Maaf baru bisa update. Belum ada waktu luang cukup untuk berupdate ria :D Chapter 4 ini agak panjang, lho. Sebagai permintaan maaf saya deh :D ohoho… #kayak ada yang nungguin aja =..=
Hetalia High School menyajikan apa yang tidak sekolahmu sajikan. Melengkapi apa yang kau rasakan kurang dari sekolah SMA manapun yang pernah kau tahu. Mewujudkan setiap mimpi-mimpimu mengenai sekolah idamanmu, kecuali jika sekolah idamanmu adalah sekolah sihir semacam H*rry P*tter.
Terletak di salah satu negara bagian AS yang memiliki iklim kondusif dan menyenangkan. Tidak terlalu dingin, namun juga tidak terlalu panas. Namun tenang saja, kau tetap bisa merasakan nikmatnya empat musim yang dimiliki oleh bumi tercinta. Musim semi yang hangat, musim panas yang cerah namun tak menyengat, musim gugur yang indah namun tak beku, serta musim dingin dengan salju yang lembut.
Seperti sekolah SMA pada umumnya, Hetalia High terdiri dari tiga tingkatan kelas. Kelas satu, kelas dua, dan kelas tiga. Terbangun di atas sebuah tanah belasan hektar, sekolah ini jika dilihat dari atas melalui satelit, maka akan bisa dibilang memakan cukup banyak tempat. Namun itu wajar dikarenakan berbagai gedung yang menyediakan berbagai sarana dan prasarana penunjang pembelajaran. Baik pembelajaran akademik atau pembelajaran non akademik seperti kegiatan klub, OSIS, atau ekstrakurikuler.
Para siswa memakai jas berwarna biru tua yang merangkapi kemeja putih, celana berwarna kotak-kotak merah dengan tepian hitam, serta bersepatu pantofel hitam mengkilat. Oh ya, tak lupa juga dasi berwarna senada dengan celana panjang yang dipakainya. Sedangkan para Ladies memakai seragam yang tak jauh beda. Hanya saja celana diganti dengan rok sepuluh senti di atas lutut, sepatu flat tanpa hak berwarna hitam yang dilengkapi dengan kaus kaki putih polos yang ditarik hingga lima senti di bawah lutut (1). Tetapi, selain seragam formal tersebut, terdapat juga pakaian-pakaian non-formal lainnya yang dipakai khusus pada acara atau kelompok tertentu saja. Seperti pada pakaian saat kegiatan olahraga atau seragam masing-masing klub yang ada yang dibuat sesuai dengan minat dan pilihan kesepakatan anggota.
Berbagai sarana dan prasarana ada. Lengkap. Komplit. Mulai dari lift, kolam renang, komputer, laptop gratis untuk masing-masing murid, gymnasium, bahkan akses ke beberapa institusi atau organisasi terkenal seperti CIA atau FBI jika kalian memang ingin bercita-cita menjadi anggota badan intelijen. O ya, jangan lupa waktu belajar yang hanya berlangsung lima jam dari pukul tujuh hingga pukul dua belas saja; mulai Senin hingga Jumat.
Olala~~
Itu pasti sangat menyenangkan.
Intinya, sekolah ini seperti sekolah elit dalam manga yang terwujud dalam bentuk nyata. Sekolah bangsawan dalam novel-novel yang hadir di depan matamu. Sekolah bergengsi yang pernah kau bayangkan, yang benar-benar tercipta dalam bentuk kasat mata!
Siapa sih yang tak ingin mendaftar? Siapa pula yang tidak tahu mengenal Hetalia High? Jika kalian mengenal Harvard University di tingkat kuliah, maka tentu saja semua orang akan mengenal Hetalia High di tingkat SMA. Pemberitaan mengenai sekolah ini bisa kalian dapatkan di manapun; koran, majalah, televisi, radio, internet, brosur, bahkan dari mulut ke mulut masyarakat.
Annesia Saraswati pun tahu bahwa Hetalia High adalah sekolah elit dan bergengsi dan menjadi sekolah cita-cita dan tujuannya untuk melanjutkan ke Harvard University nanti.
Ia yakin pada pilihannya saat itu ketika ia mengirimkan data dirinya melalui air mail dan mengklik 'Yes' dan 'submit' pada web pendaftaran murid baru Hetalia High di internet.
Ia yakin seratus persen.
Tetapi, bahkan saat baru menjalani MOS hari pertama saja, kini ia mulai mempertanyakan keyakinannya tersebut.
Antonio F. Carriedo.
Arthur Kirkland.
Lily Zwingli.
Vash Zwingli.
Lovino Vargas.
Nesia bahkan tak tahu siapa yang pantas ia beri senyum persahabatan atau acungan jari tengah tanda permusuhan.
Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya
I don't own the picture of this story either.
I just own the plot of the story and I don't make money from it.
Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.
Pairing: multimalexNesia, (might be) a lil' absurd hints of BL
Rate: M because of some some reasons in the later chapters :D
Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D
Maju FHI!
Happy reading
Aula gedung A tampak ramai oleh murid baru beserta beberapa anggota Komite Disiplin di sana. Suasana hiruk-pikuk terjadi ketika terdengar teriakan atau percakapan atau gurauan di sana-sini. Suasana panas musim panas di luar sedikit terkurangi oleh dinginnya hembusan belasan pendingin ruangan yang tergantung di beberapa bagian tembok di aula besar nan luas ini.
