Special warning: Deskrip kebangetan dan dialog minim ciyus miappah enelan Ququ~
Betapa mudahnya sebuah peristiwa akan merubah total kehidupan manusia. Betapa gampangnya manusia akan menjadikan peristiwa tertentu sebagai sebuah pengalaman, yang sedikit banyak akan menentukan sifat dan sikapnya kemudian. Mereka yang baik bisa saja menjadi antagonis ketika ada peristiwa yang begitu melukai hatinya atau menjadi alasan baginya untuk berbuat demikian. Dan banyak juga mereka yang semula jahat dan kejam, akan berubah seperti seorang yang alim karena sesuatu yang pernah menimpanya.
Intinya, pengalaman atau peristiwa tertentu akan membentuk sifat manusia—entah secara permanen atau sementara.
Yang jelas, tidak ada yang namanya 'statis' dalam sifat manusia.
Jadi, jangan salahkan Annesia Saraswati jika kemudian sifat gadis itu sedikit berubah. Jangan salahkan dia jika dia sedikit-banyak tidak seperti dulu—mungkin sementara atau selamanya, siapa yang tahu?
Ia manusia. Ia memiliki hati yang tidak akan konstan. Ia manusia dengan perasaan yang mudah berubah. Perasaan yang akan sangat mampu mempengaruhi sikapnya.
Jadi, jangan salahkan dia jika akhir-akhir ini ia mendapati dirinya sedikit berubah. Pengalaman atau peristiwa tertentu tentu menjadi alasannya.
Jangan salahkan dia jika pengalamannya melihat Antonio Carriedo bersama dengan Senior Bella Van Hardt waktu itu, membuat gadis itu sedikit menjauh dari pemuda berdarah Spanyol tersebut.
Ia manusia.
Nesia juga punya hati, 'kan?
Dan kini hatinya seperti menginginkannya untuk melakukan sesuatu—apapun. Untuk melindunginya. Untuk mencegahnya untuk terluka lebih jauh lagi.
Dan di mana-mana, cara menghindari luka adalah menjauh dari faktor-faktor atau sumber luka itu sendiri, 'kan?
Hanya itu.
Dan pilihannya tentu saja, ia harus menghindar dari Antonio.
Sebisa mungkin.
Tak peduli jika seandainya keputusannya itu akan berubah menjadi pedang bermata dua—bagaimana ia bisa menjauhi pemuda itu, sedangkan di saat yang sama, ia begitu merindukannya?
Sangat merindukannya.
Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya
I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.
Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.
Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedar hints dan fans service :p
Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D
Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D
Maju FHI!
Happy reading
-oOo-
Praktis beberapa hari ini Nesia benar-benar seolah menjadi orang asing, terutama bagi Antonio. Ia sadar, demi Tuhan, Nesia sadar betul akan sifatnya itu.
Ia kerap menolak tawaran Antonio untuk pulang bersama dengan motornya. Ia mencari seribu alasan untuk menolak ketika sesekali Antonio mengajaknya dengan Lovino Vargas untuk berangkat atau pulang bersama. Ia juga sebisa mungkin mengacuhkan telepon genggamnya ketika benda itu berbunyi atau bergetar, dan tertera nama Antonio di layarnya. Sering kali pula gadis itu hanya terdiam ketika bersama dengan Lovino dan Antonio—tidak banyak bicara seperti dirinya biasanya. Dan sebisa mungkin, sekuat mungkin, gadis itu akan menolak menatap kedua emerald itu ketika mereka berbicara.
Seolah takut jika mereka bertatap muka, Antonio akan mampu mengetahui alasan kenapa Nesia berbuat demikian.
Dan sungguh, semua itu bukanlah hal yang mudah.
Menjauhi Antonio bukanlah hal yang mudah. Sama sekali tidak mudah, ketika di saat yang sama Nesia rasanya ingin mengakhiri semuanya dan memeluk pemuda itu seraya meminta Antonio untuk tetap bersamanya.
Tidak mudah.
Ia ingin menghindari Antonio untuk menahan perasaannya. Ia melakukan semua ini semata-mata demi melupakan semua—walau sedikit saja. Ia berubah demikian hanya karena bentuk perlindungan dirinya sendiri dari luka yang demi dalam, dari sakit yang lebih perih.
Karena simpel saja, Nesia tidak bisa, 'kan, terus-terusan berharap begitu tinggi, sedangkan bayangan akan Senior Bella Van Hardt tampak begitu jelas dipikirannya?
Bayangan akan hari itu seolah-olah terputar terus di otak Nesia layaknya kaset rusak. Terus. Berulang-ulang. Dan tidak bisa dihentikan tak peduli berapa kalipun Nesia meyakinkan dirinya sendiri untuk melupakannya.
Melupakan bagaimana Antonio tampak canggung dan kikuk saat itu. Melupakan bagaimana tangan pemuda itu terulur dan memberikan kado berisi liontin itu pada Senior tingkat akhir tersebut. Dan terutama, benar-benar melupakan bagaimana saat itu kepala Antonio tertunduk dan menuju kepala Senior Bella.
Nesia ingin melupakannya—demi Tuhan, ia rasanya mampu melakukan apapun demi melupakannya!
Apapun.
Tetapi tidak bisa. Gagal. Sia-sia…
Ketika alih-alih melupakannya, semua terasa semakin jelas. Ketika alih-alih sembuh dari lukanya, Nesia rasanya luka itu seperti tertaburi oleh garam—makin perih, makin pedih, ketika ia merasakan perubahan sifatnya ini justru melukai dirinya sendiri.
Berapa sering dia merasa bahwa dirinya adalah orang terjahat di dunia ini karena menjauhi Antonio untuk alasan yang sejujurnya, sama sekali bukan salah pemuda itu? Memang, karena Antonio toh tidak mengetahui apapun. Dan jikapun pemuda itu mengetahui semuanya, pantaskah ia disalahkan atas sesuatu yang sepertinya tidak bisa ia kendalikan?
Siapa yang mampu mengendalikan perasaan? Siapa yang memiliki hak untuk memaksakan kata hati manusia? Siapa yang bisa disalahkan karena alasan seperti itu?
Bukankah jika demikian, Nesia justru menjadi orang yang kejam? Membuat Antonio bingung. Membuat pemuda itu terheran. Bahkan juga tidak jarang, Nesia dengan jelas mendapati pemuda itu memancarkan sorot pandangan yang sedih bercampur tak mengerti.
Dan ketika saat-saat seperti itu tiba, Nesia menggunakan seluruh kemampuan dan yang terbaik darinya, untuk tidak berlari ke pemuda itu dan memeluknya.
Mendekapnya dan meminta maaf atas semua sikapnya yang membuat Antonio merasa putus asa dan kecewa.
"Ada apa, Nes? Kenapa kau menjadi seperti ini? Apa kesalahanku hingga membuatmu demikian membenciku?"
Pernah Antonio mengucapkan kalimat itu ketika mereka berdiri berhadap-hadapan di depan apartemen Nesia. Kedua telapak tangan Antonio memegang erat kedua pundak Nesia—mencegah gadis itu berbalik arah dan meninggalkannya. Kedua emerald-nya menatap dalam-dalam ke mata Nesia—seolah ingin mencari kebenaran yang menjadi jawaban atas semuanya.
Dan Nesia hanya mengalihkan pandangan dari emerald itu, sembari dengan senyum lebar yang jelas dipaksakan, ia hanya berkata, "Tak apa, kok. Aku hanya ada masalah kompetisi. Kau tidak perlu khawatir."
