Sorry, guys, the real life had been like hell for me and it seems it will not be much different for some next times. Tapi saya janji, saya akan usahakan update secepat mungkin, sebisa saya. Karena beneran, tiap review yang saya dapat dari kalian benar-benar memotivasi saya dan andai RL saya cukup memungkinkan, saya PASTI akan cepat-cepat meng-update-nya.
Sebagai permintaan maaf karena update telat (?), di chapter ini akan bertebaran KEGANTENGAN dan KESEKSIAN si Oyabun. Entah mengapa saya ingin mengembalikan dignity dia setelah dicerca di dua chapter kemarin /pukpukTonio
Oh ya, dan mari kita beri applause dan terimakasih pada 'Sakurazaka Ohime' yang udah berbaik hati membuatkan saya cover picture untuk Absurdities :) It's beautiful, really. Kalau mau liat gambarnya yang lebih jelas, bisa kunjungi dA Sakurazaka yang alamatnya bisa Anda temukan di profil dia :D
Terimakasih dan maaf ngerepotin /deritaoranggabecusgambar
Pagi hari. Waktu masih menunjukkan baru pukul delapan pagi—sebuah waktu yang terlalu awal untuk mendapati langit menggantung rendah di atas sana. Terlalu awal untuk merasa lelah, tidak bersemangat, dan ingin pulang saja.
Musim gugur memang telah datang. Hawa dingin menyergap hingga menusuk tulang. Pakaian khas musim panas tertanggalkan. Tebalnya jaket, mantel, atau sweater kini melingkupi badan. Karena simpel saja, selain hujan yang semakin sering datang, juga karena angin kerap berhembus kencang. Menerbangkan dedaunan dari pepohonan yang kini tampak bertahan hanya dengan ranting dan batang.
Tetapi sayangnya, sebagian besar dunia tidak memberikan kompensasi bagi manusia untuk beristirahat ketika musim gugur datang. Hanya musim panas dan musim dingin saja yang memberikan waktu relaksasi untuk berhenti sejenak dari semua aktivitas. Sayangnya, musim gugur tidak demikian, tak peduli betapa terbangnya lirih dedaunan dan menggantung rendahnya langit, menjadi insentif jitu bagi siapapun untuk ingin segera memeluk alam mimpi.
Begitulah, karena di saat di mana paling enak dibuat bergulung dalam selimut seperti ini, Annesia Saraswati mendapati dirinya justru berjalan di lorong salah satu gedung di kompleks A Hetalia High. Berseragam lengkap, dengan tumpukan tiga buku di pelukan kedua tangannya.
"Hhhh… baru musim gugur saja sudah begini dingin. Apalagi musim dingin," keluhan itu meluncur dari mulutnya, yang sedari tadi beberapa kali tampak menahan uapan kantuk.
Hhh… periode pertama sekolah bahkan belum selesai, Nona.
Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya
Picture (c) Sakurazaka Ohime
I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.
Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.
Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedar hints dan fans service :p
Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D
Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D
Maju FHI!
Happy reading
Kedua bola hitam kecoklatan itu tampak memandang sendu ke arah lantai yang ditapaki kedua kakinya. Siapapun pasti dapat menerka, dari wajahnya yang kusut dan mata yang sedikit berair, pemilik kedua mata tersebut tengah merasa tidak semangat. Jangan salahkan Nesia. Selain karena hawanya mendukung, juga dikarenakan periode pertama adalah periode pelajaran Filsafat.
Sungguh, demi apapun, Filsafat adalah pelajaran nomor satu yang mampu mengalahkan efek jitu sebuah obat tidur!
Dan Nesia langsung mengucap syukur dalam hati, tadi, ketika Guru Filsafat mendaulatnya untuk mengambil beberapa buku di perpustakaan kompleks A. Nesia, tentu dengan senang hati dan kelewat semangat, menerimanya. Karena ia tidak mau jika nantinya benar-benar tertidur di kelas, jika ia lebih lama berada di kelas. Selain nantinya Guru super duper ekstra eksekutif killer itu akan 'membantainya', juga ia tidak mau mendapat malu di depan teman-teman sekolahnya.
Jadilah, ia menjalani tugas ini dengan semangat. Kelewat semangat, ketika ia sengaja mengulur-ulur waktu untuk berada di perpustakaan—sekedar menghindari berada di kelas lebih lama.
Soal Guru marah karena ia terlalu lelet, ia bisa beralasan berbagai macam. Misalnya saja alasan klasik semacam, 'Saya harus ke toilet sebentar, Pak'.
Pandangan sayu dan lelah Nesia teralihkan dari lantai, ketika telinganya mendengar gemuruh riuh dari arah sampingnya. Gadis itu menoleh, dan mendapati sekumpulan manusia yang tengah berada di lapangan olahraga kompleks A.
Lebih tepatnya, sih, lapangan futsal kompleks A.
Tetapi bukan itu yang membuat Nesia terheran hingga ia memberhentikan langkah, sekedar untuk menatap lebih lama.
Akan tetapi terkait fakta bahwa begitu banyak murid yang berada di lapangan tersebut—terutama murid perempuan. Dengan teriakan dan pekikan klasik yang biasa diteriakan oleh para cewek yang sedang fansgirling, yakni: Kyaaaaaa!
Memangnya ada apa?
Tidak akan mendapatkan jawaban hanya dengan berdiri diam di tempat, Nesia memutuskan untuk melangkah mendekat ke arah bibir lapangan. Secara mutlak mengenyahkan kemungkinan Guru Filsafat akan murka habis-habisan padanya nanti, gara-gara ia korupsi tugas seperti ini.
Tetapi ini cukup mengherankan, bagi Nesia. Karena, biasanya, lapangan futsal tidak akan seramai ini—kecuali jika ada pertandingan dengan SMA lain. Apalagi di musim gugur begini. Cewek-cewek biasanya 'kan lebih suka duduk di kantin dan bergosip daripada membekukan diri—menurut Nesia, sih.
Dan sepertinya… objek fansgirling para siswi tersebut adalah salah satu pemain yang tampak tengah berlari-larian di lapangan futsal tersebut.
Berhasil menemukan space kosong di antara kumpulan para siswi yang berdiri di sekitar bibir lapangan, Nesia pada akhirnya mampu melihat ke tengah lapangan.
Tidak ada yang berbeda, sebenarnya. Hanya sebuah pertandingan futsal biasa—bahkan ini bukan pertandingan antar sekolah, karena pemain juga semuanya menggunakan seragam olahraga khas Hetalia High. Tidak ada yang aneh. Para pemain juga sama seperti pertandingan futsal biasa—berlari kesana-kemari, menggiringbola dari ujung ke ujung lain, passing, kicking, dan semua teknik umum dari permainan futsal.
Akan tetapi, terdapat satu hal yang membuat permainan kecil ini tampak bahkan lebih mewah daripada final Piala Dunia—bagi Nesia. Alasan yang membuat para gadis tampak semangat bersorak. Alasan yang membuat Nesia sendiri, langsung tersenyum sumringah ketika menatapnya.
Antonio Carriedo yang menjadi salah satu pemain dari salah satu tim.
Memakai seragam olahraga biru muda khas Hetalia High, pemuda itu tampak berlari-lari menggiringbola, sebelum melakukan passing ke rekannya. Kedua kakinya bergerak lincah, melakukan gerakan-gerakan tipuan yang mampu mengecoh lawan. Hawa pagi musim gugur seolah tidak berefek pada tubuhnya yang tampak basah oleh keringat—membuat pemuda itu tampak begitu makin mempesona dengan satu-dua tetes keringat yang tampak di pelipis atau dagunya. Rambutnya yang ikal dan berantakan, kini terlihat makin seksi membingkai wajahnya.
Dan Nesia otomatis langsung berteriak senang ketika pemuda itu berhasil mencetak angka melalui umpan tendangan sudut.
"AAAAAA! ANTONIOOOOO!" teriakan Nesia seolah hendak menyaingi teriakan beringas para siswi lain yang turut senang akan pertambahan poin tim Antonio. Pemuda itu tampak tertawa senang dan bahagia, ketika teman-teman setimnya melakukan celebration dengan cara menepuk pundak atau mengacak-acak rambutnya.
Melihat Antonio sekeren dan seseksi itu, membuat Nesia tidak bisa mengekang keinginan untuk berteriak-teriak dan mendukung pemuda itu sepanjang permainan kembali berlangsung. 'Kyaaa!' atau 'Kereeeennn!' atau 'Go, Antonioooo! Gooo!' adalah sebagian dari banyak bentuk kalimat dukungan yang didapatkan Antonio dari para fans-nya, termasuk Nesia.
Melihat pemuda itu seperti ini, Nesia seolah sedikit terlupa akan kekecewaannya. Akan semua perasaan yang akhir-akhir ini membuatnya merasa lemah—perih.
