Anggap saja ini kado natal bagi kalian~ \:D/ Oh ya, mulai sekarang, tiap update chapter, saya ingatin baca warning, ya? Saya hanya ingin menghargai para reader yang mungkin kurang nyaman dengan beberapa hal di fic ini, dan memudahkan mereka untuk berpaling :D Kita hanya saling menghargai aja, oke? Sip, bray? ;Dd

FHI 'kan cinta damai, gitchu loch! :D


Guidance:

Kompleks gedung A: Tempat di mana para murid kelas 1, dan sebagian kelas 2, belajar secara formal

Kompleks gedung B: Tempat di mana para murid kelas 3 belajar secara formal

Kompleks gedung C: Tempat di mana para murid kelas 2 belajar secara formal

Character:

Nesia, Antonio, Lovino, Lily, Feliciano, Mei: kelas 1

Arthur, Alfred, Tiino, Vash: Kelas 2

Francis, Gilbert, Elizaveta, Bella, Andrew, Ludwig, dan karakter2 lain: kelas 3

Chau dan Maria: Excluded

Semoga membantu :D


Datangnya hujan di periode transisi antara musim panas dan musim gugur seperti ini memang terkadang menyusahkan bagi sebagian orang. Kondisi alam yang tidak menentu, sering kali membuat manusia harus menghela napas sabar ketika semua itu menjungkirbalikkan semua rencana kegiatan yang telah terpikirkan. Hujan badai, angin kencang, gerimis di pagi hari… Tidak hanya meeting kantor yang tertunda, pedagang yang sepi mendapat pelanggan, namun juga membuat siapapun malas untuk beranjak dari empuk dan hangatnya kasur dan selimut demi melakukan apapun yang sebelumnya terencanakan. Selain itu, dengan hawa udara yang konstan lembab dan lumayan dingin ini, membuat mereka yang memang memiliki daya tubuh rentan terhadap perubahan cuaca, tentu akan langsung ambruk seketika. Setidaknya, ia akan menjadi kurang prima dari biasanya.

Begitulah yang terjadi pada Annesia Saraswati pagi ini.

Terduduk di sofa ruang siaran Klub Radio di waktu istirahat makan siang, gadis itu berkali-kali membuat persediaan tisu di meja di depannya, semakin berkurang. Tak hanya hidungnya yang memerah dan berkali-kali mengeluarkan bunyi seruputan, tetapi juga kedua pipinya memberi warna yang sama yang menandakan bahwa dirinya sangat membutuhkan kehangatan. Bahkan syal yang tengah dipakainya dan hawa hangat AC ruangan klub, tidak sebegitu berpengaruh juga untuk mengurangi serangan flu yang sudah dirasakannya sejak dua hari yang lalu.

Hhhh…

Ingin ia tidak masuk saja dan beristirahat di kamar apartemennya. Menghangatkan diri seharian di balik selimut hangatnya, atau menikmati sup panas yang ia buat sendiri. Tetapi ulangan Geografi hari ini membuat dirinya terpaksa menyeret langkah kakinya yang terasa berat, ke sekolah. Beruntung sekali Antonio Carriedo menawarinya tumpangan motor, sehingga ia tidak perlu berjalan jauh-jauh dengan Lovino Vargas dan payung miliknya.

Bahkan kini ia harus meminta maaf pada teman-teman klubnya karena tidak bisa melaksanakan giliran tugas untuk siaran hari ini, pada waktu istirahat sekarang. Habisnya… tidak mungkin 'kan, dia siaran dengan suara hidung yang berlendir dan tenggorokan yang seraknya bahkan membuat dirinya sendiri mengernyit ketika mendengar suaranya sendiri?

Jadi terpaksalah, ia meminta ijin untuk bolos siaran. Dan beruntung sekali ia memiliki teman yang bernama Mei Lian (1) yang menyetujuinya untuk menggantikan posisi tugasnya untuk hari ini. Meski telah terbebas dari tugas, Nesia memutuskan untuk datang ke ruang klub untuk setidaknya menemani Mei dan menghadirkan muka Nesia sendiri sebagai bentuk tanggung jawab kecilnya.

Nesia segera menutup hidungnya dengan tisu ketika ia merasakan hidungnya gatal. Dan beberapa detik kemudian, dia terbersin hingga kepalanya tertunduk dan tubuhnya sedikit bergetar. Membuat Mei yang sedang bercuap-cuap siaran, menoleh sejenak ke arahnya.

"Uh," keluh Nesia sembari menggosok-gosok hidungnya dengan tisu. Hidungnya semakin terlihat merah bersama dengan kedua matanya yang tampak sedikit berair. Dibuangnya tisu yang telah dipakainya pada tong sampah di samping sofa, yang sudah separuh terisi oleh benda yang sama.

Trak.

Bunyi sesuatu yang terletakkan di meja marmer di depan Nesia, sontak membuat gadis itu memberi pandangan ke arah sana.

Tampak oleh kedua bola hitam kecoklatannya akan sebuah cangkir kecil berada di sana. Lengkap dengan kepulan asap hangat dan aroma coklat susu yang menggelitik hidungnya yang terasa membeku kedinginan.

