ala perias professional, ada pula semangkuk bubur ayam ditambah segelas jus Orange.

Sakura menduduki kursi yang tersedia disitu, menggerakkan tanggannya untuk mengacau bubur yang masih dalam keadaan hangat. "Ittadakimasu!" kemudian menyantap nikmatnya bubur ayam yang diteburi daun saledri yang menambah harumnya makanan tersebut.

"Mau?" tawar Sakura sembari sedikit menggeser mangkuk ditanggannya itu.

Usagi sedikit terkejut dengan tawaran Sakura dan menggeleng pelan. "Aku tak butuh makanan, Sakura-san. Aku kan boneka sihir, tapi arigato"

Setelah mendengar jawaban bonekanya tersebut, Sakura hanya kembali mencicipi isi mangkuk dihadapannya tersebut. 'Ya Sudah'

"Sakura-san, boleh aku bicara sebentar?" tanya Usagi menjatuhkan tubuhnya diatas kasur, lelah terbang mungkin. "Tapi, lanjutkan saja makanmu dulu"

"Ya, katakana saja. Aku akan mendengarkannya" sahut Sakura dengan cepat menyingkirkan mangkuk yang kini telah kosong. Cepat banget makannya! o.o?

"Aku juga sudah selesai makan, kok" sambungnya sembari menyeruput minuman di dekatnya itu.

Usagi menghela nafasnya layaknya seorang manusia saja. "Gomen-nasai sebelumnya, Sakura-san"

"Hn" jawaban singkat Sakura.

"Aku tau aku sudah menyusahkan, Sakura-san."

"Hn" sahut Sakura meletakkan gelas jusnya diatas meja.

"Maka dari itu, pikirkan kesepakatan itu denganku"

"Uhuk..!" suara Sakura keselek air minum yang belum semuanya mengalir bebas di tenggorokannya. Sakura menepuk-nebuk dadanya, agar rasa sakit karena tersedak hilang dengan cepat.

"Sa-sakura-san, apa kau baik-baik saja?" tanya Usagi terbang menghampiri Sakura yang masih tersedak di kursi meja belajar Ino.

"Ah, aku baik-baik saja. Tenanglah" sahut Sakura membuat Usagi menjaga jarak karena tanggannya. "Aku belum terpikir kesepakatan yang pantas untuk harga sebuah kehidupan boneka berharga, sepertimu"

Deg!

Penuturan majikan pertamanya itu membuat Usagi tertegun, terdiam, atau terpatung ya? Entahlah, masih dalam proses pemikiran. Yang jelas, Sakura hanya tersenyum ria tak berdosa terhadap boneka kesayangannya itu.

Setelah lama duduk untuk memberikan waktu perutnya mengolah makanan yang baru saja ia cerna, Sakura beranjak dari kursi kayu berdesain sederhana hanya saja berukiran bunga-bunga serta dedaunan. Mengambil sebuah kertas dari meja miliknya dan merogoh kotak pensilnya untuk mengambil pena miliknya.

"Mau buat apa, Sakura-san? kesepakatan kita ya?" tanya Usagi begitu bersemangat melihat Sakura mulai menulis.

"Bukan.." Tukas Sakura membatukan Usagi. ".. Aku menulis surat buat Tou-san dan Kaa-san, nih.. tolong antar, bisakan?"

.

Hening Sejenak.

.

Usagi masih terpatung memandangi amplop yang di sodorkan oleh Sakura. Di bagian depan tertulis, 'Untuk Tou-san dan Kaa-san, Dari Sakura'.

"MEMANG KAU KIRA AKU TUKANG POS, HAAH?!" protes Usagi dengan tegas.

"Aku kan majikanmu, paling tidak antarkan surat ini saja. Apa susahnya sih?" gerutu Sakura memanyunkan bibirnya kedepan.

Namun, apalah daya sebagai boneka sihir. Usagi hanya bisa menghela nafas dan menyabit amplop di genggaman majikannya tersebut. "Baiklah, tapi Kuro saja yang mengantarnya. Aku tidak boleh jauh-jauh dari Sakura-san" dan Sakura hanya membinarkan matanya dengan senyuman semangat seakan berkata, 'Arigato Gozaimasu, Usa-chan'

"Fiuwiit..!" siul Usagi dengan keras dan sekuat tenaganya. "Kuro..!"

Srak!

Suara itu berasal dari luar jendela yang sengaja terbuka lebar. Tirai-tirai kamar bahkan ikut merinding sehingga berlari-larian terhempas angin lalu. Sakura dan Usagi masih setia menanti hal apa yang ada diluar sana dengan seksama.

"Ha'I, ha'I, Usagi-chan, aku datang, sayang!" seru sesuatu yang dinanti oleh mereka muncul dari balik tirai yang melambai-lambai.