Memandanginya dari jauh seperti ini… Di mana pemuda itu tampak begitu seperti seorang idola di mata para fans-nya…
Bagaimanapun, perasaan ini terasa amat kuat—dan tidak akan bisa dihilangkan dengan mudah hanya dalam waktu beberapa hari saja, tak peduli betapa kejamnya kenyataan yang berbicara.
"O TUHAN ANTONIO!" pekik Nesia terkejut bercampur khawatir, ketika melihat pemuda tersebut terjatuh ketika salah satu anggota tim lawan, sengaja atau tidak (Nesia tidak peduli), sedikit menyenggol bahunya.
Dan ngomong-ngomong soal 'anggota-tim-lawan-yang-menyenggol-bahu-Antonio-te rcinta-hingga-jatuh' tersebut…
"Senior Arthur Kirkland apa yang kau lakukaaannn?"
Teriakan seorang siswi—yang sepertinya teman sekelas Antonio—terdengar begitu jelas di samping telinga Nesia. Membuat kita semua tahu, siapa 'anggota-tim-lawan-yang-menyenggol-bahu-Antonio-te rcinta-hingga-jatuh' tersebut.
Sungguh, sebelum ini Nesia tidak mampu memandang dan berpikir apapun selain Antonio. Hanya Antonio. Betapa pemuda tersebut sangat lihai dalam permainan futsal seperti ini. Betapa pemuda itu tampak makin seksi dan kelewat mempesona dengan tak hanya senyuman lebarnya, tetapi juga aura manly yang menguar kuat dari tubuhnya yang basah oleh keringat.
Sehingga, wajar dong, jika Nesia tidak memikirkan apapun, termasuk 'siapa lawan tim Antonio'?
"Hmpfh! Tentu saja. Jangan remehkan juga permainan futsal kelas kami yang memenangkan pertandingan pada perayaan Hetalia Anniversary tahun lalu."
Nesia menoleh ke sumber suara. Didapatinya seorang siswi—yang sepertinya merupakan Kakak kelasnya, berdiri di sampingnya—dengan seragam olahraga Hetalia High. Dari wajah dan ekspresi leganya sih, sepertinya siswi tersebut tidak termasuk dari Antonio Fans Club atau bullshit semacam itu.
"'Kelas kami'?" tanya Nesia menyahuti gumamam gadis anonymous tersebut.
Bola mata berwarna biru cerah itu memandang Nesia, lantas berujar yakin dan penuh kebanggaan, "Tentu saja, kelas kami, 2-B. Arthur adalah salah satu maskot futsal dan soccer andalan kelas kami. Tahun kemarin, dia sempat menjadi pemain andalan Klub Soccer Hetalia High, sebelum berhenti karena mengikuti kepengurusan OSIS."
"Jadi ini sekarang semacam pertandingan antar kelas?" tanya Nesia—seolah secara tersirat memberhentikan Senior tersebut untuk bercerita tentang Arthur dengan gaya seolah-olah alis mesum tersebut adalah jelmaan nyata dari tokoh kartun Super Man.
"Ya, tetapi juga tidak. Karena ini hanya semacam tes pelajaran olahraga saja. Dan kebetulan jadwal pelajaran olahraga antara kelas Antonio dan kelas kami bersamaan—jadi Pak Hills (1) melakukan uji kemampuan futsal," gadis itu mengendikkan bahu, sebelum kembali menatap ke arah lapangan, "Meski sudah jelas, sih, siapa yang menang. Bocah Spanyol itu tidak mungkin mengalahkan kami. Begitu juga untuk tanding futsal putri antar kelas kami, setelah ini."
Nesia mengerucutkan bibirnya ketika mendengar gadis tersebut berbicara rendah mengenai Antonio. Dan lebih dongkol lagi ketika gadis itu merendahkan Antonio dan memandang tinggi dan superior pada makhluk rendahan macam Arthur Kirkland.
Mengalihkan pandangan, Nesia kembali berteriak, lebih keras, seolah ingin membuktikan bahwa apapun yang dikatakan Senior songong barusan (hei, apakah penghuni kelas Arthur sama menjengkelkannya dengan Ketua OSIS tersebut. Hhhh…) tidaklah benar.
Antonio jauh lebih keren!
Jauh lebih hebat!
Dan juga, jauh lebih seksi lah, kemana-mana!
Sepertinya pertandingan telah berlanjut lagi ketika Nesia sibuk berbincang dengan Senior barusan. Dan sekarang, Nesia semakin berteriak lebih kencang. Bukan lagi teriakan fansgirling, tetapi juga teriakan provokatif semacam, 'Ayo, kelas 1 A! Lawan! Lawan! Hancurkan lawanmuuuuu!' atau 'Mereka tidak begitu hebat kok! Kalian pasti bisaaa!' atau 'Aku bersumpah akan membunuhmu jika kau membuat Antonio terluka lagi, Senior Kirklaaaannndddd!'. Yang untung saja, teriakannya barusan sedikit teredam oleh riuh rendah teriakan para siswi dan sebagian siswa lainnya yang turut melihat.
Antonio tampak menggiring bola.
"Kyaaa! Antonio! Make a point! Make another point!"
Antonio passing bola.
"O Tuhan! Kau sungguh keren Antonio!"
Antonio mengelak gesit dari incaran lawan.
"That's awesomely awesome!" oke, ini déjà vu sekali pada salah seorang Senior.
Antonio mencetak angka.
"ANTONIOOOO! ANTONIOOO! ANTONIOOO! ANTO—"
DUKH!
"Ow!"
"BERISIK!"
Dan Nesia tak pernah menduga, dari sekian banyak siswi yang juga berteriak fansgirling-an pada Antonio, kenapa harus Nesia satu-satunya yang dijadikan sasaran di mana Arthur melempar bola futsal dengan kesal.
Dan sungguh, cukup sakit. Apalagi kena muka.
Uh.
Andai saja saat itu salah satu teman sekelasnya tidak tiba-tiba muncul di sampingnya dan segera menyeret lengannya untuk kembali ke kelas (dengan alasan sebelum Nesia di-black list namanya dari pelajaran Filsafat), maka Nesia pasti akan dengan senang hati membalas perbuatan Arthur.
Jauh lebih sakit.
Misalnya, dengan lemparan tiga buku tebal yang tengah dipeluknya?
-oOo-
Benar saja dugaan Nesia dan perasaan cemas teman Nesia yang menyeret cepat-cepat Nesia.
Begitu mereka sampai di kelas, Pak Wright (2) langsung memelototi Nesia dengan sangar dengan wajah yang memerah marah. Dan Nesia hanya meringis lebar nan garing sebagai ekspresi rasa bersalah dan malunya.
Beruntunglah. Karena Nesia hanya dikenai hukuman membuat rangkuman dari 3 bab Filsafat dan dikumpulkan dua hari ke depan. Itu sih, cukup ringan daripada mendapati nilai ujian akhirmu di-diskon 30 persen dan kau terpaksa mengikuti ulangan perbaikan.
Lovino Vargas sempat menawarkan bantuan untuk membuatkan rangkuman satu-dua bab untuknya. Tetapi tentu saja, Nesia menolaknya. Selain karena Lovino tidaklah pantas untuk turut menanggung beban Nesia, juga karena pasti gagal ketika Pak Wright mendapati betapa berbedanya tulisan tangan mereka berdua.
Oh ya. Tentu saja. Tugas sialan itu harus ditulis tangan—demi Tuhan, di tengah kemajuan teknologi komunikasi dan informasi seperti ini!
Oleh sebab itulah, untuk menghindari hukuman yang lebih mendewa dari sang Guru Filsafat, Nesia menggunakan malam ini untuk menyelesaikan tugasnya dengan sistem paling populer di antara para akademisi, yakni Sistem Kebut Semalam. Dua hari nyaris berlalu, dan besok pagi tugas tersebut akan dikumpulkan.
Jadi, gadis itu sudah mengurung diri di kamarnya semenjak sore demi membaca dan menulis. Membaca dan menulis. Begitu sampai kiamat—rasanya.
Bahkan ia tidak menghentikan kegiatannya saat pintu kamarnya terketuk dari luar, beberapa kali. Hingga pintu tersebut terbuka perlahan dan menampakkan wajah Chau yang melongokkan kepalanya dari celah pintu yang terbuka.
"Nes. Ada temanmu yang mencarimu."
"Bilang aku sedang sibuk," jawab Nesia tanpa menoleh. Masih anteng terduduk di meja belajarnya, "Nanti akan kutelpon lagi."
Dan Chau terlihat sweatdropped, "Dia datang secara fisik, bukan melalui telepon."
Hal itu sukses membuat kepala dengan rambut terkuncir kuda tersebut menoleh, lantas menatap heran ke Chau, "Lovino?"
