"Haa?" suara itu menggema di tengah hutan yang sepi di malam hari. "Apa-apaan ini?"

Pemilik suara itu tampak kesal dengan keadaan yang terjadi padanya, ia bahkan hanya menggertak giginya yang terlihat rata jika dia menyengir kuda.

"Sakura-san, doushite?" tanya Usagi –si boneka sihir kepada majikannya yang masih terlihat kesal sedari tadi.

"Aku bingung dengan universitas ini.." sahut Sakura dangan nada tinggi seakan marah, memang marah sih, kelihatannya lho. ".. katanya Universitas sihir, tapi.."

Sakura meletakan sekeranjang jamur dengan berbagai warna dan jenis di tanah, dan tenty saja dia masih kesal meletakkan keranjang tersebut. "Ujiannya kenapa malah disuruh memasak jamur?!"

"Heheh..?" Usagi hanya dapat tertawa kaku melihat kekesalan majikannya tersebut, mau bagaimana lagi kan? Ujian kedua kali ini adalah seluruh peserta diwajibkan mengumpulkan 10 jenis jamur dengan berbagai warna, kemudian di masak menggunakan kendi yang tingginya hingga pinggang Sakura. Tak ada yang tau mengapa Minato-san membuat ujian kedua menjadi ujian paling aneh untuk sebuah universitas sihir. "Lebih baik Sakura-san cepat-cepat memasak, nanti gak keburu dengan batas waktunya"

"Kau benar"

Dengan sigap Sakura meletakkan kendi besar itu diatas tungku api yang telah menyala begitu sedang. Memotong-motong 10 jenis jamur dengan berbagai warna itu, lalu mencampurkannya ke dalam bumbu yang telah disediakan dalam tempat memasak itu. Sedangkan Usagi sudah siap sedia dengan kayu yang diberi api oleh Sakura untuk mempercepat matangnya masakan mereka. Kerja tim yang sangat bagus, bukan?

Sring!

"Sakura-san, lihat!" ujar Usagi menunjuk ke asap pembakaran kayu mereka gunakan tersebut.

Mendengar namanya disebutkan, Sakura mendongakkan kepalanya ke atas dan melihat hal yang di pertunjukkan oleh boneka sihirnya itu. "Itu namanya asap, apa kau tak pernah melihat asap?" setelah berkata itu, Sakura kembali merapikan letak kayu di bawah tungku api.

"Nani yo? Bukan itu maksudku.." sahut Usagi sedikit geram dengan sikap acuh tak acuh majikannya tersebut. ".. berdirilah, dan perhatikan baik-baik"

Mendengar perintah boneka sihirnya itu dengan malasnya Sakura berdiri dan memperhatikan asap itu baik-baik. Terlihat biasa saja memang, seperti asap pada umumnya. Tapi, jika di perhatikan baik-baik, maka kamu akan melihat perbedaan asap tersebut.

"..Setelah selesai memasak, masukan masakan kalian ke dalam mangkuk merah di dekat kalian. Jika berhasil, ambil yang timbul didalam mangkuk itu dan satukan dengan permata yang kalian dapatkan saat ujian pertama.."

Itulah yang ditampilkan oleh kepulan asap hitam itu, rupanya asap itu merupakan perintah selanjutnya. Tak menunggu waktu lama, Sakura mengambil mangkuk merah yang dimaksud dan memasukkan masakannya kedalam mangkuk tersebut. Dan menunggu waktu reaksi yang ditimbulkan oleh mangkuk yang berisi sup jamur itu.

"Argh..!" suara yang terdengar sangat frustasi itu bergulir dari mulut manis milik gadis bersurai merah muda itu. "Ini sudah hampir mendekati batas akhir, tapi tak ada perubahan apapun!"

"Ehm, mungkin ada yang salah saat kau memasak jamur itu, Sakura-san" argumen Usagi pun sudah mulai dipertunjukkan. Dan tentu saja, Usagi mendapat deathglared majikannya sendiri atas pemikirannya tersebut.

"Kau bilang ada yang salah?" Sakura melirik tajam kepada Usagi sesaat. "Maksudmu aku gak pandai masak, hah?"

Tentu saja, keringat dingin yang dihasilkan oleh Usagi saat mendapat tatapan itu. "Eh, eh, bu-bu.."

"Memang benar aku gak pandai masak, air saja sampai gosong kalau aku masak. Habis, sejak kecil aku tak pernah masak, hanya masak-masakan sama boneka pemberian Tou-san" sambung Sakura dengan lirih sambil mengais-ngais tanah didekatnya menggunakan ranting pohon dan aura menyedihkan sudah menyelimuti gadis bersurai merah muda itu.

'Dia malah merendah begitu'

.

.

.

.

.

Magic University of Hokkaido

Ujian Kedua 'Continue'

.

.

.

"Sakura-san, sudah selesai, lihat!"

Sakura melirik cahaya biru yang ditimbulkan mangkuk merah itu. Ternyata mangkuk itu bukan sembarang mangkuk, tidak seperti mangkuk biasanya. Setiap masakan khusus yang dimasukkan kedalam mangkuk itu akan berubah menjadi..

