Ada gitu, yang merindukan saya? :D #dilempari kunci Lamborgini#. Berhubung di chapter lalu banyak yang bilang oke-oke aja kalau words-nya banyak, maka saya sekarang ga tanggung-tanggung lho :p This is for you, a 6k words long chapter :D Dan saya harap, sesuai janji Anda, Anda tidak akan bosan :/


Petualangan merupakan hal yang menjadi minat dan hobi sebagian orang yang menyukai tantangan dan bosan pada hal-hal yang biasa atau menjenuhkan. Merasakan denyut adrenalin yang terasa, menjadi sebuah hal yang menghadirkan kecanduan. Dalam berbagai hal, tantangan mudah ditemukan dan mampu menjadi sebuah petualangan. Setiap orang pasti memiliki taste petualangan masing-masing; entah itu petualangan dalam hal asmara, melakukan tindakan kriminal, atau bahkan petualangan model penjelajahan alam.

Penjelajahan lingkungan alam sekitar bisa kau temukan dan ketahui dengan pas dan cocok, terutama pada kelompok Pramuka atau kelompok-kelompok pecinta alam lainnya semisal Greenpeace. Merasakan kehidupan kota yang penuh dengan aktivitas-aktivitas yang menurut sebagian orang adalah menjenuhkan, polutif, dan destruktif terhadap lingkungan, membuat pemikiran 'bersatu dengan alam' adalah hal yang menarik perhatian. Menghirup udara segar ketimbang polusi karbon, melihat rimbunnya dedaunan ketimbang menjulangnya gedung pencakar langit, mendengarkan kicauan burung dan aliran air ketimbang bunyi klakson atau dering cerobong asap pabrik.

Dan mungkin, jika sudah merasakan dan melihat semua itu, kau akan mampu sedikit, puji Tuhan jika lebih, menghargai dan menjaga lingkungan sekitar. Ya, memang, hal ini terdengar dan terkesan basi; kepala sekolah, guru, bahkan mungkin orang tuamu memberi pelajaran yang sama mulai dari kau usia sangat dini. Tetapi hal ini benar. Menjaga lingkungan sama saja kau menjaga masa depan generasi penerusmu kelak.

Banyak hal yang diharapkan setelah kau bisa melihat keindahan alam dan mensyukuri anugrah Tuhan. Mungkin kau bisa melakukan hal-hal kecil, setelah pulang dari petualanganmu, untuk mendukung Bumi tercinta yang kabarnya tengah terjangkit penyakit bernama pemanasan global. Seperti mengurangi konsumsi daging, menanam pohon walau hanya sebatang, atau berangkat sekolah dengan berjalan kaki jika memungkinkan. Atau kau juga bisa melakukan advokasi lingkungan melalui organisasi yang berfokus di hal tersebut seperti Greenpeace atau kelompok lainnya.

Intinya sih, hanya satu. Cintai dan hargai lingkungan.

Annesia Saraswati paham benar jika itulah tujuan MOS Hetalia High di hari ketiga ini dilakukan dengan cara berkemah di hutan secara terbuka ini. Ia sadar bahwa di masa sekarang, keharusan untuk memerhatikan lingkungan sama saja dengan kewajiban manusia untuk bernapas jika tetap ingin hidup. Hah! Tidak percaya? Lihatlah es di Kutub Utara yang sudah banyak yang mencair dan Pulau Madagaskar yang terancam menghilang!

Nesia tahu hal itu. Niat para anggota Komite Disiplin sebagai penyelenggara dan panitia MOS memang baik. Ia tahu.

Tetapi, jika sudah dihadapkan pada rasa dingin dan beku khas hutan, Nesia menjadi tidak bisa menahan keluhannya dan kerinduannya terhadap hangatnya AC apartemennya.

Bahkan kedua mata ini terasa sulit terpejam ketika tenda yang di dalamnya ia berbaring, hanya beralaskan tikar tipis dan membuat punggungnya harus menindihi tanah berbatu; keras, dan dingin.

Membolak-balikkan posisi tidurnya juga tidak membantu; padahal dia sudah berbagi dengan bed cover Lily Zwingli untuk mengurangi rasa dingin. Tetapi, waktu nyaris satu jam ia habiskan hanya untuk berguling kesana dan menghadap ke sini.

Capai!

Ingin tidur tetapi tidak bisa tertidur itu merupakan sebuah siksaan yang menyakitkan. Sungguh.

Dan belum sempat sama sekali ia sedikit merangkul dunia mimpi, Nesia harus mengerang kesal campur capai ketika telinganya mendengar teriakan keras dari arah luar tenda.

"BANGUN! BANGUN! DUNIA TIDAK MEMBUTUHKAN ORANG-ORANG PEMALAS DAN TUKANG NGOROK SEPERTI KALIAN!"

Beberapa Komite Disiplin berteriak melalui pengeras suara dengan hebohnya di siang hari musim panas di hutan. Saking kerasnya, membuat siapapun yang terlelap dalam mimpi sedalam apapun dan tidur sepulas apapun, pasti akan terbangun.

Dan membuat orang sengantuk dan secapai apapun, seperti Nesia, semakin tidak akan mampu memejamkan kedua matanya.

"Uuuuggghhhh…," erang Nesia sembari malah menarik bed cover Lily hingga menutupi kepalanya, "Aku ingin tidur…."

MOS hari ketiga siap dijalankan.


Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

I just own the plot of the story and I don't make money from it.

Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.

Pairing: multimalexNesia

Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D

Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D

Maju FHI!

Happy reading


Menutup mulutnya rapat-rapat dan menggigit kedua bagian dalam dari pipinya sendiri, Nesia mencoba menahan hasrat menguapnya. Kepalanya ia tundukkan dalam-dalam sembari membuka matanya selebar mungkin seolah ia tengah menatap para personil One Direction dengan segala kesempurnaannya. Sebisa mungkin, ia berusaha untuk menghindari perhatian dari para Komite Disiplin yang tengah menyusuri barisan yang dibentuk oleh para murid baru.

Ya, siang itu, para murid baru dikumpulkan di sebuah lokasi di dekat lokasi tenda dan dibariskan sesuai dengan kelompok masing-masing. Tidak peduli dengan protes atau tanda yang diberikan oleh para murid baru bahwa istirahat satu jam yang telah mereka rasakan belumlah sebanding dengan perjalanan dan tugas yang telah mereka lakukan. Komite Disiplin alih-alih kasihan dan prihatin, malah memberi kuliah dan bentakan gratis kepada siapapun yang berani bicara dan menentang.

