Pembaca yang oenyoe-oenyoe dan gaul punyak, berhubung 6k+ dinilai 'dikit', ya udah ini saya persembahkan 10k+ Chapter 12 Absurdities! #mati tepar capek ngetik. Sumpah, saya sendiri juga ga nyangka bisa sepanjang ini. Sesuai tuntutan Anda, ini chapter yang panjang. Dan saya tagih janjinya untuk nyium saya /salah! –Maksudnya adalah tetap setia dan ga bosan pada fic ini okaaaayyyysssszzz #alay kumat
Jadi, sambil baca, sedia juga nasi tumpeng plus air segalon ya. Siapa tahu abis baca chapter sepanjang ini kalian langsung lemes. Oh ya, yang merasa pengen diet dianjurkan baca chapter ini. Habis baca, pasti langsung turun 5kg deh /bokish. Ini panjang banget lho. Saya udah kasih tahu ya, Kakak~~ Muach! /apabanget
Guidance:
Kompleks gedung A: Tempat di mana para murid kelas 1, dan sebagian kelas 2, belajar secara formal
Kompleks gedung B: Tempat di mana para murid kelas 3 belajar secara formal
Kompleks gedung C: Tempat di mana para murid kelas 2 belajar secara formal
Character:
Nesia, Antonio, Lovino, Lily, Feliciano, Mei: kelas 1
Arthur, Alfred, Tiino, Vash: Kelas 2
Francis, Gilbert, Elizaveta, Bella, Andrew, Ludwig, dan karakter2 lain: kelas 3
Chau dan Maria: Excluded
dance in storm: semester 1 Jurusa—/keburu dipancung
Semoga membantu :D
"Hanya karena kau, kami tidak bisa memulai acara dan harus menunggumu selama lima belas menit. Kau pikir dirimu siapa? Ratu Inggris?"
Hanya satu kata yang terpikirkan otak Annesia Saraswati ketika berhadapan dengan seorang pemuda yang terduduk di kursi di deret depan sana.
'Senior Arthur Kirkland?!'
Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya
I just own the plot of the story and I don't make money from it.
Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.
Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D
Maju FHI!
Happy reading :D
Seolah waktu berhenti pada detik itu juga ketika hitam kecoklatan itu bertabrakan dengan hijau emerald.
Krik.
Arthur Kirkland, terduduk di bangku di deret depan sana. Memandang Nesia dengan pandangan yang wajar diberikan oleh manusia ketika melihat tumpukan sampah di TPA.
Dan Nesia masih terlalu syok untuk berkata-kata apapun juga. Ia hanya berdiri dengan ekspresi terkejut ketika mendapati orang nomor satu yang paling ingin ia hindari, kini, entah bagaimana dan apa takdir konyol ini, duduk dengan gaya so-called gentlemanly di depan sana.
"Ternyata MOS tidak berhasil membuatmu benar-benar beradab, ya?"
That is!
DUARRR! Begitulah jika diperbolehkan hiperbolis, otak Nesia meledak bagaikan letusan gunung Merapi di negerinya tercinta.
Memutuskan untuk 'bersikap lebih beradab daripada orang barbar yang seenaknya menghardik orang di depan publik begitu', Nesia mengacuhkan Arthur dan kembali membungkuk pada Madame Jeanne yang O Tuhan Nesia hampir lupa, memberikan tatapan maut yang membuat bahkan preman sekolah akan ngompol di celana.
"Maafkan saya, Madame," ujar Nesia, lalu berbalik arah dan membungkuk pada murid-murid yang telah terduduk di bangku, "Dan teman-teman. Saya tadi ada uru—."
"Baru pertemuan pertama saja kau sudah telat begini. Apa kau benar-benar bisa diandalkan?"
JLEB.
Nesia mati.
Iya, secara mental ia rasanya sudah mati dengan kata-kata Madame Jeanne yang ternyata, tidak lebih baik ketimbang ucapan sadis dari Arthur. Namun bisa berbuat apa Nesia? Toh ia akui bahwa biang keladi ini adalah dirinya—well, bukan salahnya juga sih. Guru Matematika-nya tadi saja yang menunda waktu pulang. Tetapi ayolah, tidak mungkin kan Nesia mengkambinghitamkan seorang guru untuk membela dirinya sendiri?
Lagipula dimana-mana, alasan dari orang yang salah pasti bisa ditangkis juga. Uh.
Memutuskan untuk tidak melawan, Nesia kembali membungkuk meminta maaf. Uh, ia merasa seperti pendosa besar begini. Andai saja ini bukan kompetisi prestisius, ia juga tidak keberatan kok, jika harus pergi sekarang juga.
"Maaf, Madame—."
"Kalau meminta maaf bisa menyelesaikan masalah, kita tidak butuh hukum dan pemerintah."
Twitch.
Hiraukan saja, Nes. Hiraukan saja.
"Setiap berbuat salah, kau selalu minta maaf. Dasar mental budak."
Sabar, Nes. Sabar…
"Tsk! Kasihan sekali pada orang-orang yang akan menjadi kelompokmu di kompetisi ini!"
Oke, Nesia hanya manusia biasa, bukan Tuhan!
"Hei kau!" berbalik, Nesia memandang tajam ke arah Arthur. Jika ini sebuah animasi, maka kepala gadis itu sudah pasti mengeluarkan asap saking dongkolnya, "Bicara apa! Tidak seperti—."
"Annesia Saraswati, Arthur Kirkland, kompetisi debat belum dimulai. Harap hargai waktu yang saya dan teman-teman kalian luangkan untuk pertemuan kali ini," ujar Madame Jeanne melerai.
Nesia memutuskan untuk menurut—tidak seperti ia tengah berada dalam mood untuk adu otot leher dengan Seniornya tersebut. Meskipun dahinya masih terdapat kedutan keki, Nesia berbalik dan—Ya Tuhan, kembali membungkuk di depan Madame Jeanne.
"Maaf, Madame—."
"Simpan maafmu dan sekarang duduklah bersama kelompokmu. Kau telah membuang semakin banyak waktu kami," ujar Madame Jeanne dengan tatapan sedingin dan sebeku nada ucapannya.
Dan itu sumpah, menohok sekali bagi Nesia.
Tetapi, tunggu.
Nesia menatap heran ke arah Madame Jeanne. Setelah menengguk ludah dan kemudian memasang senyum garing, Nesia bertanya ragu ke arah guru perempuan cantik tersebut.
"A—anu, Madame tidak lupa kan, jika saya belum mendapat kelom—."
"Tentu tidak," ujar Madame Jeanne cepat. Dan sebelum Nesia sempat meresponnya dengan kalimat apapun, Madame Jeanne kembali melanjutkan, "Arthur Kirkland dan Alfred Jones adalah kelompokmu dalam kompetisi ini."
.
.
Tik tok tik tok tik tok.
Tiktoktiktoktiktoktiktoktikt oktiktoktiktoktiktoktiktokti ktoktiktoktiktoktiktoktiktok tiktok!
.
.
"APA?!"
Dan Madame Jeanne hanya memandang heran pada Ketua OSIS dan murid baru tersebut yang meneriakinya secara bersamaan.
-oOo-
"Kau tahu, Nak? Karena kau bukanlah satu-satunya pendaftar yang ngotot mengikuti kompetisi ini, sekalipun tidak memenuhi syarat administrasi."
Demi Indonesia Raya Tanah Air Tercinta…
Demi apa bahwa yang dimaksud 'pendaftar yang ngotot mengikuti kompetisi' yang dimaksud Pak Gupta tadi siang, salah satunya adalah orang yang paling ia sesali keberadaannya di dunia ini.
Karena… Karena…
Oh Tuhan karena Arthur Kirkland adalah orang terakhir dari ratusan murid Hetalia High, yang Nesia bayangkan sebagai 'pendaftar ngotot' tersebut!
Kenapa dia ikut? Kurang kerjaan banget, ya? Apa tugasnya sebagai Ketua OSIS begitu mudah hingga ia rela mengikuti kegiatan seperti ini?
Dan bukanlah fakta 'Arthur ikut kompetisi' ini lah yang membuat Nesia rasanya ingin memprotes takdir konyol dan absurd ini.
Tetapi fakta bahwa 'Ketua OSIS kurang kerjaan' itulah yang dipilih takdir, dari sekian banyak pilihan yang lebih baik, untuk menjadi teman sekelompok Nesia!
TAKDIR KEJAM MACAM APA ITU?!
"Secara singkat, kompetisi ini adalah kompetisi nasional yang terlaksana setahun sekali. Diselenggarakan atas kerjasama Pemerintah Federal AS dengan beberapa lembaga dan institusi pendidikan ternama yang ada di Amerika Serikat. Kompetisi ini akan dihadiri oleh perwakilan tiap SMA yang ada di AS."
Uh.
Nesia melipat kedua tangannya di meja sembari menatap lantai di depan sana dengan pandangan melas—seolah-olah ia tengah memohon pada lantai itu untuk sebuah hiburan.
'Kenapa harus dengan Senior Arthur? Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin? Apa dosaku? Apa salahku? Apa karma yang kudapat?'
'Oh tentu saja. Karmamu adalah karena kau ngotot melawan takdir Tuhan dan takdir Madame Jeanne untuk tidak mengikuti kompetisi ini!' begitulah teriakan batinnya yang super pesimis.
Begitulah ratapan hatinya menyesali diri dan takdirnya. Karena nyatanya, kini mau tak mau, ia meletakkan pantatnya di kursi yang sederet dengan Arthur Kirkland. Ia sudah ingin meminta Madame Jeanne untuk mempertimbangkan lagi keputusan kejamnya ini, tetapi belum sempat ia membuka mulut, tatapan dingin Madame Jeanne seolah telah menggorok lehernya.
"…Seperti yang saya bilang, tiap sekolah akan mengirimkan perwakilannya. Dan dalam hal ini, peraturan kompetisi ini hanya mengijinkan tiap sekolah untuk mengirimkan maksimal dua orang perwakilan untuk kompetisi debat…."
Masih dengan kepala yang terletakkan pasrah di lipatan tangannya di meja, dengan ragu Nesia melirik ke arah samping.
Dan melihat Arthur Kirkland tengah fokus mencatat apa yang diucapkan Madame Jeanne, di sebuah buku catatan di mejanya.
Nesia hanya menghela napas nelangsa.
Dalam pikirannya sudah terbayangkan peristiwa-peristiwa kejam dan keji yang akan dilaluinya untuk beberapa saat ke depan sampai kompetisi laknat ini berakhir sudah.
Yeah, good. Terimakasih pada Arthur yang telah membuat Nesia bagaikan seorang hypocrite, yang 'melaknat' kompetisi yang telah ia sendiri telah perjuangkan mati-matian untuk dapat diikutinya.