Karena simpel saja. Hanya terdapat empat murid Hetalia High yang mengetahui di mana apartemennya. Pertama, Lovino—tapi tidak mungkin. Pemuda itu 'kan baru saja bilang dan mengajak Nesia untuk pergi membeli daily needs di Supermarket terdekat. Kedua, Feliciano—ini malah tidak mungkin lagi. Pemuda itu telah pindah tempat tinggal. Sekalipun datang kemari, pasti ia akan memberitahu Lovino terlebih dahulu, di mana kemudian Lovino memberitahu Nesia. Ketiga, Antonio—hhh. Sudahlah. Ia mungkin cukup sibuk dengan urusan Klub atau tengah bersama dengan… ck! Dan yang keempat—Arthur Kirkland. Tidak mungkin sekali, banget! Arthur mungkin ke sini hanya dengan dua kemungkinan saja. Pertama, dia sudah bosan hidup dan mengantar nyawa pada Nesia. Dan kedua, dia adalah orang muka tembok yang tak tahu malu untuk mampu mengunjungi kediaman orang yang sudah diludahi perbuatan baiknya.
Menjawab pertanyaan Nesia, Chau menggeleng pelan. Lantas mengucapkan satu kata yang membuat jantung Nesia melewatkan satu degupan.
"Antonio."
-oOo-
Nesia nyaris tidak mampu mengingat, kapan terakhir kalinya ia mendapati pemuda berambut coklat gelap tersebut, terduduk di sofa ruang tamunya.
Tidak.
Lebih tepatnya, kapan terakhir kali mendapati mereka berdua berada dalam jarak kurang dari satu meter—berdua saja.
Karena semua terasa terjadi sudah begitu lama. Semua terjadi di waktu yang dinamakan masa lalu. Semenjak kenyataan itu terkuak ke permukaan, menghancurkan tiap kepingan kecil harapan dan impian Nesia yang telah terangkai indah—layaknya dongeng antara Putri dan Pangeran berkuda.
Semua mimpi indahnya bertransformasi menjadi mimpi buruk—dan cukup membuat rasanya ia tidak mampu berbuat apa-apa lagi selain merasakan rasa perih. Pedih.
Bahkan seluruh air mata yang tertumpah rasanya tidak sebanding dengan luka yang menganga.
Luka yang ia rasakan—diam. Sepi.
Dan akhirnya, yang mampu Nesia lakukan hanyalah menerima.
"Hei, Nes."
Sungguh, tidaklah mudah untuk menghapus kenyataan akan betapa indahnya senyuman itu. Akan betapa suara itu selalu sukses membuat tiap tetes darahnya berdesir hangat. Akan jernih dan tulusnya tatapan mata tersebut.
Tidak mudah. Nesia sudah merasakan perasaan ini cukup lama—semenjak sepasang bola mata mereka saling bertemu dalam satu tatapan yang tidak disengaja. Perasaan ini bersarang terlalu cukup lama, untuk mampu sirna oleh kenyataan yang ia dapati dalam satu malam saja—tak peduli betapa menyakitkan dan kejamnya kenyataan tersebut terasa.
"Antonio," terasa begitu dipaksakan senyuman tersebut terlukis di bibir Nesia. Bahkan gadis itu memilih duduk di sofa di depan Antonio—membuat sepertinya, pemuda itu merasa bahwa jarak yang telah tercipta antara mereka, belum terhapuskan juga, "Tumben sekali kau datang?"
Separuh sarkastis, separuh tak tahu harus bicara apa dan bagaimana lagi.
Dan pemuda itu tersenyum kecil, "Aku bahkan terkejut kau tidak mengusirku dari sini sekarang, Nes."
Ah, ya.
Terkadang, menjauhi hal yang menyebabkan keburukan bagi kita, adalah bentuk proteksi diri kita sendiri dari hal tersebut, 'kan? Bukan Antonio yang buruk—perasaan Nesia pada pemuda itulah, yang Nesia pikir harus ia singkirkan.
Dan bagaimana lagi caranya selain menghindari untuk menatap mata itu lebih lama? Mencegah untuk mendengar tawa itu lebih jelas?
Waktu tiga minggu adalah waktu yang terlalu singkat untuk melupakan semua itu—sekaligus waktu yang terlalu lama untuk menahan rasa rindu dan ingin bersama.
Seperti dulu.
"K-kenapa kau berpikir begitu?" Nesia meringis kikuk, "Tentu saja kau diperbolehkan berkunjung kesini. Kapan saja."
Betapa pandainya lisan merangkai dusta.
"Benarkah?" dan betapa Nesia membenci sifat pemuda tersebut yang terlalu lugu untuk mampu membaca suasana, "Karena kupikir, selama ini kau membenciku—entah karena apa. Nes, Demi Tuhan. Kau membuatku bingung."
Sebuah senyum kecil terukir di bibir Nesia—tak tahu harus bagaimana dan berkata apa lagi.
"Kalau begitu, kau tidak marah padaku, 'kan?" Andai seseorang bisa dibenarkan untuk merasakan amarah pada perasaan yang tidak bisa dipaksakan, "Aku bahkan telah bertanya pada Lovino—tentu saja, karena kau sepertinya, menurutku, lebih suka dekat dengannya," kedua alis Antonio melengkung ke bawah, sebelum ia menggerutu kesal, "Tetapi alih-alih menjawab, dia malah membentak-bentak dan mengumpatiku. Hhh… padahal aku hanya bertanya mengenai dirimu, 'kan?"
Sebegitu khawatir dan pedulinya-kah Antonio? Pada Nesia?
Sekalipun perasaan khawatir dan peduli itu tidaklah dalam arti yang sama dengan perasaan khawatir dan peduli yang Antonio rasakan untuk orang lain—perempuan lain.
Nesia tertawa pelan, "Kau tahu, itulah sifat Lovino."
Antonio mengendikkan bahu, lantas ia tersenyum lebar, "Haaahh… jika begini rasanya puas sekali, mengetahui bahwa kita baik-baik saja, 'kan?"
Nesia mengangguk mengiyakan, "Maaf jika aku membuatmu cemas, Antonio. Aku h-hanya sibuk dan kepikiran soal kompetisi. Kau tahu, Senior Kirkland begitu perfeksionis."
Dusta yang lain.
"Kau kemari hanya untuk hal ini, Antonio?" tanya Nesia.
Dan di saat itulah, Nesia dapati Antonio tertunduk sembari menggaruk tengkuknya.
Tertawa lirih dan terdengar begitu kikuk, sebelum menjawab, "T-tidak juga, sih. Ada yang ingin kubicarakan padamu."
Melihat ekspresi dan perilaku Antonio sekarang, Nesia langsung merasa déjà vu. Pada saat itu. Di lorong di depan ruang Klub Musik. Atau di halaman sebuah restoran Cina di kala malam menjelang musim gugur.
Ekspresi Antonio yang demikian, seolah bagaikan rangsangan yang membuat semua memori yang ingin terkubur, menyeruak kembali ke permukaan.
Dalam satu sentakan kuat.
"…Apa?" lirih Nesia berujar, seolah lebih dari separuh hatinya tak ingin mendengar apapun yang akan dikatakan pemuda di depannya.
Antonio menggantungkan pertanyaan Nesia selama beberapa menit. Menit-menit yang sungguh menyiksa bagi Nesia. Yang membuatnya merasa takut bercampur cemas. Seperti terdapat bom waktu yang berdetak keras di kedua gendang telinganya.
Dan bom waktu itu meledak dalam bentuk satu detakan jantung yang terlewatkan, ketika Antonio pada akhirnya membuka suara dan berucap, sembari memandang Nesia.
Tepat memandang kedua bola mata Nesia.
"Ada satu gadis yang aku sukai. Sangat suka."
Satu hembusan napas keras, terhela oleh Nesia yang tanpa sadar menahannya selama beberapa saat.
Ia tidak tahu, apa yang Tuhan rencakan padanya. Apa yang Tuhan rencanakan di balik semua ini. Mengirim Antonio datang kemari.
Menemuinya setelah sekian lama mereka tidak mengobrol layaknya teman akrab.
Dan tahu-tahu… tiba-tiba ia mendengar satu pengakuan yang paling tidak ingin ia dengar—sekalipun telah ia ketahui.
Pernyataan Antonio seketika bagaikan garam yang ditaburkan dalam hati Nesia yang menganga perih. Sebuah penegasan, pernyataan, tepat di hadapan Nesia. Langsung dari mulut Antonio sendiri. Seolah dengan semua ini, tak ada harapan lagi bagi Nesia. Tidak ada lagi.
Semua harapan, impian, dan perasaannya makin remuk tak berbentuk hanya oleh satu pengakuan singkat itu saja.
Antonio mengakui sendiri bahwa ia menyukai gadis lain.
Bukankah itu sama saja seperti mengatakan bahwa ia tidak menyukai Nesia?
Tidak suka.
Tidak pernah.
