Tanpa berbanyak kata dan beralay ria:
Guidance:
Kompleks gedung A: Tempat di mana para murid kelas 1, dan sebagian kelas 2, belajar secara formal
Kompleks gedung B: Tempat di mana para murid kelas 3 belajar secara formal
Kompleks gedung C: Tempat di mana para murid kelas 2 belajar secara formal
Character:
Nesia, Antonio, Lovino, Lily, Feliciano, Mei: kelas 1
Arthur, Alfred, Tiino, Vash: Kelas 2
Francis, Gilbert, Elizaveta, Bella, Andrew, Ludwig, dan karakter2 lain: kelas 3
Chau dan Maria: Excluded
dance in storm: semester 1 Jurusa—/keburu dipancung
Semoga membantu :D
Periode istirahat yang hanya berlangsung selama setengah jam itu nyatanya dimanfaatkan begitu baik oleh seluruh civitas akademika Hetalia High. Baik para guru, karyawan, dan para murid, semua memiliki rencana sendiri-sendiri untuk memanfaatkan periode yang tidak begitu lama berlangsung tersebut. Berada di kantin, perpustakaan, klub, ruang guru, ruang akademik, sekretariat OSIS, taman, atau berdiam di kelas. Periode istirahat benar-benar menjadikan Hetalia High semakin terlihat hidup. Banyak siswa-siswi yang berbincang di kantin, berjalan atau berbincang di lorong-lorong, berkegiatan di klub, atau bahkan berlari cepat-cepat layaknya seorang atlet maraton.
Um… mungkin untuk kategori yang terakhir terbatas pada satu orang saja.
Seorang siswi berseragam lengkap khas siswi Hetalia High (blazer biru tua, kemeja putih, dasi pita yang senada dengan rok merah kotak-kotak sepuluh senti di atas lutut, kaus kaki putih polos lima senti di bawah lutut lengkap dengan dua sepatu flat hitam) adalah "atlet maraton" tersebut. Ia tengah berlari cepat-cepat melintasi beberapa lorong, menuruni dan mendaki beberapa tangga, serta melewati beberapa kelas dan beberapa ruangan.
Saking cepatnya hingga ia berkali-kali meminta maaf ketika tanpa sengaja ia menyenggol murid lain yang kebetulan berada di dekatnya. Sangat cepat hingga ia menjadi pusat perhatian beberapa murid yang kebetulan dilewatinya.
Seolah dikejar hantu atau hal lain yang menakutkan baginya, gadis itu berlari cepat dengan napas tersengal-sengal.
Kenapa kau tampak repot begitu, sih, Annesia Saraswati?
"Mampus! Hosh! Hosh! M—mampus! Mati aku matiiiii! Hosh hosh!" ujarnya tersengal-sengal di antara langkah larinya. Ia mencetuskan kata maaf sembari menoleh sekilas ketika tanpa sengaja menabrak bahu seorang siswa, saat ia membelok dari satu lorong, "Hosh! Hosh! Mati kau, Nes! Senior Kirkland pasti akan menggantungmu setelah ini!"
Nah.
Sekarang ketahuan, kan, kenapa gadis itu sekarang seperti dikejar hantu?
Karena hantu alis itu sendiri sekarang tengah menantinya di ruang wi-fi perpustakaan, dan sepertinya benar-benar telah mempersiapkan tali untuk menggantung Annesia begitu gadis itu sampai di sana.
Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya
I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.
Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.
Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedar hints dan fans service :p
Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D
Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D
Maju FHI!
Happy reading
Seolah sekarat kehabisan napas Nesia, ketika kedua kakinya, pada akhirnya, membawanya berhenti di ruang wi-fi perpustakaan Hetalia High, yang menjadi tempat yang dinyatakan Senior Alfred dalam sms yang pagi ini dikirimkannya kepada Nesia.
Dalam hati, gadis itu rasanya ingin bersumpah bahwa ia akan mencukur habis hingga botak rambut pirang Senior Francis begitu mereka bertemu ke depannya. Habisnya, Senior berbrewok tipis itu seenaknya menelpon Nesia dan menyuruh Nesia untuk merekap kegiatan klub selama sebulan ini, saat periode istirahat, sebagai bahan laporan yang akan dikirimkan ke Dewan Kesiswaan.
Dan tanpa menunggu respon Nesia, siswa kelas tiga tersebut langsung dengan seenak brewoknya, memutuskan sambungan telepon.
Sialnya, pada periode istirahat itulah Senior Alfed pagi tadi, menyatakan kelompok debat mereka akan bertemu.
Sialan, 'kan?
Ketika Nesia mencoba menelpon balik Senior Francis, Nesia harus mengutuk kesal ketika didengarnya nada operator yang menjawabnya, pertanda bahwa HP Ketua Klubnya tersebut tengah non-aktif, disengaja atau tidak.
Dan di sinilah sekarang ia berada. Setelah berlari-lari seperti orang kebakaran jenggot, di sinilah ia sekarang, berdiri membungkuk bersangga lutut dengan napas khas orang sekarat. Habisnya, ia membutuhkan waktu tiga menit untuk berlari dari kompleks gedung A (kelasnya berada) ke ruang broadcasting Klub Radio (yang notabene berada di kompleks gedung B), dan membutuhkan waktu dua puluh menit untuk melakukan kegiatannya. Dan seolah seperti orang yang lebih sibuk daripada Presiden AS sekalipun, gadis itu langsung tancap gas menuju wi-fi perpustakaan di gedung B, dan untungnya hanya membutuhkan waktu satu menit jika ditempuh dengan lari yang demikian cepat.
Puji Tuhan yang memberikan raga dan organ tubuh yang kuat dan tahan banting ini… jika tidak, Nesia rasanya tidak heran jika seluruh tubuhnya akan terurai layaknya mesin yang overworks.
Saking merasa capek, gadis itu terus terbungkuk dan sedikit mengernyitkan mata. Keringat dingin bercucuran dari wajah dan lehernya, berikut dengan napasnya yang tersengal-sengal lelah.
Tanpa menyadari pandangan heran campur takjub dari senior berkacamata, dan pandangan datar serta lengkungan bibir ke bawah dari Senior beralis tebal.
Senior Alfred Jones dan Senior Arthur Kirkland terduduk di salah satu sofa yang ada, menatap juniornya yang bahkan belum sempat mengucapkan sapa.
Masih dengan tersengal dan terbungkuk, Nesia mencoba bersuara, "Hosh… Ma—Maafkan ak—"
"Apa kau benar-benar berpikir bahwa sebuah permintaan maaf mampu memperbaiki kesalahan?"
Nah.
Tubuh Nesia rasanya langsung menegang ketika mendengar suara tersebut. Tanpa mendongak pun, ia sudah tahu darimana suara itu berasal. Gak mungkin banget, 'kan, Senior Alfred yang ramah itu berjudes ria dengan kata-kata sesarkastis itu?
Mendongak perlahan, kedua bola hitam kecoklatan Nesia langsung bertabrak pandang dengan bola sehijau batu emerald yang memandangnya dengan pandangan yang dinginnya mengalahkan padang Siberia.
Melihat Arthur Kirkland yang terduduk tenang di depannya, mau tak mau Nesia teringat dengan kejadian di mana terakhir kali ia bertemu dengan Arthur, seminggu yang lalu. Di mana ia rasanya seperti menjadi orang munafik yang menolong orang yang didaulatnya sebagai orang yang paling ia benci di dunia. Dan di mana semua itu berakhir dengan kedongkolan hatinya yang lebih ketika alih-alih mengucapkan a goddamn thank you, Arthur justru memaki dan menyalahkan Nesia terhadap semua permasalahan yang dihadapi kelompok debat mereka.
Dan itu merupakan hal yang terjadi kedua kalinya—setelah gadis itu bersusah payah menyeretnya yang waktu itu tengah pingsan seperti pecundang setelah tubuhnya dipenuhi tumpukan alkohol.
Sungguh, kedongkolan itu masih terasa.
Sangat terasa hingga ketika ia mendapatkan sms dari Senior Alfred pagi ini, rasanya ia kembali ingin menyesali semua takdir yang entah bagaimana, justru membawanya dalam jerat siksaan psikologis yang diberikan Arthur Kirkland padanya.
Uh.
