A 4.5k words long chapter, sebagai permintaan maaf saya karena lelet update :D

Musim panas ternyata kali ini benar-benar menunjukkan kekuasaannya. Matahari bersinar dengan cukup terang di Timur sana, seolah dengan sinarnya, ia tengah menghardik para pemalas untuk segera bergegas menunaikan semua daily plans dan aktivitas masing-masing. Kicau burung-burung yang ada di pepophonan yang rindang teredam oleh bunyi dentinan klakson dari mesin-mesin buatan manusia yang tak lelah berlalu lalang. Sebuah kota yang tak pernah 'terlelap' akibat selalu hidupnya kegiatan dan aktivitas manusia yang menghuninya. Kala siang hiduplah kegiatan perkantoran, perdagangan, dan sekolah. Kala malam, giliran klub-klub dan teater yang ramai memeriahkan kehidupan.

Dalam kota yang seperti ini, mengharuskan tiap penduduknya untuk selalu energetik jika tidak ingin dicap pecundang dan tertinggal di belakang. Karena mereka sangat menjunjung tinggi individualisme dan kompetisi; sehingga hanya ada dua pilihan, berjuang dan menang, atau bermalas-malasan dan mendapatkan sisa-sisa dari pemenang. Dalam banyak hal, sistem disiplin dan menghargai waktu ini begitu diterapkan. Dalam hal perkantoran misalnya, bisa terlihat bahkan mulai pukul setengah enam pagi, sudah terdapat beberapa orang yang tergesa-gesa berjalan menuju pemberhentian bus dengan menenteng koper di tangan kiri dan berbicara melalui ponsel di tangan kanan. Dalam hal berdagang, toko-toko sudah mulai berburu membuka pintu dan kedainya serta menata barang dagangannya untuk menarik pelanggan. Dalam hal sekolah, para murid akan bergabung dengan para pegawai demi memadati halte bus dan naik dengan tertib ketika bus itu datang membawa mereka ke tempat tujuan.

Hetalia High bukan sebuah pengecualian.

Jika diaturan sudah tertulis waktu pembelajaran dimulai pukul tujuh tepat, maka kau harus sudah menapakkan kakimu melewati gerbang sebelum atau tepat pada waktu yang ditentukan. Jika lebih, barang sedetik saja, maka penjaga gerbang seolah menulikan telinga dari protes atau tangis atau permohonanmu, tak peduli berapa kali kau memelas atau mengutuk kesal. Tak ada trik yang bisa kau gunakan. Loncat pagar? Terobos lewat jalan tikus? Bermimpilah! Karena sistem pengamanan di sekolah elit ini tidak bisa kau remehkan selayaknya sekolah yang kerap muncul di drama-drama remaja.

Dan kau akan berakhir dengan kembali pulang.

Untuk itulah, Annesia Saraswati melangkahkan kedua kakinya cepat-cepat. Bahkan beberapa detik kemudian, ia berlari cepat menuju pemberhentian bus. Jarak antara Hetalia High dengan apartemennya memang tidak begitu jauh; kemarin bahkan ia pergi dan pulang dengan jalan kaki. Tetapi, jika waktu sudah mepet dan mengancam begini, sih, bus menjadi pilihan satu-satunya jika tidak ingin kena semprot dan hukuman lebih dari para Komite Disiplin.

Iya, kalian benar. Sekarang adalah hari kedua pelaksanaan MOS Hetalia High.

Dan keberuntungan sama sekali tidak nge-fans pada Nesia ketika gadis itu baru terbangun lima belas menit yang lalu.

Setelah cukup puas dengan mencuci muka dan membersihkan mulut, ia langsung menukar piyamanya dengan seragam, menyahut tas ranselnya, dan langsung terbirit-birit turun ke bawah demi menyambar sebuah sandwich yang sudah dihidangkan temannya di meja makan. Tanpa menjawab pandangan heran temannya, gadis itu langsung mengambil sepatunya di rak, memakai kaos kakinya sepantasnya, lalu mulai sprint keluar apartemen dan menuju tempat pemberhentian bus.

O, jangan lupa, ia berlari cepat seperti itu dengan mulutnya tetap menggigit sandwich sembari kedua tangannya sibuk mengkuncir kuda rambutnya secara asal-asalan.

Mungkin kalian akan bertanya, mengapa ia bisa tampak begitu berantakan dan payah bahkan ketika baru memulai suatu pagi?

"HMPFH!" geramnya sembari menarik dengan kasar sandwich dari gigitan mulutnya, lalu mengunyahnya cepat-cepat, "Meski sudah kubela-belain begadang sampai jam dua pagi, tetap saja tidak bisa! Tidak bisa membuat surat cinta untuk memenuhi permintaan si alis laknat itu!" makinya dan menyumpah-nyumpah, tanpa peduli tatapan orang sekitar yang memandang aneh, tak hanya pada penampilannya, tapi juga bahasanya yang cukup 'berwarna' di pagi hari ini.

Nah, sekarang, kalian sudah tahu alasannya, kan?

Blame Arthur Kirkland for this.

Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

Journey © Angela Chang

I don't own the picture of this story either.

I just own the plot of the story and I don't make money from it.

Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.

Pairing: multimalexNesia, (might be) a lil' absurd hints of BL

Rate: M because of some reasons in later chapters :D

Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D

Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D

Happy reading

Bagai menghadapi sebuah dilema, Nesia merasa bahwa ia dihadapkan pada dua pilihan yang sama saja membuatnya rasanya ingin mati saja. Selama semalaman kemarin, alih-alih segera mengerjakan 'tugas' laknat dari Seniornya yang tak kalah laknat, gadis itu malah sibuk menyumpah-nyumpahi nasibnya yang begitu mujur bahkan di hari pertama sekolah barunya. Selama berjam-jam hanya ia habiskan mengutuk, memaki, mencerca, dan meneriaki udara kosong di depannya, seolah-olah di udara tersebut terpampang sebentuk wajah Kirkland lengkap dengan seringai menyebalkan miliknya. Bahkan ketika para teman se-apartemennya menanyakan apa dia tidak segera tidur saja, mereka harus menjadi korban semprot Nesia dengan segala kepenatannya.

Menulis surat cinta?

! #$%^&*! #$%^&*!

Dari awal Nesia benar-benar sudah meragukan kewarasan psikologis pemuda berambut pirang jelek, dekil, kotor, dan mesum itu.

Oke, fine, Nesia hanya terlalu sebal.

Habisnya… Oke, baik jika ia hanya menulis saja. Tetapi ia juga disuruh membacakannya selesai pidato Ketua Komite di hari MOS kedua. MEMBACANYA!

Yang benar saja.

Dan bagaikan ia menemui jalan buntu dan tak ada pilihan lain, Kirkland memiliki 'senjata' yang bisa digunakan agar Nesia mau menjadi budak yang mau tak mau harus memenuhi selera humornya yang sangat absurd tersebut.

Buku hariannya.

Demi Tuhan!

Mendapat malu karena membaca surat cinta di depan umum dan mendapat malu karena isi buku harian terpublikasikan di radio, koran, dan majalah sekolah sama saja dengan pilihan minum racun atau menusuk diri sendiri dengan pedang. Intinya, sama saja berakhir di neraka.

Pada akhirnya, karena terlalu sibuk menyesali kehadiran Kirkland di dunia yang tanpanya saja sudah penuh akan orang jahat dan tindakan buruk ini, Nesia akhirnya ketiduran di meja belajar dengan kertas yang masih kosong melompong tanpa satupun goresan penanya.

Ia tak tahu harus bagaimana. Ia memutuskan untuk datang saja ke MOS daripada tidak sama sekali dan berakhir keesokan harinya, riwayat hidupnya akan tersebar sampai ke New York Times.

Mungkin… mungkin saja ada keajaiban! Gempa bumi? Tsunami? Atau lebih baik, otak Kirkland mengalami salah fungsi dan memberikan buku harian Nesia dengan cuma-cuma.

Karena itulah, meski dengan modal 'tangan kosong' tanpa membawa permintaan Kirkland sebagai hukuman darinya, gadis itu memilih nekat menunjukkan batang hidungnya di hari MOS kedua ini.

Untung saja, kali ini Dewi Fortuna sedang berada di pihaknya, Nesia dengan selamat dan nyaris sekarat kehabisan napas, berhasil menjejakkan kedua kakinya di gerbang Hetalia High, sesaat sebelum gerbang kokoh tersebut tertutup dengan sadisnya oleh beberapa anggota Komite yang berjaga di sana.

Setelah yakin bahwa kali ini ia tidak membawa benda-benda aneh lagi di tas ranselnya dan membuatnya berkemungkinan di-blackmail lagi oleh senior yang lain lagi, Nesia menyerahkan tas ransel tersebut pada seorang anggota Komite di ruang sita. Tentu saja setelah Nesia mengambil beberapa barang yang dianggapnya perlu; seperti kertas memo, pena, dan dompetnya, dan memasukkannya ke saku jasnya.

Lalu ia mulai bergegas masuk ke barisan murid baru yang sudah mulai penuh, menunggu pidato dari Ketua Komite yang belum tampak juga.

"Hosh… Hosh…" terengah-engah Nesia sembari membungkuk dan bersangga lutut. Beberapa tetes keringat tampak membentuk spots kecil di pavement lapangan di bawah kakinya.

Sial. Capai sekali.

Beginilah jika udara panas ditambah dengan kurang sarapan ditambah dengan polutan khas kota besar. Rasanya paru-paru ini tercekik saja.

"Kau tampak berantakan sekali, lho."

Masih agak terengah, tanpa merubah posisi membungkuknya, Nesia menoleh sembari menyipitkan kedua matanya. Poninya yang tampak berantakan agak sedikit menghalangi dua bola hitam kecoklatannya saat bertemu tatap dengan dua buah emerald yang memandangnya dengan heran campur takjub.

Hanya dengan pandangan dua emerald itu, Nesia seolah mendapatkan segelas susu segar, satu tablet vitamin, dan tidur nyenyak selama satu hari penuh.