Dan Antonio bukanlah orang sebodoh itu untuk mau memakan bualan yang jelas-jelas membual seperti itu. Awalnya sepertinya pemuda itu mencoba menipu diri sendiri—mencoba bersikap tidak sensitif atau apa dan tetap bersikap seperti Antonio Carriedo yang biasanya, yang dikenal baik oleh Nesia. Ia masih tertawa lebar, tersenyum hangat, berhaha-hihi, dan mengobrol ngalor-ngidul tak karuan. Happy go lucky.
Namun seinsensitif apapun manusia, pasti suatu saat ia akan menyadari jika ada yang tidak beres, 'kan?
Dan ketika setelah pemuda itu mencoba berbicara pada Nesia dan setelah gadis itu tetap tidak merubah sikapnya, maka hanya satu yang wajar dilakukan oleh orang yang berada di posisi Antonio: turut menjauh.
Perlahan tapi pasti, pemuda itu sepertinya turut menjaga jarak dengan Nesia. Tidak banyak bicara seperti biasanya—hanya seperlunya. Meskipun sikap Antonio terhadap Lovino tidak berubah—tetapi siapapun pasti sadar ada yang berbeda. Ketika Antonio lebih banyak terdiam ketika Nesia berada di dekatnya. Atau ketika pemuda itu hanya tersenyum kecil—seolah dengan senyuman itu, ia menunjukkan perasaan nyaris putus asa akibat sikap Nesia.
Dan sungguh, itulah yang membuat Nesia merasa sebagai orang paling jahat di dunia.
Di satu sisi ia ingin melupakan semua, tetapi di sisi lain ia ingin mengingat selalu pemuda itu dalam tiap detak jantungnya. Di satu sisi ia ingin menjauhinya, tetapi di saat yang sama ia merasakan rindu yang nyaris tak terbendung hanya untuk pemuda yang sama. Di satu sisi ia ingin menyerah, tetapi di saat yang sama ia ingin terus berjuang dan tidak berputus asa.
Lagipula…
Lagipula, ia juga belum berbicara kepada Antonio tentang Senior Bella, 'kan? Antonio, seingat Nesia, juga tidak pernah bercerita padanya terkait dengan seorang perempuan yang spesial baginya.
Jadi… Jadi, ada kemungkinan bahwa Antonio dan Senior Bella tidak ada hubungan apapun, 'kan? Bisa saja Nesia salah paham, 'kan? M-mungkin ciuman itu… ciuman itu hanyalah sekedar ciuman pipi, yang mana sangat wajar di negeri Barat seperti ini, dilakukan antar sesama teman. Teman klub.. hanyalah antara junior dengan senior di klub yang sama.
Jadi, masih ada kemungkinan bahwa semua ini salah paham, 'kan? Ini tidak seperti yang Nesia pikirkan, 'kan?
Pandangan Nesia yang semula menatap sendu ke arah tanah yang ditapakinya, perlahan melirik ke arah samping.
Di sampingnya adalah Lovino yang tengah berjalan pelan, mengiringi langkahnya. Dalam perjalanan pulang sekolah sejauh ini, Lovino tidak begitu banyak berbicara—mungkin juga pemuda itu menyadari bahwa Nesia sedang ingin berada dalam dunia dan pemikirannya sendiri. Terkadang, Nesia pikir, pemuda itu selalu tahu apa yang dipikirkannya.
Hari memasuki masa pertengahan musim gugur, ditandai dengan semakin dinginnya udara yang menyapa. Langit di atas sana sedikit kelabu, menandakan bahwa mungkin sebentar lagi akan turun gerimis atau hujan lebat. Sesekali angin berhembus, membuat tak ayal sebagian besar orang, termasuk Nesia dan Lovino, mengenakan syal dan jaket tebalnya.
Ngomong-ngomong soal Lovino….
Nesia pikir pemuda itu dekat sekali dengan Antonio. Di antara mereka bertiga, sepertinya memang Lovino-lah yang lebih banyak tahu mengenai Antonio—persahabatan antar cowok seperti itu, pasti akan membuat Antonio lebih nyaman bercerita sesuatu yang sedikit privat kepada sesama lelaki, 'kan?
Jadi… apakah Lovino…
"Tak terasa sudah pertengahan musim gugur, ya?" ujar Nesia, bermaksud membuka pembicaraan di tengah suasana sunyi demikian. Memandang ke arah langit yang kelabu, gadis itu tersenyum kecil, "Di negeriku tidak ada musim gugur, lho. Dan aku suka sekali dengan musim gugur—aku suka melihat dedaunan dan kelopak bunga yang berguguran dan melayang indah di sekitar."
"Tapi negerimu hangat dan dilimpahi banyak hujan," respon Lovino.
"Iya, sih. Tetapi tidak ada salju. Dan terkadang musim kemarau berlangsung sangat lama hingga banyak sungai yang mengering," kata Nesia, lantas menoleh ke arah Lovino, "Kalau kau, Lovino? Apa musim kesukaanmu?"
"Apa saja," jawab Lovino cepat dan sepertinya tidak ambil pusing.
"Kau ini," sungut Nesia, "Setidaknya pilihlah satu yang begitu kau sukai."
Lovino tidak menjawab. Dan Nesia menggunakan kesempatan itu untuk mengungkit mengenai Antonio, "K—kira-kira, apa ya, musim yang disukai Antonio?"
Nah.
Permulaan yang bagus, 'kan?
"Lovino," ujar Nesia lirih setelah berdeham, "Apakah Antonio sering bercerita padamu mengenai kehidupannya?"
Tanpa tedeng aling-aling, Nesia langsung menembak topik begitu saja. Membuat Lovino melirik heran padanya sembari merapikan syal biru gelap yang melilit lehernya.
"Terkadang," ujar Lovino akhirnya, "Tetapi tidak seperti aku peduli pada urusan si Bastardo itu saja."
Yah, seperti biasanya. Being all tsundere like that…
Memaksakan senyum garing agar tidak tampak mencurigakan, Nesia membalas, "Apa yang diceritakannya padamu? Ceria-ceria begitu, dia tertutup sekali padaku, lho."
Dan sepertinya usaha 'tidak tampak mencurigakan' itu, tentu saja, tidak mempan terhadap Lovino, karena pemuda terdiam cukup lama dan memandang Nesia—seolah-olah tengah membaca apa pikiran gadis tersebut.
Lantas, alih-alih menjawab dengan jawaban yang relevan dan memuaskan Nesia, pemuda itu kembali menghadap depan sembari mendengus, "Tidak ada yang menarik. Cerita bodoh dari orang bodoh seperti itu apa gunanya diingat."
"Tidak mungkin kau tidak ingat," keukeuh Nesia, "Kau ini pelit sekali, sih. Menyimpan rahasia Antonio untuk dirimu sendiri—seperti cowok homo saja."
Yah, maksud Nesia sih hanya bercanda, tetapi sepertinya itu dianggap Lovino sebagai penghinaan terhadap orientasi seksualnya. Karena setelah itu, pemuda itu memasang ekspresi seolah-olah ia tengah dipaksa menenggak racun yang akan membunuhnya di detik itu juga.
"Dasar konyol," dengus pemuda itu tanpa menoleh ke arah Nesia, "Kalau kau begitu ingin tahu, tanyakan sendiri. Mudah, 'kan?"
Menghela napas berat dan sedikit jengkel akan sikap Lovino, Nesia kembali menghadap depan sembari melipat kedua tangannya di dada, "Kalau aku bisa tanya padanya, pasti aku tidak akan bertanya padamu, 'kan?" gumam gadis itu lirih.
Pandangannya kembali luruh ke arah tanah. Menatap sendu—seolah-olah di tanah tersebut terdapat lukisan wajah dari pemuda yang selama berhari-hari ini semakin mengisi pikiran dan hatinya.
Sekarang Antonio sedang apa? Langsung pulangkah? Kegiatan klub-kah? Atau malah bersama dengan Senior Bella?
