Dance in Storm yang super-duper-mega-ultra-luarbiasa-eksekutif kece bin awesome ini datang kembali! #dilempari uang ratusan ribu# Dan maaf tidak bisa mengabulkan rikues sebagian pembaca untuk membuat chapter Absurdities 10k. Guys, I think that is just way more absurd than Arthur's mentality state #dijejelin scone# Tapi terimakasih anyway. Itu membuktikan Anda tidak bosan dengan cerita ini, kan? #winks


Salah satu momen yang paling ditunggu dan dinantikan oleh setiap kegiatan berkemah adalah acara api unggun. Membakar tumpukan kayu dan duduk di dekat kobaran api yang meradiasikan kehangatan, menjadi pilihan yang menarik di tengah bekunya hawa malam khas hutan belantara. Jilatan lidah api yang menari-nari dan percikan bunga api seolah bagaikan pemandangan oasis di tengah panasnya hamparan gurun luas; melegakan. Belum lagi dengan aktivitas-aktivitas lain yang turut membarenginya seperti saling bercerita horor, bermain truth or dare, atau sekedar bernyanyi bersama dengan riang.

Menarik, bukan?

Apalagi jika kegiatan yang identik dengan kehangatan, kebersamaan, dan ketenangan itu dilakukan dengan secangkir kopi atau susu hangat…

Suasana hutan yang pada malam hari identik dengan gelap, kini mampu menemukan setitik cahaya terang meski hanya dari kobaran api yang tak seberapa. Hawa dingin mampu tersingkirkan oleh kehangatan. Suasana sepi kini terisi oleh canda, tawa, dan perbincangan yang mengasyikkan.

Seperti itulah perasaan Annesia Saraswati.

Mantel tebalnya yang berwarna coklat muda beserta topi gunung rajutan tangan, sebelumnya tak seberapa mampu benar-benar membebaskan dirinya dari rasa dingin yang menyapa. Celana jeans yang dipakainya justru membuat tungkai kakinya seolah terlingkupi salju tebal. Tetapi kini, cukup dengan duduk bersila di depan api unggun yang mempertunjukkan tariannya, membuatnya tak berhenti mengembangkan senyum kecil tanda kelegaan.

Senyum itu semakin berkembang saja tatkala melihat penampilan beberapa temannya, baik teman sekelompok atau dari kelompok lain, dengan berbagai performa; tarian, cerita, puisi, atau bahkan drama opera dengan akting amatiran.

Tetapi, saat Antonio F. Carriedo duduk bersila di depan sana dengan sebuah gitar kecil yang ia pinjam dari seorang Komite Disiplin, Nesia tak tahu lagi apa yang membuatnya tersenyum makin lebar dan bertepuk tangan paling keras di akhir performa; suara merdu pemuda Latin itu atau kehangatan yang semakin ia rasakan, yang ia tahu bahwa sumbernya kali ini bukan dari api unggun yang perlahan padam.


Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

I just own the plot of the story and I don't make money from it.

Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.

Pairing: multimalexNesia

Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D

Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D

Maju FHI!

Happy reading


Kegiatan api unggun diakhiri dengan istirahat selama lima belas menit sebelum para murid baru akan memulai kegiatan selanjutnya, yakni jelajah malam yang berlangsung hingga tiga jam ke depan.

Pada pukul sembilan malam tadi, sesudah menikmati makan malam yang hanya bermodal coklat dan air putih (banyak para murid baru yang mengeluh bahwa dua asupan tersebut sama sekali tidak mengenyangkan mereka yang sangat kelaparan), para murid baru dikumpulkan di dekat sebuah kobaran api unggun yang lumayan besar. Empat ratus lebih murid baru duduk secara melingkar dan tidak terikat dengan kelompok masing-masing karena menurut Vash Zwingli, acara ini tujuannya sendiri adalah untuk mencapai kebersamaan dan kerekatan antara tak hanya murid baru, namun juga para senior.

Berbagai macam hal dilakukan pada saat merasakan radiasi hangat kobaran api tersebut. Para Komite Disiplin juga, entah mengapa, terlihat dan terasa sedikit, baca: sedikit, ramah dengan para murid baru. Beberapa di antara mereka bahkan duduk di antara murid baru; tidak menggerombol dan membentuk sebuah kelompok tersendiri. Bahkan beberapa di antara mereka bisa bercanda dan tersenyum, bahkan tertawa bersama yang lain. Sebut saja Senior Gilbert Beilschmidt, Senior Elizaveta Herdevary, dan bahkan Senior Andrew Scholte juga tersenyum walau sangat samar dan tak sampai lima detik.

Performa demi performa ditunjukkan sepanjang tiga jam ke depan. Membuat suasana hangat itu semakin ramai dan semakin meriah oleh tawa, teriakan dan candaan. Sebut saja Antonio Carriedo yang memutuskan untuk menyanyikan salah satu lagu Latin yang dibawakan oleh penyanyi cantik Shakira. Di mana hal itu berakhir dengan berbagai pujian dari teman atau senior mengenai tak hanya kualitas suaranya, namun juga kelihaian tangan Antonio dalam memetik senar gitar. Lalu juga terdapat seorang gadis dan pemuda berwajah oriental khas Asia yang memutuskan untuk bermain drama Romeo dan Juliet versi modern dan absurd, di mana tak seperti cerita asli gubahan Shakespeare, Romeo dan Juliet memutuskan untuk berpisah dan pada akhirnya Romeo menjadi seorang gay karena putus asa (disini banyak dari penonton yang tepok jidat). Lalu juga terdapat penampilan dari Senior Gilbert dan Senior Francis Bonnefoy yang memilih menari a la boy band khas Korea adalah hal yang menarik perhatian (dan memang benar, banyak para murid baru perempuan yang terkesima). Juga terdapat Senior Ivan Braginsky yang bersedia berbagi cerita horor mistis; meskipun setelah mendengar ceritanya, banyak murid baru atau senior yang berpendapat bahwa cerita horor Ivan lebih ke arah sadistic gore daripada mistis.

Setelah periode tiga jam telah berlalu dan api unggun telah padam setelah terpasok kayu bakar hingga tiga kali, para murid baru dipersilahkan beristirahat sejenak selama lima belas menit sebelum memulai penjelajahan malam yang akan dimulai sekitar dini hari ini. Waktu lima belas menit itupun bukanlah waktu yang bisa dibilang lama untuk memejamkan mata. Jika pun bisa terpejam, belum tentu mereka bisa terlelap pulas jika rasa dingin ini tidak bisa terkurangi hanya dengan sekedar jaket tebal, sarung tangan, atau syal. Dini hari di tengah hutan seperti ini sama saja dengan mengurung dirimu dalam lemari es bersuhu rendah.

Sungguh.

