Episode sebelumnya. . .
Disana, Sakura hanya terdiam memandangi kepergian Itachi, mencoba berfikir jalan keluar baginya untuk menyelesaikan permasalahannya sebagai Black Pure Magician. Apakah dia bisa menolong Sasuke dengan kekuatan yang masih sangat tidak stabil seperti ini?
"Argh..! Entahlah" erang Sakura tampak frustasi dengan keadaan dirinya saat ini. "Kenapa ini begitu rumit? Apa tidak ada cara untukku menyelesaikan semua ini?"
"Tentu saja ada"
Tiba-tiba suara itu mengalun dalam tangkapan pendengaran Sakura, dengan cepat Sakura mencari keberadaan sang pemilik suara yang kini tengah berjalan menghampiri Sakura. Pandangan mata Sakura tak lepas dari seseorang yang berjalan dalam kegelapan tersebut. Terbesit berbagai pemikiran tentang lelaki itu dalam benak Sakura.
"Kau…"
.
.
.
Matanya bagaikan permata jambrud itu mengerjit tak kala menatap seseorang di balik rimbunan pohon yang menghalangi cahaya rembulan masuk ke sela-sela ranting pohon besar di kebun universitas tersebut. Orang yang sedang di tatap oleh gadis muda itu berjalan dengan perlahan-lahan atau lebih tepat slow motion mendekati Sakura dari pohon besar yang menjadi tempat persembunyian tadi.
"Ayah?!" seru Sakura membelalakkan matanya saat menangkap jelas pemilik suara misterius tersebut.
Namun, setelah berseru begitu, Sakurai mulai mengerutkan keningnya lalu berpangku dagu seakaan sedang berfikir. "Tapi, bukannya Ayah sudah mati ya?"
.
.
DUAK!
.
.
"Sa-sakit, Ayah!"
Dan akhirnya kepala Sakura kena telak oleh tangan milik lelaki bersurai senada dengan warna mahkota milik Sakura namun warnanya lebih tampak menyesuaikan umur. Jadi, bukan merah muda lagi tapi merah muda ketuaan. Hahaha. #plak
"Dasar anak kurang ajar! Ayahmu datang berkunjung, bukannya disambut, di peluk atau apalah gitu. Ini malah di sumpahi Mati!" geram lelaki paruh baya itu mengepalkan tangan kanannya di depan mata Sakura yang sudah meneguk liurnya sendiri.
"Heheh, maafkan aku, Ayah. Maafkan aku"
Kizashi –nama lelaki paruh baya itu, hanya bisa menghela nafas sambil mengalihkan pandangannya ke luar pekarangan universitas tempat putrinya menuntut ilmu. Melihat tatapan sendu sang ayah, membuat Sakura terdiam sejenak melirik arah tatapan ayahnya tersebut. Namun, ia tak mendapatkan maksud tatapan sendu sang ayah. Sepertinya, banyak hal yang tak lagi di ketahui Sakura tentang Kizashi setelah sekian lama.
"Ayah?" Tanya Sakura menatap mata Kizashi yang masih melempar tatapan kosong entah kemana. "Ada hal penting kah yang ingin Ayah sampaikan padaku? Hingga Ayah bela-belain ke sini dari jauh"
Kizashi tersentak kaget oleh pertanyaan putrinya. Ia hampir lupa, apa yang ingin ia lakukan di sini. "Ah, tidak. Ayah hanya merindukanmu saja"
Bukannya senang akan hal yang dikatakan oleh Ayahnya, Sakura malah melempar tatapan tak percaya kepada Kizashi. Membuat lelaki satu anak itu menaikkan alisnya sebelah sambil menatap mata emerald putri tunggalnya itu.
"Oh, begitu" sahut Sakura setelah sekian lama, lalu melempar jauh-jauh tatapannya tadi dari Ayahnya. "Lalu, apa cara menyelesaikan masalah yang kuhadapi ini, Ayah?"
"He?"
Kizashi terperanga lebar mendengar pertanyaan Sakura. Seakan baru pertama kali di ajukan pertanyaan oleh Sakura kepadanya. "Kata Ayah ada caranya kan? Kenapa malah diam?"
"Oh, itu" kini, Kizashi harus memutar otak untuk memperbaiki mesin ingatannya yang mulai using ditempa waktu. Ia jadi lupa, hal apa yang di maksud putrinya tersebut.
