dance in storm (orang yang terlanjur terlahir kece) ini kembali ke hadapan Anda :D #pembukaan ga penting macam apa ini# Sebelum baca lebih jauh, baca warning, ya :D Kalau masih protes soal OOC, absurd, gaje, dan lain-lain, entar saya cium lho :D *pembaca langsung nurut


Kesepuluh jemari itu menari lincah di atas tuts keyboard. Sebuah laptop berwarna putih dengan merk yang cukup ternama, terpampang di hadapannya. Layarnya menampilkan satu window Microsoft Word yang lembarnya sedikit demi sedikit terisi oleh barisan kata yang ter-input sebagai hasil dari ketikan jemarinya. Sesekali mata berwarna hitam kecoklatan itu melirik cepat antara layar, keyboard, dan sebuah buku teks yang tergeletak di samping benda elektronik tersebut. Ujung bibir bawahnya tergigit pelan olehnya, menambahkan kesan keseriusan dari ekspresinya.

Iya. Serius. Sangat serius, karena ia merasa cukup mendapat detensi pada pelajaran Biologi minggu lalu dan berakhir dengan dirinya yang harus membersihkan seluruh toilet yang berada di gedung Barat dari kompleks gedung A. Well, salah siapa? Minggu lalu memang Klub Radio memiliki banyak sekali jadwal rapat internal untuk agenda ini dan agenda itu. Fisiknya kan tidak memiliki stamina kuda. Jadi, jelas dan wajar saja jika dia lelah.

Dan wajar juga, kan, kalau dia lupa pada tugas utamanya sebagai seorang pengenyam pendidikan, yakni mengerjakan PR? Uh.

Dan sungguh, itu sangat melelahkan!

Oleh karena itu, hari ini ia tidak mau kecolongan lagi. Guru Biologi sudah mencatat namanya dalam black list miliknya. Ia tidak mau jika ia benar-benar dikeluarkan sama sekali dari pelajaran mengenai makhluk hidup tersebut.

Saking seriusnya gadis itu dalam mengerjakan apa yang tengah dikerjakannya, ia tidak menyadari sepasang mata beriris biru cerah tengah mengamatinya.

"Makanya, kalau ada tugas itu dikerjakan di rumah," Francis Bonnefoy mendecak kecil ketika suaranya sama sekali tidak berefek apapun pada gadis di depannya, "Cari perkara, sih."

"Diamlah, Senior," Francis mendengar lawan bicara menggeram kecil tanpa menoleh padanya, atau menghentikan sebentar kegiatannya, "Aku hanya punya waktu sampai periode istirahat ini selesai untuk menyelamatkan nyawaku dari Bu Evelyn (1). Itupun aku harus mencetak tugas ini terlebih dahulu."

"Hei, tapi kau sedang siaran, lho," Francis menunjuk-nunjuk headphone siaran yang terletak di samping laptop gadis itu, "Buruan. Lagunya mau selesai tuh. Kau harus bicara lagi."

"Iya-iya," geramnya lirih dan sedikit menggerutu, "Lagian kenapa, sih, tumben sekali Senior sedikit bitchy begini?" menoleh, ia mengeluarkan seringai kecil di bibirnya, "Gagal dapetin cowok baru, ya~?"

Francis melototkan kedua matanya serta berpura-pura memasang ekspresi garang pada juniornya yang terkikik geli di depannya, "Kau ini–," ekspresi Francis tiba-tiba tampak terkejut; seolah menyadari sesuatu. Sembari menunjuk headphone yang terletak di meja di depan gadis itu, pemuda berambut pirang ikal itu berteriak sedikit heboh, "Lagunya! Lagunya!"

"Hah?"

Mendecak kecil, Francis mengusap wajah sabar, lalu kembali berteriak, "Annesia Saraswati! Lagunya sudah habis dan kau cepatlah kembali siaran, bodoooooooohhhh!"


Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.

Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.

Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedar hints dan fans service :p

Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D

Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D

Maju FHI!

Happy reading :D


"Yap! Satu lagu telah selesai diputerin, nih, sahabat H-Radio! Emang ya, lagu Someone Like You milik Adele ini sering banget di-request ulang dan ulang oleh para sahabat H-Radio. Lagunya enak, sih, ya~ meski sedikit ngenes juga karena musti ditinggal merit ama pacar. Haha. Oops. Tetapi para sahabat tidak boleh terus-terusan galau, nih, karena hidup itu indah~~ Haha, ga jelas banget ya, omonganku. Tetapi, anyways, bicara soal galau, seperti biasa, kalian bisa kirim-kirim unek-unek galau kalian. Eh, ga hanya unek-unek galau, ding. Yang hepi, yang mellow, yang absurd juga boleh deh dikirim. Annesia akan bacain dan kasih sedikit pesan, kesan, dan saran –haha, udah kayak Ibu-Ibu aja aku– yang semoga saja, bisa berguna bagi kalian listeners. Kalau sarannya ga berguna, yaaaa anggap aja kalian udah beramal dengan ngirim surat dan ngebuat penyiar H-Radio tidak menganggur. Ahahaha."

Nesia melirik sebentar pada Francis dan melihat Seniornya yang berkelas dua tingkat di atasnya itu mengedipkan sebelah mata dan mengacungkan jempolnya.

Tersenyum lebar kepada seniornya yang berambut pirang itu, gadis itu kembali memfokuskan diri pada beberapa lembar surat yang ada di meja siaran di depannya.

"Yap! Sesi puter dan request lagu diakhiri dulu, yaaa. Sekarang giliran sesiiiii…. Tereng teng teng tereeeengggg…."

