Saya hanya merasa bahwa saya harus update cepet—thanks banget buat apresiasi kalian lewat review :3 #emoticonapaini


Guidance:

Kompleks gedung A: Tempat di mana para murid kelas 1, dan sebagian kelas 2, belajar secara formal

Kompleks gedung B: Tempat di mana para murid kelas 3 belajar secara formal

Kompleks gedung C: Tempat di mana para murid kelas 2 belajar secara formal

Character:

Nesia, Antonio, Lovino, Lily, Feliciano, Mei: kelas 1

Arthur, Alfred, Tiino, Vash: Kelas 2

Francis, Gilbert, Elizaveta, Bella, Andrew, Ludwig, dan karakter2 lain: kelas 3

Chau dan Maria: Excluded

Semoga membantu :D


Pagi ini langit kembali mendung—tampak kelabu dengan awan tebal yang menggantung dan terlihat begitu rendah, siap menumpahkan air langit yang dikandungnya. Angin lirih sesekali berhembus, membawa udara dingin yang membuat tak heran jika sebagian besar orang telah menanggalkan pakaian musim panas dan mulai menggunakan pakaian musim gugur yang sepertinya sebentar lagi datang menjelang. Suasana yang seperti ini sih paling tidak cocok jika digunakan untuk melakukan sesuatu selain dua hal: tidur di ranjang yang empuk dan selimut hangat, atau menikmati minuman atau makanan penghangat badan.

Tidak cocok sekali jika dipakai untuk pergi ke sekolah, ke kantor, atau kemanapun selain berdiam di rumah tersayang.

Lihat saja, hal itu dibuktikan dengan mayoritas siswa—bahkan beberapa guru dan karyawan—Hetalia High yang tampak sedikit mengeluh akan rutinitas pagi ini di mana cuaca dan kondisi justru sangat membuat mereka merindukan rumah. Lihat saja ekspresi mengantuk mereka—berkali-kali mengucek mata, menahan uap kantuk, bahkan ada siswa yang berjalan di lorong dengan mata separuh terpejam, atau tertidur di kelas. Meski waktu baru memasuki periode makan siang—yang biasanya justru membuat semangat, tetapi sepertinya sebagian besar civitas akademika rasanya tidak sabar menunggu bel pulang.

Kalau dikatakan dengan kalimat singkat, hari mendung dengan angin berhembus lirih dan dingin seperti ini di satu sisi terasa merepotkan, namun di sisi lain juga memberikan rasa nyaman.

Um…

Sepertinya deskripsi di atas tidaklah terlalu tepat. Karena sekalipun semua orang tampaknya bagai beruang yang siap berhibernasi, tetapi ada beberapa manusia yang masih semangat menjalani hari-harinya sekalipun kondisi sekitarnya seolah kehilangan seluruh semangatnya. Satu dua karyawan masih tampak semangat melaksanakan tugasnya—mengepel lantai, lorong, dan apalah. Beberapa guru masih semangat memberikan pengetahuan di kelas. Beberapa siswa dan siswi juga masih tampak segar di tengah cuaca dingin dan melenakan begini—menuju ke klub, bermain sepak bola, basket, atau permainan lain, atau bercanda riang di kantin, kelas, atau taman.

Atau…

Melangkah dengan langkah riang dan sedikit melompat-lompat, sembari mulut berdendang kecil.

"Baby you light up my world like nobody else. The way that you flip your hair gets me overwhelmed! But when you smile at the ground it ain't hard to tell," lagu beken dari sebuah Boyband asal Inggris itu ternyanyikan lirih dengan nada yang terdengar seriang sorot mata hitam kecoklatan itu—secerah senyum yang mengembang—sebahagia aura suka cita yang terpancar sempurna dari gadis berseragam siswi Hetalia High itu.

"You don't know, Oh Oh! You don't know you're beautiful!" melangkah riang di lorong, tanpa memedulikan pandangan beberapa murid lain yang kebetulan juga ada di situ.

Tetapi siapa yang peduli?

Annesia Saraswati selalu tidak peduli pada apapun di sekitarnya jika yang tengah ada di pikiran dan perasaannya hanyalah pemuda bersurai ikal coklat dan bermata emerald itu.

Nesia selalu tak peduli pada apapun di dunia ini ketika Antonio Carriedo mendominasi pikiran gadis itu—seolah bayangan pemuda itu mencegah hal lain untuk menyentuh pikiran Nesia.

Selalu.

Selalu begitu.

Ah! Kira-kira kapan, ya, Antonio akan menemuinya dan memberinya hadiah yang kemarin dibeli pemuda itu di toko fairy tale-like itu? Liontin dengan gandul merpati putih—pilihan Nesia—bentuk dan lambang dari kesetiaan.

"Kyaaa!" Nesia tak peduli rasanya pada pandangan heran orang sekitar, ketika ia memekik tertahan demikian sembari mengepalkan kedua tangannya di depan dada dan memejamkan mata dengan senang. Hanya dengan membayangkan Antonio memberinya hadiah itu…

Oh, Tuhan! Rasanya Nesia sudah tidak menginjak bumi lagi—terbang bahkan melintasi langit ke tujuh!


Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

What Makes You Beautiful (c) One Direction

I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.

Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.

Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedar hints dan fans service :p

Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D

Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D

Maju FHI!

Happy reading :D


Saking melambungnya perasaan Nesia, gadis itu rasanya tidak sabar untuk bertemu Antonio dan ketika ia mendengar bel periode istirahat dimulai, ia langsung ngacir keluar kelas dan melangkah-langkah riang berniat mencari pemuda Latin tersebut.

Bahkan tanpa memedulikan pertanyaan Lovino Vargas yang menawarinya makan siang di kantin bersama.

Pagi tadi Nesia tidak berangkat bersama dengan Antonio—mungkin pemuda itu lagi-lagi membawa motornya dan terpaksa meninggalkan Lovino dan Nesia untuk berangkat berdua saja. Dan Nesia tidak memiliki kesabaran yang cukup untuk menunggu waktu pulang sekolah—lagipula belum tentu juga Antonio bisa pulang bersama, 'kan? Oleh sebab itu, gadis itu rela menunda makan siangnya demi melangkah menghampiri kelas Antonio.

Biarin deh. Lagipula daripada cacing yang menggelar konser lapar, di perut Nesia sekarang seolah terdapat sejuta kupu-kupu yang begitu menggelitik perasaannya.

Dan ternyata Antonio tidak berada di kelas. Salah seorang teman Antonio mengatakan bahwa pemuda itu langsung pergi ke klub begitu bel dimulainya periode istirahat terdengar. Dan tanpa menunggu lama lagi, Nesia segera banting setir untuk melaju ke arah ruang klub Musik yang kebetulan sekali, berada di kompleks gedung B.

Meski jaraknya cukup jauh… Tapi gak papa deh! 'Kan ada Antonio di situ!

Haha!

Di sinilah Nesia berada. Di lorong yang akan mengantarnya pada sebuah ruangan yang menjadi ruang klub Musik. Perjalanan dari kompleks A ke kompleks B yang jaraknya lumayan itu, sepertinya tidak menguras tenaga gadis itu karena ia masih juga melangkah riang, bersenandung kecil, dan sedikit melompat-lompat kecil antuasias.

Matanya semakin berbinar ketika melihat pintu berwarna keemasan di depan sana—di ujung lorong sana. Sebuah papan di atas pintu yang bertuliskan 'Klub Musik' sangat jelas menunjukkan bahwa tempat itulah tujuan Nesia—tempat itulah di mana Antonio berada.

Rasanya Nesia ingin memasang kakinya dengan roket saja agar cepat sampai.