Para murid baru telah menjalani seluruh rangkaian acara MOS pada hari pertama. Mulai dari upacara penyambutan, intermezzo absurd dari Arthur Kirkland, Wawasan Wiyata Mandala, istirahat makan siang, pemberian materi oleh Wakil Kepala Sekolah mengenai beberapa topik mengenai pengembangan soft skill dan hard skill. Dan kini, mereka tengah berada di aula besar ini untuk mengambil tas-tas mereka yang sebelumnya terkena 'sita' dan dikumpulkan oleh para senior di ruang sita. Alasannya sih, agar mereka tidak membawa benda-benda yang tidak diperlukan selama rangkaian acara MOS berlangsung.
Sehingga, kini mereka sibuk mencari-cari tas mereka masing-masing. Para senior laknat itu memang sengaja mencampur-baurkan tas para murid agar mereka mampu berinteraksi satu sama lain dan tidak menjadi individualistis. Mereka akan saling bertanya di mana tasnya dan akan saling memberi jawaban satu sama lain.
Intinya sih begitu.
Namun bagi Nesia, ini cukup merepotkan.
Walau ia bisa dibilang sangat beruntung karena tidak perlu repot-repot mencari-cari dan mengubrak-abrik tumpukan tas-tas yang tersebar di lantai aula sebesar ini, namun tetap saja ia merasa penat. Aula ini sangat besar, sehingga suara teriakan para murid juga akan menggema dan memantul dan menjadi lebih keras lagi kedengarannya. Belum lagi dengan keadaan aula ini yang tertutup karena ber-AC, menjadikan keadaan semakin sumpek ketika keringat dan bau murid-murid yang kelelahan akibat perjalanan wawasan wiyata mandala, bercampur dengan bau udara dari AC.
Nesia ingin muntah.
Karena itulah, ia tanpa banyak omong hanya menepuk-nepuk tasnya yang agak kotor karena debu. Beruntung sekali ia karena begitu memasuki pintu aula, ia langsung mampu mengenali tasnya yang teronggok begitu saja di dekat pintu masuk. Sedangkan teman-temannya yang lain sibuk kesana-kemari, melangkah di antara tumpukan tas, mengobrak-abrik di sana dan sini. Termasuk Lily Zwingli yang berpamitan untuk mencari tas selempangnya yang berwarna biru muda.
Karena tidak tahu apa lagi yang harus ia lakukan, Nesia memasukkan kedua tangannya pada saku jasnya setelah memakai tas ranselnya. Ia bersandar pada tembok, memandang bosan dengan ekspresi impasif pada hiruk-pikuk yang terjadi di depannya.
Dan sampailah dua bola hitam kecoklatannya pada sosok Antonio di sebelah sana.
Pemuda itu tengah memilah-milah tumpukan tas yang ada di dekat jendela besar aula. Beberapa titik keringat tampak di wajahnya yang kemerahan; mungkin karena lelah dan kepanasan akibat perjalanan yang baru dilakukannya. Di sebelahnya ada murid baru laki-laki yang juga tengah mencari tasnya –atau membantu Antonio mencari tasnya? Entahlah, yang jelas temannya tersebut juga turut memilah-milah.
Nesia menghela nafas sembari semakin memasukkan telapak tangannya di saku jasnya.
Kira-kira Antonio sehabis ini mau kemana? Langsung pulangkah?
Apakah rumahnya dan apartemen Nesia seara–
Nesia dengan cepat menampar pelan pipinya sendiri, lalu memejamkan mata erat dan menggeleng-geleng keras.
Kenapakenapakenapakenapakena pakenapa?
Apa yang terjadi padanya? Kenapa pikirannya selalu menjadi aneh ketika melihat teman pertamanya tersebut? Apa Nesia tadi pagi salah makan? Apa Nesia terlalu kecapaian hingga otaknya tidak bisa berfungsi normal?
Ya, ya.
Pasti hanya itu.
Sebentar lagi, setelah MOS ini –ah, tidak. Bahkan mungkin besok, pasti dia dan Antonio akan kembali menjadi dua orang asing yang tak saling mengenal. Apa kemungkinannya ia dan Antonio bisa dekat lagi? Tak ada, kan?
Apalagi ketika kegiatan belajar mengajar telah dimulai nantinya. Mereka akan beda kelas. Beda klub. Beda arah rumah.
Apalagi?!
Dengan kesal karena dirinya sendiri, gadis itu dengan cepat memutar kepalanya ke arah samping demi mengalihkan pandang dari objek tatapannya semula.
Begitu cepat ia memutar kepalanya ke arah kiri hingga ia tidak memiliki waktu untuk mempersiapkan diri menatap apa yang tepat berada di sebelah kirinya.
Wajah Arthur Kirkland.
Berada sangat dekat dengan wajah Nesia, hingga gadis itu mampu merasakan hembusan nafas pemuda itu di wajah putih kekuningan miliknya.
Nesia membelalak terkejut,
Dan…
"Huwaaaaaa!" Nesia berteriak frontal sembari telapak tangan kanannya otomatis mendorong wajah Arthur untuk mengurangi jarak di antara mereka.
Beruntung keadaan aula yang tengah ramai, sehingga teriakan Nesia bagaikan bunyi seekor lebah di antara ratusan dengung lebah.
"Apa yang kaulakukan?! Mesum! Mesum! Mesum!" Nesia memejamkan matanya sembari tetap mendorong wajah Arthur untuk menjauh, sekalipun itu tidak mungkin lagi karena di belakang kepala Arthur adalah tembok sehingga bagian belakang kepala berhelai pirang itu kini tertekan keras pada permukaan tembok oleh telapak tangan Nesia.
