Guidance:
Kompleks gedung A: Tempat di mana para murid kelas 1, dan sebagian kelas 2, belajar secara formal
Kompleks gedung B: Tempat di mana para murid kelas 3 belajar secara formal
Kompleks gedung C: Tempat di mana para murid kelas 2 belajar secara formal
Character:
Nesia, Antonio, Lovino, Lily, Feliciano, Mei: kelas 1
Arthur, Alfred, Tiino, Vash: Kelas 2
Francis, Gilbert, Elizaveta, Bella, Andrew, Ludwig, dan karakter2 lain: kelas 3
Chau dan Maria: Excluded
Semoga membantu :D
"Untuk seseorang yang sangat aku cintai,
Aku mencintamu bukan karena kau cantik. Aku mencintaimu bukan karena kau manis. Aku mencintaimu bukan karena kau ceria, semangat, dan senyummu yang senantiasa membuatku turut bahagia.
Tetapi,
I love you because I want to love you.
Only you."
Beberapa saat Annesia Saraswati hanya terdiam setelah selesai membaca satu kertas surat di tangannya. Pandangannya meluruh menatap kalimat terakhir yang tertera di surat tanpa nama tersebut. Surat yang rajin menyambangi Klub Radio—dan selalu tanpa nama pengirim atau tujuan surat.
Surat yang selalu membuat jantung Nesia berdebar. Membuat darahnya berdesir halus. Membuat ia menghela napas lirih dengan pandangan melembut.
Manis sekali. Indah sekali. Perasaannya begitu tersampaikan.
M—mungkinkah ini surat untuknya?
Gadis itu menampar diri pipinya sendiri sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Mana mungkin. Mana ada yang menyukainya sedalam ini. Ia 'kan tidak begitu cantik, manis, ceria, semangat, dan semua sifat yang ada di surat itu.
Lagipula sekarang bukan waktunya berpikir untuk itu, 'kan? Ia harus segera mengakhiri siarannya karena sebentar lagi, bel tanda akhir periode istirahat akan berbunyi.
"Jujur saja, sahabat. Aku merasa surat barusan sangat manis sekali, 'kan?" ujar Nesia kembali bercuap-cuap, "Aku yakin, pasti banyak di antara kalian yang mupeng dan berandai-andai bahwa surat ini adalah untuk kalian, dari gebetan kalian. Haha, kok aku tahu, ya? Ketahuan nih, kalau aku turut mupeng. Tetapi, kali ini, aku ingin mengatakan sesuatu pada si pengirim—siapapun dia. Ehem! Dear Mr. Sender yang puitis dan baik hati, kapankah kau akan berbaik hati untuk memberitahu siapa dirimu? Setidaknya, untuk siapa surat-surat manismu ini ditujukan? Karena Demi Tuhan, kau membuat kami, Klub Radio, sangat penasaran! Dan aku yakin, banyak para Sahabat H-Radio yang juga penasaran sekali. Lagipula, jika kau begini terus, bagaimana kau bisa mengharapkan bahwa gadis yang kau sukai tahu bahwa surat ini darimu dan untuknya? See? Surat semanis ini, menurutku sayang banget kalau hanya menjadi sekedar surat kaleng dan perasaanmu tidak tersampaikan padanya." Nesia mengangguk-angguk kuat dan mengepalkan kedua tangannya—seolah bersemangat dan membenarkan apa yang barusan diucapkannya.
"Nah, kebanyakan ngomong, deh, aku. Hahaha. Maaf, Sahabat. Habisnya, terbawa suasana sih, dengan surat tadi. Dan oke, karena waktu juga udah habis dan kayaknya sebentar lagi bel akan berbunyi, maka Annesia pamit undur diri, ya? Bagi yang belum dibacain suratnya, tenang saja. Besok kami masih hadir, dan mungkin saja surat kalian akan dibacakan oleh Senior Tiino, yang bertugas sebagai penyiar besok. Oke? Sampai jumpa besok di jam yang sama saat periode istirahat. Jaga diri, jaga hati, dan tebarkan cinta ke orang-orang di sekelilingmu. Salam!" Nesia mengacungkan jari tangannya hingga membentuk tanda peace sembari tersenyum lebar—kebiasaannya ketika ia mengakhiri tugasnya sebagai anggota Klub Radio.
Tak lupa juga dengan sedikit merasa konyol saat mengucapkan kalimat salam yang menjadi trademark Klub Radio. "…tebarkan cinta ke orang-orang di sekelilingmu"
… Hhhh… Tipikal kalimat yang akan diucapkan oleh si pembuat kalimat itu, Senior Francis Bonnefoy.
-oOo-
Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya
I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.
Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.
Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedar hints dan fans service :p
Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D
Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D
Maju FHI!
Happy reading J
-oOo-
Nesia menatap bangunan di depannya. Perlahan, gadis itu menelan ludah, lantas mengangguk mantap.
Sekretariat OSIS Hetalia High—itulah kalimat yang tertera di petak persegi yang terbentuk dari 16 keramik hitam, di tembok putih bagian depan bangunan tersebut. Sebuah bendera Hetalia High berkibar di ujung sebuah tiang, tepat di berhadapan dengan tiang yang mengibarkan bendera Amerika Serikat.
Meskipun ini bukanlah pertama kalinya Nesia datang kemari, tetapi Nesia tak akan pernah berhenti merasa heran melihat bahkan hanya bagian depan gedung itu. Dan Nesia juga tak akan pernah berhenti heran akan sifat dan karakteristik 'hedonis' yang tampak di tiap sudut sekolah ini.
Maklum sih..
Nesia menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan—memutuskan untuk membuyarkan pemikirannya tentang arsitektur sekolah tercinta. Tidak ada waktunya untuk fansgirling atau berkritik ria. Ia datang ke sini juga bukan untuk inspeksi, 'kan?
Kembali berjalan, Nesia melangkah cepat-cepat meniti tangga depan Sekretariat OSIS. Beberapa menit yang lalu ia mendapat pesan dari Senior Alfred bahwa ada hal kecil yang perlu dibicarakannya—dan dari semua tempat yang ada dan asyik, Alfred memilih Sekretariat OSIS sebagai tempat pertemuan mereka.
Tahu, 'kan? Sekretariat OSIS sama dengan "Tempat Anak OSIS" sama dengan Arthur Kirkland!
Langkah Nesia memelan bersama dengan pandangannya yang tampak mengulas.
Ngomong-ngomong soal Senior Arthur…
"Kembalikan saja besok di sekolah."
.
