DIS: 'Sup, guys? Membaca ulang chapter lalu, saya mencoba memposisikan diri saya sebagai seorang reader. Dan saya baru sadar, the previous one was ridiculously long like crap! Saya bahkan langsung menyerah bahkan ketika baru nyampe separuh halaman. Yeah, guys. Sorry. I would never do that again no matter how much I love writing long chapters so that I can get over with this story quickly :D


Dalam keadaan minim cahaya, gadis itu mampu melihat sesuatu berada di depan sana. Ah, itu seseorang. Terduduk di tanah yang becek, bersandar di tembok gedung di belakangnya. Berambut pirang, dan…

"Uhuk! Uhuk! Bloody fuck!"

..dan terdengar sangat familiar…

Benar saja. Jarak antara Nesia dan 'orang itu' yang tidak seberapa jauh, membuat Nesia mampu melihat tebalnya hutan alis di dahi 'orang itu', bahkan di keadaan minim cahaya demikian.

Hanya satu yang Nesia desiskan bersamaan dengan kedua matanya yang menyipit terganggu, "Apaan banget yang dilakukan orang itu di sini?!"

Ya. Kalian bisa mengganti deskripsi 'orang itu' dengan nama Arthur Kirkland.

Nah, Nes. Sepertinya malam ini benar-benar malam yang penuh kejutan dari Tuhan.

Tentu saja, tidak semua kejutan itu bersifat menyenangkan, 'kan?


Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.

Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.

Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedarhintsdanfans service :p

Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D

Long Live FHI andSay NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D

Maju FHI!

Happy reading


Otak Nesia rasanya langsung nge-blank begitu menyadari siapa orang yang ber-uhuk-uhuk ria, yang sedari tadi didengarnya. Siapa ternyata yang dikira preman, yang dikiranya tengah berada di sisi gelap yang tidak diketahui olehnya, dan suatu waktu siap melompat ke hadapannya, dan berbuat jahat padanya.

Sungguh.

Saat melihat siapa yang sekarang dilihatnya, sungguh, Nesia jauh lebih bersyukur jika yang ditemuinya adalah preman. Karena setidaknya preman asing tersebut tidak pernah melakukan penindasan verbal padanya, yang jauh lebih menyakitkan ketimbang sekedar dirampok atau ditampar.

Dan hanya satu pertanyaan yang terulang-ulang bagaikan kaset rusak di pikirannya, 'Apaan banget yang dilakuin tuh orang di sini?!'

Demi apa… Nesia tak habis pikir. Dari semua tempat yang asyik buat nongkrong dan gaul, otak Kirkland udah sinting hingga memilih alley sepi, sumpek, kotor, dan sempit ini sebagai satu-satunya tempat yang pas banget untuk menghabiskan malam minggunya?

Nesia kira bangsawan Inggris seperti dirinya akan lebih suka menghabiskan waktu di tempat yang jauh lebih elit dan terpandang daripada tempat ini. Dan apapula posisi terduduk di tanah becek khas banget orang nge-gembel seperti itu…

Dan yang paling utama adalah: APAAN BANGET UDAH DUA KALI NESIA KETEMU DENGAN ORANG SIALAN ITU SELAIN DI SEKOLAH!

Dari semua tempat yang mungkin dan bisa dikunjungi, kenapa pemuda itu sepertinya sering banget keluyuran di sekitar daerah Green Brooklyn ini? Sungguh, itu menyakitkan mata Nesia ketika harus ketemu dia seperti ini!

Mengingat hal ini, Nesia jadi teringat kembali pada saat itu. Kejadian yang sama. Persis sama—hanyalah latar tempat saja yang berbeda.

Ketika Nesia menjadi satu-satunya orang yang ditakdirkan ada di saat Arthur terjatuh akibat alkohol yang menumpuk di tubuhnya. Ketika Nesia sudi untuk menyeret pemuda sialan itu untuk beristirahat di apartemennya—hingga turut membasahkan dirinya di bawah hujan.

Dan ketika keesokan harinya gadis itu malah mendapat kalimat ancaman dan sakit di kedua bahunya sebagai ganti dari ucapan terimakasih!

"Uhuk! Uhuk!"

Dari sini, Nesia bisa melihat Arthur yang terbungkuk dan terbatuk hebat, sembari menutup mulutnya dengan sebelah tangan.

Alih-alih mendekat, Nesia makin menyipit tajam ke arah pemuda itu yang sepertinya, belum menyadari keberadaan Nesia yang tidak jauh dari dirinya.

Apapun yang dilakukan pemuda itu, Nesia tidak akan sudi bahkan memberi a goddamn fuck kepada orang yang tidak tahu terimakasih seperti itu. Mau dia batuk kek, sekarat kek, mati kek. Peduli apa?!

Lagipula, kenapa harus Nesia? Dari semua juta orang Amerika Serikat yang bisa dan mungkin lewat di alley ini, kenapa Nesia harus menjadi satu-satunya orang yang berada di sana?!

Dan DEMI TUHAN! Kenapa Nesia harus menjadi satu-satunya orang yang senantiasa berada di dekat pemuda itu ketika pemuda sialan itu tengah berada dalam kondisi menyedihkannya?

"Tidak seperti aku peduli," desis gadis itu, dengan cepat berbalik dan melangkah pergi dari sana.

"Uhuk!"

Nesia mengepalkan kedua tangannya sembari kedua matanya menatap tajam pada jalan di depannya. Biarlah ia tidak lewat di jalan pintas ini—biar saja ia lewat di jalan yang biasa. Meskipun akan lebih lama sampai di apartemen, tetapi itu lebih baik daripada melalui jalan pintas dengan 'pemandangan' yang mengganggu mata seperti itu.

