Um... Enaknya ngomong apa, ya? Ah ya! Ini sebagai bentuk rasa syukur saya atas selesainya Ujian Akhir Semester yang baru saya lalui dengan tidak begitu mendewa :D Fiuh... Berhubung kemarin cukup pendek chapternya, kali ini chapternya 7k lho :D Semoga berkenan :)
Guidance:
Kompleks gedung A: Tempat di mana para murid kelas 1, dan sebagian kelas 2, belajar secara formal
Kompleks gedung B: Tempat di mana para murid kelas 3 belajar secara formal
Kompleks gedung C: Tempat di mana para murid kelas 2 belajar secara formal
Character:
Nesia, Antonio, Lovino, Lily, Feliciano, Mei: kelas 1
Arthur, Alfred, Tiino, Vash: Kelas 2
Francis, Gilbert, Elizaveta, Bella, Andrew, Ludwig, dan karakter2 lain: kelas 3
Chau dan Maria: Excluded
Hujan deras kembali mengguyur daerah sekitar St. Victioria malam ini. Cukup deras. Rintik-rintiknya berukuran besar dan menghujam lebat di semua yang disentuhnya. Belum lagi dengan angin yang sesekali berhembus kencang, membuat siapapun bisa dengan yakin mengatakan bahwa malam ini terjadi badai yang lumayan hebat. Langit di atas sana menghitam monoton, tanpa bintang atau bulan yang mengiringinya. Sesekali kilatan petir tampak memecah kanvas alam tersebut—meski tanpa diiringi oleh suara gelegar guntur yang membelah udara.
Hujan lebat seperti ini memang membuat hawa udara dingin—tipikal keadaan normal di saat menjelang musim gugur. Rasanya malas sekali untuk keluar dari perlindungan yang nyaman… Entahlah, baik itu balutan selimut ataupun hangatnya coklat panas dan kopi. Rumah seolah menjadi satu-satunya pilihan daripada membasahkan diri di hawa yang membekukan ini.
Seharusnya seperti itu. Tetapi tidak bagi Annesia Saraswati yang kini tengah berada di bawah lindungan atap minimarket kawasan St. Victoria. Minimarket yang bisa ditempuh selama lima menit berjalan kaki dari apartemen Green Brooklyn (Apartemen Nesia) itu kini lumayan sepi dari pengunjung. Hanya ada beberapa manusia saja selain seorang karyawan minimarket yang berdiri di belakang mesin kasir. Seorang bapak usia paruh baya yang tengah berdiri di depan bagian peralatan mandi pria, dua orang anak kecil yang melihat-lihat isi dari mesin es krim, seorang pemuda yang tengah memasukkan beberapa produk dari bagian snack, ke dalam keranjang merah minimarket yang dibawanya, serta Annesia sendiri yang tengah berdiri di depan bagian yang memajang produk-produk bahan untuk pasta. Dan Nesia, yang tengah serius mengamati dua buah produk-beda-merk saus pasta di kedua tangannya.
Ck. Ini kesalahan Maria yang lupa membeli bahan makanan pagi ini.
Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya
I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.
Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.
Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedar hints dan fans service :p
Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D
Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D
Maju FHI!
Happy reading
Suasana minimarket itu sangat cozy, Nesia suka sekali. Selain karena penempatan produk-produknya sangat strategis (misalnya, pemisahan penempatan antara produk khusus wanita dan produk khusus pria di dua rak yang tidak sama), dan karena produk yang dijual juga cukup lengkap dan menjamin tersedianya at least, daily needs para pelanggannya. Juga karena karyawan yang ada sangat bersahabat dan mudah menjalin obrolan. Tidak seperti karyawan toko atau minimarket lainnya yang memandang hubungan antara karyawan-pembeli hanyalah sebatas hubungan karyawan-pembeli: tidak bersahabat. Oleh sebab itu, Nesia cukup akrab dan mengenal banyak di antara mereka di sini.
Suara deras hujan di luar terminimalisir oleh suara putaran musik klasik yang mengalun lembut di minimarket—seolah menjadi strategi minimarket untuk membuat pelanggannya betah berlama-lama di dalam, agar pelanggan itu membeli produk lebih banyak lagi. Belum lagi dengan aroma pengharum ruangan yang cukup segar, membuat Nesia rasanya betah berada di dalam sana sekalipun ia telah menghabiskan waktu dua puluh menit.
Setelah merasa semuanya telah terbeli, gadis itu berjalan menuju kasir dengan sebuah keranjang merah minimarket yang menampung semua barang belanjaannya. Di depan kasir, ia segera tersuguhi oleh senyum dari karyawan penjaga mesin kasir tersebut.
"Malam, Nes," Nesia tahu bahwa perempuan itu bernama Flo Neack, sesuai dengan apa yang tertulis di name tag seragam kerjanya. Seorang gadis keturunan Irlandia yang sudah dikenalnya dengan baik—terimakasih pada Nesia yang senantiasa mengandalkan minimarket ini sebagai satu-satunya penyedia keperluan sehari-harinya.
Nesia tersenyum sembari meletakkan keranjang belanjaannya, ke meja kasir, "Hai, Flo," ujar Nesia, lantas melihat ke sekeliling, "Kau berjaga sendirian malam ini?"
"Nope," jawab Flo sembari mengeluarkan satu persatu belanjaan Nesia dan melakukan barcode screening (1)di mesin kasir, "Sehabis ini shift-ku habis. Hanya perlu menunggu Larry untuk datang saja."
Tentu Nesia tahu siapa Larry, seorang pemuda yang juga bekerja sebagai karyawan minimarket ini.
"Kerja keras, eh?" ujar Nesia sembari tertawa lebar, "Padahal di luar hujan deras dan dingin. Kau hebat, Flo. Seandainya aku jadi kau, mungkin aku memilih untuk membolos."
Flo hanya menatap Nesia heran dengan sebelah alisnya terangkat, "Lihat dirimu sendiri Nona? Berjalan menembus hujan hanya untuk membeli bahan pasta."
Nesia merengut, "Aku tidak hanya membeli bahan pasta."
"Tetapi hanya pasta satu-satunya bahan makanan yang kau beli, di keranjang ini," ujar Flo tersenyum, "Kenapa repot-repot? Kupikir teman priamu itu cukup pandai membuat Pasta. Kau bisa meminta bantuannya."
Teman pria?
Ah. Pasti Lovino. Iya, siapa lagi teman pria Nesia yang pandai membuat pasta, yang lumayan sering mengunjungi minimarket ini bersamanya. Nesia masih ingat saat betapa Lovino sedikit menggerutu dan mengutuk kesal minimarket ini karena tidak menyediakan satu merk mie spagetti yang disukainya.
"Ah, pasti Lovino. Sepertinya aku tidak mau terlalu menganggunya," jawab Nesia sembari mengendikkan bahu acuh.
Dan jawaban Nesia hanya direspon oleh senyum tertahan dan pandangan geli oleh Flo, "… Sungguh? Kupikir malah dia senang sekali jika kau menganggunya?"
"… Hah?" Nesia hanya meng-hah dengan pandangannya yang heran, kepada Flo.