Dan ia sadar, bahwa kompetisi sialan ini masih akan berlangsung lebih lama lagi—setidaknya sampai kelompok mereka gagal menang dalam kualifikasi tingkat negara bagian.
Apa-apaan ini? Sejak kapan hidupnya jadi begini terasa seperti sinetron ratusan episode seperti di negeri asalnya?!
"Nesia, kau kelihatan sangat lelah," setidaknya Senior Alfred mampu mengucapkan kalimat yang lebih beradab dan lebih simpatik ketimbang manusia berhati batu yang terduduk di sampingnya itu.
Mengacuhkan omongan Arthur, Nesia menegakkan tubuhnya dan menghadap ke arah Alfred. Sepertinya ia tidak perlu lagi mengungkit-ungkit kejadian seminggu yang lalu karena sepertinya Arthur juga enggan mengungkitnya—ngomong apa, tentu saja. Orang tidak tahu terimakasih seperti itu mana mau mengungkit kebaikan orang lain!
Gembel, dah!
Tersenyum sembari mengusap keringat di dahinya dengan lengan blazer-nya (dan sempat Nesia lirik bahwa saat ia melakukan hal demikian, Arthur memberinya pandangan yang wajar diberikan orang ketika melintasi TPA), Nesia berujar, "Aku tadi habis ada kegiatan klub yang mendadak, Senior. Jadi… hosh hosh.. yah…," gadis itu urung melanjutkan ucapannya ketika merasakan bahwa ia cukup tersengal-sengal untuk mampu berbicara lebih lama.
Setelah ia berlari-lari seperti ini, setelah ia nyaris sekarat sampai di sini, inikah yang diberikan Arthur padanya?!
Bagus sekali… Jiwa sosialnya tinggi sekali… Entah bagaimana ia mampu menjabat sebagai Ketua OSIS dengan perilaku dan wataknya yang kualitasnya minus itu! Karena, siapa coba, orang bodoh dan cari mati hingga rela memilih pemimpin seperti itu!
Hih!
"Untuk apa kau ke sini?" Arthur kembali bersuara dengan judesnya. Pemuda itu terduduk dengan melipat tangannya di dada. Sebuah laptop berwarna hitam lengkap dengan satu flash disk, ada di meja di depannya dan Senior Alfred, berikut dengan beberapa buku tebal, notes, satu bolpoin dan sebuah HP yang pastinya, milik Senior Alfred (karena dari peristiwa saat malam hujan waktu itu, Nesia ingat betul bahwa HP 'orang-sok-kaya-itu' lebih uhukkerenuhuk).
Menoleh heran, Nesia menjawab dengan pandangan dan bibir nyinyir seolah Arthur menanyakan hal yang paling jelas di dunia, "Bermain roller coaster," jawabnya yang tentu saja, sarkastis.
"Kau bodoh atau apa? Di sekolah manapun, mana ada roller coaster," jawab Arthur dengan nada seserius tatapan matanya, membuat Nesia dalam hati sangat mengasihani selera humor pemuda itu yang sepertinya sangat menyedihkan.
"Tentu saja untuk berdiskusi, sialan!" keki Nesia judes. Rasa capeknya, ditambah dengan dendamnya, ditambah dengan dongkolnya, menjadi resep lengkap yang membuatnya enggan bertata krama dan sopan santun terhadap Senior di depannya ini.
"Jika kau memang ingin berdiskusi, kau harusnya telah datang setengah jam yang lalu!" bentak Arthur tak mau kalah. Ditatapnya Nesia dengan tajam sembari mengumpat kesal, "Kau tidak bisa membaca sms yang dikirimkan Alfred padamu?!"
Nesia sedikit mengangakan mulutnya.
Y—Ya Tuhan…
Dengan kesal, gadis itu menghadapkan tubuhnya ke arah Arthur dan berkacak pinggang pada pemuda yang terduduk di sofa di depannya itu.
Menarik napas dalam-dalam, gadis itu mendekatkan wajahnya pada Arthur dan lantas— "SUDAH KUBILANG AKU ADA KEGIATAN KLUB! KAU BODOH ATAU APA?!"—berteriak keras dengan kedua mata terpejam, hingga helai-helai di dahi Arthur tertiup kecil karenanya.
Dan well, hingga Alfred mengernyitkan kedua matanya saat mendengarnya.
Seperti tidak mau kalah dengan seorang wanita, Arthur balas berteriak lebar-lebar dan keras-keras—"APA PEDULIKU DENGAN KLUB BODOHMU ITU, CEWEK BODOH?! HARUSNYA KAU MAMPU MEMBUAT PRIORITAS!"—hingga Nesia mengernyitkan kedua matanya dan sedikit memundurkan wajahnya.
Dan Alfred mulai menutup kedua telinganya. Beruntung sekali saat itu ruang wifi tampak sepi pengunjung karena periode istirahatpun nyaris berakhir sehingga banyak di antara mereka yang meninggalkan perpustakaan.
Seperti seorang wanita yang menjunjung tinggi prinsip feminisme, Nesia kembali berteriak di depan muka Arthur, "AKU TIDAK BISA MENOLAK TUGAS ITU! DAN KAU HARUSNYA PEDULI SEDIKIT SAJA PADAKU YANG TELAH MEMBAKAR PARU-PARUKU SENDIRI UNTUK BERLARI-LARI DARI RUANG KLUB UNTUK DATANG KE SINI! KAU INI BENAR-BENAR BODOH!"
Menyadari pandangan heran, takjub, geli, dan terganggu dari satu-dua pengunjung lain yang masih tersisa, Alfred dengan ragu mengangkat tangannya, mencoba menyela—
"OH YA? LANTAS KAU PIKIR AKU PEDULI PADAMU?! MIMPI SAJA! KAU SAJA TIDAK PEDULI PADA KELOMPOKMU SENDIRI! DASAR GADIS BODOH!"—sebelum usahanya secara sukses, gagal total oleh teriakan Arthur.
"HANYA ORANG BODOH YANG MENGATAI ORANG BODOH UNTUK ALASAN BODOH!"
"HAH? KAU MERUJUK PADA DIRIMU SENDIRI? BODOH KOK TERIAK BODOH!"
"KAU YANG BODOH! MUNGKIN KAU DITERIMA DI HETALIA HIGH KARENA DULU ORANG YANG MEMERIKSA LEMBAR JAWABANMU SAAT TEST MASUK, TENGAH MABUK BERAT!"
"DAN AKU YAKIN ALASAN HETALIA HIGH MENAMPUNG ORANG BODOH SEPERTIMU KARENA PARA GURU DISINI SUDAH BOSAN DENGAN PARA MURID YANG JENIUS, JADI MEREKA MEMBUTUHKAN ORANG SEBODOH DIRIMU UNTUK MENDAPATKAN TANTANGAN BARU!"
"OH YA? KAU BAHKAN LULUS TK PASTI KARENA GURUMU KASIHAN AKAN KUALITAS IQMU!"
"MEMANG SETINGGI APA IQMU?! PANTAS DISEJAJARKAN DENGAN KELEDAI?!"
"TENTU SAJA PANTAS! IQMU BAHKAN TIDAK BISA DISEJAJARKAN DENGAN KELEDAI KARENA KECERDASAN KELEDAI JAUH LEBIH TINGGI DARIPADA DIRIMU!"
"DASAR BODOH!"
"KAU YANG BODOH!"
"KAU!"
"KAU BODOHBODOHBODOHBODOHBODOHBOD OOOHHH!"
"SEMILYAR KALI BODOH UNTUKMU!"
Dan Alfred meringis kikuk kepada para pengunjung lain yang beberapa saat benar-benar mengamati mereka.
Begitulah, perdebatan bertemakan 'Kau yang bodoh' berlanjut antara dua orang bodoh tersebut. Hingga pada akhirnya, entah karena lelah atau kehabisan bahan umpatan yang mampu menjatuhkan mental lawan, keduanya terhenti.
Meskipun geraman masih tampak jelas dari kedua rahang mereka yang terkatup rapat. Bersama dengan kedua mata yang saling menatap tajam. Kedua tangan yang mengepal, dan napas yang tersengal.