"Uhuk! Uhuk!"

"Aku tidak peduli," desis gadis itu sembari tetap melangkah.

"Uhuk! Uhuk! Uh…."

Setiap Nesia mengambil langkah lebih jauh, maka suara batuk itu seolah terdengar makin keras, dan Nesia tahu, terdengar amat menyakitkan.

Tetapi tetap saja:

SIAPA YANG PEDULI!

"Uhuk! Uhuk! Uhuk! My Lord…."

.

.

Errr…. Sepertinya ada yang benar-benar tengah sangat kesakitan dan membutuhkan pertolongan, Nes?

.

.

YA TUHAAAAANNNNN HUKUM DAN LAKNAT AKUUUUU!

Ingin Nesia berteriak demikian ketika pada akhirnya, ia berhenti melangkah. Iya, benar. Kalian tidak salah membaca. Bahkan Nesia sendiri tidak percaya pada dirinya sendiri yang tidak membuat langkah lebih jauh.

Sialansialansialansialansial an!

'Terkutuk kau, hati lembek, lemah, dan sasaran empuk penindasan!' maki Nesia pada dirinya sendiri.

Ia merasa ingin menangis.

Sungguh.

Kenapa ia harus peduli? Kenapa ia tidak langsung saja berlari menjauh dari tempat ini? Kenapa pada akhirnya ia justru berhenti?

"Uhuk! Uhuk!"

Kenapa Tuhan, kenapa Nesia harus menjadi satu-satunya orang yang sekarang mampu menolong orang yang dahulu pernah ia tolong, dan pada akhirnya tidak memberi Nesia bahkan a goddamn thank you!

Dammmeeeeeetttttt!

Dengan kesal, gadis itu berbalik. Matanya menatap tajam, kedua tangannya mengepal, dan ia mengatupkan rahangnya dengan kuat bersama dengan napasnya yang memburu. Langkahnya terlihat begitu cepat dan sedikit menghentak-hentak—secara total mengacuhkan niat dan tekad lady like yang beberapa saat yang lalu sukses ia praktekkan.

Persetan dengan lady like jika yang dia hadapi sekarang bahkan lebih kasar daripada preman Pasar Senen!

"Aku bersumpah, sehabis ini aku akan pergi ke gereja dan membuat pengakuan dosa!" desis dan umpatnya pada dirinya sendiri.

Langkah terakhir yang membawanya sampai tepat di depan Arthur, dilakukan Nesia dengan menghentakkan kakinya dengan keras—hingga timbul cipratan lumpur yang mengotori tak hanya wedges putihnya, tetapi juga beberapa bagian dari tungkai kakinya.

Sedangkan Arthur cukup terkejut ketika ia melihat bahwa tiba-tiba terdapat sepasang kaki yang berdiri tepat di depannya—kaki wanita tentu saja, dengan wedges putih dan tungkai kaki ramping yang kini telah terkotori oleh beberapa titik lumpur yang terciprat di sana.

Mendongak, pemuda itu sedikit mengernyit ketika memandang bahwa terdapat dua buah mata yang melotot sangar ke arahnya, sebentuk bibir yang melengkuh ke bawah, dan dua buah tangan yang berkacakpinggang.

Melihat Nesia yang sepertinya siap mengkanibal dirinya tersebut, Arthur hanya mendecih dan kembali mengalihkan pandangan ke arah samping kepalanya.

Dan tentu saja, sikapnya bagaikan bensin yang disiramkan tepat di hati Nesia yang dari awal sudah terbakar hebat.

Nesia menatap tak percaya ke arah pemuda yang terduduk di tanah di depannya.

Ya Tuhan…

"…Bahkan dalam keadaanmu yang demikian, kau masih bisa bersikap sebegini menyebalkan…," gumam Nesia.

Dari jarak sedekat ini, gadis itu mampu melihat Arthur dengan lebih jelas. Rasa herannya akan mengapa pemuda itu berada di tempat seperti ini, semakin besar ketika melihat kondisi Arthur saat itu.

Pemuda itu terlihat cukup payah. Beberapa biru lebam dan luka terdapat di wajahnya. Bahkan salah satu sudut bibir dan hidungnya masih mengeluarkan darah. Dengan kemeja yang acak-acakan tersebut, Nesia yakin bahwa setidaknya, pemuda tersebut baru saja berkelahi atau apa. Dan tentu saja, dari desisan sakit yang disuarakannya, Nesia percaya bahwa pemuda itu kini benar-benar tengah merasa sangat kesakitan.

Dan sialnya, Nesia tidak mampu berpikir kenapa ia memedulikan semua itu. Toh jika seandainya Arthur menemui Nesia yang tengah sekarat habis tertabrak mobil pun, Nesia jamin bahkan pemuda itu tidak akan memberikan suatu pemikiran.

Malah pemuda itu pasti akan bilang, 'Salah sendiri jalan tidak pakai mata. Dasar bodoh.'

Berpikir demikian, Nesia tanpa sadar sedikit membentak ketika berujar, "Ngapain kau bisa ada di sini?!"

"Sedang bermain polo," itulah jawaban sarkastis dari Arthur tanpa menoleh ke arah Nesia, yang justru membuat juniornya tersebut rasanya ingin mencakar saja wajah di depannya itu.

"Dengar, ya," Nesia menuding kepala Arthur, "Jangan kira aku tidak berpikir bahwa diriku sendiri kini gila karena sekarang aku rela melangkah dan berhenti di depanmu! Demi Tuhan, aku sangat ingin pergi dari sini dan membiarkan apapun terjadi padamu!"

