Chapter warning: LONG, LONG words ( 5k words sumpah gila!). Please bear with It, I've warned you~~ :D
Seperti halnya dengan gadis remaja pada umumnya, melihat sebuah drama adalah hal yang seolah menjadi prioritas dan kewajiban yang harus dilakukan setiap hari. Entah itu di televisi, di novel-novel, atau bahkan, langsung secara live dan actually di depan mata sendiri. Kebanyakan remaja wanita akan langsung menangkup tangan di depan dada dan berteriak "Kyaaaa! Manisnya~~~" jika melihat adegan romantis atau sweet, tetapi akan langsung mengotori lantai dengan lembaran-lembaran tisu berbekas air mata dan ingus jika merasa melihat adegan yang mengharukan atau menyedihkan.
Annesia Saraswati bukan pengecualian.
Setiap senin sampai Jumat adalah hari di mana sore hari, sofa di ruang tamu apartemennya akan terduduki olehnya hingga beberapa jam ke depan. Bersama dengan cemilan (jika ada), maka selama satu jam pertama ke depan, ia akan sibuk mengomentari betapa menyedihkannya nasib tokoh protagonist wanita dan akan mengutuk-kutuk kelicikan si antagonis wanita pula. Oh ya, tidak lupa dengan rutinitas fansgirling terhadap aktor tampan yang jika tersenyum, menurut Nesia akan mampu membuat melting bahkan hati seorang Lesbian.
Bukan berarti Nesia lesbian –Oh, jika demikian, harus ditaruh manakah Zac Efron dan Jung Yong Hwa?
Itu hanya perumpaan absurd darinya.
Dan setelah drama impor dari Negeri ginseng tersebut tamat, maka ia tidak akan beranjak dari kursi dan akan menikmati drama remaja bersetting high-school. Ini lebih seru lagi. Meski ceritanya juga begitu-begitu saja; muter saja dari cinta segi banyak, lalu persahabatan terancam putus, lalu baikan lagi, dan taraaaa… happy ending. Tetapi tetap saja, Nesia suka melihatnya.
Kesannya seru. Lucu. Dan penuh dengan konflik, tetapi semua pasti akan berakhir bahagia.
Dan setiap melihat drama seperti itu, Nesia yang waktu itu masih SMP, selalu mengandaikan diri bahwa dirinya termasuk dalam salah seorang di drama itu. Jadi si antagonis tak apalah. Ah, jadi figuran yang ke-shoot bayangannya aja juga gak papa.
Alasannya sih simpel. Nesia pemuja pepatah yang mengatakan bahwa "Masa SMA adalah masa yang indah" dan memberimu banyak kenangan manis.
Senior yang baik hati, tampan, populer dan menyukaimu. Sahabat-sahabat yang cantik, baik, dan setia padamu. Dan rival licik, centil, jahat dan akan menjadi pihak yang justru paling mengenaskan di akhir cerita.
Well, itulah yang Nesia pikirkan dan yakini.
Sebelum ia secara resmi diterima menjadi salah satu murid baru di Hetalia High School dan menjalani hari pertama dari tiga hari masa orientasi murid baru.
"BERHENTI SAMPAI DI SITU!"
Dengan teriakan tiba-tiba tersebut, Nesia seolah tertampar dan terdampar kembali ke alam sadar.
Dan ini adalah realita. Dunia imajinasi 'drama remaja ala SMA' seolah buyar bagai PKL yang terkena operasi satpol PP.
Dan tentu saja, dirinya bukan Go Ye Mi, dan cowok di depannya ini bukanlah Song Sam Dong.
Sayang sekali, Nona.
Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya
I just own the plot of the story and I don't make money from it.
Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.
Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D
Maju FHI!
Happy reading
Tentu saja, mendengar teriakan super kuat dari Arthur Kirkland (karena teriakan itu pun berlangsung di tengah suasana yang sepi bak kuburan), Nesia tidak serta merta membuka mata. Kedua matanya yang sebelumnya terpejam rileks, menjadi terpejam erat karena terkejut. Oh, tambah dengan beberapa kali kedutan yang tampak di ujung mata kirinya. Perasaannya yang sebelumnya terombang-ambing antara bingung dan pasrah, antara ragu dan penasaran, kini sempurna tergantikan oleh rasa dongkol yang mendewa.
Tenang, Nesia. Bukan hanya kamu yang merasakannya. Namun empat ratus lebih orang yang ada di taman pagi itu juga tengah menyumpah-nyumpahi Kirkland dalam hati mereka akibat terancam serangan jantung dadakan. PLUS, drama mereka terganggu oleh commercial break yang menurut salah satu anggota Komite Disiplin lainnya, sangat tidak awesome.
"Apa lagi mau dia…" desis Nesia dengan kedua tangan yang mengepal dan mata masih memejam, seolah memohon agar Tuhan memberinya kesabaran yang terbesar di lima belas tahun ia hidup di dunia ini.
Membuka mata, rasanya Nesia ingin mencari-cari mukanya di tong sampah ketika ia merasakan seolah ia tidak memiliki deskripsi fisik yang disebut muka, yang mampu ia gunakan untuk menatap pemilik dari dua pasang kaki berbalut kain merah kotak-kotak yang tengah ditatapnya.
Ia tidak tahu, dan tidak punya muka untuk mencari tahu, bagaimana ekspresi dan perasaan Antonio F Carriedo mengenai apa yang baru saja mereka lakukan.
Apa yang baru saja, O Tuhan, nyariiiiiiiiiiiissssss mereka lakukan.
