Tak peduli betapa keras saya usaha, saya sulit sekali membuat chapter fic ini dengan jumlah kata kurang dari 4k :/ Padahal udah saya usahakan singkat dan pendekkin, tetapi… well, this is for you; another 4.5k words long chapter #sigh
Langit musim panas tampak gelap di atas sana. Meski sudah terdapat semburat samar berwarna jingga kemerahan yang menandakan sang surya sudah beranjak dari peraduannya, namun kehidupan belum benar-benar pulih dari alam mimpinya. Suasana sepi, sunyi, dan gelap, menjadi deskripsi yang cukup menggambarkan keadaan sekitar yang terlingkupi oleh rimbunnya daun dan menjulangnya pepohonan.
Seperti yang mungkin bisa kalian tebak, MOS hari ketiga Hetalia High menjadikan hutan di Barat Laut Amerika Serikat sebagai tempat yang cocok untuk menghabiskan akhir masa pendisiplinan sekaligus akhir pekan. Hutan yang terkenal lebat dan gelap ini, membuktikan kebenaran rumor bahwa kau bisa tersesat jika tidak berhati-hati saat berjalan. Rimbunnya daun seolah bagai kelambu hitam pekat yang menutupimu dari dunia luar; sekalipun ada cahaya matahari yang sanggup menerobos masuk perisai hijau tersebut, pasti hutan itu masih akan tampak temaram.
Bunyi jangkrik dan hewan-hewan malam saling bersahut-sahutan, membuat merinding siapapun yang dari lahir memang tak bernyali besar. Dinginnya udara di sini membuat wajar saja ketika hari sebelumnya para senior memperingatkan untuk membawa pakaian tebal selain jas almamater mereka. Bahkan bisa terlihat uap yang terbentuk dari hidung dan mulut para manusia yang bernapas, menandakan suhu di tempat tersebut tak lebih dari sepuluh derajat.
Jalanan yang terjal dan berbatu, membuat tiap orang harus benar-benar memperhatikan langkah jika tidak ingin tersandung atau celaka. Hutan tebal seperti ini, wajar saja jika keadaannya selalu lembab sehingga tanah untuk berpijakpun akan selalu seperti habis terkena siraman badai hujan; licin. Tak heran jika para murid baru diwajibkan untuk membawa senter atau penerangan lainnya untuk memudahkan jalan; tak lupa dengan tongkat jika diperlukan.
Dan ya, Anda sudah mendapatkan sedikit presisi mengenai MOS Hetalia High hari ketiga dari sisi pemikiran Annesia Saraswati yang kini tampak berjalan dengan bersedekap tangan di depan dada.
Tuhan, dingin sekali.
Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya
I just own the plot of the story and I don't make money from it.
Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.
Pairing: multimalexNesia, (might be) a lil' absurd hints of BL
Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D
Maju FHI!
Happy reading :)
Begitu sampai di sebuah tanah dengan relief geografis yang datar, senior pemandu jalan berteriak menyuruh rombongan untuk berhenti dan berkumpul di sekitar situ. Para murid baru dipersilahkan untuk istirahat sejenak selama –Ya ampun!– lima belas menit, sebelum nantinya mulai untuk bersiap-siap memulai acara hari ini.
Memandang sekitar, Nesia melihat beberapa tenda-tenda besar yang telah terpasang dan ada beberapa tumpuk kayu di sebelah sana. Bendera USA dan sekaligus bendera OSIS Hetalia High terpasang di dua sudut di dekat tenda yang paling besar. Terdapat pula satu baliho besar yang bertuliskan, "Warm Welcome to you, newbies of Hetalia High School" yang tergantung dengan tali yang diikatkan di batang dua pohon besar yang tumbuh bersisian.
"Great!" gumam Nesia sembari dengan capai dan kesal, melempar tas ranselnya di tanah di bawah kakinya, "Ternyata berkemah," ia menjatuhkan diri di tanah tanpa peduli celana jeansnya yang langsung sedikit basah oleh tanah yang lembab dan rumput di bawahnya. Menyandarkan diri dengan nyaman di batang pohon besar di belakangnya, gadis itu membuka tas ranselnya dan mengambil botol berisi air mineral dari dalamnya, lalu meneguknya.
Berjalan mendaki dari bawah hingga ke atas sini lumayan capai, lho. Apalagi setelah menghabiskan waktu sekitar dua jam dari Hetalia High menuju sini dengan bus sekolah. Menahan mata yang rasanya ingin terpejam ini saja sudah sulitnya minta ampun, apalagi hawa udara sangat dingin begini. Belum lagi dia tadi belum sempat sarapan banyak –Oh, ayolah, siapa sangka jika mereka akan berkemah?!
Tetapi Nesia seharusnya sadar bahwa semua inilah kemungkinannya ketika kemarin para senior memberi para murid baru daftar things to bring, baik individu atau kelompok (sesuai kelompok Wawasan Wiyata Mandala kemarin) yang begitu berjibunnya dan sekarang membuat tas ranselnya seperti tas ransel prajurit akan perang.
Waktu lima belas menit ini ingin Nesia gunakan semaksimal mungkin untuk menselonjorkan kedua kakinya. Menyandarkan diri dengan nyaman di batang pohon. Memejamkan mata. Lalu istirahat seje–
"Dingin sekali, eh?"