Sikap diktator a la Adolf Hitler sangat dirasakan di sini.

Jadi, para murid baru tidak punya pilihan kecuali menurut. Menyeret langkah mereka ke tempat yang dituju. Mencoba membuka mata selebar-lebarnya jika tidak ingin terpejam atau tampak sayu dan berakhir dengan hukuman yang aduhai dari anggota Komite Disiplin. Dan mencoba tampak semangat sekalipun dalam hati berteriak nista ingin memeluk bantal dan guling.

Di depan masing-masing murid sudah terdapat sebuah kertas karton berwarna biru muda polos, yang terletak begitu saja di tanah. Para murid berbaris sesuai dengan barisan yang telah terbentuk dari jejeran kertas itu; jadi, satu murid akan berhadapan dengan satu kertas biru di depan kaki mereka. Di kedua sudut atas kertas tersebut terpasang sebuah tali berwarna merah dan membuat para murid yakin bahwa kertas itu adalah sebuah name tag yang nantinya akan dikalungkan dan terpasang di depan dada.

Dan entah kenapa, Nesia merasa malas dengan semua ini.

Seperti biasa, acara dimulai dengan sambutan dari Ketua Komite Disiplin, Vash Zwingli, yang intinya sih, sama saja; semangat, fokus, tanggung jawab, jangan letoy, dan sebagainya. Setelah penyambutan dari Vash telah selesai, jalan acara dilimpahkan kepada senior yang Nesia ingat sebagai Senior Andrew Scholte (1).

Melihat senior berambut pirang itu, Nesia tak bisa menahan rasa penasaran campur gelinya saat melihat sebuah benda yang ia pikir jepit rambut, di sisi kiri kepala senior tersebut.

"Bertele-tele adalah hal yang tidak berguna dan hanya membuang waktu saja. Bertele-tele juga merupakan hobi ibu-ibu arisan, bukan murid dan penerus bangsa seperti kita," ucap Senior Scholte dengan bahasa yang oh, sangat diplomatis.

Tetapi, saat sempat melihat ekspresi dan mendengar nada suaranya yang sedatar tembok dan sehampa ruang angkasa tersebut, Nesia harus menarik rasa kagumnya pada sosok di depannya.

Sementara Andrew berbicara di depan, para anggota Komite Disiplin lainnya tampak menyebar dan menelusup ke barisan murid-murid. Melotot tanpa sebab, menghardik tanpa alasan, dan berjalan dengan gaya seolah-olah mereka adalah penguasa dunia; dagu terangkat tinggi, memandang rendah, dan bersedekap tangan di dada.

"Oleh karena itu, langsung saja saya katakan bahwa kalian disini dikumpulkan untuk mendapat pengarahan pada acara yang akan berlangsung hingga besok pagi, sekaligus pengarahan terhadap acara yang akan berlangsung setelah ini."

"Hmmmmpppfffhhh," Nesia menutup rapat mulutnya dan memejamkan erat kedua matanya saat ia tidak bisa lagi menahan hasrat untuk menguap karena kantuk.

"Pertama, seperti yang kalian lihat, di depan kalian ada sebuah kertas karton. Itu adalah papan nama yang akan kalian gunakan, dan menjadi nickname kalian sampai hari esok. Jadi, kalian lupakan nama asli kalian selama sehari ke depan dan hanya menganggap bahwa tulisan di kertas itulah orang-orang seharusnya memanggil kalian."

Andrew berhenti sejenak demi memerhatikan para murid baru yang kebanyakan berdiri dan berbaris dengan ekspresi atau muka yang 'maksa' disegar-segarkan dan disemangat-semangatkan. Beberapa murid baru jelas sekali tengah menahan kantuk dengan berulang-ulang mengerjapkan mata atau menunduk menahan kantuk, atau menggigit bibir agar merasakan rasa sakit dan mengusir rasa kantuk.

"Dan tidak boleh kalian bertukar papan nama dengan teman kalian. Tidak boleh protes pada senior. Dan kalian harus memakai papan nama itu, kemanapun dan sedang apapun, sampai acara MOS hari ketiga ini selesai. Mengerti?"

Setelah mendapat respon bagai regu paduan suara nasional, Andrew mengangguk pelan tanda puas, lalu kembali melanjutkan, "Sekarang, silahkan angkat kertas di depan kalian dan langsung kalungkan talinya di leher kalian. CEPAT!"

Dan bagai mendengar letusan senjata api tanda perlombaan pacu kuda dimulai, para murid baru dengan sigap membungkuk untuk mengambil kertas karton di tanah di depan sepatu mereka.

-oOo-

"Siapa namamu?"

"Ada apa ini?"

"Lho, tenang saja, Dude. Aku hanya bertanya namamu, tidak ada apa-apa. Jadi, siapa namamu?"

"Ada apa ini?"

Mati-matian Nesia menunduk dan menahan tawa ketika telinganya mencuri dengar pembicaraan antara Senior Ludwig Beilschmidt dengan teman satu kelompok Nesia, Kiku Honda. Pemuda keturunan Jepang itu menjawab dengan tegas, sedangkan Senior Beilschmidt tampak memasang wajah desperet dan nyaris putus asa.

Sekarang, para murid baru masih berbaris tertib dan telah memasang papan nama masing-masing. Alih-alih nama-nama hewan atau nama-nama artis seperti yang dipikirkan Nesia, kertas karton ini justru bertuliskan kata-kata absurd yang mulai saat itu, resmi menjadi panggilan masing-masing pemakainya.

Hhhh.. ini ide siapa, sih? Mending jika kata-kata yang tertulis adalah kata-kata yang bersifat respektif terhadap si pemakai, kebanyakan dari kata-kata itu justru membuat para Komite Disiplin sangat menikmati aksi penindasan verbal terhadap para murid baru.

Seperti sekarang, para anggota Komite Disiplin berkesempatan untuk berjalan-jalan mencari mangsa yang merupakan pemakai nama yang menurut mereka aneh. Lalu menyindir, mengolok, menghardik, atau menghina. Demikianlah, suasana kali ini riuh dengan interaksi antara Komite Disiplin dengan para murid baru.

Surga dunia bagi para Komite yang tugasnya memang untuk menurunkan mental dan kepercayaan diri para murid baru.

"Siapa namamu, gadis manis?"

"J-jangan lakukan ini, Senior…"

Kepala Nesia menoleh ke sumber suara dan kedua matanya menatap Lily Zwingli yang tengah berhadapan dengan Senior Wang Yao.