Tetapi sepertinya Flo membiarkan Nesia berada dalam kebingungannya, ketika gadis itu hanya tersenyum makin lebar sembari menyerahkan satu kantung plastik besar yang berisi barang belanjaan Nesia, kepada gadis itu, "Enam puluh dolar dua puluh tiga sen," ucap Flo ringan.
Memutuskan untuk turut mengikuti alur, Nesia mengendikkan bahu lantas menyerahkan enam puluh satu dolar kepada Flo, "Ambil saja kembaliannya, Flo. Sebagai penghargaanku terhadap kerja kerasmu di malam berbadai ini," ucap Nesia sembari tersenyum lebar.
"Terimakasih—meskipun kata 'kerja keras' juga kurang tepat karena tidak banyak yang kukerjakan selain menunggu satu-dua pelanggan untuk membayar," Flo menatap ke arah jendela kaca minimarket, "Hujan sialan ini membuatku seperti sia-sia bekerja."
Nesia tertawa, "Semangat, Flo!" Nesia menyadari bahwa di belakangnya telah berbaris dua anak kecil yang mengantri untuk membayar, sehingga gadis itu segera mengangkat kantung plastik belanjaannya lantas melambaikan tangan singkat, "Sampai ketemu."
"Ya, hati-hati, Indonesia!" Flo memberi salam dua jari, yang direspon oleh senyuman lebar Nesia.
Setelah melangkah keluar dari pintu minimarket, Nesia berdiri sejenak di teras minimarket dan menatap deras hujan di depan matanya. Tirai hujan yang sangat lebat dan deras—hingga rasanya sulit untuk memandang jelas ke depan. Belum lagi dengan angin yang berhembus lumayan kencang, membuat Nesia semakin mengeratkan lilitan syal merah marunnya, di lehernya.
Setelah membuka lebar payung berwarna hitam yang ia pinjam dari Chau, Nesia menghela napas dalam-dalam dan berbisik, "Here we go!"
-oOo-
Kedua kaki berbalut jeans biru gelap dan boots selutut berwarna hitam itu melangkah di bawah lindungan mekarnya payung berwarna hitam. Nesia mengeratkan pegangannya pada tangkai payung, karena angin yang berhembus membuatnya lumayan takut jika payung ini akan terbalik tudungnya—dan untuk kedua kalinya, ia merusakkan payung (setelah sebelumnya ia rusakkan payung miliknya sendiri). Pandangan ke arah depan lumayan tidak jelas dan buram, baik oleh tetesan hujan ataupun kabut malam hari, membuat gadis itu menyipitkan mata jika tetap ingin melangkah di jalur yang benar.
Jalanan yang ia lalui kala itu lumayan sepi—maklum saja, hujan badai begini mengurangi insentif orang-orang untuk pergi keluar dari rumah. Hanya orang-orang yang memiliki keperluan sangat penting yang ingin berada di luar begini—termasuk Nesia. Iya, penting. Karena jika tidak maka ia dan teman-teman seapartemennya akan absen makan malam. Terimakasih pada Maria yang tengah sibuk mengerjakan tugas rumah sakit dan pada Chau yang terserang demam.
Ia terus melangkah. Langkahnya terasa begitu berat akibat dorongan angin yang berhembus dari arah yang berlawanan dengannya. Mana apartemennya masih lumayan jauh pula.
Uh.
Tetapi langkah gadis itu refleks memelan ketika ia memandang sesuatu di depan sana. Bukan sesuatu sepertinya… tetapi seseorang.
Seseorang yang keluar dari sebuah bar yang berada tidak jauh dari tempat Nesia berada. Bar yang lumayan ramai (bisa terlihat dari parkirannya yang nyaris penuh) karena kebanyakan orang pasti mampir ke sana untuk menghangatkan diri. Seseorang itu berjalan dengan sedikit sempoyongan dengan sebelah tangan yang berpegang pada permukaan tembok bangunan di samping bar. Bukan hanya itu, tetapi orang itu juga tidak membawa payung untuk melindungi dirinya. Jangankan payung, mantel atau jaket saja tidak dipakainya.
Nesia memutar bola mata.
Untuk apa ia peduli dan memerhatikan seseorang yang sama sekali asing baginya? Bahkan Nesia tidak melihat wajahnya karena selain tebalnya deras hujan, juga karena orang itu berjalan ke arah yang sama dengannya—sehingga yang dilihat Nesia hanyalah bagian belakang tubuhnya.
Nesia menghela napas, dan ia mulai melangkah lagi. Ia harus cepat, jika ia memang ingin terbebas dari hujan dan hawa dingin ini. Juga pasti Chau sangat membutuhkan segera sup hangatnya.
Namun, begitu Nesia baru membuat langkah kedua, ia memekik tertahan ketika melihat orang yang diperhatikannya tadi, terjatuh—tersungkur dengan muka mencium aspal.
Nesia tanpa sadar meng-ow tanpa suara sembari meringis, seolah ialah yang merasakan sakit yang diderita orang itu.
Menoleh sekitar, Nesia terheran ketika tidak ada orang lain di sekitar sana. Tidak ada banyak orang yang berada di depan bar tersebut—hanya ada dua orang lelaki yang tengah berbincang di depan bar, dan sepertinya kedua orang itu memandang sebelah mata kepada orang yang tersungkur tersebut. Bahkan di jalanan tersebut tidak terdapat pejalan kaki selain Nesia sendiri. Beberapa mobil lewat sesekali, tetapi siapa yang sudi turun dari mobil untuk menembus tirai hujan, hanya untuk menolong seseorang yang tergeletak pasrah?
U—uh.
Nesia menggigit ujung bibirnya.
Sepertinya tidak ada pilihan lain selain dirimu, Nes?
Sejak dulu Nesia tahu bahwa dia memiliki hati yang cukup lembek—terlalu lembek hingga terkadang ia begitu mudah dikelabui orang lain. Karena hatinya itu pula gadis itu pada akhirnya memutuskan untuk melangkah maju, kembali menerobos hujan dengan payungnya, dan menghampiri seseorang yang sepertinya telah pingsan tersebut—terbukti dari tidak adanya gerak-gerik tanda usaha untuk bangkit.
Namun ketika ia telah sampai dan berdiri di samping tubuh yang tersungkur itu, ketika pada akhirnya ia mampu melihat wajah orang itu, Nesia mengutuk dirinya yang telah membuat keputusan untuk mendatangi seseorang itu.
Seseorang, atau kalian bisa menyebutnya dengan nama Arthur Kirkland, sang Ketua OSIS Hetalia High.
Ya, kalian tidak salah baca. Arthur Kirkland, dengan kemeja berwarna biru muda, celana kain berwarna hitam, dan sepasang sneakers putih pucat. Pemuda berambut pirang yang keluar dari bar dengan sempoyongan, lalu terjatuh gedubrak dengan tidak elitnya di bawah guyuran hujan. Sebelah pipi pemuda itu yang terletakkan di aspal. Nesia mampu melihat kedua mata itu terpejam dan hembusan napas berat terhembus dari mulutnya yang separuh terbuka.
Tetapi siapa yang peduli? Ya, siapa yang peduli? Karena Nesia dari dulu sama sekali tidak memberi a goddamn care terhadap pemuda yang senantiasa menyiksa batinnya tersebut.
Dan gadis itu memutar bola mata menyesali tindakannya untuk menghampiri pemuda itu.