"Hentikan! Jangan kau sentuh aku, baka!" teriak Usagi berusaha keras melepaskan pelukan dari sesuatu itu.

"Jadi, ini yang kau bilang dengan 'kuro' itu?" tanya Sakura menghentikan pertengkaran mereka berdua.

"Ah, iya, Sakura-san" sahut Usagi tanpa dosa.

.

Satu detik.

.

Dua detik.

.

Tiga detik.

Ah, rupanya si penanya masih terdiam memandangi sesuatu yang disebut-sebut dengan kata Kuro itu. Kalau begitu, kita ulangi saja kembali.

.

Satu de..

"KURO DARIMANANYA? DIMANA-MANA, KURO ITU KUCING HITAM!" protes Sakura sembari menunjuk-nunjuk si Kucing Hitam yang ia maksud. "INI MALAH GAGAK HITAM, BAKA!"

Tentu saja, Usagi mengerti dengan perkataan majikannya yang sudah naik pitam melihat kejanggalan dengan nama Kuro untuk seekor gagak hitam. Ya, mau bagaimana lagi? Kan majikan si Kuro yang memberikan nama itu. Usagi bisa apa coba dengan makhluk narsis satu itu.

"Nee, Usagi-chan" panggil Kuro seperti tak menghiraukan kemarahan Sakura tadi. "Siapa gadis berjidat lebar ini?"

"KAU BILANG AKU APA?! DASAR GAGAK TAK TAU DIRI, KUCINCANG KAU JADI RENDANG JUGA!" seru Sakura makin kalap dipanggil dengan sebutan 'Jidat Lebar' oleh si Gagak Hitam aneh itu.

"Sabar, Sakura-san. Abaikan saja ucapan, Kuro-baka itu" lerai Usagi menghentikan langkah Sakura untuk siap-siap menghajar si burung pertanda malapetaka itu. "Kuro, ini majikanku, Sakura-san. Dan jangan seenaknya mengganti namanya, atau kubunuh kau!"

Bukannya takut dengan ancaman itu, Kuro malah kesenangan dan ingin memeluk Usagi lagi. "Kawaii! Mau marah sekalipun, Usagi-chan tetap manis ya?"

"Jangan seenaknya peluk-peluk! Lepaskan aku!" teriak Usagi meminta pelukan erat si Gagak Hitam itu dilepaskan. "Aku memanggilmu kesini bukan untuk memeluk, baka!"

"Jadi, Usagi-chan mau minta bantuan apa denganku?" tanya Kuro dengan santainya tapi tetap membiarkan Usagi dalam pelukannya.

"Aku ingin memintamu mengantar surat Sakura-san kepada orangtuanya sekarang" tukar Usagi akhirnya terlepas dari pelukan Kuro dan menyodorkan amplop surat Sakura tadi.

"Hee? Mengantar surat? Hm.. baiklah, untuk Usagi -chan apa sih yang gak" sahut Kuro bercengir ria mengambil amplop itu dan terbang menuju jendela. "Aku pergi dulu ya, sayang. Jaa-nee!"

"Dasar Gagak Narsis!" desis Sakura dan Usagi secara bersamaan.


"Sakura..!"

Bruk!

"Ittai! Kau ini mengagetkanku, pig!" seru Sakura meringis kesakitan mendapati dirinya sudah terhimpit badan si gadis pirang yang menerjangnya dari belakang secara tiba-tiba.

"Gomen, gomen, kau juga membuatku khawatir, forehead!" ucap Ino semakin mengeratkan pelukannya dalam rangka mengkhawatirkan keadaan sahabat satu-satunya.

"Oy! Kau mau membunuhku, kau sudah menghimpitku, ditambah pula.." Sakura mencoba mengambil ruang untuk badannya sedikit bebas bergerak dan bernafas lega. "Kau mencekikku dengan pelukan berlebihanmu!"

"Iya, gomen. Kau sudah makan? Sepertinya sudah" tanya Ino langsung menjawab pertanyaannya sendiri dengan memangi meja belajarnya yang sudah bersih tak ada mangkuk makanan disana.

"Iya, tadi pagi. Aku mau menyelesaikan ujian kedua dulu, Jaa!" ucap Sakura berjalan keluar dari kamar mereka.

'Apa dia sudah benar-benar baik-baik saja?'


"Hmm, sampai jam 9 ya? Kita masih punya waktu sejam bukan, Usa-chan?" kata Sakura sembari melakukan pemanasan dengan seluruh tubuhnya, dari kepala, tangan, bahkan kaki. Dan Usagi hanya mengangguk sangat yakin, karena mereka sedang memandangi papan pengumuman sekolah. "Yap! Ayo kita mu.. lai? Eh?"

