Just happy reading. I am not really in mood to talk nonsense. Galau, rasanya pengen keramas (?) :/ Dan oh ya, makasih sekali. Yang review pake akun kemarin banyak banget :D Terimakasih. Ketahuan nih kalian pengen kenalan sama saya yang kece ini :D #pembacalangsungreviewpakeano n


Guidance:

Kompleks gedung A: Tempat di mana para murid kelas 1, dan sebagian kelas 2, belajar secara formal

Kompleks gedung B: Tempat di mana para murid kelas 3 belajar secara formal

Kompleks gedung C: Tempat di mana para murid kelas 2 belajar secara formal

Character:

Nesia, Antonio, Lovino, Lily, Feliciano, Mei: kelas 1

Arthur, Alfred, Tiino, Vash: Kelas 2

Francis, Gilbert, Elizaveta, Bella, Andrew, Ludwig, dan karakter2 lain: kelas 3

Chau dan Maria: Excluded


Begitu banyak yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir, bagi Annesia Saraswati.

Kegiatan sekolah di Hetalia High masih berjalan seperti biasa—baik itu kegiatan formal atau pun kegiatan non-formal seperti ekstrakurikuler atau klub. Begitu pula dengan Nesia. Ia masih mengikuti KBM sebagai siswi kelas satu di Hetalia High. Ia juga masih rutin menjalankan tugasnya sebagai anggota dari Klub Radio yang diikutinya. Bahkan akhir-akhir ini, gadis itu cukup disibukkan oleh kegiatan klub, mengingat Ketua Klub Radio, Senior Francis, yang notabene merupakan siswa tingkat akhir, tengah sibuk memersiapkan ujian akhir. Sehingga pemuda berambut pirang ikal tersebut sering mendaulatkan (secara sepihak) beberapa tugas klub kepada Nesia. Meskipun Nesia tidak sendirian karena ada Mei Lian, dan Senior Tiino yang (dengan senang hati) membantunya, tetapi tetap saja hal itu membuat Nesia akhir-akhir ini cukup sibuk dengan urusannya sendiri.

Kehidupan sosialnya juga berjalan lancar-lancar saja. Lovino Vargas dan Antonio Carriedo masih menjadi teman satu seperjuangan baginya. Meskipun nama yang terakhir, belakang ini bisa dikatakan tidak sedekat dahulu, tetapi Nesia mencoba berpikir positif bahwa itu dikarenakan pemuda asal negeri Spanyol tersebut tengah repot dengan persiapan klubnya menjelang festival musik perayaan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat. Oleh sebab itu, praktis hanya Lovino seorang yang sering menjadi tak hanya teman perjalanan pulang-pergi sekolah, tetapi juga entah bagaimana, menjadi satu-satunya orang yang mana Nesia sudi mengeluarkan semua keluh kesahnya.

Pemuda asal Italia tersebut memang tidak begitu banyak bicara. Akan tetapi ia senantiasa memiliki cara sendiri untuk menenangkan Nesia—meskipun tanpa harus melalui kata-kata.

Dan Nesia suka pada sisi Lovino yang demikian.

Tanggal 4 Juli telah tiba dan seluruh penjuru Amerika Serikat meneriakkan kata freedom bersama dengan berkibar megahnya The Stars Spangled Banner di tiap penjuru kota. Nesia dan Lovino menyempatkan diri untuk berkunjung ke alun-alun kota, tempat di mana Antonio mengundang mereka untuk menyaksikan penampilannya dan Klub Musik Hetalia High sebagai salah satu perwakilan murid dari beberapa SMA ternama di AS yang berpartisipasi dalam festival tersebut. Malam itu begitu meriah dengan tak hanya berjubelnya manusia di alun-alun kota untuk menikmati festival musik yang dimeriahkan oleh beberapa penyanyi tersohor AS, tetapi juga gempa gempita yang terdengar memekakkan, tetapi di saat yang sama begitu meriah.

Begitu sesak dan ramai, hingga Lovino dan Nesia memilih untuk berdiri di tepian alun-alun, jauh dari pusat panggung. Meskipun Nesia sempat bersihkeras untuk mampu berdiri sedekat mungkin dengan panggung—agar demi Tuhan, siapa tahu Antonio menyadari kehadirannya—tetapi Lovino melarang dengan mengatakan bahwa, "Di sini saja. Tubuhmu kecil. Kau mau terinjak-injak oleh orang-orang AS yang besar-besar demikian?"

Dan Nesia menurut. Selain karena ucapan Lovino masuk akal juga (Ck, derita orang bertubuh mungil sepertinya), juga karena tangan pemuda tersebut yang terasa erat menggenggam lengannya.. seolah menahannya untuk kabur dari sisinya.

Rasanya sekian abad Nesia menunggu penampilan Antoni—ehem! Klub Musik Hetalia High. Bercampur lelah, sumpek, dan dongkol setengah mati pada beberapa pemuda yang ada di sekitarnya, yang tak sekali dua kali melakukan aksi flirting terhadapnya. Di mana setiap saat itu terjadi, Nesia harus berterimakasih dalam hati pada Lovino yang memberikan death glare gratis pada para pemuda jelalatan tersebut. Bahkan sempat Lovino, mungkin karena kesal dan lelah, menghardik keras, "The fuck are you lookin' at, Bastard?! Fuck off!" kepada seorang pemuda, sembari maju ke depan Nesia dan menyembunyikan gadis itu di belakang punggungnya.

Dan ketika Nesia berada di belakang Lovino, ketika yang dilihatnya hanyalah punggung Lovino yang tegap dan lebar—seolah berusaha menyembunyikannya dari semua ancaman di depan sana—Nesia mampu merasakan sikap protektif Lovino terhadapnya.

Dan menurut Nesia, itu bukanlah sesuatu yang mengesalkan baginya.

Pada akhirnya, setelah rasanya Nesia berpikir ia ingin pulang saja karena penat, bising, dan kepalanya juga mulai terasa sedikit pusing, pada akhirnya apa yang dinantinya muncul.

Antonio Fernandez Carriedo—dengan gitar miliknya yang menyanyikan lagu lawas namun beken sepanjang masa, Dear God milik Avenged Sevenfold, secara akustik.

Ia begitu pandai dan lihai dalam melakukan penampilannya—persiapan berbulan yang telah ia lakukan sepertinya kini menunjukkan hasilnya yang memuaskan. Lihatlah, Antonio sepertinya tidak terintimidasi oleh massa yang begitu banyak di depannya. Tidak gugup akibat sorotan lighting dan kamera.

Ia seolah berhasil membuat panggung besar dan megah itu berada dalam kendali dan kuasanya.

Dengan suara semerdu dan permainan gitar selihai dan sebagus itu, maka Nesia tidak heran ketika di akhir performa, pemuda Latin itu mendapat apresiasi meriah dari pengunjung festival. Gadis itu juga tidak heran ketika mendengar tepuk tangan riuh, bahkan siulan, kata-kata penyemangat, dan sebagainya, yang terdengar bersahut-sahutan.

Dan Nesia juga tidak begitu heran—ia hanya tersenyum kecil, ketika melihat seorang gadis anonymous dari kumpulan penonton depan panggung, mengangkat dan menyodorkan setangkai mawar merah.

Mengingat sifat dan sikap Antonio terhadap semua orang, Nesia juga tidak begitu terkejut ketika pemuda itu dengan senang hati menerima bunga tersebut—sembari, mungkin, tanpa pemuda itu duga, ia mendapatkan bonus ciuman singkat di pipi kirinya.

Ya.

Nesia tidak heran.

Bahkan meskipun melihat penampilan Antonio hanya dari salah satu big screens (1) (karena tidak mungkin Nesia melihat panggung secara langsung dari arah sejauh ini), gadis itu tak pernah heran jika malam ini ia merasa senang, tetapi juga sedikit sakit hati.

Sepertinya pemuda yang diam-diam ia kasihi, memiliki sejuta cara untuk menarik perhatian dan cinta dari orang sekitarnya.

Rasanya…

Rasanya jarak yang membentang antara dirinya semakin jauh saja.

Seperti sekarang.

Ketika Antonio berada di panggung sebesar dan semewah itu, sedangkan Nesia hanya berdiri menyepi dari perhatian dan pandangan manusia.


Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.

Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.

Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedar hints dan fans service :p

Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D

Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D

Maju FHI!

Happy reading


Hubungan Nesia dengan Lily Zwingli juga tidak banyak berubah. Gadis lugu, manis, dan imut (ini pendapat pribadi Nesia) itu masih tetap seperti biasanya. Tetap anggun, ramah, sopan, dan semua sifat ladylike yang Nesia harapkan ada pada dirinya sendiri. Dan tentu saja, Lily juga tidak banyak berubah terkait pandangannya mengenai 'bagaimana sebaiknya Nesia harus mengakhiri perjalanan kisah cintanya' bullshit semacam itu. Vash Zwngli dan Arthur Kirkland adalah dua nama yang—entah mengapa, otak Lily mulai sinting, Nesia pikir—menjadi kandidat utama menurut Lily.

Oke, baiklah. Mungkin terkait Vash, Nesia masih bisa memaklumi—karena Lily juga bukan satu-satunya orang yang masih terkadang menggodainya dengan Vash, contohnya adalah Senior 'Jenggot' Francis itu. Dan sepertinya Nesia juga tidak terlalu memikirkan—pasti Vash juga menyadari akhirnya bahwa semua pada waktu dahulu adalah sebuah keterpaksaan.

Tetapi, pertanyaannya, dari Hong Kong, Zimbabwe, Etiopia, Antartika, Lily bisa ngotot dan bersikukuh bahwa Nesia memiliki chemistry dengan si monster alis itu?! Mungkin pandangan seorang aristokrat atau lady sejati seperti Lily berbeda dengan gadis biasa seperti Nesia—tetapi orang tololpun pasti akan tahu bahwa alih-alih cinta, perasaan Arthur dan Nesia terhadap satu sama lain adalah seperti perasaan yang dirasakan para peserta di film Hunger Games—yakni pengen banget buat saling ngebunuh!

