"Sasuke"
Dibalut kemeja hitam yang rapi, menambah ketampanan lelaki berambut pantat ayam tersebut. Ia tengah asik merapikan dasinya sedari tadi sambil bertatapan dengan pantulan dirinya.
"Hn"
Sedangkan lelaki berambut pirang disana. Yang tengah duduk santai membaca majalah dan menikmati secangkir kopi hangat. Daritadi ia mencoba bersikap santai, namun selalu terusik melihat kerjaan Sasuke –lelaki yang masih asik memandangi ketampanannya itu di cermin.
"Mau sampai kapan kau menatap cermin begitu?" kata lelaki berkumis kucing itu meletakkan majalah di atas meja. Berjalan menghampiri Sasuke yang menghiraukan pertanyaan temannya ini.
Gyut!
"Sasuke-kun~" iris onyx itu membulat sempurna saat menatap pantulan bayangannya tengah dalam pelukan temannya dari belakang. "Kenapa kau mengacuhkanku?"
Staaak!
"Hentikan, Naruto!" seru Sasuke mendorong Naruto –lelaki berambut jabrik yang telah terjatuh dengan indahnya ke lantai. Sambil tertawa, Naruto kembali berdiri dan membersihkan pakaiannya dari debu.
"Kau juga aneh, kita ini mau wisuda. Bukan melaksanakan pernikahanmu dengan Sakura"
Benar! Sebentar lagi mereka akan di wisuda. Dan mendapat gelar khusus agar dapat bergaul dengan manusia biasa. Setelah ini, mereka juga tidak bisa seenaknya memperlihatkan jati diri mereka.
"Ah, oke. Oke! Aku tau, baiklah. Tapi, jika kau yang merusaknya sendiri, jangan salahkan aku" kata Naruto melambai pergi meninggalkan Sasuke sendirian.
"Cih! Tanpa kau bilang pun, aku juga tau"
.
.
.
.
.
Magic University of Hokkaido
EPILOGUE
.
.
.
.
.
"Ne, Sakura-san. Apa aku tak boleh ikut denganmu?" suara imut-imut menggemaskan ini berasal dari boneka kelinci terbang yang menghampiri seseorang yang tengah menjadi pusat perhatian orang-orang.
"Uhm, tidak bisa Agi-chan" sahut gadis berambut cherry blossom itu sambil memeluk sebuah boneka kelinci di depannya. "Kalau ikut, nanti kau hanya akan digigit-gigit, dipukul-pukul oleh anak manusia"
Mendengar jawaban majikannya itu, raut wajah Usagi tiba-tiba saja berubah pucat. "Hiiii! Kenapa anak manusia sangat menyeramkan? Tidaaaak!"
Sakura –nama gadis musim semi itu hanya bisa tertawa geli mendapati ekpresi berlebihan dari boneka sihir kesayangannya tersebut. "Sudahlah, sesekali kau juga boleh main-main ke rumahku"
"Bolehkah?"
"Tentu saja" sahut Sakura menebarkan aura positifnya. Sepertinya Sakura sangat bersemangat dan terlihat bahagia hari ini. Lihat saja, senyuman manis di wajahnya itu tak pernah lepas dari wajahnya. Dimana ia melangkah, setiap apa yang ia tuturkan, tiap otang yang menyapanya selalu mendapatkan senyuman hangat darinya.
"Um, Agi-chan. Aku mau ke toilet sebentar. Kau tunggu disini ya"
Sakura berjalan melewati kerumunan orang yang sesekali menetapnya. Ada yang beberapa menyapa. Namun, hanya senyuman yang ia lempar kepada mereka.
Cklek!
"Ah, sial!"
Gadis musim semi itu berjalan mendekati cermin yang terpasang apik di sudut toilet. Sebuah tas kecil nan sederhana yang ia bawa-bawa sedaritadi sengaja diletakkan begitu saja di tepi cermin.
Wuuss~
"Sakura, kemana sih? Kukira menyamar sebagai dirinya mudah." Suara gadis ini berubah seiring perubahan bentuk tubuh, wajah, dan rambutnya. Ia berdecak kesal menatap pantulan dirinya. "Sejak kapan dia jadi sangat terkenal begini? Aku jadi lelah menghadapi para fan-nya itu"
Cklek!
"Disini kau rupanya, Ino. Kucari-cari"
Ino bergelidik tajam, menatap keaslian emerald yang baru saja menyelinap masuk dari pintu. Sedangkan pemilik manik indah itu hanya menyeringai ria. Mengacuhkan pandangan menusuk itu.
"Apa rencanamu, hah?" bentak Ino diacuhkan dengan entengnya oleh gadis merah muda itu.
"Mencoba pulang lebih awal" sahutnya dengan santai meletakan beberapa benda yang ia keluarkan dari tas mungil di genggamannya.
