Written on 29th of June, 2012
Dance in Storm (not so) proudly presents,
Lorong sekolah gedung A lantai satu terlihat sepi pagi itu. Maksudnya, sepi dari pemandangan murid yang berseliweran kesana-kemari. O, jika Anda berpikir bahwa seluruh murid tengah anteng duduk di kelas masing-masing sembari mendengarkan guru menceritakan hal yang kebanyakan mereka sebut boring nonsense, maka Anda salah.
Kenapa?
Karena hari ini adalah hari pertama MOS Hetalia High School!
Um… jika ingin mendapatkan presisi yang lebih tepat, bisa dikatakan bahwa pada saat itu juga, seluruh murid tengah berkumpul di taman gedung A yang terletak persis di tengah-tengah bangunan kelas gedung A yang mengelilinginya. Karena itulah bisa dilihat bahwa lorong gedung A kini tampak sepi, berikut kelas-kelas yang berada di sepanjang lorong itu.
MOS Gakuen High School diadakan selama 3 hari sebagai acara 'penyambutan' dan 'pendisiplinan' murid baru. Para murid baru akan digembleng selama 3 hari tersebut oleh para senior yang menyandang jabatan sebagai Komite Disiplin Gakuen High School. Jangan ditanya lagi soal kesangaran mereka; bentakan, sindiran, perintah, keusilan, dan hal-hal lain yang membuatmu harus menghela nafas sabar jika tidak mau mengacungkan jari tengah dan mendapat hukuman yang lebih mendewa.
Hal seperti itulah, persis seperti itulah, yang menyebabkan Annesia Saraswati kini harus berjalan memasuki gedung A, mengekor seorang anggota Komite Disiplin yang rasanya sudah ia beri 'kosakata indah' dari berbagai bahasa yang diketahuinya, di hatinya. Seorang Komite Disiplin yang memberi kesan keabsurdan di hari pertamanya sekolah di Hetalia High School. Seorang Komite Disiplin yang dengan sotoy dan sok jeniusnya, menuduhnya, memfitnahnya, mem-black mail dirinya bahwa dia adalah–
"Kau kelihatan kesal, ya?"
Suara bisikan itu spontan saja membuat pikiran dan pandangan Nesia terhadap Komite Disiplin teralihkan. Kepala dengan rambut yang terkuncir kuda itu menoleh, dan mendapati seorang pemuda yang tersenyum di sebelahnya.
Ah, iya, siapa namanya?
"Antonio F Carriedo,"pikir Nesia saat melihat name tag di jas pemuda itu, "Pasti dia dari negara Latin atau apa."
Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya
I just own the plot of the story and I don't make money from it.
Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, totally absurd, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue I assure you =D
Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D
Maju FHI!
Happy reading
Nesia menghela nafas berat ketika teringat dengan pertanyaan pemuda yang secara tak sengaja, menjadi murid pertama yang ia kenal di sekolah ini. Tentu saja, karena sekolah elite ini berada di wilayah yang cukup jauh dari rumah asal Nesia; hingga gadis itu memilih tinggal di asrama daripada menyewa rumah kontrakan umum yang pasti akan memakan biaya besar daripada biaya sewa asrama. Jadi cukup wajar jika gadis itu sama sekali tak punya ide akan kerabat atau kenalan yang ia punya di sekolah ini, atau sebagai penduduk di wilayah dekat sekolah ini.
Kalau bahasa salah satu etnis di negerinya sih bilang, bonek, bondho nekat.
"Tentu saja. Memang kau tidak?" balas Nesia, melangkah pelan di samping Antonio sembari menatap keras punggung berbalut jas warna biru muda dari anggota Komite Disiplin yang berjalan tegak beberapa langkah di depan mereka, "Aku tahu, dia pasti merencanakan sesuatu untuk menghukum kita. Dan aku yakin bahwa itu akan menjadi hal yang sangat memalukan."