"..Oleh sebab itu, dari delapan kelompok yang ada disini, akan dipilih dua kelompok saja sebagai perwakilan Hetalia High dalam kompetisi ini. Tidak ada tapi-tapian. Ini sudah peraturan kompetisi dan kita harus mengikutinya dengan baik… Jangan lupa…."
Cuma delapan kelompok yang mendaftar untuk kompetisi prestisius ini? Pikir Nesia heran. Namun gadis itu segera maklum—murid Hetalia kan kalau ga (sok) super sibuk dengan klub, pekerjaan (seperti Senior Tiino sebagai penyiar channel TV swasta), ya berarti super duper kaya (ingatlah seorang pemuda Italia yang terlanjur terlahir sebagai keturunan konglomerat!).
Mungkin yang mengikuti kompetisi ini hanyalah mereka yang benar-benar ingin mengikuti. Lagipula juga tidak semua murid Hetalia memiliki keahlian debat kan. Belum lagi dengan mereka yang mungkin tidak mendapatkan kelompok…
Uh.
Ngomong-ngomong soal kelompok….
Pandangan Nesia mengarah pada pemuda lain yang juga menjadi teman sekelompoknya. Saking sibuknya meratapai nasib dan menghujat Arthur dalam, Nesia nyaris melupakan teman sekelompoknya yang lain—yang bahkan terduduk tepat di sebelahnya, di antara Nesia dan Arthur—bagaikan tembok Berlin yang memisahkan dua kubu Perang Dingin di sisi kanan dan di kirinya.
Siapa tadi namanya?
Al… Alfa? Ah. Alfred.
Sepertinya ia bukan murid baru—mungkin senior setingkat dengan Arthur atau bahkan Senior tingkat akhir? Entahlah. Yang jelas ia memiliki helai pirang cerah—bukan pirang pasir jelek seperti Ketua OSIS-nya. Memakai kacamata yang menyembunyikan iris biru muda di baliknya—dan jernih sekali, sungguh.
Memandang wajahnya, Nesia berpikir bahwa Alfred orang yang menyenangkan—catat: Nesia hanya 'berpikir'. Dalam artian, ia berharap bahwa kenyataannya memang demikian.
Dalam artian, (1) Alfred memang baik dan menyenangkan, (2) Meskipun sepertinya Alfred adalah teman Arthur, tetapi semoga Alfred bukanlah Arthur, (3) Sudah cukup ada satu Arthur di dunia ini, jangan sampai hadir Arthur kedua yang menjadi faktor dominan pembawa Nesia terjun dari jembatan California.
Amin.
Ya Tuhan, Amiiiiinnnnnn!
"… Untuk memilih dua perwakilan tersebut dari delapan kelompok disini, maka akan diadakan pemilihan internal sekolah untuk menyeleksi kelompok yang tepat untuk mewakili sekolah. Periode pertama adalah kualifikasi tingkat kota yang akan diadakan Agustus nanti. Setelah mendapatkan dua perwakilan yang mewakili tingkat kota, maka akan diadakan kualifikasi tingkat negara bagian untuk mendapatkan dua tim yang akan mewakili satu negara bagian. Setelah itu, maka akan dilakukan kualifikasi tingkat regional, yakni AS timur, AS barat, AS selatan, dan AS tengah, untuk mendapatkan satu perwakilan tingkat regional. Dan pada tahapan terakhir, ada empat tim yang akan maju ke debat final di tingkat Federal untuk memperebutkan juara kompetisi ini," ujar Madame Jeanne panjang lebar. Lalu mengedarkan pandangannya ke penjuru kelas, "Ada pertanyaan?"
Nesia menoleh ketika seorang pemuda berambut hitam dan berkacamata, mengangkat tangan. Tetapi bukan pemuda itu yang membuat Nesia terbelalak terkejut.
Akan tetapi Lily Zwingli yang terduduk manis di samping pemuda itulah, yang membuat Nesia mengutuk otaknya yang mulai pikun untuk menyadari bahwa Lily juga turut mengikuti kompetisi ini bersama Vash dan… ah. Pasti pemuda berambut hitam itulah yang dimaksud Lily sebagai Roderich.
"Ya, Edelstein?"
"Berarti, ketika kita tidak lolos kualifikasi tingkat kota, maka—."
"Semua berakhir," ujar Madame Jeanne singkat, "Oleh sebab itu, kalian harus bekerja keras di tiap tingkat kualifikasi. Terpilihnya kalian dalam kualifikasi internal sekolah, tidak menjamin bahwa kalian akan tetap mampu maju ke final."
Oh?
Berarti, jika tidak lolos kualifikasi internal, maka tidak akan mampu sama sekali lanjut ke depannya, dong?
Entah mengapa muncul harapan di hati Nesia. Dan entah sejak kapan bahwa ia berharap agar timnya tidak lolos kualifikasi internal. Jahat dan egois memang. Ia mengorbankan harapan dan tujuan kelompoknya. Dan apa yang akan dikatakan Pak Gupta jika tahu ia tidak lolos kualifikasi?
'Kau ngotot ikut hanya untuk terdepak bahkan di kualifikasi internal?'
Uh. Harga diri….
Tetapi bagaimana lagi. Toh tidak seperti ada jalan lain untuk menyelamatkan 'usia dan kesehatan masa muda' dari takdir yang membawanya entah mengapa, justru kembali berhubungan dengan Arthur Kirkland.
Ini seperti MOS periode kedua saja…
Bisa-bisa nanti Nesia tidak hanya brainstorming untuk debat nasional ini, tetapi ia juga akan brainstorming untuk membalas tiap hinaan, cercaan, hardikan, makian, dan sumpah serapah dari Arthur Kirkland.
"Ada pertanyaan lagi?"
Kali ini, seorang siswi yang Nesia ingat sebagai Senior Herdevary, mengangkat tangannya, "Lalu, kualifikasi tingkat final itu kapan, Madame?"
"Kira-kira Maret…," Ah? "…Tahun depan."
.
.
ZONK!
.
.
Hipotesisnya adalah (1) Jika tim Nesia tidak lolos kualifikasi internal, maka sujud syukur, itu berita baik. Meskipun ia masih berharap mengikuti kompetisi ini, tetapi ia pasti bisa mengikutinya lagi tahun depan—dan saat itu tiba, ia pastikan ia mendaftar dengan kelompok yang sudah ia punya sendiri, (2) Jika Tuhan berkehendak lain, maka kelompok Nesia akan lolos kualifikasi internal. Jika Dewi Fortuna begitu baik padanya, tim Nesia akan lolos dan lancar sejahtera hingga final. Tetapi catat, bahwa final ini masih tahun depan—sebelas bulan lagi.
Maka Nesia akan bertatap muka dengan Arthur sebelas bulan lagi. Maka Nesia akan menumpuk kedongkolan sebelas bulan lagi. Maka Nesia akan menjadi objek hinaan dan makian sebelas bulan lagi. Dan maka umur Nesia juga akan tinggal sebelas bulan lagi karena begitu debat selesai, Nesia tidak yakin ia masih bisa hidup dengan menanggung semua siksaan mental yang sudah ia terima.
Dan Tuhan… sebelas bulan lagi itu masih lama!
Tanpa sadar, wajah Nesia memucat ketika membayangkan jika hipotesis keduanyalah yang akan menjadi kenyataan.
Apa dosanya sih hingga hidupnya jadi apes banget begini….
"Ada pertanyaan lagi?" ujar Madame Jeanne. Ketika tidak didapati seorangpun mengangkat tangan, maka Beliau melanjutkan, "Kualifikasi internal akan diadakan melalui dua periode. Periode pertama untuk memperoleh empat kelompok yang kemudian akan berlomba debat di periode kedua. Dan dua kelompok yang menang dalam debat periode kedua inilah yang akan menjadi dua perwakilan Hetalia High. Periode pertama akan berlangsung selama empat puluh menit. Dimana tiap sepuluh menit, akan ada dua kelompok yang berlawanan untuk berdebat. Sedangkan periode kedua juga akan dijalankan selama empat puluh menit, dimana tiap dua puluh menit akan terdapat dua kelompok berlawanan yang akan berdebat. Jeda antar periode selama lima belas menit—gunakan sebaik-baiknya untuk mempersiapkan diri."
Kali ini Nesia lihat Vash mengangkat tangannya. Bicara soal Vash, hingga kini Nesia tidak pernah bersapa atau bertemu langsung dengannya. Bukan berarti Nesia mengharap atau apa—hanya saja entah mengapa, Nesia pikir ia harus meluruskan pikiran Vash terkait dengan 'tragedi konyol nyanyian lagu cinta' waktu itu.
Haissshhh.
Sepertinya pemuda stern itu menganggap semuanya nyata dan serius.
"Ya, Zwingli?"
"Apa yang harus kita persiapkan untuk kualifikasi internal sekolah? Paper? Lalu juga temanya tentang apa? Apa juga tema mengenai kemiskinan seperti yang diusung di kompetisi nasional ini?"
"Tidak perlu ada persiapan apapun karena kualifikasi internal akan dilaksanakan sekarang juga."
"EEEEEHHHHHH?!"
Ya.
EEEHHHHH.
Suara seperti anak alay itu terdengar bagaikan suara dari regu koor dari ruangan ini. Tentu saja dari anak perempuan—Nesia tidak mau berpikir bahwa Vash Zwingli yang berwajah cool itu menge-eeeehhhh begitu.
Kaget.
Tentu saja. Siapa yang pikir…
Demi apa mereka bisa tahu bahwa pertemuan pertama ini mampu sekaligus menjadi pertemuan terakhir bagi enam kelompok?!
"Tapi, Madame—."
"Hal ini sengaja tidak dicantumkan dalam pengumuman lomba, karena tujuan dari kualifikasi internal sekolah ini adalah untuk memperoleh perwakilan dengan kemampuan dan pengetahuan dasar yang bagus, terkait tema kompetisi ini."
Maksudnya?
Seolah mampu menebak isi pikiran Nesia, Madame Jeanne menjawab, "Maksudnya adalah dengan tanpa persiapan paper, data, atau informasi apapun, pengetahuan dasar kalian akan diuji dalam kualifikasi internal di sini. Dan mereka yang memiliki pengetahuan dasar cukup luaslah yang akan mampu lolos menjadi perwakilan Hetalia High."
"Te—tetapi Madame, bagaimana kita siap—."
"Kompetisi ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang siap, Tuan Jones," ujar Madame Jeanne menatap Alfred.
"Tetapi bukankah yang memiliki data statistik dan informasi yang akurat dan lengkap, lebih berkualitas, Madame?" tanya Alfred lebih lanjut lagi.
"Itu benar. Tetapi dalam kompetisi nanti, semua hal bisa terjadi. Bisa saja kalian lupa akan informasi apa yang kalian dapat. Dan bisa juga argumen yang kalian dapat bisa ditolak atau dipatahkan oleh argumen lawan, dan informasi terbatas kalian tidak mampu mendukung argumen kalian. Jika kita hanya mengandalkan data dan informasi, maka kita tidak akan mampu lolos bahkan seleksi tingkat kota, Jones. Pengetahuan dasar akan sangat berguna ketika kalian mengalami saat-saat seperti itu."