Dan Arthur-lah yang mengakhiri 'drama kecil' mereka dengan berdiri dari duduknya, lantas sedikit mendorong Nesia untuk minggir dari depannya, "Alfred, ayo kita pergi. Sudah masuk pelajaran," dengan begitu tenang, sembari langsung menutup layar laptop dengan sedikit membantingnya (catat bahwa ia tak repot-repot untuk men-shut down atau apa), dan memungut beberapa buku yang ada di sana.
Sungguh, perilakunya itu merupakan sebuah pukulan telak bagi Nesia.
"Kenapa?" protes gadis itu sembari menatap Arthur yang masih tidak sudi menatapnya, "Kita bahkan belum berdiskusi!"
"Alfred dan aku SUDAH berdiskusi!" bentak Arthur kesal dengan memberi penekanan kuat pada kata sudah, "Kau tentu tidak benar-benar berpikir bahwa kami bersedia menunda diskusi selama setengah jam hanya untuk menunggumu, 'kan?!"
"Arthur—," Alfred berusaha menyela sebelum kedua partner-nya tersebut mulai melanjutkan drama kecil-kecilan mereka sebelumnya. Namun kalimat pemuda itu segera terputus begitu Arthur kembali membentak kepada gadis yang menatap heran dan tak percaya padanya.
"Kau ini sudah jelas-jelas salah, masih ngotot pula! Kau pikir kami harus menuruti semua keinginanmu, begitu?!"
Uh.
"Te—Tetapi aku sudah mengerjakan dan membawa tugas yang kau berikan padaku!" sergah Nesia sembari mengeluarkan sebuah flash disk dari dalam saku blazer-nya, "Setidaknya kau—"
"Aku sudah tidak butuh!" balas Arthur sengit.
JLEB.
Rasanya ada sebuah pisau berkarat yang ditancapkan ke jantung Nesia. Ditancapkan, lantas ditarik, ditancapkan lagi, dan seterusnya.
Nesia menatap takjub dan tak percaya ke arah Arthur yang menyipitkan tajam kedua matanya.
Beginikah akhirnya? Tugas yang telah ia kerjakan dengan susah payah? Dengan mengorbankan waktu tidur dan istirahatnya? Dengan begitu lebih rajin ketimbang saat ia mengerjakan bahkan PR pelajaran?
Dan sekarang tugas yang selesai dikerjakannya itu bahkan tidak dilirik sedikitpun!
'Arthuuurrrr! Terkutuk kau!' gunung kedongkolan di hati Nesia rasanya meluap dan meledak—untuk kesekian kalinya.
Dan tanpa berkata apa-apa lagi, Arthur berlalu dari sana—dengan mungkin disengaja, menyenggol bahu gadis yang masih ternganga syok menatap udara kosong di depannya.
Bahkan rasanya ia nyaris tidak merasakan tepukan pelan dan lembut Senior Alfred pada pundaknya, "Nesia, maafkan dia. Dia hanya kesal karena sebelum ke sini tadi, begitu banyak tugas OSIS yang baru ia dapatkan."
Tetapi sayangnya, kalimat Alfred bagaikan kereta api yang melewati sebuah terowongan—bablas dari telinga kiri dan telinga kanan Nesia tanpa mampu tercerna oleh otak.
Beberapa saat kemudian, ketika kedua seniornya tersebut benar-benar telah pergi dari perpustakaan, gadis itu menghela napas dalam-dalam, lantas memutar bola mata dan mendengus keras.
Ya Tuhan, rasanya Nesia lebih bersyukur jika tadi Arthur menggantung lehernya saja.
-oOo-
Tidak berapa lama setelah insiden 'siapa yang terbodoh' di perpustakaan waktu itu, keesokan harinya Alfred menelponnya dan lagi, memintanya untuk datang berkumpul dengan kelompok debat mereka, dua puluh menit setelah pulang sekolah di Sekretariat OSIS (ini adalah usul si Kirkland sialan itu yang sepertinya sok manja dan enggan pergi jauh-jauh dari kompleks gedung C).
Merasa kapok tujuh turunan akibat harga dirinya yang diludahi habis-habisan oleh Arthur sehari yang lalu ketika ia terlambat datang, Nesia kini bertekad memperbaiki diri.
Terlalu memperbaiki diri, karena tadi ia mendapati dirinya telah berada di depan Kesekretariatan OSIS, sepuluh menit lebih awal dari waktu pertemuan yang dinyatakan Alfred padanya.
Sekarang, di sinilah ia berada. Terduduk di salah satu kursi yang ada di salah satu ruang yang terdapat dalam Sekretariat OSIS tersebut. Arthur Kirkland terduduk tenang di seberangnya –dan catat bahwa pemuda itu bahkan tidak memberikan lirikan mata dan a goddamn hi pada Nesia sejauh ini. Serta Alfred terduduk di samping Nesia. Sebuah meja dari kayu mahoni terdapat di antara mereka. Beberapa map yang sepertinya berisi berkas-berkas OSIS, tertumpuk rapi di pinggir meja. Sebuah laptop berwarna hitam tertaruh di tengah, dengan sebuah flash disk dan modem yang melengkapinya. Notes, bolpoin, dan beberapa buku terdapat pula di sana.
Sekretariat OSIS tidak begitu luas, namun juga tidak bisa dibilang sempit—sebelas-dua belas dengan luas ruangan kelas Hetalia High atau ruangan klub lainnya. Beberapa ruangan terdapat di sana, misalnya ruang Ketua OSIS, ruang tiap departemen, sebuah kamar mandi, ruang santai dengan sebuah TV layar datar (saat melihatnya, Nesia langsung yakin bahwa semua ini terlalu berlebihan!), dan sebuah ruangan besar yang biasa digunakan saat ada rapat plenary seluruh anggota OSIS. Dan Arthur memilih dan meminjam ruangan Humas sebagai tempat diskusi mereka sekarang.
Beberapa siswa lain juga terdapat di sana. Senior Andrew Scholte yang tengah mengetik sesuatu di laptopnya, di sofa ruang santai. Atau Senior Herdevary yang sempat mengatakan betapa beruntung kelompok debat Nesia masih mampu bertahan hingga sejauh ini. Atau Senior Berwald yang tengah memimpin rapat departemennya, bersama para staff-nya. Atau juga, Senior Braginski yang numpang lewat sebentar untuk mengambil sebuah berkas, lantas kembali keluar gedung Kesekretariatan.
Dan jika dipikir-pikir, dahulu Nesia sempat ingin bergabung dalam organisasi ini. Selain karena pengalaman organisasi OSIS-nya kala SMP memang cukup baik, juga karena Nesia ingin merasakan perbedaan antara OSIS di Barat dengan OSIS di negerinya. Meski cukup banyak perbedaan (terutama dengan struktur organisasi, fungsi, dan juga yang penting FASILITAS!), tetapi sepertinya menarik dan seru.
Iya, jika organisasi yang tampaknya 'menarik dan seru' itu tidak dipimpin oleh orang yang membuat organisasi ini justru berada dalam daftar terbawah dari organisasi yang ingin digabungi oleh Nesia.
Arthur 'sialan' Kirkland. Arthur 'tidak tahu diri' Kirkland. Arthur 'sok elit' Kirkland.
Karena lihat saja. Entah kenapa pemuda itu sepertinya dendam kesumat kepada Nesia—dan yah, Nesia bersyukur karena toh ia juga memiliki dendam tujuh turunan pada pemuda itu. Tetapi jika Nesia memiliki alasan yang sangat jelas, maka sampai sekarang gadis itu tidak mengerti apa kesalahannya hingga Arthur sepertinya tidak bisa hidup tanpa membuat Nesia rasanya ingin mengakhiri hidupnya sendiri.
Lihat saja. Bahkan semenjak bertemu di Kesekretariatan, pemuda itu sama sekali tidak meliriknya—apalagi menyapanya. Lima belas menit yang mereka bertiga habiskan di ruangan Humas ini hanya terisi oleh perbincangan dua kubu: Alfred dan Arthur, dan Alfred dan Nesia. Nesia juga ogah lahir batin memulai pembicaraan duluan dengan orang seperti itu.
Sampai kapan Nesia mau menjadi pihak yang ditindas?!
Hah! Go girl!
Kebanyakan Nesia hanya terdiam selama diskusi—Senior Alfred dan Senior Arthur sepertinya serius sekali dalam membahas diskusi kali ini—yakni menganalisis data yang telah mereka peroleh. Beberapa kali Arthur atau Alfred menunjuk sebuah bagan atau kalimat di layar laptop, dan terkadang mereka juga menulis sesuatu di notes atau laptop, atau membuka buku-buku yang menjadi referensi mereka.