"Iya sih, itu pasti," Antonio mengangguk, mengalihkan pandang ke arah punggung sang anggota Komite Disiplin yang berjalan dengan ekspresi robot; rata, serata-ratanya aspal di jalanan New York, "Tetapi, menurutku justru itu yang akan memberi kesan di hari-hari pertama kita di sekolah ini."
Nesia tersenyum patah, menoleh dan memberi pandangan pada Antonio dengan tatapan yang seolah berkata, 'Kau gila?', "Tetapi kita tidak salah, Anto– Carriedo!" geram Nesia dengan desisan, secara tak sadar melampiaskan rasa dongkolnya terhadap si Komite Disiplin, kepada orang asing yang baru saja dikenalnya beberapa menit yang lalu. "Bagaimana kau bisa berkata seperti itu jika kau tahu, bahwa yang dituduhkannya itu tidak benar? Aku juga mau kenangan MOS yang berkesan, tetapi tidak seperti ini–."
"BISAKAH KALIAN TUTUP MULUT DAN PERCEPAT JALAN KALIAN?"
Bentakan itu sontak saja, membuat Nesia sedikit terlonjak dan berhenti melangkah. Begitu pula dengan Antonio, yang kini berdiri di sebelah Nesia, memandang ke depan.
Si anggota Komite berbalik menghadap kedua murid baru yang beberapa menit sudah mengekor di belakangnya. Menghela nafas berat, seolah-olah ia menanggung beban psikologi yang jauh lebih berat dari beban mental yang dihadapi Nesia dengan segala asumsi-asumsi hukuman yang akan dihadapinya.
"Dengar, aku tahu kalau kalian mungkin ingin lebih lama sampai di tujuan kita untuk menghabiskan waktu berdua saja," ucap anggota Komite bermata emerald itu dengan tenang, membuat sebelah mata Nesia berkedut keki saat mendengar beberapa kata terakhir dari kalimat tersebut, "Tetapi kalian bisa menyimpan hal itu nanti. Sekarang kalian harus fokus!"
Mendengar topik yang membuatnya kena sial pagi ini dibicarakan, Nesia langsung menyahut tegas dan keras, "Kami tidak pacaran! Harus berapa kali kubilang?"
Dan Nesia makin keki ketika kalimat penyangkalan darinya justru mendapat seringai ejekan, "Semua orang pasti menyangkal tuduhan jika sudah terjepit."
"Aku menyangkal tuduhan karena itu memang tidak benar! Tuduhanmu itu absurd!" kepalan tangan Nesia mengepal, menahan segala hasrat untuk tidak maju ke depan dan mempraktekkan ilmu bela diri yang sempat dipelajarinya kala masih di Junior High, kepada senior di depannya, "Tuduhanmu tidak berdasar! Apa kau selalu mengira setiap lelaki dan perempuan yang berdekatan, adalah sepasang kekasih?"
"Kau bisa menyatakan hal itu nanti dan sekarang tutup mulut dan kembali jalan!"
"Tidak sebelum kau mengatakan kami mau kemana."
"Apa untungnya? Aku, Komite Disiplin, memiliki hak dan wewenang untuk memaksamu mengikuti aturan."
"Aturan?" Nesia memandang tak percaya sembari tersenyum miris, "Seingatku, aku sejauh ini mematuhi aturan MOS. Apakah menabrakmu pagi tadilah yang kau maksud melanggar atu–."
"Hei, Nona, kenapa kau banyak bicara sekali sedangkan cowokmu saja diam tak pernah menyangkal?" potong sang senior, melempar lirikan pada Antonio yang sedari tadi berdiri diam, bagai penikmat drama klasik gratis antara murid baru dan senior penindas.
.
.
Krik.
Speechless.
.
.
.
Dengan cepat Nesia menoleh pada Antonio dan menghardik pemuda itu dengan suara berbisik, "Apa yang kau lakukan? Katakan bahwa ini semua tidak benar!" geram Nesia, seolah menemukan sasaran baru empuk untuk melampiaskan amarah yang tengah dirasakannya.