Jadi, alih-alih membaringkan diri di tenda, kebanyakan para murid baru justru memanfaatkan waktu lima belas menit itu untuk berada di tenda dapur dan meminta teh atau kopi pada Senior Bella Van Hardt yang berjaga di sana, atau ke toilet untuk menuruti 'panggilan alam', atau sekedar duduk-duduk bersama di dekat tenda sembari berbincang dan berbagi kehangatan meski tanpa api unggun lagi.

Dan memang, waktu lima belas menit bukanlah waktu yang lama untuk murid baru segera mendengar teriakan-teriakan dan bentakan dari anggota Komite Disiplin bahwa "Waktu untuk bersantai dan bermalas-malasan sudah habis! Cepat angkat bokong kalian dan berkumpul di dekat tenda!"

Well, sepertinya para Senior sudah kehilangan aura ramah dan ceria yang hanya beberapa saat mereka tunjukkan.

Mulai dari kelompok satu yang dipimpin dan dipandu oleh Senior Berwald, perjalanan jelajah malam dimulai. Jeda pemberangkatan antar kelompok masing-masing dua puluh menit. Hingga dua jam kemudian, barulah kelompok sembilan yang dipandu oleh Senior Arthur Kirkland memulai perjalanannya.

Tidak berbeda dengan perjalanan saat aktivitas outbound tadi pagi, jelajah malam kali ini juga menempuh rute yang sangat panjang. Tetapi berbeda dengan waktu menikmati perjalanan outbound, perjalanan kali ini lebih melelahkan; karena keadaan gelap ditambah dengan jalanan licin dan berbatu. Dan menakutkan, karena cahaya satu-satunya yang ada adalah senter yang dibawa oleh Arthur yang berjalan paling depan, Mersheimer yang berjalan di tengah, dan Kiku Honda yang berjalan paling belakang. Arthur mencoba mencairkan suasana dengan memancing obrolan-obrolan ringan dengan 'murid-murid didiknya', meski itu kurang mampu membantu beberapa anak yang berjalan dengan mengkerut gemetar dan ketakutan; sebut saja Lily Zwingli yang sejak awal keberangkatan, sudah menggandeng erat sebelah tangan Nesia.

Selain kegelapan, tidak ada yang tampak menakutkan. Tidak seperti jelajah malam pada umumnya yang penuh dengan trik horor dan penampakan hantu oleh senior kurang kerjaan, jelajah khas MOS Hetalia High diisi oleh pos-pos pemberhentian. Setiap kelompok wajib berhenti untuk sementara di tiap pos sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Pos-pos itu berjarak kira-kira beberapa ratus meter antara satu dengan yang lain, dan tiap pos diisi oleh para senior 'relawan' non Komite yang khusus diundang untuk membantu acara MOS hari ketiga ini.

Pos-pos yang ada misalnya pos pengetahuan; dimana para murid baru dan senior penjaga pos di sini, akan berbincang mengenai pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki seputar Hetalia High. Pos yang lain misalnya pos medis yang siap menyediakan peralatan P3K; sekedar berjaga jika ada murid yang pingsan atau kelelahan. Lalu juga ada pos 'bayangan' yang merupakan pos yang tidak bisa diidentifikasikan dengan jelas tujuannya –hanya sekedar berbincang dan bercanda ngalor-ngidul untuk mengulur waktu. Pos selanjutnya adalah pos brain storming di mana disini berkumpul para senior terjudes dan tergalak dan akan memberi siksaan verbal dan mental kepada para murid baru melalui bentakan, sindiran, dan hinaan. Bedanya dengan brain storming yang biasa diberikan Komite Disiplin, di sini para murid baru diperbolehkan berargumen dan berdebat dengan para penjaga pos ini, sehingga suasana ribut sangat terasa di pagi buta. Meski pada akhirnya debat itu juga dimenangkan oleh pihak senior (tentu saja!) dan murid baru harus melanjutkan perjalanan dengan kedongkolan yang super duper mendewa. Dan terakhir, Pos cooling down yang menyediakan teh dan kopi hangat untuk para murid baru serta untuk menampung curhatan murid baru seputar perjalanan mereka.

Sepanjang berhenti di tiap pos, Nesia tidak banyak berbicara. Begitu pula saat perjalanan menuju tiap pos dan kembali ke ground tenda. Sepanjang waktu ia hanya bersedekap dada mengurangi rasa dingin yang menyergap walau ia telah memakai jaket tebal berlapis sweater. Wajah putih kekuningannya mulai memerah dengan berkali-kali ia bersin tanda ada yang tak beres dalam sistem kekebalannya.

Dan puji Tuhan, Arthur Kirkland juga sepertinya tidak sedang berada dalam mood untuk membuat Nesia harus mengeluarkan energi lebih untuk adu tegang otot leher dengannya.

-oOo-

Pagi-pagi sekali, sekitar pukul lima, para murid baru sudah harus membuka mata yang masih terasa sangat berat. Tentu saja, karena waktu istirahat mereka juga tidak begitu lama, hanya dua jam saja! Kalau diingat-ingat dan dihitung betul, sejak kedatangan mereka ke hutan ini, para murid baru hanya memperoleh total waktu tidur tidak lebih dari empat jam saja!

Ini sih penyiksaan fisik.

Setelah melakukan sarapan bersama dengan satu buah roti dan satu kotak susu, para murid baru dan para senior melakukan senam bersama untuk pemanasan sebelum pulang. Dengan dipandu oleh Senior Bella Van Hardt dan Senior Wang Yao, para murid baru dan para senior yang ada melakukan gerakan-gerakan pemanasan ringan seperti pada acara senam pagi pada umumnya. Setelah melakukan kegiatan tersebut selama lima belas menit (yang tidak berefek besar sama sekali terhadap pengurangan rasa kantuk sebagian besar murid), para murid dipersilahkan untuk berkemas dan berbenah untuk persiapan pulang dua jam ke depan.

Nesia kini tengah berada di tenda penitipan tas dan memasukkan beberapa barangnya ke dalam tas ransel miliknya; seperti baju-bajunya yang kotor. Di sebelahnya, Lily Zwingli juga tengah melakukan hal yang sama. Begitu pula dengan beberapa murid perempuan yang lain. Sedangkan para murid laki-laki, setelah berbenah, diwajibkan untuk saling membantu untuk 'perobohan' tenda dan pembersihan area kemah seperti mencopot baliho, mengemas barang-barang seperti galon dan menaruhnya di truk yang terparkir beberapa jauh dari situ, dan membuang sampah serta menggulung tikar. Sedangkan para murid perempuan diwajibkan untuk membantu tugas murid laki-laki atau saling membantu dalam membereskan dan mengemas peralatan makan seperti cangkir atau termos-termos yang digunakan untuk menyimpan teh dan kopi.

