Ini chapter 7.5k+ panjangnya. Mau saya lebih panjangin sih. Tapi kok sepertinya chapter kemarin itu udah cukup keterlaluan ya :( Jadi balik lagi aja deh, antara 5k-8k :p


Guidance:

Kompleks gedung A: Tempat di mana para murid kelas 1, dan sebagian kelas 2, belajar secara formal

Kompleks gedung B: Tempat di mana para murid kelas 3 belajar secara formal

Kompleks gedung C: Tempat di mana para murid kelas 2 belajar secara formal

Character:

Nesia, Antonio, Lovino, Lily, Feliciano, Mei: kelas 1

Arthur, Alfred, Tiino, Vash: Kelas 2

Francis, Gilbert, Elizaveta, Bella, Andrew, Ludwig, dan karakter2 lain: kelas 3

Chau dan Maria: Excluded

Semoga membantu :D


Hetalia Anniversari merupakan momen utama yang telah terjadi dalam sebulan terakhir. Peringatan ulang tahun ke-27 SMA elit tersebut, dirayakan selama dua hari. Tidak hanya rangkaian acaranya yang mencerminkan kemewahan dan kemeriahan suasana yang tercipta, tetapi juga semua hal. Baik itu dekorasi ruangan, tema, makanan, ataupun orang-orang yang datang. Mulai dari pesta dansa, penampilan band dan penyanyi ternama di Amerika Serikat, dan acara lainnya tampak sangat berkesan. Semua hal tampak sesuai dengan apa yang diekspektasi orang-orang terhadap perayaan hari jadi sekolah ternama tersebut.

Dan kini, Hetalia Anniversary telah berlalu sebulan yang lalu. Kehidupan sekolah kembali berjalan seperti biasa. Belajar, ekstrakurikuler, klub, dan sebagainya. Tidak banyak yang berubah, tidak begitu banyak yang berkesan istimewa.

Hanya cuacalah yang sedikit berubah. Musim panas yang terselingi oleh rintikan gerimis—bahkan badai. Baik di pagi hari, siang, atau malam hari. Langit mendung seolah senantiasa menggantung di atas sana. Belum lagi dengan angin yang berhembus; mulai dari hembusan lirih yang menyejukkan, hingga deruan hebat pengiring badai hujan. Cuaca seperti ini memang terkadang dinilai merepotkan—bahkan menakutkan ketika terjadi badai dan petir di malam hari. Tetapi ketika semua sudah berakhir, maka hanyalah bau tanah basah lah yang menyegarkan paru-paru yang seakan bosan dengan polusi udara. Hanya indahnya tetesan air di dedaunanlah yang tampak begitu menarik—yang membuat semua hal yang dibasahinya, akan terlihat berkilau ketika tertimpa sinar sang surya.

Siapa yang menyangka akan turunnya hujan di musim panas—well, turun hujan di musim panas juga bukanlah hal yang aneh. Tetapi yang membuat aneh adalah ketika 'hujan' itu sendiri datang dengan angin kencang dan badai. Mungkin ini salah satu cuaca peralihan dari musim panas ke musim gugur. Salahkan siapa? Global warming dan ulah manusia yang membuat cuaca dan musim menjadi tidak menentu? Bahkan tidak heran juga jika sekarang di beberapa negara di Eropa, turun hujan air di saat musim dingin.

Ini sih… seperti kembali ke musim semi saja—bahkan di jaman sekarang, sulit membedakan kapan musim panas dan kapan musim semi.

Begitulah pemikiran Annesia Saraswati ketika pagi itu, ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.


Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.

Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.

Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedarhintsdanfans service :p

Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D

Long Live FHI andSay NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D

Maju FHI!

Happy reading


Pagi hari ini, seperti biasanya, hujan gerimis kembali menyapa. Rupanya sisa-sisa badai semalam, kini tampak dengan langit mendung yang terlihat menggantung begitu rendah di pagi hari ini. Hujan di pagi hari memang sangat menyejukkan dan menyegarkan. Tetapi justru karena kesegaran dan kesejukan itulah sebagian besar orang akan malas untuk bangkit dari hangatnya ranjang untuk memulai aktivitas.

Begitu pula dengan Nesia. Rasa kantuknya sangat terasa ketika ia bertemu dengan Lovino Vargas di depan apartemennya. Ia bahkan masih mengantuk ketika menjawab sapaan Lovino dengan 'hai' singkat miliknya. Dan ia juga rasanya berat membuka mata bahkan ketika Lovino menawarkan untuk berbagi payung miliknya.

Tetapi, rasa kantuk itu segera memudar ketika ia menyadari bahwa Lovino hanya sendiri. Bahwa tidak ada orang lain di depan apartemen mereka—tidak ada seseorang tertentu di depan gedung apartemen mereka.

Tidak ada Antonio Carriedo.

Bahkan ketika Nesia meminta Lovino untuk menunggu sebentar—dan itu lima belas menit lamanya—Antonio tidak kunjung menampakkan diri.

Langkah dari kedua kaki berbalut boots selutut itu memelan ketika pandangan kedua mata beriris hitam kecoklatan itupun seperti tengah mengulas sesuatu.

Ya, benar.

Antonio.

Entah kenapa akhir-akhir ini, pikiran Nesia selalu dipenuhi oleh Antonio, Antonio, dan semua hal tentang Antonio. Bukanlah sebuah pemikiran yang mampu membuatnya berguling-guling ria karena kesenangan atau melambung perasaannya, tetapi karena hal justru sangat berbeda.

Entah sejak kapan pula, ia rasakan bahwa Antonio seolah semakin jauh darinya. Bahkan juga dari Lovino. Sepertinya jarak antara mereka sudah mulai tampak—dan rasanya akan semakin melebar. Antonio yang aktif di Klub Musik, Annesia yang sibuk dengan Klub Radio dan kompetisi, serta Lovino yang sibuk dengan Klub Botani miliknya. Tetapi sekalipun demikian, dari mereka bertiga, entah kenapa hanya Antonio-lah yang terasa semakin jauh dan semakin jauh. Seolah ia telah memiliki dunianya sendiri. Seolah ia telah menemukan eksistensinya sendiri—dan eksistensi itu sepertinya tidak berada pada Nesia atau Lovino.

Benarkah pikiran Nesia dahulu bahwa, selepas MOS, mereka akan kembali menjadi dua orang yang asing terhadap satu sama lain?

Berangkat dan pulang sekolahpun sudah jarang Nesia lalui dengan kedua sahabatnya. Antonio-lah yang senantiasa sering meminta maaf dan menolak untuk pulang atau berangkat bersama. Dan kegiatan menghabiskan akhir pekan bersama—seperti yang biasa mereka lakukan, kini semakin sering hanya dihadiri oleh Lovino dan Nesia saja. Jikapun Antonio datang, pasti itu hanyalah sangat sebentar ketimbang biasanya.

Apakah demikian lebar jarak di antara mereka?

Te—tetapi….

"Percepat jalanmu jika kau tidak ingin kebasahan ketika sampai di sekolah."

Ucapan Lovino tersebut segera menyadarkan Nesia. Entah sejak kapan langkahnya semakin memelan dan memelan, hingga membuat Lovino turut melakukan hal yang sama jika ingin membiarkan Nesia tetap kering terlindung oleh sebuah payung yang melindungi mereka berdua. Iya, itu adalah payung Lovino dikarenakan payung Nesia sendiri telah rusak dengan tudung terbalik saat Nesia pakai menerjang badai berangin kemarin malam, sepulang dari mini market terdekat.

"Ma—maaf, Lovino," ujar Nesia sembari dengan segera, mempercepat langkahnya dan kembali menyejajarkan diri dengan Lovino, "Aku hanya sedikit banyak pikiran," Nesia tersenyum lebar kepada Lovino.

Lovino hanya memandangnya beberapa saat, seperti tengah membaca isi hati di balik tatapan iris hitam tersebut. Tetapi kemudian, pemuda itu kembali mengarahkan pandangannya pada jalanan di depan mereka, "Aku tidak mau menunggumu lagi jika kau memperlambat langkahmu lagi," pemuda itu menghela napas dalam, "… Kita tidak memiliki banyak waktu untuk tiba di sekolah sebelum bel masuk."

Nesia mengangguk lirih.

Lalu kembali berjalan.

Tetapi pikiran itu, tanpa mampu Nesia cegah, terulas kembali.

Antonio Antonio Antonio Antonio Antonio Antonio!

Nesia menggigit ujung bibirnya sendiri.

Antonio 'menjauh' hanya beberapa minggu saja ia sudah begini kalang kabut….

Apa sebegitu dalamnya perasaannya pada pemuda itu? Bukankah apa yang dirasakan Nesia hanyalah kekaguman sesaat? Kagum akan sifatnya yang ceria? Akan kepribadiannya yang hangat? Akan personalitasnya yang seolah membuat sinar matahari musim panas tersaingi olehnya?

Tetapi tetap saja….

Jika hanya kagum, maka kau tidak akan merasa sesakit ini hanya karena merasa jauh dari orang yang kau 'kagumi', kan?

Menengguk ludah dengan sulit, Nesia berucap lirih, "Me–menurutmu bagaimana? Kupikir An–Antonio akhir-akhir ini sudah jarang bersama kita lagi?"

Nesia mengutuk dirinya sendiri yang terdengar mengeluh demikian. Gadis itu menggigit ujung bibirnya, sembari kedua tangannya ia selubungkan pada kantung mantel putihnya, "M—maksudku, meski dia sesekali bersama kita, tetapi rasanya… ah," Nesia tersenyum patah, "… tidak seperti dulu?"