Jadi bagaimana Lily bisa memandang mereka tampak cute, imut, manis, lovey dovey, tralala trilili blah blah seperti itu?!

Karena apa?

Karena memang mereka menganggap satu sama lain merupakan makhluk paling menjengkelkan dan eksistensinya paling mubadzir di dunia ini!

Berbicara mengenai si alis jelek itu, Nesia jadi tidak bisa melupakan kejadian beberapa minggu yang lalu.

Ketika pada akhirnya kelompok mereka, bersama dengan kelompok Senior Herdevary, Eduard Von Bock, dan Senior Braginski, menjalani kualifikasi tingkat kota.

Museum Kota adalah tempat yang dipilih dalam debat yang akan berlangsung beberapa jam saja. Akan tetapi Madame Jeanne yang super duper perfeksionis tersebut memberi intimidasi mental kepada semua peserta—yang pada intinya, dia tidak akan memaafkan (bahkan mem-black list) sedikit pun kesalahan atau keteledoran.

Dan berujunglah pada Nesia dan Alfred yang kelabakan—di mana Arthur, sialnya, tampak begitu tenang seolah ia sudah memiliki strategi untuk menang.

Cih.

Sehari sebelum hari H, Madame Jeanne dan beberapa guru pendamping, membawa kedua kelompok untuk menginap di hotel dekat Museum Kota. Iya, hotel. Karena sekali lagi, Madame Jeanne merupakan tipikal seseorang yang perfeksionis—ia ingin semuanya siap seperti apa yang diinginkannya. Jadi, daripada membiarkan para murid istirahat dengan tenang di rumah, ia membawa mereka berkumpul dan menginap di hotel untuk menjalani lecturing semalam darinya.

Tetapi meskipun sifatnya yang sangat dingin, perfeksionis, dan sangat mampu membuat preman sekolah ngompol di celana demikian, usaha Madame Jeanne pada akhirnya membuahkan hasil yang manis.

Karena salah satu kelompok perwakilan Hetalia High mampu menjadi satu dari dua perwakilan kota mereka.

Dan kelompok yang beruntung tersebut, (sialnya atau untungnya?) adalah kelompok Arthur Kirkland.

Hal ini dikarenakan kelompok Senior Herdevary hanya kalah beberapa poin dari kelompok pemenang satunya, yakni salah satu perwakilan Jeferson High (2).

Entah apa yang harus Nesia rasakan, gadis itu cukup galau. Di satu sisi, ia merasa senang—tentu saja. Siapa yang tidak bangga menjadi perwakilan sekolah yang lolos dalam kualifikasi pertama dari debat nasional prestisius seperti ini? Begitu malam hari setelah kompetisi, Madame Jeanne memberitahu hasilnya kepada mereka, Nesia langsung saja mengucap syukur kepada Tuhan.

Dan gadis itu menghabiskan sejumlah besar pulsa telepon genggamnya untuk menelpon tak hanya keluarganya di Indonesia, tetapi juga beberapa teman dekatnya, seperti Lily, Lovino, Antonio, Chau, dan Maria, mengenai berita baik ini.

Akan tetapi, sekalipun ia sangat gembira, tetapi di sisi lain ia juga merasa tidak nyaman dengan hasil takdir yang membawa kelompok mereka menuju kemenangan. Alasannya sih juga itu-itu saja: jika mereka menang, maka otomatis ia masih akan 'terikat kontrak paksa' untuk bekerja sama dengan monster alis itu lebih lama lagi, 'kan?

Dan itu sangat menyiksa, demi apapun juga!

Habisnya, sepertinya pemuda itu bisa mati jika sehari saja tidak memaki, menghardik, atau menghina Nesia. Sekarang lebih ekstrem lagi, pemuda itu bahkan tidak segan-segan mendiskon total harga diri Nesia di depan publik. Seperti saat kelompok mereka tampil dalam debat, pemuda itu berkata bahwa,

"…Maaf, mungkin partner saya ini lupa dan tidak begitu mengerti. Maka saya akan sedikit mengklarifikasi bahwa tekanan psikologis masyarakat miskin yang dirasakan di negara berkembang relatif lebih rendah daripada tekanan psikologis masyarakat miskin di negara maju. Hal ini, mungkin tidak disadari oleh partner saya, dikarenakan bahwa…"

Dan kalimat selebihnya tidak Nesia ingat—dan ia juga tidak sudi mengingat. Pada waktu itu ia hanya menatap tak percaya kepada Arthur yang masih dengan PD dan tenangnya menjelaskan argumennya.

Bagaimana bisa pemuda itu bisa demikian santainya melakukan pelanggaran HAM yang dijunjung negerinya yang katanya sangat liberal itu? Hak mengeluarkan pendapat?

..dan catat bahwa si alis itu dengan terang-terangan menyalahkan Nesia, di depan ratusan audience dan tiga juri. Dan catat bahwa, berkat 'tudingan' Arthur tersebut, begitu kompetisi telah selesai, Nesia langsung dihardik habis-habisan oleh Madame Jeanne.

Bayangkan betapa Nesia waktu itu ingin sekali mencari boneka voodo dan langsung menuliskan nama Arthur Kirkland di boneka santet tersebut!

Dan penampilan debat mereka kemudian hanya diisi oleh Alfred dan Arthur—Nesia merasa kembali menjadi orang asing yang seolah berfungsi hanya menjadi pelengkap kelompok mereka agar berjumlah tiga orang dan lolos seleksi administrasi. Karena Arthur sama sekali tidak memberi kesempatan—jikapun iya, maka itupun akan sedikit dikritiknya terang-terangan.

Akhirnya, sepanjang debat, Nesia kebanyakan hanya menyampaikan posisi dasar dan kesimpulan.

Dan kompetisi macam apa itu… Apanya yang kata Senior Alfred mengenai Team Management bullshit, jika orang yang dibelanya sendiri begitu ogah bahkan melirik ke arah Nesia tanpa pandangan sinis dan membuat Nesia merasa sangat inferior.

Masih banyak lagi. Masih banyak lagi siksaan mental yang diberikan Arthur kepada Nesia, baik saat penampilan debat atau di luar itu, seperti di hotel.

"Makanmu banyak sekali, sih. Tanpa table-manner… Ketahuan sekali kau berasal dari kelas mana."

Atau,

"Kau ini bodoh, ya? Siapa yang menyuruhmu memberi argumen seperti tadi? Gara-gara kau, kita nyaris kehilangan poin, tahu?!"

Atau,

"Eh, kau lihat miniatur kera di museum tadi? Melihatnya, aku langsung déjà vu padamu, lho."

Mengingat semua itu, Nesia semakin menekuk sebal dahinya sembari melengkungkan ke bawah bibirnya.

Sudah ia duga. Semua percuma saja. Kompetisi ini seolah menjadi jalan baginya untuk bunuh diri selain minum asam sulfat.

Habisnya… entah mengapa, apapun yang ia lakukan, hubungan dan pandangannya terhadap Arthur Kirkland tidak akan berubah. Begitu pula sebaliknya—Arthur Kirkland juga memandang Nesia sebagai objek empuk untuk penindasan verbalnya.

Sampai kapan ini berakhir…

Pandangan Nesia semakin sayu, terarah ke arah luar kantin kompleks A. Di luar memang tidak hujan, tetapi udara cukup dingin hingga membuat gadis itu langsung mengajak Lily untuk menikmati secangkir latte hangat saat periode istirahat sekolah sekarang. Sementara Lily pamit untuk berbincang sebentar pada teman sekelasnya di meja lain, di sinilah Nesia berada.

Di meja pojok, memandang ke luar jendela, sendiri, dengan aura depresi yang tampak jelas mengerubunginya.

Ck.

Menyedihkan sekali.

'Hentikan, Nes! Hentikan!' makinya pada diri sendiri, 'Untuk apa kau memikirkan orang sinting itu terus? Seperti dia pernah memikirkan perbuatannya terhadapmu saja! Coba pikirkan hal yang lain! Hal yang menyenangkan! Seperti… seperti… kau dengan Antonio? Senyumnya? Wajahnya? Dan betapa lucunya anak-anak kalian kela—"

"Ow!"

Gadis itu memekik kaget bercampur sakit ketika merasakan rasa panas yang tiba-tiba menyengat di telapak tangannya yang tertaruh pasrah di meja. Menatap ke depan, ia sedikit terkejut ketika mendapati seorang pemuda berambut coklat yang menaruh piring berisi spagetti hangat di mejanya—setelah sebelumnya Nesia yakin, pemuda itu dengan sengaja menyentuhkan piring panas itu ke telapak tangan Nesia.

Mendelik, Nesia sedikit menghardik kesal, "Feliciano! Apa yang kau lakukan?!"

Ya. Sekarang Nesia tidak akan salah tebak antara Lovino Vargas dengan saudara kembarnya, Feliciano Vargas. Jika diperhatikan dan dipikir baik-baik, banyak hal yang mampu membedakan keduanya yang sekilas tampak sebagai kembar identik itu. Pertama, keriwil Lovino terdapat di sebelah kanan kepala, sedangkan keriwil Feliciano mencuat di sebelah kiri kepala. Kedua, jika Feliciano senantiasa memberikan pandangan tersenyum (atau mengantuk?) dari kedua matanya, maka yang diberikan oleh pandangan Lovino kebanyakan hanyalah pandangan mengintimidasi, death glare, menghardik, dan semua pandangan yang jauh dari kata "tersenyum", seperti yang dimiliki adik kembarnya. Ketiga, jika Feliciano selalu menggunakan sisipan 've~' absurd dan misteriusnya dalam setiap kalimat yang diucapkan, maka Lovino akan senantiasa menyisipkan kata fuck, shit, dammit, bastard, bitch, jerk, hell, dan semua kata yang membuatmu mengedutkan ujung sebelah matamu.