"Ap–apa–."
"Hiiiiiii! Sudah kuduga bahwa kau itu mesum! Menyuruhku dan Antonio bermesaraan… Sekarang mau apa kau?! Sialan!" teriak Nesia keras, tak peduli Arthur yang sudah kerepotan melepaskan telapak tangan Nesia dari wajahnya.
Pasalnya telapak tangan Nesia juga menekan keras hidung pemuda itu dan menyebabkannya sulit bernapas.
Hhhh…
"Bwah!" tukas Arthur begitu ia dengan susah payah, berhasil menjauhkan telapak tangan Nesia dari wajahnya. Kini wajah pemuda berkebangsaan Inggris itu memerah karena defisit oksigen di paru-parunya.
Ditatapnya Nesia dengan berang, dimana gadis itu juga memberikan Arthur tatapan yang tak kalah sadisnya, "Apa yang kau lakukan dan katakan, hei cewek barbar?!" bentak Arthur kesal. Pasalnya ia bisa dikatakan sudah jatuh tertimpa tangga.
Sudah dikatai mesum, kepalanya sakit tertekan permukaan tembok, dan nyaris mati kehabisan napas pula.
Gadis ini benar-benar perempuan atau apa, sih? Tenaganya seperti tenaga sepuluh kuda saja.
"Apa?!" teriak Nesia sembari memelototkan kedua matanya, "Apa kau bilang? Barbar?! Siapa yang barbar?! Kau bahkan tiba-tiba saja mendekatkan wajahmu padaku! Dasar mesum!"
"Ya! Barbar! Karena gadis mana yang teriak-teriak berlebihan begitu sembari nyaris membunuh laki-laki, selain dirimu?!" balas Arthur tak kalah sengit, "Dan apa?! Kau bilang aku mesum! Hei, barbar, aku hanya ingin memanggilmu untuk mengatakan sesuatu padamu dan kau saja yang tiba-tiba menoleh ke samping!" Arthur mengusap wajahnya penat, "Jika ada yang merasa dilecehkan dan terancam itu aku tahu! Kau pikir bau napasmu tadi enak dihirup?!"
Nesia menggigit bibir bawahnya. Entah mengapa pikirannya pada Antonio tadi benar-benar hilang ketika setan di depannya ini muncul, mengancam ciuman pertamanya untuk hilang, dan apa? Kini memanggilnya barbar, bau napas tak enak, dan pembunuh?!
Ya Tuhan!
"Lagipula kenapa harus tepat di sampingku?! Kau mengagetkanku, tahu?!" semprot Nesia garang. Tidak menyesal dia membuat Arthur nyaris kehabisan napas seperti tadi.
Ah, kenapa tadi tidak sekalian saja ia buat dia pingsan atau lebih bagus lagi, mati?
Biar saja dipenjara. Nesia tidak peduli. Rasa dongkolnya pada pemuda ini seolah bagaikan diare, tidak mampu dibendung lagi.
"Aku sudah memanggilmu dari kejauhan, tapi kau tetap saja dengan bodohnya menatap terus ke arah depan!" teriak Arthur tidak terima jika ia disalahkan, "Lalu apa? Aku harus meneriakkan lewat pengeras suara tepat ditelingamu?!"
Bibir Nesia nyinyir, matanya menyipit, napasnya memburu.
Tuhan, berada bersama laki-laki ini beberapa menit lagi Nesia tidak yakin akan sanggup. Rasanya… rasanya…
Ia kesal sekali. Marah sekali. Benci sekali.
Sangat, hingga ia merasakan dadanya sakit.
Menghirup napas dalam-dalam dan berusaha menenangkan diri, Nesia memejamkan mata sejenak. Mengucapkan segala doa yang ia hapal dalam ingatannya dan memohon dengan sangat kesabaran yang besar pada Tuhan.
"Apa yang ingin kau sampaikan?" tanyanya setelah membuka mata. Itupun dengan nada seolah-olah ia mengatakan sesuatu yang sangat memberatkan di seumur hidupnya.
"Hmpfh!" Arthur bersedekap dada sembari menumpukan berat badannya di satu kakinya. Sikapnya yang sok menguasai seperti itu alih-alih mendinginkan kepala Nesia, malah membuat angry-meter Nesia semakin menuju puncak maksimum.
"Kau ingat, kan, bahwa kau terkena hukuman akibat apa yang telah kau lakukan dengan Carriedo pagi ini di taman gedung A?"
Twitch.
Sudut mata Nesia berkedut keki.
Kesabaran dan ketenangan yang sudah Nesia bangun susah payah, langsung roboh bagai tanaman toge yang tersiram tsunami, begitu mendengar ucapan Arthur.
"HUKUMAN?! ITU KAN KAU YANG MEMINTA KAMI MELAKUKAN!" teriak Nesia. Entah hilang kemana seluruh doa dan permohonannya pada Tuhan tadi.
"Kau dan Carriedo bisa menolak dan menyangkal, kan?"
"KAMI SUDAH–."
"Di taman tadi kau sama sekali tidak menyangkal. Lagipula, sejak awal, Carriedo juga tidak menyangkalnya, kan?"
"TAPI–."
"Tak ada tapi. Sekarang acara MOS sudah selesai," Arthur mengibaskan tangannya acuh, "Jika kau ingin menolak, maka harusnya tadi, kan? Kenapa baru sekarang. Sudah terlambat."