"Apa kau ingin terjun dari universitas ke bumi, Sakura?"
Sakura –gadis musim semi yang sebenarnya juga sudah tau, tentang prinsip kerja universitas ini. Semakin hari, maka semakin tinggi pula universitas ini melayang di udara. Dan semakin jauh pula dari tanah hijau tempat kelahirannya. Keberadaan universitas sekarang, hampir berada di luar atmosfer bumi. Namun, mereka masih bisa menghirup udara segar layaknya di bumi. Ini juga berkat sistem kerja yang di rancang Minato sebagai rektor.
"Rencananya" gadis itu masih mengacuhkan tatapan mata aquarel milik Ino. Ia lebih memilih menyapu pipinya dengan perona yang ia miliki. "Aku bosan disini"
Dan kini gadis itu sudah tampak cantik dan berbalik menatap Ino yang masih terheran menatap tingkah sahabatnya tersebut. Sakura –sahabatnya itu tak pernah bersikap acuh dan mengeluh bosan seperti sekarang. Ada banyak hal yang akhir-akhir ini tak di ketahui Ino tentang putri tunggal dari keluarga Haruno itu.
Salah satunya boneka sihir milik Sakura itu. Hampir saja, Ino mati berdiri saat pertama kali melihat sebuah boneka terbang melayang bahkan berbicara kepadanya.
"Lalu, Sasuke?"
Sakura membusungkan dadanya dan mulai merapikan gaun indahnya di pantulan bayangan dirinya. Seperti mengacuhkan pertanyaan yang baru bergulir dari mulut Ino.
"Apa kau bertengkar dengannya, Sakura?"
Detik itu, Sakura terhenti sejenak. Dan memutar bola matanya dengan malas.
"Sudahlah, aku muak dengan nama itu!" kini Sakura beralih merapikan rambutnya dengan style poni samping ke kiri. "Nama seperti itu, terkutuk bagiku"
Seperti tersambar petir, di terpa badai, terbawa arus ombak, Ino termanga mendengar perkataan sahabatnya barusan. Kini, Sakura seperti orang yang sangat berbeda, pandangan matanya dan auranya. Seperti orang yang penuh dengan rasa kebencian. Padahal seminggu lalu, Sakura dan Sasuke tampak baik-baik saja. Lalu, sekarang kenapa?
"Kau habis salah minum obat ya? Otakmu seperti di cuci saja"
Sakura memutar badannya dan berjalan mendekati pintu. Ia mengacuhkan semua pikiran Ino. Ia seakan tak peduli dengan apa yang dikatakan Ino padanya. Untuk terakhir kalinya, mata indah itu hanya melempar tatapan sadisnya.
"Aku sangat membenci iblis itu"
Blam!
Ino yang masih tak percaya, terheran-heran dengan keadaan sekarang, mematung menatap badan semampai milik gadis itu menghilang di balik pintu berbahan kayu jati berusia puluhan tahun.
"Dia itu siapa?"
.
.
.
Sesekali matanya menatap beberapa gadis yang sedaritadi mengagumi ketampanannya. Bahkan wine yang sengaja ia pesan itu, terlihat lelah. Hanya di aduk-aduk tak terarah oleh lelaki berbadan tegap itu.
Tap!
Mata bak lautan tinta hitam di tengah kolam susu itu, bergelidik menatap kehadiran seseorang yang tak ia harapkan saat ini.
"Kenapa tak kau sapa gadis-gadis di sana, Otouto?" ujar lelaki yang tak diharapkan itu sembari melambai arah para gadis yang menatap gerak-gerik mereka sadari tadi.
Dan itu adalah saran yang buruk. Saran yang tak pernah ingin di dengar oleh Sasuke dari mulut siapapun. Walau itu harus keluar dari mulut kakaknya sendiri.
"Jika kau tak ingin membusuk di tanganku, sebaiknya kau urus kekasihmu, Aniki" sahut Sasuke dengan ketus. Tentu saja, matanya begitu tajam hingga mengusir saudara kandungnya itu dengan pucat.
Kembali seperti tadi, menatap setiap gadis yang masuk dari pintu depan. Menantikan sebuah kehadiran seseorang yang mengalihkan hidupnya.
Cklek!
Pandangannya berkejar-kejaran, menatap seseorang yang baru saja memasuki gedung. "Bukan juga" lelaki itu menyandarkan tubuhnya di dinding dan menghela nafasnya. Menatap langit-langit gedung yang terang benderang. Namun, terlihat kelabu di matanya.
Seorang gadis cantik bersurai merah muda. Memiliki iris emerald indah dan jidat yang mempesona. Dialah orang yang sedari tadi di tunggu oleh Sasuke. Namun, sudah beberapa jam yang lalu ia menunggu. Tak ada tanda-tanda kehadiran gadis itu. Apa dia tak datang ke pesta ini?