Francis tertawa pelan melihat Nesia mengucapkankannya dengan gerak-gerik tangan seolah ia adalah dirigen dari sebuah simfoni orkestra. Dalam benaknya, Francis berpikir, kemanakah kebingungan dan kekhawatiran gadis itu terhadap tugas-tugas Biologinya?

Apa sudah selesai sehingga ia bisa berjingkrak-jingkrak ria begitu?

"CURHAT! Iyay!" mengacungkan ke depan kedua jarinya yang membentuk tanda peace, seolah para listeners mampu melihat tindakannya, "Ini nih yang paling kusuka dari tugas siaranku…," Nesia mengambil satu buah surat dari beberapa tumpukan surat yang ada di depan mejanya, "Seperti biasa, yang akan kubacain hanya tiga dari semua surat yang ada. Dua surat yang dikirim lewat kotak surat H-Radio, dan satu surat yang dikirim via e-mail. Sedangkan para sahabat yang udah kirim surat dan suratnya tidak kubacain, tenaaangg.. jangan lempar kompor dulu. Surat kalian bisa dibacain di siaran selanjutnya, kok. Mungkin dibacain oleh Senior Francis, Senior Tiino, atau Mei. Jadi, jangan putus asa, yaa."

Membuka surat pertama yang dipilihnya, Nesia berucap, "Pertama-tama, sahabat. Ini ada surat dari… Ah! Senior Gilbert!"

Mendengar nama sahabat sejati dan seumur hidupnya disebut, Francis menaikkan sebelah alisnya.

'Ngapain tuh cowok selempangan ngirim surat begini? Tumben sekali' batin Nesia dan Francis yang kebetulan banget, kompak sekali.

Mengendikkan bahu acuh, Nesia kembali berucap, "Untuk mempersingkat waktu, jadi langsung saja dibacain ya, sahabat. Gini nih, Senior Gilbert nulisnya," Nesia berdehem. Tanpa gadis itu sadari, Francis memasang wajah sangat penasaran terhadap apa yang ada dikertas surat yang dipegang Nesia.

"Nesia, Nesia. Aku mau tanya sesuatu sama kamu. Pie apa yang paling indah dan paliiiiiinggg awesome? Jawab dulu ya, sebelum baca tulisan selanjutnya," ujar Nesia sembari menatap tulisan tangan di kertas putih itu.

Di sofa sana, Francis merasa semakin penasaran. Bukan penasaran akan jawaban atas pertanyaan di surat Gilbert, tetapi penasaran mengapa sahabatnya harus menulis pertanyaan tidak penting dan absurd itu.

"Um…," Nesia melirik ke atas sembari membenarkan posisi mikropon di headphone yang tengah dipakainya, "Apa ya? Pertanyaannya kayaknya susah nih. Kutebak saja ya… pie yang paling awesome, ya? Pie ceri? Pie dengan sirup daun maple? Pie apel? Pie… pie ukuran jumbo di ulang tahun yang ke tujuh belas yang dirayakan di Hotel Hilton?"

Francis menatap Nesia dengan sweat dropped.

Nesia mengendikkan bahu, lalu kembali menatap surat di tangannya, "Berhubung kita tidak bisa mengetahui apa jawabannya tanpa membaca lanjutan surat Senior Gilbert –lagipula aku juga tidak mau menebak-nebak terus, maka kita akan baca kelanjutannya, sahabat," kedua mata Nesia menelusuri deret kalimat yang terletak agak di bawah di kertas surat yang dipegangnya, "Pie apa yang paling indah dan paliiiinggg awesome? Jawabannya adalah pie love you so awesomely much, Annesiaaa~~."

Krik.

Francis seolah mendengar jangkrik di siang bolong.

Pemuda dengan rambut terkuncir longgar itu menghela napas berat. Seharusnya ia bisa menduga bahwa Gilbert dan absurd itu adalah dua kata yang tidak bisa dipisahkan.

Rayuan macam apa itu…

Tunggu, Gilbert tahu kan, kalau suratnya ini akan dipublikasikan lewat siaran begini? Francis hanya menyinyirkan bibirnya sembari bergumam, "Pasti justru karena dipublikasikan itulah dia mengirim surat. Seperti orang itu tidak suka membuat kehebohan agar menjadi tenar saja."

Sedangkan Nesia hanya tersenyum miring sembari masih menatap enam kata yang ditulis tebal-tebal oleh Gilbert, Seniornya yang berada dua tingkat di atasnya. Tapi gadis itu segera menyingkirkan keterkejutan dan keanehannya dan menganggap bahwa ini semua hanya becandaan dan ulah Senior Gilbert saja untuk mendapat perhatian pendengar H-Radio.

Tak usah dipikirkan.

"Waaaa~~ sangat manis sekali," ujar Annesia dengan nada ceria, "Aku sangat tersanjung. Dan aku juga yakin bahwa para pendengar H-Radio yang perempuan juga pasti akan melambung demi mendengar kata-kata awesome-mu barusan, Senior! Haha. Dan semoga tidak ada yang merasa terganggu, ya?" Nesia tertawa kecil. Lalu ia mengoperasikan komputer Klub yang ada di meja siarannya, "Nah. Surat dari Senior Gilbert sudah selesai dengan sangat manisnya. Sekarang giliran surat yang dikirim lewat e-mail," Nesia meneliti beberapa surat yang masuk ke email klub, lalu bergumam, "Berhubung yang dibacain cuma satu, aku jadi suka bingung mau pilih yang mana…. Nah, ini aja. Nama e-mail-nya unik, sih. Sahabat, ini ada satu email dari email IhateUSAsoMuchThatItHurts(a)yahoo dot co dot us. Ahahahah," Nesia tertawa, namun sedetik kemudian tatapan beserta bibirnya nyinyir seketika, "Kau ini sedang berada di sekolah milik pemerintah Federal Amerika, Tuan," gumamnya.