Kedua tangan Nesia mengepal bersama dengan napasnya yang semakin memburu. Ditatapnya Arthur dengan pandangan sedemikian rupa, yang sangat mampu membuat bahkan orang paling tidak sensitif pun, mengerti bahwa Nesia amat membencinya.
Alih-alih peduli, Arthur malah melanjutkan dan menatap Nesia dengan tenang, "Hukumanmu adalah, buatlah surat berisi kalimat romantis; entah itu pujian, kalimat cinta, atau apa, kepada salah satu senior, Komite Disiplin di sini. Besok, saat upacara penyambutan MOS hari Kedua, kau bacakan di podium setelah Vash selesai dengan pidatonya."
"Aku. Tidak. Mau," ucap Nesia singkat, padat, dan absurd sembari tanpa peduli, langsung berbalik untuk pergi dan pulang.
Dan ia merutuki nasib sialnya hari ini begitu merasakan sebelah tangannya tertahan oleh Arthur, dan pemuda itu kemudian membalikkan paksa tubuh Nesia untuk kembali menghadapnya.
"Punya hak apa kau untuk menolak aturan dan perintahku?" ucap Arthur, kedua tangannya yang berada di kedua bahu Nesia menekan keras.
Namun Nesia bertekad bahwa kali ini ia tidak akan menyerah, "Aku punya hak asasi manusia untuk menolak perintah konyolmu," balas Nesia. Kedua matanya menatap langsung pada dua emerald yang menyipit tajam memandangnya.
"Kau. Harus. Melakukannya. Besok," ucap Arthur dengan penekanan pada tiap kata. Pandangan matanya semakin menajam, bersamaan dengan semakin kuatnya tekanan kedua telapak tangannya di kedua pundak Nesia.
Namun Nesia tetap berusaha untuk tidak terintimidasi sama sekali oleh ancaman Seniornya tersebut, "Apa aku akan dikeluarkan dari Hetalia High jika tidak menuruti hukuman absurdmu itu?" tantangnya berani.
"Tidak," jawab Arthur cepat, yang disambut oleh seringai puas Nesia "Hanya saja….,"
Tangan Arthur luruh dari kedua pundak Nesia. Pemuda itu mundur selangkah, sembari sebelah tangannya meraba saku jasnya lalu menarik sesuatu keluar dari sana.
"Aku tidak menjamin lho, jika hidupmu di sini bakalan tenang," ujar Arthur tenang. Ekspresi dan seringai liciknya tadi hilang entah kemana dan sekarang terganti oleh ekspresi polos dan inosen, ketika ia menarik sesuatu keluar dari saku jasnya,
Dan menggantungkan benda tersebut di udara tepat di depan muka Nesia, dengan jepitan antara telunjuk dan jempol kanannya.
Dan Nesia membelalak.
Mulutnya setengah membuka ketika ia melihat sebuah buku kecil tergantung tepat di depan mukanya. Perasaan terkejut seketika menggantikan perasaan marah ketika ia melihat bahwa buku itu berwarna merah muda dengan gambar Power Puff Girls di sampulnya. Ia langsung merasa jaws dropped ketika melihat bahwa ada namanya tertera di sampul buku tersebut.
Dan rasanya ia ingin mati ketika ia menyadari bahwa buku yang menggantung di depan mukanya itu adalah buku catatan hariannya!
! #$%^&* #$%^&* #$%^&*!
Dengan cepat dan karena insting, tangan kanan Nesia berusaha menyambar buku itu. Namun Arthur ternyata lebih responsif dan segera mampu menjauhkan buku itu dari jangkauan Nesia serta menyimpannya kembali ke saku jasnya.
"KEMBALIKAAAAAANNNN!" teriak Nesia brutal dan frustasi. Ekspresinya sekarang bagaikan kerbau yang dipamerin bendera Cina; beringas, sadis, dan siap membrutal pada apapun yang berada di depannya.
Demi apa… Kenapa buku itu berada di tangan… tangan ba**ngan itu?! Dan.. dan…
DAN KENAPA PULA NESIA LUPA MENGELUARKAN BUKU HARIAN ITU DARI TAS RANSELNYA?!
Sial sial sial sial!
"Tidak. Mau," jawab Arthur singkat, lalu menjulurkan lidahnya.
AAARRRRRGGGHHHH!
"APA YANG KAU LAKUKAN, BODOH?!" teriak Nesia frustasi dan penat. Ingin rasanya ia menangis, "KEMBALIKAN! ITU BUKAN MILIKMU!" napas Nesia terdengar berhembus keras-keras karena marah bercampur capai, "Lagipula… LAGIPULA BAGAIMANA BISA BUKU ITU ADA PADAMU?!"
"Beruntung sekali aku ditugasi Vash sebagai pemeriksa tas para murid baru bersama dengan Berwald dan Natalia," ujar Arthur kalem.
"Senior Arthur!"
"Ya, Senior Herdevary?"
"Senior Vash menginginkan kau untuk segera ke ruang sita sehabis acara Wawasan Wiyata Mandala-mu selesai. Segera. Nanti ada Senior Berwald dan Senior Arlovskaya yang juga menunggumu di sana." (2)
Nesia membelalak ketika ingatan itu singgah di otaknya.
"Buku ini akan kukembalikan jika kau besok menghadiri MOS dan melaksanakan apa yang menjadi hukumanmu, seperti yang tadi kukatakan," pemuda itu lalu mengendikkan bahu acuh, "Jika tidak, maka aku tidak bisa menjamin bahwa buku ini berpindah tangan dari aku ke tangan anak-anak Klub Radio atau Koran Sekolah."