Sia-sia saja rasanya bagi Sasuke, ia rela berpenampilan seperti ini jika orang yang ia harapkan tak muncul jua. Ia tak akan sudi pergi ke pesta semacam ini, pesta perpisahan mahasiswa Universitas Sihir Hokkaido. Seharusnya ia tak memakan mentah-mentah saran si wajah rubah berambut pirang itu. Tapi, ini ia lakukan demi gadis pujaan hatinya yang sampai sekarang tak menampakkan jidat lebarnya itu.
"Kau putus asa? Jika kau hanya menunggu di sini, sampai selesai acara pun kau tak akan berjumpa dengannya"
Si wajah rubah berambut pirang yang barusan ia umpatkan ternyata panjang umur juga. Baru saja di ceritakan, sudah hadir di saat Sasuke sama sekali tak mengharapkan kata-katanya.
"Kau beruntung, teme" lelaki bermata ocean itu meneguk segelas wine di meja. "Mendapatkan 'menteng' seperti dia. Apalagi kalian sepasang kekasih"
Dan kini, lelaki yang tak lain adalah Naruto itu ikut menyudutkan dirinya bersama Sasuke di sisi gedung pesta. Menerawang jauh keluar ruangan ini.
Cih! Menteng, menteng, dan menteng~
"Bagi iblis seperti kita ini, sangat membutuhkan orang sejenis dia"
Buk! Bruak~
Satu pukulan telak melukai tepi bibir Naruto, ia tau pandangan mata Onyx itu sudah sangat berbeda dari biasanya. Naruto hanya menyeringai membalas tatapan mata membunuh itu. Seperti sedang menantang.
"Sekali lagi, kau menyebutnya julukan itu, mulutmu akan kubuat bungkam selamanya"
Sasuke melepaskan rengkuhan tangannya dari kemeja abu-abu milik Naruto. Sedangkan putra tunggal dari Namikaze Minato dan Kushina itu hanya tertawa sombong menatap kepergian adik dari dosen sekaligus bawahannya di organisasi para iblis yang diketuai oleh dirinya sendiri.
"Dasar" Naruto menyapu darah yang mengalir keluar di permukaan kulit wajahnya. "Aku memujimu, teme. Kau terlalu takut kehilangan gadis itu"
Rasanya kepalanya ingin pecah mendengar kebisingan di dalam gedung pesta. Sakura sama sekali tak terbiasa dengan hal-hal semacam ini. Ia sudah lama membuang topeng munafik yang selama ini ia gunakan. Orang yang dulu berharga baginya, sekarang hanya seperti tumpukan kertas tak berguna. Ingin di buang, namun sayang sekali, kan? Mana tau, lain waktu berguna baginya.
"Kau di sini?"
Sakura melirik sebentar, lalu memutar bola matanya dan melangkah pergi dari balkon gedung itu.
"Sakura, sampai kapan kau begini?"
Gyut!
Tubuh Sakura tertahan saat lelaki bertubuh tinggi darinya membelenggu tubuhnya. Sial! Sakura menghempas Sasuke cukup jauh. Di tambah tatapan mengerikan itu memenuhi isi pikiran Sasuke.
"Jangan coba, menyentuhku! Atau kuhabisi hidupmu sampai hari ini saja" Sakura berdecak kesal. Sasuke sama sekali tak mempan dengan ancaman gadis cantik berpalut gaun indah di depannya sekarang. Lelaki itu malah tertantang untuk menjinakkan hati kekasihnya yang sedang meradang.
"Apa yang salah dengan topeng yang kau anggap munafik itu?" Sasuke sudah banyak tau hal yang Sakura tak pernah ceritakan pada siapa pun. Karena iblis, seperti parasit yang hidup membelenggu 'menteng'nya. Berada di dekatnya saja, Sasuke sudah cukup paham apa yang difikirkan Sakura. "Bagiku, semua topeng yang kau gunakan itu adalah dirimu sendiri"
Sakura mendengus geli. Tangannya dengan santai menyilang di depan dada. "Kau tau apa, parasit? Kau masih belum puas dengan predikatmu di organisasi menjijikkan itu? Apa perlu kubantu lagi? Haa! Brengsek?" huu.. cukup kasar untuk yang kali ini.
Namun, kata-kata Sakura hanya dianggap angin lewat oleh Sasuke yang masih terdiam di posisinya. Namun, sekarang…
Syuut~
Dia melangkah cepat mendekati Sakura.
Tap! Wuush~
Terlambat!
Sakura lebih dahulu meloncat dari gedung universitas dengan bebas. "Semakin kita jauh, semakin dekat kau dengan kematian" gumam Sakura dengan tersenyum sinis.