"Lantas kenapa kau tidak hengkang saja?" balas Arthur kesal sembari mendongak ke arah Nesia, "Kau berisik dan untuk sekarang aku tidak sudi mendengar ocehanmu itu!"

O-o-orang ini—

Puji Tuhan yang mampu menciptakan setan berwujud manusia seperti ini.

"Aku hanya tidak mau dipenjara ketika keesokan harinya kau mati membusuk di sini dan aku menjadi satu-satunya orang yang disalahkan karena pergi tanpa menyelamatkan nyawa sialanmu itu," umpat Nesia kesal.

Iya, kenapa sekarang Nesia harus menyelamatkan nyawa dari orang yang ironisnya, menggunakan nyawa itu untuk membuat hidup Nesia seperti di neraka?!

Dafuuuuuuuuuuuuuqqqqqqq!

Arthur tidak menjawab—mungkin ia terlalu lelah dan terlalu fokus pada rasa sakitnya untuk memiliki tenaga beradu argumen dengan Nesia. Pemuda itu hanya menunduk, meringis sakit sembari memegangi dada dan bagian perutnya.

Dengan kesal, Nesia berjongkok di depan Arthur, tepat di depan Arthur, hingga pemuda itu terkaget dan refleks sedikit menyeret mundur tubuhnya untuk mengurangi jarak di antara mereka.

"Kutanya sekali lagi, kau kenapa?" tanya Nesia ketus, sembari mengeluarkan botol dari dalam tasnya. Botol air mineral dingin yang beberapa saat lalu baru dibelinya di toko dekat sini.

Membuang muka ke samping, Arthur mendecih, "Bukan urusanmu."

"Sekarang jadi urusanku ketika nyawa menyedihkanmu berada di tanganku," umpat Nesia dongkol setengah mati, sembari mengeluarkan sapu tangan dari dalam tasnya.

Bunyi gemericik air pun terdengar ketika gadis itu membasahi sapu tangan berwarna hijau muda itu, dengan air dingin dari dalam botolnya.

"Apa yang akan kau lakukan?" alih-alih menjawab pertanyaan Nesia, Arthur malah memberi pertanyaan baru kepada gadis itu.

Nesia menoleh dan memberi tatapan heran kepada Arthur, "Membuat dosa baru karena tidak membiarkan keburukan sepertimu lenyap dari dunia ini."

"Apa—Ow! Shit!" Arthur memekik terkejut ketika dirasakannya hawa dingin menyesap di pelipisnya. Pemuda itu memejamkan mata erat dan meringis sakit.

Dan tidak begitu terkejut ketika ia membuka mata, ia melihat tangan kanan Nesia telah sibuk dengan wajahnya.

Dan kembali hening.

Nesia terus melakukan hal yang menurutnya non-sense untuk mampu dan mungkin ia lakukan. Ia mengompres luka dan lebam Arthur dengan sapu tangan miliknya. Lebam di pelipis, rahang, ujung bibir, dan hidung pemuda itu. Terkadang bunyi gemericik air terdengar ketika gadis itu membasahi ulang sapu tangannya.

Tanpa menyadari Arthur yang tiba-tiba terdiam dan seolah menurut padanya.

Tanpa menyadari jarak antara dirinya yang berada cukup dekat—sangat dekat dengan pemuda itu, hingga Arthur mampu mencium parfum beraroma lembut yang dipakai gadis di depannya.

Tanpa menyadari kedua wajah mereka yang begitu dekat (karena keadaan temaram ini membuat Nesia tidak mampu melihat dengan jelas luka Arthur tanpa mendekatkan pengelihatannya), hingga napas mereka menerpa wajah satu sama lain.

Dan tanpa menyadari dua buah emerald yang beberapa saat, telah diam-diam memerhatikan dirinya.

"… Aku dikeroyok beberapa berandal."

Nesia tidak berhenti dari kegiatannya bahkan ketiga Arthur menjadi pihak yang memecah kesunyian di antara mereka. Gadis itu memfokuskan pandangannya pada setiap lebam di wajah Arthur, "Tidak heran. Belajarlah tata cara bicara sopan pada orang lain. Mulutmu itu pasti lagi-lagi telah membuat orang lain kesal," gumam gadis itu datar dan acuh.

"Bukan salahku!" bantah Arthur cepat dan tidak terima, "Aku dipalak dan—hei! Apa yang kau lakukan?!"

Refleks dan karena insting, Arthur menepis kasar tangan Nesia yang berusaha membuka kancing kemejanya. Pemuda itu menatap tajam ke arah Nesia yang balas menatapnya dengan sengit.

"Jangan berlebihan," maki Nesia keras, "Kau pikir aku tertarik dengan tubuh unmanly-mu ini?!"

Yeah, that was a low blow for any men, right?!

Nesia memang sengaja, kok.

"Apa kau—intinya bukan itu!" teriak Arthur keras, "Siapa yang tidak akan terkejut jika mendapati pakaiannya tiba-tiba dibuka paksa seperti itu!"

"Aku hanya berniat menolongmu, dasar orang sok laku!" keki Nesia yang sepertinya sudah tidak mampu menahan rasa dongkolnya, "Berkali-kali kulihat kau memegangi daerah dada dan perutmu! Jadi kupikir pasti ada luka di sana dan tolong, jangan bicara seolah-olah aku adalah gadis mesum yang mengambil kesempatan dari orang sepertimu!"

