.

.

Tok! Tok! Tok!

.

.

Mendengar ketukan pintu itu, Minato bangkit dari singgahsananya –tempat ia bergulat dengan banyak kertas tugasnya sebagai rektor. Lelaki paruh baya dengan wajah awet muda itu berjalan mendekati pintu. Namun, ia terhenti tepat di samping meja kerjanya.

"Ya, silahkan masuk" dan pintu besar itu pun terbuka dengan perlahan dan tampaklah seorang gadis berambut merah muda di sana. "Oh, Sakura. Ada apa?"

Sakura tak menyahuti ucapan sang rektor, ia masih tertunduk dan berjalan menghampiri Minato. Saat telah dekat dengan Minato, akhirnya Sakura mengangkat kepalanya dan mulai menatap Minato. Ada sesuatu yang sangat janggal dengan Sakura, pikir Minato. Entah apa, tapi ia mencoba menepis pikiran itu. Namun, matanya terbelalak saat tak sengaja menatap langsung iris milik putri tunggal dari keluarga Haruno itu.

"Astaga, ada apa dengannya? Aura sungguh sangat berbeda, gawat!"

Merasakan perasaan janggal itu, Minato mengambil langkah panjang menjauhi Sakura. Jangankan dari auranya, dari tatapan matanya sudah sangat terlihat. Mata Sakura tak lagi soft green seperti biasanya yang sangat indah, namun sekarang matanya berubah menjadi hitam legam dan hampir menutupi warna putih bola matanya.

"Berikan aku nyawa anakmu! Minato!"

.

.

.

.

.

Magic University of Hokkaido

Final Chap : Pilihan Sakura

.

.

.

.

.

Sebentar lagi musim panas, namun aura panas matahari sudah cukup terasa di sekitar Sakura. Mungkin ini karena jarak sekolahnya ini berada di langit. Jadi, lebih cepat merasakan panas. Lihat saja, Sakura yang baru saja mandi bersih dengan air hangat tadi pagi. Sudah bermandikan keringat, antara gerah dan frustasi rasanya. Itulah yang difikirkan Sakura. Ia frustasi memikirkan hal apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Membunuh Iblis di dalam tubuh Sasuke atau meminangnya?

"Oh My God, Sakura! Kau cewek. Kenapa kamu yang melamar lebih dahulu? Tidak! Tidak! Kau harus berfikir jernih, Sakura. Kau bisa saja di bunuh Itachi-sensei jika melakukan itu. Oh ayolah, aku tak mungkin bisa melepaskan iblis itu dari tubuhnya. Sedangkan mengendalikan kekuatan ini saja cukup sulit"

Sakura mulai mengacak-acak rambutnya dan meloncat-loncat tak tentu arah lalu mondar-mandir kesana kemari. Sudah seperti orang gila yang tak tau ingin kemana. Bagaimana pun, kedua pilihan yang diberikan oleh Ayahnya itu sama sekali tak akan di setujui oleh Itachi. Itu pasti! Dan itu menurut Sakura. Padahalkan ia belum menanyakan hal tersebut pada dosennya itu.

Tuk!

"Sa-sakit! Apa sih? Ganggu-ganggu aja" gerutu Sakura tanpa melihat siapa yang memukul kepalanya luamayan keras.

"Kau, mau sampai kapan di sini? Sebentar lagi jadwalku mengajar di kelasmu, apa kau mau bolos, hah?" ucap Itachi sambil mempelototi Sakura yang sudah keringat dingin melihat ekspresi calon kakak iparnya itu.

"Ma-maafkan aku, sensei. aku tak berniat untuk bolos!" seru Sakura yang ternyata sudah lebih dahulu memulai start melarikan diri dari dosennya tersebut.

"Cih! Dasar anak itu, untung saja tak ada yang melihat tingkah anehnya tadi" keluh Itachi geleng-gelang kepala, lalu melanjutkan langkahnya menuju kelas tempat jadwalnya mengajar.

.

.

.

"Wuoh! Panasnya" seru Choji mengeluh panjang. Namun, mulutnya masih saja penuh dengan makanan.

"Merepotkan saja, nih pakai kipas" kata Shikamaru memberi sebuah kipas besar kepada Choji.

