Rasanya luama banget ya, saya tidak update fic ini #dirinya lupa# But, at least, this is for you, a 5,6k words long chapter of Absurdities :D Oh ya, disini udah mulai kegiatan KMB lho :p yeah, yeah. Praise me. Praise the awesome me as much as you like #disiram wine ama Gilbo


Meski jam di dinding ruang makan baru menunjukkan pukul enam lebih lima belas menit, namun apartemen sederhana (dan tak terlalu luas, asal kau tahu), sudah terisi oleh perbincangan beberapa manusia yang tengah terduduk tenang di meja makan. Dengan sepiring omelet yang masing-masing tertaruh di depan mereka, mereka tampak menikmati makanan sederhana sebagai pengganjal perut dalam memulai aktivitas di awal hari Senin ini.

Maria Santiago (1) yang telah siap memulai aktivitasnya sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Federal yang tidak jauh dari apartemen mereka. Lalu juga Anh Tu Chau (2) yang terlihat menyantap makanannya dengan sedikit cepat; mengejar waktu agar dia tidak terkunci di luar oleh dosen karena terlambat, seperti kemarin. Dan juga terduduk manis pula Annesia Saraswati yang menyantap makanan sederhana itu dengan tenang; lonceng tanda masuk Hetalia High kan masih setengah jam lebih lagi. Buat apa terburu-buru?

"Aku nanti pulang agak malam, ada meeting," ujar Maria sembari melap mulutnya dengan tisu di meja makan. Gadis berambut panjang warna coklat gelap itu segera berdiri sembari mengangkat peralatan makannnya, "Jadi, tak usah menungguku untuk makan malam, oke? Aku nanti bawa kunci cadangan."

"Oke!" sahut Nesia, "Sekarang kan tanggal muda. Nanti kalau gajian jangan lupa traktir, ya!" guraunya, yang direspon oleh kalimat positif dari lawan bicara di dapur sana.

"Aku harus berangkat juga," ucap Chau tergesa. Setelah meneguk segelas jus jeruknya, ia lalu berdiri sembari melempar tali tasnya ke pundak, "Bisa gawat aku kalau hari ini telat lagi."

Nesia melirik jam dinding di depannya, "Masih terlalu pagi, kan?"

Nam tersenyum kecil kepada Nesia, "Kau akan merasakannya nanti jika sudah kuliah, Nona," lalu gadis berambut panjang terikat longgar itu melangkah dan berteriak ketika sudah mencapai depan pintu, "Aku berangkat!"

Setelah meneriakkan kalimat 'hati-hati' kepada teman seapartemennya itu, Nesia kembali mengarahkan perhatiannya pada omelet di depannya yang masih tinggal separuh. Memang, ia termasuk tipe orang yang lambat untuk hal mengunyah makanan, sehingga untuk menghabiskannya pun juga akan terkesan lambat pula.

Setelah mengucapkan kalimat 'hati-hati' pula pada Maria yang keluar dari dapur dan berpamitan padanya, Nesia melanjutkan makannya. Apartemen kecil dengan penghuni tiga orang seperti ini, ketika sendiri, akan benar-benar terasa sepi dan sunyi.

Memutuskan bahwa perutnya tidak mampu menampung lebih dari apa yang sudah ia telan, ia mengangkat peralatan makannya (dengan omelet yang masih tersisa sedikit di piringnya) dan peralatan makan Chau ke dapur. Mungkin Chau sangat terburu-buru hingga lupa untuk setidaknya membawa peralatan makan ini ke dapur agar tidak menganggu pemandangan di meja makan.

Nesia merupakan orang yang agak strict ketika berbicara tentang kebersihan.

Waktu yang masih tersisa banyak ia gunakan untuk melakukan hal-hal yang menjadi rutinitas lain sebelum berangkat ke sekolah. Membersihkan peralatan makannya (dan untuk kali ini, juga peralatan makan Chau), mematikan seluruh lampu, lalu menyandang tas ranselnya sebelum mengambil lalu memakai kedua sepatu flat hitamnya di rak.

Merasa yakin bahwa semua telah beres, gadis itu membuka pintu depan dan menutupnya kembali. Pada saat ia tengah berusaha mengunci pintu apartemennya itulah telinganya menangkap sebuah suara yang menyebut namanya.

Menoleh, ia memberi senyuman kecil pada Lovino Vargas yang juga tengah berdiri di depan pintu apartemennya sendiri.

"Sejak kapan kau sudah berada di situ?" tanya Nesia sembari menatap heran dan menahan senyumnya. Tidak mendapat respon berarti dari Lovino selain gumaman tak jelas, Nesia memasukkan kembali kuncinya (kunci cadangan pribadi miliknya!) ke tas ranselnya. Mendekat ke arah Lovino, Ia menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan jahil dari kedua matanya yang bulat dengan iris hitam kecoklatan, "Pasti menungguku, ya~~?"

Lovino hanya mendecak dengan ekspresi kesal dan terganggu. Lalu dengan cepat berbalik dan langsung melangkah pergi dari sana. Namun justru sifatnya yang seperti itulah yang sering membuat Nesia terkikik geli dan gemas, seperti sekarang.

"Antonio Fernandez Bastardo itu mungkin sekarang telah menunggu kita! Jadi cepatlah jalan!" teriak pemuda berambut coklat itu tanpa menoleh ke Nesia yang masih berada di belakangnya.

Nesia tertawa, sebelum berlari kecil-kecil menghampiri dan menyejajari langkah pemuda yang kini ia tahu, merupakan keturunan seorang pengusaha Italia itu, "Oke-oke!"


Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

I just own the plot of the story and I don't make money from it.

Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.

Pairing: multimalexNesia

Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D

Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D

Maju FHI!

Happy reading


Periode tiga puluh tiga hari resmi menjalani kegiatan belajar mengajar di Hetalia High menjadi waktu yang bisa dibilang terasa cukup singkat. Masa MOS yang penuh dengan intrik, trik, manipulasi, dan terutama, penindasan (?) telah diakhiri dan menjadi salah satu masa yang akan dikenang baik di memori siapapun yang terlibat di dalamnya. Para senior Komite Disiplin kini terganti dengan para Guru dan karyawan Hetalia High. Penindasan kini terganti dengan pelajaran dan tugas dan ulangan dan semua hal yang wajar dianggap merepotkan oleh sebagian besar pengenyam pendidikan. Para murid baru kini tidak hanya bisa bersosialisasi antar murid baru saja; lebih dari itu! Para senior kelas dua, para 'mantan' Komite Disiplin, dan para anggota non-Komite Disiplin yang sebelumnya tidak dikenal karena tidak diperbolehkan masuk, atau setidaknya, melihat rangkaian kegiatan MOS.