Arthur terdiam, begitu pula dengan Nesia. Keduanya memandang tajam satu sama lain, dan sepertinya tidak ada yang sudi mengalah. Hembusan napas karena sakit (Arthur) dan karena lelah (Nesia) terhela keras-keras dari mulut mereka, bagaikan banteng yang siap menyeruduk apapun yang memakai warna merah.

Namun itu hanya sesaat, sebelum Arthur membuang muka ke samping sembari mendecih.

Dan itu cukup bagi Nesia untuk melanjutkan kegiatannya.

Jemari lentik itu membuka satu persatu kancing kemeja abu-abu yang dikenakan pemuda di depannya ini. Tapi jangan kalian pikir wajah Nesia akan blushing parah atau apa—karena gadis itu masih terlalu dongkol dan sebal untuk mampu berpikir macam-macam terhadap apa yang tengah dilakukannya. Hanya saja mungkin kalian bisa mengalihkan terkaan kalian pada Arthur, karena pada saat ini, sepertinya kalian bisa melihat jelas rona merah padam di wajah putih itu, bahkan dalam keadaan yang minim cahaya demikian.

Setelah kemeja itu terbuka sepenuhnya, gadis itu segera membasahi ulang sapu tangannya. Benar saja dugaannya, terdapat luka lebam yang cukup banyak, baik di daerah dada ataupun perut lelaki tersebut. Jika benar Arthur telah berkelahi dan dikeroyok berandalan, Nesia tidak terlalu heran jika seperti inilah hasil akhir dari perkelahian tersebut.

Nesia bisa membayangkan badan seukuran Arthur yang dihajar habis-habisan oleh kepalan tangan dan tendangan dari beberapa berandal yang bertubuh jauh lebih besar dari pemuda itu.

Ssshhh…

Harusnya Nesia berterimakasih pada para berandal tersebut, 'kan?

"Ini usahaku yang terakhir kalinya untuk memperbaiki hubungan kita," ujar Nesia lirih, tanpa mendongak ke arah Arthur, "Demi kebaikan Senior Alfred dan kompetisi yang kita lakukan."

"Jangan bicara seolah-olah sumber dari semua masalah ini adalah diriku," balas Arthur yang juga enggan menoleh ke arah Nesia yang berada di depannya, "Kau ini—Ow!" pemuda itu kembali memekik sakit ketika dirasakannya Nesia menekan cukup kuat luka di daerah perutnya.

"Jadi, menurutmu sumber dari semua masalah ini adalah diriku? Begitu?" maki Nesia sembari dengan sengaja, menekan-nekan luka Arthur dengan lebih kuat, dengan sapu tangannya

"Ow! Ow! Ow! Fuck! Bloody fuck!" dan membuat pemuda itu makin memekik kesakitan dan refleks, menepis kasar tangan Nesia dari tubuhnya. Ditatapnya Nesia dengan pandangan tajam dan berang, "Kau berniat membunuhku?! Dasar gadis sialan!"

Nesia menggigit bibirnya dengan pandangan menyipit ke arah Arthur. Lantas gadis itu dengan cepat berdiri dari posisi jongkoknya, lantas memaki keras, "Kau yang sialan! Dasar orang sial! Aku tidak tahu kenapa aku harus repot-repot melakukan semua ini! Kau begitu menyebalkan dan aku membencimu! Kau dengar aku?! Aku membencimu!"

BATS!

Dengan kasar Nesia melempar sapu tangan yang habis dipakainya, tepat ke muka Arthur.

Dan tanpa berkata apa-apa lagi, gadis itu berbalik dan melangkah pergi.

Kali ini, benar-benar pergi. Tanpa keraguan dan tanpa niat untuk kembali.

Dan tanpa memedulikan dua emerald yang memandanginya dengan tatapan tidak mengerti.

-oOo-

'Sial! Sial! Sial! Sial! Terkutuk kau Arthur 'Alis' Kirkland! Sialan!'

Demikianlah, sejauh ini, yang terteriakkan dari hati Nesia hanyalah kata 'sial', 'sial', dan 'sial'. Tak henti-hentinya gadis itu merutuki Arthur Kirkland dan dirinya sendiri. Iya, dirinya sendiri—sebegitu kurang kerjaan dan cari matikah dirinya hingga sudi repot-repot untuk mencoba berbaik hati pada pemuda itu? Karena ayolah, setan tetap setan, dan tak akan berubah menjadi malaikat hanya dengan kebaikan!

Uh.

Langkah Nesia semakin cepat dan sedikit menghentak-hentak, ketika ia teringat kembali apa yang diucapkan Kirkland baru tadi.

Berani-beraninya dia mengatakan tepat di depan muka Nesia bahwa Nesia sumber dari permasalahan yang didapatkannya. Dan catat bahwa pemuda sialan itu mengatakan hal demikian ketika Nesia berada di depannya, merendahkan harga dirinya, dan sudi untuk kedua kalinya menololkan diri to save his sorry ass!

Dammmeeettt!

"Annesia!"

Napas Nesia makin memburu bersama dengan kedua matanya yang semakin menyipit tajam memandang ke arah depan.

Ia bersumpah, sehabis ini, sekalipun di depan matanya Kirkland benar-benar sekarat dan hanya memiliki sisa satu tarikan napas untuk hidup, Nesia tidak akan sudi untuk menolongnya!

Nesia bersumpah!

"Annesia, tunggu!"

Apaan banget sikapnya itu… sok berkuasa dan sok tahu segalanya. Eksistensi Kirkland merupakan hal yang lebih disesali Nesia daripada permasalahan global warming sekalipun! Karena setidaknya pemanasan global akan membunuhnya dalam jangka waktu sepuluh-dua puluh tahun ke depan daripada beberapa bulan ke depan!