"Hah? Memangnya aku mau apa? Aku hanya bertanya namamu, kok. Siapa?"

"Jangan lakukan ini, Senior…" ucap Lily dengan semakin mencicit dan semakin menunduk untuk menutupi mukanya yang telah memerah karena malu.

"Namamu siapa?"

"Sejam dua puluh dolar!"

Sembari ber-sweat dropped ria, Nesia menoleh ke sumber suara di dekatnya. Dan diketahuilah bahwa di barisan kelompok sebelah, kelompok delapan, Antonio F. Carriedo menjawab dengan ekspresi tegas terhadap pertanyaan yang baru saja diajukan oleh Senior Gilbert Beilschmidt.

"Apa?!" Senior Gilbert bertanya dengan ekspresi terkejut, "Siapa namamu?"

"Sejam dua puluh dolar!"

Mengeluarkan dompet dari saku jasnya, Senior Gilbert menarik beberapa lembar dolar dari sana dan menghadapkannya ke depan muka Antonio.

"Seratus dolar," ucap Gilbert sembari menyeringai, "Berarti kau harus lima jam bersamaku. Awesome!"

Nesia membelalak. Meski ia tahu bahwa semua ini adalah becandaan absurd dan konyol dari siapapun pencetus ide gila papan nama ini, tetapi tetap saja…

Melihat Antonio 'ditawar' begitu oleh orang lain, catat bahwa 'orang lain' di sini adalah lelaki, membuat Nesia rasanya ingin membotaki kepala dengan helai keperakan itu saja!

Namun, ekspresi menyeringai Gilbert segera berganti dengan ekspresi nyinyir dengan jeleknya ketika ia berucap, "Itu jika seandainya kau adalah cewek seseksi Liz–."

Apa?! Siapa?!

"– atau jika aku sudah tidak normal lagi. Tetapi sekalipun jika aku gay, mana mau aku dengan yang berharga sejam dua puluh dolar. Murah banget. Ga awesome!" dan Senior Gilbert berlalu begitu saja meninggalkan Antonio yang langsung menghela napas lega.

Nesia hanya tersenyum prihatin pada pemuda berkulit putih kecoklatan tersebut.

"Siapa namamu?!"

"Kumohon cium aku, Senior!"

Ngek.

Mendengar suara itu, Nesia tak bisa menahan sweat dropped-nya. Dari suaranya, Nesia sudah bisa menebak siapa murid baru pemilik suara itu.

Menoleh, dugaannya terkonfirmasi begitu melihat Lovino Vargas berdiri berhadapan dengan Senior Elizaveta Herdevary.

"… Mohon ulangi?" dengan ragu, sembari menyipitkan kedua mata dan menaikkan sebelah alis, Senior Herdevary menatap Lovino.

"Kumohon cium aku, Senior!"

Memasang muka terkejut, Senior Herdevary menutup mulutnya yang ternganga.

"Aku hanya bertanya namamu dan kau memintaku untuk menciummu?"

Lovino terdiam. Dari tempatnya berdiri, Nesia bisa melihat bahwa rahang Lovino mengeras dan pandangannya terlihat geram pada apapun yang tengah dipandangnya (yang jelas arah pandangannya tidak mengarah pada senior berambut coklat auburn di depannya).

Nesia terkikik dalam hati. Pasti pemuda itu sangat merasa dongkol dan konyol.

"Aku tanya lagi. Siapa namamu?"

"Kumohon cium aku, Senior!"

"Senior Zwingli! Senior Scholte! Coba kemari!" Senior Herdevary melambaikan tangan pada dua senior yang dimaksud, yang juga tengah terlibat dalam 'percakapan' dengan murid yang lain.

"Ada apa, Senior Herdevary?" tanya Vash ketika sudah sampai di dekat mereka.

"Dia," Senior Herdevary menunjuk Lovino dengan masih memasang ekspresi terkejut, "Aku hanya bertanya namanya. Tetapi dia memintaku untuk menciumnya."

"Apa?"

"Hei, beraninya…," ucap Senior Scholte sembari melengkungkan bibir ke bawah, tanda tak suka, "Senior Herdevary sudah memiliki pacar, tahu?"

"Dan dia sepupuku," lanjut Senior Vash, "Meskipun dia tidak berada di sini karena bukan anggota Komite Disiplin, tetapi jangan harap kau bisa flirting dengan Senior Herdevary."

"Itu benar," Senior Herdevary memasang wajah cemberut, yang di mata Nesia, malah membuatnya semakin terlihat imut dan cantik, "Aku kan hanya bertanya namamu."

"Coba kau ulangi pertanyaanmu, Senior Herdevary," ucap Scholte tenang.

"Siapa namamu?"

Lovino terlihat menghela napas sembari memejamkan kedua matanya. Kelihatan sekali jika dia tengah berusaha untuk membangun kesabaran terhadap permainan absurd nan non-sense yang tengah di hadapinya.

"Siapa?" ulang Senior Herdevary.

"… Kumohon, cium aku, Senior," ucap Lovino dengan nada seolah ia disuruh mengucapkan hal yang paling dibencinya di dunia.

"Daripada melirik kesana-kemari seperti orang bodoh begini dan melihat teman-temanmu, lebih baik kau perhatikan dirimu sendiri."

Menoleh ke sumber suara yang terasa dekat sekali dengan telinganya, Nesia mendapati seorang Komite Disiplin berdiri tegak mengangkat dagu dan bersedekap tangan, di sampingnya.

Dan tumben sekali, kali ini senior yang Nesia hadapi tidak memiliki alis setebal hutan Amazon.

Hih!

"Siapa namamu?" ujar Senior Berwald.

'Kau kan bisa membacanya sendiri!' hardik Nesia, tentu saja dalam hati. Pandangan tajam dan dingin dari Berwald otomatis membuat nyalinya ciut seketika bagai ban yang dikempesin.

Padahal sedari tadi Nesia berdoa agar tidak ada senior yang menanyai namanya. Habisnya…

"Kenapa diam?" ulang Berwald, "Siapa namamu?"

Tak punya pilihan lain, Nesia menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah dan merutuki nasibnya yang sial sekali hari ini.

"Aku menunggu," ujar Berwald dengan nada tak sabar.

"….. S–sumpah, Senior…," Nesia menengguk ludah dengan sulit sembari menatap tanah di bawahnya, "… A-aku masih perawan."

"Pfftt!"

