Saya rajin banget ya, update-nya :D Ahahaha #dijejelin scone


Hetalia High merupakan sebuah sekolah elit yang terletak di sebuah negara bagian di Amerika Serikat (1). Sebuah sekolah yang kerennya mendewa. Keren disini bisa menjadi kata sifat yang melengkapi baik bangunan, fasilitas, atau bahkan, biaya. Tentu saja kebanyakan murid yang bersekolah disini adalah murid dengan status ekonomi keluarga golongan menengah ke atas. Tetapi untuk yang berstatus ekonomi kurang dari itu, tenang saja, hamparan beasiswa yang tak kalah kerennya siap menanti Anda jika Anda memiliki bargaining power yang menjanjikan, semisal prestasi.

Kebanyakan murid yang berada di sini adalah murid dari keluarga migran. Artinya, dari keluarga luar AS sendiri. Entah itu karena mengikuti orang tuanya yang berpindah kerja ke AS, atau memang karena ingin berpindah dan merasakan gaya hidup a la Amerika. Mungkin juga karena salah satu dari orang tuanya merupakan keturunan negara selain AS, sehingga anaknya juga memiliki ciri fisik dan nama yang agak kelatinan, ke-Eropa-an, atau ke-Asia-an.

Sekolah ini sering juga disebut dengan sekolah bangsawan. Artinya, tidak hanya dalam materi. Tetapi juga sikap dan tindak-tanduk harus terjaga. Yang merasa berjenis kelamin lelaki, silahkan bergaya dan bersikap gentlemanly. Yang merasa seragamnya memakai rok, harap tahu tata karma sebagai seorang lady. Baik bagi gents atau ladies, kedua-duanya harus tahu nilai-nilai internasional dan menghormatinya. Seperti menjaga lingkungan, menghormati HAM, dan demokrasi.

Jadi, tidak ada kata bully-ing disini.

Kata brosur dan tulisan di web sekolah ini sih begitu waktu Annesia Saraswati membacanya.

Tetapi kenapa ia harus menghadapi hari pertama MOS bagai penindasan massal para preman yang mengaku sebagai Komite Disiplin ini?

Apakah HAM disini diartikan sebagai Hak Asasi Menindas? Terutama Senior Arthur Kirkland itu.

Siapa sih, orang yang dulu iseng sekali memutuskan untuk menerima Kirkland sebagai murid baru?


Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

I just own the plot of the story and I don't make money from it.

Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa (jadi, ga bisa menjamin karakter IC. Beberapa tokoh mungkin terkesan 'ga banget gila' :D Gomen v_v), a lil' English words (karena ada beberapa kata/kalimat yang aku ga nyaman ama arti translation Bahasa Indonesia Q_Q Gomen (lagi)… v_v, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you, :D totally absurd.

Pairing: multimalexNesia, (might be) a lil' absurd hints of BL *uhuk!

Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D

Just for fun!

Maju FHI!

Happy reading


Menselonjorkan kedua kakinya dan menyangga tubuhnya dengan kedua telapak tangannya yang tertekan di tanah di belakang punggungnya, Nesia menghidup udara taman dalam-dalam.

Segar.

Pembuatan taman seteduh, rindang, dan sehijau ini merupakan ide brillian di tengah-tengah hawa panas dan polutif dari negara AS. Meski tidak mampu mengobati rasa rindunya terhadap oksigen segar di tanah kelahirannya, tetapi ini cukup mengobati paru-paru Nesia yang seolah protes ketika harus menghirup udara di jalanan depan apartemennya. Apalagi lingkungan Hetalia High yang cukup terisolir dari pusat-pusat perindustrian, membuat kesan asri dan 'kembali ke alam'menjadi sangat terasa.

"Um… Hai."

Suara kecil itu nyaris saja tidak terdengar oleh Nesia yang mulai terkantuk-kantuk merasakan hangatnya sinar mentari yang menerpa wajahnya ditambah dengan segarnya angin yang berhembus.

Oh ya, mungkin kalian akan bertanya mengapa Nesia bisa begitu santai hingga mampu bernyaman-nyaman diri begitu. Well, karena untuk sekarang, para murid baru diberi waktu luang selama sepuluh menit untuk persiapan perjalanan Wawasan Wiyata Mandala. Sekaligus mencari dan mengumpulkan anggota kelompok dan berkenalan dengan senior pemandu agar bisa lebih akrab nantinya.

Ngomong-ngomong soal senior pemandu… Ah! Tidak usah diomongkan!

Mencoba menghapus seringai jelek pemuda beralis tebal itu dari pikirannya, Nesia menoleh ke arah sumber suara lemah yang baru saja didengarnya.

Dua bola hitam kecoklatannya beradu pandang dengan sepasang aquamarine lembut yang menatapnya dengan tatapan malu-malu dan segan.

Satu kata yang terpikirkan Nesia saat melihat sebentuk paras kecil dengan kepala bersurai pirang tersebut.

Imuuuuuuutttttt~~~

Dengan ragu, Nesia menunjuk hidungnya sendiri, "Kau bicara denganku?"