Melihat kipas pemberian Shikamaru, Choji terlihat senang dan melempar sampah bungkus makanan ringannya ke sembarang tempat. "Terimakasih, Shikamaru. Akhirnya aku tak kepanasan lagi, wuh!"

Sepertinya Choji tak sadar, ada sebuah aura pembunuh berada di belakangnya. Sedangkan Shikamaru yang sudah terlelap dalam tidurnya, jadi tak merasakan hal semacam itu yang menurutnya merepotkan.

"Choji!" mendengar namanya di panggil, lelaki berbadan gempal itu pun menghentikan prosesi pengipasan dirinya. Dan melirik ke belakang, arah sumber suara itu berasal. "Kembalikan kipasku!"

Plak!

Eits, jangan kalian pikir bahwa Choji di tampar dengan tangan oleh Temari –sang pemilik kipas, melainkan di gampar pakai kipas besar miliknya. Bayangkan saja sekarang, bahwa Choji dengan sekejap mata menghilang dari bangku miliknya.

"Temari, kau keterlaluan. Jangan terlalu kasar pada juniormu" kata Shikamaru yang ternyata tak tidur hanya uring-uringan di bangku kosong di belakang bangku Choji yang telah menghilang.

Gadis berkucir itu tak bisa membantah ucapan patnernya ini, ia hanya bisa menggerutu dalam hati.

"Hm, loh? Shikamaru-senpai, Temari-senpai? Kenapa di sini? Kenapa tak ada seorang pun mahasiswa seangkatanku di sini?" Tanya Sakura yang masuk kelas.

"Ah, kau pasti di kerjai Itachi-sensei. Hari ini tak jadwal belajar di sini" sahut Temari melipat kipas besar miliknya.

"Ma-maksudnya?" Tanya Sakura lagi masih belum mengerti dengan ucapan senpainya itu.

"Hari ini, semua mahasiswa yang tak lulus di ujiankan kembali. Jadi, tak ada jam belajar selama ujian ulang tersebut" kata Shikamaru menjelaskan dengan detail.

"Oh, begitu" kata Sakura lalu memutar badannya berbalik keluar kelas.

"Memang kau lulus ujian?" Tanya Temari membuat Sakura terhenti sejanak. Untuk berfikir. Apakah dia sudah lulus atau tidak.

"Astaga! Aku belum melihat papan pengumuman!" seru Sakura mulai memakai jurus kaki seribunya.

Ia baru ingat, jika kemarin ia tak melihat papan pengumuman karena ingin menghindari Sasuke. Semoga saja, ia lulus. Sakura sedang malas mengulang ujian yang melelahkan kemarin.

Sesampai di papan pengumuman, Sakura langsung melihat namanya di sana. Apakah ia lulus atau tidak? Dan pada akhirnya, gadis itu menghela nafas lega. Mengetahui dirinya ternyata sudah lulus. Namun, entah mengapa ada yang terasa janggal di dalam pikirannya sekarang.

"Apa aku tanyakan saja langsung pada Minato-sensei kali ya?"

.

.

.


.

.

Tok! Tok! Tok!

.

.

Mendengar ketukan pintu itu, Minato bangkit dari singgahsananya –tempat ia bergulat dengan banyak kertas tugasnya sebagai rektor. Lelaki paruh baya dengan wajah awet muda itu berjalan mendekati pintu. Namun, ia terhenti tepat di samping meja kerjanya.

"Ya, silahkan masuk" dan pintu besar itu pun terbuka dengan perlahan dan tampaklah seorang gadis berambut merah muda di sana. "Oh, Sakura. Ada apa?"

Sakura tak menyahuti ucapan sang rektor, ia masih tertunduk dan berjalan menghampiri Minato. Saat telah dekat dengan Minato, akhirnya Sakura mengangkat kepalanya dan mulai menatap Minato. Ada sesuatu yang sangat janggal dengan Sakura, pikir Minato. Entah apa, tapi ia mencoba menepis pikiran itu. Namun, matanya terbelalak saat tak sengaja menatap langsung iris milik putri tunggal dari keluarga Haruno itu.