Karena secara logika tidak mungkin memasang roket di kakinya, setidaknya untuk sekarang, maka Nesia menggunakan cara paling konvensional untuk memercepat langkahnya—berlari.

Sekencang mungkin agar cepat sampai di ruang klub Musik itu.

Berlari, dengan sedikit susah payah melewati para murid lain yang juga tengah berada di lorong.

Berlari kencang dan menatap antuasias ke depan—tanpa memerhatikan sekitar—

—tanpa memerhatikan ia tengah melintasi persimpangan lorong dan—

DUKH!

"OW!"

—tanpa menyangka bahwa ia akan bertabrakan dengan seseorang yang berbelok dari persimpangan lorong, dan menuju ke arahnya.

Pekikan terkejut terdengar tak hanya dari mulut Nesia, tetapi juga dari orang yang barusan tanpa sengaja, ia tabrak—atau menabraknya?—tersebut.

Nesia sedikit terjajar mundur dan menyentuh dahinya ketika kepalanya tanpa sengaja terbentur cukup kuat (salahnya sendiri lari maraton begitu di lorong) dengan bahu orang itu.

"You bloody fuck! Perhatikan kemana kau pergi!" dan 'orang itu' mengumpat kesal.

Nesia sudah siap melontarkan kata maaf dan membungkuk menyesal—setidaknya sebelum ia mendengar rentetan umpatan itu. Dan setidaknya, sebelum ia membuka kedua matanya yang sebelumnya terpejam merasakan sakit dahinya…

…Dan menatap ke depan demi melihat Arthur Kirkland yang memandangnya dengan tajam sembari sebelah tangannya memegangi bahu kirinya.

.

.

Sekarang musnah, sirna, dan lenyaplah semua euforia yang sebelumnya sempat terasa, begitu sumber dari keburukan dunia sekarang ada di depan Nesia.

.

.

Rasanya Nesia ingin tertawa miris karena alih-alih bertemu dengan Antonio yang tersenyum cerah dan hangat padanya, Nesia kini harus berhadapan dengan setan yang dari ekspresinya, sepertinya siap mengkanibal dirinya di tempat umum begini.

Ekspresi begitu… seolah-olah hanya dia saja yang dirugikan oleh kejadian barusan!

Si alis itu pikir Nesia tidak nyaris mengalami gegar otak gegara dahinya kebentur bahunya seperti barusan?

Menatap orang seperti itu, segala niatan Nesia untuk meminta maaf menguap entah kemana. Alih-alih memasang wajah bersalah, Nesia sengaja ingin membuat Arthur bertambah dongkol, dengan menjulurkan lidahnya dan mengacungkan jari tengah kirinya.

Yeah.

Kehormatan bagi Arthur yang menjadi orang pertama, di negeri Paman Sam ini, yang mendapat acungan jari tengah dari seorang gadis yang terbiasa bersopan santun seperti Nesia.

Dan Nesia langsung saja melanjutkan langkahnya—

—setidaknya sebelum ia gagal membuat langkah ketiga ketika sebelah lengannya ditarik dan tubuhnya terbalik dengan paksa demi menghadap Arthur Kirkland yang menyipitkan kedua matanya tajam, seolah dengan pandangan itu pemuda itu berniat membakar Nesia hidup-hidup.

"Apa yang baru saja kau tunjukkan padaku?" desis Arthur dengan dahinya yang berkedut super dongkol.

Mungkin karena saking bencinya atau saking terbiasanya, Nesia justru mendelik menatap senior di depannya, "Kau tak tahu?" gadis itu mengangkat lagi jari tengah kirinya, kali ini tepat di depan muka Arthur, "Fuc—Ow! Ow!"

Arthur meremas kuat jemari tangan kiri Nesia hingga Nesia berani bersumpah bahwa ia merasakan ada pergeseran sendi yang terjadi di dalam tulang jemarinya.

"Apa itu cara seorang wanita di negaramu saat berhadapan dengan orang lain?"

"Lepaskan!" teriak Nesia, berusaha melepaskan cengkeraman tangan Arthur di jemari tangan kirinya, "Apa laki-laki Inggris terbiasa menyakiti perempuan begini?"

"Perempuan?" gumam Arthur sembari menoleh dan menyipitkan pandangan kesana-kemari, "Mana? Di mana ada perempuan?"

Diragukan gendernya seperti itu, Nesia menyipit dan meringis antara dongkol dan sakit, kepada pemuda di depannya itu. Ia sudah terlanjur dongkol dengan pemuda di depannya itu. Dan sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk berperang ria untuk yang kesekian kalinya dengan setan berwujud manusia itu.

Nesia rela menghabiskan waktu istirahatnya, berjalan jauh hingga ke kompleks B, dan menunda waktu makan siangnya, bukan untuk tersiksa batinnya seperti ini, 'kan?

Sialan!

DUKH!

"Ow!"

Dan Nesia langsung ngacir begitu ia sukses menendang lutut Arthur—meski pengennya ia menendang wilayah yang paling menyakitkan bagi seorang lelaki, tetapi gagal ketika Arthur sempat sedikit menghindar dan justru mengorbankan sebelah lututnya sebagai landasan sepatu Nesia.

Che. Refleks pemuda itu bagus juga. Tapi sampai mati Nesia tidak akan mengatakan hal yang membuatnya lebih baik memotong lidahnya sendiri daripada mengatakan pujian seperti itu pada orang 'seperti itu'.

Nesia berbalik, melangkah cepat-cepat. Dan baru saja ia sampai di depan jendela Klub Musik, ia merasakan ujung kerah blazer-nya tertarik dari arah belakang.

Gadis itu tidak begitu terkejut ketika mendapati bahwa tangan Kirkland-lah yang berbuat demikian. Tetapi demi apa banget cowok kurang kerjaan itu sampai begitunya?! Tidakkah ia sedikit kekanakkan hingga mengejar Nesia seperti ini? Tidakkah urusan OSISnya jauh lebih penting daripada sekedar berperang demikian dengan Nesia?

Ah iya.

Nesia memutar bola matanya.

Menyakiti dan menyiksa mental Nesia hingga Nesia merasa lebih baik mati saja, adalah kegiatan yang sepertinya jauh lebih berharga daripada mengurusi OSIS!

"Jangan kau pikir kau bisa pergi setelah bertindak barbar seperti itu!" desis Arthur, "Sebagai Ketua OSIS Hetalia High, aku berkewajiban untuk—"

"Lepaskan!" desis Nesia keki. Namun ia justru harus meringis sakit dan memegangi lehernya ketika Arthur semakin menarik kerah bagian belakang blazernya, "Kau berniat membunuh—uh!"

Sialsialsialsial!

Apa-apaan Ketua OSIS Hetalia yang kabarnya merupakan siswa teladan dan penuh sopan santun itu? Hoax banget, sih! Teladan apanya? Sopan santun apanya? Mana ada siswa teladan yang demikian kasar? Dan mana ada Ketua OSIS yang berniat membunuh murid yang menjadi 'rakyat'nya seperti ini?

Lagipula…

Bukankah Nesia sering dengar kabar dari teman-teman perempuannya bahwa Senior Arthur adalah tipe yang sangat—hoek!—gentleman sekali? Tipikal Earl atau bangsawan Inggris lainnya. Hormat pada wanita. Tahu norma. Dan sangat menjunjung tinggi aturan.

Nyatanya?

Kasar. Tidak tahu terimakasih. Sok. Tidak sopan. Pemabuk. Sok menguasai. Sok keren. Sok cakep. Sok kaya. Sok jenius. Sok tidak tahu diri—!