Gadis yang terduduk dengan posisi bersimpuh beserta tubuh kecil yang ditegapkan sedemikian rupa itu, mengangguk, "I-iya. A-Aku berpikir jika mungkin kita bisa berkenalan– tolong jangan salah paham. Maksudku, karena kita se–sesama tim–."

"Annesia Saraswati," ujar Nesia sembari tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya, "Tolong jangan bersikap formal karena aku juga tidak begitu jago untuk hal begitu."

Terkaget karena Nesia memotong ucapannya dan langsung menyebutkan namanya, gadis dengan pita biru muda di kepalanya itu terdiam sejenak. Namun beberapa saat kemudian sebuah senyum kecil yang tampak sangat tulus, menghiasi bibir mungilnya.

"Lily Zwingli. Senang berkenalan denganmu, Saraswati."

Ah~ Nama yang cantik sekali. Entah mengapa Nesia langsung suka dan nyaman berada di dekat gadis ini. Gadis yang manis, lembut, mungil, namun di saat yang sama memancarkan aura tertentu yang mampu membuat orang lain segan akan tindak-tanduk dan kesopanannya.

Lihat saja cara duduknya. Begitu persis seperti tata krama yang dilakukan oleh para Ladies di manapun mereka berada. Bersimpuh rapat. Kedua telapak tangan tertaruh di atas paha. Punggung tegak hingga dua garis bahunya sejajar.

Lily Zwingli memang–

Tunggu.

"Apa?" cetus Nesia terkaget, membuat Lily menaikkan kedua alisnya karena terkejut pula.

"Ada apa, Saraswati? Apa ada ucapanku yang salah?" tanya Lily khawatir.

Nesia menggeleng sembari menunjuk Lily dengan telunjuk kanannya, "Kau? …. Zwing…li? Z-W-I-N-G-L-I?"

Ragu akan maksud pertanyaan Nesia, Lily pun mengangguk perlahan, takut jika jawabannya berbuah kemarahan atau hal negatif lainnya dari Nesia.

Nesia langsung menoleh ke sekitar. Sejenak kedua matanya tampak tengah mencari-cari keberadaan sesuatu. Begitu ketemu apa yang dicarinya, telunjuk kanannya mengarah pada suatu arah dan jika ditarik titik-titik koordinat, maka telunjuk Nesia mengarah tepat di jidat Vash Zwingli yang tengah sibuk berbicara dengan Senior Ludwig Beilschmidt.

"Orang itu…," Nesia kembali menatap Lily sembari telunjuknya tetap terarah pada Vash, "Apa hubungan orang itu denganmu?"

"Ah, itu Kakakku," ujar Lily kalem setelah sejenak melirik ke arah yang ditunjuk Nesia, "Untuk itulah, a-aku berniat untuk mewakili Kakakku dalam meminta maaf padamu a-atas apa yang tadi terjadi. Maaf, Saraswati."

Nesia menurunkan telunjuknya. Ucapan permintaan maaf Lily otomatis menerbangkan pikirannya pada rangkaian acara MOS yang sejauh ini tampak menyebalkan baginya.

Penuh jebakan.

Intrik.

Manipulasi.

Argh! Apalagi? Apalagi yang menunggunya setelah ini?

"Tidak apa-apa, Lily –Boleh aku memanggilmu begitu?" pertanyaan Nesia dijawab dengan anggukan Lily, "Ini semua bukan salahmu atau Kakakmu. Lagi pula…," sudut bibir Nesia langsung nyinyir saat kedua matanya menatap sosok Arthur yang tengah berbicara pada seorang murid baru di sebelah sana, "Sumber dari semua kutukanku juga bukan Kakakmu, kok."

Lily tersenyum, "Aku juga turut menyesal atas apa yang terjadi padamu –Oh, bukan maksudku untuk mengasihanimu," Lily langsung menggerak-gerakkan kedua telapak tangannya dengan panik, "Maksudku, kau dan temanmu tadi tidak seharusnya–."

Nesia tertawa sembari mengibaskan tangannya acuh, "Sudahlah. Aku ingin melupakannya –Lagipula…," dua bola matanya melirik ke arah lain. Di sebelah sana berkumpul sebuah kelompok murid baru dengan seorang senior wanita berambut pirang pendek sebahu.

Kelompok delapan.

Antonio F. Carriedo.

"…Lagipula Carriedo juga pasti ingin melupakannya, kok."

Apa yang sejauh ini Antonio pikirkan? Ingin sekali Nesia mengetahui jawabannya. Lelaki itu mengapa sulit sekali untuk terbaca pikirannya?

Atau Nesia saja yang tidak memiliki bakat untuk menebak pikiran orang?

Memandang dia dari jauh seperti ini seperti 'an hopeless stalker' saja.

Menggeleng-gelengkan kepala kuat-kuat untuk mengenyahkan pikiran galau yang sempat membuat hatinya meracau, Nesia kembali menatap Lily dan mengembangkan senyumnya, "Semoga kelompok kita menyenangkan, ya?"

Pertanyaan retoris, batin Nesia dongkol ketika sadar siapa yang bertugas sebagai pemandu untuk perjalanan kelompoknya.

Tetapi, dengan jumlah anak mencapai dua puluh lebih seperti ini, tidak mungkin 'kan, Kirkland tetap mengincar Nesia sebagai objek dari pelampiasan selera humornya yang payah sekali itu, kan?