Maka, Nesia memutuskan untuk meneruskan langkahnya. Peduli setan dengan pemuda itu mati membeku di bawah hujan. Siapa yang peduli? Tidak ada siapapun di sini, dan tidak ada yang bisa menyalahkan Nesia jika ia tidak menolong Arthur. Jahat memang, tetapi anggap saja ini sebagai balasan Nesia terhadapnya. Kenapa harus Nesia yang menolong jika ada dua orang di depan bar itu yang juga bisa menolong pemuda sialan ini? Kenapa harus Nesia yang peduli ketika terdapat beberapa mobil dan kendaraan yang lewat di jalanan di dekat mereka?
Kenapa harus Nesia, objek penindasan Arthur, yang peduli padanya ketika banyak orang asing (yang tidak pernah disakiti Arthur sehingga memiliki pandangan netral pada Arthur), yang bisa menolong Arthur?
Seperti Arthur mau saja jika ditolong dia. Pasti begitu yang akan pemuda itu bilang jika ia dalam kondisi sadar sepenuhnya.
Gadis itu kembali melangkah dengan menyipitkan kedua matanya ke arah depan—bentuk determination dan peyakinan pada dirinya sendiri bahwa inilah tindakan yang tepat ia lakukan!
Ya!
Haha!
Biarin dia mati deh!
"Kumohon, Annesia. Aku ingin tim kita mampu kerjasama dengan baik. Aku lelah melihat kalian bertengkar dan saling memaki. Kumohon, bisakah kau berusaha untuk memperbaiki hubunganmu dengannya? Ku. Mo. Hon."
Dan di saat itulah kalimat Alfred Jones terngiang di telinga dan ulasan otak Nesia.
Beserta pandangan matanya yang biru, yang jernih, yang memohon tulus…
"Uh!" Keluh Nesia sembari mengepalkan kedua tangannya. Ia pejamkan matanya erat, seolah ingin mengenyahkan wajah dan ucapan Alfred yang mulai merobohkan pertahanannya.
Tetapi sepertinya semakin dia berusaha, semakin pula ulasan itu menjadi jelas, dan semakin pula Nesia merasa bagaikan pendosa besar jika ia melangkah lebih jauh lagi.
"Sial!" desis Nesia keras dan putus asa, "Timing yang bagus, Senior Alfred. Bagus sekali," gumamnya tertahan dengan pandangan menyipit kesal.
Hanya untuk kali ini saja. Ya, untuk sekarang saja.
NESIA BERSUMPAH HANYA UNTUK KALI INI SAJA! UNTUK ALFRED, DEMI TUHAN!
Dengan langkah geram, gadis itu akhirnya berbalik. Menghampiri kembali tempat Arthur terbaring tidak berdaya. Dan begitu sampai, Nesia langsung melancarkan death glare-nya seolah Arthur masih mampu melihat kedua matanya.
"Siapa sangka jika Ketua OSIS Hetalia High adalah seorang pemabuk berat seperti ini?" desis Nesia menyinyirkan bibirnya pada pemuda yang tergeletak di bawah kakinya.
Ingin rasanya Nesia memaki dan mengutuk habis-habisan satu-satunya orang yang selama ini sering memaki dan mengutuk dirinya. Ingin Nesia meminta bantuan saja pada Alfred atau siapapun yang dia kenal mengenal Arthur, untuk datang ke sini dan menyeret pantat Arthur untuk pergi dari sini. Tetapi gadis itu tersadar bahwa ia meninggalkan telepon genggamnya di kamarnya.
Uh.
Tepat sekali.
Nesia berjongkok. Ia mengumpat Arthur ketika pada saat itu juga, hidungnya mencium aroma alkohol yang menguar dari napas lelaki tersebut. Sembari memandang Arthur, ia tak habis pikir kenapa pemuda sok bangsawan ini berada di sini. Kenapa Ketua OSIS sepertinya menghabiskan malam di bar? Dan demi Tuhan, kenapa dari semua bar yang ada, harus bar yang berada di dekat apartemen Nesia hingga membuat Nesia tertimpa sial seperti ini dengan bertemu dengannya?!
"Bahkan ketika kau pingsan, kau membuatku kesal!" hardik Nesia pada Arthur yang masih, tentu saja, tidak mampu mendengar atau merespon ucapannya.
Nesia memutuskan untuk menggunakan HP Arthur saja dan mencari nomor siapapun yang bisa diteleponnya, membuat orang itu mendapatkan sial karena harus menjemput kenalannya yang pingsan ini, di malam badai seperti ini.
Dan oleh sebab itu, Nesia berusaha mencari HP Arthur. Sembari menahan rona merah di wajahnya karena ia menggunakan sebelah tangannya untuk meraba-raba kemeja dan celana Arthur, gadis itu menggerutu kesal kepada Arthur yang memberinya kerepotan seperti ini setelah apa yang dilakukannya terhadap Nesia selama ini.
Pada akhirnya Nesia menemukan telepon genggam itu dalam saku samping dari celana Arthur. Ditariknya HP tersebut—sebuah telepon genggam layar sentuh. Nesia segera mendekatkan HP itu dalam lindungan payungnya—ia tidak mau jika keesokan harinya Arthur memakinya karena membiarkan HP itu terkena hujan.
Namun layar HP itu tetap hitam kelam—gelap, sekalipun Nesia telah memencet semua tombol yang ada di sana.
Intinya, ya.
Baterai habis.
.
.
D—Dafu…
.
.
"Haaahh!" hardik Nesia kesal, ingin sekali ia melempar HP—yang tidak berdosa itu—ke jalanan di bawahnya. Kenapa benda sialan itu harus mati ketika ia amat dibutuhkan Nesia untuk keluar dari semua ini?
Oh ya, Nesia bisa saja tidak peduli dan pergi pulang saja dan membiarkan Arthur membusuk di sini. Tetapi sekali lagi, bagaimana dengan Alfred? Bagaimana dengan permintaannya? Dan bagaimana dengan janji Nesia pada Alfred sendiri?
Hhhh… Kenapa harus berjanji dengan terpaksa? Mungkin itulah arti pepatah bahwa buatlah janji yang bisa dan mau kau tepati.
Karena pada kenyataannya, sekarang Nesia rasanya enggan sekali untuk menepati janji yang dengan bodohnya ia ucapkan waktu itu.
Hhh.
"Kau tahu sekarang apa yang aku lakukan?" hardik kesal Nesia sembari mendelik pada Arthur, "Karena aku sendiri tidak tahu apa yang tengah kulakukan!"
Merasa tidak punya pilihan yang lain, gadis itu akhirnya menyadari bahwa ialah yang dipilih oleh Tuhan—dari sekian banyak manusia—untuk menolong hambaNya yang tidak berguna itu. Setelah mengumpat dan memaki kesal untuk beberapa lama, akhirnya Nesia pasrah saja akan keadaannya.
Tetapi.. bagaimana caranya dia menolong Arthur? Lelaki payah itu jelas sekali tidak terbangun—pingsan karena tumpukan alkohol di perutnya.
Dan sepertinya, cara yang biasa dilakukan orang-orang untuk menolong orang pingsan adalah…
M—menggendongnya?