"Dia berdiri terlalu lama di bawah hujan, padahal dia membawa payungnya. Berdiri dan hanya menatap ke arah sini—dari sebelum hujan dan sampai hujan turun dengan deras begini. Tindakannya itu menarik perhatianku dan aku sempat berpikir, kapan dia akan maju mendekatimu dan berhenti bersikap tolol seperti itu."
Kejadian itu adalah beberapa hari yang lalu. Dan Nesia belum berjumpa dengan Arthur semenjak hari itu. Gadis itu juga senantiasa lupa untuk membawa payung Arthur ke sekolah dan mengembalikannya pada sang pemilik—sekalian ingin mengucapkan terimakasih.
Terimakasih… pada Senior Arthur? Pada seorang yang selama ini selalu membuat Nesia ingin memberikan acungan jari tengah, daripada sebuah terimakasih.
Entah apa yang dipikirkan Arthur saat itu.
"Pasti dia mengamatiku karena ingin melihat betapa payahnya aku saat aku menangis—dan menjadikan kisah cintaku sebagai bahan olokkannya untukku kemudian hari," pikir Nesia sembari menyinyirkan sudut bibirnya. Habisnya… kayaknya cuma itu, deh, alasan Arthur mengamatinya sampai kehujanan demikian. Apalagi?
Pemuda itu untuk tulus berbuat baik kepada Nesia rasanya tidak akan terjadi bahkan hingga seribu tahun ke depan.
"Hei, Nes!"
Panggilan itu sukses menarik Nesia dari lamunannya. Si pemilik nama menoleh dan memelankan langkahnya. Seketika ia bertatapan dengan sepasang emerald yang menatapnya dengan pandangan ramah.
Senior Bella Van Hardt.
"Jangan anggap semua ini hanya lelucon—untuk apa? Aku tidak pandai melawak juga. Aku serius. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Senior. Kumohon…"
Tanpa sadar, Nesia menelan ludah sembari kedua tangannya mengepal erat. Bahkan langkahnya terhenti—dan ia diam begitu saja menatap Senior Bella yang masih memandangnya dengan senyum ramahnya.
Hanya melihat wajah Bella saja, semua ulasan malam itu teringat dan terngiang kembali. Sekaligus semua perasaannya. Cintanya. Lukanya. Sakit hatinya.
Semua menyeruak dalam satu serangan kuat yang melukai hatinya.
"Nes?" senyum Senior Bella perlahan meluntur, tergantikan oleh pandangan heran terhadap Nesia.
Tersadar, Nesia menghela napas yang tanpa sadar telah beberapa lama ia tahan. Kelihatan sekali ia memaksakan senyumnya saat membalas ucapan Bella, "O-oh. Hai, Senior Bella," ia melambai-lambai kecil, "Maaf aku sedang banyak pikiran…"
Ironis sekali jika kau harus beramah-tamah dan bersifat carefree pada orang yang amat dicintai oleh orang yang kau cintai.
"Oh," sepertinya Bella tidak begitu mengerti, namun gadis itu nampaknya juga tak terlalu mempermasalahkan, "Tumben sekali kau datang kemari, omong-omong?"
"Ah ya. Senior Alfred menyuruhku datang ke sini. Katanya ada urusan…," Nesia tersenyum lirih.
Ya Tuhan. Tak ada yang paling Nesia harapkan saat ini selain berbalik dan pergi dari hadapan gadis itu. Melihatnya, Nesia tak mampu berpikir apa-apa lagi selain satu hal.
Hanya gadis di depannya itulah, satu-satunya gadis yang membuat Antonio Carriedo mengatakan satu kalimat terindah, yang selama ini begitu Nesia impikan tersampaikan untuknya.
"Baiklah. Sepertinya kau terburu-buru. Jadi aku tidak ingin menganggumu," Bella tersenyum lebar, lantas melambaikan tangan pada Nesia, "Bye, have nice day, ya!"
Dan gadis itu berbalik pergi.
Tepat di saat Nesia sudah tidak mampu menampung semuanya lagi. Di saat gadis itu merasa semua tiba-tiba terasa berlebihan—hatinya merasakan begitu banyak perasaan yang terlalu berlebihan. Sakit. Sedih. Kecewa. Marah. Tidak adil…
Kepala bersurai hitam itu berbalik dengan cepat—ingin segera pergi dari sana. Tetapi—
"Ow!"
"Maaf!"
—sebuah pundak tanpa ia sengaja, tertabrak ketika ia berbalik.
Dalam hati gadis itu menggeram. Kapan ia akan sampai dan bertemu Senior Alfred jika ia terus-terusan terhambat begini?
"Hati-hati, cewek."
Mendongak, Nesia mendapati wajah putih pucat Senior Vash Zwingli yang berdiri cukup dekat dengannya. Menyadari hal itu, Nesia segera mundur selangkah dan menunduk seraya menggumamkan kata maaf.
"Ini salahku, Senior," ujar Nesia lirih.
"O-oh! Ternyata kau, S-Saraswati," suara Vash terdengar tergagap, dan Nesia memandang pemuda itu turut selangkah memundurkan jaraknya dengan Nesia.
Wajah putih pemuda itu tampak begitu jelas menampakkan rona merah tipis di kedua pipinya.
Nesia rasanya ingin ber-duh ria ketika kesadaran itu mampir di otaknya.
Kejadian 'pernyataan cinta' itu 'kan udah lama sekali terjadi. Apa pemuda itu masih menganggap semuanya serius?
"K-kau mau ke ruang OSIS?"
Nesia meringis lebar dan menatap Vash dengan pandangan tak mengerti, "…Tentu?"
Wajah itu seketika semakin merona, "Duh. Tentu saja. Maafkan pertanyaanku yang retoris, Saraswati."
Nesia hanya tersenyum lirih, lantas membungkuk sebentar, "Kalau begitu, bolehkah aku permisi? Kupikir Senior Alfred sudah menungguku sejak lama—aku sepertinya telah terlambat sekali."
"Alfred?" Vash mengangguk-angguk, "Oh, tentu. Dia ada di dalam—tadi aku bertemu dengannya."
Nesia tersenyum, lantas melambaikan tangannya, "Kalau begitu, sampai jumpa, Senior."
Dan ia meneruskan langkahnya, bersamaan dengan Vash yang menghela napas yang tanpa ia sadari, beberapa lama telah ia tahan.
-oOo-
Rasanya Nesia ingin sujud syukur ketika sampai di dalam ruang OSIS. Begitu banyak hal yang menghambatnya untuk datang kemari dengan cepat. Senior Bella dan Senior Vash yang bertemu dengannya di tangga depan Sekretariat. Atau Senior Gilbert yang tiba-tiba usil menyiulinya—dan kemudian pemuda itu kena tampar gulungan koran dari Senior Elizaveta yang merasa terganggu akan tingkahnya.