"Emerald?!"

Yaa, itulah permata yang akan dihasilkan oleh mangkuk merah tersebut. Dengan cepat Sakura meraih permata jambrud tersebut dan menggabungkannya permata merah miliknya.

"Argh.. tongkat?! Aku lupa membawanya"

Karena sudah bisa menggunakan sihir tanpa tongkat, Sakura sampai lupa jika dia masih mahasiswa yang harus membawa kemana pun tongkat tersebut kemanapun. Kesialan terjadi saat-saat terakhirlah yang sangat ia takuti, memang itu adalah hasil dari kecerobohannya sendiri. Tak akan cukup waktu yang dibutuhkan untuk mengambil tongkatnya ke asrama lalu kembali ke tempat ini dengan cepat. 'Bagaimana ini?'

"Tada~" ucap Usagi dengan girangnya.

"Apanya 'Tara~`, Usa-chan?" Tanya Sakura menatap lekat tubuh boneka tersebut. "Ah, tongkatku? Bagaimana bisa?"

"Eto, karena menurutku sebagai penyihir, Sakura-san pasti memerlukan tongkat, apalagi Sakura-san masih dalam masa ujian akhir, bukan?" tutur Usagi tampak malu-malu menjelaskan alasannya.

Gyut!

Sakura merengkuh tubuh berbalut kain milik Usagi dalam pelukannya, walaupun awalnya terkejut Usagi akhirnya membalas pelukan sang majikan. Begitu hangat dan menentramkan. Tak ingin lama-lama menghabiskan waktu, Sakura melepaskan pelukannya dari boneka sihir tersebut.

"Baiklah, kita mulai saja!" seru Sakura dengan semangat.

Di dalam genggamannya, Sakura sengaja meletakkan kedua permata indah itu untuk mempermudahnya menyelesaikan ujian keduanya tersebut. Mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi di udara, dan mulai mengucapkan mantra sihir miliknya.

.

.

"Raito! Incorporation of pure magic.."

.

.

Blash!

Sebuah cahaya terang benderang tiba-tiba muncul dan menjalar menembus kegelapan malam, tiap sudut tempat yang ada disekitarnya. Bahkan Sakura sudah tak kuat menahan matanya untuk tetap terbuka memandangi cahaya terang tersebut. Namun, ia masih sanggup untuk menggapai sebuah permata Onyx yang menjadi penggabungan kedua permata yang ia dapat tersebut.

"Jangan Sakura!"

Sakura terhenti saat mendengar seruan tersebut, namun saat dilihatnya kesekitar tak ada orang bahkan Usagi pun tak tampak di pandangannya. Tak ingin mengulur waktu, dengan sigap Sakura merebut Onyx tersebut dari udara. Tiba-tiba cahaya putih itu menghilang begitu saja, disekeliling Sakura kembali seperti sedia kala.

"Nee, Sakura-san? Apa itu batu Onyx?" Tanya Usagi menyadarkan Sakura dari lamunannya tentang suara seruan tadi.

"Ah, iya U-"

.

"Kau pembunuh!"

.

"Ugh..!" erang Sakura memegangi kepalanya dengan kuat.

.

"Semuanya akan baik-baik saja, Sakura sayang"

.

'A-ayah, I-ibu?' Kini bayangan ingatan Sakura berubah ke wajah orangtuanya, bahkan Sakura tak ingat wajah orangtuanya tersebut.

.

"Kyaa! Penyihir!"

.

Pandangan mata langsung berubah ketika yang terlihat di depan matanya adalah seluruh masyarakat yang melontarkan pandangan sinis kepadanya. Tak hayal pekikan dari para ibu yang tampak berusaha melindungi anak-anaknya dari jangkauan Sakura. Sakura benar-benar tak begitu tau jika dahulu ia memiliki masa kenangan gelap seperti ini.

"Sakura, meskipun kamu akan banyak melupakan segala hal, tapi ayah minta kamu jangan menggunakan sihir yang mengandung kata 'pure' , mengerti?"

Tiba-tiba pesan sang ayah menyentakkan Sakura dari perputaran ingatannya di masa lalu yang menghilang begitu saja. Sakura baru saja melanggar janjinya pada sang ayah. Raut wajah Sakura langsung berubah mengingat barusan ia menggunakan sihir dengan mantra yang mengandung kata 'pure'. Dan lagi, suara seruan siapa tadi itu?

.

.

.

"Doushite Sakura-san?" Tanya Usagi begitu khawatir melihat pandangan Sakura yang tampak kosong.

"Ah, ti-tidak ada Usa-chan. Sebaiknya kita kembali ke asrama sekarang juga" ajak Sakura yang sudah berjalan lebih dulu daripada Usagi yang mengekor dari belakang.

"Mantra itu mungkin akan membahayakan banyak orang dengan kekuatan sihirmu yang masih tidak dalam kondisi stabil, makanya ayah mohon jangan gunakan mantra dengan kata 'pure' Sakura"

.

.

.