Dan Nesia harus mendecak kesal ketika telinganya mendengar tawa tertahan dari beberapa orang di dekatnya, termasuk Senior Berwarld sendiri.

Absurd sekali semua ini.

-oOo-

"Aku malu sekali harus memakai papan nama ini," keluh Lily Zwingli dengan suara lirih. Tentu saja, jika ia berbicara terlalu keras, maka pemuda berambut pirang yang berjalan beberapa langkah di depan mereka akan mendengar. Dan terimakasih, sudah cukup Lily dipermalukan di acara berbaris sebelumnya. Ia tidak mau semakin merasa putus asa dengan hardikan Senior Arthur Kirkland karena mengeluh sekarang.

Sekarang, tiap kelompok tengah menjalani kegiatan out bound. Tiap kelompok, secara bergiliran, berangkat dari lokasi tenda dan menuju tempat-tempat out bound atau permainan yang dituju. Kelompok satu adalah kelompok pertama yang berangkat, dan disusul oleh kelompok dua di lima belas menit selanjutnya. Jadi, jeda pemberangkatan tiap kelompok adalah lima belas menit untuk menghindari 'tabrakan jadwal' di satu lokasi out bound nantinya.

Dan kini, kelompok sembilan tengah berjalan di rute yang ditentukan untuk mencapai lokasi outbound yang ke empat. Sebelumnya, mereka telah menikmati dan beraktivitas di lokasi outbound berupa flying fox (Lily sempat menangis tanpa suara ketika sudah mendarat di tanah), rafting (Nesia terlempar keluar ketika perahu mereka terbalik), dan lokasi outbound yang bernamakan 'Dandani-Temanmu-dengan-Kedua-Matamu-Tertutupi-Kain-Blindfold (Malang Nasib Kiku Honda ketika wajahnya harus dijadikan objek 'lukisan' dari seni Caroline Smith (2)).

Nesia akui, semua itu seru sekali. Memacu adrenalin, menantang kreatifitas, menguji kefokusan, dan sebagainya. Meskipun harus sedikit bersusah payah karena rute antara satu lokasi outbound yang satu dan yang lainnya tidak bisa dibilang mudah (jalan licin, terjal, semak, menyebrangi sungai, dan tentu saja, cukup jauh!), namun Nesia merasa bahwa kali ini adalah saat-saat MOS yang paling disukainya selama tiga hari MOS Hetalia High.

Tak peduli jika Arthur Kirkland selalu berada di dekatnya (karena ia adalah Senior pemandu kelompok Nesia) dan sering juga mengkomentari dan mengkritik pedas beberapa hal yang dilakukan Nesia (seperti saat Nesia melamun, mengumpat, merutuk, mengomel, atau bersikap acuh terhadap semua kritikan dan omelan Kirkland), namun Nesia tetap menikmati hari ini.

Ia sangat menikmati hari ini hingga ia berkali-kali tertawa lepas dan tersenyum lebar.

"Bersyukurlah," bisik Nesia, takut juga jika Arthur tiba-tiba mencuri dengar, "Kau lihat apa yang menjadi namaku sekarang? Lebih dari sekedar malu!"

'Sumpah, Senior! Aku masih perawan!'?

Lily Zwingli hanya menatap miris pada papan nama Nesia.

"Iya, sih," ujar Lily jujur, yang tanpa sadar membuat mental Nesia langsung anjlok seperti harga saham Wall Street di tahun 1930, "Tetapi aku tidak terbiasa dengan semua ini," Lily kembali menatap jalan dengan alis matanya yang melengkung ke bawah. Sedih dan nelangsa.

Nesia menghembuskan napasnya keras hingga beberapa helai poninya tertiup kecil, "Aku juga tidak. Banyak sekali yang menertawaiku karena nama ini. Tadi Senior Gilbert malah sempat mengatakan sesuatu yang kurang ajar padaku. Hih!" bibir Nesia nyinyir tatkala membayangkan seringai menggoda dari Senior Gilbert beberapa saat yang lalu.

Perbincangan masih berlanjut. Nesia dan Lily berjalan paling belakang dari rombongan kelompoknya. Arthur tampak berbincang dengan Kiku. Begitu pula dengan Mersheimer (3), Caroline, dan yang lain. Intinya, semua menikmati perjalanan ini meski melelahkan.

Tak begitu lama kemudian, mereka sampai di lokasi outbound yang keempat. Begitu tiba di sana, Nesia mendapati bahwa kini mereka tengah berada di sebuah bagian hutan yang rimbun akan semak dan pepohonan.

Dan yang lebih mengejutkan adalah bahwa kelompok Nesia di sana tidak sendirian. Nesia melihat bahwa sudah terdapat satu kelompok yang berkumpul di situ.

"Lovino?" sapa Nesia terkejut saat mendapati pemuda bersurai coklat tersebut.

"Annesia," balas Lovino, "Ternyata benar dengan kelompokmu, ya?"

"Dengan kelompokku bagaimana maksudnya?"

Belum sempat Lovino membalas, obrolan mereka tersela oleh ucapan Senior Gilbert yang sudah berdiri di antara anggota dua kelompok bersama dengan Senior Arthur, "Selamat datang di lokasi 'Gotta Find!' yang merupakan aktivitas outbound kita yang keempat, yang sangat awesome ini!" ucap Gilbert riang.

"Seperti namanya, kali ini kalian, dua kelompok, harus berlomba untuk mencari beberapa benda yang kami sembunyikan di sekitar wilayah ini," Arthur menunjuk ke sebuah tali merah panjang yang terentang (dari satu pohon ke pohon yang lain) dan membentuk garis pembatas berbentuk segi empat di sekitar sana, "Kami menaruh benda-benda tersebut di sekitar wilayah yang dibatasi oleh pita merah tersebut–."

Nesia menoleh ke arah yang ditunjuk.

Dan ia harus sedikit mengangakan mulutnya saat menyadari bahwa wilayah yang dibatasi oleh pita panjang tersebut sangatlah luas!

Sangat!

Bagaimana bisa ia menemukan benda yang dicari di wilayah seluas dan penuh semak seperti itu?!

Seolah tahu pemikiran pesimis Nesia, Gilbert melanjutkan ucapan Arthur, "Kalian harus mencarinya secara berkelompok. Jadi, masing-masing anggota harus berpencar. Nanti kita lihat kelompok mana yang mendapatkan benda paling banyak."