Mengapa periode satu bulan lebih tiga hari itu sangat terasa cukup singkat bagi Nesia?

Banyak alasan tentu saja. Dimana alasan-alasan tersebut pada intinya membawa hal dan dampak positif bagi perspektif Nesia terhadap sekolah elit yang terkenal akan keanggunan, kemewahan, kebangsawanan, dan apapun tetek-bengek yang disanjung-sanjung para orang luar sana bagi sekolah ini.

Pertama, Nesia memiliki perubahan pemikiran terhadap 'mantan' Komite Disiplin saat acara MOS telah berakhir. Dugaannya bahwa para KomDis memasang wajah sangar bin judes hanya pada saat MOS saja, terbukti benar ketika pada suatu hari waktu itu ia disapa ramah oleh beberapa 'mantan' KomDis ketika berada di kantin, saat lewat di lorong sekolah, bahkan ia pernah ditawari tumpangan mobil untuk pulang oleh salah seorang 'mantan' KomDis. Begitu banyak sekali KomDis yang mengenal dan terlihat akrab dengannya hingga membuat gadis dengan rambut hitam sedikit ikal itu terheran-heran. Hingga akhirnya ia menemukan jawabannya ketika suatu hari Senior Francis Bonnefoy merespon keheranannya itu dengan kalimat semacam,

"Siapa yang tidak kenal salah satu peserta MOS yang nyaris berciuman di depan umum, melamun dan tidak memperhatikan ucapan Vash saat Wawasan Wiyata Mandala, memberi Vash lagu yang Oh ma cheri, sangat manis~~," jawab Francis ceria sembari mengedipkan sebelah matanya, "Dan kami punya dokumentasinya lho, dalam bentuk video. Honhonhon…"

Yang bisa dilakukan Nesia hanya menghela napas pasrah dan menatap Francis dengan pandangan putus asa.

Ya, itu benar. Sepertinya Nesia sudah menjadi semacam newbie of the year apes pada tahun ajaran baru Hetalia High ini.

Dan ngomong-ngomong soal MOS dan semua 'kesialan' yang sempat menimpanya, mau tak mau pikiran Nesia akan secara otomatis tertuju pada seniornya yang beralis selebat hutan Amazon Brazilia. Sikap Arthur Kirkland terhadapnya paska MOS, tidak begitu banyak berubah. Masih terlihat dingin, masih terlihat angkuh. Dan tentu saja, Nesia tidak peduli dan tidak memandang hal itu sebagai suatu soal (karena ayolah, SIAPA JUGA YANG PEDULI DAN MEMBUTUHKAN ORANG SEPERTI ITU?!). Terbebas dari ulah dan kutukan 'mantan' Ketuanya itu saja Nesia sudah bersyukur sekali.

Selain para senior yang sangat welcome sekali pada kehadiran murid baru paska MOS, Nesia juga menjalani kehidupan sekolahnya dengan bergabung dengan salah satu dari sekian banyak klub yang ada di sekolah tercinta. Seperti murid baru lainnya, ia juga tertarik untuk menjalani kegiatan di luar kegiatan formal sekolah yang membosankan. Nesia langsung mengarahkan perhatiannya pada beberapa klub yang ada; paduan suara, manga, atau radio. Namun pada akhirnya, setelah mengalami beberapa hari kegalauan yang lebaynya minta tepok jidat, pada akhirnya ia menjatuhkan pilihannya pada klub radio (sekalipun Senior Andrew Scholte sempat memintanya mempertimbangkan lebih lanjut akan klub paduan suara yang dipimpinnya. Terimakasih pada bakat terpendam Nesia yang ia tunjukkan di hari MOS waktu itu terhadap Vash).

Cukup satu klub saja yang ia tekuni, karena ia juga berencana untuk mengikuti open recruitment anggota OSIS tahun periode kepengurusan baru yang katanya, akan digelar satu bulan lagi.

Selain itu, mengapa periode tiga puluh tiga hari merupakan periode yang sangat singkat, karena alasan tertentu, yakni kehadiran Lovino Vargas, Lily Zwingli, dan… Antonio Carriedo sebagai tiga pihak paling dekat dalam kehidupannya di AS ini, selain Maria dan Chau, tentu saja. Mungkin Nesia harus berterimakasih juga (selain merutukinya) pada kesialan-kesialan yang diterimanya pada masa MOS yang membawa dirinya pada kedekatannya dengan tiga orang yang disebut di atas. Tiga orang yang kini, tidak berlebihan jika dikatakan sebagai tiga orang sahabat dekatnya.

Lovino Vargas, seorang keturunan pengusaha muda Italia yang mengembangkan bisnisnya di negeri Paman Sam ini. Menjadi tetangga apartemennya, merupakan salah satu faktor lain selain MOS, yang mendekatkan darah Italia dengan darah Indonesia tersebut. Kedekatan itu semakin melekat saja ketika keduanya tahu bahwa mereka berdua ditempatkan dalam satu kelas yang sama. Hanya saja, Lovino lebih memilih Klub Botani sebagai ajang mengembangkan bakatnya dalam tanam-menanam dan merawat tumbuhan, terutama, tomat.

Dan sudah tahukah kalian bahwa ternyata, dan tak disangka, Lovino memiliki saudara kembar seumuran yang juga bersekolah di Hetalia High dan sebagai murid baru pula? Karena Nesia tidak menyangka sama sekali. Ia pikir Lovino tinggal sendiri di apartemen. Namun pikiran tersebut keliru sama sekali ketika ia suatu hari ia bertemu dengan pemuda berambut coklat dan setinggi Lovino di depan pintu apartemen Lovino. Ketika Nesia menyapanya dengan sebutan 'Lovino', pemuda itu justru mengatakan bahwa Lovino belum pulang sekolah dan ada kegiatan klub.

Dan nama dari saudara kembar Lovino adalah Feliciano Vargas. Dan percayalah, sekalipun mereka bagai pinang dibelah dua, namun sifat mereka bagai bumi dengan langit. Sangat berbeda. Sebab mengapa Nesia tidak pernah berjumpa dengan Feliciano di apartemen Lovino adalah karena pemuda itu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Ayah, atau Kakek, atau teman dekatnya, Senior Ludwig Beilschmidt.