Antonio memandang Nesia sejenak, sebelum melirik pada dua bola emerald lain selain miliknya, yang tengah bersedekap dan menatap datar ke arah mereka berdua. Menghela nafas, Antonio mengucapkan sesuatu yang benar-benar membuat mulut kecil Nesia menganga karenanya, "Lebih baik kita lanjutkan jalan saja, Saraswati."
Dan seringaian Komite Disiplin makin melebar, seolah dengan seringaian itu, ia mengucapkan sejuta kata ejekan dan kemenangan terhadap Nesia yang menatap Antonio dengan tatapan seolah-olah di kepala Antonio tumbuh dua buah tanduk merah.
"Baguslah. Ayo jalan. Lebih cepat…," ujar anggota Komite Disiplin tersebut, berbalik dan mulai melangkah, "…jika kalian paham arti pepatah waktu adalah uang."
Kenapa….
Carriedo… kenapa bilang begitu?
Tak sempat Nesia menyuarakan isi hatinya tersebut, lengan kanannya sudah tergenggam dalam sebuah telapak tangan besar. Menunduk, Nesia melihat jemari kiri Antonio telah melingkar di lengannya, di kain jas birunya. Dan beberapa saat kemudian, ia merasakan kedua kakinya kembali melangkah; Antonio secara kalem menyeretnya untuk kembali berjalan mengekori anggota Komite Disiplin di depan mereka.
"Maaf, Saraswati," bisik Antonio lirih sembari memberi senyum menyesal ke arah Nesia, "Mungkin kau belum tahu, tetapi seseorang memberitahuku untuk tidak cari masalah dengan Komite Disiplin," Antonio kembali menoleh ke depan dan memandang punggung senior di depannya itu.
"Tetapi Carri–."
"Terutama dengan anggota Komite Disiplin merangkap Ketua OSIS Hetalia High School, Arthur Kirkland."
Menelan ludah dengan sulitnya, Nesia merasa bahwa dirinya tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Ia memang tidak tahu siapa Kirkland dan bagaimana Carriedo mengenalnya.
Yang ia tahu adalah siapapun Kirkland, beberapa menit lagi ia pasti akan membawa hidup Nesia pada suasana neraka.
Dan Carriedo sama sekali tidak bisa diharapkan kerjasama.
-oOo-
Pada akhirnya, kedua kaki Nesia membawa gadis itu untuk sampai di taman gedung A. Di sekeliling taman itu berdiri menjulang bangunan-bangunan bertingkat yang merupakan kelas-kelas bagi murid kelas 1 dan 2 – gedung kelas 3 berada di sekeliling taman sebelah barat. Taman yang hijau dan asri, dengan sebuah pohon flamboyan besar yang berdiri menjulang di tengah taman tersebut. Semak bunga dan rumput tampak tertanam di sana-sini, lengkap dengan beberapa gazebo yang menambah kesan menenangkan di sini.
Sejuk.
Damai.
Pasti itu yang akan dirasakan Nesia jika keadaan lebih baik dari ini.
Tetapi tidak. Karena perasaannya sendiri sedang gelisah ketika menyadari bahwa ada yang tidak beres. Well, memang, begitu Kirkland menuduhnya berpacaran dengan Antonio, ia sudah tahu bahwa semua akan menjadi tidak beres. Tetapi, sekarang, perasaan ragu dan cemas itu semakin terasa ketika ia menyadari bahwa seluruh, baca, seluruh murid tengah berkumpul di taman ini.
Simpan untuk para murid non-Komite dan non-newbie (mereka tidak diijinkan masuk pada hari MOS ini demi menjaga ketertiban dan keteraturan, kata Ketua Komite Disiplin), semua murid ada di sini. Para murid baru, berdiri mengelilingi tepian taman –membentuk lingkaran besar. Sedangkan para Komite Disiplin, tersebar di sana. Melotot tanpa sebab, menghardik tanpa alasan, mencari-cari kesalahan, dan menyindir habis-habisan. Well, itu kerjaan mereka bukan?