"Nesia!"

Makian dan umpatan gadis itu terhenti ketika ia merasakan sebelah lengannya tertahan sesuatu dari belakang. Gadis itu menoleh terkejut, dan lebih terkejut lagi ketika ia mendapati seorang perempuan yang kini berdiri terengah-engah di belakangnya, memegang sebelah lengannya.

Perempuan berambut pirang sebahu. Bermata emerald. Sebuah bandana merah melingkari kepalanya.

"… Senior… V-Van Ha-Hardt?" rasanya tercekik tenggorokan Nesia ketika mengucapkan nama itu.

"Oh… jadi bangunan di foto ini tempat kau bersekolah?"

"Hm. Namanya Hetalia High."

"Wah, jika begitu nanti saat aku sudah lulus SMP, aku akan bersekolah di sana saja!"

"… Benarkah? Tetapi ini jauh, lho."

"Tak apa. 'Kan ada Willem yang akan menjagaku di sana. Ya,' kan? Hehe."

"… Dasar…"

Plak.

Tanpa sadar Nesia menampar dirinya sendiri ketika memori itu singgah di otaknya—secara kontan membuyarkan pikiran dongkol Nesia terhadap Arthur Kirkland. Membuat Senior Van Hardt yang menatapnya, memberi pandangan heran pada gadis di depannya tersebut.

"Kau tak apa, Nesia?"

Ucapan Senior Van Hardt—atau kalian bisa menyebut Senior Bella, Bella Van Hardt—kontan menyadarkan Nesia dari apapun yang tengah digalaukan gadis itu.

Tersadar, Nesia hanya tersenyum kecil dan menatap senior yang memakai celana jeans dan sweeter merah di depannya tersebut.

Nesia tahu, dan Nesia ingat bahwa senior perempuan inilah yang menjadi ketua kelompok Antonio Carriedo saat MOS dahulu. Akan tetapi, selepas MOS, Nesia praktis tidak pernah bertemu dengan Senior Bella karena selain beda klub, juga karena letak kompleks gedung B yang cukup jauh dengan kompleks gedung A—ya, Senior Bella merupakan siswi tingkat akhir Hetalia High.

Dan kini, tahu-tahu perempuan itu sudah meneriaki namanya dan memegang lengannya.

Bukan karena itu juga sih perasaan tidak nyaman yang dirasakan Nesia.

'Tidak. Tidak mungkin, 'kan?' batin Nesia meyakinkan diri sendiri, 'Kau pikir ada berapa orang di dunia ini yang memiliki nama Van Hardt?'

Iya. Pasti.

Pasti, Senior Bella tentu tidak ada hubungannya sama sekali dengan 'Van Hardt' lain yang berada di masa lalunya, 'kan?

"Ih. Kenapa matamu memejam begitu? Hahaha."

"!"

"Kau lucu sekali, Nes."

"W-Willem! Di mana-mana ketika si cewek memejamkan mata, harusnya si cowok tahu bahwa cewek itu meminta—"

"Apa?"

"…."

"Kau meminta apa?"

"I-itu—ck! Harusnya 'kan, kau menciumku!"

"?"

"…."

"Pfft!"

"Dasar sialan kau, Willem!"

"Hahaha. Maaf-maaf. Habisnya kau lucu sekali."

"Huft! Aku serius, dasar ga romantis!"

"Nes… Tuhan, Nes.. Maaf. Maaf. Tetapi serius, belum saatnya kau memikirkan hal seperti itu."

"Kenapa tidak? Kita sudah pacaran dua tahun dan kita sudah mengenal sejak kecil karena kedekatan keluarga kita."

"Iya, tetapi kau masih baru menginjak kelas dua SMP. Masak sudah mau dicium oleh anak kelas tiga SMA sepertiku."

"…."

"….."

"Memangnya salah, ya? Aku 'kan hanya menyukaimu, Willem."

"… Tidak, Nes. Kau tidak salah."

Jambret!

Nesia tak henti-hentinya mengumpat dalam hati ketika alih-alih terhenti, memori itu semakin terulas dengan lancar jaya setiap kali ia berusaha menahannya.

Memori yang selama ini ia kubur rapat-rapat, ia simpan bahkan di sisi gelap pengetahuannya. Ia usahakan agar tidak terjangkau oleh pikiran sampai kapanpun.

Dan semua itu sukses ia lakukan—setidaknya sebelum malam ini ia bertemu dengan seorang gadis yang kini berjalan santai di sampingnya.

"Aku tidak pernah menyangka, lho. Jika aku bertemu denganmu pada akhirnya, Nesia," dan 'gadis' yang menjadi sumber malapetaka hati Nesia itu kini menoleh dan tersenyum manis padanya.

Meskipun gadis ini memiliki nama belakang yang sama persis dengan nama belakang seorang pemuda berambut tulip sialan itu, tetapi…

Tetapi mungkin saja, 'kan, itu hanya kebetulan?

Tidak mungkin kan, kini ia tiba-tiba berjalan bersama dengan mantan calon adik iparnya? Dari sekian juta orang yang berada di AS yang mungkin bertemu dan berjalan bersamanya, tidak mungkin 'kan, jika adik si tulip itu menjadi satu-satunya orang yang kini berjalan di sampingnya?

Iya. Tentu.

"Ah, iya. Senior—"

"Ckckck…" Senior Bella menggerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan telunjuk kanannya, "Panggil aku Bella saja, oke?"