Rasanya tidak cukup sekalipun Nesia sudah menyertakan semua kata sifat buruk yang ada dalam kosakata seluruh bahasa, untuk mendeskripsikan Arthur.

"Dengar, Indonesia—"

Uh! Beraninya dia membawa identitas!

Kurang ajaaaarrrr!

"—Aku tidak tahu apa masalahmu kepadaku—"

Oh?

Jangan membuat dunia tertawa, deh!

"Tetapi kuperingatkan kau..."

Ucapan Arthur seolah perlahan teredam ketika dari sudut pengelihatan Nesia, tanpa sengaja Nesia menangkap warna pirang. Bukan, itu bukan warna rambut Arthur yang bagi Nesia, jeleknya minta ampun itu.

Warna pirang itu berasal dari sisi kanannya—seperti dari kaca.

Dan gadis itu melirik ke arah kaca bening di sampingnya. Kaca ruang Klub Musik.

Di pantulan kaca bening itu, ia bisa melihat pantulan dirinya yang sedang tercekik oleh cengkeraman kuat Arthur di kerah blazernya, dan juga pantulan Arthur yang tengah mengumpat-umpat kesal padanya—entah bicara apa. Nesia tidak tahu. Nesia tidak mendengar.

Bagaimana bisa mendengar ketika pandangan dan pikiran gadis itu sudah tertuju pada hal yang lain?

Warna pirang dari helai seorang perempuan. Perempuan yang ada di dalam ruang Klub itu.

Dan bukanlah perempuan itu sebenarnya yang membuat Nesia rasanya tidak peduli bahkan jika Arthur sekarang benar-benar membunuhnya.

Tetapi seorang pemuda yang juga berada di dalam ruang klub itu. Berambut coklat gelap—ikal. Dengan dua bola emerald yang masih terlihat berkilau bahkan ketika Nesia melihatnya hanya dari pantulan kaca. Seorang pemuda dengan senyum hangat, cerah.

Antonio.

Dan bukanlah fakta bahwa Antonio berada di ruangan itu saja yang membuat Nesia merasakan perasaan aneh. Bukanlah perasaan aneh yang menyenangkan seperti ada jutaan kupu-kupu yang berterbangan di perutnya. Bukan perasaan aneh yang membuatnya bermimpi indah dengan wajah pemuda yang sama dalam tiap mimpi itu. Bukan perasaan aneh yang membuatnya sering melamun dan tersenyum bahagia.

Tetapi…

Mengapa Antonio berdiri berhadap-hadapan dengan perempuan berhelai pirang itu?

Seorang perempuan yang cukup cantik—ah, bukan. Sangat cantik. Dengan dua bola mata emerald-nya. Dengan hidungnya yang tinggi. Dengan helai pirang sebahunya yang tampak lembut. Dengan sebuah bandana merah yang terhias disana.

Dengan sebuah name tag yang bahkan tanpa Nesia lihat, bertuliskan Bella Van Hardt.

"..Dan kau tahu apa? Kau tidak—Hmpfh!"

Dengan cepat dan paksa, Nesia membekap mulut Arthur dan menyeret pemuda itu untuk merapat ke tembok di tepi jendela kaca.

"Diam!" bisik Nesia dengan menekan kuat telapak tangannya ke mulut Arthur, tak peduli pemuda itu yang tampak cukup kesulitan menghentikan perbuatan Nesia tersebut.

"Bwah! Apa yang—hmpfh!"

"Kubilang diam!" pelotot Nesia dongkol.

Tanpa memerdulikan sorot protes dan garang Arthur, Nesia mengalihkan pandangan dan mengintai dari tepian jendela kaca.

Memang sih, ini tidak baik. Dan secara mental Nesia sudah cukup malu dengan apa yang diperbuatnya demikian. Apa urusannya hingga seperti menjadi seorang stalker begini? Tetapi…

Tetapi tidakkah wajar jika ia merasa ada yang aneh? Ada yang membisikkan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi? Sesuatu yang tidak terduga. Tidak ia sangka.

Sesuatu yang rasanya tidak ingin ia ketahui, namun di saat yang sama sangat membuatnya penasaran.

Dengan dua bola hitam kecoklatannya, Nesia melihat.

Antonio yang berdiri. Senior Bella yang berdiri di depannya. Antonio yang tertunduk—seperti mengamati barisan semut yang seolah ada di dekat sepatunya. Senior Bella yang mendongak menatapnya dengan tatapan heran.

Dan dari melihat kedua mulut mereka, mereka sepertinya tengah sama-sama terdiam—tak berucap apapun juga.

'Apa yang terjadi?' pikir Nesia risau. Pikirannya terlalu terfokus pada apa yang tengah dilihatnya untuk mampu memberikan perhatian pada Arthur yang kini berhasil menyingkirkan tangannya. Dan mungkin karena penasaran, pemuda itu turut melongok di tepian jendela untuk melihat apa yang sepertinya begitu membuat Nesia terfokus.

Tetapi siapa yang peduli?

Siapa yang peduli pada Arthur?

Karena sekarang yang ada di pikiran Nesia hanyalah Antonio, Antonio, dan Antonio!

Kenapa Antonio begitu? Kenapa Antonio berdiri terdiam begitu? Kenapa hanya ada Antonio dan Senior Bella di ruangan itu? Kemana yang lain?

Dan…

Dan mengapa Antonio tertunduk seperti itu? Seolah-olah ia tengah menahan malu? Seolah-olah ia tengah tidak percaya pada dirinya sendiri? Padahal kapan Antonio tidak yakin pada diri sendiri? Kapan pula ia bertingkah sebegitunya pada orang lain?

Bahkan seingat Nesia, Antonio tidak pernah tampak demikian canggungnya bahkan saat bersamanya atau dengan Lovino!

Ini…

"Oh, cowok Spanyol itu, ya?" gumam Arthur mengamati jendela kaca, "Apa keisenganku waktu MOS dulu benar-benar membuatmu menyukainya?"

Dan omongan Arthur bagaikan kereta api yang melewati terowongan—bablas tanpa menyentuh sama sekali otak Nesia.

Apa yang dilakukan Antonio? Mengapa? Mengapa ia begitu? Ada apa?

Hanyalah pertanyaan itu yang terngiang di benak Nesia.

Dan Nesia tidak tahu apakah keputusannya untuk mengintai seperti ini merupakan pilihan yang tepat atau tidak. Ia tidak tahu. Ia tidak mengerti apakah nantinya ia akan menyesal.

Karena setelah demikian, kedua bola mata hitam kecoklatannya menatap bahwa Antonio mengeluarkan sesuatu dari dalam saku blazer-nya.

Sesuatu.

Kotak kecil. Berwarna merah muda polkadot merah hati. Dengan sebuah pita berwarna seputih kapas dan terlihat selembut sutra.

Dan setangkai mawar putih yang terbungkus cantik oleh kertas transparan pembungkus bunga.

.

.

Rasanya jantung Nesia terledakkan dari dalam ketika ia menyadari bahwa kotak itu adalah kotak yang sama—persis sama seperti kotak yang kemarin Antonio perlihatkan padanya, begitu mereka keluar dari toko aksesoris tersebut.

Kotak yang berisikan liontin—liontin yang dipilihkan Nesia.

Liontin yang sama, yang Nesia harap Antonio akan memberikannya…

… Untuknya—hanya untuknya.

Sedikit menganga mulut Nesia menyadari hal itu. Jantungnya berdegup kencang. Sangat kencang. Sangat kuat.

Bukanlah degupan yang menyenangkan. Bukan. Sama sekali bukan…

Dan Nesia rasanya tidak tahu harus bagaimana, ketika ia melihat bahwa Antonio menyodorkan kotak itu kepada Senior Bella.