Tapi untunglah, kini ia berada di depan pintu sebuah ruangan yang kata Senior Herdevary, tempat dimana Senior Alfred kini tengah berada.
Tanpa ragu, Nesia segera memegang daun pintu tersebut, lantas memutar pelan—
"!"
—Sebelum segera ia tarik kembali daun pintu itu untuk menutup perlahan.
Gadis itu segera berbalik membelakangi pintu, dengan kedua matanya yang membelalak lebar dan mulut separuh membuka. Seperti ia yang baru saja melihat sesuatu yang begitu mengejutkan baginya.
'A-apa yang dilakukan… Senior Alfred d-dan S—senior Ar-Arthur—' bahkan gadis itu tak mampu melanjutkan pemikirannya.
Tetapi, rasa penasaran Nesia ternyata lebih kuat daripada rasa terkejutnya. Gadis itu segera pulih dari kekagetannya, lantas menggigit bibirnya dengan pandangan selayaknya Ia tengah mempertimbangkan sebuah pilihan.
Lihat kembali. Tidak. Lihat kembali. Tidak. Lihat kembali. Tidak.
Tetapi nyatanya gadis kembali berbalik. Sebelah telapak tangannya menggenggam erat gagang pintu, dengan kedua mata yang terfokus menatap pintu yang masih tertutup itu.
Ia menelan ludah, lantas perlahan, membuka pintu perlahan.
Nah.
Pemandangan itu kembali tersaji di depannya. Pemandangan yang aneh, namun di saat yang sama, tampak mengejutkan.
Senior Alfred tampak terduduk di satu kursi di sana—dengan posisi membelakangi Nesia. Kedua siku Senior Alfred tampak tersandar di meja di belakangnya. Tetapi bukan itu yang mengejutkan. Akan tetapi adalah kehadiran Senior Arthur di situ yang membuat Nesia tak bisa menahan pikirannya yang macam-macam.
Senior Arthur duduk di depan Senior Alfred. Dan demi Tuhan, jarak mereka dekat sekali. Dari sini, yang bisa Nesia lihat hanyalah kepala Arthur—karena punggung Alfred menghalangi pandangan Nesia. Pemuda alis tebal itu tampaknya sibuk melakukan sesuatu.
D-dan dari gerak-gerik tangannya yang tampak 'sibuk' dengan kejema Alfred….
Belum lagi dengan Alfred yang terdengar sesekali mendesah dan meringis pelan.
Nesia segera menutup mulutnya dengan telapak tangannya ketika ia nyaris saja berteriak 'Kyaaaaaa!'. Entah itu teriakan horor, takut, atau malah teriakan suka cita dan bahagia. Yang jelas, gadis itu tahu betul untuk tidak membuat keributan di saat kedua orang di depannya itu tampak ada dalam 'waktu privasi' mereka.
"Arthur pernah bercerita padaku bahwa, saat dia sedang berada di Perancis, terdapat satu cowok gay yang tiba-tiba melamarnya dan ingin menikahinya! HUAHAHAHAHA!"
Ucapan Alfred waktu itu terulas lagi di telinga Nesia. Membuat gadis itu segera menarik kesimpulan mendadak bahwa: Senior Arthur adalah seorang homo!
Arthur Kirkland adalah homo!
'Pantas saja selama ini dia selalu judes padaku. Karena emang dia ga doyan cewek, ya?' batin gadis itu menyimpulkan.
Mendapat kesimpulan demikian, entah mengapa bibirnya membentuk sebuah seringaian. Ini adalah hal yang baru diketahuinya—dan mungkin, Nesia berani bertaruh, tidak semua orang di Hetalia High juga mengetahui. Jadi? Apa yang patut dilakukan oleh Nesia yang selama ini selalu dibuat keki olehnya? Apa yang harus Nesia manfaatkan dari momen ini?
"Tentu saja akan kurekam!" gumam gadis itu semangat, sembari segera mengeluarkan HP dari saku blazer-nya dan segera mangaktifkan video HP-nya, "Hahahaha. Rasain kau! Gimana rasanya jika video ini kukasih pada Senior Herdevary atau malah Kiku?"
Gadis itu hanya ber-huahahaha ria dalam hati dengan liciknya. Jika ada orang lain yang melihat, pastilah mereka merasa bahwa sekarang di atas kepala Nesia tumbuh dua buah tanduk merah beserta kobaran api sebagai background tubuhnya.
-oOo-
"Tolong kau buat bagian pendahuluannya, ya? Sekalian edit mengenai bagian tujuan. Aku tidak begitu yakin juga sih, soalnya. Tapi tolong usahakan cepat, ya? Kalau bisa nanti sebelum pertemuan kelompok, sudah selesai. Nanti kuambil dan langsung kuserahkan pada rekan Ayahku untuk menyetujui proposal ini untuk kita melakukan riset di perusahaannya."
Kira-kira seperti itulah, ucapan Senior Alfred tadi, yang mampu diingat oleh Nesia. Mungkin tidak sepersis itu—Nesia hanya ingat beberapa kata saja. Salahkan otak dan batinnya yang waktu itu tengah sibuk ngakak ria demi merancang rencana-rencana blackmail Senior Arthur dengan rekaman video di HP-nya.
Tanpa memedulikan Arthur yang kala itu menatapnya dengan tatapan aneh dan tentu saja, sedikit terganggu dengan pandangan Nesia yang tampak dreamy-looking tersebut.
O, tentu saja. Tentu saja Nesia berbicara pada mereka berdua setelah beberapa lama ia menunggu di ruang tengah Sekretariat OSIS, dengan ditemani oleh Senior Andrew Scholte yang tengah mengerjakan proposal kegiatan OSIS. Setelah Alfred keluar, disusul dengan Arthur, barulah Nesia berbicara.
Dan di sinilah, beberapa jam setelah itu, Nesia berada.
Kembali di Sekretariat OSIS, setelah pulang sekolah. Di ruangan yang menjadi ruang khusus Departemen Keilmiahan. Di sebuah kursi dengan sebuah meja persegi di depannya—yang mana banyak tertaruh tumpukan berkas, kertas, dan satu kalender duduk. Suasana di Sekre saat itu lumayan sepi—maklum, periode pulang sekolah biasanya akan mengarah pada dua hal: Pulang ke rumah, atau berkegiatan di Ekskul atau Klub.
Dan sepertinya cukup banyak anggota OSIS yang turut mengikuti kegiatan klub selain kegiatan ekstrakurikuler ini.