"Astaga, ada apa dengannya? Aura sungguh sangat berbeda, gawat!"

Merasakan perasaan janggal itu, Minato mengambil langkah panjang menjauhi Sakura. Jangankan dari auranya, dari tatapan matanya sudah sangat terlihat. Mata Sakura tak lagi soft green seperti bisanya yang sangat indah, namun sekarang matanya berubah menjadi hitam legam dan hampir menutupi warna putih bola matanya.

"Berikan aku nyawa anakmu! Minato!"

.

.

.

"Minato-sensei"

"Hm?"

.

.

"Miiiiiinaaaaaatoooo-sensei! Kebakaran!" seru Sakura berteriak di telinga lelaki berambut pirang itu.

Membuat Minato terperanjat, dan terbangun dari mimpinya di siang bolong.

"Astaga, Sakura! Kenapa kau membangunkanku seperti ini?" gerutu Minato memegangi kepalanya yang terasa pusing.

"Habis, sensei di panggilin baik-baik gak bangun-bangun. Ya terpaksa pakai cara beginian" sahut Sakura memperlihatkan ember yang berisi air dan sebuah toa di tangannya.

"Apa itu akan kau gunakan jika aku tak bangun?" Tanya Minato menelan ludahnya.

"Yaaa, terpaksa begitu sensei. Habis, sensei susah sekali dibangunkan" gerutu Sakura meletakkan barang-barang di tangannya.

"Untung saja, itu hanya mimpi" ucap Minato dengan lirih.

"Apanya sensei? sensei bilang apa tadi?" Tanya Sakura mengorek telinganya.

"Ah, bukan apa-apa. Oh ya, kau mau apa menemuiku Sakura?" Tanya Minato sembari memperbaiki penampilannya agar tampak lebih berwibawa.

"Oh, uhm, ano, sensei. Boleh aku tau, di kampus ini, uhm" sembari menunggu selesainya kalimat pertanyaan muridnya itu, Minato dengan santai meneguk secangkir teh di atas mejanya. "Berapa orang yang memiliki iblis dalam tubuhnya?"

Spruuut!

Wah, ada air pancuran.

"Sensei? Apa kau baik-baik saja?" kata Sakura mulai panik dengan sikap rektornya yang tiba-tiba menyemburkan kembali teh yang baru ia teguk.

"Ka-kau tanya apa barusan, Sakura? Murid yang memiliki iblis dalam tubuhnya?" Tanya Minato kembali, mencoba meyakinkan pendengarannya yang baik-baik saja.

"I-iya, sensei" sahut Sakura dengan tergagap.

"Buat apa kau mempertanyakan hal itu?" Tanya Minato lagi sambil melempar tatapan sinis. Dan itu membuat Sakura semakin keringat dingin.

"Ehm, ano, sensei kan aku ini black pure magician. Aku hanya ingin tau saja, agar jika aku bertemu dengan mereka, aku akan jaga jarak dan berusaha tak membahayakan mereka dengan kekuatanku yang masih labil" sahut Sakura mencoba menutupi kebenaran yang sebenarnya.

"Oh begitu, baiklah. Ambil buku tipis bersampul biru tua di rak buku itu" tunjuk Minato dan langsung Sakura mencari buku yang di maksud oleh rektor itu. "Bukan, di rak nomor empat. Tepat di atas kepalamu"

"Oh, yang ini?" Tanya Sakura mengambil buku tipi situ. Dan lelaki paruh baya itu pun mengangguk yakin.

"Di sana, terdapat nama-nama penghuni kampus ini yang memiliki iblis yang bersemayam di dalam tubuhnya. Buku itu akan sangat berguna untukmu" ucap Minato kembali meneguk tehnya.

"Uhm, arigato sensei. Aku pinjam ya, sensei. Bye!" kata Sakura menghilang di balik pintu besar yang menutupi ruang kerja Minato.

Setelah ditinggal sendirian oleh gadis bersurai merah muda itu, Minato yang masih menikmati teh hijau miliknya. Tiba-tiba terdiam sejenak, menerawang keluar jendela. Dan menghela nafas panjang.

"Sebenarnya, apa yang dia rencanakan?"

.

.

.