Dan Francis yang masih anteng di sofa sana merasa bisa menebak siapa pemilik nama email yang panjang banget itu.

"Nama pengirimnya adalah Pedro A (2)."

'Sudah kuduga' batin Francis yang seketika mampu membayangkan ekspresi berang pemuda asal Kuba yang mengacungkan jari tengah pada bendera Amerika yang berkibar di lapangan sekolah.

"Isinya adalah, Kapan Kepala Sekolah Hetalia High diganti? Kepala sekolah yang sekarang sudah dua kali periode jabatan. Apa akan ketiga kali juga? Apa Hetalia High semacam korporasi monopolistik?" Nesia memicingkan matanya menatap layar dan membaca ulang kata demi kata.

'A–aduh, masalah kelembagaan lagi. Ck. Males banget. Kenapa pas bukan Senior Tiino saja sih, yang baca. Dia pasti lebih jago urusan kebijakan-kebijakan publik sekolah seperti ini,' dumal Nesia sebal. Merasa galau antara menanggapi positif atau negatif. Juga, positif atau negatif terhadap siapa? Pedro atau pihak sekolah?

Argh! Lagipula mana Nesia tahu. Dia kan baru sebulan lebih menjadi murid di sini.

"Errr…," Nesia melirik ke arah sofa. Ia berekspektasi melihat Francis di sana dan berharap Kakak kelasnya itu bersedia memberinya isyarat jawaban.

Dan ternyata sofa itu telah kosong.

Sialan si jenggot itu!

Menengguk ludah, "A–ah, sepertinya bahasan kali ini lebih berbobot ya. Jauh lebih berbobot dari surat sebelumnya. Ahahaha," Nesia ber-aduh ria tanpa suara. Dalam hati ia merutuki Pedro siapalah itu yang membuatnya terdengar bego seperti ini, "Um… M–menurutku, Kepala Sekolah belum diganti karena… k–karena memang dia terpilih kembali menjadi kepala sekolah oleh Dewan Komite Hetalia High! Pasti D–Dewan Komite punya pertimbangan dan kebijakan sendiri, kan? Dan…"

Dan Nesia masih mendengar dirinya sendiri mengoceh ngalor-ngidul; menjelaskan opini dan pengetahuannya sendiri seputar topik yang diajukan oleh Pedro A. itu. Selama beberapa saat, otaknya sibuk brain storming ria untuk menanggapi pertanyaan sekaligus pernyataan jenius dan politis mendewa dari Pedro itu.

"Dan seperti itulah kira-kira! Hahaha," Nesia tertawa garing sembari mengusap pelan keringat di dahinya. Sial, ini dia sedang siaran atau lomba pidato politik.

Setelah mengucapkan beberapa kata dan ucapan terimakasih pada Pedro, Nesia mengambil sebuah surat lagi dari meja siarannya. Saat membukanya, Nesia memohon agar pengirim surat ini bukanlah tipe orang yang kelewat peka terhadap kondisi sekitar seperti Pedro tadi.

"Dan terakhir, sahabat. Ini ada surat yang dikirim oleh…," Nesia menelusuri tiap kata di kertas itu. Dari atas ke bawah, dari kiri ke kanan. Lalu membolak-balik halamannya, "…Sepertinya dari anonim…," katanya pelan, "Baiklah, tak apa, kan, Sahabat? Pasti si pengirim surat ini merasa malu atau segan atau amnesia. Atau kehabisan tinta bolpoin saat hendak menulis namanya? Hahaha. Yang penting kan isi suratnya, kan?"

Dan Nesia mulai membacanya.

"Kepada penyiar H-Radio yang terhormat. Terimakasih sebelumnya kau telah memilih suratku untuk kau bacakan. Aku hanya ingin kau membacakan tulisan di surat ini. Tidak usah mengomentarinya karena hal itu tidak perlu. Aku hanya ingin agar dia mengetahui –setidaknya, berpikir bahwa dirinya mengetahui.

Untuk seseorang. Hari ini aku melihatmu. Tertawa bersama temanmu. Bercanda. Kemarin aku melihatmu pula. Tersenyum, menampakkan wajah bahagia. Dua hari yang lalu aku sempat melihat rautmu berduka dan saat kutanya kenapa, kau tersenyum dan mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Tiga hari yang lalu aku melihatmu pula. Empat hari yang lalu. Seminggu yang lalu. Sebulan yang lalu. Setahun lalu…

Dan lama.

Lama. Lama sekali aku melihatmu.

Aku selalu melihatmu.

Aku. Selalu. Melihatmu.

Selalu.

Kemarin. Hari ini. Dan esok.

Dan selamanya selama kedua mata ini masih mampu melihat indahnya dunia."

Nesia terdiam sejenak. Pandangannya masih mengarah pada kata terakhir yang tertulis di surat itu.

Penggemar rahasia? Atau stalker psikopat? Habisnya, ngeri juga jika mengetahui ada seseorang yang selalu mengamatimu seperti itu.

Tetapi, siapa dan untuk siapa?

''Aku. Selalu. Melihatmu'? Mengerikan…' batin Nesia bergidik, 'Ini surat cinta atau surat ancaman, sih?'

Sekalipun demikian, tetap saja, untaian kata-katanya manis sekali….

Tersenyum kecil, Nesia memasukkan kembali kertas itu pada amplop surat, lalu menyimpannya ke laci meja siaran tempat para penyiar menyimpan surat-surat yang sudah dibaca.