Tetapi, bukanlah itu yang membuat ekspresi Nesia terkadang menjadi seperti ini: -_- Atau seperti ini T.T
Oke, memang, tadi setelah bertemu, Senior Alfred mengatakan bahwa Nesia harus datang lagi ke Sekre OSIS sepulang sekolah. Ada pertemuan kelompok.
Tetapi kenapa sekarang Nesia telah menghabiskan waktu sepuluh menitnya duduk berhadapan dengan Senior Arthur?!
Hanya Senior Arthur!
Ingin rasanya Nesia teriak, 'AAARRRGGGHHH!' sembari menjambak rambutnya kesal. Sialan sekali Senior Alfred, di detik-detik terakhir, setelah Nesia sampai di Sekre, itu maniak junk food telepon Arthur dan bilang bahwa Senior Alfred, "…Tidak bisa datang. Dia mendadak mendapat telepon dari Ibunya dan disuruh pulang. Dia titip salam juga padamu," ucap Senior Arthur tadi, setelah berbincang pada Senior Alfred lewat telepon.
Sungguh, tak ada yang bisa lakukan selain meringis keki sembari sebelah sudut matanya berkedut dongkol.
'D-dasar orang itu…'
Bukannya apa. Hanya saja, 'berdua saja' dengan Senior Arthur adalah hal terakhir yang paling ia inginkan di dunia ini, sampai kapanpun. Karena Nesia jamin, hal itu tidak akan berujung pada apapun selain rasa empet dan dongkol dan bete dirinya terhadap apapun yang nanti Arthur katakan padanya.
Dan juga…
Perlahan, kedua telapak tangan Nesia yang terkulai di meja, mengepal erat sembari ia menelan ludah dengan cukup sulit. Sudah satu menit ia berulang-ulang membaca kalimat yang sama dari sebuah halaman di buku di depannya—tetapi tetap saja, sulit rasanya untuk 'nyambung' dan 'ngeh'!
Dan juga… Situasi ini cukup canggung bagi Nesia.
Awkwardly awkward…
Arthur sepertinya bukanlah orang yang suka memulai pembicaraan—pemuda itu berkata seperlunya dan lebih banyak menggunakan waktunya untuk mengetik atau membaca sesuatu di laptopnya. Dan Nesia juga memiliki nyali yang terlalu ciut untuk memancing pembicaraan dan nantinya akan berujung pada keki dan dongkolnya sang Ketua OSIS. Jadi demikianlah, sepuluh menit ini Nesia rasakan ia bagaikan di sebuah ruang hampa udara—tanpa suara apapun.
Rasanya ia bisa mendengar bunyi jangkrik di siang bolong jika begini sepinya… Apalagi Sekre juga tengah minim orang.
Pembicaraan yang mereka lakukan sejauh ini hanyalah:
"Apa kau sudah melaksanakan tugas dari Alfred?"
"Ya, sudah."
Atau,
"Kenapa Sekre sepi sekali, Senior?" memancing pembicaraan.
"Ini periode pulang sekolah. Kau pikir apa?" menolak mentah-mentah pembicaraan.
Atau,
"Bagaimana pendapatmu mengenai hasil kerjaanku itu, Senior?" awal dari pembicaraan.
"Hn." Akhir mengenaskan dari pembicaraan.
Dan setelah itu, Nesia menyerah. Diam saja deh, daripada rasanya ngomong sama orang sariawan. Udah singkat, pake nyolot lagi.
"Dia berdiri terlalu lama di bawah hujan, padahal dia membawa payungnya. Berdiri dan hanya menatap ke arah sini—dari sebelum hujan dan sampai hujan turun dengan deras begini. Tindakannya itu menarik perhatianku dan aku sempat berpikir, kapan dia akan maju mendekatimu dan berhenti bersikap tolol seperti itu."
Bayangan Arthur malam itu, kembali terulas di benak Nesia saat diam-diam Nesia mencuri pandang ke arah Arthur. Malam itu, ketika ia lihat Senior Arthur tiba-tiba berdiri di depannya. Dengan tubuh basah kuyup. Dengan sebuah payung yang mana tudungnya ia arahkan ke atas kepala Nesia.
Ingin Nesia menanyakan hal itu padanya. Kenapa malam itu ia datang? Kenapa ia berbuat seperti itu pada Nesia? Dan… sejauh mana Arthur melihat dan mengetahui semuanya?
Nesia menelan ludahnya. M-mungkin ini adalah waktu yang tepa—
"Jika kau punya waktu untuk diam-diam mengamatiku seperti itu, tidakkah lebih baik kau selesaikan tugasmu membaca buku itu?"
Guh!
Nesia rasanya tersedak garpu mendengar suara Arthur yang tiba-tiba dan sungguh, terdengar amat sangat narsis (tapi bener juga, sih) itu. Otomatis, Nesia langsung menunduk dan langsung menyahut judes sembari memelototi bukunya, "Siapa juga yang mengamatimu? Kau tidak lihat aku sedang membaca?"
"Memangnya apa yang sedang kau baca hingga kau tidak berubah halaman selama tiga menit ini?"
Sialan!
Nesia hanya menggembungkan pipinya dan mengerutkan dahinya dengan dongkol.
Suasana kembali hening setelah itu. Hanya terdengar suara tarian jemari Arthur di tuts keyboard dan jam dinding yang ber-tik tok dengan begitu menjengkelkannya. Namun, Nesia bukanlah tipe orang yang betah berlama-lama berada di suasana yang demikian kaku layaknya babak final sebuah kuis dengan hadiah milyaran dolar.
Dan gadis itu memiliki topik bahasan lain yang menarik, setelah ia memutuskan bahwa Arthur sekarang tengah bersikap cukup menyebalkan baginya untuk Nesia mau mengungkit-ungkit kebaikan pemuda itu di malam itu.
"Senior Arthur," gumam Nesia, yang tanpa sadar bahwa inilah pertama kalinya ia memanggil nama Arthur di depan si empu nama, "Boleh aku bertanya sesuatu?"
Arthur tidak menjawab dan tampak fokus mengetik. Nesia menganggap itu sebagai jawaban 'boleh'—setidaknya Arthur tidak membentakkan kata 'shut up and do your work already!'.
Gadis itu menyangga dagunya dengan sebelah tangan, lantas menatap Arthur dengan senyum lebar dan matanya yang jika didramatisir, akan ber-cling-cling ria.
"Sedekat apa, sih, hubunganmu dengan Senior Alfred?"
Aha!
Nesia tidak menyerah dalam usahanya mendapatkan gosip (?) baru ini. Meskipun Arthur tak memberi respon apapun, gadis itu tidak putus asa.