Intinya, tenaganya kembali prima.

Cukup prima untuk dia segera berdiri tegak dan merekahkan senyum sumringah.

"Ah iya," jawabnya menatap Antonio F. Carriedo yang berbaris tepat di belakangnya, "Aku bangun telat dan akibatnya lari-lari kesini. Kau tahu, cukup susah mendapatkan bus saat bersamaan orang kerja ke kantor."

"Aku bisa melihatnya," jawab Antonio, "Kau tampak kelelahan."

Mendapat kalimat yang menyerupai ungkapan perhatian tersebut, Nesia seolah mendapatkan angin segar yang memasok oksigen cukup bagi paru-parunya untuk bertahan selama lima menit tanpa bernapas.

"Can't help," Nesia mengendikkan bahunya sembari tersenyum.

Namun senyumnya perlahan luntur ketika tiba-tiba Antonio maju mendekatinya.

Dan sebelum Nesia sempat memersiapkan diri dan mentalnya akan apa yang akan terjadi, gadis itu merasakan Antonio mengulurkan kedua tangannya dan menuju lehernya.

"Kerah kemejamu belum terlipat," ujar Antonio sembari dengan telaten memperbaiki kerah kemeja Nesia yang tampak sedikit amburadul. Well, maklum, tiada sempat berkaca, "Jika ketahuan, pasti dapat hukuman lagi, kan?"

Nesia benar-benar speechless.

Membeku.

Dan Puji Tuhan ia masih memiliki tenaga untuk berdiri di saat kedua lututnya terasa sangat lemas.

Tuhan…

Punya kekuatan apa Antonio hingga membuat Nesia tiba-tiba merasa ada yang tidak beres dengan jantungnya? Detaknya terlalu cepat…

Nesia takut jika organ vital itu suatu saat akan meledak…

"Sudah beres," cetus riang Antonio sembari kembali mundur, "Kau terlihat lebih baik sekarang, Saraswati."

Nesia hanya tersenyum sembari menghembuskan napas lega.

Lega, karena jika Antonio bertahan berada di dekatnya seperti tadi untuk waktu yang lebih lama, Nesia tidak tahu harus kemanakah dirinya untuk mendinginkan wajahnya yang terasa memanas.

-oOo-

Sepanjang Vash Zwingli memasuki lapangan untuk memulai pidatonya sebagai pembuka hari kedua MOS Hetalia High, Nesia sudah tidak bisa mengumpulkan pikirannya yang berceceran di mana-mana. Gadis itu sudah memiliki asumsi-asumsi buruk terkait apa yang akan terjadi beberapa saat lagi, saat Vash sudah mengakhiri pidatonya. Setiap kata yang diucapkan Vash bagaikan lonceng yang semakin mengantarkan Nesia ke gerbang kematian. Setiap kalimat dari pemuda itu bagaikan detik-detik dimana Nesia semakin memohon kepada Tuhan untuk menghentikan semua ini dengan caraNya.

Namun matahari tetap bersinar cerah. Burung tetap berkicau riang. Bumi masih berputar dan baik-baik saja.

Shit. Sepertinya alam pun tengah menertawakan kemirisan nasib seseorang.

Dan perasaan cemas itu semakin menjadi saat Nesia menangkap sosok Arthur Kirkland berdiri disana; berjejer bersama para Komite Disiplin lainnya di belakang Vash yang tengah berpidato dengan tegasnya.

Melihat pemuda berambut pirang pasir itu, Nesia rasanya ingin melempar apa saja yang berada di dekatnya ke arah pemuda itu.

Dasar licik!

Culas!

Sialan!

Nesia jadi kesal sendiri lagi.

Dipikir-pikir, sampai sekarang, gadis itu tidak mengerti apa kesalahan yang telah diperbuatnya pada Arthur hingga ia tega melakukan semua ini padanya? Apa dosanya hingga ia tidak bisa terampuni begini? Apa kekeliruannya hingga pemuda itu sepertinya memandang Nesia bagai musuh bebuyutan begini?

Menabraknya?

Hell, Nesia sudah meminta maaf demi Tuhan! Lagipula, menurut Nesia, itu bukanlah kesalahan yang cukup besar untuk membuat Arthur berani mem-blackmail dirinya dengan buku hariannya begini!

Detik demi detik berlalu dan omongan Vash masuk telinga Nesia bagai kereta api yang melintasi terowongan; bablas tanpa hambatan atau tercerna oleh otak. Gadis itu menghabiskan waktunya hanya untuk men-death glare Kirkland tanpa sekalipun diketahui oleh si objek tatapan.

Sempat terpikir oleh Nesia untuk tidak masuk MOS saja, atau kabur dari sini sekarang juga atau pura-pura sakit atau minta ijin ke toilet dan tak akan kembali sampai MOS selesai atau apapun pokoknya terhindar dari mission impossible dari Kirkland.

Tetapi sialnya 'orang itu' masih memegang buku harian Nesia! Dan Nesia tak mau keesokan harinya lembaran-lembaran buku itu tertempel di mading sekolah dan masuk dalam headlines majalah sekolah.