Mereka benar-benar, di satu sisi, bagaikan pinang dibelah dua. Dan sisi yang lain, bagaikan bumi dan langit yang benar-benar berbeda.

"Habisnya, Annesia terlihat melamun terus, ve~" ujar Feliciano, yang membuat Nesia semakin penasaran akan arti 've~' misterius tersebut.

Salah satu kosa kata Italia, kah?

"Kau membuatku terkejut, Feliiii," ujar Nesia gemas, tetapi melihat wajah polos dan ramah itu, selalu membuat Nesia tidak bisa menahan lama-lama rasa kesalnya, "Ngomong-ngomong, sejak kapan kau ada di situ?"

Feliciano tertawa kecil, "Baru saja, ve~," ujarnya, lantas melanjutkan setelah mengunyah dan menelan sesendok spagetti miliknya, "Lagipula aku ke sini juga ingin memberimu ucapan selamat."

Nesia menaikkan sedikit alisnya, heran.

Ucapan selamat?

Seolah mampu menerka pikiran Nesia, Feliciano melanjutkan, "Berita lolosnya kelompokmu dalam kualifikasi tingkat kota tentu saja, ve~."

Nesiah hanya meng-oh tanpa suara, sembari meminum beberapa teguk latte hangatnya.

Tentu saja, ucapan selamat apa lagi.

Tetapi…

"Mengapa?" tanya Nesia menatap Feliciano.

"Nesia bicara apa?" Feliciano tertawa kecil, "Itu sudah menjadi berita besar di sekolah ini—mengapa apalagi?"

"Maksudku, mengapa sekarang? Toh berita ini sudah ada sejak beberapa minggu yang lalu," Nesia mengendikkan bahu, lantas menoleh ke sekitar, berusaha mencari teman perempuannya yang tadi pamit dan entah kenapa, sampai sekarang masih belum kembali juga.

Ah itu dia di sana. Lily Zwingli yang masih tengah mengobrol dengan seorang gadis perempuan lainnya.

"Karena aku belum sempat memberimu ucapan selamat secara langsung, ve~. Jikapun sempat, pasti aku lupa," gumam Feliciano sembari kembali melahap sesendok spagetti ke mulutnya.

"Ah, tidak apa-apa, Feli," Nesia tersenyum kecil, "Bukan persoalan besar."

Feliciano menggeleng, "Tapi aku merasa aku perlu mengucapkannya, ve~. Karena kata Fratello, berita ini termasuk berita yang bagus, ve~."

Ah, Lovino?

Tentu saja. Lovino adalah salah satu orang yang pertama kali mendengar berita ini langsung dari Nesia, meski hanya melalui telepon.

"…Lovino memberitahumu juga?" tanya Nesia.

Feliciano mengangguk, "Tidak hanya memberitahuku, tetapi Fratello juga sering bercerita banyak tentang Nesia, ve~."

Apa?

Nesia hanya mengerutkan kening bingung. Untuk apa Lovino bercerita banyak mengenai dirinya, kepada adik kembarnya? Apakah Lovino sudah demikian memandang dekat Nesia terhadap dirinya?

Feliciano melanjutkan, "Seperti saat memberitahuku perihal berita kemenangan kelompokmu, Fratello terlihat sangat gembira. Aku masih ingat, dia menceritakannya dengan ekspresi seolah-olah dialah yang memenangkan debat itu, ve~."

Lantas, pemuda itu menatap Nesia sembari tersenyum, "Fratello sepertinya sangat bahagia karena telah mengenalmu, Annesia. Aku, adiknya, sangat yakin soal itu."

Dan Nesia hanya terdiam.

Sedemikian dekatkah hubungannya dengan Lovino? Sedemikian pedulinyakah Lovino terhadap dirinya? Hingga ia turut begitu gembira saat Nesia bahagia—seperti dalam kemenangan kompetisi itu.

Tetapi…

Bukankah selama ini Lovino memang selalu demikian? Selalu ada bersama Nesia. Tidak pernah meninggalkannya. Sekalipun ia tidak pernah berucap manis, sekalipun pandangannya sering kali terlihat tajam, tetapi toh pemuda itu selalu ada setiap Nesia membutuhkan pertolongan.

Dari dulu.

Dari semenjak dahulu—bahkan ketika pertama kali mereka bertemu.

Mengingatnya, Nesia tersenyum kecil sembari menghela napas dalam-dalam.

Ia hanya mengucapkan apa yang dahulu pernah ia pikirkan, ketika Lovino melemparkan sebuah apel merah dari taman Hetalia High, kepada dirinya yang tengah merasa lapar (3).

"Lovino Vargas memang sangat baik."

-oOo-

Berjalan tenang, tetapi Lovino tetap tidak mampu mengenyahkan rasa tidak nyamannya ketika ia merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan gadis yang berjalan di sampingnya.

Dari sudut matanya yang sesekali melirik ke samping, ia berkali-kali melihat bahwa Annesia sering mengulum ringisan lebar seperti orang idiot, kepadanya.

Apa dahi gadis itu baru saja terbentur tiang? Habisnya, perjalanan pulang sekolah bersama ini terasa begitu canggung bagi Lovino, ketika Nesia senantiasa tersenyum dan meringis—kelewat sering dan senantiasa tersenyum dan meringis, hingga ke tahap di mana hal itu sangat membuat Lovino tidak nyaman dan merasa aneh.

Tidak tahan lagi, Lovino membuka suara, "Ada apa?"

Dan Nesia hanya meringis lebar sembari berjalan dan menoleh ke arah samping—ke arah Lovino, "Tidak~ Tidak ada apa-apa~"

Lovino mendecak kesal, terlihat sekali tidak puas dengan jawaban yang baru saja didapatkannya, "Kenapa kau senantiasa tersenyum seperti itu?"

Mendengarnya, Nesia pura-pura cemberut dan me-mellow-kan suaranya, "Tidak boleh, ya~? Apa menurutmu aku kelihatan jelek jika aku terus tersenyum begini?"

Dan senyum Nesia semakin lebar ketika Lovino tidak menjawab, malah memalingkan mukanya ke arah samping yang tak mampu dilihat oleh Nesia.

"… Bicara apa kau…"

Nesia tertawa, lantas menoel-noel lengan Lovino yang berbalut mantel berwarna hitam, "Kenapa kau baik sekali padaku, sih?" selidik Nesia sembari berusaha menatap wajah Lovino yang masih terpalingkan.

"Guh!" Sepertinya Lovino tidak pernah menyangka bahwa pertanyaan seperti itulah yang akan terajukan oleh Nesia, "A—apa yang kau bicarakan— Pertanyaan macam apa itu?"

"Memangnya aku tidak boleh bertanya demikian?" heran Nesia, semakin heran ketika sepertinya Lovino terdengar cukup canggung baik dari nada suara ataupun sikapnya sekarang yang menolak memandang ke arahnya, "Aku hanya dengar dari Feliciano bahwa kau begitu sering bercerita tentangku padanya. Dan bahkan, kau turut sangat bergembira mengenai kemenangan kelompokku—"

"Apa?"

Nesia sedikit terkaget ketika Lovino memotong ucapannya. Bukan hanya itu saja, gadis itu juga heran karena ketika mengucapkan kata 'apa?' tersebut, Lovino pada akhirnya menoleh dan memberinya tatapan terkejut pada Nesia—hingga kini, Nesia mampu melihat betapa meronanya wajah pemuda itu.

Merona merah, hangat, di sore hari awal musim gugur yang dingin.

"A…," Nesia seolah tidak menemukan kata-katanya. Ia cukup terkejut juga melihat Lovino dalam 'keadaan' yang demikian—siapa pernah menyangka jika pemuda bermulut sangar seperti dirinya ternyata mampu blushing sedemikian parah?

Itu antara manis dan… cukup aneh?

"Kubilang, apa yang baru saja kau katakan, dammit!" seolah menyadari bahwa Nesia memerhatikan transformasi warna wajahnya, Lovino semakin menggeram kesal, dan ujungnya, wajah itu semakin menuju ke arah merah.

Sedikit tidak mengerti kenapa Lovino tiba-tiba marah padanya, Nesia berujar, "Aku hanya bilang, Feliciano menceritakan bahwa—"

"That damn stupid fuckhead…," geram Lovino sembari menatap nyalang ke arah depan, seolah ia siap membantai siapa yang dimaksud dengannya sebagai 'that damn stupid fuckhead' tersebut.

"Kenapa kau marah pada Feliciano?" ujar Nesia, sedikit merasa tidak terima jika Feliciano menjadi objek kemarahan yang dirasakan Lovino, "Aku tidak peduli apa sebab kemarahanmu ini, tetapi jangan kau berbuat kasar pada Feli, Lovino."

Lovino mendengus, "Tentu saja. Anak baik seperti dia memang tidak boleh dimarahi oleh siapapun."

Maksudnya?

"Kenapa—"

"Di mata yang lain, dia selalu tampak seperti golden boy, 'kan?" Lovino tersenyum miring, "Orang bodoh dan oblivious seperti itu… seperti seorang saint saja."

Sepanjang Lovino berujar, Nesia hanya menatap tidak mengerti ke arah pemuda itu.

Setelah dipikir-pikir, memang bukan pertama kali ini Nesia mendengar Lovino berucap kata-kata sinis seperti itu terhadap adik kembarnya sendiri—dan kebanyakan Nesia tidak mengerti apa maksud Lovino, dan pemuda itu sepertinya juga enggan menjelaskan.

Akan tetapi, Nesia yakin bahwa apapun maksud perkataan Lovino, Nesia percaya bahwa ada sesuatu tentang Feliciano, yang pernah, atau sedang, menyakiti perasaan Lovino.