Selain Lovino Vargas, adalah Lily Zwingli yang merupakan gadis manis nan lugu. Bersama dengan Kakak kandungnya, Senior Vash Zwingli, ia berasal dari keturunan keluarga imigran yang berasal dari negeri Swiss. Sebuah keluarga kaya dan terkesan aristokrat, Lily dan Vash merupakan cerminan sempurna dari tipikal sosok lady dan gentleman. Berkat kedekatan mereka sebagai satu tim saat MOS, Nesia dan Lily dengan mudah menjalin keakraban lebih lanjut paska MOS. Meski tidak sekelas, namun kelas Lily tepat berada di samping kelas Nesia sehingga memudahkan mereka untuk saling bertemu dan bercakap.

Sekalipun awalnya terkadang Lily tampak rikuh dan sangat pemalu (terutama ketika Nesia bersama Antonio atau Lovino atau keduanya) tetapi lambat laun ia bisa membiasakan diri. Terutama dengan Lovino, karena kebetulan sekali mereka tergabung dalam klub yang sama.

Dan terakhir adalah Antonio Carriedo.

Hanya dengan membayangkan wajah atau mendengar namanya saja, mampu membuat darah Nesia seketika berdesir dan ia, seolah mampu merasakan hembusan angin hangat musim panas sekalipun di sekitarnya turun salju. Hanya dengan melihat kedua matanya yang sehijau batu emerald itu, mampu membuat jantung Nesia berakselerasi lebih cepat, seolah ia tengah menantikan suatu hal yang sangat dinantinya. Dan hanya dengan melihat senyum secerah mentari itu, hanya dengan mendengar suara yang selalu bernada ceria itu, sering membuat Nesia tanpa sadar terpaku. Beku.

Dan secara tak sadar menahan napas selama beberapa detik.

Ia sempat merasakan ada sesuatu yang sangat memberatkan ketika ia melihat di papan pengumuman bahwa ia dan Antonio berbeda kelas. Ia juga harus menghela napas khas orang putus asa pada hidup ketika ia mendengar dari Antonio bahwa ia mengikuti klub musik. Tetapi itu tidak menjadi soal lagi ketika seiring waktu berjalan, Nesia mampu menghela napas lega ketika Antonio tidak merubah sikapnya; Nesia pikir, mereka berdua akan sama-sama kembali menjadi orang asing selepas MOS. Tetapi nyatanya tidak. Antonio masih sering mengunjunginya (dan Lovino) di kelas, terkadang pulang dan berangkat sekolah bersama dengannya (dan Lovino), dan juga sering menghabiskan akhir pekan dengan hang out atau sekedar nonton DVD di apartemen Nesia (atau Lovino) atau rumah Antonio.

Nesia terkadang menghela napas jengkel juga ketika kini ia mulai melihat Lovino seperti tembok Berlin (?) baginya dan Antonio. Apalagi sepertinya Antonio juga dekat sekali dengan Lovino…

Entah ini hanya sebuah crush atau memang… err… cinta, tetapi Nesia bukanlah gadis yang mengenal kata putus asa dengan demikian mudahnya, kan? Jadi, waktu tiga puluh tiga hari merupakan waktu yang masih cukup singkat baginya untuk 'berusaha' meraih keberuntungannya dengan Antonio.

Haha!

Ngomong-ngomong soal Antonio, kemarin dia kan berjanji akan mengajaknya (dan… hhhhh! Lovino) ke restoran masakan Spanyol milik Ibunya di pusat kota, selesai pulang sekolah.

Ibunya Antonio seperti apa, ya?

"Hayo… mikirin apa?"

Ucapan dan pandangan menggoda dari Lily tidak serta merta seolah mampu menjadi air es yang disiramkan kepada Nesia yang berjalan pelan dengan pandangan dreamy dan sesekali bibirnya mengulum senyum kecil.

Membuat Lily menatap heran dan memutuskan untuk menepuk pelan pundak Nesia.

Segera tersadar dari pemikiran galau dan absurd-nya, Nesia segera menoleh dan menatap terkejut ke arah Lily, "Kenapa?" tanyanya, yang mendapat respon senyum kecil dari gadis berambut pirang itu.

"Tidak. Tadi Zayn Malik lewat di depan kita."

Nesia kembali menoleh depan dan menghembuskan napas berat, "Tidak lucu, Lily."

Terkikik pelan, Lily menyahut, "Habisnya, melamun saja. Tidak heran saat MOS waktu itu kau kena marah Senior Kirkland dan Vash."

Hhhh…

Kenapa harus mengulas masa pahit, sih?

Tidak mendapat respon berarti dari Nesia, Lily kembali melanjutkan, "Ngomong-ngomong soal Senior Kirkland, kau sudah benar-benar putus kontak dengannya, ya?"

Seolah mendengar topik yang sangat tabu baginya dan membuat otak Nesia langsung mengulas kembali seringai yang jeleknya masaolloh itu, Nesia langsung tanpa sadar sedikit menjutekkan suaranya ketika berucap, "Kenapa tiba-tiba tentang dia?"

"Tidak," jawab Lily sembari menatap Nesia dengan terkejut. Habis, mood sahabat dekatnya ini tiba-tiba berubah drastis begitu saja, "Hanya… kupikir, selama MOS, kalian terlihat dekat sekali."

Nesia mendengus, "Hubungan kami saat MOS itu hanya hubungan majikan dan budak –ah, bukan, hanya hubungan setan dengan manusia."

Lily menutup mulutnya sembari menahan tawa kecilnya. Setelah menenangkan diri dan mengambil napas, ia menatap Nesia dengan seulas senyum masih tersungging di bibirnya, "Sebegitu bencinya pada Senior Kirkland?"

Dalam hati, Nesia tidak mengerti, mengapa perjalanan mereka berdua menuju kantin saat istirahat kini diisi oleh obrolan seputar Kirkland.

Dari semua topik yang ada dan bisa diperbincangkan, mengapa harus tentang Kirkland?

Dan omongan Lily hanya mendapat respon berupa dengusan absurd dari Nesia.

Kantin kompleks gedung A Hetalia High memang selalu terlihat penuh jika istirahat makan siang seperti ini. Karena selain tempatnya yang lebih sempit dari kantin kompleks gedung B atau gedung C, juga karena makanan yang disediakan sangat memanjakan lidah dan perut hingga membuat para murid kelas 1 seperti Nesia dan Lily, rela antri dalam memesan makanannya. Dalam kantin ini, terdapat beberapa stand yang menjual berbagai makanan yang berbeda satu sama lain. Ada stand makanan cepat saji, ada stand makanan berat, ada juga stand yang hanya menjual minuman dingin atau jus.