"Aku pergi keluar dulu, ya?" ujar Nesia pada Lily, sembari memakai dua tali ranselnya ke pundaknya, "Siapa tahu ada tugas yang bisa kukerjakan."

Lily mengangguk dan tersenyum kecil, "Aku akan menyusul," gadis kecil itu menghela napas lega, "Akhirnya semua ini berakhir. Aku tidak yakin bahwa aku selamat dari ancaman hipotermia jika disini lebih lama lagi."

Nesia tertawa ringan, "See ya," ujarnya sembari menepuk pundak Lily pelan dan sekali. Gadis itu lalu keluar dari tenda penitipan tas, lalu berdiri untuk sejenak merapikan syal dan jaket yang dipakainya.

Melihat bahwa semua orang yang ada di ground tenda tengah bekerja dan tidak ada yang hanya bengong dan menganggur seperti dirinya, Nesia mulai melangkah untuk membantu mengumpulkan sampah-sampah yang berceceran di sekitar sana dengan kedua tangannya.

Bungkus kopi, teh, gelas plastik, dan bungkus rokok, sudah tergenggam di tangannya. Sempat ia mengeluh dalam hati, apa fungsinya tempat sampah yang terpasang di pojok tiap tenda jika membuang sampah saja berceceran seperti ini?

Dan Nesia yakin bahwa bungkus rokok ini berasal dari salah seorang senior!

Hah, panutan my ass!

Setelah merasa bahwa kedua tangannya tidak mampu menampung lebih dari apa yang sudah dikumpulkannya, Nesia berjalan menuju tempat sampah untuk membuang apa yang telah tertampung di kedua tangannya.

Tetapi langkahnya mendadak berhenti ketika ia melihat bahwa Lovino Vargas juga berjalan ke tujuan yang sama, tetapi dari arah yang berlawanan dengan Nesia. Sebelah tangan pemuda itu menjinjing satu kantong plastik hitam yang Nesia yakin isinya sama saja dengan yang tertampung di kedua tangannya.

Dan secara otomatis, pandangan keduanya bertemu. Emerald dengan hitam kecoklatan.

Secara otomatis pula, Nesia langsung mampu ber-flash back ria mengenai kejadian di hari kemarin di mana jujur saja, ia masih menyimpan dendam kesumat pada pemuda berambut coklat gelap tersebut.

Tragedi malapetaka miniatur harimau.

Dan itu langsung saja kembali mengobarkan rasa dongkol Nesia terhadap pemuda yang menatapnya dengan pandangan impasif itu.

Secara cepat, Nesia langsung berbalik arah dan berjalan cepat menuju tempat sampah lain yang ada di sana. Bertatap muka dengan Lovino seperti tadi rasanya membuat darahnya mendidih. Memang sih, hadiah yang diberikan malam kemarin (saat api unggun) kepada pemenang, adalah tidak seberapa, bahkan Nesia sama sekali tidak tertarik; tetapi tetap saja cara Lovino tidak harus berbuat curang, 'kan?

Mana harus pakai menyentuh-nyentuh leher Nesia pula!

Najis!

Mesum!

Nesia tanpa sadar mengeratkan lilitan syalnya saat kembali mengingat perilaku dan suara seduktif Lovino pagi kemarin.

Membuang sampah di kedua tangannya dengan kasar setelah sampai di tempat tujuan, Nesia berkacak pinggang sembari melotot pada tong sampah yang diam membisu, dan yang jelas, tidak berhubungan dengan apapun masalah yang tengah dialami gadis itu.

Nesia menghembuskan napas keras hingga terbentuk uap tebal dari hidung dan mulutnya, "Menyebalkan sekali!" rutuknya kesal pada tong sampah di depannya, "Apanya yang baik? Dia licik! Mesum! Culas!" geramnya.

Terdiam sejenak, Nesia berangsur-angsur mengurangi pelototan matanya. Pandangannya seolah menerawang, seperti tengah mengulas sesuatu.

Dan tanpa sadar, sebelah tangannya secara pelan, bergerak naik. Lalu dengan ragu, memegang sisi lehernya yang kemarin–

"Hah!" pekik pelan gadis itu sembari melempar kedua tangannya ke udara; putus asa. Berniat untuk segera melupakan apa yang kembali diingatnya, Nesia segera berbalik untuk pergi dari sana.

Saking cepatnya ia berbalik, ia tidak menyadari apa yang ada di belakangnya.

Kepalanya bertabrakan dengan dada seseorang yang berdiri tegak tepat di depannya.

Spontan mundur, Nesia mengaduh pelan lalu meminta maaf akibat kecerobohannya. Namun kalimat penyesalan yang ia ucapkan, seketika terpotong dan tak pernah terselesaikan tatkala ia mendongak dan pandangannya bertemu dengan kedua bola emerald Lovino Vargas.

Menghela napas sekali dari mulutnya dengan keras hingga poninya tertiup kecil, tanpa banyak omong Nesia berbalik ingin menghindar. Namun refleks Lovino sangat bagus ketika ia mampu memegang tangan Nesia bahkan ketika gadis itu baru memalingkan kepalanya.

"Jangan seperti anak kecil," ujar Lovino dengan nada sedatar dan segaring ekspresi mukanya.

Membuat alih-alih tergerak hatinya, Nesia malah dengan kasar melepaskan genggaman Lovino di pergelangan tangannya, "Lima belas tahun memang masih kecil! Kenapa?!" balas Nesia, lalu menjulurkan lidahnya acuh.

Dengan cepat ia berbalik, tetapi gadis itu harus mengumpat kesal pelan dan memutar bola mata tatkala (lagi-lagi) Lovino mampu mendapatkan pergelangan tangannya, "Kau marah, ya?"

"TIDAK!" bentak Nesia keras sembari dengan kesal, menginjak sebelah kaki Lovino dan membuat pemuda itu terpaksa melepas genggaman tangannya dan mengumpat kesakitan.

Dan Nesia langsung ngeloyor pergi begitu saja, tanpa memedulikan pandangan heran dari beberapa orang yang kebetulan berada di dekat mereka.

"Dasar," desis Lovino sembari mengernyit sakit dan menatap punggung Nesia, "Benar kata Arthur, dia kasar sekali."

Menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal, Nesia menekuk mukanya sebal. Menginjak kaki Lovino rasanya belum memuaskan bagi gadis itu untuk mampu membuat rasa jengkel dan dongkolnya sedikit berkurang.

Memang sih, terkesan kekanakan jika ia marah karena hal yang sepele seperti berebut miniatur harimau layaknya anak TK berebut mobil-mobilan, tetapi tetap saja…

"'Seperti anak kecil', 'seperti anak kecil'…," gumam gadis itu kesal, "Ini masalah harga diri dan perjuangan tauk!" rutuknya.