Entah sudah berapa lama keadaan kembali sunyi. Lovino sepertinya turut terdiam dan tidak merespon ucapan Nesia. Yang terdengar hanyalah suara-suara kehidupan khas sore hari—mobil di jalanan, angin yang sesekali berhembus lirih, atau suara para pejalan kaki lainnya yang tengah bercakap-cakap.
Namun di detik berikutnya kesunyian itu pecah oleh suara Lovino yang menggumam pelan.
"… Memangnya apa yang ingin kau ketahui darinya?"
Mendengarnya, Nesia kontan mendongak dan menatap Lovino. Tetapi sepertinya pemuda itu tidak repot-repot memalingkan muka ke arah Nesia—tetap menatap lurus ke arah jalanan di depannya dengan ekspresi datarnya.
Mendapatkan kesempatan demikian, Nesia berdeham. Tiba-tiba ia merasa sangat malu dan ragu. Menanyakan hal privasi orang lain tanpa sepengetahuan yang bersangkutan.
Ini seperti mengorek gosip saja…
Lagipula… Tidakkah nanti Lovino malah memiliki prasangka bahwa Nesia menyukai Antonio?
Uh.
Dengan wajah yang memerah hangat, Nesia kembali menunduk dan menatap kedua kakinya yang berjalan menapaki tanah. Suaranya terdengar mencicit dan penuh keraguan, ketika ia berucap dengan mulut yang sedikit tertutupi oleh syal tebalnya yang tertarik tinggi hingga menutupi sebagian mulutnya, "… A-Apakah—," O, Nes! Tenanglah! "Apakah k-kau tahu, Antonio telah memiliki pacar? M-Maksudku, dia sekarang 'kan, sudah jarang sekali bersama kita? Jadi kupikir mungkin dia sibuk mendekati seorang gadis atau apa," separuh berbohong separuh tidak. Karena toh memang benar Antonio sekarang sudah tidak sesering dahulu menghabiskan waktu bersama mereka berdua.
Tetapi juga bukanlah itu yang menjadi alasan Nesia menanyakan pertanyaan seaneh itu pada Lovino.
Namun sepertinya Lovino memang benar-benar mampu membaca pikiran Nesia (atau Nesia saja yang terlalu tidak pandai menyimpan perasaan) atau apa, karena pemuda itu tidak merubah sedikitpun ekspresinya ketika Nesia telah menyampaikan pertanyaan itu.
Tidak terkejut, tidak menatap heran—seolah-olah ia sudah mengantisipasi bahwa pertanyaan itulah yang akan didapatkannya.
Dilihat oleh Nesia, pemuda itu tidak kunjung menjawab. Mungkin Lovino tengah mengingat-ingat perkataan Antonio atau apa. Karena pemuda itu hanya tetap terdiam sembari menatap ke arah depan. Namun berikutnya, Lovino tampak menghela napas dalam-dalam, seolah ia telah menahan gas karbondioksida itu lebih lama dalam paru-parunya.
"Tidak. Dia tidak punya pacar—seingatku," kata Lovino akhirnya.
Oh.
Disadari atau tidak, begitu Lovino menjawab, Nesia menghela napas yang tanpa ia sadari, telah ia tahan beberapa lama.
"Teman spesial?" kejar gadis itu lagi.
"Dia tidak memberiku daftar temannya dan kategori mana yang spesial dan mana yang biasa."
"Orang yang disukai?"
"Mana kutahu. Kau pikir aku Mak Comblangnya apa?" jawab Lovino sarkastis, dan dengan suara yang sedikit keras.
Nesia pikir pemuda itu mulai menganggap pertanyaan Nesia ini tidak penting dan merepotkan bagi pemuda itu. Jadi, Nesia terdiam dan kembali menatap ke depan, setelah menggumamkan, "Oh. Begitu."
Kalau memang demikian, kalau Lovino memang mengatakan apa adanya dan jujur pada Nesia, berarti Senior Bella dan Antonio tidaklah berpacaran. Nesia yakin Lovino jujur padanya—untuk apa berbohong? Tidak seperti Lovino adalah tipikal orang yang akan mengambil keuntungan apapun dari hal tersebut.
Berarti jika demikian…
Teman spesial? Atau Antonio masih sekedar menyukai Senior Bella?
Karena jika memang teman biasa…
Nesia memejamkan mata ketika bayangan itu singgah kembali di pikirannya. Antonio yang tampak canggung. Antonio yang tampak merona malu. Antonio yang tampak kikuk…. Mungkinkah sikap itu adalah sikap yang wajar diberikan pada orang lain hanya sekedar teman? Jika Antonio tidak memiliki perasaan apapun pada Senior Bella, bukankah ia seharusnya tidak canggung? Tidak malu, tidak kikuk…
Jika memang hanya teman, bukankah harusnya Antonio bersikap seperti ketika ia bersama dengan Nesia?
Kenapa berbeda…
Kenapa...
Pikiran Nesia buyar ketika ia membuka mata, ia melihat bahwa di udara di depannya, melayang-layang begitu banyak sesuatu berwarna putih dan tampak begitu ringan.
Menatap heran, sebelah telapak tangan gadis itu terjulur dan menangkap satu dari 'sesuatu' itu yang tengah melayang pelan di udara. Saat ia dekatkan ke kedua matanya, barulah ia sadari bahwa 'sesuatu' itu adalah sebuah petal—daun bunga. Dan saat ia dekatkan ke hidungnya, barulah ia sadar bahwa yang tengah ia pegang adalah sebuah petal dari bunga mawar—
Nesia menatap ke sekeliling tubuhnya.
—Salah satu dari begitu banyak petals mawar putih yang tampak bertaburan dan melayang-layang pelan di sekitarnya.
Darimana—?
Menatap takjub bercampur dengan tak percaya, gadis itu menolehkan kepalanya kesana-kemari—ke sekitar tubuhnya. Sebuah senyuman lebar dan tawa kecil otomatis meluncur dari mulutnya. Kedua tangannya sedikit terentang dan berusaha menyentuh serpihan mawar putih yang melayang indah di sekitarnya.
Apa-apaan—?
Mendongak, gadis itu menatap heran campur takjub kepada Lovino yang menebarkan serpihan mawar putih itu dari atas kepala Nesia.
"Hahaha—Lovi—," bahkan Nesia tidak sanggup meneruskan ucapannya ketika dari genggaman tangan pemuda itu, semakin 'terguyur deras' serpihan mawar putih ke sekeliling tubuh Nesia, "Apa yang kau lakukan, Lovino?" ujar Nesia di sela-sela tawanya.
"Kau bilang suka musim gugur, 'kan?" kata Lovino. Pemuda itu memetik lagi satu tangkai mawar dari tanaman mawar yang tumbuh di tepian taman di samping mereka. Lantas ia merobek-robek mahkota bunga itu hingga menjadi serpihan kecil, "Sekarang musim gugur, tetapi tidak begitu banyak daun yang berguguran."
Setelah Lovino berkata demikian, maka semakin banyaklah serpihan mawar yang 'menghujani' Nesia.
"Hahaha—Lovino," Nesia menatap Lovino dengan senyuman lebar di bibirnya, lantas gadis itu mengangkat kedua tangannya sembari menatap ke serpihan mawar di sekelilingnya, "Hahaha—Kau berlebihan, tahu?"
"Tapi setidaknya, kau tertawa, 'kan?"
Serpihan mawar yang melayang pelan di tengah udara sore musim gugur. Terombang-ambing di antara angin, sebelum menyentuh tanah di dekat kedua kaki gadis itu dengan pelan.