"Maksudku, Senior," sambung Nesia dengan masih memberikan pandangan ngarep-nya, "Bagimu, Senior Alfred itu apa? Siapa Senior Alfred itu untukmu~~?" bahkan tanpa sadar, Nesia sedikit memberi nada pada akhir kalimatnya.
Dan sukses. Kali ini, ucapan Nesia sukses menarik perhatian dari lawan bicara. Arthur menghentikan kegiatannya—melirik dan memberi Nesia pandangan terganggu sembari menghela napas lelah.
"Jika ini caramu untuk mengalihkan rasa bosanmu… Menyerahlah."
The end.
Lantas, Arthur kembali mengetik, meninggalkan Nesia yang jika bisa memberi ekspresi yang jika di-emoticon-kan, akan seperti ini: =A=
Sedikit menahan dongkol, gadis itu kembali berbicara. Entah hilang kemana suasana canggung dan kaku yang beberapa saat yang lalu, sangat kental ia rasakan.
"Aku serius!" desaknya nyinyir, "Aku hanya penasaran. Karena… kalian tampak dekat sekali," Nesia meringis lebar sembari menaik-turunkan kedua alisnya.
"Oke jika ini akan membuatmu kembali diam!" Uh! " Kami hanya teman sejak kecil."
"Hanya temaaaaannnn~~?" kali ini, Nesia menggunakan kedua telapak tangannya untuk menyangga dagunya, sembari menampilkan ringisan lebarnya.
Entah karena kalimat Nesia atau ekspresi yang tampak tolol itu, Arthur melirik jengkel dan JELAS sekali, terganggu, "Apa maksudmu?"
Nesia tertawa pelan sembari mengibas-kibaskan sebelah tangannya, "Aaaa! Kau tak usah malu-malu begitu lah, Senior," gadis itu kembali menatap Arthur dengan tatapan dari kedua matanya yang bulat, lantas berbisik, "Sekre sekarang sedang sepi. Jadi, kau bisa jujur padaku. Aku (tidak) janji ga akan ember mengenai rahasiamu ini, kok, Senior."
Sekali lagi, jika bisa ditulis dalam bentuk emoticon, ekspresi Nesia akan menjadi seperti ini: 8D Dan ekspresi Arthur adalah seperti ini: ):(
Dengan suara tertekan, Arthur mendesis lirih, "Katakan saja, apa maumu? Kau membuang-buang waktu hanya untuk permainan Tebak-Pikiran-Nonsense-mu ini."
Dan tanpa ragu, seolah tidak mendapat firasat buruk dari mood Arthur yang jelas-jelas sudah minus kesabaran, Nesia berujar, "Kau itu homo, 'kan? Kau itu pacaran dengan Senior Alfred, kan? Ngaku,deh~" dengan begitu gamblang dan sotoy-nya.
Ringisan Nesia semakin lebar—rasanya akan menjadi aneh jika kemudian nanti ia tidak merasakan sakit pada kedua pipinya yang tertarik demikian—ketika ia melihat kedua mata emerald itu sedikit membelalak.
'Gotcha!' batin gadis itu sembari ketawa ngakak dengan nistanya, 'HUAHAHAHAHA—'
"…Dasar tidak waras."
'—HA?!'
Begitu mudahnya Arthur membalik keadaan ketika hanya dengan tiga kata itu saja, dia mampu membuat Nesia yang sebelumnya ngakak di dalam hati, kini memasang ekspresi dongkol, seolah-olah ia lah objek dari semua hinaannya sedari tadi.
Applause untuk Arthur Kirkland yang mampu menganjlokkan perasaan Nesia dari langit ke tujuh, menjadi ke neraka yang paling dasar.
Gampang sekali amarahnya tersulut, gadis itu segera menghardik kesal, "Ap—Kau tidak usah mengelak!" makinya dongkol dan lelah. Lagipula, apaan pula itu, si Arthur. Tidak hanya kata-katanya saja yang langsung nancep, tetapi juga ekspresinya—ia mengatakan hal itu dengan ekspresi seolah-olah ia mengatakan sebuah fakta yang telah teruji sains dan logika: wajar!
Uh.
"Oke, kau bisa mengelak semaumu tetapi aku memiliki bukti!" entah karena semangat mencari aib Arthur atau semangat untuk membuktikan bahwa dirinya bukanlah 'tidak waras', tanpa pikir panjang, Nesia mengeluarkan HP-nya dari saku blazer-nya.
Dan memperlihatkan HP itu di depan muka Arthur.
Sedangkan pemuda itu hanya mendenguskan napas lelah, dan menatap tidak tertarik pada HP Nesia, "Apa yang ingin kau perlihatkan dengan benda murahan seperti itu?"
Cih!
Niatan Nesia tadi adalah membuat Arthur dongkol. Kok sekarang Nesia menjadi makin dongkol dan empet sendiri, ya, lama-lama?
"Ini bukti otentik!" gumam gadis itu, sembari kembali menarik HP-nya lantas mengutak-atiknya sebentar, "Akan kubuktikan bahwa kau memang benar-benar homo! Ga doyan cewek!"
"…Kau benar-benar mengesalkan, ya…"
Nesia segera kembali menghadapkan layar HP itu ke depan muka Arthur. Namun gadis itu kali ini kembali memasang seringaiannya, "Harusnya kau ngaku saja dan semua akan jadi lebih mudah."
"Apa maksudmu—."
Klik.
Video Playing.
Video itu hanya berdurasi sekitar dua puluh detik—Nesia terlalu takut jika tiba-tiba Arthur atau Alfred memergokinya merekam kegiatan mereka. Selama video itu berputar, semakin Nesia memperlebar seringainya, dan semakin pula Arthur menyipitkan pandangannya bersama dengan ujung matanya yang berkedut keki.
Bahkan video itu juga merekam suara desisan dan desahan Senior Alfred lho!
Belum sempat video itu berputar hingga tamat, Arthur segera berusaha menyambar HP Nesia—dan puji syukur Nesia memiliki refleks yang bagus, sehingga ia berhasil menjauhkan tangannya dari jangkauan Arthur.
Dan sepertinya, sekarang Arthur terlihat benar-benar marah. Tampak dari matanya yang menyipit, rahang terkatup rapat, dan muka yang memerah geram.
Tetapi Nesia suka sekali jika Seniornya itu merasa dongkol demikian.
"Nahahaha! Sekarang lihatlah wajahmu, Senior! Kau panik, 'kan?" Nesia tertawa sembari menunjuk wajah Arthur yang menatap Nesia dengan geram.