Hanya saja Nesia tidak mengerti apa itu—dan ia cukup tahu diri untuk tidak mengusik urusan pribadi orang lain.

"…Tetapi Lovino," ujar Nesia, memegang sebelah lengan Lovino dan membuat keduanya berhenti melangkah. Ditatapnya kedua mata Lovino yang kini menatap heran ke arahnya, "Bagiku… kau lebih baik daripada Feliciano," ujar Nesia yakin, "Dari awal… dari awal kita bertemu, aku tahu bahwa kau orang yang baik. Aku tahu itu, bahkan sebelum aku mengenal Feliciano."

Sejenak, Nesia amati bahwa kedua emerald itu tampak sedikit melebar—seolah pemiliknya tengah dikejutkan oleh sesuatu yang tidak pernah disangkanya.

Namun Nesia tidak pernah menyesal mengatakannya. Karena apa yang dikatakannya juga sebuah kebenaran, bukan kebohongan.

Dari awal, Nesia sudah mensyukuri pertemanannya dengan Lovino—ia mensyukuri apapun yang telah Lovino lakukan untuknya.

Dan ia tidak mau jika pemuda itu berkata-kata seolah-olah ia lebih inferior daripada adik kembarnya sendiri.

Dan ketika melihat bahwa wajah putih kecoklatan itu terlihat kembali merona—mungkin Lovino cukup kedinginan berada di udara luar begini, pikir Nesia—gadis itu tidak sanggup menahan senyum lebarnya kembali.

Pasti karena gemas atau ingin menenangkan Lovino, sembari masih meringis lebar dan hangat, Nesia tanpa ragu mengulurkan tangannya ke arah kepala Lovino—berniat mengacak pelan helai kecoklatan itu.

Dan Lovino tidak sempat menghindar ketika sebelah tangan gadis itu telah berada di kepalanya—lebih tepatnya, di samping kanan kepalanya…

… Dan dengan gemas mengacak helai-helai di samping kanan kepalanya, bersama dengan keriwilnya.

"Ahahaha," Nesia tertawa, semakin gemas ketika entah mengapa, kini wajah Lovino semakin memerah padam, "Jadi, kau tidak usah berkata-kata aneh seperti itu lagi, ya?"

Dan tubuh di depannya itu sedikit bergetar bersama dengan kedua emeraldnya yang separuh tertutup itu.

"H—henti—Nnnhhh…"

.

.

Eh?

.

.

Gerakan tangan Nesia di kepala Lovino terhenti bersamaan dengan suara aneh yang baru saja dikeluarkan Lovino. Gadis itu hanya meng-eh dengan heran tanpa suara.

Dan seperti sadar akan apa yang terjadi, Lovino hanya membelalak lebar dengan muka memerah padam—beberapa titik keringat bahkan muncul di beberapa titik di wajahnya.

Menepis pelan tangan Nesia dari kepalanya, pemuda itu hanya berujar lirih, "… Jangan lakukan itu lagi dan sekarang ayo pulang."

Hanya itu yang diucapkan Lovino lirih sembari menunduk, ketika pemuda itu berbalik dan memutuskan untuk kembali melangkah.

Beberapa hari selanjutnya, karena tidak kuasa menahan rasa penasarannya, Nesia pada akhirnya menanyakan keanehan sikap Lovino tersebut kepada Feliciano yang kebetulan ditemuinya di kantin sekolah.

Dan percayalah, jawaban yang diberikan Feliciano adalah jawaban yang tidak pernah Nesia sangka akan menjadi penyebab keanehan sikap Lovino.

Jawaban yang jelas, membuat wajah baik Nesia atau Feliciano, kontan memerah ketika mendengarnya.

Dan Nesia bersumpah tidak akan mengulangi lagi kebodohannya.

-oOo-

Mematut diri di depan sebuah cermin besar, ia nyaris tidak percaya akan apa yang dilihatnya. Kedua bola hitam kecoklatannya sedikit menyipit menatap pantulan bayangan di cermin itu. Mulutnya setengah membuka menatap apa yang kini ditampilkan oleh cermin di ruang yang biasa disebut sebagai kamar.

Iya, Annesia tidak akan berhenti terheran. Berdiri termangu di dalam kamarnya malam hari itu. Menatap terpaku pada cermin yang biasa ia pakai untuk menatap refleksi kerapian dirinya.

Tetapi, seberapapun ia terheran, namun di saat yang sama ia juga tahu, bahwa objek keheranannya adalah dirinya sendiri. Benar—refleksi di depannya adalah dirinya sendiri.

Siapa lagi? Tidak seperti di kamar ini ada orang lain selain dirinya.

Sebuah gaun terusan berwarna biru muda menutupi tubuhnya hingga ke bagian lutut, dengan begitu sempurna—tidak terlalu mencolok, namun juga terlihat sangat pas membalut tiap lekuk tubuh feminimnya. Bahu dan punggung atasnya yang bebas tampak tertutupi oleh helai rambutnya yang, khusus malam ini saja, ia biarkan tergerai, terbebas dari jeratan ikat rambut yang rutin tiap hari mengikatnya. Rambut berwarna hitam dan sedikit bergelombang di bagian ujung, itu, tampak menjuntai, dengan sebuah jepitan perak berbentuk bunga melati, yang tersemat manis di sisi kiri kepalanya, meringkas poninya. Sebuah wedges berwarna putih menjadi pijakan kedua kakinya, membuatnya merasa bahwa dirinya seolah bertambah tinggi beberapa senti dari biasanya. Sebuah liontin emas putih pemberian ibunya, untuk malam ini terpakai dan menggantung indah ke dada atasnya—sebuah kalung yang selama ini hanya tersimpan diam dalam kotak yang ia gunakan sebagai tempat penyimpanan semua benda berharganya.

Wajahnya yang putih kekuningan, kini semakin tampak cerah dengan polesan tipis make-up—terimakasih pada bantuan Chau, karena Nesia sendiri tidak begitu pandai dalam mengaplikasikan peralatan berhias seorang wanita. Hanya dengan sapuan tipis blush on, lip gloss soft pink, bedak, dan semua peralatan make-up lainnya yang hanya Chau yang mengerti apa namanya. Chau sendiri bilang Nesia tidak memerlukan apa yang disebut… mas… masker? Maskara? Apapun itu, karena bulu mata Nesia sendiri sudah cukup lentik dan tebal tanpa bantuan benda tersebut.

Pada intinya, hanya satu.

Ia malam ini sungguh, tampak berbeda.

Kemanakah gadis tomboi itu? Kemanakah gadis yang tidak begitu peduli akan penampilan itu? Dan siapa pula sekarang yang tengah ditatapnya? Siapa gadis yang sepertinya mampu menyaingi aura lady yang dimiliki Lily Zwingli? Siapa sekarang wanita bergaun dan tampak feminim itu?

Apakah ini pantas dan patut Nesia lakukan?

Mendapat pemikiran seperti, gadis itu menggeleng cepat-cepat dan memejamkan mata.

Berpikir apa lagi. Tentu saja ia harus melakukan semua ini! Tentu saja sesekali ia harus keluar dari zona nyamannya sebagai seorang gadis yang suka bertralala trililili dan sekarang mulai perhatikan penampilan!

Hanya untuk malam ini saja.

Lagipula, bukankah ini memang tujuannya?

Tidak salah, 'kan, jika sesekali tampil feminim dan cantik di depan Antonio Carriedo? Wajar sekali 'kan, jika seseorang ingin tampil sempurna di depan orang yang berarti baginya?

Hanya untuk malam ini saja.

Karena juga, malam ini, adalah malam pertama di mana Antonio mengajaknya keluar berdua.

Hanya berdua.

Jadi, wajar, 'kan, jika Nesia tampil all out seperti sekarang?

Mendapat pemikiran seperti itu, senyum lebar terkembang di bibirnya.

Perasaannya sekarang antara senang, bahagia, cemas, gugup, dan yang paling terasa, antusias.

Ini… Ini seperti kencan, 'kan?

Aha!

Menatap untuk yang terakhir kalinya pada refleksi dirinya di cermin tersebut, Annesia kemudian berbalik. Menyambar tas kecil putihnya di ranjang, lantas mengambil mantel coklatnya dari gantungan baju di balik pintu kamarnya.

Ia siap menjalani 'kencan' pertamanya di negeri Amerika Serikat ini.

-oOo-

Menutup pintu apartemennya, Nesia menghela napas dalam-dalam. Dalam hati, gadis itu berdoa bahwa ia akan baik-baik saja—semua akan baik-baik saja.

Sial.

Kenapa setelah keluar dari apartemen, perasaan ragu dan takut tiba-tiba hinggap di hatinya?

Pantaskah ia berdandan seperti ini? Tidak berlebihankah? Apakah Antonio suka? Bagaimana jika nanti alih-alih terkagum, pemuda itu malah memandang heran dan aneh padanya? Atau justru, pemuda itu malah tertawa dan melihat Nesia yang mirip dengan badut ulang tahun?

Uh.

Mendapat kepribadian dan penampilanmu berubah total hanya dalam beberapa jam saja, memang membutuhkan kepercayaan diri dan mental yang begitu besar!

Dan Nesia sekarang berada dalam krisis kepercayaan diri dan mental tersebut.

Cklek.

"Adik bodoh, kutunggu kau di luar. Cepatlah!"

Suara pintu yang terbuka disusul dengan teriakan itu, membuat Nesia menoleh ke arah samping. Dan tentu saja ia mampu menebak siapa pemilik suara tadi—siapa lagi yang tinggal tepat di samping kiri apartemennya, selain Lovino Vargas?

"Lovino?" Nesia tersenyum lebar menyapa pemuda tersebut.

Dan gadis itu terheran ketika alih-alih segera merespon sapaan Nesia dengan ucapan atau tindakan apapun, Nesia lihat Lovino malah terdiam.