"Cukup mengejutkan, eh?" diam dan terpakunya Nesia disalahartikan oleh sang pemuda sebagai sebuah kekagetan, "Well, tidak heran, sih. Aku juga tidak pernah bercerita padamu," Antonio tertawa lirih sembari menunduk malu.
Melewatkan betapa keras Nesia menggigit ujung bibirnya—mencoba menahan luapan perasaan yang tiba-tiba menggunung di dalam dada.
Dan sewaktu-waktu, bisa terekspresikan lewat jatuhnya buliran air dari matanya.
Tidak.
Tidak boleh.
"B-bebegitukah?" Nesia berusaha sekuat mungkin membuat nada suaranya terdengar ceria, antusias, "Kenapa kau baru cerita padaku sekarang?"
Takdir kejam macam apa ini.
"Oh, jangan salah paham." Antonio tertawa lirih sembari menggerak-gerakkan kedua telapak tangannya, "Bukannya aku tidak percaya padamu. Hanya saja, aku bukanlah tipe orang yang pandai jujur pada perasaanku sendiri. Kau tahu… Ini cukup memalukan bagiku."
Sekali lagi, tertawa. Lirih. Semu.
"Haha. Antonio, apa yang memalukan dari perasaan itu? Kau tahu, semua orang, apalagi remaja seperti kita, sangat wajar merasakannya."
Cinta. Sakit hati. Kecewa. Rindu. Benci. Marah. Terluka.
Semua wajar terasakan di masa yang disebut masa paling indah ini.
"Well, aku hanya takut kau akan mengejekku—mungkin," Antonio mengendikkan bahu, "Tetapi sekarang, aku memutuskan untuk memberitahumu. Aku merasa perlu menceritakan hal ini—pada teman dekatku. Tidak kuat dan tidak bisa menahan lebih lama lagi. Dan kau tahu, Lovino pasti hanya mengatai atau lebih buruk, mengusirku."
Ironis sekali, bukan?
Menjadi tempat penampung curahan hati dan perasaan cinta seorang pemuda yang dicintai, kepada perempuan lain.
Dan membiarkan perasaannya sendiri membusuk tanpa terketahui.
"Oh.. tetapi, pertama-tama, kenapa kau tidak kau ceritakan tentang dirinya, padaku?"
Padahal apa peduli Nesia?
Tidak ada. Untuk apa ia peduli pada hal yang justru memperburuk semuanya?
Pandangan Antonio tampak terlempar ke kanan dan ke kiri, seolah menimbang kata yang tepat untuk mengawali kisah singkat darinya. Namun akhirnya, pemuda tersebut menarik napas dalam-dalam, dan mulai berkata.
"Aku mengenalnya sejak kami bersekolah di satu SMP yang sama di Louisiana. Dia dua tingkat di atasku—seniorku. Pertama kali mengenalnya pun tidak sengaja. Aku hanya menuruti permainan dan tantangan bodoh teman-temanku untuk mendekatinya karena kau tahu, ia memiliki Kakak yang terkenal sangat protektif dan menakutkan bagi tiap laki-laki yang ingin mendekatinya."
Willem Van Hardt…
Pikiran Nesia langsung, meskipun sejenak, mengulas seorang pemuda berambut dengan gaya menyerupai kuncup tulip—seperti bunga Nasional negeri pemuda itu, Belanda.
"Dan tentu saja, aku menerima tantangan teman-temanku. Simpel sih. Hanya mengajaknya ngobrol dan mendapatkan nomor telponnya. Berhubung saat itu Kakaknya telah lulus SMP, dimana dia baru menginjak kelas 3 dan aku baru memasuki tahun pertama SMP-ku, aku bisa memenuhi tantangan itu dengan mudah. Tetapi, seperti drama atau novel klasik saja, aku terpesona padanya."
Kesepuluh jemari tangan Nesia mencengkeram kuat kain dari celana jeans yang dipakainya, bersama dengan ujung bibirnya yang tergigit keras.
Antonio menyukai Senior Bella semenjak mereka SMP. Tidak. Semenjak… hampir 4 tahun yang lalu.
Jika demikian, bukankah berarti perasaan Antonio begitu dalam? Begitu kuat. Begitu tegar. Hingga bertahan hingga sekarang.
Dan apalah arti perasaan yang mulai tumbuh di hati Nesia semenjak tak lebih dari setahun yang lalu!
"Bola matanya yang berwana biru, indah sekali. Matanya adalah bagian dari dirinya yang paling kusukai, kau tahu. Dia seperti memiliki pandangan seorang gadis kecil—dengan mata kucingnya, ia tampak begitu manis. Ah. Tuh, 'kan, aku jadi terdengar konyol dan cheesy begini," Antonio tertawa kikuk sembari menggaruk tengkuknya. Terlihat jelas wajah pemuda itu tampak merona merah, "Intinya, sih, dia begitu sempurna bagiku. Terlalu sempurna, hingga sampai sekarang aku tidak mampu memandang gadis lain selain dirinya. Alasan itu juga sih, yang mendasari keinginanku untuk memasuki Hetalia High—aku tahu dia bersekolah di sini."
"…aku tidak mampu memandang gadis lain selain dirinya"?
O Tuhan, betapa sakitnya.
Sakit sekali.
"Tetapi aku tidak pernah sempat menyatakan perasaanku padanya—dia sudah keburu lulus, kau tahu. Dan ia sepertinya juga sudah mudah melupakan satu junior yang mendekatinya untuk meminta nomor telponnya—apa gunanya? Pasti aku bukan satu-satunya laki-laki yang melakukan tindakan tersebut. Tiada yang spesial, baginya. Tetapi aku berniat untuk menyusulnya. Aku mendaftar di Hetalia High dan pindah ke Carolina Utara—di sini. Dan kau tidak tahu, betapa senang dan bahagianya diriku ketika aku pertama kali melihatnya sebagai salah satu anggota Komite Disiplin waktu itu—apalagi saat mengetahui dia pembimbing kelompokku."
Dan Antonio tersenyum kecil dengan pandangannya yang tampak mengulas. Siapapun yang melihat pandangan itu, pasti bisa dengan yakin berkata bahwa hati pemuda tersebut tengah terlena.
"Kau ingat, saat kita disuruh Senior Kirkland untuk berpura-pura menjadi pasangan kekasih waktu di tengah taman saat itu? Aku bahkan nyaris menciummu, tahu?" Antonio tertawa lirih, sebelum melanjutkan, "Maaf, Nes. Tapi kau tahu, entah apa yang kupikirkan waktu itu. Aku melakukan semua itu hanya demi dirinya untuk menatapku—memerhatikanku."
'Dengan kata lain, kau memanfaatkan diriku untuk menarik perhatiannya? Mengombang-ambingkan perasaanku, membuatku jatuh cinta padamu… semua itu kau lakukan untuk menarik perhatiannya?'
Nesia tidak tahu, apakah hatinya bisa menjadi lebih sakit dan terluka dari ini.
Tidak tahu.
Yang ia tahu hanyalah rasa sakitnya. Terlukanya.
Begitu kuat—tak terkira.
"Aku juga mengikuti Klub Musik karena aku tahu, ia berada di sana. Dan aku sangat merasa bahagia ketika ia memuji permainan gitarku—untuk itulah aku berusaha berlatih keras, terutama saat perayaan Hari Kemerdekaan yang lalu. Dan berkat berada di klub yang sama, hubungan kami kian dekat. Kami sering pergi berdua. Bertukar nomor telepon dan saling mengirimi pesan satu sama lain. Sekali dua kali, aku juga pernah ke apartment-nya, menemaninya berbelanja dan apalah. Kupikir hubungan kami sudah lebih dari teman."
Cukup.
Nesia tidak ingin mendengar lagi.
Tidak ingin.
"Sebelum dia mengatakan padaku bahwa dia masih memiliki perasaan terhadap Senior Ludwig Beilschmidt. Hubungan yang tidak jelas—antara berpisah dan masih terikat. Ia juga tidak begitu yakin akan perasaannya padaku, dan memilih untuk mundur karena tak ingin menyakitiku jika suatu saat nanti ia ternyata lebih menyukai Senior Beilschmidt daripada diriku."
"…Cukup…," terlalu lirih bisikan itu terucapkan, hingga telinga Antonio tidak mampu menangkap getarannya.
Kepala pemuda itu yang tertunduk, membuat kedua matanya tak mampu menatap betapa nanarnya dua bola hitam kecoklatan yang menatapnya.
"… Kau tahu. Saat itu juga, aku merasakan duniaku hancur."
Suara Antonio terdengar lirih dan agak parau. Entah hilang kemana semua aura love-sick yang tampak jelas di ekspresinya tadi.