Baru sampai di halaman kantin, Nesia menghela napas putus asa sembari menyesal tidak membawa bekal sendiri saja.

Lihatlah, kantin itu lebih tepat disebut pasar.

Ramai!

"Mau ke stand apa, Nes?" tanya Lily sembari mengamati satu per satu stand yang ada.

"Aku sepertinya sedang ingin makan–."

"Ah!" ucapan Nesia terhenti oleh pekikan Lily sembari gadis itu menunjuk ke sebuah arah.

Mengikuti koordinat pandangan dan tunjukan telunjuk Lily, Nesia menyadari bahwa gadis itu tengah menatap ke arah stand cepat saji.

Namun bukan stand cepat saji itu yang seketika membuat kedua mata Nesia sedikit menyipit sembari kedua bibirnya melengkung ke bawah.

"Panjang umur! Itu Senior Kirkland, kan?" ucap Lily pelan sembari mendorong-dorong kecil pundak Nesia dengan telunjuk kirinya. Membuat Nesia memutar bola mata dan membatin, 'Seperti aku tengah mengharap bertemu dengan si alis itu saja.'

"Kenapa dia ada di kantin sini? Kompleks gedung C kan juga terdapat kantin," gumam Nesia sembari menatap Arthur yang tengah duduk bersangga dagu di sebuah kursi di depan stand makanan cepat saji.

"Bagaimana kalau kita ke sana saja?"

"Tidak!" jawab Nesia cepat dan berontak, lalu segera berbalik arah dan menuju stand pertama yang dilihat kedua matanya.

"Kenapa?" tanya Lily heran sembari berusaha mensejajari langkah Nesia, "Ayolah, aku yakin, Senior Kirkland pasti sudah tidak jahat kepadamu lagi."

"Apa lagi ini?" keluh Nesia sembari melempar kedua tangannya ke udara; frustasi tingkat dewa, "Pertama Vash. Dan sekarang Kirkland? Kau ini apa? Cupid stupid?"

Lily tertawa, "Aku hanya berpikir bahwa kau dan Senior Kirkland tampak manis–."

Nesia menelan kembali hasrat ingin muntahnya.

"–tetapi, jika kau memang ingin kembali pada Vash, aku bisa membantu."

Nesia hanya menggeram capek.

Ini semua gara-gara Kirkland bastardo itu yang membuat Nesia terkadang masih mendapat pertanyaan dari orang lain seputar 'hubungannya' dengan Vash!

Setelah memasuki stand yang mirip seperti sebuah kafe di kantin itu, Nesia segera memesan dua buah donat dan satu jus jeruk. Sedangkan Lily hanya memesan sebuah teh hijau.

"Apa?" tanya Lily heran ketika Nesia menatapnya dengan pandangan seolah-olah di kepala Lily tumbuh dua buah tanduk merah.

"…Kau hanya memesan itu tadi?" tanya Nesia ragu.

Lily mengangguk, "Aku harus menjaga penampilanku," Lily menunduk bersama dengan suaranya yang mengecil dan terdengar ragu, "…Kau tahu, keluarga besarku punya pengamatan yang teliti sekali mengenai penampilan seorang… ladies atau gentlemen."

Mendengarnya, Nesia menatap Lily dengan pandangan antara tidak mengerti dan prihatin. Di satu sisi, ia tidak tahu mengapa dan bagaimana ada aturan seperti itu di keluarga 'aristokrat' seperti keluarga Lily, dan di sisi lain, ia merasa prihatin juga. Ayolah, jika dibandingkan dengan Nesia, Lily bisa terlihat lebih kurus darinya. Jika gadis itu tidak rutin memakai pita merah di rambutnya, atau tidak memakai rok, maka orang pasti akan mengiranya laki-laki karena um… dadanya yang cukup rata sebagai seorang gadis remaja.

"Annesia!"

Belum sempat Nesia merespon ucapan Lily dengan ucapan atau perilaku apapun, suara barusan terdengar dan membuat tak hanya Nesia, namun Lily juga menoleh ke sumber suara.

Tampaklah seorang pemuda berambut pirang tengah melangkah ke arah meja dimana Nesia dan Lily berada.

"Senior Tiino?" ucap Nesia begitu pemuda itu sampai di dekat mereka berdua.

Senior Tiino, seorang pemuda kelas dua yang baru dikenal Nesia saat ia resmi menjadi anggota klub Radio. Ia termasuk salah satu senior di klub yang diketuai oleh Senior Francis itu, sekaligus menjadi penyiar klub Radio yang paling Nesia kagumi.

Suaranya jernih dan terdengar sangat ceria. Ditambah dengan wajah polos dan seinosen itu, tidak heran jika Nesia sempat mengiranya sebagai murid kelas satu.

"Boleh aku duduk di sini sebentar?" kata Tiino setelah mengangguk dan memberi sapa pada Lily.

"Tentu," ujar Nesia dan Lily, yang direspon oleh ucapan terimakasih oleh senior mereka berdua itu.

Begitu Tiino telah terduduk, waitress pembawa pesanan Nesia dan Lily datang dan meletakkan pesanan mereka, dan langsung pergi setelah membungkuk, setelah Nesia dan Lily mengucapkan terimakasih.

Nesia meminum jusnya, "Ada apa Senior Tiino?" tanya Nesia.

Tiino tersenyum lebar sembari bersangga dagu. Menatap Nesia dengan kedua matanya yang tampak berbinar, ia menjawab, "Hanya mau menemui Nesia saja, kok."

Nesia pasti sudah menyemburkan jus yang ada di mulutnya jika ia tidak segera menutup rapat-rapat mulutnya dengan satu telapak tangannya.

Lily dan Tiino terkikik geli melihatnya. Apalagi setelah itu muka Nesia tampak memerah dengan kedua matanya yang melotot berang ke arah Tiino.

"Yang benar saja!" geram Nesia. Merasa nyaris mati dia akibat tenggorokkannya tercekik seperti tadi, "Itu tidak lucu, Senior!"

"Oh, ya?" masih tertawa, Tiino menunjuk Lily sembari masih menatap Nesia, "Aku dan dia tertawa lho."

Dan kini death glare gratis Nesia mengarah pada Lily.