Berdiri terdiam, dengan kedua mata yang sedikit membelalak menatapnya.

Dan Nesia sangat sadar ketika pemuda itu meneliti penampilannya, dari ujung rambut hingga ujung jemari kakinya yang berada di atas wedges putih miliknya.

Lama. Cukup lama pemuda itu memerhatikannya, hingga sampai pada tahap di mana hal itu membuat Nesia sedikit merasa tidak nyaman.

Menunduk, gadis itu memeluk erat mantelnya yang belum ia pakai, dan menatap lantai di bawahnya, "…Aku terlihat begitu aneh, ya?" gumamnya mencicit lirih, merasa ketidakpercayaandirinya langsung meningkat dengan sikap yang diberikan Lovino padanya.

Tidak mendengar respon Lovino meskipun pertanyaannya telah terlontar beberapa detik yang lalu, Nesia mendongak. Dan didapatinya pemuda itu mengerjap cepat menatapnya—seolah dengan dongakan Nesia, ia telah dibuyarkan dari apapun yang menjadi objek pikirannya.

Dan Lovino dengan cepat mengalihkan muka ke samping.

Sekalipun demikian, di bawah lampu lorong apartemen yang cukup terang, Nesia mampu melihat semburat rona merah tipis di wajah pemuda tersebut.

Menyadari hal itu, Nesia hanya menghela napas lelah. Sepertinya semua ini sia-sia. Lihatlah, bahkan Lovino sampai tidak mau melihatnya.

Apakah penampilannya kali ini begitu memalukan hingga membuat pemuda itu blushing menahan tawa begitu?

"Fratello, aku—Ah, Annesia!"

Pikiran galau Nesia terhenti begitu mendengar suara tersebut. Menoleh, ia melihat Feliciano keluar dari dalam apartemen Lovino, dengan sebuah ransel besar di punggungnya dan sebuah koper di tangan kanannya.

"Feliciano?" balas Nesia sembari meringis lebar, "Tumben sekali kau di sini?"

"Kau juga Nesia, ve~" Feliciano menatap Nesia dengan senyum tipis, "Kau tampak begitu cantik malam ini, ve~ Ada apa?"

Blush.

Mendengar pujian tersebut, Nesia menunduk dan mengangkat tangannya, hendak merapikan poninya. Tetapi kebiasaannya di saat kikuk itu harus terhenti ketika ia menyadari bahwa tidak ada poni yang menutupi dahinya, ketika poni itu sendiri kini tersematkan ke samping oleh jepitan melatinya.

Alhasil, gadis itu hanya tersenyum lebar dengan kedua pipi yang sejak awal tampak merona oleh sapuan tipis blush on, kini semakin merah.

"Ah.. terimakasih, Feliciano."

Feliciano menggeleng, "Untuk apa terimakasih? Aku hanya mengatakan kejujuran, ve~ Kau memang tampak luar biasa malam ini, Nes," lantas pemuda itu menoleh ke arah samping, kepada Kakaknya yang masih berdiam sepi, "Bukan begitu, Fratello ve—"

"Shut the fuck up, adik bodoh!" bentak Lovino tanpa menoleh. Dipelototinya secara tajam tembok yang menjadi objek tatapannya sekarang, "Kau ini perempuan atau apa? Lama sekali menunggumu berkemas!"

"Lovino!" Nesia melengkungkan bibirnya ke bawah, tanda tidak suka, "Feliciano hanya bertanya padamu, kau tidak harus berkata kasar begitu padanya."

Sejenak Lovino hanya terdiam tanpa membalas. Namun beberapa detik kemudian, pemuda itu mendengus, lantas berbalik dan mulai melangkah menjauh dari dua orang di belakangnya, "Cepat, adik bodoh! Aku tidak mau menunggumu lebih lama lagi, dammit!"

"Tetapi, Fratello!" teriak Feliciano, "Kau belum mengunci apartemen—"

"Demi Tuhan siapa orang yang ingin mencuri di apartemen jelek seperti ini?!"

-oOo-

Di sinilah mereka berada sekarang. Berdiri di samping jalan umum, tepat di depan gerbang Green Brooklyn—apartemen mereka.

Udara malam ini cukup dingin, membuat Nesia segera mengenakan mantelnya untuk menghangatkan dirinya. Lalu lalang kendaraan tampak di jalanan di depan mereka, dengan mondar-mandirnya kendaraan dan manusia yang keluar-masuk gerbang apartemen Green Brooklyn.

"Omong-omong… kau akan kemana? Tampil sebegini istimewa…," Feliciano tersenyum sembari menatap Nesia.

"A—anu…," Nesia menunduk, menyembunyikan wajahnya yang kembali menghangat demi membayangkan wajah seorang pemuda yang sebentar lagi, akan hadir di depannya—menjemputnya, "Antonio akan menjemputku—jalan-jalan ke festival di kota."

Sial.

Pake tergagap, lagi!

"Festival kota?" tanya Feliciano terheran, yang direspon oleh anggukan Nesia.

"Festival tahunan yang diselenggarakan oleh para imigran Jepang di kota ini, kau tahu?' jelas Nesia, "Yah, aku tahu itu juga dari Antonio, sih…"

"Bilang pada Bastardo itu bahwa aku tidak bisa ikut."

Cukup terkejut Nesia ketika Lovino membuka suara. Tetapi sayangnya, apa yang diucapkan Lovino justru membuat Nesia terkejut dan di saat yang sama, meratapi nasibnya sendiri.

Te—ternyata ini bukan kencan, ya? Nesia pikir Antonio hanya mengundang dirinya—Argh!

Entah kenapa, Nesia sangat bersyukur Tuhan memiliki caraNya sendiri untuk membuat Lovino 'menyingkir' dari 'misi' Nesia.

'Dasar culas' hardik Nesia pada dirinya sendiri, 'Tetapi… terkadang kita memang harus pisahkan antara urusan cinta dan persahabatan. Haha!' lanjutnya licik dan absurd.

"Memangnya kalian mau kemana?" tanya Nesia sembari mendekapkan kedua lengannya di dadanya, mencoba mengurangi rasa menggigil khas udara malam musim gugur.

Feliciano-lah yang merespon pertanyaan Nesia, karena Lovino sendiri hanya berdiri terdiam memandangi jalanan di depannya dengan pandangan datar, "Aku akan pindah ke rumah Kakek, ve~"

"Pindah?" Nesia mengernyit heran, "… Kau tidak akan tinggal di Green Brooklyn lagi?"

Menggeleng, Feliciano tersenyum lirih, "Tetapi sesekali aku akan mampir, ve~"

"Yah…," Nesia memasang ekspresi kecewa, "Kenapa begitu, Feli? Padahal aku belum banyak menghabiskan waktu bertetangga denganmu."

"Karena rumah Kakek jauh lebih baik daripada apartemen sumpek ini, tentu saja," kali ini, Lovino-lah yang angkat bicara, meskipun tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya.

Dan Nesia lihat kedua alis Feliciano melengkung ke bawah, sembari emerald-nya yang menatap sendu ke tanah di bawahnya, "Maafkan aku, Fratello. Tetapi Kakek—"

Lovino mendengus singkat, "Kau memang harus menurut, as expected of a golden boy."

Dan Feliciano terdiam, tanpa merespon dengan kata-kata. Hanya saja, pemuda itu meresponnya hanya dengan lengkungan alisnya yang semakin menurun dan pandangannya yang terlihat semakin sendu, ke arah tanah di bawah kakinya.

Nesia merasa sangat, amat, canggung, berdiri di antara dua saudara yang entah kenapa, sepertinya tengah memiliki permasalahan pribadi satu sama lain.

Awkwardly awkward.

Apalagi setelah itu, sepertinya dua bersaudara Vargas itu nyaman dalam kesunyian ini. Tidak ada yang memulai pembicaraan—bahkan mereka tidak mengalihkan tatapan dari objek semula. Suasana ini semakin mencekik tenggorokan Nesia saja yang entah bagaimana—seolah menjadi rusa yang berada di antara pertempuran dua gajah.

Sepi.

Canggung.

Hingga gadis itu tidak tahan lagi dengan keadaan demikian. Nesia sadar bahwa jika ada orang yang mampu memecahkan kesunyian dan kebekuan ini, maka orang itu adalah dirinya.

Terlepas dari apapun masalah yang sebenarnya dimiliki oleh Lovino dengan Feliciano, Nesia hanya merasa tidak nyaman berada di antara dua orang yang tengah berselisih demikian.

Berdeham, gadis itu menoleh ke arah Lovino sembari tersenyum lebar—seolah oblivious terhadap keadaan sekitarnya, "J—Jadi, sekarang kalian menunggu jemputan yang akan mengantar Feli ke rumah Kakek?"

Dan direspon oleh kebisuan Lovino yang bahkan tidak melirik kepadanya.

Ringisan Nesia berubah menjadi garing. Sepertinya sekarang Lovino tengah menjelma dalam modus Don't-fucking-mess-with-me.

Geez

Menoleh, gadis itu menatap ke Feliciano, "Benarkah, Feli?"

Syukurlah, Feliciano lebih lunak dan responsif daripada Kakaknya yang seolah dengan ajaibnya berubah menjadi batu demikian, "Ya, Nes. Fratello akan ikut untuk mengantarku, dan juga Kakek ingin berbicara satu-dua hal dengannya."

"Oh…," Nesia mengangguk, "Tetapi jangan lupa sesekali kau mampir ke sini, ya! Kau sih, apa-apaan. Jarang sekali ke Green Brooklyn, eh, tau-taunya udah pindah saja," Nesia tersenyum sembari memukul pelan lengan Feliciano.

Pemuda itu hanya tertawa, "Tentu saja, Nes. Fratello 'kan masih ada di sini."