Aha! Mungkin istirahatnya bisa nanti saja!
Menegakkan tubuhnya dan langsung merapikan poninya, Nesia mendongak dan tersenyum lebar menatap Antonio F. Carriedo yang tengah melepas tali ranselnya. Sepertinya anak itu juga tengah membawa barang-barang yang tak kalah banyak dari Nesia; terbukti dari tas ransel yang tampak 'hamil' seperti itu.
"Ya," jawab Nesia, "Padahal ini sudah sekitar jam lima pagi."
Menghela napas, Antonio menaruh tasnya di dekat tas Nesia, lalu turut mendudukkan diri di sebelah gadis itu.
Nesia refleks menggeser dirinya agak menjauh dengan kikuk.
"Bertahan beku seperti ini selama satu malam," Antonio mengeratkan pelukannya di tubuhnya sendiri sembari pura-pura menggigil, "Aku ingin pergi ke sauna setelah ini. Haha."
Nesia hanya meringis.
Jarak duduk antara dirinya dan Antonio yang begitu dekat, membuatnya sedikit merasa antara nyaman dan tak nyaman. Ia merasa déjà vu, teringat kembali akan kejadian dua hari lalu ketika ia berdiri begitu dekat dengan pemuda itu.
Sangat dekat hingga kedua puncak hidung mereka saling menyentuh.
Sangat dekat hingga ia bisa merasakan hembusan hangat napas–
"Bad thought!" hardik Nesia pelan pada dirinya sendiri sembari meninju pelan pelipisnya. Dan hal itu cukup aneh terlihat bagi orang awam, termasuk Antonio yang berada di sampingnya.
"Kau baik-baik saja, Saraswati?" tanya Antonio, menatap Nesia khawatir.
Ditanya seperti itu, Nesia semakin merasa kalang kabut dengan pemikiran dan perasaannya sendiri. Berusaha untuk bersikap normal tapi pada akhirnya gagal ketika ia dengan ribetnya membuka dan menutup mulutnya tanpa ada kata atau kalimat jelas yang keluar selain 'Errrr…' atau 'Ck!'.
Pada akhirnya, kedua matanya tanpa sengaja menatap satu sosok yang tengah berdiri sambil merapikan syal di sebelah sana.
Nesia langsung sumringah, "Lovino! Lovino Vargas!" teriak Nesia sembari melambaikan tangannya tinggi-tinggi dan semangat, secara sukses menarik perhatian tak hanya Lovino, tetapi beberapa orang di sekitar mereka.
"Siapa dia?" terdengar Antonio bertanya heran di sebelah Nesia.
"Tetangga di apartemenku. Dia orangnya baik, lho," jawab Nesia absurd sembari menatap Lovino yang berjalan mendekati mereka berdua.
"Ah! Bukankah dia yang menolongmu waktu itu di Taman gedung A?" ujar Antonio takjub.
"Exactly."
"Hei," sapa Nesia sembari tersenyum ketika Lovino sudah sampai di dekatnya.
"Hn," jawab pemuda itu sembari menjatuhkan dirinya di sisi lain dari Nesia, "Kau datang."
"Tentu saja," Nesia memandang heran pada Lovino yang menatap ke arah depan dengan pandangan impasif andalannya, "Mengapa tidak?"
Lovino mengendikkan bahu acuh, "Kupikir kau kapok dikerjai Kirkland?"
"Ehem!"
"Ah ya!" cetus Nesia cepat, seperti teringat sesuatu. Ia menoleh dan menatap Antonio yang 'terbatuk' demi mendapatkan perhatian dua orang di sampingnya tersebut, "Carriedo, ini Lovino Vargas," Nesia menunjuk Lovino, lalu menoleh ke arah pemuda yang satunya, "Dan Lovino, ini Antonio Carriedo."
"Hai," respon Lovino cepat dan datar, itupun tanpa menoleh sama sekali, seolah apapun yang ditatapnya di depan sana, jauh lebih berharga daripada memandang Antonio yang kini tengah tersenyum cerah.
"Salam kenal, Vargas!" ucap Antonio semangat, "Kuharap kita bisa menjalin hubungan yang lebih baik!"
Dan Nesia hanya sweat dropped mendengarnya.
Entah kenapa kalimat Antonio barusan terdengar sangat ambigu bagi telinga dan pemikirannya.
-oOo-
Waktu istirahat lima belas menit bukan waktu yang panjang bagi sebagian besar murid baru untuk melepas lelah. Banyak di antara mereka yang langsung mengeluarkan kata-kata keluhan seperi 'Argh' atau 'Awww… Come on!' atau 'Ck!' dan sebagainya ketika Vash Zwinglimemberi aba-aba untuk segera bersiap bekerja.
Dengan penuh keengganan namun tetap tak punya pilihan lain selain menurut, para murid baru bergegas menjalankan kegiatan pertama yakni preparing. Mengangkat pantat mereka dari tanah untuk berdiri atau kembali menegakkan punggung yang telah nyaman mereka sandarkan di batang pohon, mereka berbondong-bondong menuju tenda yang berfungsi sebagai 'penitipan tas' dan barang-barang bawaan mereka. Setelah itu, mereka lalu melakukan job desc yang telah diterima dan ditetapkan secara sepihak oleh Komite Disiplin.