Karena terlalu lama berfikir, Kizashi tak sadar membuat putrinya itu mulai kesal dengan penyakit loading lama yang telah mendera dirinya.
"Ayah! Jawab pertanyaanku! Bagaimana caranya?!" seru Sakura memutar badannya berhadapan dengan sang Ayah. "Bagaimana caranya agar aku tetap bisa bersama dengan Sasuke-kun tanpa membuatnya tersiksa di sampingku, karena aku ini seorang black pure magician"
Untuk sejenak, Kizashi menutup kedua kelopak matanya sembari menghela nafas pendek. "Sebenarnya caranya cukup sederhana"
"Sederhana?" ucap Sakura mengulangi kata-kata sang Ayah sehingga seakan-akan suara Kizashi menggema saja.
"Yap, sangat sederhana sekali, Sakura" sahut Kizashi dengan santai mengacuhkan tatapan mata sang anak tunggalnya itu.
"Iya, caranya bagaimana, Ayah?! Jangan bertela-tela, kenapa sih ya?!" teriak Sakura mengguncang-guncang tubuh Kizashi hingga membuat isi kepala lelaki paruh baya itu serasa berputar-putar.
"Oke, baik, Sakura. Tapi, hentikan ini, ayah merasa pusing sekali" pinta Kizashi, dan akhirnya membuat Sakura tenang kembali.
"Caranya sangat mudah saja"
.
.
.
.
.
Magic University of Hokkaido
Jalan Keluarnya (?)
.
.
.
.
.
"Huuh..! Sakura kemana sih? Sudah larut malam begini malah belum pulang juga? Apa dia mengalami kendala dalam ujiannya?" gerutu Ino sembari mondar mandir di depan pintu kamar asramanya sendiri. "Atau dia itu, sedang hmm, dengan Sasuke?! Oh, tidak! Tidak! Sakura tidak semudah itu mela- , tapi kenapa dia belum pulang juga?!"
Seperti kelihatannya, Ino tampak frustasi dengan keterlambatan sahabatnya untuk kembali ke kamar. Memang sih, hari ini ada ujian tapi batas waktunya juga sudah lewat. Jika Sakura berhasil, pasti dia sudah kembali daritadi. Tapi, jika tak berhasil pun, paling tidak ia sudah mengetuk pintu sekarang bukan?
.
Tok! Tok! Tok!
.
Mendengar ketukan ketukan pintu tersebut, Ino dengan sigap membuka pintu kamar.
.
Cklek!
.
Dan yap, orang yang ia tunggu-tunggu dari tadi pun berdiri di hadapannya dengan tatapan kosong dan tak bermakna. Tanpa piker panjang, Ino pun menyeret tangan Sakura masuk ke kamar lalu mengunci pintu kamar mereka. Sedang Sakura hanya terdiam duduk di atas kasurnya.
"Sakura? Astaga! Lama sekali kau kembali, apa ujianmu lancar?" Tanya Ino mulai mengintrogasi sahabatnya sendiri.
Sakura hanya mengangguk tanpa melontarkan satu patah kata pun. Dan itu membuat Ino semakin mengkhawatirkan sahabatnya tersebut. "Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau seperti orang sedang di rasuki saja, dan kau membuatku takut"
"Tak ada yang terjadi, aku lelah, besok kita lanjutkan" sahut Sakura langsung berbaring di tempat tidurnya mengacuhkan kekhawatiran temannya itu.
Ino hanya bisa menghela nafas dengan sikap temannya yang akhir-akhir ini mulai tertutup kapada dirinya. Sepertinya banyak hal yang telah ia lewatkan selama ini tentang sahabatnya itu. Tapi, ia bisa apa sekarang? Ia tak mungkin bisa memaksa temannya ini untuk membuka mulutnya.
"Ya sudah, istirahatlah"
.
.
.
"Umh, woaah"
Dengan perlahan, Sakura membuka matanya. Bangkit dari tempat tidurnya sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Sepertinya lagi, lagi. Dia harus bersabar mengetahui bahwa dia ditinggal lagi oleh Ino, sahabatnya. Memang akhir-akhir ini, hubungan mereka tak sedekat dulu lagi. Apalagi semenjak Sakura mengetahui dia adalah seorang Black Pure Magician, ia tak ingin menceritakan hal ini pada Ino. Takut gadis berambut pirang itu jadi membenci dan menjauhinya. Namun, kenyataannya sekarang ia baru menyadai bahwa dialah yang menjauh dari sahabatnya tersebut.