"Ah, iya, benar juga—"

Bunyi dentinan memutus apa yang hendak diucapkan Nesia.

Mereka bertiga menoleh ke sumber suara.

Dan Nesia seolah lupa akan tekadnya untuk menjadi seorang lady malam ini, ketika gadis itu langsung membuka lebar mulutnya dan membelalakkan mata, ketika melihat sebuah Porsche berhenti di pinggir jalan—tepat di hadapan mereka bertiga.

M—mobil ini… milik keluarga Vargas?

Tentu saja, keheranan Nesia langsung terjawab begitu Feliciano menepuk pundaknya pelan dan tersenyum ke arahnya, "Kalau begitu, sampai jumpa. Pastikan kau malam ini bersenang-senang, ya," dan pemuda itu masuk ke pintu belakang mobil.

Nesia tak akan pernah habis berpikir, seberapa tinggi derajat dan status sosial keluarga Vargas? Jujur, Nesia sendiri merupakan keturunan dari kelas atas di negeri Indonesia. Tetapi.. jika dibandingkan dengan kelas atas di negeri ini, maka Nesia merasa seperti kelas rendahan saja (4)

Dan pada akhirnya, Nesia hanya mengucapkan 'hati-hati' pada Feliciano yang dibalas anggukan oleh pemuda itu. Dan ketika Nesia mengucapkan kata yang sama kepada Lovino, ia hanya mendapat bantingan keras pintu belakang mobil.

Geez, pemuda itu kenapa, sih?

Dan Nesia hanya mampu memandang kepergian mereka ketika mobil itu mulai melaju, dan bergabung dengan kendaraan lain yang turut menyumbang polutan terhadap udara sekitar.

Nah, sekarang tinggal dirinya.

Menunggu Antonio yang berjanji akan menjemputnya, dan membawanya untuk menikmati festival di kota.

Berdua.

-oOo-

Near~ Far~ Wherever you are~

I believe that the heart does go on~

Once more~ You open the door~

And you're here in my heart and,

My heart will go on and on~

Lagu milik Celine Dion yang booming abis di periode 1997-an itu seolah terkumandangkan begitu keras, dari hati Nesia. Ya, jika hati mampu bersuara dan terdengar oleh manusia, maka pasti seluruh penjuru kota akan mendengar pekikan senandung lagu romantis itu yang terdendangkan oleh segenap hati dan jiwa Nesia.

Habisnya.. perasaannya sekarang jauh lebih indah daripada perasaan yang dirasakan Rose DeWitt Butaker saat bersama dengan Jack Dawson.

Bedanya, dari setting berlatar Lautan Atlantik, maka sekarang hanyalah kota metropolis yang terhias sedemikian rupa oleh meriahnya festival. Dan daripada setting bertajuk tragedy, maka kini yang terasa hanyalah euforia.

Dan sumber dari perasaan euforia hingga hati Nesia bisa ber-Titanic ria seperti itu adalah pemuda yang kini berjalan di sampingnya, Antonio Carriedo.

Ya Tuhan~ Bermimpi apa Nesia hingga akhirnya, catat: akhirnya, ia bisa menghabiskan malam berdua saja dengan Antonio? Dan jalan-jalan berdua di festival begini? Hei, ini benar-benar seperti kencan, 'kan?

Belum lagi tadi saat pertama kali bertemu, pemuda itu sempat berucap bahwa, "You look like a dazzling beauty, Nes," sembari kedua emerald-nya yang menatap Nesia dengan berbinar.

Jika saat itu Nesia tidak menunduk tersipu dan melihat kedua kakinya berpijak di atas tanah, pasti gadis itu sudah menyangka bahwa dirinya tengah terbang tinggi hingga langit ke tujuh—hanya dengan pujian itu.

Rasanya tidak sia-sia, 'kan, dia make over penampilannya seperti ini? Bahkan ia rela menahan dinginnya hembusan angin karena ia melepaskan mantelnya, hanya demi tampil dengan gaun biru mudanya sekarang.

Yeah! Go ladylike, girl! Begitulah Nesia menguatkan dirinya sendiri.

Rasanya senang sekali jika kau tampil sempurna untuk orang yang kau sukai, dan orang itu menyukai apa yang kau lakukan untuknya.

Dan beginilah.

Beberapa saat mereka habiskan berjalan-jalan di tengah kerumunan festival. Seperti festival bernuansa Jepang pada umumnya, festival di sini juga dipenuhi stand-stand yang menjual berbagai jenis barang dagangan: makanan, aksesoris, baju, permainan, dan apa sajalah. Kerumunan massa yang berjejalan sekalipun udara dingin khas malam musim gugur, begitu terasa. Menurut Antonio, para imigran dan warga Jepang yang berada di kota ini cukup banyak, hingga mereka mampu membentuk semacam komunal atau kelompok pemukiman. Dan setiap tahun, akan diadakan annual festival perayaan akhir musim panas demikian.

Dan tentu saja, yang bisa hadir dan menikmati festival ini tidak terbatas hanya untuk orang berkewarganegaraan atau asal Jepang saja.

Nesia terus berjalan di dekat Antonio, karena dengan tubuhnya dengan tinggi rata-rata gadis Indonesia seperti itu, rasanya seperti tertelan oleh tubuh para orang asing yang tampak menjulang di sekitarnya. Ia sedikit berharap bahwa dalam keadaan yang demikian, Antonio akan memegang legannya agar ia tidak menjauh darinya—atau setidaknya menempatkan Nesia di sisi yang aman, agar tidak terdesak oleh para kerumunan.

Tetapi sepertinya pemuda itu terlalu larut dalam suasana sekitar.

Lihat saja, kepala dengan helai ikal coklat itu tiada henti menoleh kesana-kemari, menikmati setiap pemandangan yang tersajikan di depan mata.

Dan Nesia memakluminya.

Malam itu benar-benar dihabiskan oleh gadis itu dengan bersenang-senang. Mengobrol ini dan itu, mampir ke stand ini dan itu, dan sebagainya. Entah rasanya sejak kapan Nesia bisa tertawa selepas ini. Dan entah sejak kapan ia merasakan dirinya rileks dan tenang seperti ini.

"Bagaimana menurutmu kaos ini?" tanya Antonio semangat sembari membentangkan sebuah kaos putih di depan dadanya, ketika mereka mampir di sebuah distro pakaian. Di bagian depan kaos itu tertuliskan kalimat 'SHUT UP!' dengan warna huruf hitam (5)

Nesia hanya meringis lebar sembari mengacungkan kedua jempolnya.

.

.

"Kiku?" sapa Nesia terkejut bercampur takjub, ketika mendapati mantan partner kelompok MOS-nya, Kiku Honda, berada dalam salah stand yang menjual perlengkapan anime/manga cosplay, malam itu.

Pemuda yang dahulu cenderung pendiam, kini memakai setelan kimono berwarna merah marun dan putih, yang membalut tubuhnya yang tidak seberapa besar jika dibandingkan teman-teman pria Baratnya.

Dan pemuda berambut hitam kelam itu hanya sedikit membelalakkan matanya ketika melihat Antonio dan Nesia datang menghampirinya, "Ah… Nesia-san dan…," Kiku sedikit membungkuk, "Carriedo-san."

"Hei," sapa Antonio riang dengan melambaikan sebelah tangannya.

"Harusnya aku menyangka jika akan bertemu denganmu, Kiku," ujar Nesia, mengamati penampilan Kiku dari atas hingga bawah, "Dan, biar kutebak. Kau bukan pengunjung, tetapi salah satu penjaga stand?"

Senyuman kecil Kiku cukup membuat Nesia tahu jawaban akan pertanyaannya, "Aku hanya diundang beberapa teman sekomunitas untuk berpartisipasi di sini, Nesia-san. Dan…," senyuman Kiku semakin melebar ketika melihat Antonio, "Saya turut senang jika hubunganmu dengan Carriedo-san berjalan baik-baik dan langgeng seperti ini."

E—eh?

Kedua mata Nesia membelalak heran dengan mulut meng-eh tanpa suara.

Ah… iya. Kalau dipikir-pikir, Kiku pasti belum tahu tentang fakta 'tragedi' MOS waktu itu. Pasti pemuda keturunan Jepang itu masih berpikir bahwa ada hubungan asmara antara dirinya dan Antonio.

"A—Ah, bu—bukan begitu—"

Elakan gugup Nesia seketika terhenti oleh ucapan Antonio, "Tentu saja. Tidak ada alasan bagi kami untuk saling bertengkar, 'kan? Jadi kami baik-baik saja," jawab pemuda itu riang, membuat Nesia menunduk sembari tertawa lirih dengan kikuk.

Pasti pemuda itu mengira 'hubungan' yang dimaksud Kiku adalah hubungan pertemanan…

Nesia ingin sekali rasanya tepok jidat.

.

.

"Festival ini meriah sekali," ujar Antonio ketika mereka kembali berjalan-jalan, setelah mampir sebentar di stand pernak-pernik copslay milik Kiku barusan. Pemuda itu mendongak, menatap langit yang hitam kelam di atas sana, seolah memberikan ancaman akan datangnya hujan yang segera tiba.

Fokus menikmati cup kopi hangat di genggamannya, Nesia hanya mengangguk pelan, "Hm."

"Di saat-saat seperti ini, rasanya aku amat rindu pada Spanyol."

Nesia menoleh ketika didengarnya helaan napas dalam-dalam dari pemuda di sampingnya. Ditatapnya pemuda yang kini menatap ke arah langit dengan pandangan sayu—seperti mengulas akan sesuatu yang sangat dirindukannya.

Menoleh, Antonio menatap ke arah Nesia yang juga tengah menatapnya. Pemuda itu lantas tersenyum, sembari bertanya, "Apakah kau tahu? Di Spanyol juga terdapat sebuah festival—bahkan lebih meriah dari ini. Festival lempar tomat tahunan—di mana terdapat tomat berton-ton yang boleh kau lempar kemanapun di setiap penjuru kota. Sangat menyenangkan sekali!" (6)

Dan Nesia seolah kehilangan kemampuannya untuk bersuara.