Para lelaki membantu mengumpulkan kayu bakar, memasang penerangan dari generator yang dibawa salah seorang senior, dan melakukan sedikit area scanning di sekitar tenda mereka. Dan para murid perempuan dibantu dan diawasi oleh senior perempuan bertugas mempersiapkan peralatan makan, dan membersihkan tenda yang berfungsi sebagai 'dapur' kecil. Jika berkenan, mereka juga diperbolehkan membantu tugas murid laki-laki lainnya.
Nesia tengah berada di tenda 'penyitaan'. Dinamakan demikian karena tenda itu berfungsi untuk menyimpan barang-barang sitaan dari para murid. Kebanyakan dari barang itu adalah barang yang sebagian termasuk dalam daftar things to bring, sebagian lagi adalah barang yang disita karena memang tidak termasuk dalam things to bring. Seperti komestik, itu tidak diperbolehkan dibawa dan sempat mendatangkan keluhan dari para murid perempuan. Jadi, murid hanya membawa barang yang diwajibkan untuk dibawa, dan tidak boleh membawa selain itu, apapun alasannya.
Lagipula, cuma sehari, kan. Ngapain ribet, sih? Begitu ocehan para senior saat mendapat keluhan murid baru kemarin.
Dan beberapa barang things to bring yang disita dari para murid adalah makanan, senter, minuman isotonik, dan beberapa benda lainnya. Sebelum naik ke ground di sini, begitu turun dari bus, para murid dibariskan dan diperiksa barang-barang yang dibawanya. Jika menuruti aturan, maka kau akan dibebaskan. Jika ketahuan membawa peralatan yang 'aneh-aneh', maka jangan mengeluh jika kena semprot di pagi buta.
Di tenda barang sitaan inilah Nesia berada. Bersama beberapa anak perempuan lainnya, memisah-misahkan makanan yang tertumpuk menggunung. Mengumpulkan roti dengan roti, susu dengan susu, coklat dengan coklat. Dan ini tentu saja penyiksaan bagi manusia yang cacing di perutnya sejak awal sudah menggelar konser akbar.
"Ingat, jangan dimakan!" bentak senior yang Nesia ingat bernama Herdevary, "Dan jangan biarkan siapapun yang datang ke sini, memakannya. Bahkan satu buah saja!"
Dan Nesia hanya menelan ludah sembari menatap nelangsa pada satu buah roti keju di tangannya.
"Tetap pilah hingga tidak ada yang tercampur. Oh, dan jangan lupa hitung dan catat jumlah roti, jumlah susu, jumlah coklat, dan jumlah minuman isotonik yang terkumpul," ucap senior berambut coklat auburn itu, "Kutinggal sebentar."
Nesia memandang kepergian Herdevary, lalu memandang roti di tangannya.
"Hhhh…," ia menghela napas kecil sembari dengan muka melas, melempar roti itu di tumpukan roti lainnya di dalam tenda.
Tanpa sengaja, saat ia mengedarkan pandang untuk melihat berapa banyak lagi makanan yang belum dipilah –dan sungguh, ternyata masih banyak sekali–, Nesia melihat Antonio berjalan sembari mendorong semacam troli yang berisi gallons minuman kosong.
"Aku pergi sebentar, ya," pamit Nesia pada teman sesama siswi baru yang duduk di sebelahnya, yang tengah mengumpulkan susu dari tumpukan makanan.
-oOo-
"Berat?"
Nesia tersenyum ketika ia melihat Antonio sedikit tersentak mendengar suaranya yang tiba-tiba. Maklum, suasana sepi karena mereka tengah berada di sungai yang cukup lebar, namun tak terlalu dalam karena dasar dari sungai tersebut masih bisa terlihat oleh mata telanjang.
Airnya yang jernih dan bersih, mengalir dengan arus yang tak begitu desar. Beberapa batu besar dan kecil terdapat baik di tengah maupun pinggir sungai yang membuat sungai tersebut tidak terkesan menyeramkan. Belum lagi dengan pepohonan rindang yang terdapat di pinggiran sungai, menambah suasana sejuk dan segar yang membuat paru-paru lega setelah menghirup polutan kota.
"Saraswati," sapa Antonio sembari tersenyum cerah. Ia lalu meneruskan mengangkat satu gallon yang sudah tersisi air, dan meletakkannya di troli di dekat mereka, "Kenapa kau kesini?" tanya Antonio sembari mengangkat satu gallon kosong, lalu membawanya ke pinggir sungai.
Melipat celana jeans-nya hingga sebatas betis, begitu juga dengan lengan sweater-nya hingga ke siku, gadis itu mengambil satu gallon kosong dan mengikuti jejak Antonio, "Bosan," ujarnya sembari membungkuk dan mengarahkan mulut gallon ke permukaan air untuk mengisinya.
"Apa yang kau lakukan?" Antonio terbelalak, "Hentikan dan kembalilah. Ini menjadi tugasku."
Masih membungkuk, Nesia menatap Antonio heran, "Masih jaman, ya, membedakan job desc antara laki-laki dan perempuan?" tanpa peduli, Nesia melanjutkan kembali kegiatannya.