Dan tanpa memiliki rasa perikemanusiaan, pemuda itu langsung berbalik dan melangkah pergi dari sana, menghampiri komite disiplin lain yang juga tengah mengawasi usaha para murid baru untuk mencari tasnya masing-masing.
"HEI KEMBALIKAN! KAU TIDAK BISA MEMAKSAKU! KAU DENGAR AKU, KIRKLAND?!" teriak Nesia kesal.
Dan tinggallah Nesia sendiri.
"KENAPA KAU LAKUKAN INI PADAKU?! AWAS KAU JIKA KAU BERANI MEMBUKA BUKU ITU! OH TUHAN, AKU BERSUMPAH AKU AKAN MEMBALASNYA!"
Memandangi punggung Arthur dengan tatapan yang begitu tajam seolah dengan tatapan itu, ia mampu melempar tombak ke arah pemuda berambut pirang tersebut.
"HAAAHHH!" teriak Nesia frustasi sembari menghentakkan sebelah kakinya.
O Tuhan, mengapa Kau iseng sekali mempertemukan kedua orang tua Arthur sehingga manusia semacam dia bisa hadir di dunia ini?
Sudah cukup banyak setan, kenapa harus tambah satu lagi?
-oOo-
Kedua kaki Nesia melangkah lemas. Telapak tangannya tersimpan dan mengepal kuat di dalam saku jasnya. Pandangan matanya tampak letih dan penat pada apapaun yang ditatapnya. Kunciran kuda yang sebelumnya tertata rapi di rambutnya, kini agak berantakan.
Berkali-kali kaki dengan sepatu flat hitam itu menendang bebatuan kecil yang tampak di jalan. Angin musim panas sore hari yang terasa menyegarkan, tidak mampu membuat paras manisnya tampak cukup rileks untuk mampu menikmatinya. Sinar matahari musim panas, yang kini telah terancam hilang di batasan horizon sana, menyemburatkan sinar merah kejinggaan pada wajahnya.
Entah mengapa ia pikir bahwa takdir bermain-main dengannya dengan cukup kelewat batas dan keterlaluan sekali.
Ia tak tahu, ia tak peduli jika orang lain mengatakannya lebay atau apa. Tetapi begitu banyak peristiwa hari ini yang membuatnya menyesal menginjakkan kaki di negeri Paman Sam ini.
Dan jika terulas kembali di ingatannya, kebanyakan dari peristiwa-peristiwa sialnya itu pasti memuat gambar atau ulasan tentang wajah dan seringai Arthur Kirk–
"HAAAAHHHHH!" teriak Nesia, melemparkan kedua tangannya ke udara dengan penat, "Apa salahku, Tuhan?! Apa?" protesnya pada langit yang mencorakkan garis-garis cahaya merah-jingga beserta kumpulan awan abu-abu, "Kenapa aku tidak memiliki daya lebih untuk melawannya? Jika tidak, kenapa aku tidak memiliki kesabaran besar untuk menghadapinya? Aku kesall!"
Meski aksi protesnya dengan teriak-teriak dan menghadap langit itu cukup atraktif untuk menyedot perhatian pengguna jalan di sampingnya atau para murid baru yang juga tengah berjalan kaki pulang sepertinya, Nesia tak peduli.
Ia tetap mendongak, menatap langit di atasnya. Kedua matanya menyipit marah, seolah kumpulan awan di atas sana bergerak dan membentuk pola yang menyerupai wajah orang nomor satu yang paling dibencinya. Napasnya memburu, seperti ada yang ingin menyesak keluar dari dadanya.
Ia tak tahan.
Ia tahu ia tak akan bisa bertahan.
Kedua matanya makin menyipit kala ia merasakan bahwa kelopak matanya mulai tergenang oleh cairan.
Ia tak ingin menangis. Tidak. Ia tak mau menangis.
Tetapi… sepertinya…
Semua akan lebih baik jika ia menyerah saja dan membiarkan dirinya tampak rapuh.
Sekali saj–
"Hei."
–a.
Terkaget, Nesia secara refleks memalingkan wajahnya kesamping dan segera mengusapkan lengannya pada kedua matanya. Siapapun kini yang berada di sampingnya, Nesia tidak mau menangis di dekatnya. Orang asing. Nesia tidak mau terlihat rapuh di depan orang yang tidak dikenalnya.
Setelah memastikan bahwa kedua matanya sudah cukup kering, ia menoleh ke sumber suara sembari memasang sebuah senyum tipis.
"Ya?"
Dan sampailah tatapan dua bola hitam kecoklatannya pada sepasang mata bagai permata emerald yang berkilau tertimpa sinar matahari senja.
Indah sekali.
"Aku melihatmu," ujar Antonio sembari tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang tersusun rapi, "Dan berpikir, mungkin rumah kita berada di arah yang sama?"
Ya Tuhan…
Nesia langsung merasa déjà vu.
Senyuman itu, sentuhan tangan itu, mulut yang mengucapkan sejuta kata manis itu… dan terutama…
Tatapan emerald it–
PLAK!
Antonio menaikkan sebelah alisnya saat melihat gadis di depannya menampar sebelah pipinya sendiri dengan tamparan yang lumayan keras.
"Kau baik-baik saja, Saraswati?" tanya Antonio khawatir.
Buru-buru memalingkan muka, Nesia kembali melangkah pelan. Ditatanya kembali poninya dengan kikuk, seolah dengan poni itu, ia mampu menutupi seluruh wajahnya yang kini terasa memanas.