"Nah, Sahabat. Berhubung si pengirim tidak mau aku untuk berkomentar, maka kita sudahi saja langsung sesi curhat ini ya~ Tetapi sebelum aku tutup siaran H-Radio di hari ini, aku akan membacakan pengumuman penting yang dititipkan oleh Dewan Komite kepada kami, Klub Siaran," Nesia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.

Pikirannya kembali pada saat Tiino menyerahkan kertas ini kepadanya kemarin.

Dan seingat Nesia, ia belum membukanya sama sekali.

Mengeluarkan dan membuka kertas yang terlipat rapi dan dimasukkan dalam amplop surat resmi Hetalia High, Nesia langsung mengarahkan pandangannya ke bagian bawah halaman surat.

Benar saja. Dia menemukan tanda tangan Kepala Sekolah berikut dengan Ketua Komite, lengkap dengan stempel Hetalia High.

Pengumuman resmi dan penting pastinya.

"Ini ada pesan dari pihak Sekolah, Sahabat. Mengenai…," pandangannya kembali ke bagian atas surat, "Kompetisi Debat Nasional Setingkat SMA."

-oOo-

Debat Nasional Tingkat High School Amerika Serikat

Waktu: Agustus 2011 – Maret 2012

Tema: Penghilangan Kemiskinan, Apakah Mungkin?

Peserta: Kelompok perwakilan sekolah SMA di Amerika Serikat.

Hadiah: Uang Tunai, Beasiswa hingga S1 ke Universitas di Amerika Serikat, Beasiswa mengikuti Summer Course internasional 2012 di Universitas Oxford, Sertifikat

Alur Pendaftaran: Bentuk kelompok terdiri dari 3 orang dan daftarkan kelompokmu ke Dewan Akademik Sekolah

Deadline pendaftaran: 14 April 2011

Begitulah kira-kira rincian singkat di kertas pengumuman kompetisi yang tadi disiarkan oleh Annesia melalui H-Radio. Dan ternyata, pengumuman kompetisi itu juga disebarluaskan oleh Klub Majalah dan Klub Koran Sekolah. Kalimat persisnya Nesia tidak tahu dan tidak hapal. Yang jelas, ia hanya mengingat inti dan pokok-pokok pengumuman kompetisi seperti yang tengah diulasnya di otaknya kini.

Dan jujur, kompetisi ini sangat menarik.

Mengikuti kompetisi sekolah memang bukanlah hal baru bagi gadis berdarah Indonesia tersebut. Pada masa SMP, dia sering menjadi perwakilan sekolah dalam lomba dan kompetisi semacam ini; baik di tingkat kota, provinsi, atau nasional seperti sekarang.

Tetapi untuk hadiah sih… belum pernah sekeren gila ini!

Dan ini juga bisa menjadi langkah awal baginya untuk memulai aktif dalam mengikuti kompetisi di masa SMA, kan?

"Hm, menarik sih, Nesia," ucapan Antonio Carriedo barusan membuat kedua mata Nesia semakin bercling-cling ria. Senyum 'ngarep' tampak jelas di bibirnya yang menampilkan deretan giginya yang rata.

Antonio mengalihkan tatapannya dari kertas pengumuman kompetisi yang dipegangnya (yang tadi disodorkan Nesia), lalu menatap Nesia, "Tetapi kebetulan sekali Klub Musik juga akan mengikuti kompetisi menjelang perayaan hari kemerdekaan Amerika," Antonio memasang senyum penyesalan ke Nesia yang langsung anjlok semangatnya barusan, "Jadi… Yah…"

Nesia tersenyum maklum. Tetapi pandangan matanya jelas menunjukkan bahwa hatinya tengah kecewa.

Uh. Padahal sudah berharap banget bisa ikut kompetisi bareng Antonio. Pasti asyik, kan, jika mereka bisa dapet tiket liburan bersama –uh!

"Tak apa," Nesia tertawa sembari mengibaskan sebelah telapak tangannya, "Aku masih bisa meminta yang lain untuk bergabung ikut kompetisi ini denganku, kok. Jadi…," Nesia mengepalkan sebelah telapak tangannya di depan dadanya, "Kita berjuang bersama-sama, ya, untuk kompetisi masing-masing!"

Dan tindakan Nesia diikuti Antonio, lengkap dengan tawa riangnya, "Ya. Tentu!"

-oOo-

"Aku tidak tertarik untuk mengikutinya."

"Hah? Kenapa? Kau bahkan belum melihat kertas pengumuman kompetisinya!" protes Nesia sembari semakin menyodorkan kertas di tangannya, ke depan Lovino Vargas yang tengah duduk santai bersandar di sofa, di ruang tengah apartemen Lovino.

"Untuk apa? Aku bahkan sudah hapal," Lovino mendengus sembari menekan remot TV dan memindah channel acara, "Kertas sialan itu ada dimana-mana mataku memandang."

Sedikit memanyunkan bibirnya, Nesia menatap heran ke arah Lovino yang terduduk di sebelahnya, "Itu bukan alasan. Masak kau tidak mau ikut hanya karena kertas ini menganggu pemandanganmu?"

"Aku hanya malas. Pasti repot sekali," gumam Lovino tanpa mengalihkan perhatian dari layar kaca.

"Malas? Bagaimana bisa?" Nesia menatap tak percaya ke Lovino, "Ini sangat menarik, lho. Prestisius sekali, Lovino!"

"Aku tidak butuh uang, tidak butuh beasiswa dan tidak butuh kuliah, tidak berminat sama sekali dengan Summer Course –apalagi di Inggris! Dan cukup mampu untuk pergi liburan kemanapun dengan biayaku sendiri. Dan apa? Sertifikat?" Lovino menoleh dan memberi Nesia senyum miring, "Jangan. Be-can-da."