"Ada yang bilang bahwa coklat hangat adalah salah satu obat mujarab bagi mereka yang kedinginan," begitulah ucapan Senior Tiino saat Nesia mendongak dan mendapati pemuda kelas dua itu tengah berdiri di depan Nesia.

"Ayo, Nes, minum saja," senyum ceria terlukis dari wajah putih Tiino ketika Nesia hanya terbengong dengan tololnya menatap seniornya tersebut, "Senior Tiino-mu ini telah membuatnya dengan penuh cinta hanya untukmu, lho."

Dan Nesia langsung saja berekspresi datar menatap pemuda kelas dua tersebut.

-oOo-

Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.

Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.

Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedar hints dan fans service :p

Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D

Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D

Maju FHI!

Happy reading

-oOo-

Kedua kalinya menyesap perlahan coklat susu panas di cangkir yang digenggamnya, Nesia merasakan tubuhnya seolah terguyur hangat oleh cairan itu dari dalam. Asap hangat yang mengepul dari cangkir itu saja sudah mampu membuat Nesia merasakan kenyamanan saat asap itu membelai wajahnya yang terasa dingin. Belum lagi dengan aromanya. Serta kehangatan yang ia rasakan menyesap di kedua telapak tangannya yang menggenggam permukaan cangkir dengan erat.

"Apa kau sudah ke Klinik Sekolah?" ah ya, saking merasa nyaman dan damainya Nesia dengan coklat susu di tangannya, ia sampai melupakan pemberinya yang kini tengah terduduk di sampingnya, di sofa yang sama, "Kau tampak berantakan sekali, lho."

Setelah meneguk cairan di dalam mulutnya, Nesia menjawab, "Sudah ini tadi."

"Bahkan suaramu terdengar mengerikan seperti monster begitu," Tiino mengernyit terkejut saat mendengar suara serak dari juniornya itu.

Nesia tidak menjawab. Dia menghabiskan beberapa menit ke depan hanya untuk merasakan kepulan asap dari cangkir di wajahnya dan hangatnya permukaan cangkir itu yang meresap di kedua telapak tangannya. Ditatapnya Mei Lian yang masih bercuap-cuap di depan sana. Sepertinya gadis berwajah oriental itu kini tengah mengakhiri sesi putar lagu dan menuju sesi curhat ––pembacaan surat dan e-mail yang dikirim pendengar.

"Oh ya, Nes," ujar Tiino setelah keheningan menggantung di udara selama beberapa menit, "Kudengar kau mengikuti kompetisi debat dengan Alfred Jones dan Arthur Kirkland, ya?"

Dan entah bagaimana, Nesia rasakan kedamaian dan kehangatan yang sejenak ia rasakan, langsung buyar begitu telinganya mendengar nama terakhir yang terucap dari mulut Tiino barusan.

Ssshhh.

"Mm," gumam Nesia sembari kembali menyesap minumannya.

"Kenapa kau tidak bilang padaku?" nada Tiino terdengar sedikit protes.

"Tidak ada dari hal itu yang patut disebarluaskan," jawab Nesia sembari tetap mengarahkan pandangannya pada Mei Lian yang tengah membaca sebuah surat di tangannya.

Nesia merasakan kedua bahunya tercengkeram erat, lalu secara cepat dan paksa, ia merasakan tubuh atasnya bergerak ke samping dan menghadap Tiino yang menatapnya dengan pandangan terbelalak tak percaya.

"Kau bilang tak membanggakan?" ujar Tiino di depan muka Nesia, "Nes, seandainya aku tidak sibuk dengan siaran di TV, pasti aku sudah mengikutinya."

Nesia memandang sedikit kesal ke arah seniornya tersebut. Mungkin kondisi tubuhnya yang kurang fit membuatnya lebih mudah terpancing dan merasa bad mood. Menepis pelan kedua tangan Tiino di dua pundaknya, Nesia kembali menghadap depan, "Sekarang kau 'kan sudah tahu, Senior," gerutu Nesia, "Lalu apa yang akan kau lakuka––."

Ucapan Nesia terhenti bersamaan dengan kedua matanya yang sedikit membelalak dengan mulut separuh terbuka, ketika ia merasakan sesuatu menyentuh lembut dan singkat pipi kirinya.

"Memberimu selamat dan dukungan tentu saja," ujar Tiino ceria sekalipun gadis yang baru saja ia kecup pipinya, kini membatu di sampingnya.

Dan belum sempat Nesia tersadar dari apapun yang tengah dipikirkan dan dirasakannya, dan yang penting, sebelum ia sempat mencekik Tiino dan memakinya, pemuda berambut pirang itu melangkah pergi dari sana dan menghilang di balik pintu ruangan klub yang kembali tertutup olehnya.

Tentu saja setelah sebelumnya tertawa dan mengerling jahil pada juniornya di sofa sana.

Oh, bahkan Mei Lian tersendat di sela kalimatnya saat matanya sempat menangkap adegan yang barusan berlangsung cukup singkat itu.