Seperti saat kedua bola hitam kecoklatannya bertemu langsung dengan dua emerald itu dalam satu pandangan, seperti biasanya, gadis itu seolah kehilangan kemampuan, bahkan niat, untuk membuka suaranya.

Warna itu terlalu jernih—terlalu dalam, seolah memaksa Nesia untuk menghiraukan sekitarnya. Menghiraukan lingkungannya—tak peduli pada apapun selain betapa indahnya ciptaan Tuhan yang tengah ditatapnya.

Selalu seperti ini.

Hanya dengan tatapan itu saja cukup bagi Nesia untuk melupakan semuanya.

Dan senyuman lebar itu. Serta ekspresi ceria itu. Serta tatapan hangat itu.

"Kapan-kapan, aku berjanji akan membawamu ke sana," kata Antonio, "Ke Negeriku, tentu saja. Akan kupastikan kau tahu betapa hidup dan hangatnya The Country of Passion yang orang-orang bicarakan."

Nesia tidak yakin jika detak jantungnya mampu lebih menggila dari ini.

Ke negeri Antonio? Ia akan membawa Nesia ke negerinya?

Mengangguk dan tersipu, gadis itu tersenyum sembari berpura-pura meneguk sedikit cairan hangat dalam cup kopinya.

Sepertinya malam ini penuh dengan kejutan indah dari Tuhan yang sudah Ia siapkan untuk Nesia.

.

.

"Watch where ya goin', bitch!"

Nesia sedikit terjajar ke samping ketika hardikan keras itu menyapa telinganya dari seorang pemuda yang tanpa sengaja sedikit ditabraknya.

Dan puji Tuhan Antonio dengan sigap memegangi lengannya, sebelum gadis itu terjatuh.

Nesia menghela napas kesal sembari menatap pemuda anonim yang langsung pergi setelah mengacungkan jari tengah padanya. Benar-benar…

"Hati-hati, Nes," ujar Antonio, membuat Nesia tersadar seketika.

"Ah, ya, maaf, Antonio," ujar Nesia, sedikit kikuk juga ketika menyadari telapak tangan kanan Antonio yang masih melingkari lengan kirinya, "A—aku—"

"Jika kau mau, kau bisa pegangan padaku," tawar Antonio sembari membuka lengan kanannya—tipikal gestur seorang gentleman yang hendak meng-escort seorang wanita, "Bagaimana?" dan diakhiri dengan senyuman lebarnya.

Dan Nesia bersyukur Tuhan memberikan keterbatasan bagi pendengaran manusia. Jika tidak, ia yakin jika suara degup jantungnya akan terdengar jelas oleh dunia—sekalipun dalam keramaian yang begini terasa.

Tentu saja, Nesia melingkarkan lengan kirinya ke dalam lekukan lengan Antonio. Dan begitu lengannya telah tersemat, gadis itu memegangi erat lengan tersebut. Seolah di lengan itulah hidupnya bergantung pasrah. Seolah hanya lengan itulah yang menjadi sumber pelindungnya dari semua kejamnya kehidupan yang akan menyapa.

Erat.

Seolah dengan pegangannya, gadis itu berusaha menyampaikan apa yang rasanya belum sanggup terungkap oleh mulutnya.

Menunduk untuk merapikan rambutnya yang tergerai dan sedikit berantakan oleh angin, Nesia berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya.

Dan berusaha menyingkirkan imajinasi absurd telinganya yang mulai mendengar alunan Wedding March.

"… Nes, boleh aku bertanya sesuatu padamu?"

Nesia mendongak, akan tetapi Antonio memandang ke sisi di mana Nesia tak mampu melihat wajahnya, "Ya?"

Nesia yakin bahwa pemuda itu sedikit ragu untuk menjawab pertanyaan Nesia, terlihat dari menggantungnya percakapan mereka selama beberapa menit. Dan gadis itu juga yakin bahwa Antonio tengah merasa gugup, atau takut, atau antusias, atau perasaan apapun yang membuat lengan yang ia pegang terasa sedikit mengeras.

"… Aku hanya bertanya," respon Antonio tanpa menoleh ke arahnya, "J—jika ada seorang lelaki yang i—ingin memberimu hadiah, kau ingin dia memberimu apa?"

Nesia hanya meng-hah tanpa suara.

Kenapa tiba-tiba Antonio…

CLING! JLEB!

Neon imajinasi yang ada di kepala Nesia langsung menyala terang, bersamaan dengan cupid kecil yang lantas menembakkan satu panah cinta tepat di hatinya.

A—apakah… Antonio…

Tetapi benarkah? Pemuda itu terlihat gugup, salah tingkah, dan enggan menoleh ke arah Nesia ketika hendak menyampaikan pertanyaan sedemikian rupa.

Apakah itu berarti…

Mendapat pemikiran seperti itu, Nesia tak bisa menahan dirinya untuk berharap tinggi—dan berdoa semoga harapan ini tidak sekedar impian belaka. Betapa Antonio malam ini sangat sering membuat jantungnya menggila. Betapa pemuda itu berkali-kali membuat rona merah tampak jelas di wajah gadis tersebut. Dan betapa pemuda itu berkali-kali membuat perasaan Nesia melambung—jauh lebih melambung ketika ia berpikir tentang apapun, ketika ia bersama siapapun.

"Ketulusan."

Dan Nesia lantas mengutuk dirinya sendiri ketika jawaban absurd dan aneh itu terceplos begitu saja dari mulutnya yang kurang kerjaan. Ia terlalu disibukkan dengan perasaannya sendiri untuk mampu berpikir lurus, logis, dan tentu saja, lebih masuk akal daripada apa yang baru saja diucapkannya.

Uh.

Dan benar saja, Antonio langsung menoleh dan memberikan sebuah "Ha?" pada Nesia.

D—dasaaarrr….

"M—maksudku," jelas Nesia cepat, berusaha mengenyahkan perasaan tolol yang ia rasakan pada dirinya sendiri, "Kau bisa memberikan apapun terhadap siapapun. Sekedar hadiah berupa materi, itu bisa diberikan oleh siapapun—dan tidak akan terdapat kesan istimewa. Akan tetapi, hanya berapa orang di dunia ini yang sanggup memberikan sesuatu dengan ketulusan? Tanpa pamrih? Tanpa harapan bahwa si penerima akan memberinya sesuatu sebagai imbalan materi atau non-materi?" Nesia tersenyum, lantas ditatapnya kedua mata Antonio secara dalam, "Kau tahu, sebuah ketulusan akan membuat sebuah perunggu murahan jauh lebih berharga daripada emas mulia dua puluh empat karat."

Nesia meringis lebar.

Meskipun dalam hati dirinya tepok jidat menyadari betapa terdengar tolol dirinya barusan.

Apanya yang ketulusan, emas, perunggu, tralala trilili itu? Seolah-olah ia seorang filsuf cinta atau apa saja..

Akan tetapi ketololan itu ternyata—untungnya—disambut positif oleh Antonio, ketika pemuda itu tersenyum kecil dan berujar, "Begitu, ya."

Nesia mengangguk, "I—iya, seperti itulah…."

'Ya Tuhan, Antonio. Bahkan jika yang akan kau beri hanyalah sebutir debu, aku akan menjaganya dengan sepenuh hatiku,' batinnya nge-absurd.

-oOo-

Nyatanya, malam yang bermula sangat manis itu harus berakhir dengan kedongkolan yang dirasakan Nesia terhadap takdir. Iya, takdir yang dengan isengnya merusak suasana romantis itu dengan ending tolol semacam terpisahnya Nesia dengan Antonio di tengah kerumunan festival.

Iya, terpisah.

Ketakutan Nesia akhirnya terjadi juga. Ck! Tubuhnya yang tidak begitu besar, membuatnya mudah sekali terpisah dan terseret arus manusia. Dan sialnya, ia juga tidak dikaruniai tubuh setinggi para manusia di sekelilingnya, hingga tidak bisa melongokkan kepala untuk mencari Antonio di balik kerumunan para American dan Asian yang seolah bagaikan raksasa di sekelilingnya.

Uh.

Sial.

Apanya yang bermimpi pulang dengan Antonio-yang-mengantarnya-dan-memberinya-kecupan-di-dahi-sebagai-tanda-ucapan-selamat-malam bullshit itu.

Karena alih-alih pulang dengan Antonio, gadis itu kini harus berjalan kaki sendiri. Setelah ia rasanya lelah karena berusaha mencari Antonio kesana-kemari, gadis itu memutuskan untuk pulang saja ketika usahanya tersebut berujung pada kesia-siaan. Apa peluangnya mencari satu orang di antara sekian ribu orang demikian? Menelpon HP Antonio juga tiada hasil karena telepon itu hanya berdering dan berdering tanpa terjawab. Entah HP itu tertinggal di rumah Antonio atau ada seorang copet beruntung yang baru saja mencuri dan memilikinya.

Belum lagi dengan malam yang semakin malam dan semakin dingin, hingga Nesia terpaksa mengenakan kembali mantel coklat tebalnya.

Oleh sebab itu, di sinilah ia berada. Berjalan kaki dengan langkah gontai khas prajurit yang terdepak memalukan setelah kalah perang. Gadis itu memilih jalan pintas saja ketimbang melewati jalan normal. Kondisi tubuh Nesia yang cukup lelah, membuat gadis itu ingin segera sampai di apartemennya, berendam beberapa lama dengan air hangat, lantas tidur pulas di kasurnya yang empuk.

Dan jalan pintas inilah pilihan terbaik baginya untuk segera sampai di Green Brooklyn tanpa membutuhkan waktu lama.