Kotak dan bunga itu tersodorkan oleh Antonio.

Senior Bella yang awalnya terlihat begitu terkejut, lantas tersenyum dan menerimanya.

Antonio yang tersenyum kikuk, dan menggaruk tengkuknya.

Antonio yang bahkan dari sini, orang bermata minus pun mampu melihat bahwa wajah pemuda itu memerah.

Antonio yang menggerakkan mulutnya—mengucapkan sesuatu, tanpa menatap ke Senior Bella yang menatap geli ke arahnya.

Senior Bella yang mengangguk, lantas memejamkan kedua matanya.

Dan…

Dan Antonio yang menunduk sembari memajukan kepalanya…

.

.

Dan Nesia tak tahu apa yang harus ia lakukan pada saat itu, selain dengan refleks memejamkan kedua matanya.

Karena ia tidak membutuhkan pengelihatan untuk mampu menebak apa yang terjadi selanjutnya. Ia tidak membutuhkan kedua matanya untuk menerka apa yang sedang terjadi di depannya.

Ia tidak membutuhkan.

Ia tidak membutuhkan.

.

.

Rasanya…

Rasanya waktu berhenti pada saat itu juga.

.

.

Atau bukanlah waktu yang berhenti, hanya Nesialah yang tidak lagi turut berputar pada porosnya?

.

.

Entah sejak kapan ia merasakan sekujur tubuhnya bergetar seperti ini.

Seperti seluruh tenaganya terkuras—seluruh energinya tersedot oleh kekuatan maha dahsyat yang membuatnya rasanya bahkan tak sanggup berdiri tegak. Sebelah tangannya otomatis berpegangan pada tembok di sampingnya—ia tidak yakin ia masih mampu memiliki daya untuk menegakkan kakinya. Napasnya terhembus cepat-cepat—seolah ia baru terbangun dari mimpi buruknya—atau justru ia baru saja memulai awal dari mimpi buruknya? Kedua matanya terpejam pelan, seolah ia tengah menghindari untuk menatap sebuah teror yang menakutkan baginya.

Dan Nesia tidak tahu mengapa ketika ia rasakan seluruh keinginannya untuk menemui Antonio menguap entah kemana.

Yang gadis itu tahu bahwa ia harus pergi.

Ia harus segera pergi.

Segera.

Kemanapun.

Kemanapun yang mana ia bisa menyelamatkan dirinya.

Ia tidak sanggup—O Tuhan, ia tidak sanggup!

Ia tidak akan sanggup!

Tanpa memedulikan—bahkan tanpa melihat selirikpun pada Arthur yang masih menatap Antonio dan Bella, Nesia berbalik dengan kepala tertunduk dalam.

Melangkah lebar-lebar, bahkan beberapa saat kemudian ia tampak berlari cepat.

Cepat—seolah ia ingin menghindari sesuatu yang buruk, yang tengah mengejarnya.

"Hei!" cetus Arthur terkejut sembari menatap punggung Nesia yang semakin menjauh. Berjalan cepat—berniat menyusul, Arthur berteriak, "Apa yang ka—"

"AKU BERSUMPAH AKU AKAN MEMBUNUHMU JIKA KAU IKUTI AKU!"

… Tuhan…

-oOo-

Mengapa.

Mengapa.

Dan mengapa.

Satu kata itu bagaikan gaungan yang akan terus dan senantiasa berpantul, menggema di setiap sudut pikiran dan hati Nesia. Terus dan berulang-ulang, hingga menyingkirkan segala pikiran lain—memusnahkan semua hal lain dari pikirannya. Senantiasa bergaung kuat. Hanya bergaung, tanpa jawaban. Hanya terteriakkan, tanpa mendapat balasan.

Pertanyaan retoriskah?

Inginkah Nesia mengetahui jawabannya?

Sungguhkah ia peduli?

Mengapa Antonio bersikap begitu? Apa artinya pemuda itu tertunduk malu seperti tadi? Apakah sungguh tidak apa-apa jika Antonio terlihat demikian canggung?

Dan…

Kotak itu…

Tanpa sadar genggaman Nesia di bolpoinnya menguat. Keras, hingga kuku jemarinya memutih—seolah ia hendak mematahkan bolpoin tersebut. Pandangannya terarah pada buku Matematika di mejanya. Namun dari bola matanya yang tampak pasif itu, siapapun tahu bahwa bukanlah deretan kata dan rumus di buku itulah yang kini tengah menjadi fokus gadis itu.

Omongan dan keterangan guru yang menerangkan pelajaran, bagaikan hembusan angin tanpa suara. Suasana kelas seolah melebur di luar imajinasinya. Bahkan ia juga tidak memedulikan—bahkan tidak menyadari pemuda yang terduduk di sampingnya, yang sesekali melirik heran kepadanya.

Tetapi mungkin bukanlah sifat Lovino Vargas yang akan langsung bertanya 'ada apa?'. Lagipula, sepertinya Nesia cukup nyaman berada dalam dunianya sendiri. Lagipula, hanya dengan melihat tatapannya yang kosong dan jemarinya yang sesekali meremas kuat bolpoin itu, setidaknya satu hal yang bisa diketahui: apapun yang tengah dipikirkan gadis itu, pasti bukanlah hal yang menyenangkan.

Cukup tidak menyenangkan hingga membuat gadis yang biasanya akan semangat dan antusias pada pelajaran hitungan ini, kini menjadi begitu pasif—acuh.

Bahkan Nesia tidak sempat pamit kepada Lovino ketika bel pulang telah berbunyi, dan gadis itu segera mengangkat tasnya dan berlari keluar kelas—meninggalkan Lovino yang menatap kepergiannya dengan pandangan antara terkejut dan heran.

Nesia hanya ingin sendiri. Ia ingin sendiri.

Dan betapapun Lovino adalah pemuda yang begitu baik padanya, namun sekarang Nesia ingin sendiri. Bersama orang lain—bahkan jika itu adalah Lovino—adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya sekarang.

-oOo-

Entah bagaimana bisa, Nesia tidak ingat dan tidak begitu peduli, kedua langkah kakinya yang berlari cepat-cepat, kini membawanya berdiri di tepian sebuah jembatan kecil.

Berlari cepat keluar kelas, melewati beberapa lorong yang cukup penuh dengan para murid yang juga keluar dari kelas masing-masing. Menuruni tangga dari lantai tiga hingga lantai dasar. Lantas dengan cepat pula melintasi halaman sekolah yang luas itu.

Tak peduli beberapa kali ia menabrak atau menyenggol murid lainnya. Tak peduli ketika ia tanpa sengaja melintas tepat di depan kendaraan yang juga hendak keluar gerbang. Dan bahkan gadis itu tak sempat berpikir untuk ke loker murid demi mengambil mantel, payung, dan boots hujan-nya.

Sekalipun di atas langit sana mendung tampak menggantung rendah—sangat rendah dengan awan tebal kelamnya.

Dan kini, Nesia tahu-tahu telah mendapati dirinya berdiri termenung di pinggir sebuah jembatan kecil berwarna putih. Sebuah jembatan yang berdiri tidak terlalu tinggi dari sungai dangkal dan sempit yang berada di bawahnya. Jembatan kecil yang tidak begitu panjang, yang hanya menghubungkan dua daratan di seberang yang terpisah dari sungai kecil di bawahnya.

O bukan, tenang saja. Nesia bukanlah tipe orang yang mudah berpikiran pendek untuk mengakhiri hidupnya—setidaknya tidak ditempat seperti ini.

Hanya saja… hanya saja…

.

.

.

.