Pengetahuan dasar mengenai kemiskinan, ya?
Ah, kalau begini sih menyerahlah harapan Nesia. Karena sepertinya pengetahuan dasar Arthur dan Alfred cukup bagus—tentu saja, sebagian besar murid Hetalia High hanya terdiri dari tiga golongan (1) Borjuis dengan otak pas-pasan, (2) semi-borjuis dengan otak cemerlang, (3) borjuis dengan otak cemerlang. Meski Nesia termasuk kalangan nomor dua (karena kategori 'kaya' di Indonesia sedikit timpang dengan kategori 'kaya' di negeri Barat seperti ini), namun Alfred dan Arthur sepertinya termasuk kategori nomor tiga.
Uh.
Apanya yang tidak lolos kualifikasi internal?
"Jika sudah tidak ada pertanyaan lagi, kalian sekarang diberi waktu lima belas menit sebelum periode pertama dimulai," kata Madame Jeanne tanpa memerdulikan aura pasrah campur nelangsa dari sebagian besar muridnya, "Babak penyisihan ini hanya membutuhkan informasi dan pengetahuan kalian sendiri. Informasi dan pengetahuan yang benar-benar sudah kalian ketahui tanpa perlu melakukan persiapan tambahan. Artinya, hanya membutuhkan kemampuan dan pengetahuan asli yang kalian miliki. Oleh sebab itu, silahkan kalian taruh di depan kelas tas, buku, mobile phone, dan semua alat komunikasi kalian."
-oOo-
"Menurutku, kemiskinan itu pasti terkait dengan rantai permasalahan sosial lainnya. Artinya, kemiskinan bukanlah suatu hal yang eksklusif—perlu penjelasan terkait tak hanya ekonomi, tetapi juga politik dan budaya."
Sudah seperti yang Nesia duga. Demi Tuhan, sudah seperti yang Nesia duga, kira, dan pikirkan.
Lima menit pertama dari lima belas menit waktu diskusi ini, hanya ia gunakan sebagai pemeran pecundang ketika bahkan kehadirannya seolah tidak dirasakan oleh kedua orang di depannya. Ralat, Alfred berkali-kali telah berusaha untuk mengajaknya berdiskusi, tetapi di setiap saat itu pula Arthur akan menyela, memotong pembicaraan, dan mengalihkan fokus Alfred untuk hanya tertuju pada ucapannya.
Dafuq banget is that!
Nah, dengan demikian, bagaimana bisa siapapun berekspektasi Nesia bisa selamat dari darah tinggi akut jika waktu lima menit saja serasa bagaikan waktu seribu tahun tersiksa di neraka. Lebay memang, tapi ia apa adanya. Diacuhkan, diremehkan, dianggap eksistensinya seolah bertentangan dengan logika sains—alias, tidak dianggap.
Dari Hong Kong Nesia bisa betah diperlakukan begini selama setahun ke depan?!
Senior Arthur….
Entah kenapa sepertinya dia sangat membenci Nesia. Nesia pun tidak mengerti, dan sepertinya gadis itu juga tidak peduli. Toh tidak seperti Nesia menyukainya atau apa.
Kelompok apa… Tim apa… Kalau begini juga sama saja Nesia tidak mengikuti kompetisi. Arthur sepertinya sangat mendominasi pembicaraan—dan dengan sukses menjadikan Nesia bagaikan wasit bulu tangkis yang hanya menatap ke sana dan ke sini ketika Alfred atau Arthur berbicara.
Sudah!
Perduli setan soal kompetisi jahannam ini! Lebih baik menjilat ludah sendiri dan malu di depan Madame Jeanne atau Pak Gupta. Setidaknya itu tidak akan membuatnya menumpuk beban dongkol di hatinya yang sudah nyaris overload hanya untuk satu orang saja.
Grak.
Bunyi kursi yang tergeser itu terdengar ketika Nesia secara tiba-tiba, dan sedikit kasar, berdiri dari duduknya. Sudah ia putuskan untuk pulang saja—mengambil tasnya di depan kelas, lalu keluar dari ruangan ini.
Tak apa, ia akan mengikuti kompetisi ini tahun depan.
"Annesia?" ujar Alfred sembari mendongak, menatap terkejut ke arah Nesia, "Kau mau kemana?"
Setengah tersenyum setengah menahan keki, Nesia menjawab pelan dan singkat, "Pulang."
"Kenapa?" Alfred terbelalak.
Kenapa? Yeah… kenapa. Retoris sekali.
"Kau bisa melanjutkan kompetisi ini dengan Senior Kirkland, Senior Jones," ujar Nesia. Lantas tanpa memerdulikan pandangan heran Alfred, Nesia berbalik hendak melangkah pergi.
Grep.
Sudah ia duga, Alfred tidak akan membiarkannya pergi dengan begitu mudah.
Tetapi….
Alfred-kah? Tangan Nesia yang tertahan adalah tangan kanan, sedangkan Alfred terduduk di sebelah kirinya.
Jadi…
SETTT!
Nesia langsung memberi tatapan paling mengerikan yang mampu ia berikan, kepada pemuda beriris emerald yang ternyata, benar-benar tengah memegang pergelangan tangannya.
"Le-pas-kan," desis Nesia dengan kedua pandangan yang menyipit, seolah dengan pandangan itu ia mampu membunuh Arthur tanpa meninggalkan sidik jari yang mampu membuatnya dipenjara nantinya.
"Langkahi dulu mayatku jika ingin keluar dari ruangan ini," desis Arthur lirih. Sepertinya pemuda itu sadar akan konsekuensi jika ia terlalu mengeraskan suaranya di suasana diskusi seperti ini.
"Aku tidak peduli dan sekarang lepaskan!" Nesia mencoba melepaskan genggaman Arthur, tetapi sepertinya pemuda itu memiliki kekuatan yang tidak sekecil tubuhnya.
"Like hell I would!" bentak lirih Arthur, "Sebenarnya apa masalahmu?"
"Mungkin kau bisa mencari jawabannya sendiri ketika setidaknya, kau membuat waktu sepuluh menit ke depan pantas untuk disebut sebagai 'diskusi kelompok'. Entahlah, coba mulai dari setidaknya memberiku kesempatan berpartisipasi?"
.
.
Arthur menatap Nesia seolah di kepala Nesia tumbuh dua buah tanduk merah—heran, dan sedikit merasa konyol.
.
.
"… Kau ini pecundang atau apa…."
Twitchtwitchtwitch!
O Tuhan… O Tuhan betapa sekarang Nesia rasanya ingin meneriakkan lirik lagu Fuck You (*) milik Lily Allen, tepat di depan muka Arthur.
Karena simpel, hanyalah lagu itu yang mampu mendeskripsikan perasaan Nesia terhadap makhluk alis itu. Hanya lagu itu, dari lirik pertama hingga lirik terakhir.
Betapa ingin, hingga rasanya menyakitkan ketika ditahan.
Hih!
"Nah, kau tahu apa, Senior? Kau bisa melanjutkan kompetisi ini dengan Senior Jones karena sekarang pecundang ini akan menyingkir dari urusan kalian!" Ya Tuhan, bagaimana bisa ia meminta Nesia untuk tetap berada di sini sedangkan di saat yang sama, ia semakin memberi insentif bagi Nesia untuk segera hengkang dari depan mukanya?!
Mendengar respon Nesia, pandangan Arthur semakin menyipit tajam. Sepertinya pemuda yang fakir kesabaran itu kali ini telah teruji hingga batas minimal kesabarannya.
"Bagaimana kau pikir kami bisa lolos jika kami sekarang akan kehilangan anggota kelompok?! Asal kau tahu, jangan pikir aku bahagia bisa satu kelompok denganmu. Tetapi tidak sepertimu, aku menahan untuk menatap mukamu lebih lama demi kelancaran kompetisi! Dasar!" maki Arthur keras. Ya, keras. Karena setelah ia mengucapkan itu, beberapa anak yang ada di dekat mereka menoleh ke arah mereka dan memberi pandangan heran.
Dan sungguh, itu adalah an awkward moment.
Grak!
"Aduh!" pekik Nesia ketika Arthur secara paksa, menarik ke bawah tangannya, sehingga Nesia dengan sedikit kasar, terduduk kembali di kursinya.
"Apa yang kau—."
"Diam," bisik Arthur.
"Hei—."
"Kubilang diam. Diam. Diam," bentak Arthur tertahan.
Dan Nesia merasakan bahwa genggaman Arthur di pergelangan tangannya semakin menguat.
Tidak tahu lagi harus melawan bagaimana, dan sepertinya juga tidak mungkin, Nesia menghela napas lalu menyembunyikan mukanya pada sebelah lengannya yang bebas, yang ia letakkan di meja.
"…Tapi lepaskan tanganku. Sakit, tahu?" gumam Nesia dengan nada khas orang yang sehabis berjuang dan berakhir dengan kesia-siaan—pasrah!
"Siapa yang menjamin kau tidak akan kabur lagi?"
Uh.
Nesia rasanya tak akan puas meratapi semua ini. Bagaimana bisa ia terdampar pada situasi seperti ini? Menjengkelkan, menyebalkan. Lebih baik menenggak racun saja daripada tersiksa seperti ini.
Pluk.
Nesia rasakan puncak kepalanya tertindih sesuatu. Besar. Dan cukup kuat, tetapi di saat yang sama, terasa lembut ketika sesuatu itu mengacak-acak rambutnya hingga membuat helai yang terkuncir itu sedikit berantakkan.
Mendongak, Nesia mendapati Senior Jones tersenyum kepadanya.
Lembut, dengan kedua irisnya yang ternyata sangat jernih jika dilihat langsung secara berhadapan-hadapan dan dari dekat seperti ini.
"Aku tidak mengerti apa masalahmu dengan Arthur, tetapi aku harap kita mampu mengesampingkan hal-hal pribadi demi kelancaran kompetisi ini," Alfred tersenyum kecil kepada Nesia, "Aku sangat ingin mengikuti kompetisi ini. Tahun lalu aku mengikutinya, tetapi gagal. Dan kuharap, aku sangat berharap, tahun ini keinginanku tersebut tercapai."
Nesia terdiam—ia hanya menatap kedua iris biru dan senyum lembut itu.
Puji Tuhan, Alfred adalah Alfred. Sekalipun sepertinya dekat dengan Arthur, sepertinya Alfred memiliki iman yang kuat untuk tidak terjerumus dalam sikap sialan dari Arthur.
"Oleh sebab itu, mohon kerjasamanya untuk satu tahun ke depan, oke?"
Senyuman itu lebar sekali.
Riang sekali. Cerah sekali.
Dan sepertinya senyuman itulah yang akan menjadi satu-satunya hal yang mampu membuat Nesia berpikir dua kali untuk hengkang dari kompetisi ini.