Merasa pandangan mematikannya tidak bereaksi sedikitpun pada dua makhluk yang masih cekikikan di depannya, Nesia menyerah dan menghela napas berat, "Sudahlah, Senior. Serius sedikit, lha…," ujar Nesia, lalu ia mengambil satu donat dengan lelehan coklat dan taburan keju, dan menginggitnya dengan kesal, seolah yang tengah ia gigit itu bukan donat, tetapi daging.

Tiino berdehem untuk meredakan tawanya, lalu ia mengambil sesuatu dari balik saku jasnya, "Ini, aku disuruh Francis memberikan ini padamu."

Nesia melirik benda yang diletakkan Tiino di meja dan diarahkan ke depan Nesia, "Apa itu?"

"Hei-hei telan dahulu," Tiino memperingatkan, lalu ia menoleh ke arah Lily yang sibuk dengan teh hijaunya, "Lily, coba kau ajari temanmu ini satu-dua cara untuk menjadi seorang lady yang baik."

Nesia hanya melirik sangar sembari menyinyirkan bibirnya ke arah Tiino. Sedangkan Lily hanya tersenyum geli ke arah Nesia.

"Kutanya, apa ini, Senior Tiino?" ulang Nesia dengan penuh penekanan di tiap kata.

Tiino kembali memberi perhatiannya pada Nesia dan benda yang tadi ia berikan, "Itu titipan Francis yang dititipi oleh pihak Dewan Akademik sekolah. Besok adalah jadwalmu siaran, kan? Kau siarkan saja pengumuman di kertas itu," jelas Tiino.

"Oke deh," ujar Nesia sembari langsung memasukkan lipatan kertas itu ke saku jasnya, tanpa terlebih dahulu membukanya. Ia lalu menatap Tiino dengan heran, "Tetapi kalau cuma memberitahu begini saja, kau bisa menyerahkannya besok saja kan, waktu aku ke ruang siaran?"

Dan Tiino hanya tersenyum lebar sembari semakin menggeser tempat duduknya ke arah Nesia.

Sembari bersangga dagu, ia berucap dengan nada seolah apa yang diucapkannya adalah berita terbaik sepanjang masa, "Habisnya aku tidak bisa menahan rinduku pada Nesia, sih."

Puji Tuhan Nesia tidak tersedak untuk kedua kalinya.

Tetapi mungkin Senior Tiino harus kembali ke kelas dengan lengannya yang terdapat bercak biru lebam akibat cubitan maut Nesia.

-oOo-

Nyatanya, rencana yang sudah Nesia tunggu-tunggu untuk terlaksana, akhirnya batal total dan membuat gadis itu menghela napas kecewa dan sedikit merasa dongkol di hatinya.

Antonio tidak jadi membawa dirinya (dan Lovino) untuk berkunjung ke restoran Ibunya dengan alasan bahwa Antonio harus segera menyelesaikan suatu tugas dari klub musiknya yang harus diserahkan besok pagi.

Tetapi pemuda itu segera memperbaiki semua dengan berjanji bahwa ia akan membawa kedua sahabatnya itu ke restoran milik keluarganya itu dalam waktu dekat ini. Selain itu, ia juga berjanji bahwa malam ini, ia bersedia menonton DVD bersama Nesia dan Lovino di apartemen Lovino dan menginap di apartemen Lovino.

Tidak buruk, juga, kan?

Pikiran culas itulah yang mampir di otak Nesia saat ia berdiri di depan pintu apartemen Lovino setelah menekan bel sekali. Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam lebih, dan pastinya Antonio telah datang karena mereka bertiga berjanji berkumpul di apartemen Lovino pada pukul sembilan tepat.

"Hei," Nesia tersenyum lebar kepada Lovino yang berdiri membuka pintu.

"Hei," Lovino menggerakkan kepalanya ke arah dalam apartemen, secara tak lisan menyuruh Nesia melangkah masuk.

Begitu Nesia melangkah masuk ia sudah disambut oleh sebuah suara yang menyapa namanya. Dan kedua bola hitam kecoklatan Nesia melihat bahwa Antonio sudah terduduk di lantai di depan sofa di ruang santai apartemen.

"Hai!" balas Nesia kelewat ceria. Dibelakangnya Lovino berjalan tenang setelah menutup dan mengunci pintu apartemen, "Kau cepat sekali datang?" tanya Nesia setelah terduduk bersila di dekat Antonio. Kedua matanya menatap beberapa benda yang terletak di lantai di sekitar ia dan Antonio duduk.

Tiga kotak ukuran jumbo popcorn, dua kotak ukuran jumbo potato chips, lima batang coklat, satu kotak susu, dan…. Dua buah botol besar… wine?

Nesia tersenyum patah sembari masih menatap semua 'hidangan' yang tercecer di lantai berkapet abu-abu itu, "Ini semua… kita pesta?"

"Antonio Bastardo itu baru dari berbelanja sebelum sampai sini," ucap Lovino sembari mendudukkan dirinya di samping Nesia. Menselonjorkan kaki, ia menarik kotak yang ia gunakan untuk menyimpan koleksi DVD nya dan menaruhnya di hadapan Nesia dan Antonio.

Mendengar kalimat Lovino, Nesia menoleh ke arah Antonio dan memberi pemuda itu pandangan heran. Sangat heran, "Kau? Berbelanja? Malam-malam begini?"

Antonio tersenyum sembari memberi perhatiannya pada box DVD Lovino. Tangannya memilah-milah pilihan yang ada di sana, "Sebenarnya bukan aku. Aku hanya….," tangannya menarik satu DVD bergenre action, dan memerhatikannya sebentar, "..menemani Senior Bella selepas kami mengerjakan tugas klub," ia kembali meletakkan DVD itu ke box dan kembali memilah, "Dan dia yang membelikan semua ini untuk kita. Oh ya," Antonio mengangkat wajahnya dan memberi senyum tipis pada Nesia dan Lovino, "Dia titip salam pada kalian semua."

"Senior Bella?" ujar Nesia heran.

"Bagaimana kalau kita melihat ini?" Antonio menyerahkan satu DVD bergenre horor ke Lovino. Lalu ia menoleh ke Nesia, "Ya. Senior Bella Van Hardt. Ingat? Ketua Kelompokku waktu MOS."

Dalam otak Nesia seketika terulas Senior perempuan anggota KomDis. Berambut pirang. Iris hijau dan bentuk mata yang mengingatkan ia pada dua buah mata penyanyi kesukaannya, Taylor Swift. Intinya, cantik.

Dan pasti memiliki kepandaian dalam hal musik. Ia bergabung dalam Klub Musik juga bukan karena asal-asalan, kan?