Nesia hanya mampu mendecakkan pelan lidahnya.

"Belagu."

-oOo-

Lily Zwingli adalah harapan satu-satunya dan terakhir bagi Nesia.

Tenggat waktu pendaftaran ke Dewan Akademik Sekolah sudah sangat dekat. Tetapi sampai sekarang satu-satunya hambatan bagi Nesia untuk bisa bernapas lega dan terus melangkah hanyalah jumlah anggota!

Bagaimana bisa ia bahkan lolos seleksi administrasi jika kelompok saja tidak punya? Uh.

Semua yang ia kenal sudah ia tanyai akan berita kompetisi dan tawari kerjasama dengannya. Segala cara sudah ia lakukan untuk membujuk mereka; dari penggunaan ucapan sopan hingga tata krama yang, mungkin, bisa disejajarkan dengan keluarga Zwingli. Dari bahasa dan etika yang bagus hingga traktir makan di kantin. Dari memuji kemampuan dan bakat debat lawan bicara (meskipun terkadang Nesia terpaksa berbohong) hingga menawarkan perjanjian persentase pembagian hadiah jika mereka menang nantinya.

Namun usahanya tersebut bagaikan penawaran kerjasama dagang es krim di Antartika.

Antonio yang sedang dalam menjalani persiapan kompetisi musik, juga Lovino yang… hhh… malas dan terlanjur terlahir menjadi pemuda terlalu kaya untuk membutuhkan hadiah-hadiah yang menurutnya murahan itu! Lalu juga Senior Tiino yang meminta maaf tidak bisa membantu karena disibukkan oleh kegiatan siarannya sebagai presenter berita di sebuah televisi swasta, bahkan juga Senior Francis yang bilang,

"Hm… Jujur saja, aku sudah terlalu tua untuk urusan seperti ini. Sebentar lagi… sebentar lagi aku akan sibuk ujian akhir," sembari mengelus-elus brewok tipis di sekitar rahangnya, dan memasang ekspresi sok bijak yang membuat Nesia muntah dalam hati, "Hm… Bagaimana kalau kamu minta bantuan Tiino saja? Aha!"

Dan Nesia harus kembali ke kelas dengan tertunduk lesu.

Jadi, kali ini Nesia duduk di kursi di depan bangku Lily sembari dalam hati mengucapkan semua doa yang ia hapal, agar sahabatnya itu mengangguk dan mengakhiri penderitaannya untuk mencari sisa anggota secara sendirian.

"Aku tertarik dengan kompetisi ini. Tetapi…"

Nesia sudah lemes parah. Dimana-mana kata 'tetapi' itu selalu mengindikasikan kontradiksi, kan?

Sepertinya dugaan Nesia terbukti ketika Lily menatapnya dengan pandangan penuh rasa bersalah, "T–tetapi kau terlambat. Aku sudah diajak Vash dan Roderich. B–baru kemarin kami mendaftar."

Ah, Vash dan Roderich, ya… Dasar tidak adil. Kenapa kelompok mereka semuanya terdiri dari anggota keluarga sendiri?

Oligopoli, hei?!

"Maafmaafmaafmaafmaaf!" Lily memejamkan mata erat sembari menangkupkan tangan di depan dada.

Nesia tertawa dan mengibas-kibaskan kedua telapak tangannya dengan panik, "T–tidak apa-apa. Hei, kau kenapa begitu? Ini salahku karena tidak buru-buru meminta kerjasamamu. Aku hanya kalah cepat dengan saudara-saudaramu, kan?"

Lily membuka matanya dan memberi Nesia sorot penyesalan, "Aku tidak menawarimu karena ku–kupikir kau akan lebih bergabung dengan Antonio dan Lovino. Kalian kan bersahabat dekat sekali."

Nesia hanya tersenyum miring dan garing.

-oOo-

Memamerkan ringisannya selebar mungkin, Nesia memandang dengan ekspresi tanpa dosa kepada seorang guru di Kantor Akademik, yang balas menatapnya secara tajam di balik lensa kaca matanya.

Bola mata berwarna biru cerah itu seolah membekukan hati dan seluruh syaraf Nesia. Pandangannya itu lho, menusuk tajam sekali… Tak heran jika kantor Akademik menjadi seperti kuburan angker bagi sebagian besar murid. Orang kuntilanaknya anteng terus di dalem sini.

"Apa-apaan ini?" map berkas pendaftaran itu tertaruh kembali dengan sedikit kasar di meja di depan Nesia, "Beraninya kau mendaftar bahkan tanpa kelompok?"

Nesia menelan ludahnya dengan susah. Kalimat pedas dari Madame Jeanne barusan, sungguh, membuatnya langsung merasa sebagai pendosa besar yang siap digantung di tiang hukuman.

"Ta–tapi–."

"Kau berniat mengikuti kompetisi debat dengan suaramu yang tergagap begitu?"

Uh!

"Tetapi saya ingin mengikuti kompetisi ini. Saya… Saya hanya tidak bisa menemukan anggota kelompok–."

"Maka menyerahlah," ujar Madame Jeanne tegas sembari menatap langsung ke kedua bola mata Nesia, "Sudah jelas 'kan, kau bahkan tidak akan lolos seleksi administrasi."

"Tidak adakah sebuah cara? Apa aku tidak bisa mengikuti kompetisi ini hanya karena tidak ada kelompok?" Nesia memasang puppy eyes yang ia harap, mampu sedikit menjinakkan hati guru muda di depannya itu.