Air sungai ini sangat dingin, tetapi menyegarkan dan terasa mampu membuat tak hanya kakinya yang rileks, namun juga saraf-sarafnya. Apalagi dengan sinar matahari yang sudah mulai mampu menerobos lebatnya dedaunan, membuat Nesia ingin tersenyum saja merasakan belaian kehangatan di wajahnya tersebut.
"Bukan karena itu," ujar Antonio sembari meletakkan gallon-nya yang sudah separuh terisi, ke batu di dekatnya. Lalu ia menarik tangan Nesia untuk mengajak gadis itu menepi, "Ini adalah kewajibanku karena hukuman."
"Hukuman?" Nesia menahan tarikan Antonio di tangannya, "Hukuman apa?"
"Kau ingat dua hari lalu waktu kita disuruh berlaku layaknya sepasang kekasih?" tanya Antonio yang tanpa ia sadar, membuat Nesia kembali membungkuk dan pura-pura sibuk kembali mengisi air, "Senior Kirkland menyuruhku untuk melakukan beberapa pekerjaan saat hari MOS ketiga ini."
Nesia mendongak dari posisi membugkuknya dan menatap Antonio dengan terkejut, "Kukira… Kukira dia juga menyuruhmu untuk membuat surat cinta!"
"Surat cinta apa?"
"Untuk senior… seperti yang kemarin kulakukan untuk Senior Zwingli!" Nesia mengalihkan pandang dan melotot geram pada batu besar di sampingnya, "Ternyata Senior Kirkland licik sekali!" geramnya, seolah batu tersebutlah yang dimaksud 'Kirkland' olehnya.
"Oh?" Antonio tersenyum patah, "Jadi kemarin karena hukuman, ya? Kupikir kau benar-benar suka pada Senior Zwingli, lho!"
Nesia rasanya ingin tenggelam dan terbawa arus saat itu juga.
'Jangan kau juga, Antonio…'
Dengan sedikit kesal, Nesia mencipratkan air sungai ke arah Antonio lewat telapak tangannya. Antonio langsung melindungi mukanya dengan lengannya dan tertawa kecil.
"Yang benar saja, kau!" ujar Nesia sembari separuh cemberut separuh menahan tawa. Ia lalu mengangkat gallon-nya yang sudah terisi penuh, ke pinggir sungai.
"Biar aku saja," ujar Antonio, namun Nesia tidak mengindahkan uluran tangannya dan tetap berjalan, "Aku bisa kena marah jika Senior Kirkland melihat ini," keluh pemuda itu.
Nesia meletakkan gallon-nya yang sudah terisi ke troli, "Memang hukuman apa yang dia berikan padamu, sih?" tanya Nesia sembari kembali berusaha mengambil satu gallon terakhir yang masih kosong. Namun Antonio lebih cepat dan segera menyingkirkan gallon itu dari jangkauan tangan Nesia.
"Jika kau memang begitu bosannya untuk kembali, kau bisa tunggu aku di situ saja," ujar Antonio menunjuk tepian sungai. Lalu pemuda itu kembali membungkuk dan mengisi gallon-nya yang baru terisi separuh tadi, "Senior Kirkland menyuruhku untuk tetap memasok air dari sungai ini sampai kita pulang nanti."
Nesia yang baru mau duduk di tepi sungai, langsung jaws dropped.
"Dia juga menyuruhku untuk mengumpulkan kayu bakar di sekitar sini."
Lebih jaws dropped.
"Um… oh ya, dia juga menyuruhku untuk mengangkut barang-barang senior nanti ke bus saat pulang."
Semakin jaws dropped.
"Dan tak boleh dibantu siapapun. Apalagi cewek, sepertimu."
Dan Nesia tak yakin mulutnya mampu menganga lebih dari ini.
"YANG BENAR SAJA?!"
-oOo-
Memejamkan kedua matanya, Nesia mendongak sembari merasakan dinginnya air yang merendam kedua kakinya yang ia masukkan ke dalam air sungai. Sinar matahari yang menerobos dedaunan di atas dengan cahaya hangatnya, membuat Nesia seolah merasakan wajahnya tengah dibasuh oleh uap dari air hangat.
Ia kini sendiri berada di sungai sedangkan Antonio tadi pamit untuk 'ke atas' sebentar meletakkan galon-galon yang sudah terisi penuh bersama trolinya. Sempat Nesia menawarkan untuk membantu mendorong troli, tetapi Antonio langsung menolak dan menyarankan agar gadis itu menunggu saja di sini dan pemuda itu berjanji akan kembali bersama beberapa gallon kosong yang lain.
Dan Nesia menuruti. Meskipun bisa dibilang ia bolos 'kerja', tetapi tak apalah. Lagipula disini ia harus menjaga beberapa gallon berisi air yang belum terbawa Antonio karena larangan Nesia tadi.
"Bawa beberapa saja. Jalan mendaki dengan gallon sebanyak itu pasti sudah cukup berat."
Demikianlah alasan Nesia tadi yang hanya direspon oleh anggukan pasrah Antonio.