"Aa," ujar Nesia lirih pada akhirnya. Lalu ia menatap kembali semua hidangan yang ada di lantai, "Dia baik sekali kalau begitu."

"Dan tentu saja, kau boleh mengambil manapun kecuali dua botol wine itu," ujar Lovino sembari menarik satu DVD dari box dan mengembalikan DVD yang diserahkan Antonio tadi, kembali ke box. Ia lalu memasukkan kaset DVD itu pada DVD player di depan sana.

"Tentu saja. Dua botol wine ini hanya untukku dan Lovi~" Antonio mengedipkan mata ke arah Lovino, yang segera direspon oleh ekspresi jijik dari Lovino.

"Lagipula juga siapa yang mau minum itu," gumam Nesia sembari menyambar satu-satunya botol susu cair segar yang ada, "Film apa yang kau masukkan itu Lovino?"

Lovino menyebutkan sebuah judul film tanpa menoleh ke arah dua temannya yang ada di belakang. Begitu mendengarnya, Nesia pura-pura memasang wajah mau muntah. Dan Antonio hanya ternganga.

"Kenapa?!" jutek Lovino sembari menoleh kesal.

"Ew. Romance?" ujar Nesia menatap tak percaya pada Lovino.

"Ini juga ada genre angst… drama… dan–dan–," kedua emeraldnya melirik ke kiri dan ke kanan, seolah mencari sebuah kalimat atau kata yang tepat, "Dammit! Tonton saja!"

"Aw, Lovino~" Antonio melempar satu DVD ke arah Lovino yang masih duduk bersimpuh di depan DVD player di depan sana, "Mending itu saja. Genre action! Mendapat beberapa Piala Oscar untuk beberapa kategori tahun lalu!"

Lovino mendecak kesal, "Tidak! Kalian tonton saja dahulu baru komentar!"

"Melihat cover DVD-nya saja kami sudah bisa menebak jalan ceritanya," ujar Nesia sembari melahap satu batang chips kentang.

"Ayolah Lovi~ Aku datang dan menghabiskan malam kesini bukan untuk melihat soap opera," rajuk Antonio sembari mengibaskan tangannya, pertanda capai.

"Ah!" Nesia memasang ekspresi seperti ia baru mengungkap suatu rahasia besar, "Jangan-jangan, seleramu memang seperti itu? RomanceAngst… drama…"

"Ya!" Antonio membelalak sembari menjentikkan jemarinya, lalu sedetik kemudian ia memasang ekspresi jahil, "Aw… Lovino yang bermulut kasar sepertinya suka membuang-buang tisu untuk menonton adegan penguras air mata, ya~~"

"Uuuwww~~" Nesia tersenyum sembari menangkupkan kedua telapak tangannya di bawah dagu, "Manis sekali~"

"Imut~."

"Cute–."

"OKE, BAIKLAH DAN SEKARANG TUTUP MULUT KALIAN BRENGSEK!"

Dan Antonio serta Nesia langsung ber-high five ria, tanpa memedulikan Lovino yang memerah wajahnya sembari menggeram. Mengingatkan kita semua pada ekspresi bull dog yang habis keinjek ekornya.

CTAS!

Dan semua langsung gelap gulita seketika.

"Cool," geram Lovino, "Makan tuh, film action-peraih-Oscar-mu!"

Nesia membelalak terkejut, "Lampu mati?"

"Bukan. Kau sudah berada di alam baka," ujar Lovino retoris. Lalu ia menggeram kesal sembari melempar kedua tangannya ke udara. Putus asa, "Sekarang apa!" gumamnya pada diri sendiri.

"Tidak keren, Lovi, Nes," ujar Antonio menghela napas. Menyandarkan punggungnya pada bawahan sofa di belakangnya, ia membuka satu tutup botol wine yang ada, "Apartemen ini fasilitasnya sama sekali tidak keren."

"Diam, Bastardo!" hardik Lovino keras. Dengan malas ia berdiri dan langsung berjalan menuju meja yang ada di dekat situ. Walaupun keadaan gelap, tetapi syukurlah masih terdapat cahaya temaram dari bulan musim panas yang menerobos jendela kaca di dekat sana.

Nesia menghela napas lelah, "Percuma saja semua ini kalau begitu," ia turut menyandarkan diri di bawahan sofa, di samping Antonio.

Merasa bosan (karena Lovino sedang sibuk dengan apapun urusannya di meja sana, dan Antonio yang sibuk menenggak sedikit demi sedikit wine miliknya), iseng-iseng Nesia mulai membuka mulutnya dan mendendangkan kecil sebuah lagu. Kebiasaannya jika merasa bosan, galau, atau kurang kerjaan banget, ia akan berlala-lili ria.

Termasuk seperti sekarang.

Menyanyikan lagu Paramore "Ignorance" versi nge-slow (karena ia menyanyi juga dengan suara lirih bin gak niat) sembari menunggu kira-kira kapan listrik akan menyala lagi. Sempat ingin kembali saja ke apartemennya sendiri. Tetapi apartemennya juga pasti tidak berbeda keadaannya sekarang dengan milik Lovino, kan?

Lagipula… Antonio kan belum pulang dan masih ada di sini. Aha.

"Where's your gavel, your jury…"

Nesia mulai mendengar suara sesuatu seperti diketuk-ketukkan ke permukaan yang kasar dan rata. Dalam cahaya temaram milik bulan yang menerangi ruangan, ia melihat bahwa kesepuluh jemari Antonio tengah menjadikan box kayu DVD Lovino sebagai 'drum' imajinasinya.

Merasa (sangat) tersanjung karena Antonio apresiasi terhadap suaranya, atau karena pemuda itu hanya suka pada lagu atau penyanyi aslinya, Nesia melanjutkan nyanyiannya.

Bahkan makin lama makin semangat dan serius sekali. Seperti ia tengah diutus oleh Hayley untuk menggantikannya sementara di penampilan konser akbar Paramore.

Bahkan keduanya tidak mendengar suara Lovino yang mendecak kesal dan memandang keduanya dengan tatapan seolah ia melihat dua orang gila telanjang di depannya.

"Well you treat me just like…," dari suara nge-slow, suara Nesia makin mengeras dan lama-lama terdengar nge-rock pula.

Dan Antonio seperti terbawa dan terhipnotis, semakin serius mengetuk-ketukkan jemarinya di box dan mengangguk-angguk serta memejamkan erat matanya.

Lovino mendecih sembari menghela napas berat. Merasa di apartemennya telah berada dua orang remaja dengan masa balita kurang bahagia (lagipula balita mana yang menyanyikan lagu Paramore begitu?).