"Menyerahlah."

Ternyata tidak mempan.

Kepala Nesia langsung menunduk lesu; seolah lehernya digantungi barbel seberat satu ton. Menghela napas berat, ia merasa bahwa semua sudah tidak ada gunanya lagi.

Kenapa tidak adil sekali. Kenapa tidak ada satu orang pun yang bisa mengikuti kompetisi ini bersamanya.

"Kau bisa mengikuti kompetisi ini."

Nesia mendengar suara berat khas laki-laki. Tetapi ia masih sibuk meratapi nasibnya yang nelangsa, untuk mau mengangkat kepala dan menoleh ke sumber suara. Lagipula, kalimat barusan pasti diperuntukkan bagi orang lain, bukan untuk Nesia yang jelas-jelas akan terdepak bahkan di seleksi administrasi.

"Hei, kau, gadis berkuncir kuda dan sedang menunduk galau."

Nesia merasakan bahwa kalimat barusan sangat mampu mendeskripsikan dengan jelas dirinya. Oleh sebab itu, ia mengangkat kembali kepalanya.

Dan kedua matanya langsung berhadapan dengan kedua mata hitam yang balas menatapnya dengan sebuah senyum kecil di bibir.

Pak Gupta (3)?

"…Kau bicara padaku?" tanya Nesia ragu.

"Apakah ada orang lain yang sedang kutatap selain dirimu?" tanya Pak Gupta sembari menatap Nesia dengan geli.

Menoleh ke sekitar, Nesia mendapati bahwa hanya dirinyalah satu-satunya manusia yang ada di hadapan Pak Gupta. Beberapa guru dan karyawan juga ada di kantor tersebut, beserta beberapa murid yang mengurusi urusan akademik masing-masing.

Menatap kembali ke Pak Gupta, Nesia menggelengkan kepalanya pelan.

"Tentu saja, karena aku bicara padamu bahwa kau masih bisa mengikuti kompetisi ini," ujar Pak Gupta sembari tersenyum kecil.

Yang kontan, ketika kalimat itu menembus gendang telinga Nesia dan menyentuh sensor di otaknya, membuat gadis itu tersenyum lebar dan merasa energinya kembali prima.

Ia menatap Pak Gupta dengan pandangan seolah-olah seorang Dewa turun dari khayangan dan berdiri di depannya.

"Benarkah?" tanya Nesia semangat.

"Tidak benar."

Pandangan Nesia mengarah pada Madame Jeanne. Begitu melihat ekspresi garang dan pelototan Madame terhadap Pak Gupta, senyum ratusan watt Nesia padam seketika.

"Pak Gupta, Anda sudah jelas tahu peraturan kompetisi ini, bukan?" Madame Jeanne bertanya dengan nada kesal, "Sudah jelas-jelas gadis ini tidak memiliki kelompok sehingga tidak mungkin lolos seleksi administrasi!"

Pak Gupta, alih-alih merespon bantahan Madame, kembali menghadap Nesia dan langsung mengambil kembali map berisi berkas-berkas pendaftaran yang tadi tertaruh kembali di meja di depan Nesia.

"Kita harus mendukung niat dan usaha positif dari para murid, Madame," ujar Pak Gupta kepada Madame Jeanne yang mendengus merespon ucapannya, "Kita terima saja dulu. Lolos tidaknya kan, urusan nanti."

"Urusan nanti?" Madame Jeanne menatap tak percaya kepada Pak Gupta, "Sekarangpun sudah jelas bahwa dia tidak akan–."

"Kau tahu, Nak?" Pak Gupta melirik Nesia, lalu mengerling kepadanya, "Karena kau bukanlah satu-satunya pendaftar yang ngotot mengikuti kompetisi ini, sekalipun tidak memenuhi syarat administrasi."

-oOo-

Nyaris kehabisan napas Nesia saat ia memberhentikan langkah kakinya di depan pintu berdaun dua berwarna putih pucat itu. Tidak segera membuka pintu, gadis itu terlebih dulu berdiri bersangga lutut. Napasnya terhembus dan terhela cepat-cepat bersama dengan beberapa titik keringat yang muncul di wajahnya.

"Besok, sepulang sekolah, kau datang saja ke ruang seminar di kompleks gedung C. Akan diadakan pertemuan pertama dan pengarahan awal untuk membahas persiapan kompetisi."

Mengingat kembali ucapan Pak Gupta kemarin, Nesia berkali-kali masih merutuki keputusan Pak Gupta –atau siapapun panitia atau komite kompetisi yang memutuskan pertemuan di gedung ini. Bukannya apa, hanya saja jaraknya itu lho. Kompleks gedung A yang notabene tempat murid kelas 1, termasuk Nesia, belajar, kan jaraknya cukup jauh dengan kompleks gedung C…

Belum lagi tadi Guru Matematika Nesia memutuskan untuk menunda waktu pulang beberapa menit lagi. Menjadikan Nesia tak hanya terburu-buru keluar kelas begitu pelajaran selesai, tetapi ia juga tidak sempat membalas teriakan Lovino yang menanyakan kemana dirinya akan pergi.

Ah, biar saja. Nanti Nesia akan mengirimi pemuda itu pesan bahwa ia hari ini tidak bisa pulang bersama. Biar saja Lovino pulang bersama Antonio saja….

Setelah mengucapkan doa bahwa semoga saja ia tidak terlambat –meskipun jam di tangannya sudah dengan jelas seolah meneriakinya bahwa ia telat lima belas menit dari jadwal, gadis itu menelan ludah.

Lalu membuka satu dari dua daun pintu itu dan melongokkan kepalanya ke dalam.