Tersadar, Nesia hanya menghela napas berat ketika menyadari Tiino telah pergi. Ingin ia berteriak kesal, tetapi selain hal itu pastinya akan menganggu siaran Mei, juga pastinya tenggorokannya akan semakin terasa tercekik.

Dan Nesia tidak mau menderita fisik lebih jauh dari ini.

Jadi, ia kembali habiskan waktunya dengan masih terduduk diam di sofa. Mengamati Mei Lian yang masih membaca surat pendengar, sekalian menghabiskan beberapa teguk terakhir coklat susu dalam cangkir di tangannya. Puji Tuhan, tubuhnya tidak terasa sedingin dan sebeku sebelumnya. Mungkin Tiino benar ketika mengucapkan bahwa coklat susu hangat adalah pertolongan pertama bagi orang demam atau flu atau kedinginan atau apapun sakit yang diderita Nesia sekarang.

"Nah, Sahabat H-Radio. Surat terakhir yang akan Mei baca hari ini adalah dari…," Nesia melihat Mei membolak-balikkan kertas di tangannya dengan ekspresi bingung, "Hm… sepertinya tidak ada namanya, Sahabat," Mei mengendikkan bahu acuh.

'Surat tanpa nama pengirim?' batin Nesia, sedikit merasa déjà vu pada surat yang dulu sempat ia bacakan saat siaran.

"Langsung saja dibacakan, ya, Sahabat, berhubung Mei sudah menghabiskan banyak waktu sebelumnya buat cuap-cuap ga penting. Haha. Setelah ini pasti bel masuk akan berbunyi," ujar Mei, kembali memfokuskan diri pada tulisan di kertas itu.

"Untuk seseorang,

Aku selalu mengamatimu––."

Nesia tanpa sadar sedikit mengangakan mulutnya dan menegakkan punggungnya ketika mendengar suara Mei tersebut.

Sepertinya… Sepertinya ini adalah kalimat yang sama di surat yang dibacanya dulu. Surat yang terdengar begitu manis, tetapi di saat yang sama, kata-katanya juga terdengar seperti surat ancaman seorang stalker psikopat yang akan mengawasimu 24/7.

"Seperti bulan yang tak benar-benar menyinari sang Bumi, begitulah diriku yang tak benar-benar mampu menyinarimu. Seperti mimpi kosong yang tak pernah menggapai realita, seperti itulah diriku yang tak pernah benar-benar mampu menyentuhmu. Seperti udara hampa, begitulah aku yang tidak benar-benar mampu terasa dan terlihat olehmu.

Dan seperti waktu yang tidak akan berhenti sampai akhir nanti, begitulah aku yang selalu terdiam.

Selalu bertahan.

Selalu memasang senyum untukmu. Selalu menangis untukmu. Selalu tertawa bersamamu.

Hanya untukmu."

Ya.

Ini pasti seperti surat yang dulu. Pengirimnya pasti bukanlah orang yang berbeda. Namun bedanya, kini Nesia tahu bahwa surat itu bukanlah bertujuan untuk meneror atau memberi rasa creepy pada pendengar atau pembacanya. Sangat berbeda, itu adalah surat cinta ––atau setidaknya mengindikasikan kekaguman. Tertulis dalam untaian kata yang begitu manis. Begitu tersusun sangat puitis.

Pasti si pengirim benar-benar mencintai atau memandang tinggi siapapun orang tujuan surat itu. Karena bukan sekali dua kali ini Klub Radio menerima surat yang sama. Nesia ingat, Senior Francis dan Senior Tiino pernah bercerita tentang hal yang sama. Dan seperti biasa, surat itu selalu dikirim tanpa keterangan siapa yang menulisnya ––atau setidaknya, untuk siapa surat itu ditujukan.

"Manis sekali…," Nesia menghela napas sembari tersenyum lemah. Berandai-andai jika surat itu adalah untuk dirinya dari seseorang yang diam-diam tulus mencintainya.

Tapi mana mungkin juga.

Hhh….

Membuyarkan pikiran galau yang sempat menyapa itu, Nesia menunduk dan kembali menyesap tegukan terakhir dari coklat susunya.

Ia tidak sabar untuk segera pulang dan kembali bergulung di balik selimut dan kamarnya yang hangat nan nyaman.

-oOo-

Tetapi ternyata takdir berkata lain.

Rencana 'bergulung di balik selimut dan kamar yang hangat nan nyaman' itu ternyata tidak bisa segera terlaksana ketika saat baru menjejakkan kaki keluar kelas sore itu, Nesia dikejutkan oleh pemuda yang berdiri bersandar di tembok di sebelah pintu kelasnya.

"Senior Alfred?" tukas Nesia heran campur kaget mendapati siswa kelas dua itu, di depan kelasnya. Otomatis langkah Nesia terhenti, membuat Lovino yang melangkah di sampingnya, mengikuti tindakannya.

Menegakkan tubuh, Alfred memberi salam dua jari pada Nesia sembari tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi putih dan ratanya, "Annesia!" ujar Alfred riang, lalu menoleh pada Lovino yang menatapnya dengan tatapan impasif andalannya, "Dan kau… Vargas," ujar Alfred berbasa-basi, setelah membaca name tag di blazer Lovino.