Gila. Sakura memang benar-benar melakukan tindakan konyol itu. Ia bisa saja terbakar lapisan atmosfer bumi. Sasuke masih cukup waras untuk mengejar Sakura dengan ikut nekat terjun. Benar saja. Sasuke sama sekali tak merasakan apapun mengenai gadis itu. Jangankan ucapan dalam hati, desiran darah Sakura sama sekali hilang setelah aksi nekatnya itu.
"Argh, Sial!"
Sasuke berlari masuk ke gedung pesta. Mencari kakaknya, Itachi. "Ada apa, Sa-suke?!" lalu, menyeretnya ke balkon dan menunjuk ke luar batas universitas.
"Tak bisa kau membawanya kembali?" seru Sasuke dengan nafas setengah habis. Itachi menggeleng menatap setitik warna terang gaun Sakura di bawah sana. Mulai tak jelas. Sial! Sakura sudah terlalu jauh dari jangkauannya. Itachi menatap adiknya yang kini berubah frustasi.
"Dia sudah menyiapkan ini semua, sulit untuk membuatnya termakan sihirku" sahut Itachi.
"Tapi, aku bisa mati!" Mata Itachi melebar mendengar ucapan Sasuke yang kini sedang mencekram lehernya dengan kuat. "Jika kau tak bisa mendapatkannya untukku, maka jangan kau harap hidup aman dengan iblis penyambung hidupmu itu!"
Sasuke sudah tak peduli, mau ia harus menyeret iblis kakaknya itu keluar dari tubuh lelaki yang selama ini merawatnya. Dan itu artinya adalah kematian abadi bagi Itachi. Sebagai kakak, Itachi sudah tau betul siapa adiknya sekarang. Selain memiliki dua iblis di dalam tubuhnya, adik satu-satunya itu memang memiliki hati sebeku dan sepicik iblis. Bahkan ia sudah tak berharga di mata adiknya itu.
Dan mau berusaha seperti apapun menyeret gadis adiknya itu kembali juga sia-sia saja. Karena sekarang, Sakura adalah 'menteng' yang tak akan mempan lagi pada sihir para penyihir yang di belenggu para iblis. Entah sejak kapan Sakura mengubah statusnya menjadi 'menteng'. Padahal dulu, gadis musim semi itu hanyalah Black Pure Magician. Yang lemah, namun memiliki kekuatan besar dan tak stabil.
Sasuke akan sangat menyesal jika sampai kehilangan 'menteng' sekuat Sakura.
"Sial! Dasar tak berguna!"
Bruk!
Sasuke mendorong tubuh Itachi hingga terpental ke dinding. "Jika aku mati perlahan, maka kau juga akan ikut merasakan rasa sakitku ini, Aniki"
Sasuke meninggalkan Itachi begitu saja. Yang tergeletak tak berdaya di luar gedung, dengan darah yang masih mengalir keluar dari bibir Itachi. Sasuke memang sangat kuat semenjak menelan, melahap aura Sakura minggu lalu. Namun, sialnya. Itu membuat Sakura lebih sensitif dan sangat berambisi untuk membunuh Sasuke yang selama ini menjadi parasit di hidupnya sebagai 'menteng'.
.
.
.
Swuush~
Duamm!
Sebuah tubuh melesat jatuh menimpa tanah. "Uagh!" semua orang menjerit kala melihat kehadiran Sasuke yang tiba-tiba masuk dan memuntahkan banyak darah di lantai pesta. "Agh! Uh! Uhuk!"
Tap!
"Ini akibat kesombonganmu Sasuke" Sasuke jatuh tersungkur menatap darahnya sendiri. Menahan rasa sakit di dalam tubuhnya. Serasa remuk dan tak berdaya. "Kematian baginya, penderitaan abadi bagimu"
Sebuah senyuman sinis membuat Sasuke menatap tajam iris biru itu. Memang indah. Namun, sangat berbahaya dan menusuk.
"Iblis kotor dan lemah sepertimu, memang patut disingkirkan" kata Naruto memandang hina Sasuke, lalu meninggalkannya begitu saja.
Berharap bisa menghajar wajah iblis kecil itu, namun apalah daya. Raganya sudah habis digrogoti rasa sakit yang sengaja Sakura cari untuk membuat penderitaan seumur hidup bagi iblis yang sama sekali tak bisa mati maupun di bunuh oleh siapapun.
"Maafkan aku, Sa-sake. Ukh! Kau memang pantas men-da-patkan i-ini semua. Ugh! Uhuk!"
.
.
Sepasang kekasih yang dulunya saling mencintai, mati akibat rasa sakit yang mereka timbulkan sendiri. Satu seorang penyihir kuat, satu seorang penyihir dengan iblis yang licik. Mereka sama-sama mati dengan keegoisan mereka sendiri.
.
.
.
.
.