Haaaahhhh~~
Kenapa jiwa ketimurannya terlalu kental? Kenapa ia selalu merasa lemah jika dihadapkan dengan permohonan orang lain? Apalagi dengan ekspresi dan nada setulus itu…
"Jika kau memang begitu kekanakkannya hingga ngambek karena tidak mendapatkan kesempatan berbicara," kali ini Arthur yang bersuara, dengan tatapan yang tertuju pada arah luar jendela kaca di sampingnya, "Kau bisa menjadi notulen dalam diskusi yang akan kujalani dengan Alfred."
"Ah, Arthur benar, Nes!" ujar Alfred riang, "Tentu saja, jika kau memiliki pendapat, kau bisa menyampaikannya. Kami akan memberimu kesempatan."
Che!
Apa boleh buat.
Sepertinya satu-satunya jalan keluar dari masalah ini adalah dengan tidak lolosnya kelompok mereka dari kualifikas internal. Meskipun itu akan menjadi kenyataan pahit bagi Alfred dan impiannya –dan sungguh, sebenarnya Nesia tidak tega. Tetapi salah siapa sendiri? Senior Jones sepertinya kurang kerjaan banget menggandeng partner songong seperti itu—, tetapi setidaknya Nesia tidak perlu merasa bersalah karena kegagalan kelompok mereka bukan karena kesalahan Nesia.
Well, jahat sih. Karena toh sebenarnya Nesia turut menyumbang kegagalan itu dengan doanya kepada Tuhan.
Ya sudahlah, setidaknya sekarang ia tidak akan teracuhkan lagi karena ia mampu bertindak sebagai—tunggu dulu!
"Notulen?" respon Nesia heran, "Tetapi alat tulisku kan kutaruh di tas di depan sana."
Dan Nesia langsung saja merasa keki bahkan ketika Arthur baru memutar bola matanya, "Tentu saja kau harus mencatatnya dalam ingatanmu! Demi Tuhan, aku harus menjelaskannya demikian rinci, ya!"
"K—Kau!"
"Nesia, Arthur, hentikan," Alfred menghela napas lelah.
Diskusi kembali berjalan.
Dan barulah setelah enam menit semua kembali menjadi 'lebih normal', Nesia teringat bahwa sebelah lengannya masih tergenggam oleh telapak tangan Arthur.
Sebelum gadis itu sempat menghardik membabi buta, seperti menyadari intensi Nesia tersebut, Arthur Kirkland menarik tangannya untuk menyangga kepalanya sembari berbicara sesuatu kepada Alfred.
Nesia hanya nyinyir dan meng-hih! tertahan.
Sepertinya sehabis pulang sekolah nanti, ia harus mencari pasir untuk mencuci tangannya.
-oOo-
"Nesia, selamat!"
Hampir saja Nesia terjungkal ke belakang karena kaget, ketika ia baru memasuki gerbang sekolah dan tahu-tahu terdapat tangan yang terjulur tepat di depan mukanya.
Dan pemilik tangan itu adalah Lily Zwingli, berdiri dengan senyuman cerah dan lebar di pagi hari.
"Lily!" pekik Nesia sembari menebah dada, "Apa-apaan kau…."
Melihat Lily yang sepertinya sangat OOC dengan cengiran lebarnya tersebut, nyatanya tak hanya membuat Nesia saja yang sweatdropped, tetapi bahkan Lovino Vargas menaikkan sebelah alisnya, dan Antonio Carriedo yang sedikit membelalak terkejut.
"Aku ingin mengucapkan selamat pada Nesia!" ujar Lily riang, sembari dengan paksa menggamit tangan Nesia lalu mengguncangnya sedikit keras.
"Aku tidak ingat jika hari ini ulang tahunku…," ujar Nesia pelan, masih di antara kaget, syok, dan terkejut akan ke-OOC-an Lily di pagi hari ini.
"Ngomong apa, Nes!" Lily tertawa kecil, "Kelompokmu terpilih menjadi salah satu perwakilan sekolah! Juara satu pula! Ya Tuhan~ Hebat sekali~ Ahahaha."
.
.
Per—perwakilan sekolah…. Apa?
.
.
"Juara? Juara apa, Lily?" alih-alih Nesia, Antonio lah yang lebih cepat merespon ucapan Lily.
"Lho? Kau belum tahu mengenai lomba yang diikuti Nesia?" tanya Lily yang dijawab oleh gelengan Antonio. Dan ketika Lily menoleh ke Lovino, pemuda itu hanya mengendikkan bahu.
"Kompetisi debat! Nesia mengikuti kompetisi debat! Dan kelompoknya lolos sebagai perwakilan Hetalia High! Satu kelompok dengan Ketua OSIS pula. Hebat~~!" ujar Lily bangga, seolah dirinya termasuk bagian dari kelompok yang 'hebat' tersebut.
Dan di saat itulah, otak Antonio dan Lovino bersama-sama langsung klik.
Secara cepat, Antonio memegang kedua pundak Nesia, lalu memutar tubuh gadis itu hingga menatap ke arahnya, "Kompetisi debat, Nes? Lily bilang kau lolos kompetisi debat? Dengan Senior Kirkland pula?! Dio Mio, Nes! Hebat sekaliii!"
"Memang benar, hebat sekali! Aku iri sekali karena kelompokku harus tersingkir," ujar Lily separuh bercanda.
Dalam keadaan normal, Nesia pasti akan repot menghilangkan semburat rona di kedua pipinya karena jarak antara wajahnya dan wajah Antonio kini yang bisa dibilang lumayan dekat—belum lagi kedua telapak hangat itu yang menggenggam kuat kedua pundaknya.
Tetapi tidak. Jangankan ber-blushing ria, Annesia bahkan tidak sempat memikirkan kalimat apa lagi yang pantas ia gunakan untuk merespon ucapan Lily dan pekikan senang Antonio selain….
"APAAA?!"
Che! Loading data-nya lama sekali…
-oOo-
Kedua iris hitam kecoklatan itu menatap melas pada kertas di papan pengumuman di depannya. Kertas pengumuman hasil kualifikasi internal kemarin sore. Demi apa, Madame Jeanne cepat sekali menemukan dan memutuskan hasilnya.
Dan sialnya, ada namanya—nama lengkapnya—di salah satu dari dua kelompok yang lolos kualifikasi internal.
Juara I: Alfred Jones. Annesia Saraswati. Arthur Kirkland.
Juara II: Elizaveta Herdevary. Eduard. Ivan Braginski.
Dafuuuuuqqqqqqqq!
Takdir kejam apa itu? Kenapa Tuhan sepertinya senang sekali bercanda dengannya? Karena alih-alih mengabulkan harapan Nesia, Ia telah secara mentah-mentah menolaknya—bahkan menjadikan kelompok mereka juara pertama!
Sialan!
Kenapakenapakenapakenapakena pakenapakenapaaaaaaaaa?!
"Benar-benar juara satu," gumam Antonio sembari menatap takjub kertas pengumuman itu, "Hebat sekali."
Nesia hanya menghela napas lesu sembari alisnya melengkung ke bawah—ekspresi yang wajib dipakai oleh orang yang nelangsa.
Sepertinya doanya terlalu busuk untuk dikabulkan oleh Tuhan. Iya, busuk. Karena doa Nesia sama saja membunuh harapan dan impian Senior Jones.
Tetapi kalau begini sih bisa-bisa Nesia membunuh dirinya sendiri.
Demi apa… berinteraksi dengan Senior Kirkland lebih lama lagi….
Ya Tuhan! Apa-apaan, sih!
"Kenapa kau lesu begitu, Nes?" Antonio menunjuk kertas tersebut, "Lihatlah. Namamu ada di situ. Kompetisi ini kudengar sangat prestisius, lho!"
Nesia melirik sekilas ke kertas tersebut, lalu menghela napas lesu sembari berbalik hendak pergi dari sana.
"Benar kata Antonio, Nes," ujar Lily, "Aku, Vash, dan Roderich pasti akan melakukan apapun jika kami mampu menggantikan posisi kelompokmu."
"Hal seperti ini harus dirayakan dengan traktiran, amigo!" ujar Antonio riang, "Kudengar salah satu stand di kantin menyediakan menu spesial hari ini!"
"Asyik!" cetus Lily, yang bersama dengan Antonio, terlihat riang sekali. Tanpa peduli pada aura gloomy dari objek riang mereka.
Sedangkan Lovino sedari tadi hanya terdiam. Mengacuhkan obrolan dan ocehan teman-temannya.
Hanya terdiam memandang kertas pengumuman di depannya tersebut.
Lalu mendengus lirih.
-oOo-
Meletakkan dagu di meja depannya, Nesia memejamkan matanya. Periode pertama kelas adalah Fisika. Dan guru Fisika tampaknya belum datang sekalipun bel telah berbunyi lima menit yang lalu.
Dan itu sangat menjengkelkan karena Nesia sekarang tengah berada dalam kondisi ingin sekali mengalihkan pikiran. Ingin sekali melakukan dan memikirkan apapun untuk membuatnya amnesia sementara dari fakta tolol macam kelolosan kelompoknya dalam kompetisi debat.
Apa yang harus ia perbuat? Apa yang harus ia lakukan? Kemarin saja ia sudah cukup merasa sangat jengkel dan nyaris 'meledak' saat ia baru menghabiskan hanya beberapa menit saja dengan Arthur. Apalagi ini yang kemungkinan bisa berbulan-bulan, bahkan setahun ke depan?
Ia tidak mungkin menghindar—oh, pandangan dan kalimat Senior Alfred terlalu tulus, dan puji Tuhan yang memberi Nesia hati terlalu lembek yang mampu langsung klepek-klepek jika dihadapkan pada puppy eyes no jutsu milik pemuda berkacamata tersebut.
"Uh," dengan gemas Nesia memukul-mukul pelipisnya sendiri. Secara aneh dan tentu saja, tidak efektif sama sekali, berusaha menghilangkan asumsi-asumsi buruk yang singgah di pemikirannya. Tetapi sialnya, semakin ia berusaha, semakin terasa mungkin asumsi-asumsi itu untuk terjadi.
Dan semakin jelas seringai dan nyinyiran judes Kirkland di benaknya.
"Hei."
Dengan malas, Nesia melirik pada Lovino yang terduduk di sampingnya.
"Aku tidak menyangka jika kau benar-benar mengikuti kompetisi itu," ucap Lovino menatap Nesia.
"…yeah…," ujar Nesia dengan nada seabsurd jawabannya. Ia kembali meletakkan mukanya di permukaan meja. Orang sebodoh apapun pasti langsung bisa menebak jika gadis itu sangat berada dalam tahap depresi akut.
"…. Lalu kenapa kau harus bersama Arthur Kirkland? Kukira kau sangat membenci orang brengsek itu," ujar Lovino setelah terdiam beberapa saat.