"… I guess I'll go…," entah kerasukan apa, Nesia berdiri dan meloncat ke atas sofa warna krem yang tadi disandarinya dan Antonio. Di atas sofa itu, gadis itu berdiri seolah-olah ia adalah artis besar di atas sebuah panggung.

Botol susu di tangan sebagai mik. Mata memejam erat dan kepala angguk-geleng macam roker.

Dengan suara sangat sumbang hingga Lovino berkali-kali mengedutkan sebelah ujung matanya.

Tidak bisa disangkal jika gadis itu memiliki suara emas jika menyanyi dengan nada slow. Tetapi untuk rock, ia terdengar seperti bukan bernyanyi, tetapi seperti orang ayan berteriak-teriak.

Hhh.

.

.

"Geuraeyo nan nul saranghae unjaena miduh…"

Genie milik Girls' Generation dinyanyikan oleh Nesia sepenuh hati diiringi oleh ketukan jemari yang sama oleh Antonio. Meski Nesia yakin seratus persen jika Antonio tidak mengerti sama sekali bahasa yang disuarakan Nesia, tetapi pemuda itu tampak sangat menikmati (aksi 'nge-drum')nya.

Meloncat turun dari sofa, Nesia berlari ke arah Lovino dan menarik Lovino untuk turut 'beraksi' bersamanya dan Antonio.

Dan Lovino hanya mendengus.

.

.

"AND I CAN SEE YOU YEARS FROM NOW IN A BAR, TALKING OVER FOOTBALL GAMES…," teriak Nesia di atas sofa itu sembari sebotol susu masih berada di tangannya.

"Asekk~~" Antonio, berdiri dan mengakhiri karirnya sebagai drummer, menari dengan dua jempol di atas. Sangat mengingatkan Nesia pada gaya menari dangdut di negara asalnya.

Dan Lovino hanya duduk bersila di lantai dan melahap popcorn. Senter yang tadi sibuk dicari dan telah ditemukannya di laci, kini terlupakan begitu saja di sampingnya.

.

.

"IT'S NOT ABOUT THE MONEY, MONEY, MONEY…"

Nesia masih menjadi rock-star di atas sofa sana. Meloncat-loncat, teriak-teriak, mengangguk-angguk, dan semua hal yang wajar dilakukan oleh bintang rock terkenal.

Antonio masih 'bergoyang dangdut'nya. Malah kini ia menggenggam satu botol wine di tangan kanannya. Matanya sudah merem melek, entah karena mabuk, mengantuk, atau kelelahan.

Dan Lovino hanya menengguk dalam diam wine miliknya.

.

.

"WE ARE THE CHAMPION MY FRIEND!" teriakan Antonio dan Nesia sangat keras di apartemen itu. Keduanya berdiri di atas sofa dengan masing-masing memegang satu botol (wine untuk Antonio, susu untuk Nesia). Meloncat-loncat, berteriak-teriak. Bahkan Antonio memukul-mukulkan dengan keras bantalan sofa ke punggung sofa sembari berteriak-teriak, "YEAH YEAH YEAH YEAH!"

Bahkan kemudian Antonio menyahut satu kotak popcorn dan menabur-naburkan isinya ke udara.

"Confetti! Confetti!" teriaknya seperti orang gila.

"Wohooooooooo!" sahut Nesia sembari mengacungkan satu tinjunya ke udara.

"Untuk Nesia dan Antonio –ah, juga Lovinooooo!" teriak Antonio.

"YEYEYEYEYEYEYYY!" Nesia malah turut membuat ulah dengan menebar-nebar isi kotak potato chips layaknya seorang pengiring pengantin yang menebar bunga pada kedua mempelai yang berjalan menuju altar.

Dan Lovino hanya menatap impasif di lantai sana. Dalam hati ia bersumpah, ia akan membunuh dua sahabatnya itu jika besok tidak turut membantunya membersihkan semua omong kosong yang telah mereka lakukan malam ini pada apartemennya.

.

.

Tebaran popcorn di mana-mana. Serpihan-serpihan potato chips di sana-sini. Tumpahan air beralkohol atau susu baik di karpet dan di sofa. Bantal sofa yang terlempar ke sana-kemari, bahkan ada yang mendarat di dekat pintu masuk di sana. Remahan-remahan batangan coklat yang tak hanya mengotori lantai, tetapi juga meninggalkan noda baik di karpet atau di sofa berwarna krem lembut itu.

Tetapi untuk saat ini tiada yang peduli.

Bagaimana tidak jika tiga manusia yang terkapar dengan tidak elitnya di sana seolah sudah tidak bernyawa lagi? Pemuda berambut ikal coklat yang tertidur tengkurap dengan satu kaki dan satu tangan yang menggantung ke luar sofa. Seorang gadis yang pulas meringkuk di bawah sofa yang ditiduri lelaki tadi. Dan satu orang pemuda lain lagi yang terpejam, dengan tangan dan kaki telentang lebar seolah ia tengah hendak merangkul dunia. Efek alkohol telah benar-benar berdampak pada dua pemuda itu dan efek kelelahan dan keabsurdan, telah membuat si gadis seolah benar-benar terkuras tenaganya.

Jadi, tidur dan beristirahat adalah hal yang menjadi pilihan. Biarlah lantai kotor, biarlah ruangan berantakan. Urusan diomeli dan disemprot Lovino sih, diurus besok saja.

Namun, beberapa saat kemudian, bersamaan dengan listrik yang kembali berfungsi dan membuat ruangan terang kembali, dua pasang bola emerald membuka perlahan.

Untuk kemudian melirik sebentar pada sosok yang meringkuk pulas di bawah sofa sana.

.

.

Ketika pagi menyapa, merasakan hangatnya sinar mentari yang menerobos masuk ke jendela, perlahan kelopak mata Nesia membuka. Rasa kantuk dan lelah sangat terasa di sekujur tubuhnya yang merasa kaku akibat terbaring terus di lantai semalaman.

Menguap lebar-lebar, ia terhenti di tengah jalan bersamaan dengan kedua matanya yang menatap heran campur takjub ke arah tubuhnya yang masih terbaring.

Seingatnya kemarin, ia tertidur begitu saja setelah merasa lelah.

Dan ia yakin sekali bahwa ia tidak memakai apapun di tubuhnya selain pakaian yang dipakainya.

Tidak juga selimut tebal warna biru putih yang kini menyelimuti hangat sekujur tubuhnya.