Lovino tidak segera merespon, melainkan menggantungkan ucapan Nesia di udara selama beberapa menit. Nesia pun tidak berminat untuk mendesak, karena menurutnya pertanyaannya terdengar cukup retoris. Oleh sebab itu, gadis itu hanya melangkah diam di samping Lovino. Kedua matanya menatap sendu ke arah tanah basah di bawah boots-nya. Tanah basah yang akan mencipratkan tetes-tetes air hujan gerimis yang tengah menyapa.

"… Ia hanya sibuk," ujar Lovino akhirnya, "Kudengar Klub Musiknya akan turut serta berpartisipasi dalam kompetisi musik perayaan kemerdekaan AS Juli nanti."

"Kau juga sibuk saat persiapan Hetalia High Anniversary bulan lalu," ucap Nesia, "Tetapi kau masih selalu ada bagi kami."

"Hetalia Anniversary bukanlah event semeriah Kemerdekaan AS," kata Lovino, "Lagipula, kudengar dia akan bernyanyi dan bermain gitar solo di acara itu nanti. Jadi pasti si Bastardo itu cukup sibuk untuk saat ini."

Nesia mengangguk, lalu tersenyum kecil, "Dia... sudah seperti idola saja, ya?"

Iya. Siapa yang tidak tahu Antonio? Siapa yang tidak mengenal pemuda ceria dan berkepribadian hangat itu? Siapa yang tidak suka menjadi temannya? Siapa pula yang tidak mengetahui mengenai permainan gitarnya yang bagus, beserta suaranya yang merdu?

Tetapi punya hak apa Nesia untuk mencegah semua itu? Toh kedekatan mereka juga terjadi karena murni kesalahpahaman saat MOS dahulu.

Dan toh, sepertinya Antonio juga bahagia.

Bukankah itu sudah cukup bagi Nesia?

Ketika merasakan sentuhan di sebelah lengannya, Nesia sedikit terjingkat dan terbuyar dari lamunannya. Menoleh, ia sedikit heran ketika mendapati sebelah lengan Lovino terjulur, melewati punggung Nesia, lalu melingkari lengan atas Nesia dengan genggaman telapak tangannya yang erat.

Terheran, Nesia menoleh. Tetapi ia tidak mampu membaca ekspresi apapun dari Lovino, ketika wajah penunjuk ekspresi itu pun terpalingkan ke arah samping— arah dimana Nesia tidak mampu melihatnya.

"Lovino?" gumam Nesia dengan nada seheran tatapan matanya.

Dan respon Lovino adalah semakin ia mengeratkan rangkulan sebelah tangannya, dan semakin rapat ia mendekatkan Nesia dengan samping tubuh pemuda itu.

Dari jarak sedekat ini, Nesia mampu mencium aroma mint yang menguar dari tubuh pemuda itu. Aroma yang sedari dulu, tidak pernah ia sadari ada dari diri pemuda berhelai coklat tua tersebut.

"J—Jangan terlalu jauh," gumam Lovino lirih, sembari semakin menarik Nesia untuk mendekat kepadanya, "Payung ini tidak terlalu besar."

Entah ini benar atau memang pandangan Nesia yang sedikit buram karena kantuk, tetapi samar Nesia mampu melihat pipi pemuda itu merona hangat.

Mungkin pengaruh dinginnya cuaca agak membuat Lovino sedikit demam dan kedinginan?

Nesia hanya tersenyum kecil, lalu mendongak.

Dan ia tidak mampu menahan rasa herannya.

Sekalipun jika jarak di antara mereka diperlebar beberapa jauh, Nesia yakin payung sebesar ini masih cukup untuk melindungi mereka berdua dari kebasahan.

-oOo-

Kepala berhelai hitam terkuncir kuda itu terletakkan lemas di meja. Menghadap ke arah jendela di samping bangkunya, Nesia menatap ke arah langit luas di atas sana. Dan ia menghela napas lelah ketika menyadari betapa kelamnya langit itu. Sepertinya pulang sekolah nanti ia kembali harus memakai mantel dan boots-nya.

Sekarang adalah periode istirahat, dan gadis berdarah Indonesia itu sengaja mendiamkan diri dalam ruang kelasnya. Bukannya apa, hanya saja ia terlalu malas untuk keluar. Lagipula, dari jendela di depannya, bisa Nesia lihat bahwa di luar tengah hujan rintik-rintik. Jadi, gadis itu sepertinya lebih memilih malas-malasan seperti simpanse di dalam kelas, daripada keluar ke kantin. Untuk itulah tadi ia menolak ajakan Lovino—selain karena malas, juga karena Nesia tahu bahwa pemuda itu tak akan lama bersamanya. Nesia dengar Klub Botani Lovino tengah sibuk memersiapkan semacam lomba budidaya tanaman tingkat SMA. Bukan berarti ia tidak lapar sih… beberapa kali cacing di perutnya sudah menggelar konser akbar. Tetapi sungguh, hawa dingin-sejuk-mendung begini memang paling enak dipakai untuk bermalas-malasan ria.

Berdiam diri terbengong galau memandang langit kelabu begini, memang bukanlah hal yang membuat mata betah untuk terbuka lama-lama—setidaknya bagi Nesia. Terbukti ketika ia merasakan dirinya mulai terkantuk-kantuk dengan kelopak matanya yang perlahan menutup. Biarlah, periode istirahat kan masih sepuluh menit lagi. Lumayan lah jika digunakan untuk tidur sebentar saja—.

"Eh? Bukankah itu…"

"K—Kenapa dia datang ke kelas ini?"

Mata Nesia nyaris benar-benar menutup rapat ketika didengarnya bisikan-bisikan di sekitarnya.

"Memang ada urusan apa dia datang ke kelas ini?"

"Pasti penting sekali, kompleks gedung kelasnya kan terpisah cukup jauh dari kompleks gedung kelas 1 begini."

Memang siapa, sih, yang datang? Pikir Nesia. Urunglah rasa kantuknya menyergap dirinya. Kini yang ada hanyalah rasa penasaran tingkat dewa.

Habisnya… sikap teman-temannya seolah-olah ada seorang artis Hollywood yang baru pindah ke kelas ini saja.

"Tentu saja. Selain karena kelasnya jauh, juga karena kesibukannya pasti banyak. Dan pasti, alasan dia datang kemari adalah sangat penting hingga ia rela datang dari kompleks gedung C menuju kompleks A sini, dan meninggalkan kesibukannya sejenak."

Tunggu. kompleks gedung C? Berarti… berarti siapapun orang sok beken dan sok penting yang tengah menjadi desas-desus temannya ini adalah murid kelas 2?

"Jelas lah. Kalau urusannya tidak penting, ngapain seorang Ketua OSIS sepertinya rela mengunjungi kelas kita yang notabene jauh dari kelasnya?"

Oh, hanya Ketua OSIS toh.

.

.

K—Ketua—.

.

.

Mata Nesia langsung terbuka lebar dan memelototi jendela di depannya, seolah di jendela bersih dan bening tersebut tergambar jelas wajah dari satu-satunya manusia yang menjadi Ketua OSIS Hetalia High di tahun ini.

Dengan kata lain, ya benar. Anda sekalian benar.

Arthur 'alis' Kirkland.

Ketika nama itu telah diproses oleh otaknya, seketika Nesia semakin memelototi jendela di depannya, "Ngapain itu orang ada disini?!" batinnya menghardik kesal. Entah mengapa, hanya mendengar namanya saja Nesia sudah demikian dongkol dan empetnya.

Dan juga demi apa sih teman-temannya itu. Alay banget. Lebay! Dikunjungi Ketua OSIS sok eksis begitu saja bagaikan mendapat durian runtuh!

Hiiih!

"Hei, kau."

Dan suara itu terdengar dari arah yang cukup dekat dengan Nesia. T—tunggu! Bukan cukup dekat lagi, tetapi sepertinya memang berasal dari belakang Nesia—samping meja yang ditiduri kepala Nesia.

Oke, mungkin dia tengah berbicara dengan temannya yang apes yang entah mengapa, akan dihina dan dimaki habis-habisan oleh Senior Kirkland.

Nesia tidak peduli.

"Hei, kau. Bangun!"

.

.

Tetapi, seingat Nesia tadi, selain dirinya, tidak ada murid lain yang tengah bertidur-tidur ria di bangku?

.

.

ASDFGHJKLQWERTYUIOPZXCVBNM!

Menyadari bahwa sepertinya 'orang apes yang akan dihinda dan dimaki habis-habisan' itu adalah dirinya sendiri, Nesia memutuskan untuk segera memejamkan kedua matanya erat. Pura-pura tidur—jika perlu, pura-pura mati saja seperti seperti seekor tupai yang hendak dicabik-cabik habis oleh seekor harimau—bukan, gorilla.

Namun tentu saja, Arthur tidak sebodoh itu—jelas. Siapa yang akan percaya akan akting pura-pura tidur atau mati itu, jika dari pantulan jendela di depan Nesia, pemuda itu mampu melihat bahwa kedua mata gadis itu sebelumnya terbuka lebar—bahkan melotot. Namun kini telah terpejam—terlalu rapat untuk bisa dikategorikan 'tidur.'

"Aku bilang bangun," ulang Arthur.

Dan Nesia tetap terdiam. Ia tidak mau dan tidak akan mau membuka mata, bangun, berbicara, dan berakhir dengan penistaan dirinya di depan publik begini. Tidak akan! Bukannya prasangka buruk atau apa. Habisnya salah siapa. Seingat Nesia, dari semua peristiwa yang dilaluinya dengan Arthur, tidak ada satupun yang bisa dibilang berjalan 'damai' dan 'rukun sejahtera'. Pasti akan berakhir 'begitu-begitu' juga.