"Tentu saja."

-oOo-

Memandangi satu persatu jejeran murid yang berbaris rapi di depannya, telunjuk kanan Arthur Kirkland menunjuk satu persatu murid-murid tersebut sembari mulutnya menggumam menghitung.

"Dua puluh enam," gumamnya saat hitungannya sampai di murid paling ujung, "Banyak juga ya, yang harus kuurus."

Menghela nafas kecil sembari sejenak merapikan dasi merah kotak-kotak dengan garis hitam yang senada dengan celana yang dipakainya, Arthur agak mengeraskan suaranya.

"Selamat pagi semuanya," ucapnya yang direspon oleh murid bimbingannya dengan kompak, dengan dua kata pertama yang diucapkannya, "Berhubung yang ada di taman ini bukan hanya kita, jadi tolong jangan dengarkan suara-suara yang lain. Kalian harus fokus! Tolong agar perhatian kalian hanya tertuju pada ucapan dan kalimat saya," Arthur menatap sedikit dongkol pada beberapa kelompok lain yang masih ada di taman.

Apalagi kelompok sepuluh pimpinan Senior Gilbert. Tidak bisa tenang sedikit, ya, itu orang kalau memberi pengarahan?

Kembali mengarahkan perhatian pada adik-adik kelasnya, Arthur kembali berucap, "Seperti yang kalian tahu, sebentar lagi kita akan menjalankan satu dari rangkaian acara MOS hari pertama, yakni Wawasan Wiyata Mandala. Dan saya, Arthur Kirkland, ditunjuk sebagai penanggungjawab sekaligus pemandu perjalanan kelompok sembilan mulai dari gedung A hingga gedung C," Arthur berhenti sejenak untuk mengamati beberapa wajah dari adik-adik kelasnya.

Dan kebanyakan dari mereka mendapati bahwa tanah lebih menarik perhatian daripada sepasang bola emerald milik Arthur Kirkland.

"Ada pepatah bahwa untuk saling memahami, maka pertama-tama adalah saling mengenallah. Maka, sebelum kita berangkat untuk memulai acara ini, satu persatu dari kita mengenalkan diri masing-masing. Tidak perlu panjang dan lama-lama. Cukup nama, asal rumah atau asal negara, lalu cita-cita. Harap perhatikan efisiensi waktu kita yang terbatas," ujar Arthur dengan tegas, "Untuk memulai, biarlah saya. Arthur Kirkland, berasal dari United Kingdom, tepatnya di daerah Winchester. Cita-cita menjadi Duta Besar Inggris. Nah, sekarang kau," telunjuk Arthur mengarah pada anak di ujung barisan sebelah kiri.

Dengan sigap, anak itu segera merespon cepat, "Caroline Smith (2), asal dari California, cita-cita arkeolog."

"Ah, kapan-kapan ajak kami ke Hollywood, ya?" maksud Arthur becanda, tetapi tidak ada yang berani membuka mulut untuk tertawa.

Ah, alasan untuk tertawa terhadap 'gurauan' itupun tidak ada.

Pertanyaan Arthur hanya direspon ragu oleh Caroline melalui sebuah anggukan kikuk.

"Next!" Arthur mencatat nama Caroline Smith di buku kecil yang dipegangnya. Sebagai daftar murid yang ia handle untuk nanti dijadikan laporan pada Vash.

"Kiku Honda, keturunan Jepang tetapi telah menetap di Amerika semenjak lima tahun lalu. Cita-cita politikus."

"Arigato gozaimasu, Honda-san," ucap Arthur sembari membungkukkan badan a la masyarakat Jepang. Honda meresponnya dengan tindakan yang sama.

"Next!" ucap Arthur sembari menulis nama Kiku Honda di bukunya.

"Ronnald Mersheimer (3), dari Jerman. Cita-cita… sepertinya polisi."

"Ah, tolong pastikan segera tujuan dan target hidupmu jika kau tidak ingin menjadi pecundang dunia, Mersheimer," tunjuk Arthur pada Ronnald yang direspon oleh memerahnya paras putih tersebut karena malu.

"Ya, Senior."

"Next!" ujar Arthur sembari mencatat nama Ronnald di kertas yang dipegangnya.

"L-Lily Zwingli. S-saya berasal dari Liechstentein. Cita-cita ingin menjadi dokter."

"Nah, nona. Coba kau praktek berpidato di depan cermin. Pasienmu nanti bisa keburu meninggal jika kau bicara saja terkesan lama begitu," ujar Arthur, membuat Lily tertunduk dan teman-teman yang lain menahan tawa geli.

"Next!"

….

….

….

Merasa tidak mendengar respon, Arthur menghentikan gerakan tangannya menulis dan mengangkat wajahnya.

Dan sampailah ia pada sepasang muka yang lebih kusut dari jemuran kering dengan sepasang mata yang sibuk memelototi rumput tak bersalah di bawah sana.

Menghela nafas, Arthur kembali berujar, "Next."

Merasa terpaksa dan mendengar nada-nada pertanda kesabaran seseorang akan segera habis jika Nesia tetap mempertahankan posisinya, maka Nesia membuka mulutnya yang sebelumnya terkatup rapat.