"Hahaha," Nesia memejamkan kedua matanya karena tertawa geli, sebelum gadis itu memegang tangan Lovino yang menggenggam serpihan mawar—menghentikan pemuda itu untuk 'menyirami' Nesia dengan bunga berwarna putih tersebut, "Kenapa kau memetik bunga di taman? Itu dilarang, tahu?" Sekalipun memperingatkan demikian, Nesia tak mampu menyembunyikan nada geli dalam suaranya.
Masih dengan menahan tawa, gadis itu menunduk dan menatap tanah di sekitar kakinya yang tentu saja, tertutupi oleh cukup banyak serpihan mawar putih.
"Dan kau membuat jalanan kotor," Nesia meringis geli.
"Angin akan menyapu sendiri jalanan ini," Lovino mengendikkan bahu.
Nesia menghela napas dalam-dalam, lantas kembali mendongak pada Lovino, "Tetapi, kenapa kau tiba-tiba melakukan ini? Ini tidak seperti dirimu, tahu?"
Lovino tampak memerhatikan Nesia untuk beberapa lama. Hanya terdiam, dengan bibirnya yang mengatup datar. Sepertinya pemuda itu ingin mengatakan sesuatu—entah apa. Hanya saja Nesia tahu, ada sesuatu yang ingin Lovino sampaikan sekalipun mulut pemuda itu masih terbungkam.
Alih-alih menjawab pertanyaan Nesia, Lovino membalikkan tubuh sembari berucap lirih, "Ayo kita pulang sebelum petugas taman mengetahui semua ini," dan mulai melangkah menjauh dari sana.
"Hei, kau tahu, itu tidak menjawab pertanyaanku," ujar gadis itu sembari buru-buru mensejajari langkah Lovino.
Namun Nesia toh tahu, Lovino menjawab atau tidak, itu sudah tidak lagi jadi soal—sama sekali bukanlah soal.
Yang jelas, Nesia sadar atau tidak, 'hujan petals mawar putih' itu telah mampu menariknya dari semua pikiran kalutnya barusan. Setidaknya untuk sekarang, gadis itu mampu mengulum senyum dan mengumbar tawanya yang sudah beberapa lama menghilang. Dan setidaknya, untuk sekarang, ia merasakan hatinya seringan layangan petals mawar di udara di sekitarnya tadi.
Tanpa disadari atau tidak oleh Nesia, hanyalah Lovino yang mambu membawa kehangatan di musim gugur yang sepi dan dingin.
Hanya Lovino.
-oOo-
Angin malam ini berhembus lumayan kencang. Hembusannya menggerakkan dedaunan pohon yang diterpanya—membuat bebunyian gemerisik yang terdengar bersama dengan suara deru hembusannya. Keadaan langit yang gelap dan berawan kelabu, cukup menerangkan pada siapapun bahwa kemungkinan besar, sebentar lagi akan turun hujan.
Dan cuaca malam pada pertengahan musim gugur menjelang musim dingin begini, cukup dingin dan sedikit membekukan.
Untuk itulah Annesia memakai mantel biru gelapnya yang tebal dan menjuntai hingga ke lututnya. Dengan sebuah skinny jeans hitam dan sneaker putih, gadis itu melangkah agak cepat-cepat begitu ia keluar dari pintu utama sebuah kafe kecil yang berada di dekat apartemennya. Malam ini tidak ada satu orang pun dari penghuni apartemennya, yang bersedia dan memiliki waktu untuk memasak makan malam. Chau masih sibuk dengan urusan tugas kuliahnya—gadis itu sekarang bahkan sudah pergi ke perpustakaan kota untuk menyibukkan diri dengan tumpukan buku di sana. Maria bilang bahwa dia akan lembur di Rumah Sakit, jadi pastinya gadis itu akan memilih makan di luar. Dan Nesia juga terlalu malas untuk memasak makan malam untuk dirinya sendiri.
Oleh sebab itu, gadis itu memilih menerjang malam berangin ini untuk memakan beberapa potong quiche dan segelas jus apel di sebuah kafe kecil yang tidak jauh dari apartemennya. Malam dingin dan berangin cukup kencang itu, nyatanya membuat kafe itu laris mendapat pengunjung yang ingin menghangatkan diri. Nesia bahkan membutuhkan waktu beberapa saat untuk mencari-cari tempat duduk kosong di antara kumpulan manusia yang ramai dan saling berbincang-bincang.
Setelah merasa perutnya cukup kenyang, gadis itu memutuskan untuk segera kembali ke apartemennya. Ia memiliki PR Fisika dan juga beberapa tugas kompetisi yang didaulatkan Arthur Kirkland padanya saat pertemuan kelompok mereka dua hari yang lalu. Lagipula Nesia juga cukup malas untuk berada di luar lama-lama sementara ancaman akan segera turunnya hujan, datang membayang.
Lihat saja langit di atas sana yang beberapa kali terlihat terbelah oleh kilatan cahaya kilat.
Memasukkan kedua telapak tangannya pada mantel biru tebalnya, tubuh gadis itu sedikit bergetar ketika hembusan angin langsung menerpanya begitu ia sampai di luar kafe.
Sepertinya musim gugur di sini akan sama membekukan dengan musim dingin…
Nesia segera berjalan cepat-cepat menjauh dari sana. Bebunyian deru angin dan gemerisik daun terdengar cukup jelas di jalanan yang cukup sepi ini. Maklum, jalan ini bukanlah main road yang wajar dilewati banyak kendaraan yang berlalu lalang. Sehingga suara deru angin saja cukup terdengar di daerah yang lumayan lengang ini.
Melintasi jalan kecil itu, Nesia sedikit berlari-lari dan menundukkan wajahnya sembari mengernyit. Hembusan angin membuat rambut depannya berantakkan dan sedikit menganggu pemandangannya. Yang jelas, ia ingin agar segera sampai di apartemen.
Dia tidak membawa payung dan apa jadinya jika hujan sebentar lagi akan turun dengan deras disertai angin ribut begini?
Angin kembali terdengar menderu lirih—namun hembusannya cukup kuat untuk menerbangkan helai-helai dedaunan yang mulai melemah di pertengahan musim gugur. Karenanya, Nesia menghentikan langkah dan memalingkan muka sembari menyipit—melindungi mata dan pengelihatannya dari poninya yang seringkali membuatnya ribet tatkala ada angin begini.
Namun tindakannya itu justru membuatnya memberi tatapan heran ke sesuatu di arah di mana ia memalingkan wajahnya.
Di depan sana.
Tak berapa jauh dari Nesia berdiri sekarang. Di depan sebuah pohon flamboyan yang tumbuh tegak di halaman lebar sebuah restoran mewah yang menyajikan berbagai macam makanan Asia. Restoran yang terlihat lumayan ramai—meskipun tidak seramai yang biasa Nesia lihat.
Tetapi bukanlah restoran itu yang membuat gadis itu menatap ke arah tersebut dengan lebih lama.
Bahkan dalam keadaan malam begini, ia mampu melihat dua orang yang berdiri di depan pohon flamboyan di halaman restoran itu. Cukup jelas mampu Nesia lihat akan adanya seorang pemuda dan seorang gadis yang berdiri berhadap-hadapan di sana. Seorang pemuda yang memakai jaket berwarna perak beserta jeans hitam, dan seorang gadis yang memakai sundress dilengkapi dengan cardigan merah muda.
Bahkan dalam keadaan di mana angin ribut yang membuat Nesia harus menyipit melihat dari balik poninya yang berantakan, cukup jelas Nesia tahu siapa kedua orang tersebut.
Apa yang sedang dilakukan Antonio Carriedo dengan Senior Bella Van Hardt di tempat itu?
Dan entah Nesia tidak tahu pula, mengapa di detik itu juga, ia berlari-lari kecil mendekat ke arah yang menjadi fokus tatapannya.