Tetapi Nesia tidak pernah menyangka akan menjadi seperti ini. Dari awal, ia dan Antonio memang sengaja dipisahkan dari para murid baru yang lain, dan secara otomatis, mereka tidak bisa mengikuti acara MOS yang tengah berlangsung. Selama sekitar setengah jam, mereka disindir dan dihardik habis-habisan oleh para Komite Disiplin.
"Ck! Baru menginjak SMA aja sudah pacaran! Alay banget."
"Disini itu buat sekolah! Pacaran sih ke pantai saja!"
"Kalau senior berbicara denganmu itu didengarkan! Bukan memandang ke sana-kemari begitu!"
"Jelalatan sih!"
Demi Tuhan, Nesia berusaha untuk tidak menjungkir balik meja yang berada di depannya dan memberi acungan jari tengah pada seniornya satu persatu.
Dan sekarang, Nesia baru sadar untuk apa selama setengah jam, dia dan Antonio dipisahkan dari yang lain.
Agar para senior laknat itu mampu merancang rencana apapun yang akan mereka lakukan sekarang ini.
"Saraswati."
Bisikan Antonio, membuat Nesia kembali ke realitas. Sampai sekarang, Nesia tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh pemuda berkulit putih kecoklatan itu. Maksud Nesia, mengapa dia sama sekali tidak berontak?
Takut pada Komite Disiplin? Hah! Alasan macam apa. Jika tidak salah, mengapa harus mengalah?
Meneguk ludah, Nesia mulai melangkah maju. Dan dia semakin frustasi ketika begitu ia dan Antonio, juga Kirkland tentu saja, memasuki area taman, aktivitas apapun yang tengah berlangsung sebelumnya, langsung terhenti sama sekali.
Semua mata memandang ke arah mereka bertiga, seolah-olah mereka adalah guest stars yang menjadi kejutan para panitia untuk acara MOS ini.
O, tidak. Feels like a deer caught in a spotlight!
"Berhenti di situ," ujar pemuda berambut pirang itu, Kirkland, sembari menoleh sedikit ke belakang. Dia kembali meneruskan langkahnya, menghampiri Ketua Komite, pemuda berwajah sangar karena mukanya yang selalu tertekuk masam itu.
Nesia semakin dongkol ketika melihat Kirkland berbisik sesuatu pada Ketua Komite. Beberapa kali Ketua Komite mengangguk, sebelum berkata sesuatu pada Kirkland yang direspon oleh –O Tuhan, seringaian.
Sungguh, perasaan Nesia berubah dari buruk, menjadi super duper buruk tingkat dewa.
Melirik ke arah Antonio, Nesia ingin mengetahui ekspresi pemuda itu. Untung-untung jika pemuda itu mau berbagi pendapatnya mengenai semua ini. Namun Antonio hanya memandang datar ke arah depan; seolah ia tengah berada di situasi wajar yang tak perlu diprihatinkan.
Nesia rasanya ingin tepok jidat.
Apakah sedari tadi hanya dia yang merasa malu? Apakah dia hanya over lebay? Apa dia hanya kelewat khawatir?
Tetapi bagaimana tidak, jika kini tak kurang dari lima ratus pasang mata tengah menatapmu dengan tatapan yang seolah-olah menelanjangimu?
"Perhatian! Perhatian!"
Pandangan Nesia menoleh ke sumber suara. O, ternyata itu suara Kirkland yang berdiri di atas bangku gazebo agar ia bisa lebih terlihat oleh yang lain. Di tangannya terdapat pengeras suara yang sebelumnya dipakai Ketua Komite untuk menghardik murid baru saat di lapangan tadi.