Merasa hopeless, Nesia hanya menatap kedua pasang sepatu mengkilat Antonio dengan seksama sembari kedua tangannya yang tetap mengepal seolah akan terhantamkan pada dua buah sepatu bermerk ternama tersebut.
Habisnya, apalagi?
Ia sudah terlanjur malu dan terlanjur merasa konyol dan absurd.
"Well, Well, Well, siapa yang menyangka jika kalian terlihat begitu menghayati peran kalian, eh?"
Nyut.
Kepala Nesia seolah migrain seketika mendengar kembali suara tersebut. Tidak sudi untuk menoleh, Nesia masih menatap ke arah sepatu Antonio.
Dan oh, tentu saja mereka masih berdiri berdekatan. Tentu saja pula, sebelah tangan Antonio telah luruh dari pipi Nesia berikut dengan jarak mereka yang agak terkurangi. Terima kasih pada Nesia yang secara refleks mundur selangkah begitu ia 'tertampar' oleh teriakan Kirkland tadi.
"Manis sekali~~" terdengar suara anggota perempuan Komite Disiplin, sembari kedua matanya yang hijau menatap berbinar ke arah Antonio dan Nesia.
"Payah. Rayuan pasaran macam apa itu? Tidak awesome sama sekali," ah, senior yang disana malah menjulurkan lidahnya sembari membalik jempol kirinya.
"Diam kau! Mengerti apa kau dengan romansa jika kau saja pacaran tidak pernah!"
"Apa? Sini kau kusobek mulut tidak awesome-mu!"
"DIAM!" Suara yang Nesia kenali sebagai suara Ketua Komite Disiplin, kembali terdengar, "Beri kesempatan bagi Kirkland untuk melanjutkan acara yang menjadi pertanggungjawabannya ini! Senior Beilschmidt dan Senior Herdevary, harap nanti bertemu denganku di ruangan Komite sehabis acara MOS hari ini selesai."
Dan Nesia sempat sweat dropped.
Itu apa-apan, deh. Katanya penuh kharisma, berwibawa, dan menjadi panutan. Tapi kok saling adu teriak begitu di depan murid baru.
Keadaan kembali tenang –simpan untuk beberapa bisikan-bisikan kecil yang tersisa di sana-sini. Entah itu untuk mengomentari Nesia dan Antonio, atau mengomentari perang antar senior barusan, atau bahkan, mengomentari kemirisan si senior Beilschmidt yang belum pernah sekalipun mendapat pacar.
Untuk para gadis murid baru, mungkin akan menjadi tantangan tersendiri untuk menjadi Nyonya Beilschmidt yang pertama.
"Well, maaf atas kekacauan yang baru saja terjadi," kembali suara Kirkland terdengar. Membuat tawa nista Nesia dalam hati untuk si Beilschmidt tergantikan oleh kedongkolan super dewa terhadap lelaki yang kini berdiri di atas bangku gazebo dengan sebuah pengeras suara di tangan kanannya.
"Aku tidak pernah menyangka jika kalian begitu menghayatinya, Carriedo dan Saraswati," ucap Arthur dengan santainya, "Siapa yang menyangka, jika saja tidak kuhentikan, mungkin kalian akan benar-benar berciuman."
"Huuuuu~~"
"Payah!"
"Come on, justru itu yang kami tunggu dari tadi!"
"Sebagai Ketua OSIS Hetalia High," Arthur segera kembali berteriak untuk meredam segala hujatan yang tertujukan padanya, baik dari murid baru atau dari sesama anggota Komite, "Aku tidak ingin jika adegan mesum seperti itu dipertontonkan di depan umum."
Sebelah mata Nesia berkedut keki.
Mesum? Mesum katanya?
SIAPA YANG AWALNYA MENYURUH KAMI UNTUK BERBUAT MESUM, SETAAANNNN?
O Tuhan, mengapa Kirkland pandai sekali dalam membuat kambing putih menjadi kambing hitam dengan kata-katanya?
"Itu tidak pantas. Ini sekolah, dan itu tidak saja melanggar norma dan nilai asusila, tetapi juga aturan MOS yang menyatakan bahwa tidak boleh seorang laki-laki dan wanita berbuat sesuatu yang provokatif di depan publik."
Dan barulah Nesia memberanikan diri menggerakkan kepalanya untuk menoleh ke arah samping.
Begitu ia menoleh, ia langsung memberikan tatapan paling mengerikan dan paling tajam semampu kedua matanya berikan dan otaknya pikirkan.
Dan rasa dongkol itu semakin menguat saat Kirkland membalas tatapannya dan memberinya seringai yang sungguh, membuatnya ingin merobek mulut itu jika saja negara ini tidak dilindungi oleh hukum.
"Karenanya, maka kalian, Carriedo dan Saraswati, akan diwajibkan menjalankan hukuman tertentu sebagai konsekuensi dari pelanggaran yang kalian lakukan. Dan harap melaksanakan hal ini dengan penuh integritas dan tanggungjawab," lanjut Kirkland sembari menatap langsung ke kedua bola hitam kecoklatan Nesia. Tentu saja, jangan tinggalkan seringaian yang menurut Nesia akan membuatnya trauma dalam setidaknya sewindu ke depan.
"Hypocrite," desis Nesia saat menyadari bahwa ia baru saja dijebak oleh Kirkland untuk terjerumus dalam pelanggaran salah satu aturan MOS.
Damn her luck, Kirkland berhasil seribu persen. Menuduh Antonio dan Nesia berpacaran, menyuruh mereka melakukan adegan 'mesra' di depan umum, dan kini apa? Menuduh mereka telah melakukan pelanggaran terhadap aturan MOS?
Be real!