Tiba-tiba Sakura menghentikan langkahnya menuju kamar mandi asrama. Menatap kedua kakinya sembari menghela nafas panjang.
"Sebenarnya apa yang kulakukan?"
Tap! Tap! Tap!
"Sakura! Sakura!"
Mendengar namanya di serukan, permata hijau itu pun mencari keberadaan pemilik suara yang memanggilnya. "Ino? Ada apa?"
Gadis berambut kucir kuda itu menghentikan larinya sebelum ia mengatur nafasnya kembali. Mata aquarel Ino tampak aneh melihat Sakura yang masih terdiam menunggu jawabannya.
"Kau kenapa? Kau tak seperti dirimu biasanya? Ada apa, forehead?" Tanya Ino mencoba memancing sahabatnya tersebut.
Namun, tampaknya tak ada yang di dapat oleh Ino. Sakuranya hanya mengalihkan pandangannya sebelum kembali menatap wajahnya.
"Tidak ada, aku hanya lelah saja setelah ujian semalam" sahutnya dengan lugas.
"Oh" Ino terlihat sedikit kecewa karena sahabatnya masih saja menutup masalahnya dari dirinya. "Eh, kau sudah lihat papan pengumuman? Sepertinya nama kita dinyatakan lulus ujian"
"Benarkah?" Tanya Sakura tak bergairah menghampiri papan pengumuman yang tak seberapa jauh dari tempat mereka berada.
Namun, saat hampir mendekati papan penguman. Sakura menghentikan langkahnya. Membuat Ino hampir pula menabrak dirinya dari belakang.
"Ada apa?" Tanya Ino kemudian menatap arah kemana sahabatnya tersebut melihat.
Ingin melangkah maju, namun kaki terasa berat untuk dilangkahkan. Serasa jantung berhenti, namun masih bisa bernafas. Meskipun dada terasa sesak sekali. Itulah yang di rasakan Sakura saat matanya bertemu dengan sepasang mata yang sangat ia kenal. Yang sejak dulu ingin ia temui, namun tak mungkin karena sesuatu hal.
"Sasuke-kun"
Itulah kata yang terlontar dari bibir mungil Sakura. Kini, perasaannya seakan bercampur aduk. Antara senang, sedih dan kesal. Senang karena rasanya rindu yang menganjal dalam hatinya telah terobati. Namun, ia sedih karena tak bisa mendekati orang yang ia sayangi itu. Takut akan melukainya karena kekuatan yang bahkan tak ingin ia miliki. Dan kesal dengan takdirnya sebagai black pure magician membuatnya semakin jauh dari lelaki berambut raven tersebut.
"Hoy, teme! Kau lulus? Sepertinya tak salah lagi" seru Naruto datang menghampiri Sasuke dari belakang.
Mata ocean itu mengamati tiap nama yang terpampang di papan pengumuman tanpa menghiraukan Sasuke yang merasa risih dengan pundaknya menjadi tempat sandaran tangan Naruto.
"Woy, dobe! Tanganmu" ucap Sasuke melepaskan tangan lelaki berambut pirang jingkrak itu dari tubuhnya.
Melihat tingkah temannya itu, Naruto hanya bisa menyengir kuda tanpa merasa bersalah. Sedangkan Sasuke hanya melempar pandangan tak suka padanya, lalu membuang mukanya. "Cih!"
Namun, berbeda dengan Sakura yang masih mematung di tempatnya. Dunianya serasa akan runtuh. Sasuke kini menatapnya dari kejauhan. Ingin menyapa namun masih merasa takut. Pada akhirnya, Sakura memutuskan berbalik arah dan menjauhi lelaki itu.
"Sakura!" seru Sasuke memanggil patnernya itu, namun dihiraukan oleh gadis berambut merah muda itu. "Argh! Ada apa dengannya? Selalu menjauhiku"
"Entahlah, mungkin sedang datang bulan" jawab Naruto dengan entengnya.
Bletak!
"Woy, sakit teme!" keluh putra tunggal Namikaze Minato itu setelah dihadiahi sebuah pukulan di kepala kuningnya itu.
Mungkin sedang kesal juga, Sasuke malah mengacuhkan ucapan temannya itu. Lalu, meninggalkannya sendirian begitu juga.