Gadis itu hanya tampak termenung. Napas tersengal-sengal terhembus dari hidung dan mulutnya, menandakan betapa capai raganya dibuat maraton dari sekolah hingga ke sini. Kedua tangannya terkulai lemas di kedua sisi pinggangnya. Rambutnya yang terkuncir kuda itu tampak sedikit berantakan oleh terpaan angin dingin yang sesekali berhembus kencang di jembatan terbuka itu.

Kedua mata hitam kecoklatannya menatap ke arah permukaan air sungai di bawah jembatan itu.

Air sungai itu tampak bening. Mengalir dengan arus lirih yang tidak menimbulkan begitu banyak riak sungai. Kelamnya langit di atas tampak terpantul jelas di permukaan itu. Beberapa kumpulan bunga bakung tampak tumbuh mengambang di atas permukaan sungai, sesekali tergerak lirih oleh hembusan angin yang menyapa.

Suara-suara deru mobil menjadi latar belakang sore itu. Kendaraan buatan manusia itu tidak henti-hentinya melintasi jalan aspal jembatan ini. Bunyi dentinan dan deruan seolah sedikit meredam suara angin yang berhembus dan menderu cukup keras di tempat terbuka seperti ini.

Rasanya…

Jika keadaan lebih baik dari ini, pasti Nesia akan menikmati semua ini dengan lebih. Dengan berarti.

Jika kondisi lebih menyenangkan… Jika hatinya lebih tenang… Jika pikirannya lebih terbuka…

Menghirup napas dalam-dalam, gadis itu seperti tengah berusaha menangkap sebanyak mungkin oksigen di udara sekitarnya untuk menyelamatkan dadanya yang terasa sangat sesak. Sangat sakit. Seperti terhimpit oleh kekuatan maha dahsyat yang membuatnya sulit bernapas. Sulit berpikir.

Sakit. Penuh. Sesak.

Sekalipun gadis itu tahu betul bahwa bukanlah karena defisit oksigen dirinya merasa demikian.

Ia bahkan tidak mampu membawa pikirannya untuk berpikir apapun—apapun! Sejak pergi dari lorong siang tadi, sejak ia masuk kelas, sejak ia kembali memulai pelajaran, sejak ia berlari cepat-cepat dari sekolah, dan sejak ia sampai termenung disini.

Tidak ada yang mampu ia pikirkan. Selain rasa sakit di dalam sini. Selain rasa sesak ini. Selain semua memori-memori yang rasanya ingin ia tenggelamkan ke dasar sungai di depannya itu. Biar hanyut. Biar terbawa pergi. Jauh.

Jauh.

Karena semua ini terasa begitu menjengkelkan—terlalu menjengkelkan. Ingin rasanya Nesia berteriak marah, memaki, mengumpat, bahkan oh Tuhan, ingin rasanya gadis itu menghancurkan sesuatu. Ini semua terasa begitu menyebalkan dan menyakitkan baginya. Dan ia tak mau sakit seperti ini. Ia tidak mau terluka seperti ini.

Sudah cukup…

Ia kira sudah cukup ketika dua tahun yang lalu ia menumpahkan air matanya terlalu banyak.

Ia kira sejak saat itu, ia tidak akan merasakan perasaan pedih ini lagi.

Ia kira…

…Ia kira…

Kedua tangan Nesia mengepal kuat di sampingnya. Kuat, seakan jika diteruskan seperti itu, pastilah kuku-kuku itu akan merobek telapak tangannya.

Begitu banyak yang menjadi perkiraannya. Begitu banyak yang ia pikir akan terjadi. Begitu banyak…

Terlalu banyak.

Ia kira Antonio akan selalu menatapnya. Ia kira pemuda itu menyimpan perasaan yang sama padanya. Ia kira Antonio hanya akan tersenyum padanya. Ia kira Antonio akan memberikan hadiah itu padanya—hanya pada Nesia.

Hadiah itu.

Yang dengan sepenuh hati Nesia pilihkan untuknya. Sebuah liontin cantik dan sederhana. Namun bagi Nesia, sebuah benda yang akan mampu merefleksikan perasaannya pada pemuda itu. Sebuah kesetiaan tulus. Sebuah perasaan yang suci.

Tetapi apa yang dilihatnya tadi siang?

Rasanya semua masih belum gadis itu percayai. Sungguh. Ia masih belum percaya bahwa ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa pemuda itu tampak begitu malu. Tampak begitu canggung. Tampak begitu tertunduk dengan wajah yang merona. Tampak begitu kikuk…

Semua sikap yang selama ini, persis yang seperti Nesia tunjukkan ketika berada di dekat pemuda itu. Hanya pemuda itu.

Semua sikap yang kini ditunjukkan Antonio, untuk pertama kalinya ditunjukkan Antonio.

Tetapi bukan pada Nesia. Sama sekali bukan pada Nesia, tak peduli seberapa dekat Nesia kira hubungan mereka berdua telah terjalin erat selama ini.

Melainkan pada perempuan lain.

Dan perempuan itu bukan Nesia. Perempuan yang mampu membuat Antonio tampak begitu malu itu bukanlah Nesia. Yang membuat Antonio tampak begitu canggung dan kehilangan sifat happy-go-lucky nya itu, bukanlah Nesia.

Yang kini menjadi pemilik liontin putih itu bukanlah Nesia.

Dan Nesia…

Nesia bukanlah perempuan yang mendapatkan ciuma—

Tes.

Satu tetesan itu akhirnya luruh dari pelupuk matanya. Mengaliri pipinya, menggantung di ujung dagunya.

Kemudian terjatuh mendarat di tanah, bersamaan dengan tetes pertama air yang tertumpahkan dari awan yang sejak awal telah menggantung rendah.

BRRRSSSSHHHH.

Siapa yang sangka jika pada akhirnya kini, di tengah guyuran hujan yang turun dengan begitu lebat—tanpa didahului gerimis, ia menjatuhkan tetes air mata pertamanya sejak dua tahun yang lalu.

Siapa sangka jika pertahanannya akan roboh, hancur lebur di hari ini. Di sore ini. Di tepian jembatan ini.

Sendiri. Sepi.

Dan siapa sangka jika ia merasakan bahwa hatinya terlalu sesak. Terlalu sakit. Terlalu pedih, hingga rasanya tak ada yang bisa ia lakukan lagi selain menangis. Selain menumpahkan perasaannya melalui buliran bening itu.

Siapa kira ia tak berpikir untuk menahannya. Ia tidak berpikir untuk menghapus air matanya. Ia tidak berpikir apapun.

Ia tidak berpikir apapun.

"Hiks… Hiks…."

Dan memang, ia tidak menahannya.

Pertahannya benar-benar telah porak-poranda.

Ia bahkan tidak menahan isaknya lagi. Ia bahkan tidak mengecilkan suaranya. Ia biarkan tubuhnya bergetar—bahunya yang naik turun mengiringi isakannya. Ia biarkan buliran itu semakin deras mengaliri kedua pipinya, membuat kedua matanya memerah. Ia biarkan kedua tangannya berpegangan erat pada tepian jembatan—seolah jika tidak demikian, ia tidak yakin bahwa lututnya yang lemas mampu menyangga tubuhnya lebih lama lagi.

"Hiks… Hiks…"

Nesia bahkan tidak peduli jika kini tubuhnya basah total. Seragamnya, sepatunya, rambutnya, ranselnya—semuanya! Semuanya seolah menjadi objek guyuran hujan deras dan dingin itu. Buliran hujan yang membentuk cipratan-cipratan kecil di jalanan di sekitarnya. Hujan yang membuat wiper mobil-mobil yang melintas, bergerak ke kiri dan ke kanan. Hujan yang membuat permukaan air sungai itu tampak beriak kecil oleh tetesan air hujan yang menyapa.