"Silahkan bergabung ke barisan, Nyonya dan Tuan Carriedo," Kirkland menunjuk barisan dengan sopan, "Terimakasih atas intermezzo yang sangat menarik barusan. Dan oh–," Kirkland menunjuk Nesia dan Antonio, "Drama sudah selesai. Kalian bisa melepaskan genggaman tangan kalian masing-masing."
.
.
Apa?
Sontak Nesia menunduk.
.
.
Dan entah mengapa udara terasa kembali menghangat saat ia, dengan bodohnya, baru menyadari bahwa ia masih menggenggam sebelah telapak tangan Antonio dengan erat.
Dan mengapa Antonio tidak segera menyadarkannya?
"Ma-maaf," bagai copet yang kepergok hendak mengambil dompet orang, Nesia segera melepaskan tangan Antonio dan menggumamkan kata penyesalan. Tidak sanggup menatap kedua mata emerald yang kini menatapnya dengan pandangan geli sembari sebuah senyum terlukis di bibir.
"Tak apa Saraswati. Ini semua bukan salahmu."
Kenapa Antonio harus begitu apatis? Namun di saat yang sama, kenapa dalam beberapa menit saja ia mampu membuat Nesia berkali-kali menunduk menatap tanah berumput untuk menghindar dari pancaran sang emerald?
Mungkin karena dia terlalu baik dan polos, jadi dia bisa membuat siapapun segan dan tersanjung.
Ya, ya.
Pasti itu.
Hanya segan. Hanya tersanjung.
-oOo-
"Bagian dari rangkaian acara MOS setelah ini adalah Wawasan Wiyata Mandala. Kalian, para murid baru, akan dibentuk beberapa kelompok di mana setiap kelompok akan mendapat satu dari para anggota Komite Disiplin sebagai pemandu dalam acara kali ini. Tujuan dari acara kali ini sendiri agar kalian mampu mengenal lebih baik sekolah tercinta kita ini dari segi fisik; fungsi, fasilitas, aturan dari setiap tempat yang akan kalian kunjungi. Selain itu…."
Mengapa? Mengapa? Mengapa?
Alih-alih mendengarkan petunjuk dan arahan dari Ketua Komite Disiplin mengenai rangkaian kegiatan MOS yang akan dilakukan, Nesia sibuk memelototi sekuntum bunga lili yang tumbuh mekar cantik di permukaan kolam taman di tengah sana.
Pertanyaan mengapa, mengapa, dan mengapa adalah yang berulang kali tertanyakan di hatinya bagai ulangan kaset rusak; hanya terulang tanpa mampu mendapat jawaban.
Mengapa ia mendapat nasib sial sekali bahkan di hari pertama MOS? Mengapa Kirkland begitu kejam dan licik sekali? Mengapa Antonio tidak bisa menjadi (lebih) keren sedikit dengan berani berontak dan menyelamatkan tak hanya harga diri Nesia, namun harga dirinya sendiri juga? Dan mengapa, oh, mengapa hidupnya tak bisa sesimpel Putri Tidur saja?
Tiduuuurrr saja dan pas bangun tahu-tahu sudah dilamar pangeran tampan.
"…lompok nanti, bersama dengan senior pemandu kalian, akan berkeliling Hetalia High, dari gedung A hingga gedung C, mengunjungi tempat sebanyak mungkin dan memperoleh wawasan sedalam mungkin dalam batas waktu yang ditentukan, dua jam tiga puluh menit…."
Menyebalkan. Absurd. Konyol sekali.
Bahkan berani sekali si alis itu menjebak Nesia dan Antonio untuk berbuat hal yang, menurutnya, mesum di depan publik dan membuat mereka berdua harus menanggung hukuman lain yang Nesia yakin, tak kalah absurd dan beratnya dari apa yang telah mereka jalani.
Hey, dia pikir Nesia mau berakting bagai Rama dan Sinta di depan ratusan pasang mata seperti tadi?
Mikir dong!
Begitulah kiranya isi batin Nesia jika saja bisa terteriakkan di depan muka Arthur Kirkland.
"…mbentukan kelompok dengan cara masing-masing dari kalian berhitung. Hitungan pertama mulai dari barisan ujung timur, ya, kau yang berambut ikal. Berhitung urut hingga lima belas, karena kelompok yang akan terbentuk juga berjumlah lima belas. Setelah lima belas, maka hitungan kembali lagi ke angka satu. Mengerti?"
Tidak pernah Nesia merasa sekesal ini. Jika ada orang yang mengatakannya lebay, maka ia akan mengacungkan jari tengah pada orang itu.
Carilah mesin penukar jiwa dan gantikan sementara tubuh Nesia jika ingin mengetahui jawabannya.
Huh, MOS macam apa yang penuh tindakan bullying begini. Well, meski tidak bisa dibilang 'penuh' karena pem-bully-an itu sendiri hanya dilakukan Kirkland dan hanya terhadap dua orang murid baru,
Tapi tetap saja disebut penindasan!
"…telah itu, kalian berkumpul dengan anggota kelompok kalian yang memiliki angka hitungan yang sama. Jadi, setidaknya ingatlah para siswa yang bernomor satu sampai lima belas pertama. Dengan demikian kalian setidaknya telah mengetahui salah satu anggota kelompok kalian; tentu saja setelah kalian mengetahui berapa nomor kalian. Dengan demikian, tidak terjadi keributan terlalu besar saat pencarian anggota kelompok sehabis ini. Kalian paham?"
Dan Nesia yakin bahwa dirinya tidak akan bisa lolos semudah itu jika sudah menjadi incaran bullying salah seorang senior. Mengapa Nesia begitu yakin? Well, setidaknya di kebanyakan drama yang ia tonton memang begitu, kok!