The end
Note Author: "Tak selamanya akhirnya akan bahagia" *Kabur!* #Eits,maukemanalu? *diseret* Tidaaaaak! Maap, maapkan saya *puppy eyes* *kedip-kedip dikit* #lebay! karena ada yang minta epilogue jadi tak buatkan nah sekarang, dan entah kenapa saya ingin menggantung ceritanya jadi begitu XD *ditendang* bye! Bye! Jangan lupa reviewnya! Saran dan kritik! Harus review loh ya! Review pokoknya, fav dan follow nya juga dinanti! *dalam keadaan ditendang menuju langit*
*balek lagi* Oh ya, sequelnya sebaiknya gak usah aja ya *ditendang*
Cring! *Hilang*
Sakura : Itu author gak jelas, cerita kita jadi aneh begini *menghela nafas*
Sasuke : Dan susah dimengerti *bacaFF*
Sarada : Ayah, kenapa aku tak ada disini? *nunjuk*
Sakura : Karena disini Ibu dan Ayah masih muda, jadi belum ada kamu Salada-chan
Sarada : *mengembungkan pipi*
Boruto : Terus aku juga kenapa tak ada? *lirikHpSasu*
UchihaFamily : Lo gak masuk hitungan *gorokinBolt*
.
.
.
Sebagai hadiah terakhir dariku, minna akan kuhadiahkan sepotong cerita tentang SasuSaku.
Terimakasih sudah membaca. Terimakasih untuk review kalian. Terimakasih untuk kalian yang sudah men- fav dan follow ceritaku ini. Meskipun apa adanya banget XD
* SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI *
See you again.
.
.
.
"Oka-san"
Salju. Benda putih bersih yang dingin dan bertumpuk itu sudah makanan sehari-hari bagi masyarakat Hokkaido. Minggu ini, adalah hari yang terburuk menurut ramalan cuaca. Akan ada badai besar yang akan menghampiri kota itu. Namun, sampai sekarang nyatanya masyarakat Hokkaido hanya menikmati gelundukkan salju yang sengaja mereka tumpuk di halaman belakang rumah untuk tempat bermain anak-anak mereka. Sambil melakukan aktifitas seperti biasa, tentunya.
"ne, Oka-san!"
Namun, ada beberapa orang yang lebih memilih berdiam diri di rumah, di depan perapian, menghangatkan diri. Memang, sudu udara hari ini sudah dipastikan suhu terdingin bulan ini. Banyak sekolah yang memutuskan meliburkan para siswanya lebih awal.
"Hm, nani yo?" wanita itu menoleh ke sisi kiri sebelahnya. Ada seorang gadis kecil menatapnya dengan binaran mata yang sangat mirip dengan seseorang yang ia kenal. Ia mengelus rambut lurus gadis itu.
"ne, Oka-san. Ini makam siapa? Dan kenapa kita kemari?" gadis itu sengaja menjejalkan banyak pertanyaan pada wanita muda yang masih menatapnya dengan senyuman.
"Naze? Kau sudah bosan, kah?"
Gadis itu menggeleng. Matanya beralih menatap sebuah foto yang bersandar di batu nisan. Gadis itu menyapu debu yang menutupi sebagian kaca foto. Dan mulai merapikan letak beberapa bunga yang sengaja di taruh di sana.
"Oka-san hanya ingin mengunjungi makam teman Oka-san ini, sudah lama tak mengunjungi makamnya ini"
Wanita itu kemudian berdiri dan menyandang tas yang tadi terletak di dekatnya.
"Teman? Kenapa dia di makamkan di tempat seperti ini, Oka-san?" Gadis kecil itu mengadahkan kepalanya, menatap sebuah pohon besar di dekatnya berdiri.
Sebuah makam di tengah hutan rimba yang tak berpenghuni dan sunyi. Memang kedengarannya aneh dan terdengar cukup unik bagi gadis berkacamata itu. Sesekali tangan kecilnya asik menepikan guguran daun yang menutupi sebagian makam.
"Ini tempat yang ia inginkan" sahut wanita itu tersenyum lega menatap pohon besar yang sangat mencolok dari pohon lainnya. "Baiklah, sebaiknya kita pulang sekarang"
Gadis kecil itu pun mengekor dari belakang, mengikuti wanita bersurai merah muda itu. Tak lupa, mata kecilnya melirik sebentar makam yang baru saja ia bersihkan dari guguran dedaunan pohon.
Wush~
Hembusan angin, membuat makam itu kembali tertutup oleh daun-daun. Gadis itu cemberut, kecewa apa yang dilakukannya jadi sia-sia karena tiupan angin yang sejuk itu. Namun, matanya lebih tertarik pada tulisan yang terukir di batu nisan makam. Sedikit lebih jelas dari yang tadi. Sehingga dapat ia baca sebagian tulisannya.
'Ino Yamanaka'
.
.
.
"Oka-san!" seru gadis kecil itu lagi.