Telinga Nesia mendengar suara tapak kaki di tanah berumput di dekatnya. Tanpa pikir panjang, gadis itu membuka matanya sembari tersenyum lebar, sembari segera menoleh, dan berucap, "Akhirnya kau kembali, Carriedo."
Dan senyum itu perlahan luntur ketika kedua bola hitam kecoklatannya bertatapan dengan sepasang mata emerald yang memandangnya dingin.
"Maaf sekali menghancurkan harapanmu, Nona," ucap Arthur Kirkland sembari bersedekap dada, "Aku tak tahu bagaimana bisa seperti ini, tetapi bukankah murid perempuan seharusnya berada di tenda?"
-oOo-
Untuk sesaat, Nesia bagaikan terkena kejutan listrik beribu volt saat kedua matanya melihat bahwa Arthur Kirkland berdiri tak jauh darinya dengan bersedekap dada. Ekspresi pemuda itu jelas-jelas menunjukkan bahwa suasana hatinya sedang tidak bagus; mungkin karena melihat Nesia di sini atau apa.
Untuk sesaat pula, Nesia hanya memasang wajah bodohnya; membelalak, mulut setengah membuka, tanpa ada kata yang terucap.
Dan itu membuat Kirkland mendecak kesal.
"Well, apakah kau akan terus memasang muka tolol begitu sepanjang hari atau kau akan menjawab pertanyaanku?"
Tersadar oleh kalimat pedas sekaligus kalimat 'pernyataan perang' dari Kirkland tersebut, Nesia membuang muka kembali ke arah sungai dan melotot pada jernihnya air yang mengalir di sana.
O ya, jangan lupakan pada bibirnya yang secara otomatis mengerucut beberapa senti ke depan.
Bibir Arthur nyinyir melihat bahwa ia secara telak teracuhkan, "Kenapa kau berada disini?" ulangnya, "Dan dimana Carriedo?"
"…"
"Kau tuli atau memang tidak punya telinga selain tidak punya otak?"
"SOMEDAY I'LL BE LIVING IN A BIG OF CITY," Alih-alih merespon Arthur yang sudah mulai menipis kesabarannya, Nesia malah menyanyi—err… berteriak dengan suara keras-keras di tengah suasana sungai yang sepi, "AND ALL YOU'RE EVER GONNA BE IS MEA–"
Cprat!
"–HYAAA!" teriak Nesia keras ketika ia merasakan bahwa wajahnya tiba-tiba tersiram oleh air –sangat dingin. Setelah melap dengan kesal wajahnya dengan telapak tangannya, gadis itu menoleh geram dan memaki Arthur yang kini dengan santai melap tangannya yang basah dengan sapu tangan, "APA YANG KAU LAKUKAN?!"
"Menyadarkanmu," jawab Arthur santai, "Kau tidak menjawab pertanyaanku dan malah menyanyi-nyanyi keras begitu. Kupikir kau kerasukan roh atau apa. Bagaimana? Air sungainya segar?"
"Sialan kau," geram Nesia. Beberapa titik air masih tampak di wajahnya dan membuat beberapa helai rambutnya basah, "Kenapa kau tidak bisa membuatku tenang sedikit saja?!"
"Apa salahku?!" bentak Arthur berkacak pinggang, "Kau yang mencari gara-gara. Kenapa kau ada di sini sedangkan para murid baru harusnya di tenda?! Kau mau nyantai-nyantai di sini sedangkan temanmu susah payah di atas sana?!"
"Aku menjaga galon-galon ini!" Nesia menunjuk dua buah galon yang sudah terisi penuh oleh air.
"Itu tugas yang kuberikan pada Carriedo! Kau tidak usah sok jadi pahlawan kesiangan dan membantunya!"
Nesia menggigit bibirnya menahan amarah, "K–Kau…," dengan geram ia mencipratkan air sungai sebanyak mungkin kedua telapak tangannya mampu menampung, dan mengarahkannya ke Arthur yang langsung memekik kaget, "Kenapa kau kejam sekali pada Carriedo?!"
"Hah!" pekik Arthur, antara marah dan kaget merasakan dinginnya air yang tiba-tiba terasa di wajahnya. Ia membungkuk, menampung sebanyak mungkin air di dua telapak tangannya, lalu mencipratkan ke arah Nesia sebelum gadis itu sempat menghindar, "Dia menyuruhmu membelanya?! Hah! Laki-laki macam apa dia, menyuruh wanita untuk memprotes hukuman yang diterimanya!"
Cprat!
"Carriedo tidak menyuruhku! Aku yang simpati padanya! Hukumanmu itu absurd! Kau pikir tidak berat apa, mendorong atau menarik troli dari sini ke atas sana?!"
Cprat!
"Heh! Dia saja tidak mengeluh padaku! Kenapa kau yang cerewet sekali?!"
Cprat!
"Jika kau tidak ingin meringankan hukumannya, maka aku akan membantunya!"
Cprat!
"Hah? Kenapa itu?!Kau benar-benar menyukai–."
Cprat! Cprat! Cprat!
"Hei–Hei, hentikan– Uhuk!Uhuk!"
Cprat! Cprat!
"Dasar gadis barbar! Uhuk! Kubilang hentik–!"
Cprat! Cprat! Cprat!
"Uhuk! Kau berniat membunuhku–."