"O-oke," Nesia mengangguk. Entah kenapa ia merasa sangat canggung sekarang berjalan dengan gadis tersebut.

Tersenyum lebar, Bella mengucapkan sesuatu yang membuat Nesia rasanya nyaris terjungkal ke depan jika gadis itu tidak buru-buru berpegangan pada tembok bangunan di sampingnya, "Benar kata Broer, kau ternyata sangat manis dan cantik."

.

.

Ragu, kepala Nesia menoleh tersendat ke arah Bella, seperti robot. Diberinya Bella senyuman miring dan kaku, yang menandakan bahwa Nesia berusaha untuk menyangkal asumsi yang kini terasa semakin jelas dan nyata.

"… 'Broer'?"

.

.

"Iya, Broer. Willem Van Hardt. Kau pasti kenal, 'kan?"

.

.

Dammit to hell.

.

.

GAAAHHH!

Apa banget malam ini sebenarnya?!

Oke, fine. Di satu sisi ia memang senang malam ini berjalan berdua dan menikmati festival Jepang dengan Antonio. Dan oke, keadaan semakin memburuk dengan berpisahnya dirinya dan Antonio. Keadaan jauh tidak lebih baik ketika ia bertemu dengan Arthur Kirkland dan justru mengulangi kebodohannya untuk kedua kalinya.

Dan Nesia pikir semua tidak akan mampu menjadi lebih buruk dari itu…

…dan sekarang… dari sekian juta orang yang bisa ditemuinya… kenapa harus adik Willem Van Hardt yang kini berjalan santai dan ngobrol-ngobrol seolah mereka adalah teman lama yang tidak saling bersua!

Out of nowhere, for Christ's sake!

Dan Nesia hanya meng-'HAH?!' takjub sembari memandang seolah-olah Bella adalah perwujudan mimpi buruknya—oke, meskipun 'mimpi buruk' itu juga bukanlah Bella, juga sih.

Tetapi tetap saja, dia adalah adik Willem Van Hardt! Si kepala-tulip-sialan-tukang-merokok, atau kalian bisa mempersingkat gelar tersebut hanya dengan dua kata, mantan pacar Nesia.

Uh.

Gembelll!

Seolah mengerti teror dan syok terapi yang dialami Nesia, Bella tersenyum kecil dan turut berhenti berjalan ketika Nesia melakukan hal yang sama, "Kau begitu terkejut, ya, tiba-tiba aku datang?"

Bukan hanya terkejut, Nesia nyaris mati terkena serangan jantung dadakan, tahu?!

Mencoba menghirup dalam-dalam napas yang tanpa sadar telah ia tahan beberapa waktu, Nesia mencoba menenangkan dirinya. Mencoba membangun harga dirinya di mata Senior yang ternyata, malah kini justru menjadi mantan calon adik iparnya.

Kembali melangkah, Nesia hanya tersenyum kecil, "A-aku h-ha-hanya—" Shit! So much for dignity… "Hhh… Aku hanya tidak menyangka jika kau adalah adik W-Willem," ujar Nesia lirih sembari mencoba tersenyum kecil, meski dalam hati merutuk sebal ketika mulutnya terpaksa mengucapkan kata yang sejak dua tahun yang lalu, berhenti ia lafalkan dari mulut dan hatinya.

"Kau akan pulang sekarang, Willem?"

"Ya, karena liburan musim panasku juga berakhir. Aku harus pulang ke Belanda sekarang."

"Yah…"

"Hei, apa-apaan muka sedih begitu? Lagipula setiap tahun aku juga pasti berkunjung kemari, 'kan?"

"Kalau begitu tahun depan biar aku saja yang mengunjungimu saat liburan kenaikan kelas. Bagaimana?"

"… Boleh."

"Broer titip salam padamu. Dia meminta maaf karena tidak mampu mengucapkan selamat secara langsung, atas diterimanya dirimu sebagai murid Hetalia High," ujar Bella sembari tersenyum lebar, "Kau tahu, kuliahnya di sebuah Universitas di Belanda, cukup membuatnya repot sekarang."

Urrrghhhh…

Kenapa harus berbicara ini, sih?

Mimpi apa Nesia semalam hingga kini, dari semua topik obrolan yang bisa diperbincangkan, ia harus mengulas masa lalu yang justru ingin dikuburnya dalam-dalam.

Memaksakan senyum, Nesia tertawa garing sembari menoleh ke Bella, "Iyaaaa. Dia juga mengirimiku e-mail kok,"—'sekalipun aku langsung men-delete e-mail tersebut bahkan tanpa membaca isinya' lanjut Nesia dalam hati, mengingat sebuah e-mail yang ia dapat seminggu setelah pengumuman penerimaan murid baru Hetalia High.

Bella menoleh, lantas memberi Nesia sebuah senyum kecil dengan pandangan matanya yang berubah menjadi sendu, "Aku turut menyesal atas apa yang terjadi pada kalian—"

Dalam hati Nesia memutar bola matanya sembari membatin, 'Sepertinya inilah bagian angst-nya.'

"—aku juga meminta maaf atas apa yang Broer perbuat padamu—tetapi… percayalah, aku sangat yakin Broer sangat menyayangimu."

Nesia terdiam menatap jalanan di depannya. Ia bahkan tidak menoleh dan membalas tatapan dan senyuman Bella.

Ya Tuhan… kenapa tiba-tiba perasaannya malam ini berubah menjadi melankolis begini…

"… Aku masih ingat, dahulu Broer sering sekali menceritakan tentangmu padaku dan membuatku sangat ingin bertemu denganmu. Tetapi sayang, dia sudah setahun lebih lulus SMA saat kau menginjakkan kaki di Hetalia High."