Mendapat pemikiran seperti itu, Nesia langsung menyinyirkan bibirnya dengan ekspresi jijik. Tidak, tidak. Tidak mungkin ia mau menggendong pemuda itu—lagipula bagaimana bisa? Jelas sekali jika Arthur memiliki tubuh yang lebih besar dan kuat ketimbang Nesia!
Nesia menoleh ke sekitar, berharap ada seseorang yang bisa ia mintai bantuan. Tetapi sepertinya takdir masih mengoloknya, karena begitu ia menoleh, hanya bunyi hujan –dan samar, suara jangkrik—yang menyapa telinganya.
Hell.
Tidak ada pilihan lain sepertinya.
Gadis itu segera memasukkan HP Arthur pada kantung plastik belanjaannya, lalu mengikat erat plastik itu hingga memastikan bahwa air hujan tidak akan mampu meresap masuk. Dan karena ia tidak mungkin menolong Arthur dengan satu tangan—karena tangannya yang lain memegangi payung—maka gadis itu memutuskan untuk menutup payungnya.
Dan membiarkan tubuhnya langsung basah terguyur oleh derasnya air hujan.
Menghela napas berat, ia bergumam lelah, "Aku tidak tahu kenapa aku harus bertindak begini jauh hanya untuk menolongmu."
Tubuhnya mulai merasakan kedinginan yang menyergap. Ia bisa merasakan mantelnya juga telah basah—dan kini terasa sangat berat menggantung di tubuhnya akibat banyaknya air yang terserap kain mantel itu. Begitu pula dengan boots-nya yang tidak mampu melindungi kakinya, ketika air hujan lolos menerobos masuk boots tersebut.
Beberapa saat kemudian, Nesia mendapati dirinya kembali berjalan. Kali ini tanpa payung—kali ini ia berjalan langsung di bawah hujan. Dan tentunya, kali ini ia tidak sendirian.
Karena ada Arthur Kirkland yang tengah ia tuntun untuk berjalan di sampingnya. Ia tuntun dengan satu tangan melingkari pundak Arthur (dengan sembari memegang payung), dengan satu tangan yang lain melingkari pinggang pemuda itu dari depan (dengan sembari memegang kantung plastik belanjaan)—ini semua semata-mata demi menyeimbangkan tubuh Arthur, demi Tuhan! Nesia tidak mau jika pemuda itu terjatuh lagi dan Nesia akan kembali mengeluarkan tenaga ekstra kembali hanya untuk membangunkan pemuda itu dari posisi tergeletaknya.
Berat, tahu?
Beruntung sekali karena nyatanya Arthur tidak sepenuhnya pingsan—sekalipun pemuda itu jelas sekali tampak lemah dan seperti tidak punya tenaga. Karena itulah, pemuda itu masih mampu, walau sedikit, menyeret kedua langkah kakinya dengan tentu saja, BANTUAN BESAR dari kedua tangan Nesia yang menyangga tubuhnya.
Nesia melirik tajam ke pemuda yang meletakkan kepalanya di pundak Nesia. Jika dia sedang tidak pingsan, Nesia pasti sudah dengan senang hati menoyor kepala itu dengan kepalan tangannya.
Tetapi toh Arthur bersandar padanya juga bukan karena kemauannya, 'kan?
Gadis itu kembali menatap ke depan. Matanya menyipit karena cukup sulit melihat dengan hujan yang menerpa deras wajahnya. Belum lagi dengan angin yang berhembus, dan 'beban' yang tengah ia bawa ini. Langkah Nesia terasa cukup sulit dan pelan—dan sungguh sangat melelahkan hingga napasnya terhembus dalam-dalam dan kuat dari mulutnya.
Sial. Jarak apartemennya seperti semakin menjauh saja.
-oOo-
"A…kuh.. P—pulangh... hosh… hosh…"
Maria yang tengah mengetik sesuatu di laptopnya, berhenti sejenak dari kegiatannya demi menoleh ke arah pintu masuk apartemennya—sumber dari suara yang didengarnya barusan. Di sana, gadis keturunan Portugal itu sedikit membelalakkan mata ketika dilihat 'adik' seapartemennya kini pulang dalam keadaan basah kuyup dari ujung rambut hingga ujung boots-nya.
"…Nesia?" gumam Maria.
Tetapi keadaan basah kuyup Nesia bukanlah sumber keheranan utama yang dirasakan Maria. Akan tetapi ketika Maria melihat bahwa gadis itu kini pulang tak hanya dengan membawa barang belanjaan, namun juga membawa satu manusia.
Lelaki.
Basah kuyup.
Dan sepertinya… separuh pingsan.
Menatap Maria dengan mengernyit dan menghela napas dalam-dalam dan lelah, Nesia bersuara tertahan, "…S—sungguh dia berat sekali, M—Maria. Jadi t—tolong bantu aku," pinta Nesia, berusaha menyeimbangkan tubuhnya dan tubuh Arthur agar tetap mampu berdiri tegak.
Maria segera bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Nesia. Pertama-tama gadis itu mengambil payung dan kantung plastik berisi barang belanjaan, lantas meletakkannya di meja ruang tamu. Setelahnya, ia segera membantu Nesia demi membopong Arthur ke sofa yang ada di dekat sana.
"Uh!"
Separuh lelah dan separuh dongkol, Nesia dengan kasar menjatuhkan tubuh Arthur pada sofa berwarna soft brown tersebut. Menghela napas berat dan kasar, Nesia menyipitkan pandangannya untuk memberi death glare pada pemuda yang, sekali lagi, tidak akan mampu melihatnya.
"Kau segeralah ke kamarmu dulu, Nes. Ganti pakaianmu," ujar Maria menatap tubuh dan pakaian Nesia yang masih meneteskan tetesan-tetesan air hingga membasahi karpet di bawahnya, "Kau pasti kedinginan."
"… Ya," jawab Nesia, "Aku akan membuatkan sup untuk Chau juga."
"Dan akan kubantu kau dalam mengganti pakaian pemuda ini," ujar Maria yang langsung mendapat delikan heran dari Nesia. Maria hanya meringis lebar, "Tenang saja, aku hanya akan mengganti atasannya saja kok. Kebetulan aku memiliki kemeja yang besar peninggalan Nenekku. Lagipula pemuda SMA seperti dia sama sekali bukan tipeku."
Pada akhirnya Nesia segera melangkah menuju kamarnya, setelah sebelumnya mengeluarkan HP Arthur dari kantung plastik belanjaannya, lantas menaruhnya di meja di dekat sofa yang ditiduri pemuda itu. Sebelum ke kamar, Nesia menyempatkan diri untuk menuju dapur dan membuatkan sup untuk Chau yang tengah demam, untuk kemudian segera menuju kamar dan mengganti semua pakaiannya yang basah kuyup dan terasa berat.
Tak berapa lama yang dibutuhkan Nesia untuk segera kembali datang ke dapur. Dengan kepala yang tertutupi handuk untuk mengeringkan rambutnya yang basah, Nesia menuangkan sup yang dibuatnya ke mangkuk, lantas membawanya ke kamar Chau di mana gadis asal Vietnam itu beristirahat.