"Dilarang curang karena kami pasti mengetahuinya," Arthur memperingatkan, "Bagi pemenang di outbound kali ini, akan mendapatkan kejutan dari kami di saat penutupan MOS nanti."

Kejutan? Nesia secara mental memutar bola matanya.

Kalau dari Kirkland sih, kejutan apapun itu, menurut Nesia bukan sesuatu yang patut dinantikan.

"Waktu pencarian adalah tiga puluh menit," lanjut Gilbert sembari menunjukkan stop watch miliknya, "Benda yang harus dicari dan didapat adalah harimau…"

WTF?!

Harimau?! Mencari harimau di semak-semak?! Memangnya ada? Jikapun ada, siapa yang mau mempertaruhkan nyawa begitu?!

"…kedua, daun bertulang satu–."

'Yang benar saja!' Pikir Nesia tak percaya, 'Semak-semak dan semua di sini berwarna serba hijau! Bagaimana bisa kita menemukan daun tertentu di antara istana daun?!'

Absurd sekali mereka ini.

"–ketiga, yakni cinta–."

M–maksudnya?

"–dan keempat, kalian harus menemukan artis di sini."

HAAAAAAHHHH!

Nesia secara mental sudah berteriak frustasi dan tak mengerti.

Artis apa? Siapa? Dan bagaimana?

Tetapi tanpa sempat para murid memprotes dan menanyakan absurditas dan keambiguan pengarahan Arthur dan Gilbert, Gilbert langsung menepukkan kedua telapak tangannya sekali dan berteriak, "NOW GO!"

Dan tanpa punya pilihan, kedua kelompok langsung menuju lokasi dan mulai menjalankan tugas yang diberikan meski sebagian dari mereka merasa konyol sendiri terhadap apa yang tengah mereka lakukan.

Nesia langsung menuju ke satu arah dan langsung memilah-milah semak-semak yang ada di situ. Meski ia tidak tahu dan tidak mengerti apa yang tengah ia cari (harimau? Artis? Daun? Cinta? Yang benar saja!), tetapi ia tetap melakukannya supaya setidaknya, kelihatan kerja dan tidak hanya mengeluhkan kebingungannya saja.

Lagipula, di sana ada Arthur yang melihatnya. Mau jadi apa Nesia jika pemuda itu memergokinya tengah bengong seperti orang bodoh saja.

"Harimau apa?" keluh Nesia pelan. Teman-teman sekelompok maupun dari kelompok sepuluh juga tengah berada di sekitarnya melakukan hal yang sama, "Cinta bagaimana? Artis siapa? Daun seperti apa? Agh!"

Nesia sangat merasa tolol, namun ia tidak mengerti kenapa ia terus saja semangat memilah satu semak dan semak yang lain. Mungkin terbawa suasana kompetisi dan kerjasama yang tengah ada di udara saat itu.

"Ayo! Dua puluh menit lagi!"

Nesia mengumpat kesal saat Arthur berteriak demikian.

Dua puluh menit apanya jika sampai sekarang saja Nesia tak tahu apa yang harus ia cari!

Lagipula apa sih, hadiah untuk si pemenang? Jika memang begitu menggiurkan, mungkin Nesia mampu mendapat insentif lebih untuk semakin semangat dan percaya diri!

"Kau sudah mendapat sesuatu, Saraswati-san?"

Nesia menoleh dan mendapati Kiku Honda yang menoleh padanya sembari membungkuk di depan sebuah semak, "Belum," Nesia menggeleng, "Maksud dua senior itu apa, sih?"

"Aku juga tidak tahu," Kiku kembali memilah, "Tetapi aku sempat berpikir bahwa mereka tengah mengerjai kita."

Mendengar hal itu, Nesia memutar otaknya.

Benar juga, sih. Mungkin saja, kan? Bukannya 'mengerjai murid baru' adalah tugas wajib dan hobi para Komite Disiplin?

"Sepuluh menit lagi!"

Meski waktu sudah mepet sekali, Nesia belum yakin jika sudah ada seorang pun yang menemukan salah satu benda yang dicari.

Mereka terus mencari. Memilah kesana-kemari. Bahkan Lily sempat mengeluh pelan kalau "Ini sama saja mencari jarum di tumpukan jerami" yang dibalas oleh gumaman Nesia bahwa "Jarum lebih mudah diidentifikasikan daripada harimau, daun berjari satu, artis, dan –O Tuhan! Cinta!"

"Lima menit lagi!"

'TERSERAH!' teriak batin Nesia muak. Ia capai seperti ini. Dari tadi merasa tolol karena mencari hal yang tidak jelas.

Jangan-jangan Kiku benar jika semua ini hanya gurauan dan keusilan Komite Disiplin? Tahu gini mendingan dari awal tidak usah berusaha saja!

Memutuskan untuk menyerah, Nesia ingin berhenti memilah semak dan berdiri saja tanpa terus membungkuk dan membuat pinggang dan punggungnya nyeri seperti ini.

Namun, baru saja ia berdiri tegak dan meluruskan punggungnya, kedua matanya yang sebelumnya mengernyit merasakan ngilu di beberapa tubuhnya seketika sedikit melebar demi melihat sesuatu di dekat semak di balik pohon sana.

Sesuatu yang berwarna kuning dan kecil.

Memutuskan untuk menghampiri, Nesia berjalan pelan ke sana. Sesampainya di sana, gadis itu mengambil sebuah ranting di tanah, lalu dengan hati-hati mengulurkan tangannya dan sedikit menusuk-nusukkan ranting itu ke semak (siapa tahu saja benda kuning itu ular!). Tetapi alih-alih suara desisan khas ular, benda itu justru terjatuh ke tanah saat ranting Nesia menggerak-gerakkan semak itu dengan sedikit keras.

Membuang rantingnya, Nesia segera memungut benda itu lalu menelitinya.

Patung miniatur… harimau?

.

.

DEMIAPAJADIINIMAKSUDNYA?!

Nesia langsung membelalak dan sedikit mengangakan mulutnya ketika menyadari bahwa alih-alih harimau hidup yang bisa mengaum dan menelannya hidup-hidup, ternyata 'harimau' yang dimaksud duo senior di sana itu hanyalah patung?!

Dan… sekecil ini? Puji Tuhan Nesia melihatnya. Jika tidak, bagaimana bisa mereka mampu menemukan benda sekecil ini di semak-semak?!

Yang benar saja!

"Annesia?"

Terkejut, Nesia segera menoleh ke sumber suara dan seketika mendapati Lovino tengah berdiri di dekatnya.