Dan di detik setelah Lovino berucap, Nesia langsung menegakkan kepalanya dan menatap Lovino tajam sembari menuding hidung pemuda itu, "Terimakasih padamu juga, Lovino Vargas, yang membuatku menjadi single fighter saat mendaftarkan diri untuk kompetisi tersebut!"
Kedua mata Lovino sedikit terbelalak, tetapi kemudian pemuda itu membuang muka sembari menepis tudingan telunjuk Nesia dari hidungnya, "… Kau 'kan tidak bilang bahwa kau membutuhkan kelompok," respon Lovino pelan, membuat Nesia seketika menyipitkan mata heran dan mengeluarkan 'Hah?!' dari mulutnya.
"Kau tidak berpikir bahwa aku hanya promosi dan menawarimu, 'kan?" ucap Nesia yang sepertinya tepat sasaran, karena setelah ia berujar demikian, Lovino berdeham pelan.
"… Wajar, 'kan? Kau kan anggota klub Radio. Sudah tugasmu untuk memberi informasi," ujar Lovino bersihkeras, "Lagipula kau 'kan bisa menolak jika mengetahui bahwa Kirkland akan menjadi kelompokmu."
Nesia menghela napas lelah, "Sungguh, itu tidak semudah yang kau bayangkan, Lovino," ujar Nesia pelan, sembari kembali menaruh dagunya di atas permukaan meja.
"Kalau begitu kau bisa mengundurkan diri," lanjut Lovino, "Untuk apa kau berada lebih lama lagi dengan orang yang hanya membuatmu merasa kesal?"
Iya.
Tentu saja Nesia akan dengan senang hati segera melakukannya.
Tetapi apa kabar Senior Jones dan puppy eyes-nya dan senyum tulusnya dan permohonan murninya?
"Sudah kubilang itu tidak akan mudah," ulang Nesia, mirip sebuah keluhan. Menghela napas, Nesia melanjutkan, "Tak apa. Aku pasti bisa. Aku pasti bisa. Aku… pasti…. Uh!" dengan gemas Nesia menjedotkan dahinya pada permukaan meja.
Bahkan ia tidak mampu menyemangati dirinya sendiri.
Lovino tidak merespon dan mereka kembali terdiam. Lovino berada dalam dunia dan pemikirannya sendiri, dan Nesia juga kembali berada pada dunia dan pemikirannya yang dipenuhi spekulasi-spekulasi negatif mengenai kompetisi. Mungkin guru sudah datang sehingga Lovino enggan untuk merespon, atau mungkin juga kalimat terakhir Nesia tadi bersifat final dan tidak membutuhkan respon apapun juga.
"Annesia."
Namun dugaan Nesia salah, ketika telinganya kembali mendengar suara Lovino, yang kali ini menyebut lengkap nama depannya.
Menegakkan kepala, Nesia menoleh. Dilihatnya Lovino yang sepertinya tengah menghentikan gerakannya untuk mengambil buku dari dalam tas ranselnya.
Dan entah mengapa, kali ini emerald itu lebih memilih memandang lantai di bawah kakinya ketimbang kedua iris hitam Nesia yang menatapnya heran.
"Aku—," Lovino terhenti, seperti memikirkan kalimat yang akan diucapkannya. Namun beberapa saat kemudian, pemuda itu hanya mendengus, sembari berucap, "… Selamat berjuang, ya."
Nesia hanya mengangguk, meskipun hatinya sangat yakin bahwa bukanlah kalimat penyemangat itu yang seharusnya menjadi kalimat yang ingin Lovino sampaikan padanya.
-oOo-
Pemuda itu berambut pirang cerah sepangkal leher, dengan satu kumpulan surai yang berdiri mencuat di dekat sibakan rambutnya. Sebuah kaca mata lensa bening bertengger mengapit hidungnya yang tinggi. Iris matanya yang berwarna sebiru langit musim panas dan sebening kristal murni, tampak berbinar dengan mulut itu yang sesekali berucap riang dan mengumbar tawa.
Bersama satu hamburger di tangan kanan, satu kotak chips kentang di tangan kiri dan satu gelas cola yang tertaruh di meja di depannya.
"Oh Tuhan~~ Aku sungguh tidak menyangka bisa lolos seleksi internal! Sungguh!" ujarnya riang dengan mulut yang juga tengah sibuk mengunyah satu gigitan besar cheese burger itu. Kedua matanya tampak bersinar cerah –jika ini sebuah dunia kartun, maka kedua mata itu akan mengalahkan indahnya kerlipan di langit malam musim panas, "Alfred Jones, akhirnya, bisa lolos seleksi internal kompetisi debat! What an Hero…"
Terduduk di kursi dengan sebuah meja bundar, Alfred tampak begitu menikmati makanan yang disediakan oleh stand makanan cepat saji di kantin kompleks gedung C. Kantin tidak begitu ramai waktu itu dikarenakan seperti biasanya, para murid lebih suka menghabiskan uangnya di kantin di kompleks gedung A.
"Rasanya seperti mimpi~," ujarnya kemudian sembari memejamkan ringan matanya dan tersenyum dengan mulut masih mengunyah.
Lalu kedua matanya membuka dan menatap ke samping kirinya, "Bukan begitu, Nona Annesia Saraswati," lalu ke arah kanannya, "Dan Tuan Arthur Kirkland?"
Wink. Wink.
Entah, mungkin saking senang dan melambungnya perasaan Alfred hingga ia tidak menyadari suasana canggung yang melingkupi dua orang yang terduduk masing-masing di sisinya.
.
.
Bahkan sejak menginjakkan kakinya ke kantin ini, Annesia sama sekali belum mengucapkan sepatah katapun selain kata 'Hai' yang terlontar dengan senyum miring bin garing itu. Beberapa menit yang lalu ia mendapat sms dari Alfred yang menyuruhnya untuk ke kantin kompleks C (yang notabene kantin yang secara formal, diperuntukkan bagi para murid kelas 2) pada istirahat makan siang untuk pertemuan pertama kelompok mereka.
Saat membaca sms tersebut, wajah plus seringai plus nyinyiran bibir Arthur seketika melintas jelas las las di otaknya. Dan itu, sungguh, membuat Nesia kembali teringat pada nasib baiknya yang membuatnya terikat kontrak kerjasama selama (mungkin) setahun ke depan bersama Arthur dan Alfred.
Nesia hanya berdoa bahwa ia tidak berakhir dengan pergi ke Golden Gate California dan loncat indah dari jembatan megah itu.
Disinilah sekarang ia berada.
Di kantin kompleks gedung C. Stand makanan cepat saji di mana ia hanya memesan satu gelas cola –karena ia teringat akan petuah Maria yang menyatakan bahwa 'apa kau mau perutmu menjadi tong sampah dengan menampung makanan sampah begitu?'. Dan duduk dekat sekali dengan Alfred seakan takut jika ia terlalu jauh dari pemuda yang mengaku American sejati itu, maka pemuda lain yang duduk di depannya sana akan melempari dahinya dengan garpu.
Sedangkan 'pemuda lain' yang dimaksudkan terduduk tenang di sisi lain Alfred. Punggung tegak, sikap sempurna yang membuat ahli table manner akan merasa bangga karenanya. Tanpa memesan apa-apa, Arthur Kirkland sibuk menuliskan sesuatu di sebuah kertas. Pandangannya terlihat sangat fokus, hingga Nesia yakin bahwa ia dan Alfred seolah tak tampak dan tak terasa kehadirannya bagi Arthur.
Dan hanya Alfred lah yang sejak kedatangannya sudah berbicara ngalor-ngidul. Tertawa dan terkikik. Tersenyum, menghela napas bahagia, dan semua ekspresi euforia yang bisa dilihat baik dari kedua mata atau ucapannya. Dan tak sekalipun ucapannya itu mendapat respon berarti selain senyum miring Nesia. Bahkan Arthur seolah tidak mendengar apapun.
"Bukan begitu, Nona Annesia Saraswati… Dan Tuan Arthur Kirkland?"
Mendengar namanya disebut, Nesia menoleh sembari meringis kecil dan mengangguk pelan, "I–iya–."
"Nah, guys!" suara Arthur terdengar bersamaan dengan bolpoinnya yang terletakkan di meja.
Nesia dan Alfred menoleh dan mendapati bahwa kertas yang tadi ditulisi Arthur, kini terletak agak ke tengah meja, sehingga lebih mampu dilihat oleh Nesia dan Alfred.
"Aku sudah memutuskan dan membuat konsep temanya," kata Arthur.
Nesia meneliti sejenak tulisan-tulisan yang ada di kertas putih itu. Sebuah konsep, teori, dan apalah hanya Arthur yang mengerti.
Nesia menelan ludah dengan sulit. Lalu sedikit ragu, ia mendongak dan menatap Arthur yang langsung menatapnya dengan pandangan seolah Nesia adalah sampah tak layak lihat.
Uh.
"…K–kau memutuskan semua ini sendiri?" Nesia mengutuk dirinya sendiri yang terdengar mencicit seperti tikus. Lalu ia berdeham kikuk, dan sedikit mengeraskan suaranya, "Maksudku, kenapa tidak berdiskusi dulu denganku dan Alfred–."
"Apa gunanya?" potong Arthur singkat, padat, dan sungguh, menyayat.
"…Kukira kita satu tim…."
Arthur hanya memutar bola mata sembari menghela napas keras. Alih-alih merespon ucapan Nesia, pemuda itu menoleh ke arah Alfred yang masih membaca tulisan Arthur, "Bagaimana menurutmu, Alfred?"
Dan tentu saja, sikap Arthur tersebut dianggap tabuhan genderang perang ke sekian kalinya oleh Nesia.
Menahan rasa dongkolnya, Nesia menghela napas dan mencoba bersabar. Ia mengingatkan dirinya sendiri bahwa ini bukanlah apa-apa. Mereka berdua akan bekerjasama satu tahun ke depan. Dan pastinya, tindakan Arthur ini bukanlah apa-apa dibandingkan dengan kedongkolan lain yang jauh lebih mendewa yang nanti mungkin diberikannya untuk Nesia.
"Sepertinya kita akan repot sekali untuk kompetisi ini," gumam Alfred tanpa mengalihkan pandang dari kertas Arthur, "Ini sih… sudah seperti debat internasional saja."
"Lawan kita nanti pasti sekolah-sekolah terkenal dan prestisius juga. Jadi kupikir kita harus benar-benar mampu mendalami tema dan mempersiapkan semuanya dengan matang," ujar Arthur.
"Tapi kita ini 'kan masih kualifikasi tingkat kota dulu," sela Nesia sembari menunjuk kertas Arthur dengan dagunya, "Ngapain ribet begitu sih?"
Dan kalimat Nesia hanya direspon oleh lirikan terganggu beserta decakan lidah dari Arthur, "Kau ini, benar-benar tipe yang tidak ada harapan sama sekali."