"Aku telah memanaskan air di dapur, Nes," didengarnya suara Maria yang setengah berteriak dari arah kamarnya, "Bisa tolong kau buatkan teh untuk pemuda itu? Dia sepertinya menggigil kedinginan. Maaf, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku sekarang. Tetapi nanti aku yang akan buatkan makan malam kita."
Mendengarnya, Nesia langsung balas berteriak kesal, "Kenapa harus aku?!"
"Kenapa harus kau bagaimana?" tanya Maria.
"Kenapa harus aku yang membuatkan teh untuknya?" pandangan Nesia melirik tajam pada Arthur yang tertidur di sofa ruang tamu sana. Pemuda itu telah berganti atasan dan kini memakai kemeja berwarna merah yang dipinjamkan Maria untuknya.
"Pertama, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku sekarang. Dan kedua, tentu saja kau harus peduli pada orang yang kau sendiri bawa ke apartemen ini!"
Skak mat.
Nesia tidak bisa menjawab.
Karena tidak mungkin membalas ucapan Maria, maka gadis itu menjadikan Arthur sebagai pelampiasan kekesalannya. Dengan gemas ia melangkah ke ruang tamu, lantas berkacak pinggang dan menatap Arthur yang terbaring dan sedikit mendengkur lemah.
"Enak sekali ya, kau. Tidur-tiduran begitu di apartemenku, di apartemen dari orang yang bahkan sepertinya kau tidak bisa hidup tanpa menistainya?" gerutu Nesia kesal, "Kenapa kau selalu membuatku kesal? Bahkan kau pingsan dan lemah beginipun kau membuatku kesal!"
Ingin rasanya Nesia membalik sofa itu dan membuat Arthur terjungkir darinya. Tetapi selain karena itu tidak mungkin karena sofa itu lumayan berat, juga karena Nesia tidak ingin jika ia harus dimaki Chau nantinya karena merusak properti yang dibelinya.
Jadilah gadis itu terpaksa kembali ke dapur. Membuat teh, dengan sangat tidak ikhlas, tentu saja. Ia bahkan mengaduknya dengan terlalu berisik, seolah-olah ingin memecahkan gelas itu dengan tabrakan sendoknya.
Kembali ke ruang tamu, Nesia segera meletakkan cangkir dan tatakan teh itu di atas meja di samping Arthur. Ia sudah berniat untuk segera berbalik dan melangkah pergi, sebelum telinganya mendengar sesuatu.
Menoleh, ia mendapati Arthur tengah meracau tidak jelas dari alam bawah sadarnya. Nesia tidak begitu mengerti akan apa yang dikatakan pemuda itu—dan ia juga tidak peduli. Yang jelas pemuda itu tengah mengomel-omel dan menggumam absurd dengan sesekali wajahnya mengerut bingung, tertawa lirih, atau menggeram kesal.
Namun bukan itu yang menjadi objek pikiran Nesia.
Akan tetapi fakta bahwa wajah Arthur yang terlihat memerah itulah yang menarik perhatiannya. Dan juga fakta bahwa kedua telapak tangan itu mengepal kuat, juga sedikit bergetar hebat dengan giginya yang sedikit bergemeratak.
Orang paling bodohpun tahu ketika melihat tanda-tanda demikian, Arthur tengah terserang demam.
Dan kau Nesia, menjadi satu-satunya orang yang melihatnya.
Ingin Nesia mengacuhkannya, tetapi semakin ia mengacuhkan, semakin terngiang lagi permohonan Alfred padanya. Dan semakin ia mengacuhkan, semakin pula ia melirik ke arah Arthur yang juga semakin menggigil kedinginan. Dan semakin pula Nesia mengigit ujung bibirnya, berada di antara dilema dan kebimbangan.
Bersikap tak acuh? Peduli? Bersikap tak acuh? Peduli? Bersikap tak acuh?
Rasanya ia cukup lama memandangi Arthur dan memikirkan pilihannya.
.
.
.
Tik tok tik tok.
.
.
.
Dan pada akhirnya inilah jadinya.
Nesia tengah keluar dari kamarnya dengan satu selimut tebal yang berada di pelukan kedua tangannya.
Setelah sampai di ruang tamu, ia segera merutuk kesal dan menyumpah-nyumpahi takdirnya yang harus menjadi satu-satunya orang yang menyelamatkan nyawa tidak berguna dari orang yang justru sialnya, menggunakan nyawa itu untuk senantiasa menjatuhkan mental dan harga diri Nesia.
"Aku tidak mengerti kenapa tadi aku tidak membiarkanmu tergeletak saja di jalanan sana? Aku pasti sudah gila!"
Atau…
"Ketua OSIS yang terhormat apanya? Haha! My ass! Lihat! Bahkan tidak ada bagian dari tubuhmu yang tidak menguarkan bau alkohol!"
Atau…
"Setaaaaannnnn! Pemabuuukkk! Penindaaassss! Aliiiisssss! Hiiii!"
Namun pada akhirnya, setelah sadar bahwa percuma saja ia berteriak dan menghardik jika objek hardikannya masih nyaman terbuai di alam mimpinya—dan semua itu tak akan berujung pada apapun kecuali terkurasnya tenaga Nesia—, Nesia memutuskan untuk menyerah dan mulai melaksanakan tugasnya.
Dengan sedikit kasar, ia membentangkan selimutnya, lantas menyelimuti tubuh Arthur dengan selimut cadangan miliknya berwarna soft pink tersebut. Ia tarik selimut itu hingga menutupi seluruh tubuh Arthur hingga ke daerah dagu.
Dan seolah menyadari akan hadirnya kehangatan yang memberikannya kenyamanan baru, pemuda semakin menelungsupkan dirinya di ke dalam selimut fluffy tersebut.
Tidak berhenti sampai disitu, Nesia segera memeras sapu tangan yang dipinjami Maria, ke dalam baskom berisi air es yang telah ia letakkan di dekat sofa, sebelumnya.
Setelah melipat sapu tangan tersebut, Nesia segera meletakkannya perlahan di dahi Arthur—tentunya setelah gadis itu menyibakkan rambut depan milik Arthur, ke belakang agar sapu tangannya mampu mengompres dahi itu.
Melakukan semua ini, Nesia hanya menghela napas pasrah.
Ia membawa Arthur ke apartemen ini. Ia membuatkan teh untuknya. Ia menyelimutinya. Ia juga yang berusaha menurunkan demamnya dengan mengompresnya.
Tetapi apa yang sudah dilakukan Arthur selama ini untuknya?
Mendapat pemikiran seperti itu, gadis itu rasanya ingin menangis saja. Karena dari semua tindakan Arthur selama ini, tidak ada satupun yang bisa menunjukkan bahwa pemuda itu tidak sangat membenci Nesia.
"Uh…."
Lenguhan itu membuat Nesia mengarahkan pandangannya ke arah Arthur. Gadis itu masih berjongkok di sebelah kepala Arthur—belum bangkit dari posisinya mengompres dahi Arthur.
Dilihatnya Arthur telah berhenti dari igauan dan racauannya, dan kini pemuda itu terpejam pulas dengan dengkuran halus dari mulutnya yang separuh membuka. Dan seolah mengerti akan kenyamanan yang didapatkannya, tubuhnya juga sudah tidak begitu menggigil lagi.