"Selamat menjalani hari kedua MOS dan tetap semangat!"

Ucapan Vash mendapatkan tepuk tangan dari para murid baru dan anggota Komite Disiplin lainnya. Sedangkan Nesia menyambut kalimat penutup Vash tersebut dengan tepok jidat dan perasaan ingin mati saja.

'Kirkland…. Yang benar saja, kau,' keluhnya putus asa dalam hati.

Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Surat tak ada, kalimat romantis pun kosong. Ia juga tidak pandai merangkai kata mendadak untuk memuji dan memuja. Jikapun sanggup, ia tidak yakin bisa melakukannya jika dilihat ratusan pasang mata begini.

Ini hanya…

Ini hanya terlalu konyol! Absurd tingkat dewa!

Selain itu… kalaupun ia memiliki surat cinta, harus pada siapa ia sampaikan? Tak ada anggota Komite Disiplin yang ia kenal kecuali–

HAAAAHHHH!

Nesia memilih menjadi lesbian daripada straight tapi harus memilih pemuda menyebalkan itu!

Ketika Vash sudah turun dari podium dan bergabung bersama anggota Komite Disiplin lainnya, Kirkland maju ke atas podium dan mengetuk-ketuk mikropon untuk mengetes fungsinya. Ketika ia yakin hasilnya masih bagus, ia kembali berbicara.

Dan tanpa tedeng aling-aling, tanpa kalimat pengantar, tanpa dilly-dally, ia langsung berucap tegas, "Kepada Annesia Saraswati, silahkan maju ke depan. Kupikir ada yang ingin kau sampaikan, bukan?"

Nesia menunduk dan menggigit bibir bawahnya. Keringat dingin mulai muncul di keningnya. Ingin rasanya ia tenggelam dan nyungsep di tanah, tetapi sayang itu tidak terjadi dan tanah di bawah kakinya tidak membelah. Berhubung karena kejadian antara dirinya dengan Antonio kemarin membuatnya cukup terkenal, kini begitu namanya terpanggil oleh Kirkland, beberapa anak yang berada di sampingnya serentak menoleh padanya.

Dan Nesia ingin mati saja rasanya.

O Tuhan…

"Annesia Saraswati? Come on, kau tahu, rangkaian acara MOS bukan hanya ini."

F*ck! F*ck! F*ck!

Dalam hati, gadis itu memaki-maki Kirkland yang masih menunggunya di depan podium sana. Pandangan intens orang-orang di sekelilingnya membuat nyalinya semakin ciut dan ia semakin merasa gugup.

Ia tidak mau maju. O demi apapun, Nesia tidak mau maju!

Kenapa–Kenapa tidak Antonio duluan saja? Dia juga mendapatkan hukuman yang sama dengan Nesia, kan? Kenapa tidak Antonio saja yang duluan membaca suratnya dan Nesia akan maju–O tidak, Nesia akan pura-pura pingsan setelah itu!

Apapun, intinya ia enggan untuk maju!

"An-Ne-Sia Sa-Ras-Wa-Ti," ulang Arthur dengan penekanan di tiap suku kata. Kesabarannya nyatanya sudah teruji oleh sikap pasif Nesia hingga batas minimum, "Maju dengan sukarela atau aku turun sekarang dan kuseret kau dari sana."

"Ayo maju saja."

"Memang ada apa, sih, sampai kau enggan banget begini?"

"Come on, aku tidak mau berlama-lama disini! Panas, tauk!"

"Ayolah, tinggal maju saja apa susahnya, sih?!"

Teman-temannya yang berbaris di dekatnya menghardik Nesia dengan kata-kata persuasif demikian. Nesia mengepalkan kedua tangannya dan tetap menunduk sembari memejamkan kedua matanya erat. Ia berusaha menulikan telinga dari semua.

Tetapi ketika seseorang, entah siapa itu, mendorongnya dengan keras hingga ia keluar dari barisan, Nesia tidak tahu lagi harus bagaimana.

Kini, karena ia telah berdiri di depan barisan murid baru sekaligus di depan barisan Komite Disiplin, ia mampu terlihat oleh ratusan pasang mata.

Intens. Lekat. Nesia merasa seolah dengan tatapan mereka, Nesia merasa tertelanjangi dan mendapat lubang di sekujur tubuhnya.

Tak tahu lagi harus menghindar seperti apa (sempat terpikir untuk berpura-pura pingsan saja, tetapi bagaimana dengan nasib buku hariannya? Arthur sialan!), gadis itu akhirnya menelan ludahnya dengan sulit seolah dipaksa untuk menelan asam sulfat.

Setelah menguatkan diri dan batinnya dan mengatakan bahwa, "Semua baik-baik saja. Tinggal lakukan, selesai, ambil buku harianmu dari Arthur, lalu kau bisa kembali hidup normal! Semoga," gadis itu mulai melangkah ragu dan pelan.