"Kenapa kemari, Senior?" ujar Nesia, sedikit menepikan tubuhnya dari tengah pintu, agar tidak menghalangi teman-temannya yang juga ingin keluar kelas.

"Tidak boleh, ya?" Alfred memasang ekspresi terkejut.

Nesia mendecak, "Bukan begitu. Hanya saja… tumben sekali? Biasanya kalau ingin bertemu untuk diskusi, kau tinggal sms dan menyuruhkan datang ke tempatmu."

Ringisan ramah Alfred kembali muncul, "Siapa bilang ini soal kompetisi, Nes? Ada yang ingin kubicarakan denganmu."

Nesia hanya menaikkan sebelah alisnya, pertanda bahwa ia menunggu Alfred untuk meneruskan ucapannya.

"Tapi tidak disini," Alfred mengerling jenaka. Dan tanpa memberi kesempatan bagi Nesia untuk merespon ucapannya, pemuda itu langsung saja menggamit tangan Nesia untuk melangkah pergi dari sana.

"Tu-tunggu!" tukas Nesia antara terkejut dan repot mensejajari langkah Alfred yang berjalan dengan langkah cepat-cepat.

Tetapi Alfred seolah tidak mendengarnya. Bahkan dia tidak menggubris usaha Nesia untuk melepaskan pegangan tangannya. Pemuda itu juga tidak mengucapkan salam perpisahan atau kalimat lain selain sapaan, terhadap Lovino. Bahkan ia tidak memberi kesempatan bagi Nesia untuk berpamit pada Lovino yang masih terdiam di belakang sana.

Kepada Lovino yang memandang kepergian keduanya dengan tatapan datar, sebelum sebuah dengusan terhembus dari hidung dan mulutnya.

-oOo-

Menatap lurus ke arah depan, Nesia menghela napas dalam dari hidungnya.

Terduduk di bangku beton, ia mendapati dirinya tengah berada di sebuah taman kecil yang terletak di depan sebuah pusat berbelanjaan yang tak jauh dari apartemennya tinggal. Pemandangan musim panas yang lembab di sore hari, menjadikan taman ini agak sepi. Udara yang dingin, ditambah dengan kondisi taman yang basah dan cukup becek, bukanlah sebuah alasan bagus untuk berlama-lama menghabiskan waktu di sana. Hanya terlihat dua orang remaja yang tengah bercengkerama di ayunan, satu gadis balita yang tengah berlarian dengan seorang wanita ––mungkin Ibunya, yang tengah sibuk mengikuti langkah kecil putrinya yang tampak tak bisa diam itu.

Selain itu, tak ada. Padahal taman ini cukup terlihat bagus dan rindang. Menjadi sebuah tempat yang cocok dan nyaman untuk menghabiskan sore hari. Dengan sebuah pohon besar di tengah taman lengkap dengan kolam kecil di sekitar situ, dengan tebaran tanaman lily di permukaan air. Dan juga beberapa semak dengan bunga yang bermekaran oleh limpahan hujan. Belum lagi indahnya rumput yang tertanam rapi ––terlihat bagai karpet hijau alam yang terasa lembut saat terpijak.

Pasti taman ini jauh lebih nyaman ketika hawa dingin tidak menyergap seperti ini.

Dan pasti Nesia akan betah lebih lama di sini jika ia berada dalam kondisi lebih baik dari ini. Baru di sini beberapa menit saja dia sudah menghabiskan beberapa lembar tisu. Padahal ia sudah memakai syal. Hah, bahkan ia telah merangkap seragamnya dengan sebuah mantel tebal.

Menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, Nesia lalu menepuk-nepukkan telapak tangannya itu pada kedua pipinya yang merona merah. Bahkan ia bisa merasakan betapa dinginnya kulit pipinya saat ia menyentuhnya.

"Nih."

Dan tahu-tahu di depan muka Nesia sudah tersodor begitu saja satu cup teh hangat.

Mendongak, Nesia melihat bahwa tahu-tahu Alfred sudah berdiri di sampingnya, "Kau kemana saja?" desis Nesia kesal. Habisnya, setelah sampai di taman ini dan turun dari motornya, pemuda itu langsung saja menyuruh Nesia menunggunya sedangkan ia sendiri pergi ke-hanya-Tuhan-yang-tahu-mana, "Disini dingin seka––."

Ucapan Nesia terhenti oleh bersin yang membuatnya memejam erat sembari bergetar sedikit.

Ekspresi Alfred jelas sekali mengatakan bahwa ia prihatin sekaligus menyesal melihat keadaan Nesia. Hidung dan pipi yang memerah itu sudah cukup mengatakan bahwa pemiliknya tidak sedang berada dalam kondisi prima.

Terduduk di samping Nesia yang sibuk mengusap-usapkan tisu ke hidungnya, Alfred menaruh cup teh yang tadi disodorkannya, ke space kosong antara dirinya dan Nesia.