Cprat! Cprat! Cprat!
"Aku benar-benar kesal padamu! Rasakan! Rasakan! Rasakan—!"
Cprat! Cprat! Cprat! Cprat!
GREP!
Suara kecipak-kecipuk air seketika terhenti. Suasana di sungai yang sebelumnya penuh dengan teriakan, makian, dan bentakan kembali sunyi dan hanya menyisakan suara aliran tenang air sungai yang mengalir di antara bebatuan alam.
Simpan untuk suara hembusan napas keras-keras akibat kelelahan dari dua anak manusia yang kini tengah duduk berhadapan.
Gerakan tangan Nesia untuk mencipratkan air ke muka (baca: sekujur tubuh) Arthur terhenti ketika kedua lengannya tergenggam oleh dua buah telapak tangan yang lebih besar dari telapak tangannya. Segala umpatan yang hendak ia lontarkan, langsung tertelan kembali begitu ia menyadari wajah Arthur yang tiba-tiba berada sangat dekat jaraknya dari wajahnya sendiri.
Tubuh mereka berdua basah oleh dinginnya air sungai. Rambut mereka sedikit lembab dan berantakan oleh cairan yang sama. Membuat baju mereka basah. Beberapa tetes bahkan terlihat mengalir di lekuk wajah mereka. Menetes, membasahi rumput di bawah sana.
Kedua mata mereka menatap dari jarak dekat. Hitam kecoklatan bertemu pandang dengan emerald.
Napas mereka terhembus keras-keras dan saling menerpa wajah lawan; memberikan kehangatan di tengah kukungan dinginnya sentuhan air sungai.
Sebelum salah satu dari mereka sempat untuk berteriak dan menghardik lawan dengan sebuah makian, sebuah suara terdengar bagaikan petir di siang bolong musim panas.
"Saraswati? Senior Kirkland?"
Sangat mengejutkan hingga Nesia dan Arthur sama-sama tersentak dan refleks langsung menjauhkan diri dari satu sama lain.
Antonio yang baru saja datang, hanya menaikkan sebelah alisnya menatap dua orang yang sekujur tubuhnya tampak basah di depannya.
"Ca–Carriedo!" cetus Nesia, antara kaget dan bahagia. Kaget karena Antonio tiba-tiba hadir dan bersuara tanpa memberi hawa atau pertanda kehadiran (atau Nesia saja yang tidak sadar?), dan bahagia karena Antonio secara tidak sadar telah menyelamatkan Nesia dari apapun yang akan dilakukan Kirkland padanya, "Akhirnya kau kembali!" Nesia dengan kasar melepas kedua genggaman tangan Kirkland pada kedua lengannya, lalu iasegera berdiri dan tersenyum lebar.
Sedangkan Arthur, setelah berhasil menenangkan detak jantungnya yang nyaris meledak akibat terkejut, melempar death glare pada Antonio, "Kemana saja, kau?"
Antonio menengguk ludah dengan sedikit sulit, "Dari atas menaruh galon."
"Dan kau biarkan teman perempuanmu di sini sendirian?" bentak Arthur kesal. Rasa kesalnya karena tubuhnya kini menggigil kedinginan dan bajunya basah kuyup, akhirnya terlampiaskan pada Antonio yang baru datang, "Dan kau membiarkan dia membantumu?!" telunjuk kanannya mengarah pada Nesia, "Tanpa menyuruhnya untuk kembali bersama murid perempuan yang lain?!"
"Se–Sebenarnya Senior–."
"Jangan marahi Carriedo," ucap Nesia memotong kalimat Antonio. Membuat tak hanya Arthur, tetapi Antonio juga menaruh perhatian padanya, "Ini semua salahku, Senior. Dia sudah memperingatkanku tetapi aku tidak mau. Tolong, jangan marahi dia. Karena dia sudah cukup susah menerima hukuman berat darimu," ucap Nesia lirih sembari menatap langsung kedua mata Arthur.
"Saraswati…."
Arthur mengatupkan rahangnya dengan geram, sembari kedua matanya memandang tajam ke arah Nesia. Sepertinya pemuda itu ingin mengatakan sesuatu sebagai balasan, namun akhirnya tertelan kembali dan kemudian melempar tatapan peringatan pada Antonio yang masih terdiam.
"Cepat selesaikan tugasmu jika tak ingin mendapat hukuman lebih dan kau–!" ia menoleh ke arah Nesia, "Cepat kembali ke atas dan biarkan Carriedo melaksanakan tugasnya sendiri, jika kau memang benar-benar peduli pada temanmu ini."
Arthur berbalik dan mulai melangkah.
Namun baru beberapa langkah ia berjalan, ia berhenti, lalu sedikit menolehkan kepalanya ke belakang demi menatap Nesia.
Arthur menyeringai sembari berucap, "Aku suka seleramu, anyway. Union Jack," dan pemuda itu kembali meneruskan langkahnya, tanpa peduli pada Antonio dan Nesia yang memandangnya dengan tatapan tak mengerti akan ucapannya barusan.
Union Jack?
Selera apa?
Nesia mengendikkan bahu dan ingin menganggap ucapan Arthur hanyalah omong kosong dan bualan tak berarti. Mungkin otaknya mengalami salah fungsi akibat dinginnya air sungai atau apa.