Dengan segan, kedua matanya meneliti satu persatu senior laki-lakinya yang berdiri di depan dengan tampang masam. Coret Arthur Kirkland dari daftar, karena Nesia tidak sudi memasukkan dia dalam hitungan. Setiap seniornya memandanginya dengan penuh tanda tanya akan apa yang mau dilakukan; tidakkah Kirkland memberitahu mereka bahwa ini adalah bagian dari hukuman Nesia?

Karena terdesak, dicampur perasaan gugup dan linglung, satu persatu wajah Komite Disiplin laki-laki terlewatkan begitu saja oleh pandangan Nesia.

Dan Nesia tidak tahu bagaimana,

Yang jelas kini kedua kakinya membawanya untuk terus maju ke depan.

Ke depan,

Dan berhenti tepat di hadapan Vash Zwingli yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.

Bergetar bibir Nesia saat ia mencoba untuk membukanya demi berbicara, "Ha–hanya kau yang kuingat betul nama dan wajahnya," mencicit suara Nesia, sedikit kikuk pula ditatap dengan pandangan dingin dan datar seperti itu oleh Vash. Mukanya yang putih kekuningan, kini tampak merona akibat rasa malu yang mendewa.

'Awas saja jika ini semua trik dan jebakanmu untuk menghukumku lagi, Kirkland' sumpah Nesia dalam hati.

"Apa yang kau inginkan, Saraswati?" tanya Vash datar, menunduk untuk menatap juniornya yang memandang tanah di bawah kakinya.

Ditanya seperti itu, Nesia bingung juga. Apa yang harus ia lakukan jika surat saja tidak ada? Kepandaian untuk mengarang bebas juga tidak punya?

"A–Aku ingin bernyanyi untukmu," ucap Nesia sekenanya, "Se–semoga lagu ini mampu menyam–," O GOD! "–menyampaikan perasaanku… padamu."

Dan Nesia langsung mampu mendengar suara-suara grusak-grusuk bisikan di sekitarnya. Ratusan manusia di sini langsung heboh dengan dramatisnya begitu mendengar 'pengakuan' Nesia.

Dan Nesia terlalu takut untuk mendongak dan mengetahui ekspresi Zwingli. Terlalu malu. Terlalu segan.

Mencoba untuk menulikan telinganya dari apapun yang ada di sekitarnya, gadis itu memejamkan kedua matanya. Dan sembari masih menunduk, ia mulai bersuara untuk meredam bebunyian di sekitarnya.

"It's a long… long journey. Till I know where I'm supposed to be," mulai Nesia dengan suara kecilnya. Entah bagaimana, dengan suara sekecil itu, semua suara ribut-ribut di sekitarnya berangsur-angsur menghilang. Mungkin salah seorang senior menyuruh yang lain untuk segera bungkam.

"It's a long.. long journey. And I don't know if I can believe…"

Nesia menghirup napas dalam demi menenangkan dirinya sendiri.

"When shadows fall and block my eyes… I am lost and know that I must hide."

Entah bagaimana mampu merasa rileks mendengar lullaby yang dinyanyikannya sendiri, Nesia mulai membuka mata secara perlahan.

"It's a long.. long journey till I find my home.. to you."

Mengangkat wajahnya, Nesia akhirnya beradu pandang dengan dua buah bola sapphire yang menatapnya dengan pandangan terkejut.

Retak dan pecahlah ekspresi stoic yang selalu dipasang oleh pemiliknya.

"Many days… I've spent drifting through an empty shore. Wondering what's my purpose… wondering how to make me strong."

Merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya, Nesia tersenyum kecil sembari menatap Vash yang sedikit mengangakan mulutnya.

"I know I will falter I know I will cry. I know you'll be standing by side… It's a long.. long journey. And I need to be close to you…"

Sembari tetap tersenyum ringan, Nesia melanjutkan seolah-olah di telinganya ia mendengar alunan yang menyertai lagu yang dinyanyikannya.

"Sometimes it feels no one understands... I don't even know why I do the things I do."

Nesia kembali memejamkan matanya rileks dan menarik napas dalam,

"When pride builts me up till I can't see my soul will you break down this wall and pull me through…."

Kembali membuka mata, Nesia kembali pula beradu pandang pada mata Vash Zwingli.

"Cause it's a long.. long journey, till I find my home… to you… uuu… to you…."

Nesia tersenyum manis di depan Vash yang masih ternganga bagai kerbau ditusuk hidungnya.

.

.

.

Krik.

.

.

Namun itu hanya sebentar sebelum Nesia dengan cepat, secepat kilat, membuang muka ke samping dan membelalak lebar seperti menyadari sesuatu.

.

.

.

! #$%^&*! #$%^&*!

.

.

WOTDEHEL?!

APA YANG BARUSAN KULAKUKAN?! APA?! APA?! APA?!

BRESSSHHHH

Memerahlah wajah putih kekuningan itu setelah euforia yang dia ciptakan sendiri seketika buyar oleh tsunami yang dinamakan kesadaran yang menampar halusinasinya. Ini bukan panggung. Ini bukan konser. Dan kau bukan Angela Chang, Nesia!

Ia ingin mengutuk dan mengacungkan jari tengah pada dirinya sendiri. Menyanyi dan tersenyum-senyum seperti orang bodoh seperti itu….