Sakura terhenti saat melihat sesuatu berada disudut penglihatannya, tak ada suara yang mengalir keluar dari Sakura dan Usagi. Mereka hanya terdiam, melihat dengan seksama sesuatu yang mereka perhatikan. Sakura tau ini sudah malam, dan banyak pantangan yang diberikan oleh Itachi-sensei akhir-akhir ini. Dan salah satu larangan yang diberikan oleh Itachi malah ada dihadapannya.

"Sa-sasuke-kun?" kata Sakura agak tergagap memandangi sosok lelaki berdiri ditengah kegelapan. Namun, teringat oleh larangan yang diberikan untuknya, Sakura langsung menjaga jarak sejauh mungkin setiap Sasuke membuat satu langkah mendekatinya.

"Kenapa kau menghindar, Sakura?" pertanyaan itu terlontar pertama kali oleh lelaki berambut raven itu.

"Kau akan dalam bahaya, jika dekat-dekat denganku" sahut Sakura agak panik karena Sasuke masih saja berusaha mendekatinya. semakin lama, semakin dekat. 'Kenapa aku tak bisa melihat iblisnya?'

"Aku akan baik-baik saja, percayalah" ucap Sasuke sembari merentangkan tangannya kepada Sakura. "Kemarilah, akan kutunjukkan"

Dan tentu saja jawaban Sakura adalah tidak. Sakura tak ingin mengambil resiko untuk membuatnya kembali mengamuk dan pada akhirnya membunuh Sasuke. Jadi, ia masih memutuskan untuk menghindar.

"Doushite, Sakura? Apa kau membenci, sehingga kau menghindariku begini?" tanya lelaki bermata Onyx itu semakin mendekati Sakura dengan langkah kaki yang lebih dipercepat.

"Jangan mendekat.." seru Sakura sudah merasa semakin tersudut. "Onegai.." tapi, sia-sia saja. Sasuke tak memperdulikan permohonan Sakura yang bahkan sudah menahan airmatanya karena takut akan menyakiti partnernya tersebut. "KUBILANG JANGAN MENDEKAT"

Swush!

Ayunan tangan Sakura yang berada di jarak 10 meter membuat tubuh Sasuke terbanting jauh melebihi jarak mereka tadinya. Melihat tubuh lelaki berjubah hitam itu sudah terbaring kesakitan karena ulahnya sendiri, pemilik iris emerald merasakan keringat dingin drinya sendiri. 'Sudah kubilangkan, jangan mendekat' kemudian Sakura berlari sekuat tenaga menjauh, pergi sejauh-jauhnya dari keberadaan partnernya tersebut.

"Ugh, sial!" umpat lelaki yang terhempas itu, sembari menghantam tanah yang hanya diam diperlakukan seperti itu.

Setelah meluapkan rasa kesalnya, Sasuke bangkit dari tanah mulai membersih pasir-pasir yang mengotori pakaian miliknya. Menatap langit yang disinari cahaya bulan yang hampir sempurna menjadi bulat sempurna, lelaki Uchiha itu hanya menghela nafas yang tampak cukup berat.

Ya, dihindari oleh partner sendiri itu memang sangat tidak mengenakkan. Sasuke menyesal telah menghindari Sakura kemarin, tetapi itu harus dilakukannya karena nyawanya terancam oleh ketidakstabilan gadis bermarga Haruno itu.

"Sudah kubilang padamu kan.."

Sasuke melirik ke sisi kiri, memang tak ada siapa-siapa yang ia dapatkan. Namun, Sasuke sangat yakin dan sudah merasakan aura pemilik suara yang menuturkan kata-kata itu.

"Nani?"

Mendengar jawaban Sasuke itu, suara aneh tak memiliki tuan itu kembali terkekeh. Membuat rasa jengkel di dalam hati pemilik Onyx itu semakin besar dan rasanya ingin menghajar pemilik suara itu.

".. kau lemah, sedari awal kubilang padamu.." sambung si pemilik suara.

Sasuke hanya bisa mendengus kesal serta memutar bola matanya seakan sudah lelah dengan sikap yang ia dapat dari si pemilik suara aneh yang sedari tadi mengusik ketenangannya. Sasuke mencoba beranjak keluar dari kegelapan, melangkah memasuki sinaran cahaya rembulan dihadapannya itu. Tetapi terhenti saat merasakan tubuhnya terasa kaku, seperti ada yang menghentikannya.

".. kau harus menyingkirkannya, Sasuke"


Untuk Chapter Ini Gak Mau Banyak Omong, Yang Penting Udah Update, Gitu Aja.. Yang Ingin Review Silahkan, Yang Mau Favorite-In Makasih, Yang Mau Follow-In Boleh Juga.. Yang Penting Ane Menghilang Dulu, Bye XD *manjaTembok