Memang. Semenjak Arthur datang ke sini dan menyuruh mereka berbaris, gadis itu seolah-olah tersihir menjadi patung bernafas. Bukan patung Dewi Venus yang cantik jelita, melainkan patung dengan kedua mata melotot tajam pada apapun yang ditatapnya.

Dan ketika Arthur telah berdiri di depan mereka, maka Nesia menjadikan rumput hijau nan segar di bawah kakinya sebagai satu-satunya hal yang pantas menerima death glare darinya.

Tidak sudi ia balas memandang dua bola emerald itu lagi.

Tidak!

Mana alis itu tebelnya gila banget pula.

Oh ya, tentu saja. Tentu saja Nesia belum bisa melupakan apa yang telah dilakukan pemandu kelompoknya sekarang ini.

Dan tak akan bisa.

Bahkan Nesia belum bisa menerima keputusan absurd dari takdir yang membuat Arthur sebagai satu-satunya orang di antara sekian banyak anggota Komite, yang harus menjadi pemandu kelompoknya.

Tidak adil.

Kenapa tidak Senior Wang Yao saja? Pasti asik jika bisa bersama dengan sesama orang Asia. Atau dengan Senior Andrew Scholte (4) yang berjepit rambut itu saja. Atau… hell, Nesia bahkan lebih bersyukur jika pemandu kelompoknya Senior Arlovskaya sekalipun!

Mengapa harus Kirkland?

Lihat saja bicaranya. Entah terbuat dari apa mulut itu hingga apapun perkataannya, selalu membuat pelototan Nesia terhadap rumput itu semakin menajam. Syukurlah Tuhan menciptakan rumput tanpa mata dan perasaan, jika tidak, maka pasti rumput itu akan layu seketika karena bunuh diri putus asa.

Bagaimana tidak kesal Nesia jika pemuda itu baru saja secara langsung menghina Lily yang tampak manis dan lemah begitu?

Arthur sendiri pikir Duta Besar mana yang akan bertahan dalam jabatannya jika cara bicaranya selalu membuat dongkol orang lain begitu? Pasti negosiasi dan diplomasi yang dipimpinnya nanti akan kacau berantakan jika dia selalu tidak rajin 'menggosok' mulutnya begitu.

"Nesia. Indonesia. Dokter," jawab Nesia dengan penuh keengganan, sembari kedua matanya tetap memelototi rumput di bawah sepatu hitamnya.

"Hei, kalau lama-lama seperti itu, rumput itu bisa mati karenamu. Pelototanmu itu mengerikan, tahu," komentar Arthur tenang.

Demi tanah air tercinta Indonesia Raya, Annesia Saraswati sangat membenci Arthur Kirkland!

Sangat!

Alih-alih mengalihkan pandang, pelototan mata Nesia semakin intens. Kini ditambah dengan mulutnya yang mulai mengerucut beberapa senti ke depan, pertanda bahwa perasaannya benar-benar tengah dongkol.

"Apa kau tidak sakit jika mereaksikan otot matamu setegang itu?" lanjut Arthur, "Lagipula, jawaban macam apa tadi. Singkat sekali dan terkesan acuh padaku dan pada teman-temanmu yang ingin mengenalmu."

Biarlah dia bicara apa. Nesia tidak akan peduli. Jangan harap.

"Ulangi lagi dan angkat wajahmu. Tidak sopan berbicara tanpa melihat wajah lawan bicaramu."

"Aku sudah menjawabnya. Apa kau tidak dengar?"

"Kau bicara pada siapa? Rumput? Dia tak bisa mendengar. Dia tumbuhan, jika kau memang belum tahu sama sekali."

"Aku tidak sebodoh itu, demi Tuhan!"

"Maka angkatlah wajahmu! Yang berbicara padamu itu aku, bukan rumput!" balas Arthur dengan nada ikut meninggi. Mungkin kesabarannya sudah benar-benar menipis, "Tatap aku dan ulangi pertanyaanmu jika kau tidak ingin memperoleh tambahan hukuman lebih dari yang sudah kupikirkan untukmu!"

Kenapa…

Kenapa, O Tuhan, Kenapa orang ini menyebalkan sekaliiiii!

Tidak bisakah Kau mendatangkan petir di siang bolong untuk menyambarnya biar hangus sekalian? Atau membuka bumi di bawah kakinya agar ia tenggelam? Atau simpel, buat dia pingsan dan hilang ingatan secara misterius dan tiba-tiba?

Nesia sangat kesal!

Nesia tidak mau menjalani MOS tiga hari akan membawanya pada penyakit darah tinggi seumur hidup!

"Apa yang kau tunggu? Kau bukan Obama yang membuat orang lain pantas menunggu ucapanmu berlama-lama."

Dengan sangat berat hati dan penuh paksaan dan ketidakikhlasan, Nesia mengangkat wajahnya.

Jika Arthur Kirkland tidak merasakan hawa buruk apapun terhadap death glare Nesia kali ini, maka puji Tuhan menciptakan hati sekeras batu dan seinsensitif karet bagi pemuda itu.