Jadi, wajar dong, jika sekarang Nesia tengah antipati terhadap Ketua OSIS tersebut dan tidak mau berurusan apapun dengannya?

Y—ye—yeah, Nes. Kau masih ingat kompetisi itu, kan? Senior Alfred dan mata birunya yang jernih~

"Nesia," didengar oleh Nesia suara lirih dan gugup salah seorang temannya, "B—Bangun. Ketua OSIS Kirkland ingin bicara padamu."

Nesia tetap terdiam dan 'terpejam'.

"Kau ini tuli atau apa, kubilang bangun."

Twitch.

Sengaja ingin membuat Kirkland kesal, Nesia malah membuat bunyi dengkuran—yang jelas terdengar cukup maksa.

"Annesia," kembali temannya berujar, "H—Hei, kau—."

"Sudahlah. Seperti dia benar-benar tertidur saja," kata Kirkland yang terdengar amat judes, "Kau tahu, aktingmu itu lebih murahan daripada figuran amatiran yang hanya ke-shoot bayangannya saja, tahu?"

Nesia mengeluarkan bunyi decapan-decapan khas orang tidur.

Ia ingin menulikan telinganya dari apapun yang diucapkan Kirkland, yang jelas pasti akan semakin menyakitkan.

"Kubilang, BANGUN!"

Drak!

Nyaris melompat kaget Nesia ketika ia merasakan meja yang ditidurinya bergetar kuat. Sepertinya Kirkland sudah mulai kehilangan kesabarannya dan mulai bertindak anarkis dengan menendang meja Nesia.

Tetapi Nesia tetap memertahankan posisinya. Peduli setan. Jika Nesia dibuat marah dan dongkol ratusan kali, kenapa kali ini ia tidak mampu membuat Kirkland mengeluarkan asap dari kepalanya?

"Benar-benar, ya…," desis Kirkland, "Kau memang benar-benar tidak pandai memilih jalan tanpa kekerasan."

Belum sempat Nesia memproses arti dari ucapan Kirkland tersebut dalam otaknya, ia segera memekik kaget bercampur sakit ketika sebelah tangannya tertarik dan terseret kuat.

Dan otomatis, 'akting' murahannya hancur dan buyar pada saat itu juga.

"APA YANG KAU LAKUKAN? LEPASKAN!" teriak Nesia memberontak pada pegangan Arthur yang seolah hendak mematahkan pergelangan tangannya.

Namun alih-alih peduli, pemuda itu seperti tidak memiliki apa yang disebut sebagai hati nurani, ketika ia mulai berbalik dan menyeret paksa Nesia hingga gadis itu berdiri dan bersusah payah menahan dirinya yang mulai terbawa langkah Arthur. Tetapi sekali lagi, sekalipun tubuh Arthur bisa dibilang lumayan kecil untuk ukuran tubuh lelaki remaja Barat, namun tetap saja, dia laki-laki.

Dan artinya apa?

Usaha Nesia untuk menahan dirinya agar tetap di bangkunya, sia-sia belaka.

"Kau mau membawaku kemana?! Lepaskan! Lepaskan! Lepaskan!" teriak Nesia, berusaha mencubit, mencakar, bahkan memukul-mukul telapak Arthur yang melingkari lengannya.

Sadar bahwa usahanya tetap sia-sia, Nesia menoleh ke arah teman-temannya—ingin meminta rasa solidaritas dan kesetiakawanan mereka ketika salah satu teman mereka diseret paksa demikian.

Tetapi sepertinya 'solidaritas antar teman sekelas itu' masih kalah jika dihadapkan dengan 'kepatuhan dan kepercayaan terhadap Ketua OSIS', ketika Nesia melihat bahwa teman-teman mereka hanya memandangi kepergiannya dengan Arthur dengan berbagai ekspresi: bingung, ragu, geli, bahkan ada yang tidak peduli.

….

SIALAAAAAAANNNNNNNN!

-oOo-

"Aduh!" Nesia hanya mengernyit sakit ketika ia terduduk dengan sedikit keras, di kursi dalam salah satu stand yang ada di kantin kompleks gedung A.

Mendapatkan perlakuan kasar yang jelas-jelas seperti memaki HAM PBB seperti itu, Nesia langsung mendelikkan kedua matanya pada seorang pemuda so-called bangsawan Britania Raya, yang kini terduduk tegak di depannya.

Tanpa memerdulikan intensitas death glare gratis dari Nesia, Arthur memanggil waitress stand tersebut dengan acungan tangan kanannya. Segera saja, seorang wanita berumur sekitar pertengahan dua puluh tahun, menghampiri mereka lengkap dengan buku menu yang dipegangnya.

"Tumben sekali kau mampir ke sini, Arthur?" tanya wanita itu, sembari meletakkan buku menu di depan Arthur. Sesekali bola birunya melirik ingin tahu kepada Nesia yang kini tengah menggosok-gosok serta meniupi lengannya yang tampak sedikit memerah. Uh, Nesia harap tulangnya tidak patah. Arthur tadi bukan hanya menyeretnya—sepertinya pemuda itu sengaja mematahkan tulang Nesia.

"Ya," jawab Arthur datar sembari membuka buku menu, "Aku pilih ini, ini, ini, ini, ini, ini, dan ini," ujarnya sembari secara asal dan cepat menunjuk beberapa gambar yang ada di buku menu. Membuat tak hanya waitress itu saja yang terheran—Nesia bahkan sampai nyaris menjatuhkan rahangnya karena syok.

Itu…. Orang Inggris kalau makan memang rakus banget begitu, ya?

"B… Baiklah," jawab waitress tersebut, meski sedikit ragu akan keseriusan Arthur dalam memesan sebegitu banyak makanan, "Tunggu sebentar."

"Oke," Arthur mengangguk.

Tetapi alih-alih langsung pergi, waitress itu malah tersenyum sembari mengerling geli kepada Arthur dan Nesia. Yang sungguh, membuat Nesia langsung memiringkan sudut bibirnya—perasaan buruk mampir di hatinya.

"Tetapi kau baik sekali, ya, Arthur, mau mentraktir pacarmu makanan sebanyak ini."

Guh!

Rasanya Nesia seperti tersedak garpu.

Kenapa dia bisa bicara seperti itu? Dari Hong Kong waitress itu melihat Nesia dan Arthur seperti sepasang kekasih? Pacar mana yang menyeret-nyeret pasangannya hingga menjatuhkan dengan kasar pasangan tersebut di kursi?

Cih. Membayangkan bahwa dirinya dan Arthur-lah pemegang posisi 'pasangan itu' saja lidah Nesia rasanya gatal sekali.

"TIDAK!" begitulah, secara serempak mereka menolak. Membuat alih-alih takut, waitress sok asyik itu justru tertawa geli lalu pamit untuk pergi.

Karena tidak mungkin menghardik waitress yang merupakan orang asing baginya, Nesia langsung memilih Arthur sebagai kambing hitam dan menghardiknya, "Ini semua salahmu! Kenapa kau bawa aku kemari?!" protesnya kesal.

Menghela napas lirih, Arthur memandang Nesia dengan pandangan menyipit heran campur putus asa, "Bisakah, sekali saja, kita berbicara secara baik-baik?"

Nesia memalingkan muka dan menatap kaca bening dari jendela di sampingnya. Menjulurkan lidahnya acuh, gadis itu merespon dengan nada yang masaolloh sarkatisnya, "Baik-baik? Demi apa. Caramu membawaku kesini saja tidak bisa dibilang baik-baik!"

"Salah siapa yang membuatku harus demikian?" balas Arthur cepat, "Aku sudah rela berjalan jauh dari kompleks gedung C untuk datang ke kelasmu. Di luar hujan gerimis. Dan apa yang kudapat? Kau menguji kesabaranku dengan demikian kekanakannya!"

JLEB.

Nesia langsung bungkam seribu bahasa.

Dipikir-pikir, memang benar ucapan Arthur, sih. T—tetapi salah siapa yang membuat Nesia demikian benci mendarah daging pada pemuda itu? Setelah semua yang diperbuat, dari Hong Kong pemuda itu bisa berekspektasi Nesia akan tersenyum lalu berlala-lili ria bersamanya seolah mereka adalah dua kenalan yang akrab?

Cih.

"Kau tahu," Nesia mendengar Arthur menghela napas lelah, "Kita satu tim dalam kompetisi debat. Dan aku mulai berpikir bahwa sikap Perang Dingin kita tidak baik bagi kerjasama dan kekompakan tim kita. Jadi, yah. Aku meminta maaf padamu dan aku juga memaafkan semua kesalahanmu. Cukup adil, 'kan?"

Mendengarnya, terang saja membuat Nesia tertegun menatap jendela di depannya.

Pemuda itu meminta maaf? Dia melakukan semua ini—berjalan dari kelasnya menerobos hujan begini hanya untuk meminta maaf padanya?

O—otaknya baik-baik saja, kan?

"Meskipun aku tidak merasa pernah berbuat salah padamu, tetapi kupikir apapun kesalahanku menurutmu, aku harus meminta maaf."

Kedua mata Nesia menyipit tajam, seolah ia mampu mengeluarkan lasser listrik yang mampu memecah jendela di depannya menjadi milyaran keping.

SETAAAAAANNNNNNNN!