"Kenapa kalian membiarkan gadis itu melanjutkan ujian ini?" protes seseorang berjubah hitam di hadapan Minato.

"Ah, bagaimana pun juga dia masih mahasiswi disini, jadi jika dia masih sanggup tak masalah bukan, Danzo-sama?" sahut Minato dengan ramha.

"Cih! Penyihir seperti dia jika dibiarkan akan banyak memusnakan manusia, Minato-san!" kilah Danzo mulai tampak kesal pendapatnya tak indahkan oleh rektor Universitas tersebut.

"Bagi anda yang dimakan habis oleh iblis kegelapan tentu saja akan cepat dimusnahkannya"

Danzo sudah tak bias bersabar lagi dengan tingkah lelaki paruh baya di hadapannya itu, tanpa mengucapkan salam perpisahan, lelaki tua berperban hamper seluruh tubuhnya tersebut pergi begitu saja. Minato hanya dapat menghela nafas melihat tingkah kakak seniornya dulu saat masih duduk dibangku sekolah itu.

.

.

.

"Sakura, bisa kita bicara sebentar?" Tanya seseorang yang menghentikan langkah Sakura untuk masuk ke dalam asrama.

"Oh, Itachi-sensei? Ada apa?" Tanya Sakura kembali sembari memutar arah tubuhnya.

"Kau tak mendengar seruanku tadi?"

Sakura mengerjapkan matanya beberapa kali, 'Jadi itu suara Itachi-sensei?' gumam Sakura dalam hati.

"Apakah ada perubahan setelah kau menyelesaikan ujian kedua?" ucap Itachi menyambungkan pertanyaannya tersebut.

"Memang kenapa sensei?" kata Sakura malah kembali bertanya.

Itachi melirik ke sekitarnya yang memang sudah gelap karena suasana malam yang sepi. Lalu, matanya kembali tertuju kepada iris emerald dihadapannya tersebut.

"Bagi penyihir biasa, efek dari batu Onyx itu hanya sekedar penambah energi 2x lipat dari biasanya"

"Lalu hubungannya denganku sensei?"

Itachi menghela nafasnya sejenak dan kemudian memandang lekat-lekat wajah gadis muda tersebut. "Kau ingat, kau ini Black Pure Magician" Sakura mengangguk dengan cepat. "Efek yang di dapat oleh seorang penyihir sepertimu pasti berbeda"

"Jadi, sensei?'

"Aku tau apa efeknya, tapi hanya kau yang tau apa manfaat yang diberikan batu Onyx tersebut kepadamu" kata Itachi melipat kedua tangannya di depan dada.

"Yang kudengar hanya jika Black Pure Magician mendapatkan Onyx maka dia akan mendapatkan sebuah dorongan yang memicunya menjadi lebih kuat, namun efeknya tak secara langsung melainkan perlahan-lahan" sambung Itachi membuat Sakura mengangguk-angguk sembari mencerna penuturan senseinya tersebut.

"Jadi, untuk sementara waktu, kau jangan dekat-dekat dengan Sasuke, antisipasi jika manfaat Onyx itu membawa petaka bagi Ototoku, kau mengerti, Sakura?" tambah Itachi menajamkan tatapannya kepada Sakura.

"Ba-baiklah, aku mengerti sensei" sahut Sakura dengan kaku.

"Ya sudah, aku pergi" ucap Itachi kemudian menghilang dibalik gelapnya malam.

Disana, Sakura hanya terdiam memandangi kepergian Itachi, mencoba berfikir jalan keluar baginya untuk menyelesaikan permasalahannya sebagai Black Pure Magician. Apakah dia bisa menolong Sasuke dengan kekuatan yang masih sangat tidak stabil seperti ini?

"Argh..! Entahlah" erang Sakura tampak frustasi dengan keadaan dirinya saat ini. "Kenapa ini begitu rumit? Apa tidak ada cara untukku menyelesaikan semua ini?"

"Tentu saja ada"

Tiba-tiba suara itu mengalun dalam tangkapan pendengaran Sakura, dengan cepat Sakura mencari keberadaan sang pemilik suara yang kini tengah berjalan menghampiri Sakura. Pandangan mata Sakura tak lepas dari seseorang yang berjalan dalam kegelapan tersebut. Terbesit berbagai pemikiran tentang lelaki itu dalam benak Sakura.

"Kau…"


Sakura : BUKANNYA UPDATE KILAT, MALAH MENGHILANG TANPA KABAR

Author : *menyendiri di sudut ruangan*

Sakura : UDAH TELAT, CERITANYA JELEK DAN PENDEK BEGITU LAGI

Author : *ngais2 tanah*

Sakura : LO INI SEBE-

Author : LO TERIAK LAGI, GUA CINCANG JUGA NIH! *bawa pisau dapur*

Sakura : Ha.. Heheh.. *tertawa kikuk*

Sasuke : Abaikan

Author : Nee, untuk kali ini ane lebih jarang update,, maklumin yak! XD

Saku&Sasu : Jangan lupa tinggalkan review kalian! *maksa*

Sampai ketemu di chapter selanjutnya ^^