"Ann'sia S'ras'ti. Dari Indonesia. C'ta-c'ta menjadi dokt'r," dan yang keluar dari mulut Nesia lebih mirip desisan, seolah ia mengucapkannya dengan mulut yang dipenuhi racun asam sulfat.

-oOo-

"Kalian berjalan rapi dengan berjejer, ya. Jangan sampai memenuhi jalan manapun yang akan kita lalui karena pengguna jalan itu bukan hanya kita; kelompok lain juga. Harap perhatikan baik-baik wawasan yang akan saya berikan. Tetap fokus dan jangan melamun, karena ini nantinya juga akan berguna bagi kalian. Oh ya, jangan sampai terpisah dari yang lain SERTA, jangan menyentuh benda-benda yang ada di ruangan manapun secara sembarangan. Kalian bisa bertanya mengenai wawasan tempat yang akan kita kunjungi pada saya jika ada yang ingin kalian ketahui."

Nesia memutar bola mata bosan.

Sampai kapan acara ini berakhir? Ah, ya. Dua setengah jam lagi. Dan itu masih lama, dammit!

Sedari tadi Nesia hanya terdiam. Ia berencana untuk berjalan di barisan paling belakang saja daripada di depan dan nanti kena semprot akan sesuatu yang dianggap salah. Ia ingin menghindari dosa karena menambah beban dongkol dan empet yang sudah menggunung di hatinya.

Dan oh ya, sekalipun Arthur mempersilahkan, ia tidak akan menanyakan apapun nantinya sekalipun ia tengah dilanda rasa penasaran besar!

Haha!

"Senior Arthur!"

Nesia menoleh, begitu pula dengan yang lain, dan melihat seseorang yang Nesia ingat sebagai Senior Herdevary, berjalan menuju ke arah kelompok mereka untuk menghampiri Arthur.

"Ya, Senior Herdevary?"

"Senior Vash menginginkan kau untuk segera ke ruang sita sehabis acara Wawasan Wiyata Mandala-mu selesai. Segera. Nanti ada Senior Berwald dan Senior Arlovskaya yang juga menunggumu di sana."

"Oke."

Setelah Senior Herdevary berbalik dan kembali berjalan menuju kelompoknya yang menunggunya untuk berangkat, senior Kirkland menghadap ke 'murid-murid'nya dan berujar tegas.

"Come on, boys, girls. The adventures shall now begin."

Nesia memutar bola mata. Dan ketika Arthur berbalik, ia menirukan ucapan Arthur dengan suara pelan dan bibir yang dimiring-miringkan dengan begitu absurdnya.

"Come on, boys, girls. The adventures shall now begin my ass."

"Aku dengar itu, Saraswati!"

Ck!

-oOo-

Main Library: Perpustakaan Utama

"Perpustakaan ini dibangun sekitar dua puluh tahun yang lalu dan renovasi terakhir di lakukan tiga tahun lalu. Desain interior diubah untuk memiliki karakteristik-karakteristik Yunani Kuno sehingga mampu didapatkan suasana baca yang pas dan kondusif. Oh ya, juga penambahan beberapa komputer yang terhubung dengan website-website pengetahuan ternama di dunia atau toko-toko buku yang menjual karya penulis ilmiah ternama seperti Oxford University Press atau W. W. Norton & Co. Inc."

Nesia memandang sendu pada deretan buku-buku tebal di depannya. Dalam benaknya, hanya satu pertanyaan yang ia haturkan pada siapapun orang yang membeli koleksi buku-buku ini.

'Buku-buku ini bisa dibaca, ya?'

"Di deretan sini terdapat buku-buku Sastra. Kalian bisa menemukan karya Sastra mulai dari era Shakespear hingga J. K. Rowling. Lalu di deret sebelah terdapat buku Astronomi. Dan di rak-rak berikutnya berturut-turut terdapat kumpulan buku Sains, politik, hukum, bahasa, filsafat, dan sebagainya. Koran juga ada. Tetapi jangan harap kalian bisa menemukan komik di sini."

Ah, membosankan.

Masak sekolah seelit ini komik saja tidak ada? Payah sekali.

"Terdapat pula kumpulan buku yang disebut dengan koleksi khusus. Artinya, buku itu tidak bisa dipinjam untuk dibawa pulang, tetapi hanya untuk dibaca di tempat."

Nesia melangkahkan kakinya menjauhi Kirkland yang tengah mengoceh non-sense yang menurutnya amat membosankan.

Diperhatikannya sekitarnya dan sekalipun ia terkesima dengan kemewahan yang ditawarkan terhadap matanya, namun tetap saja, perpustakaan.

Dan Nesia bosan.

Untuk itulah ia memutuskan untuk menyandarkan kepalanya pada rak di sampingnya dan menguap lebar, setelah memastikan bahwa tidak ada siapapun yang melihatnya dan mencapnya sebagai 'unladylike'.

Ia mengantuk sekali.

"Karya penulis dari buku-buku yang tengah kau sandari itu pasti berharga jauh lebih mahal daripada nyawamu sekalipun. Jadi, berdirilah yang tegak!"

Dan rasa mengantuk Nesia hilang sama sekali tergantikan oleh rasa empet yang aduhai dewanya.