"Harga diri dan perjuangan apa, nih?"

Sedikit terkejut karena mendengar suara barusan, Nesia menoleh dan siap-siap menghardik kembali Lovino.

Tetapi ternyata warna emerald yang tengah dipandang kedua matanya sedikit berbeda dari emerald yang barusan tadi dilihatnya.

Lagipula, sejak kapan Lovino bisa tersenyum cerah dan hangat seperti itu?

"Carriedo!" pekik Nesia. Tanpa sadar ia mengucapkannya dengan nada kelewat senang dan ekspresi muka kelewat lega. Membuat Antonio memberi tatapan heran meski tak ada lisan yang terucap, "Kau mengagetkanku, tahu?"

Tertawa lirih, Antonio berjalan pelan menyejajari langkah Nesia, "Nah, sekarang kupikir kita sudah dekat. Bagaimana jika kita hapus 'Saraswati-Carriedo' dan ganti dengan 'Nesia-Antonio'?" tawar Antonio.

Tanpa pemuda itu sadari, kalimatnya barusan membuat muka gadis di sampingnya memerah hangat dan pemiliknya dengan kikuk menundukkan wajah dan merapikan poninya.

'Nesia-Antonio'? Seperti nama pasangan saja.

Memikirkan hal absurd yang barusan melintas di otaknya, Nesia semakin menunduk dan salah tingkah sendiri.

"Kau mau kemana, Nesia?" tanya Antonio, memutuskan mencari bahan obrolan ketika gadis di sampingnya hanya berjalan dan tertunduk tanpa menjawab tawarannya barusan.

Sedangkan Nesia merasakan ada sesuatu yang aneh dalam dirinya ketika ia mendengar untuk pertama kalinya, Antonio memanggilnya dengan nama depannya.

Seperti jantungnya baru saja melewatkan satu denyutan.

"O–Oh, aku mau bantu beres-beres peralatan makan," jawab Nesia sembari tertawa lirih merutuki nadanya yang tergagap.

Antonio menatap heran, "Oh ya? Tetapi kupikir dapur berada di arah belakang sana?"

Ngek.

'Shit!' umpat Nesia keras dalam hati.

Berusaha menutupi rasa konyol yang ia rasakan terhadap dirinya sendiri, gadis itu mengangkat muka dan memberi Antonio sebuah tawa lirih, "Hahaha, ma–maksudku–," omongannya terhenti ketika ia baru menyadari bahwa kedua tangan Antonio tengah menjinjing beberapa tas ransel yang kelihatan terisi penuh, dan pastinya berat, "Itu apa?"

"Hah?" Antonio mengikuti arah pandang Nesia pada kedua tangannya, "Oh, ini tas ransel."

Nesia benar-benar tepok jidat.

"Kukira itu kulkas," ujarnya retoris, yang direspon oleh tawa renyah Antonio, "Maksudku, kenapa kau membawa tas sebanyak itu?"

Padahal Nesia lihat bahwa Antonio juga sudah membawa tasnya sendiri yang tampak berat di punggungnya.

"Kau ingat bahwa aku masih dalam masa menjalani hukuman?" ujar Antonio santai.

Membuat sebelah sudut mata Nesia berkedut keki saat ia seketika mengingat Arthur Kirkland dan semua kekejamannya.

Oh ya, benar. Angkat-isi galon, cari kayu bakar, dan membawakan barang-barang senior.

Bagus.

Bijaksana dan berperikemanusiaan sekali.

"Biarkan saja," usul Nesia dengan nada kesal, "Biar mereka bawa sendiri. Ini penyiksaan, tahu? Dan kupikir mereka pasti tidak mempermasalahkannya. MOS sudah berakhir!"

"Tapi ini 'kan tanggungjawabku," jawab Antonio sembari tersenyum dan menoleh pada Nesia, "Aku sudah terlanjur bersedia menerimanya. Ah… mungkin terlanjur terpaksa menerimanya."

Nesia menghela napas sembari menatap Antonio dengan pandangan antara prihatin dan heran.

"K–kalau begitu, biarkan aku membantumu dalam menjalankan tanggungjawab non-sense-mu ini," ujar Nesia sembari mengulurkan tangannya dan berusaha mengambil satu atau dua tas ransel yang dijinjing Antonio.

Tetapi Antonio segera menghindar, "Kau ingat apa yang terjadi kemarin saat kau membantuku?"

"Persetan pada Senior Kirkland!" desis Nesia kesal sembari kembali melanjutkan usahanya untuk membantu Antonio, yang lagi-lagi gagal karena kali ini Antonio memutuskan untuk berjalan lebih cepat dan menjauh darinya.

"Sampai jumpa di bus, ya!" teriak Antonio sembari terus berjalan dengan empat tas ransel besar di kedua tangan dan satu lagi di punggungnya.

Dan Nesia hanya mampu memandanginya sampai punggung berbalut mantel hitam itu menghilang di balik jalanan menurun di depan sana.

-oOo-

Setelah berhasil memasukkan tas ranselnya yang beratnya masa olloh di rak penaruhan tas di bagian atas dinding sebelah kiri dari bus yang ditumpanginya, Nesia segera menghempaskan dirinya ke kursi berwarna abu-abu dari bus Hetalia High.

Seperti saat berangkat kemarin, kini terdapat sepuluh bus Hetalia High yang sudah terparkir di ground parkir di bawah hutan perkemahan. Setiap bus akan ditumpangi oleh sekitar lima puluh siswa dan beberapa anggota Komite Disiplin. Terdapat pula empat mobil pribadi yang akan ditumpangi beberapa Komite Disiplin, dan terdapat dua truk pengangkut barang-barang dan peralatan tenda.

Begitu memasuki bus, Nesia tak bisa menahan perasaan lega saat merasakan hembusan hangat dari AC dan menyadari bahwa sebentar lagi, bus ini akan membawa mereka kembali pulang.

'Oh, apartemenku~~'

Merasa capai dan mengantuk, gadis itu menyandarkan diri di sandaran kursi bus yang didudukinya. Ia memilih deret kursi sebelah kiri yang hanya terdiri dua kursi perbaris; sedangkan di deret kanan terdiri dari tiga kursi perbaris.

Hal terakhir yang diinginkannya adalah duduk bertiga dan berdesak-desakkan selama beberapa jam perjalanan pulang.

Ia merasa sangat capai. Sepertinya kegiatan seharian kemarin seolah menunjukkan efeknya dalam satu sentakkan di waktu sekarang dan detik ini juga.

Tanpa sadar, gadis itu sudah mulai terkantuk-kantuk. Hanya menunggu sebentar lagi saja sebelum ia benar-benar merangkul dunia alam bawah sadarnya.