Bego banget! Bego banget dirinya yang berani-beraninya dengan tolol dan absurdnya, berharap bahwa Arthur 'tulus' meminta maaf padanya! Bagaimana ia bisa berekspektasi bahwa Nesia akan memaafkannya jika ia meminta maaf pada Nesia, tetapi di saat yang sama ia juga mengibarkan bendera perang untuk kesekian kalinya demikian?

Dafuq!

Belum sempat Nesia merespon, ia mendengar sesuatu yang terletakkan di meja mereka, bersamaan dengan bau sedap nan harum yang langsung menggelitik hidungnya. Dan karena harga diri Nesia yang begitu tinggi—setidaknya khusus jika ia di depan Arthur—Nesia hanya melirik ke arah meja.

Dan kekuatan imannya langsung tergoda oleh berbagai hidangan yang mejeng bin eksis di sana, yang baru terletakkan oleh waitress anonim sotoy tadi—yang segera berlalu begitu selesai melaksanakan tugasnya. Oh ya, jangan lupa dengan kedipan mata ke arah Arthur dan Nesia, sembari berkata, "Selamat menikmati," dengan begitu 'terlalu riang'nya.

Tetapi Nesia tidak sempat—dan tidak memikirkan kalimat dan gestur sugestif dari waitress anonim tadi. Yang ada di pikiran gadis itu hanyalah sederet makanan yang tampak begitu—catat: begitu—menggoda, terutama bagi orang yang melewatkan makan siangnya, seperti Nesia.

Jika tidak ingat bahwa dirinya seorang perempuan, dan jika tidak ingat dirinya tengah berada di tempat umum, dan terutama, jika tidak ingat bahwa di depannya terdapat seorang bangsawan Inggris yang sepertinya akan membuat ahli table manner manapun bangga akannya, Nesia pasti akan meneteskan air liur dari sudut bibirnya yang terbuka.

Y—Ya Tuhan…

Seperti mengerti apa yang dipikirkan Nesia, Arthur hanya tersenyum miring, lalu berucap, "Kau bisa memakannya semaumu."

SNAP!

Ucapan Arthur tersebut seketika menyadarkan Nesia dari fantasinya. Iya, fantasi. Karena makanan ini bagaikan buah kuldi—terlihat enak dan menggoda, tetapi adalah buah yang mampu mengirimnya ke dasar neraka. Orang iblisnya ada di situ!

Menahan lapar karena masalah harga diri, Nesia kembali membuang mukanya ke samping sembari berucap judes, "Jangan mimpi aku mau menyentuhnya!"

"Wajahmu tadi jelas-jelas mengatakan sebaliknya."

Uh.

"Siapa yang—."

Kruuukkk~~

A—aaa…..

Nesia mendelik ke arah jendela sembari menggembungkan kedua pipinya ketika ia merasakan wajahnya menghangat. Dalam hati ia rasanya ingin merajam dirinya sendiri ketika bunyi memalukan tadi terdengar begitu jelas bagaikan konser Paramore di tengah alun-alun kota.

Dan rasanya, tanpa melihatpun, Nesia tahu bahwa Arthur tengah menyeringai kepadanya.

"Dan perutmu mengatakannya dengan jauh lebih jelas lagi," ujar Arthur dengan nada yang seolah berkata 'Lihat? Aku benar, kan, hypocrite?'

"Lebih baik aku mati kelaparan daripada menelan makanan yang kau pesan," kata Nesia bersihkeras.

"Kau seharusnya tidak menolak pemberian orang lain."

"Dan kau seharusnya tidak memaksa orang lain untuk menerima pemberian darimu."

"Bisakah kau berbicara padaku dengan menatapku?" ujar Arthur. Kali ini nada suaranya seperti menunjukkan bahwa kesabarannya sudah mulai terkikis kembali, "Kau selalu berbicara tanpa menatap lawan bicaramu. Entah bagaimana di negeri asalmu, tetapi di negeri tempatmu tinggal sekarang itu seperti melanggar sopan santun."

Ya. Bicara soal sopan santun seperti dirinya selalu menaatinya saja, pikir Nesia jengah.

Alih-alih menurut, Nesia kembali memberontak dengan sikap membangkangnya.

Dan Arthur sepertinya bukanlah pribadi yang suka ditentang.

"Look," kata pemuda itu dengan suara tertahan, seperti ia tengah berusaha keras untuk tidak meluapkan emosinya, "Aku datang baik-baik kepadamu. Berusaha untuk bekerjasama denganmu, semata-mata demi kebaikan kelompok kita nantinya. Bisakah kau setidaknya, mengarahkan wajahmu kemari dan menghargai aku yang tengah berbicara padamu?"

Jelas-jelas menghiraukan ucapan Arthur, Nesia malah mulai menggores-goreskan telunjuk kanannya pada permukaan jendela yang berembun akibat hujan, dan membentuk lukisan abstrak di sana.

"Kenapa kau begini keras kepala…."

"Nah, disini ada satu gunung besar… Hm.. Mataharinya ditaruh pojok atas saja, deh," gumam Nesia sembari masih menggores-goreskan telunjuk pada permukaan jendela.

"Apa permintaan maafku saja tidak cukup?"

"Disini ada pohon, trus di sampingnya ada petak-petak sawah," gumam Nesia, "Ah! Pohonnya lebih baik pohon pisang saja. Kan cocok, tuh."

"Dengar," Arthur menghela napas berat, "Jangan kau pikir aku melakukan semua ini tanpa beban. Kau tahu? Berpikir untuk menemuimu, mentraktirmu, dan memohon maaf seperti pecundang padamu begini, harus kupertimbangkan dalam-dalam dua hari dua malam! Demi Tuhan, dua hari dua malam! Namun akhirnya aku rela merendahkan diri padamu demi kelancaran kompetisi. Kau ini tidak bisa menghargai usaha orang lain, ya?"

Uh.

'Oh, ya? Trus sekarang aku harus teriak-teriak double wow sembari loncat indah dari satu meja ke meja lain di kantin ini, gitu?' pikir Nesia sembari secara mental, menjulurkan lidah, 'Masalah buat gue?!'

"Hm… Apa lagi yang kurang ya?" gumam Nesia memasang ekspresi serius memandangi hasil 'gambarannya' di kaca berembun itu, "Oh ya! Dari ujung gunung sini, lebih baik ada jalan raya yang memanjang. Oh ya, awan dan burungnya belum kugambar!"

"… Kau ini benar-benar—."

"Ck!" Nesia mendecakkan lidah dengan kecewa, "Sayang banget ini gak bisa dikasih warna. Padahal bagus kan, kalau seandainya bisa diwar—."

"That's it!"

BRAK.

Nesia berjingkat ketika ia mendengar bunyi gebrakan hingga membuat meja di depannya bergetar kecil dengan nampan dan peralatan makan apapun di atasnya. Gadis itu menoleh terkejut, dan langsung tatapannya menemukan Arthur yang telah berdiri dengan muka memerah.

S—sepertinya kali ini kau keterlaluan, Nes? Ia sangat marah, sepertinya.

Memang benar, karena pandangan Arthur menyipit tajam ke arah Nesia bersamaan dengan kalimat yang ia ucapkan dengan desisan, "Sudah kuduga," geramnya dengan kedua tangan yang mengepal kuat, "Sudah kuduga, semua sia-sia. Melakukan semua ini sama saja memohon surga pada setan!" makinya keras, sebelum melangkah pergi dengan langkah lebar dan cepat, keluar dari kantin itu.

Dan meninggalkan seluruh penghuni kantin yang menatap ke arah mereka berdua dengan pandangan heran.

Beserta meninggalkan Nesia yang kini menatap seluruh hidangan di depannya dengan syok.

I—ini semua sudah dibayar Arthur, kan?

-oOo-

Ketika bel tanda pulang sekolah berbunyi nyaring sore itu, seluruh penghuni kelas rasanya seperti regu koor yang langsung menghela napas lelah dan bergumam 'syukurlaaahhh' secara serempak. Pelajaran Kimia di periode terakhir memang bukanlah pilihan yang bagus, karena selain lelah, rasa ngantuk akibat hawa cuaca mendung begini sangat membuat fungsi kerja otak para murid menurun untuk mampu giat mengkalkulasikan hitungan yang menjadi dasar pelajaran tersebut. Oleh sebab itu, begitu mendengar 'alunan melodi surga' aka bel sekolah itu berbunyi, para murid segera menutup buku dan memasukkannya ke dalam tas.

Benar-benar hari yang melelahkan, begitulah pikir Annesia sembari menghela napas berat dan memasukkan buku tebal Kimia-nya. Iya, melelahkan. Karena hari Rabu baginya—dan ia yakin, bagi sebagian besar teman kelasnya yang lain—merupakan hari neraka. Matematika, Filsafat, Kimia, dan Astronomi.

Argh. Siapa sih orang yang merancang jadwal demikian menyusahkannya?

"..Maaf, hari ini aku tidak bisa pulang bersamamu."

Gerakan Nesia untuk menutup resleting ranselnya, terhenti ketika ia mendengar suara demikian. Menoleh, ia menatap pada Lovinoyang sedang menyelempangkan tas selempangnya, ke pundaknya

"Aku pulang bersama dengan mobil Feli—ada keperluan yang harus kuurus," lanjut Lovino.

Nesia tersenyum kecil, "Tak apa, Lovino. Untuk apa meminta maaf? Lagipula aku bisa pulang sendiri kok."

Pandangan Lovino mengarah pada langit di luar jendela, "Tapi mendung begini…"

"Aku bisa naik bus!" Nesia tersenyum lebar sembari membentuk tanda peace dengan jemari tangan kanannya.