-oOo-

Broadcasting Room: Ruang siaran

"Disini adalah ruangan yang bisa 'mengudarakan' setiap pengumuman, berita, atau bahkan pesan. Baik dari kepala sekolah, guru, atau kalian pun juga bisa. Oh ya, setiap hari Jumat, Selasa, dan Kamis, ruangan ini akan diisi oleh anak-anak Klub Radio. Biasanya mereka memutar lagu-lagu yang lagi nge-trend atau pesanan pendengar. Kalian juga bisa meminta penyiarnya untuk menyampaikan salam atau apa. Asal yang sopan saja."

Nesia melihat-lihat sekitar. Ruangan Siaran ini, meski tidak seluas perpustakaan, cukup bisa dibilang cozy dan nyaman. Beberapa peralatan siaran ada di sana; Nesia hanya tahu satu-dua nama dari alat-alat yang begitu banyak dan ribet.

Beberapa sofa terdapat di ujung ruangan, berikut dengan sebuah kulkas mini dan televisi. Sebuah karpet berwarna abu-abu terhampar di lantai ruangan yang terdinginkan oleh hembusan udara dari satu pendingin ruangan di ujung atas dinding sebelah barat.

"Selain anggota Klub Radio atau pihak Dewan Komite Sekolah, tidak ada yang diijinkan untuk memasuki ruangan ini. Kecuali dengan ijin tertentu dari Ketua Klub atau Kepala Sekolah atau Pembina Klub."

Nesia melangkahkan kakinya ke arah balkon. Ah, ya, belum tahukah kalian jika letak ruangan siaran ini berada di lantai tiga dari salah satu gedung di kompleks gedung B Hetalia High?

Sesampainya di sana, wajah Nesia langsung tersapa oleh hembusan segar angin luar. Pemandangan taman gedung B juga tampak indah jika dilihat dari atas. Ah ya, bahkan taman gedung B jauh lebih indah dari taman kompleks gedung A yang tadi dipakai untuk pengarahan acara Wawasan Wiyata Mandala.

Mengedarkan pandangan, Nesia mengamati kompleks gedung B ini. Gedung-gedung yang katanya 'dihuni' oleh para murid kelas tiga ini, nyatanya memiliki desain eksterior yang lebih keren dari gedung A yang notabene tempat murid kelas 1 dan sebagian lagi murid kelas 2. Naik ke lantai lebih atas saja pakai lift. Sedangkan di gedung A masih memakai tangga.

Edaran pandangan Nesia terhenti ketika ia melihat ke arah sebuah ruangan di depan sana, di gedung lain di lantai tiga, tetapi masih dalam lingkup wilayah kompleks gedung B.

Di depan sana terdapat segerombolan murid-murid baru yang tengah melakukan Wawasan Wiyata Mandala pula. Entah itu ruangan apa. Namun bukan ruangan itu yang membuat kedua mata Nesia menatap arah sana lebih lama.

Tetapi seorang pemuda yang tengah tertawa lepas dan cerah bersama teman-temannya.

Tanpa sadar, Nesia menghela nafas ketika ia merasakan darahnya tiba-tiba berdesir hangat.

Ingin ia meneriakkan nama Antonio, tetapi apa jadinya jika itu justru membuat malu tak hanya dirinya. Tetapi juga Antonio. Alih-alih membalas sapaannya, bagaimana jika Antonio justru berpura-pura tidak mengenalnya?

Bisa-bisa loncat bunuh diri Nesia dari sini.

"Lagi-lagi melamun, ya. Kami menunggumu untuk keluar dan melanjutkan perjalanan. Apa kau sebegitu depresinya terhadap hidupmu dan berniat loncat bunuh diri dari sini? Silahkan. Tetapi aku merekomendasikan Golden Gate di California. Selain karena itu memang terkenal bagi orang-orang putus asa sepertimu, juga agar Hetalia High tidak repot-repot melayani pers jika ada seorang murid terjatuh dan mati dari lantai tiga. Dasar!"

Dan omelan Arthur hanya mendapatkan acungan jari tengah berikut pelototan Nesia begitu pemuda itu kembali berbalik untuk berjalan keluar ruangan.

-oOo-

MainPark: Taman Utama

"Di taman utama ini ditumbuhi beberapa macam buah-buahan dan semak berbunga seperti Mawar, Edelweiss, dan Tulip. Tetapi ingat, taman utama ini dijaga dengan baik-baik. Jadi, kalian dilarang untuk memetik barang satu buah atau bunga atau daun sekalipun. Simpan tangan kalian baik-baik, karena hasil dari taman ini akan dipanen dan digunakan pada saat-saat tertentu sesuai dengan agenda sekolah. Seperti pesta natal atau prom night."

Mereka tengah berjalan-jalan pelan di jalanan kecil setapak yang hanya cukup dilalui oleh dua jajaran orang. Sehingga mereka berjalan beriringan sepasang-sepasang.

Di sepanjang jalan yang mereka lalui, di tepiannya berderet pohon-pohon apel dan ceri sehingga jalanan yang mereka lalui ini mirip dengan terowongan beratap daun pepohonan.

Sangat rindang. Sangat indah.