Dan tiba-tiba gadis itu merasakan kehangatan baru yang melingkupi tubuhnya.
"Kau pasti kedinginan," ujar Antonio pelan sembari melepas lalu memakaikan jaket coklatnya ke tubuh Nesia dari belakang, "Pakailah ini dan segera kembalilah ke atas. Anggap sebagai ucapan terimakasihku atas dukunganmu padaku."
Nesia tak mengerti, mengapa tak hanya badannya saja yang terasa mulai menghangat, tetapi mukanya juga. Ia seolah mampu merasakan aliran darahnya berdesir di sekujur tubuhnya. Ia mampu merasakan daerah kedua pipinya memanas saat kedua telinganya mendengar suara Antonio. Saat lehernya merasakan hembusan napas Antonio yang berdiri di belakangnya dan memakaikan jaketnya.
Dan saat ia merasakan aroma kayu manis yang melingkupi indra penciumannya, yang menguar lembut dari kain coklat yang kini memberikan kehangatan padanya.
Nesia berdoa pada Tuhan agar memberinya kekuatan untuk tidak pingsan karena perasaan yang terasa sangat kuat di dada sini.
Tersenyum kikuk, gadis itu menunduk demi merapikan jaket Antonio.
Namun euforia dan kebahagiaan yang ia rasakan seketika pudar seketika bagai kabut diterpa cahaya matahari. Kedua bola matanya membelalak. Beserta wajahnya yang semula merona, kini malah menyaingi warna kepiting rebus yang merupakan makanan favoritnya.
Sweater-nya yang tipis, yang basah terkena air akibat ulahnya bersama Arthur tadi, membuat kain itu semakin menempel dan melekat erat di lekuk tubuhnya. Karena bahannya yang memang tidak terlalu tebal, maka sebagai konsekuensi karena sekarang kain itu basah….
Pola Union Jack (yang merupakan bendera kebangsaan Inggris) dari 'pakaian pelindung daerah privat'-nya, 'terlihat' begitu jelas melalui sweater putihnya yang transparan karena basah.
Dengan cepat Nesia menyilangkan kedua lengannya di dadanya sembari warna wajahnya bertransformasi semakin ke arah merah.
"MESUUUUUUUUUUUUUMMMMMMM!"
Mendengar teriakan begitu, Antonio hanya menaikkan sebelah alisnya; berpikir, apakah perbuatannya memakaikan jaket ke seorang gadis dikategorikan sebagai tindakan pelanggaran asusila.
-oOo-
Setelah dirasa acara preparing sudah selesai (galon sudah terisi cukup untuk memenuhi minum murid baru dan senior, makanan sudah dipilah, listrik sudah terpasang, peralatan makan sudah tertata rapi, dan area scanning sudah dilaksanakan), maka para murid baru diijinkan untuk menikmati makan siang. Para senior perempuan dibantu dengan senior laki-laki, membagikan makanan kepada murid baru dengan jatah satu murid mendapat satu roti sobek ditambah dengan satu coklat dan segelas plastik air dingin. Memang, itu bukanlah makanan yang cukup mengenyangkan di tengah udara dingin dan kondisi lelah setelah bekerja. Tetapi para murid baru tidak bisa banyak protes.
Daripada tidak menemukan makan sekali dan berakhir mati kelaparan?
Setelah selesai makan, mereka diberi waktu satu jam untuk beristirahat tidur siang untuk mengisi energi demi melakukan acara selanjutnya.
Untuk itulah Nesia cepat-cepat menghabiskan makanannya demi segera masuk ke dalam tenda putri dan mengistirahatkan tak hanya fisiknya, tetapi juga mentalnya yang demikian lelah.
Setelah membuang bungkus roti, coklat, dan gelas plastik ke tempat sampah, gadis itu segera melangkah ke dalam tenda yang ternyata sudah nyaris penuh oleh bujuran tubuh teman putri lainnya.
Nesia menghela napas lelah saat ia kebingungan mencari space kosong yang cukup baginya untuk setidaknya, tidur dengan posisi lutut tertekuk.
"Nesia."
Matanya menoleh ke sumber suara dan mendapati Lily Zwingli tengah berbaring di bagian pojok kiri tenda.
"Sini, aku menyediakan space kosong untukmu," Lily menggeser tubuhnya yang mungil dan menepuk-nepuk lantai tenda di sebelahnya.
Tanpa pikir panjang (lagipula juga untuk apa?), Nesia melangkah hati-hati di antara bujuran teman-temannya yang sebagian besar sudah tertidur, dan mendekati Lily.
"Terimakasih, Lily," ujar Nesia sembari terduduk, "Boleh berbagi bed cover-mu ini? Aku tidak membawa dan disini dingin sekali," ujar Nesia menunjuk selimut tebal berwarna merah muda yang tengah Lily gunakan.
Gadis kecil itu mengangguk sembari tersenyum, membuat Nesia mengembangkan lengkungan yang sama di bibirnya.
"Lagipula, aku juga tidak tahu jika kita akan berkemah," kata Nesia setelah ia berhasil dengan nyaman dan hangatnya, menelungsupkan tubuhnya hingga sebatas leher, di balik selimut fluffy tersebut.