"Perasaan yang kumiliki semenjak nyaris 4 tahun lalu, seolah tiada berguna. Orang yang kucintai bahkan memiliki pria lain yang dicintainya. Tentu saja… apalah arti junior sepertiku dibandingkan dengan Senior seperti Senior Beilschmidt," Antonio tersenyum patah—senyum yang justru melambangkan perasaan terluka, "Senior Beilschmidt yang keren, disiplin, tegas, begitu manly dan jelas mampu melindunginya. Apalah artinya diriku—dia bahkan tidak mengingat bahwa aku adalah junior yang meminta nomor teleponnya dahulu."
Sakit.
Demi Tuhan, sakit…
"Aku begitu mencintainya, Nes, hingga aku tak bisa berpikir apa-apa lagi selain harus menceritakan hal ini ke orang lain. Sakit sekali rasanya, kau tahu?"
Mungkin Nesia tidak akan pernah tahu, sesakit apakah perasaan Antonio sekarang ini. Karena simpel saja, Nesia tidak mencintai Antonio selama nyaris empat tahun dan melakukan segala cara untuk bertemu dengan yang terkasih. Mungkin Nesia juga tak akan pernah bisa membayangkan bagaimana jika dirinya yang berada pada posisi Antonio.
Hanya satu yang Nesia tahu, rasa terluka yang ia rasakan juga tidak bisa dibilang ringan. Berat. Sakit.
Tak terkira.
Sekalipun perasaan ini tumbuh belum begitu lama.
Seterusnya, Nesia berusaha sebisa mungkin menahan air matanya. Menahan perasaannya.
Menahan ironisnya kenyataan yang ada: kenapa Antonio tetap memandang pada Senior Bella sedangkan disini, tepat di hadapan Antonio sekarang, adalah Nesia.
Dengan cintanya.
Dengan kasih tulusnya.
Mungkin tidak selama dengan perasaan Antonio terhadap Senior Bella.
Akan tetapi, andai saja pemuda itu memberi kesempatan, Nesia berjanji untuk mempertahankannya. Menjaganya.
Andai saja…
Dan malam itu, sepeninggal Antonio, tak ada yang bisa gadis itu lakukan selain mengurung diri di kamar. Melupakan tugas Filsafatnya. Melupakan makan malamnya.
Terkadang, menangis bisa menjadi pilihan terbaik—sekalipun tidak cukup untuk menyembuhkan luka.
-oOo-
Semuanya menjadi kacau.
Akibat ia menangis semalaman, tidak hanya kedua mata Nesia yang tampak begitu sembab dan bengkak, namun juga ia melupakan semua tugas wajibnya sebagai seorang pengenyam pendidikan: mengerjakan PR.
Tak hanya tugas Filsafat yang ia lupakan (demi Tuhan, menangis habis-habisan bisa menjadi obat tidur juga ketika telah kelelahan), tetapi juga PR Kimia yang akan diperiksa pada periode pertama hari ini.
Tetapi, sepertinya Nesia tidak memerdulikan semua itu. Jangankan peduli, ia datang ke sekolah juga seperti mayat hidup. Berjalan lesu, lelah, dengan kantung mata membengkak dan suara yang parau. Orang bodohpun pasti tahu bahwa gadis itu tengah memiliki suasana hati yang buruk, hingga hilang entah kemana aura happy-go-lucky yang selama ini dimilikinya.
Bahkan pertanyaan, "Apa kau ada masalah?" dari Lovino juga ia tepis dengan satu gelengan singkat.
Dan Lovino terdiam—tidak menuntut Nesia untuk terus terang kepadanya. Karena sekalipun gelengan Nesia seola menyatakan bahwa ia baik-baik saja, tetapi tatapan matanya tidak bisa berdusta.
Nesia sudah pasrah saja ketika Bu Evelyn (3) mendatangi satu persatu meja murid untuk memeriksa lembar PR mereka. Guru beriris mata hijau tersebut telah mengancam untuk mengeluarkan siapapun yang tidak mengerjakan PR, dari pelajaran Kimia kali ini dan minggu depan.
Tetapi, ketika Guru tersebut nyaris mencapai meja Nesia dan Lovino, Nesia mendapati satu buku tulis terlempar ke permukaan meja di depan Nesia.
Bersamaan dengan Lovino yang seketika berdiri dari bangkunya.
"Lovino?" gumam Nesia antara terkejut dan heran akan sikap pemuda tersebut.
"Pakai saja," jawab Lovino, "Aku sedang tidak berminat mengikuti pelajaran membosankan ini."
"Tapi—"
Ucapan Nesia terpotong oleh hardikan tertahan dari Bu Evelyn kepada Lovino yang telah melangkah keluar dari meja mereka.
"Kemana, Vargas?"
"Lebih baik aku keluar dengan kemauanku sendiri sebelum Anda suruh," ujar Lovino.
Nesia segera mengangkat buku tulis yang dilemparkan Lovino padanya tadi, "Tetapi Lovino, buku ini—"
"Kenapa? Buku itu milikmu, 'kan?" potong Lovino, "Aku tidak mengerjakan PR."
Dan pemuda itu melangkah keluar kelas.
Tanpa mengetahui bahwa pandangan Nesia mengikuti tiap langkah yang pemuda itu ambil.
Kenapa Lovino begitu….
"Boleh lihat pekerjaanmu, Nona Saraswati?"
Meski ragu dan merasa sangat berdosa, Nesia menyerahkan buku tulis yang berada di genggamannya.
'Lovino….' hanya nama pemuda itu yang Nesia gumamkan sepanjang sisa periode pelajaran Kimia.
-oOo-
Atap sekolah merupakan tempat klasik dan populer untuk merenung dan menenangkan diri—terutama bagi para murid yang wajar dirundung berbagai persoalan remaja.
Begitu pula dengan Nesia.
Kedua kakinya segera berlari keluar kelas begitu bel periode istirahat dimulai, berbunyi. Melewati banyak lorong dan meniti beberapa tangga, ia pun tidak berpikir dua kali untuk membuka pintu atap—hembusan angin seketika seolah menampar wajahnya begitu ia membuka pintu besi itu.
Dengan langkah sedikit tertatih, gadis itu segera menyandarkan diri pada pembatas atap sekolah. Kedua tangannya seketika mencengkeram pembatas itu dengan kuat, hingga buku-buku kukunya tampak memutih.
Dan tanpa melakukan apapun lagi, tanpa berpikir apa-apa lagi, kepalanya menunduk.
Ujung bibirnya tergigit. Seolah ingin menahan beban.
Tapi apa daya, isak itu akhirnya pecah.
Terdengar pelan di antara bunyi hembusan angin musim gugur yang menerpa kencang.
Hanya terisak.
Namun ia tahu pula, sebanyak apapun air mata, tak akan mampu menenangkan hatinya. Tak akan menyembuhkan lukanya.
Dan air mata itu, tak akan mampu membuat Antonio mencintainya.
Tidak akan.
-oOo-
Entah sudah berapa lama ia berada di sini, Nesia tidak tahu. Yang berputar-putar di otaknya layaknya kaset rusak, hanyalah Antonio, Antonio, dan Antonio. Senyumnya. Tawanya. Kedua bola matanya.
Sekaligus setiap kalimat yang teruntai jujur dan tulus, yang kemarin terucapkan. Tepat di depan Nesia.
Perasaan cintanya. Rindunya. Sakit hatinya. Terlukanya.
Semua tersampaikan dengan begitu sempurna hingga Nesia yakin bahwa pemuda itu tiadalah merangkai dusta—untuk apa? Antonio bukanlah tipe orang yang akan membual hanya karena masalah perasaan.
Tidak ada dusta.
"Hiks… Hiks…"
"Ada satu gadis yang aku sukai. Sangat suka."
Tiap kata tergema kembali di telinganya. Tiap kalimat. Tiap ekspresi.
Yang tak bisa Nesia respon dengan apapun selain menerima—menatap dan mendengarkan.
Tak peduli betapa tiap huruf yang merangkai bagaikan sembilu yang mencabik perasaannya. Tak peduli tiap gurat ekspresi seolah bagaikan garam yang tertabur di lukanya.
"Hiks… Hiks…"
"Intinya, sih, dia begitu sempurna bagiku. Terlalu sempurna, hingga sampai sekarang aku tidak mampu memandang gadis lain selain dirinya. Alasan itu juga sih, yang mendasari keinginanku untuk memasuki Hetalia High—aku tahu dia bersekolah di sini."
Harusnya, ia bisa mencegah perasaan ini dari dulu. Ia harus menahannya. Ia seharusnya bisa menduga, bahwa Antonio tidak mungkin memiliki perasaan yang sama padanya.
Bahwa cintanya akan bertepuk sebelah tangan.
Jika ia bisa menduganya, maka ia akan menahannya. Dan jika begitu, bukankah sakitnya tidak akan separah ini?
"Hiks… Hiks…"
"Maaf, Nes. Tapi kau tahu, entah apa yang kupikirkan waktu itu. Aku melakukan semua itu hanya demi dirinya untuk menatapku—memerhatikanku."