"Lovino?" ujar Nesia menghela napas, "Kau mengagetkanku."

"Kenapa?" tanya Lovino dengan suara sedikit kepayahan. Mungkin lelah fisik dan lelah mental akibat semua keabsurdan yang dilaluinya ini, "Kau melamun?"

Nesia menggeleng. Dalam hati dia merutuk kesal, 'Memang aku terkenal sebagai Putri Pelamun, gitu? Dari kemarin selalu dituduh begitu.'

Nesia melihat bahwa pandangan Lovino menurun dan sampai pada papan nama yang terpasang di depan dada Nesia.

Dan Nesia mengernyit ketika dilihatnya pemuda itu menyeringai.

"Benarkah ini?" tanya Lovino sembari menunjuk papan nama Nesia dengan dagunya.

"Apa?" tanya Nesia ragu. Sedikit enggan juga melihat ekspresi Lovino yang membuatnya déjà vu pada beberapa senior yang mengusilinya.

Pandangan Lovino mengarah pada kedua mata Nesia.

Bertemulah emerald dan hitam kecoklatan.

"… Apa benar kau belum pernah 'disentuh' laki-laki, Nes?" tanya Lovino lirih. Pandangan mata pemuda itu begitu dalam hingga membuat Nesia melempar pandangannya kesana-kemari; kemanapun asal tidak ke warna emerald itu.

"B–bicara apa kau?" hardik Nesia sedikit keras.

Alih-alih takut, Lovino malah melangkah maju dan membuat Nesia secara refleks mundur. Terus begitu hingga Nesia merasa bahwa punggungnya menubruk sesuatu yang keras; batang pohon menghalangi usaha kaburnya dari apapun yang akan Lovino lakukan.

Nesia merutuki nasibnya. Mana teman-teman yang lain beserta Arthur dan Gilbert berada cukup jauh pula (salahkan area pencarian yang begitu luas ini!). Lagipula, kini ia dan Lovino berada di balik pohon besar. Apa kemungkinannya jika salah satu dari teman-temannya melihat dan memergoki mereka?

"Kenapa kau lari?" tanya Lovino lirih dengan suara yang sungguh, membuat tak hanya telinga, namun hati Nesia juga risih sekali, "Jika memang benar, maka aku bisa membantumu. Karena aku laki-laki."

Melakukan tindakan defensif khas cewek yang sedang mengalami ancaman pelecehan oleh lelaki kurang ajar, Nesia mendorong dada Lovino yang berada cukup dekat dengan dirinya, "Apa yang kau lakukan, Lovino?" hardik Nesia lirih, belum mampu menatap kedua mata Lovino, "Aku akan berteriak jika kau macam-macam!"

"Lalu apa kau tidak malu jika semua mengetahui apa yang kau lakukan di sini denganku?" tantang Lovino.

Nesia menengguk ludah. Dalam hati dia menghardik dirinya sendiri, 'Pikir! Pikir! Apa yang harus kau lakukan, Nes?! Tendang 'itu'nya jika perlu seperti di film-film saat cewek mau dilecehkan oleh cowok!'

Saat Nesia benar-benar hendak melakukan perintah nista dari otaknya tersebut, ia dikejutkan oleh sebuah sentuhan di lehernya.

Telapak tangan Lovino tengah membelai lembut dan hangat leher Nesia.

Pelan.

Dengan sentuhan-sentuhan sugestif yang sungguh, membuat kedua lutut Nesia merasa lemas seketika.

"Kau lihat," ujar Lovino. Di kondisi begini, entah mengapa Nesia dengar suara pemuda itu berubah menjadi lebih dalam dan lebih berat, "Papan namaku mengatakan bahwa aku membutuhkan ciuman. Dan papan namamu mengatakan bahwa kau memerlukan seorang lelaki untuk…," tak peduli dengan Nesia yang sudah menggetar ketakutan dan wajahnya sangat memerah karena malu, Lovino memajukan kepalanya dan berbisik hangat di telinga Nesia, "… membuatmu menjadi seorang wanita sempurna. Jadi kita bisa bekerja sama, kan?"

"L–Lovino," Nesia memejamkan erat matanya sembari mengepalkan kedua tangannya, "Apa yang terjadi padamu? Mengapa kau begini?"

"Kenapa?" gumam Lovino mengulangi pertanyaan Nesia. Disengaja atau tidak, jarak antara kepalanya dengan kepala Nesia, jarak antara mulut dan hidungnya yang begitu dengan—bahkan nyaris menyentuh cuping telinga Nesia, membuat rasanya bulu kuduk Nesia berdiri semua. Takut. Ngeri. Dan….

Bahkan Nesia mampu merasakan hangatnya hembusan napas Lovino yang menerpa sebelah sisi pipi dan telinga.

Jempol kanan Lovino membuat gerakan melingkar kecil secara pelan dan malas-malasan di lipatan antara leher dan bahu Nesia, "Karena aku….," bisik Lovino tepat di telinga Nesia, hingga gadis itu mampu merasakan hembusan napas pemuda itu di sisi wajahnya, "…ini!"

Dan Nesia secara tiba-tiba merasakan bahwa ada sesuatu yang terlepas dari genggaman tangannya.

Membuka mata secara perlahan dan sedikit ragu, gadis itu seketika mendapati Lovino telah mundur beberapa langkah darinya sembari sebelah tangannya melempar-tangkap sesuatu secara ringan di udara.

Saat melihat 'sesuatu' yang tengah dipamerkan oleh Lovino itu, Nesia seketika membelalak. Hilanglah semua rasa takut, gugup, dan khawatir yang semula dirasakannya.

Menunduk, gadis itu melihat bahwa kedua telapak tangannya kini tengah menganggur tanpa memegang apapun.

.

.

"HARIMAUKUUUUU!" teriak Nesia dramatis sembari menunjuk miniatur harimau yang dilempar oleh Lovino ke udara, lalu ia tangkap kembali dan dimasukkan dalam saku jaket pemuda itu, "LOVINO! KEMBALIKAN!"

"Sudah menjadi milikku," Lovino menjulurkan lidahnya acuh, "Mudah sekali membuat pikiranmu terpecah, ya?"

Nesia menggigit bibirnya kesal, "KAU CURANG! KENAPA KAU LAKUKAN SEMUA ITU HANYA UNTUK MEREBUT BENDA ITU?!"

Lovino menaikkan satu alisnya dan menatap heran Nesia, "Jadi, kau ingin aku sungguh-sungguh melakukannya karena alasan perasaan?"