"Hm, hm, na, na, la, la, la~" suara senandung Sakura mengisi tiap sudut gedung sekolah yang sudah mulai sepi, karena para mahasiswa berangsur pulang ke kampong halaman mereka.

Sepertiny Sakura senang sekali mendapat daftar nama-nama orang yang memiliki iblis dalam tubuhnya. Entah apa rencana Sakura, author pun tak tau. Tapi, setidaknya wajahnya tak lagi terlihat frustasi seperti biasanya.

"Sakura!" panggilan itu seperti menggema di telinga Sakura. Sehingga membuatnya menghentikan langkahnya dan menatap ke depan. "Sasuke-kun?!"

Karena tak ada cara lain, akhirnya Sakura menggunakan jurus kaki seribunya lagi. Namun, sepertinya tak mempan lagi. Lihat saja, Sasuke akhirnya bisa menangkap tangan Sakura dan membuat Sakura menghentikan langkah kaki seribunya yang menjadi jurus andalan Sakura jika bertemu Sasuke.

"Kenapa kau menghindariku Sakura? Kenapa? Apa kau membenciku? Katakan sesuatu, jangan diam saja!" seru Sasuke kepada Sakura di hadapannya.

"Bagaimana aku mau menjawab, kalau kau mengoceh saja dari tadi. Aku mau ngomong, kau marah-marah terus. Terus saja potong omonganku, jadi tampaknya aku yang salah di depan mereka" seru Sakura menunjuk pada reader dan Author.

"Maaf" Sasuke melepas genggaman tangannya dari tangan Sakura. "Aku hanya kesal, melihatmu selalu menghindar dariku, ugh!"

Melihat Sasuke kesakitan seperti itu di hadapannya, Sakura pun mengambil langkah menjauhi Sasuke. "Aku menghindarimu, demi kebaikanmu juga Sasuke. Aku tak ingin kau kesakitan seperti ini, atau lebih dari ini sekali pun"

Sakura menyeka matanya, agar tak mengeluarkan air mata dan membuat Sasuke semakin mengkhawatirkannya. "Kau kesakitan seperti ini, karena aku. Aku penyebabnya, itu sebabnya aku menghindari darimu. Agar kau baik-baik saja, aku perlu waktu agar kekuatanku sebagai black pure magican stabil dan tak melukaimu seperti ini lagi"

"Tapi, aku lebih tersiksa jika kau menghindariku seperti ini Sakura" kata Sasuke mencoba menepis rasa sakit di dalam tubuhnya. Dan kata-kata Sasuke itu, membuat Sakura terdiam tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Sasuke.

"Kau dengan mudah mendekati yang lain, Shikamaru, Sai, bahkan kakakku sendiri, Itachi-nii. Aku sangat iri pada mereka yang bisa dekat denganmu, tanpa kau hindari seperti apa yang kau lakukan padaku. Aku tak tau alasanmu, jangankan untuk bertanya hal itu padamu. Bertatapan muka saja, kau langsung memalingkan muka dan pergi begitu saja"

Sakura merasa bersalah, karena selama ini mengindari Sasuke tanpa sempat menjelaskan apa yang terjadi. Sakura baru tau bagaimana perasaan Sasuke selama ini, setelah mendengar ucapan Sasuke tadi. Sakura baru sadar, bahwa sikapnya yang menghindari lelaki berambut raven itu membuatnya begitu tersiksa. Tapi, bagaimana pun juga, Sakura sadar sebagai black pure magician, ia tak bisa mendekati Sasuke untuk sementara waktu.

"Jadi, tolong jangan meng- ugh!"

"Maaf, Sasuke! Aku tak bisa, aku sungguh tak bisa melihatmu kesakitan seperti ini. Maafkan aku!" ucap Sakura berlari meninggalkan Sasuke sendirian dengan rasa sakit yang masih terasa dari dalam tubuhnya.

Dan Sasuke kini mengerti, maksud dari ucapan Sakura. Setelah Sakura pergi, rasa sakit yang melanda tubuhnya barusan dengan sekejap menghilang. Bahkan ia sudah bisa menggunakan sihirnya seperti biasa.