"Apa kau–."
"Arthur, Nesia," sela Alfred saat perasaannya mengatakan bahwa ia harus segera interupsi sebelum mereka bertiga menjadi pusat perhatian di kantin yang sepi ini, "Bagaimanapun, kita harus mampu menjadi perwakilan Carolina Utara (**) dalam debat kali ini."
"Makanya itu, aku benar-benar memikirkannya matang-matang…," Arthur melirik Nesia, "DARI SEKARANG!"
Dan Nesia hanya menyinyirkan bibir judes untuk meresponnya.
"Dengarkan baik-baik," ujar Arthur, "Meski babak penyisihan tingkat kota masih Agustus nanti, tetapi itu bukanlah waktu yang cukup lama bagi kita untuk mempersiapkan semuanya. Ingat, di penyisihan tingkat kota nanti kita kemungkinan bisa berhadapan dengan sekolah-sekolah lain yang juga mempunyai prestasi bagus dalam hal ini. Sebut saja sekolah… St. Agustinus, SMA Whittaker (***), dan sebagainya."
"Benar juga…," Alfred mengangguk-angguk, "Bukannya SMA Whittaker adalah perwakilan Carolina Utara di kompetisi debat tahun lalu?"
"Benar sekali," respon Arthur, "Tahun lalu perwakilan sekolah kita kalah hanya beberapa poin dengan SMA Whittaker."
Nesia mendengarkan baik-baik ucapan Arthur. Seberapa benci dan dendamnya dia pada pemuda itu, bagaimanapun Nesia sudah mencemplungkan diri dalam kelumit ini semua. Jadi, mau tidak mau, dia merasakan sense of responsibility sebagai salah satu dari anggota kelompok ini; sebagai salah satu kelompok yang membawa nama sekolahnya di ajang nasional.
"Dan kita harus mempersiapkan paper yang berulaskan tentang tema. Tentu saja, kita tidak boleh asal menulis begitu saja. Kita harus mencari bahan berupa teori, data, tabel, statistik, narasumber dan apapun untuk mendukung argumen kita nantinya," ujar Arthur, lalu ia mengambil kertas tadi, "Untuk itu, aku sudah merancang semuanya disini."
"Wow..," gumam Alfred sembari tertawa patah, "Bahkan aku yang sangat ingin kompetisi ini saja tidak seserius dan setanggap ini, Iggy."
Telinga Nesia seolah menegang mendengar kata terakhir dari ucapan Alfred barusan.
Iggy? Apa itu?
"Tentu saja, aku 'kan tidak mau bersantai-santai dan berakhir sebagai pecundang," Arthur mengatakannya dengan tatapan sinis yang mengarah pada Nesia.
Dan Nesia hanya memutar bola mata dengan bosan.
"Dengarkan baik-baik," Arthur menunjuk sebuah deret tulisannya di kertas itu dengan ujung bolpoinnya, "Lihat ini. Pertama-tama, kita harus mendalami benar-benar apa yang menjadi tema dalam kompetisi nanti…."
-oOo-
Kedua kaki bersepatu flat hitam dan berselimut kaus kaki putih polos itu melangkah perlahan dengan langkah sedikit terseret malas.
"Hanya karena kau, kami tidak bisa memulai acara dan harus menunggumu selama lima belas menit. Kau pikir dirimu siapa? Ratu Inggris?"
Langkahnya terlihat berat sekali ketika tapak demi tapak ia lakukan pada anak tangga demi anak tangga yang mengantarnya dari satu lantai ke lantai lain dari apartemen sederhana itu. Listrik tengah padam dan membuatnya harus meniti tangga ketimbang menggunakan lift yang pasti jauh lebih praktis dan mudah.
"Hah! Ternyata MOS tidak benar-benar membuatmu bisa berubah menjadi lebih beradab, ya?"
Tangannya terus berpegang pada sisi tangga.
"Dasar bodoh! Bagaimana kau pikir kami bisa lolos jika kami kehilangan anggota kelompok?! Asal kau tahu, jangan pikir aku bahagia bisa satu kelompok denganmu. Tetapi tidak sepertimu, aku menahan untuk menatap mukamu lebih lama demi kelancaran kompetisi! Dasar!"
Alis itu melengkung ke bawah. Kedua bibir itu sedikit tertekuk masam. Dan kedua mata itu memandang dengan tatapan sayu seolah menahan tangis.
"Kau ini, benar-benar tipe yang tidak ada harapan sama sekali."
Dirinya sekarang sangat mampu menggambarkan sosok manusia menyedihkan dan tiada harapan, sama seperti kalimat yang baru saja terngiang-ngiang jelas di telinganya tersebut.
"Sudah kubilang kupas dalam pemahaman terhadap setidaknya, kemiskinan, entah secara internasional atau dalam lingkup Carolina atau hanya dalam kehidupanmu sendiri. Ssssshhhh…. Kau ini benar-benar membuatku darah tinggi, ya."
Uh.
Kedua telapak tangan itu menekan keras kedua telinganya.
"Kumpulkan minggu depan padaku. Dan kuharap, kali ini kau bisa lebih sedikit berguna bagiku."
Dan kepala bersurai hitam legam itu menggeleng kuat-kuat sembari memejamkan mata erat dan menutup telinganya rapat-rapat.
"Jangan mentang-mentang ada Alfred yang baik padamu, aku akan bermurah hati padamu."
Langkahnya semakin cepat. Bahkan beberapa saat kemudian, ia meniti anak-anak tangga itu dengan berlari, sembari masih menutup kedua telinganya rapat dengan kedua telapak tangannya.
"Kuperingatkan dari awal. Jika sampai kelompok kita gagal hanya gara-gara ulah konyolmu, maka aku bersumpah aku tidak akan membiarkanmu hari-harimu di sekolah ini menjadi tenang."
CKLEK!
BLAK!
Bunyi pintu yang terbuka dengan kasar lalu tertutup kembali dengan cara yang sama itu sontak saja membuat Chau yang tengah asyik menikmati drama sore hari di ruang tengahnya, berjingkat. Gadis berkewarganegaraan Vietnam itu menoleh ke sumber suara dan mendapati teman satu atap yang lebih muda empat tahun darinya, kini tengah berdiri di depan pintu sana.
"… Nesia?"
Suara Chau yang penuh dengan nada heran itu tidak mampu mencapai gendang telinga Nesia yang masih sibuk menabuhkan gema demi gema kalimat-kalimat Arthur Kirkland yang sudah direkam memorinya.
Ia berdiri dengan kedua tangan mengepal kuat sembari menyipitkan kedua matanya ke arah lantai, seolah lantai itulah sumber dari segala sumber kesialan hidupnya. Napasnya agak memburu, antara karena lelah berlari meniti tangga dengan lelah akan apapun yang telah dilaluinya sepanjang hari ini.
Bahkan pertanyaan heran sekaligus khawatir yang telah dilontarkan Chau tidak pernah terjawab, ketika Nesia tanpa sedikitpun melirik temannya itu, berlalu begitu saja menuju kamarnya setelah menaruh sepatunya di rak di sudut sana.
-oOo-
Mengerjap-kerjapkan kedua matanya, Nesia berusaha untuk mengurangi rasa sakit yang mulai dirasakan matanya. Menatap layar laptop seperti ini dalam waktu yang cukup lama, tentu bukanlah hal yang bagus dilakukan. Apalagi jika saat malam. Dan apalagi jika apa yang tengah fokus ditatapnya adalah tulisan-tulisan yang sudah lebih kecil dari ukuran semut, bahasa formal sekali, dengan istilah-istilah ekonomi, politik, bahkan istilah latin yang harus Nesia cari artinya di google.
Dan sungguh, itu hal yang sangat melelahkan. Semakin melelahkan ketika Nesia melakukan hal di atas tadi selama berjam-jam. Membaca, meneliti, mencari istilah aneh bin absurd di google atau di kamus, lalu mengetik ulang dengan bahasa dan analisisnya sendiri. Dan seperti itu seterusnya.
Uh.
Habisnya, ia tidak akan bisa hidup tenang sebelum menyelesaikan tugas yang diberikan Arthur Kirkland padanya. Padahal deadline-nya masih seminggu lagi.
Uh. Mendapat tugas bahkan dari gurunya saja Nesia tidak akan serajin ini. Lihat saja, gadis itu masih saja terjaga meski jam di sudut kanan bawah laptop-nya telah menunjukkan angka 12.22 pagi.
Biasanya ia sudah terbang ke alam mimpi bahkan dua sampai tiga jam sebelumnya.
Menghela napas berat, Nesia menaruh dengan sedikit keras kepalanya ke meja belajar, di mana laptop-nya berada. Ia merasa tidak sanggup lagi. Leher dan punggungnya terasa kaku. Matanya rasanya nyaris buta akibat pancaran sinar layar laptop untuk waktu lama. Kesepuluh jemarinya rasanya keriting akibat mengetik. Otaknya menguap panas dan seolah akan meledak!
Memejamkan mata begini rasanya enak juga….
"Kuperingatkan dari awal. Jika sampai kelompok kita gagal hanya gara-gara ulah konyolmu, maka aku bersumpah aku tidak akan membiarkanmu hari-harimu di sekolah ini menjadi tenang."
GRAK!
Suara Arthur yang terngiang kembali di telinganya seolah lebih hebat dari suara alarm yang mampu membuatnya seketika membuatnya menegakkan kepala dan punggungnya.
Melirik layar laptop-nya dengan pandangan melas, Nesia menghela napas berat khas orang putus asa, lalu memutar laptop-nya hingga kini layarnya menghadap ke arah tembok.
Bangkit dari kursi yang tengah didudukinya, kedua kaki beralas selop kamar dengan bagian depan berbentuk kepala angry bird merah berbulu itu, melangkah ke arah jendela kamar. Membuka kunci jendela kaca yang juga berfungsi sebagai tembok pembatas antara kamar dan balkon itu, Nesia membuka sebelah daun jendela.
Dan otomatis, angin malam musim panas berhembus menerpa dirinya. Segar, tetapi di saat yang sama membuat tubuhnya yang hanya berbalut piyama, sedikit menggigil dingin.
Namun hal itu tidak menjadi alasan kuat bagi Nesia untuk melangkah keluar dan menyandarkan dirinya di tepian balkon kamarnya.
Mendongak, ia menatap bahwa langit musim panas kali ini tiada berbeda dari sebelumnya. Ia berharap bahwa ia menemukan kemerlap bintang di kanvas pekat di atas sana. Tetapi asap polusi perkotaan membuat langit pekat itu kini terselubungi oleh kelambu kemerahan asap yang tertimpa radiasi sinar lampu perkotaan. Bukanlah sebuah pemandangan yang membuat kedua mata hitam kecoklatannya betah berlama-lama memandangnya.
"Aku tidak ingat besok ada PR."
Suara itu berasal dari arah kirinya, terdengar di antara suara dentinan mobil atau suara kehidupan lain yang masih terjaga di pagi buta seperti ini.