"Ya, ada apa Sarada?" wanita itu mencoba memperlambat langkahnya agar senada dengan langkah gadis bersurai hitam tinta itu.
"Hari ini, kita masak apa Kaa-san?"
Wanita itu tak langsung menjawab pertanyaan putri tunggalnya itu. Ia mencoba mengingat-ingat bahan-bahan apa saja yang baru ia beli di supermarket. Mungkin bahan-bahan makanan itu sudah kurang segar di dalam mobil mereka.
"Hm, sepertinya Kaa-san akan membuat beberapa masakan baru" sahut wanita itu dengan bangga dan melangkah lebih cepat mendekati sebuah sedan berwarna hitam yang bertepi di seberang jalan.
Beberapa kali mobil pembersih salju lewat dan menarik perhatian Sarada. Dari balik kacamatanya itu, dia menatap samar-samar para sopir yang sesekali menyapa mereka dengan hangat.
"Kaa-san mengenal mereka?" dan Sakura hanya menggeleng tanpa melepaskan pandangannya dari jalanan yang terkadang di tutupi salju.
Musim dingin selalu saja membuat permukaan aspal menjadi lebih licin. Beberapa orang akan lebih memilih jalan kaki, jika keluar rumah. Itu karena ada banyak kecelakaan lalu lintas yang diakibatkan jalanan licin akhir-akhir ini. Tapi, bagi Sakura yang sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini pada tiap tahunnya. Tetap membawa mobil kemanapun, sesekali mengajak Sarada untuk bermain di luar rumah.
Oh ya, Sarada itu termasuk anak yang tak banyak mengeluh dan tak banyak meminta. Jadi, Sakura tak terlalu kerepotan mengurus putrid kecilnya yang kini telah berusia 9 tahun.
"Apa kau ingin singgah di rumah nenek sebentar, Sarada?"
Sarada menatap ibunya yang sesekali memperlihatkan gerak-geriknya. "Hn, iya Oka-san" sahutnya kembali membolak-balik sebuah buku pemberian neneknya dulu.
Selain tak banyak mengeluh, Sarada juga termasuk anak yang cerdas. Di usia sekecil ini, ia sudah mulai paham tentang pelajaran SMP dan SMA yang belum di pelajari di kelasnya. Ya, meskipun tak semuanya. Hanya beberapa bagian saja.
"Kapan kalian kembali bersekolah?" tanya Sakura sembari memutar arah setir mobilnya masuk ke gang kecil dan masuk ke sebuah pedesaan. Sangat damai di sini.
"Sensei bilang, tunggu cuaca membaik dulu"
Masih banyak pepohonan yang dibiarkan tumbuh liar di antara jarak rumah satu ke rumah lainnya. Ada sebuah rumah di ujung jalan yang menarik perhatian Sarada, dan membuatnya mengangkat kepalanya tinggi-tingi. Mungkin bangku mobil yang terlalu rendah, membuat tubuh kecilnya sulit melihat keluar kaca mobil. Hanya tampak atap berwarna merah merah dari rumah sederhana bertinggat dua itu.
Brum! Cshh!
Sakura memakirkan mobilnya tepat dalam halaman rumah itu. Dan tampak seorang wanita tengah berdiri di teras depan rumah. Sarada terlebih dahulu keluar dari mobil dan melempar senyuman kepada wanita itu.
"Oh, Sarada-chan! Kau sudah besar sekarang ya" ujar wanita itu datang menghampiri Sarada yang telah turun dari sedan hitam itu. Dengan senangnya, Sarada memeluk wanita tua yang menyambut mereka dengan hangat.
"Nenek! Apa kakek di rumah?" Sarada melirik pintu rumah yang sengaja terbuka lebar.
"Tentu saja, dia sedang menonton. Sapalah kakekmu, biar nenek bicara sebentar dengan kaa-san mu"
"Hn" dengan riang gadis berkulit seputih salju itu, berlari memasuki rumah lebih dulu dari kedua wanita yang sekarang sama-sama seorang ibu.
"Apa kabar, kaa-san? Apa tou-san masih demam?" tanya Sakura memeluk ibunya sejenak.
"Sehat, sayang. Oto-san mu juga, dia sudah sembuh setelah meminum obat racikan yang minggu lalu kau kirim" ibu Sakura menatap lekat tubuh putrinya yang sedikit lebih kurus dari beberapa minggu lalu. Mungkin akibat sibuk bekerja saja.
"Masuklah, ada yang ingin kaa-san bicarakan denganmu" dan Sakura mengangguk lalu mengikuti ibunya memasuki rumah yang dulu tempat ia di besarkan.
Langkah kaki wanita tua itu, mengarahkan mereka menuju sebuah ruangan di sisi kanan rumah tersebut. Sakura masih sangat ingat ruangan itu. Dulu, ruangan ini sering ia gunakan untuk berdiam diri saat kekuatannya mulai tak stabil.