Jika diamati dari dekat sini, siapapun pasti setuju jika wajah tertidur Arthur terlihat begitu damai. Meski Nesia tak akan mau mengakui sampai mati, tetapi wajah itu terlihat begitu polos dan defenseless jika terlelap begitu. Seolah ia tidak mengerti akan keburukan dunia dan hanya hidup dalam mimpi indah yang ia ciptakan sendiri.
Padahal Arthur sendirilah (yang menurut Nesia) sumber dari keburukan yang menimpa dunia yang damai dan tenteram ini. Uh.
Dan jika Nesia baru mengenal Arthur sekarang, pasti gadis itu sudah terpesona akan –uhuk—ketampanan—uhuk!—Arthur saat ini.
Tetapi tidak, ketika Nesia teringat kembali betapa miripnya pemuda itu dengan setan, ketika kedua mata itu terbuka dan ketika otak pemuda itu tengah berada dalam kondisi sehat tanpa pengaruh alkohol.
Setan.
Sangat mirip setan.
Jadi, jangankan terpesona, Nesia rasanya ingin mencakar wajah yang tengah terlelap itu sekarang juga.
"Uuu~ Sebegitu kagumnyakah dirimu pada ketampanan pemuda itu, Nes? Hingga kau tidak bosan-bosannya memandanginya dari jarak dekat demikian?"
Twitch.
Nesia hanya menoleh dan melirik kesal pada Maria yang kini tengah berdiri di belakangnya, "Dan kukira kau bilang bahwa kau tengah repot mengerjakan tugas kerjamu?"
"Nope, aku baru dari dapur untuk mengambil minuman," jawab Maria, sembari meringis lebar dan geli, "Dan ngomong-ngomong, kau belum memberitahuku darimana dan mengapa kau bisa pulang ke sini dengan membawa pacarmu yang pingsan dan mabuk ini—"
"Dia bukan pacarku!" bentak Nesia tsundere, yang alih-alih membuat Maria takut, malah gadis itu hanya menahan senyum lebarnya, "Dia hanya Ketua OSIS dan siswa kelas dua sekolahku dan aku menemukannya ketika orang ini sekarat di jalan raya dan aku tengah berada dalam mood yang kelewat suci untuk mau menolongnya! Dan tolong hapus senyum tertahanmu yang seolah mengejekku itu!" Nesia berdiri dari posisi jongkoknya, lantas menuding hidung Maria.
"Oh, ya?" Maria melirik ke arah Arthur dengan mata terbelalak heran, "Tetapi dia lumayan tampan lho, Nes."
Nesia rasanya ingin muntah tepat di wajah Maria yang menurutnya mengumbar kepalsuan dan bualan senista itu.
"Oh ya, aku menjemur pakaian pemuda itu di ruang jemur di belakang. Siapa tahu nanti dia terbangun dan menanyakannya padamu," ujar Maria, "Kau akan menungguinya di sini, kan? Atau kau turut bawa dia saja ke kamarmu?"
Dan Maria harus mengucap puji syukur ketika lemparan handuk yang sebelumnya terpakai di kepala Nesia, meleset dari kepalanya yang menjadi sasaran lemparan Nesia. Gadis yang berprofesi sebagai perawat muda itu hanya tertawa sembari berlari menuju kamarnya.
Nesia menghela napas, lantas melirik sebentar ke arah Arthur yang masih terpejam pulas.
"Aku pasti sudah tidak waras karena tidak membiarkannya beku di tengah hujan di luar sana!" gumamnya lirih pada diri sendiri.
Memutuskan bahwa dirinya telah lapar dan siap menyantap makan malam, Nesia melangkah pergi dari sana dan berteriak, "Maria! Kutagih janjimu untuk menyiapkan makan malam kita. Aku lapar nih!"
-oOo-
Empat dua puluh lima, begitulah yang tertera di jam digital yang terletakkan di meja samping tempat tidur Nesia, ketika gadis itu terbangun dan menatapnya. Terbangun pagi-pagi buta begini karena ia merasakan tenggorokannya rasanya kering dan seperti tercekik, dan ia harus menghela napas berat ketika mendapati bahwa ia lupa mempersiapkan segelas air di nightstand miliknya.
Oleh sebab itu, dengan langkah malas karena nyawa yang terkumpul juga masih loading process, gadis itu menuju ke luar kamar, hendak mengambil air langsung dari dapur. Ruangan yang dilaluinya semuanya gelap, kecuali untuk kamar Maria yang mana ia yakin bahwa gadis itu pasti tertidur saat bekerja dan lupa memadamkan lampu kamarnya.
Menguap lebar-lebar, Nesia berjalan sembari meregangkan kedua tangannya. Namun uapan kantuknya berhenti di tengah jalan ketika ia melintasi ruang tamu dan tak sengaja, kedua matanya menatap ke arah sofa.
Kosong.
Dengan selimut yang terlipat rapi. Sapu tangan yang terletakkan di meja bersama dengan gelas berisi teh yang kehilangan separuh isinya. Dan juga kemeja merah milik Maria yang juga telah tertata rapi di sofa.
Membelalak lebar, Nesia segera melangkah cepat menuju ruang jemur.
Dan ia tidak begitu kaget ketika ia tidak menemukan sebuah kemeja biru tua yang tergantung di sana.
Menghela napas berat dengan perasaan dongkol yang mendewa, gadis itu hanya merutuk kesal, "Bagus, aku bahkan tidak mendapatkan bahkan sekedar ucapan terimakasih!"
-oOo-
Melangkah lirih di salah satu lorong di sekolahnya, Nesia tidak sadar bahwa ia telah lama sedikit mengerucutkan bibirnya dengan dahinya yang tertekuk sedemikian rupa. Sesekali mulutnya menggumamkan omelan dan hardikan lirih, dan sesekali pula kakinya akan sedikit menghentak kesal ke lantai yang dilaluinya.
Dan tanpa sadar pula, gadis itu telah membuat Antonio Carriedo sesekali melirik cemas bercampur heran ke arahnya.
Tanpa pemuda itu tahu bahwa hati gadis yang yang tengah berjalan di sampingnya itu kini tengah dilanda badai amarah. Kuat, bagaikan letusan gunung berapi yang rasanya siap melahap semua. Iya, Nesia rasanya siap bahkan memakan orang ketika suasana hatinya sangat buruk demikian.
Karena apa?
Kalian pasti tahu jawabannya.
Ngomong-ngomong soal jawaban, panjang umur sekali. Karena 'jawaban' itu sendiri kini tampak terlihat berjalan menuju ke arah Nesia—di depan Nesia. Berjalan dengan tenang dan biasa, seolah-olah ia tidak tengah berbuat dosa besar pada satu-satunya manusia yang sudi—meskipun tidak ikhlas—menyelamatkan nyawanya ketika bahkan tidak ada seseorangpun yang sudi meliriknya, kemarin malam.
Ya, Arthur Kirkland.
Dengan blazer biru tua dan celana kotak-kotak merah khas murid Hetalia. Dengan sepatu pantoefel yang hitam mengkilat. Dengan tas ransel berwarna hitam di punggungnya.
Berjalan.
Santai.
Biasa.
Dan melewati Nesia begitu saja seolah Nesia bahkan lebih buruk dari kentut—setidaknya kentut akan diketahui keberadaannya lewat baunya.