"Gadis sialan! Apa yang kau pikir telah kau lakukan?!" maki Arthur sembari berdiri dari posisi duduknya, dengan kasar hingga kursinya terdorong sedikit ke belakang.
Nesia berpura-pura memasang wajah takut—meski sebagian kecil hatinya benar-benar takut melihat Arthur seperti itu. Tetapi nikmati saja lah, momen di mana ia berhasil memberi masalah pada si biang masalah!
Hahah!
"Jangan marah begitu, dong, Senior!" ujar Nesia sembari mengibaskan tangannya tak acuh, "Kau tak perlu malu begitu. Lagipula, kupikir kalian serasi, kok~"
"STOP TALKING NONSENSE, DAMMIT!" bentak Arthur kasar, "Video apa-apaan barusan dan darimana kau dapat?!"
"Akui dulu bahwa kau benar-benar gay, Senior. Maka akan kuceritakan semuanya," Nesia meringis lebar sembari memberi simbol peace dengan jemari kanannya.
"AARRGGHH! Jangan terburu mengambil kesimpulan dan membuat teori untuk hal yang tidak benar-benar kau mengerti"
"Apa yang tidak kumengerti? Bahwa kau dan Senior Alfred saling mencintai~~?"
"Gggrrrr…. Kau membuatku ingin mati saja, Demi Tuhan!" ekspresi Arthur mungkin bisa digambar seperti ini: w('A'w), "Kau tahu apa, Nona Sok Tahu? Saat itu aku tengah membantu si Idiot itu untuk mengancing kembali kemejanya dan merapikan dasinya! Dia tiba-tiba datang kemari dengan kesakitan dan katanya, habis dikeroyok berandalan di sebuah alley dekat sekolah!"
"Yayaya~ Aku percaya~" ekspresi Nesia jika digambarkan, maka seperti ini: m(*v*)m
Dan tentu saja, itu membuat Arthur semakin dongkol, "Tentu saja, ekspresi tololmu itu mengatakan bahwa kau tidak memercayaiku!"
"Hahaha! Apa jadinya, ya, jika video ini sampai pada Ketua Klub Koran Sekolah, Senior Elizaveta~?" Nesia berlagak sok mikir dengan senyum yang di mata Arthur, tampak begitu menjengkelkan.
"Dasar gadis sialan! Hapus video itu sekarang juga!"
"Tidak!" Nesia menjulurkan lidahnya, "Tidak pernah dengar hak kepemilikan pribadi, ya?"
"Kubilang hapus!"
SRET!
Nesia berucap syukur pada Tuhan yang memberinya refleks yang bagus, hingga ia mampu segera berdiri dan menjauh, ketika Arthur mencondongkan tubuhnya dan berusaha merebut HP Nesia dari tangan gadis itu.
"Dan apa kau tidak dengar mengenai hak privasi tiap individu?" maki Arthur menatap Nesia sengit.
"Kenapa kau marah?" Nesia pura-pura memasang muka terkejut, sembari mundur beberapa langkah dari Arthur yang sudah berjalan keluar dari kursi dan meja, "Senior tidak perlu panik dan berlebihan begitu, 'kan, jika ini semua memang tidak benar?"
"Dasar idiot! Siapa yang tidak jengkel jika difitnah seperti itu! Berikan sekarang juga HP sialanmu itu!"
"Jawab dulu pertanyaanku," Nesia mengacungkan telunjuk kanannya, "Dalam hubunganmu dengan Senior Alfred, posisimu sebagai apa? Seme? Uke? Tetapi kalau dilihat dari sifat Senior, sih—Oops!"
Nesia refleks menjauh ketika Arthur kembali berusaha mendekati dan merebut HP-nya. Merasa geli dan semangat menistai Arthur, alih-alih takut, Nesia malah mengiming-iming Arthur dengan menggerak-gerakan HP-nya di udara.
"Kalau ini beneran aku serahkan ke Senior Elizaveta…," Nesia menyeringai, menatap Arthur tepat di mata, lantas menggumam, "…Mati kau, Senior!"
"Akan kubuat kau mati dahulu sebelum kau sempat bahkan keluar dari ruangan ini."
"Apa—Gyaaaaaaaa!"
Nesia langsung berlari ketika Arthur tiba-tiba mendekat cepat ke arahnya. Ruangan Departemen Keilmiahan yang mereka tempati itu, lumayan luas juga meski hanya berbentuk persegi panjang simpel. Gadis itu tertawa-tawa sembari berlari dari kejaran Arthur—dan syukurlah, ia memiliki bakat lari yang lumayan bagus akibat masa kecilnya yang sering bermain sepak bola dengan bocah lelaki seumurannya. Dan karate yang ia ikuti selama SMP, kali ini menunjukkan hasilnya kembali ketika ia lumayan mudah berkelit dari usaha 'tangkapan' Arthur.
Arthur… Pemuda yang mengejar Nesia dengan ekspresi yang wajar diberikan harimau kelaparan pada kelinci lemah, namun begitu menjengkelkan.
"BERHENTI, GADIS SIALAN!"
"TIDAK MAAAUUU!"
"DAMMIT! AKU BERSUMPAH KAU AKAN MENYESAL!"
"TIDAK MAAAUUU!"
Setelah dua kali putaran mengelilingi ruangan ini, Nesia akhirnya memutuskan untuk kabur keluar—dan tentu saja, Arthur tidak begitu mudah membiarkannya pergi. Pemuda itu masih mengejar Nesia yang kini masih berlari menjauhinya.
Masuk ruang satu, lantas keluar dan menuju ruangan lain. Masuk melalui pintu yang satu, lantas kabur dari pintu yang lain. Sekretariat OSIS yang begitu luas dan lebar, juga dengan barang-barang yang ada di sana (catat bahwa sebagian barang itu adalah barang hiasan antik yang harganya cukup membuat dompet terkuras—dan itu dibeli dari dana anggaran sekolah), membuat Nesia mampu memanfaatkan semua itu untuk memperlambat langkah Arthur.
"Hahahaha!" Nesia masih cekikak-cekikik sembari berlari. Untung saja Sekretariat kala itu hanya terdapat satu-dua orang selain mereka. Hari yang sudah lumayan sore, membuat sebagian anggota OSIS sepertinya telah pulang ke rumah.
"JANGAN TERTAWA SEOLAH-OLAH KAU AKAN MENERIMA BERKAH, SIALAN!"
"HAHAHA! AKU TIDAK BISA, SENIO—HAHAHA!"
Kapan, ya, terakhir kali Nesia merasakan hatinya seringan dan sebebas ini?
Tertawa lepas tanpa peduli pada apapun, seperti ini?