Kenapa? Padahal matahari kan sudah nyaris beranjak… kenapa udara terasa hangat di sekitar wajahnya?
Begitu Antonio datang, kemana perasaan kesal dan marahnya pada takdir?
Kemana perasaan dongkolnya pada Kirkland yang sebelumnya sangat terasa hingga ke pori-pori kulitnya?
"T–tidak apa-apa," Nesia ingin mengutuk dirinya sendiri yang berbicara tergagap, "Aku tinggal di apartemen Green Brooklyn, jalanan St. Victoria," ujar Nesia, dengan desperet mencoba mencari bahan obrolan yang membuat pikirannya terlupa akan hal-hal yang menurutnya aneh.
"Sungguh?" ujar Antonio antusias sembari mensejajari langkah Nesia, "Green Brooklyn dekat dengan rumahku. Hanya beberapa blok dari situ."
"Oh..," ujar Nesia apatis. Habisnya, mau merespon apa lagi?
'Bolehkah aku kesana?'?
Haha!
Jangan becanda.
Lagipula, daripada pertanyaan itu, ada hal lain yang sesungguhnya ingin sekali Nesia tanyakan. Terkait dengan peristiwa tadi pagi yang menimpa mereka berdua. Ia sungguh sangat penasaran terhadap pemikiran Antonio; jauh lebih penasaran daripada rasa ingin tahunya terkait ending serial Laga Twilight.
Bukankah Antonio tadi pagi tidak berbagi pikiran apapun dengannya? Bukankah cowok itu hanya diam saja dan pasrah?
Mengingat itu Nesia kembali sedikit sebal pula.
Tetapi daripada itu, yang lebih membuat Nesia penasaran…
Nesia menengguk ludah dengan ragu, seolah di dalam tenggorokannya terdapat jarum beracun. Setelah mengumpulkan nyali, ia berucap lirih sembari menunduk, "Tadi pagi…," suaranya terdengar mencicit di tengah suara bunyi mesin-mesin buatan manusia yang berlalu lalang di jalanan samping mereka, "Tadi pagi, mengapa kau mau menuruti ucapan Kirk–."
"Ah, soal tadi pagi," ucap Antonio tiba-tiba. Membuat Nesia terkejut dan refleks mendongak dan menatap pemuda itu dari samping.
Dan tanpa sadar Nesia sedikit mengangakan mulutnya melihat bagaimana wajah Antonio yang tertempa sinar matahari senja. Membuat ada sesuatu yang berdesir di dalam tubuhnya.
"Soal tadi pagi," menoleh, Antonio menatap Nesia sembari tersenyum kecil, "Maaf, Saraswati. Kuharap kau tidak mempermasalahkannya."
Tanpa sadar, entah bagaimana bisa bibir Nesia turut melengkungan senyum kecil.
Senyum pertama yang terlukis di bibirnya semenjak beberapa jam terakhir.
"Tuntutan, kan?"
Retoris.
Dan entah kenapa, ketika Antonio mengangguk, Nesia memalingkan wajahnya dan kembali menatap tanah yang ditapaki kedua kaki kecilnya.
Iya, itu hanya tuntutan. Nesia tahu.
Nesia seharusnya tahu.
Nesia seharusnya mengerti.
Tetapi kenapa, jika memang karena tuntutan, mengapa sangat terasa sekali? Mengapa semua terlihat begitu nyata? Mengapa semua sangat terasa nyata?
Mereka tidak harus sampai nyaris berciuman kan, jika semua itu hanya karena tuntutan hukuman dari Kirkland?
Tidak harus, kan?
Lalu, kenapa? Kenapa mereka harus bertindak sejauh itu?
Dan jika hanya karena tuntutan, mengapa Nesia sangat mempermasalahkannya? Mengapa mempersoalkannya? Mengapa tidak segera saja melupakannya dan kembali seperti biasa?
Mengapa ia harus begini?
"Tetapi, aku senang berkenalan denganmu, Saraswati," ujar Antonio, tersenyum lebar, "Aku tak mengatakan sesuatu karena terpaksa. Jadi, percayalah."
Namun, untuk yang satu ini, Nesia tidak ragu untuk menganggukkan kepala dan berujar dengan yakin, "Aku percaya," jawabnya riang, "Aku juga bersyukur berkenalan denganmu, Carriedo."
Apapun yang terjadi, Nesia bersyukur.
Ia sangat bersyukur.
-oOo-
Nesia menghela napas besar ketika telah sampai di depan pintu apartemennya. Diketuknya pintu apartemen berwarna coklat kehitaman itu beberapa kali.
Ia merasa sangat capai. Jam di telepon genggamnya sudah menunjukkan pukul tiga sore. Dan rutinitas MOS hari ini cukup menyita energi, kekuatan, dan mental darinya. Bahkan mengurasnya hingga habis. Oleh sebab itulah, begitu pintu di depannya ini terbuka, Nesia ingin segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Untuk urusan mandi? Nanti saja. Ia ingin berendam lama-lama untuk merilekskan pikiran.
Sabun dengan aroma melati bukan pilihan yang buruk untuk hari ini rasanya.
Ketika pintu itu belum terbuka juga, Nesia mengulangi ketukannya dengan lebih keras.