Dalam hati Nesia merutuk kesal.

Sampai kapan pembicaraan ini berakhir? Tidak tahukah Bella bahwa ekspresi Nesia sudah jelas-jelas mengatakan bahwa ia tidak ingin topik ini berjalan lebih jauh lagi?

Memaksakan senyum kecut—yang jelas sekali dipaksakan, Nesia berujar, "Iyaaa. Aku juga sering mendengar ceritanya tentangmu, kok. Hehe."

"Benarkah?" Bella membelalak tak percaya, lantas tersenyum lebar, "Kau tahu, aku sempat merengek ikut ke Indonesia satu kali saja, untuk bertemu denganmu. Tetapi Ayah dan Ibu tidak pernah mengijinkan dengan alasan nanti aku juga tahu sendiri ketika Broer bertunangan denganmu."

A-ahahahaha…

Omongan macam apa itu…

"I-iyaaa…," kembali Nesia tersenyum terpaksa sembari meringis lebar dan garing, ke arah Bella, "Tetapi siapa sangka jika kita pada akhirnya bertemu di sini, 'kan?"

Mengangguk, Bella kembali berujar, "Broer memintaku untuk menjagamu selama kau ada di sini—"

Geez!

"—Tetapi saat melihatmu di MOS waktu itu, aku cukup terkesan denganmu dan percaya bahwa kau akan baik-baik saja, dengan atau tanpa diriku."

"Tentu saja," ujar Nesia cepat, "Ngomong-ngomong, kau berada di Klub Musik, 'kan? Bagaimana Antonio di sana?"

Orang tolol sekalipun pasti sadar jika omongan Nesia barusan merupakan upaya desperet untuk keluar dari percakapan monoton sebelumnya.

Nesia rasanya tidak sanggup lagi menampung obrolan mengenai Willem, Willem, Willem, dan Willem.

Karena ia sendiri sudah berjanji, bahwa terakhir kali ia mengucapkan namanya adalah dua tahun yang lalu.

Dan janji itu, sebelum malam ini, selalu ia tepati. Sebelum malam ini, ketika untuk pertama kalinya gadis itu terpaksa mengingkari sumpah yang dia buat sendiri.

"Oh Antonio?" dan sepertinya Bella mudah mengikuti perubahan alur pembicaraan, "Permainan gitarnya bagus sekali. Semenjak penampilannya di Festival Kemerdekaan lalu, ia seolah menjadi maskot klub kami."

Nesia rasanya ingin sujud syukur menyadari bahwa ia terlepas dari obrolan sebelumnya.

Menoleh, Bella kembali tersenyum manis ke arah Nesia, "Dia juga sering mencertikanmu lho—"

Ekspresi Nesia langsung sumringah, jika bisa digambarkan, akan seperti ini: 7:D

"—dan Lovino Vargas juga—"

Jika digambarkan secara simpel, ekspresi Nesia akan berubah menjadi begini: -_-

"Sepertinya kalian bertiga memang sangat dekat sekali, ya?"

Nesia hanya meringis lebar, lantas mengalihkan pandang ke jalan di depannya.

Mungkin…

Mungkin tidak ada salahnya untuk mengulas satu lagi ingatan terakhir. Untuk yang terakhir.

Dan Nesia bersumpah, setelah ini, apapun yang terjadi, ia tidak akan mengingatnya kembali.

"…Kau bercanda, 'kan, Willem?"

"…."

"…Wil…?"

"…Nes—"

"Jawab aku, Willem! Hiks—Kau pasti bohong, 'kan?"

"…"

"Hiks… Hiks…"

"…"

"Hiks…"

"… Maafkan aku, Nes. Aku tidak punya pilihan lain—"

"Tapi kau bisa menolaknya! Mengapa kau mau disuruh bertunangan dengan gadis yang tidak kau kenal hanya demi keegoisan keluargamu?! Kenapa kau bodoh sekali, Wil?!"

"Nes! Kau tidak mengerti—"

"Apa yang tidak kumengerti?! Hiks. K-Kau yang disuruh menjual kebahagiaanmu sendiri hanya demi menyelamatkan keluargamu dari kebangkrutan?!"

"…."

"Wil… Hiks. Pikirkanlah dirimu sendiri. K-Kau—hiks—kau tidak akan bahagia bersamanya. Kau tidak menyukai perempuan itu. Kau menyukaiku, 'kan?"

"…"

"Hiks—Wil.. Tolong katakan."

"…Maaf, Nes. Aku harus pergi. Pesawatku akan segera take off ke Belanda."

"…"

.

.

"Willem! Tunggu!"

"Nes, lepaskan."

"Willem! Dengar aku! Dengarkan aku. Kumohon."

"Nes—"

"Dengar, ini untuk yang terakhir kalinya aku memohon padamu. Aku bersumpah, tidak akan terulang lagi. Jika kau berani melewati pintu boarding itu, aku bersumpah aku tidak akan memanggilmu—aku tidak akan memohon padamu—aku akan melupakan semua tentangmu."

"…."

"… Aku tidak akan menangis lagi, Wil. Aku tidak akan menangisimu lagi."

"…"

"Hiks—Bahkan aku tidak, akan, pernah, menyebut namamu. Lagi."

"…"

"Hiks—Hiks."

"…"

"…"

"Annesia, maafkan aku."

Dan memang, hari itu Nesia melaksanakan janjinya. Mengubur semuanya dalam memori masa lalunya. Menghapus setiap jejak memori yang diberikan Willem, dari tiap sudut ingatannya.