Belum lagi ditambah dengan kolam besar yang ada di tengah sana. Sebuah patung berbentuk gadis berpakaian a la Yunani dan memegang kendi yang memancurkan air, terdapat di sana. Mekarnya bunga Lily putih dan Lily merah muda, mengambang di permukaan air sebiru air Sungai Nil. Bunyi gemericik air menambah kesan damai ketika bunyi itu sendiri berbarengan dengan suara cicitan burung-burung.

Indah.

Sejuk.

Rindang.

Dan lapar.

Kruuukkk~~

Nesia merutuki perutnya sendiri dan cacing-cacing di dalamnya yang tengah konser dengan volume sound system yang mencapai maksimum dan mendewa.

"A–ah, suara air tadi aneh, ya? Kok bisa 'kruuuuukkk~~' gitu ya? Hahaha…ha." Nesia meringis kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ketika semua pasang mata kelompoknya tertuju padanya.

Shit.

Aku memang tidak pandai berakting. Apanya yang mau menjadi pengganti Megan Fox di seri Transformer selanjutnya?

Arthur hanya melengkungan bibirnya ke bawah, tanda bahwa ia tidak suka dengan perilaku Nesia. Tanpa berkomentar apa-apa, ia berbalik meneruskan perjalanannya dan kembali berbicara memberi wawasan.

Nesia menghela nafas. Kedua alisnya melengkung ke bawah tanda sedih saat menatap merahnya apel-apel yang menggantung di atasnya, serta segarnya ceri-ceri kecil yang seolah menggoda jemarinya untuk terulur dan memetiknya.

Dan berhubung Nesia tipikal manusia tidak tahan godaan, maka tangannya terulur dan memegang satu buah ceri.

"Kau petik, aku bersumpah kupotong tanganmu itu!"

Fine! Lebih baik kelaparan daripada nanti tidak bisa makan sama sekali karena kehilangan tangan!

-oOo-

Parking Place: Parkiran

"Kalian yang memiliki kendaraan, boleh mengendarainya dan membawa ke Hetalia High. Di sini, kalian bebas memarkirkan kendaraan kalian tanpa dipungut biaya. Soal keamanan dijamin karena terdapat enam orang petugas keamanan yang akan memeriksa kelengkapan identitas dan surat-surat berkendaramu. Tentu saja, kalian yang belum cukup umur dan tidak membawa kelengkapan surat, jangan nekat membawa kendaraan kemari jika tidak ingin terkena detensi. Dan oh ya, khusus saat MOS, untuk pendisiplinan, kalian tidak diijinkan untuk membawa kendaraan pribadi kalian kemari."

Nesia lihat lapangan parkir ini cukup luas –terlalu luas malah. Dengan sekat-sekat pembagi antara parkiran motor, mobil, dan sepeda. Lapangan parkir ini terletak di tempat terbuka alias tidak beratap, dan hanya dikelilingi oleh tembok setinggi pinggang orang dewasa. Nesia tidak bisa membayangkan bagaimana jika kendaraan-kendaraan itu terkena panas matahari di musim panas jika tidak ada atap begini?

Ah ya, musim panas di sini kan tidak bisa disamakan dengan musim kemarau di negerinya.

Karena lapangan parkir ini begitu luas, selain kelompok Nesia, terdapat kelompok lain yang juga tengah berwawasan wiyata mandala di sini. Tidak perlu berdesak-desakan atau sangat ribut, karena para murid baru sangat anteng dan hanya menyimak. Entah itu karena mereka benar-benar tertarik atau memang sudah bosan dan capai jalan-jalan.

Nesia berjalan pelan menjauhi beberapa teman se-tim nya yang masih berada di sekitar Arthur yang sibuk mengoceh apapun itu. Sejak tempat pertama yang mereka kunjungi dalam wawasan wiyata mandala ini, Nesia memang suka menjauh sejauh mungkin dari pemandu kelompoknya. Ia hanya tidak ingin mengambil resiko kena semprot atau teguran yang berakhir dengan rasa mangkel lebih dalam lagi.

Oleh sebab itu, seperti ini, ia selalu diam-diam menjauhkan diri dan menikmati tempat yang mereka kunjungi dengan dirinya sendiri.

Melihat-lihat.

Memandang-mandang.

Merasakan sejuknya angin.

Dan bosan.

O Tuhan! Kenapa lama sekali acara membosankan ini, sih?

"Hei."

Belum sempat otak Nesia memproses suara berkata 'hei' yang ia dengar dekat dari posisinya berdiri sekarang, tahu-tahu di depan mukanya terlempar sebuah benda berwarna merah.

Dan puji Tuhan Nesia memiliki refleks yang bagus sehingga kedua tangannya segera mampu menangkap benda itu sebelum mendarat dengan tidak elit di wajahnya.

Menunduk, dua mata Nesia mendapati bahwa di tangkupan kedua telapak tangannya terdapat sebuah apel merah yang segar.

Nesia segera mendongak untuk mencari tahu siapa orang kurang ajar yang berniat melempar apel padanya. Jika memang itu Arthur, Nesia siap-siap dan tak akan segan untuk melempar balik apel ini dengan kekuatan dua kali lebih besar dari lemparan padanya tadi.