Tak tahu, sekalipun hati kecilnya membisikkan bahwa ia seharusnya berlari pergi dan menjauh.
Tentu saja, Nesia tidak sebodoh itu untuk muncul dengan tiba-tiba di depan Antonio dan Senior Bella—memangnya Nesia tidak bisa membaca suasana yang kentara sekali bahwa kedua orang itu tengah terlibat dalam pembicaraan serius? Namun rasa penasaran gadis itu demikian besar. Dan Nesia merupakan tipe orang yang lemah iman jika sudah dihadapkan pada rasa penasarannya.
Oleh sebab itu, Nesia memutuskan untuk menghentikan langkahnya di balik pohon flamboyan—di sisi dari pohon itu, yang membuatnya mampu—ehem!—mengamati dan mendengar apa yang tengah terjadi, tanpa sepengetahuan dari objek terkait.
Uh.
Memikirkan apa yang dilakukannya sekarang, mau tak mau Nesia wajah Nesia sedikit merona. Habisnya, siapa yang tidak merasa konyol sendiri jika menyadari bahwa kini tengah bertindak layaknya paparazzi yang menguntit seseorang begini?
Nyaris Nesia menyerah dan memutuskan untuk pergi dari sana (ayolah! Perbuatannya ini membuatnya malu sendiri!), sebelum niatnya itu luntur ketika telinganya menangkap sebuah kalimat dari sebuah suara yang terdengar cukup feminin.
"… pa? Kau tahu, kau malam ini tumben sekali tampak diam, Antonio?"
Tentu saja, itu adalah suara Senior Bella. Siapa lagi? Toh, tidak ada orang lain yang tengah terlihat berbincang dengan pemuda itu, selain senior cantik berbandana putih tersebut.
Nesia memutuskan untuk tetap bertahan di balik pohon ini—maafkan, Tuhan! Dari balik batang pohon, gadis itu menatap ke arah di mana Antonio dan Bella berdiri. Suara gemerisik dedaunan karena hembusan angin, membuat Nesia sedikit merutuk kesal karena otomatis ia tidak mampu mendengar jelas apa yang terucapkan di antara kedua orang di depannya.
"…pa-apa. Hahaha…ha."
Kalau yang itu adalah suara Antonio—yang sedikit teredam oleh suara deru angin. Namun Nesia masih mampu menangkap tawa itu—tawa yang terdengar sangat 'bukan Antonio'.
Memangnya kapan selama ini Nesia tahu dan mendengar Antonio tertawa dengan nada segugup itu?
Pandangan gadis itu melunak ketika melihat ke arah Antonio.
Sudah berapa lama, ya, rasanya ia tidak bersikap biasa kepada pemuda itu? Kapan terakhir kalinya ia berbincang dengan santai dan tertawa dengan lepas bersamanya?
Kini mereka seperti dua orang asing saja…
Dan sekarang apa? Nesia hanya berdiri di balik pohon dan menatap dengan begitu menyedihkannya, pada pemuda yang rasanya ingin ia raih. Tetapi bagaimana bisa? Ketika pemuda itu sepertinya tak menyadari keberadaannya—tentu saja. Bahkan sepertinya Antonio juga tidak sedang memikirkan Nesia.
Sepertinya yang tengah bergumul dengan pikiran pemuda itu hanyalah gadis bermata emerald yang tengah berdiri menatap bingung padanya itu.
"Lantas kenapa?" dilihat oleh Nesia bahwa Bella menatap Antonio dengan pandangan heran bercampur geli, "Kau bilang ingin bicara padaku setelah makan malam? Dan…uh. Di sini dingin sekali," Bella terlihat mendekapkan kedua tangannya untuk memeluk dirinya sendiri, "Jadi…hehe. Kuharap kita bisa menyelesaikan apapun ini, secepatnya?"
Antonio ingin berbicara sesuatu? Apakah? Sepenting apakah? Sepenting itukah hingga pemuda itu terlihat enggan untuk mengucapkannya?
Ya Tuhan, kenapa tiba-tiba detak jantung Nesia menggila begini? Debumannya mengeras—sangat keras. Bukan debuman yang nyaman, tetapi debuman yang justru membuatnya sakit. Sesak.
Perasaan yang wajar dirasakan ketika seseorang akan melihat sesuatu yang tak ingin ia lihat, tetapi juga sesuatu yang membuatnya penasaran.
Dan gadis itu sadar, apa yang akan terjadi selanjutnya. Apa yang akan Antonio ucapkan atau lakukan.
Dan apa yang akan terjadi pada diri dan perasaannya.
"I-ini…," ujar Antonio dengan kepalanya yang semula tertunduk, kembali terangkat. Dari jarak yang tidak demikian jauh, Nesia bahkan mampu melihat adanya rona merah di wajah pemuda itu.
Rona merah…
Dan sepertinya dugaan Nesia semakin mendekati kenyataan ketika tangan kanan Antonio terulur ke arah Bella. Tangan kanan yang baru Nesia sadari, sejak semula senantiasa tersembunyikan di balik punggung lebar dan kuat itu. Tangan kanan yang kini, memegang satu buah benda dengan warna semerah semburat wajah pemegangnya.
Setangkai mawar merah.
Bunga lambang cinta, yang mekar dan tampak indah, seolah dengan keanggunannya itu, ia mengolok-olok dan mencibir pada Nesia yang kontan melebarkan kedua matanya.
"Ah?" Bella menatap sodoran tangkai mawar itu dengan pandangan terkejut, lantas mendongak dan menatap Antonio dengan senyum tertahan dan tak mengerti, "Aku tidak ingat aku dilahirkan dua kali—ulang tahunku sudah usai beberapa minggu yang lalu, 'kan?"
Antonio tertawa kikuk sembari menggaruk tengkuknya—demi Tuhan, itu adalah sikap yang wajar diberikan oleh orang yang tengah merasa gugup atau tidak percaya diri atau malu, "Y-Yah… Memberi bunga bukan hanya untuk ulang tahun, 'kan?"
Bella tertawa lirih, tanpa sedikitpun kunjung menyentuh bunga mawar itu, "Lantas?"
Rasanya detik-detik itu bagaikan detik-detik di mana rasanya dunia akan hancur akan datangnya kiamat. Nesia seolah mampu mendengar debuman jantungnya sendiri yang rasanya cukup jelas di telinganya. Debuman jantungnya… setiap debuman… seolah bagaikan tik tok jarum jam di ruangan sepi dan luas. Sunyi. Lama. Menyiksa.
Menakutkan.
Antonio yang tidak kunjung menjawab. Senior Bella yang menatap heran. Dan Nesia yang menggigit ujung bibirnya dengan cemas, takut, penasaran.
Dan tentu saja, ekspresi yang jelas terpancar adalah harapan bahwa apa yang ia pikirkan, tidak akan menjadi kenyataan.
Tetapi suasana yang bagi Nesia sungguh seolah mencekiknya itu, akhirnya terhenti oleh sikap Antonio. Bagaimana pemuda itu merubah ekspresi kikuknya menjadi ekpresi serius—sangat serius hingga rasanya Nesia ingin menolak kenyataan bahwa pemuda itu adalah Antonio. Antonio tidak akan memberi ekspresi seserius itu. Antonio tidak akan pernah meninggalkan senyum dan tawa happy go lucky yang menjadi trademark-nya tersebut.
Dan Nesia rasanya tidak ingin memercayai pendengarannya sendiri ketika kalimat Antonio selanjutnya terucapkan bersamaan dengan deru angin yang kembali membawa dedaunan beterbangan di udara sekitar.
.
.
"Senior Bella… I—love you. Truly, deeply, madly, passionately, in love with you… I've seen nothing but you."