Bahkan ia selalu langsung menghapus air matanya dan tersenyum lebar-lebar seperti orang idiot, ketika ingatan tentang semua itu tiba-tiba muncul dan membuat hatinya terluka.

Ya.

Willem Van Hardt hanya hidup di masa lalunya.

"Tadi aku sempat bertemu dengan Antonio di Festival Jepang," ujar Bella, "Dan dia bilang dia tengah mencarimu dan kesal pada dirinya sendiri yang meninggalkan HP-nya di kamar rumahnya. Katanya tadi dia ingin ke apartemenmu, menunggumu di sana dan memastikan kau baik-baik saja."

Karena…

Masa kini dan masa depan Nesia benar-benar baru.

Baru. Kehidupan barunya di AS ini seolah menjadi lembaran baru hidupnya yang benar-benar berbeda dari lembar kehidupannya di Indonesia.

Dan tidak ada Willem Van Hardt bahkan di satu space kecil di lembaran baru tersebut.

Karena….

Nesia tersenyum ketika membayangkan seorang pemuda dengan iris emerald yang menungguinya di apartemennya, dengan wajah khawatir akan keadaannya.

Karena untuk saat ini, hanyalah nama Antonio Carriedo-lah yang bertebaran di tiap sudut lembaran tersebut. Bertebaran di mana-mana, hingga rasanya sulit untuk menghapusnya. Hingga rasanya tidak mungkin menuliskan nama lain di lembaran yang seolah penuh akan tulisan nama pemuda Latin tersebut.

Tidak mungkin.

Ya, 'kan?

Sekarang, Nesia menjadi yakin bahwa perasaannya ini bukanlah sekedar crush atau kekaguman.

Mungkin awalnya memang crush—sebuah perasaan yang timbul akibat perilaku konyol yang mereka lakukan saat MOS dahulu.

Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, crush tersebut rasanya berubah menjadi perasaan lain yang jauh lebih dalam, jauh lebih terasa.

Ya.

Sekarang Nesia yakin, bahwa ia mencintai pemuda dengan tatapan sehangat mentari musim panas dan senyum semekar Sakura di musim semi tersebut.


Retarded Blabbering: That's NetherNes for ya, pals! Just a bit of course :D Sedikit ngintip ke masa lalu dan mantan Nesia, Willem. Udah jelas 'kan, kenapa Willem sejauh ini ga mejeng2 di Absurdities, lebih tepatnya, di Hetalia High? Yo'i, doi udah lulus dan kuliah di Belanda, bro. Dan mari bersyukur bahwa Nesia masih terjaga kehormatannya #aye~

Sorry soal clue pengirim surat misterius, Buddies. Tidak pernah berpikir kalian benar-benar menganggap serius dan benar-benar merangkai huruf-huruf itu :D Guess that I am so freaking awesome :D


Next Chapter

"HANYA ORANG BODOH YANG MENGATAI ORANG BODOH UNTUK ALASAN BODOH!"

"KAU YANG BODOH! MUNGKIN KAU DITERIMA DI HETALIA HIGH KARENA DULU ORANG YANG MEMERIKSA LEMBAR JAWABANMU SAAT TEST MASUK, TENGAH MABUK BERAT!"

.

"Apakah rumahmu dekat dengan Bali, Nes? Itu pulau Indonesia yang indah, 'kan?"

.

"Arthur pernah bercerita padaku bahwa, saat dia sedang berada di Perancis, terdapat satu cowok gay yang tiba-tiba melamarnya dan ingin menikahinya! HUAHAHAHAHA! Man… It kills, right?"

.

"Nes, bisakah kau pilih satu dari semua barang yang ada di toko ini, yang menurutmu paling menarik dan paling bagus?"

.

"Kumohon, temani aku—bersamalah denganku."

Nah, lho. Apakah teaser terakhir itu adalah sebuah confession? Dari siapa untuk siapa? 7:D Lalala.


Pojok review. Monggo

SpaNes di sini manis / Aduh, makasih. Kata Ibu saya sih, saya anak paling awesome sedunia :D /salah / Spain ke Nesia PHP ga ya? PHP aja / PHP itu apa yak? :D /sokpolos / Nesia harus ama Lovi / Dia harus ama saya, wekk :p / I lop you Dis / Jangan confession di depan umum gini, ah. Kan saya jadi malu dan makin bingung harus nerima pernyataan cinta dari siapa :3 / Lovi segera ambil aksi, jangan kalah ama Antonio / Yeah! /bingungmustibalasapa / Saya harap ada cerita soal Nether dan Nesia / Udah tuh. Sekedar flashback aja, eaaa. What's past is past, itu tandanya orang moved on :p / Saya udah nulis di kertas lho soal clue secret admirernya, saking keponya. Ternyata… / Kenapa? Kok kamu kecewa? Bagus 'kan, kalau saya secret admirer-nya? :D / Sepertinya para anon menyesali insiden loginnya :D / Iya! Huhu! Takdir telah mempermainkanku~ /lebaylevelFrance / Lovi, saya ngerti prasaanmu, sini saya ajak kencan / Saya aja! Saya aja! #angkattangantinggi-tinggi


Tiada yang lebih berarti bagi penulis selain perasaan terhormat mendapatkan sedikit-lebih pemikiran dari para pembaca. Kesediaan Anda untuk membaca dan memberi feedback, merupakan penghargaan terbesar yang bisa diimpikan penulis.

No kidding, No alay-ing. Telling you the truth :)

Terimakasih.

Salam sejahtera,

DIS