Well, setidaknya malam ini ia cukup bersenang-senang, 'kan?

Gadis itu tersenyum dengan kedua mata yang terpejam, ketika kembali mengingat semua hal yang baru saja terjadi padanya. Dan tentu saja, Antonio berada di keseluruhan dari 'semua hal' yang diingatnya tersebut.

Ya Tuhan! Betapa pemuda itu membuat Nesia merasa gemas!

Cinta! Cinta! Cintaaaa!

Ingin rasanya Nesia fangirling gila-gilaan sendiri.

"Uhuk!"

Imajinasi absurd Nesia terhenti seketika buyar ketika telinganya mendengar suara demikian. Kedua matanya terbuka bersamaan dengan langkahnya yang terhenti seketika. Tubuhnya menegang—bersikap waspada.

O—oke. Jalan pintas ini memang sebuah alley sempit, gelap, kotor, sepi, yang diapit bagian belakang gedung-gedung pencakar langit. Jadi pantas, 'kan, jika tempat ini menjadi sarang dari para pelaku kriminal atau orang jahat?

Duh.

Nesia rasanya ingin menjitak dirinya sendiri yang melupakan fakta krusial tersebut.

"Uhuk!"

Gadis itu langsung saja membuat sikap kuda-kuda dari teknik karate yang telah dipelajarinya saat SMP di Indonesia dahulu. Bola matanya melirik kesana-kemari, berusaha menatap jelas di tengah kegelapan yang ada. Meski demikian, ia sadar bahwa dirinya adalah seorang perempuan yang bagaimanapun ia pandai dalam berkarate, ia tak akan mampu berubah menjadi Cat Woman ketika ada sekelompok lelaki yang berniat jahat kepadanya.

Intinya, film tetaplah film, dan dirinya sekarang tengah berada di dunia nyata.

"Uhuk! Uhuk!"

Dan pandangan Nesia yang terlempar kesana-kemari, akhirnya terhenti di satu arah, bersamaan dengan suara yang terdengar barusan.

Dalam keadaan minim cahaya, gadis itu mampu melihat sesuatu berada di depan sana. Ah, itu seseorang. Terduduk di tanah yang becek, bersandar di tembok gedung di belakangnya. Berambut pirang, dan…

"Uhuk! Uhuk! Bloody fuck!"

..dan terdengar sangat familiar…

Benar saja. Jarak antara Nesia dan 'orang itu' yang tidak seberapa jauh, membuat Nesia mampu melihat tebalnya hutan alis di dahi 'orang itu', bahkan di keadaan minim cahaya demikian.

Hanya satu yang Nesia desiskan bersamaan dengan kedua matanya yang menyipit terganggu, "Apaan banget yang dilakukan orang itu di sini?!"

Ya. Kalian bisa mengganti sebutan 'orang itu' dengan nama Arthur Kirkland.

Nah, Nes. Sepertinya malam ini benar-benar malam yang penuh kejutan dari Tuhan.

Tentu saja, tidak semua kejutan itu bersifat menyenangkan, 'kan?

bersambung

Skip aja A/N-nya bagi yang lebih banyak kerjaan daripada saya D':

(1) Ini nama alat yang kayak layar gede yang berada di tengah-tengah lapangan kalau ada konser akbar. Biasanya sih dipake buat penonton yang jauh dari area panggung. Namanya apa, yak? Saya pake 'big screens' saja :/

(2) Ini hanya SMA karangan saya saja. Dulu sih, pernah disebut Arthur saat pertemuan pertama kelompok. Jeferson High jadi pemenang kompetisi tahun lalu-kalau ga salah sih #plak #maaf,sayasendirijugalupa. Saya memakai nama karangan, karena sekali lagi, saya tidak mau menimbulkan kesan subjektivitas jika pake nama-nama SMA beneran di AS. Lagian juga Hetalia High juga fiksi, 'kan? :D

(3) Ini ada di chapter saat Wawasan Wiyata Mandala. Saat Lovino melempar apel merah ke Nesia yang kelaparan #plak. Semoga masih ada yang ingat :D

(4) Seriously, di sini, Nesia memang kategori cewek borju di Negerinya. Dia sekolah di Hetalia High juga ga pake beasiswa, 'kan? Tetapi kalau dibandingkan dengan murid-murid Hetalia High, mungkin dia bisa aja merasa inferior :/

(5) Ini, tentu saja, saya adaptasi dari manga Hetalia yang berjudul "I don't Like this Café" part: Spain itu :D Ngakak, men, waktu baca itu

(6) Seingat saya, ada, 'kan, festival di Spanyol yang lempar tomat kemana-mana? Bahkan di gedung-gedung atau rumah. Tomat berton-ton dibuang gitu aja… Mending diekspor ke Indonesia dan dibuat saus yang lebih "sehat" :D


Next Chapter

"Apa yang akan kaulakukan?"

"Membuat dosa baru karena tidak membiarkan keburukan sepertimu lenyap dari dunia ini."

.

"Kau pikir aku tertarik dengan tubuh unmanly-mu ini?! Jangan bicara seolah-olah aku adalah gadis mesum yang mengambil kesempatan dari orang sepertimu!"

.

"Panggil aku Bella saja, oke? Benar kata Broer, kau ternyata sangat manis dan cantik."

"Hhh… Aku hanya tidak menyangka jika kau adalah adik W—Willem."

.

"W—Willem! Di mana-mana ketika si cewek memejamkan mata, harusnya si cowok tahu bahwa cewek itu meminta—"

"Apa?"

"I—itu—ck! Harusnya 'kan, kau menciumku!"


Tidak tahu mengapa, saya suka pas nulis tentang Romano. Dia masih agak misterius ya, di sini? Oleh sebab itu, saya pengen ceritain perkara dia ama keluarganya. Mungkin sedikit-banyak kayak Romano dan Feliciano di anime/manga Hetalia—you know, all about that "my lil' brother is way better than me" stuff. Dan saya kasih imej "pembangkang keluarga" bagi Romano di sini :D Tapi tenang saja, semua akan menjadi jelas, pada waktunya :*

Dan maaf atas "umbrella's tragedy" (halah!) di chapter kemarin. Itu murni kesalahan dan kekecean saya (?). Saya baru tahu, warna kuning dan hitam itu ternyata beda :D #sarap. Maaf, dan terimakasih. Siap diperbaiki T.T Oh ya, saya kasih tahu saja, ya, daripada kalian mikiiiirrr, galau, ga makan, ga tidur, murung, dan niat bunuh diri gegara penasaran ending fic ini #oigalebaygitujugakali. Fic ini endingnya masih lama :) Tapi mudah-mudahan, saya tidak hiatus :D Abisnya, udah mulai lirik-lirik UKSp sih #jahkeceplos

Oh ya lupa. Banyak yang nanyain alasan Flo Neack manggil Nesia dengan sebutan "Indonesia". Apa yang ga dimengerti, sih? ._. Kan udah dijelasin kalau Nesia akrab ama karyawan disitu—doi sering belanja ke situ. Nesia aja juga tahu kalau Flo dari Irlandia, 'kan?

Hayo… pada ga baca deskrip, eaaaa? #toeltoeldagupakepecok

Dan sori, saya yang kece (?) ini nge-rambling lagi di A/N. Habisnya banyak yang perlu diomongin :/ Muuph!


Pojok review. Monggo~

Daku ngebayangin tinggi nesia menyusut setelah pundaknya dicengkram(?) arthur xD / Wekawekaweka alias "Wkwkwk" :D / kapan ada ratem-nya? / Adegan rate-M? Lha, yang Nesia kissing lime-an ama juragan tomat waktu 2 chapter maren, itu apa? :D Rate-M ga harus lemonan 'kan? :p Etapi tenang aja. Tunggu aja. Sabar, kalau mau tau yang enak-enak :D #ngeresbangetreplyini / 1. Terletakkan. Akan lebih baik bila diganti tergeletak. 2. Orang yang kau sendiri bawa. Kata2nya aneh. Mungkin 'orang yang kau bawa sendiri'? :D. 3. Jika terlelap begitu. Kurasa kata 'begitu' itu pemborosan ._.v / Ah, oke, terimakasih ._.v saya bahkan ga merhatiin hal itu. Salut buat kejelian dan kesensitifan kamu :D / LOVINO MAU PINDAH?! OH GOD WHYYYYY / #ngumpetdibaliktamengpanci Sabar buk. Kasihan capslock-nya. Yang mau pindah itu Feli, kok, jeng. Jadi, jangan lempar biawak ke saya ya D: #angkattangan/ Kapan UK dan Nesia akur? / Nunggu saya baik hati ama mereka :D #plak Suka ngetik adegan bickering antara dua tsundere itu sih :/ / Dikasih tahu ya, siapa pengirim surat cinta misterius itu / Saya kasih clue ya? Biasanya, doi pake nama alias. 5 huruf. Huruf terakhir M, huruf kedua T, huruf keempat R, huruf pertama S, dan huruf ketiga O. Coba rangkai dan dialah si pengirim misterius :D #kedip2najong / Antonio! kamu buat saya selalu keren dan lebih gentleman dari si alis! / #lempartomatkeAntoniooutofjealousy / Chap selanjutnya pasti kagak ada Arthur QAQ munculin Arthur lagi donk :"V / Tuh, si alis udah nongol di bagian ujung kayak kentut (?).


Terimakasih atas kesediaan Anda dalam meluangkan waktu demi membaca sepenggal kisah lanjutan fiksi Absurdities ini. Mohon maaf apabila ada kesalahan kata. Dimohon kesediaan Anda untuk menyempatkan diri untuk memberikan pemikiran mengenai chapter kali ini.

Terimakasih.

#jahciyusmiapahenelangueforma lbeudhz!

7:D #ganyangkabisaberformalria


Salam n04L4y N0 uPD473,

DIS charming (?)