Dan ini semua rasanya kembali seperti pertama kali mereka duduk berdiskusi sebagai satu kelompok—saat pertemuan dahulu dengan Madame Jeanne.
Artinya, Nesia kembali merasa sebagai seorang pecundang yang bahkan tidak digubris kehadirannya!
Mencoba santai, gadis itu malah menolehkan kepalanya kesana-kemari, mengamati ruangan yang ditempatinya. Ruangan dengan tembok berwarna biru muda itu lumayan cozy untuk ditempati. Sebuah lampu menggantung di atap yang berwarna soft cream. Sebuah lemari berisi berkas-berkas terdapat di pojok ruangan dengan sebuah papan yang bertuliskan struktur organisasi lengkap dengan siapa saja yang memegang jabatan utama, menggantung di tembok sebelah kanan Nesia. Oh ya, jangan lupa juga sebuah pigura yang memajang rapi kertas bertuliskan visi dan misi OSIS Hetalia High, yang tergantung di tembok depan Nesia—di belakang Arthur Kirkland.
Siapapun ketua departemen Humas ini, tahu sekali bagaimana menata ruangan dengan baik…
"..Nes?"
"H—ha? Ya?" gadis itu sedikit melonjak kaget ketika sedang asyik-asyiknya ia celingak-celinguk kesana-kemari, ia merasakan sebuah tepukan halus di pundak kirinya.
Menoleh, ia mendapati Senior Alfred menatapnya dengan heran, "Aku bertanya apa pendapatmu terhadap usulku barusan. Tetapi sepertinya kau tidak mendengarkan?"
Uh.
Kali ini, Nesia benar-benar merasa sama sekali tidak berguna.
"Jika kau ingin sight seeing begitu, pergilah ke museum atau apa. Ini Sekretariat, bukan tempat wisata di mana kau bisa dan wajar tolah-toleh seperti orang bodoh begitu."
Nah. Mulai lagi, 'kan?
Mendengar ucapan Arthur, otomatis dahi Nesia mengerut dan gadis itu langsung menjulurkan lidahnya—seolah dengan tegas menyatakan 'Persetan dengan omonganmu, brengsek!'.
Dan sepertinya pesan itu tersampaikan ketika Nesia melihat kedutan keki muncul di pelipis Arthur saat menatap Nesia.
Beruntunglah Alfred merupakan pribadi yang tanggap suasana—setidaknya untuk kali ini. Karena sebelum 'Perang Dunia' Ke-sekian kalinya meletus, pemuda itu segera berucap kepada Nesia, "Ngomong-ngomong, Nes. Aku penasaran, seperti apa hidup di Indonesia?"
Tentu saja itu adalah topik yang muncul dengan terlalu tiba-tiba dan melenceng jauh dari tujuan awal mereka berkumpul di sini, yakni untuk berdiskusi. Wajar saja jika Nesia hanya meng-hah dengan tatapan ragu, sedangkan Arthur rasanya siap melepas sepatunya demi menempeleng kepala berhelai pirang cerah itu.
Merasa tidak yakin akan pertanyaan Alfred, Nesia hanya menjawab, "… Seperti layaknya mereka yang hidup di daerah tropis," jawab gadis itu.
"Nah, guys!" Arthur mengetukkan ujung bolpoin dengan sedikit keras di permukaan meja—secara tidak langsung meminta Alfred dan Nesia untuk berhenti ber-OOT ria seperti itu, "Kupikir kita harus—"
"Oh ya? Kudengar asyik sekali hidup di daerah tropis," ujar Alfred riang sembari menatap Nesia, tanpa peduli pada Arthur yang mengumpatnya pelan bersama dengan dengusan napasnya, "Apakah rumahmu dekat dengan Bali, Nes? Itu pulau Indonesia yang indah, 'kan?"
"Rumahku sebenarnya berada di pulau lain, Senior," ujar Nesia, merasa terpancing minatnya untuk menceritakan kampung halamannya. Habisnya… sudah berapa lama dia tidak bernostalgia seperti ini? Terakhir kali ia menceritakan asal usulnya juga kepada Lily beberapa bulan yang lalu.
Rasanya senang sekali, 'kan, jika kau jauh dari yang tercinta, dan kini rasa rindumu semakin terasa ketika semua memori yang kau miliki tentangnya, terulas kembali? Lagipula sesekali promosi lah. Lumayan 'kan, jika Indonesia nambah devisa jika banyak turis yang datang ke sana.
Aha.
"Java, kau tahu?" lanjut Nesia yang direspon oleh anggukan Alfred, "Tepatnya di Bandung, sebuah kota besar di barat Pulau Jawa. Dan soal Bali, jangan salah, Senior. Sekalipun Bali memang pulau yang indah dan menarik minat sebagian besar turis, tetapi masih banyak pulau lain yang sama indahnya dengan Bali," ujar Nesia bersemangat.
Bercerita tentang asal-usulnya seperti ini membuat semua kedongkolan, kebosanan, dan perasaan useless yang sempat terasa, kini menguap entah kemana. Apalagi ketika melihat Senior Alfred tampak sangat antusias mendengar ceritanya…
Sedangkan Arthur? Sepertinya pemuda itu menyadari bahwa tidak ada yang bisa ia lakukan. Kedua partnernya tersebut tampak tengah menikmati obrolan. Sehingga pemuda itu memilih untuk diam (sejenak), dan daripada mendengarkan ocehan Nesia, pemuda itu memilih sibuk mengetikkan sesuatu di laptopnya.
"Aku juga tahu itu, Nes. Kudengar alam Indonesia sangat cantik dan budayanya juga kental sekali," lanjut Alfred tersenyum lebar, "Tahun kemarin Ayahku sempat ada proyek perusahaannya di sana di pulau… Pulau Soul-a-West-i?"
"Sulawesi?" ralat Nesia dengan sedikit sweatdropped dan sedikit geli mendengar pelafalan Alfred.
"Yah, itu," Alfred hanya meringis lebar, "Dan aku sempat akan turut ke sana untuk beberapa minggu, tetapi batal karena pada waktu itu aku sialnya terkena demam."
"Nah, kau seharusnya datang, Senior," ringis Nesia, "Karena di Sulawesi bagian utara terdapat taman laut yang sepengetahuanku, menjadi taman laut terindah di dunia. Namanya Bunaken."
"Ayahku juga pernah sekali waktu itu bicara tentang itu," Alfred melirik ke atas, seolah mengulas sesuatu. Lantas pemuda itu menghela napas berat sembari memejamkan matanya, dan menyangga dagunya dengan telapak tangannya di meja, "Hah~~ Sepertinya hidup di daerah tropis itu bagaikan di surga, ya? Ombak yang besar… burung camar… pohon kelapa…"
Nesia menahan tawanya, "Dan sepertinya AS punya tempat seindah itu—Hawaii."
Alfred melirik Nesia, "Itu 'kan jauh sekali dari sini, Nes," kata Alfred, "Aku jarang sekali pergi ke daerah tropis—hanya sekali dua kali, di Argentina, Brazil, dan India. Itupun sudah sejak dahulu."
"Kau seharusnya bersyukur bisa keliling dunia seperti itu di umurmu yang masih muda ini, Senior," ujar Nesia, "Negara lain yang pernah kukunjungi baru AS dan Ne—," seketika bayangan seorang pemuda berambut seperti tulip terlintas di otak Nesia. Dan gadis itu buru-buru menyingkirkan pikiran tersebut, "Nepal! Iya, Nepal! Aahaha," ringis gadis itu kikuk yang membuat Alfred menaikkan sebelah alisnya heran.
"Tetapi kalau urusan pengalaman ke luar negeri, aku yakin Arthur lebih mumpuni daripada kita."
Oke, baik Nesia atau Arthur sama-sama merutuki Alfred yang tiba-tiba mengikutsertakan pihak ketiga dalam pembicaraan mereka. Dan bagi Nesia, pihak ketiga itu adalah pihak yang mana ia masa bodoh untuk mengetahui apapun tentangnya.
Dan Arthur.. well, sepertinya pemuda itu cukup terkejut namanya ter-mention biasa oleh Alfred. Tebukti dengan jemarinya yang terhenti sejenak dalam aktivitas mengetiknya.