Rasanya sungguh me—
ZRUT!
BRUKH!
"Ow!"
—nyakitkan…
Itulah akibatnya. Berlari-lari cepat di ruangan tanpa peduli pada apapun. Ditambah dengan fakta bahwa ruangan itu penuh benda-benda. Ditambah dengan sifat alamiah Nesia yang memang dasarnya Ratu Ceroboh…
Ketika gadis itu berlari cepat, ia sempatkan menolah ke belakang demi melihat ekspresi dongkol Arthur. Tertawa berhaha-hihi ria sembari berlari dengan pose ceroboh seperti itu… Ia tentu saja tidak melihat bahwa ada sebuah tongkat baseball yang tergeletak di lantai di depannya.
Dan kejadian selanjutnya bisa Anda bayangkan sendiri.
Nesia terjatuh. Dengan posisi terlentang (karena ia berlari sembari kepalanya menghadap ke belakang). Dan sungguh, itu cukup menyakitkan.
Sialan!
Siapa pula orang sialan yang meletakkan tongkat baseball sialan di lantai seperti itu?!
DAN DEMI TUHAN APA URUSANNYA TONGKAT BASEBALL DI SEKRETARIAT OSIS, HAH?!
Nesia sibuk mengumpat-umpat takdirnya sembari memejamkan mata karena menahan sakit yang mendewa terutama di bagian punggung dan pinggulnya. Begitu sibuknya, hingga ia tidak menyadari bahwa cerita tidak tamat sampai di situ saja.
"B-BODOH! MINGGI—!"
.
.
Nesia mendengar suara teriakan, seperti suara Senior Arthur…
Dan apa ini yang ia rasakan…
.
.
Gadis itu membuka kedua matanya perlahan. Dan pandangan pertama yang dilihatnya adalah warna pirang.
.
.
HEEEEEEEEEEEEHHHHHHH?!
Oke. Mari kita ketahui kronologinya. Arthur mengejar Nesia dengan kecepatan lari yang begitu cepat, sehingga jaraknya dengan Nesia juga tidak begitu jauh. Karena Nesia terjatuh dengan begitu mendadak, maka otomatis Arthur sulit untuk mengendalikan langkahnya.
Dan alhasil, kini pemuda itu menelungkup di atas tubuh Nesia yang terlentang di bawahnya.
Beruntunglah, pemuda itu tidak benar-benar menindihi gadis itu—apa jadinya nanti?! Arthur sempat menyangga kedua tubuhnya dengan kedua telapak tangannya, sesaat sebelum ia benar-benar jatuh menindihi Nesia.
Perlahan, pemuda itu mengangkat kepalanya dan perlahan pula, membuka kedua matanya yang sebelumnya terpejam mengantisipasi kerasnya lantai yang mungkin akan di hantamnya. Namun, alih-alih lantai…
Kini kedua emerald itu berhadapan langsung dengan sepasang bola hitam-coklat.
Nesia melebarkan pandangannya ketika dugaannya terbukti benar—Senior Arthur berada di atas tubuhnya. Dan kini, sang Senior itu tengah menatap kedua matanya dari jarak yang begitu dekat.
Sangat dekat—hingga Nesia rasakan bahwa ujung hidung mereka bertemu dalam satu sentuhan kecil.
Bahkan Nesia mampu merasakan hembusan napas Arthur yang menyapu wajahnya. Dan mendengar hela napas pemuda itu yang tersengal-sengal—mengiringi helaan napasnya yang tak jauh beda.
Dari jarak sedekat ini… emerald itu…
Pernahkah Nesia melihat sesuatu lebih hijau dari warna itu?
Begitu dekat.
Betapa tipisnya jarak yang memisahkan kedua wajah mereka.
"M-Maaf—"
NYUT.
Baik ucapan penyesalan Arthur dan pikiran Nesia, seketika terhenti di saat yang sama. Nesia merasakan ada yang aneh. Ia merasakan sesuatu menyentuh tubuhnya—menyentuh bagian tubuh yang selama ini tidak pernah ia rasakan sentuhan sebelumnya.
S-sebelah dadanya…
Seolah memiliki telepati, Nesia dan Arthur secara bersama-sama menoleh ke arah kiri Nesia.
Dan pandangan mereka tersaji oleh sebelah telapak tangan Arthur yang tampak sedikit mencengkeram dada kiri Nesia.
.
.
Kedua pasang mata itu hanya membelalak lebar, seolah mereka melihat adanya zombie yang muncul dari layar kaca dan hadir di depan mereka.
.
.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA AAAAAAA!"
Teriakan itu terdengar cukup nyaring di sore yang sepi itu.
Tentu saja, Arthur langsung buru-buru bangkit—kali ini memastikan bahwa ia telah menyingkirkan tangannya dari daerah terlarang itu. Ia segera berdiri dan segera menjauh—sebelum Nesia memiliki kesempatan untuk menendang bagian yang pasti akan terasa sangat sakit bagi seorang laki-laki.
"APA YANG KAU LAKUKAN, MEEESUUUMMM!" Nesia segera mencak-mencak dan menunjuk-nunjuk Arthur dengan beringas, dengan sebelah tangannya yang menyilang di dadanya.
Kedua wajah mereka tampak begitu merah padam—mungkin tomat kesukaan Antonio akan tersaingi warnanya.
"A—APA KAU BIL—OKE, MAAF! TETAPI JUGA TIDAK SEPERTI AKU SENGAJA, 'KAN?!" bantah Arthur tidak mau kalah.
Tentu saja. Ia tadi tidak menyadari bahwa ia menyangga tubuhnya dengan sebelah tangan yang menekan lantai, dan sebelah tangan berada di atas… tempat yang tidak seharusnya. Dan ketika Arthur hendak berdiri, tentu saja ia harus mencengkeramkan kedua tangannya untuk membuat keseimbangan 'kan?
Dan ketika mencengkeramkan telapak tangannya itulah, Arthur baru menyadari malapetaka yang baru terjadi.
"TIDAK SENGAJA APANYA?! JELAS-JELAS KAU TADI MEMEGANGNYA! SIALAN! AKU BERSUMPAH AKAN KUPOTONG TANGAN SIALANMU ITUUU!"
"KENAPA KAU SALAHKAN AKU?! KAU PIKIR AKU BAHAGIA JATUH DI ATAS TUBUHMU?! L-LAGIPULA DADA SEPERTI DADA LAKI-LAKI BEGITU SAJA—."
"HIIIII! ARTHUR KIRKLAND! AKU MEMBENCIMU! AKU AKAN MEMBUNUHMUUU!"