O, belum tahu jika apartemen ini bukan hanya Nesia saja yang menempati? Gadis itu tinggal satu atap bersama dengan beberapa teman seperantauan yang ia kenal begitu saja. Sebelumnya ia menyewa sebuah apartemen lain untuk dirinya sendiri. Namun begitu ia mengenal teman barunya yang juga tinggal di apartemen ini, ia diajak untuk pindah dan tinggal bersama gadis itu dan beberapa teman lainnya. Untuk menghemat biaya katanya.
Dan Nesia adalah pemuja kata 'hemat'. Jadi, tentu saja ia dengan suka hati menerima.
Lagipula, tinggal satu apartemen bersama tiga orang gadis lainnya tidak begitu buruk, kok. Apalagi apartemennya ini lumayan lebih luas dan lebih bagus daripada apartemennya yang lama. Meski harganya juga bisa dibilang 'lebih bagus', tetapi itu sebanding dengan fasilitas yang ditawarkan.
Nesia semakin kesal ketika pintu di depannya belum terbuka. Semakin keras ia mengetuknya. Rasa capai dan penatnya membuat ia kurang mampu bersabar lama-lama. Inilah konsekuensinya jika ia menunda-nunda kesempatan untuk membuat kunci cadangan.
Bagaimana jika belum ada yang pulang sama sekali? Masak harus menunggu di depan apartemen sendiri seperti retard begini, sih?
"Hello, ada orang di rumah?" teriak Nesia sembari semakin keras menggedor pintu, tak peduli jika tetangga-tetangga apartemennya terganggu akan ulahnya, "Tolong bukain pintunya, dong?"
Setelah beberapa kali berteriak dan menggedor tetapi pintu di depannya tidak kunjung terbuka, Nesia mendecakkan kakinya kesal dan melempar tasnya ke lantai.
Lalu terduduklah ia di depan pintu apartemennya sendiri sembari menselonjorkan kakinya.
"Aku bersumpah, malam ini aku akan pergi ke tukang kunci dan membuat kunci cadangan untukku sendiri!" gumamnya sembari memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya di permukaan pintu di belakangnya.
"Kemarikan jepit rambutmu."
Karena capai, Nesia enggan-engganan membuka kedua matanya yang sudah mulai terkantuk-kantuk. Hell, bahkan ia sudah nyaris tertidur seandainya tidak ada suara yang barusan menyapa gendang telinganya.
Menoleh ke sumber suara, matanya yang sebelumnya sayu, langsung terbuka lebar saat bertatapan dengan sepasang bola emerald yang memandangnya dengan ekspresi datar.
"Lo–Lovino Vargas?!" tuding Nesia pada hidung Lovino.
"Bukan, aku Tom Cruise," jawab Lovino dengan pandangan bosan. Masih sambil berdiri di samping Nesia yang juga masih duduk berselonjor di depan pintu apartemennya, Lovino mengulurkan tangannya, "Kemarikan jepit rambutmu."
"Ba–bagaimana kau bisa ada di sini, Vargas?" Nesia yang masih syok melihat Lovino berdiri di sampingnya, belum mampu memproses permintaan Lovino barusan dalam otaknya, "K–Kau mengikutiku?!"
Kedua mata Lovino menyipit. Kesabarannya sudah mulai menipis rupanya, "Benar-benar ya… Aku berniat membantumu dan cepat kemarikan jepit rambutmu."
"Buat apa?" tanya Nesia curiga. Buru-buru dia bangkit dan memakai kembali tasnya.
"Kau mau selamanya tampak bodoh duduk di depan apartemenmu sendiri begini?"
Dan Nesia sedikit membelalakkan matanya begitu otaknya telah memproses maksud dari perkataan Lovino, "Kau ingin membuka pintu ini dengan jepit rambut?" tanyanya sembari menahan tawa, "Yang benar saj– Ouch!"
Pekikan sakit Nesia seolah tidak terhiraukan oleh Lovino begitu ia secara paksa menarik jepit rambut dari kepala Nesia dan membuat beberapa helai Nesia tampak tersangkut di aksesori wanita tersebut.
"Hei! Dasar kau–," hardik Nesia keras sembari mengernyit dan mengelus-elus sisi kepalanya yang sakit. Namun, Nesia berhenti dari niatnya untuk mencerca Lovino begitu melihat pemuda itu mulai bekerja. Dimasukkannya jepitan Nesia pada lubang kunci apartemennya. Entah bagaimana hal itu akan mampu membuat pintunya terbuka nantinya.
Diperhatikannya Lovino yang masih memakai seragam lengkap bersama tas ranselnya. Pasti juga baru pulang dari sekolah.
"Um… soal yang tadi pagi, aku berterimakasih sekali padamu," ujar Nesia membuka pembicaraan di tengah suasana yang sepi; Lovino berusaha membuka pintu, dan Nesia hanya memperhatikan dari samping, "Baik soal hitungan dan soal apel. Terimakasih sekali," gadis itu membungkuk, lalu tersenyum lebar.
"Tak masalah," gumam Lovino singkat.
"Kata Kirkland, apel di Taman Utama tak boleh dipetik lho," ujar Nesia separuh bercanda.
"Buktinya aku tidak dipenjara."
Nesia hanya meringis garing, 'Anak ini…,' batinnya sedikit keki melihat sikap superior yang ditunjukkan Vargas.
"Ngomong-ngomong, kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau bisa ada di sini? Aku sangat kaget, tahu?" lanjut Nesia.
"Aku berada di sini karena aku pulang, tentu saja."
"Hah?" Nesia menaikkan sebelah alisnya, "Rumahmu di mana?"