"O—oh..," jujur Nesia tidak tahu, dan tidak minat, harus merespon seperti apa lagi.
Alfred malah meringis lebar, dan mengangguk, "Aku sangat tahu. Pekerjaan Ayahnya sebagai seorang Duta Besar tentunya membuatnya tak asing dengan kehidupan negara lain," kembali Alfred melirik ke atas, mengulas sesuatu, "Seingatku… dia pernah ke Hong Kong, Singapura, Malaysia, Australia, India, Seychelles, dan tentu saja, Inggris di mana ia dilahirkan dan menetap untuk beberapa tahun di sana, setelah sebelumnya sempat pindah ke AS mengikuti pekerjaan Ayahnya."
5
Nesia sedikit mengangakan mulutnya. Sekarang bertambah yakinlah dia dengan status keluarga Kirkland. Tak ayal jika pemuda itu sok berkuasa, sok elit, sok dewa, dan segala sifat sok lainnya.
"Dan Inggris, tempat kelahirannya, sepertinya menjadi tempat yang sangat berpengaruh baginya. Kau tahu, sikap so-called gentleman seperti itu…," Alfred terkikik, "Dan yakinlah bahwa kau tak akan pernah mau memakan masakan apapun yang dimasaknya, terutama sesuatu bernama scone itu," Alfred memasang ekspresi enek ketika mengulas memorinya, "Aku ingat rasanya aku ingin mati saja ketika mencicipi bahkan satu gigit scone yang dia buat."
Dan Nesia hanya meringis garing.
Sebegitu parahnya-kah? Jika iya, Nesia berharap bahwa seberapapun dongkolnya Senior Arthur padanya, ia tak akan menjejalkan benda bernama scone itu pada Nesia di kemudian hari.
4
"Ah iya!" Alfred menjentikkan jemarinya saat teringat sesuatu, "Arthur pernah bercerita padaku bahwa, saat dia sedang berada di Perancis, terdapat satu cowok gay yang tiba-tiba melamarnya dan ingin menikahinya! HUAHAHAHAHA!" Alfred tergelak keras hingga kedua matanya terpejam dan satu kepalan tangannya memukul meja, "HUAHAHAHA! Man… It kills, right?"
"Ohoh?" Nesia tertawa tertahan sembari menatap Alfred dengan pandangan geli campur heran. Geli karena di pikiran gadis itu telah terbayang Arthur yang diberi cincin oleh seorang pria Perancis. Dan heran karena, 'emang ada ya, cewek, atau cowok sekalipun, yang punya selera rendah banget hingga mencintai manusia kayak gitu?'
3
"Dan jangan heran jika kau tidak melihatnya dekat dengan siapapun, kecuali denganku," Alfred mencondongkan tubuhnya ke arah Nesia, lantas berbisik dengan suara yang yang juga tidak begitu bisa dibilang lirih. Hhhh, "Kau tahu, sifatnya yang sangat tsundere itu membuatnya tampak aneh dan dijauhi oleh yang lain—mereka takut, mungkin? Karena dia suka marah-marah dan menyangkal sesuatu yang jelas-jelas benar."
Nesia tampak berpikir.
Kalau dipikir-pikir sih, emang iya. Selama ini, sudah berapa kali Nesia mendapati Arthur teriak-teriak ga jelas padanya?
2
"Tetapi satu hal yang unik dari Arthur," Alfred meringis jenaka sembari menaik-turunkan kedua alisnya, "Alisnya yang super duper mega jumbo itu," pemuda itu lantas menggeleng-geleng lirih, "Hhh… aku heran, kenapa dia belum juga mendaftarkan dirinya dalam Genius Book of World Record."
Iya, sih. Alisnya yang tebel gila itu jangankan menembus Genius Book of World Record, Nesia pikir alis Arthur juga pasti lolos kok, kalau didaftarkan sebagai World Heritage -nya UNICEF!
Mendapat pemikiran seperti itu, Nesia tak kuasa menahan tawanya, "HAHA—"
1
BOOM! DUAR!
KIAMAT
BRAK!
"—HA…?"
"YOU BLOODY GIT!" teriak Arthur keras sembari bangkit dari kursi dan menggebrak meja dengan kasar, hingga Nesia terlonjak kaget dan memundurkan punggungnya beserta Alfred yang menoleh heran ke arah Arthur.
Dilihat oleh mereka kini Arthur yang menatap tajam dan beringas ke arah Alfred, seolah-olah pemuda itu siap melakukan pembunuhan berencana pada American sejati itu. Belum lagi dengan wajahnya yang memerah marah bercampur malu, Arthur seperti gunung berapi yang siap memuntahkan lava panasnya untuk menggosongkan dua makhluk yang sedari tadi cekikak-cekikik di depannya, menceritakan semua aib-aibnya, dan bertingkah seolah-olah Arthur tidak ada di sana!
"YOU BLOODY WANKER! BLOODY BLOODY BLOODY IDIOTIC WANKER!"
Nesia mengernyit ketika rentetan kosakata aduhai itu terumpatkan keras dari mulut Arthur. Sepertinya Alfred benar jika pemuda ini begitu… tsundere…
"KENAPA JADI AKU?!" maki Arthur keras pada Alfred yang melongo menatapnya, "YOU GIT! Kenapa tidak kau lanjutkan saja obrolan tidak pentingmu tentang kehidupanmu dan cewek sialan ini—"
Twitchs.
"—tanpa menyangkut diriku?! SIAPA YANG ALIS TEBAL?! GAY?! MASAKAN BERACUN?! TSUNDERE, HAH?!"
Bahkan sempat Nesia lirik, Senior Andrew yang terduduk di ruang santai, melongok sebentar untuk melihat mereka yang berada di dalam ruangan yang pintunya sengaja dibuka ini.
"Memangnya aku salah?"
Nah.
Nesia rasanya ingin sekali tepok jidat dan merutuki kalimat yang bisa mengantarkan Alfred pada tiang gantungan itu.
Dan Nesia rasanya ingin mencari sumbat kuping secepatnya ketika wajah Arthur kembali memerah padam karena marah, bersama dengan katupan rahangnya yang semakin kuat. Kedua telapak tangannya terkepal erat di meja.
Jika pandangan bisa membunuh, Nesia tak heran rasanya jika Alfred sekarang tinggal sebuah nama.
"GGGRRRR…," geram Arthur sebelum— "SETIDAKNYA AKU TIDAK CUKUP IDIOT UNTUK GEMAR MEMAKAN MAKANAN SAMPAH YANG BERNAMA HAMBURGER, COLA, DAN APALAH ITU!"
Nah. Meledaklah dia. Nesia rasanya ingin kabur dari sini sebelum dia kena imbas—siapa tahu Arthur habis ini melempar pisau yang dimaksudkan ke arah Alfred, tapi meleset dan malah mengenai Nesia.
Atau lebih buruk lagi, jika Arthur sengaja menjadikan Nesia sebagai objek lemparan pisaunya untuk melampiaskan kemarahannya yang tidak mungkin ia lampiaskan pada sahabatnya sendiri.
Uh. Sepertinya opsi kedua yang paling mungkin…
"Hei!" sergah Alfred yang sepertinya tidak terima, "Setidaknya banyak yang menyukai hamburger dan cola daripada scone-mu yang aneh itu."
"ANEH APANYA?!" Nesia rasanya heran jika sehabis ini, Arthur tidak akan merasakan tenggorokannya sakit habis dipakai nge-rock begitu, "SELERAMU SAJA YANG SANGAT BURUK! LAGIPULA MENGAKU-NGAKU SEBAGAI HERO PADAHAL SIKAPMU SANGAT OBLIVIOUS BEGITU!"
"Kau jangan menghina cita-citaku, dong," ujar Alfred merengut kesal, "Seperti aku yang tidak pernah mengungkit cita-cita masa kecilmu yang ingin jadi seorang bajak lau—Ow!"
Dan akhirnya, timbullah kekerasan fisik yang diantipati oleh Nesia. Arthur dengan begitu keras dan ikhlasnya menjitak kepala Alfred hingga American sejati itu meringis kesakitan.