Dengan berkacak sebelah pinggang, Kirkland kembali berbicara, "Meski musim panas, meski menyengat, jangan jadikan cuaca sebagai alasan bagi kalian untuk kurang semangat. MOS adalah awal dari tiga tahun kehidupan kalian di Hetalia High. Jangan mengeluh, jangan banyak komentar…"
Nesia memutar bola mata. Apa pula maksud dari si Kirkland itu? Ia tidak sengaja menciptakan suasana dan kondisi begini hanya untuk ceramah, bukan? Jika Cuma untuk ceramah, mengapa dia dan Antonio tidak diijinkan bergabung dengan yang lain saja?
Menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, Nesia berusaha untuk merilekskan sendi-sendi lehernya. Semalam begadang demi menonton DVD film favoritnya, ternyata adalah pilihan yang salah ketika sekarang ia merasa cukup capai.
"…MA adalah masa yang indah. Bukankah banyak yang bilang begitu? Cerita cinta dan persahabatan…"
Nesia menaikkan sebelah alisnya. Sekarang pemuda alis tebal itu ingin mendramatisir suasana?
"…beruntung sekali kita semua karena pagi ini, kita memiliki satu pasangan yang saling mencintai satu sama lain, bahkan ketika mereka baru menginjak masa SMA."
DEG!
Nyaris berhenti detak jantung Nesia mendengar kalimat Kirkland barusan.
Entah mengapa, Nesia merasa bahwa kalimat Kirkland tersebut berhubungan langsung dengannya.
Tidak, jangan berbuat gila, Kirkland!
"Untuk memperoleh pengetahuan dan bimbingan, bagaimana kalau kita meminta tolong pada mereka untuk pengajaran? Bercerita? Bukankah kalian suka akan drama remaja seperti itu?"
Detak jantung Nesia semakin cepat. Mulutnya sedikit membuka ketika otaknya memikirkan asumsi-asumsi buruk mengenai akhir dari semua ini. Perasaan buruk itu semakin menjadi ketika setelah berucap demikian, Kirkland sedikit menoleh dan memperlihatkan seringaian yang aduhai menyebalkannya.
Mendengar ucapan itu, ditambah dengan telapak tangan Kirkland yang mengarah pada Nesia dan Antonio demi mempertegas siapa 'satu pasangan' yang dia maksud tadi, kini semua perhatian kembali terarah pada mereka berdua.
Bahkan seluruh anggota Komite ikut memerhatikan!
Demi apa, ini bukan soap opera, bodoh!
"Jadi, Annesia Saraswati dan Antonio Carriedo, bersediakah kalian maju ke tengah dan memperlihatkan pada kami bagaimana ketika kalian menyatakan perhatian dan perasaan pada satu sama lain ketika kalian hanya berdua?"
Dan hanya satu yang Nesia gumamkan pada saat itu, "Apa yang kau pikirkan?" sembari memandang seolah di kepala Kirkland muncul dua buah tanduk merah beserta back ground api berkobar dan suara tawa menggelegar seperti, "HUAHAHAHA."
Ya itu lebay.
Tetapi, jika berada di posisi Nesia, kau juga akan meragukan tingkat kewarasan psikologis Kirkland.
.:oOo:.
Nesia tak tahu apa yang akan terjadi. Ia sama sekali tidak mengerti. Perasaan kemarin dia tidur nyenyak tanpa bermimpi buruk sama sekali. Ia pun bangun pagi dan berangkat sekolah dengan lancar, tanpa hambatan yang berarti. Suasana hati dan pikirannya juga sangat bagus, tanpa ada bad feeling yang merambat halus.
Jadi, mengapa ia kini harus berdiri di tengah taman, di depan lima ratusan pasang mata murid baru, plus belasan pasang mata Komite Disiplin?
Ia sungguh nyaris tidak bisa tahan dengan tatapan semua orang itu. Mereka terdiam, mereka menatap cermat, seolah menunggu kejutan di acara kuis di televisi. Padangan mereka… tatapan mereka… mereka seolah-olah tak hanya menelanjangi Nesia, tetapi juga melubangi tubuh Nesia dari segala arah dengan tatapan intens mereka.
Demi apa, Nesia seolah menjadi artis dadakan di sekolah ini.