Kepala Nesia masih tertunduk. Bulir-bulirnya masih mengalir, jatuh menetes dari dagunya dan membentuk titik-titik kecil dan basah di lantai atap atau pembatas balkon yang dipegangnya.
Namun tidak bisa. Ia tidak bisa lega.
Justru semakin parah.
Karena Antonio tidak tahu. Pemuda itu tidak tahu bahwa sekarang Nesia ada di sini. Menangis. Sendiri.
Antonio tidak tahu, seberapapun Nesia ingin dia untuk berada di sini.
"Aku begitu mencintainya, Nes, hingga aku tak bisa berpikir apa-apa lagi selain harus menceritakan hal ini ke orang lain. Sakit sekali rasanya, kau tahu?"
Ironis sekali.
Mereka sama-sama terluka. Sama-sama kecewa.
Untuk alasan yang sama, tetapi juga berbeda.
Andaikan perasaan itu bisa dipaksakan… Mungkin Antonio bisa meninggalkan perasaannya yang berada dalam hatinya selama nyaris 4 tahun, dan belajar mencintai Nesia.
Atau kalau tidak… mungkin Nesia yang akan mundur dengan mengubur rapat-rapat perasaannya.
Andai semua itu bisa ia lakukan semudah membalikkan telapak tangan.
Pandangan Nesia tampak agak buram oleh air mata, ketika ia mendapati sebuah benda berwarna hijau, tampak berada di depannya.
"Maaf, aku baru ingat bahwa benda milikmu ini masih berada padaku karena waktu itu." (4)
Tak seperti biasanya, Nesia bahkan tidak menolehkan kepalanya ketika telinganya mendengar suara Arthur. Entah bagaimana pemuda itu bisa sampai di sini dan berdiri di samping Nesia, gadis itu tidak peduli.
Bahkan ia tidak menggubris sapu tangan miliknya yang disodorkan oleh Arthur.
"..P-pergi, aku ingin sendiri…" tanpa repot-repot menahan isaknya, Nesia berujar lirih. Kepalanya masih tertunduk—malah semakin tertunduk.
Hal terakhir yang paling diinginkannya adalah tampak lemah di mata Arthur. Karena Nesia berani bertaruh, pemuda itu pasti akan menjadikan semua hal ini sebagai bahan tertawaan dan hinaan konyol pemuda itu, di suatu saat nanti.
Pemuda tidak sensitif seperti itu…
Mana mungkin mengerti perasaannya.
Tidak mendapatkan respon, Arthur menarik kembali uluran tangannya dengan tetap menggenggam sapu tangan berwarna hijau muda tersebut, "Kau tahu, bel sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu."
"Aku tidak peduli."
"Aku juga tidak akan memaksamu untuk kembali ke kelas," ujar Arthur, "Aku juga tidak akan memaksamu untuk berbicara."
"Aku begitu mencintainya, Nes, hingga aku tak bisa berpikir apa-apa lagi selain harus menceritakan hal ini ke orang lain. Sakit sekali rasanya, kau tahu?"
Kembali terngiang kalimat Antonio tersebut.
Bukankah sekarang sama dengan Nesia? Nesia juga terluka. Nesia juga begitu mencintai Antonio. Begitu mencintainya hingga sakit yang ia rasakan, sangat tidak terkira.
Menangis bukanlah satu-satunya obat yang bisa menuangkan perasaannya. Perasaan yang tidak diketahui oleh dunia—hanya oleh dirinya sendiri.
Tidak oleh Lovino. Tidak oleh Lily. Apalagi oleh Antonio.
Hanya Nesia.
Mungkinkah.. Mungkinkah perasaannya bisa sedikit lebih baik ketika ia membaginya? Ketika ia mengatakan semuanya? Ketika ia mengutarakannya lewat lisan?
Sama seperti Antonio, Nesia sekarang tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Pikirannya seolah mati. Hatinya serasa tidak berfungsi. Semua dikarenakan oleh luka yang menganga perih. Oleh perasaan indah yang justru memeluk ironi.
Jadi… mungkinkah…
"Aku tidak pernah menangis seperti ini, asal kau tahu," Nesia berusaha berbicara di sela isaknya. Suaranya terdengar parau dan mencicit oleh desakan air mata. Entah kepada siapa ia mengucapkan hal itu: pada dirinya sendiri atau Arthur.
Tetapi Nesia tidak bisa berpikir apa-apa lagi.
"Aku selalu menjadi gadis yang tegar. Terakhir kali aku menangis adalah dua tahun yang lalu—hiks—Tetapi… Tetapi semua ini….hiks… berat. Terlalu berat," bahu gadis itu tampak naik-turun oleh isak tangis. Kesepuluh jemari tangannya semakin mencengkeram erat pembatas atap sekolah.
"…."
"Am I being egoistic?" tak sanggup lagi, Nesia menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya bersama dengan isaknya yang semakin terdengar keras, "I just love him so much. Hiks… Too much…" lanjutnya dengan suara teredam oleh tutupan kedua telapak tangannya.
Sebenarnya, Nesia tidak berharap bahwa Arthur akan memberi respon padanya. Untuk apa? Nesia sendiri juga tidak yakin bahwa dirinya tengah berbicara pada Arthur atau justru menggumam pada dirinya sendiri.
Jikapun merespon, pasti hanyalah kata sindiran dan hinaan yang akan diterima Nesia.
Ya, 'kan?
Mungkin tidak.
Karena, pelan tapi pasti, meski terlihat sangat ragu dan penuh dengan kebimbangan… perlahan, sebelah lengan Arthur terjulur.
Dan tanpa berkata apa-apa lagi, direngkuhnya gadis di depannya itu ke dalam pelukan kedua lengannya.
Hanya itu.
Tanpa berbicara apa-apa lagi.
.
.
Hanya pandangan kedua emerald yang tampak sendu itulah, yang seolah mewakili kata yang terkunci.
Mungkin ini hanya perasaan simpati antar sesama rekan kompetisi, tetapi siapa yang peduli?
Kenyataannya Nesia merasakan dirinya terbawa pada kukungan yang hangat.
Penuh keraguan, tetapi di saat yang sama terasa memberikan kenyamanan.
Kedua lengan terasa melingkari bahunya.
Seolah secara tak lisan ingin berucap bahwa, 'Semua akan baik-baik saja.'
.
.
Dan Nesia tak menolak.
Kedua tangannya tampak terkulai lemas di kedua sisinya—ia tak membalas pelukan itu, namun juga tak menghindar.
Yang ia tahu ia membutuhkan kenyamanan, dan perlindungan dari perasaan yang begitu menghancurkannya.
Ketika tangisan tiadalah cukup.
Ia membutuhkan telinga lain untuk mendengar isaknya. Ia membutuhkan suara lain untuk mengatakan bahwa semua baik-baik saja.
Ia tidak bisa berdiri sendiri ketika hatinya sudah porak-poranda seperti ini.
Karena itu, Nesia hanya menyembunyikan wajahnya pada bahu di depannya.
Memasrahkan dirinya dalam pelukan itu.
.
.
Dan pecahlah isak tangis keras—jauh lebih keras dari semua yang sudah ia tumpahkan.
.
.
Bersama dengan terdengarnya sebuah bisikan tertahan dan lirih.
Terdengar bersama dengan hembusan lirih angin musim gugur di siang hari.
"… Mengapa setiap aku bersamamu, aku hanya mampu melihat dua macam ekspresi darimu. Hanya dua. Marah padaku…"
Pelukan itu terasa sedikit mengerat.
"… atau menangis seperti ini."
Cukup lama mereka berdiri dengan posisi demikian.
Cukup lama pula suasana hanya terisi oleh hembusan angin dan isakan.
Hingga selanjutnya, entah bagaimana dan sejak kapan, Nesia dapati dirinya kembali sendiri di atap tersebut.
Tetapi kali ini, sebuah sapu tangan hijau muda berada dalam genggaman satu tangannya.
-oOo-
Jujur saja, perilaku Senior Arthur Kirkland meninggalkan impresi tertentu bagi juniornya, Annesia. Karena simpel, Nesia bahkan tidak pernah bermimpi, alih-alih mendapati, senior beralis setebal hutan amazon itu, menunjukkan sikap simpati padanya.
B—bahkan sampai pada tahap memeluk—uh! Tenggorokan Nesia rasanya tercekik saat ingin mengatakannya.
Karena simpel, kata "pelukan" dan "Arthur Kirkland" itu sama bodohnya dengan mensejajarkan kata "Komunis" dengan "Liberal". Artinya, tidak pernah nyambung dan tidak mungkin!
Wajar jika Nesia berpikir demikian, karena… coba deh, kapan mereka pernah berada dalam jarak yang dekat satu sama lain, dan tidak memaki dan menghina?