Menghela napas berat, Arthur memejamkan kedua matanya, "Apa yang kulakukan…," gumamnya pada diri sendiri, "Mengikuti permainan bodohmu seperti ini…," pemuda itu lantas kembali terduduk dan seolah lupa pada semuanya, ia kembali mengetik di laptopnya.
"Kau 'kan tidak harus memukulku," gumam Alfred kesal sembari mengelus-elus benjolan kecil di kepalanya, lantas pemuda itu menoleh kepada Nesia, "Lihat, kan, Nes? Dia tsundere sekali?"
Nesia daritadi hanya terdiam—bagai penikmat pertarungan antara Alfred dan Arthur yang saling memaki satu sama lain. Dan ketika melihat kejadian barusan, mau tak mau pikiran Nesia melayang pada Antonio Carriedo dan Lovino Vargas, dua sahabat dekatnya.
Persis seperti itu…
Seperti Alfred, Antonio yang sangat oblivious, tidak sensitif… dan Lovino yang cenderung marah-marah, mudah terpancing, bersikap seolah tidak peduli padahal sebaliknya, dan yah.. tsundere, seperti Arthur.
Melihat Alfred dan Arthur yang berteriak-teriak demikian, mengingatkan Nesia pada dua sahabatnya tersebut.
Dan semua hal itu membuat Nesia tak kuasa menahan tawanya lagi.
"Hahahaha…," gelak gadis itu sembari memejamkan matanya—merasa sangat geli.
Tawa yang terdengar sangat ringan, seolah ia baru saja kehilangan separuh dari beban hidupnya. Tanpa mengucapkan apapun pada pertanyaan Alfred barusan.
Hanya tawa. Hanya tertawa.
"Nes?" Alfred hanya heran melihat gadis yang tiba-tiba terkikik di depannya. Sedangkan Arthur juga sama, hanya saja pandangan pemuda itu lebih seperti berusaha menyatakan 'Dasar sinting'.
"O—oh, Senior," Nesia menahan tawanya, lantas menatap ke arah Alfred, "Haha—pfft! Kalian sangat lucu!" lantas, gadis itu menoleh ke arah Arthur dan memberinya senyum lebar, "Dan sangat manis. Hahaha—Oh Tuhan, perutku sakit—haha."
Alfred dan Arthur sama-sama memandang tidak mengerti akan ucapan Nesia barusan. Terutama Alfred, malah mengkhawatirkan apakah Nesia baik-baik saja dengan omongannya yang ngelantur tersebut.
Namun sejenak kemudian, pemuda itu turut tergelak dengannya.
Sedangkan Arthur hanya memandang tidak suka—apa? Manis? Cute? Lelaki mana yang rela harga dirinya diinjak-injak oleh gelar menjijikkan seperti itu? Mungkin seperti itulah arti tatapan Arthur terhadap Nesia yang masih tergelak.
Tertawa ringan. Santai. Hingga air mata menetes dari sebelah matanya, menandakan betapa pemiliknya tengah merasakan geli yang sangat.
Nesia sendiri tak habis pikir, inilah pertama kalinya ia bisa tertawa lepas seperti ini ketika berada dengan kelompok debatnya—terutama, ketika berada di dekat Arthur.
Rasanya…
Rasanya ia seperti lupa pada semua kedongkolannya.
Mencoba menarik napas di sela-sela tawanya, Nesia tanpa sengaja melirik pada Arthur. Pemuda itu hanya mendengus, sebelum mengalihkan perhatiannya kembali pada laptop.
Dan entah ini karena otak Nesia mulai miring atau pandangan matanya yang agak kabur oleh air mata, tetapi gadis itu sempat melihat bahwa terdapat seulas senyum tipis dan samar yang terlukis di bibir yang biasanya senantiasa merengut itu.
Tetapi Nesia memilih untuk tidak memercayai pengelihatannya.
Arthur tersenyum?
Hell! Dunia pasti kiamat! Jikapun pemuda itu bisa tersenyum, Nesia yakin senyumnya termasuk dalam kategori senyum creepy, super duper ekstra mega ultra tera eksekutif creepy…
"Hahaha—kalian sangat manis jika seperti tadi," ujar Nesia ringan, sembari menatap Arthur dan Alfred secara bergantian, lantas bertanya secara spontan "Kenapa tidak jadian saja, sih?"
.
.
… E—eh…
-oOo-
Rencana istirahat begitu sampai di apartemen, sepertinya terpaksa harus ditunda dahulu ketika saat sampai di pintu kelas dan hendak keluar, Nesia dan Lovino terpaksa menghentikan langkahnya ketika mendapati Antonio berdiri di samping kelas mereka dengan senyuman lebarnya yang khas.
Belum sempat Nesia atau Lovino mengucapkan kata apapun, pemuda Latin itu semakin tersenyum seriang nada ucapannya, "Yo, Nesia, Lovino! " pemuda itu memberi salam dua jari, lantas menatap gadis yang masih, seperti biasanya, sedikit terpaku melihatnya, "Nes, apakah kau ada waktu luang untuk sebentar saja kita habiskan sore ini?"
O Tu…han…
Nesia rasanya tidak ingat mimpi apa dia semalam, hingga kini ia mendapati Antonio di depan kelasnya—menunggunya di depan kelasnya. Lantas tersenyum padanya. Dan lantas mengajaknya pergi. Menghabiskan waktu luang di sore hari.
Berdua?!
Rasanya Nesia ingin pada saat itu juga ber-kyaaa-kyaaa ria. Jika ini semua adalah animasi, maka ia yakin tubuhnya mampu mengeluarkan bunga-bunga atau heart shape warna merah muda.
Tetapi tidak mungkin juga, 'kan? Dipikir Nesia mau menistakan dirinya begitu di depan Antonio!
Tentu saja Nesia menyetujui tawaran Antonio—siapa yang tidak?! Ini adalah salah satu momen langka yang mungkin akan sulit didapatkannya. Tawaran itu saja sudah cukup melambungkan perasaan Nesia, belum lagi dengan cara Antonio menyampaikannya..
Senyumnya, tatapan matanya, nada suaranya… Membuat Nesia rela bahkan jika Antonio hendak membawanya terjun ke jurang bersama-sama! Err…
Tentu saja itu analogi konyol dari sang gadis yang sedang kasmaran—untuk apa Antonio menginginkan mereka bunuh diri dengan absurd-nya begitu? Meskipun itu akan jadi tragedi yang manis… seperti Romeo dan Juliet versi modern atau semacam itu.
Alih-alih ke jurang terdalam, ternyata Antonio membawa mereka ke sebuah toko kecil dekat kota. Dan juga, alih-alih pergi berduaan saja seperti remaja yang menghabiskan sore hari dengan berkencan, nyatanya Lovino ikut bersama mereka. Pemuda itu dengan tiba-tiba menawarkan diri dan bilang, "Aku ikut. Aku bosan berada di apartemen sendirian."
Dan tentu saja, 'kan, Nesia tidak bisa menolak? Selain sepertinya Antonio tidak keberatan, lagipula gadis itu juga rasanya rindu dengan kebersamaan mereka bertiga yang akhir-akhir ini harus terkorbankan demi kegiatan kurikuler atau ekstrakurikuler.
Sebuah toko yang mereka kunjungi tidaklah begitu besar—hanya seluas belasan meter persegi yang berada di ujung jalan di dekat kota. Berdiri di antara deretan stand pertokoan dan gedung-gedung lainnya, toko itu tampak mencolok oleh hiasan, dekorasi, dan style bangunannya yang cukup unik, dan memikat mata. Dibentuk dengan arsitektur menyerupai rumah jamur layaknya di negeri dongeng, toko itu tampak signifikan dengan ukuran dan bentuknya yang mungil. Temboknya berwarna kuning pucat dan atapnya seperti payung jamur yang berwarna oranye dengan polkadot putih. Dua jendela tampak di bagian depan—terletak di masing-masing sisi pintu yang berwarna kuning matang. Dari jendela tersebut, terpampang shop-window yang memajang benda-benda yang sebagian besar berwarna shocking pink! Sebut saja sebuah teddy bear ukuran jumbo, beberapa barbie, sepatu, tas, tirai aksesoris, dan semua hal yang wajar ditemui sebagai benda koleksi perempuan. Di sekeliling toko tersebut terdapat berbagai macam tanaman perdu dan semak-semak hijau, yang membuat siapapun yang memandang, merasakan ada sebuah negeri dongeng yang nyempil di tengah suasana kota metropolitan.