Keadaan semakin memburuk ketika Antonio tidak melakukan hal yang berarti. Jangankan menolak perintah Kirkland alis tebal itu layaknya seorang pahlawan di drama atau novel yang menyelamatkan si gadis, pemuda berambut coklat ikal itu malah pasrah saja melangkah kemari, di tengah lapangan ini. Entah apa yang dia pikirkan, Nesia tidak tahu. Oke, mungkin dia menganggap ini semua mampu menjadi kenangan MOS yang berarti, tetapi tidakkah keterlaluan jika kau mau difitnah dan disuruh melakukan hal gila hanya karena keinginan untuk dikenang dan mengenang?
Yang benar saja!
Dan yang paling membuat Nesia rasanya ingin menjadi kanibal adalah Komite Disiplin merangkap Ketua OSIS, si Kirkland itu. Iya, Nesia ingin jadi kanibal sehingga ia bisa dengan brutal melakukan adegan gore terhadap pemuda sialan itu. Meski sudah ratusan kali umpatan terucapkan dalam hati si gadis, tetap saja ia tak pernah puas. Ia benci, marah, kecewa, tidak adil.
'Praktekkan adegan saat kalian bermesraan'?
Perintah macam apa itu? Sudah gilakah dia? Sudah melelehkah otaknya, hingga ia tidak bisa berpikir lagi? Membedakan hal logis dan absurd lagi?
Ini absurd. Sangat amat absurd.
Bagaimana bisa bermesraan jika dia dan Antonio saja baru mengenal? Kirkland menyuruh mereka bersandiwara demi memenuhi humornya yang sangat buruk itu? Dia menginginkan Nesia dan Antonio menurunkan harga diri demi mendapat hiburan semata?
Kejam sekali.
"Hoi, kami tidak menunggu hanya untuk melihat kalian berdiri bengong seperti itu!"
Suara menjengkelkan itu terdengar lagi, terucapkan dari bibir pemuda berambut pirang dan bermata emerald yang mulai saat itu, menjadi orang nomor satu yang Nesia sesali kehadirannya di dunia ini.
"Benar! Anggap saja kami semua ini tak tampak. Dunia hanya milik kalian berdua~~."
Sebelah mata Nesia berkedut mendengar suara dari senior lainnya.
Dunia milik berdua apanya? Nesia belum cukup gila untuk menganggap lima ratus lebih orang di sini adalah benda tak kasat mata!
"Aku ingin lihat percintaan Nyonya dan Tuan Carriedo! Ayo!"
Bunyi sorakan dan dukungan terdengar di sana-sini. Tak lupa siulan menggoda yang saling sahut-sahutan.
"Mereka gila," gumam Nesia tertekan, menatap keras pada tanah di bawah kakinya. Nafasnya mulai naik turun dengan drastis, menahan rasa malu dan marah pada keadaan yang sedang menimpanya. Rasanya ia lebih rela jika kiamat terjadi pada saat itu juga dan membuat semuanya berakhir sudah.
Wajah gadis itu memerah menahan malu dan marah. Kedua tangannya terkepal. Sebelah sudut bibirnya tertekan keras oleh gigitan giginya, hingga jika ia begitu lebih lama lagi, pasti niscaya aka nada darah menetes dari sana.
"Ayo! Tunggu apa lagi! Kalian pikir acara MOS cuma ini?"
"Dasar buang-buang waktu!"
"Di depan umum aja sok malu, padahal kalau berduaan bisa macam-macam!"
Nesia memejamkan matanya erat, sembari tanpa sadar kedua telapak tangannya semakin mengepal kuat. Beberapa kali bibirnya menggumam kata 'gila' atau 'bodoh', merutuki setiap manusia yang membuatnya benar-benar terpojok seperti ini. Ia bisa saja menolak, menyatakan dengan lantang bahwa tuduhan Kirkland tidak benar dan ini semua hanya sandiwara belaka, tetapi…
Dengan kalimat-kalimat provokatif sebanyak ini, membuat gadis cerewet seperti dirinya bisa tertekan juga.