"Minumlah dulu, Nes," kata Alfred, menyentuh pelan pundak Nesia, "Maaf membawamu kesini. Aku tidak tahu jika kau sakit––."

"Aku hanya merasa tidak enak badan, Senior," ujar Nesia sembari melempar tisu yang telah dipakainya, ke tong sampah di dekatnya. Ia lalu menoleh dan mengambil cup yang tertaruh di sampingnya sebelum mengucapkan terimakasih pada Seniornya yang berambut pirang itu.

"Aku tadi ada urusan sebentar, maaf membuatmu menunggu," lanjut Alfred mengekspresikan penyesalannya.

Setelah merasakan kehangatan ketika cairan teh itu mengaliri tubuhnya dari dalam, Nesia menoleh dan memberi senyum kecil pada Alfred, "Daripada kau meminta maaf terus, mengapa tidak kau utarakan alasanmu mengajakku kesini?"

"Ah ya," Alfred mengangguk-angguk, seperti baru menyadari sesuatu yang justru lebih penting dari semua ini, "Ini terkait kompetisi."

Nesia menatap Alfred heran, "Seingatku kau tadi di kelas bilang bahwa semua ini tidak terkait dengan kompetisi?"

Tertawa kikuk, Alfred menyahut, "Maksudku, aku tidak mengajakmu untuk berdiskusi terkait materi kompetisi. Tetapi lebih ke arah… yah, team-management, kau bisa menyebutnya begitu," Alfred mengendikkan bahu.

Team-management? Nesia memandang Alfred heran, "… Lalu, kenapa tidak mengundang Senior Arthur juga?"

Alfred memberi Nesia senyum patah, dan entah kenapa, di saat yang sama juga bisa diartikan sebagai senyum putus asa, "Ini tidak bisa dibicarakan jika kalian berada berhadapan satu sama lain."

Nesia terdiam. Memutuskan untuk tidak merespon, gadis itu memfokuskan perhatiannya pada sesapan teh dalam cup di genggamannya. Hari ini banyak sekali orang yang baik padanya. Senior Tiino dengan coklat susu, atau Senior Alfred dengan tehnya.

"Bagaimana rasa tehnya?" tanya Alfred, membuat Nesia heran seketika. Daripada langsung ke inti masalah, kenapa Alfred malah berbasa-basi begini?

Memutuskan untuk bersikap sopan, Nesia menjawab, "Enak. Hangat sekali," jawabnya jujur sembari tersenyum.

Tersenyum, Alfred menatap Nesia yang memandang ke depan, "Kau tahu, teh adalah minuman kesukaan Arthur, lho."

BBRRTT!

Nesia menyemburkan cairan teh yang ada dalam mulutnya, ke tanah di bawahnya. Tak cukup sampai di situ, gadis itu langsung saja terbatuk-batuk akibat aksinya barusan.

"Hei, Hei," tenang Alfred lirih sembari menepuk-nepuk pelan punggung Nesia. Lalu menyodorkan Nesia kotak tisu yang ada di pangkuan gadis itu, "Hati-hati, Nes."

Menepuk-nepuk dadanya, Nesia berusaha untuk mengurangi rasa sesak di dadanya akibat tersedaknya ia barusan. Memejamkan mata erat hingga ia bisa merasakan satu tetes air mengaliri sebelah pipinya. Terbungkuk, ia terbatuk beberapa lama, sebelum ia mampu menarik napas legah dan menerima tawaran kotak tisunya dari Alfred.

Setelah cukup puas menenangkan dirinya sendiri, gadis itu segera menoleh dan melempari Alfred dengan pelototan matanya, "Kenapa tiba-tiba bicara aneh begitu?" geram Nesia kesal.

Habisnya… Dari semua topik pembicaraan, kenapa harus menyangkut Arthur, sih? Dan apa? Arthur suka teh?

Dipikir Nesia peduli dengan fakta tolol seperti itu?

"Bicara bagaimana?" Alfred terlihat bingung.

"Tadi, Senior kan bilang bahwa Senior Arthur suka teh," Nesia menuding hidung Alfred, "Selain terdengar aneh, itu juga terdengar sangat tidak penting, kau tahu?"

Memang, 'kok. Apa urusannya jika Arthur suka teh, kek. Kopi, 'kek. Alkohol, 'kek. Susu, 'kek. Minyak tanah, 'kek.

"Ah," Alfred tampak menyadari apa maksud perkataan Nesia. Alih-alih menyesal, pemuda itu justru tertawa melihat ekspresi kesal dan dongkol Nesia, "Apa kau sebegitu alerginya pada Iggy? Hingga mendengar namanya saja kau tersedak begitu."

Nesia kembali menghadap depan, lalu menenggak kembali sedikit teh hangatnya, "Seperti dia tidak alergi padaku saja," Nesia lalu melirik Alfred dari ujung matanya, "Lagipula, apaan sih, 'Iggy' itu?"

"Oh, itu panggilan kesayanganku padanya––."

A––apa?!

Nesia sedikit terbelalak ketika berbagai pikiran absurd singgah di otaknya.