"Selesai," Lovino kembali berdiri tegak dari posisi membungkuknya. Dikembalikannya jepit rambut Nesia kepada pemiliknya.
Dan ketika Lovino memutar gagang pintu, taraaaa! Nesia terbengong ketika melihat hasil kerja Lovino yang excelento sedemikian rupa.
"Masuklah," ujar Lovino datar.
"Ba–Bagaimana bisa…," Nesia mengalihkan pandangan dari pintu yang telah terbuka menuju ke kedua mata Lovino, "Kau belajar darimana? Hebat sekali."
"See 'ya," tanpa menjawab pertanyaan Nesia, pemuda itu berbalik dan melangkah pergi.
"Hei, tunggu–." ucapan Nesia terhenti bersamaan dengan membulatnya kedua matanya ketika menatap bahwa, alih-alih terus berjalan menuju lift untuk turun ke lantai satu dan keluar dari kompleks apartemen Nesia (seperti yang dipikirkan Nesia), pemuda itu justru menuju ke pintu tepat di sebelah pintu apartemen Nesia dan membukanya.
Begitu pintu itu kembali tertutup oleh pemiliknya, barulah Nesia tersadar dan berteriak pada udara kosong di depannya.
"Kau bertempat tinggal tepat di sebelahku, hei?!"
-oOo-
(1) Lihat story picture untuk fic ini aja kalau mau tahu tentang seragam yang kudeskripsikan untuk Hetalia High di sini :D #males mikir #plak# hanya saja warna celana / rok dan dasi murid (cowok dan cewek) itu warnanya sama-sama merah kotak-kotak (kayak warna rok Sey-chan / Hungary-chan di picture itu :D). Dan baik murid cewek atau cowok ga pakai daleman sweeter, ya :D jadi abis kemeja, langsung jas. Oh, and no boots :D aha *plak
(2) Ini adalah dialog Arthur dan Elizaveta di chapter lalu. Silahkan di cek #untuk apa -,-
-oOo-
Next chapter
"Kerah kemejamu belum terlipat. Jika ketahuan, pasti dapat hukuman lagi, kan?"
.
"Kepada Annesia Saraswati, silahkan maju ke depan. Kupikir ada yang ingin kau sampaikan, bukan?"
.
"A–Aku ingin bernyanyi untukmu… Se–semoga lagu ini mampu menyam––menyampaikan perasaanku… padamu."
.
"Lagipula apa, sih. Kebanyakan hanya tentang kau dan si Willem–Aw!"
.
"Pertama, kau kelihatan dekat dengan Antonio Carriedo."
Pojok review. Monggo~
Typo masih ada, tuh / Haha, iya. 4,5k words lebih memang bukanlah hal yang mudah untuk cek ulang T.T Tapi akan saya usahakan lebih teliti :D apa ada typo lagi di sini? :3 / Migran dan Imigran? / Oh iya. Aku juga kurang tahu, sih #ditabok# Tapitapitapi… seingatku pokoknya penduduk dari luar negeri itu disebut 'migran', ya? Baru migran itu dibedain jadi imigran dan migran #belibet dot com#. Maaf, aku pake migran soalnya ya itu, di English adanya hanya migrant, ga ada immigrant (alasan apaan ini). Maaf (lagi), aku cenderung nyerap kata dari English, sih. Tetapi kalau emang salah, siap dibenerin, kok :* Tengs, anyway / Lebih dukung RomaNes~ / Asekasek! #cium Lovino #lha? / Hint LiechNes, dong / Kau membuatku nyaris kena serangan jantung -,- / Penname-mu unik lho / Oh ya? :D ahaha #ketawa sambil blushing lebay (?)# Ini confession, ya? #plak / ASDFGHJKL. SAYA JADI SUKA UKNES! / O Mai Gwod! Terimakasih :D Si Alis dapat satu suara, nih. Ohoho #plak / Adegan rate-M nya manaaaa? / Saya setres kalau ditagih ini T.T #jedotin pala ke dada Antonio (?). Pasti ada, kok, adegan begituan -/- Tapi jujur, ya. Masih lama~~ :D saya ga mau ujug2 mereka semua udah jadi mesum aja #plak# Tapi janji, saya memberi fic ini rate M bukan tanpa alasan :3 Sabar ea #duakh! / Aku suka karakter Arthur disini. Ayo bully Nesia! / Go go go, Arthur go! #dijambak Nesia / Aku benci Arthur! / Abis dipuji, sekarang dilaknat #tepuk2 pundak Arthur / Aku pro UKNesRomano~~ / Asikasik. Enak ya, jadi, Nesia D:
Sedikit curhat yaaakkk:
Ada yang udah baca doujinshi Hetanic? Atau fic-nya di APH dengan adaptasi dari film Titanic dan doujinshi Hetanic? Mai Gwod! Itu sedih banget, deh. Jadi berasa lihat filmnya lagi. Gambarnya juga bagus. Apalagi dibaca sembari denger OSTs-nya Titanic Q_Q I strongly recommend you to read them, guys. Trust me, It is amazing. Dan jangan kaget jika Leonardo Di Caprio diperanin oleh Ore-sama no Awesome Gilbo, ya. Akakakak… :D #dilempar. Banyak APH Top pairings, lho :D
Bagi seorang Author, Review/konkrit/saran/dukungan/pujian *plak* sangat dibutuhkan demi memberi semangat untuk terus dan terus berkarya. Feedback adalah semangat bagi kami untuk terus melangkah #bleh! :)
Thank you all :*
-d.i.s.-