GREP!
Dan suara-suara teriakan, sindiran, olokkan, atau godaan, berangsur-angsur memudar dan hilang sama sekali. Kini suasana kembali sepi, bahkan lebih sepi ketika Kirkland memulai pidato nonsense-nya tadi.
Penasaran, Nesia perlahan membuka mata. Kepalanya yang sebelumnya tertunduk, otomatis mampu melihat dengan jelas bahwa kedua telapak tangannya kini tengah tertangkup dalam genggaman telapak tangan lain yang lebih kuat.
Lebih besar dari tangannya yang mungil.
Dan lebih hangat.
Perlahan, Nesia menelusuri telapak tangan yang kini tengah mengenggam telapak tangannya dengan lembut. Pandangan mata hitam kecoklatannya berangsur-angsur bergerak ke atas; telapak tangan, pergelangan, lipatan tangan, bahu, leher…
Dan sampailah ia pada dua buah tatapan emerald yang begitu dalam.
"Antonio…," Nesia bahkan tak ingat bahwa Carriedo adalah panggilan untuk pemuda itu yang selalu ia berikan sebelumnya.
"S-Saraswati…."
Meski demikian, Nesia mampu menangkap keraguan dalam nada kalimat itu. Bahkan kedua emerald itu bergetar; beberapa kali terlempat ke kiri dan ke kanan, seperti mencari-cari sesuatu yang bisa ia jadikan kalimat untuk terucapkan.
"S-Saraswati…," ulang Antonio, bersamaan dengan genggaman tangannya yang semakin erat Nesia rasakan.
Mereka berdua berdiri berdekatan.
Cukup dekat hingga membuat Nesia merasa tidak nyaman.
Awkwardly awkward…
Meneguk ludah dan memejamkan mata sejenak, Antonio berucap lirih sembari menatap kedua mata Nesia dengan dalam. Membalas tatapan terkejut gadis itu dengan pandangan yang entah bagaimana, sangat terasa dan terlihat menenangkan.
"Aku mencintaimu, Saraswati."
Dan itu cukup membuat jantung Nesia seolah terledakkan dari dalam.
Ini hanya sandiwara, kan? Jikapun iya, mengapa Antonio mau-mau saja menuruti desakan Kirkland dan para senior bodoh itu…
Perlahan, sebelah tangan Antonio melepas telapak tangan Nesia untuk bergerak ke atas dan menyamankan dirinya di sebelah pipi gadis itu.
"Kebanggaan Caesar karena bisa menaklukkan Cleopatra, tidak bisa mengalahkan kebanggaanku untuk menjadi satu-satunya lelaki yang ada di hatimu." (1)
I-ini salah….
Antonio…
I-ini salah.
Tidak seharusnya kau…
Tidak seharusnya sejauh ini!
Antonio mendekatkan dirinya pada Nesia, semakin jempolnya yang berada di pipi gadis itu, mengelus pelan permukaan kulit yang halus itu, "Sungguh."
Dan entah kenapa, Nesia merasa bahwa dirinya terjebak di antara realita dan sandiwara. Dirinya tidak tahu lagi.. tidak mengerti lagi apa yang harus ia pikirkan dan katakan. Sungguh ia tahu bahwa ini semua bohong, tidak benar, tidak nyata.
Tetapi… Antonio…
Senyum itu… sentuhan itu… pandangan itu… kalimat-kalimat manis itu…
Membuat perlahan, Nesia merasakan suhu tubuhnya memanas. Membuat detak jantungnya kian menggila. Bahkan ia bisa merasakan telapak tangannya kehilangan kehangatan yang ditawarkan telapak tangan Antonio sebelumnya; kini telapak tangan itu dingin.
Ini semua sungguh kejam.
Sungguh.
"Aku tidak akan mengucapkan sesuatu karena terpaksa. Jadi, percayalah."