"BUKAN BODOH!" teriak Nesia frustasi, "MAKSUDKU KAU MENGGUNAKAN CARA YANG BERLEBIHAN HANYA UNTUK BENDA ITU! KAU NYARIS MEMBUATKU TERPAKSA MEMBUATMU TIDAK MEMILIKI KETURUNAN, TAHU?!"

"Tapi nyatanya aku berhasil, kan?"

"KEMBALIKAAAANNN!" Decak Nesia kesal sembari melempar kedua tangannya di udara dengan kesal dan putus asa.

Mereka terus berdebat dan berteriak hingga terdengar bentakan sekaligus teriakan dari Gilbert dari arah sana, "HEI KALIAN BERHENTI BERTERIAK DAN KEMBALI KE SINI!"

Sepanjang sisa aktivitas outbound yang lain, Nesia terus menekuk muka dan memasang ekspresi yang lebih kusut dari Vash Zwingli dan lebih snappy dari Gilbert Beilschmidt. Berkali-kali mulutnya merutuk dan memaki kesal terhadap tak hanya dirinya yang payah dan mudah terjebak, tetapi juga terhadap Lovino Vargas yang dengan kejamnya merebut apa yang seharusnya menjadi hak untuk kelompok Nesia.

Permainan outbound keempat waktu itu dengan demikian hanya diakhiri oleh penemuan satu benda saja, yakni harimau, yang diklaim oleh kelompok sepuluh. Meski sempat mendapat protes Nesia, tetapi kelompok sepuluh tetap menang dikarenakan miniatur sumber petaka itu berada di tangan Lovino.

Dan hal itu membuat Nesia bad mood sekali. Habis, sudah susah-susah mencari hingga punggung dan pinggangnya sakit akibat terus membungkuk, eh, apa yang ditemukannya malah dimiliki pihak lain.

Untuk saat ini, Nesia merasa dongkol tingkat wahid terhadap pemuda berambut coklat itu.

Apanya yang 'malaikat penolong'? Hah!

Dan Gilbert menjelaskan bahwa benda-benda lainnya juga terdapat di wilayah itu; hanya murid baru saja yang tidak awesome karena kurang punya konsentrasi dan kreatifitas awesome untuk mencarinya. Daun bertulang oval adalah rumput (beberapa anak meneriakkan bahwa 'rumput itu bukan daun oval, tetapi bertulang satu!' yang direspon oleh Gilbert 'Oval kan jarinya satu! Ya, ga, Senior Arthur?'), cinta adalah sebuah ukiran berbentuk hati di batang sebuah pohon (Tak hanya murid baru, Arthur pun ikut tepok jidat), dan artis adalah….

"Aku!" Nesia ingat Gilbert mengatakannya sembari menyeringai dan menyisir rambut depannya ke belakang dengan jemarinya, "Aku ini selevel dengan Orlando Bloom tetapi kalian tidak menyadarinya? Ck! Ga awesome –Ouch!"

Dan Arthur Kirkland terpaksa menjitak kepala bersurai perak itu sebelum pemuda itu dibantai oleh para murid yang kalap akibat rasa capai tingkat dewa.

"Kenapa mukamu tambah jelek begitu?"

Mendengar suara dari Arthur yang entah bagaimana bisa, tiba-tiba berjalan di sampingnya, Nesia hanya terdiam. Mereka kini tengah berjalan kembali ke Ground tenda setelah menghabiskan beberapa waktu di dua lokasi outbound yang lain. Dan tentu saja, mereka telah berpisah dengan kelompok sepuluh sejak keluar dari lokasi 'Gotta Find!'.

Namun, jika sebelum ke Gotta Find! Nesia terus saja memajang senyum lima watt miliknya dan hatinya merasa ringan dan senang, kini keluar dari Gotta Find! yang terpampang di wajah putih kekuningan itu hanya bibir yang sedikit mengerucut maju beserta dengan pandangan yang memicing tajam. Oh ya, juga tak lupa langkah gontai dan malas bagai prajurit kalah perang.

"Sudah jelek, budek lagi," gumam Arthur, yang kali ini langsung mendapat reaksi dari lawan bicara.

"DIAM!" semprot Nesia keras, tak peduli jika beberapa temannya yang berjalan di depan, menoleh dan menatap heran ke mereka sejenak.

"Jelek, budek, galak," ucap Arthur makin menjadi, "Ck! Apanya ya, yang menarik darimu?"

"KAU MENYEBALKAN!" hardik Nesia sembari menendang keras sebuah batu di depan kakinya. Matanya semakin memelototi jalan di depannya.

"Bisa tidak, sih, kau bicara tanpa berteriak?" tanya Arthur risih, "Apa tidak rusak tuh, tenggorokan–."

"DIAM!"

"–jika dipakai nge-rock terus begitu? Kau ini–."

"Kubilang, DIAM!"

"–perempuan. Bertindak anggun sedikit apa susahnya–."

"DIAMDIAMDIAMDIAMDIAM!"

Kiku, Lily, dan yang lain menoleh ke belakang dan memberi pandangan heran pada dua orang yang berjalan paling belakang dan paling ribut sendiri itu.

"–sih? Kalau begini mana ada cowok yang mau padamu? Kau akan jadi perawan tua!"

"Oh, ya?!" merasa putus asa, Nesia memutuskan untuk meladeni debat (atau perang?) dari seniornya tersebut, "Lalu kau yakin akan mendapat istri dengan mulut sambalmu itu?"

"Tentu saja. Aku ini Ketua OSIS. Siapa yang tak mau padaku?"

"Aku!"

"Itu 'kan kau saja yang bodoh. Seperti aku mau padamu saja," Arthur memasang ekspresi jijik.

Nesia menggigit bibirnya pertanda kesal, "Aku juga! Mending aku jadi lesbian saja daripada straight tapi denganmu!"

Mereka terus berdebat. Dari hinaan tentang status atau masa depan, berlanjut ke hinaan dalam hal lain. Saling mengejek dan menyindir tanpa ada satupun yang berniat mengalah. Tanpa ada satupun yang berniat peduli pada Lily dan kawan-kawan yang memandang mereka dengan pandangan geli.

"Mereka cocok sekali, ya?" gumam Lily sembari tersenyum memandang Nesia yang meneriaki Arthur sedangkan yang diteriaki hanya berpura-pura menguap bosan.