.
.
Sebuah senyuman miring terlukis di bibir Nesia.
Yang barusan itu tidak seperti apa yang sesungguhnya terjadi, 'kan? Tidakkah Nesia salah dengar? K-karena suara deru angin barusan lumayan keras—mungkin saja pendengarannya membodohi dirinya sendiri.
A-Antonio tidak mungkin…
Pemuda itu… satu-satunya pemuda yang dicintainya selepas ia meninggalkan cinta pertamanya…
Pemuda itu tidak mungkin, kini, di depan mata dan pendengaran Nesia sendiri, menyatakan cinta pada perempuan lain, 'kan?
Rasanya tercekik leher Nesia melihat Antonio menatap lurus ke kedua bola mata Senior Bella. Rasanya gadis itu tidak mampu menarik barang satu tarikan napas, ketika melihat betapa Antonio memberi ekspresi serius, yakin, dan sungguh-sungguh. Seolah apapun yang barusan diucapkannya, bukanlah sebuah lelucon atau perkataan iseng darinya.
Seolah semua kalimat itu berasal dari lubuk hatinya.
Paling dalam.
Sebelah tangan Nesia tanpa sadar memegang batang pohon flamboyan dengan keras, hingga ia seperti akan merobek batang itu hanya dengan tekanan jemarinya tersebut.
Apa yang dilihatnya ini tidak mungkin, 'kan? Apa yang didengarnya adalah imajinasinya belaka, 'kan? Apa yang ia pikirkan sesungguhnya tidak terjadi.
Iya, 'kan?
"K-kau…," Senior Bella berucap setelah terdiam cukup lama. Ditatapnya Antonio dengan pandangan geli bercampur tidak mengerti, "Untuk apa kau becanda demikian di saat seperti—"
"Tidak, Senior," dengan cepat Antonio menyahut. Tuhan… Betapa nada itu terdengar serius, "Jangan anggap semua ini hanya lelucon—untuk apa? Aku tidak pandai melawak juga. Aku serius. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Senior. Kumohon…"
Tidak tahu Nesia, kenapa ia masih saja berdiri di situ bahkan ketika ia mendengar nada permohonan tulus itu meluncur dari mulut Antonio. Kenapa ia tidak segera berpaling dan berlari pergi begitu melihat bahwa ternyata Antonio memang benar-benar mengucapkan apa yang daritadi Nesia harap tidak pemuda itu ucapkan.
Kenapa ia tidak kunjung hengkang dari sini, bahkan ketika ia mendengar dengan begitu jelas tiga kata tersebut, "Aku. Mencintai. Mu" meluncur dengan mudah dari mulut Antonio.
Tiga kata yang ingin Nesia ucapkan—tiga kata yang ingin ia dapatkan.
"… I see…," gumam Senior Bella ketika ia beberapa saat hanya terdiam dan tampak terpaku. Gadis itu mengangguk-angguk, seperti menyadari atau mengerti sesuatu, "Kau sepertinya serius akan semua hal ini—"
"Tentu saja aku serius, Senior. Apa kau pikir aku akan dengan begitu mudahnya menjadikan hal semacam ini untuk melucon pada seorang gadis?"
"Tidak—Antonio, tidak," potong Senior Bella dengan sedikit keras, "Jujur, aku tidak tahu, tidak mengerti, dan tidak siap akan semua ini."
Nesia menggigit ujung bibirnya dengan keras—hingga jika ia terus demikian, niscaya akan menetes darah dari sana.
"Maafkan aku, Senior. Aku hanya ingin—"
"Bukan itu masalahnya."
Pegangan Nesia pada batang pohon semakin mengeras—semakin menguat, hingga ia mengelupas epidermis bagian batang yang disentuhnya, menjadi serbuk-serbuk kecil yang mengotori jemarinya.
"…"
.
.
"Aku menghargai kejujuran dan perasaanmu—"
Tidak.
"S-Senior… Jangan ucapkan itu…"
.
.
"Tapi kau harus tahu, Antonio. Kau harus tahu bahwa—"
"Kumohon jangan ucapkan itu!"
Antonio! Antonio! Antonio!
Hanya nama itu yang berkali-kali terteriakkan dari hati Nesia. Seolah ia ingin benar-benar meneriakkan nama pemuda itu. Agar Antonio menoleh. Agar Antonio menyadari keberadaannya.
Menyadari kehadirannya selama ini.
Agar Antonio mampu melihat bahwa Nesia akan memberikan semua perlindungan yang pemuda itu butuhkan.
Semua—semua yang ia butuhkan.
.
.
"Maafkan aku Antonio tetapi aku tidak bisa!"
Tes.
Jatuhlah buliran bening itu. Luruh dari kedua mata hitam kecoklatan yang menatap nanar dan getir. Luruh untuk mewakili sebuah hati yang remuk oleh pedih.
Entah untuk apa air mata itu?
Bahagiakah?
.
.
"Aku masih menyukai Ludwig—aku bahkan tidak tahu kami masih berpacaran atau tidak. Maafkan aku Antonio… tetapi Ludwig…"
"Hiks.. Antonio…"
Nesia tidak tahu, untuk apa ia menggumamkan nama pemuda itu di sela isak tangisnya.
Dan lagipula, untuk apa ia terisak? Apakah ia benar-benar merasa bahagia? Bahagia karena mendapati bahwa perasaan Antonio bertepuk sebelah tangan—sama seperti perasaannya?
Tetapi, jika demikian, maka apakah Nesia mencintai pemuda itu? Cinta seperti apa yang membuatnya bahagia melihat orang yang dicintai sedih? Senang melihat orang yang dicintai terluka?
Apakah ini tangisan bahagia? Tangisan syukur? Perasaan euforia?
.
.
"T-Tetapi Senior—"
"Antonio, kuharap kita masih mampu menjadi teman dan partner dalam klub Musik—jangan libatkan hal pribadi pada profesionalisme kita, ya? Aku sangat senang mengenal dan menjadi temanmu."
Atau ini adalah air mata duka? Air mata terluka?
Tetapi mengapa? Mengapa ia terluka jika mendapati bahwa pemuda itu ternyata, tidak sedang bersama dengan perempuan lain? Mengapa ia harus menangis sedih justru ketika mendapati bahwa ia masih memiliki kesempatan? Mengapa ia harus kecewa justru ketika mendapati bahwa tidak ada satu gadispun yang memiliki pemuda yang dicintainya?
Mengapa ia menangis?
.
.
"Sekarang pulanglah—besok kau sekolah, 'kan? Lagipula udara malam ini juga tidak begitu baik. Nah, sekali lagi, maafkan aku, Antonio. Maaf. Kuharap kau mengerti."
.
.
Apakah ia menangis karena melihat betapa kecewanya ekspresi itu? Melihat betapa hancurnya perasaan pemuda itu, yang terlukiskan dalam tatapan getir kedua mata emerald-nya?
Menangis ketika membayangkan, bahwa, kini Antonio tengah merasakan perasaan yang sama dengan Nesia? Sama… Persis!
Sebuah perasaan tulus yang tiada bersambut. Sebuah perasaan murni yang justru memeluk ironi.
Nesia menangis karenanya…
Karena Antonio bersedih. Karena Antonio terluka. Karena Antonio merasakan perasaan yang amat buruk dan menyakitkan—yang kini tengah ia rasakan. Yang tengah mereka rasakan. Berdua.
"Hiks—Hiks…"
Gadis itu hanya bisa terisak diam. Hanya menatap di balik pandangannya yang kabur oleh air mata. Menatap dari sini, ke arah Antonio. Ke arah pemuda yang masih terpaku. Yang masih berdiri termenung.
Kepala bersurai coklat yang tertunduk.