"… Halte bus kan jauh. Lagipula, jika hujan begini pasti penuh sesak, kan?" tanyanya sembari turut melangkah, menyejajari Nesia yang lebih dahulu bergerak keluar kelas.

Nesia hanya tertawa mendengar ucapan Lovino. Ingin ia merespon 'Aku akan baik-baik saja' kepada Lovino, ketika semua ucapannya harus tertelan kembali begitu ia sampai di luar kelas. Lebih tepatnya, ketika kedua matanya menatap pada ruangan di gedung seberang, tepat di depan kelasnya. Ruangan yang menjadi kelas lain bagi murid kelas satu pula.

Menghela napas untuk mengurangi rasa sesak di dada, Nesia mengalihkan pandangan bersamaan dengan matanya yang menatap sayu ke arah jalan di depannya.

Pasti Antoniosudah pulang duluan atau ada acara Klub atau apa.

.

.

"Bawalah ini."

Gerakan Nesia untuk mengeluarkan mantel dan boots-nya dari dalam loker, terhenti ketika ia menoleh dan mendapati sebuah payung berwarna coklat, tersodorkan ke arahnya. "Untuk apa?" tanyanya, menatap Lovino yang langsung mengerutkan keningnya heran.

"Tentu saja untuk kau pakai, apa lagi?" jawab Lovino sembari menutup lokernya, "Aku yakin bahwa sebentar lagi akan hujan, dan kau tidak memiliki payung."

Ha—Haha…

Nesia hanya meringis garing. Kenapa dia bisa lupa akan fakta sesimpel itu?

Karena tak ada pilihan, Nesia menerimanya. Lagipula, tadi Lovino bilang akan naik mobil Feliciano, kan?

"Terimakasih," jawab Nesia yang dibalas oleh anggukan kecil Lovino.

Setelah memakai mantel dan boots-nya, dan setelah memasukkan payung Lovino ke dalam ranselnya, Nesia mulai melangkah pergi dari ruang loker bersama dengan Lovino. Nesia mengikuti Lovino ke taman—tempat dimana pemuda itu berjanji bertemu dengan adik kandungnya tersebut. Setelah menyapa Feliciano dan berbasa-basi sebentar, akhirnya Nesia meninggalkan mereka berdua dan berjalan sendiri menuju gerbang sekolah. Sempat Feliciano menawarinya untuk mengantar pulang, dan tentu saja Nesia menolak sopan. Karena Nesia tahu, arah apartemennya berlawanan dengan arah di mana Feliciano biasa pulang—ke rumah orang tuanya, orang tua Lovino juga.

Tidak seperti kebanyakan sekolah pada umumnya, gerbang sekolah Hetalia High pada saat pulang sekolah begini tidak terlalu sesak. Hal ini dikarenakan selain tiap kompleks (A, B, dan C) memiliki dua gerbang sebagai jalur keluar-masuk area sekolah. Satu jalur untuk murid, dan satu jalur untuk guru. Sehingga tidak perlu berdesak-desakkan karena murid kelas 1, 2, dan 3 tidak akan menggerombol dalam satu jalan keluar ketika ingin masuk ke atau keluar dari area sekolah.

Nesia termasuk kategori pejalan kaki dalam kerumunan murid di gerbang kompleks A ini. Banyak pula murid yang memakai sepeda sebagai transportasi pulang-pergi sekolah. Dan sebagian lagi memakai motor. Dan hanya beberapa saja yang memakai mobil. Bukannya tak punya atau apa—oh, jangan salah sangka. Mobil adalah properti yang sangat biasa dan wajar untuk dimiliki orang 'sekalangan' mereka. Hanya saja psikologis orang Barat saja yang hanya akan memakai mobil pada certain occasion, bukan saat pergi dan pulang sekolah (1). Atau cara lain adalah simpel, menunggu jemputan.

Mendongak, Nesia seketika menggeram pelan dan kecewa ketika melihat langit di atasnya begitu kelabu. Mendungnya tampak demikian tebal—dan pastinya, beberapa saat lagi, hujan akan datang menyapa.

Puji syukur Lovino meminjaminya payung.

Tetapi tetap saja, Nesia harus segera melangkah pergi dan secepatnya sampai di halte bus, atau kalau tidak, berjalan cepat-cepat lewat jalan pintas untuk segera sampai ke apartemennya. Semakin cepat ia pergi, maka semakin besar peluangnya untuk terlindung dari hujan yang sepertinya, akan sangat deras.

Namun, baru saja gadis itu berhasil melangkah keluar gerbang, langkahnya terhenti ketika sebuah motor mendadak berhenti tepat di depannya.

Nesia hanya melirik sekilas pada motor berwarna hitam-merah tersebut—tidak ada waktu untuk berhenti lama-lama. Gadis itu ingin memutar arah agar bisa melewati motor itu, tetapi sebuah suara otomatis membuatnya terpaku di tempat.

"Annesia! Hei!"

Dan suara itu jelas-jelas berasal dari pengemudi motor yang masih memakai helm hitam metaliknya.

Berpikir… Berpikir…

Nesia hanya mengernyit menatap kaca helm tersebut yang hitam kelam, sehingga menghalangi pandangan gadis itu pada wajah si pemakai. Apalagi jaket kulit coklat yang membalut tubuh orang itu, membuat usaha Nesia untuk melihat name tag nya gagal dan berakhir dengan keheranan gadis itu terhadap identitas si pengendara.

Seolah sadar akan kegalauan dan kebimbangan Nesia, si pengendara itu membuka kaca hitam pelindung helmnya.

Dan Nesia langsung mampu menatap dua buah emerald yang balas menatapnya.

Emerald yang bersinar… emerald yang berbeda dan terlihat tak sama dengan warna emerald yang lain. Yang selalu bersinar, yang selalu sukses membuat darah Nesia berdesir hangat.

Warna emerald yang akhir-akhir ini, begitu sulit untuk mampu ia tatap.

"Nesia?"

Antoniosukses membuyarkan lamunan nge-angst dan galau Nesia. Gadis itu segera tersadar dan dalam hati menghardik dirinya sendiri yang sempat-sempatnya merasa mellow di saat seperti ini.

Iya, di saat seperti ini. Di saat untuk pertama kalinya, ia melihat Antonio memakai jaket coklat tebal itu. Saat Antonio melindungi kepalanya dengan helm hitam metalik itu. Dan terutama, saat ia berada di atas sebuah motor sport berwarna hitam-merah mengkilat itu.

A—ahhh….

Nesia rasanya tidak bisa meminta sesuatu yang tampak lebih indah dari ini. Keren! Sangat keren! Bagi Nesia, Antonio dasarnya memang sudah keren. Nesia yakin, sekalipun Antonio baru bangun tidur dengan rambut teracak, iler membekas di sudut bibir, dan mata membengkakpun, ia pasti masih terlihat keren.

Apalagi jika cowok itu tampak sangat gagah di atas motor itu

Rasanya Nesia ingin sekali berlama-lama fangirling ria. Gadis itu hanya menatap Antonio, tanpa merespon ucapan pemuda itu. Kedua matanya sedikit membelalak dan sesekali berkedip pelan. Tidak peduli dengan lalu-lalang sekitar—bahkan gadis itu tidak bereaksi ketika seorang murid yang juga tengah keluar dari gerbang, tanpa sengaja sedikit menyenggol bahunya.

Tetapi sepertinya tidak bisa, karena sesi fangirling itu sendiri buyar ketika Antonio membuka suara, "Sampai kapan kau akan terbengong begitu, Nes?"

Sukses! Nesia sukses 100% tertangkap basah tengah mengamati Antonio, di depan Antonio sendiri.

Mencoba menahan rona merah yang dengan cepat menjalar di wajahnya, Nesia hanya tertawa kikuk dan merasa konyol.

"M—maaf, Antonio—."

"Simpan saja maafmu dan sekarang naiklah."

E—eh?

Dan Nesia melihat kedua mata itu melengkungkan tatapan senyum, ketika Antonio melemparkan tunjukan jempol kanannya ke arah jok belakang motornya, "Naiklah ke motorku, tentu saja."

-oOo-

Hembusan angin terasa seperti menampar muka Nesia ketika kendaraan berwarna hitam yang dinaikinya, melaju cepat—sangat cepat seperti hendak melawan arus angin yang menabraknya. Deru motor Antonio seolah teredam oleh deru angin yang seolah hendak menulikan telinga Nesia. Kuatnya hembusan Apalagi ditambah dengan udara dingin khas musim hujan, membuat Nesia sedikit merasakan dingin sekalipun mantel berwarna putih telah membalut hangat tubuhnya.

Motor itu masih melaju cepat.

Antonio mungkin memiliki obsesi sebagai pembalap atau apa, karena ayolah, pemuda itu seperti telah gila karena mengendarai dengan demikian cepatnya. Berkali-kali Nesia mengucap asma Tuhan di mulutnya ketika bahkan pemuda itu tidak mengurangi kecepatan bahkan ketika melewati tikungan. Puji Tuhan jalanan aspal itu lumayan lebar, dan lumayan sepi juga, sehingga Nesia mampu meredam asumsi-asumsi negatifnya.

Jadi, wajar saja jika Nesia merasa sedikit takut. Dan oleh karena itu, wajar juga bukan, jika Nesia tanpa sadar memegangi kedua bagian pinggang dari jaket Antonio?

Erat. Rapat. Seolah ia takut, jika ia ia melepaskan genggamannya, maka ia akan terlempar keras ke jalan raya—dan itu sangat mungkin terjadi mengingat betapa Antonio mengendarai motor ini seperti setan.

"A—Antonio!"