Tak ada 'kan? Jadi… berdua saja di atap sekolah di mana Arthur memeluknya—seolah menenangkannya, adalah hal yang Nesia bahkan tidak memiliki niat, untuk membayangkannya. Meskipun pemuda itu ujung-ujungnya juga pergi tanpa pamit (cowok macam apa yang nyelonong datang dan pergi kayak jelangkung begitu?!), tetapi tetap saja…
"… Mungkin dia bisa menjadi orang yang baik, kalau dia mau," gumam Nesia saat itu, ketika ia berjalan di lorong sekolah keesokan harinya. Dipegangan satu tangannya terdapat sebuah payung berwarna putih.
Payung Arthur yang masih berada padanya semenjak malam itu. Saat pemuda itu tiba-tiba berdiri di depannya dengan kondisi basah, dan menyerahkan payung tersebut pada Nesia yang meringkuk terisak menyesapi kepedihan atas kenyataan antara Antonio dan Senior Bella, yang baru ia dapati.
Dan Nesia baru membawa payung itu lagi sekarang—ia akan mengembalikannya. Bukannya apa, hanya saja sering kali ia lupa. Kalaupun dia ingat dan telah membawa, Arthur selalu mencari perkara dengannya bahkan sebelum Nesia sempat bilang terimakasih dan mengembalikan payungnya.
Nesia 'kan jadi dongkol duluan.
Oleh sebab itu, di sinilah ia berada. Di salah satu gazebo yang terdapat di halaman belakang perpustakaan. Kemarin ia tengah merasa bad mood dan tidak mengacuhkan undangan Alfred untuk datang berdiskusi kelompok. Karena percuma saja jika raganya berada bersama Alfred dan Arthur, tetapi pikirannya tidak bersama mereka.
Melayang pada satu pemuda yang bahkan tidak akan pernah mengerti akan semua permasalahan Nesia.
Untuk itulah, sekarang Nesia memaksakan dirinya untuk datang. Ia sudah cukup merasa bersalah mendiamkan undangan Alfred kemarin. Oleh sebab itu, kini ia berniat untuk memenuhi undangan diskusi dari Alfred lagi.
Sekalian untuk mengembalikan payung Senior Kirkland dan mengucapkan terimakasih—tidak peduli betapa rasanya hal itu bagaikan mimpi.
"Apakah aku terlambat?" senyum lirih Nesia pada dua pemuda yang sebelumnya tampak sibuk berbincang. Gadis itu lantas mengambil tempat untuk duduk di sebelah Alfred.
"Oh, tidak Nes. Baru lima menit juga, kok," jawab Alfred sembari tersenyum lebar.
Aneh sekali ketika Nesia mendapati Arthur terdiam. Sejak kapan pemuda itu mentolerir keterlambatan bahkan satu menit saja?
Mungkin ini awal bagi perbaikan hubungan mereka—Nesia pikir. Dan Nesia bukanlah orang yang memiliki gengsi setinggi langit untuk mengucapkan kata terimakasih, bahkan kepada orang yang paling sering membuatnya jengkel setengah mati.
"Senior Kirkland," payung putih itu tersodorkan kehadapan Arthur, "Maaf aku baru mengembalikannya."
Tak hanya Arthur yang sedikit terkejut, namun Alfred malah menatap tak percaya. Wajar sih. Siapa yang menduga bahwa Arthur meminjamkan barang miliknya kepada orang lain, apalagi jika orang lain itu adalah lawan adu otot lehernya, seperti Nesia.
Dengan cepat menyahut payung itu dan menaruhnya di bangku sampingnya, Arthur mendecak kesal mendapati pandangan heran dan terkejut Alfred, "J-jangan berpikir apa-apa, Idiot! Aku hanya kasihan melihatnya meringkuk menyedihkan waktu itu saat hujan."
Twitch.
Jika suasana hati Nesia lebih baik, maka ia tidak akan sungkan-sungkan untuk balas memaki Arthur.
Menghela napas dalam-dalam, gadis itu kembali berucap, "Dan terimakasih kemarin saat di ata—"
"O-oh! Gimana nih, ada yang punya usul mengenai persiapan kualifikasi selanjutnya?" potong Arthur sembari membuka-buka buku tebal di depannya.
Mengacuhkan Nesia yang kini menggembungkan kedua pipinya dan menatap tidak suka.
Baruuuuu saja tadi Nesia berpikir bahwa Arthur adalah orang yang baik.
Tetapi, ajakan Arthur untuk langsung berdiskusi, teracuhkan oleh Alfred, yang kini justru menatap heran ke arah Nesia dan bertanya, "Nes? Kau tak apa-apa? Matamu terlihat sembab dan bengkak. Kau habis menangis, ya?" dengan nada yang terdengar seringan saat mengomentari cuaca.
"O—oh ya?" gumam Nesia tersenyum kecil, sembari mengusap-usap kedua matanya, "A-aku hanya kurang tidur, mungkin."
"Orang kurang tidur tidak mungkin memiliki suara serak seperti itu," jawab Alfred menyelidik, "Kalau kau mau, kau bisa menceritakan padaku. Kau tahu, kita teman, 'kan?"
Ucapan Alfred mendapat senyum miring dan pahit dari Nesia.
Pertanyaan simpel dan berindikasikan simpati dari seniornya tersebut, otomatis membuat upaya Nesia untuk membangun pertahanan diri, sedikit goyah kembali. Niat datang berdiskusi untuk melupakan semua, tetapi kini Alfred mengungkit-ungkit apa yang ingin sekali ia lupa.
Bukan salah Alfred juga sih—dia tidak mengerti apa-apa.
Tetapi tetap saja…
Ia rasanya belum mau bercerita. Tidak setelah ia bersusah payah untuk menenangkan perasaannya.
Suasana menghening, dimana Nesia tampak hanya menatap pangkuannya dengan pandangan sendu. Alfred yang terdiam—seolah menanti jawaban Nesia atas pertanyaannya. Dan Arthur yang melirik dengan ekspresi seolah-olah ia tengah berpikir dan menimbang-nimbang sesuatu.
"Nes?" bujuk Alfred ketika mendapati gadis itu terdiam, "Kau tak apa—"
"Ehem! Aku tak sengaja melihat papan pengumuman untuk kelas 1, mengenai hasil nilai ujian tengah semester minggu lalu," Arthur berdeham di saat kesunyian menggantung di udara sekitar mereka. Dan jujur, Nesia sangat bersyukur bahwa pemuda itu secara tak langsung, menyelamatkannya dari kewajiban menjawab pertanyaan dari Alfred yang masih menatap penasaran pada Nesia, "Dan apa-apaan itu, nilaimu? Yang mendapat A hanya dua mata pelajaran?"
Oke, Nesia tahu bahwa yang tengah dibicarakan Arthur adalah dirinya. Siapa lagi? Tidak ada murid kelas satu disini selain dirinya.
Tetapi sekali lagi, Nesia tidak berada dalam mood yang bagus untuk meladeni ucapan konyol Arthur—mungkin, belum.
"Pengumuman?" tanya Alfred, "Ah, sial. Aku bahkan lupa melihat nilaiku!" pemuda itu, dengan mudah mengikuti perubahan alur pembicaraan.
Puji syukur Tuhan.
"Coba kau lihat nilai dia," Arthur menunjuk Nesia dengan dagunya, "Memang sih, banyak nilainya yang AB. Tetapi tidakkah memalukan jika Filsafat saja mendapat BC? Pfft!"
Twitch.
"Sudahlah, Arthur. Bukankah dahulu saat kelas 1, pelajaran Senimu bahkan mendapat nilai C?"
"A—apa—dasar Idiot!" maki Arthur keras pada Alfred yang meringis lebar, "Itu 'kan karena aku tidak sempat belajar sebelum ujian. Tugas OSIS sialan memaksaku untuk—ck! Demi Tuhan aku akan merobek mulutmu jika kau tidak berhenti meringis begitu!"
"Aku 'kan hanya mengungkap fakta," Alfred membela diri, "Lagipula, berhentilah mencari gara-gara dengan Nesia. Kau ini… sudah berbulan kita bekerja sama dan kau tidak bisa merubah sikapmu?"
"Kenapa harus aku yang kau salahkan!" Arthur tidak terima, "Gadis itu juga tidak memiliki respek pada seniornya sendiri!"
Twitch lagi.
"Aku tahu Annesia gadis yang baik—"
"Dan kau ingin berkata bahwa aku adalah laki-laki yang buruk? Oke. Setidaknya aku tidak seidiot dirimu."
"Hei," Alfred melengkungkan bibirnya ke bawah, tidak suka, "Kenapa aku jadi yang kau salahkan?"
"Karena kau terdengar seolah-olah membela orang yang mendapatkan nilai C di pelajaran semudah Filsafat, dan mengatai diriku yang sudah mengenalmu semenjak kau kecil."