Dan itu cukup membuat angry meter Nesia mencapai puncak maksimum. Hingga jika ada alat yang mampu mengukur tingkat kemarahan, maka bisa dipastikan alat itu akan jebol karena tidak kuat menampung intensitas kedongkolan yang tengah dirasakan gadis itu.
Berbalik cepat, Nesia segera menghadang Arthur di depan pemuda itu, hingga membuat pemuda itu berhenti melangkah dan menatap heran ke arahnya.
"Bagaimana keadaanmu? Baik-baik saja?" tanya Nesia dengan suara manis, yang mana orang paling tidak sensitifpun tahu bahwa itu hanya dipaksakan. Nadanya sangat tertekan, dan senyum yang terpampang juga terlihat begitu tidak ikhlas.
"…Apa maksudmu?"
NAH!
Jawaban salah! Arthur, jawabanmu salah! Kau memilih jawaban yang salah!
Karena di saat itu pula, Nesia merasakan ia siap menjambak helai pirang itu hingga botak bahkan jika bisa, berdarah-darah!
"Kau bahkan meninggalkan apartemenku tanpa pamit kepada orang yang sudi menyelamatkanmu?" desis Nesia tidak percaya, "Kukira kultur orang Inggris demikian bagus."
Sejenak, Arthur tampak tidak mengerti. Lantas, beberapa detik kemudian, sebuah senyum seringaian dan sungguh, menjatuhkan harga diri siapapun yang memandangnya, tampak di bibir itu, "..Oh? Jadi apartemen sumpek dan kotor itu milikmu? Tidak kaget sih."
Dan ia berlalu begitu saja.
.
.
Akhir dari percakapan—akhir yang mengenaskan, dari percakapan.
.
.
DEMI TUHAAAANNNNN!
Bahkan mungkin Pangeran Kerajaan Inggris Raya-nya itu mungkin tidak akan sedemikian sok daripada rakyatnya yang berlagak berkuasa seperti itu!
Berbalik, Nesia berteriak kesal dan marah, "Beginikah sikapmu setelah aku menyelamatkan nyawa tidak bergunamu itu?!"
Arthur berhenti sejenak, lantas sedikit menoleh ke belakang demi menatap Nesia yang menatapnya dengan pandangan tajam dan hela napas yang terhembus keras-keras—bagaikan banteng Spanyol yang dipamerin bendera Cina, "Aku tidak ingat aku pernah meminta tolong padamu."
Uh!
Orang macam apa itu… Manusia macam apa itu… Mana mungkin ada manusia yang demikian menjengkelkan dan tidak tahu diri seperti itu….
Bukannya mengucapkan terimakasih, malah ia seolah meludahi pengorbanan Nesia, menginjak-injaknya hingga tidak berbentuk.
Setelah Nesia korbankan harga diri dan perasaan kesalnya…
"K—Kau…," Nesia sampai kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, beberapa detik kemudian, Nesia memejamkan mata dan menghela napas pelan dan dalam-dalam—mencoba membangun kesabaran tak peduli seberapa tipis, untuk menghadapi setan di depannya.
"Oke. Tak apa," Nesia menatap Arthur, sembari mengendikkan bahu acuh, "Tetapi aku juga tidak peduli jika kabar bahwa Ketua OSIS Hetalia High suka mabuk-mabukkan hingga pingsan dengan tidak elitnya di tengah jalan, akan muncul di media massa. Ketua OSIS dari SMA ternama, ternyata memiliki kebiasaan suka keluar masuk bar."
Arthur hanya mendengus geli, "Seperti kau punya bukti saja."
"Oh, tentu. Tentu," Nesia mengangguk-angguk, "Apa ya? Rekaman ponselku… Rekaman CCTV Apartemenku… Apakah semua itu cukup untuk menjadi bukti yang bisa kukirim ke New York Times agar mereka memiliki headline yang bombastis, ya?" gumam Nesia dengan pandangan melirik ke atas dan telunjuk kanan yang tertempel di dagu—seolah berpikir. Tentu saja apa yang ia ucapkan hanyalah bualan belaka—karena kemarin malam saat ia menolong pemuda sialan itu Nesia tidak membawa HP, dan pasti sulit sekali meminta rekaman CCTV apartemen untuk hal konyol dan absurd demikian.
Sekalipun demikian, that's worth the threat, right?
Lantas ia menatap Arthur dengan kedua mata berbinar dan senyum lebar, "Ya! Kurasa itu lebih dari cuku—Ow!"
"Annesia!"
Nesia mendengar suara Antonio yang memanggilnya dengan nada khawatir, ketika gadis itu merasakan tubuhnya terdorong kasar hingga membentur tembok di belakangnya. Meringis sakit, Nesia menatap bahwa Arthur Kirkland berdiri cukup dekat dengannya. Tetapi bukan itu yang menjadi pusat kekhawatiran Nesia, akan tetapi kedua telapak tangan pemuda itu yang mencengkeram cukup kuat kedua pundak Nesia.
Sangat kuat.
Seolah ia tengah berusaha mematahkan kedua pundak itu hanya dengan cengkeraman tangannya.
Kuat.
Sakit. Sangat sakit….
"A—aduh," keluh Nesia sembari berusaha melepaskan cengkeraman Arthur di kedua pundaknya. Namun nihil. Pemuda itu seperti sudah kesurupan saja hingga tenaganya bisa lebih kuat dari biasanya.
"Dengar," desis Arthur lirih, tak peduli dengan murid-murid yang lewat di sekitar lorong saat itu, yang menatap mereka dengan pandangan heran dan ingin tahu, ""Aku tidak peduli akan apa katamu. Tetapi jika kau berani-beraninya merusak reputasiku sebagai Ketua OSIS Hetalia High…" Arthur semakin mencengkeram kuat kedua pundak Nesia, hingga Nesia yakin bahwa pundak itu akan memiliki bekas lebam nantinya, "…Mati kau!"
"Ow!" keluh Nesia ketika Arthur melepaskan kedua pundaknya, dengan sedikit mendorongnya.
Nesia hanya memegangi kedua pundaknya, seolah ingin memproteksi dirinya sendiri. Rasanya ngilu sekali.
Sakit sekali.
"Nesia. Nes. O Tuhan, kau tidak apa-apa, Nes?" Antonio segera menghambur ke arah Nesia dan memegangi gadis itu untuk tetap mampu berdiri. Pemuda itu lantas menatap marah campur tidak mengerti ke arah Arthur yang masih menatap Nesia dengan tatapan tajam dengan wajah memerah marah, "Apa yang Senior lakukan? Kau menyakitinya!"
"Aku hanya mengajari satu dua hal kepada pacarmu ini untuk tahu siapa dirinya," jawab Arthur pelan, tanpa sedikitpun mengalihkan perhatian kepada Antonio, "Sebaiknya kau jaga dirinya agar tidak usah turut campur pada permasalahan orang lain. Menjengkelkan sekali."
Dan setelah itu, Arthur berbalik dan melangkah pergi, tanpa peduli pada semua tatapan mata yang menatap terkejut ke arahnya.
"Sial," gumam lirih Arthur sembari memejamkan kedua matanya, "Gadis sialan. Membuatku lepas kontrol di depan umum begini…."