Tangan kanan yang semula menyodorkan bunga itu, kini luruh lemas di samping tubuhnya.
Dan tidak beranjak, sekalipun Senior Bella telah beberapa saat berlalu dari sana.
.
.
Dan pada akhirnya, kedua kaki itu melangkah. Dengan langkah lemas seolah tiada lagi tenaga ekstra yang mampu menopang tubuh itu lebih lama lagi. Alih-alih melangkah pergi, kedua kaki Antonio melangkah mendekat menuju ke arah pohon.
Untuk kemudian pemuda itu menjatuhkan dirinya dengan sedikit keras di tanah—seolah ia tidak kuasa lagi untuk lama-lama berdiri.
Di tanah, di depan batang pohon yang kemudian menjadi sandaran punggungnya.
Untuk kemudian tertunduk dan menyembunyikan wajahnya di balik lipatan tangannya di atas satu lututnya yang ia tekuk.
.
.
Dan tanpa melihatpun, Nesia seolah yakin bahwa pemuda itu tengah menangis—setidaknya, hendak atau ingin menangis.
Bukankah itu pula yang ia lakukan ketika mengetahui bahwa orang yang ia cintai tidak membalas perasaannya?
.
.
Nesia membalikkan tubuhnya, untuk kemudian bersandar pada batang pohon di belakangnya. Perlahan, tubuh itu melorot lemas, untuk kemudian terjatuh terduduk di tanah.
Dan menahan sebisa mungkin isak tangisnya.
Meskipun air mata dan getaran tubuh ini sama sekali tidak berada dalam kuasanya untuk mampu ia kendalikan.
.
.
Hanya malam yang menjadi saksi akan hal itu.
Bagaimana pohon flamboyan itu menjadi sandaran—di masing-masing sisinya yang berlawanan, akan dua orang yang tengah terluka.
Dengan alasan yang sama, namun juga berbeda.
.
.
ZRRRSSSSHHHH!
Dan hujan turun dengan lebat—sangat lebat.
Mengguyur seluruh penjuru kota dengan hujaman deras airnya. Menghantam setiap apapun yang disentuhnya, dengan buliran-bulirannya yang besar. Mendekap kota ini dalam dekapan dingin dan basah. Bau tanah segera menyeruak begitu saja. Angin yang masih berhembus, membawa air hujan untuk mampu menerobos kembangan-kembangan payung dari manusia yang terburu-buru menyingkir dari tempat terbuka.
Kecuali untuk dua orang itu.
Yang masih saja terduduk di dua sisi pohon yang berlawanan. Satu orang tertunduk dan menyembunyikan wajahnya pada lipatan tangannya—seolah mencegah dunia untuk melihat ekspresi apapun yang tergambar di sana. Sedangkan satu orang lagi bersandar pada batang pohon itu pula—hanya di sisi lain yang berlawanan. Dengan kedua lutut yang terlipat dan terlingkari oleh kedua lengan itu—seolah ingin memeluk seseorang yang sekarang sangat ingin ia tenangkan dalam pelukan kedua tangannya. Dengan ujung bibir yang tergigit keras—mencoba menahan isak. Bahu yang bergetar, mata yang sembab, dan air mata yang bercampur dan berlomba dengan tetes hujan untuk meluruh di pipinya.
Tidak ada yang beranjak.
Hanya terdiam.
Hanya merasakan sakit masing-masing. Terluka kecewa.
Dan seolah berharap bahwa dengan mendiamkan diri di bawah guyuran hujan, maka guyuran hujan itu akan mampu meluruhkan semua rasa sakit dan rasa pedih yang merendam jiwa mereka.
Sakit.
Perih.
Ironi.
Hingga suara itu terdengar. Suara seperti langkah kaki yang menapaki jalanan yang tergenangi oleh air hujan. Suara yang berasal dari sisi lain pohon.
Suara dari Antonio yang memutuskan untuk bangkit. Berdiri. Dan melangkah pergi dari sana dengan langkah gontai—seolah ia dipaksa menanggung beban berton-ton di pundaknya.
Nesia hanya mampu melihat—menengokkan kepalanya ke belakang dan melihat punggung itu kian menjauh. Menjauh dari pohon itu.
Menjauh darinya. Meninggalkannya seorang diri—tanpa sedikitpun tahu bahwa sejak semula, Nesia berada di sana. Nesia melihat semuanya. Nesia tahu dan mengerti akan semuanya.
Rasa sakitnya. Kecewanya. Penderitaannya. Nesia tahu semua. Nesia mengerti.
Pandangan gadis itu menangkap sesuatu di dekat pohon—di sisi dimana Antonio barusan mendudukkan dirinya.
Sesuatu berwarna merah. Sesuatu yang terbungkus plastik transparan. Sesuatu yang tergeletak begitu saja di tanah.
Setangkai mawar merah yang terguyur di bawah hujan deras—teracuhkan oleh si pemilik yang terlanjur gagal memberikannya pada sang terkasih.
Dan Nesia mengambilnya.
Untuk kemudian mendekapnya. Memeluknya erat, di kedua tangkupan kedua tangannya di depan dada.
Seolah dengan itu, ia berharap bahwa pelukannya ini mampu tersampaikan pada pemilik yang kini telah pergi dan menghilang dari sana. Seolah berharap bahwa seandainya jika mawar itu diberikan untuknya… seandainya jika mawar itu adalah untuk Nesia… hanya untuk Nesia…
Dan pecahlah isak tangis yang sedari tadi ia coba tahan. Pecah, tanpa mampu dan mau ia tahan dan kendalikan.
Keras. Mengiringi air matanya yang semakin mengaliri deras wajahnya—bersama dengan aliran deras air hujan yang membuat sekujur tubuhnya basah tak terkecuali. Isakan yang mengiringi tubuhnya yang bergetar.
Isakan yang membuat tangkupan kedua tangannya pada mawar itu, semakin erat.
Semakin kuat.
Lama.
Lama ia hanya terduduk dan menangis begitu. Lama ia meringkuk seperti di bawah hujan seperti itu. Lama ia hanya menangis seorang diri—terisak seperti itu. Lama.
Sangat lama—dan ia tidak peduli.
Setidaknya sebelum ia menyadari bahwa ia tidak merasakan lagi guyuran hujan yang menghantam sekujur tubuhnya, padahal telinganya masih mampu mendengar suara derai hujan yang membasahi sekelilingnya.
Setidaknya sebelum ia perlahan-lahan menyadari bahwa ada sesuatu yang menghalangi sinar lampu di depan sana, untuk mampu menerangi tempat Nesia berada.
Dan ketika ia mendongak, ia mampu melihat sebuah payung berwarna putih, yang terkembang di atas kepalanya—di atas tubuhnya yang meringkuk dingin dan basah.
Dan—
Dari tudung payung, pandangan Nesia berangsur-angsur menelusurinya. Dari kembangan payung itu, menuju ke arah tangkai payung, menuju ke arah sebuah lengan berbalut kain rajut berwarna hitam…
Melewati lengan…
Melewati bahu…
Leher, dagu…
Dan sampailah kedua bola hitam kecoklatannya pada dua pasang emerald yang menatapnya di balik tirai hujan itu.
Jika kondisi lebih baik, jika keadaan lebih normal, dan jika perasaan Nesia tidak mengalahkan logika pikirannya, maka gadis itu pasti akan begitu terkejut mendapati pemuda itu berada di depannya.
Pasti akan akan begitu terheran-heran, ketika mendapati Arthur Kirkland berdiri di depannya.
Berdiri dengan tubuh basah kuyup, di depannya. Dan tanpa berkata apa-apa, mengarahkan lindungan payungnya, kepada Nesia—untuk melindungi Nesia dari guyuran hujan lebih lama.