Dan ia tidak mau masa tiga tahunnya di SMA akan menjadi masa tiga tahun di neraka –oh, tidak. Mungkin satu tahun dari tiga tahun masa SMA nya adalah bagai di neraka. Well, Nesia harap Kirkland sudah mencapai tingkat tiga dan sebentar lagi akan menerima ijazah dan, bye eyebrows!
Nesia hanya kesal.
Sangat kesal dengan semua ini. Sungguh.
"Enam."
"Tujuh."
"Delapan."
Ngomong-ngomong soal kesal…
Pelototan Nesia terhadap lily merah mudah yang tidak bersalah itu teralihkan ke arah samping.
'Aku sangat penasaran pada cowok ini,' pikir Nesia sembari menatap wajah Antonio yang menghadap ke arah kiri, melihat satu persatu dari murid yang tengah mengucapkan nomor urut secara bergantian, 'Hatinya memang terlalu baik hingga tidak merasa kesal atau memang dia pandai menyembunyikan perasaan?'
"Tiga belas."
"Empat belas."
"Lima belas."
"Satu."
Habisnya, dari semenjak mereka berdua kena sial, kenapa hanya Nesia saja yang mengoceh ribut layaknya burung beo? Jika dipikir-pikir, Nesia juga sedikit merasa kesal pada pemuda berkulit putih kecoklatan tersebut. Kenapa dia bisa tenang sekali.
Dan sangat kesal ketika berkali-kali, pemuda itu hanya menyunggingkan senyum cerah layaknya mentari meskipun harga dirinya dinistakan berkali-kali.
Dan juga…. Yang paling mengherankan, mengapa dia tadi… menuruti ucapan Kirkland dengan begitu mudahnya? Mengapa dia tadi mau saja maju ke tengah lapangan? Mengapa dia mau saja menuruti perintah senior sinting tersebut?
Padahal Antonio kan juga tahu bahwa tuduhan Kirkland tidak benar! Hell, bahkan Antonio dan Nesia saja baru kenal. Itupun karena sama-sama kebetulan dihukum oleh Kirkland!
Mengapa dia tersenyum pada Nesia? Mengapa dia mampu berucap demikian lembutnya? Mengapa dia mau berdiri begitu dekat dengan Nesia? Dan mengapa, mengapa tadi dia bisa membuat mereka berdua nyaris saja ber–
"Eh?" gumam Nesia terkejut saat menyadari bahwa Antonio tiba-tiba menoleh padanya. Pandangan matanya yang berwarna sehijau batu emerald, kini kembali bertubrukan dengan kedua bola hitam kecoklatan Nesia yang tampak sedikit menggetar karena kaget.
Tampak Antonio tersenyum patah sekaligus memberi Nesia tatapan putus asa.
Nesia hanya mengangakan sedikit mulutnya sembari sedikit menaikkan kedua alisnya. Secara tak lisan bertanya 'apa?' pada pemuda di sampingnya.
"Saraswati…," gumam Antonio dengan tertahan. Senyumnya masih tampak beserta pandangannya yang masih tertuju ke arahnya.
Mendengar Antonio mengucapkan nama belakangnya sedemikian rupa, Nesia seolah kembali merasakan hangatnya musim semi di kedua pipinya. Apalagi melihat senyum secerah mentari di musim panas itu.
"Hitunganmu," gumam Antonio kembali, separuh berbisik.
Eh?
"Apa?"
"Hitungan!" bisik Antonio lebih keras.
"Hitungan apa?" balas Nesia berbisik.
"Ehem!"
Otomatis pandangan Nesia teralihkan dari Antonio dan menoleh ke sumber suara yang baru saja berdehem. Di depannya tahu-tahu berdiri Ketua Komite Disiplin. Dari dekat sini, barulah Nesia mampu melihat name tag yang terpasang di jas biru muda khas kelompok Komite Disiplin.
Vash Zwingli.
Dalam hati Nesia ingin berucap syukur pada nasib baiknya yang membuatnya hari ini seolah menjadi langganan bentakan dan hukuman para Komite Disiplin.
Entah kesalahan apalagi yang kini dituduhkan padanya.
"Maksud dari pacarmu, Nona, bahwa sekarang adalah giliranmu mengucapkan angka hitungan untuk pembentukan kelompok dalam acara yang akan berlangsung selanjutnya."
'Acara apa?'
Nesia hanya memandang heran Ketua Komite berambut pirang sepangkal leher itu; begitu heran hingga ia mengacuhkan penggunaan kata 'pacarmu' yang digunakan Zwingli untuk merefersikan Antonio. Dan akan benar-benar mengucapkan pertanyaan yang baru saja terlontar di hatinya barusan jika ia tidak segera menggigit lidahnya sendiri. Karena jika demikian, pasti ia akan dinilai semakin bersalah dengan tidak memerhatikan dan tidak fokus.
Well, memang itu benar. Tetapi setidaknya Nesia ingin melindungi diri dari jeratan hukuman lebih. Hukuman dari Kirkland saja masih menunggu, ia tidak mau hukuman dari Ketua Komite (yang Nesia pikir lebih sadis dari Kirkland) akan menunggunya pula.
"Ada ide angka berapa yang harus kau sebutkan?"
.
.
Ini lebih sulit dari Ujian Nasional.
Lebih sulit lagi ketika penyaji pertanyaan tersebut memiliki muka yang lebih kusut dari kertas contekan dan lebih asam dari susu basi sekalipun.
.
.
Dan bagai tengah menunggu keputusan Hakim Ketua terkait terpidana kasus terorisme internasional, semua pasang mata di lapangan mengawasi dan menatap Nesia dengan begitu intensnya.