Sedangkan Nesia, bangkit dari rasa sakit dan (sedikit) takutnya, berteriak kesal dan marah pada pemuda yang telah melangkah menjauh darinya, "Hei! Tanpa aku kau itu yang sudah mati! Terimakasih sedikit apa susahnya sih?! Itu tidak akan membuatmu mati hanya untuk mengucapkan a goddamn thank you padaku!"
Namun sia-sia.
Arthur sepertinya tidak sedang berada dalam mood untuk meladeni ucapannya lagi. Pemuda itu terus saja berjalan—tegap, seolah ia tidak baru saja membuat penganiayaan terhadap seorang gadis dan seolah ia tidak mendengar apapun yang baru saja diteriakkan Nesia.
Nesia hanya menatap tajam ke arah punggung Arthur, seolah dengan tatapannya, ia mampu membuat Arthur terjatuh mati.
Peduli setan pada kompetisi. Peduli setan pada Alfred.
Jika begini caranya sih…
Jika begini terus…
Uh.
Kedua tangan Nesia mengepal, untuk kemudian mulai bergetar.
Kenapa hatinya terasa sakit.
Sakit sekali.
Ia tidak mau tampak lemah—ia tidak boleh tampak lemah hanya karena ini. Arthur sudah membuatnya merasa seperti orang paling tidak berguna di dunia. Jadi ia harus bisa berdiri tegar—ayolah, ini bukan yang pertama kali baginya.
Tetapi tetap saja…
"Kau tidak apa-apa, Nes?"
Suara bernada khawatir Antonio seolah menjadi penyelamat bagi Nesia untuk segera menahan genangan air yang mulai ada di matanya. Menghela napas dalam dan berat dan memohon kekuatan pada Tuhan, gadis itu segera menoleh dan tersenyum kecil ke arah Antonio.
"Tidak apa-apa, Antonio," ujar Nesia sembari mengelus kedua pundaknya, lantas sedikit meringis sakit ketika merasakan ngilu di sana, "A—aku tidak apa-apa—duh."
"Sebaiknya kau klinik sekolah setelah ini, Nes," ujar Antonio dengan tatapan cemas padanya, "Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kau dan Senior Kirkland, tetapi dia begitu kelihatan marah."
"Dia hanya seorang anak manja dan sok bangsawan yang tidak tahu caranya berterimakasih," umpat Nesia kesal.
"Berterimakasih? Kau menolongnya?" tanya Antonio, "Dan tadi kudengar, kemarin malam Senior Kirkland menginap di apartemenmu, Nes?"
.
.
U—uh.
.
.
Nesia rasakan sekujur tubuhnya membeku.
Entah kenapa ia langsung memiliki ketakutan jika Antonio salah memiliki persepsi tentang informasi absurd yang baru saja diketahui olehnya.
Dengan cepat, Nesia menatap Antonio lantas tertawa lebar dan menggerak-gerakkan kedua telapak tangannya, "T—tidak seperti yang kau kira, Antonio. Sungguh. Tidak begitu."
Antonio hanya menaikkan sebelah alisnya heran.
"M—Maksudku, kami tidak melakukan apa-apa kok. Aku hanya menolongnya karena kemarin dia pingsan di jalanan dekat Green Brooklyn. Jadi yah… Ahahaha," Nesia tersenyum garing ke arah Antonio.
Sekalipun apa yang dia katakan seluruhnya adalah sebuah kebenaran, tetapi tetap saja Nesia masih antipati jika Antonio benar-benar salah paham.
Dan jika demikian kan, persepsi Antonio terhadap Nesia akan menjadi buruk, kan?
Dan itu lebih buruk ketimbang mengetahui bahwa seandainya nanti Zayn Malik telah memiliki pendamping hidup.
Namun, yang dilakukan Antonio hanyalah tertawa. Cerah. Dengan giginya yang putih dan rata.
"Bagus, Nes. Kau gadis yang baik. Gadis yang baik," kata Antonio cerah, sembari sebelah telapak tangannya mengacak-acak kecil puncak kepala Nesia, "Aku bangga padamu, Nes."
Dan Nesia hanya bisa tersenyum.
Jika begini sih, ia rasanya sudah tidak peduli lagi dengan Kirkland dan semua tingkah konyolnya. Rasa sakit di bahunya seolah sirna demi melihat wajah, senyum, dan tawa yang senantiasa sukses membuat pipinya merona hangat.
'Aku bangga padamu'?
Ah, jika mendapat perkataan demikian dari Antonio sih, apa artinya sekedar ucapan terimakasih dari Kirkland?
-oOo-
Next Chapter:
"The fuck are you lookin' at, Bastard?! Fuck off!"
.
"Tidak hanya memberitahuku, tetapi fratello juga sering bercerita banyak tentang Nesia, ve~."
.
"Kenapa kau marah pada Feliciano? Aku tidak peduli apa sebab kemarahanmu ini, tetapi jangan kau berbuat kasar pada Feli, Lovino."
"Di mata yang lain, dia selalu tampak seperti golden boy, kan? Orang bodoh dan oblivious seperti itu… seperti seorang saint saja."
.
"Aku akan pindah ke rumah Kakek, ve~"
"… Kau tidak akan tinggal di Green Brooklyn lagi?"
.
"Kapan-kapan, aku berjanji akan membawamu kesana. Ke Negeriku, tentu saja. Agar kupastikan kau tahu betapa hidup dan hangatnya The Country of Passion yang orang-orang bicarakan."
.
"J—jika ada seorang lelaki yang i—ingin memberimu hadiah, kau ingin dia memberimu apa?"
(1) Itu yang tugasnya kasir nge-check harga-harga barang. Namanya apaan, yak? -_-
Oh ya, mungkin beberapa udah ada yang tahu. Tetapi mulai sekarang, saya akan hemat space. Saya sadar jika terkadang A/N saya panjang kayak jumlah episod sinetron Tukang Haji Jualan Bubur :D
Pojok Review. Monggo~
Kenapa isinya kompetisi centric? / Oh, ya? Kamu ngerasa gitu? Ciyus miapah enelan Qaqaaa? :D Karena jujur, malah saya ngerasa hal berbau kompetisi itu minim sekali lho. Coba, bahkan saya tidak mencantumkan dengan detil pembahasan diskusi antara Nesia dan kawan-kawan. Saya hanya berusaha kembangkan interaction development antar karakter saja :D Dan saya cukup kaget saat kamu bilang ini kompetisi centric :D / Kangen Arthur / Tuh, doi udah kebagian peran banyak :D / Dari penjelasan Alfred, si Arthur udah kelihatan ga OOC kok. Dia ketara tsundere dan ada sisi gentleman-nya / Makasih #menangislebe / Gegara fic ini aku bangga dikatain alay / Thanks God, I've been for improving your dignity :D #plak / Acuh? / Itu, menurut saya, sama dengan peduli / Panjangin chapternya / Ini udah 6k lho :D / Chuyunkz itu apa? / Itu bahasa alay-nya "Sayang" :D #guekokmahirbangetyak?
Review ya, cemundh-cemundh.
Entar yang review dapat cinta dari saya deh #inimahdisinsentif
Thanks so much.
From FHI with chuyunkz,
dis kece (?)