Bahkan Nesia sedikit sulit mendengar suaranya sendiri. Suara angin yang menderu sepertinya cukup mampu meredam suaranya untuk sampai pada telinga pemuda di depannya.

"Antonio!" Nesia sedikit mengeraskan suaranya, sembari kini sedikit menarik-narik kecil kain jaket Antonio.

Syukurlah, sepertinya berhasil. Karena beberapa saat kemudian Nesia rasakan laju motor itu memelan, hingga kemudian sama-sekali berhenti dengan sedikit decitan.

Antonio menyangga motornya dengan sebelah kakinya, lalu menoleh ke belakang sembari membuka kaca pelindung helm-nya, "Apa, Nes?" tanyanya, sedikit heran melihat wajah gadis itu sedikit memucat, dengan helai hitamnya yang tampak berantakan disekitar wajahnya.

"Bisa kau pelankan laju motormu?" pinta Nesia tanpa tedeng aling-aling. Habisnya, ia bisa pulang tanpa nyawa jika begini terus…

"Oh," cetus Antonio mengerti, lalu tersenyum, "Maaf, Nes jika membuatmu takut. Hanya saja," pemuda itu mendongakkan kepalanya, menatap langit yang menggantung rendah di atas mereka, "Langit begitu mendung—."

Tes.

Nesia merasakan ujung hidungnya basah oleh setitik air.

Tes tes tes—

Kembali menatap Nesia, Antonio tersenyum sembari mengendikkan bahu, "Sesuai yang kuduga," ujarnya, "Aku hanya ingin kita sampai secepatnya—jika bisa, tanpa terlalu kebasahan. Jadi, kau pegangan saja ya, padaku."

'Kau pegangan saja ya, padaku.'

Begitulah kalimat itu terulang-ulang, ulang, ulang, dan ulang bagaikan kaset rusak, di telinga Nesia yang langsung saja terpaku. Kalimat Antonio itu… tidakkah itu berarti pemuda itu menawarkan perlindungan padanya? Meminta Nesia untuk mengurangi ketakutannya dengan berpegangan padanya? Bersedia melindungi Nesia?

Dan sepertinya Antonio tanpa sadar suka sekali menyiksa batin Nesia—namun di saat yang sama, Nesia sangat menikmati siksaan itu (yeah, dia sedikit masokis)—dan membuat rona merah yang sudah tampak, semakin menjalar. Karena setelah berucap kalimat yang bagi Nesia sangat melambungkan batinnya tersebut, pemuda itu kemudian melepas jaketnya.

Dan segera menyampirkan jaket itu untuk menutupi kepala Nesia.

Dan di detik itu pula, rasanya Nesia merasa takut bahwa detak jantungnya yang terlalu keras dan menggila, akan mampu didengar dan diketahui oleh dunia.

"Pakai jaket itu untuk melindungimu dari hujan—sebagai ganti payung, karena aku tidak akan memelankan motorku, Nes," Antonio tertawa, lalu kembali menghadap ke arah depan, bersiap lagi untuk membelah jalanan dengan laju motornya, "Ingat, pegangan ya."

Dan Nesia hanya menurut.

Begitu motor itu kembali melaju, Antonio membuktikan ucapannya. Laju motor itu sama sekali tidak terkurangi—bahkan semakin cepat. Hujan rintik-rintik segera saja menjadi guyuran deras. Membuat kedua tubuh mereka basah kuyup. Membuat keadaan sekitar mereka juga tiada beda.

Tetapi bukan itu yang tengah dipedulikan Nesia.

Yang ia pedulikan sekarang adalah bagaimana ia merasakan sebelah tangannya memeluk pinggang Antonio—rapat. Bagaimana sebelah tangannya yang lain memegangi jaket Antonio agar tidak terbang terbawa angin, dari kepalanya. Bagaimana ia mampu merasakan aroma kayu manis baik dari jaket, ataupun dari punggung yang beberapa lama ia pandang, tampak begitu lebar dan menjanjikan kenyamanan. Dan bagaimana ia mencoba menikmati desiran hangat darahnya sekalipun dunia sekitarnya tengah terguyur oleh siraman air alam.

Jika begini sih… semua kekecewaannya akan sikap 'menjauh' Antonio selama beberapa akhir ini, sepertinya terbayar lunas.

Bahkan lebih.

-oOo-

Ucapan syukur terhela dari mulut Nesia ketika motor yang dinaikinya, berhenti tepat di halaman apartemennya. Segera saja, gadis itu melompat turun dari motor itu. Matanya menyipit agar mampu melihat Antonio dengan lebih jelas, di balik tirai tetesan hujan yang lumayan deras.

"Kau mampir, Antonio? Hujan masih deras," tawarnya, dengan sangat-sangat berharap. Catat: sangat.

Dan sepertinya Dewi Fortuna atau Dewi Cinta sedang berpihak padanya, ketika pemuda itu mengangguk. Setelah turun dan mengunci aman motornya, segera saja Antonio, bersama Nesia, berlari-lari kecil menuju teras apartemen Nesia.

Teras apartemen waktu itu lumayan ramai—banyak orang-orang yang turut meneduh di sana. Wajar sih, karena hujan juga sangat deras dan sepertinya belum menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti dalam beberapa waktu dekat ini.

Begitu sampai di lindungan atap teras, Nesia menghela napas lega. Pasalnya, ia tidak lagi merasakan hujaman butir-butir hujan yang lumayan keras di sekujur tubuhnya. Masalahnya sekarang adalah tubuhnya yang basah kuyup begini—dan jelas, dingin sekali! Gadis itu menoleh untuk mengatakan sesuatu pada Antonio, tetapi apapun yang ingin diucapkan langsung tertelan kembali olehnya.

Antonio berdiri di depannya. Dengan tubuhnya yang juga tak ada beda kondisinya dengan tubuh Nesia—basah, hingga membuat blazer biru hitam yang dipakai pemuda itu tampak berat oleh air yang terserap. Dan ketika Antonio melepas helmnya, Nesia tidak sanggup lagi menahan mulutnya untuk tidak sedikit membuka, ketika pemuda itu sedikit mengibas-kibaskan helai kecoklatannya.

Bahkan Nesia tidak berkedip ketika beberapa tetes terciprat ke mukanya.

E—entah… entah apakah Antonio mampu menjadi lebih keren dari yang sekarang Nesia lihat. Apakah pemuda itu mampu tampak lebih sempurna dari sekarang. Dan adakah satu hal yang tidak menarik dari apapun yang dilakukan pemuda itu? Helainya yang tampak berantakan, dan sebagian melekat erat di dahinya. Kulit kecoklatannya tampak begitu istimewa dengan tetes-tetes air seperti itu… Membuat Nesia mampu merasakan seolah jantungnya akan berhenti berdetak jika organ itu terus berdetak terlalu cepat seperti ini. Ia takut jika wajahnya benar-benar terbakar jika ia merasakan panas yang demikian terasa di wajahnya.

Mungkin tersadar karena diperhatikan, Antonio menoleh lalu memberi pandangan heran pada Nesia, "Ada apa, Nes?"

Dan ketika kedua bola emerald itu menatapnya, Annesia tidak tahu lagi apa yang harus dipikirkannya selain mengagumi ciptaan Tuhan tersebut. Indah. Sangat indah hingga ia sudi untuk buta pada dunia, jika ia bisa melihat kedua bola itu selamanya.

Emerald yang mampu membuatnya terjatuh dan tersesat di dalamnya—dan ia tidak mau keluar.

Warna iris yang ia tak akan bosan untuk mengucapkan syukur bahwa ia terpilih menjadi salah satu dari sekian banyak manusia, yang mendapatkan kesempatan untuk mereguk pandangannya.

Dan warna emerald yang membuat logika benar-benar terdominasi oleh perasaan, oleh insting, dan oleh kekuatan tak kasat mata yang membuat Annesia menghiraukan ucapan otaknya dan menuruti bisikan hatinya.

Hatinya yang berdebar… Jantungnya yang menggila.

Begitulah, kedua emerald itu pula yang seolah menarik kedua kaki Nesia untuk melangkah maju. Membuat gadis itu tanpa ragu memberikan respon untuk pertanyaan Antonio tadi.

Tidak secara lisan,

Tetapi melalui jinjitan kedua kakinya. Melalui terpejamnya kedua bola matanya.

Dan melalui sentuhan bibirnya di bibir yang sering sekali menghantui pikirannya ketika ia melihatnya.

.

.

Beginikah rasanya ciuman pertama?

.

.

Sisa dunia sekitarnya seolah tampak dan terasa meleleh tanpa bekas—tak ada apapun selain apa yang terjadi sekarang padanya. Hanya antara dia, dan pemuda itu. Hanya antara Nesia, dengan Antonio.

.

.

Nesia tak habis pikir, ternyata bibir itu terasa jauh lebih lembut dari apa yang terkadang dibayangkannya.

.

.

Ia bisa merasakan tubuh Antonio kaku—pasti ia terkejut, tentu. Nesia juga bersiap untuk segera mengakhiri semuanya dan meminta maaf—bahkan lebih baik, pergi dan hengkang dari AS jika tindakannya ini benar-benar membuat Antonio merasa marah dan malu.

Tetapi dugaannya salah.

Sangat salah ketika Nesia mampu merasakan tubuh itu segera rileks. Salah, ketika dari kedua matanya yang separuh terpejam, ia mampu melihat kedua emerald itu juga perlahan tersembunyi di balik kelopak matanya. Salah, ketika ia merasakan pinggangnya terlingkari oleh kedua lengan. Lengan yang hangat, yang kuat—seolah ingin melindunginya dari apapun juga. Dan seolah ingin menunjukkan pada dunia bahwa gadis yang tengah ia peluk adalah miliknya.