Twitch lagi.
Oke!
Entah apa yang ada di pikiran Arthur saat ia menolong Nesia kemarin. Mungkin pemuda itu memiliki rencana busuk di balik semua itu—logis sekali 'kan, dengan orang sepragmatis Arthur? Tidak mungkin ikhlas. Tidak mungkin tulus.
Karena nyatanya, setan tetep saja setan. Semua kebaikan setan hanyalah tipu daya yang menyeretmu ke neraka!
Seperti sekarang.
"Ada apa denganmu?!" maki Nesia kesal ketika ia tidak kuat lagi menahan rasa jengkelnya.
Terlalu jengkel, sekarang. Begitu jengkel hingga rasanya ia ia tidak bisa berpikir apapun selain membalas makian Arthur.
Tidak juga pikirannya mengenai Antonio dan semua kelumit antara mereka berdua.
"Maaf saja, tetapi aku bukan Einstein!" sergah Nesia kesal.
Tuhan… betapa mudahnya Arthur memancing emosinya seperti ini…
Dari Nesia rasanya ingin mati gegara Antonio, kini gadis itu ingin tetap hidup untuk merancang pembunuhan berencana pada pemuda alis tebal itu.
"Hah! Lihat? Dia bodoh, 'kan?" seringai Arthur, "Sejak kapan Einstein dikenal sebagai Ahli Filsafat?!"
"Grrrrr….," Nesia menggeram kesal mendapati bahwa dirinya dikatai mentah-mentah—sialnya, itu benar, "Setidaknya nilai seniku mendapat AB!"
"Huahahaha!" Alfred tertawa keras mendengarnya, menjadikan pemuda itu lantas mendapat sial akibat jitakan keras Arthur di kepalanya.
"Jika saat itu aku belajar, aku pasti bisa mendapatkan A, kau tahu!"
"Aku bahkan mendapatkan nilai AB tanpa belajar, kok!" Nesia menjulurkan lidahnya.
"Huahahaha!" dan Alfred hanya ketawa-ketiwi dengan begitu keras, hingga pemuda itu memegangi perutnya, "Sudahlah, Arthur. Semua hal yang berhubungan dengan kreativitas dan imajinasimu itu hanya berujung pada petaka—seperti keahlian memasakmu—ow!"
"Diam, brengsek!" maki Arthur kesal setelah puas membuat benjolan kecil di kepala Alfred.
Wajahnya memerah marah bersama dengan matanya yang menyipit keki. Tanpa mampu membalas ucapan Nesia.
Dan entah kenapa, saat melihat ekspresi berang bercampur malu dari Arthur, Nesia rasakan kedua ujung bibirnya tertarik membentuk satu simpul senyuman.
Entah mengapa, rasanya begitu senang ketika mendapati dirinya, untuk pertama kalinya, memenangkan adu argumen dengan Seniornya tersebut.
Alasan yang konyol dan kekanakan untuk merasa senang, sih sebenarnya.
-oOo-
(1) OC :P
(2) Idem ama yang di atas :p
(3) Ideeeeeeemmmmm
(4) Inget ga, chapter di mana Nesia nolongin Arthur setelah doi dikeroyok preman Pasar Senen (?) di gang sempit itu? Itu 'kan sapu tangan Nesia kelempar ke mukanya si Alis kece itu tuh. Semoga masih inget -_- Ke depannya, banyak chapter Absurdities yang menuntut (?) pembaca untuk mengingat beberapa scene yang udah terjadi di beberapa chapter sebelumnya :D
Beberapa misteri (?) selama ini telah terungkap :D
1) Terkait perasaan Antonio sebenarnya ke Nesia
2) Terkait kenapa Antonio iya-iya saja dan pasrah di-bully Arthur saat MOS dulu. Yup, for the sake of Bella's attention :'D
3) dll deh. Lupa :p
Next Chapter:
"Dengan begini, rambutmu tidak akan berantakan lagi, 'kan? Kau bisa menggenggam tanganku jika anginnya makin kencang dan kau kedinginan."
.
"Kau tahu, Antonio? Kau tahu… Sudah lama aku ingin memukulmu—seperti tadi."
"Lovi—"
"Lama. Aku ingin sudah sejak lama sekali."
.
"M-menurutmu, bagaimana caranya untuk sembuh dari p-patah hati? Setidaknya untuk merasa terhibur dan lupa sejenak?"
.
"Aku masih ingat Antonio pernah berkata padaku akan satu hal. Ia bersedia melakukan apapun untuk tetap bersama kalian. Apapun. Sekalipun itu mengorbankan kebahagiaannya. Apapun—asal kalian memberikannya kesempatan untuk mengetahui apa yang harus ia lakukan."
Pojok Review. Monggo~
Updatenya lama banget / Iya. Huhu. Sorry /menangisdibawahsinarbulan / DenNor ditunggu/ :'D / Saya bikin fanart LoviNesia lho/ MAU LIAAAAATTTT /ganyante/ Arthur buruan maju, ntar disangka gay, lho/ Iya, Thur. Buruan maju ke Yang Maha Kuasa /dor / Emoticon-nya kebanyakan/ Iya, pengen sisipin humor dimana saya bisa jelasin ekspresi mereka secara simpel, sih :/ / Nesia kok rada alay ya?/ Yang alay bukan Nesia, tapi saya /bangga /dor / Rikues yuri TaiNes, dong?/ Errr... /purapurapingsan / Buat Tonio jadi merasa bersalah/ Um, bisa, ga, ya :D / Vash unyuuu/ Vash bilang, "cowok itu ga cocok dengan kata 'unyu' 'cute' 'manis' 'kiyut' dan sebangsanya" sambil nge-dor saya / UKNes makin soswit/ Sip / Aku jadi punya semangat buat bikin fic yang bagus/ Wah, terimakasih. Kamu berlebihan, fic saya ini alay dan penuh dengan keabsurdan, sesuai dengan judulnya :'D / Tambahin fanservice SpaMano/ Oke-oke /menghelanapas / Nesia polos banget, ya?/ :D / Adegan Nesia dan Arthur jatuh epic banget/ I-iya :D /buruburubrowsingartikataepic / Kayak kehidupan pas di SMP ceritanya/ Haha, baguslah (?) / fanservice USUK-nya mantap Kakak/ Kau tidak mengerti bahwa saya mengetiknya dengan perjuangan dan air mata /alay / Yang ngirim surat itu si Arthur?/ Coba tebak :D / Chapter depan panjangin ceritanya/ Ini udah lebih panjang dari kemarin :D / Yang nulis surat itu Vash?/ Coba tebak :D / I love you dis; Je t'aime, Dis; Aku padamu/ I love you too~ /inificsejakkapanjadiajangconfessing / Suratnya itu dikirim tiap hari atau pas Nesia siaran doang?/ Gak pas Nesia doang, kok. Di chapter-chapter sebelumnya kan udah dijelasin kalau surat itu rajin nyambangin Klub Radio. Dan seperti kata Nesia kemarin, surat itu membuat seluruh Klub Radio penasaran (baca: kepo). Hayooo. Ga merhatiin deskrip, yaaaa :p / Payung Arthur udah dibalikin belum?/ Udah, buk~ / Aku ketinggalan 3 chapter sekaligus gegara update-nya cepet/ Saya jadi dilemma nih T.T / Suratnya itu ditulis Lovino, ya?/ Ayo tebak~ Tebak~ Tebak yang ngirim adalah tokoh dari fandom sebelah juga gak papa (siapa tahu kapan2 saya ubah fic ini jadi crossover) :p / DIS udah tamatin nih cerita cuma sengaja update dikit-dikit, ya?/ Hehe, enggak kok :x / Aku jadi suka SwissIndo/ :D / 'faktor lain' itu maksudnya RL atau koneksi inet?/ Bentooooollll /dilarakpromosioi / Kalau discontinued atau hiatus, tolong cantumin di profil, ya/ GAK AKAN hiatus, kok :D / Aku jadi secret admirermu boleh ga?/ Jadi obvious admirer juga boleh :D / deskrip dan feelnya dapet/ Makasih~ Saya dapet nilai A di Filsafat ga sebegini senengnya ketimbang saya dapet pujian dari kamu :D / Suka sifat Nesia yang berpikir negatif biar ga di-PHP-in Arthur setelah dia di-PHP-in Antonio/ Hoho / Ada typo. Yang bener kemeja, bukan kejema/ Wah, sejak kapan pemerintah ganti kosakata tersebut tuh? :D /dikemplangKBBI /Saya suka kejutan Anda/ Terimakasih :) / kapan ada NetherNesiaUK?/ :O
Jika faktor-faktor lain tetap dan sama, maka kecepatan dan banyaknya review Anda berbanding lurus dengan kecepatan update saya (Storm, 2013)
Muuchy, Qaqaaaa~
Salam Absurd,
DIS