"-karena kami mengenal sejak kecil, sebelum aku ikut orang tuaku yang pindah tugas ke AS saat kami berusia enam tahun," lanjut Alfred sembari memandang sebuah arah dengan tatapan mengulas, "Dan baru saat memasuki SMA saja dia datang ke Amerika dan kami sama-sama menempuh pendidikan di sekolah yang sama."

"Apa gunanya kau memberitahuku semua ini?" tanya Nesia tanpa repot-repot menyembunyikan isyarat ketidaktertarikannya pada apapun yang berbau Arthur Kirkland.

Sejenak, Alfred tampak terdiam tanpa memandang ke arah Nesia yang menanti jawabannya. Barulah setelah pemuda itu tersenyum dan menatapnya kembali, Nesia mendapatkan apa yang ditunggunya, "Aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku sangat mengenali Arthur."

Nesia tersenyum patah, "Aku tidak mengerti apa hubungannya hal itu denganku––."

"Dan kau harus tahu bahwa, terlepas dari semua ucapan yang pedas dan menyakitkan, atau tindakannya yang kasar, dia sebenarnya adalah orang yang baik."

Nesia mendengus, "Aku tidak mengerti bagaimana dirimu mendefiniskan kata 'baik', Senior."

Mengacuhkan kalimat sinis Nesia, Alfred kembali berujar, "Dia bertanggungjawab, dan jika benar-benar dekat, dia bisa menjadi perhatian dan sangat protektif. Jangan merasa tersinggung atas semua ucapan dan tindakannya karena bukan hanya padamu saja dia bersikap seperti itu. Hah, bahkan aku yang dekat dengannya saja tak jarang mendapat makian dan sumpah serapah darinya."

"Nah, dia bisa menjadi baik jika sudah dekat dengan orang lain," Nesia mengendikkan bahu, "Jelas sekali bahwa itu mustahil bagi kami. Berada satu menit di dekat satu sama lain saja kami ingin melempar benda terdekat ke arah lawan," gumam Nesia sedikit dongkol ketika mengingat semua pertemuannya dengan Arthur yang keseluruhannya, sama sekali bukanlah hal yang bagus untuk diingat.

"Dan aku yakin, kau juga gadis yang baik dan sangat menyenangkan," lanjut Alfred.

Menanggapinya, Nesia hanya tersenyum kecil sembari mengucapkan terimakasih.

"Beda sekali dengan pernyataan Arthur bahwa kau ini seperti nenek sihir atau perawan tua."

Twitchs.

Bisakah Alfred memujinya tanpa harus menjatuhkan mentalnya kembali seperti ini? Arthur itu benar-benar ya… bahkan dari mulut orang lain saja, pemuda alis tebal itu masih mampu menghina dirinya!

Melempar kesal cup tehnya yang telah kosong ke tempat sampah, Nesia berucap dengan sedikit nada dongkol yang menyertainya, "Tentu saja beda!" jawabnya kekanakan. Lalu dia menoleh dan memberi pandangan menuduh pada Alfred, "Dia bilang apa lagi padamu tentang aku?" tuntut Nesia.

Alfred tertawa, lalu menggelengkan kepalanya lirih, "Sedikit-banyak sama seperti semua yang kau katakan padaku tentang dia."

"Bagus! Dengan begitu kau tahu bahwa perasaan benci kami saling berbalas!" desis Nesia sembari melipat kedua tangan di dada.

Senyum Alfred meluntur seiring dengan melengkungnya bibirnya ke bawah. Sorot pandangannya pun berubah sedikit kecewa, "Tetapi kalian tidak bisa terus begini."

"Kenapa tidak?" tantang Nesia.

"Karena kita satu tim dalam kompetisi."

Klik.

Akhirnya Nesia menyadari semuanya.

"Ah, jadi ini maksudmu membawaku kesini?" selidik Nesia, "Memintaku untuk mencoba mencari dan melihat sisi baik Senior Arthur lalu berusaha damai dengannya?"

"Nyaris seperti itu," jawab Alfred sembari meringis lebar.

Dan ekspresi Nesia langsung berubah nyinyir begitu saja.

"Hanya saja, bukan hanya kau, tetapi Arthur juga kuminta untuk berdamai denganmu," lanjut Alfred sebelum gadis di depannya ini meneriaki dan memakinya, "Hanya saja, dia sangat keras kepala. Dia bilang dia sudah berusaha memperbaiki hubungan denganmu, tetapi… ehehe," Alfred tertawa garing, "Tetapi katanya kau malah membuatnya makin kesal karena mengacuhkannya."

Dan ucapan Alfred itu sukses menerbangkan pikiran Nesia pada beberapa hari yang lalu. Saat terakhir ia bertemu dengan Arthur di kantin. Saat bagaimana usaha perdamaian itu harus berakhir dengan jalan buntu ketika Arthur pergi dari sana, meninggalkan Nesia dan semua makanan lezat yang ternyata belum dibayarnya.

Uh.