Tahu-tahu, Nesia rasakan bahwa kedongkolannya terhadap Lovino, penyesalannya, dan rutukannya terhadap nasib sialnya hari ini sedikit terlupakan.

Habisnya… daripada memikirkan dan mengulas kejadian di outbound keempat tadi, otaknya kini tengah sibuk memikirkan kalimat untuk membalas semua dan setiap hinaan Arthur.

Dan hatinya, daripada sibuk menyimpan dendam terhadap Lovino, kini ia sibuk merasakan dongkol yang lebih mendewa terhadap seorang pemuda berkebangsaan Britania Raya dan beralis Amazon Brazilia.

-oOo-


(1) Jika ada yang lupa, ini nama OC Norwegia :p #ngasih tanda lingkaran merah ke arah kepala Noru

(2) OC yang nongol di chapter empat saat perkenalan anggota dulu itu, lho :D

(3) OC juga :D


#dilempari botol topi miring ama orang se-FHI

Oke, fine. Mungkin banyak di antara kalian yang pada geregetan dan rasanya pengen botakin kepala saya hingga sekinclong rambut Ludwig. Tetapi saya belum berpikir bahwa ini saatnya adegan rate-M dikeluarkan. Karena, ayolah. MOS saja belum selesai, masa Nesia harus kehilangan kehormatannya? #readers: MAASSSALAH BUAT LOE?! #pundung masuk galon Antonio

Tetapi at least, di atas udah saya kasih teasing scene kan? ROMANES pulak! Ya kan? Ayolah, kalian pasti suka kan? Iya kan? Ngaku deh #dor

Betewe, ide soal papan nama absurd itu dari pengalaman saya sendiri loh. Saya masih ingat bahwa papan nama saya waktu itu "Anu saya cenat-cenut, Kak!" (suer, saya serius!) dan berakhir dengan penistaan lahir batin dunia akhirat jasmani rohani oleh para KomDis #readers: TRUS GUE HARUS BILANG DOBEL WOW SAMBIL SALTO CAPOERA GETO?!


Next Chapter:

"Menyebalkan sekali! Apanya yang baik? Dia licik! Mesum! Culas!"

.

"Nah, sekarang kupikir kita sudah dekat. Bagaimana jika kita hapus 'Saraswati-Carriedo' dan ganti dengan 'Nesia-Antonio'?"

.

"Biar mereka bawa sendiri. Ini penyiksaan, tahu? Dan kupikir mereka pasti tidak mempermasalahkannya. MOS sudah berakhir!"

.

"Asal tahu saja aku belum memaafkanmu! Dan aku tidak mempan disogok. Apalagi dengan es krim seperti ini!"

"Terima saja. Jika kau tidak mau buang saja. Apa susahnya?!"


Pojok review. Monggo~~

Bakal ada Malay, ga? Willem ga? Prussia ga? / Gilbert udah nongol tuh :D soal Malay dan Willem, well.. #gajelas gilak / Lovi nongol dikit banget! MORE LOVI! / Di atas Lovi udah keseringan mejeng kan, demi memenuhi hasrat, haus, dan dahaga para fan girls-nya? :D / RAPIST!ARTHUR HARUS ADA (!) / Lolol. Gilak, sebegitu rendahkan harga diri that-so-called gentleman :p / Rate M ditunggu! / I-Iya ^^a #ngubur diri sendiri di tong sampah / "Nice timing, Antonio!" ; Antonio dasar pengganggu! ; Antonio muncul di saat yang ga tepat / Hwakakak… kenapa menyesal sekali jika seorang gadis (Nesia) telah lolos dari kemungkinan ancaman raep seorang cowok (Iggy)? :p / Iggy mesumnya kelihatan banget / Itu pujian yang sangat berarti bagi Arthur #dijejelin scone / Jangan dikurangi word-nya. Dipanjangin malah dipersilahkan / Haha, you sure? Ini udah 6K lebih lho :P Thanks anyway / Chapter ini (chapter 7) bertebaran UKNes dan SpaiNes! / Ayey :D / PruHun please! / Udah dapat hints-kan di atas? :p / Alfred bakal nongol ga yah? / Saksikan kelanjutannya hanya di FHI kesayangan Anda #ala Jeremy Tetti / Munculin Germania dan Amerika dong. Author-san ganteng, deh / :D / Jadi bingung pilih UKNes, RomaNes, atau SpaiNes / Nesia poliandri aja deh ya :/ #disapu / Spain polos banget, pengen cubitin pipi dia / #sodorin paksa pipi Spain / Arthur mesum / Ya, pujian kesekalinya untuk Arthur #lirik Arthur yang depressed / Lovi gentle banget / Hoho… Italian womanizer, rite? :p / SpaiNes dong! Antonio yang polos cocok ama Nesia yang imut-imut gitu / Hm… sounds very tempating :D / Ini bakal jadi UKNes, ya? / Lihat perkembangannya, ya :D #pelit kasih spoiler #plak / Saya dukung Lovino / Ayey! / Adegan UKNes sangat unyu / Makasih. Kamu juga unyu kok :D / Interaksi SpaiNes bikin jeles deh / Aseekkk / Bagian Union Jack, aseek / Haha, senang ya, kalau Nesia dimesumin Arthur? :p / Jadi suka SpaiNes / Asikasik / Walau words-nya panjang, tapi tetep suka kok bacanya / Kalau gitu, tetep RnR kan, ke depannya? :p #plak


My retarded blabbering

Tahu apa bedanya kamu ama Taylor Swift? Kalau Taylor Swift, di dunia ini banyak yang mencintainya. Kalau kamu, di dunia ini, hanya aku yang mencintaimu~~

#malah digampar


Mbak-Mbak yang cakep, Mas-Mas yang ganteng, Eneng-eneng yang gelis, Mas Bro-Mas Bro yang gaoehl poenya, sok atuh kasih komentarnya. Tulis apa aja deh terserah asal sopan dan tidak melanggar UUD 1945 dan Pancasila (?). Monggo atuh. Apa aja. Dari yang serius terkait fic ini, ampe yang paling penting seperti "dis-saaaannnn! Ai Luph you Pull! Muach Muach! Udah makan belooomm?" juga ndak papa :D Sok atuh, monggo. Hadiah bagi yang review: kalau cewek bakal dimesumin Arthur (:p). Kalau yang review cowok, sebaiknya ngaku aja jadi cewek #jiah

Monggo atuh. Ga usah malu-malu kucing gitu ah. Jelek #plak #dor

Thank you all :*

From FHI With Love,

-d.i.s.-