"Hiks… Antonio… An—Tuhan… Antonio…"

Nama itu berulang-ulang tersebutkan dari mulutnya yang bergetar oleh tangis. Nama dari pemuda yang sama yang selama ini mendominasi pikiran dan hatinya. Pemuda yang sama yang selama ini senantiasa membuatnya tersenyum di harinya. Pemuda yang sama, yang pertama kali dipikirkannya bahkan ketika ia baru membuka mata di pagi hari.

Pemuda yang selalu ingin ditemuinya. Ingin selalu ditatapnya.

Namun kini…

Pemuda itulah membuatnya tampak begini lemah dan menyedihkan.

"Hiks.. Antonio—"

Seolah-olah dengan gumaman lirihnya itu, ia akan membawa pemuda itu kemari. Akan mampu membuat Antonio datang padanya. Memeluknya. Mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Mengatakan bahwa apa yang Nesia lihat tidaklah seperti apa yang gadis itu bayangkan.

Mengatakan bahwa pemuda itu juga memiliki perasaan yang sama padanya.

… Namun kosong.

Ia masih disini sendiri. Ia masih menangis. Ia masih membeku bersama dengan sekitarnya di bawah hujan. Ia masih merasa sepi.

Dan ia masih merasa sakit…

Rasanya sudah begitu lama ia menyukai pemuda itu—bahkan mungkin, mencintainya. Nesia begitu yakin, saat pertama kali ia menatap kedua emerald itu dari jarak yang begitu dekat saat di tengah lapangan kala MOS waktu itu, gadis itu yakin bahwa Antonio-lah orang itu.

Orang yang akan membuatnya merasakan perasaan indah yang sudah lama ditinggalkannya. Orang yang akan membuatnya memiliki hari-hari yang berwarna. Orang yang membuatnya kembali bermimpi indah—membuatnya tersenyum bahagia. Orang yang akan menyembuhkan luka yang ditinggalkan bersama dengan kepergian Willem Van Hardt yang menjauh darinya.

Tetapi…

TEP.

Seperti sebuah tapakan kaki terdengar. Begitu dekat dengan Nesia—seperti ada di samping gadis itu. Namun gadis itu tidak mau repot-repot menoleh. Ia masih terlalu merasa terpuruk untuk peduli pada apapun yang ada di sekitarnya. Ia bahkan tidak peduli jika sekalipun kini terjadi badai topan menerjangnya.

Ia tetap tertunduk. Menggigit ujung bibirnya yang bergetar. Dengan bahu yang menggetar kecil dan dua telapak tangan yang mencengkeram kuat tepian jembatan.

Ia bahkan tidak memedulikan akan fakta bahwa ia tidak sendirian.

Harapannya jika ada seseorang yang kini menemaninya, akhirnya terkabul juga. Akan seseorang yang datang padanya. Akan seseorang yang menemuinya.

Hanya saja…

"Aku mendatangimu karena berkali-kali melihat orang di sekitar sini yang menatapmu dengan curiga—seperti kau yang akan melompat bunuh diri atau apa."

Hanya saja…

Mendengar kalimat itu—tidak, mendengar suara itu, Nesia menoleh sedikit.

Dari balik poninya yang basah dan terjatuh melekat erat di dahinya dan menutupi sebagian mukanya, gadis itu mampu melihat seseorang yang berdiri di sampingnya. Seseorang yang datang padanya. Seseorang yang menemuinya.

Hanya saja…

Daripada Antonio, Arthur Kirkland-lah yang kini berada di sampingnya.

Berdiri di sampingnya lengkap dengan seragam khas murid siswa Hetalia High. Hanya dengan seragamnya. Tanpa payung, tanpa mantel atau apa. Dengan sekujur tubuh yang basah kuyup. Rambut pirang yang biasa terlihat berantakan itu kini tampak menurun karena lemas oleh air hujan—beberapa bahkan terjatuh lemas menutupi sebagian dahi dan pipinya.

Dengan kedua bola emerald-nya yang menatap Nesia tajam di bawah guyuran hujan yang mengguyur deras tubuh mereka berdua.

"APA YANG KAULAKUKAN DI SINI?! PERGI!"

Yeah, karena Arthur datang di saat yang demikian tidak tepat, maka otomatis dirinya menjadi sasaran pelampiasan kedongkolan Nesia. Hanya dia—karena tidak ada lagi siapapun selain dia.

Karena juga sepertinya dialah satu-satunya orang di dunia ini yang pantas menjadi tempat pelampiasan amarah Nesia. Rasa sakit hatinya, rasa sesaknya karena Antonio, ditambah dengan dendam dan kedongkolan terhadap Arthur, menjadikan pemuda Inggris itu menjadi kandidat tepat dari semua orang, yang rasanya ingin sekali Nesia cakar mukanya untuk memuaskan perasaannya.

"Aku tidak ingat bahwa siapapun dari keluargamu, adalah pemilik jembatan yang merupakan tempat umum ini," respon Arthur yang sayangnya, seolah menyiram bensin pada Nesia yang sejak awal sudah 'terbakar'.

"AKU TIDAK PEDULI! AKU INGIN KAU PERGI! AKU INGIN KAU PERGI!" teriak Nesia keras di tengah suara guyuran hujan yang menderu hebat.

Dengan kedua mata yang memerah oleh air mata dan air hujan, gadis itu menatap Arthur dengan tatapan kesal bercampur lelah. Ia sudah cukup merasa putus asa dengan semua ini. Ia tidak ingin Arthur semakin memperburuk semuanya.

Tidak.

Tidak untuk saat ini.

"Aku hanya ingin memberitahumu bahwa besok kelompok kita akan berdiskusi dengan guru pembimbing kompetisi kita!" teriak Arthur. Suara guyuran hujan, deruan angin, dan sesekali dentinan dan deruan mobil yang melintas, membuat suaranya seolah teredam begitu saja.

"Kau bisa sms aku atau apa!" teriak Nesia kesal, "Kau tidak perlu di sini dan membasahkan dirimu sendiri dan sekarang pergilah!"

Tanpa mengalihkan pandangannya pada Nesia, pemuda itu menunjuk ke arah belakang tubuhnya, "Aku sudah meneriakimu dari mobil untuk mendekat! Lagipula tidak seperti kau pernah memberiku nomor ponselmu atau apa, 'kan?!"

Pandangan Nesia yang menyipit karena air hujan, mengarah pada arah tunjukan Arthur. Dan tak jauh di belakang pemuda itu terparkir sebuah mobil berwarna putih yang masih menggerak-gerakkan wiper dan menyalakan lampu depannya.

Mengalihkan pandang, Nesia kembali menghadap ke arah sungai dan menatap air sungai di bawahnya.

"Apapun, aku sudah tidak peduli," desis gadis itu lirih.

"Jangan bersikap egois dengan mengorbankan impianku dan Alfred hanya karena kau melihat Carriedo mencium pipi Senior Bella."

Nah.

He has crossed the sacred line!

"ITU BUKAN URUSANMU!" maki Nesia keras sembari kembali menghadap Arthur. Kini gadis itu benar-benar merasa dongkol setengah mati.

Beraninya…

Betapa beraninya mulut lancang itu dengan lancangnya menyinggung perasaannya. Menyinggung Antonio di saat rasanya Nesia ingin melakukan apapun untuk melupakan semuanya!

"Bukan urusanku seandainya kau bisa bertindak profesional dengan tidak membiarkan urusan pribadimu berada di antara tujuanku dan Alfred!" balas Arthur keras sembari menyipit tajam ke arah Nesia.