Demi apa… maluuuuuu!

'Apa yang kulakukan?! Apa?! Kenapa aku jadi gila begini?!'

'Bagaimana jika Senior Zwingli salah paham?! O Tuhan, bagaimana jika semua orang salah paham?!'

'Dan… Dan apa yang akan dipikirkan Antonio?! Bagaimana jika dia salah paham?!'

Uh oh. Pikiranmu semakin meracau, Nona.

Kau terlalu sibuk dengan pikiranmu sendiri hingga kau tidak menyadari Vash yang tersenyum kecil sembari mulai menabrakkan kedua telapak tangannya; applause.

Dan semakin riuh ketika hal itu diikuti oleh seluruh penghuni lapangan pagi itu.

Terkejut, Nesia menoleh ke sekitar. Para murid baru dan senior tampak bertepuk tangan dengan riuh. Bahkan beberapa di antara mereka saling bersiul dan mengucapkan kata-kata sugestif secara bersahut-sahutan.

"Terima, Vash! Terima saja! Imut juga kan, dia, da~?"

"Romantis sekali~~"

"Suaramu bagus, nak! Masuk klub paduan suara, ya, nanti!"

"Uh oh. Kau kemanakan si Carriedo, Saraswati?"

"Kasihan Carriedo."

"Vash! Carriedo dan Saraswati tampak cocok! Awas kau jika berani merusak hubungan mereka!"

'Mereka itu apa-apaan sih?!' pikir Nesia sembari ternganga kaget mendengar kalimat-kalimat non-sense baik dari para senior atau teman-temannya.

"Saraswati."

Bagaikan mendengar suara pengumuman perang dari Presiden, seluruh hiruk pikuk langsung teredam begitu Vash Zwingli membuka suara.

Sedikit enggan dan sangat malu, Nesia menoleh dan menatap Vash dengan senyum yang ia rasa merupakan senyum paling tolol dalam lima belas tahun ia hidup di dunia.

"Ya?"

Vash tersenyum kecil, sangat kecil hingga nyaris tak terlihat.

"Terima kasih," ujarnya lirih, "Tetapi, maaf. Aku tidak bisa."

.

.

JDEEERRRR!

APA-APAAN–

DEMI TUHAN, SEMUA TADI HANYA SANDIWARAAAA!

-oOo-

Dengan sigap, Nesia menangkap buku hariannya yang terlempar oleh Kirkland dengan asal-asalan. Para murid baru, barusan selesai menerima perkenalan atau bisa disebut dengan promosi dari masing-masing klub sekolah. Oleh karena itu, pada hari kedua MOS ini, para anggota atau perwakilan tiap klub diundang ke sekolah untuk mewakili klubnya dalam menarik sebanyak mungkin peminat atau newbie baru. Para murid baru dibagi dalam beberapa kelompok seperti kelompok Wawasan Wiyata Mandala kemarin. Dan tiap kelompok menempati satu ruang kelas yang masing-masing akan mendapat kunjungan dan perkenalan tiap-tiap klub secara bergiliran.

Kini mereka tengah istirahat makan siang.

Dan Nesia memanfaatkan hal ini untuk memburu Arthur Kirkland layaknya kreditur yang memburu peminjam dana.

"Kau tidak harus melemparnya, kan?!" bentak Nesia kesal. Habis, jika ia tidak sigap, buku harian itu bisa mendarat secara artistik di wajahnya. Setelah menyimpan kembali buku sakral itu di saku jasnya, Nesia melempar death glare pada Arthur, "Tetapi kau tidak membacanya, kan?"

"Hah?" ekspresi Arthur seolah menahan untuk menertawai sesuatu yang konyol, "Seperti kurang kerjaan saja."

"Hih!" Nesia membelalak, dan dengan gemas mengepalkan tangan kanannya dan mengangkatnya, seolah mengancam hendak meninju wajah yang kini tengah menyeringai di depannya.

"Lagipula apa, sih. Kebanyakan hanya tentang kau dan si Willem–OW!" Arthur meringis kesakitan sembari memegang kaki kirinya setelah Nesia dengan sepenuh tenaga yang ia punya, menginjak kaki bersepatu itu.

"JADI KAU MEMBACANYA?!" beringas Nesia menuding wajah Arthur.

"Grrrr… Dasar Barbar!" maki Arthur kesal, sembari masih meringis kesakitan, "Bisa ga sih, kau tidak pakai kekerasan! Benar-benar, deh…."

"Itu karena kau yang baru kukenal sehari yang lalu, tetapi rasanya sudah memberiku kutukan seumur hidupku!" balas Nesia, "Lagipula apapula tadi pagi?! Kau tidak memberitahu Komite Disiplin yang lain bahwa semua itu hanya sandiwara?! Senior Zwingli dan yang lain pasti mengira aku menyukainya sungguhan tauk! Idiooootttt!" Nesia melempar kedua tangannya ke udara dengan putus asa, "Gara-gara kau, sudah berapa kali hari ini aku mendapat konfrontasi pertanyaan mengenai Senior Zwingli dan Carriedo!"