Cklik!
Sudah lama Sakura tak menggunakan ruangan ini. Masih tampak terawatt dan rapi oleh ibunya. Padahal dulu, ruangan ini selalu berantakan setelah Sakura melepaskan ketidakstabilan emosinya. Dan, masih ada pula beberapa jubah yang digunakannya dulu untuk menghindari para penyihir yang berambisi memiliki kekuatannya.
Mata Sakura terhenti mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan bernuasa hijau muda sedikit goresan-goresan tinta. Pandangannya kini terfokus pada sofa yang kusam bahkan sudah tercabik-cabik karena dulu ia gemar mencakar apapun disekitarnya saat kekuatannya tak terkendali.
"Kalian masih menyimpan sofa ini?" Sakura berjalan menuju sofa berwarna cream namun sedikit kusam.
Tangannya mulai meraba, apakah benda tua itu masih mampu menjadi sandarannya saat lelah begini.
"Oka-san sempat ingin membuangnya, tapi kau taulah tou-san mu. Ia tak setuju dan tetap membiarkan sofa itu termakan waktu" wanita tua itu menempatkan dirinya di samping Sakura yang masih menatap kosong barang-barang di sekitarnya.
Hening.
"Apa Sarada akan baik-baik saja? Seharusnya kau ceritakan yang sesungguhnya" sambung wanita tua bersurai kuning menyala itu memecahkan keheningan di antara mereka. Sakura menggelengkan kepalanya dengan lemas. Lalu, tersenyum kembali menatap langit-langit kamar yang ikut tergores oleh dosanya dulu.
"Aku belum bisa, kaa-san" matanya terpejam membayangkan hal-hal yang terjadi akhir-akhir ini. "Sulit, aku tak ingin ia mengetahui hal-hal semacam itu di usia mudanya"
Kedua wanita itu menghela nafas mereka dengan serentak. Sakura menerawang jauh keputusannya dulu hingga sekarang. Terkadang, ia ingin putrinya tau, tapi apa gadis itu akan tetap bersikap seperti biasanya? Namun, jika ia lebih lama menutupi semua ini. Mungkin saja, Sarada akan membencinya karena berusaha menutupi kebenaran.
Tok! Tok!
"Oka-san! Nenek!"
Sakura tersentak kaget dengan panggilan dari putrinya. Lalu, kembali tersenyum dan melambaik seakan memanggil Sarada untuk berjalan menghampirinya.
"Apa kau lapar?" tanya Sakura memeluk putrinya dari belakang. Sarada menyeringah dan mengangguk sembari menatap neneknya. "Nenek masak apa?"
"Kebetulan, nenek masak makanan kesukaanmu, Sarada. Ajak kakekmu ikut makan, nanti kami akan menyusul"
Sarada tersenyum lebar lalu berlari keluar ruangan dan menghilang seterlah berbelok ke kiri. Dan Sakura tetap menatap lurus ke depan, meskipun Sarada sudah tak tampak lagi di matanya.
"Apa kau tak melihat 'Masa depan yang lain' lagi, Sakura?" tanya ibunya sambil menepuk pundak putri tunggalnya itu.
"Ie, aku sudah lama tak menggunakan kekuatan itu, kaa-san. Sesekali jadi manusia biasa" sahut Sakura menyengir kuda lalu melangkah mendahului ibunya.
"Jadi, apa rencanamu selanjutnya? Menutupi dari Sarada bahwa kau seorang penyihir? Ingat, Sakura. Suatu hari, Sarada harus tau semua itu. Dan kau juga harus melepasnya berguru ke Universitas"
Sakura menatap ibunya, hampir seperti ingin menangis. Karena semua hal yang dikatakan oleh ibu kandungnya itu adalah hal yang paling takut ia hadapi dalam keadaan seperti ini.
"Sudah, cuci mukamu dulu. Jangan buat Sarada mengkhawatirkanmu"
.
.
.
"Kaa-san mu itu dulu, sangat ceroboh. Sekarang saja, tampak sok teliti, padahal.." goda lelaki paruh baya itu asik bercerita pada cucu kesayangannya.
"Oto-san! Jangan mulai bercerita yang aneh-aneh pada putriku" gerutu Sakura menghentikan makannya.
Sarada hanya tertawa geli kala melihat tingkah ibunya yang geram mendengar kakeknya yang bercerita tentang masalalu sang ibu."Lalu, kalau tou-san dulu seperti apa, kek?"
Tiba-tiba saja, suasana di ruang makan menjadi kaku. Ayah Sakura terdiam menatap putrinya termenung mendengar pertanyaan dari putrinya. Sakura tak pernah sekali pun cerita mengenai siapa ayahnya Sarada pada putrinya tersebut. Ia selalu mengelak saat di tanyakan mengenai itu. Selalu. Dan itu selalu membuat Sarada kadang merasa kesal.