Tetapi apa yang harus Nesia jawab?
"Well?" Zwingli semakin memojokkan mental Nesia dengan pertanyaan 'well'-nya tersebut. Pantas saja dia menjadi Ketua Komite Disiplin jika ekspresinya seolah terus berucap 'bantah aku atau shotgun-kun yang akan berbicara' seperti itu.
"Hm, sepertinya dia tidak bisa menjawabnya, Ketua."
Sret!
Seolah otomatis, begitu telinga Nesia menerima gelombang suara yang dipancarkan oleh pita suara Kirkland, kedua mata Nesia langsung menatap dua pasang emerald yang kini menatapnya dengan tatapan penuh seringai.
"Bahkan aku tidak yakin jika dia tahu hitungan apa dan untuk apa semua ini."
Damn him! And.. And…. –Oh, but he is so goddamn true!
Nesia memang tak punya ide sama sekali mengenai apa yang tengah terjadi.
"Coba kau sebut saja angka berapa yang seharusnya menjadi giliranmu," perintah kembali Zwingli, tanpa sekalipun menoleh pada Kirkland yang kini berdiri di sampingnya menghadap Nesia.
Angka? Angka apa?
Nesia tidak tahu. Ingin ia bertanya pada Antonio, namun itu tidak mungkin karena ada dua Komite yang kini mengawasinya dari jarak dekat. Jangankan melihat Nesia menggerakkan kepala dan menoleh untuk bertanya pada siapapun, Zwingli dan Kirkland bahkan mampu melihat titik-titik keringat dingin yang mulai muncul di dahinya.
Apa yang harus Nesia lakukan?
"Ehem!"
Dehaman tersebut Nesia yakin berasal dari arah samping kanannya pas. Ia melirik dan melihat bahwa seorang murid baru laki-laki, yang berdiri persis di sebelahnya, tengah menutup pelan mulutnya (seolah ia baru saja terbatuk) dengan telapak tangan kirinya.
Karena tangan kiri anak lelaki itu terangkat untuk menutup mulutnya, maka lengan jasnya agak tersingkap dan Nesia mampu melihat sebuah jam berwarna silver dengan merk yang cukup ternama.
'Bagusnya~' masih sempat saja Nesia berfangirling ria, sebelum ia menangkap sorot pandangan emerald anak itu yang menatap Nesia secara tajam, lalu menatap jam tangannya sendiri.
Sebuah isyarat dan clue.
Dan puji Dewi Fortuna yang baik hati, Nesia dapat dengan mudah menangkap maksudnya.
"Hitunganku adalah nomor sepuluh!" dengan tegas Nesia berucap sembari memandang Zwingli dan Kirkland secara bergantian.
'Kumohon, kumohon, semoga saja ini benar' batin Nesia cemas. Jika benar, nanti ia harus berterimakasih pada pemuda di sampingnya ini. Namun jika ternyata pemuda itu sama saja dengan Kirkland dan berniat menjahili Nesia, hanya satu yang bisa Nesia janjikan.
'Awas saja!'
"Hitunganmu salah!"
Bentakan keras dari Kirkland itu sontak membuyarkan harapan Nesia.
Salah?
"Hitunganmu salah! Carriedo bernomor delapan, kau harusnya kan sembilan!" Kirkland, dengan begitu semangatnya, menunjuk-nunjuk ujung hidung Nesia, "Sekarang ketahuan, kan, bahwa kau sama sekali tidak memerhatikan ucapan Ketua dan tidak memerhatikan hitungan temanmu. Sibuk apa? Tidur?"
Ya Tuhan… Mengapa Nesia selalu salah? Dan mengapa yang menyalahkannya selalu orang beralis setebal hutan Amazon ini?
'What now?' batin Nesia putus asa.
Ia tidak memiliki alibi apapun untuk menghindar. Ia memang melamun, kok, tadi. Karena itulah ia tidak punya ide sama sekali akan apa yang tengah terjadi. Well, tapi salah siapa yang membuat Nesia begitu distracted seperti ini?
Jadi Nesia sama sekali tak tahu harus membela dirinya bagaimana lagi. Karena, bagaimana jika Kirkland benar bahwa hitungan Nesia sama sekali salah?
"Senpai tahu bahwa hitungan Annesia tidak salah."
Nesia pikir itu adalah suara dari Antonio yang, puji Tuhan, pada akhirnya memiliki keberanian dan nyali bahkan niat untuk membelanya. Tetapi saat menyadari bahwa suara Antonio berbeda dengan suara yang baru saja didengarnya, Nesia sadar bahwa pemuda berkulit putih kecoklatan itu masih terdiam di sampingnya.
Lagipula, Antonio tidak memanggil Nesia dengan nama depannya, kan?
Tetapi justru dari pemuda 'berjamtangan silver bermerk terkenal yang keren' itulah suara tadi berasal.
"Aku mendengar sendiri bahwa Carriedo tadi menyebut angka sembilan, dan seharusnya, bukankah Nesia bernomor sepuluh?"
Saat Nesia benar-benar memberi perhatian pada dua bola yang tadi sempat sekilas dilihatnya, Nesia menjadi menanyakan pertanda apakah di balik banyaknya warna emerald yang menghiasi bola mata orang-orang yang baru dikenalnya.
Suara yang mantap, ekspresi tegas, dan tatapan yang penuh nyali diberikan pemuda itu pada dua orang senior di depan, membuat Nesia seolah melihat salah satu tokoh favorit protagonis di novel kesukaannya, hadir dalam bentuk nyata.