Hanya miliknya.

Sebuah ciuman yang polos nyatanya tak pernah terpikirkan oleh Nesia, akan melangkah ke tingkat yang lebih tinggi. Sentuhan ringan antara bibir dengan bibir, nyatanya akan mengarahkan mereka pada suasana yang semakin intim ketika Antonio merapatkan tubuh Nesia ke tembok di belakangnya. Ketika Antonio semakin mengeratkan pelukannya. Ketika pemuda itu membuat tubuh mereka berdempetan semakin erat—bagaikan mereka adalah satu tubuh dengan dua jiwa.

Dengan bingung dan sedikit ragu, Nesia membuka sedikit mulutnya ketika ia merasakan Antonio menggunakan lidahnya untuk menyapu bibir bawahnya.

Dan kesempatan itu dipergunakan secara baik oleh Antonio untuk melesakkan lidahnya ke dalam mulut Nesia. Beradu dominasi—dan tentu saja, Nesia yang tidak berpengalaman, langsung kalah. Pemuda itu juga menyapu seluruh atap rongga mulut Nesia, bagian dalam pipinya, bahkan mengabsen satu persatu giginya.

Semua itu semakin terasa memabukkan bagi Nesia.

Sangat memabukkan hingga gadis itu menggunakan leher Antonio untuk melingkarkan kedua tangannya—takut jika ia tidak berpengangan, ia akan terjatuh karena saat ini kedua lututnya terasa begitu lemas. Nesia rasanya tidak peduli pada orang-orang sekitar mereka. Dan ia merasakan wajahnya semakin merona ketika mendengar bunyi decapan-decapan yang mereka hasilkan, yang menandakan betapa dalam dan intimnya kegiatan yang tengah mereka lakukan. Bahkan Nesia mampu menerka apa yang tadi siang menjadi menu makanan Antonio saat periode istirahat, melalui percampuran saliva mereka.

Bahkan sepertinya mereka juga tidak peduli ketika Nesia mulai mengeluarkan suara yang sungguh, akan mampu membuat wajah siapapun yang mendengarnya, merona panas.

"Nnnnhhh…."

Antonio menciumnya semakin dalam, hingga rasanya Nesia tidak ingat bahwa mereka adalah manusia biasa—dan mereka harus segera memisahkan kedua wajah mereka karena kebutuhan oksigen yang mencekik paru-parunya. Semakin dalam, hingga Nesia semakin mendongakkan kepalanya ketika pemuda itu juga semakin menundukkan kepalanya—untuk menikmati lebih, untuk merasakan lebih. Dan semakin dalam, hingga Nesia mampu merasakan setetes air liur yang menyelinap dari ujung mulutnya.

"A—Antonio—Nnhh."

"Nesia," bisik Antonio ketika mereka berpisah sejenak, sebelum pemuda itu kembali melumat bibirnya dengan dalam dan hangat. Wajah mereka kembali melekat—hingga kedua hidung mereka berhimpitan begitu erat.

"Antonio," Nesia semakin membawa Antonio dalam pelukannya melalui pegangannya di kedua pundak pemuda itu.

"Nesia."

"Anto—."

"Nes? Kita sudah sampai, lho."

.

.

E—eh?

.

.

Perlahan Nesia membuka matanya. Alih-alih wajah Antonio yang terlihat begitu dekat dengannya, yang dilihatnya justru jalanan beraspal.

Jalanan beraspal yang terhujami oleh guyuran hujan. Dan saat gadis itu menurunkan pandangannya…

Motor?

.

.

Seperti mendapatkan sengatan listrik berjuta volt, Nesia segera menegakkan tubuhnya lalu menoleh ke sekeliling tubuhnya.

Ia masih berada di atas motor sport hitam-merah. Ia masih berada di halaman apartemennya. Ia masih kehujanan. D—dan…

Pandangan gadis itu mengarah ke arah depan. Langsung saja, sebuah senyum garing plus kedutan sebelah matanya tampak, ketika ia melihat Antonio masih berada di depannya—di atas motor dengannya. Lengkap dengan helmnya—bahkan sebelah tangan pemuda itu masih memegang stang.

D—Dafu…

Rasanya gadis itu ingin menampar, mencincang, dan memakan dirinya sendiri dengan brutal.

Apa-apaan…

"Akhirnya kau terbangun juga," kata Antonio menatap Nesia, "Kau tadi tertidur dan bersandar di punggungku. Kita sudah sampai di apartemenmu."

Ha—Hah…

Nesia rasanya ingin mati juga.

Sejak kapan… sejak kapan ia menjadi gadis mesum yang memiliki lamunan seekstrim itu? Tidak hanya itu, bagaimana ia sempat-sempatnya melamun di tengah keadaan hujan dan di atas motor orang lain? Dan lebih parah… Bagaimana ia bisa berlaku konyol hingga membuat Antonio berpikir bahwa Nesia ketiduran?

Ketiduran, di atas motor yang melaju kencang, di bawah guyuran hujan.

Hanya orang gila yang bisa begitu. Dan pastilah, Antonio berpikir bahwa ada yang salah kondisi mental Nesia.

"M—M—Ma—Ma—," Sialan! "M—Maaf, Antonio," ujar Nesia, dimana orang paling tolol pun tahu bahwa gadis itu tengah gugup dan merasa konyol sendiri, "A—Aku lumayan lelah, jadinya… yah… A—Ahahaha…ha."

Ya sudahlah, terlanjur basah, sekalian nyemplung juga. Berpura-pura ketiduran lebih baik dan menyelamatkan harga diri ketimbang terus terang bahwa ia baru saja melamunkan hal yang tak normal antara dirinya dengan Antonio. Lebih baik Antonio menganggapnya aneh (karena tertidur di atas motor yang melaju kencang) daripada pemuda itu sama sekali menghindarinya kemudian nanti.

'Dafuq Nes! Bad thought! Bad thought!' batin Nesia menghardik diri sendiri, 'Malam nanti pergilah ke gereja dan buat pengakuan dosa! Sialan kau!'

Melompat turun dari motor, gadis itu segera membungkuk kepada Antonio, "Terimakasih, Antonio, sudah mengantarku. Dan maaf merepotkan," ujarnya tanpa berani menatap ke kedua mata Antonio. Seolah takut, ketika ia bertindak demikian, maka Antonio mampu melihat rekaman lamunan Nesia yang terpampang jelas di iris hitam kecoklatan itu.

"Tak apa. Bukan masalah sama sekali," ujar Antonio sembari tersenyum, "Segeralah masuk ke dalam, oke? Lihatlah, kelamaan kehujanan, wajahmu sangat memerah."

Nesia hanya mengangguk kikuk, tanpa menjelaskan bahwa wajahnya merona hangat justru karena alasan yang sama sekali tidak berhubungan dengan terpaan air hujan di tubuhnya.

"Kalau begitu, sampai jumpa besok di sekolah," ujar Antonio. Pemuda itu lalu kembali menutup kaca pelindung helmnya, dan kembali men-starter motornya.

Setelah memberi lambaian singkat pada Nesia, pemuda itu kembali melajukan motornya. Kencang. Cepat. Meninggalkan sedikit cipratan air di bagian jalan yang dilaluinya.

Dan Nesia hanya menatap kepergiannya. Di balik tirai hujan, ia lihat motor itu. Dan sekalipun tubuhnya rasanya kaku dan beku akibat hujaman hujan, ia gunakan beberapa waktu untuk menatap punggung itu.

Pandangan Nesia teralihkan ketika ia melihat sesuatu yang menggantung melewati kepalanya. Mendongak, ia baru menyadari bahwa ia masih memakai jaket Antonio. Sekalipun pada akhirnya tidak berguna sama sekali—Nesia toh juga basah kuyup, tetapi gadis itu tak mampu menahan keinginannya untuk menyentuh kain berwarna coklat itu.

Jaket ini adalah jaket Antonio. Jaket yang sering dipakai Antonio. Dan kini, jaket itu menudungi kepalanya. Melingkupi tubuhnya—seolah menjadi perpanjangan tangan si pemilik untuk melindungi Nesia.

Tersenyum, Nesia melangkah memasuki halaman apartemennya.

Biarlah apa yang tadi menjadi imajinasinya, akan menjadi rahasia untuk dirinya sendiri, selamanya.

Dengan tubuh yang telah basah kuyup, gadis itu meneruskan langkahnya.

Dan kali ini, payung dari Lovino tetap berada di dalam tas ransel Nesia—gagal sama sekali dalam menjalankan fungsinya.

-oOo-


(1) Ini saya kutip dari pendapat dosen saya :D Yang bilang bahwa kebiasaan di sini (Indonesia), lumayan berbeda dengan kebiasaan di sana (Barat).


Next Chapter

"Senior Tiino-mu ini telah membuatnya dengan penuh cinta hanya untukmu, lho."

.

'Surat tanpa nama pengirim?'

.

"Kau tahu, teh adalah minuman kesukaan Arthur, lho."

.

"Apa kau sebegitu alerginya pada Iggy? Hingga mendengar namanya saja kau tersedak begitu."

.

"Dan aku yakin, kau juga gadis yang baik dan sangat menyenangkan … Beda sekali dengan pernyataan Arthur bahwa kau ini seperti nenek sihir atau perawan tua."