"Kenapa kau salahkan aku?" balas Arthur tidak terima, "Kau tadi menghayati sekali. Sekalipun mereka kuberitahu, mana mungkin mereka percaya jika aktingmu meyakinkan begitu!"

"Kau–!"

"Atau tadi tidak akting? Tapi sungguhan?!"

"D–Dasar kau…"

NYUT!

"OUCH!"

-oOo-

Sisa hari itu dihabiskan dengan melanjutkan acara pengenalan klub selama satu jam ke depan. Setelah itu dilanjutkan dengan acara sosialisasi untuk pencerahan dan persiapan mengenai hari terakhir MOS yang berlangsung keesokan harinya. Seolah menjadi sebuah kejutan, ternyata hari MOS yang terakhir diadakan di luar area Hetalia High. Dan ketika para murid baru penasaran dan mempertanyakan tempatnya, dengan laknatnya para Komite Disiplin hanya menjawab,

"DIAM DAN TURUTI SAJA APA SUSAHNYA, SIH?!"

Yang tentu saja, direspon oleh kebisuan yang sepinya menandingi kuburan.

Para Komite Disiplin hanya menjelaskan bahwa besok para murid baru tinggal datang saja ke sekolah untuk berkumpul terlebih dahulu dan mempersiapkan segalanya. Baru mereka akan berangkat dari sekolah menuju tempat tujuan bersama-sama dengan mengendarai Bus Hetalia High.

Dan kini, seperti hari kemarin, para murid baru tengah mencari-cari tasnya yang dicampur-baurkan oleh Komite Disiplin. Tetapi jika kemarin tas mereka dicecerkan di aula yang memberi kesejukan dari hembusan AC, kini para senior itu dengan kejam dan nistanya mencecerkan tas para murid baru di lapangan sepak bola Hetalia High.

Kalian tahu, kan, artinya apa?

Panas. Gerah. Terik. Keringat. Capek.

Hal itu pula yang dirasakan oleh Nesia. Berkali-kali ia menyeka titik keringat yang muncul di dahinya dan membasahi lehernya. Poninya yang terjatuh di dahi, tampak sedikit lembab oleh cairan ekskresi tersebut. Ia rasanya ingin pulang saja tanpa tas. Habis, sudah capainya minta ampun, panas, dan belum lagi memilah-milah tas untuk mencari tasnya. Tentu saja hal itu memberatkan karena ketika ingin memilah tas, maka ia harus mengangkat tas-tas yang ada untuk mencari tasnya. Puji syukur jika tas-tas yang diangkat adalah tas yang tidak berat, ia bahkan sempat mengangkat sebuah tas dengan kedua tangannya dan menampilkan urat lehernya!

Pemilik tas ini niat MOS atau niat perang, sih?

Kenapa harinya tidak seberuntung kemarin saja, sih?

"Kau mencari ini?"

Tahu-tahu di depan Nesia terpampang sebuah tas ransel berwarna hitam dengan garis-garis merah.

Seolah menemukan oasis di tengah Gurun Sahara, Nesia tersenyum sumringah dan langsung mengambil tasnya tersebut.

"Ya, terimakasih," ia menoleh ke sumber suara tadi. Dan senyumnya makin merekah melihat siapa yang berdiri di sebelahnya, "Darimana kau tahu jika ini adalah tasku, Lovino Vargas?"

Lovino menghela napas sembari memasukkan kedua tangannya di saku jas, "Panggil Lovino saja. Aku tidak suka hal yang berbau formal."

"Oke, Lovino," Nesia segera memakai kedua tali ranselnya di pundaknya, "Kau belum menjawab pertanyaanku, anyway."

Lovino menunjuk pelipisnya dengan telunjuk kanan, "Resiko orang punya ingatan bagus."

Nesia pura-pura cemberut, tetapi sedetik kemudian menjulurkan lidah dan tersenyum, "Terimakasih banyak. Kau berkali-kali membantuku."

"Kebetulan saja."

"Omong-omong," ujar Nesia sembari mulai lagi melangkah di antara ceceran tas; ingin segera keluar dan pulang ke rumah, "Aku tidak menyangka, lho, jika kita tetangga. Kau tinggal sendiri atau bersama siapa?"

"Adik."

"Oh ya? Aku jarang sekali melihat kalian."

"Aku tidak ribut, dan adikku suka bermalam di rumah temannya," jawab Lovino sembari melangkah di sebelah Nesia, "Karena aku sudah membantumu, boleh aku meminta sesuatu?"

Nesia menoleh, menatap Lovino, dan tersenyum miring dan garing, "Ternyata tidak gratis, ya?"

"Hanya dua pertanyaan," ujar Lovino tanpa merespon pertanyaan retoris Nesia.

"Oke, oke, Sir," jawab Nesia melangkah santai sembari memegangi kedua tali ransel di kedua sisi dadanya.

"Pertama, kau kelihatan dekat dengan Antonio Carriedo."