Tetapi yang berdiri di depannya hanya,

"Lovino Vargas?" Nesia mengernyit heran, memandang Lovino yang berdiri santai dengan menumpukan berat badannya pada sebelah kakinya.

"Kau lapar kan? Bunyi perutmu di taman tadi kedengaran olehku, lho," ujar pemuda itu kalem, sembari memasukkan kedua telapak tangannya di saku jasnya.

"Aku–apa?"

Memerah muka Nesia saat menyadari apa yang dikatakan Vargas.

Gembel proletar(?)!Bunyi perut Nesia tadi sekeras konser Linkin Park apa, sampai terdengar oleh dunia begitu? Dan perasaan… perasaan tadi yang berwawasan wiyata mandala di Taman Utama hanya kelompok Nesia saja, kan?

Mengacuhkan Nesia, Lovino Vargas berbalik dan berjalan tenang menuju kelompoknya berada, di mana pemandunya, Senior Beilschmidt dengan semangatnya memberi wawasan tentang Lapangan Parkir ini dengan beberapa kali terselip kata awesome dalam keterangannya.

Menunduk menatap buah di tangannya, Nesia mengendikkan bahu acuh.

Hanya satu yang dipikirkannya ketika ia mulai menggigit kecil daging apel tersebut.

'Lovino Vargas sangat baik' pikirnya sembari tersenyum kecil.

-oOo-


1. Kubikin Hetalia High di AS karena aku ga ada ide harus dimana lagi dan mengapa di sana :( #bilang aja males mikir

2. Anggap aja ini OC dariku :D #plak

3. OC juga :D aku bingung untuk pake nation mana lagi T.T Tapi tenang aja, kedua OC figuran ini cuma numpang nama doang kok :D aha

4. Ini human name Norwegia :D gomen, tapi seingatku belum ada human name dia yang IC, ya? :0 gomen kalau aku salah –coretkurangcoret- info T.T

-oOo-


Next Chapter

"Apa yang kaulakukan? Mesum! Mesum! Mesum!"

"Hei, Barbar! Jika ada yang merasa dilecehkan dan terancam itu aku tahu! Kau pikir bau napasmu tadi enak dihirup?"

.

"Kau ingat, kan, bahwa kau terkena hukuman akibat apa yang telah kau lakukan dengan Carriedo pagi ini di taman gedung A?"

.

"KENAPA KAU LAKUKAN INI PADAKU? AWAS KAU JIKA KAU BERANI MEMBUKA BUKU ITU! OH TUHAN, AKU BERSUMPAH AKU AKAN MEMBALASNYA!"

.

"Tetapi, aku senang berkenalan denganmu, Saraswati. Aku tak mengatakan sesuatu karena terpaksa. Jadi, percayalah."

.

"Kau bertempat tinggal tepat di sebelahku, hei?"


Pojok Review. Monggo~~

saia jadi suka lovinooo / Yay :D / lebih pro ke UKNes / Satu poin buat si Alis *dikutuk / Kapan Nederlanden dan Alfred muncul? / Ohoho, only time will tell ;) *diacungi jari tengah / Ada SpaBelgie~~~ / Aha? 0.0 / Masih banyak typo / Iya, 4500 kata emang susah buat diteliti cermat (dan agak males *plak) v_v Terimakasih atas koreksinya :D / Kalau udah pakai senior, ga usah pakai senpai / Oh iya ya 0.0 *dudul to the max* siap diperbaiki! / Jung Yong Hwa, Go Ye Mi dan Sam Dong itu siapa, sih? / *tepok jidat* Itu artis Korea *ketahuan rajin nonton* *uhuk!* Gomen-gomen, ga ngasih penjelasan v_v / Kata-kata inggris dikurangi, ya? / Siap, Boss! ('^')7 Tapitapitapi, aku musti tetep pakai beberapa daripada kesannya aneh? *meringis garing / Lovi hero sangat! / Aseekk~~ / Antonio melempem! / *peluk hangat Antonio *plak / SpaNesMano, ya? / Hm... *apaseh? / Ceritanya sangat manis! / Asekasek! / Kenapa rate M? / Kenapa eaw? :D *alay / Arthur bangke! / *angkat tangan 0.0 / Aku nantikan adegan UKNes! / YipYip! / Pace-nya agak lambat / Iya, saya sadar v_v nanti dicepetin deh :D / Mana tsundere Lovi? / Aku ga bisa bikin dia tsundere~ QAQ M-mungkin nanti ada saatnya dia menunjukkan sisi tsundere. Pas berduaan ama Antonio mungkin? :D *jiah! / Andrew Scholte itu Noru? / Ayey :D / Bella itu Belgie? / Bukan, istrinya Edward Cullen :D *dilempar laptop / by: seseorang yang ga bisa login / Kamu siapa~~ Aku kan juga pengen lihat fic-ficmu~~ Q_Q *tarik2 lengan baju Lovi *lha? / Gaya ceritamu menggelitik dan menggemaskan / Makasih. Aku ama ceritaku nih, yang menggemaskan? :D *kedip2 najong


Review/konkrit/saran/dukungan/pujian *plak* sangat dibutuhkan.

Terimakasih.

Takk. Viva La FHI.

-d.i.s.-