"Argh! Kenapa kami di takdirkan seperti ini, sial!" gerutu Sasuke memukul pohon di dekatnya dan meninggalkan bercak darah di batang pohon tersebut.

.

.

.

"Memang tak ada cara untuk kita, agar tak saling menghindari seperti ini?" Tanya Sasuke dari kejauhan.

Mungkin jarak mereka terbilang agak janggal untuk dikatakan wajar. Pasalnya mereka berdiri di jarak 50 meter antara satu dengan yang lain. Jika berbicara dengan nada bicara biasa, mungkin mereka tak akan mendengar apa yang dikatakan oleh lawan bicara. Kecuali kalau mereka teriak. Masalahnya mereka tak teriak, hanya bicara seperti biasa. Mungkin saja, telinga mereka tajam untuk mendengar pembicaraan jarak jauh seperti saat ini.

Dan tampaknya, Sasuke sama sekali tak gentar untuk mendekati Sakura. Meskipun harus menjaga jarak aman seperti ini. Namanya juga cinta, ya harus rela melakukan hal-hal yang terkadang konyol seperti ini. #Eh? Memang Sasuke cinta Sakura?# Entah, iya mungkin? Iyain aja deh, biar cepat. XD #plak! *ditendang*

"Ada sih" jawab Sakura dengan ragu-ragu.

Mendengar jawaban Sakura, Sasuke semakin melangkah mendekati gadis musim semi itu. Menyingkirkan rasa sakit yang mendera dirinya yang semakin menjadi jika ia semakin dekat dengan Sakura.

"Apa itu? Katakan Sakura" seru Sasuke semakin bersemangat mendekati Sakura.

"Tapi, aku tak yakin. Cara ini pasti akan di tentang oleh Itachi-sensei"

Sasuke berusaha meyakinkan Sakura dengan memegang lengan gadis itu dengan erat, seperti memberikan dorongan semangat.

"Tapi, apa kau mau menikah denganku?" kata Sakura dan membuat Sasuke mematung tak memperdulikan ucapan Sakura selanjutnya. "Kata Ayahku, cara satu-satunya ya dengan menikah. Tapi, aku tak yakin. Makanya.."

.

.

"Ma-maksudmu, kau sekarang sedang melamarku?" Tanya Sasuke tercengang mendengar ucapan gadis di hadapannya sekarang.

"A?! Bu-bukan, bukan begitu. Kenapa kau malah jadi salah paham sih?" keluh Sakura menepuk jidatnya yang lebar. "Astaga, astaga! Kenapa jadi begini sih?"

Sakura mulai mondar-mandir seperti setrikaan di depan Sasuke, mencoba mencari solusi bagaimana cara menjelaskan hal ini pada Sasuke. "Hadeh! Gimana caranya menjelaskannya ke dia sih? Astaga!"

Gyut!

"Hm?! Sa-sasuke-kun?"

Tiba-tiba saja, Sakura sudah berada dalam pelukan lelaki berambut raven itu. Gadis berjidat lebar itu, terlihat cengo menyadari hal itu. Mengedip-kedipkan matanya. Mulut ternga-nga. Untungnya gak berbuih. Hanya saja, wajahnya sudah memerah.

"Tak mengapa kalau kau tak melamarku, tapi esok aku yang akan melamarmu" ucap Sasuke sembari mendekap tubuh Sakura lebih erat dan menyatukan kening mereka. Sehingga, mereka bisa saling merasakan hembusan nafas mereka masing-masing.

"Sa-"

Sepertinya hasrat dalam diri Sasuke sudah tak bisa menahan diri untuk merasakan manisnya bibir mungil si gadis bersurai merah muda itu. Tanpa pikir panjang, lelaki itu memperkecil jarak bibir mereka satu sama lain.

Sret!

"Badanmu dingin sekali" gerutu Sakura menyentuh pipi Sasuke dengan kedua tangannya.

Dengan paksa, Sakura menyeret Sasuke menuju ruang kesehatan kampus. Layaknya perawat, Sakura menyiapkan selimut dan obat-obat yang di perlukan oleh Sasuke.

"Kau berlebihan" keluh Sasuke yang tetap menurut dengan Sakura untuk berbaring di dalam selimut tebal alias di lapis-lapis sampai tiga lapis selimut.