Tok! Tok! Tok!
"Ah, Sarada. Kau sudah siap makan, bukan? Tolong lihat siapa yang mengetuk pintu" ujar ibu Sakura mengalihkan perhatian Sarada.
Mau tak mau, Sarada hanya mengangguk dan berjalan mendekati pintu depan. Sakura aman sekarang. Ibu Sakura menghela nafas melihat wajah murung putrinya. Memang sulit menjadi putrinya. Dengan keputusan yang dulu telah di ambil Sakura, maka semua resiko harus di ambil Sakura. Meskipun harus menutupi semua itu, dari putrinya.
"Oka-san! Ada yang mencari kaa-san!" seru Sarada dengan lantang. Namun, masih berdiri di depan pintu. Menemani sang tamu yang tak di undang kehadirannya ini.
Ibu Sakura menepuk pundak Sakura saat putrinya itu ingin beranjak dari kursi sebelum pergi menyusul Sarada. "Kuatkan dirimu, suatu hari nanti, pasti dia akan mengerti" dan Sakura hanya mengangguk lalu melangkah meninggalkan meja makan.
Sakura bertanya-tanya dalam hatinya. Siapa yang datang ke rumahnya, padahal tak satu pun orang temannya yang tau rumah ini. Kecuali Ino. Itu pun sahabatnya itu, sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Tak mungkin Ino gentayangan ke rumah ini, karena Sakura jarang mengunjungi makamnya.
Sakura melangkah dengan pasti, menatap jauh ke pintu masuk. Melihat samar-samar sosok yang berada di depan putrinya.
"Ah, ini dia kaa-san. Dan kaa-san namanya Sakura Haruno, orang yang anda cari" tutur Sarada memperkenalkan ibunya pada seseorang yang baru di lihatnya. "Oka-san?"
Sakura terdiam. Menatap tamu yang menghampiri rumahnya. Pada musim dingin yang terburuk menurut ramalan cuaca.
.
.
.
"Kami kini hidup terpisah. Merangkak mencari dunia masing-masing. Kurengkuh seluruh iblis di tubuhnya. Dan itu juga menghilangkan ingatannya tentangku. Aku hidup dengan segala penyesalan yang telah kupilih untuknya. Aku biarkan dia sendiri dengan kebingungannya tentang dunia. Sedangkan aku, menangis membesarkan putriku yang sama sekali tak mengetahui siapa ayahnya. Seperti apa wajahnya, bagaimana sifatnya, putriku tak tau tentang itu. Dan jika suatu hari dia datang menghampiriku dan berkata, "Tadaima, Sakura" maka aku yakin, itu adalah mimpi yang selama ini kuharap jadi nyata"
Hyung~
Sakura terduduk saat menatap siapa yang kini di depannya. Matanya berkaca-kaca. Nafasnya seakan tinggal sedikit saja. Sarada terkejut melihat ibunya menunduk. Bertanya-tanya, siapa lelaki yang masih menatap Sakura tak berkedip.
"Tadaima, Sakura" ucap lelaki itu melipat salah satu kakinya dan tersenyum menatap Sakura.
"Hiks!"
Airmata yang sedari tadi. Ah, tidak! Yang selama ini, ia simpan dan ia tahan akhirnya keluar dengan deras. Tak peduli, bagaimana putrinya menganggapnya seperti apa sekarang. Ia hanya ingin melepaskan rasa lelahnya menghadapi kenyataan.
"Huaaa, huawaa! Hiks! Huwaaaa! Gomen-nasai, Sasuke-kun!"
Tapi, menangisnya agak berlebihan deh, Saku. =.="
"Oka-san, Oka-san! Oka-san, baik-baik saja? Dia siapa?" tanya Sarada yang masih bingung melihat kepribadian ibunya yang pertama kali berbeda sejak sekian lama.
Sakura menyapu airmatanya. Dan menatap lelaki di depannya dengan senyuman, lalu tersenyum menatap Sarada di sisinya. "Sarada, dia Oto-san. Oto-san yang selalu kau tanyakan setiap hari"
"Oto-san?" Sarada melirik lelaki yang masih diam menatap ibunya dan sesekali melihat ke arahnya. "Oto-san? Oto-san? Oto-san!"
Tanpa pikir panjang, Sarada memeluk lelaki paruh baya di hadapannya. Bahkan ia sudah tak sadar air mata sudah mengalir membasahi pipinya. Gadis kecil itu sangat mengharapkan kehadiran seorang ayah. Bukan, melainkan ayahnya yang sebenarnya. Bukan ayah manapun. Tapi, ayah kandungnya. Ayah biologisnya. Sasuke Uchiha.
"Okaeri, tou-san!"