"Siapa yang meminta pendapatmu…" Kirkland membaca sekilas name tag yang ada di jas biru tua pemuda berambut coklat tua tersebut, "… Lovino Vargas, eh?"
-oOo-
"Siapa yang meminta pendapatmu…" Kirkland membaca sekilas name tag yang ada di jas biru tua pemuda berambut coklat tua tersebut, "… Lovino Vargas, eh?"
Entah mengapa kini semua perhatian menjadi teralihkan hanya pada mereka berdua. Bahkan Nesia yang awalnya menjadi pusat perhatian dan tuduhan, kini teracuhkan.
Dalam hati, Nesia sangat bersyukur dan berterimakasih pada Vargas. Meski Nesia penasaran mengapa pemuda itu bersedia membantunya, tetapi tetap saja Nesia bersyukur daripada ia harus menanggung beban hukuman dan mental yang lebih hina dari ini semua.
"Tidak ada. Aku hanya ingin mengucapkan kebenaran," jawab tegas Vargas tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan dari tatapan tajam Kirkland, "Tanya saja pada semua yang memiliki telinga, ingatan bagus, dan niat tulus, mengenai berapa nomor yang telah disebutkan Carriedo."
.
.
Nesia rasanya ingin berteriak "HELL YEAH" sembari mengacuhkan tinjunya ke udara ketika Arthur Kirkland terdiam, tanpa memberi apapun sebagai balasan ucapan Vargas. Meski Nesia masih belum mengetahui siapa yang benar, tetapi rasa bencinya terhadap Kirkland dan rasa sukanya terhadap jam tanga –ehem! Keberanian Vargas, membuat gadis itu otomatis mendukung savior dadakannya tersebut.
"… Baiklah. Jika kau ingin membuktikan…," desis Kirkland tajam pada akhirnya.
Dengan langkah cepat bagai harimau luka, Kirkland berbalik dan berjalan cepat menuju ujung barisan, tanpa menghiraukan tatapan heran dan 'Jangan nekat!' yang diberikan oleh sesama anggota Komite Disiplin.
"Terimakasih," gumam Nesia lirih sembari menatap dua buah emerald Lovino, di mana ucapan syukurnya tersebut hanya dibalas oleh gumaman tak jelas dari pemuda tersebut.
"Kau! Cepat ulang hitunganmu dari awal!"
Nesia menoleh dan melihat Arthur sudah berada di ujung barisan. Sembari menghardik dan menunjuk hidung laki-laki berambut ikal sebahu, Arthur memerintahkan agar semua hitungan dimulai dari awal.
"Satu!"
"Dua!"
Semua kembali lagi dari awal. Kali ini Nesia benar-benar memerhatikan jika tidak mau kembali menjadi objek hardikan plus menjadikan pembelaan Vargas berakhir sia-sia. Dengan cermat ia perhatikan satu-satu persatu murid yang mengucapkan nomor hitungan.
"Lima belas!"
"Satu!"
"Dua!"
Semakin dekat ke arah Antonio.
"Empat!"
"Lima!"
Semakin dekat ke arahnya.
"Enam!"
Apa?
Mata Nesia membelalak lebar, begitu pula dengan sedikit terbukanya mulutnya.
"Tujuh!"
Kepalanya menoleh, dan lagi-lagi, harus bertatapan dengan seringai Kirkland.
"…. Delapan?" ucap Antonio, separuh pernyataan dan separuh pertanyaan.
Nesia rasanya mendengar petir di siang bolong.
Tanpa gadis tahu bahwa sebagian besar manusia yang ada di sana juga merasakan hal demikian.
Jika memang Lovino Vargas menyatakan kebenaran, maka kenapa Antonio…. Di mana satu orang lagi yang seharusnya ada untuk membuat Nesia bernomor sepuluh?
Siaaaalllll!
"Nah, berapa hitunganmu, Nona manis?" ucap Kirkland, berjalan mendekati Nesia dengan kedua tangan termasukkan dalam saku celana dan tersenyum lebar, "Sejak kapan setelah angka delapan adalah angka sepuluh?"
"CUKUP!"
Belum sempat Nesia menjawab, gadis itu harus menelan kembali segala protesnya ketika telinganya mendengar suara tersebut. Menoleh, ia mendapati Lovino Vargas menatap geram ke arah Arthur.
"Cukup! Senpai tidak adil. Kenapa Annesia dijadikan objek bullying di sini?"
Tak hanya Nesia dan Arthur saja yang terkaget dan sedikit mengangakan mulutnya mendengar kalimat defensif dari Lovino, tetapi Zwingli, Carriedo, dan bahkan sebagian besar manusia yang berada di sana juga demikian responnya.
Lovino Vargas…
Siapa dia dan… mengapa? Pikir Nesia.
"Kenapa?" tanya Arthur dengan senyum patah, "Kau tidak terima jika omonganmu tidak terbukti?"
"Semua tahu bahwa pernyataanku benar dan Annesia tidak bersalah. Kenapa Senpai suka sekali memojokkannya sedari tadi?"
"Ah!" Arthur mengangguk-angguk seolah memahami sesuatu, "Anak baru... Sok mau jadi pahlawan? Atau kau sebenarnya naksir Saraswati, ya? Gak malu kau membela gadis di depan cowoknya sendiri, yakni Carriedo?"
"Apa–"
"Kau bahkan berani menyangkal kebenaran omongan Senior?"
"SUDAH HENTIKAN KALIAN BERDUA!"
Nesia nyaris berjengit kaget mendengar teriakan (atau bentakan?) dari Zwingli yang begitu tiba-tiba, dan secara sukses membuat Vargas dan Kirkland sama-sama terdiam bungkam.