"Salah sendiri, sudah tau tak kuat berada di dekatku. Sok-sokan memeluk. Keringat dinginkan sekarang?!" gerutu Sakura sambil mondar-mandir mencari obat-obatan.

"Hah, ha" bibir putra bungsu keluarga Uchiha itu menyunggingkan senyumannya sedikit. "Baru pertama kali, ada orang yang perduli denganku namun dengan keadaan kesal sepertimu"

Mendengar perkataan Sasuke, Sakura menghentikan langkahnya sebentar dan melirik lelaki itu yang masih terbaring di atas kasur. Namun, ia langsung kembali melanjutkan kegiatannya.

"Memang Itachi-nii tak peduli dengan keadaanmu? Dari yang kulihat, ia sangat peduli denganmu" komentar Sakura tanpa berniat menatap raut wajah yang di buat oleh Sasuke.

"Cih! Dia itu hanya mencoba melindungi, tak peduli dengan bagaimana keadaanku yang sebenarnya" geram Sasuke memutar bola matanya.

"Oh, curhat ya?" ucap Sakura menyunggingkan senyuman sinisnya sambil meletakkan obat-obatan di meja dekat ranjang yang di tempati Sasuke.

"Kau ini"

Gusrak!

"Kya!"

Tiba-tiba, Sakura di tarik masuk dalam selimut tebal yang di gunakan Sasuke.

"Sa-sasuke, kya! Geli, ampun! Ampun! Aku minta maaaf, aih! Geli Sasuke-kun! Hentikan!" teriak Sakura minta ampun karena geli di gelitik oleh Sasuke.

Bukannya menghentikan gelitikkannya, Sasuke malah semakin menjadi mengerjai gadis yang berada dalam dekapannya tersebut.

"Ck! Ck! Ck!"

"Siapa itu?" pikir Sasuke dan Sakura secara bersamaan.

Sret!

Tanpa sadar, tubuh Sakura sudah di tarik keluar dari dekapan Sasuke. Sedangkan Sasuke berdecih kesal melihat siapa yang menggangu ritual yang ia lakukan bersama Sakura.

"Itachi-nii! Kenapa kau mengganggu kegiatan kami?"

"Kegiatan kami?" pikir Itachi dan Sakura mencerna ucapan Sasuke yang entah bermakna apa.

"Astaga, otouto! Kalian tak boleh melakukan ini, kalian masih sekolah, masih kecil. Jika kalian sudah menikah, silahkan saja!" gerutu Itachi tersulut emosi melihat kemesraan adik tunggalnya bersama gadis lain.

Mendengar hal itu, Sakura dan Sasuke pun saling bertatapan mata. Seperti sedang berdiskusi dengan bahasa mata saja. Tanpa kata, dan gerakan tangan.

"Sepertinya kita dapat lampu hijau dari Itachi-nii" pikir mereka sebelum melepaskan kikikan kebahagian.

"Hey! Kenapa kalian malah tertawa sih?" Tanya Itachi yang kebingungan dengan tawa mereka berdua.

"Hey! Jawab! Jangan tertawa saja!"

.

.

.

The End

.

.

.


Yeay! Hore, *nari~nari Gaje* Yuhuu! Final Chap update juga XD oh ya, bagaimana minna? Akhir yang gaje ya? Kelihatan kemampuan membuat ficku makin jelek saja, sama sekali tak berkembang ya? Apalagi aku sempat vakum beberapa bulan #lebay! Uhm, kalo ada yang salah tolong koreksi ya? habis aku gak sempat koreksi sendiri #dasarpemalas!

Oh ya, jangan lupa review ya minna? Beri aku saran dan kritikan, soalnya aku mau buat satu Eps sequel buat fic gaje ku ini, yaa mungkin selesainya juga akan lama, soalnya aku ada kerjaan yang harus aku kejar, fiuh! *ngelap jidat* #Sok Sibuk, woy!

Kalau kalian setuju, angkat jari dan salurin pendapat kalian di kotak di bawah ini, dong! Di tunggu ya, yah? Yah? Yaaaaah? *maksa BUANGET*

Last Word,

Bye and Review please. *direbusSasuSakuLover*