"Dan juga bukanlah hakmu untuk berkata-kata seperti itu padaku!" Nesia tersengal-sengal akibat perasaan di dadanya, air hujan yang membuat dirinya agak kedinginan, dan energinya yang rasanya semakin terkuras habis karena berteriak-teriak seperti ini, "Kenapa kau selalu membuatku kesal? Kenapa kau selalu membuatku marah?! Bahkan di saat seperti ini… kenapa kau tidak pergi saja dan membiarkanku sendiri, hah?!"

"Kenapa—"

"Apa kau tidak tahu betapa aku membencimu, Senior?!"

Nesia tersengal-sengal—napasnya terhembus keras-keras. Wajahnya memerah karena dingin dan marah. Kedua tangannya mengepal. Dengan keadaan basah berantakan seperti itu, ia terlihat begitu menyedihkan.

Sedangkan Arthur tampak ingin mengucapkan sesuatu. Namun mulut yang telah membuka itu seperti tertahan—apapun yang ingin diucapkannya terhenti di tengah tenggorokannya.

Sebelum akhirnya dengan pelan, kedua bibir itu kembali merapat. Menelan seluruh ucapan yang awalnya ingin terucap.

"Seperti yang kukatakan tadi, kau telah membuat banyak orang khawatir padamu. Jika kau memang ingin bunuh diri, carilah tempat yang sepi, jangan di tempat di mana ratusan mata mampu melihatmu seperti ini," ujar Arthur datar, "Pergilah."

Nesia menatap tak percaya ke arah Arthur, "Seingatku, Tuan, akulah yang pertama kali berada di sini dan oleh sebab itu, menjadi hakku untuk menyuruhmu pergi dari sini and leave me the hell alone!"

"Tidak," bantah Arthur singkat dan tegas, "Siapa yang menjamin kau tidak loncat karena putus asa? Jangan berpikir aku peduli atau apa, tetapi kau pikir akan jadi apa reputasi Hetalia High jika salah satu siswinya ditemukan mati mengambang konyol di sungai ini?"

Mulut Nesia menganga mendengar kalimat sarkastis bercampur sadis dari Ketua OSIS di depannya itu.

"Jadi, aku tidak akan pergi sebelum kau pergi dari sini," Arthur bersedekap dada sembari menghadap ke arah sungai di depannya, secara mutlak mengacuhkan Nesia dan semua kekesalan gadis itu.

Dan Nesia menunduk menatap tanah di bawah kakinya.

Well, jika bisa, ia akan pergi dari sini. Jika ia mampu, ia pasti kok akan langsung hengkang dari sini begitu mendapati makhluk sialan itu kini berada di sampingnya.

Hanya saja…

Dammeeettt!

Ini dia sekarang ada di mana?!

Berlari cepat-cepat seperti orang kebakaran jenggot seperti itu nyatanya kini menampakkan dampaknya. Ia tadi sama sekali tidak berpikir kemana ia berlari dan di mana ia akan berhenti. Yang ia tahu ia hanya ingin menjauh. Ia hanya ingin sendiri.

Ke manapun. Di manapun.

Dan berakhirlah ia di sini, tanpa tahu dan ingat arah untuk kembali.

"Kenapa? Apa kau terus ingin bersamaku di sini?" tanya Arthur Kirkland dengan seringaian yang sungguh, membuat Nesia rasanya ingin mendorong pemuda itu biar tenggelam sekalian di sungai sana.

"Apa?! PD banget!" bentak Nesia dengan begitu tsun-tsun dere-dere-nya. Melotot tajam pada pemuda di depannya itu, Nesia kembali berteriak, "Aku akan pergi! Aku akan pergi! Cih banget di sini bersamamu berlama-lama!"

"Oke."

"A-Aku akan pergi! Lihat saja!"

"Tentu tentu."

"Aku p-pasti akan pergi!"

"Nah? Bukankah kalo begitu kau sekarang mulai melangkah?" pandangan Arthur Kirkland sangat mengesalkan bagi Nesia dengan seringai merendahkan dan tatapan seolah-olah ia tahu apa yang dipikirkan gadis itu.

Uh.

Untuk mempertahankan harga dirinya, gadis itu berbalik dan mulai melangkah.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Lima—

Urung.

Tidak sempat membuat langkah kelima, Nesia dengan kesal dan dongkol berbalik kembali dan mulai berjalan cepat dan sedikit menghentak-hentak mendekat ke arah Arthur. Dan dengan tampang dan suara yang nyolot abis, ia berteriak.

"Tetapi tunjukkan aku arah kembali ke sekolah!"

Dalam hati Nesia merasa ingin merajam dirinya sendiri yang dengan terang-terangan, di depan Arthur Kirkland, merendahkan harga diri dan menjilat ludahnya sendiri demikian.

Hih!

Dan 'tuh 'kan!

'Tuh 'kan!

Seringaian itu semakin melebar, seolah dengan seringai itu, Kirkland mengucapkan 'Kau lihat, pecundang? Aku menang.'

"Kau tinggal di kawasan Green Brooklyn, kan? Aku akan melewati kawasan itu—aku harus pergi ke suatu tempat di dekat sana. Kau bisa ikut bersamaku."

.

.

Dan Nesia hanya menatap Arthur bengong—seolah-olah gadis itu mampu menerawang isi kepala pemuda itu dan melihat bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan posisi otaknya yang sedikit miring.

.

.

Menyadari tatapan Nesia, Arthur menggeram dan lantas memaki, "Apa yang kau lihat, bodoh?! Apa begitu anehnya bagi orang sepertiku untuk berbuat kebaikan pada makhluk menyedihkan sepertimu?!"

Nah.

Nesia tidak tahu apa maksud Arthur. Di satu sisi ia ingin 'berbuat kebaikan' tetapi di sisi lain ia juga tengah melakukan penindasan verbal seperti itu?!

"Kau pikir aku juga mau menumpang di mobil bodohmu itu?!" maki Nesia keras. Sekalipun dalam hati ia harus mengakui pasti lumayan juga jika bisa pulang dengan mobil yang tampak senyaman itu. Nyaman dan cepat.

Tapi sayang sekali, dari ratusan juta orang di AS, Arthur Kirkland adalah satu-satunya yang menawarkan kenyaman mobil itu padanya, dengan cara 'seperti itu' yang membuat Nesia rasanya lebih rela berjalan ngesot saja hingga ke apartemennya.

"Tunjukkan saja aku jalan kembali dan aku akan pulang sendiri!"

"Oke! Berjalanlah lurus lantas belok kanan di situ ada perempatan, kau belok kiri dan ketika ada toko berwarna kuning kau belok ke arah timur dan nanti kau berjalan lurus beberapa ratus meter dari situ dan lantas kau akan menemui seorang penyanyi jalanan yang biasa ada di ujung jalan dan lantas kau pergilah ke arah kirimu, menyebranglah jalan raya besar dan nanti kau akan menemui sebuah pohon besar di situ lantas berjalanlah lurus terus hingga sampai pada perempatan dan beloklah kiri dan berjalan lurus beberapa menit dari situ dan kau sampai di Hetalia High."

Krik.

Otak Nesia rasanya nge-blank dan terbakar karena dipaksa mengingat secara cepat, mendadak, dan begitu absurd pada rentetan kalimat yang diucapkan Arthur secepat kereta api Shinkansen itu.

Meringis kikuk dan merasa tolol, Nesia berucap, "…B-bisa kau catat semua itu di kertas atau apa?"

"Kau bodoh atau apa menyuruhku menulis di kertas yang akan langsung basah dan robek oleh hujan sederas ini?"