"JANGAN BERLEBIHAN! AKU 'KAN SUDAH MINTA MAAF!"
"TUTUP MULUTMU DAN BARU BICARALAH KETIKA KAU MERASAKAN BAGIAN PRIVATMU TERSENTUH SEPERTI ITU OLEH ORANG LAIN!"
Dan sepertinya, karena terlalu lelah atau apa, Arthur hanya mendecih kesal. Lantas tanpa berkata apa-apa lagi, pemuda itu melangkah lebar-lebar keluar dari Sekretariat OSIS.
Tentu saja, siapapun tahu dan dapat melihat betapa wajah pemuda itu merona dan betapa tingkahnya terlihat gugup, namun di saat yang sama juga terlihat begitu dongkol dan kesal.
"HEIII!" teriak Nesia kesal ketika ia hanya ditinggal begitu saja. Bahkan pemuda itu tidak repot-repot mengambil tas dan laptop-nya yang masih tertinggal di Ruang Departemen Keilmiahan tadi.
Selepas kepergian Arthur, Nesia hanya melengkungkan ke bawah kedua alisnya. Bersama dengan pandangan kedua matanya yang tampak sedih. Jangan lupa dengan bibirnya yang sudah bergetar seolah menahan tangis.
Ia menunduk, menatap tubuhnya.
Lantas, perlahan, menyilangkan kedua lengannya di depan dadanya.
'Apakah aku masih bisa nantinya menjadi pengantin?'
Ah, Nes. Jangan berlebihan -_-
Next Chapter
"Tentu saja, Arthur adalah salah satu maskot futsal dan soccer andalan kelas kami. Tahun kemarin, dia sempat menjadi pemain andalan Klub Soccer Hetalia High, sebelum berhenti karena mengikuti kepengurusan OSIS."
.
"Ada satu gadis yang aku sukai. Sangat suka."
.
"Am I being egoistic? I just love him so much… Too much…"
.
"Sudahlah, Arthur. Semua hal yang berhubungan dengan kreativitas dan imajinasimu itu hanya berujung pada petaka—seperti keahlian memasakmu—ow!"
DIS: Hints USUK bertebaran dimana-mana ._.v Dan ciyus, betapa mudahnya roda kehidupan berputar. Remember you used to love, admire, adore, and call Antonio cute and innocent? Dan sekarang, saya pikir malah posisi Arthur yang "kayak gitu" bahkan lebih baik di mata readers dan reviewer daripada Antonio... #pukpukAntonio.
Guys, you can't blame him for a reason he really can't help; feeling. He's quite innocent :)
Udah ditolak Bella, sekarang dimaki, dihina, dikutuk, dicerca pula. Ngenes man, ngeneeeesssss... #nyanyidannangisaladramaIndos *ar #siapinkuburanbuatAntonioyang depresi
Pojok review. Monggo~
Update cepet juga nyusahin yang ga punya waktu dan koneksi inet terbatas/ Nah, saya jadi dilemma nih / Ada susunan kalimat yang aneh/ Saya terkadang juga nyadar bahwa ada yang ga beres dengan cara saya menulis. Idk, mungkin itulah gaya saya. Tapi saya usahakan untuk perbaiki :)/ Ada USNes?/ Silahkan anggap interaksi US dan Nesia itu dianggap pairing atau sekedar hubungan senior-junior atau kakak-adik :D/ Apa ada lemon?/ Maap, stock lemon saya habis #bantingstirjadipedagang/Antonio putus cinta? Akankah Lovino jadi orang yang ia cinta selanjutnya? SpaMano please/ Fan services' okay :D / Arthur, gue sekarang cinta elo deh, gajadi cinta sama DIS!/ H-How could you... #kaburnaikelang / AKU PIKIR SI LOVI YANG NEMBAK NESIA/ :* #salahemoticon / DIS, nikahi saya/ Nanti yang lain jadi patah hati dan bunuh diri :( #oinarsisamet / Chapter ini drama banget dan bikin aku mewek; kerasa banget galaunya; nyesek/ Hiks :/ / Arthur demen banget muncul tiba-tiba/ Sssttt... ini spoiler, ya. Di Absurdities ini, Arthur aslinya adalah tukang sulap lho #dafuqwiththisplottwist / Saya penggemar berat Absurdities, tapi baru review sekarang. Maafkan/ Makasih dan tentu saja, bray :D / Suka gaya tulisan, ide cerita, alur, dan karakterisasi di sini/ M-M-Makasih, Ququuuu~ #terbangkegalaksilainkarenaba hagia / Antonio buang aja deh; saya ga cinta Antonio; Antonio pacaran ama tomat aja deh; take that Toni, makan tuh karma; makasih Senior Bella, udah ngajarin Tonio rasanya sakit hati/ #liatAntonioyangudahsiapbunuh dirikarenaputusasa #hagstagkepanjangan / miss/typos tolong dihilangkan/ Roooger that / Ada beberapa kalimat yang ga sreg, susunannya kebalik, dan terlalu diulang/ Saya usahakan untuk terkurangi T.T Makasih atas koreksinya :D / chapter 20 ini angstnya kerasa banget/ :) / saya tebak secret admirernya pasti Arthur atau Lovino/ You bet / minta hints USUK dan DenNor/ Sekarang Anda dapatkan :D / Lanjutkan Absurdities ampe tamat ya/ I'll do my best / Aku harap endingnya RomaNes atau UKNes/ DISNes gimana? :D / Author lagi galau ya? Berasa banget emonya/ :c / Arthur berhasil jadi gentleman!; Unyu; kelihatan dia suka Nesia, ya?/ Udah, udah. Ntar Arthur ga bisa masuk pintu rumahnya karena kepalanya kegedean / Awalnya sebel ama Antonio, tapi setelah dia ditolak, jadi simpati/ Iya. Apalagi sinyalnya tanpa batas dan gratis internet kan? #iningomonginapa / Twistnya keren, nampar banget; ga nyangka SpaBel bakal one-sided/ :D Terimakasih / Dua pasang emerald?/ ...stupid me 0.0 Terimakasih atas koreksinya /Teorinya saya tunggu untuk Anda buktikan/ :D #keringatdingin /Updatenya cepet banget/ Yep, saya cukup termotivasi :D Terimakasih /LudwigBella?/ Yep, pairing ini lumayan popular di FHE menurut saya :) #shrug
#busetpanjangbeudh
#KO
Teori kemarin kurang komplit :D Ini yang valid dan reliable :D
Jika faktor-faktor lain tetap dan sama, banyak dan cepatnya review kalian berbanding lurus dengan kecepatan update saya (Storm, 2013).
Terimakasih
DIS