Dan otomatis, ia mampu melihat bahwa di dalam ruangan itu sudah terduduk banyak murid di kursi-kursi ruangan, lengkap dengan Madame Jeanne yang terduduk di depan dan langsung memelototinya.

Uh. Nesia kira Pak Gupta yang akan datang…

Nesia merasa bahwa ia déjà vu dengan semua ini. Kenapa ia sering kali menjadi pusat perhatian untuk sebab yang sangat tidak begitu membanggakan? Seperti saat MOS dulu…

Keringat akibat lelah di dahinya langsung berganti menjadi keringat dingin akibat gugup. Begitu banyak mata yang seolah menusuk-nusuk Nesia dengan pandangan intens mereka.

Menelan ludah dengan cukup sulitnya, gadis itu melangkah masuk dan menutup pintu dengan pelan. Lalu ia berbalik dan meringis garing kepada semua orang yang ada di hadapannya, "Maaf, aku terlambat," sembari membungkukkan badan hingga ke sudut 90 derajat, "Aku tadi ada pelajaran tambahan–."

"Kenapa sih, kau selalu melakukan hal yang membuat orang lain sebal dan kesal?"

Nesia yang masih membungkuk, belum mampu melihat siapa pemilik suara barusan. Ia pikir Madame Jeanne karena kalimatnya yang terdengar menusuk begitu. Tetapi ia ingat bahwa Madame adalah wanita tulen dan feminin abis. Sedangkan suara barusan itu terdengar cukup berat dan nge-bass untuk bisa dikategorikan suara cewek.

"Maaf," sembari memasang senyum penyesalan, Nesia menegakkan kembali tubuhnya dan menghadapkan wajahnya ke depan, "Aku sungguh tidak bermak–."

"Dari dulu kau hanya selalu meminta maaf setiap berbuat kesalahan," suara itu terdengar kembali.

Nesia menoleh ke sumber suara, dan bertemulah pandangannya dengan dua buah emerald yang balas menatapnya dengan pandangan yang sinisnya hanya mampu tertandingi oleh pandangan Madame Jeanne yang terdiam di depan ruangan sana.

"Hanya karena kau, kami tidak bisa memulai acara dan harus menunggumu selama lima belas menit. Kau pikir dirimu siapa? Ratu Inggris?"

Hanya satu yang terpikirkan otak Nesia ketika berhadapan dengan seorang pemuda yang terduduk di kursi di deret depan sana.

'Senior Arthur Kirkland?!'

-oOo-


(1) OC aja dah :D bingung karakter mana lagi yang pantes jadi guru #yeah, saya ga kreatip dan males mikir

(2) Ini Human Name Kuba :) Seingat saya belum ada yang IC, ya?

(3) Ini Mesir :D Udah saya edit nih :D #retarded

Tentu saja Madame Jeanne itu adalah Jeanne D'Arc :D


Next Chapter:

"Babak penyisihan ini hanya membutuhkan informasi dan pengetahuan kalian sendiri. Informasi dan pengetahuan yang benar-benar sudah kalian ketahui tanpa perlu melakukan persiapan tambahan. Artinya, hanya membutuhkan kemampuan dan pengetahuan asli yang kalian miliki."

.

"Langkahi dulu mayatku jika ingin keluar dari ruangan ini."

.

"Bagaimana kau pikir kami bisa lolos jika kami kehilangan anggota kelompok?! Asal kau tahu, jangan pikir aku bahagia bisa satu kelompok denganmu. Tetapi tidak sepertimu, aku menahan untuk menatap mukamu lebih lama demi kelancaran kompetisi! Dasar!"

.

"Aku ingin mengucapkan selamat pada Nesia."

.

"Lalu kenapa kau harus bersama Arthur Kirkland? Kukira kau sangat membenci orang brengsek itu."


My retarded blabbering~

Oh ya, saya sempet ketawa tetapi di saat yang sama sweat dropped parah ketika baca reviewer yang bilang bahwa "adegan dua pasang bola emerald yang terbuka trus ngelirik Nesia yang lagi tidur di chapter kemarin" itu memiliki suggestive meaning. Setelah saya pikir, "iya-ya? Bisa juga sih, itu artinya kayak Lovino dan Antonio kayak mau ngeraep Nesia, atau mau berate-M ria tanpa Nesia tahu" #dianya dudul#. Tetapi maksud saya itu mah jauh dari itu T.T Maksudnya saya hanya ingin bikin ending yang cliffhanger: "dari dua tomato bastardo itu, siapa diantara mereka yang nyelimuti Nesia hayooo", eh tapi cara saya nulisnya malah bikin arti dan maksud yang berbeda T.T Yah, gak papalah. Anggap aja itu teasing scene *dor


Pojok Review. Monggo~ (paling suka ngetik bagian ini nih #orang gemar ngegaje)