"Sepertinya lelah sekali, ya?"

Dengan malas dan masih setengah sadar, juga dalam hati merutuk kesal pada siapapun yang mengganggu persiapan 'take off'-nya ke alam mimpi, Nesia membuka mata.

Pandangannya pertama buram karena matanya terasa sepat sekali karena mengantuk. Namun berangsur-angsur pandangannya memulih dan kembali jelas.

"Ma–maaf, aku tidak bermaksud membangunkanmu, Annesia," ujar Antonio dengan ekspresi cemas.

Entah mendapat energi darimana, gadis itu langsung menegakkan punggungnya dan tersenyum lebar, "Aku tidak mengantuk, kok. Ini 'kan masih pagi, Car– Antonio," ujarnya sembari memasang senyum selebar mungkin.

Palsu sekali ketika di otaknya kini tak ada pikiran lain selain kasur, bantal, dan AC yang hangat.

Antonio tertawa lirih, "Syukurlah. Habisnya, kau kelihatan capai sekali."

Nesia langsung saja salah tingkah mendengar kalimat berindikasi perhatian tersebut.

"W–Well, kita tidak mendapatkan banyak tidur, 'kan?" ujarnya sembari berpura-pura merapikan jaketnya untuk menutupi kegugupannya.

"Kau benar," jawab Antonio, "Omong-omong, jika kursi di sebelahmu kosong, bolehkah kupakai duduk di sini?"

Mendengarnya, Nesia seketika menoleh dan menatap Antonio dengan pandangan terkejut bercampur takjub.

Antonio… duduk di sini?

Kenapa? Padahal di bus ini masih tersisa banyak kursi kosong, 'kan?

Melihat Nesia yang hanya terbengong sembari sedikit membuka mulutnya, Antonio menganggapnya sebagai sebuah penolakan tersirat dan segera berucap, "Maafkan aku. Jika kau merasa tidak nyaman, aku bisa mencari tempat duduk la–."

"Tidak!" potong Nesia. Terlalu keras. Terlalu cepat. Terlalu tergesa. Seolah-olah ia takut sesuatu yang berharga hilang dari genggaman tangannya.

Memang, 'kan? 'Kapan lagi mampu menghabiskan waktu berjam-jam dengan Antonio berada di dekatku?' batinnya nista dan absurd.

Menghela napas untuk menenangkan debar jantungnya, Nesia kembali berucap pelan, "Kau bisa duduk di sini," senyumnya kecil pada Antonio.

Menatap heran sejenak, tetapi Antonio segera mengembangkan senyum ratusan watt miliknya, "Terimakasih, Nes," ujarnya riang sembari langsung meletakkan tas ranselnya di rak penaruhan ransel di atas bangku mereka.

Dan bus yang mereka tumpangi mulai ternyalakan mesinnya dan membuat getaran kecil dan nyaris tak terasa pada seluruh bagian bus. Beberapa menit kemudian, bus berwarna biru muda itu mulai menggelindingkan keempat bannya dan membawa seluruh penumpangnya kembali ke tujuan, Hetalia High.

Sepanjang perjalanan diisi oleh beragam hal yang dilakukan oleh para murid untuk mengusir kebosanan. Ada yang bercakap-cakap, bercanda, makan snack atau coklat, bernyanyi kecil, atau simpel saja, tidur pulas tanpa peduli pada sekitar. Tetapi pada intinya, semua merasakan satu hal yang sama; perasaan senang dan ringan.

Terbebas dari rasa dingin, terbebas dari kebekuan, terbebas dari jalan licin, terbebas dari kegelapan, dan semua hal memberatkan yang mereka rasakan selama sehari di hutan.

Tetapi meski demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa terlepas dari semua keluhan, mereka tidak menyesal untuk menghadiri dan mengikuti rangkaian acara MOS Hetalia High di hari ketiga ini.

Seperti Antonio dan Nesia yang mengisi waktu perjalanan dengan obrolan ringan mengenai apapun yang mereka alami selama sehari berkemah di hutan. Mengenai makanan yang tidak mengenyangkan, papan nama absurd, pengalaman outbound (Nesia melewatkan tragedi harimau di bagian ini), dan penjelajahan malam. Mereka juga sempat membicarakan hukuman dan tugas-tugas berat yang selalu Antonio laksanakan selama berkemah; Nesia selalu mengucapkan kata protes dan makian kepada Arthur serta sedikit mengkonfrontasi Antonio yang entah kenapa, pasrah-pasrah saja dan tidak melawan.

Mereka terus saja berbicara. Sesekali tertawa ketika mendengar cerita lucu (Nesia sempat menggoda perihal Antonio yang 'ditawar' Senior Gilbert karena tulisan papan namanya). Sesekali pula mereka akan memberi ekspresi sebal (Nesia) atau pandangan sedih (Antonio) ketika menceritakan hal yang sedikit tidak mengenakkan.

Seru sekali. Lama sekali. Bahkan mereka tidak menyadari bahwa sebagian besar teman mereka sudah terlelap karena kelelahan, dan hanya menyisakan beberapa saja (termasuk Nesia dan Antonio) yang masih (berusaha) menjaga kesadarannya.

Tetapi itu tidak berapa lama sebelum Nesia dan Antonio terdiam karena kehabisan ide akan topik obrolan. Lagipula otak mereka juga kurang bisa diajak kerjasama untuk browsing topik ketika rasa capai dan mengantuk sangat terasa, terutama di suasana bus yang mulai menyepi. Apalagi si sopir memutar lagu-lagu klasik yang mellownya minta ampun dan cocok sekali menjadi lullaby pengantar tidur.

Nesia hanya memandang keluar jendela dengan dagunya yang tersangga sebelah telapak tangannya yang sikunya bertumpu pada tepian jendela. Pemandangan di luar berangsur-angsur berganti dari hutan, pedesaan, persawahan, hingga kembali rimbunnya hutan beton menyapa pemandangan.

Ia menghela napas, cukup keras hingga menciptakan uap embun di kaca di depannya.

Menengguk ludah dengan ragu, ia berucap lirih, "K–Kau tahu, Antonio–."

Ucapannya terhenti ketika ia merasakan bahwa bahu kanannya tiba-tiba tertindihi sesuatu.

Menoleh, ia sedikit terkejut mendapati kepala bersurai agak ikal dan berwarna coklat, tengah bersandar di pundak kanannya.

Antonio terpejam pulas dengan mulut sedikit membuka. Terdengar dengkuran halus dari sana yang menandakan betapa capainya fisik pemiliknya.

Tanpa memedulikan mukanya yang kembali menghangat, ekspresi terkejut Nesia berangsur-angsur memudar dan tergantikan oleh ekspresi tenangnya dengan sebuah senyuman kecil.