Memang sih, itu juga salah Nesia. Tetapi salah siapa yang membuatnya terlanjur dongkol lahir batin duluan? Lagipula mana pakai menyeret-nyeret Nesia keluar dari kelas pula… Oke! Itu juga gara-gara Nesia yang pura-pura tidur dan tidak mendengar panggilannya. Tetapi semua itu 'kan juga salah Arthur dan semua tindakannya yang sudah membuat Nesia bersikap memberontak demikian.

Mana dia harus membayar semua makanan itu pula. Dua ratus sepuluh dollar 'kan bukan jumlah yang sedikit baginya. Uh.

Merasa tidak mau disalahkan, Nesia membuang muka ke depan dan memelototi jalanan taman di depannya, "Jangan salahkan aku!" protes Nesia sembari cemberut, "Kau juga tahu selama ini sikapnya padaku bagaimana!"

"Aku tidak menyalahkan siapapun," ujar Alfred tenang, "Aku hanya ingin kalian berdamai. Lihat, aku tahu bahwa kau sebenarnya baik, tidak seperti ucapan Arthur. Dan bagaimana jika Arthur sebenarnya juga baik, tidak seperti apa yang kau pikirkan tentang dia selama ini?"

Tidak mendapat respon berarti dari gadis di depannya, Alfred menghela napas sembari sedikit mendorong naik kacamatanya yang sedikit melorot, "Lihat. Kita adalah satu tim. Aku hanya tidak ingin masalah apapun yang terjadi di antara kalian, akan membuat tim kita menuju kegagalan, Nes. Karena seperti yang kubilang dulu, aku sangat menginginkan menang dalam kompetisi ini."

Mendengarnya, Nesia menghela napas sembari alisnya melengkung ke bawah.

Jangan kalimat itu lagi…

Nesia bahkan tidak berani menoleh jika tindakannya itu akan berakibat terlihatnya olehnya dua azure yang menatapnya dengan tatapan melas bagai tatapan anak kucing yang tersesat. Belum lagi dengan ekspresi polos tanpa dosa yang entah bagaimana, bisa terpancar dengan begitu baiknya dari pemuda satu tingkat di atasnya tersebut.

Kenapa semua jadi semakin rumit begini, sih. Dan sialnya, Nesia baru bisa terbebas dari semua ini beberapa bulan lagi.

Hah.

"Kumohon, Annesia," lanjut Alfred, membalikkan tubuh Nesia untuk memandangnya. Tetapi gadis itu berhasil menghindari tatapan mata Alfred dengan justru menatap tanah di dekat kaki pemuda itu, "Aku ingin tim kita mampu kerjasama dengan baik. Aku lelah melihat kalian bertengkar dan saling memaki. Kumohon, bisakah kau berusaha untuk memperbaiki hubunganmu dengannya? Ku. Mo. Hon…."

Dan Nesia mengutuk hatinya sendiri yang lemahnya minta ampun terhadap permohonan tulus orang lain, ketika ia mendapati bahwa beberapa saat kemudian, kepalanya mengangguk perlahan.

-oOo-


(1) Tentu saja ini Taiwan :D Kalau ada nama IC-nya, tolong kasih tahu ya. Nanti saya ganti #kurang info #plak


Next Chapter:

"Ah, pasti Lovino. Sepertinya aku tidak mau terlalu menganggunya."

"… Sungguh? Kupikir malah dia senang sekali jika kau menganggunya?"

.

"Siapa sangka jika Ketua OSIS Hetalia High adalah seorang pemabuk berat seperti ini?"

.

"Ingin berduaan, ya? Huuu. Gitu aja ngusir segala."

.

"Beginikah sikapmu setelah aku menyelamatkan nyawa tidak bergunamu itu?!"

.

"Aku tidak peduli akan apa katamu. Tetapi jika kau berani-beraninya merusak reputasiku sebagai Ketua OSIS Hetalia High… Mati kau."

.

"Kemarin Senior Kirkland menginap di apartemenmu, Nes?"


Untuk kali ini, saya akan mencoba bersikap normal dan netral. Jadi, saya ga akan membahas isu-isu sensitif dari kotak review. Saya hargai semua yang mereview. Terimakasih sekali. Se-karater review ada, selamatkan nyawa saya :D #lebayah

Dan juga, maaf jika ada beberapa hal di kotak review yang ga saya balas lewat A/N. Karena selain akan menuh-menuhin space, saya juga ga mau bikin ucapan yang provokatif dan mengundang perdebatan. Seperti yang saya bilang di atas, isu-isu sensitif saya kesampingkan. Tetapi sekali lagi, saya hargai pendapat kalian semua. Jadi tenang, saja. Saya tetep tiap reviewer kok. Mungkin ada yang lewat a/n, atau akan langsung saya kirimi PM biar lebih etis saja :)

Oke, bray? :D Kamu unyu deh.