Lily tertawa kecil, lalu bersuara pelan agar tidak mengganggu teman-temannya yang beristirahat, "Kau kemana saja? Sedari tadi pagi jarang sekali kelihatan."
Nesia semakin mengarahkan bed coveritu ke atas, hingga kini menutupi mulutnya, "Aku ada kepentingan," separuh berbohong dan separuh jujur, kan? "Ngomong-ngomong, apa kau diberitahu oleh Kakakmu apa saja kegiatan kita hari ini?"
Lily menggeleng, "Kakak selalu bertindak profesional," ujar gadis itu. Lalu, dengan tiba-tiba Lily merubah posisi tidurnya hingga kini menghadap Nesia.
Dan Nesia hanya menaikkan sebelah alisnya saat melihat sebuah senyum penuh makna di bibir gadis di sampingnya.
"Apa?" tanya Nesia merasa kurang nyaman.
Lily semakin tersenyum cerah, "Ngomong-ngomong soal Vash… Kau bisa meminta bantuanku untuk mendekatinya, lho."
Mendengar hal itu, Nesia hanya tersenyum patah dan penuh aura putus asa.
-o0o-
Kenapa banyak sekali yang dukung Arthur buat jadi a rapistdi chapter perkemahan ini, ya? :/ #lirik tampang mesum Arthur #plak. Berhubung saya tidak mau plot fic ini terkesan rush, maka ditunda dulu ya ^^v Tetapi di atas udah saya selipin hal-hal yang membuktikan tingkat kemesuman Arthur, kan? :D Aha. Saya memberi rate-M juga bukan tanpa alasan kok. You have my words, guys :) Oh ya, apa ada yang menangkap hints (cacat dan ga niat) SpaMano di atas sana? :P #lha?#. But rest assured, fic ini masih akan tetap memakai straight sebagai pairing kok :p
-o0o-
Next Chapter:
"Kumohon cium aku, Senior!"
.
"… Kali ini kalian, dua kelompok, harus berlomba untuk mencari beberapa benda yang kami sembunyikan di sekitar wilayah ini."
.
"… Apa benar kau belum pernah 'disentuh' laki-laki, Nes?"
"Apa yang kau lakukan, Lovino? Aku akan berteriak jika kau macam-macam!"
.
"Aku ini selevel dengan Orlando Bloom tetapi kalian tidak menyadarinya? Ck! Ga awesome –Ouch!"
.
"Aku juga! Mending aku jadi lesbian saja daripada straight tapi denganmu!"
Pojok Review. Monggo~~
Lirik lagu 'kan sebenernya ga boleh dimasukkin fic / Oh ya? Maap sekali, saya tidak tahu tentang hal ini uhukdancukupmalasbuatbacaguidanceuhuk. Terimakasih atas koreksi dan bimbingannya lho :) saya apresiasi sekali / Lily gimana tuh responnya pas Nesia 'nembak' Vash? / Udah lihat di atas kan? Kayaknya tuh cewek suka-suka aja Nesia jadi iparnya :D / Lovino cemburu ya? / Um... / Bikin Arthur raep Nesia di tenda! Foreplay juga ga papa deh. Ciuman juga bisa../ #ngakak baca review ini. Udah dua-tiga orang yang rikues itu padamu, lho, Thur #sikut alis Arthur / Banyakin UKNes dong / Those above were enough, rite? :D / Lovi gentle banget; Manis banget; Cool banget; Unyu banget; Baik banget; Indah; Bikin blushing dan berbunga-bunga deh / Ya, semua pujian sudah ditampung oleh si penerima #lirik jeles Lovi yang palanya udah 'membengkak' gegara GR abis! / Siapapun pasangan Nesia, aku terima / Sip, sip ;D / Kenapa RomaNes muncul terakhir mulu? / Di atas si Lopi udah nongol awal, kan? :) / VashNes manis sekali / Ayey! #balasan macam apa ini / Kapan Willem muncul? Apa dia mantan Nesia? / Sabar ea kluw muw taok jawabanna #alay dot com :* / Absurdities awesome / Terimakasih sekali ^^v kamu juga awesome kok ohoho / Kapan rate-M muncul? / Masih lama~~ ;D Saya tidak ingin terkesan rush :/ / Arthur kece sekali / Asek, dapat pujian juga akhirnya dia :P / Nesia menurutmu cocok ama siapa? / Sama saya juga boleh #plak / Antonio Cuma jadi figuran, ya? / #ngakak guling2 sambil nunjuk2 muka depresi Antonio / Ada JapNes ga? / Banyak sekali ya, possible pairings di Absurdities :D
My retarded blabbering
Kamu anaknya pembalap yaaaa~? Karena kamu telah mem—'brrrumm! Brrummm!'—kan hatikuuu~ (?) #wotdepak gilak
Bagi seorang Author, Review/konkrit/saran/dukungan/pujian *plak* sangat dibutuhkan demi memberi semangat untuk terus dan terus berkarya.Feedback adalah semangat bagi kami untuk terus melangkah #bleh! :) Tapi, serius 0.0
Mari dukung cipta karya dengan membudayakan feedback selesai membaca~~ :D
Thank you all :*
-d.i.s.-