Memandang bangunan yang cukup… 'apa-apaan' itu, Nesia hanya meringis garing bercampur sweatdropped. Dalam hati, gadis itu tak habis pikir mengenai alasan Antonio membawanya ke sebuah tempat yang begitu… girly demikian.
"Aku melihat toko ini saat aku pulang dari mengantar Ibu dari departement store beberapa hari yang lalu," kata Antonio ceria, seolah menyadari pemikiran Nesia.
Sedangkan Lovino? Sudut sebelah matanya yang berkali-kali berkedut itu sudah cukup mampu menandakan betapa pemuda itu merasa khawatir akan ancaman katarak kedua matanya akibat silau dari dunia merah muda yang tengah ditatapnya itu.
"Bastardo!" maki Lovino pelan, ketika mereka telah memasuki toko tersebut, "Kau sinting atau sudah tidak waras? Apa-apaan yang ingin kau lakukan di tempat seperti ini?!"
Lovino sedikit memelankan suaranya dan melunakkan ekspresi kesalnya, ketika seorang gadis yang memakai kostum lollyta merah muda, menghampiri mereka dan menyapa ramah dengan senyum manis.
"Silahkan, Bros and Sis'," ujarnya ramah, yang dibalas oleh anggukan dan ringisan kikuk Nesia, senyum riang Antonio, dan tatapan terganggu Lovino ketika menatap pakaian si gadis yang tampaknya ribet, berat, dan penuh renda itu.
"Ada sesuatu yang ingin kubeli disini," kata Antonio merespon ucapan Lovino, begitu gadis lollyta itu telah berlalu, meninggalkan ketiga murid Hetalia High tersebut kembali berjalan pelan di sekitar toko, "Tetapi aku tidak tahu apa yang harus kubeli."
Lovino mendengus, mungkin tak habis pikir akan apa yang hendak dibeli seorang lelaki di toko yang serba perempuan seperti ini.
Sedangkan Nesia sibuk mengedarkan pandangannya kesana dan kemari. Bulu mata lentiknya berkedip perlahan ketika mengamati desain interior dan isi toko.
Jika penampilan luar toko tampak begitu terlihat dongeng, maka penataan bagian dalam toko akan benar-benar membuatmu merasa tengah berada dalam negeri dongeng. Wallpaper tembok di sebelah kiri Nesia bergambar hutan lengkap dengan 'isi'nya, seperti harimau, kelinci, unicorn, dan berbagai macam burung. Di sebelah kanan Nesia terdapat wallpaper bertemakan istana negeri dongeng, dengan satu kuda putih, awan seputih kapas, istana semegah angkasa, taman yang luas dan indah, dan beberapa prajurit kerajaan. Di belakang Nesia, di tembok di mana pintu dan jendela berada adalah wallpaper bertemakan 'dunia bawah laut' serta segala isinya yang biasa kau jumpai di dongeng Little Mermaid. Dan pada tembok sebelah kanan adalah wallpaper 'dunia langit' lengkap dengan para putri (atau bidadari) bersayap itu.
Siapapun pemilik toko ini, Nesia yakin ia adalah seorang yang begitu terkena princess atau prince syndrome!
Toko ini ternyata menjual berbagai macam pernak-pernik yang biasanya, akan dibeli oleh atau untuk perempuan. Di bagian kanan adalah berbagai macam aksesoris, mulai dari aksesoris perhiasan dari berbagai macam jenis, bentuk, warna, dan tentunya, harga dan kualitas. Kalung, gelang, anting, dan sebagainya, terdapat di sana. Di samping bagian perhiasan, adalah bagian aksesoris pakaian, seperti syal, korsase, bros, dan apalah namanya semua itu. Di bagian ujung kiri sana terdapat bagian yang memajang berbagai macam jenis topi. Lantas di sebelahnya terdapat berbagai macam jenis sepatu, dari formal, non-formal, hingga semi-formal. Ah iya, juga jangan lupakan rak bagian boneka, hiasan dinding atau kamar (seperti tirai aksesoris, sarung bantal), aksesoris HP, laptop, dan semuanya! Dan semuanya!
Meski dari luar tampak begitu imut dan mungil, ternyata toko ini lumayan besar juga jika kita telah ke dalamnya.
"… Memangnya… apa yang ingin kau lakukan di sini, Antonio?" gumam Nesia sembari masih memandang ke sekeliling, kepada pemuda yang tampak berjalan-jalan pelan di sampingnya dan mengamati pajangan aksesoris rambut wanita. Sedangkan Lovino memasang ekspresi tidak peduli dan mengekor di sebelah Nesia.
"Tentu saja untuk membeli sesuatu," ujar Antonio.
Menoleh, Nesia menatap heran ke arah Antonio.
… Antonio tidak tengah mengalami kebimbangan orientasi diri, 'kan?
"Bukan untukku, kok! Ahaha!" seolah menyadari pikiran absurd Nesia, Antonio tertawa sembari menggerak-gerakkan kedua telapak tangannya. Lantas pemuda itu tersenyum lebar dan mengerling, sembari mengucapkan sesuatu yang membuat jantung Nesia seketika berdegup cepat, "Terkait untuk siapa, itu masih rahasia, ya!"
Dan yang dilakukan Nesia hanya terdiam.
Mendengar pernyataan Antonio dan kerlingan mata emerald-nya itu, membuat Nesia secara mental begitu mengharapkan—ngarep.
Apakah Antonio akan membelikan hadiah untuknya?
"J—jika ada seorang lelaki yang i—ingin memberimu hadiah, kau ingin dia memberimu apa?"
Apakah semua ini adalah perwujudan dari pertanyaan Antonio waktu itu saat mereka menghadiri malam festival komunitas Jepang? Bahwa pemuda itu akan memberinya hadiah? Bahwa pemuda itu, akan membeli sebuah barang dari toko ini, lantas memberikannya sebagai hadiah untuk Nesia?
BLUSH.
Mendapat pemikiran seperti itu, Nesia tidak kuasa menahan rona merah di wajahnya yang kemudian dengan cepat menjalar hingga ke telinganya. Jantungnya berdegup kencang, dan kedua matanya menatap Antonio dengan tatapan seolah mimpi terindahnya kini hadir di depan matanya dalam wujud nyata.
"Kau ingin memberi orang lain benda dari toko sialan ini, Bastardo?" ujar Lovino, lantas mendengus seolah ia tengah menahan geli, "Seleramu payah sekali."
"Kenapa?" ujar Antonio menatap heran, "Cewek memang harus diberi barang-barang seperti semua ini, 'kan?"
Nah!
'cewek'! Orang yang akan diberi Antonio hadiah adalah seorang wanita.
Dan.. dan tidak ada perempuan lain selain Nesia, yang cukup dekat dengan Antonio untuk mampu diberikan hadiah oleh Antonio, 'kan?
'YaTuhanYaTuhanYaTuhanYaTuhan YaTuhanYaTuhan~~~~!' batin gadis itu tidak karuan.
Mereka kembali berjalan-jalan. Antonio kembali mengamati tiap barang yang dijual di toko itu. Tiap rak. Tiap pajangan. Sedangkan Nesia hanya mampu mengekor sembari menunduk, sesekali dengan memekik tertahan dan girang sendiri dengan segala asumsi dan pikirannya akan semua ini.
Cukup lama mereka berkeliling toko, hingga pada akhirnya langkah Nesia berhenti di depan rak pemajang alat kecantikan perempuan, ketika Antonio melakukan hal yang sama.
"Nes, bisakah kau pilih satu dari semua barang yang ada di toko ini, yang menurutmu paling menarik dan paling bagus?" tanya Antonio menatap Nesia dengan pandangan sungguh-sungguh.
.
.
Dan Nesia hanya meng-'e—eh….' dan menatap terkejut.
.
.
Demi apapun yang ada di dunia ini… DEMI APAPUN! Antonio benar-benar… Antonio…. Dia…
Rasanya gadis itu terbelit dalam pemikirannya sendiri bahkan untuk mampu menyelesaikan kalimat yang dia pikir dan rasakan. Hatinya sibuk melakukan kopral dan jantungnya seolah siap untuk salto meloncat keluar dari rusuknya—yeah, itu lebay. Tetapi itu cukup pantas untuk menggambarkan betapa senang dan melambungnya perasaan gadis itu.