Dan Nesia memilih untuk tuli pada apapun di sekitarnya. Ha! Bahkan dia memilih untuk tidak mengakui eksistensi apapun yang ada di sekeliling mereka.
Begitu Antonio memutuskan untuk menempelkan dahi mereka satu sama lain, begitu pemuda itu memilih untuk memperdalam dan memperlembut tatapannya pada gadis di depannya…
… Nesia merasa dirinya tersedot tak berdaya dalam hisapan pandangan emerald yang seolah mampu membaca seluruh isi benak dan jiwanya.
"Aku percaya," kalimat pertama yang Nesia ucapkan sejak ia membuka mata dari keadaan tertekannya tadi, justru merupakan kalimat yang ia rasakan terucap dengan begitu mudahnya dari pangkal lidahnya.
Begitu mudah seperti saat ia berkomentar mengenai cuaca.
Dan Nesia tak mau berpikir apa-apa lagi. Ia tak mau terbelit dalam asumsi-asumsinya sendiri. Ia ingin berada di sini. Menghadapi apa yang kini tengah ia punyai.
Matanya masih beradu pandang dengan bola emerald Antonio.
Pipinya masih memanas oleh usapan lembut jempol kanan pemuda yang sama.
Nafasnya tercekat di tenggorokan, seolah-olah takut bahwa hanya dengan satu suara hembusan nafas, maka semua ini akan buyar.
Perasaan apa ini entah Nesia tidak tahu.
Tidak mengerti.
Yang ia tahu adalah bahwa ia perlahan memejamkan kedua matanya saat perlahan Antonio melakukan hal yang sama sembari sedikit memiringkan kepalanya.
Tak ada MOS.
Tak ada Komite Disiplin.
Tak ada Kirkland.
Tak ada murid baru.
Kosong…
Ini semua bukanlah–
"BERHENTI SAMPAI DI SITU!"
–sandiwara.
Setidaknya sampai pemuda beralis tebal itu berteriak lantang dengan pengeras suara di tangannya, sebelum Nesia benar-benar merasakan apa yang orang bilang sebagai euforia ciuman pertama.
.:oOo:.
(1)Andai ada cowok yang ngomong gitu padaku~~ #peluk2 Spain #galau
Next chapter:
"Hitunganmu salah! Carriedo bernomor delapan, kau harusnya kan sembilan!"
"Tapi Senpai–."
.
"Senpai tidak adil. Kenapa Saraswati dijadikan objek bullying di sini?"
.
"Anak baru... Sok mau jadi pahlawan? Atau kau sebenarnya naksir Saraswati, ya? Gak malu kau membela gadis di depan cowoknya sendiri, yakni Carriedo?"
.
"Kelompok delapan dipimpin oleh Senior Arthur Kirkland dalam Wawasan Wiyata Mandala kali ini."
,
"Aku… Seharusnya tak boleh seperti ini, kan…?"
to be continued
Pojok Repiu. Monggo~~
Pendek bgt / iya, yang kemarin itu masih prolog. Sekarang udah lumayan panjang kan chapternya? =D / JapNes,USUK,SpaMano,RoChu? / Errrr... Ini kayaknya lebih ke straight pairing, ya? =3 Tapi kalau absurd hint sih mungkin~~ *plak / Spainxfem!Indo! / Yeah! Meski saya yakinkan bahwa main pairingnya ga itu doang sih... :P *plak / UKNes-kah? / Well... =D menurutmu enaknya gimana? *dilempar ingus / Ketua Komite yg marah2 terus tuh si Arthur? / Now you know the answer =D / NetherxNesia? / Possibly ;D / SpainxNesiaxRomano? / Possibly ;D *disiram bensin / rate M? / Well... Tidak se-rate M itu juga sih ^^a / Koreksi, napas, bukan nafas / Roger that, Boss! ('^')d
Saran ide / plot? Boleh :D
Review/konkrit/saran/dukungan/pujian *plak* sangat dibutuhkan.
Terimakasih atas semuanya.
Takk. Viva La FHI
-d.i.s.-