.
.
.
"Astaga, Sakura! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau malah menghindarinya lagi? Hadapi saja dia, dan berterus teranglah!" seru inernya dalam bathinnya yang mulai tersiksa dengan keadaan yang ia hadapi.
"Tidak semudah itu, banyak hal yang harus kupikirkan tentang itu dan lagi ayah juga memberiku dua pilihan" sahut Sakura seakan menjawab pertanyaan dari orang lain di dekatnya.
Namun, kenyataannya tak seorang pun di dekatnya. Ino? Ia hanya terdiam –cengo melihat tingkah aneh sahabatnya membeku begitu lama, lalu berlalu pergi tanpa kata. Mengejar juga sia-sia, tak ada yang akan Sakura jelaskan padanya, bukan?
.
.
.
"Ayah! Jawab pertanyaanku! Bagaimana caranya?!" seru Sakura memutar badannya berhadapan dengan sang Ayah. "Bagaimana caranya agar aku tetap bisa bersama dengan Sasuke-kun tanpa membuatnya tersiksa di sampingku, karena aku ini seorang black pure magician"
Untuk sejenak, Kizashi menutup kedua kelopak matanya sembari menghela nafas pendek. "Sebenarnya caranya cukup sederhana"
"Sederhana?" ucap Sakura mengulangi kata-kata sang Ayah sehingga seakan-akan suara Kizashi menggema saja.
"Yap, sangat sederhana sekali, Sakura" sahut Kizashi dengan santai mengacuhkan tatapan mata sang anak tunggalnya itu.
"Iya, caranya bagaimana, Ayah?! Jangan bertela-tela, kenapa sih ya?!" teriak Sakura mengguncang-guncang tubuh Kizashi hingga membuat isi kepala lelaki paruh baya itu serasa berputar-putar.
"Oke, baik, Sakura. Tapi, hentikan ini, ayah merasa pusing sekali" pinta Kizashi, dan akhirnya membuat Sakura tenang kembali.
"Caranya sangat mudah saja" Kizashi menatapnya dengan serius dan berhati-hati dalam perkataannya agar putrinya tersebut tak salah paham.
Di malam yang sunyi, rembulan pun bersinar dangan terangnya di langit yang gelap. Menambah kesunyian di sekitar mereka yang mulai membisu sejenak.
"Kalian, kau, Sakura Haruno" lelaki paruh baya itu kembali member jeda dalam perkataannya. "Dan Sasuke Uchiha, harus menikah"
Satu detik. Sakura berhenti bernafas. Dua detik, Sakura berhenti berkedip.
"APA?! MENIKAH?! Yang benar saja? Sedangkan mendekatinya saja, aku sudah melukainya. Apalagi dengan ca-"
Sakura tiba-tiba menghentikan perkataannya saat sang Ayah member isyarat untuk diam sejenak.
"Tenang saja, ini cara paling aman untuk kalian dan semua orang. Dengan kalian mengikatkan hubungan dalam pernikahan, maka kekuatanmu akan lebih mudah untuk dikendalikan. Bahkan oleh Sasuke sendiri" jelas Kizashi dengan tenang.
"Tapi, ayah. Ayah tau kan, Itachi-sensei tak akan menyetujui ini. Apalagi Sasuke. Apa tak ada jalan lain?"
Kizashi tiba-tiba teringat sesuatu saat mendengar pertanyaan sang putri tunggalnya itu. "Ada satu!" seru Kizashi hingga mengejutkan Sakura dalam kebimbangannya.
"Apa itu, Ayah?" Tanya Sakura dengan antusias.
"Kau harus membunuh dua ekor iblis yang sudah hampir menguasai induknya atau manusia yang ia parasitkan"
.
.
.
"Itu artinya aku harus membunuh Sasuke-kun dan Naruto" kata Sakura dengan lirih.
Cara apakah yang akan di pilih oleh Sakura untuk masa depannya? Menikahi Sasuke langsung tanpa meminta saran dari lelaki itu. Atau menumpahkan darah seekor iblis Namikaze Naruto? Tunggu kelanjutannya. DENGAN SABAR YA! XD
Dan doakan author tak lupa untuk nge-update fic ini ya? *ketawa* *ditabok* #plak! Bye! Bye! *ditendeng*
Review please. :)