Tanpa berkata apapun. Tanpa menjelaskan apapun.
Hanya terdiam.
Dan Nesia hanya kembali tertunduk.
Kembali menangis. Kembali terisak. Kembali tenggelam dalam pemikiran dan perasaannya sendiri.
Tanpa memedulikan apapun—siapapun. Tak peduli jika seandainya Arthur berniat menertawai keadaan yang tampak menyedihkan demikian.
Dan puji Tuhan, Arthur sepertinya cukup sensitif untuk tidak membuka suara.
Hanya berdiri. Hanya tetap mengarahkan tudung payungnya. Dengan ekspresi yang hanya dia dan Tuhan saja, yang tahu apa maknanya. Hanya dia dan Tuhan saja, yang tahu mengapa ia tiba-tiba datang dan melakukan semua ini pada Nesia.
Hanya Arthur dan Tuhan.
-oOo-
Beberapa saat kemudian, seperti cara kedatangannya yang begitu tiba-tiba, begitu pula Arthur saat pergi dari sana. Nesia tidak tahu—dan ia belum begitu peduli, pada apa yang pemuda itu lakukan. Apa yang terjadi pada otaknya hingga daripada memaki dan merutuki Nesia—seperti biasanya—pemuda itu justru datang dan tanpa berucap apa-apa, menudungkan payung putih ini di atas kepala Nesia.
Begitu saja.
Setelah beberapa saat berdiri dan terdiam, pemuda itu berjongkok di depan Nesia. Lantas meraih sebelah tangan Nesia—tolong jangan salah paham. Karena pemuda itu hanya mempergunakan tangan itu untuk memaksanya memegangi tangkai payung tersebut.
Hanya demikian.
Karena lantas pemuda itu segera kembali bangkit. Hanya berbicara pelan, "Kembalikan saja besok di sekolah."
Dan pergi dari sana.
Hanya begitu.
Nesia hanya menatap punggung pemuda itu. Arthur yang segera melangkah menjauh dari sana. Berlari-lari kecil, menerobos hujan deras dan meninggalkan payungnya di sini. Di genggaman tangan Nesia.
"Untunglah dia segera pergi."
Sebuah suara terdengar di samping Nesia. Gadis itu mendongak, dan menatap seseorang pria tua yang berstatus anonim, berdiri di sampingnya dengan payungnya yang berwarna merah hati. Orang tersebut menatap kepergian Arthur—dan demi Tuhan, sejak kapan orang tua itu berada di situ tanpa Nesia menyadarinya?
Lantas orang itu menunduk pada Nesia yang masih terduduk di tanah. Dengan senyum kecilnya, orang itu berbicara, "Dia berdiri terlalu lama di bawah hujan, padahal dia membawa payungnya. Berdiri dan hanya menatap ke arah sini—dari sebelum hujan dan sampai hujan turun dengan deras begini. Tindakannya itu menarik perhatianku dan aku sempat berpikir, kapan dia akan maju mendekatimu dan berhenti bersikap tolol seperti itu."
Siapapun orang yang tengah berbicara pada Nesia tersebut, gadis itu tidak peduli. Bahkan gadis itu tidak menjawab ucapan sampai jumpa si paman anonim itu, ketika paman itu berbalik dan melangkah pergi dari sana.
Dan hanya satu yang Nesia pikirkan.
Sebelum hingga turun hujan...?
Seberapa lama dan seberapa jauh sebenarnya Arthur melihat dan mengerti semua yang terjadi malam ini?
DIS: Alright, entah nyambung atau tidak, saya pas ngetik ini sambil dengerin lagu beken sepanjang masa Maroon 5: She Will Be Loved. And the feel was so strong.
Oh ya. Cemundh-cemundh, terimakasih udah review. Makasih cekaliiii. Gila, bahkan saya dapet beberapa reviewer baru :') Saking terharunya, saya bela-belain bolos kuliah selama 1 minggu cuman buat nyari inspirasi fic ini lho #okeinibokishdanlebayish
Loph loph yu deh :D
Next Chapter:
"Dear Mr. Sender yang puitis dan baik hati, kapankah kau akan berbaik hati untuk memberitahu siapa dirimu? Setidaknya, untuk siapa surat-surat manismu ini ditujukan?"
.
"Ini salahku, Senior Zwingli."
.
"Kau itu homo, 'kan? Kau itu pacaran dengan Senior Alfred, 'kan? Ngaku,deh~"
.
"Jawab dulu pertanyaanku. Dalam hubunganmu dengan Senior Alfred, posisimu sebagai apa? Seme? Uke? Tetapi kalau dilihat dari sifat Senior, sih—Oops!"
.
"APA YANG KAU LAKUKAN, MEEESUUUMMM!"
"JANGAN BERLEBIHAN! AKU 'KAN SUDAH MINTA MAAF!"
"TUTUP MULUTMU DAN BARU BICARALAH KETIKA KAU MERASAKAN BAGIAN PRIVATMU TERSENTUH SEPERTI ITU OLEH ORANG LAIN!"
Pojok review. Monggo~
Berkat Arthur, galau Nesia bisa sedikit hilang / Jadi, intinya, kalau kalian lagi galau ngejomblo di malam minggu, ga perlu keramas. Datanglah ke Arthur :p / Punya firasat Lovi mulai 'bergerak' di chapter depan/ Hm... not really, jika melihat dari chapter ini sih. Hoho / Kirain ada SpaMano. Rikues HungaBela boleh?/ SpaMano? Hints berulang kali, sih. Dan HungaBela? Yuri maksudnya? Errr... / Maukah kau menikah denganku?/ ... #diembeberapamenit# Errr... cuaca hari ini bagus sekali, ya? :D / Update-nya kalau bisa tiga hari sekali/ Haha, probably :) / UKNES so sweet! Unyu! Manis! Tsundere reaction/ Yepyep / Saya tunggu NorBela ya/ There would be no NorBela in this fic, as much as I'd really like to write them T.T / Arthur tsundere sekali. Ga ada tandingannya. Tapi manis/ Kata Arthur: Tengs banget pujiannya, you bloody wanker! / Asek ada SpaBelgie/ :) / Suka deskripnya/ Muuchy beudhz, Qaqa / Judul fic ini kayak nama penyakit/ :0 / Angst-nya kurang jleb. Don't be sad/ Tidak ada yang membuat saya sesedih ketika kamu meninggalkan saya :') / Suka Nesia patah hati karena Antonio terlalu oblivious/ I thought you're on SpaiNes side :0 / Mudah-mudahan si Antonio bakal nyadar kalau Nesia suka dia/ Mungkin :p / Perhatian UK ke Nesia lebih kerasa sebagai sahabat atau saudara/ Silahkan dianggap begitu :D Dianggap sebagai pacaran juga bisa :D Privasi reader deh. Hoho / UK bersikap gentleman tapi gagal/ #pukpukArthur / Antonio itu suka ga sih sama Nesia?/ Setelah baca chapter ini, menurutmu apa? :D / Lovi kapan nembak?/ Bentar, dia masih pesen shotgun dulu dari Amerika (?) / Saya mau USUK di fic ini/ Hanya fans service ya, bro :p / Pasif itu seharusnya identik dengan tidak acuh/ Stupid me... T.T Terimakasih koreksinya / Jangan bilang yang confession itu Lovino?/ Yeeee... Anda salah :p / Kasihan Lovino ngacang mulu dari kemarin/ Di chapter ini doi eksis mulu bray :D
#teparabisngetik
Mohon review :D
Saya akan tunjukkan dan buktikan satu teori yang menyatakan bahwa banyak dan cepatnya review kalian berbanding lurus dengan kecepatan update saya (Storm, 2013).
Terimakasih
DIS