Ia kembali menolehkan kepalanya ke jendela. Melihat kembali pemandangan di luar sana.

Dan mencoba menenangkan debaran jantungnya yang terasa sedikit lebih menggila.

Namun itu tak berapa lama, sebelum bola hitam kecoklatan itu perlahan-lahan tertutupi oleh kelopak mata dan pada akhirnya terpejam.

Bus Hetalia High masih melaju di pagi hari musim panas. Menggelinding di jalanan sibuk khas kota di Amerika Serikat pada umumnya. Berbaur dengan mobil yang lain. Turut menyumbang polusi karbon di udara.

Semakin dekatnya kendaraan berwarna biru muda itu dengan Hetalia High School, semakin dekat pula kehidupan sebagai murid baru paska MOS akan datang menyapa.

-oOo-

Kesepuluh bus Hetalia High berhenti pada satu tempat yang sama, yakni lapangan parkir Hetalia High yang tampak sangat kosong di pagi hari itu. Para murid tidak diperbolehkan untuk langsung pulang dan diharapkan untuk berkumpul terlebih dahulu untuk mendengar beberapa patah kata dari anggota komite mengenai acara MOS sekaligus ucapan penutupan MOS. Meski mengeluh (ayolah, capai sekali!), para murid baru tidak memiliki pilihan lain selain menurut.

Duduk bersila membentuk lingkaran besar di lapangan parkir, para murid baru berkumpul bersama dengan anggota Komite Disiplin dan beberapa senior yang sebelumnya bertugas berjaga di pos-pos pada penjelajahan malam di hutan. Seperti saat acara api unggun, para senior tidak duduk mengelompok, tetapi ikut berbaur di antara barisan murid baru.

Dan seperti pada pesta api unggun, imej 'galak', 'sadis', 'diktator', dan sifat-sifat lain yang sering membuat para murid baru menghela napas sabar jika tidak ingin mengacungkan jari tengah, kini retak dan tergantikan dengan imej sedikit ramah, sosial, dan interaktif.

Seperti biasanya dan seperti seharusnya, Vash Zwingli mendapat kesempatan pertama untuk mengucapkan kalimat atau pidato penutupan MOS sekaligus kesan dan pesannya. Meski sebelumnya para murid baru menganggap pidato macam ini adalah sangat membosankan dan cocok sekali sebagai pengantar tidur, tetapi kali ini para murid baru dengan sigap dan siap memperhatikan. Bahkan mereka memasukkan benar-benar dalam hati dan otak setiap kalimat yang diucapkan Vash. Ini seperti malam renungan saja.

Intinya, Vash hanya mengatakan bahwa MOS kali ini sangat berkesan baginya (sempat ia tak sengaja bertatapan pandang dengan Nesia dan pemuda itu buru-buru mengalihkan pandang; membuat Nesia tepok jidat ketika menyadari mengapa pemuda itu berlaku demikian). Ia juga meminta maaf jika ada hal yang tidak mengenakkan atau menyakitkan; dimana ucapannya ini segera direspon oleh kalimat penyesalan yang sama dari para murid baru. Dan ia berpesan bahwa intinya, MOS bukanlah sebuah akhir, tetapi justru sebuah awal dari kehidupan tiap murid baru di Hetalia High tercinta.

Dan para murid baru harus siap menghadapinya. Dalam artian mengabdi, menjaga nama baik almamater, berprestasi, dan sebagainya dan sebagainya seperti pidato yang sering diucapkan Kepala Sekolah mereka di SMP dulu.

Setelah Vash mengakhiri, giliran satu persatu anggota Komite Disiplin yang berbicara menyampaikan pidato singkatnya. Mulai dari Senior Berwald hingga Senior Bonnefoy, semua pada intinya mengatakan bahwa mereka terkesan dan meminta maaf atas semua ketidakenakan; dan lagi-lagi, para murid baru menjawabnya dengan kata maaf yang sama. Beberapa dari para senior bahkan menyelipkan sedikit guyonan dan candaan agar suasana tidak sebegitu kaku dan sebegitu hening; hei, ini bukan acara renungan malam penguras air mata, demi Tuhan! Setelah itu, giliran beberapa perwakilan dari murid baru yang menyampaikan kalimat singkatnya tentang MOS. Beberapa menyampaikan kesannya, dan tidak sedikit yang dengan terang-terangan menyampaikan keluhannya –baik mengenai acara MOS atau mengenai seorang senior tertentu–, protesnya, atau usulannya untuk MOS tahun depan agar menjadi lebih baik.

Dan acara 'curhat' dadakan itu pada akhirnya diakhiri dengan pelepasan tiga ikat balon berwarna-warni yang sudah dipersiapkan pihak senior, ke udara.

Dan bagaikan perayaan kelulusan sarjana, semua berteriak dengan heboh dan ributnya. Bertepuk tangan. Meloncat ke udara. Atau hal-hal absurd lain yang justru membuat mereka semakin lelah.

Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa MOS selama tiga hari ini sangat berkesan.

Sangat. Dan akan menjadi kenangan tersendiri untuk hari-hari ke depan.

"Tetapi, menurutku justru itu yang akan memberi kesan di hari-hari pertama kita di sekolah ini."

Mengingat ucapan Antonio waktu itu, Nesia menjadi tersenyum sendiri saat ia melangkahkan kedua kakinya untuk menuju ke apartemennya sehabis acara di Hetalia High.

Memang benar. Antonio sangat benar.

Terlepas dari Arthur Kirkland, terlepas dari semua kesialan, terlepas dari senior-senior laknat yang tak hentinya memberi hukuman dan siksaan mental, Antonio benar jika tiga hari MOS ini adalah tiga hari yang pasti akan menjadi bagian paling berkesan dalam memori masa SMA.

Menghirup napas dalam-dalam, Nesia melangkah santai di jalanan menuju apartemennya. Kedua tangannya memegang tali tas ransel yang sedikit lebih ringan tanpa bekal makanan yang sebelumnya harus ia bawa. Jaket dan syal yang dipakainya membuat beberapa orang menatap heran padanya yang memakai pakaian musim dingin seperti itu di hari musim panas seperti ini.

Entah kenapa, perasaan Nesia begitu ringan hari ini.

Langkah gadis itu terhenti mendadak ketika ia baru saja berbelok di tikungan dan tahu-tahu, di depan mukanya terpampang satu cup es krim ukuran jumbo dengan merk ternama.

Apa-apaan ini?

Nesia membelalak terkejut –siapa yang tidak? Ia berbelok di tikungan dan tahu-tahu mukanya nyaris saja menabrak satu cup es krim yang tampak menggiurkan ini…

Ia nyaris kena serangan jantung dadakan!