My retarded blabbering (hanya untuk Anda yang saking kurangkerjaan atau saking cintanya ama saya, hingga baca bahkan sampai tulisan ga penting ini :p)

Hore! Akhirnya saya dapet flamer! Asik-asik! /salahoi

Tapi berhubung saya ini orang plegmatis yang peace loving (halah!), saya ga terlalu banyak mikir deh. Orang di FFn cuma seneng-seneng, kan? Bukan nyari perkara :D Dan maaf jika ada yang ga ngenakin, karena saya bukan koki /oioi :D Intinya, kita santai aja kayak anak pantai eaaaaaa? /alay lagi

Hm, dan soal Rate M, segitu dulu aja ya :D Hoho, SpaiNes lime? Itu lime, kan, ya? Iya, kan? Ah, saya polos banget sih /jijikgilak/. Setidaknya ini udah perkembangan, kan? :D Soal yang ga sabar nungguin adegan dewasa gituan, tenang aja. Ga usah marah-marah, ya :D Pasti ada kok :D

Dan soal ke-alay-an saya yang ga ketulungan ini…. /krik/ …Errr… can't help :p Saya ogah mah serius mulu dari awal ampe akhir. Makanya saya lampiasin di A/N. Eh, setidaknya isi fic saya masih pake kalimat dan tata bahasa (sedikit banyak) ber-EYD (?), dan ga pake bahasa alay, ya? ;D Kan banyak tuh, fic lain yang justru kebalikannya :D Oho /oops

Terkait tokoh yang OOC… Emang sengaja :p /kabur. Ampuuuunnnn… Bukan bermaksud apa, tetapi saya kan juga udah cantumin, kan? Dan sepertinya juga ga begitu soal kok :D asal saya ga nge-bash karakter itu, tidak masalah toh? :D Dan saya memang sulit membuat karakter yang IC untuk AU. Lagipula ini udah berlanjut hingga chapter 12, kan? Harusnya sih saya dikritik sejak awal :( Kalau gini juga ga mungkin kan, saya tiba-tiba banting stir ubah karakter mereka? Udah jauh, buuukkk~ /dilempar. Dan Arthur disini kejam dan ga gentleman, ya? Tapi ingat lho, sejauh ini cewek yang interaksi ama doi cuma Nesia aja, kan? :D Siapa yang jamin gimana sikap tuh alis ketika ama 'ladies' yang lain? Aha :D

Soal typo dan lain-lain, nah itu dia. Saya sendiri juga suka pusing urusin typo. Berhubung saya ini orang males dan ga sabaran, saya ogah duluan buat reread chapter sepanjang itu… Lagipula juga bukan kuasa saya, kan? MW 2010 emang suka iseng nge-typo-in (?) ketikan saya. Dan sayanya juga dasarnya males baca banyak-banyak dan neliti typo /plak

Intinya: Peace! Peace! Peace! :D /sodorin bunga ke para flammer

Ai luph Yu! Ai luph yu! Ai luph yu! :D


Pojok review. Monggo~ (Sekali lagi, hanya untuk Anda yang saking kurangkerjaan atau saking cintanya ama saya, hingga baca bahkan sampai tulisan ga penting ini :p)

Pairingnya satu aja / Ah, ga asyik dong :p / Nyampah lo di FHI? / Ha? :D Aku nyampah di hatimu kok, Mbak~ #seriusoi! / Gue ga butuh Nesia-centric kayak gini! / Yang kamu butuhkan pasti DIS-centric, kan? :D #langsungdigorok / Lo alay banget! Jijik gue! Ga update lo! / Hikz… Hikz… Qaqa Jaat beudhz dweh… Akoeh kan gug 4lay… /dasarmiring! / Gue mau muntah liat AusNes, FinNes, blablaNes / #sodorin ember. Perlu dipijitin tengkuknya, Mbak? :D / Ini rating M! Tapi mana? Boongin reader ya? / Ha? :D Dari awal saya udah kasih tahu kan, kalau rating M nya agak jauhan. Tapi pasti ada. Hanya saja, sabar ya~ Yang enak-enak kan biasanya keluar belakangan :3 #aduhngeres. Malah ga lucu kan, kalau saya cantumin rate T tapi langsung banting setir ke M? Nanti saya malah kamu cap ga konsisten lagi :D #oops #hormat oi hormat! / Banyak typo! / Hm… Kalau ini sih saya angkat tangan ya. Susah sih, reread 10+k kata. Ya, ga? :D / Alurnya gampang ditebak kok / Oh, ya? Hayo… entar di chapter 20 isinya ngapain, hayoooo? #ditenggelemin ke kali / Fic ini janggal / 'Janggal' itu bukannya bahasa Inggrisnya 'Hutan' ya? :D #dikeplakkamusOxf*rd / Saya dukung UKNes dan RomaNes! / Ayo-ayo polling dong :p / SpaBel dong? / :D / SPAMANO! / Errr… -_- / Lovino cool-nya udah greget kok / Sipsip :D / 20k, deh. Entar saya kasih hak milik Lapindo / 20k dan kasih saya hak milik cintamu. Deal! /diludahin / Apakah itu USUK berpandang-pandangan? / O tidaaaaaakkkkkkkkk! /lempar USUK /digemplang fans-nya / Eh nama Estonia itu Eduard Von Bock. Kasihan dia namanya muncul seuprit gitu dan dipajang seantero sekolah / Wakakakak #ngakak ngelihat muka Estonia. Sip-sip. Kalau dia sempat muncul lagi, saya kasih nama lengkapnya. Maaf, soalnya saya tahunya Cuma Eduard sih… Makasih udah ingetin : / Banyakin Spain / Iya, seperti yang pernah saya bilang, ada proporsi kemunculan karakter tiap chapter :D Biar rata gitu… kan asik tuh kalau diratain #ambiguoi / Kapan Malaysia muncul? / Kapan ya? :D / Saya pingin lihat Arthur berdebat! / Iya, pasti dimunculin kok :D / Kata depannya sering ga pake spasi / Oke, saya juga ga mungkin sengaja dan seceroboh itu :D Itu karena format Windows 2010 yang suka nge-typo-in (?) ketikan orang. Dan berhubung chapter kemarin 10k, saya udah males duluan buat neliti. Maaf ya :D / 10k kurang panjang! / #tendang dirimu #oioi / 'What an Hero'? harusnya 'what a hero' kan? / setahu saya, H itu kayak divokalin deh kalau di English :/ dan apa pula itu grammar nazi? :D / Arthur ngeselin tapi sekseh / Aseeekkkk. Tarik maaangggg #ini apaan / RomaNes-nya co cuit / hush! Jangan alay, eaaa #losendiri? / Arthur pegang tangan Nesia itu really something / :D / Absurdities itu ga kerasa panjangnya / Iya, tapi ngetik dan mikirnya kerasa banget. BANGET. BEUDHZ! /plak / Toni kayaknya nakal / :D Enggak kok. Udah saya sekolahin lulus TK kok #elusiapa / 5k-6k aja ya / Pikiran kita sama D: / No one could resist Alfred's puppy eyes. No one. / Exactly, that's why :D / Gimana tim Elizaveta dll bisa terbentuk? / Lha? Kan ceritanya pada saat pertemuan kelompok, yang ga dapat kelompok Cuma tim batere (?) A3 itu? Jadi sisanya, udah dapat kelompok dari awal. jadi anggap aja Elizaveta dll itu udah bikin kelompok sendiri, kayak kelompoknya Lily, Vash, Roderich :D / Chapter ini menurut saya 'lengkap': ada humor dan sendu-nya. Ada manis dan fluffy-nya juga / Makasih banyak :D Sepertinya Absurdities bakal ada genre angst juga kok :D tapi ga angst banget, sih. Tapi juga masih lama kok :D / Tulisan DIS agak beda, ya? / Soal typo maksudnya? Kalau iya, maaf, saya angkat tangan D: / Mana kok ga ada Alfred topless jatoh? Otak kita kan sama-sama miring / #nampol dirimu / Semoga Nesia tabah ngadepin Arthur / /puk2 Nesia / pengen liat Nesia manggil si Arthur iggy / Aha :D / Ada USNesia juga? / Hah? Masak sih? #dirinya ga nyadar. Betewe, buruan update fic situ ya :D / Rate-M yang ga keburu muncul, justru bikin penasaran / Ahaha, iya, terimakasih (?) :D / Karakternya manis-manis / Iya, yang bikin aja manisnya ga ketulungan gini #ditabraktrekgandeng / Munculin Norway dong? / Pas perkemahan udah kan? / Banyakin LoviNes! / Sip-sip :D / Isi ficnya kok tambah berbobot? / Oh, ya? Entar saya minumin WRP deh (?) :D Saran diterima


Ayo.. reviewnya manaa? Kritik dan saran diterima. Ah, 'nyampah' juga diterima :D OOT is very welcomed too :D Dari yang serius ngomentarin isi fic, ngatain saya alay, lebay, tapi ga jablay, hingga yang mau curcol soal masalah sekolah atau kehidupan dan pengen konseling ke saya (elu siapa?), monggo~

Yang penting review lah. Sayang kan, udah disodorin kotak segitu gedenya tapi ga diketikin? Dosa lho, kalo ga menghargai admin FFn yang susah-susah buat kotak review itu /halah

Jadi, daripada isi pikiran kamu mubadzir, daripada kotak review itu nganggur, dan sekalian olahraga jemari biar sehat nan lentik (?) silahkan review ya. Membuang-buang kesempatan itu dosa lho. Sekalian kenalan ama saya, ya ga? /plak /dasarnarsis

Makasih banyak :D


Thank you.

From FHI with Chuyunkz (baca: sayang),

Salam cetarr membahana

DIS