Nesia menatap Lovino dengan ragu, "Itu tadi pertanyaan?" tidak mendapat respon yang berarti (karena Lovino tetap saja berjalan sembari lurus menatap depan seperti kuda delman), maka Nesia melanjutkan, "Well, dia teman pertamaku di sini. Itupun karena ketidaksengajaan. Kau tahu," Nesia mengendikkan bahunya sembari bibirnya mulai nyinyir, "Senior Arthur Kirkland dan sense of humor-nya yang menyedihkan itu."

"Oh."

"Aku menjawab panjang lebar kau hanya merespon 'Oh'?!" tanya Nesia tak percaya.

"Kedua, kau benar-benar menyukai Zwingli, ya?"

YA TUHAN!

Nesia tepok jidat.

"Kau orang keduapuluhtujuh hari ini yang menanyakan hal yang sama," keluh Nesia sembari menendang keras kerikil di depan kakinya, "Ceritanya panjang."

"Ceritakan kalau begitu."

"Aku tidak ingin–."

"Tentang hitungan, apel, kunci, tas–."

"Oke-oke, baiklah!" teriak Nesia menyerah, tanpa menyadari Lovino yang menutup mulutnya dengan sebelah lengan untuk menyembunyikan tawa yang ia coba tahan, "Geez, dasar pemeras."

"Aku hanya ingin take and give," jawab Lovino datar setelah berhasil meredam tawanya dan kembali memasang muka stoic-nya.

Nesia menghirup napas dalam-dalam sebelum kembali bersuara, "Kau ingat kemarin aku dan Carriedo hampir saja ber… berciuman? Senior Kirkland menganggapnya sebagai pelanggaran MOS dan dia ternyata menjebakku dan Carriedo…."

Sisa perjalanan ke apartemen dihabiskan mereka berdua dengan saling bercerita. Errr… bukan 'saling' sih, ketika disini hanya Nesia yang mendominasi pembicaraan sedangkan Lovino hanya menjawab dan bertanya seperlunya.

Sore hari musim panas yang begitu rileks. Sinar matahari yang bersiap di peraduannya, membuat bayang-bayang manusia semakin memanjang ke arah Timur. Bersama dengan langit yang berwarna merah-jingga, angin berhembus semilir membawa terbang kumpulan burung di langit sana untuk pulang ke sarangnya.

Rileks.

Semoga hari esok mampu menjadi lebih baik.

Semoga.

-oOo-


Sepertinya chapter lalu adalah Lovino's glory time, ya? Banyak banget yang suka penampilan dia :0


Next chapter:

"Great! Ternyata berkemah."

.

"Salam kenal, Vargas! Kuharap kita bisa menjalin hubungan yang lebih baik!"

.

"Senior Kirkland menyuruhku untuk melakukan beberapa pekerjaan saat hari MOS ketiga ini."

.

"Dia menyuruhmu membelanya?! Hah! Laki-laki macam apa dia, menyuruh wanita untuk memprotes hukuman yang diterimanya!"

.

"… Ini semua salahku…. Tolong jangan marahi dia."


Pojok review. Monggo~

Aku dukung RomaNes! Lovi lebih manis dari Antonio! / … Wow, sepertinya penampilanmu di chapter lalu benar-benar atraktif, Lovi 0.0 #tepuk2 pala Lovi / Arthur kayak lagi pirate mode! Kejem! / Tahan ya, sepertinya cercaan seperti ini masih akan kau dapatkan beberapa chapter ke depan, Thur :/ #sediain tempat pundung buat Arthur / Willem itu Belanda, ya? / Bukan, itu Papua Nugini #plak #dilempar kincir angina / No kissu scene? T.T / Err… I'm afraid no… yet/ Antonio kok ga ikut dihukum? / Itu masih jadi rahasia pribadi Author :p #dor / Kenapa Antonio bilang "Aku tak mengucapkan sesuatu karena terpaksa." Terus-terusan? Apa ada artinya? / Artinya, Antonio itu pemuda yang polos dan imut :D #penjelasan macam apa ini / Lovino mantan maling ya, bisa buka pintu pake jepitan? / #ngakak guling2 / Arthur dan Lovi jadi sangat seme! Aku suka~ / I-iya deh ^^"a / Apa ada NetherNesia? / Seperti yang dilihat, di chapter ini kagak :P But who knows in the next ones :P / UKNesRom! / Aye~ :D / Adain VashNesia bisa ga? / You've got it, babe :D / Kapan ada UKNes? / Kasih tahu gag, eaaaa? #alay :P.


My retarded blabbering:

Tahu, ga, tai apa yang paling indah dan paling hangat? #digampar sandal jepit.

Ga tahu?

Taishiteru~~

#dilindes bulldozer

(Oke, ini ga penting #telat!)


Bagi seorang Author, Review/konkrit/saran/dukungan/pujian *plak* sangat dibutuhkan demi memberi semangat untuk terus dan terus berkarya. Feedback adalah semangat bagi kami untuk terus melangkah #bleh! :) Tapi, serius 0.0

Mari dukung cipta karya dengan membudayakan feedback selesai membaca~~ :D


Thank you all :*

-d.i.s.-