Akhirnya…
Tetapi, untuk apa Antonio memberinya hadiah? Nesia ingat betul tanggal berapa ulang tahunnya—dan itu bukanlah hari ini. Nesia juga tidak sedang merayakan kesuksesan dalam apapun. Dan tentu saja, Nesia bukanlah gadis yang cukup miskin hingga membuat orang lain berniat memberinya sumbangan alat pemanis penampilannya.
Apakah Antonio akan menyatakan perasaa—
"Nes?"
Gumaman heran Antonio membuyarkan lamunan Nesia. Membuat gadis itu terlihat, sangat jelas, kikuk dan segera menunduk untuk berpura-pura merapikan poninya.
"O—oke!" ujarnya dengan begitu buru-buru.
'Oke, Nes' batin gadis itu, 'Tenang… Tenang. Jangan gugup dan pura-puralah dirimu tidak menyadari semua ini… dan nanti, saat dia berikan, pura-puralah dirimu terkejut dan tak pernah menyangka bahwa barang yang kau pilih, ternyata ia belikan untukmu sendiri.'
Pada akhirnya, Nesia memang melakukan permintaan Antonio—memilih benda yang menurut gadis itu paling bagus, paling manis, dan paling anggun untuk dipakai oleh seorang perempuan. Dan setelah berkeliling cukup lama, Nesia pada akhirnya menjatuhkan pilihannya pada liontin dengan gandul kecil berbentuk seekor burung merpati yang terbuat dari perak.
Merpati putih. Lambang kesetiaan dan keabadian, 'kan?
Dan sepertinya Antonio cukup menyukainya, karena pemuda itu tersenyum dan mengatakan 'cukup bagus, Nes' kepada gadis itu, sebelum menuju ke arah meja kasir.
Dan ternyata pemuda itu meminta si kasir lelaki yang berpakaian a la seorang butler kerajaan itu, untuk membungkus liontin itu dalam sebuah kotak kecil dan kertas yang berwarna soft, tetapi cukup menarik.
Melihat semua itu, rasanya Nesia ingin pada saat itu juga mengambil kotak itu dan mengucapkan terimakasih kepada Antonio. Rasanya saat itu juga ia ingin begitu memeluk pemuda itu, mencium pipinya, keningnya, hidungnya, dan kedua bibir tipis itu.
Sudah Nesia duga. Dari awal Nesia sudah menduga bahwa Antonio adalah pemuda yang begitu manis. Begitu tampan dan irresistibly, undeniably cute!
Lihatlah. Betapa manis dan romantisnya dia memberi kado seperti itu…
Nesia yang berdiri di belakang Antonio, hanya menatap punggung pemuda itu dengan pandangan dan senyum dreamy. Sebuah helaan napas dalam dan pelan terhembus dari mulutnya—sepertinya hati gadis itu benar-benar tengah melambung sekarang—
"Oh!"
"Kita tunggu di luar saja! Di sini begitu pengap!"
Nesia memekik terkejut ketika ia merasakan lengannya ditarik dengan begitu tiba-tiba dan sedikit paksa, oleh Lovino. Dan tanpa bicara apa-apa lagi, Lovino langsung menyeretnya cepat untuk menuju ke pintu ke luar.
"Lovi—"
"Kita tunggu di luar saja," kata Lovino tanpa menoleh ke arah Nesia—tetap melangkah dengan pandangan ke arah pintu toko.
Dan Nesia merasakan pegangan Lovino di pergelangan tangannya sedikit mengerat.
"…Lovi?" gumam gadis itu, menoleh ke belakang dan menatap Antonio yang sepertinya tidak terlalu menyadari kepergian mereka, "Tapi Lovi—"
"Kita tunggu di luar saja," ulang Lovino seperti kaset rusak. Dan seperti sebelumnya, Nesia rasakan pemuda itu mengeratkan pegangannya, "… Kumohon. Aku ingin menunggu di luar. Kumohon, temani aku—bersamalah denganku."
Dan Nesia hanya menurut. Lagipula Antonio juga pasti akan menyusul, 'kan?
Hanya saja…
Dengan posisi yang masih ditarik oleh Lovino, Nesia hanya mampu menatap heran pada punggung pemuda itu.
Kalau masalahnya hanya ingin menunggu di luar, pemuda itu tidak harus menggunakan nada semuram itu, 'kan, ketika berbicara padanya?
-oOo-
Saya peringatkan Anda, jangan terlalu laman bernyaman-nyaman ria. Masuki dunia fluff sebanyak mungkin, karena we shall get down to the real bussiness, real soon :D Saya kasih clue saja, Absurdities tidak selamanya berisi hal-hal fluff atau humor. The genre mentioned should tell you that much—yep, Drama :p
Just wondering, does anybody here love NorwayxBelarus? 'Cause I am starting to adore this pairing.
Next Chapter
"Oh, cowok Spanyol itu, ya? Apa keisenganku waktu MOS dulu benar-benar membuatmu menyukainya?"
.
"AKU BERSUMPAH AKU AKAN MEMBUNUHMU JIKA KAU IKUTI AKU!"
.
"Hiks… Antonio… An—Tuhan… Antonio…"
.
"Siapa yang menjamin kau tidak loncat karena putus asa? Jangan berpikir aku peduli atau apa, tetapi kau pikir akan jadi apa reputasi Hetalia High jika salah satu siswinya ditemukan mati mengambang konyol di sungai ini?"
.
"Kau tinggal di kawasan Green Brooklyn, kan? Aku akan melewati kawasan itu—aku harus pergi ke suatu tempat di dekat sana. Kau bisa ikut bersamaku."
Pojok Review. Monggo~
Jaga hatiku ya, DIS-san / Just lock your heart and give the key to me. Oh, make sure there's no spare key :) #gombalgembel / Tumben bahasanya ga alay / Haha, move on, ah~ / Romance UKNes-nya manis meski romanceTsundere / Yep, bray / Keren banget / #runfingersthroughmyhair #salah / Chapter ini rada-rada melankolis / Galau kan lagi nge-trend, bro :D / Ditunggu LoviNes chapter depan / Tuh. Tuh. LoviNes udah mejeng di ujung / Arthur itu mukanya emang uke banget / Akan saya buat dia super duper ekstra mega eksekutif seme! / Saya seneng Nesia akhirnya move on dari si Tulip / Hu'um :D #bingungbalasapalagi / Interaksi UKNes sudah membaik / Yeah, bow down to me and worship the awesome me as much as you lik—#keburudibogemgilbert / Willem business oriented banget / :D / Ada typo / Oke. Makasih udah nunjukkin. Sekarang? / Bagian Nesia ketemu Bella kerasa cepet / Ciyus? Makasih atas kritiknya :) / Adain scene Nesia dan Willem ketemuan lagi / Pasti! Catat dan ingatkan saya lagi soal ini :D You have my words / Panjangin lagi dong / #teparduluan / Semoga confession itu dari Arthur buat Nesia / Yeeee… anda salah! #tebarconfetti #salah / NetherNesia bikin mewek / #kasihpundungzoneter-PW / Kapan UKNes akur? Arthur bentar lagi lulus lho / Ha? Arthur masih kelas 2, bray :D / Makin kesini, makin bingung milih pair utama, makin bingung soal endingnya / Jangan dipikir seserius mikirin problem Negara, ah :D / keluarga Asia mana? / Vietnam udah ada. China udah. Jepang udah. Taiwan udah. Sapa lagi? Saya ga mau nambah OC selain Nesia sih :/ / Antonio naksir Nesia ga sih? / Hm… Antonio naksir Arthur kok #jiwaUKSpkumat / Aku ga pernah ninggalin fic awesome-mu ini / Ciyus? Muuchy! Please stay by my side and I'll make you the happiest person in the world! #confession #plak
Mohon kesediaannya mereview. Anda ga bisa bayangkan betapa cetarr membahana dahsyatnya pengaruh review Anda terhadap semangat dan kegembiraan saya.
Mau saya update cepet? Mau Absurdities kelar? Mau pertanyaan dan rasa penasaran Anda segera terjawab?
Cukup satu hal: REVIEW :D
Oke, bray?
Terimakasih.
From FHI with passion,
DIS