Menoleh, ia sedikit terkejut juga ketika melihat Lovino Vargas tengah berdiri bersandar di pembatas balkon apartemennya sendiri.
"Lovino?" tukas Nesia lirih sembari menatap Lovino dengan pandangan heran.
"Apa? Kau tidak ingat bahwa aku tinggal di sebelah apartemenmu?" dengus Lovino lirih, "Apa besok ada PR sehingga kau begadang selarut ini?"
Ekspresi terkejut Nesia luruh. Dari kedua mata Lovino, pandangan Nesia perlahan menurun menuju ke arah lantai di bawah telapak kakinya sendiri.
"… Kau sendiri kenapa masih terjaga?" tanya Nesia, kembali menghadap ke arah depan balkon. Dilihatnya pemandangan malam khas kota yang ditempatinya. Gedung-gedung pencakar langit. Jalanan yang tak pernah sepi oleh dentinan mesin-mesin berjalan. Atau kerlipan lampu-lampu yang mengingatkan Nesia pada indahnya gemerlap bintang yang tak tampak di langit sana.
"Aku menunggu Feliciano. Dia belum pulang dari rumah Kakek," kata Lovino.
"Oh," sahut Nesia apatis, "Ngomong-ngomong, kenapa Feliciano jarang sekali di apartemenmu? Aku hanya melihatnya sesekali di sekolah."
Nesia mendengar Lovino mendengus, "Sangkar emas sialannya itu pasti jauh lebih mampu menjaga dan mencukupi kebutuhannya daripada di sini."
Nyaris tak terdengar oleh Nesia kalimat Lovino tersebut akibat bunyi dentinan kendaraan yang cukup keras, yang terdengar bersamaan dengan suara Lovino.
Menoleh, Nesia memberi Lovino pandangan bertanya, "Apa? … Sangkar emas?"
Lovino tampak menghela napas berat, lalu menoleh dan membalas tatapan Nesia dengan pandangan impasif andalannya, "Daripada itu, kenapa kau belum tidur?"
"Kau mengalihkan pembicaraan," desis Nesia dengan mata menyipit curiga.
"Siapa yang tidak menjawab pertanyaanku terlebih dahulu?" balas Lovino santai, dan tak terpengaruh oleh tudingan Nesia.
Mulut Nesia sudah membuka, siap melontarkan apapun yang sudah di ujung lidahnya. Namun sepertinya apapun kalimat yang ingin terucap, tertelan kembali ketika mulut itu perlahan menutup.
Nesia tidak begitu yakin, apakah bercerita ke Lovino mengenai perasaannya terhadap Arthur adalah hal yang bijak. Lovino bukanlah Antonio. Lovino tidak pernah memberinya senyum cerah yang mampu membuat Nesia yakin bahwa masih ada kesempatan untuknya. Lovino juga tidak pandai berbijak kata yang membuat Nesia yakin bahwa semua akan baik-baik saja.
Hanya tatapan impasif. Hanya katupan bibir datar.
Meskipun demikian, entah kenapa pada akhirnya Nesia mendengar dirinya sendiri bersuara dengan keraguan yang kentara dalam nada ucapannya, "… A–arth–," Nesia menghela napas sembari mengalihkan pandangannya ke arah pemandangan kota di bawah sana, "Kompetisi… Aku tidak tahu jika aku mampu."
Nesia merasakan hembusan angin malam kembali menerpa dirinya. Membuat kunciran dan beberapa surainya yang terjatuh di dekat kedua telinganya, tergerak lirih. Kedua tangannya berpegangan pada pembatas balkon.
Di telinganya kembali terngiang-ngiang semua kalimat Arthur. Mulai dari awal mereka bertemu hingga terakhir kali mereka bertemu sore tadi. Di benaknya terulas kembali setiap seringai, pelototan, dan tatapan sinis dari pemuda yang sama. Dan semua itu mampu membuat, tanpa disadarinya, pegangannya pada pembatas balkon semakin menguat.
"…i! Hei, Annesia!"
Sedikit terlonjak Nesia menoleh ke sumber suara sembari berucap, "Ya?" dengan nada kaget. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia melamun hingga ia juga tidak mengerti sudah berapa lama Lovino memanggilnya untuk membuatnya tersadar dari apapun yang tengah dipikirkannya.
Menatap Lovino, Nesia melihat bahwa pemuda itu malah terdiam. Pandangan kedua emerald miliknya terlempar ke kiri dan ke kanan, seolah mencari-cari sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai kalimat untuk terucapkan.
"Lovino?" ujar Nesia heran.
"A–ah, ya," Lovino menghela napas berat, sebelum berdeham di balik kepalan sebelah tangannya, "Apa kau tahu lagu Taylor Swift dengan judul Mean?"
Dan sebagai respon pertanyaan Lovino itu, Nesia hanya sedikit mengangakan mulutnya dan menyipitkan matanya.
Lovino melemparkan kedua lengannya di udara, "Jawab saja, sialan!"
Nesia tertawa patah dan tertahan, "… Kenapa tiba-tiba bertanya lagu?" tanyanya dengan pandangan geli ke arah Lovino yang mengalihkan pandang ke arah pemandangan kota.
"Bisakah kau langsung menjawab tanpa banyak bertanya?!"
"Oke-oke," Nesia mengalah, setelah tertawa kecil dan geli, "Aku tahu, Tuan. Nah, kenapa?"
"Nyanyikan."
"… A–apa?"
"Kubilang nyanyikan! Nya. Nyi. Kan!" suara Lovino semakin keras, tanpa menoleh dan menatap Nesia yang memberinya pandangan seolah-olah Lovino adalah orang teraneh di dunia yang menembus Genius Book of World Record.
"Aku tidak mau," Nesia melipat tangan di depan dada, "Dengar saja sendiri dari MP3 atau DVD atau apa."
"Aku bukan Swifties," ujar Lovino sembari memasang muka jijik.
"Kau pikir aku iya?"
Lovino tidak membalas. Bahkan pemuda itu tidak mengubah posisinya yang masih menatap pemandangan di bawah balkon dan memasukkan kedua telapak tangannya ke saku celana hitamnya.
Merasa sedikit bersalah dan sedikit penasaran akan sikap Lovino yang absurd itu, Nesia berdeham sembari kembali bersuara, "Baiklah. Tapi hanya sekali saja," ujar Nesia.
Berharap Lovino akan merespon, tetapi nyatanya tidak sama sekali.
Geez, apa pemuda itu begitu gondoknya, sih?
Menghela napas dalam-dalam, Nesia mulai bersuara. Mendendangkan lirik demi lirik dari salah satu lagi penyanyi country terkenal dari Negeri Paman Sam itu. Suaranya terdengar merdu di malam yang semakin beranjak larut. Bahkan suaranya seolah terdengar tak teredam oleh bebunyian lain yang masih terdengar, semisal dentinan kendaraan, suara musik jalanan, atau suara kehidupan kota lainnya.
Dan ajaib sekali, Nesia merasakan bahwa sedikit demi sedikit bebannya berkurang. Rasa penat yang semula ia rasakan begitu membebani hatinya, perlahan sedikit ringan. Entah kenapa, lirik demi lirik ia nyanyikan dengan penuh penghayatan. Seolah ia menyanyikan lagu itu bukan untuk Lovino, tetapi untuk dirinya sendiri.
Untuk membuat dirinya semangat. Untuk membuat dirinya tak mudah putus asa dan terjatuh. Untuk membuat dirinya yakin bahwa semua akan baik-baik saja dan dialah yang akan keluar sebagai pemenang.
Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Bukankah itu pepatah kuno namun manjur dari tanah kelahirannya? Semua keburukan dan kedongkolan yang diberikan Arthur untuknya, pada suatu hari justru akan membuat Nesia mencapai puncak impiannya.
"Why you gotta be so mean…."
Nesia menghela napas perlahan dan dalam-dalam ketika telah menyuarakan lirik terakhir dari lagu yang dinyanyikannya itu.
Dan entah sejak kapan ia rasakan bibirnya tertarik melengkungkan senyum.
Menarik napas dalam-dalam, Nesia dengan semangat menoleh ke Lovino dan tersenyum lebar, "Bagaimana?"
Dengan tatapan impasif, Lovino hanya terdiam sembari memandang Nesia. Emerald beradu dengan hitam kecoklatan. Katupan bibir datar beradu dengan dua bibir yang melengkungkan senyuman.
Senyuman.
Lovino mendengus, "Jelek."
Dan senyuman itu luntur seketika.
"APA?!"
"Lagunya jelek. Lebih baik sekarang kau tidur saja, sana," Lovino melipat tangannya di dada, sembari kembali menatap ke bawah balkon.
Nesia menganga dan menatap Lovino dengan tatapan tak percaya, "Kau memaksaku menyanyi hanya untuk menghinaku?"
"Hei, yang kuhina itu lagunya, bukan suaramu."
"Apanya yang jelek? Lagu itu bagus tau!"
"Bagus?" dengus Lovino geli.
"Ya!" Nesia mengangguk mantap, "Menceritakan seseorang yang tidak akan menyerah sekalipun dia sering ditindas dan dibuat kesal oleh orang lain. Liriknya mengatakan bahwa kita tidak boleh menyerah dan yakinlah bahwa apapun perkataan dan perilaku buruk orang lain terhadap kita, kita suatu saat nanti bisa menjadi jauh lebih baik dari mereka."
Dan Nesia semakin menatap Lovino dengan pandangan tidak mengerti ketika dilihatnya Lovino tersenyum kecil, sebelum pemuda itu menolehkan kepalanya ke arah Nesia.
"Liriknya begitu?"
Nesia mengangguk.
"Kalau kau paham liriknya, kau bisa, dong, bertahan sampai akhir di kompetisi?"
"… Apa?"
"Apanya yang apa?" Lovino tersenyum miring, "Kau baru saja memberitahuku makna lagu itu yang begitu dalam. Jadi, tidak salah dong, jika aku berpikir bahwa kau mampu memperoleh inspirasi atau poin moral dari lagu itu?"
Nesia hanya terdiam sembari masih balas memandang Lovino. Memang, bibir pemuda itu terkatup datar. Suaranya pun masih tak mendengarkan nada apapun selain kepasifan.
Tetapi di mata itu… di emerald itu…
Entah kenapa emerald itu tampak seperti memberinya lengkungan senyum yang tak bisa dilukiskan oleh kedua bibirnya tersebut.
Dan saat melihat kedua mata itulah, Nesia sedikit membelalakkan kedua matanya saat kesadaran itu menyentuh otaknya.
Lovino menyuruhnya bernyanyi bukan untuk ingin mendengarkan lagu Taylor Swift. Lovino tidak menyuruhnya menyanyikan lagu berjudul Mean itu karena iseng atau untuk mengisi kebosanan. Hell, bahkan Nesia tidak percaya bahwa Lovino memliki selera terhadap jenis musik country.