Ah iya.

Merasa kalah, Nesia hanya tertunduk meratapi nasib.

Kenapa di sini tidak tersedia taksi atau apa sih… Dan kebetulan banget pulsa HP-nya berada di angka minimum untuk membuatnya mampu menelpon taksi untuk menjemputnya di tempat ini.

"Bagaimana, kau mau ikut atau tidak?" tawar Arthur dengan judes, "Jangan GR, deh! Aku hanya ingin balas budi pada pertolonganmu malam itu—aku kan juga manusia yang tahu terimakasih. Lagipula aku jika tidak mau jika nanti seumur hidupku mendengar dirimu mengungkit-ungkit bantuanmu padaku."

Dan Nesia menelan ludah—seolah dengan itu, ia tengah dengan sulitnya, menelan harga dirinya.

.

.

Dengan sedikit kesal, Nesia sedikit membanting pintu belakang mobil berwarna putih itu ketika kendaraan itu telah berhenti tepat di depan gerbang apartemennya.

Tentu saja, meskipun ia pada akhirnya menjilat ludahnya sendiri dengan mau meletakkan pantatnya di mobil milik orang yang paling ia sesali kehadirannya di dunia ini, gadis itu memutuskan untuk duduk di jok belakang daripada di kursi depan.

Lagipula seperti Arthur ingin menghabiskan beberapa waktu dengan lama-lama berada di sampingnya saja.

Tidak mungkin.

Hih!

Dan mobil itu terasa seperti taksi saja ketika tidak ada percakapan yang terjadi—sama sekali. Bahkan mungkin lebih buruk dari taksi karena mungkin supir taksi juga akan sesekali mengajak obrol pada penumpangnya.

Arthur yang fokus menyetir dan Nesia yang sibuk mendelikkan wajahnya pada jendela dengan muka memerah menahan malu dan harga dirinya yang anjlok seanjlok-anjlokkan harga saham di tahun 1930-an.

Tetapi toh, bagaimanapun juga, ia kini telah sampai dengan selamat sentausa di depan apartemennya, dengan mobil milik seniornya itu.

M—mungkin Arthur tidak sejahat dan seburuk yang ia pikirkan...

Sebelum gadis itu sempat mengucapkan terimakasih...

ZRRAASSHH!

"Gah!" Nesia memekik keras ketika tanpa diduga, di detik ia selesai menutup pintu mobil, Arthur segera kembali melajukan mobilnya.

Cepat.

Mendadak.

Dengan sukses melewati kubangan air.

Dan dengan sukses pula, membuat tubuh Nesia kini kembali basah—bahkan lebih buruk dengan cipratan air berlumpur yang mengotori tak hanya seragamnya, namun juga beberapa bagian wajahnya.

D—dasar setan itu…

Nesia hanya memandang tajam pada mobil Arthur yang kembali melaju, meninggalkannya beberapa jauh di depan sana.

Dan Nesia harus menarik kembali pikirannya barusan mengenai sifat Arthur.

Pemuda itu memang benar-benar setan!


Next Chapter:

"Lovino, apakah k-kau tahu, Antonio telah memiliki pacar? M-Maksudku, dia sekarang kan, sudah jarang sekali bersama kita? Jadi kupikir mungkin dia sibuk mendekati seorang gadis atau apa."

"Mana kutahu. Kau pikir aku Mak Comblangnya apa?"

.

"Kau bilang suka musim gugur, 'kan? Sekarang musim gugur, tetapi tidak begitu banyak daun yang berguguran."

"Hahaha—Lovino—Hahaha—Kau berlebihan, tahu?"

"Tapi setidaknya, kau tertawa, 'kan?"

.

"…I—love you. Truly, deeply, madly, passionately, in love with you… I've seen nothing but you."


DIS kece: Beberapa pembaca saya kasih nilai perfecto karena bisa menebak bumbu-bumbu SpaBelgie di sini. Hoho. Meskipun saya udah ngasih pertanda sejak chapter-chapter dahulu, jauh sebelum ini, tetapi kayaknya baru chapter kemarin pertanda itu kuat :/ Alright, good to have awesome readers like you guys. Nah, teaser di atas menandakan bahwa chapter depan ada yang confessing—saya jamin, ini beneran confessing eksplisit, ga sekedar implisit. Hoho.

Pojok Review. Monggo~

Keep write / as long as you keep RnR-ing, beibeh #sokasyik :D / LOL. Jadi reviewer ke-300/ Saya tidak menyadari jumlah review sudah mencapai angka itu ._. / Nggak usah ada USUK / Alrite. Hints won't hurt, rite? Hoho / OTP saya NorwayxBelarus / Ciyus? Kayaknya kita jodoh neh #gombalwarming / Saya merasakan aura angst-nya/ Sip. Gimana rasanya? (?) :D / Makin seru/ Makasih, Kukuq~ / Salut ama Nesia yang betah hadapin Arthur/ #kasihmedalikeNesia / Apa Antonio naksir Senior Bella?/ Hm… #absurdbanget / Love YOU DIS/ Ciyus, j-jangan confession di sini. Entar kamu diterror para fans fanatik saya lho #diludahi / UKNesia = Tsundere Combination!/ Jadi inget pair UKSey=Tsundere Federation. Lol. They're cute, really / USNes manis/ Em… yes? Meski saya pikir hubungan mereka Cuma sekedar kayak senior-junior, atau paling banter juga kakak-adik :o Tapi kalau mau dianggap itu hints pairing, ya monggo~ :D / NUSUK = Nesia dan USUK!/ Da fuq is that! Haha! #ngakak / Antonio punya cewek lain atau mau mati?/ Sadis banget, bray itu sumpahnya. Hoho / TONIIIIOOOO! kamu manis romantis banget/ Yepyep. / Masukin NorBela walau hanya sedikit/ Saya pengen banget, sumpah. Tapi kayaknya ga dulu, deh T.T / Fic ini adalah fic terlama yang saya ikuti/ Saya tersanjung :') / Senior Tiino mana? Kangen/ Untuk apa nyari Tiino kalau disini ada saya untukmu? #jah /Masukin NorBela gak papa/ Wish I could /Keep strong buat Nesia/ ^^9 #alay /Kadar humornya cukup bikin saya senyum lima jari/ Thanks, meski saya ga bakal jamin tiap chapter ada humor, sih /Chapternya panjangin/ #tepar /Rate-M nya apa sekedar terkait 'omongan kasar' Arthur aja?/ Rate-M nya juga untuk kadar kealayan saya yang membahana :D /DIS lebih kece pas alay lho/ Ciyus?! Bangga banget saya jadi alay kalau kamu puji gini mah :D /Nesia niat bunuh diri, ya?/ -_- She's strong enough /Tambahin NetherNesia dong/ Oke-oke / 10 cm di atas lutut apa ga kependekan?/ Menurut saya enggak kok—cukup wajar :0 /Antonio ngasih hadiah itu buat Bella, Nesia patah hati dihibur Lovino, Lovino nembak Nesia, Nesia out of the blue nerima Lovino, Antonio baru sadar kalau dia suka Lovi-Nesia?/ Curiousity kills the cat (?) :p


See? Saya bisa update cepet jika terus dapat apresiasi dari kalian. Jangankan seminggu sekali seperti ini, saya bisa update 3 atau bahkan, 2 hari sekali jika saya merasa cukup semangat dan termotivasi dengan kalimat kalian. Mau Absurdities cepet kelar, kan?

Intinya: Silahkan berlomba-lomba mereview dan kenal lebih dekat dengan saya. Hoho :9 #cium

Terimakasih.

From FHI with chuyunkz,

DIS