"Arthur, kembali ke posisimu. Dan Vargas, harap perhatikan tata perkataanmu kepada seniormu yang ada di sini dan tetap patuhi peraturan MOS yang tengah kau jalankan ini."
"Tetapi Ketua–."
"Kukatakan, kembali, Arthur."
Dan Arthur menurutinya, sebelum memberi lirikan yang seolah mengatakan 'watch out' kepada Lovino Vargas yang seolah membalas tatapannya dengan tatapan impasif.
Dan Nesia merasa sangat, baca, sangat penat. Entah mengapa ia merasa bahwa keributan ini semua terjadi karenanya.
"Kali ini kau kubebaskan, Saraswati," Oh, Nesia nyaris lupa bahwa urusannya dengan 'pengacuhan omongan Ketua Komite' belum selesai, "Lain kali jika kau melamun dan tidak fokus pada perintah atau perkataan Seniormu, tak ada ampun."
Nesia menelan ludah.
Entah mengapa ancaman dari Zwingli terasa lebih menjanjikan untuk menjadi kenyataan daripada ancaman dari Arthur.
Setelah melempar Nesia pandangan peringatan terakhir kalinya, Zwingli kembali ke tengah lapangan dan mengambil pengeras suara yang sebelumnya telah ia titipkan pada seorang anggota Komite berambut pirang dan berkacamata.
"Lanjutkan acara hitungannya. Mulai dari kau, Vargas."
"Sepuluh!" Nesia masih mendengar nada dongkol kala Lovino mengucapkan angka hitungnya.
"Sebelas!"
"Dua belas!"
"Maaf, Saraswati."
Nesia menoleh, dan melihat Antonio tengah menatapnya dengan pandangan penuh penyesalan. Entah hilang kemana senyum cerah yang selalu terkembang itu kini.
"Maaf, aku tidak bisa membantumu," bisik Antonio lirih, "Si Vargas itu benar, kau seharusnya bernomor sepuluh. Entah bagaimana bisa menjadi bernomor Sembilan."
Kini giliran Nesia yang memberikan senyum terbaik dan tercerah yang bisa dikembangkan oleh bibirnya dan mampu dipancarkan oleh tatapan kedua matanya, "Tak apa Carriedo. Ini semua bukan salahmu," balas Nesia berbisik, lalu melirik sekilas pada Kirkland, "Hanya Kirkland saja yang entah mengapa kelihatan jutek denganku," sungut Nesia.
Sedikit senyum terkembang di bibir Antonio, "Kau hebat, Saraswati. Hebat."
Dan Nesia tak tahu harus bagaimana menanggapi yang satu itu kecuali menunduk kikuk dan merapikan poninya; entah untuk apa. Bahkan kalimat semacam 'terimakasih' pun tak terbayang terucapkan oleh otaknya yang seolah meleleh demi mendengarkan kata sanjungan tersebut.
Andai ia memiliki nyali untuk mengatakan bahwa 'Kau juga hebat, Carriedo.'
"Karena semua telah menyelesaikan hitungan, maka–."
"Tunggu dulu, Zwingli," seorang anggota Komite memotong ucapan Zwingli. Tangannya tertaruh di sebelah pundak seorang murid, "Anak ini baru kembali dari toilet dan belum kebagian hitungan."
"Errr… sebetulnya aku sudah menghitung tadi dan bernomor enam," ujar anak itu takut. Tatapan intens dari ratusan pasang mata membuatnya kikuk juga untuk berucap, "Te-Tetapi tadi aku sudah meminta ijin Kirkland-Senpai untuk ke toilet dan dia memberiku ijin."
AH!
Mulut Nesia langsung ternganga lebar bersama dengan matanya yang membelalak. Tanpa ia sadari bahwa rahang Lovino Vargas juga membuka lebar; dan jika boleh didramatisirkan, jatuh menyentuh lantai.
Jangan-jangan anak yang baru dari toilet itu…
Dengan cepat Nesia menoleh ke arah Arthur.
Dugaannya langsung terkonfirmasi begitu melihat Arthur menyeringai ke arahnya sembari menyentuh-nyentuh pelipisnya dengan telunjuk kanannya. Sebuah isyarat bahwa ia ingin mengatakan, "Pakai otak! Pakai otak!"
SIALAAAAAANNNNNNN!
Nesia benar-benar membenci orang itu.
Sumpah demi apapun!
Zwingli menghela nafas. Mungkin baru menyadari trik licik dari Arthur dalam memanipulasi hitungan tadi.
"KAU BERNOMOR TUJUH DAN SEKARANG CEPAT KEMBALI KE BARISAN!" Malang menimpa anak yang inosen tersebut ketika kepenatan sang Ketua Komite Disiplin justru terlampiaskan padanya.
Anak itu langsung mengangguk kuat-kuat dan terbirit-birit kembali ke barisan.
"Sekarang akan kubacakan senior pembimbing perkelompok! Harap DENGAR dan PERHATIKAN!" saat mengucapkan kata 'dengar' dan 'perhatikan' yang diucapkan penuh penekanan hingga terlihat urat di lehernya tersebut, Zwingli melempar pelototan pada Nesia yang langsung menengguk ludah.
"Senior yang kusebut namanya harap maju ke depan untuk memudahkan kelompok masing-masing untuk mengenali wajah kalian," ucap Zwngli.
"Kelompok pertama dipandu oleh Senior Berwald."
Seorang anggota Komite berbadan tegap dan tinggi maju ke depan. Melihat ekspresi mukanya, Nesia dalam hati mengucap puji syukur pada langit dan bumi bahwa ia tidak termasuk dalam kelompok satu.
"Kelompok kedua dipandu oleh Senior Herdevary."