Pojok review. Monggo~

Nesia bisa-bisanya mimpi kayak gitu :D / Bisa dong. DIS gitu lho #gamujielowoy /Akhirnya rate-M nya keluar juga :D Betewe, RomaNes disini lucu sekali/ Yah. Sekarang, semoga, ga ada yang protes soal perubahan rating, ya? :* /rate M emang jgn dibuat buru2 tanpa chemistry. Well, sapa juga yg mau ber-rate M ria dg paksa/ Saya berasa terbaaaangggg~~ #dinuklir /Payung Lovi bikin aku mewek/ T.T /Fic ini jelek banget kebanyakan Harem!Nesia/ Saya tahu. Yang tampak cantik dan indah bagimu kan hanya saya :D #narsisgila /Masih banyak typo. Woles dong/ SEASON 1: AARRRGGGHHHH #jedotinpalaketianglistrik /Kata hati Nesia mending ga usah diekspos atau diungkapin gitu aja/ M-maksudnya? 8D~ /sebagai reader yang alay kaya lo..gue amat sangat suka baca fict lo/ Saya tahu ini pujian.. tapi kok... T.T #pundungdipojokan #sokngerasateraniayadikataina lay /Nesia kenapa jahat banget sama Arthur/ Karena Arthur jahat ama dia :D /(Sekali lagi,) Masih banyak typoooooo/ SEASON 2: AARRRGGGHHHH #jedotinpalaketianglistrik /Sisi gentlemannya Arthur udah nongol dikit/ Sip ;) /Antonio punya motor tapi kok selama ini jalan kaki? Ga bisa beli bensin ya?/ #trollface /Kurangi filler scene/ Emang filler scene itu kayak gimana ciri pastinya? :D /Kadar humornya kuraaaangggg/ Hah? Seingat saya, sejauh ini, saya tidak merubah genre fic ini untuk menjamin adanya humor tiap chapter :D Di a/n kemarin juga udah saya bilang kan, bahwa mungkin saja akan ada genre angst-yang tentunya sangat ga humor so well /Kenapa Liz bisa ama Ivan dan Eduard? Mereka kayaknya ga mungkin bisa bareng/ Ini AU :D /Latar belakang chara disini masih berkabut, ya?/ Sengaja :p /DIIIISS Aku kangen banget sama kamu entah kenapa TAT/ Saya tahu saya ngangenin, tapi kamu jangan sampai confession gitu dong, di publik gini... #kedipkedipnajong /Words-nya ga kerasa panjangnya/ #nampol /Aku masih setia pada UKNes dan RomaNes/ Saya juga masih setia padamu :* /Di perayaan kemerdekaan AS, Nesia mau ngapain?/ Mau ngapelin saya :D /Siapa tahu Iggy ga gentle ama Nesia gegara ada perasaan khusus terhadap Nesia, kan?/ Hm... /hidup lovines! hidup jakarta! hidup syahrukhan! hidup alay!/ Hidup alay! #yangdiikuticumaalaynyaaja /alaymu keren/ Saya... tersanjung? :'D /yang pas Lovino meluk Nesia dengan alasan payungnya kurang gede. Itu manis dan fluff banget/ Sip deh / Kak Dis A/N-nya nampol banget :D/ Alaynya ya, pasti yang nampol :P /Ada fasilitas Auto Correct di MsWord/ Itu tidak semudah yang saya bayangkan, sungguh /BIBIR NESIA MASIH PERAWAN! kira-kira siapa yang bakal menodai bibir Nesia pertama kali/ Aduhhh... #facepalm /Nesia nakal atau authornya alay? :D/ Nesia alay dan authornya ga nakal #plak /Sayang banget kissu-nya cuma mimpi. Coba aja beneran/ Hush! Masih kecil udah ngomongin kissing-kissing #eluauthornyaoi /Masukin scene Tonio main gitar pas perayaan AS, ya?/ Sip /Bikinin USUK dong?/ Ayem sori T.T /mungkin judul chapter bisa diubah jadi 'A Not So Absurd Kiss'?/ Perasaan judulnya dari kemarin juga gitu? :D /Aku suka Annesia kalau salah ketika jadi Amnesia. Lovi manis. Tonio ga bisa dibaca/ :D /Jadiin aku adeknya Gil, ya? Plis/ Sori, kata Nesia, dia ga mau pamornya sebagai OC turun gegara ada OC keren sepertimu :) /Ada beberapa kesalahan yang sebenarnya ga signifikan. Coba perbaiki lagi agar membuat fic ini lebih bagus lagi/ Sipppp


Review ya. Bentar lagi kan tahun baru tuh. Harus jadi pribadi yang baru dan musti ada perubahan positif, kan? Hayooo... yang merasa jadi silent reader, harus lebih aktif lagi. Yang merasa sering review pake anon padahal punya akun, login dong (biar bisa kenalan ama saya #plak). Yang udah sering review, pertahanin :D Okesh?

Sayang banget kan, kalau udah menjelang tahun 2013 gini masih gitu-gitu aja? Kasihan tuh, admin FFn yang susah-susah perbaiki kotak review supaya jadi lebih simpel (ga rempong dengan ngebuka tab baru lagi kayak kotak review jaman dulu). Dimanfaatin dong :D

Sip bray? :D We are brothers and sisters, right, man? #sokgaul


From FHI with chuyunkz,

Salam n04LayNOupd4T3 (Semboyan ini usul dari seorang reviewer)

DIS kece gilak