Dari es krim itu, pandangan Nesia perlahan-lahan menyusuri sebuah lengan yang memegangnya. Dari lengan naik ke pangkal lengan, lalu ke bahu, leher, dan sampailah ia pada emerald Lovino Vargas yang menatapnya dengan tatapan impasif.

Ekspresi dan perasaan terkejut Nesia segera lenyap bagai api di batang korek api yang tersiram air seember. Menghela napas berat dan keras, gadis itu segera bergerak menyamping demi meneruskan langkahnya.

"Tidak sopan sekali mendiamkan tawaran orang lain," ujar Lovino dengan nada sedikit kesal sembari tangannya menggenggam erat lengan Nesia; menghalangi gadis itu untuk kabur.

Nesia menghela napas capai campur kesal, lalu menoleh pada Lovino dan memberi pemuda itu pandangan tak percaya, "Kau membuatku nyaris mati karena kaget, tahu? Kau mengerikan," desis Nesia.

Alih-alih mundur, Lovino semakin memajukan cup es krim itu ke depan muka Nesia, "Aku tidak membuang lima puluh dolarku dengan percuma."

"Makan sendiri saja kalau begitu!" ujar Nesia jutek sembari berusaha melepaskan genggaman tangan Lovino di pergelangannya. Tetapi gagal.

'Sial!' rutuk Nesia dalam hati, 'Kenapa dia kuat sekali, sih?'

"Aku tidak suka es krim," jawab Lovino.

"Kau pikir aku suka?"

"Perempuan 'kan suka es krim."

"Hah?" Nesia memandang heran bercampur geli, "Teori dari mana, tuh?"

"Anggaplah ini sebagai permintaan maafku," ujar Lovino sembari menghela napas. Nesia bisa merasakan bahwa pemuda itu mulai sedikit merasa dongkol dan lelah, "Kita bisa bersikap lebih dewasa setelah ini, oke?"

Nesia memandang ragu ke kedua mata Lovino yang memandangnya dengan tatapan lelah dan sedikit ada rasa kesal di sana.

"Kenapa kau bersikeras meminta maaf padaku?" tanya Nesia, "Kita tidak seperti sahabat atau teman dekat atau apa, 'kan?"

"Look," Lovino menyisirkan jarinya ke helai depan rambutnya. Jelas sekali ia merasa kepayahan menghadapi sifat keras kepala gadis di depannya ini, "Kau dan aku bertetangga di apartemen. Aku hanya ingin menjalin hubungan baik dengan tetangga sendiri. Tidak lucu, 'kan, jika kita tinggal bersebelahan tetapi saling diam?"

"Dan sejak kapan kau peduli pada hal tentang bertetangga–hei!" protes Nesia keras ketika ia merasakan Lovino memegang kedua telapak tangannya dan secara paksa, meletakkan cup es krim itu ke kedua tangkupan telapak tangan Nesia.

Lalu pemuda itu ngeloyor begitu saja.

"Hei– Kau berniat untuk meminta maaf atau membuat masalah baru denganku?!" teriak Nesia sembari buru-buru kembali melangkah untuk mengejar Lovino yang sudah berjalan santai terlebih dahulu, "Kukembalikan!"

"Tidak mau!" balas Lovino keras kepala sembari menghindar dari usaha Nesia untuk meletakkan paksa cup es krim ke kedua telapak tangan pemuda itu, "Terima saja dan diamlah apa susahnya, sih?"

"Kenapa kau yang giliran marah?" teriak Nesia tak terima, "Asal tahu saja aku belum memaafkanmu! Dan aku tidak mempan disogok. Apalagi dengan es krim seperti ini!"

"Terima saja," Lovino berbicara sedikit keras, "Jika kau tidak mau buang saja. Apa susahnya?!"

"Apa–! Kau benar-benar tidak niat meminta maaf, ya?"

"Aku sudah meminta maaf. Kau saja yang membuat semuanya jadi terasa rumit."

"Habisnya cewek mana yang mampu memaafkan cowok yang sudah berbuat mesum padanya?!"

"Oke-oke! Aku minta maaf! Haruskah aku menyembahmu?! Lagipula itu semua kulakukan juga karena strategi, kan?"

"Hmpfh!"

"Lagipula jika tahu hadiah yang akan kelompokku terima seperti itu, aku juga pasti tidak akan berbuat begitu padamu."

"Hah? Maksudmu kau tidak mau menerima album foto Senior Gilbert dan Senior Bonnefoy?"

"Demi Tuhan! Ucapanmu retoris sekali."

Dan Nesia tak dapat menahan tawanya.

Sisa perjalanan ke apartemen mereka, dihabiskan dengan debat antar keduanya. Seiring semakin ngalor-ngidul-nya pembicaraan keduanya, rasa marah, sebal, dan dongkol tingkat dewa yang semula Nesia rasakan, sedikit-demi sedikit berkurang dan perasaannya kembali tenang dan ringan. Dari debat dan bentakan-bentakan kesal, pembicaraan keduanya berlanjut pada topik-topik ringan dan kasual seperti kesan masing-masing pada tiap acara MOS atau tentang senior tertentu.

Dan Nesia tidak sadar bahwa saat ia telah memasuki dan sampai di dalam apartemennya dengan selamat sentausa, cup es krim di tangkupan tangannya telah kehilangan separuh dari isinya yang semula penuh.


-o0o-

Next Chapter:

"Apa lagi ini? Pertama Vash. Dan sekarang Kirkland? Kau ini apa? Cupid stupid?"

.

"Itu titipan Francis yang dititipi oleh pihak Dewan sekolah. Besok adalah jadwalmu siaran, kan? Kau siarkan saja pengumuman di kertas itu."

.

"Habisnya aku tidak bisa menahan rinduku pada Nesia, sih."

.

"Sebenarnya bukan aku. Aku hanya menemani Senior Bella selepas kami mengerjakan tugas klub. Oh ya, dia titip salam pada kalian semua."

"Senior Bella?"

"Ya. Senior Bella Van Hardt. Ingat? Ketua Kelompokku waktu MOS."

.

"Aw… Lovino yang bermulut kasar sepertinya suka membuang-buang tisu untuk menonton adegan penguras air mata, ya~~"

.

"AND I CAN SEE YOU YEARS FROM NOW IN A BAR, TALKING OVER FOOTBALL GAMES…."


Ummmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm mmmmmmmmmm….. #dor #mati

Eh, boong, ding. Saya masih hidup :D Well, just wanna warn you from now that… there is high possibility for emergence of MORE (slight / main?) malexNesia pairings! Mungkin akan terkesan menjadi harem, tapi tidak juga karena saya janji, pairings utama fic ini udah terkonsep di pikiran saya (dan mungkin banyak di antara Anda yang udah tahu apa aja :p Obviously). Dan yah, 8 chapter habis hanya untuk menceritakan 3 hari MOS saja! The title says it all: absurd. Tetapi saya akan usahakan untuk ke depannya tidak terkesan lambat. Saya juga ga mau kok, jika fic ini tamat dengan ratusan chapter #readers: SALAH SIAPA? GUE? NYOKAP GUE? NENEK GUE? DUKUN GUE?! UKE/SEME GUE?!