Perempuan cantik yang –oh, tadi bertengkar dengan Senior Beil… Beils siapalah itu, kini maju ke depan. Cantik dan anggun sekali. Pasti banyak yang suka, pikir Nesia.
"Kelompok ketiga akan didampingi oleh Senior Ludwig Beilschmidt."
Macho banget, adalah kalimat yang langsung diberikan Nesia pada seniornya yang berambut pirang dan bermata biru tersebut.
Nesia menjadi berpikir, siapa yang akan mendampingi kelompoknya?
Oh tentu saja. Hari 'baik'nya hari ini akan terasa menjadi 'sempurna' jika pendamping kelompoknya adalah Arthur.
Haha!
Jangan becanda.
"Kelompok keempat akan dipandu oleh Senior Braginsky."
Wajah itu tersenyum manis dan terkesan childish. Tetapi entah mengapa Nesia justru merasa terintimidasi dan hawa dingin menyergap tengkuknya kala menatap pria berambut perak dan memakai syal itu (demi apa, ini musim panas!)
"Kelompok kelima bersama Senior Wang Yao."
Ah, Nesia rindu akan hadirnya wajah-wajah Asia di tengah dominasi orang Western seperti ini.
"Kelompok enam akan ditemani oleh Senior Andrew Scholte."
Itu… wait! Itu jepit rambut kan, yang ada di sisi kepala senior berambut pirang tersebut? Demi apa.
"Kelompok tujuh akan didampingi oleh Senior Arlovskaya."
Nesia langsung menundukkan kepala begitu tanpa sengaja bertatapan mata dengan dua buah violet tersebut.
Ia lebih memilih menatap mata Senior Berwarld selama setahun daripada menatap violet itu selama barang sedetik.
"Kelompok delapan akan didampingi oleh Senior Bella Van Hardt."
Delapan? Kelompok Antonio, kan? Dan… senior itu cantik sekali sekalipun mukanya tertekuk masam. Well, mungkin 'memasang muka seasem dan sesangar mungkin' adalah syarat pertama yang wajib dilakukan untuk menjadi anggota Komite Disiplin.
"Kelompok sembilan akan didampingi oleh Senior Arthur Kirkland."
.
.
"Kelompok sepuluh akan bersama Senior Gilbert Beilschmidt."
.
.
"Kelompok sebelas bersama Senior Bonnefoy."
.
.
APAAAA?
ARTHUR KIRKLAND?
Oh, Nona, reaksimu telat sekali. Bahkan kau melewatkan sebuah seringai yang tampak licik yang sempat muncul di bibir itu.
Well, inilah hidup. Penuh kejutan.
Dan Arthur mungkin kejutan yang tidak diinginkanmu dari Tuhan.
-oOo-
Sadar atau tidak, entah kenapa saya bosan mengetik kata 'menyeringai' di sini == dan sambut hangat kehadiran Bang Lopi disini~~ Ayey! #tebar tomat#. Ada yang baca sampai sini? :'D #ngos-ngosan ngetik# Gila, panjang banget T_T Tapi ga tahu musti motong dibagian mana kalau harus dipendekin :'D
Next chapter:
"Lily Zwingli. Senang berkenalan denganmu, Saraswati."
.
"…Lagipula Carriedo juga pasti ingin melupakannya, kok."
.
"Apa yang kau tunggu? Kau bukan Obama yang membuat orang lain pantas menunggu ucapanmu berlama-lama."
"Ann'sia S'ras'ti. Dari Indonesia. C'ta-c'ta menjadi dokt'r."
.
"A–ah, suara air tadi aneh, ya? Kok bisa 'kruuuuukkk~~' gitu ya? Hahaha…ha."
.
'Lovino Vargas sangat baik.'
Pojok Repiu. Monggo~
straight. barang langka yang selalu kucari / Sama T_T / sangat berharap ini tidak akan jadi 'kisah cinta biasa' / Ahahaha *ketawa childish ala Bang Ipan*.. Bisa ga ya… ;A; I'll do my best, Boss. Tapi 'biasa' ga nya kan relatif ya, sesuai persepsi v_v / penuh soap opera-coret drama / Aye-Aye, Captain ('^')7 / Hetalia High dan Hetalia Gakuen? / Lha? Emang beda, ya? :0 *dudul gila* Gomen-gomen, siap diperbaiki :D thanks! / saya tertarik Spa/fem!Nes / Asekkk~~ / Spain manis, mau dong jadi Nesia! / Authornya sendiri aja mupeng ga ketulungan :Q / UKNes-nya mana nih? / Di atas itu udah keitung UKNes belum sih? :/ / belum dapet feel SpaiNes / Ohoho, saya ragu kalau sekarang makin dapet setelah kehadiran Bang Lopi == / Siapa yang ganggu momen SpaiNes? / Masak ga tahu? :0 *lempar tong sampah ke Arthur* / Fic ini bikin saya menggelinjang / Errrr…. / PrusHun dan DeNor puhlease? / Busyet… == insya Allah deh ye ^^a / Siapa defender Nesia? / *Nunjuk bang Lopi sambil ngupil / UK cemburu ya? / Sepertinya belum secepet itu 0.0 / JapNes? / Ada Japan kok *spoiler* Meski ga signifikan sih 0.0 #lari sebelum kena kepret / UK dan Nes ber-rate M! / O–Olala~~ / Aku makin suka Nesia / Ayey! XD
Maklum juga jika kebetulan ada kesamaan ide ke depannya
Review/konkrit/saran/dukungan/pujian *plak* sangat dibutuhkan.
Terimakasih.
Takk. Viva La FHI.
-d.i.s.-