(1) Ini fem!Portugal :D Maaf kalau namanya nyeleneh v_v *ga kreatip

(2) Nah, kalau yang ini mah Vietnam :D maaf juga kalau namanya aneh v_v *makin ga kreatip


Next Chapter:

"Pie apa yang paling indah dan paliiiinggg awesome? Jawabannya adalah pie love you so awesomely much, Annesiaaa~~."

.

" … Aku. Selalu. Melihatmu.Selalu.Kemarin. Hari ini. Dan esok.Dan selamanya selama kedua mata ini masih mampu melihat indahnya dunia."

.

"Aku tidak butuh uang, tidak butuh beasiswa dan tidak butuh kuliah, tidak berminat sama sekali dengan Summer Course –apalagi di Inggris! Dan cukup mampu untuk pergi liburan kemanapun dengan biayaku sendiri. Dan apa? Sertifikat? Jangan ber-can-da."

.

"Apa-apaan ini? Beraninya kau mendaftar kompetisi ini bahkan tanpa kelompok?"

.

"Karena kau bukanlah satu-satunya pendaftar yang ngotot mengikuti kompetisi ini, sekalipun tidak memenuhi syarat administrasi."

.

"Hanya karena kau, kami tidak bisa memulai acara dan harus menunggumu selama lima belas menit. Kau pikir dirimu siapa? Ratu Inggris?"


My retarded blabbering:

Sengaja selipin TiinoNesia :D Pairing itu menurut saya cukup imut. Dan disini saya juga nyadar kok, kalau Lovino itu kelewat cool -_- hhhssshhh... Oh ya, saya masukin Klub Radio disini karena menurut saya Klub Radio itu seru dan rame anak-anaknya #obsesi ga kesampaian karena telat daftar di kampus# Soal chapter-chapter Absurdities yang hilang, saya udah bikin progress kok. Meski ga cepet, tetapi at least udah ada perkembangan :D

Dan Absurdities siap menggoyang seantero FHI!

Mohon dukungannya v_v


Pojok review. Monggo~

UKNes-nya banyakin plis / Tiap chapter pasti ada proporsi pairing sendiri-sendiri kok. Saya pengennya biar rata, antara UKNes, SpaiNes, dan RomaNes. Pemerataan itu lebih bagus daripada pertumbuhan #jiah #co-pas omongan dosen / RomaNesnya unyu sekali / Iya dong. Yang nulis aja unyu gilak giniii... #dor #mati / Diksinya bagus, penulisannya rapih / Terimakasih atas pujiannya :D Ah, masak sih? Fic absurd bin abal-abal-ababil gini.. #sok-sok malu #tsun-tsun dere-dere / Aku lebih dapet feel UKNes. Kangen ama debatnya Arthur dengan Nesia / Tunggu penampilan dua sejoli itu di chapter-chapter depan ya :* / Kamu gila ya, udah ampe chapter 19 ngetiknya / Iya, saya gilak BD dan saya makin gilak ketika chapter-chapter gilak yang sudah saya buat dengan begitu gilak itu kini menghilang gilak gegara virus gilak #makin gilak / Aku mau PruNes! / Kayaknya di atas ada spoiler chapter depan tuh :D / SpaNes kesannya unyu kalem gimana gitu / Ah iya. Ide awal saya bikin SpaiNes karena alasan itu juga sih / Data ilang? Tabah ya / Hikzu.. Hikzu.. eaw Qaqaaa. Muuchy. Tapi saya udah bikin progress kok :) Terimakasih ya / Masih berharap adanya PruHun... / Um... / Apa Spain Nesia Roma sekelas? / Narasi awal chapter ini udah jelas kan? :* / Adegan Spain tidur di pundak Nesia itu bikin fangirling / Kyaaaa! #teriak ala cewek dapetin cowok mesum di toilet cewek / Roma itu punya side job jadi copetkah? / Wakakakak! Kenapa Romano jadi dapet stereotype maling lah, pencopet lah, pembobol lah, pencuri lah #lihat Lovi yang makin terpuruk / banyak kata yang 'melengket' / Iya, itu karena ada yang error di komputer saya. Gak tahu kenapa #gaptek / Nesia-Carriedo? Maksudnya, Nesia-Antonio? / Ah iya -_- #contoh orang males reread sebelum publish / Hangat AC? Bukannya heater ya? / Setahuku AC bisa diatur suhunya, kan? :0 / ALL HAIL SPAINES! / Yeah! ALL HAIL ME! #oi, salah oi / Suka juga ama LiechNes! / Darimana kamu dapat hint absurd kayak gitu? Padahal saya ga niat bikin yuri loh / Jurit malamnya kurang seru / Iya, itu berdasar pada pengalaman saya sendiri pas ospek maba kemarin. Bukan jurit malam sih, lebih kayak penjelajahan malam hari aja #apa bedanya / Aku suka sama hint VashNes disini / Iya :D #ketahuan bingung respon apa / Interaksi pairingnya imut-imut dan bikin mupeng / A-HA-HAAA~ #muter-muter ala Taki di fandom AmeFuto / Jadi pendukung RomaNes gegara fic ini / Asekasek / Pengen bikin doujinnya adegan bus itu / Boleh :D Jangan lupa copyright-nya ya #plak / Kalkulasi waktu pas jelajah malam agak kurang tepat / #ratapi nilai matematika / Arthur manaaaa?/Dikit banget nongolnya/Need moar Arthur!/Tumben banget Arthur ga adaaaaa / Sabar ya, Ibuk-Ibuk, Bapak-Bapak. Mohon antri. Nanti pasti ada kok, Kang Arthurnya. Mohon dikasih kesempatan eksis buat Kang Supain dan Kang Romano, ya. Ibuk-Ibuk cantik beudh dan Bapak-Bapak macho gilak dweh :D

#ngos-ngosan bales review #tepar


Mohon repiu~ Ayo, yang saya Nesia? Yang saya Arthur? Yang sayang Lovino? Yang sayang Antonio? Yang sayang dance in storm? #dilempar panah dart

Mohon dukungannya biar saya bisa cepet ngetik chapter-chapter yang ilang, biar Absurdities cepet update, biar cepet tamat, dan saya biar cepet bikin fic baru lagi :D

Repiu ya. Kamu cantik/ganteng banget deh. Keren lah pokoknya. Artis Hollywood mah lewat~

#obral gombalan#

Oh ya, bagi yang belum polling, silahkan polling ya, Kakak :*


Thank you so much.

From FHI with love,

Salam ciyus miapa

dis