TiinoNesia~ Jadi makin bingung pilih yang mana. Mereka semua sangat manis sih / Ayo. Dipilih-dipilih. Pairing manis. Yang tsundere yang tsundere. Yang imut yang imut. Yang mesum yang mesum #oi, oi / Adegan ngegaje di malam minggu itu kayaknya seru. Pantes buat para jomblo… / #dirajam Republik Jomblo #angkat tangan / Tiino itu serius apa Cuma ngegodain Nesia? / Ciyuuuusssss… Miapaaaahh… #jiwa alay tersulut / Ada SpaBel kayaknya nih / Ahahaha :D / Itu yang selimuti Nesia Lovino, ya? Kalo iya, sumpah, dia gentle dan keren banget / Capa yaw.. :p / Banyakin RomaNes-nya dong. Kan pair manis / Iya, porsi RomaNes udah berjibun kan, Kakak~ :D/ Posisi tidurnya ga elit banget / Emang posisi tidur yang elit itu kayak gimana? :/ #mikir seserius mikirin problem negara / Apa Antonio punya fakta yang memalukan juga? / Banyak beudhz, jeung. Jeung aja yang ga tahu sumpah dweh… #ala ibuk2 rempong ngegosipin tetangga / Suka sifat Nesia disini. Imut-imut gimana gitu / Asikasik / Artie dikit banget nongolnya/kasian cuma numpang lewat kamera (ngakak parah saya waktu baca repiu ini)/UKNes chapter depan dong/Ga sabar pairing UKNes-nya/Gue vote buat Arthur/All Hail UKNesia/NEED MOAR ARTHUR/ #lari ke Antartika gegara takut didemo secara anarkis #sumpah, ini kayak demo aja #tendang Arthur si sumber petaka/ Adakah hint BerwaldNesia atau GermanicCountriesxNesia? / Kalau menunya banyak, ntar ga habis #copas salah seorang reviewer / Ada double threesome, ya? AntonioNesiaLovino dan ArthurNesiaGilbert? Kyaaaa! / Threesome itu apa ya, Kakak~ Aduh, Aku ga tahu nih… Ciyuuusss… #sok inosen #najong gilak / Lily bakal ama siapa? / Yang jelas bukan ama elo :p #awesomely slapped (?) / Fic ini bakalan panjang, ya? / Sepanjang jalan kenangan~ Kita slalu bergandeng tangan~ #ini review reply makin ga ngena/ Setting waktunya membingungkan / Ah iya. Saya juga ngerasa gitu #plak. Tetapi maksud saya, itu kayak flash forward gitu. Jadi emang pas sarapan itu hari senin, tapi kan selanjutnya itu ada deskrip-deskrip gitu, kan? Saya pengennya itu jadi kayak pengisi hari-hari selanjutnya (Selasa-Kamis) yang biasa-biasa aja (belajar, klub, ini, itu) hingga sampailah pada hari Jumat :D Bingung? Tidak! Oh iya, terimakasih #ini orang sarap / Nama Lovino di antara Nesia dan Antonio itu sesuatu banget / Hush! Ini fic straight, taooookkk #nyolot #ga nyante / Lovino muka sangar hati puding! / Dafuuuqqq… Ngakak baca repiu ini #ketawa guling2 sembari nunjuk2 muka Lopi / Spain ga related ama Portu, ya? / Enggak deh kayaknya :p / Saya suka Lovino yang cool / Ciyuuussss? / AustriaNesia please? / m-_-m / FinNes? Kalau kebanyakan menunya, entar ga habis dong / Itu hanyalah dessert, Chuyunkz #jadi alay kan gue. Main menunya tetep kok. Jadi pasti habis :D #ini ngomongin kuliner? / Jangan bikin Antonio 'melenceng' ya / Rest assured, bro #sok gaul / Aku pengen UKNes ga ribut melulu. Pasti manis / Badai pasti berlalu #ga nyambung, oi / Sekolahnya MS/GS / Iya, ini mah saya terinspirasi dari ahlinya *tunjuk Hidekaz / A/N-nya lebay, tapi positif / Wokokok… Mazak sich, Kukuq~~? #readers: IYALAH! / Saya butuh alis! / *minta sumbangan ke Arthur / Tiino dan Lily OOC sangat / Nah, saya sadar kok, Kakak :D Makanya, Kakak baca warning sebelum lanjut baca, ya. Kan itu udah saya tulisin "OOC yang mendewa" Jadi saya ga bisa komentar banyak dan ga bisa janjiin apa-apa. Kan dari awal udah ada di warning. Kalau di FFn ada opsi ukuran font, udah saya gedein mah tulisan itu warning :p Lagian judul fic ini juga seharusnya udah ngasih Kakak ekspektasi kan kayak gimana absurd-nya tak hanya jalan cerita, tapi juga karakternya :D Muuchy Kakakyuhh~~ *cium *ini anak sok imut deh / Penasaran siapa yang bakal dapat kehormatan nge-rateM-in Nesia / Aku! Aku! Aku! #oioi


Lihat kotak yang ada di bawah? Lihat, kan? Ah? Masak sih? Itu loh, kotak yang ada tulisannya "type your review for this chapter here". Ada kan? Ah! Kompu lo eror kali. Apa? Elo belum lulus TK dan ga lancar baca? Well… Boong banget ga bisa baca kalimat seuprit gitu tapi tamat baca chapter sejauh ini.

Nah, lihat kan? Sekarang kamu ketik deh pendapat kamu di kotak itu. Apa aja. Dari yang mulai singkat kayak sms dengan biaya dihitung karakter, seperti: "Updt", hingga yang panjaanggg hingga bikin kotak review itu jebol, silahkan :D Mau itu kritik, saran, OOT, fangirling/fanboying, ngegosip, terserahhh buuukkk~ #rumpi!

Kalau udah diketik, tinggal tekan deh, kotak warna biru ngejreng yang tulisannya "Post review" itu. Nah, ngerti kan caranya? Kalau bisa sih juga sekalian atuh centang favorite story/author sekalian alertnya #maruk

Ngerti?

Nah ayo-ayo. Ga usah ragu dan ga usah sungkan. Ga bakal bayar kok. Gratis! Tis! Tis! Tiiiiisssss! #emang siapa yang mau bayar


Thank You.

From FHI with passion (bosen 'love'nya England, pindah ke 'passion'nya Spain),

Salam Ciyus Miapa Miyabi (hush!)

-dis-