Pojok review. Monggo~

Romano, kau sexy Italian beast! / Aw… Makasih banyak ya. Aduh, jadi tersapu—eh, tersipu :D #disodok Romano / More PruHun please? / Hm… #nyariin tempat buat sempilin PruHun / Arthur tsundere-nya overdose / itulah kelebihan Arthur / Publishnya agak cepet ya / Rikues dulu ke otak saya supaya bisa mikir agak cepet juga :D / Antonio kemana nih? Porsinya banyakin dong / Gantian ya. Chapter 7 kan si petani tomat itu udah mejeng dari pagi hingga malem (?) / Papan namanya absurd! Bisa jadi inspirasi nih / Jangan lupa copyright-nya ke saya ya :D #plak / Lovi caranya sampai sebegitunya mau rebut harimau Nesia / That just made him sound more awesome, rite? #dilempar Gilbert / Nesia rate-M-annya nanti ama siapa ya? / Ama saya juga boleh :D #digundulin / Panjangin yak wordsnya. Kurang nih / Aha 7:D / Aku suka ide papan namanya / Thanks :D suka yang bikin juga gak papa #sisir rambut depan ke belakang #plak / Romano cara nyolongnya keren abis… beneran maling deh / Errr… menyampaikan pertanyaan Lovino: Anda niat muji atau nyuruh dia bunuh diri? :0 #plak / RomaNes nya nanggung! Bikin mimisan aja / Saya emang suka nyiksa orang 7:D #plak / Adain JapNes ya! / Hm… let's see what I can do / AusHun! Thank you / Very welcome :D / Tulisanmu rapi banget / Makasih sekali. Duh, ga bisa masuk nih helm saya #lirik kepala 'bengkak' / Saya tunggu SpaiNes-nya / Okidoki. Di atas udah jelas kan :D / dis-saaaannnn! Ai Luph you Pull! Muach Muach! Udah makan belooomm? / Maachyyyy Qaqaa… Ai laph yu tuuuu. Udach tuch. Kamoe gmanz? #sumpah, the alayest of me ever / Gegara fic ini, saya mulai menerima fic UKNes, dan RomaNes juga oke / Thank God :D / Sesuai judul, absurd. Tetapi ini daya tarik fic ini / Terimakasih. Daya tarik saya bagi hatimu apa ya? :D #gajelas dot com / UKNes sama-sama tsundere / Asekasek :Dd / Papan nama Nesia bikin ngakak / Lol. Padahal saya pikir itu papan nama yang cukup mesum lho (selain papan nama asli saya waktu MOS dulu, tentu saja) / Aku fans berat fic ini / Waaa… terharu banget. Mau minta tandatangan saya ga? Please, minta ya. Plisplisplis #ini siapa yang ngefans siapa yang di-fans / Pairingnya imut-imut / Authornya imut ga? :D / UKNes banyakin ya / Sip, Bos '_'7 / Saya setuju. Ga langsung ke adegan 'itu'. Jadi bisa bertahap, realistis, dan ga maksa / That's exactly what I've been thinking :D / Penasaran siapa senior yang bikin papan nama itu / Mau tauuu? Wani piroooo?


My retarded blabbering (don't bother reading if you don't feel like it)

Maaf, di sini mungkin saya akan sedikit (?) curhat. Kemarin saya buka-buka folder flash disk saya dan waktu saya mau buka untuk chapter-chapter Absurdities, beberapa dokumen tidak bisa dibuka dan malah muncul warning ada virus. Lalu saya scan dan ternyata emang dokumen2 itu jadi objek virus. Saya delete juga tanpa pikir panjang. Dan Taraaa! Waktu saya buka filenya lagi, 6 chapters Absurdities hilang saudara-saudara! Padahal jujur, saya udah nulis ampe sekitar chapter 19 (saya tipikal orang yang "kalau bisa, mending ga usah nunda" :D) dan chapter 12, 14, 15, 17, 18, 19 hilang! Olala. Saya hanya mampu memandang datar dan nggumam 'wotdepak'

Saya udah nyoba balikin dokumen-dokumen sakral itu mulai lewat 'prompt command' dan hasilnya nihil; tetap ga ketemu. Lalu saya coba cara lain, download program recovery, dan hasilnya chapter 12 -15 ketemu, tapi pas saya buka, tulisannya 'file can't be open because the content is not valid' apaan deh intinya semacam itu (?). Lalu saya coba download aplikasi UnCHK (karena pas abis scan sebelumnya, ada folder 'FOUND000' yang kontennya ga jelas dan ga bisa dibuka dan ber-type 'recovered file fragment'. Tapi tetep aja, aplikasi UnCHK ga bisa jalan karena katanya windows saya elemennya ada yang kurang ato gemana.

Jadi, intinya dari cerita ini adalah:

1. 6 chapter-chapter atas yang udah saya ketik susah payah, hilang ditelan virus dan kayaknya unrecovable

2. Maka dari itu, kemungkinan besar update chapter-chapter Absurdities selanjutnya mungkin agak molor karena saya harus ketik ulang semuanya #depresi# Ditambah dengan rumitnya kegiatan di dunia nyata, saya tidak yakin bisa update cepet. Mmm.. kecuali jika ide ngalir deras plus dukungan dari kalian semua. Yeah, this is freaking annoying and frustating :(

3. Ada yang bisa bantu saya? :D Ada yang pernah ngalamin this awfully suck experiment? Tolong bantu saya karena selain buat kelanjutan Absurdities, juga untuk pelajaran juga bagi saya ke depan-depan kemudian :D Mohon dan silahkan beritahu lewat PM ya Kakak~

Terimakasih sudah mendengar curhat colongan ini. Mohon maaf jika note ini menuh-menuhin space layar laptop / komputer / hp Anda :/


Hallo Qaqaa... Tolong ripiu dan komentarnya ya Qaqa'. Tinggal tulis apa aja deh terserah Qaqa asal ga menyakiti hatiku yang rapuh ini #halah# Maachy beudtz ya Qaqaa~

Oh eah, tolong jangan lupa vote poll di profile akoeh ya Qaqa~! Ini kan aku mau ngetik ulang semua chapter-chapter selanjutnya. Jadi polling dulu deh sambil nunggu inspirasi. Mungkin hasil polling bisa ngasih ide, Kakak~ :D Muuchy~


Thank you so much Kakak.

From FHI With Love,

-d.i.s.-