Tetapi, lebih dari itu. Lovino menyuruhnya bernyanyi untuk diri Nesia sendiri. Lovino ingin agar Nesia mendengar suaranya sendiri. Terlebih… Lovino ingin agar makna dari lagu itu mampu sampai ke hati Nesia. Ke pikiran Nesia. Ke jiwa Nesia.
Agar Nesia bangkit dari keterpurukan dan kesukarannya.
Tentu saja, untuk apa lagi Lovino tiba-tiba, tanpa ada sebab apapun selain itu, menyuruhnya menyanyikan lagu itu?
Tetapi… mengapa Lovino tahu bahwa Nesia sedang berada dalam kondisi dan perasaan yang menyedihkan? Bagaimana pemuda itu tahu? Padahal 'kan, Nesia tidak cerita apa-apa padanya, kan?
Apa sebegitu mudahnya ekspresi Nesia membeberkan perasaan hatinya? Atau Lovino saja yang memiliki bakat untuk menjadi cenayang yang gampang banget untuk membaca pikiran dan hati orang lain?
"Kalau sudah tak ada yang bisa kau lakukan selain menatapku bengong seperti orang bodoh begitu," suara Lovino membuyarkan pikiran Nesia dan mengantarkan gadis itu pada apa yang dihadapinya, "Masuklah ke kamarmu."
Nesia melihat Lovino yang mengalihkan pandang dan kembali menatap ke arah depan balkon, sembari berucap, "Angin malam musim panaspun bisa membuatmu sakit jika berdiri terlalu lama di luar begini."
Dengan ragu, Nesia berucap, "… Kau sendiri? Apa kau tidak takut sakit?"
"Takut sakit adalah perasaan yang hanya untuk cewek."
Nesia menyipitkan mata, namun bibirnya mengulum tawa tertahan, "Teori dari mana tuh?"
"Sudahlah, masuk saja sana."
"Tidak sebelum kau juga masuk ke kamarmu," Nesia menjulurkan lidahnya sembari melipat tangan di dada.
Lovino melirik Nesia. Seulas senyum tertahan tampak di bibir itu, "Baiklah. Mari kita menjadi dua orang bodoh yang membekukan dirinya sendiri."
Dan Nesia tak sanggup menahan tawanya lagi.
-oOo-
(*) Saya pikir, jika ada lagu yang bisa deskripsiin dengan tepat perasaan Nesia ke Arthur, lagu itu adalah lagu-nya Lily Allen yang sangat fenomenal dan oke punya itu :D
(**) Kenapa North Carolina? Karena saya suka aja negara bagian itu #ditabrak trek gandeng. No offense buat negara bagian yang lain—semua states di USA punya keunikan dan keistimewaan masing-masing kok :), for fiction sake :D
(***) SMA-SMA ini adalah karanganku semata :D jangan diambil hati dan terlalu dipikirin ya :D #plak. Pengennya sih pake nama sekolah asli, tapi entar ke depannya saya ga sengaja nulis sesuatu yang dianggap kontroversial atau subjektif. Jadi ya udah, nama sekolah lainnya saya karang saja :) Sekali lagi, for fiction sake.
Dan mari kita sambut kedatangan Broder Alpret disini! #tebarin kupon gratis hamburger
Noh, yang merasa selama ini pernah nyanyain, bahkan mikir doang, kapan Alpret muncul, wajib review! W.A.J.I.B! W.4..J.1.3.8! #kumat alay
Next Chapter:
"Me–menurutmu bagaimana? Kupikir An–Antonio akhir-akhir ini sudah jarang bersama kita lagi?"
.
"Dia... sudah seperti idola saja, ya?"
.
"Kubilang bangun! Akting tidurmu itu bahkan lebih rendah dari seorang figuran amatiran, kau tahu?"
.
"Kau baik sekali mentraktir pacarmu makanan sebanyak ini, Kirkland."
.
"Kau tahu, kita satu tim dalam kompetisi debat. Dan aku mulai berpikir bahwa sikap Perang Dingin kita tidak baik bagi kerjasama dan kekompakan tim kita. Jadi, yah. Aku meminta maaf padamu dan aku juga memaafkan semua kesalahanmu. Cukup adil, 'kan?"
.
"Simpan saja maafmu dan sekarang naiklah… Naiklah ke motorku, tentu saja."
.
"Pakai jaket itu untuk melindungimu dari hujan—sebagai ganti payung, karena aku tidak akan memelankan motorku, Nes."
.
"Nnnnhhh…. A—Antonio—Nnhh."
Hayo… Hayo… Ada apa itu dengan chapter depan? Kok mendesah-desah? /ngeresgilak
Ada yang baca sampai sini? Kalau iya, sini saya kasih peluk! /pembaca langsung ludahin. Panjang banget kan? Ini percobaan saya. Gimana tanggapannya? Apa chapter2 depannya panjang kayak gini atau saya pendekin aja kayak biasanya?
Oh ya, makasih atas koreksi temen2 ya soal nama Mesir. Dudul gilak. Itu nama yang saya pake nama siapa coba.. Turki kagak… Mesir apalagi… Saya koreksi dan udah saya edit deh. Muuchy. Mohon koreksinya lagi, ya, cemandh-cemandh~
Pojok review. Monggo~ (berhubung chapter ini udah cukup panjang kayak thesis-nya anak S2, maka reply yang saya tulis ga banyak ya. Muuphz!)
CERITANYA KURANG PANJAANGGG / Kalau masih bilang ini masih kurang panjang, saya kawinin lho! /keburu dipancung / Aku tetep nebak kalau yang selimuti Nesia itu Lovino—kayaknya Antonio cuek bebek gitu ama Nesia / Unleash your imagination :D / Boleh request ScotNesia? / Um… / kasih hints soal timeline ya~ / Sip mback browh! / Iggy dengan mulut berkata kasar itu emang seksi sekali~ / Ahaha, iya deh :D / Rayuan Gilbo garing, krik banget / Sekalipun garing, kamu pasti mau dirayu dia, kan? ;D /plak / Anonym itu Furansu, ya? / Capa yaw? / Ini… pendeeekk! / Sekarang? / Oligopoli itu apa toh? / *sodorin Mbah Google / Kuba dan AS ada apa sih? / Ada kamu dihatiku~ /plak. Itu pas jaman Perang Dingin toh / Ada typo / Ga komen deh m-_-m / Kapan Romania muncul? / Hm… / saya mendukung LoviNesia! / Asik :D / SveNes, AusLiech, atau AmeViet ada? / Lihat saja ya. Banyak banget pairing disini / Kasih reaksi Eliza yang cemburu pas Gil rayu Nesia / Menarik sih… / Aku pengen lihat Arthur cemburu. Lovi yang cemburu juga ga papa deh / Maksudnya? UKRomano? /salah!. Kalau soal mereka cemburu sih, kemungkinan besar pasti ada :D / Iya, Thur. Nesia Ratu-nya Inggris. Ratu-nya England alias Arthur. Ratu-nya di hati Arthur! / ASEEKKK~ MANTAP JAYAAAA~~ PALING SUKA SAYA BACA REVIEW INI. NGAKAK PARAH ##bayangin seseorang di ruangan pertemuan nyeletuk kayak gitu pas abis Arthur nyindir Nesia di chapter maren# / Lovi belagu, songong banget / Maklum orang kaya baru /disodok Lovi / Lovi cool banget, tapi tsundere-nya kurang / Iya, emang sengaja ga begitu ngasih kesan tsundere ke Lovi / Itu ada 'hint' SpaMano ya? / persepsi masing-masing ya :p / Aku heran ama perasaan Antonio ke Nesia / Yang jelas perasaanku ke kamu seterang mentari dan sejelas logika :D /plak/najong gilak / Alfred kapan muncul? / Ini! Ini! #lempar hamburger ke muka Alfred / Jangan lupa dari siapa surat anonym itu ada, ya! / Pastinya :D / Tipikal orang Indonesia, telat nyalahin keadaan / Ehehehe :D / DIS alay! / Mcak sich? Akoeh gu9 4LaY taoookkk / Antonio disini manis sekali / #siram Antonio pake air gula / Side pairingnya apa aja nih? / Tentukan sendiri dengan pilihan Anda! /dipikir biro jodoh / Kenapa Portugal jadi cewek? / Karena kalau cowok, ga mungkin seapartemen ama Nesia /alasanapa / Di Amrik ada MOS ya? / Ada… Pasti ada… :D Apa sih yang ga ada buat kamu? #ganyambungoi. Tapi kemarin kata temen saya yang udah bosen PP Amrik (plus saya sempetin cari info di inet dan nanya temen saya yang orang / lagi ada di sana), katanya sebagian besar sekolah SMA di sana ada MOS. Cuma agak beda dengan Indonesia. Isinya kebanyakan ya pengenalan sekolah gitu. Yang jelas ga ada bullying-nya. Dan kalau perbedaan lebih jauh sih saya juga ndak paham—tiga hari di AS ga cukup bagi saya untuk tahu sistem pendidikan disana #pundung di pojokan tong sampah. / 'Pak' dan 'Madame'? / Kalau pake 'Monsieur' dan 'Madame', entar Hetalia High kayak sekolah Perancis, dong? :D Anggap aja Pak disini translitan dari 'Mr'. Pemakaian kata 'Mr / sir' wajar kan di Barat? Dan Madame… yeah, itu karena Madame Jeanne dari Perancis. Iya, dia Jeanne D'Arc, dan bukan tante2 rempong dengan gelang bergemerincing -_- / NethereNesia ya! / Pasti ada.. Pasti ada kalau buat kamu mah #gombaaaallllagiii
Pembaca yang unyu-unyu dan gaoehl punya. Yang pake behel, poni miring, BB, dan suka pake sepeda Vix*e… /plak.
Jangan lupa kasih komentarnya ya, terutama soal panjang chapter: apa saya panjangin kayak bikin skripsi gini atau kayak biasanya
Jangan ragu dan jangan sungkan untuk ber-OOT atau 'nyampah' karena saya ini peduli pada sampah :D /oioi
Monggo diketik atuh, itu keyboard atau keypad-nya
Entar yang review, saya doain idolanya tiba-tiba (dan ajaibnya) jatuh dari atap rumah/kos/kantor/apapun dengan dua sayap kayak bidadari/bidadara. Kayak iklan parfum bermerek 'PECOK' itu lhoo..
Asyik kan, misalnya yang cewek kalau pas mau tidur tiba-tiba dapetin Zayn Malik jatuh gedubrak dari atap dengan keadaan topless dan dua pasang sayap hitam gede kekar di punggung gitu.
Oke, doa ini kemungkinan hanya akan terkabul jika otak kita sama-sama miring aja -_-
Yang penting: Repiew ya, Kakak~~
Thank you.
From FHI with passion,
Salam ciyus miapah u cp
-dis-
